Cinnamon and Lavender (KyuMin ver) / chap 5

Pairing         : KyuMin

Genre          : Angst

Length         : Chapter

Warning       : Boys love, shounen-ai, alur yang maju-mundur

Disclaimer     : Story belong to me, KyuMin belong to each other

Author note   : Versi awalnya adalah YeWook, tapi aku meremake ulang menjadi KyuMin dengan perbaikan.

Summary       : Tidak akan hilang walau dengan sabun paling wangi sekalipun. Aroma yang begitu menyiksa namun selalu dirindukan.

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

Chapter 5

Seoul, Agustus 2010

 

Pagi yang lain kembali datang. Sinar matahari pagi menerobos masuk saat Sungmin membuka tirai jendela. Ia menoleh melihat Kyuhyun menarik selimutnya dan kembali tidur. Sungmin beranjak duduk di sisi ranjang dan membelai kepala Kyuhyun dengan lembut.

 

“Kyu, sudah jam setengah 8. Kau akan terlambat jika tidak segera bangun” kata Sungmin membangunkan dengan lembut.

 

Kyuhyun hanya menggeliat pelan namun tidak kunjung membuka matanya. Sebuah ide melintas dikepala Sungmin. Perlahan Sungmin mendekati wajah Kyuhyun dan mengecupnya, namun Kyuhyun hanya kembali menggeliat pelan. Sungmin kembali menjelajahi wajah dan leher Kyuhyun dengan bibirnya, menghirup aroma cinnamon kesukaannya.

 

“Hyung..hentikan. Kau membuatku tidak bisa tidur. Aroma lavender dari tubuhmu membuatku mabuk” kata Kyuhyun akhirnya membuka matanya.

 

“Cepatlah bangun atau aroma lavender ini akan membuatmu semakin mabuk” kata Sungmin dengan tersenyum jahil.

 

“Kau benar – benar menakutkan” kata Kyuhyun beranjak bangun dan mengecup Sungmin sesaat.

 

Sungmin tersenyum seraya membelai wajah Kyuhyun yang masih mengantuk.

“Aku sudah menyiapkan sarapan dimeja. Cepatlah mandi dan bersiap” kata Sungmin.

“Araseo…hoaam” kata Kyuhyun seraya menguap dan beranjak ke kamar mandi.

 

Sungmin menggeleng melihat Kyuhyun kemudian membereskan ranjangnya. Ia merapikan pakaian Kyuhyun yang tergeletak berantakan dilantai.  drtt…drtt…drtt…

 

ponsel Kyuhyun bergetar diatas meja disamping ranjang. Sungmin beranjak mengambil ponsel Kyuhyun dan berniat untuk menjawabnya. Ia mengernyit saat membaca nama yang tertera dilayar yang terus berkedip itu. Min Ji yeobo calling.

 

“Min Ji yeobo?” kata Sungmin mengernyit.

 

Akhirnya ponsel milik Kyuhyun berhenti bergetar tepat saat Sungmin akan menjawabnya. Sungmin meletakkan kembali ponsel milik Kyuhyun di atas meja dan kembali merapikan pakaian Kyuhyun. Sesuatu terjatuh dari saku celana Kyuhyun saat Sungmin mengambilnya. Sungmin menunduk mengambil sebuah cincin yang menggelinding dibawah meja. Sebuah cincin emas, seperti cincin pernikahan. Sebuah nama terukir didalam cincin tersebut. Sugmin mengernyit membacanya.

 

“Min Ji? Bukankah ini cincin pernikahan?” kata Sungmin bingung.

 

Sungmin memperhatikan cincin itu. Ia terdiam sesaat dan melirik ponsel Kyuhyun yang tergeletak di atas meja. Sesuatu dalam kepala Sungmin memerintahkannya untuk memeriksa benda mungil itu. Akhirnya Sungmin mengambil ponsel Kyuhyun dan diam-diam memeriksanya. Pesan-pesan baik dari orang bernama Min Ji ini, atau pun dari Kyuhyun untuk orang itu membuat Sungmin curiga. Hingga akhirnya Sungmin tersentak saat menemukan beberapa foto Kyuhyun bersama seorang wanita yang cantik. Berpelukan mesra, menunjukkan cincin yang sama di jari mereka.

 

“Apa maksudnya ini?!” Pikir Sungmin sangat terkejut.

