Diproteksi: [KyuMin] Mysterious pain

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Iklan

Listen to the rain

Gambar

Pairing            : KangTeuk

Genre              : Fluff

Length            : One Shoot

Warning          : Boys love, shounen-ai

Disclaimer      : Story belong to me, KangTeuk belong to each other

Summary        : Ada cerita disaat hujan turun

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

Leeteuk sedang duduk dipinggir jendela kamarnya, memandang langit kelabu yang seakan sedang bersiap menumpahkan hujannya. Leeteuk memeluk tubuhnya seakan ia merasa dingin, memandang tangannya yang kosong dan mendesah.

“Teuki hyung ~”

 

Leeteuk menoleh memandang kamarnya yang kosong. Ia sendirian. Namun seolah Leeteuk masih bisa mendengar suara itu menggema ditelinganya. Suara yang selalu ia rindukan. Leeteuk mendesah pelan sekali lagi dan kembali memandang keluar jendela. Menanti hujan yang akan membawa sosok itu dalam kotak kenangan di kepalanya.

 

****

 

Leeteuk terduduk dengan lelah saat latihan selesai. Ia meminum  air mineral miliknya dengan haus dan mengusap keringat yang membasahi wajah malaikatnya. Ia memandang para personilnya. Heechul yang sedang sibuk dengan ponselnya, sibuk menyampaikan kerinduannya pada Hangeng yang berada di China, terdengar suara Heechul yang berbicara riang dengan gaya khasnya dan terkekeh senang. Meski tanpa kata – kata yang berarti, Sungmin duduk disisi Kyuhyun dengan tenang dan penuh perhatian pada magnae kesayangannya, sementara si magnae sibuk bermain dengan gamenya.

 

Pandangan Leeteuk beralih pada couple yang paling hiperaktif. Donghae asyik bercanda dengan Eunhyuk, suara dan tawa mereka seakan memenuhi ruangan latihan ini. Lalu, Yesung yang sedang memainkan rambut Ryeowook yang sedang tidur dipangkuannya, mereka sedang mengobrol dengan akrab. Semua sedang bersama dengan orang tersayang mereka, sementara Leeteuk sendirian disudut memandang mereka dengan iri. Orang tersayangnya sedang tidak ada disisinya saat ini. tidak bisa berada disisinya saat ini.

 

Leeteuk mendesah dan berdiri. Mengambil jaket yang tersampir di kursi, jaket milik Kangin yang selama ini selalu ia pakai. Membuat Leeteuk merasa seolah Kangin sedang bersamanya, selalu bersamanya. Leeteuk memakai jaket itu ditubuhnya dan beranjak pergi. Meninggalkan para personilnya yang masih sibuk dengan orang tersayang mereka.

 

****

Malam semakin larut. Leeteuk melangkahkan kakinya menyusuri kota Seoul yang tidak pernah terlelap. Ia tidak tahu mau kemana, ia hanya membiarkan kakinya terus melangkah. Kaki Leeteuk berhenti di halte bus. Leeteuk merapatkan jaketnya saat udara dingin terasa menggigit kulitnya yang putih. Udara lembab tercium saat angin bertiup, dan perlahan rintik mulai turun membasahi tanah. Rintik – rintik itu kian deras memaksa para pejalan untuk membuka payung mereka atau berlari mencari tempat berteduh.

 

Sebuah bus berhenti didepan Leeteuk. Pintunya terbuka perlahan. Leeteuk beranjak menaiki bus itu dan tersenyum sopan pada sang supir yang sedang tersenyum hangat padanya. Bus itu sepi, hanya beberapa penumpang yang mengisi kursi – kursi yang berjejer rapi sesuai dengan susunannya.

 

Leeteuk berjalan ke belakang dan menghempaskan tubuhnya dikursi belakang yang kosong. Perlahan bus itu kembali berjalan, membawa Leeteuk pergi entah kemana. Leeteuk tidak peduli, ia hanya ingin menelusuri malam. Seperti saat itu, saat ia dan Kangin selalu menelusuri malam seusai latihan, dan mereka akan naik bus paling pagi untuk kembali ke asrama. Atau saat ia dan Kangin pergi ke MyongDong, dan Kangin mengakui disiaran radionya dengan senang sebagai kencan yang benar – benar menyenangkan. Saat – saat bersama mereka.

 

Leeteuk menyenderkan kepalanya ke jendela dan memandang keluar. Memandang titik titik hujan yang membasahi kaca jendela. Menyambut sosok Kangin yang datang dalam balutan kerinduannya. Sosoknya yang ribut, sosoknya yang hangat. Bicaranya yang tidak bisa berhenti setiap kali mulutnya terbuka. Kangin yang ia rindukan. Leeteuk tersenyum kecil.

 

Leeteuk tidak keberatan saat Kangin menghubunginya ditengah malam meminta dijemput karena uangnya telah habis untuk minum – minum. Ia akan segera melesat pergi, membayar semua botol – botol yang telah ditengak Kangin, dan membawa pulang Kangin yang telah mabuk. Leeteuk juga tidak peduli saat Kangin menyiksanya dengan kejahilan – kejahilannya, atau saat Kangin mempermalukannya dengan membocorkan aibnya didepan public.

 

Namun saat Leeteuk merasa sedang tidak baik, Kangin akan membawanya ke tempat lain yang lebih tenang, hanya mereka berdua dan Kangin akan berada disisinya. Saat para personilnya segera melarikan diri usai makan malam tanpa merapikan meja dan membiarkan piring kotor menumpuk ditempat cucian, Leeteuk yang akan membereskan semuanya dan Kangin akan langsung ikut membantunya. Atau saat Leeteuk mengalami kecelakaan dan mengharuskannya menggunakan kursi roda, Kangin adalah pengunjung setianya, membantu mendorong kursi rodanya dan mengajaknya berkeliling rumah sakit. Saat Kangin dan managernya menjemputnya untuk siaran setelah Leeteuk diijinkan untuk kembali menjalankan aktivitasnya, ia menemukan Kangin yang melompat turun dari mobil dan berlari memeluknya dengan sangat erat.

 

Atau ketika Leeteuk sakit, dengan wajah cemas Kangin akan segera ke apotik dan juga membeli permen untuknya karena Kangin tahu ia tidak suka rasa dari obat yang pahit. Atau saat Kangin satu – satunya yang bersedia mengajarinya mengemudi mobil, sementara yang lain takut saat Leeteuk mulai menyentuh mobil, mereka sangat tahu Leeteuk adalah pengemudi yang buruk.

 

Dan saat Kangin marah padanya karena merasa ia terlalu memaksakan diri, kemudian dengan lembut Kangin akan memeluknya dan berkata “kau tidak perlu cemas lagi. Tidak apa – apa”. Dan Leeteuk akan tersenyum. Saat Kangin melakukan kesalahan, Leeteuk akan memaafkannya meski sedikit kecewa. Saat akhirnya Kangin memutuskan untuk pergi wamil lebih cepat, Leeteuk menerimanya dengan sedih. Saat mengantar Kangin sebelum Kangin memakai seragamnya, Leeteuk menangis dan segera merindukannya meski baru beberapa hari Kangin tidak berada disisinya.

 

Leeteuk mendesah pelan dan menarik jaket Kangin yang membalut tubuhnya dengan erat, seperti Kangin yang biasa memeluknya dengan hangat. Leeteuk memejamkan matanya. Diluar hujan kian deras merayu bumi yang perlahan mengigil. Mengiringi kisah tentang kerinduan yang seakan tidak pernah habis.

 

Hyung, biarkan aku melindungimu dengan segenap hidupku”

****

Sebagai leader, Leeteuk bertanggung jawab pada seluruh personilnya. Berdiri paling depan sebagai pelindung bagi para dongsaengnya. Meski Leeteuk adalah orang nomor satu dalam grupnya. Terkadang Leeteuk berpikir ia bukanlah nomor satu, ia hanyalah nomor dua. Tidak, mungkin nomor ke sekian.

 

Ia kalah populer jika dibandingkan dengan Heechul. Suaranya yang standard, jika dibandingkan dengan Yesung, Ryeowook dan Kyuhyun. Ia bukanlah penari yang hebat seperti Eunhyuk. Ia juga tidak sesempurna Siwon. Dan tidak multitalent seperti Sungmin. Standard dan tidak terlihat, begitu menurut Leeteuk.

 

Awalnya Leeteuk tidak peduli. Leeteuk tahu, ia tidak bisa memiliki segalanya sekaligus. Ia bisa bersabar dan mungkin perlahan Leeteuk bisa mengejar ketertinggalannya. Namun saat seluruh member yang lain menjadi lebih terkenal, mendapatkan lebih banyak fans, dan menunjukkan perkembangan mereka dalam lagu dan tarian hasil latihan keras mereka. Leeteuk masih mengingatkan dirinya akan hal yang sama, menghibur dirinya untuk lebih bersabar lagi.

 

Tidak ada yang salah dengan sang leader. Ia tersenyum dan tertawa, bercanda dan melakukan aktivitasnya bersama member yang lain. Leeteuk masih mencemaskan para dongsaengnya, dan masih memaksakan diri. Sang leader baik – baik saja, setidaknya itu yang terlihat dari luar.

 

Tapi perlahan sang leader mulai tenggelam dalam depresinya. Terkadang ia berpikir untuk menyerah. Namun saat sang leader mulai lemah, Kangin adalah orang pertama yang menyadarinya. Kangin akan menggenggam tangannya dengan lembut dan bertanya dengan wajah cemas, “Ada apa hyung?”. Dan Leeteuk akan tersenyum. Ia tahu, Kangin selalu berada disisinya. Itu sudah cukup membuatnya kembali bersemangat.

 

Namun saat Leeteuk memandang pantulan dirinya dicermin pagi ini, ia sadar. Ia sendirian, Kangin tidak ada disisinya lagi. Ia sendirian bersama kerinduannya yang terus mengalir. Jika seperti itu, Leeteuk akan duduk dipinggir jendela dengan tenang. Memandang titik – titik hujan yang membasahi kaca jendela. Meraba kembali jejak Kangin yang tertinggal didalam kepalanya. Membiarkan suara itu kembali menggema didalam kepalanya.

 

“Kau berharga hyung, kau sangat berharga untukku…”

****

Hari masih terus berjalan dengan seluruh jadwal yang menyesakkan dada dan latihan yang seakan tidak pernah cukup. sang leader masih memaksakan diri, dan akhirnya sang leader mencapai batasnya. Hari itu super junior sedang berlatih untuk persiapan konser mereka. Terdengar suara musik yang menghentak studio latihan. Para personil berlatih dengan serius. Namun ditengah latihan, tiba – tiba Leeteuk merasa sangat pusing dan sekelilingnya seakan berputar. Untuk sesaat Leeteuk khawatir ia akan pingsan.

 

Leeteuk melupakan gerakan – gerakan yang sudah ia hafal, dan ia mulai sedikit limbung. Pandangannya memudar dan ia hampir pingsan. Donghae memegang tubuh Leeteuk yang hampir limbung, dan seluruh personil memandang leader mereka dengan cemas.

“Teuki hyung, kau baik – baik saja?” tanya Eunhyuk cemas.

 

Leeteuk menggelengkan kepalanya.

“Aku baik – baik saja Hyukie” jawab Leeteuk mencoba tersenyum.

“Mungkin sebaiknya kita istirahat dulu. Kelihatannya Teuki hyung kelelahan” kata Sungmin.

“Araseo, kita istirahat” kata Eunhyuk setuju.

 

Suara musik berhenti. Latihan berhenti sejenak untuk mengatur nafas mereka yang lelah dan meminum air mineral mereka dengan haus. Leeteuk duduk dilantai, bersyukur akhirnya ia bisa beristirahat sejenak. Ryeowook mendekati Leeteuk dan memandangnya dengan cemas.

“Hyung yakin?” tanya Ryeowook.

“Mwo?” kata Leeteuk.

“Hyung terlihat pucat” kata Ryeowook.

“Aku baik – baik saja Wookie, hanya lelah” kata Leeteuk tersenyum menenangkan.

 

Ryeowook masih memandang Leeteuk dengan cemas.

“Araseo, katakan jika kau butuh sesuatu hyung” kata Ryeowook akhirnya.

 

Leeteuk menganggukkan kepalanya. Ryeowook tersenyum dan beranjak mendekati Yesung, sementara leeteuk menyenderkan tubuhnya di dinding saat ia kembali merasa sangat pusing. Leeteuk mendesah pelan dan mengutuk dirinya, seharusnya ia yang mencemaskan para personilnya, bukan sebaliknya.

 

‘Ayolah Jung Soo, ini semua bukan tentangmu’ pikirnya marah pada dirinya sendiri.

 

Leeteuk mencoba untuk berdiri dan menjernihkan pandangannya yang kembali memudar. Berpikir, jika saja Kangin ada disini. Jika saja Kangin ada disisinya saat ini. Jika saja……

 

Namun tiba – tiba sekelilingnya memudar dan menghilang. Tubuhnya limbung kembali. Saat Leeteuk hampir menyentuh lantai yang dingin, sepasang tangan menangkapnya dengan sigap. Sepasang tangan yang besar dan hangat.

 

Suasana berubah ramai dan tegang. Seluruh personil sangat terkejut melihat leader mereka yang tidak bergerak. “Omo! Teuki hyung!” kata Ryeowook terkejut.

 

Pria yang memiliki sepasang tangan yang besar dan hangat itu memandang Leeteuk dengan cemas. Nafas Leeteuk sangat lemah. Dan ketika pria itu merasakan denyut nadi Leeteuk, ia tersentak karena tidak merasakan apapun. Leeteuk tidak memiliki denyut nadi, atau mungkin denyut itu semakin lemah hingga tidak terasa. Pria itu semakin cemas dan membawa tubuh sang leader dalam lengannya.

 

“Seseorang hubungi 911!” teriaknya. “sekarang!”

 

Ditengah ketidaksadarannya, Leeteuk merasakan sesuatu. Rasanya ia mengenali suara itu. Rasanya ia mengenali sepasang tangan ini. Sangat mengenalinya. Mungkinkah ini……Kangin?

 

****

Saat Leeteuk membuka matanya perlahan, ia tersadar sedang berada diranjang rumah sakit. Sekeliling kamar yang berwarna putih, sebuah tv disisi kiri lengannya, infuse yang menusuk lengan kirinya, dan ia mendengar suara lemah beep dari monitor yang menunjukkan kondisi detak jantungnya.

 

Awalnya pandangannya tidak terlalu jelas, namun saat otaknya perlahan terbangun dan pandangannya mulai jelas, ia mampu untuk mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Menyadari pandangan para dongsaengnya yang sedang berkumpul disekitarnya, memandangnya dengan lega bercampur cemas.

 

“Teuki hyung!” kata mereka.

“Kau sudah sadar” kata Eunhyuk.

“Kami sangat cemas” kata Donghae.

“Kami sangat terkejut. Kau baik–baik saja hyung?” tanya Ryeowook.

“Syukurlah Teuki hyung sudah sadar” kata Sungmin menghela nafas lega.

 

Siwon mendesah lega dan menangkupkan kedua tangannya bersama.

“Syukurlah, doa kami terkabul” kata Siwon.

 

Leeteuk mengerjapkan matanya dengan bingung dan beranjak duduk dengan dibantu oleh Ryeowook. “A-apa yang terjadi?” tanya Leeteuk.

 

Hening. Rasanya sangat tidak nyaman. Keheningan itu terpecah saat pintu terbuka. Seorang pria melangkah masuk. Seragam khusus wamil yang berwarna hijau lumut membalut tubuh besarnya. Rambutnya yang habis dipangkas tertutup dengan topi berwarna hitam. Wajahnya yang bulat terlihat sangat cemas memandang Leeteuk.

 

Leeteuk terbelalak memandang sosok itu. Ia mengenalinya, sangat mengenalinya.

“Ka-Kangin…?” gumam Leeteuk terkejut.

 

Kangin melangkah ke sisi ranjang dan masih memandang Leeteuk dengan cemas.

“Keluar” kata Kangin pada member yang lain. “Aku harus bicara dengan Teuki hyung……sendirian”

 

Para personil saling pandang sesaat kemudian segera beranjak keluar, meninggalkan Leeteuk dan Kangin berdua. Leeteuk memandang dengan bingung para dongsaengnya yang satu–persatu beranjak pergi, kemudian memandang Kangin.

Tidak ada yang bersuara selama beberapa menit. Hanya suara tetesan cairan infuse yang meluncur turun, dan suara beep dari layar monitor jantung yang seakan menggema diruangan ini. Kangin masih memandang Leeteuk tanpa suara. Dan Leeteuk masih terkejut memandang Kangin.

 

Sosok bertubuh besar yang kini berdiri disisinya, memandangnya dengan cemas. Kangin terlihat semakin gemuk, namun seragam khusus wamil yang membalut tubuh besarnya membuatnya terlihat gagah. Sosok itu, sosok yang selalu ia rindukan di kala hujan turun. Sosok yang ia rindukan setiap saat.

 

Rasanya begitu banyak kata – kata yang ingin meloncat keluar dari balik lidahnya yang terasa kelu. Begitu banyak pertanyaan yang tersusun di dalam kepalanya. Begitu deras kerinduan yang seketika memenuhinya. Namun Leeteuk hanya terdiam.

 

Leeteuk mulai gelisah. Keheningan ini terasa tidak nyaman.

“Erm…kenapa kau disini Kangin?” tanya Leeteuk memecah keheningan diantara mereka.

“Aku mendapat libur hari ini, jadi aku mengunjungi kalian. Tapi…aku mendapatkanmu pingsan, kondisimu sangat mencemaskan hyung” jawab Kangin.

 

“Apa yang lain baik–baik saja?” tanya Leeteuk cemas.

 

Tiba–tiba raut wajah Kangin berubah marah. Ia meraih bahu Leeteuk dan mencengkramnya dengan erat. Ia memandang Leeteuk dengan garang.

“Hentikan hyung” kata Kangin merengut kesal.

“Ka-Kangin…” kata Leeteuk terkejut.

“Berhentilah mencemaskan orang lain. Berhentilah terlalu memperhatikan dan perhatikan dirimu sendiri. Kau hampir mati hyung!” seru Kangin.

 

Leeteuk mengerjap memandang Kangin. Dapat ia rasakan detak jantungnya yang berdetak tidak teratur. “A-apa…?” kata Leeteuk.

 

“Kau hampir mati! Apa kau tahu itu?!” Kangin mulai mengomel

“Dokter mengatakan kondisimu tidak bagus. Pola makanmu buruk, kau dehidrasi, kudengar dari Hyukie kau kurang tidur akhir – akhir ini, karena itu tidak heran kau pingsan di studio! Denyut nadimu lemah dan kondisimu tidak stabil dan……mereka pikir kau tidak akan selamat!”

 

Kangin melepaskan cengkramannya. Pandangannya perlahan melembut. Leeteuk menundukkan kepalanya. “Maaf…” gumam Leeteuk pelan.

 

Kangin mendesah sesaat.

“Kenapa kau selalu seperti ini hyung? Selalu saja mencemaskan orang lain dan tidak pernah memikirkan dirimu sendiri. Bagaimana bisa aku menjalankan kewajibanku, sementara kau disini membuatku cemas?” kata Kangin.

 

Leeteuk mengangkat kepalanya, memandang cairan bening yang mengalir disudut mata Kangin. Leeteuk mengulurkan tangan kanannya, menghapus air mata itu dengan pandangan menyesal.

“Jangan,” kata Leeteuk “Jangan menangis karena aku. Jangan mencemaskan aku. Seharusnya aku yang mencemaskanmu.”

 

Kangin menggeleng pelan.

“Tidak. Kau salah” kata Kangin lirih.

 

Kangin mendekati wajah Leeteuk, menempelkan keningnya di kening Leeteuk. Ia memandang Leeteuk dengan dalam, sementara Leeteuk kembali gelisah karena pandangan itu sangat dekat. Ia dapat merasakan nafas kangin yang hangat menggelitik wajah malaikatnya.

“Aku tidak ingin kau mencemaskan kami lagi hyung. Tidak aku atau member lain atau siapapun. Aku ingin kau mencemaskan dirimu dan hanya dirimu. Tolong jangan membuatku cemas lagi” kata Kangin lembut.

 

Leeteuk terpana. Pandangan itu, kata–kata itu seakan menyihirnya. Ia terkejut menyadari, disini ia selalu bermain dengan kerinduannya pada Kangin. Dan Kangin, masih tetap mencemaskannya. Ia tidak berubah.

“Maaf…” kata Leeteuk pelan.

 

“Tidak. Jangan meminta maaf hyung. Semua akan baik–baik saja” kata Kangin.

 

Leeteuk mulai menangis pelan. Kangin tersenyum, mengecup kening Leeteuk dan memeluknya dengan erat. Beberapa menit kemudian Kangin melepaskan pelukannya.

“Sudah lebih baik?” tanya Kangin.

 

Leeteuk merengut kecewa memandang Kangin.

“Peluk aku lagi Kangin” pinta Leeteuk.

“Sebentar lagi aku harus kembali” kata Kangin menggelengkan kepalanya.

“Ayolah Kangin, 5 menit lagi” pinta Leeteuk.

 

Kangin memandang jam tangannya sesaat.

“5 menit” kata Kangin.

 

Kemudian kembali memeluk Leeteuk lebih erat, dan menghitung mundur waktunya.

“300, 299, 298, 297, 296, 295……”

 

Leeteuk tertawa kecil dalam pelukan Kangin yang hangat, pelukan yang selalu ia rindukan.

“……208, 207, 206, 205……” Kangin masih menghitung.

“Kenapa kau masih memakai seragammu?” tanya Leeteuk.

“Hanya ingin menunjukkannya padamu. Aku terlihat gagah bukan,” jawab Kangin tersenyum bangga. “Aissh, hyung mengacaukan hitunganku.” gerutu Kangin.

 

Leeteuk kembali tertawa dan menyenderkan kepalanya dengan nyaman di dada Kangin.

“Aku merindukanmu Kangin” kata Leeteuk.

“Hyung, kau mengacaukan hitunganku lagi” gerutu Kangin.

“Maaf…” kata Leeteuk tertawa.

 

Kangin tersenyum dan kembali menghitung. Leeteuk tersenyum dan ikut menghitung bersama Kangin. Ia senang, orang tersayangnya berada disisinya kembali. Meski hanya 5 menit, tapi itu cukup bagi Leeteuk untuk mengetahui, Kangin masih ada untuknya. Kangin selalu ada untuknya. Diluar hujan sedang membasahi kota, mengakhiri kisah tentang kerinduan yang tersampaikan.

 

Hujan, ijinkan aku merindukannya lebih lama lagi. Inilah kisahku. Tentangnya dan kerinduanku – Leeteuk

Fin

Forgive

Gambar

Pairing            : KyuMin

Genre              : tragedy

Length            : one shoot

Warning          : Boys love, shounen-ai, M-preg

Disclaimer      : story belong to me, KyuMin belong to their self

Summary        : Tidak semua kisah hidup berakhir bahagia. Tapi…mampukah kau memaafkan? Happy read & hope you like it ^^

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

“Eomma, coba dengar ini. Hari ini appa mengajariku bermain sepeda”

 

“Benarkah?”

 

“Aku selalu terjatuh, tapi aku tidak menangis. Appa bilang aku sudah mulai besar, jadi tidak boleh cengeng lagi”

 

“Itu benar chagi. Kau hebat, eomma bangga padamu”

 

~+~+~+~

 

Maret. Salju telah lama menghilang dan berganti dengan guguran kelopak bunga-bunga yang indah. Udara yang hangat. Hari yang cerah. Kota Seoul dengan segala geliat aktivitasnya. Di bandara Incheon, Sungmin menarik kopernya secepat mungkin. Tubuhnya masih saja bergetar pelan tanpa henti, berharap kabar yang didengarnya hanya lelocon belaka.

 

Sungmin mengedarkan pandangannya diantara orang-orang yang sedang menunggu, mencari keluarga kecilnya. Biasanya ia akan menemukan putra kecilnya, anak laki-laki berusia 6 tahun dengan pipi chubby yang sangat menggemaskan, berlari memeluknya dan tidak akan melepaskannya sampai mereka sampai dirumah. Juga ‘suaminya’ Kyuhyun, yang akan memberikan kecupan selamat datang untuknya. Tapi kali ini Sungmin hanya menemukan Kyuhyun yang menunggunya dengan wajah sangat sedih. Wajah tampan itu terlihat seperti habis menangis.

 

Saat pemuda tinggi itu memeluknya dengan lembut, getaran ditubuh Sungmin sedikit mereda. Sungmin mendongakkan kepalanya memandang ‘suaminya’ itu dengan penuh harap.

“Katakan itu tidak benar Kyu. Henry……” Sungmin tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.

 

Kyuhyun melepaskan pelukannya, mengambil koper milik Sungmin dan menggenggam tangan pemuda manis itu dengan erat seolah berusaha memberi sedikit ketenangan. “Kita akan segera melihatnya” Katanya.