 

****

 

Sungmin memandang ponsel Kyuhyun dan cincin pernikahan yang tergeletak diatas meja makan kemudian mengangkat kepalanya memandang Kyuhyun yang terdiam.

“Jadi, kau sudah menikah?” tanya Sungmin.

 

Kyuhyun menganggukkan kepalanya dengan pelan.

“Ne. 2 bulan sebelum aku ditugaskan ke Busan” jawab Kyuhyun.

 

Sungmin menggelengkan kepalanya tidak percaya. Perlahan air mata mengalir dari sudut matanya yang memanas. Dengan tersenyum kecewa ia berkata,

 

“Kau sudah menikah. Kau tidak pernah memberitahuku. Kalau kau sudah menikah 2 bulan sebelum kau ditugaskan ke Busan, kenapa aku tidak pernah melihatmu memakai cincin pernikahanmu itu saat kau tinggal bersamaku di Busan? Kau sengaja menyembunyikannya dariku, eoh?”

 

Kyuhyun menggelengkan kepala penuh rasa bersalah.

“Mianhae. Aku tidak bermaksud berbohong dan menyakitimu” Katanya.

 

“Aku tidak percaya. Aku meninggalkan Busan dan pergi ke Seoul untuk mengejar seorang pria yang sudah menikah. Aku pasti sudah gila” kata Sungmin mendengus sedih.

 

“Kalau kau sudah menikah, kenapa kau menciumku? Memelukku dengan hangat? Membiarkan aku menghirup aroma cinnamon dari tubuhmu, yang tidak bisa aku lupakan. Kenapa kau membuat aku jatuh cinta seperti ini?” tanya Sungmin mulai menangis.

 

“Tolong maafkan aku. Ini salahku” kata Kyuhyun menggenggam tangan Sungmin.

 

Sungmin menepis tangan Kyuhyun dan memandangnya.

“Lalu bagaimana denganku? Apa yang akan terjadi denganku selanjutnya? Aku tidak bisa lagi menahan perasaan ini. Rasanya sangat sakit, membuatku sulit bernafas” Katanya terisak.

 

Kyuhyun terdiam memandang Sungmin. Rasa kecewa, marah dan sedih terpancar jelas dalam mata Sungmin yang basah. Menatapnya seolah – olah jauh sebelum hari ini, pertemuan mereka di Busan adalah sesuatu yang salah namun sangat menyenangkan. Pandangan itu menyakitinya.  Ia sangat mengerti. Hampir setiap malam ia tersiksa dengan bau lavender yang selalu menempel dalam ingatannya. Ia juga sangat menyukainya. Tapi lavender itu sekarang sedang layu, membasahi tanah dengan air matanya. Terlihat menyedihkan. Ini salahnya.

 

****

 

Pagi yang lain kembali datang. namun kali ini pagi yang berbeda. Bukan Sungmin lagi yang berada disisinya saat Kyuhyun terbangun, melainkan seorang wanita. Pagi ini Kyuhyun menemani Min Ji berjalan pagi ditaman. Katanya ini bagus untuk perkembangan calon anaknya nanti. Min Ji berjalan perlahan disisi Kyuhyun seraya merangkul lengannya. Terus berbicara dengan senang tentang calon anak mereka nanti. Namun kepala Kyuhyun memikirkan hal lain. Lavendernya yang sedang layu.

 

“…ppa…oppa” Min Ji menghentikan langkahnya.

“Hn? Mwo?” Kyuhyun tersadar dari pikirannya.

 

“Oppa mendengarkanku tidak sih” kata Min Ji merengut.

“Ahh mian yeobo, aku sedang tidak konsentrasi” kata Kyuhyun tersenyum meminta maaf.

 

“Kau pasti sedang memikirkan pekerjaan. Kau sudah terlalu sibuk bekerja, sesekali kau butuh istirahat” kata Min Ji.

 

“Keadaan dikantor sedang kacau Min Ji, tugasku menjadi semakin banyak” kata Kyuhyun.

“Araseo. Tapi jangan sampai melupakan kesehatanmu. Aku perhatikan belakangan ini oppa selalu melamun. Mworago?” tanya Min ji.

 

“Anniyo. Bukan apa – apa” jawab Kyuhyun mengelak.

“Apa masalah dikantor sangat menganggumu?” tanya Min Ji khawatir seraya menyentuh wajah Kyuhyun.

 

Kyuhyun tersenyum.

“Kau tidak perlu khawatir, aku bisa mengatasinya. Aku justru mengkhawatirkanmu. Kehamilanmu sudah memasuki bulan ke 5. kau harus lebih hati – hati yeobo” kata Kyuhyun seraya menyentuh perut Min Ji yang semakin membesar.

 

“Araseo. Oppa tidak perlu khawatir” kata Min Ji tersenyum.

 

Min Ji mendesah dan menyentuh perutnya.

“Mworago? Kau lelah?” tanya Kyuhyun.

 

Min Ji mengangguk dan mengusap perutnya.

“Sepertinya anak kita sudah lapar” kata Min Ji.

 

“Kalau begitu kita pulang saja. Aku akan membuatkan sarapan khusus untukmu” kata Kyuhyun seraya menuntun Min Ji ke mobilnya.

 

“Memang oppa bisa masak?” tanya Min Ji mengernyit.

“Tenang saja. Aku sudah ikut kursus kilat dari eomma” jawab Kyuhyun membuat Min Ji tertawa memandang suaminya yang setahunya tidak pernah memasuki dapur selain untuk membuat kopi.

 

Sementara itu. Sungmin tersenyum miris memperhatikan pasangan yang menjauh pergi itu. Kyuhyun dan istrinya terlihat bahagia. Sungmin memperhatikan wanita disamping Kyuhyun. Perutnya yang membesar. Wajahnya yang ceria. Senyum yang manis. Cantik dan manis, tipe yang sangat sesuai dengan Kyuhyun yang tampan. Sungmin mendesah dengan sedih. Seharusnya dia yang berada disamping Kyuhyun saat ini. Seharusnya dia yang sedang merangkul lengan Kyuhyun dan tertawa bersamanya. Seharusnya dia yang berada didalam pelukan Kyuhyun dan menghirup aroma cinnamon dari tubuh Kyuhyun setiap pagi. Seharusnya Kyuhyun memilihnya. Kyuhyun yang menuntun istrinya dengan lembut. Menyentuh perutnya yang semakin membesar dan berbicara tentang calon anak mereka kelak dengan senang. Pemandangan ini membuatnya semakin sakit. Sungmin membalik tubuhnya dan berjalan pergi.

 

****

 

Kaki Sungmin berhenti diatas jembatan sungai Han yang tinggi. Air sungai tampak kotor dan menyusut karena terkena natrium hidroksida dan selulosa asetat buangan dari pabrik. Sungmin terdiam memandang sungai han dan sesaat berpikir untuk meloncat ke bawah. Menjatuhkan dirinya ke sungai dan menghentikan hidupnya yang kesepian. Namun Sungmin segera membuang pikiran itu jauh – jauh dari kepalanya. Ia mencoba untuk tenang dan berpikir kembali. apa yang akan dia lakukan? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Pengejarannya ke Seoul sia – sia. Ia telah jatuh cinta, namun dalam sekejap perasaan itu menghancurkannya. Sungmin mencintai Kyuhyun. ia ingin memiliki cinnamon hanya untuknya.

 

Tapi Sungmin tidak bisa. Protesnya tidak berlaku. Ia tidak bisa memaksa Kyuhyun untuk meninggalkan istrinya yang sedang hamil demi dirinya. Menjadi orang ketiga dalam sebuah hubungan terlarang dan merebutnya secara perlahan. Kedengarannya ide yang sangat menggoda. Tapi setiap malam Sungmin pasti tidak akan bisa tidur dengan tenang karena rasa bersalah. Air mata mengalir perlahan disudut matanya. Sungmin menyentuh dadanya, merasakan sakit yang sedang ia rasakan. Sangat sakit.

 

Tiba-tiba sebuah mobil datang dan berhenti. Kyuhyun beranjak turun dari mobilnya dan memandang dengan cemas Sungmin yang masih berdiri diatas jembatan, menangis tanpa suara. Lavendernya semakin layu.

 

“Kau tidak sedang berpikir untuk meloncat ke bawah kan? Itu hanya akan membuat tubuhmu kotor dan keracunan karena semua limbah itu” kata Kyuhyun.

 

Sungmin menoleh memandang Kyuhyun dengan sedih. Kemudian ia turun dari atas jembatan dan berlari memeluk Kyuhyun. menumpahkan semua kesedihan dan kekecewaannya dalam air mata yang belum habis. Kyuhyun memeluk tubuh Sungmin yang berguncang karena tangisannya yang meledak. Ia memandang Sungmin dengan sedih dan bersalah.