 

Sungmin membiarkan Kyuhyun menariknya pergi. Tidak ada yang bicara selama diperjalanan. Kyuhyun membawa mobilnya dalam diam. Dan Sungmin memainkan tangannya dengan gelisah. Ia tidak bisa tenang. Tidak mungkin Sungmin bisa tenang saat ia mengangkat telepon pagi ini dan mendengar suara panik kakaknya Leeteuk di ujung telepon berkata,

 

“Sungminie, Henry tertembak saat bermain sepeda. Ia meninggal dunia”

 

Sungmin tidak ingat apakah ia menjerit, tapi sepertinya ia memang menjerit. Hal yang Sungmin ingat selanjutnya adalah ia sudah berada dipesawat menuju Seoul dengan tubuh gemetar. Baru kemarin Sungmin meninggalkan putra kecilnya untuk pergi ke Jeju, dan hari ini ia mendengar berita bahwa putra kecilnya tertembak oleh seseorang dan meninggal? Bagaimana Sungmin harus mempercayai hal itu? Bagaimana ia dapat menerima kenyataan itu kelak?

 

~+~+~+~

 

Saat Sungmin dan Kyuhyun tiba di rumah sakit, di depan sebuah ruangan terlihat Leeteuk sedang menangis didalam pelukan Kangin. Kangin mengusap kepala pria berwajah malaikat itu dengan lembut, berusaha menenangkannya. Leeteuk adalah kakak Sungmin, dan Kangin adalah ‘suaminya’. Kangin, pria bertubuh besar itu adalah seorang tentara berpangkat sersan dan telah terlatih untuk membunuh. Dengan sedikit terisak Leeteuk menjelaskan,

 

“Henry hanya sedang bermain sepeda di depan rumah sendirian. Aku sudah mengatakan padanya untuk tidak bermain terlalu jauh. Namun lima menit kemudian tiba-tiba terdengar suara dorr beberapa kali dengan begitu keras. Aku sangat terkejut dan melihat Henry sudah tidak ada didepan rumah. Aku pergi mencarinya, dan kemudian……aku sudah menemukan Henry bersimbah darah di jalan. Keponakanku meninggal bermandikan darahnya sendiri…”

 

Air mata Leeteuk kembali mengalir perlahan. Seraya memeluk ‘istrinya’ yang kembali menangis, Kangin berkata dengan hati-hati, “Peluru-peluru itu menembus aortanya, jantung, juga kedua paru-parunya. Begitu yang dijelaskan oleh dokter”

 

Sungmin tertegun mendengar semua penjelasan itu. Tubuhnya kembali bergetar semakin keras. Sungmin segera berlari masuk ke dalam ruangan, dan Kyuhyun pun mengikutinya. Di dalam ruangan yang putih, steril dan dingin itu tubuh mungil putra kecilnya Henry terbaring di atas ranjang kelabu. Pucat dan kaku. Darah sudah dibersihkan dan luka-luka bekas peluru masih nampak jelas.

 

Sungmin tersentak melihat pemandangan itu. Perlahan ia berjalan ke sisi ranjang, memperhatikan putra kecilnya yang menutup matanya begitu rapat. Selama beberapa menit Sungmin menunggu, berharap Henry akan membuka matanya dan mengatakan ia hanya sedang bercanda. Tapi mata itu tetap tidak kunjung terbuka sedikit pun.

 

Saat Sungmin menyentuhnya, tubuh Henry sudah mulai dingin. Dan seketika Sungmin tidak bisa lagi menahan air matanya. Kyuhyun segera merengkuh Sungmin ke dalam pelukannya, membiarkannya menangis terisak begitu dalam dan kehilangan.

 

“Ini tidak mungkin Kyu…Henry kita…” isak Sungmin tidak percaya.

 

Kyuhyun hanya memeluknya dengan erat dan membelai kepala Sungmin dengan lembut. Saat ini Kyuhyun sedang berusaha menahan air matanya yang nyaris tumpah dari sudut matanya. Kyuhyun memandang dengan sedih sosok mungil Henry di atas ranjang yang kelabu. Meski darah sudah dibersihkan, tapi bau anyirnya yang memualkan masih dapat samar tercium oleh Kyuhyun. Bau itu sama sekali tidak bisa meninggalkan pikiran Kyuhyun, sehingga ia berpikir menginginkan balas dendam dengan cara yang paling kejam. Ia benar-benar menghendaki adanya seseorang yang melakukan sesuatu, semacam keadilan untuk putra kecil mereka.

 

~+~+~+~

 

Pemakaman itu berjalan penuh haru. Sungmin nyaris pingsan saat peti yang berisi tubuh mungil putra kecilnya itu perlahan diturunkan ke liang lahatnya, dan kemudian perlahan tanah menutupinya hingga tidak terlihat lagi. Sungmin hanya bisa menangis terisak didalam pelukan Kyuhyun yang terdiam. Wajah tampan itu terlihat sangat kehilangan, meski Kyuhyun masih terus berusaha menahan air matanya.

 

Saat akhirnya pemakaman itu berakhir dan satu persatu orang-orang beranjak pergi, Kyuhyun dan Sungmin masih tidak beranjak dari tempatnya. Sungmin terduduk di depan nisan, mengusapnya dengan penuh kehilangan. Sementara Kyuhyun menengadah memandang langit pagi yang cerah, akhirnya ia membiarkan air matanya meluncur turun perlahan.

 

Satu jam kemudian akhirnya mereka beranjak pergi. Dengan terpaksa Sungmin membiarkan Kyuhyun menariknya pergi, meninggalkan putra kecilnya yang tidak mungkin bisa ia peluk lagi. Tidak ada yang bicara selama di perjalanan. Kyuhyun membawa mobilnya dalam diam, Sungmin pun memandang keluar jendela dalam diam. Keheningan yang sangat menyakitkan.

 

~+~+~+~

Kyuhyun menghentikan mobilnya di depan gedung Departement kepolisian. Saat Kyuhyun dan Sungmin berusaha untuk masuk ke dalam gedung, mereka disambut dengan berpuluh-puluh kamera dan blitz, berpuluh-puluh wartawan yang berusaha untuk bertanya dengan sedikit memaksa. Kasus kematian Henry terus menjadi pembicaraan hangat di Korea dan menjadi santapan media-media TV nasional selama berhari-hari. Sungguh menyedihkan.

 

Kyuhyun menggenggam dengan erat tangan Sungmin dan berjalan disisinya dengan sikap protektif. Mereka mengabaikan kamera-kamera itu dan terus berjalan masuk. Kyuhyun dan Sungmin berusaha mencari penjelasan tentang kasus kematian putra mereka. Namun satu hal yang mereka ceritakan pada Kyuhyun dan Sungmin hanyalah kenyataan tentang meninggalnya putra mereka. Dengan santainya mereka berkata,

 

“……sedangkan hal-hal lain bukan urusan kalian. Perlu kami beritahu, bahwa jika kami tidak dapat menangkap seseorang dalam waktu empat hari, maka kalian tidak bisa berharap akan terjadi penangkapan itu. Kami menghadapi terlalu banyak pembunuhan di daerah ini, kami hanya bisa menyediakan waktu empat hari untuk masing-masing kasus pembunuhan.”

 

Pernyataan itu membuat Kyuhyun sangat marah. Tiba-tiba Kyuhyun berdiri dan berkata penuh kekesalan, “Sebenarnya kalian department kepolisian, tidak berminat pada pencarian pembunuh putra kami, bukan?”

 

Polisi-polisi dari coordinator kejahatan & kekerasan itu terkejut kemudian berusaha mencari-cari alasan untuk menenangkan Kyuhyun. Kyuhyun mendengus tidak percaya dan berkata, “Aku akan pergi membeli sebuah senapan dan memberondong semua orang. Aku akan mencari pembunuh itu dengan tanganku sendiri, jika kalian memang tidak berniat mencari pembunuh itu. Tidak berguna”

 

Dan setelah itu Kyuhyun menarik tangan Sungmin dan beranjak pergi dengan marah. Kyuhyun benar-benar marah. Sungmin hanya diam, ia pun juga merasa marah.

 

~+~+~+~

 

“Eomma, appa…besok kita semua bermain sepeda bersama yah?.”

 

“Tentu chagi. Kita akan bersepeda bersama besok.”

 

~+~+~+~

Tengah malam Kyuhyun terbangun karena mendengar jeritan tertahan Sungmin. Ia tersentak bangun dan segera memandang Sungmin yang tidur disisinya. Sungmin menjerit tertahan dalam tidurnya. Air mata terlihat membasahi wajah manis itu.

 

“Sungmin… bangunlah chagi…” Kyuhyun berusaha membangunkan Sungmin.

 

Tiba-tiba Sungmin tersentak bangun. Ia mengedarkan pandangannya sesaat ke seluruh kamar yang remang, kemudian memandang Kyuhyun. Saat Kyuhyun menarik Sungmin ke dalam pelukannya ia tersadar, tubuh ‘istrinya’ ini bergetar pelan. Kyuhyun membelai kepalanya dengan lembut, berusaha menenangkannya.

 

“Ada apa chagi? Kau bermimpi buruk, eoh?” Tanya Kyuhyun lembut.

 

Sungmin mengangguk pelan dalam pelukan Kyuhyun. “Aku bermimpi tentang Henry. Kami sedang bermain sepeda bersama. Tapi Henry bermain terlalu jauh dariku, aku tertinggal dibelakangnya. Tiba-tiba…aku melihat Henry terjatuh dari sepedanya dan semuanya berubah merah. Tubuh Henry bermandikan begitu banyak darah…” katanya mulai terisak pelan.

 

Kyuhyun memeluk Sungmin semakin erat dan mengecup kepalanya beberapa kali. “Itu hanya mimpi. Sekarang kita tidur lagi, ne?” Katanya.

 

Sungmin mengangguk pelan. Ia membaringkan tubuhnyakembali dan berbisik pada Kyuhyun yang memeluknya, “Jangan tinggalkan aku Kyu”

 

Kyuhyun tersenyum dan mengecup kening Sungmin dengan lembut. “Tidak akan pernah. Sekarang tidurlah kembali, ne? aku mencintaimu” katanya.

 

“Aku mencintaimu Kyu” Bisik Sungmin seraya memejamkan matanya perlahan.

 

Sungmin pun kembali terlelap. Tubuhnya sudah berhenti bergetar. Kyuhyun memandang wajah tidur Sungmin yang selalu ia sukai itu dengan sedih. Perlahan, tanpa Kyuhyun sadari, ia membiarkan kemarahannya atas kematian Henry terus tumbuh didalam dirinya. Membentuk sebuah tunas kecil dan mungkin akan terus tumbuh.

 

~+~+~+~

 

Sore itu Kyuhyun sedang mencari Sungmin dan kemudian menemukan pemuda manis itu berada didalam kamar putra kecil mereka. Kamar bernuansa biru ini masih tidak berubah, masih sama saat putra kecilnya masih menempati kamar ini dulu. Sungmin sedang duduk diranjang milik Henry dan memandang foto putra kecilnya dengan menangis perlahan, terisak tanpa suara. Kyuhyun berdiri diambang pintu memandang Sungmin dengan sedih.

 

Rasanya seperti ada sebuah luka menganga didalam hatinya. Kehilangan putra kecilnya Henry, dan melihat keadaan Sungmin yang terguncang seperti itu, juga kemarahan yang Kyuhyun biarkan terus tumbuh didalam dirinya. Semua itu membuat luka itu menganga semakin besar, seperti neraka dunia yang siap menghancurkan. Kyuhyun tidak bisa menerima semua itu.

 

Empat hari kemudian, ketika Kyuhyun sedang duduk minum kopi sambil membaca koran, ia terkejut membaca laporan utama mengenai kasus pembunuhan Henry. Koran itu mengatakan bahwa sang pembunuh telah berhasil tertangkap. Sang pembunuh yang ternyata adalah tetangga mereka sendiri, Kim Yesung, telah mengakui perbuatannya. Yesung mengatakan bahwa saat itu dia sedang berlatih menembak dihalaman rumahnya, tapi tembakannya meleset sasaran dan justru mengenai Henry yang saat itu sedang bermain didekat rumahnya. Yesung dianggap telah lalai hingga menghilangkan nyawa orang lain, dan dijatuhi hukuman lima tahun penjara.

 

Saat Kyuhyun sedang terkejut dengan berita di Koran itu, tiba-tiba Sungmin berlari dengan membawa remote tv. Sepertinya tv juga menyiarkan berita ini. “Pembunuhnya telah tertangkap, Kyu” Katanya.

 

Berita itu sedikit melegakan Sungmin, namun tidak sedikitpun menghibur bagi Kyuhyun. Kyuhyun melipat korannya dan terdiam. Bagi Kyuhyun, hal itu tidak cukup. Setiap kali melihat, mendengar ataupun membaca berita tentang kasus pembunuhan putra kecilnya, Kyuhyun benar-benar merasa bahwa saat itu mungkin saja ia membunuh seseorang. Jika Kyuhyun mempunyai senjata, mungkin ia betul-betul akan melakukannya. Tunas kecil dalam diri Kyuhyun semakin tumbuh besar, nafsu amarah yang sangat kuat untuk tidak berhenti membalas dendam atas kematian putra kecilnya.

 

~+~+~+~

Lebih dari dua setengah tahun kemudian, Yesung dinyatakan tidak bersalah dan dianggap melakukan pembunuhan tidak sengaja. Berita ini menuai berbagai reaksi dari masyarakat. Bagi Kyuhyun, berita ini dirasa sangat menyebalkan dan tidak adil. Dengan meminjam senapan milik Kangin, Kyuhyun pergi menemui Yesung dirumahnya. Ia menembak Yesung, sepenuhnya dengan suatu keinginan untuk membunuhnya.

 

Yesung terkejut dengan tembakan Kyuhyun dan berhasil menghindar. Tembakan Kyuhyun berikutnya berhasil melukai lengannya. Ia pun segera mencari senapan miliknya dan berusaha untuk melindungi diri. Mereka pun saling tembak di dalam rumah Yesung. Adegan tembak-tembakan itu terpaksa berakhir ketika polisi yang dipanggil oleh seorang warga datang.

 

Karena aksi tembak-tembakan itu Kyuhyun dan Yesung terluka. Mereka pun segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan. Sekarang kasusnya menjadi terbalik, Kyuhyun justru yang diajukan ke pengadilan atas percobaan pembunuhan. Kemungkinan akan mendapatkan hukuman penjara yang lama. Kembali kasus ini menjadi perhatian masyarakat, dan tentu sangat mengejutkan bagi Sungmin. Sekali lagi Sungmin harus berusaha berjuang untuk bertahan dalam semua tragedi ini.

 

Dua setengah bulan kemudian Kyuhyun dinyatakan tidak bersalah, mengherankan memang. Walaupun fakta menunjukkan bahwa Kyuhyun sengaja mencoba melenyapkan hidup Yesung, para juri merasa bahwa Yesung adalah seorang yang sangat menyebalkan, sehingga dengan suara bulat mereka membebaskan Kyuhyun.

 

Saat Kyuhyun keluar dari gedung penjara bersama Sungmin yang selalu setia bersamanya, mereka kembali disambut oleh puluhan kamera, blitz dan kumpulan wartawan yang sedikit memaksa. Seorang wartawan bertanya pada Kyuhyun, apakah menarik pelatuk dan menyaksikan seseorang terkapar dalam rasa sakitnya dapat membuatnya lebih enak?

 

“Tidak. Hanya dengan membunuhnyalah akan membuatku merasa lebih baik” Jawab Kyuhyun.

 

Wartawan itu beralih pada Sungmin dan bertanya mengenai perasaannya. Sungmin diam sejenak dan menjawab, “Aku tidak akan merasa bahagia jika Kyuhyun membunuhnya. Sebab itu berarti bukan akulah yang membunuhnya. Aku ingin menarik sendiri pelatuk itu. Aku ingin melihatnya mati, dan menjadi tahu bahwa akulah yang bertanggung jawab atas kematiannya itu, tapi…”

 

Sungmin berhenti sejenak dan memandang ‘suaminya’. Ia mendesah pelan. Seraya berusaha tersenyum Sungmin berkata,

“Aku telah kehilangan Henry, dan kami akan selalu merindukannya. Kematiannya sangat mengguncangku. Tetapi…selama beberapa bulan ini aku berpikir, aku sama sekali tidak mempunyai kehendak buruk menyangkut peristiwa ini. aku tidak ingin mendendam……karena hal ini tidak bisa mengembalikan putra kecilku Henry…tolong jangan menanyakan tentang tujuan……karena aku tidak memiliki jawabannya. Aku tahu bahwa sesungguhnya Tuhan pasti memiliki sebuah rencana. Jika aku tidak mempertimbangkan hal itu, mungkin saja aku sudah bunuh diri. Peristiwa itu merupakan bagian dari sebuah rencana Tuhan yang lebih besar…dan pasti kami akan bertemu lagi, di surga kelak.”

 

Semua orang, termasuk Kyuhyun tertegun mendengar perkataan Sungmin yang terdengar sangat tulus. Kyuhyun memandang Sungmin tidak percaya dan berpikir, semudah itukah dia memaafkan? Secepat itukah? Sungguh sebuah kemampuan memaafkan yang menakjubkan, huh…

 

~+~+~+~

 

Dalam hari-hari dan minggu-minggu berikutnya Sungmin berusaha keras untuk berbuat sesuai dengan perkataannya, berusaha untuk bertahan dalam masa-masa gelap ketika perasaan duka sedang menerpanya. Semua orang mengatakan bahwa pelaku pembunuhan harus dihukum dan dijebloskan ke dalam penjara. Sungmin setuju dengan hal itu. Meski demikian, Sungmin menolak untuk melakukan upaya balas dendam. Kemampuan memaafkan yang menakjubkan Sungmin dianggap keliru dan dicemooh oleh sebagian orang. Namun Sungmin tidak peduli.

 

Itu adalah sore yang tenang. Di depan makam putra kecil mereka, Kyuhyun dan Sungmin menghentikan kaki mereka. Sungmin berjongkok didepan nisan dan meletakkan sebuket bunga didepan nisan. Ia mengusap pelan nisan itu dan tersenyum kecil.

 

“Henry, putra kecil kami……” katanya.

 

Kyuhyun memandang Sungmin dengan penasaran. Ia penasaran dengan kemampuan memaafkan Sungmin yang menakjubkan. Kyuhyun tidak mengerti bagaimana Sungmin dapat melakukan hal itu, sementara ia sendiri masih merasa sulit mengatasi kemarahannya atas kematian Henry. Kyuhyun masih sulit untuk memaafkan. Tunas kecil itu kini telah berkembang menjadi sebuah pohon yang gersang.

 

Sungmin yang masih memandang nisan didepannya tiba-tiba berkata, “Kyu, apa sebenarnya arti memaafkan? Mereka membicarakanku karena perkataanku saat itu. Tapi mereka hanya tidak tahu, bagaimana aku berjuang dalam perasaan duka itu selama ini” Katanya.

 

“Aku tidak mengerti, bagaimana kau melakukan hal itu dengan mudahnya. Seharusnya Yesung mempertanggungjawabkan perbuatannya karena telah membunuh Henry” Kata Kyuhyun dengan nada tidak terima.

 

Sungmin menoleh dan berdiri memandang Kyuhyun. “yang sebenarnya, tidak semudah itu Kyu. Kau pun tahu bagaimana aku selalu menjerit setiap malam setelah kematian Henry. Itu tidak mudah Kyu” Katanya.

 

Kyuhyun terdiam. Yeah, ia sangat tahu itu. Hampir setiap malam Kyuhyun harus tersentak bangun karena jeritan Sungmin. Sungmin mendekati Kyuhyun. Ia menggenggam tangan Kyuhyun dengan lembut dan mengusapnya perlahan.

“Aku mengerti kemarahanmu Kyu. Aku pun juga terluka. Tetapi melakukan hal yang sama, dengan membunuh Yesung, itu tetap tidak akan mengembalikan Henry kita. Selain itu, aku pun tidak akan dapat menemukan kebebasan untuk terus melangkah. Memaafkan tidak berarti melupakan atau mengampuni kesalahan, tapi membuat keputusan sadar untuk berhenti membenci, karena kebencian sama sekali tak ada gunanya”

 

Kyuhyun tertegun. Ia terdiam, mencerna semua perkataan Sungmin. “Ayo pulang” Ajak Sungmin dengan tersenyum. Kyuhyun hanya mengangguk dan mereka pun beranjak pergi.

 

~+~+~+~

 

Sore itu, saat Kyuhyun dan Sungmin sedang menikmati sore mereka di taman kota, mereka bertemu dengan Yesung. Memandang wajah Yesung membuat amarah Kyuhyun seketika bergolak seperti empedu yang keluar dari perut. Kyuhyun mencoba menekan dorongan kuat itu dan menunggu dengan sabar untuk mendengar apapun yang akan dikatakan Yesung.

 

Yesung tampak sangat gugup. Tetapi tampaknya kegugupan itu lebih karena terdapat kebutuhan yang sangat untuk mengeluarkan sesuatu, kata-kata yang begitu ingin diungkapkannya selama ini. Ia menundukkan kepala begitu dalam dan suaranya terdengar sangat perlahan.

 

“Kyuhyun ssi, Sungmin ssi……aku dapat mengerti jika kalian tidak bisa memaafkanku. Tetapi aku telah lama sekali mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan hal ini. Maafkan aku. Aku tidak pernah bermaksud menghilangkan nyawa putra kalian Henry. Aku sungguh minta maaf,”

 

“Kyuhyun ssi, seandainya kau tidak mau menerima permintaan maafku, maka aku akan tetap berusaha. Jadi, apa pendapatmu Kyuhyun ssi?”

 

Kyuhyun terdiam cukup lama memandang Yesung, bertanya-tanya dalam hati, bagaimana ia bisa memaafkan orang ini? Kyuhyun menoleh saat Sungmin menggenggam tangannya. Sungmin hanya tersenyum. Kyuhyun menghela nafas sesaat dan kemudian memandang Yesung.

 

“Baiklah. Aku memaafkanmu Yesung ssi. Kami memaafkanmu” Katanya.

 

Yesung mengangkat kepalanya dengan gembira. “Terima kasih Kyuhyun ssi, Sungmin ssi. Aku mengatakannya dengan kesungguhan yang berasal dari dari lubuk hatiku yang paling dalam” Katanya.

 

Yesung mengulurkan tangannya lalu mulai menariknya kembali, seakan-akan tidak mau memaksakan keberuntungannya. Tangan kanan Sungmin menjangkau dengan cepat dan menjabat tangan Yesung dengan penuh keikhlasan. Saat giliran Kyuhyun menjabat tangan Yesung, ia merasakan betapa tangan Yesung menggenggam tangannya dengan erat. Mereka pun berpelukan singkat.

 

“Sampai jumpa lagi” kata Yesung kemudian ia beranjak pergi meninggalkan Kyuhyun dan Sungmin.

 

Kyuhyun mengerjap. Rasanya aneh. Kyuhyun merasakan jiwanya seakan melayang bebas, seolah beban berat yang selama ini menindih jiwanya telah terangkat. Kemarahan itu memudar. Pohon yang gersang itu kini telah tumbang. Pada akhirnya Kyuhyun bisa memaafkan. Akhirnya Kyuhyun terbebas dari beban kebencian.

 

Kyuhyun merangkul bahu Sungmin, sedangkan Sungmin memeluk pinggangnya. Mereka berdua sama-sama memandangi sosok Yesung yang menghilang di ujung jalan. Kyuhyun menoleh saat Sungmin mengecup pipinya dengan lembut.

“Kau sudah melakukannya. Memaafkan” Kata Sungmin.

“Aku melakukannya” Kata Kyuhyun.

 

Sungmin tersenyum. Memaafkan memang sulit. Tetapi seperti yang pernah dikatakan Sungmin, “segala sesuatunya sulit sebelum kau mempelajarinya. Setelah mempelajarinya, akan menjadi mudah”. Kyuhyun telah mempelajarinya. Ia bukan hanya telah memaafkan Yesung, melainkan juga telah memaafkan diri sendiri karena telah begitu haus balas dendam selama beberapa tahun ini.

 

Kyuhyun memandang langit dan tersenyum, seakan sinar matahari sore yang hangat telah merasuki sanubarinya. Kyuhyun menggenggam tangan Sungmin. Mereka berdua beranjak pergi menyusuri taman kota yang tenang.

 

~+~+~+~

 

“Eomma, memaafkan itu apa?”

 

“Itu adalah sebuah pintu perdamaian dan kebahagiaan. Pintu itu kecil, sempit, dan tidak dapat dimasuki tanpa membungkuk. Pemaafan juga sulit ditemukan. Tetapi, betapapun lama pencarian itu, pemaafan tetap dapat ditemukan”

FIN

Hug

Pairing          : KyuMin

Genre          : Fluff

Length          : Drabble

Warning        : Boys love, shounen-ai

Disclaimer     : Story belong to me, KyuMin belong to each other       

Summary        : Sungmin sangat suka dipeluk sementara Kyuhyun tidak suka memeluk. #summary macam apa ini -__-‘

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

Malam telah larut saat Sungmin dan Ryeowook mengakhiri siaran mereka di SUKIRA. Ryeowook tersenyum senang saat ia melihat Yesung datang menjemputnya. Pemuda berwajah innocent itu segera beranjak pergi bersama Yesung, menikmati kencan diam-diam mereka seperti di malam-malam lalu. Sungmin memandang YeWook couple yang beranjak pergi dengan tangan yang saling bertaut hangat. Sungmin hanya tersenyum melihat kemesraan YeWook couple, meski sebenarnya ia sedikit iri dengan mereka.

 

Dalam perjalanan pulang Sungmin berpikir tentang tema SUKIRA malam ini, yaitu tentang pelukan. Yeah, semua orang pasti suka dipeluk. Sungmin paling senang dipeluk, terutama oleh Kyuhyun. Namun sayangnya pemuda tinggi itu tidak suka memeluk. Kyuhyun tidak mau lagi memeluknya, entah kenapa. Kyuhyun selalu menolak berdekatan setiap kali Sungmin minta dipeluk. Kepanasan, butuh ruang untuk sendirian, sedang tidak santai, tidak mau dilihat orang…selalu menjadi alasan. Bagi Kyuhyun, pelukan hanyalah pertautan fisik. Padahal bagi Sungmin, pelukan memiliki arti lebih dalam dibanding tatapan mata.

 

Saat Sungmin tiba di Dorm dan membuka pintu kamarnya, ia menemukan Kyuhyun dengan kencannya. Starcraft, seperti biasa. Kyuhyun menoleh sekilas saat Sungmin menutup pintu.

“Hai hyung” Sapa Kyuhyun.

“Yeah…” kata Sungmin.

 

Sungmin mengganti pakaiannya dengan piayama dress kesayangannya. Ia memandang Kyuhyun yang masih asyik dengan game-nya kemudian beranjak mendekatinya. Kyuhyun hanya diam saat Sungmin memeluk lehernya dari belakang, namun beberapa menit kemudian ia menggerakkan sedikit tubuhnya sebagai tanda tidak nyaman.

 

“Hyung…gerah. Aku butuh ruang untuk bermain” Kata Kyuhyun tanpa mengalihkan pandangannya dari monitor didepannya.

 

Sungmin mendengus kesal dan melepaskan pelukannya.

“Kau selalu seperti ini! Menyebalkan” Kata Sungmin beranjak menjauh dengan menghentak-hentakkan kaki.

 

Akhirnya Kyuhyun berhenti bermain dan menoleh memandang sang bunny yang duduk dipinggir ranjangnya dengan wajah cemberut. Kyuhyun mendesah pelan sesaat dan beranjak mendekati Sungmin.

 

“Hyung..” panggil Kyuhyun seraya duduk didekat Sungmin.

 

Sungmin tidak menjawab dan hanya memandang lantai dengan wajah cemberut. Ia benar-benar kesal dengan sikap Kyuhyun yang selalu seperti ini, selalu menolak berdekatan dengannya setiap kali Sungmin mengirimkan isyarat untuk minta dipeluk.

 

“Apa kau sudah tidak menyukaiku lagi Kyu?” Sungmin bersuara, masih memandang lantai.

“Aku selalu menyukaimu hyung” Kata Kyuhyun.

 

Sungmin mengangkat kepalanya memandang Kyuhyun dengan sedih.

“Aku hanya ingin kau memelukku. Tapi sikapmu yang selalu menolak dengan berbagai alasan itu salah Kyu” Katanya.

 

Kyuhyun menyentuh tangan Sungmin dengan lembut.

“Maafkan aku hyung. Tapi kau tahu kan, aku tidak suka memeluk” Katanya.

“Kenapa? Apa aku terlalu gemuk untuk kau peluk?” kata Sungmin langsung memperhatikan tubuhnya dengan sedikit panic.

 

“Tidak hyung. Bukan itu” Kata Kyuhyun menenangkan Sungmin.

“Lalu? Kenapa kau tidak mau memelukku lagi? Kau sudah tidak menyukaiku kan? Jangan-jangan kau suka orang lain?” Kata Sungmin kembali panic.

 

Kyuhyun mendesah kemudian menyentuh wajah Sungmin dengan kedua tangannya untuk menghentikan kepanikan Sungmin. Akhirnya Sungmin kembali tenang dan memandang Kyuhyun dengan sedih bercampur penasaran.

 

“Kenapa kau tidak mau memelukku lagi Kyu?” Tanya Sungmin.

 

Kyuhyun diam sesaat kemudian melepaskan tangannya dari wajah Sungmin.

“Kau senang jika aku memelukmu?” Tanyanya.

 

Sungmin menganggukkan kepalanya.

“Memang…aku senang dipeluk, tapi aku paling senang saat dipeluk olehmu” Jawabnya dengan nada rindu. Yeah, Sungmin rindu pelukan Kyuhyun yang hangat dan nyaman.

 

Kyuhyun kembali diam sejenak.

“Kenapa? Aku tidak mengerti, kenapa kau suka sekali dipeluk? Pelukan hanyalah pertautan fisik semata” Tanya Kyuhyun mengernyit.

 

“Tidak seperti itu Kyu” Jawab Sungmin.

“Kalau begitu, beritahu aku” Kata Kyuhyun.

 

“Apa kau akan kembali memelukku jika kuberitahu?” Tanya Sungmin.

“Yeah, aku akan memelukmu” Jawab Kyuhyun.

 

Sungmin duduk lebih dekat dengan Kyuhyun dan memandang wajah tampan itu lekat-lekat

 “Aku akan memberitahumu. Karena itu, dengarkan aku dengan baik ne.” katanya.

 

Kyuhyun menganggukkan kepalanya dan memandang Sungmin dengan penasaran. Sungmin tersenyum dan memulai penjelasannya.

 

“Aku suka dipeluk olehmu karena…rasanya menyenangkan, saat kita saling berdekatan, berdampingan”

 

“Aku suka dipeluk olehmu karena…saat kita semakin dekat secara fisik kau membuatku merasa seksi

 

“Aku suka dipeluk olehmu karena…saat bersentuhan denganmu secara fisik, berpelukan juga berciuman, membantuku mengurangi stress dan cemas

 

“Aku suka dipeluk olehmu karena…aku ingin ikatan diantara kita semakin dekat dan tidak pernah hilang”

 

“Aku suka dipeluk olehmu karena…memeluk merupakan cara mengatakan, ‘Aku tahu yang kamu rasakan’. Pelukan membiarkan perasaan kita diketahui oleh pasangan di mana kata-kata kadang tidak mampu menjelaskan

 

Sungmin menghentikan penjelasannya dan memandang Kyuhyun yang terlihat tertegun.

“Bagaimana menurutmu Kyu? Itulah alasanku kenapa aku suka dipeluk olehmu. Kau mengerti kan? Pelukan tidak hanya sekedar pertautan fisik, tapi memiliki arti yang lebih dalam” Katanya.

 

Kyuhyun mengernyit sesaat.

“Yeah, tapi…pelukan dalam urusan cinta itu…” katanya.

 

“Dalam urusan cinta, pelukan mampu menciptakan ikatan diantara kita. Lebih dari itu, bagiku, pelukan merupakan bentuk komitmen cinta dan kesetian. Pelukan bisa bermakna dalam jika dilakukan dengan tulus. Jadi alasanku menyukai pelukan adalah karena makna yang dihadirkan bisa sangat dalam” Jelas Sungmin.

 

Sungmin memandang Kyuhyun yang terdiam berusaha mencerna semua penjelasan darinya.

“Kau sudah mengerti kan Kyu? Sekarang bisakah kau memelukku? Aku rindu pelukanmu Kyunie~” Kata Sungmin dengan manja.

 

Kyuhyun tersenyum. “Baiklah, aku mengerti” Katanya.

 

Kyuhyun merengkuh tubuh Sungmin ke dalam pelukannya. Ia membelai lembut rambut hitam Sungmin, menyentuh wajah manis itu, menggosok lembut lengannya, mengaitkan jari-jemari tangannya dengan jari-jemari Sungmin, dan memandang mata rubah itu dengan lembut. Sementara Sungmin tersenyum dalam pelukan Kyuhyun. Sungmin sangat senang.

 

Namun Sungmin heran saat beberapa menit kemudian Kyuhyun melepaskan pelukan mereka.

“Aku sudah memelukmu kan?” Kata Kyuhyun.

“Tidak bisakah kau memelukku lebih lama lagi?” Pinta Sungmin.

 

“Eum…tidak. Aku tidak bisa” Tolak Kyuhyun.

“Kenapa?” Tanya Sungmin heran.

 

Kyuhyun mengambil jarak dari Sungmin. Ia memalingkan wajahnya dan terlihat sedikit gelisah.

“Aku tidak bisa memelukmu terlalu lama. Aku tidak mau memelukmu karena……jika berdekatan denganmu…aku pasti tidak akan tahan” Katanya terdengar malu.

 

Sungmin bengong mendengar penuturan Kyuhyun. Ia dapat melihat rona merah tipis yang berusaha Kyuhyun tutupi dengan tangannya. Kemudian Sungmin tergelak.

“Aissh…jangan tertawa hyung” Kata Kyuhyun merengut malu.

 

Sungmin hampir menangis karena terus tergelak.

“Berhenti tertawa” Kata Kyuhyun semakin merengut malu.

“Ara ara,” Sungmin berhenti tertawa. Ia memandang Kyuhyun dan duduk semakin dekat. “Jadi, karena itu kau tidak mau memelukku lagi?”

 

“Kau terlalu seksi dan menggoda hyung” Kata Kyuhyun.

 

Sungmin tersenyum dan memeluk Kyuhyun. Ia menjilat pelan telinga Kyuhyun dan berbisik dengan nakal, “Asal kau kembali memelukku dan tetap berada disisiku, aku tidak keberatan dengan hal itu. Just do it Kyu!”

 

Kyuhyun tersenyum dan memeluk tubuh Sungmin semakin erat. Ia mencium lembut leher Sungmin dan berbisik, “Kalau begitu, aku akan selalu memelukmu hyung. Kapanpun kau mau”

 

Fin

I’ll wait you until sunset come

Gambar

Pairing         : KyuMin

Genre          : Sad

Length         : One Shoot

Warning       : Boys love, shounen-ai, alur maju mundur

Author note   : Sekuel “Hold my hand until sunset come”

Disclaimer     : Story belong to me, KyuMin belong to each other

Summary       : I’m really fine……

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

Ingatlah janji kita

Ingatlah tangan itu

Lembut dan putih

Lagi dan lagi

Aku mengulangnya lagi di dalam kepalaku

Seperti sebuah mantra

 

Pagi yang lain kembali datang dan musim yang mulai berganti. Kyuhyun terduduk dikasurnya. Memandang tangannya yang kosong untuk kesekian kalinya. Kepalanya mencoba mengingat bagaimana ia terbangun pagi ini. Ahh…benar. Mimpi itu. Seseorang yang menyodorkan tangan padanya. Tangan putih yang hangat. Tangan putih yang lembut. Tangan putih yang ia kenali.

 

“Kau mau bersamaku?”

 

Kyuhyun masih memandang tangannya yang kosong. Rasanya lama sekali. Sendirian, seakan sedang menunggu seseorang. Seseorang yang selalu mengisi tangannya yang kosong. Seseorang yang dirindukan. Terdengar suara ketukan pintu dan perlahan kenop pintu berputar.

 

Kyuhyun mengangkat kepalanya memandang pintu yang terbuka

“Sungmin hyung…” kata Kyuhyun berharap.

 

Namun bukan sosok Sungmin yang berdiri diambang pintu. Melainkan seorang pria berwajah malaikat. Wajahnya merah dan sembab.

“Teuki hyung…” kata Kyuhyun kecewa.

 

Eeteuk tersenyum dan melangkah masuk.

“Pagi kyu. Kau sudah bangun ternyata” kata Eeteuk.

 

Donghae muncul dibelakang Eeteuk.

“Dimana Sungmin hyung? Dia berjanji untuk melihat sunset bersama. Tapi dia tidak datang” kata Kyuhyun memandang tangannya yang kosong.

 

Eeteuk diam sesaat memandang magnaenya.

“Bersiaplah. Kami datang untuk menjemputmu” kata Eeteuk.

 

Kyuhyun mengangkat kepalanya mengernyit mendengar nada sedih dalam suara hyungnya.

“Kita akan bertemu dengan Sungmin hyung” kata Donghae.

 

Di tengah ilusiku

Aku melihat bayangan kecil

Begitu polos dan sederhana

Menunggu seseorang

Yang mau mencarinya

Orang yang melihat tubuh kecilnya

Tapi kemudian, dalam sekejap dia menghilang

Begitu saja

Seperti sunsetku

 

Drap drap drap drap…….

Kyuhyun dan Sungmin berlari didalam station kereta api bawah tanah. Terus berlari melewati orang–orang yang memandang mereka dengan heran. Kyuhyun menoleh ke belakang seraya terus berlari. Beberapa gadis remaja sedang mengejar mereka dengan histeris dan tanpa lelah. terlihat mengerikan.

 

“Mereka masih mengejar kita” kata Sungmin menoleh seraya terus berlari.

 

Sungmin menarik satu sudut bibirnya dan menggandeng tangan Kyuhyun. Berlari seraya menarik Kyuhyun ke dalam kereta tepat saat pintu kereta akan menutup. Perlahan kereta mulai beranjak pergi. meninggalkan gadis–gadis yang kecewa.

 

“Oops…nyaris” kata Sungmin terkekeh.

 

Kyuhyun menyenderkan tubuhnya dan mengatur deru nafasnya yang lelah.

“Apa tadi itu? Kenapa mereka mengejar kita?” tanya Kyuhyun disela nafasnya yang tidak teratur.

 

Sungmin mengatur nafasnya yang lelah dan tersenyum memandang Kyuhyun.

“Mereka fans kita. Fans yang fanatic” jawab Sungmin.

 

“Kedengarannya merepotkan. Apa mereka selalu seperti itu? Apa dulu kita selalu harus berlari setiap kali bertemu dengan mereka?” tanya Kyuhyun heran.

 

“Kau harus berlari jika ingin selamat. Yah…terkadang memang merepotkan. Keunde, rasanya menyenangkan dan mendebarkan bukan?” jawab Sungmin kembali terkekeh.

 

“Rasanya aku lelah” kata Kyuhyun.

 

Gerbong yang dinaiki Sungmin dan Kyuhyun terlihat sepi. Hanya beberapa penumpang yang tertidur atau sibuk dengan ponsel mereka. Sungmin menyentuh tangan Kyuhyun dan mengajaknya untuk duduk dikursi yang kosong. Kyuhyun mengikuti dan menempatkan tubuhnya disamping Sungmin.

 

“Maaf. Kita harus naik kereta karena mobilku sedang rusak” kata Sungmin.

“Tidak masalah. Ini mulai menyenangkan” kata Kyuhyun.

 

Sungmin melepas topi hoodie hitam miliknya. Memakaikannya dikepala Kyuhyun dan merapatkan jaket Kyuhyun.

“Hari ini cuaca dingin. Kau harus tetap hangat” kata Sungmin.

“Kenapa kau terlihat begitu senang hyung?” tanya Kyuhyun.

 

Sungmin mengangkat kepalanya memandang Kyuhyun.

“Karena kau. Kau yang sekarang berada didekatku. Memandangku dengan ingin tahu. Bicara dan tersenyum dengan hangat. Kembali memanggilku hyung dan mengikutiku. Itu membuatku sangat senang,” kata Sungmin.

 

Sungmin menyentuh tangan kyuhyun dan menggenggamnya.

“Berbeda dengan saat 8 bulan yang lalu. Kau terlihat dingin dan kosong. Diam dan hanya memandangku dengan hampa. Kau terlihat seperti sebuah patung yang sempurna. Itu membuatku sangat takut.” kata Sungmin lagi.

 

Kyuhyun diam memandang sungmin.

“Ini perkembangan yang bagus. Meski belum sepenuhnya, tapi aku percaya kau pasti akan sembuh Kyu. Semua orang percaya hal itu” kata Sungmin tersenyum.

 

Kyuhyun memandang tangannya yang berada didalam genggaman sungmin yang hangat..

“Kyu?” tanya Sungmin.

“Ada hal…yang tidak bisa kuingat. Yang aku tahu……” kata Kyuhyun pelan.

 

Aku tidak mengerti

Aku tidak dapat mengungkapkan perasaan ini

Seperti berada di atas lautan ketika waktu berhenti

……batas kenyataan dan ilusi menjadi samar

Tapi, panas yang terasa dari ujung jarinya yang terlihat dingin ini

Rasanya aku sudah tahu

 

Kyuhyun beranjak turun dari mobil Donghae dan mengedarkan pandangannya. Tempat ini bukan rumah Sungmin. Bukan apartement super junior. Bukan pula studio latihan. Ini tempat pemakaman. Ia tidak melihat sosok Sungmin dimana pun. Hanya kerumunan orang–orang yang berpakaian hitam dan berwajah sembab.  

 

“Dimana Sungmin hyung? Aku tidak melihatnya” tanya Kyuhyun.

“Kita akan segera bertemu dengannya Kyu” jawab Donghae.

“Khajja” kata Eeteuk.

 

Kyuhyun melangkahkan kakinya mengikuti Eeteuk dan Donghae. Menyusuri setiap nisan yang berjejer rapi. Kyuhyun mengernyit memandang setiap nisan yang ia lewati. Perlahan perasaan tegang menyelimutinya.

 

“Kenapa kita harus bertemu dengan Sungmin hyung disini? Benarkah dia ada disini?” tanya Kyuhyun curiga.

 

“Sungmin ada disini Kyu. dia ada disini” jawab Eeteuk tanpa menoleh.

“Benarkah?” tanya Kyuhyun mengernyit merasakan ketakutan yang muncul tiba–tiba

 

Langkah mereka terhenti saat melihat sosok Eunhyuk, Ryeowook dan Yesung berjalan mendekat. Wajah mereka juga terlihat merah dan sembab.

 

“Kyu ~” kata Ryeowook seraya memeluk Kyuhyun dan menangis.

“Mereka baru saja menguburnya” kata Yesung

“Kami sudah meminta mereka untuk menunggu sebentar, tapi mereka tidak mau dengar” kata Eunhyuk.

 

“Bukankah aku sudah mengatakan untuk menunggu sampai kami tiba?” tanya Eeteuk sedikit kesal.

 

“Kami sudah meminta mereka untuk menunggu. Tapi mereka tidak mau menunggu lebih lama lagi” kata Ryeowook terisak seraya melepaskan pelukannya.

 

“Wae? Kenapa mereka tiba bisa menunggu selama 15 menit saja?” tanya Donghae kesal.

 

“Mereka tidak ingin membiarkan tubuh Sungmin hyung lebih lama lagi di cuaca dingin seperti sekarang ini. Bahkan Heechul hyung sangat marah tentang hal ini” jawab Eunhyuk.

 

Kyuhyun memandang hyungnya dengan bingung. Ia benar–benar bingung sekarang.

“Errm…ada yang bisa jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi disini? Dan dimana Sungmin hyung?” tanya Kyuhyun bingung.

 

Eeteuk, Donghae, Eunhyuk, Ryeowook dan Yesung terdiam. Kyuhyun memandang hyungnya yang saling memandang dengan ragu. “Aku menunggu” kata Kyuhyun mulai tidak sabar.

 

Eeteuk merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah korek api antik berwarna emas. Ia memberikannya pada Kyuhyun. Kyuhyun mengernyit memandang benda yang berkilat terkena cahaya matahari tersebut. Ia mengenali benda itu. Itu benda kesayangan Sungmin. Benda yang selalu menghangatkannya saat Sungmin harus menunggunya setiap kali mereka bertemu.

 

“Polisi menemukan benda ini distudio tv yang terbakar kemarin” kata Eeteuk.

 

“Kami langsung tahu ini milik Sungmin hyung. Ini benda kesayangannya” kata Donghae.

 

“Sebelumnya ini milikmu yang kau berikan pada Sungmin hyung. Ia selalu membawanya kemana pun bersamanya” kata Eunhyuk.

 

“Tapi mereka tidak bisa menyelamatkannya” kata Ryeowook sedikit terisak.

 

“Tung – …tunggu sebentar. Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Kyuhyun tidak mengerti.

 

“Ikutlah” kata Yesung meminta Kyuhyun mengikutinya.

 

Kyuhyun melangkahkan kakinya mengikuti langkah hyungnya. Dan berhenti didepan sebuah nisan. Terlihat para personil super junior yang lainnya berkumpul disekitar nisan tersebut. Beberapa mencoba menahan air mata mereka. yang lain tidak peduli dan menangis disisi nisan. Satu persatu orang–orang beranjak pergi. Meninggalkan Super Junior yang tetap tidak beranjak dari tempat mereka.

 

Kyuhyun menggenggam dengan erat korek api ditangannya dan berdiri terpaku didepan nisan. Seketika rasa takut itu kembali menyelimutinya dan perlahan berganti menjadi sebuah kesedihan dan kehilangan. Ia tidak melihat sosok sungmin dimana pun. Hanya sebuah nisan yang bertuliskan nama LEE SUNGMIN.

“Sungmin tidak selamat dari kebakaran itu. Itu kecelakaan” kata Yesung dengan sedih.

 

Semuanya akan hilang

Tanpa tahu alasannya

Tanpa sadar saat hilangnya kata – kata

Yang tidak bisa ditarik kembali

Aku tidak pernah mengerti

Kata – kata manusia yang sulit di mengerti

Dan aku tidak mau mengerti

Aku hanya…ingin sekali lagi

Tidur nyenyak di dalam tanganmu yang hangat

Tidak apa…aku menunggu

 

“Omo, itu Kyuhyun”

“Kyuhyun”

“Kyuhyun!”

 

Kyuhyun menoleh memandang beberapa gadis yang menahan langkahnya. Ia memperhatikan gadis–gadis didepannya dan berpikir apa yang harus ia lakukan? Melarikan diri seperti saat itu? Tapi ia bukan Super Junior lagi sekarang. Ia hanya seorang Cho Kyuhyun. Cho Kyuhyun yang melupakan segalanya. Haruskah ia lari sekarang?

 

Well, gadis–gadis ini terlihat malu dan senang. Kelihatannya tidak berbahaya. Mereka berbicara pada Kyuhyun dengan sopan dan perhatian. Mereka mengatakan sangat merindukan evil magnae yang dulu. Meski begitu mereka bersyukur Kyuhyun sudah lebih baik.

 

“Apa kau sudah makan? Ahh kami baru saja membeli ttukbokki. Ini untukmu. Masih hangat” gadis itu memberi ttukbokki yang masih hangat pada Kyuhyun seraya tersenyum.

 

“Ahh sebenarnya…kami juga memiliki hadiah untukmu” kata gadis yang lain memberikan beberapa kotak hadiah pada Kyuhyun.

 

“Errm..terima kasih” kata Kyuhyun menerima.

 

“Tolong jaga kesehatanmu dan tetaplah semangat. Meski kami tidak bisa lagi melihatmu diatas panggung seperti dulu, kami masih menyukaimu” kata gadis yang satu lagi.

 

“…menyukaiku?” kata Kyuhyun.

 

Setelah beberapa saat akhirnya gadis–gadis itu beranjak pergi. Kyuhyun memandang ttukbokki dan kotak–kotak hadiah ditangannya dengan bingung.

“Mereka baik yah” kata Sungmin

 

Kyuhyun menoleh memandang Sungmin yang muncul dengan menenteng gitar kesayangannya. Dan senyum yang menghiasi bibirnya. Seperti biasa.

“Sungmin hyung…” kata Kyuhyun.

 

Kyuhyun menunjukkan tangannya yang penuh pada Sungmin.

“Mereka memberikan semua ini padaku” kata Kyuhyun.

“Gadis–gadis itu menyukaimu. Karena itu, mereka mau melakukan apa saja” kata Sungmin.

 

“…menyukaiku?” gumam Kyuhyun.

 

“Ahh apa tadi kau datang melihat drama musikalku?” tanya Sungmin.

“Ne…noona yang mengajakku. Tapi dia sudah pergi lebih dulu” jawab Kyuhyun menganggukkan kepalanya.

 

“Bagaimana tadi menurutmu? Sebenarnya tadi aku cukup tegang, karena yang datang sangat banyak hari ini……” celoteh Sungmin riang.

 

Kyuhyun memandang Sungmin yang terus berbicara dan tersenyum dengan senang. Kepala Kyuhyun berpikir. Kenapa Sungmin selalu berwajah seperti itu? Seakan ia memiliki segudang senyum yang siap menghiasi sudut bibirnya. Sungmin adalah sosok pertama yang Kyuhyun lihat saat ia sadar dari koma. Orang pertama yang Kyuhyun lupakan. Namun Sungmin juga orang pertama yang selalu mengunjunginya setiap pagi. Orang pertama yang menyodorkan tangan putihnya pada Kyuhyun. Tangan yang hangat.

 

Sungmin peduli pada Kyuhyun. Ia selalu peduli. Ia selalu mau melakukan apa saja untuk Kyuhyun. Selalu menunggu selama apapun. Selalu tersenyum meski Kyuhyun memalingkan wajahnya tidak peduli.  Apakah……sedikitnya Sungmin menyukainya?

 

Aku masih sanggup lari dengan kuat

Tanpa tujuan

Tanpa arah

Hanya terus berlari

Tapi aku tidak memiliki apapun

“pelindung” seperti yang kau miliki

Jika ada itu, maka aku dapat menahan sakit sepertimu?

Jika ada itu, aku bisa tertawa sepertimu?

 

Ini masih pagi yang lain. salju putih yang perlahan turun menggantikan daun–daun yang berguguran dimusim gugur. Kyuhyun duduk dipinggir jendela kamarnya. Memandang kosong keluar seraya memainkan korek api milik Sungmin. Dulu benda ini adalah miliknya. Dan sekarang benda ini kembali lagi padanya. Kyuhyun membuka penutup korek. Memandang nyala api yang berkobar kecil namun terasa menghangatkan. Mengalihkan pikirannya kembali pada Sungmin.

 

Kyuhyun menutup korek apinya membuat apinya padam seketika. Membukanya dan menutupnya kembali. Ia melakukannya selama berulang kali. Kyuhyun beralih memandang tangannya yang kosong. Sebelumnya tangan ini tidak pernah kosong. Tangan putih Sungmin selalu memenuhinya. Terasa hangat. Namun sekarang tangan ini kembali kosong. Dan dingin.