 

“Cheongmal mianhae hyung” kata Kyuhyun pelan seraya membelai kepala Sungmin.

 

****

 

Tidak ada yang berbicara selama perjalanan. Sungmin sudah berhenti menangis dan memandang keluar jendela tanpa suara. Kyuhyun menghentikan mobilnya didepan apartemen Sungmin. Masih tidak ada yang berbicara selama beberapa menit. Kyuhyun benci ini. Keheningan ini membuatnya tersiksa.

 

“Aku akan kembali ke Busan” Sungmin bersuara.

“Mwo?” Kyuhyun menoleh sedikit terkejut dengan keputusan Sungmin.

 

“Tujuanku datang ke Seoul hanya untuk bertemu denganmu. Aku sudah berjanji pada Donghae akan segera pulang setelah atau tidak bisa menemukanmu. Aku sudah bertemu denganmu dan tidak ada lagi yang bisa kulakukan disini. Aku akan kembali ke Busan besok pagi” kata Sungmin tanpa berpaling.

 

Kyuhyun terdiam sesaat dengan kecewa.

“Ini sudah berakhir?” tanya Kyuhyun.

 

Sungmin menoleh memandang Kyuhyun. Kemudian ia beranjak mendekati pemuda tinggi itu dan menciumnya perlahan. Menghirup aroma cinnamon kesukaannya dan menyimpannya dalam ingatannya. Sungmin melepas ciumannya dan memandang Kyuhyun yang terpaku.

 

“Ini sudah berakhir. Tapi aku tidak yakin dapat menghilangkan perasaan ini. Aku sangat menyukai aroma cinnamon dari tubuhmu. Tidak bisa aku lupakan” kata Sungmin sedih.

 

Kyuhyun hanya terdiam.

“Komawo Kyu…” kata Sungmin kemudian beranjak turun.

 

Kyuhyun masih terpaku memandang Sungmin yang telah menghilang dibalik pintu apartemennya. Ia juga tidak bisa melupakannya. Aroma lavender itu telah menjadi favoritnya. Kyuhyun mendesah dan menjalankan mobilnya. Meninggalkan lavender kesayangannya yang telah layu dibelakang. Sungmin mengintip dibalik tirai jendelanya, memandang mobil Kyuhyun yang menjauh pergi meninggalkannya dan kembali menangis dengan aroma cinnamon kesukaannya yang tertinggal ditubuhnya.

 

****

 

Kyuhyun berdiri diberanda rumahnya. Menatap langit pagi yang sedikit muram. Ini masih pagi yang lain. masih deru kendaraan diluar, musim yang mulai berganti, masih ada tetes air di pepohonan dan pagi yang dingin. Kerumunan massa yang marah masih berlanjut dan mulai memadati jalan kembali.

 

What a fucking day” gumam Kyuhyun mendesah.

 

Kyuhyun meraba tengkuknya dan memejamkan matanya, merasakan aroma favoritnya yang masih tertinggal ditubuhnya. Lavender. Begitu menyiksanya. Kyuhyun mengambil ponselnya dan menekan sebuah nomor yang sangat ia hafal. Suara yang selalu ia rindukan terdengar diujung telepon. Suara Sungmin terdengar serak dan menyedihkan.

 

“Yoboseo?”

“Bagaimana keadaanmu?”

“Kacau. Aku terus menangis semalaman sampai kepalaku terasa pusing”

“Masih bolehkan aku meminta maaf? Aku merasa sangat bersalah. Aku tersiksa hyung”

“Tidak perlu. Aku takut akan menangis kembali jika mendengarnya. Kau tidak perlu khawatir, aku akan segera kembali ke Busan. Pesawatku akan berangkat 3 jam lagi. Aku sedang merapikan semua barangku”

“Bolehkah aku mengantarmu?”

 

Tidak ada suara sejenak diujung telepon.

“Tidak perlu. Aku bisa naik taksi sampai bandara”

 

Kyuhyun mendesah mendengar nada bicara Sungmin yang ketus. Terdengar sekali Sungmin sangat terluka. “Tidak bisa sedikit lebih ramah? Kau membuatku semakin gelisah” kata Kyuhyun.

“Biasanya aku cukup ramah. Aku sedang tersenyum sekarang”

“Kau sedang marah”

 

Kembali hening sejenak diujung telepon.

“Bagaimana…kabar Min Ji? Bagaimana dengan kehamilannya?”

“Apa kau sungguh ingin tahu?”