 

Terdengar suara ketukan pintu tidak lama pintu terbuka. Ryeowook muncul dengan nampan berisi sarapan ditangannya dan yesung yang berdiri dibelakangnya.

“Pagi kyu ~” sapa Ryeowook seraya melangkah masuk.

 

Yesung menutup pintu dan beranjak masuk seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar Kyuhyun. Ryeowook meletakkan nampan yang dibawanya dimeja kecil.

“Lihat, aku membuat sarapan untukmu. Kau belum sarapan bukan?” kata Ryeowook.

 

Kyuhyun tidak bereaksi. Tidak mengangkat kepalanya. Tidak bersuara. Ia hanya memandang tangannya. Yesung menoleh memperhatikan Kyuhyun. Ryeowook duduk dipinggir kasur Kyuhyun yang terasa dingin.

 

“Ya! Duduklah disini dan nikmati sarapanmu” kata Ryeowook.

 

Kyuhyun masih tidak bereaksi. Ryeowook mendesah dengan sedih.

“Rasanya sekarang aku mengerti bagaimana perasaan sungmin hyung saat menghadapimu yang seperti ini Kyu. Kau benar-benar seperti patung yang sempurna” kata Ryeowook.

 

“Yeah, Sungmin sangat sabar menghadapimu. Dia percaya kau pasti akan sembuh dan mengingatnya” kata Yesung menimpali.

 

Kyuhyun menggerakkan sudut matanya mendengar nama Sungmin disebut.

“Besok adalah 10 hari kematian Sungmin hyung. Kami semua akan berkunjung ke makamnya. Tidak semuanya. Teuki hyung, Heechul hyung dan Siwon hyung akan menyusul, karena jadwal mereka” kata Ryeowook

 

“Kau akan ikut bersama kami ‘kan Kyu?” tanya Yesung memandang magnaenya yang tetap tidak bersuara.

 

Kyuhyun memandang jam dinding yang berdetak perlahan. Masih 11 jam lagi hingga sunset tiba. 11 jam lagi untuk janjinya pada sungmin. Janji untuk menunggunya melihat sunset bersama. Kyuhyun memandang korek api milik Sungmin yang masih berada ditangannya.

 

“……entahlah” jawab Kyuhyun pelan.

 

Meskipun aku terus berlari

Tanganku tetap kosong

Ingin segera kembali ke rumah

Tidak menangis karena hujan

Tidak kalah oleh kesepian

Meskipun jatuh di jalan pulang

Jika seperti itu, cepatlah datang…

Sebelum tiba waktunya matahari meninggalkan dunia

Cepatlah sebelum sunset kita menghilang lagi

Sebelum kau menghilang dari pandanganku

Kumohon cepatlah

 

Kyuhyun memperhatikan Sungmin yang sedang memainkan gitarnya dengan lihai. Memainkan setiap not dan kunci dengan sempurna. Begitu juga dengan suaranya yang sempurna. Meski Sungmin selalu mengatakan suara Kyuhyun jauh lebih sempurna dari suaranya. 2 jam lagi sunset akan muncul. Pemandangan yang selalu mereka nantikan. Kyuhyun memandang langit sore yang masih belum menunjukkan tanda–tanda sunset akan muncul.

 

Kyuhyun menarik erat jaketnya saat angin bertiup. Membawa hawa dingin yang cukup menggigit kulit. Sungmin menghentikan permainan gitarnya. Meletakkannya dan mengambil korek api kesayangannya dari dalam tasnya. Menyalakan korek api tersebut dan meletakkan satu tangan Kyuhyun diatas api yang berkobar kecil itu.

 

“Cukup hangat bukan?” kata Sungmin tersenyum.

 

Kyuhyun tersenyum mengangguk.

“Masih 1 jam lagi. Kita masih harus menunggu” kata Sungmin memandang jam tangannya.

“Hyung apa menurutmu kita bisa melakukannya lagi? Melihat sunset bersama” tanya Kyuhyun.

 

“Tentu saja. Kita akan selalu melihat sunset bersama” jawab Sungmin tersenyum.

“Araseo” kata Kyuhyun.

 

“Tapi mungkin aku akan sedikit terlambat. Jadwalku semakin padat akhir–akhir ini” kata Sungmin.

 

“Tidak apa. Aku akan menunggumu hyung” kata Kyuhyun.

“Araseo. Aku akan datang secepatnya. Kita akan melihat sunset bersama” kata Sungmin tersenyum.

 

Senyum sungmin memudar saat menyadari Kyuhyun sedang memperhatikannya dengan serius.

“Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Sungmin memadamkan korek apinya.

 

Kyuhyun tidak menjawab. Ia menyentuh wajah Sungmin, mendekati wajah manis itu dan memperhatikannya semakin dalam. Membuat Sungmin cukup gelisah. “Kau memiliki mata yang indah hyung. Sangat hangat. Bola matamu tidak berkabut. Seperti pecahan kaca” kata Kyuhyun.

 

“Mwo? Errm…terima kasih” kata Sungmin malu.

“Ehh? Ada seseorang dimatamu hyung” kata Kyuhyun.

 

Sungmin tersenyum.

“Yang ada didalam mataku adalah kau, Kyu!” kata Sungmin menunjuk matanya.

“Benar. Hanya ada aku” kata Kyuhyun tersenyum.

 

Melewati malam sendiri lagi

Memahami kenyataan dengan cara seburuk apapun

Melawan kesepian sampai semuanya terpenuhi

Menunggu sampai sunset tiba

Cepatlah datang

Aku masih menunggu

 

“Mereka terlambat” kata Heechul seraya melipat kedua tangannya didada dengan tidak sabar.

 

“Sabarlah Chulie. Wookie dan Yesung sedang menjemput Kyu. Sebentar lagi mereka akan segera sampai” kata Eeteuk.

 

“Kupikir hanya kita yang datang terlambat. Ternyata mereka jauh lebih terlambat dari kita” gerutu Heechul.

 

“Sstt…tenanglah sedikit hyung. Ini pemakaman. Kau akan mengganggu ketenangan Sungmin hyung. Sebaiknya kau berdoa pada Tuhan untuk ketenangan Sungmin hyung. Tuhan akan mengabulkan doamu jika kau tenang hyung” kata Siwon seraya menangkupkan kedua tangannya dengan khidmat.

 

“Amin” kata Eeteuk.

“Cih. Itu lagi” gerutu Heechul.

 

Personil Super Junior sedang mengunjungi makam Sungmin. Beberapa berdoa dengan khidmat. Beberapa menangis menumpahkan kerinduan mereka. Eeteuk mengangkat kepalanya dan berdiri saat melihat Ryeowook dan Yesung yang berjalan mendekat. Hanya Ryeowook dan Yesung. Tanpa magnae mereka.

 

“Dimana kyu? Kalian menjemputnya bukan?” tanya Eeteuk.

 

Ryeowook menggelengkan kepala.

“Ibunya bilang Kyu sudah pergi sejak pagi” jawab Yesung.

“Mwo? Jadi Kyu tidak mengunjungi Sungmin hyung bersama kita hari ini?” tanya Donghae.

 

“Sepertinya begitu” jawab Ryeowook.

“Kenapa Kyu pergi begitu saja? Seharusnya dia mengunjungi Sungmin hyung sekarang. Sungmin hyung pasti merindukannya juga” kata Eunhyuk.

 

“Sudah kuduga. Evil magnae itu…dia pasti ada disana” kata Heechul terkekeh.

“Sudahlah. Biarkan saja. Kyuhyun juga sangat merindukan Sungmin. Kita semua tahu itu” kata Eeteuk mendesah.

 

“Kurasa dia sedang menunggu Sungmin ditempat itu” kata Yesung.

“Sepertinya kemarin Kyu juga pergi ke tempat itu. Setelah kami mengunjunginya” kata Ryeowook.

 

“Jadi Kyu masih datang ke tempat itu dan menunggu Sungmin hyung?!” kata Donghae terkejut.

“Setiap sunset ?” tanya Eunhyuk sama terkejutnya.

 

“Ne…dan setiap hari” jawab Yesung.

“Mau sampai kapan Kyu menunggu? Itu percuma” kata Ryeowook sedih.

 

Eeteuk memandang nisan didepannya dengan sedih.

“Percuma saja. Sungmin tidak akan pernah datang” kata Eeteuk.

 

 

Kyuhyun meraih tasnya dan beranjak turun dari kereta. Melangkahkan kakinya melewati orang–orang yang memperhatikannya dan berbisik “Bukankah itu Kyuhyun? Kyuhyun…?”. Kyuhyun tidak peduli dan mempercepat langkahnya. Beranjak ke halte dan menaiki bus. Memilih kursi paling belakang dan memandang keluar jendela. Menggenggam dengan erat korek api milik Sungmin ditangannya. Perjalanan Kyuhyun masih cukup jauh untuk sampai ditempat itu. Tapi Kyuhyun masih memiliki banyak waktu hingga sunset tiba. Kyuhyun melihat jam tangannya. Masih 10 jam lagi hingga sunset tiba. 10 jam lagi untuk janjinya pada Sungmin.

 

Drtt…drtt…

Kyuhyun mengambil ponselnya yang bergetar. Noona calling…

“Yoboseo?”

“Dimana kau Kyu? Ryeowook dan Yesung datang mencarimu. Mereka mengajakmu untuk mengunjungi makam Sungmin bersama”

“Aku sedang dibus noona”

“Kyuhyun, apa kau pergi ke tempat itu? Sunset masih sangat lama Kyu”

“Araseo. Tapi aku harus pergi kesana noona”

“Demi Tuhan kyu. Kembalilah. Kau tidak perlu ke tempat itu lagi”

“………”

“Kau tidak perlu menunggu lagi Kyu. percuma saja. Sungmin tidak akan datang. Dia tidak akan pernah datang. Kau tahu itu bukan?”

“……noona aku harus turun sekarang”

Klik!!

 

Bus yang ditumpangi Kyuhyun berhenti disebuah halte yang sepi di suatu pedesaan. Kyuhyun beranjak turun dan mengedarkan pandangannya. Salju putih dan udara dingin menyambut Kyuhyun. Kyuhyun melangkahkan kakinya. Melewati pedesaan ini hingga memasuki bukit yang tertutup salju. Kyuhyun terus melangkahkan kakinya melewati jalan setapak dan berhenti diujung jalan.

 

Kyuhyun berdiri diatas bukit dan mengedarkan pandangannya. Dari sini semua pemandangan akan terlihat. biasanya terlihat indah. Namun kali ini yang terlihat hanyalah hamparan salju yang menutupi tanah. Terlihat indah namun juga sangat dingin. kyuhyun membersihkan salju salju yang mengotori kursi tempat biasa ia dan sungmin duduk menunggu sunset bersama. Meletakkan tasnya kemudian menghempaskan tubuhnya. Kyuhyun mengatur sesaat nafasnya yang lelah. Memandang jam tangannya dan merapatkan jaketnya yang tebal.

 

Kyuhyun merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan korek api milik Sungmin. Membuka penutupnya dan memandang api kecil yang berkobar. Seakan api itu cukup menghangatkan dirinya yang kedinginan. Seakan api itu memberinya alasan untuk selalu kembali ketempat ini. Masih 8 jam lagi hingga sunset tiba. 8 jam lagi untuk janjinya.

 

Seperti sebuah festival yang kita tahu

Suatu hari akan berakhir

Merah, biru, hijau, kuning

Seperti aku tahu suatu hari nanti

Tidak dapat menemuimu lagi

 

 

“Kau Kyuhyun. Namamu Cho Kyuhyun. Kau ingat?” tanya Sungmin.

 

Kyuhyun tidak menjawab. Ia hanya memandang Sungmin kemudian menggelengkan kepalanya pelan. Sungmin menarik nafasnya sesaat. “Aku Sungmin. Lee Sungmin. Apa kau melupakanku juga?” tanya Sungmin.

 

Kyuhyun tidak menjawab. Ia masih memandang Sungmin yang kini tidak bisa ia ingat, kemudian memalingkan pandangannya keluar jendela. Sungmin mendesah dengan sedih. Sepertinya Kyuhyun benar–benar melupakannya.

 

Kyuhyun menoleh dan memandang Sungmin yang sedang mengulurkan satu tangan putihnya pada Kyuhyun. Kyuhyun memandang tangan Sungmin yang terbuka dan sepertinya terlihat hangat.

 

“Apa kau mau menjadi temanku? Mungkin kita bisa mengulang dari awal” tanya Sungmin.

“……teman?” Kyuhyun balik bertanya.

 

Kyuhyun memandang tangan Sungmin yang masih terbuka. Perlahan Kyuhyun mengulurkan tangannya menyambut tangan Sungmin. Ternyata benar. Tangan putih ini terasa hangat.

 

Sungmin tersenyum. Menggenggam tangan Kyuhyun selama beberapa saat kemudian melepaskan tangannya. Kyuhyun memandang kecewa tangannya yang kini kosong. Rasanya ia ingin tangan putih itu terus berada didalam tangannya. Tangan yang hangat didalam tangannya yang dingin. Kyuhyun memandang Sungmin dengan bingung.

 

“Kenapa? Apa kau temanku? Kau…siapa? Setiap hari selalu datang?” tanya Kyuhyun.

 

Sungmin menggelengkan pelan kepalanya.

“Bukan. Bukan…kita lebih dari itu” jawab Sungmin tersenyum.

“……lebih dari teman?” kata Kyuhyun memandang Sungmin.

 

“Ya…kita lebih dari teman. Kita…lebih dari itu” kata Sungmin memandang keluar jendela.

 

Kyuhyun masih memandang Sungmin. kepalanya tidak bisa mengingat apapun. Tapi perasaannya merasakan segalanya. Seakan ia pernah mengenal orang bernama Sungmin ini. sangat mengenalnya. Terasa sangat…spesial. Teman? Sahabat? Rasanya mereka…lebih dari itu.

 

“Maukah kau melihat sunset bersamaku?” tanya Sungmin menoleh.

 

Kyuhyun tidak menjawab. Ia masih memandang Sungmin.

“ Maukah kau bersamaku?” tanya Sungmin lagi.

“…bersama?” kata Kyuhyun mengernyit.

 

Sungmin mengangkat jari kelingkingnya.

“Maukah kau tetap bersamaku? Melihat sunset bersama?” tanya Sungmin.

“Apa kau akan datang kembali? Apa kau akan datang?” Kyuhyun balik bertanya.

 

“Tentu saja. Selalu” jawab Sungmin tersenyum.

“…araseo. Aku akan menunggumu” kata Kyuhyun menautkan jari kelingkingnya dengan milik Sungmin.

 

Suatu hari nanti

Luka dan pedih hatimu

Akan hilang seiring dengan ingatan

Aku akan terus berada di sisimu

Good night my sunset

 

“Kyu ~ kyu ~ bangunlah. Kau akan melewatkan sunsetnya”

 

Kyuhyun membuka matanya perlahan dan memandang langit yang mulai memerah. Sepertinya ia tertidur cukup lama. Sunset hampir tiba. Perlahan langit menumpahkan butir–butir salju yang berwarna putih. Kyuhyun menarik erat jaket tebal yang membungkus tubuhnya. Hoodie hitam milik Sungmin yang menghangatkan kepalanya dan memeluk tubuhnya yang mulai menggigil perlahan. Cuaca menjadi semakin dingin dan Kyuhyun mulai membeku. Seharusnya Kyuhyun meraih tasnya dan beranjak pergi. Menaiki bus dan kereta untuk sampai di rumahnya yang hangat. Namun Kyuhyun tetap tidak beranjak dari tempatnya. Tetap menunggu dengan korek api milik Sungmin yang rasanya sudah tidak bisa lagi menghangatkan tubuhnya yang hampir membeku.

 

Kyuhyun memandang ujung jalan yang sepi dan tertutup salju. Tidak ada siapa pun disana. Kyuhyun beralih memandang langit senja yang mulai turun perlahan. Pemandangan yang ia nantikan sejak tadi. Semilir angin bertiup menerpa tubuh Kyuhyun yang dingin dan tangannya yang kosong. Kyuhyun memejamkan matanya sesaat. Merasakan tangan yang hangat kembali mengisi tangannya. Menghadirkan sosok sungmin dalam balutan tiupan angin yang dingin. Kyuhyun membuka matanya dan menemukan senyum yang ia kenali. Sosok yang ia rindukan yang kini terasa sama dinginnya dengan salju.

 

Kyuhyun tersenyum.

“Kau terlambat hyung”

 

“Maaf. Aku berusaha untuk datang secepatnya”  

 

“Aku menunggumu. Aku selalu menunggumu hyung. Hingga hari ini”

 

“Aku tahu. Terima kasih sudah terus menungguku kyu ^-^”

 

“Apa kita sudah kembali menjadi teman?”

 

“Kita selalu menjadi teman. Ohh…tidak. kita lebih dari itu ^_^”

 

“Apa kau senang bersamaku hyung?”

 

“Aku sangat menikmati saat bersamamu kyu. Aku selalu senang bersamamu. Seperti saat kau menyebut namaku untuk pertama kali. Aku sangat senang >_<”

 

“Kenapa? Karena kau menyukaiku?”

 

“Tepat sekali ^_^”

 

“Aku juga menyukaimu hyung” kata kyuhyun tersenyum

 

“Terima kasih. Aku senang mendengarnya. Kau evil magnae favoritku”

 

Kyuhyun diam sesaat memandang langit yang mulai gelap perlahan.

“Apa yang ada didalam pikiranmu saat ini Kyu?”

 

“Masih banyak… hal yang ingin kutanyakan padamu hyung. Yang ingin kuketahui darimu…masih banyak. Tapi…berapa banyak pun waktu yang kita miliki untuk saling mengetahui rasanya takkan cukup. Tidak bisa dibicarakan semua” kata Kyuhyun.

 

“Tidak apa–apa?”

 

“Tidak apa–apa. Tidak ada kau disisiku…seharusnya tenang–tenang saja. Karena itu aku tidak apa–apa” kata Kyuhyun.

 

“Sepertinya ini adalah sunset terakhir yah”

 

“Terima kasih untuk selalu bersamaku hyung. Dan untuk sunset-nya juga. Aku menyukainya. Gomawo Lee Sungmin, saranghae” kata Kyuhyun.

 

“Nado saranghae Cho Kyuhyun”

 

Sunset telah usai dan berganti dengan bintang–bintang yang bertaburan dilangit seperti permen. Meski tertutup dengan putihnya salju. Semilir angin bertiup kencang menerpa tubuh Kyuhyun. Meniup tangan Kyuhyun yang kembali kosong. Memudarkan sosok Sungmin yang tersembunyi dalam balutan angin yang dingin. Menghilangkan tangan hangat yang mengisi tangan dingin Kyuhyun. Suasana hening menyelimuti. Tidak ada siapa pun selain Kyuhyun. Tidak ada apapun selain hamparan salju yang dingin dan putih. Tidak ada bayangan Lee Sungmin disini. Tidak lagi.

 

Kyuhyun mengenggam erat korek api milik Sungmin didalam saku jaketnya. Perlahan sudut matanya memanas. Kyuhyun menangis. Ia bukan patung yang sempurna lagi. Ia adalah Kyuhyun yang akhirnya bisa membiarkan dirinya menangis. Jika hujan dapat menyembunyikan air mata, maka salju dapat menghilangkan air mata dalam sekejap. Membeku bersama dinginnya salju.

 

“Hikss…tidak apa –apa. Tidak apa – apa hikss hikss~” gumam Kyuhyun disela isak tangisnya.

 

Cuaca menjadi semakin dingin. Hampir membuat Kyuhyun mati membeku. Kyuhyun tidak ingat bagaimana selanjutnya. Yang dia tahu saat membuka matanya adalah dia berada dirumah sakit. Ibunya, kakaknya dan hyung–hyungnya yang mengelilinginya dengan pandangan cemas. Yesung bilang, dia mengira Kyuhyun akan mati membeku ditengah salju. Kyuhyun hanya tersenyum lemah.

 

Eeteuk tersenyum lega dan meletakkan sesuatu ditangan Kyuhyun. Korek api antik berwarna emas milik Sungmin. Benda itu terasa dingin ditangan Kyuhyun. Kyuhyun membuka penutupnya. Seketika api kecil menyala. Kyuhyun tersenyum kecil memandang api kecil yang berkobar hangat, kemudian menutup penutupnya untuk memadamkan apinya. Ia memandang korek api itu dengan sedih.

 

“Kyu tidak apa –apa?” tanya Eeteuk.

 

Kyuhyun menggeleng pelan dan menggenggam erat korek api milik sungmin. Seakan ia sedang menggenggam tangan putih Sungmin yang hangat. “Tidak apa–apa. Aku tidak apa – apa” jawab Kyuhyun

 

Mungkin harapanmu tak akan terkabul

Tapi, itulah satu – satunya kekuatan yang menggerakkan tubuh ini

Sunset kita telah selesai. Tidak apa

Setidaknya aku bisa menunggu

Aku baik – baik saja.

Karena aku benar – benar baik – baik saja

Seharusnya aku baik – baik saja

Kau tidak perlu cemas lagi

Ok?

 

Epilogue

 

3 bulan kemudian

 

Musim panas. Ini sore yang lain dipanggung MuBank. Tepuk tangan meriah terdengar riuh saat super junior mengakhiri aksinya. Kebahagiaan terasa memenuhi ruangan ini. Bukan hanya karena Super Junior berhasil kembali menjadi juara. Tapi karena magnae mereka berdiri bersama mereka diatas panggung. Yeah, Kyuhyun kembali bernyanyi.

 

Setelah kematian Sungmin dan keluarnya Kyuhyun, Super Junior terasa kosong dan sulit. Kekosongan itu terasa sangat memberatkan Super Junior. Tidak ada yang dapat mengganti posisi Kyuhyun dan Sungmin dalam grup. Leeteuk dan yang lain menolak saat perusahaan menyodorkan beberapa nama trainee untuk menggantikan Kyuhyun dan Sungmin. Heechul memberontak saat perusahaan memutuskan membiarkan posisi Kyuhyun dan Sungmin tetap kosong. Super Junior mengajukan nama Kyuhyun untuk kembali masuk ke dalam grup. Super Junior tetap membutuhkan Kyuhyun.

 

Butuh perdebatan panjang dan perjuangan yang keras untuk menyakinkan Kyuhyun layak untuk kembali. Dan akhirnya perusahaan memutuskan untuk mengembalikan Kyuhyun ke dalam posisinya dan membiarkan posisi Sungmin tetap kosong. Berita ini disambut gembira oleh orang–orang yang yang tidak sabar untuk melihat Kyuhyun kembali berdiri diatas panggung. Seluruh personil super junior bersorak senang saat magnae mereka kembali lagi ke asrama. Keluarga Kyuhyun tentu saja selalu mendukungnya.

 

Rasanya aneh saat Kyuhyun menginjakkan kembali kakinya dikamar lamanya. Kamarnya dengan sungmin. Ilusinya kembali menghadirkan bayangan sungmin. Barang–barang lama milik Sungmin masih tetap ditempatnya. Tidak berubah dan tidak akan berubah.

 

Keadaan Kyuhyun sudah sangat baik. Ia mengingat kembali orang–orang yang ia lupakan. Perlahan ia berusaha kembali menjadi seorang Kyuhyun. Evil magnae Super Junior. Karena kecelakaannya saat itu hingga Kyuhyun harus dikeluarkan,  Kyuhyun harus belajar dari awal lagi. Namun tidak butuh waktu lama untuk bisa mendengar Kyuhyun bernyanyi dengan sangat baik. Semua orang setuju, Kyuhyun memang berbakat.

 

Meski semua terlihat berjalan dengan baik. Kyuhyun masih tidak dapat mengingat dengan baik orang itu. Lee Sungmin. Seseorang yang selalu menyelipkan tangan hangatnya didalam tangan dingin Kyuhyun. Seseorang yang terasa sangat berarti untuk Kyuhyun. Setelah semua hari–hari itu, sekarang Kyuhyun harus melepaskannya.

 

Rasanya lucu. Melepaskan seseorang yang tidak bisa kau ingat dengan baik dan mengatakan kau tidak apa–apa. Benarkah tidak apa – apa? Benarkah Kyuhyun tidak apa–apa?

 

Seperti sebuah ilusi …
Lupakanlah semuanya …

 

“Kyu ~” panggil Ryeowook.

 

Kyuhyun menoleh dan segera ia mendapat pelukan dari hyungnya yang bergelar eternal magnae itu. “Penampilanmu tadi bagus sekali. Kemajuanmu sangat mengesankan Kyu” kata Ryeowook tersenyum senang.

 

“Aku tahu hyung. Aku memang jenius” kata Kyuhyun menarik satu sudut bibirnya.

“Haha…aku tahu. Kau memang berbakat Kyu. Selamat datang kembali evil magnae” kata Ryeowook tertawa.

 

“Terima kasih hyung” kata Kyuhyun tersenyum.

“Ya! Palliwa. Hyungnim akan mentraktir kita makan malam ini” kata Eunhyuk.

 

“Araseo. Khajja Kyu” kata Ryeowook.

“Aku mau ke toilet dulu” kata Kyuhyun.

“Ok” kata Ryeowook kemudian beranjak pergi.

 

Kyuhyun membasuh wajahnya beberapa kali dan memandang pantulan dirinya dicermin. Terlihat baik–baik saja. Yeah, seharusnya dia baik–baik saja.

“Ya, matikan krannya jika sudah selesai. Sekarang air mahal” kata Heechul yang sudah berdiri disamping Kyuhyun.

 

“Oh” kata Kyuhyun tersadar kemudian mematikan kran yang masih terus mengalirkan airnya.

 

Heechul membasuh tangannya dan memandang Kyuhyun melalui cermin.

“Kemajuanmu mengesankan. Kau tidak terlihat seperti orang yang lupa ingatan” kata Heechul.

 

“Aku sudah sembuh hyung” kata Kyuhyun tersenyum kecil.

 

“Benarkah? Apa kau sudah ingat dengan Sungmin kembali?” tanya Heechul.

 

Heechul menoleh memandang Kyuhyun yang terdiam sesaat.

“Tidak. Tapi aku akan segera mengingatnya” jawab Kyuhyun.

“Kau lucu sekali” kata Heechul tertawa.

“Mwo?” tanya Kyuhyun memandang hyungnya.

 

“Kau…lucu sekali” kata Keechul tertawa kemudian beranjak pergi.

“Hyung bolehkah aku bertanya?” tanya Kyuhyun.

 

Heechul menghentikan kakinya dan menoleh.

“Mwo?” kata heechul.

“Apa…hubunganku dengan Sungmin hyung? Kami lebih dari teman?” tanya Kyuhyun.

 

Heechul mengernyit sesaat kemudian terkekeh kecil.

“Yaah…bisa dibilang seperti itu. Kalian lebih dari apapun” jawabnya.

“Lebih dari apapun…?” gumam Kyuhyun.

 

Kyuhyun merogoh saku celananya dan mengeluarkan korek api kesayangan Sungmin. Kini benda itu tidak pernah absent dari tangan Kyuhyun. Kyuhyun memandang benda itu, berkilat tertimpa cahaya lampu. Kyuhyun membuka penutupnya dan memandang api yang berkobar kecil. Api itu terasa dingin. seakan perlahan benda itu kehilangan kehangatannya.

 

kita lebih dari teman. Kita…lebih dari itu

 

Kyuhyun masih memandang nyala api yang berkobar kecil tanpa suara. Heechul memandang kyuhyun dan mendesah sesaat. “Kau baik–baik saja?” tanya Heechul.

 

Kyuhyun menutup penutup korek api. Seketika api kecil itu menghilang. Kyuhyun memasukkan kembali benda itu ke dalam saku celananya dan memandang pantulan dirinya didalam cermin. Ia tidak terlihat baik–baik saja. Ia merasa lelah dan kesal. Sejak benda ini kembali ke tangannya, entah kenapa bayangan Sungmin semakin kuat. Tapi kepala Kyuhyun masih tetap tidak bisa mengingatnya dengan baik. Hanya orang itu. Entah kenapa?

 

“Ya. Aku baik–baik saja” jawab Kyuhyun.

“Kalau begitu ayo pergi. Semua sudah menunggu dimobil” kata Heechul seraya beranjak pergi.

“Araseo” kata Kyuhyun.

 

Kyuhyun memandang sesaat bayangan dirinya dicermin kemudian segera menyusul Heechul.

Benarkah dia baik–baik saja? Tidak. Dia tidak baik–baik saja.

 

Hanya ingin menjadi orang yang dibutuhkan …
Oleh seseorang
Seperti aku membutuhkanmu

Malam itu seluruh personil sedang berkumpul diasrama. Mengobrol dan saling bercanda. Rasanya rindu sekali, seperti saat itu. Waktu yang telah lewat begitu saja. Kyuhyun duduk diantara personilnya dan tertawa mendengar setiap celotehan para hyungnya.

 

“Saat pertama kali aku melihat Heechul hyung, aku berpikir, dia cantik…benarkah dia laki–laki?” kata Eunhyuk membuat semua orang terkekeh.

 

“Ya! Mau buktikan?” tantang Heechul.

“Bagaimana menurutmu Kyu?” tanya Ryeowook.

“Entahlah…ditelanjangi? Atau diraba?” jawab Kyuhyun tersenyum evil.

“Ya! Senyum itu. Dasar evil” kata Kangin terkekeh. Semua ikut tertawa.

 

Tawa Kyuhyun memudar perlahan saat lagi–lagi bayangan Sungmin datang tanpa permisi dikepalanya. Seperti sebuah ilusi yang dapat muncul dan hilang dalam sekejap.

 

Kyu……

 

Kenapa?

 

Tak bolehkah? Apakah mengharapkan kebahagiaan satu orang…adalah kejahatan?

 

“U……yu…Kyu…” panggil Yesung. “Kyu? Halo…bumi memanggil Kyuhyun?” panggil Yesung lagi seraya melambaikan satu tangannya dihadapan wajah Kyuhyun.

 

“Eeh??” kata Kyuhyun tersadar.

“Ada apa Kyu? Kau melamun” tanya Yesung.

“Tidak. bukan apa–apa” jawab Kyuhyun menggelengkan kepalanya.

 

Yesung memandang ragu Kyuhyun sesaat.

“Ok” katanya kemudian.

 

“Aah…hyungnim baru saja mengirimiku pesan. Katanya besok kita ada jadwal wawancara jam 11 siang. Karena itu kita …” kata Leeteuk.

 

“Teuki hyung…” kata Kyuhyun mengangkat satu tangannya ke atas.

“Ne Kyu?” tanya Leeteuk.

 

“Besok mungkin aku akan sedikit terlambat” kata Kyuhyun.

“Memang besok kau mau kemana Kyu?” tanya Donghae.

“Aku…ingin menjenguknya” jawab Kyuhyun.

 

Semua segera terdiam.

“Kk. Donghae, besok kau temani Kyuhyun…” kata Leeteuk.

“Anni hyung. Tidak perlu. Aku akan pergi sendiri” kata Kyuhyun.

 

“Tapi akan lebih baik jika ada yang menemanimu pergi” kata Leeteuk ragu.

“Tidak apa. Aku akan baik–baik saja hyung. Besok aku akan pergi lebih pagi dan kembali secepatnya” kata Kyuhyun menyakinkan.

 

Leeteuk diam sesaat. Memandang seluruh personilnya meminta persetujuan. Donghae, Ryeowook, Eunhyuk, dan Yesung menggelengkan kepala mereka. Leeteuk mengernyit memandang Kyuhyun kemudian menghela nafas.

 

“Araseo. Kau boleh pergi sendiri. Kau bisa meminjam mobil Siwon. Tapi kau harus kembali jam 10. Dan kau harus berjanji untuk berhati–hati, arachi?” kata Leeteuk akhirnya.

 

“Araseo. Gomawo hyung” kata Kyuhyun.

 

Siwon memberikan kunci mobil miliknya pada Kyuhyun.

“Kau harus hati–hati saat menyetir besok” kata Siwon.

“Araseo hyung. Tenang saja” kata Kyuhyun tersenyum.

 

Berharap untuk berada di sisi orang yang kita anggap penting
Kemungkinan yang tidak terbatas
Apa yang sebenarnya paling kau harapkan?

 

Pagi yang lain kembali datang. Personil Super Junior masih terlelap dibalik selimut mereka. Namun Kyuhyun sudah bersiap dengan jaket hitam yang membalut tubuhnya yang ramping. Kyuhyun memakai big shade hitam miliknya dan memacu mobil sport milik Siwon yang ia pinjam menyusuri jalanan yang masih sepi.

 

Matahari semakin tinggi. Dan jalanan mulai dipenuhi orang–orang yang mulai beraktivitas seperti biasa. Kyuhyun menghentikan mobilnya saat lampu merah menyala. Orang–orang yang telat ke kantor. Anak–anak sekolah yang bersiap untuk ke sekolah. Orang tua yang mengantar anak kecilnya ke taman kanak–kanak. Semua orang–orang itu menyebrang dalam satu kelompok yang besar secara bersamaan.

 

Kyuhyun memandang lampu lalu lintas yang tidak kunjung berubah menjadi lampu hijau dengan bosan. Kemudian menyenderkan tubuhnya dan mendesah. Mengambil korek api antik kesayangan Sungmin yang selalu ia bawa dan memandangnya. Kyuhyun masih memandang benda itu sampai akhirnya suara klakson mobil–mobil dibelakangnya menyadarkannya. Lampu hijau.

 

Kyuhyun segera memacu mobilnya dan menambah kecepatannya. Ia harus segera sampai. Kyuhyun memainkan korek api ditangannya seraya mengemudikan mobil.

“Sissh…!!” gerutu Kyuhyun saat korek api ditangannya tidak sengaja terjatuh.

 

Kyuhyun sedikit menurunkan kecepatan mobilnya dan mengulurkan tangannya ke bawah. Tangan Kyuhyun meraba–raba mencari korek api yang tadi terjatuh.

“Aissh. dimana benda itu” gerutu Kyuhyun seraya meraba–raba

 

Kyu…lihat. Balon itu melayang dilangit. Terlihat indah yah.

 

Kyuhyun tersentak dengan sebuah ingatan tentang Sungmin muncul di kepalanya kemudian mengangkat kepalanya. Beberapa balon terlihat melayang ke langit dan seorang anak kecil yang menangis ditengah jalan.

 

“Omo!!” kata Kyuhyun terkejut.

 

Segera Kyuhyun menginjak rem seraya membanting kemudi ke arah lain. Hingga akhirnya Mobil yang dikendarai Kyuhyun menabrak dinding dengan keras.

 

“Apa itu?”

“Apa yang terjadi?”

“Omo, kecelakaan!!”

“Hey tolong orang yang didalam mobil itu. dia terluka”

“Cepat panggil ambulans”

 

Segera suasana berubah ramai. Ditengah kesadarannya, Kyuhyun dapat merasakan tubuhnya dikeluarkan dari dalam mobil. Ia dapat merasakan darah yang mengalir dari kening dan tubuhnya yang terluka. Terasa hangat dan sakit. Ia terluka. Kyuhyun menduga dirinya luka parah. Apa dia akan mati?

 

Kyuhyun merasakan sesuatu dalam tangannya. Benda yang saat ini tidak pernah ia tinggalkan. Korek api antik kesayangan Sungmin. Kyuhyun menggenggam dengan lemah korek api ditangannya. Mencoba mencari alasan untuk bertahan meski hanya sesaat.

 

Jangan khawatir. Pasti akan terjadi sesuatu. Besok, pasti terjadi. Makanlah yang banyak.

Setelah itu, kita akan menangis sepuasnya. Lalu tidur setelah malam tiba…dan bangun lagi setelah pagi datang. Harus lebih ceria daripada hari ini

 

Suara itu…

 

Kyu…kau ingat aku?

 

Aku ingat. Kau Lee Sungmin. Teman sekamarku dan hyung favoritku. Kau adalah salah satu personil Super Junior yang multitalent. Sebenarnya kau adalah pria yang lembut. Sangat suka dengan warna pink dan bunny. Suka sekali bertingkah aegyo. Kau memanggilku dengan panggilan kyu dan dengan gaya aegyo’mu yang tidak bisa aku tolak. Kau… Kita… Lebih dari teman. Lebih dari apapun.

 

Kyu…kau mendengarku?

 

Suara itu…aku selalu mendengarnya…

 

Kyuhyun mencoba mengumpulkan kesadarannya dan menggenggam korek api ditangannya dengan kuat. Ia masih bisa bertahan. Ia harus bertahan.

 

“Hey orang ini masih hidup”

“Tuan anda bisa mendengarku? Bertahanlah”

 

Kyuhyun membuka matanya dan memandang keramaian disekitarnya. Orang–orang yang sedang mengelilinginya dengan pandangan cemas. Kyuhyun menoleh memandang mobil sport milik Siwon yang rusak. Kelihatannya ia harus menggantinya.

 

“Syukurlah dia masih hidup”

“Bertahanlah tuan. Ambulans akan segera datang”

 

Tidak. Kyuhyun tidak bisa menunggu. Ia harus segera pergi. Ia harus mengunjungi Sungmin kemudian kembali pulang jam 10 untuk jadwal wawancara. Sekarang ia adalah Super Junior Kyuhyun. Ada janji yang harus ia penuhi. Ada jadwal yang harus ia lakukan. Ia tidak bisa terus berbaring disini.

 

Kyuhyun mengumpulkan kekuatannya dan berusaha untuk bangkit dengan susah payah.

“Tuan…tuan…tuan mau kemana? Anda sedang terluka. Sebentar lagi ambulans akan segera datang. Anda tidak boleh bergerak dulu. Anda harus menunggu sebentar lagi”

 

Tidak. Kyuhyun tidak bisa menunggu lagi.

 

Kyuhyun melangkahkan kakinya perlahan dan beranjak pergi. Mengabaikan rasa sakit disekujur tubuhnya. Mengabaikan darah yang masih mengalir dengan hangat ditubuhnya yang terluka. Mengabaikan keramaian dibelakangnya. Mengabaikan teriakan–teriakan yang menyuruhnya untuk berhenti dan menunggu hingga ambulans datang.

 

“Tuan…tuan tunggu sebentar. Tolong kembalilah”

“Mau kemana dia? Apa dia gila? Dia terluka parah seperti itu……dia bisa mati”

 

Kyuhyun tidak peduli dan terus menyeret kakinya pergi. Menggenggam dengan erat korek api kesayangan Sungmin ditangannya yang terasa hangat dengan darahnya. Sebentar lagi, sebentar lagi ia akan segera sampai ditempat Sungmin.

 

Kehilangan adalah hal yang sangat menyesakkan,
Sampai aku tidak mau hidup lagi
Dunia tanpa dirimu tidak ramah sedikit pun padaku

Seperti sebuah ilusi …
Yang dalam sekejap menghilang
Panggilah namaku sekali lagi

Seperti aku memanggil namamu setiap saat

 

“Kenapa kau berwajah seperti itu Kyu?” tanya Sungmin.

 

Kyuhyun memandang Sungmin dengan muram.

“Kenapa kau berbicara seperti itu diradio tadi?” Kyuhyun balik bertanya.

 

“Wae? Tadi kita sedang membicarakan tentang kesempatan. Jika kau diberi kesempatan terakhir dalam hidupmu. Dan jawabanku adalah, aku ingin memastikan kau baik–baik saja” kata Sungmin tersenyum santai.

 

“Perkataanmu tadi itu …benar–benar…tidak masuk akal” kata Kyuhyun memalingkan wajahnya.

 

“Kau mau tahu apa yang ada dipikiranku Kyu?” tanya Sungmin.

“Mwo?” kata Kyuhyun.

 

Sungmin diam sesaat. Kyuhyun menoleh memandang raut wajah Sungmin yang berubah serius.

“Aku tidak takut mati. Yang kupikirkan, hanyalah kau yang harus kutinggalkan” kata Sungmin

“Hyung…kau terlalu banyak berpikir” kata Kyuhyun mengernyit.

 

“Tidak ada yang tahu, apa yang ada didepan kita. Masa depan seperti kotak Pandora yang misterius” kata Sungmin.

 

“Aigoo…kau benar–benar terlalu banyak berpikir hyung. Santailah sedikit” kata Kyuhyun mendengus geli.

 

“Lalu apa yang akan kau lakukan Kyu? Jika itu terjadi….” tanya Sungmin.

 

“Hmm…” Kata Kyuhyun berpikir kemudian menundukkan kepalanya. “Jika terjadi sesuatu denganmu, aku tak akan mengantarmu dengan senyum. Sebab, aku pasti akan terus menangis… Selama berhari – hari, berbulan – bulan, puluhan sampai ratusan tahun… Aku akan terus menangis sampai air mataku menjadi danau, lalu jadi sungai… Dan akhirnya jadi banjir besar. Aku tidak mau melakukan apapun”

 

“Kyu…” kata Sungmin sedih.

 

Sungmin beranjak mendekati Kyuhyun dan menyadari Kyuhyun sedang menahan tawanya.

“Kyu itu tidak lucu” kata Sungmin merengut.

 

Kyuhyun mengangkat kepalanya dan tertawa.

“Kau serius sekali hyung. Aku tidak tahan melihatnya” kata Kyuhyun tertawa.

“Aissh. Kau itu tidak bisa serius sedikit yah” gerutu Sungmin.

 

“Ara ara. Mianhae” kata Kyuhyun tersenyum meminta maaf.

“Seriuslah” kata Sungmin.

 

“Ok, serius. Hmm…aku akan baik–baik saja hyung. Aku akan menemuimu dan mengatakan aku baik–baik saja. Itu ‘kan yang ingin kau pastikan?” kata Kyuhyun.

 

“Satu lagi” kata Sungmin.

“Mwo?” tanya Kyuhyun.

“Saat itu…panggil namaku sekali lagi” pinta Sungmin tersenyum.

 

Jangan khawatir
Pasti akan terjadi sesuatu
Besok, pasti akan terjadi.
Makanlah yang banyak
Setelah itu, kita akan menangis sepuasnya
Lalu tidur setelah malam tiba ..
Dan bangun lagi setelah pagi tiba
Harus lebih ceria dari hari ini

Seperti yang kau bilang

Kyuhyun menyeret kakinya dengan susah payah. Menyusuri setiap nisan yang berjejer rapi. Beberapa menit kemudian kyuhyun berhenti didepan nisan yang bertuliskan nama LEE SUNGMIN. Beberapa buket bunga menghiasi nisan ini. Mungkin keluarga Sungmin baru saja datang berkunjung.

 

“Hai hyung” kata Kyuhyun.

 

Semilir angin bertiup seakan menjawab kyuhyun. Kyuhyun meletakkan korek api kesayangan Sungmin yang digenggamnya sejak tadi dengan erat. Terasa hangat karena darah Kyuhyun yang menyelimutinya. Kyuhyun meletakkan korek api itu didepan nisan dan seketika tubuh Kyuhyun terjatuh ke tanah dengan lemah. Ia hampir tidak memiliki tenaga lagi.

 

Kyuhyun merangkak perlahan mendekati nisan dan mengusapnya dengan lembut.

“Aku datang hyung. Kau tidak perlu khawatir lagi. Aku baik-baik saja. Aku bisa bertahan dari kesedihan itu. Aku tidak mengalami mimpi buruk lagi. Tidak ada hyung pun disisiku, aku baik–baik saja. sesuai janji bukan? Tidak apa-apa” kata Kyuhyun tersenyum kecil.

 

Kyu…Panggil namaku…

Panggil namaku sekali lagi

Nama terindah yang kau ucapkan

 

“Lee Sungmin……” ucap kyuhyun lirih.

 

Semilir angin bertiup menerpa tubuh Kyuhyun yang tidak bisa bertahan lagi. Tangan Kyuhyun terjatuh dengan lemah. Meninggalkan noda darah yang menghiasi nisan Sungmin. Membekas bersama dengan bayangan Sungmin yang selalu hadir dalam balutan ilusi Kyuhyun.

 

Kyuhyun tersenyum sebelum pada akhirnya memejamkan matanya perlahan. Semilir angin kembali bertiup dengan hangat. Seakan memberi tahu, semua akan baik–baik saja. Seperti janji Kyuhyun pada Sungmin. Ia baik–baik saja. Dan kini, mereka akan selalu bersama tanpa harus menunggu lagi sunset datang.

 

Dimanapun sudah tidak ada lagi

 Kekuatan yang bisa menghentikanku
Wahai orang yang mencinta

Dari tempat yang abadi di sana
Berikanlah keberanian pada kami
Yang berdiri di menghadap ombak kesendirian

 

fin

                                    

 

 

 

 

Hold my hand until sunset come

Gambar

Pairing         : KyuMin

Genre          : Angst

Length         : One Shoot (Long one shoot)

Warning       : Boys love, shounen-ai

Disclaimer     : Story belong to me, KyuMin belong to each other

Summary       : Kyuhyun mengalami kecelakaan yang membuatnya seperti patung hidup. Dia pun terpaksa dikeluarkan dari Super Junior. Meski begitu Sungmin tetap berada disisi Kyuhyun, meskipun Kyuhyun tidak pernah meresponnya.

 

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

Aku tidak pernah merasa putus asa

Lagi dan lagi

Aku mengulang di dalam kepalaku

Janji yang tidak pernah terwujud

Ketika tangan kita saling terhubung saat itu

 

Sungmin menghentikan mobilnya didepan sebuah rumah yang cukup besar kemudian memandang jam tangannya yang menunjukkan pukul 06.00 pagi. Ia datang terlalu cepat. Sungmin beranjak turun dan menarik erat jaketnya berwarna pink pucat yang membalut tubuhnya. Merapatkan syal yang berwarna sama yang melilit lehernya. Melindunginya dari udara yang mulai dingin dibulan oktober. Ia menekan bel beberapa kali. Beberapa menit kemudian pintu terbuka. Seorang gadis berdiri tersenyum menyambutnya.

 

“Sungmin” kata gadis itu.

“Annyeong noona” kata sungmin menganggukkan kepalanya dengan sopan.

“Wow kau datang lebih awal” kata gadis itu.

 

Sungmin tersenyum meminta maaf.

“Kyuhyun masih berada dikamarnya. Kau ke kamarnya saja” kata gadis yang ternyata kakak perempuan kyuhyun.

 

Cho Ahra membuka lebar pintu mempersilakan sungmin masuk. Sungmin melangkah masuk.

“Kau ikut sarapan bersama kami bukan?” tanya ahra seraya menutup pintu.

 

“Tentu,” jawab sungmin tersenyum. “Noona, bolehkah aku mengajak Kyu keluar hari ini?” tanyanya.

 

Ahra menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.

“Tentu saja. Kyuhyun sangat butuh itu. Ahh ya, bagaimana kabar Super Junior? Kudengar kalian akan mengadakan konser dalam waktu dekat ini?” tanya Ahra.

 

“Ne. semuanya berjalan lancar. Keunde aku masih merasa sedikit sulit. Sejak Kyu keluar, kami kehilangan salah satu vocal utama kami. Setiap kali bernyanyi, rasanya jadi aneh” jawab Sungmin muram.

 

“Sudah 8 bulan sejak peristiwa itu,” kata Ahra bergumam. “Araseo. aku akan ke dapur.” kata Ahra tersenyum kemudian beranjak pergi.

 

Sungmin melangkahkan kakinya. Menaiki tangga menuju lantai 2 dan berhenti didepan kamar yang terletak paling ujung. Sungmin membuka pintu dan mengintip ke dalam. Biasanya ia akan melihat Kyuhyun duduk didepan komputernya dengan wajah serius. Namun pagi ini meja komputer itu kosong. Bukan hanya pagi ini, sudah lama komputer itu tidak digunakan lagi oleh pemiliknya. Sungmin melangkah masuk dan memandang Kyuhyun yang sedang duduk dipinggir jendela. Memandang keluar dengan tatapan kosong.

 

“Pagi Kyu. kau sudah bangun” kata Sungmin tersenyum seraya meletakkan tasnya dikasur Kyuhyun.

 

Kyuhyun tidak menjawab dan terus memandang keluar. Sungmin duduk didepan Kyuhyun dan memandangnya dengan sedih. 8 bulan lalu terjadi kecelakan saat Super Junior sedang melakukan syuting suatu acara. Terjadi kesalahan dengan lighting studio. Lighting studio tiba–tiba jatuh. Menyebabkan kebakaran cukup besar dan syuting dibatalkan. Beberapa personil Super Junior luka ringan. Namun Kyuhyun yang paling parah. Kepalanya terbentur lighting cukup keras dan tidak sadar untuk waktu yang cukup lama.

 

Kini Kyuhyun sudah sadar. Namun ia tidak sadar sepenuhnya. Ia tidak pernah bicara dan bertingkah seperti patung hidup. Dokter mengatakan karena benturan saat itu menyebabkan kerusakan pada syaraf–syaraf dikepalanya. Kyuhyun mengalami gegar otak. Kyuhyun tidak bisa bernyanyi lagi. Dengan sangat terpaksa dan berat hati, ia dikeluarkan dari Super Junior. Super junior harus kehilangan vokalis terbaik dan magnae tersayang mereka. Teuki merasa sangat menyesal karena tidak bisa melindungi dongsaengnya. Sejak itu Super Junior tetap berjalan dengan jadwal mereka yang selalu penuh. Namun Sungmin selalu menyempatkan waktunya untuk menemui Kyuhyun. Meski Kyuhyun tidak pernah berbicara.

 

“Pagi ini dingin sekali. Hey Kyu, kau ingin mendengar ceritaku?” tanya Sungmin.

 

“Kami sedang menyiapkan konser dalam waktu dekat ini. Kami berlatih sangat keras untuk konser ini. Bagaimanapun konser ini akan sukses seperti konser–konser sebelumnya. Kau harus melihatnya nanti,”

 

“Kau tahu? Heechul hyung baru saja memotong rambutnya. Tapi sekarang ia menyesal karena sudah memotongnya,”

 

“Kemarin malam, kami makan malam bersama diluar. Seperti biasa, kami melakukan game untuk menentukan siapa yang membayar semua makanan yang telah kami makan. Dan ternyata Yesung hyung yang kalah. Seharusnya kau melihat wajahnya yang langsung berubah pucat saat membayar. Semua tagihannya berjumlah 100.000 won.” kata Sungmin tertawa.

 

Sungmin menghentikan tawanya. Kyuhyun tidak merespon semua ceritanya. Ia hanya mengedipkan matanya memandang keluar jendela. Mengingatkan Sungmin dengan kura–kura peliharaan Yesung. Sungmin mengambil tasnya dan mengeluarkan sesuatu. Sebuah PSP. Ia memberikannya pada Kyuhyun.