 

Lagi-lagi, kembali hening sejenak diujung telepon.

“Ne. aku ingin tahu”

“Dia baik. Kehamilannya sudah mulai memasuki bulan ke 5. Min Ji pintar sekali memasak dan sangat perhatian padaku. Kau puas?” Kyuhyun sengaja berbicara seperti itu.

“Baguslah. Kedengarannya dia wanita yang menarik. Chukae” ada nada miris dalam suara Sungmin.

 

Tidak ada yang berbicara selama beberapa menit.

“Hyung…”

“Mwo?”

“Tolong jaga dirimu baik – baik. Saranghae…”

“……………”

 

Prangg!!!

 

Kyuhyun terkejut mendengar suara piring pecah dan segera beranjak ke dapur. Didapur Min Ji sedang membersihkan pecahan – pecahan piring yang tersebar dilantai. Min Ji meringis saat pecahan itu menggores tangannya dan menimbulkan luka. Kyuhyun terkejut, meletakkan ponselnya dimeja begitu saja dan segera mendekati Min Ji.

 

“Omo! Min Ji gwaenchanayo? Apa yang terjadi?” tanya Kyuhyun.

“Gwaenchana oppa. Tidak sengaja aku memecahkan piring” jawab Min Ji.

 

“Tanganmu terluka. Apa yang kau lakukan?” tanya Kyuhyun cemas.

“Kwaenchana oppa. Hanya sedikit tergores. Aku membuat japchae tapi karena masih panas, jadi aku melepaskan piringnya begitu saja” jawab Min Ji.

 

“Pabo. Kenapa tidak memanggilku saja? tolong berhati – hati Min Ji, kau sedang hamil” seru Kyuhyun marah seraya mengobati tangan Min Ji yang terluka.

 

“Hanya tanganku yang tergores. Tidak apa–apa. Aku tidak ingin menganggumu, sepertinya kau sedang lelah” kata Min Ji.

 

“Pabo! Lalu untuk apa aku menjadi suamimu?” Ujar Kyuhyun marah.

“Araseo. Aku akan lebih berhati – hati. Mianhae oppa. Jangan marah lagi yah. Saranghae” kata Min Ji mengecup pipi Kyuhyun.

 

“Aissh. Nado saranghae. Kau tunggu disini, biar aku yang membersihkannya. Setelah itu aku akan memasakkan japchae untukmu” kata Kyuhyun.

 

“Araseo” kata Min Ji tersenyum.

 

Kyuhyun tersenyum kemudian beranjak membersihkan pecahan–pecahan piring dilantai yang berkelap–kelip tertimpa cahaya lampu. Ia lupa, diujung telepon Sungmin masih mendengarkan dengan jelas.

 

****

 

Sungmin masih diam terpaku mendengarkan teleponnya yang masih aktif. Ia mendengar semua pembicaraan Kyuhyun dengan istrinya dan dapat membayangkan saat ini, Kyuhyun pasti sedang mengobati Min Ji yang terluka. Kyuhyun terdengar sangat cemas dan perhatian. Sungmin tersenyum miris saat mendengar Kyuhyun mengatakan ‘saranghae’ pada istrinya, padahal baru beberapa menit yang lalu dia mengucapkan kalimat itu untuknya.

 

“Nado saranghae Kyu…” kata Sungmin pelan, meski ia tahu Kyuhyun tidak mendengarnya.

 

Sungmin mematikan teleponnya sebelum ia lebih merasa sakit. Ia tidak ingin mendengar apapun lagi. Sudah cukup ia merasa sakit dan Sungmin pun kembali menangis. Beberapa menit kemudian Sungmin menghentikan tangisannya. Ia mengusap air matanya dan menoleh memandang barang–barangnya yang sudah rapi. Ia harus pergi sekarang. Pengejarannya sudah selesai dan berakhir sia–sia. Sungmin menarik kopernya dan beranjak pergi, untuk meninggalkan Seoul dan kembali ke Busan. Kembali menikmati kehidupannya yang tenang dan sepi. duduk dipinggir jendela dengan secangkir teh dan aroma cinnamon yang masih melekat ditubuhnya. Tidak bisa ia lupakan.

 

Sungmin duduk didalam taksi yang akan membawanya ke bandara incheon. Ia mengambil ponselnya dan mencari nama Donghae dalam kontaknya. Sungmin segera menekan tombol call setelah menemukannya. Tidak lama suara Donghae terdengar diujung telepon.