“Itu keluaran terbaru. Yesung hyung membelikannya untukmu. Ia memintaku untuk memberikannya padamu” kata Sungmin.

 

Biasanya Kyuhyun akan senang dan tidak bisa berhenti bermain PSPnya dengan wajah berseri–seri. Tapi Kyuhyun hanya memandang benda ditangannya tanpa ekspresi. Sungmin mendesah dan mengambil PSP dari tangan Kyuhyun.

 

“Aku akan menyimpannya untukmu” kata Sungmin kemudian meletakkannya dimeja komputer Kyuhyun.

 

Terdengar suara ketukkan pintu.

“Saatnya sarapan” kata Ahra membuka pintu.

 

Sungmin menganggukkan kepalanya.

“Ayo kita sarapan Kyu” kata sungmin.

 

Sungmin menyentuh bahu Kyuhyun dan membimbingnya ke meja makan. seluruh keluarga Cho telah berkumpul dimeja makan. Sungmin menarik kursi untuk Kyuhyun kemudian duduk disampingnya. Nyonya Cho meletakan piring milik Kyuhyun dan Sungmin didepan pemiliknya. Sungmin berterima kasih dan menikmati sarapannya. Sementara Kyuhyun menikmati sarapannya tanpa suara. Mereka menikmati sarapan masing–masing seraya mengobrol. Membicarakan hal–hal kecil hingga kegiatan Super Junior saat ini. Suara tawa memenuhi meja makan, namun Kyuhyun tetap tidak bersuara.

 

Sarapan telah selesai. Nyonya Cho dan putrinya membereskan meja makan, sementara Sungmin menemani Kyuhyun diruang tengah. Membicarakan semua hal dan menunjukkan barang–barang yang mungkin dapat membuat Kyuhyun teringat. Namun Kyuhyun tidak memberi respon apapun. Sungmin mendesah dengan sedih. Ia merasa seperti berbicara dengan sebuah patung yang sempurna.

 

Drtt…drtt…

 

Sungmin mengambil ponselnya yang bergetar. Nama Teuki hyung tertera dilayar yang berkedip.

 

“Yoboseo?”

“Sungmin ah”

“Mworago hyung?”

“Bisakah kau ke tempat latihan sekarang? Kita harus membicarakan tentang persiapan konser dan latihan untuk penampilan besok”

“Araseo hyung”

“Sungminie, apa kau sedang berada dirumah Kyu?”

“Ne. Ia bersamaku sekarang”

“Bagaimana keadaannya?”

“Tidak berubah. Ia tetap tidak bicara. Teuki hyung…aku merindukannya”

“Kami juga sangat merindukannya minie. Apa nanti kau bisa mengajaknya juga?”

“Tentu. Sebenarnya hari ini aku ingin membawanya jalan–jalan keluar”

“Itu bagus. Kami akan sangat senang bertemu lagi dengannya. Araseo, sampai bertemu nanti. Sampaikan salam kami semua pada Kyu”

“Araseo hyung”

 

Klik!!

 

Sungmin menutup ponselnya.

“Kau mendapat salam dari Teuki hyung dan semua personil. Mereka semua merindukanmu Kyu. Begitu juga aku” kata Sungmin dengan sedih.

 

Kyuhyun sedang bermain dengan sebuah kubik. Menyusun semua warna dengan tepat.

“Hey Kyu, bagaimana jika kita jalan–jalan keluar? Bertemu dengan Teuki hyung dan personil lainnya. Hari ini cuaca cerah meski terasa sedikit dingin” ajak Sungmin.

 

Kyuhyun tidak menjawab. Tangannya berhenti saat warna terakhir berhasil ia susun

“Araseo. Ayo kita cari baju yang hangat untukmu. Diluar sedang dingin” kata Sungmin dengan bersemangat.

 

Kyuhyun tidak menjawab dan membiarkan Sungmin membawanya ke kamarnya. Kyuhyun duduk dipinggir jendela sementara Sungmin membuka lemari pakaiannya. Mengambil sebuah mantel berwarna hitam yang cukup tebal dan memakaikannya ditubuh Kyuhyun. Sungmin mengambil sepasang sepatu favorit Kyuhyun dan memakaikannya dikaki Kyuhyun. Kemudian merapikan rambut Kyuhyun yang berwarna cokelat.

 

“Sekarang kau sudah hangat” kata Sungmin tersenyum puas.

 

Sungmin mengambil tasnya kemudian mengernyit memandang leher Kyuhyun. Ia melepas syal berwarna pink pucat yang melilit lehernya. Syal kesayangannya. Kemudian melilitkan dileher Kyuhyun.

 

“Ini akan menghangatkan lehermu” kata Sungmin kembali tersenyum.

 

Kyuhyun memandang benda yang melilit lehernya. Ia merasa hangat. Sungmin memegang tangan Kyuhyun dan menariknya pergi. Kyuhyun duduk dengan tenang di dalam mobil Sungmin yang membawanya pergi menyusuri jalanan yang ramai. Memandang keluar jendela sementara Sungmin masih mengajaknya bicara. Ia tersenyum dan tertawa dengan setiap hal yang ia ceritakan. Meski ia tahu Kyuhyun tidak akan meresponnya.

 

setidaknya

ingatlah kau bisa mengandalkanku

ingatlah

kau adalah milikku, kau adalah milikku

 

Sungmin merengut memandang Kyuhyun yang sedang asyik bermain dengan gamenya. Seperti biasa. “Hai hyung” kata Kyuhyun tanpa berpaling dari layar komputer

 

Sungmin mengangkat satu alisnya dengan kesal.

“Kau asyik bermain sementara aku kedinginan diluar sana. Cho Kyuhyun, aku sudah menunggumu 3 jam!!” kata Sungmin.

 

Kyuhyun menghentikan tangannya tersadar. Memandang jam tangannya kemudian menoleh memandang sungmin yang sedang berdiri dengan wajah marah. Sisa–sisa salju masih mengotori jaketnya. Sungmin melepaskan jaketnya dan menghempaskan tubuhnya disofa yang hangat. Kyuhyun segera beranjak mendekati Sungmin.

 

“Omo! Mianhae hyung. Aku lupa” kata Kyuhyun meminta maaf.

 

Sungmin mendengus kesal.

“Seharusnya kau tidak perlu repot membuat janji jika kau ingin bermain starcraft selama berjam–jam” kata Sungmin marah.

 

“Aku tidak bermaksud membuatmu menunggu selama 3 jam. Aku benar–benar minta maaf hyung” kata Kyuhyun menyentuh tangan Sungmin.

 

Kyuhyun tersentak merasakan tangan Sungmin yang dingin kemudian menyentuh wajah Sungmin dengan kedua tangannya.

“Kau dingin” katanya.

 

Sungmin menepis tangan Kyuhyun.

“Tentu saja. 3 jam aku menunggumu dihari bersalju seperti ini. Kau magnae menyebalkan” kata Sungmin merengut.

 

Kyuhyun beranjak ke kamar. Tidak lama kemudian ia kembali dengan sesuatu ditangannya. Kyuhyun memberikan sebuah korek api antik berwarna emas pada Sungmin. Sungmin mengernyit memandang benda pemberian Kyuhyun.

 

“Kau merokok?” tanya Sungmin.

“Anniyo” Kyuhyun menggelengkan kepalanya.

“Lalu untuk apa ini?” tanya Sungmin.

 

Kyuhyun mengambil korek api dari tangan Sungmin dan membuka penutupnya. Api kecil segera menyala. Kyuhyun meletakkan tangan Sungmin didekat api tersebut. “Cukup hangat bukan? Gunakan ini saat kau sedang menungguku” kata Kyuhyun.

 

“Mwo?” kata Sungmin.

 

Kyuhyun mematikan apinya dengan menutup penutup korek apinya, kemudian meletakkannya ditangan Sungmin. “Ini pemberian appa, tapi ini untukmu saja hyung” kata Kyuhyun.

 

Sungmin memperhatikan korek api yang kini menjadi miliknya.

“Apa kau akan datang jika aku menyalakan benda ini?” tanya Sungmin.

“Ne. Aku akan datang” jawab Kyuhyun.

“Hmm…gomawo” kata Sungmin tersenyum.

 

Ryeowook muncul diambang pintu.

“Ya! Teuki hyung baru saja menelpon. Dia meminta kita untuk datang ke studio” katanya.

“Araseo” kata Kyuhyun dan Sungmin. Segera mereka bersiap dan beranjak pergi.

 

 

—hari – hari berikutnya—

 

Sungmin selalu membawa korek api pemberian Kyuhyun kemana pun ia pergi. Ia selalu menyimpannya didalam tasnya. Dan menyalakannya setiap kali ia sedang menunggu Kyuhyun ditengah udara dingin dibulan Februari. Sungmin memandang nyala api yang bergoyang pelan karena tiupan angin. Seakan api yang berkobar kecil itu mengalihkan pikirannya dan dapat menghangatkan tubuhnya yang sedang kedinginan. Sungmin meletakkan tangannya didekat api untuk melindungi api dari angin yang bertiup kecil. Sungmin akan menutup korek apinya, mengangkat kepalanya dan tersenyum melihat magnaenya yang sedang menghampirinya. Ia tidak keberatan menunggu lama selama benda itu bersamanya.

 

Namun hari ini berbeda. Sudah berjam–jam sungmin menunggu. Duduk ditaman yang tertutup salju. Sungmin memandang jam tangannya. Sudah hampir 4 jam ia menunggu, namun Kyuhyun tetap tidak terlihat. Nyala api dari korek ditangannya rasanya tidak bisa menghangatkannya lagi. Sungmin menutup penutup korek api untuk memadamkan apinya. Menarik jaket tebal yang membalut tubuhnya. Ia mencoba menghubungi Kyuhyun. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya kali ini teleponnya dijawab. Namun bukan suara Kyuhyun yang terdengar diujung telepon. Melainkan suara tangisan Leeteuk.

 

“Teuki hyung? Mworago?”tanya Sungmin mengernyit bingung.

“Kyuhyun…Kyuhyun…” kata Leeteuk terisak.

“Kyuhyun? Kenapa dengan Kyuhyun?”

“Terjadi kecelakaan saat syuting. Terjadi kesalahan dengan lampu studio hingga lampu studio itu jatuh dan menyebabkan kebakaran. Eunhyuk, Donghae, Ryeowook dan Heechul mengalami luka ringan. Keunde…”

“Kyuhyun luka parah?”

“Kepalanya terbentur lampu studio cukup keras. Ia terluka dan masih belum sadar sampai saat ini………”

 

Sungmin tidak ingat bagaimana ia bisa sampai dirumah sakit. Ia tidak ingat apa ia sudah membayar uang taksinya. Ia tidak bisa berpikir. Sungmin hanya bisa memandang dengan cemas Kyuhyun yang masih tidak sadar. Dan menangis saat mengetahui keaadan Kyuhyun setelah ia sadar.

 

Leeteuk dan seluruh personil terkejut mendengar keputusan perusahaan untuk mengeluarkan Kyuhyun karena kondisinya yang tidak memungkinkan lagi.

“MWO?! Kalian akan mengeluarkannya?” tanya Leeteuk terkejut.

 

“Kami harus mengeluarkannya” kata wakil perusahaan.

“Tapi Kyuhyun vocal utama kita. Posisinya penting dalam grup ini” kata Heechul menolak.

 

“Tapi lihat kondisinya sekarang. Dia lebih terlihat seperti patung. Dia seakan lupa bagaimana caranya berbicara dan bernyanyi” kata wakil perusahaan.

 

“Keunde hyungnim…bagaimana dengan posisi Kyuhyun?” tanya Eunhyuk.

“Masih ada Yesung dan Ryeowook. Juga Sungmin dan Donghae” jawab wakil perusahaan.

 

“Tapi itu tidak cukup. Pengambilan nada mereka berbeda dari Kyuhyun” kata kangin.

“Kita akan mencari cara untuk masalah itu” kata wakil perusahaan.

 

“Tidak. Tidak ada yang dapat menggantikan posisi Kyuhyun. Bahkan aku sendiri” kata Sungmin menolak.

 

Donghae memandang manajernya yang tidak bisa berbuat apapun.

“Lakukan sesuatu hyungnim” pintanya.

 

Manajernya menggelengkan kepalanya dengan sedih.

“Maaf. Tidak ada yang bisa aku lakukan” kata manajer.

 

“Pikirkan kondisi Kyuhyun yang seperti itu. Kita masih memiliki jadwal yang harus kita penuhi. Kyuhyun tidak mungkin bisa tampil” kata wakil perusahaan.

 

“Kita bisa menunggu sampai Kyu sembuh” kata Ryeowook.

 

Wakil perusahaan menggelengkan kepalanya.

“Kita tidak bisa menunggu lagi. Kita tidak tahu kapan Kyuhyun akan sembuh”

 

“Keunde hyung…” kata Sungmin.

“Ini keputusan terakhir” kata wakil perusahaan mengakhiri diskusi.

 

Tidak ada yang bisa mencegah lagi. Semuanya berpikir dan tahu, Kyuhyun tidak mungkin bisa tampil lagi. Dengan sangat terpaksa dan berat hati, mereka melepas magnae kesayangan mereka. Begitu juga dengan para gadis–gadis dan orang-orang yang mengaguminya.

 

Kita benci kesedihan dan rasa sakit

Tapi, ada saatnya kita juga akan bahagia

Tetap hidup untuk semua orang

Adalah tugasmu

Tetaplah tersenyum sampai kita meraih sunset kita

Tangan kita masih terhubung sampai saat itu, bukan?

 

Kyuhyun memandang bangunan didepannya. Sebuah studio latihan. Dulu ia selalu berada ditempat ini. Berlatih, berlatih dan berlatih. Tapi kini ia tidak bisa melakukan hal itu lagi. Sungmin menyentuh tangan kyuhyun dan tersenyum.

 

“Ayo masuk. Mereka semua sudah menunggumu” kata Sungmin.

 

Kyuhyun membiarkan Sungmin menariknya masuk. Ia mengikuti langkah sungmin. Beberapa orang menyapanya. Namun Kyuhyun tidak menjawab. Ia hanya memandang mereka. Ia tidak dapat mengingat siapa orang–orang ini. Langkah mereka terhenti disebuah ruangan yang besar dengan cermin–cermin besar yang menempel di dinding. Sekelompok pria sedang berkumpul di dalam. Rasanya ia mengenal mereka. Sangat mengenalnya.

 

Leeteuk mengangkat kepalanya dan tersenyum. Seluruh personil segera beranjak mendekati Kyuhyun. Mereka memeluk magnae mereka dengan rindu. Kyuhyun tetap tidak bereaksi. Ia hanya memandang mereka satu-persatu.

 

“Maafkan aku Kyu karena tidak bisa menjagamu dengan baik” kata Leeteuk masih merasa bersalah.

 

“Kyu kau terlihat lebih baik” kata Eunhyuk.

“Ohh…kami semua sangat merindukanmu Kyu” kata Donghae.

“Ya! Apa kau masih ingat dengan kami?” tanya Heechul.

 

Kyuhyun tidak menjawab. Sungmin menepuk bahu Kyuhyun dan menunjuk Leeteuk.

“Itu Teuki hyung. Dia leader kita. Lalu itu Heechul hyung, Hangeng hyung, Yesung hyung, Kangin hyung, Shindong hyung, Siwon, Eunhyuk, Donghae, Wookie, Kibum” kata Sungmin.

 

Kyuhyun memandang mereka satu persatu, kemudian memandang Sungmin.

“Dan aku Sungmin. Hyungmu,” kata Sungmin. “Kau tidak melupakan aku kan Kyu?” tanya Sungmin lirih.

 

Kyuhyun mengalihkan pandangannya ke seluruh ruangan. Pandangannya berhenti pada pantulan dirinya dicermin. Kyuhyun beranjak mendekati cermin dan menyentuhnya. Pria di dalam cermin ini terlihat menyedihkan. Apa itu dirinya?

 

Leeteuk dan seluruh personilnya berkumpul. Membicarakan persiapan mereka sementara Kyuhyun duduk dipinggir jendela. Memandang keluar tanpa ekspresi. Seperti biasa. Sungmin mendekati Kyuhyun dan meletakkan tasnya dilantai.

 

“Kami harus berlatih dance” kata Sungmin.

 

Sungmin memandang Kyuhyun yang tidak menjawabnya dan mendesah dengan sedih.

“Sungminie, kita mulai latihan” panggil Leeteuk.

“Ne hyung” kata Sungmin kemudian beranjak pergi.

 

Terdengar suara musik yang menghentak. Sungmin dan personil lainnya mulai berlatih dengan serius. Beberapa kali mereka mengulang latihannya karena kesalahan Kangin atau Siwon yang lupa dengan gerakannya. Diluar udara terasa dingin, namun didalam terasa hangat karena penghangat ruangan yang terus menyala. Kyuhyun menyentuh syal yang melilit lehernya dan bermaksud melepasnya karena ia merasa sudah cukup hangat. Namun tangan Kyuhyun terhenti. Ia memandang tangannya yang kosong. Tangan putih Sungmin selalu berada di dalamnya. Kyuhyun memandang Sungmin yang berusaha berlatih dengan serius.

 

Latihan dance berhenti sesaat untuk istirahat. Eunhyuk, Donghae dan Shindong masih membicarakan koreografinya, sementara personil yang lain memilih untuk merebahkan diri dilantai. Sungmin duduk disamping Kyuhyun dan mengatur nafasnya.

 

“Uuaahh…lelah sekali. Bagaimana tadi latihannya menurutmu?” tanya Sungmin.

 

Kyuhyun masih memandang tangannya.

“Merepotkan karena harus terus mengulang latihan. Tapi aku berusaha untuk menari dengan baik. Gerakanku tadi sudah benar kan? Keunde tetap saja, aku tidak bisa mengalahkan dancing machine kita, Eunhyuk” kata Sungmin tertawa.

 

Kyuhyun menoleh saat Sungmin meminum botol air mineralnya. Ia memandang tangan Sungmin kemudian tangannya. Perhatiannya teralih saat melihat sebuah benda yang berkilat didalam tas Sungmin. Ia mengambil tas sungmin dan mengambil benda berkilat yang ternyata sebuah korek api antik berwarna emas. Ia memandang benda kecil itu.

 

“Ahh…itu benda kesayanganku. Pemberianmu. Benda itu membuatku hangat saat harus menunggumu dicuaca dingin seperti hari ini” kata Sungmin.

 

sungmin mengambil korek api itu dari tangan Kyuhyun dan menyalakannya. Kyuhyun memandang api yang menyala didepannya. Terasa hangat dan merindukan. Sungmin mengambil tangan Kyuhyun dan meletakkannya didekat api.

 

“Terasa hangat bukan?” tanya Sungmin.

 

Kyuhyun memandang api yang menyala didepannya kemudian memandang Sungmin. Seulas senyum tipis menghiasi bibirnya. Sungmin terkejut memandang Kyuhyun. Ini pertama kalinya ia melihat Kyuhyun tersenyum. Biasanya ia hanya diam seperti patung. Bagaimanapun Sungmin berusaha, Kyuhyun selalu diam dan hanya memandangnya. Namun kali ini ia tersenyum.

 

“Kita latihan lagi” kata Leeteuk.

 

Sungmin memandang Kyuhyun yang sedang memandang nyala api. Matanya terlihat hangat. Sungmin tersenyum dan segera kembali berlatih. Meninggalkan Kyuhyun yang bermain dengan korek api miliknya. Beberapa jam kemudian latihan selesai. Beberapa personil sudah beranjak pergi dengan jadwalnya masing–masing.

 

Diluar senja mulai turun dan disudut ruangan Kyuhyun tertidur dengan menggenggam korek api milik Sungmin. Sungmin beranjak keluar ruangan dan kembali dengan sebuah selimut kecil ditangannya. Ia menyelimuti tubuh Kyuhyun dan duduk disampingnya. Sungmin tersenyum memperhatikan wajah tidur Kyuhyun yang terlihat polos. Tangannya menyentuh tangan Kyuhyun yang sedang menggenggam benda kesayangannya, dan menggenggam dengan erat. Meletakkan kepalanya dibahu Kyuhyun kemudian memejamkan matanya. Berharap senja menghentikan waktu ini sesaat.

 

Meskipun bukan cinta

Setiap hari kepalaku dipenuhi dengan hal itu

Untuk pertama kalinya sejak aku lahir

Aku tahu bahwa hal itu benar – benar ada

pastinya

 

Hari ini sungmin menemani Kyuhyun check up rutin dirumah sakit. Kyuhyun menunggu dengan tenang didepan televisi yang disediakan diruang tunggu. Benda berlayar datar tersebut sedang menayangkan sebuah drama. Kyuhyun memperhatikan pasangan yang sedang bergandengan tangan di drama tersebut kemudian menoleh memandang Sungmin yang duduk disampingnya. Ia memandang tangan Sungmin yang putih. Sungmin menoleh sadar Kyuhyun sedang memperhatikan tangannya.

 

“Mworago Kyu?” tanya Sungmin.

 

Kyuhyun mengalihkan pandangannya kembali ke layar tv kemudian memandang tangannya yang kosong. Kyuhyun masih memandang tangannya saat namanya dipanggil. Sungmin mengajak Kyuhyun untuk masuk ke dalam ruangan dimana dokter sudah menunggunya. Kyuhyun memandang keluar jendela sementara Sungmin sedang bicara dengan dokter perihal hasil pemeriksaannya.

 

Dokter mengatakan tidak ada yang berubah dengan kondisi Kyuhyun. Ia juga tidak bisa memastikan kapan Kyuhyun dapat sembuh. Tapi selalu ada kemungkinan untuk sembuh. Sungmin berterima kasih, mengajak Kyuhyun untuk keluar, kemudian mendesah kecewa. Sungmin dan Kyuhyun berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Kyuhyun berjalan disisi Sungmin tanpa suara.  Sungmin memandang jam tangannya. 4 jam lagi senja akan muncul.

 

“Kyu bagaimana jika kita melihat senja dibukit xxx? Kudengar matahari terbenam dibukit xxx terlihat sangat indah” ajak Sungmin.

 

Kyuhyun tidak menjawab. Seperti biasa.

“Kalau begitu ayo kita pergi sekarang” kata Sungmin menarik tangan Kyuhyun.

 

Kyuhyun mengikuti langkah sungmin seraya memandang tangan sungmin yang sedang memegang miliknya. Terasa hangat. Diperjalanan Sungmin memutar lagu–lagu super junior. Berharap Kyuhyun akan teringat dengan masa–masanya saat itu.

 

Neon gatabuta gatabuta mal jomhaera miina
Ni maeumeul gajyeotdamyeon geunyang naneun salmui Winner

“Ahh itu suaramu Kyu,” pekik Sungmin senang seraya mengemudikan mobilnya. “Apa kau masih ingat dengan lagu ini? Saat kau sedang menyanyikan bagianmu, saat itu pula semua gadis distudio berteriak histeris. Suaramu benar–benar bagus Kyu. Rasanya aku merindukan suaramu. Merindukan melihatmu tampil diatas panggung lagi.”

 

Sungmin mendesah dengan sedih. Kyuhyun masih tetap tidak memberikan respon. Setelah 2 jam perjalan, Sungmin menghentikan mobilnya. Hamparan bukit yang luas dengan pemandangan yang indah dan udara yang dingin menyambut mereka. Sungmin segera turun dan mengajak Kyuhyun keatas bukit.

 

“Dari atas sini semuanya dapat terlihat. Indah bukan?” kata Sungmin tersenyum.

 

Kyuhyun mengerjapkan matanya. Menikmati pemandangan yang terlihat indah dan damai. Sungmin memandang jam tangannya. “1 jam lagi matahari akan tenggelam. Kita harus menunggu” kata Sungmin.

 

Sungmin menoleh memandang sebuah kursi taman dan mengajak Kyuhyun untuk duduk. Kyuhyun masih memandang jauh dan tanpa suara. Sungmin memandang Kyuhyun dengan sedih. Ia merindukan Kyuhyun yang dulu. Penyanyi berbakat dan magnae yang jahil. Ia merindukan evil smile yang dulu selalu menghiasi bibir Kyuhyun. Wajah seriusnya saat sedang bermain starcraft dan teriakan tiba–tibanya saat ia kalah. Sungmin merindukan Cho Kyuhyun.

 

“Ahh…apa yang harus kukatakan lagi? Apa yang harus aku lakukan lagi? Rasanya semua hal sudah aku ceritakan padamu. Aku sudah melakukan segalanya” kata Sungmin lirih.

 

Semilir angin bertiup membawa hawa dingin. Sungmin merapatkan jaketnya dan memeluk tubuhnya. Ia menoleh memandang jaket Kyuhyun yang sedikit terbuka. Sungmin mengulurkan tangannya merapikan jaket Kyuhyun dan syal miliknya yang melilit dileher Kyuhyun. Sungmin menyentuh tangan Kyuhyun yang terasa dingin kemudian menggenggamnya dengan erat agar terasa hangat. Kyuhyun memandang tangan Sungmin yang sedang menggenggamnya dengan hangat.

 

Sungmin merogoh sakunya kemudian membuka tasnya. Mencari benda kesayangannya yang selalu dapat menghangatkannya. Namun korek api pemberian Kyuhyun tidak ada.

“Aisshh…aku meninggalkannya di asrama” gerutu Sungmin.

 

Sungmin memandang jam tangannya. Sebentar lagi matahari akan tenggelam. Pemandangan yang mereka nantikan. Kemudian memandang Kyuhyun yang masih memandang tangannya. “Maaf. Mungkin sebaiknya kita pulang saja. Udara menjadi semakin dingin” kata Sungmin melepaskan tangannya

 

Namun ia tidak bisa menariknya. Kyuhyun sedang menahan tangannya. Sungmin terkejut memandang tangan kyuhyun yang sedang menggenggamnya.

“Hyung…Sungmin hyung…” kata Kyuhyun.

 

Sungmin memandang Kyuhyun tidak percaya. Apa baru saja Kyuhyun memanggil namanya? Apa baru saja Kyuhyun bersuara? Sungmin mengernyit, berpikir mungkin ia salah dengar atau telinganya mulai bermasalah. Namun kemudian ia sadar, telinganya masih normal dan baik–baik saja.

 

“Sungmin hyung…” kata Kyuhyun tersenyum memandangnya.

 

Tidak. Pendengarannya tidak salah. Kyuhyun memang memanggil namanya dan tersenyum.

“Kau…baru saja…kau menyebut namaku?” tanya Sungmin tidak percaya.

 

Kyuhyun tersenyum dan mengalihkan pandangannya kelangit yang mulai memerah. Perlahan senja mulai turun menghiasi langit. Terlihat sangat indah. Sungmin memandang matahari terbenam seraya tersenyum senang. Harapannya mungkin akan terwujud secara perlahan. Mungkin ia akan mendapatkan evil magnaenya kembali.

 

Aku ingin menunggu

Meskipun hanya sehari lebih panjang

Aku ingin berada di sisimu

Ingin bebas, ingin tertawa

Aku hanya ingin tegar

Itulah harapan pertama dan terakhirku


Perlahan Kyuhyun mulai menunjukkan perkembangannya. Meski tidak pesat, namun sudah cukup membahagiakan. Kyuhyun mulai bicara, meski tidak banyak. Perlahan ia mencoba untuk mengingat semua orang yang ia lupakan. Termasuk sungmin.

 

Kyuhyun sedang berkumpul bersama personil lainnya usai mereka selesai berlatih. Mereka terlihat gembira dengan perkembangan Kyuhyun. Satu persatu mereka menunjukkan hal–hal yang Kyuhyun lupakan. Kyuhyun mengeryit saat mendengar cerita dari para hyungnya.

 

“KyuMin? Apa itu?” tanya Kyuhyun.

“Itu singkatan dari nama couple Kyuhyun dan Sungmin” jawab Eunhyuk.

 

“couple?” tanya Kyuhyun lagi.

“Itu adalah julukan dari fans untuk pasangan–pasangan. Seperti KangTeuk, EunHae, YeWook, HanCul dan KyuMin” jawab Donghae.

 

“Jadi…aku berpasangan dengan Sungmin hyung?” tanya Kyuhyun.

“Ne. KyuMin adalah couple paling favorit diantara para fans” jawab Ryeowook.

 

“Apa yang dilakukan para couple?” tanya Kyuhyun.

“Melakukan fanservice. Berpegangan tangan, berpelukan atau mencium pipi sudah cukup untuk membuat gadis-gadis itu berteriak histeris. Itu cukup untuk membuat mereka senang” jawab Heechul terkekeh.

 

Kyuhyun diam sesaat seraya berpikir. Semenit kemudian ia menoleh memandang Sungmin yang duduk disampingnya. Tersenyum mendengar semua celotehan personilnya.

 

“Sungmin hyung. Apa yang biasanya kita lakukan sebagai KyuMin?” tanya Kyuhyun.

“Hah? Hmm…hanya berpengangan tangan dan saling memandang” jawab Sungmin.

 

“Tapi gosipnya kalian melakukan hal lain dibelakang layar” kata Kangin terkekeh.

“Ahh anniyo. Itu tidak benar” kata Sungmin menggelengkan kepala.

 

“Tidak ada yang tahu apa yang kalian lakukan dibelakang layar” kata Heechul terkekeh.

“Ya! Berhenti menggodaku hyung” kata Sungmin.

 

Semuanya tertawa saat Kangin dan Heecul menggoda Sungmin. Kyuhyun kembali diam. Wajahnya terlihat serius, seperti sedang berpikir. “Ya Kyu, apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Leeteuk.

 

Kyuhyun mengangkat kepalanya memandang Sungmin. Tiba–tiba ia mendekati wajah Sungmin dan mencium pipinya. Sungmin terkejut dan perlahan wajahnya berubah merah. Seluruh personil terdiam kemudian tertawa melihat aksi Kyuhyun yang tiba–tiba.

 

“Hal lain…maksudmu seperti ini? Apa kita pernah melakukan hal ini didepan fans sebelumnya?” tanya Kyuhyun.

 

“Ahh…itu…tidak…ehh ya..maksudku tidak. Aissh…” jawab Sungmin bingung bercampur malu.

“Aigoo, wajahmu merah hyung” kata Ryeowook.

 

“Ehh?! Tidak. Omo, sepertinya penghangat ruangannya sudah cukup panas” kata Sungmin mengelak.

 

Sungmin menutup wajahnya, berusaha menutupi rona merah yang memenuhi wajahnya. Seluruh personil tertawa dan menggoda Sungmin. Kyuhyun memandang keluar jendela. Hari sudah berubah gelap.

 

“Sungmin hyung. Apa besok kau mau melihat matahari terbenam bersama?” tanya Kyuhyun. “Ohh…ok” jawab Sungmin.

 

“Gomawo” kata Kyuhyun tersenyum.

“Che…cheonmaneyo” kata Sungmin.

 

Rasa sayang dan suka

Adalah warna, rasa, bentuk dan bau yang berbeda

Aku ingat rasa sentuhan jari yang aku genggam

Seperti sebelumnya

Ini pernah terjadi sebelumnya, bukan?

 

Kyuhyun beranjak turun dari mobil dan merapatkan jaketnya. Daun–daun yang berguguran, pemandangan yang indah dan udara yang dingin menyambut kedatangannya. Biasanya ia akan menemukan Sungmin yang sedang menunggunya dengan tenang. Dengan nyala korek api yang menghangatkan tangannya. Namun ia tidak melihat sosok Sungmin dimanapun.

 

“Mungkin Sungmin akan datang terlambat. Kau mau aku temani sampai Sungmin datang?” tanya Ahra seraya turun dari kursi kemudinya.

 

“Tidak perlu. Aku akan menunggunya sendiri” jawab Kyuhyun menggelengkan kepalanya.

“Kau yakin? Udara sedang dingin hari ini” kata Ahra ragu.

 

“Ne. Tidak masalah” kata Kyuhyun.

“Araseo. Jangan sampai kau kedinginan dan terkena flu. Hubungi aku jika kau butuh sesuatu” kata Ahra.

 

“Ne. Terima kasih sudah mengantarku noona” kata Kyuhyun.

 

Ahra kembali duduk dibelakang kemudi. Perlahan mobilnya menjauh pergi. Meninggalkan Kyuhyun yang sedang menunggu sendiri. Kyuhyun duduk dikursi tempat ia dan Sungmin biasa duduk menikmati matahari tenggelam. Kyuhyun memandang jam tangannya. Masih 3 jam lagi sampai matahari terbenam. Kyuhyun mengangkat kepalanya. Menikmati pemandangan indah yang diselimuti kesunyian. Pandangan Kyuhyun beralih pada tangannya yang kosong. Tangan ini tidak pernah kosong. Selalu ada tangan putih Sungmin yang memenuhinya. Kyuhyun menutup tangannya kemudian membukanya lagi. Ia terus melakukannya selama beberapa kali.

 

“Kenapa rasanya berbeda sekali…?” gumam Kyuhyun.

 

Kyuhyun merapatkan jaketnya. Berusaha berlindung dari tiupan angin yang terasa dingin. Memandang langit dan daun–daun yang berguguran perlahan mengotori tanah. Pemandangan yang memanjakan mata. Namun kemudian Kyuhyun memandang tangannya kembali.

 

Srekk!!

 

Kyuhyun mengangkat kepalanya dan menoleh. Mengira Sungmin telah datang. Namun ia hanya melihat seekor kelinci yang sedang mencari makanan. Kelinci itu segera melompat pergi begitu menyadari kehadiran Kyuhyun yang sedang memandangnya. Kyuhyun menghela nafasnya dan kembali menunggu. 2 jam lagi matahari akan terbenam

 

tolonglah

sejak sebelum aku dilahirkan

aku tidak akan mengatakan hal yang membebani

seperti “lindungi aku”

hanya…tetaplah di sisiku

bisakah kau?

 

Sungmin menyelesaikan shooting terakhirnya bersama Super Junior untuk acara StarKing. Ia memandang jam dinding diruang ganti dan mendesah. “3 jam lagi. Aku akan terlambat” kata Sungmin.

 

Segera Sungmin berganti pakaian dan beranjak pergi. Personil lainnya sudah lebih dulu pergi karena jadwal masing–masing. Para kru sedang membereskan studio dan merapikan peralatannya. Sungmin menyempatkan diri untuk berpamitan dan berterima kasih dengan para kru sebelum ia pergi.

 

Brukk!!

Seorang kru tanpa sengaja menjatuhkan beberapa botol yang ia bawa.

“Aigoo…kau harus hati-hati. Itu semua berisi bensin untuk keperluan syuting” tegur Sutradara.

 

“Chosummnida” kata kru itu meminta maaf kemudian mengambil kembali botol–botol berisi bensin tersebut dan membawanya pergi. Namun tanpa sadar sebuah botol bocor dan mengalirkan isinya perlahan ke lantai.

 

Sungmin berjalan seraya memeriksa tasnya. Mencari benda kesayangannya. Korek api antik berwarna emas pemberian Kyuhyun. Ia tersenyum saat menemukan benda yang dicarinya. Api kecil segera menyala saat Sungmin membuka penutupnya. Terasa hangat bagi Sungmin. Sungmin masih memandang nyala api yang bergoyang pelan saat tiba–tiba manajernya menepuk bahunya. Sungmin terkejut dan menjatuhkan korek apinya.

 

“Aissh…hyungnim. Kau membuatku terkejut” gerutu Sungmin.

“Kau akan pergi?” tanya manajer.

“Ne. Aku ada janji dengan Kyu” jawab Sungmin.

 

Sungmin menunduk beranjak mengambil korek apinya yang masih menyala. Ia mengernyit memandang cairan yang mengalir dilantai. Ia seperti mengenal bau ini.

“Bau ini seperti…” kata Sungmin.

 

Sungmin tidak menyelesaikan kalimatnya dan terkejut saat sebuah api tiba-tiba menyala perlahan didepannya. Mengikuti aliran bensin yang mengalir dilantai. Tidak butuh waktu lama untuk sungmin menyadari…

 

“Kebakaran!!!” pekik Sungmin panik.

 

suatu saat dan di suatu tempat aku akan sendirian…

ketika aku sendirian dan tidak melakukan apapun

aku akan memikirkanmu untuk mengisi hatiku

mungkin tempat aku memikirkanmu itu…

adalah tujuan akhir dari perjalanan panjangku

selamat tidur sunsetku

 

Kyuhyun masih menunggu. Ia memandang jam tangannya kemudian memandang langit yang dihiasi rona merah. Bias cahaya matahari yang tenggelam menerpa wajah Kyuhyun yang dingin. Kyuhyun menoleh memandang ujung jalan yang sepi. Berharap sosok Sungmin akan segera muncul dengan senyumnya. Namun tidak ada siapapun diujung jalan itu. Ia berusaha menghubungi Sungmin, namun Sungmin tidak menjawab semua teleponnya. Kyuhyun beralih memandang tangannya yang masih kosong.

 

“Dia terlambat” kata Kyuhyun.

 

Kyuhyun masih tidak beranjak dari tempatnya meski langit kini telah berubah gelap. Udara menjadi semakin dingin. Kyuhyun merapatkan jaketnya dan memeluk tubuhnya. Namun ia masih dapat merasakan dingin. Satu jam kemudian Kyuhyun mengambil ponselnya.

 

“Noona bisakah kau menjemputku? Sepertinya Sungmin hyung tidak bisa datang” kata Kyuhyun.

 

2 jam kemudian Ahra datang menjemput. Kyuhyun tidak bicara selama diperjalanan. Ia hanya memandang keluar jendela dan kembali memandang tangannya yang masih kosong. Terasa berbeda. Ia merasa seakan kesadarannya menipis. Ditengah ilusinya, ia merasa tangan ini akan tetap kosong.

 

Ahra mendesah dengan bosan merasakan kesepian didalam mobilnya kemudian menyalakan tv mobilnya. Ia mengganti channel beberapa kali dan berhenti disebuah channel yang sedang menyiarkan berita terkini.

 

(telah terjadi sebuah kebakaran besar distudio tv swasta. Api menghanguskan seluruh studio berserta seluruh peralatannya. Menghasilkan kerugian yang sangat besar. Api baru bisa dipadamkan 4 jam kemudian)

 

(Penyebabnya karena sebuah korek api yang terjatuh diatas aliran bensin yang bocor. Korek api tersebut diketahui milik salah satu personil super junior, Lee Sungmin. Dikabarkan 10 orang luka ringan, dan 15 lainnya luka berat. 3 orang dikabarkan tewas, termasuk juga Lee Sungmin. Sekian berita hari ini)

 

dimanapun tidak masalah

melewati malam sendiri lagi

aku terus berlari

menggenggam sebuah janji dalam tangan yang kosong

setidaknya aku bisa berada di sisimu

sampai sunset datang

 

Fin

Hear my word

Gambar

Pairing           : HaeHyuk

Genre             : Sad

Length           : One shoot

Warning         : Boys Love, Shounen-ai

Disclaimer     : Story belong to me, Donghae & Eunhyuk belong to each other

Summary        : Aku mengatakan sesuatu pada langit pagi ini. Apa kau mendengarnya?

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

Sebuah Porsche hitam melaju kencang dijalan yang sepi. Donghae melirik jam digital dimobilnya, 05.00 AM.  Ia harus sampai disana sebelum matahari terbit. Donghae tersenyum membayangkan wajah yang ia rindukan namun semenit kemudian air wajah Donghae berubah muram. Ia mengalihkan pandangannya ke jalan dan mendesah.

 

“Aku harus cepat” katanya seraya menambah kecepatan laju mobilnya.

 

Porsche hitam itu berhenti disebuah pantai. Donghae mematikan mesin mobil dan segera turun. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling pantai yang cukup gelap, berharap dapat melihat senyum orang itu menyambutnya. Namun tidak ada siapa pun disana. Hanya suara debur ombak yang menyambut kedatangannya dan tiupan angin yang berhembus menyambut setiap langkah kakinya. Donghae berhenti dipinggir pantai dan meletakkan tubuhnya dipasir yang lembut.

 

“Hyukie aku datang” kata Donghae pelan.

 

Suara debur ombak seakan menjawab sapaan Donghae. Matanya memandang jauh ke laut. Donghae merapatkan jaket abu-abu dan topi hoodie hitamnya. Menghalangi dinginnya angin yang bermain disekitarnya. Memejamkan matanya, mengingat–ingat bagaimana manis senyumnya, derai tawanya yang unik,, tangan yang hangat, tubuhnya yang rapuh. Seperti roll film yang berputar dikepalanya. Semuanya terbayang kembali secara sempurna.

 

****

Donghae masih mengingat dengan sangat baik tentang hari itu. Suara debur ombak yang menyapu pinggir pantai. Pasir putih yang terasa lembut di kakinya yang telanjang. Dan tangan hangat Eunhyuk yang menggenggam tangannya erat. Sangat erat, seakan mengatakan ‘pegang aku dengan erat dan jangan dilepaskan lagi’. Tapi bagi Donghae terlihat seperti ‘pegang aku dengan erat karena aku ingin menghilang ke suatu tempat’.

 

Kaki mereka melangkah perlahan menyusuri pantai yang sepi. Eunhyuk menghentikan langkahnya dan memandang jauh ke laut yang gelap. Donghae memandang Eunhyuk dengan cemas.

 

“Kau lelah? mungkin sebaiknya kita kembali ke rumah sakit saja” kata Donghae.

“Tidak. Aku masih ingin disini” jawab Eunhyuk menggelengkan kepalanya tanpa berpaling.

 

“Tapi angin malam tidak baik untuk kesehatanmu. Kita bisa kembali ke sini lagi besok” bujuk Donghae melepaskan tangannya untuk memakaikan jaket miliknya ke tubuh rapuh Eunhyuk.

 

“Aku tidak apa–apa. Kau sudah berjanji akan menemaniku malam ini Hae” kata Eunhyuk.

“Aku tidak percaya, aku melakukannya” kata Donghae mendesah.

 

“Tenang saja. Tidak apa-apa” kata Eunhyuk dengan tersenyum.

“Jam berapa sekarang?” Tanya Eunhyuk.

 

“05.00 AM” jawab Donghae melirik jam digital di handphonenya.

“Sebentar lagi matahari terbit” gumam Eunhyuk memandang langit yang mulai sedikit terang.

 

“Kau masih saja senang melihat matahari terbit Hyukie” kata Donghae.

 

Eunhyuk tersenyum kecil

“Dulu kita selalu melihat matahari terbit bersama, bukan?” kata Eunhyuk.

“Kau yang selalu menyeretku untuk ikut melihatnya saat kau tidak bisa tidur” kata Donghae.

 

“Ne.. tapi pada akhirnya aku melihatnya sendirian dan kau malah kembali tidur” kata Eunhyuk menggelengkan kepalanya pura-pura kecewa.

“Hei.. aku kan butuh tidur” ujar Donghae membela diri. Eunhyuk tertawa.

 

“Sekarang sudah ada Siwon hyung yang selalu menemanimu melihat matahari terbit setiap hari” kata Donghae menatap riak–riak ombak yang menyentuh kaki telanjangnya.

 

Eunhyuk terdiam sesaat, memandang jauh ke laut yang gelap tanpa suara.

“Ada apa? Kalian bertengkar?” Tanya Donghae heran memandang Eunhyuk yang terdiam.

 

Eunhyuk menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum samar.

“Anniyo…” jawab Eunhyuk masih tanpa berpaling.

“Lalu?” Tanya Donghae lagi.

 

Eunhyuk menoleh memandang Donghae, diam sejenak.

“Siwon hyung… melamarku” jawab Eunhyuk.

 

Donghae terdiam sesaat kemudian tersenyum miris. Entah kenapa ia merasa perih.

“Lalu apa jawabanmu?” Tanya Donghae ingin tahu.

 

Eunhyuk menundukkan kepalanya. Memainkan pasir yang lembut dengan kakinya.

“Aku tidak bisa. Dengan kondisiku sekarang aku takut tidak akan bisa terus bersamanya” jawab Eunhyuk lirih.

 

Leukemia. Eunhyuk divonis mengidap leukemia sejak 4 tahun yang lalu. Namun Donghae baru menyadarinya 1 tahun terakhir ini, itu pun ia mengetahuinya dari Siwon. Rasanya ironis sekali. Selalu bersama namun ia tidak pernah menyadari dengan perubahan fisik Eunhyuk yang semakin melemah dan wajah yang pucat. Saat itu Donghae hanya menganggap Eunhyuk terlalu lelah karena harus terus bekerja bahkan saat hari libur.

 

Namun Siwon yang saat itu baru pulang dari Cina sangat terkejut melihat wajah pucat Eunhyuk dan segera membawanya ke rumah sakit. Dan hasilnya, leukemia dan sisa hidupnya hanya tinggal 5 bulan saja. Donghae hanya bisa diam tak percaya dan berpikir, bukankah kulit Hyukie biasanya seperti itu?.

 

“Aku sudah menyakitinya. Ia pasti membenciku sekarang” kata Eunhyuk membuyarkan lamunan Donghae.

 

“Tidak. Siwon hyung pasti mengerti. Ia bukan orang seperti itu” kata Donghae dengan nada menghibur.

 

Eunhyuk mengangkat kepalanya

“Jnja?” tanyanya.

“Ne.. ne..” kata Donghae mantap.

 

“Gomawo Hae. Kau memang sahabat terbaikku” kata Eunhyuk tersenyum.

“Cheonmaneyo” kata Donghae balas tersenyum, seulas senyum miris saat mendengar kalimat ‘sahabat’ yang diucapkan Eunhyuk.

 

Tidak ada yang berbicara selama beberapa menit. Eunhyuk merapatkan jaket milik Donghae ditubuhnya menahan dinginnya angin pantai yang terus bertiup. Ia terus menatap jauh ke laut dalam diam.

 

“Aku sedang berpikir” kata Eunhyuk bersuara.

“Mwo?” Tanya Donghae menoleh.

 

“Kapan kita bisa bertemu lagi? terus bersama seperti ini?” tanya Eunhyuk tanpa berpaling.

 

“Apa maksudmu? Bukankah kita selalu bersama? Aku pengunjung setiamu dirumah sakit” kata Donghae mengernyit tidak mengerti.

 

“Benar juga, kita selalu bersama” kata Eunhyuk tersenyum.

“Kenapa kau bicara seperti itu? kau aneh” kata Donghae semakin mengernyit.

“Haha… anniyo” kata Eunhyuk tertawa kecil.

 

Donghae memperhatikan Eunhyuk dan berpikir, kenapa dia bisa bicara dengan ekspresi yang menyenangkan seperti itu? sedangkan di kepalanya yang kecil itu pastinya sedang berkumpul berbagai macam pikiran, kekhawatiran dan ketakutan mungkin.

 

“Apa kau sedang memikirkan sesuatu?” Tanya Donghae.

 

Eunhyuk menoleh memandang Donghae

“Jika ini mengenai perkataan para dokter tua itu, dengarkan aku. Itu hanya sebuah diagnosa. Lihat sekarang, kau bersamaku, bicara, tertawa. Kau mampu mengahadapinya, aku percaya. Ada aku disisimu. Aku siap bersamamu 24 jam. Tidak perlu kau simpan semua pikiran tidak perlu itu di kepalamu yang kecil ini sendirian. Bisa-bisa nanti terjadi ledakan” kata Donghae nyengir seraya menunjuk kepala Eunhyuk dan kemudian membuat gaya ledakan dengan tangannya

 

Eunhyuk tertegun sesaat dan tersenyum kecil.

“Tapi pada akhirnya aku akan kalah juga kan dari penyakit ini?” kata Eunhyuk lirih.

 

“YA!! HYUKIE!!  Sudah kubilang, jangan berpikir yang tidak perlu. Kau akan hidup dan terus hidup. Titik!” kata Donghae sedikit  kesal.

 

Eunhyuk sedikit tertegun mendengar perkataan Donghae.

“Kenapa kau jadi cerewet begini sih? Mirip ahjumma saja” kata Eunhyuk mengernyit heran sekaligus menahan senyum.

 

“Aku bukan cerewet tapi sedang menyemangatimu! Kau ini tidak pernah berubah, selalu menyimpan semua hal sendirian, selalu asal bicara dan tetap tak sadar kalau selalu membuat orang lain khawatir” kata Donghae mengomel sendiri.

 

Eunhyuk tidak bisa menahan senyumnya lagi dan sebuah tawa keluar dari bibirnya..

“Maaf. Tapi… aku senang” katanya disela tawanya.

 

Donghae segera memalingkan wajahnya. menutupi semburat merah diwajahnya.

“Pokoknya kau tidak perlu mendengar perkataan para dokter tua itu. Tidak perlu bersedih ada aku disampingmu. Tidak perlu khawatir lagi” kata Donghae seraya menggenggam tangan Eunhyuk.

 

“Ne.. araseo. Gomawo Hae” kata Eunhyuk tersenyum.

 

Eunhyuk terdiam memandang Donghae.

“Mwo?” Tanya Donghae.

 

“Aku diajari terus. Kau sangat baik padaku. Aku tak bisa memberikan apa-apa padamu” kata Eunhyuk seraya berpikir.

 

“Hah?”

 

Eunhyuk mendekati wajah Donghae, membuat semburat merah tipis kembali muncul diwajah Donghae yang tampan. Pandangan itu membuat Donghae gelisah. “Hanya satu yang bisa kuajarkan padamu” kata Eunhyuk dengan ekspresi yang tidak berubah.

 

“Mengajarkan apa? Tung… hei!?” perkataan Donghae berhenti saat tiba–tiba Eunhyuk menarik tangannya.

 

****

 

Donghae mengernyit dan mendesah.

“Tunggu dulu. Kenapa harus berdansa?” Tanya Donghae sedikit malu.

“Mau apa lagi. Aku mahir dalam hal ini” jawab Eunhyuk santai.

 

“Kupikir kau hanya bisa menari hip–hop dan street dance saja” kata Donghae.

“Sungmin hyung pernah mengajariku berdansa” kata Eunhyuk.

 

Donghae diam sesaat.

“Tapi…..”

“Apalagi?”

 

“Kenapa aku yang harus menari sebagai perempuannya?!” kata Donghae

“Lalu aku yang jadi perempuan?” tanya Eunhyuk

 

“Seharusnya ‘kan begitu” gerutu Donghae.

“Sudahlah. Dengarkan saja instrunksiku” kata Eunhyuk.

 

Donghae kembali mendesah dan akhirnya menyerah.

“Mulai kaki kanan mundur.. kaki kiri mundur sedikit ke samping… rapatkan kaki kanan ke kaki kiri, kaki kiri mundur…” Kata Eunhyuk memberi instruksi.

 

Kaki Donghae melangkah dengan kaku di atas pasir yang lembut, mencoba mengikuti instruksi dari Eunhyuk. Meski ia pintar menari, tapi berdansa adalah hal baru bagi Donghae.