 

“Donghae ah”

“Sungmin hyung! Mworago?”

“Aku akan pulang ke Busan hari ini”

“Mwo? kau baik – baik saja? kau berhasil bertemu dengannya?” Donghae terdengar khawatir.

“Aku baik – baik saja. aku…tidak bisa menemukannya. Ternyata Seoul kota yang sangat besar” Sungmin berbohong.

“Araseo. hati – hati dijalan. Saat ini keadaan di Busan sangat kacau. Warga terus berdemo dijalanan meminta pabrik GACY ditutup. Pabrik itu sudah meracuni kota dengan limbahnya”

“Araseo”

Klik!!

 

Taksi yang ditumpangi Sungmin tiba–tiba berhenti. Mobil – mobil yang lain pun ikut berhenti dan tidak bergerak sedikit pun. Jalanan menjadi macet total. Sungmin mengangkat kepalanya dan menoleh keluar jendela. kerumunan massa terlihat memadati jalan dengan spanduk–spanduk dan poster–poster ditangan mereka.

 

“Apa yang terjadi?” tanya Sungmin mengernyit.

 

“Para demonstrans sedang beraksi kembali. Sejak kemarin mereka terus memadati jalan dan membuat macet. Maaf, sepertinya kemacetan ini akan berlangsung lama” jawab supir taksi.

 

Sungmin memandang jam digital diponselnya. 2 jam lagi pesawatnya akan berangkat. Tidak ada waktu lagi untuk melihat para demonstrans didalam taksi. “Dimana aku bisa mendapatkan taksi lain atau bus? Aku harus segera sampai dibandara” tanya Sungmin.

 

“Sepertinya itu sulit. Anda harus berjalan kaki dulu untuk sampai dihalte bus. Kira–kira 100 meter dari sini. Itu artinya anda harus berjalan melewati para demonstrans yang sedang marah itu” jawab supir taksi terdengar tidak yakin.

 

“Araseo. Kurasa itu tidak apa–apa. Aku akan turun disini saja” kata Sungmin seraya membayar uang taksinya.

 

“Anda yakin? Sebaiknya anda berhati–hati. Keadaan diluar sungguh sangat kacau” kata supir taksi.

“Araseo. Gamsahamnida” kata Sungmin tersenyum.

 

Sungmin beranjak turun dan mengambil kopernya dari dalam bagasi. Ia menarik kopernya dan melangkah pergi. Sungmin melewati setiap mobil yang terjebak macet dan berusaha menghindari kerumunan massa yang mengacung – acungkan spanduk dan poster ditangan mereka seraya berteriak : TUTUP GACY!!!!

 

Sungmin menarik kopernya dan melangkah lebih cepat, namun mendadak kerumunan massa semakin padat dan ia terjebak diantaranya. Sungmin mengedarkan pandangannya berusaha mencari jalan keluar. Namun arus massa yang terus bergerak dengan marah membuat Sungmin sulit leluasa bergerak. Terlihat menakutkan.

 

“Omo, bagaimana ini? Kyu…tolong aku” pikir Sungmin takut.

 

****

 

Kyuhyun menggosok kedua pipinya dengan telapak tangannya. Rasanya ia mulai terserang demam. Cuaca yang buruk, keadaan dikota yang kacau, permasalahan dikantor yang semakin buruk dan tidak jelas, lavendernya yang layu dan akan pergi hari ini, semua itu hampir membuatnya lemah. Kyuhyun mendesah memandang kerumunan demonstrans yang berkumpul didepan gedung. Tidak puas berdemo didepan gedung pemerintah, kerumunan itu kembali berkumpul didepan gedung dan semakin marah.  Kyuhyun mengernyit mendapati anak – anak kecil hingga remaja ikut berkumpul dalam kelompok demonstrans.

 

“Kenapa anak–anak ikut berdemo? Bukannya seharusnya mereka hari ini sekolah?” tanya Kyuhyun.

 

Kibum memandang keluar jendela dan terkekeh.

“Sepertinya sekolah–sekolah sedang libur sampai perusahaan ini ditutup” kata Kibum.

 

“Ini tidak benar. Seharusnya mereka sekolah bukan ikut berdemo dengan orang dewasa seperti ini. orang tua macam apa yang membiarkan anak mereka ikut berdemo seperti ini?” kata Kyuhyun merasa kesal.