“Lama! Salah!! Sedikit kecilkan langkah kakimu!!” kata Eunhyuk.

“Aigoo…sampai itu pun kau perhatikan” ujar Donghae mendesah.

 

Eunhyuk terus memberi instruksi hingga akhirnya Donghae dapat berdansa dengan lancar.

“Baik.. sudah mulai bisa kan?” kata Eunhyuk.

 

Donghae diam memandang Eunhyuk.

“Hyukie”

“Hn?”

 

“Maaf, aku tidak segera menyadari tentang penyakitmu. Rasanya sedikit mengesalkan” kata Donghae menyesal.

 

“Kwanchanaeyo. Seharusnya aku yang meminta maaf. Maaf sudah menyembunyikannya darimu” kata Eunhyuk tersenyum.

 

Tidak ada yang bersuara selama beberapa menit. Kaki mereka terus melangkah, berputar dengan pelan di atas pasir yang lembut diantara suara debur ombak yang memainkan sinfoninya sebagai pengiring mereka.

 

“Hae,  perdengarkan suaramu sebagai ganti lagu” pinta Eunhyuk memandang Donghae.

 

“Hah? Dilihat begitu dekat susah bicara tahu!” kata Donghae gugup.

 

“Oh…kalau begitu aku begini saja” kata Eunhyuk seraya meletakkan wajahnya di dada Donghae yang bidang dan nyaman.

 

‘duuh.. makin susah…’ pikir Donghae semakin gugup.

 

“Bernyanyilah Hae. Bernyanyilah untukku” pinta Eunhyuk lagi.

“Araseo” kata Donghae kemudian mulai bernyanyi.

 

The loneliness of nights so long
The search for strength to carry on
My every hope had seemed to die
My eyes had no more tears to cry
Then like the sun shined up above
Your surrounded me with your endless love
Cause all the things I couldn’t see
Now so clear to me

You are my everything
Nothing your love won’t bring
My life is yours alone
The only love I’ve ever know
Your spirit pulls me through
When nothing else will do
Every night I pray on bended knee
That you will always be
My everything

Eunhyuk memejamkan matanya. Menikmati setiap alunan lirik yang dinyanyikan oleh Donghae. Namun disaat ia hampir terlena, Donghae menghentikan nyanyiannya. “Kenapa berhenti?” Tanya Eunhyuk tanpa membuka matanya dan mengangkat wajahnya.

 

Donghae menghentikan langkah kakinya. Ia memandang Eunhyuk yang menyembunyikan wajahnya didadanya. “Kalau kau ingin mendengarku terus bernyanyi, berapa banyak lagu pun akan aku nyanyikan. Tapi bisakah, walau cuma saat ini pun tak apa, pikirkan hanya tentang diriku” kata Donghae.

 

“Waeyo?” Tanya Eunhyuk membuka matanya.

“Karena aku ingin kita terus terhubung” jawab Donghae.

 

Eunhyuk terdiam dengan sedih

“Ne..” kata Eunhyuk tersenyum lemah kemudian memejamkan matanya kembali.  Donghae memeluk tubuh Eunhyuk dengan erat kemudian bernyanyi kembali.

 

The loneliness of nights so long
The search for strength to carry on
My every hope had seemed to die
My eyes had no more tears to cry
Then like the sun shined up above
Your surrounded me with your endless love
Cause all the things I couldn’t see
Now so clear to me

You are my everything
Nothing your love won’t bring
My life is yours alone
The only love I’ve ever know
Your spirit pulls me through
When nothing else will do
Every night I pray on bended knee
That you will always be
My everything

 

Oohh
You’re the breath of life in me
The only one that sets me free
That you will make my soul complete
For all time… For all the time

You are my everything
Nothing your love won’t bring
My life is yours alone
The only love I’ve ever know
Your spirit pulls me through
When nothing else will do
Every night I pray down on bended knee
That you will always be
My everything.. Oh my everything

 

****

 

Cahaya matahari yang mulai terbit menerpa tubuh Donghae yang tak beranjak dari tempatnya. Namun pagi ini cahaya mataharinya tidak terlalu hangat, sedikit mendung. Donghae memandang langit yang mulai terang perlahan.

“Selamat pagi Hyukie” kata Donghae tersenyum.

 

Tidak ada jawaban. Hanya suara ombak yang masih setia dengan simfoninya. Donghae kembali terdiam memandang laut kemudian memandang tangannya. Semilir angin bertiup menerpa telapak tangan Donghae yang kosong. Ingatan itu masih melekat dengan jelas dikepalanya tapi kini tangannya telah kosong.

 

Tidak ada lagi tangan hangat Eunhyuk di dalam genggamannya. Tidak ada lagi tubuh rapuh Eunhyuk dipelukannya. Beberapa hari kemudian setelah malam itu, kondisi Eunhyuk semakin lemah dan memburuk. Akhirnya ia meninggalkan Donghae, disaat Donghae berpikir tentang perasaannya yang selama ini ia abaikan. Bertingkah seolah hal itu tidak mengganggunya.

 

Tapi sebenarnya perasaan itu sangat mengganggu. Donghae tidak keberatan selalu berada disisi Eunhyuk. Mendengar celotehannya yang tidak berhenti. Menggunakan matahari terbit sebagai alasan untuk selalu bersamanya. Tapi setiap kali Eunhyuk tidak berhenti berbicara, Donghae membiarkan Eunhyuk melihat bahwa “ia menangis”, sementara ia berusaha berpura–pura kuat. Donghae berpikir, seberapa baik air mata itu bekerja pada Eunhyuk? Tapi kelihatannya Eunhyuk tidak menyadarinya.

 

Dan akhirnya Donghae berpikir, mungkin tidak apa–apa jika dia berbohong. Tapi bahkan ia tidak bisa menemukan kata–kata yang tepat. Kinda funny.

 

Donghae mengepalkan tangannya dengan sedih, tangannya kembali kosong. Donghae berdiri dan mengambil sebatang kayu yang tergeletak tidak jauh darinya. Menggoreskannya diatas pasir seraya bernyanyi lagu yang sama. Donghae menggoreskan satu huruf terakhir kemudian membuang batang kayu ditangannya. Ia memandang hasil karyanya dengan puas. Sebuah kalimat yang seharusnya ia katakan sedari dulu.

 

Donghae memandang jauh ke laut yang biru.

“Hyukie, aku sedang berpikir. Ketika tangan kita saling bertaut kembali, akankah kau lupa dengan hari itu? Tentang aku?” tanya Donghae.

 

Suara debur ombak seolah menjawab pertanyaan Donghae. Donghae memandang langit pagi yang mendung. Ia tersenyum sesaat kemudian beranjak pergi. Tidak lama Porsche hitam itu melaju pergi dan menjauhi pantai. Ombak perlahan menyapu pantai, membiarkan pesan dari Donghae untuk Eunhyuk tetap terukir diatas pasir yang lembut. Kata–kata yang terabaikan begitu lama.

Aku mengatakan sesuatu pada langit pagi ini

Apa kau mendengarnya?

………

Saranghae Hyukie

Cheongmal saranghaeyo

………

 

Fin

 

 

 

Confession (KyuMin ver)

Pairing           : KyuMin

Genre            : Fluff

Length           : Drabble

Warning         : Boys love, shounen-ai, alur yang mungkin terlalu cepat & membosankan

Disclaimer       : Story belong to me, KyuMin belong to each other

Author note     : Remake dari FF YeMin dengan sedikit perubahan

Summary         : pertanyaan itu, hanya sebuah pertanyaan sederhana. Pertanyaan dengan dua puluh lima kalimat, pertanyaan dari seseorang yang sederhana.

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

Musim gugur, udara mulai terasa dingin. Diantara bangunan-bangunan yang berjejer rapi dipinggir jalan itu, terselip sebuah café yang sederhana. Dan disudut café yang tenang itu mereka duduk bersama menikmati minuman masing-masing. Diluar hujan masih saja turun menerpa bumi dengan lembut namun dingin seakan merayu tanpa henti.

 

Sungmin memandang keluar jendela, jemarinya bergerak menelusuri aliran-aliran air yang dihasilkan dari percikan-percikan hujan dijendela. Kyuhyun meletakkan cangkir kopinya dan memandang pemuda manis yang duduk didepannya.

 

“Apa hal yang paling kau sukai hyung?” tanya Kyuhyun.

 

Sungmin menoleh dan menghentikan jemarinya.

“Heum…menatap hujan dengan secangkir cappuccino hangat, membaca buku dibawah teduh pohon akasia, tidak makan sendirian, berlarian dengan anak-anak kecil,” jawab Sungmin. “dan kau, apa yang kau sukai Kyu?” tanyanya.

 

“Kau” Jawab Kyuhyun tegas.

 

Sungmin terdiam memandang Kyuhyun. Pemuda ini, pemuda didepannya ini dengan semburat jingga tipis diwajahnya yang tampan……mengatakan dengan tegas bahwa pemuda ini menyukainya. Pemuda ini, yang Sungmin tidak pernah menyangka akan menyatakan perasaan padanya. Melihat senyum teduh itu, entah kenapa, Sungmin merasa tenang.

 

“Apa yang kau sukai dariku Kyu? Aku hanya seseorang yang biasa-biasa saja” kata Sungmin.

 

“Yeah, karena kau adalah seseorang yang biasa-biasa saja. Sebab itu aku merasa cocok denganmu” Ujar Kyuhyun halus.

 

Sungmin hanya tersenyum datar dan menyesap cappuccino miliknya yang hampir dingin. Kyuhyun menoleh keluar jendela dan terdiam sesaat, memandang hujan yang perlahan kian deras.

 

“Hyung, kau tahu?” kata Kyuhyun.

“Apa?” Kata Sungmin.

 

“Ada satu hal yang mewakili banyak hal. Saat hujan turun, selain payung, apa kau tahu? Aku selalu teringat denganmu. Namja pecinta pink, bunny boy. Kau yang bisa berjam-jam di toko buku, tidak banyak bicara, senyum simpul itu, kamu yang mencintai hujan dan bahkan tidak menarik sama sekali. Ketika rasanya setiap hari aku merindukanmu dan tidak mampu menemukanmu. Aku tahu harus menemukanmu dimana. Menyusuri toko-toko itu, trotoar pinggir jalan raya, halte, perpustakaan, toko buku, toko DVD, dan café ini. Aku pasti akan menemukanmu, disini. How funny, right ?” Kata Kyuhyun terkekeh kecil.

 

Sungmin terdiam, ia tertegun memandang Kyuhyun. Kyuhyun menoleh memandang Sungmin. Mata itu terlihat berubah, ada keseriusan dan kelembutan yang mendera-dera.

“Maukah hidup bersamaku?” Tanya Kyuhyun.

“Hah, apa?” Kata Sungmin.

 

“Hiduplah bersamaku. Kita berdua, suka duka tetap bersama, disampingku, disampingmu……bisakah?” kata Kyuhyun, ada nada penuh harap yang lembut terdengar dalam suaranya yang tenang.

 

Sungmin mengerjap memandang Kyuhyun. Ia meletakkan cangkirnya dan terdiam sesaat.

“Hmmm……hidup bersamamu…?” Kata Sungmin.

 

Astaga…pemuda ini membuat Sungmin bingung harus menjawab apa? Sungmin bukannya tidak senang dengan pernyataan cinta Kyuhyun. Tapi belum ada yang memiliki hatinya sejak orang itu, seseorang yang pernah begitu Sungmin sayang selama tiga tahun itu. Seseorang yang dengan berat Sungmin putuskan untuk meninggalkannya. Seseorang yang Sungmin harus mengikhlaskannya hidup dengan orang yang mencintai dia dengan sepenuh hati. Dan Sungmin tahu, itu bukan dirinya. Seseorang dengan nama Yesung.

 

Seperti kehilangan sesuatu yang berharga, begitulah rasanya. Pernyataan cinta. Yeah, Sungmin kerap mendengarnya. Namun dengan halus Sungmin menolak semua itu, karena ia masih menikmati kesendiriannya. Ah, sepertinya hatinya masih belum terbuka untuk menerima perasaan orang lain.

 

Tapi pernah, ada satu pernyataan cinta yang Sungmin lewati. Sungmin bukan orang yang mudah jatuh hati. Bahkan Sungmin baru menyadari perasaannya pada orang itu, Siwon.  Setelah Siwon lelah karena tak mendapatkan jawaban dari Sungmin, ia memutuskan untuk memilih orang lain yang bisa menerimanya. Dan Sungmin baru menyadari bahwa ia jatuh hati pada Siwon yang sudah pergi untuk memilih orang lain.

 

Yeah, Sungmin hanya sebagian kecil orang yang terlambat menyadari tentang perasaannya. Ketika akhirnya banyak yang berusaha mencoba memasuki kehidupannya, Sungmin merasa ruang di hatinya masih belum juga terbuka. Ia masih mencintai orang itu, hatinya masih tertuju pada Siwon. Dan kini Kyuhyun dengan pernyataan cintanya. Apakah hari ini ia akan kembali membuat orang lain kecewa untuk kelima kalinya di hari ini?.

 

Kyuhyun memandang Sungmin, ia masih menunggu jawaban dari pemuda manis itu. Dan mata itu, ada sebuah keseriusan dan ketulusan juga kelembutan yang mendera-dera didalamnya. Sungmin mendesah pelan sesaat.

 

“Kyu…kau bilang yang kau sukai adalah aku, bukan?” Tanya Sungmin.

 

Kyuhyun menganggukkan kepalanya dengan tegas. Sambil menoleh keluar jendela Sungmin berkata,

 

“Kyuhyun ah……aku, aku tidak tahu apa yang kau sukai dariku. Aku juga tidak tahu apa yang kau lihat dariku. Tapi jika itu yang kau sukai, maka yang aku sukai dan aku harapkan….kita melanjutkan persahabatan kita. Berjalan bersisian sebagai seorang sahabat…mendengar ceritamu sebagai seorang sahabat….dan melakukan banyak hal bersamamu sebagai seorang sahabat. Ketika aku bisa melakukan semua itu untukmu sebagai seorang sahabat…itu membuatku merasa bahagia. Bukankah kau ingin melihatku bahagia, eoh?”

 

Sungmin menoleh memandang Kyuhyun dengan cemas. Kyuhyun sedang terdiam, senyum teduh itu menghilang sesaat dari bibirnya. Apakah Sungmin telah membuat pemuda tampan ini kecewa? Kyuhyun beranjak berdiri dari kursinya. Ia melepas syal berwarna biru gelap yang melilit lehernya dengan hangat, dan melilitkan benda itu dileher Sungmin yang telanjang. Kini benda itu membuat leher Sungmin terasa hangat, melindunginya dari udara dingin di musim gugur.

 

“Emmm…yeah, aku mengerti. Aku mengerti maksudmu. Jadi, aku akan membuatmu tersenyum dan merasa bahagia sebagai seorang sahabat. Terima kasih hyung, aku tahu kau pasti akan memberikan jawaban seperti ini…” kata Kyuhyun dengan senyum teduhnya.

 

Sungmin memandang Kyuhyun dengan pandangan meminta maaf.

“Udara semakin dingin, jangan sampai kenal flu, ne?” kata Kyuhyun dengan lembut.

 

Sungmin hanya tersenyum. Kyuhyun beranjak pergi, namun kemudian ia menghentikan kakinya dan menoleh memandang Sungmin. Senyum teduh itu masih menghiasi sudut bibir Kyuhyun.

 

“Aku akan membuatmu tersenyum dan merasa bahagia sebagai seorang sahabat, tapi……mungkin aku akan menyatakan cinta kembali. Jadi persiapkan dirimu Lee Sungmin. sampai jumpa lagi” kata Kyuhyun terkekeh kecil.

 

Sungmin hanya memandang Kyuhyun yang beranjak pergi. Ia tahu, pemuda tampan itu kecewa. Meski demikian, setidaknya Sungmin sudah mencoba untuk bicara jujur. Diluar hujan perlahan mulai berhenti, menyisakan hawa dingin dan tanah yang basah. Sore ini Sungmin memutuskan untuk melanjutkan hidupnya. Sungmin ingin tersenyum seperti dulu lagi, ia ingin kembali jatuh cinta pada orang yang mencintainya. Bisakah ia?.

 

????

 

Hari demi hari, bulan demi bulan. Hingga di hari itu, saat kelopak-kelopak bunga yang indah mulai bermekaran, mereka kembali bertemu tanpa sengaja. Disudut café yang tenang itu Sungmin dan Kyuhyun kembali duduk bersama. Dua cangkir kopi yang hangat menemani obrolan mereka. Mereka bertukar banyak cerita, berbagi cerita sehari-hari. Pertemanan yang simple, perhatian yang simple. Kyuhyun masih tidak berubah. Senyum teduh itu, kelembutan hati itu. Tapi kemudian Sungmin menyadari, Kyuhyun terlihat lebih dewasa. Kini Kyuhyun adalah seorang lelaki dewasa yang lembut hati.

 

Segala sesuatu yang mereka lewati biasa-biasa saja. Melakukan hal gila bersama, sesekali perang pendapat, lalu berbaikan kembali. Namun sesekali Kyuhyun masih tertangkap sedang menatap Sungmin diam-diam. Dan Sungmin hanya berpura-pura tidak tahu jika Kyuhyun sedang menatapnya tanpa berkedip.

 

Kyuhyun terlihat tidak lelah mendengarkan Sungmin berceloteh banyak hal. Dia memahami dan mendengarkan……lelaki lembut hati ini, selalu menyempatkan waktunya untuk menemui Sungmin disela kesibukan kerjanya. Meski tidak selalu bertemu setiap hari, Kyuhyun selalu menjaga komunikasi mereka. Dan Sungmin merasa memiliki teman yang ada untuk mendengarkan semua ceritanya.

 

????

 

Hingga suatu malam di sudut café yang tenang itu, Kyuhyun kembali menyatakan perasaannya pada Sungmin. Tentang apa yang masih ia rasakan hingga malam ini, tentang keyakinannya pada pemuda manis itu. Ternyata Kyuhyun masih bertahan pada perasaannya dengan Sungmin. Didalam mata itu, ada keseriusan dan ketulusan yang masih sama, mendera-dera tidak terbantahkan.

 

Sungmin mengerjap memandang Kyuhyun. Wajah tampan itu terlihat merah, rasanya Sungmin ingin tertawa. Ternyata dia masih lelaki yang pemalu. Lelaki pemalu ini yang kembali menyatakan perasaannya terhadap Sungmin. Kyuhyun memandang Sungmin dengan tenang. Oh ya, Kyuhyun juga tahu tentang kisah-kisah lalunya. Dia tahu apa yang sedang Sungmin rasakan. Tentang Sungmin yang meninggalkan Yesung, tentang Sungmin yang belum bisa melupakan Siwon.

 

“Bisakah perasaan itu dipindahkan untukku?” tanya Kyuhyun.

 

Sungmin sedikit terkejut mendengar itu.

“Dipindahkan?” Kata Sungmin mengernyit.

 

Kyuhyun menganggukkan kepalanya dengan pasti.

“Bukankah kita pernah berbicara tentang hukum kekekalan cinta? Tidak jauh berbeda dengan hukum kekekalan energi. Cinta tidak bisa dimusnahkan, tapi bisa dipindahkan dari satu hati ke hati yang lainnya” katanya.

 

Sungmin mengerjap memandang Kyuhyun. Yeah, mereka pernah bicara tentang hal itu.

“Sungmin hyung, bisakah perasaan itu dipindahkan untukku?” tanya Kyuhyun lagi.

 

Sungmin terdiam sesaat, cukup lama untuk membuat Kyuhyun cemas. Hingga akhirnya pemuda manis ini tersenyum dan menjawab, “Yeah, mari kita jalani. Aku akan belajar untuk memindahkan perasaan itu”

 

Kyuhyun tersenyum lega mendengar jawaban itu. Dan Sungmin yakin pasti ada rona merah muda disini…di pipinya, saat ia membiarkan tangan hangat Kyuhyun menggenggamnya dengan lembut. Malam itu, mereka bertekad untuk saling menjaga komunikasi, terbuka dan saling memperhatikan satu sama lain.

 

Bersama sang waktu yang berjalan bersama, Sungmin telah jatuh cinta lebih dari hari-hari sebelumnya. Pada lelaki dengan semburat jingga diwajahnya yang tampan itu, yang selalu ada di saat ia sedih maupun senang. Kyuhyun yang selalu ada di sini untuk terus menyemangatinya, Kyuhyun yang menerima segala kekurangan pada dirinya. Dan Kyuhyun yang menyayanginya dengan sepenuh hati.

 

Sungmin telah kembali jatuh cinta pada Kyuhyun yang mencintainya. Rasanya Sungmin ingin membahagiakan Kyuhyun, dan melewati banyak hal bersamanya. Terus bersamanya. Di sini, dilembaran baru. Cho Kyuhyun, dia lelaki yang mencintainya, dan Sungmin juga jatuh cinta padanya.

 

Gomawo nae namja (^_^) …..

 

FIN

Cinnamon and Lavender (KyuMin ver) / chap 6

Pairing         : KyuMin

Genre          : Angst

Length         : Chapter

Warning       : Boys love, shounen-ai, alur yang maju-mundur

Disclaimer     : Story belong to me, KyuMin belong to each other

Author note   : Versi awalnya adalah YeWook, tapi aku meremake ulang menjadi KyuMin dengan perbaikan.

Summary       : Tidak akan hilang walau dengan sabun paling wangi sekalipun. Aroma yang begitu menyiksa namun selalu dirindukan.

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

Chapter 6

Seoul, 28 Agustus 2010

 

Bau asetat masih mengambang di udara dan seruak formalin belum hilang dari lantai kamar. Tapi Kyuhyun masih dapat mencium Bau body mist lavender dari tubuh Sungmin. Diluar suara gaduh demonstrans yang berbaris dijalan seraya meneriakkan tuntutan mereka terdengar jelas. Bingkai–bingkai kayu dijendela memantulkan suara mereka yang mencekik. Seperti mercaptan.

 

Tv dan radio tidak berhenti menyiarkan berita tentang para demonstrans yang tidak kenal lelah. Suara derap langkah dan tembakan tidak henti terdengar. Benar–benar kacau. Beberapa hari lalu, asset perusahaan bernilai jutaan dollar dibakar massa, menyusul bocornya pabrik sumber penghasil bahan utama di Busan.

 

“Bagaimana Kibumie?” tanya Kyuhyun.

“Kacau. Analisis lapangan sulit dilakukan. Sudah beberapa minggu pabrik tidak beroperasi” jawab Kibum

“Bagaimana dengan tim audit?” tanya Kyuhyun.

“Tim audit sendiri tidak bisa berbuat apa–apa karena tidak ada instalasi pengolahan limbah yang perlu diaudit. Tidak ada yang bisa dikerjakan setelah tes laboratorium diselesaikan. Kita sudah berakhir” jawab Kibum pasrah.

Klik!!

 

Kyuhyun mendesah dan mengacak – acak rambutnya frustasi. Keadaan sudah sampai pada klimaksnya. Perusahaan GACY telah hancur dan ditutup paksa. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Kyuhyun membelai wajah manis itu dengan lembut dan mengecupnya. Dari kepala, kening, pucuk hidung dan berakhir pada bibir Sungmin.

 

“Sungmin hyung…” Panggil Kyuhyun lirih, nyaris berbisik sendu.

 

Drtt…drtt…drtt…

 

Kyuhyun meraih ponselnya yang bergetar dan segera mengangkatnya.

“Ne eomma?” kata Kyuhyun.

“Cepatlah kembali” kata ibunya terdengar panic.

“Mworago?” tanya Kyuhyun.

“Min Ji jatuh dikamar mandi. Ia keguguran” jawab ibunya.

“Mwo? Bagaimana keadaan Min Ji?” tanya Kyuhyun terkejut.

“Dia baik–baik saja. Namun masih pingsan karena shock……” jawab ibunya.

 

Kyuhyun mematikan teleponnya dan terdiam. kertas–kertas bertumpuk tidak teratur diatas karpet. Teks – teks dalam bahasa inggris, data–data, grafik, tabel ambang batas, hasil audit lapangan, laporan analisis laboratorium, print surat email, fax, draft wawancara. Dan tubuh putih itu tetap terbaring diatas ranjang berwarna kelabu. Diam dan tampak kedinginan. Kyuhyun masih berdiri disisi ranjang dan terdiam memandang Sungmin. Lavender-nya kini benar–benar telah hilang. Lavender, yang selalu ia sukai dan ternyata memang sangat ia sukai.

 

Kyuhyun membuka koper milik Sungmin dan menemukan selembar kertas yang dilipat rapi. Ia mengambilnya dan tersenyum sedih saat membaca sebaris kalimat yang tertulis didalamnya. Kyuhyun menggoreskan pulpennya sesaat. Kemudian meletakkan pulpennya dan kembali memandang Sungmin yang terdiam diatas ranjang.

 

“Aku akan segera kembali hyung…” katanya kemudian mengecup kepala Sungmin.

 

Kemudian Kyuhyun beranjak pergi dengan membawa aroma lavender yang masih melekat ditubuhnya. Tidak akan hilang walau dengan sabun paling wangi sekalipun. Aroma yang begitu menyiksanya namun selalu ia rindukan. Rahasia yang akan selalu diingatnya. Didalam kertas itu bertambah 2 kalimat bertulis :

 

Cinnamon and Lavender

Oenjena Saranghae

……

The end