 

“Orang tua seperti itu” kata Kibum seraya menunjuk seorang ibu yang sedang mengajari anaknya yang masih kecil berteriak ‘tutup gacy’ dengan lantang.

 

“Aissh…ini benar – benar kacau. Kasihan sekali anak itu” kata Kyuhyun menggelengkan kepalanya.

 

“Sudah kubilangkan, mereka hanya kelompok orang tidak berguna” kata Kibum terkekeh.

 

“Kenapa kau terlihat begitu senang dengan semua hal ini Bumie?” tanya Kyuhyun mengernyit heran memandang Kibum.

 

Kibum kembali terkekeh dan berkata,

“Anniyo. Ini hanya terlihat menarik bagiku. Apa kau tahu? The greatest evil is ignorance. Kejahatan terbesar adalah membiarkan sebuah kejahatan terjadi. Hanya beberapa orang yang menjadi pembunuh, tapi lebih banyak lagi orang yang membiarkan pembunuhan terjadi. Dengan cepat, orang – orang itu, seperti kita, jatuh ke dalam system birokrasi pembunuh dan menjadi sekrup yang sepenuhnya menjalankan tugas”

 

“Aku tidak mengerti” kata Kyuhyun mengernyit bingung.

 

“Lupakan, aku hanya asal bicara saja. Sebaiknya kau lakukan sesuatu untuk menenangkan mereka” kata Kibum memandang para demonstrans.

 

“Pimpinan menggajiku bukan untuk menghadapi gemuruh aksi demonstrasi. Bukan pula aksi sabotase penentang industri” kata Kyuhyun menggeleng.

 

“Kalau begitu kita duduk saja dengan tenang sampai polisi mengambil alih masalah ini” kata Kibum seraya menghempaskan tubuhnya disofa dengan nyaman.

 

“Sepertinya aku sudah salah bekerja diperusahaan ini” kata Kyuhyun.

“Tapi hanya GACY yang berani membayar mahal gaji setiap pekerjanya” kata Kibum.

 

“Kau lupa berapa mereka membayar buruh–buruh itu? 400 ribu sebulan. Itu masih kurang untuk biaya hidup mereka” kata Kyuhyun.

 

“Dan kau lupa berapa mereka membayar kita? 10 juta sebulan. Itu sangat besar” kata Kibum tersenyum lebar.

 

“Tetap saja, aku merasa ini tidak adil” kata Kyuhyun merengut.

 

Kibum tertawa memandang Kyuhyun.

“Seharusnya kau menjadi pejabat saja, bukan diperusahaan ini” kata Kibum.

“Sayangnya aku tidak berminat menjadi pejabat” kata Kyuhyun.

 

Kyuhyun memperhatikan kerumunan massa yang semakin gaduh dan hampir anarkis. Juru bicara perusahaan mencoba berkomunikasi dengan para demonstrans. Berusaha menenangkan amarah yang semakin bergejolak. Tapi sayang, usahanya gagal. Demonstrans itu semakin marah dan bergerak maju. Juru bicara itu segera menyelamatkan diri dan berganti dengan barisan–barisan polisi dengan senjata dibahu mereka. berdiri tidak kalah tegak dengan kepala demontrans dan mengarahkan senjatanya. Satu tembakan peringatan seharusnya cukup untuk membubarkan kerumunan itu, tapi ternyata itu tidak cukup.

 

“Keras kepala” kata Kibum memperhatikan.

 

Kyuhyun terdiam memandang kerumunan massa yang berantakan. Berlari kesana–kemari menghindari tembakan polisi yang terlihat bersungguh–sungguh. Kyuhyun tersentak saat menyadari sosok Sungmin diantara kerumunan demonstrans yang kacau. Berjongkok seraya memeluk tubuhnya dengan takut.

 

“Sungmin hyung?! Omo! Apa yang dia lakukan disana?” kata Kyuhyun kaget.

“Nugu?” tanya Kibum

 

Kyuhyun tidak menjawab dan segera berlari pergi. Kibum memperhatikan Kyuhyun yang berlari keluar gedung dan berusaha mendekati seseorang. Kibum mengernyit memandang Sungmin dan beralih memandang koper disampingnya.

 

“Dia terjebak” kata Kibum mengambil kesimpulan.

 

Sungmin mengangkat kepalanya mendengar suara yang memanggilnya. Dari jauh ia melihat Kyuhyun sedang berlari ke arahnya dengan hati – hati. “Kyu!!” kata Sungmin takut.

 

Sungmin berdiri dan melangkahkan kakinya kearah Kyuhyun. Namun suara tembakan diudara menghentikan kakinya. Ia kembali berjongkok dengan takut. Sungmin merogoh sakunya mengambil ponselnya yang bergetar. Cinnamon calling. Segera Kyuhyun mengangkatnya.

 

“Kyu!!”

“Tenanglah hyung. Tetap ditempatmu dan terus berjongkok atau tiarap. Aku akan segera kesana”

“Aku takut Kyu” Sungmin mulai menangis.

“Tenanglah. Dengarkan saja suaraku dan abaikan suara yang lain. arachi?”

“Araseo”

“Bagaimana kau bisa berada disini? Seharusnya kau sudah pergi ke Busan”

“Taksiku terjebak macet karena aksi demonstrans. Aku tidak ingin terlambat maka aku berjalan kaki untuk sampai ke halte. Tapi tiba – tiba aku terjebak disini”

“Seharusnya kau biarkan aku mengantarmu. Aku akan menjagamu dengan baik”

 

Sungmin terdiam sesaat dan mengangkat kepalanya. Beberapa langkah lagi Kyuhyun akan segera sampai ditempatnya. Sungmin berdiri dan tersenyum. “Apa yang kau lakukan? Kembali berjongkok hyung”

 

Namun Sungmin tidak mematuhi perintah Kyuhyun. Ia tetap berdiri memandang Kyuhyun yang semakin mendekat. “Kembali berjongkok hyung. Ini berbahaya” perintah Kyuhyun.

 

Kyuhyun berhenti melangkah sesaat dan menunduk saat suara tembakan kembali terdengar diudara kemudian kembali berlari. Beberapa langkah lagi ia akan segera sampai ditempat Sungmin. Kyuhyun akan segera menariknya pergi dari tempat ini, mengantarnya hingga ke Busan untuk memastikan keselamatannya jika perlu.

 

Sementara itu, Sungmin tetap berdiri ditempatnya dan memandang Kyuhyun.

“Dengarkan aku Kyu…Lavender selalu menyukai cinnamon. Lavender mencintai cinnamon. Saranghae Kyu……” Katanya dengan tersenyum tulus.

 

Dorr!!!

 

Kyuhyun menghentikan langkahnya dan terpaku memandang tubuh Sungmin yang terjatuh ke tanah. sebuah peluru melubangi dadanya dan mengalirkan darah. Polisi melepaskan tembakannya untuk membubarkan massa yang keras kepala, namun sayang peluru itu malah mengenai dada Sungmin yang sedang berdiri. Peluru salah sasaran telah meninggalkan korban. Kyuhyun segera beranjak mendekati Sungmin dan membawa tubuhnya pergi. Mengabaikan segalanya.

 

tbc

14 thoughts on “Cinnamon and Lavender (KyuMin ver) / chap 5

  1. Sedihnya hati ming, krn wkt stlh lama, stlh hati sdh jth cinta bgitu dlm, ming br tw kl trnyt kyu udh pny minji.. T^T hati triris-iris..

    &.. Trnyt… Ming trkena pluru nyasar itu krn dia trtembak polisi yg mw membubarkan kumpulan org d dpn perusahaan gacy

    Knp ming berdiri pdhl sdh dibilangin utk merunduk? T^T ming..😥

  2. OMG kenapa sedih banget nasib min
    tragis banget
    kyu pasti nyesel banget
    engga bisa ngebayangin gimana sedihnya kyu
    chap depan tamat ya?
    mau langsung baca

  3. Huaa.. (╥﹏╥) jadi gini toh kronologi nya…
    Ming kaya yang sengaja berdiri buat bunuh diri ato gimana sih ituu??

    Andwee.. Dibilangin Suruh Jongkok mlah berdiri lagi.. coba ming mau dianterin Kyu mungkin gga kaya gini..

  4. Di chap ini Min bnyk mengalami hal2 yg menyakitkan ya yg terakhir ya terkena timah panas D bagian dadanya.. Klo sblm2nya Sungmin yg menderita sptnya skrg giliran kyu..:(

  5. sbenarnya KyuMin sempet bercinta nggk sih ?*maaf. soalnya dri deskripsi Sungmin memberskan pakaian kyuhyun yg tergeletak berantakan di lantai, jd kesannya gitu wkwkwk
    btw kata2 Sungmin ky sebuaah firasat sblm tertembak T.T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s