Hear my word

Gambar

Pairing           : HaeHyuk

Genre             : Sad

Length           : One shoot

Warning         : Boys Love, Shounen-ai

Disclaimer     : Story belong to me, Donghae & Eunhyuk belong to each other

Summary        : Aku mengatakan sesuatu pada langit pagi ini. Apa kau mendengarnya?

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

Sebuah Porsche hitam melaju kencang dijalan yang sepi. Donghae melirik jam digital dimobilnya, 05.00 AM.  Ia harus sampai disana sebelum matahari terbit. Donghae tersenyum membayangkan wajah yang ia rindukan namun semenit kemudian air wajah Donghae berubah muram. Ia mengalihkan pandangannya ke jalan dan mendesah.

 

“Aku harus cepat” katanya seraya menambah kecepatan laju mobilnya.

 

Porsche hitam itu berhenti disebuah pantai. Donghae mematikan mesin mobil dan segera turun. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling pantai yang cukup gelap, berharap dapat melihat senyum orang itu menyambutnya. Namun tidak ada siapa pun disana. Hanya suara debur ombak yang menyambut kedatangannya dan tiupan angin yang berhembus menyambut setiap langkah kakinya. Donghae berhenti dipinggir pantai dan meletakkan tubuhnya dipasir yang lembut.

 

“Hyukie aku datang” kata Donghae pelan.

 

Suara debur ombak seakan menjawab sapaan Donghae. Matanya memandang jauh ke laut. Donghae merapatkan jaket abu-abu dan topi hoodie hitamnya. Menghalangi dinginnya angin yang bermain disekitarnya. Memejamkan matanya, mengingat–ingat bagaimana manis senyumnya, derai tawanya yang unik,, tangan yang hangat, tubuhnya yang rapuh. Seperti roll film yang berputar dikepalanya. Semuanya terbayang kembali secara sempurna.

 

****

Donghae masih mengingat dengan sangat baik tentang hari itu. Suara debur ombak yang menyapu pinggir pantai. Pasir putih yang terasa lembut di kakinya yang telanjang. Dan tangan hangat Eunhyuk yang menggenggam tangannya erat. Sangat erat, seakan mengatakan ‘pegang aku dengan erat dan jangan dilepaskan lagi’. Tapi bagi Donghae terlihat seperti ‘pegang aku dengan erat karena aku ingin menghilang ke suatu tempat’.

 

Kaki mereka melangkah perlahan menyusuri pantai yang sepi. Eunhyuk menghentikan langkahnya dan memandang jauh ke laut yang gelap. Donghae memandang Eunhyuk dengan cemas.

 

“Kau lelah? mungkin sebaiknya kita kembali ke rumah sakit saja” kata Donghae.

“Tidak. Aku masih ingin disini” jawab Eunhyuk menggelengkan kepalanya tanpa berpaling.

 

“Tapi angin malam tidak baik untuk kesehatanmu. Kita bisa kembali ke sini lagi besok” bujuk Donghae melepaskan tangannya untuk memakaikan jaket miliknya ke tubuh rapuh Eunhyuk.

 

“Aku tidak apa–apa. Kau sudah berjanji akan menemaniku malam ini Hae” kata Eunhyuk.

“Aku tidak percaya, aku melakukannya” kata Donghae mendesah.

 

“Tenang saja. Tidak apa-apa” kata Eunhyuk dengan tersenyum.

“Jam berapa sekarang?” Tanya Eunhyuk.

 

“05.00 AM” jawab Donghae melirik jam digital di handphonenya.

“Sebentar lagi matahari terbit” gumam Eunhyuk memandang langit yang mulai sedikit terang.

 

“Kau masih saja senang melihat matahari terbit Hyukie” kata Donghae.

 

Eunhyuk tersenyum kecil

“Dulu kita selalu melihat matahari terbit bersama, bukan?” kata Eunhyuk.

“Kau yang selalu menyeretku untuk ikut melihatnya saat kau tidak bisa tidur” kata Donghae.

 

“Ne.. tapi pada akhirnya aku melihatnya sendirian dan kau malah kembali tidur” kata Eunhyuk menggelengkan kepalanya pura-pura kecewa.

“Hei.. aku kan butuh tidur” ujar Donghae membela diri. Eunhyuk tertawa.

 

“Sekarang sudah ada Siwon hyung yang selalu menemanimu melihat matahari terbit setiap hari” kata Donghae menatap riak–riak ombak yang menyentuh kaki telanjangnya.

 

Eunhyuk terdiam sesaat, memandang jauh ke laut yang gelap tanpa suara.

“Ada apa? Kalian bertengkar?” Tanya Donghae heran memandang Eunhyuk yang terdiam.

 

Eunhyuk menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum samar.

“Anniyo…” jawab Eunhyuk masih tanpa berpaling.

“Lalu?” Tanya Donghae lagi.

 

Eunhyuk menoleh memandang Donghae, diam sejenak.

“Siwon hyung… melamarku” jawab Eunhyuk.

 

Donghae terdiam sesaat kemudian tersenyum miris. Entah kenapa ia merasa perih.

“Lalu apa jawabanmu?” Tanya Donghae ingin tahu.

 

Eunhyuk menundukkan kepalanya. Memainkan pasir yang lembut dengan kakinya.

“Aku tidak bisa. Dengan kondisiku sekarang aku takut tidak akan bisa terus bersamanya” jawab Eunhyuk lirih.

 

Leukemia. Eunhyuk divonis mengidap leukemia sejak 4 tahun yang lalu. Namun Donghae baru menyadarinya 1 tahun terakhir ini, itu pun ia mengetahuinya dari Siwon. Rasanya ironis sekali. Selalu bersama namun ia tidak pernah menyadari dengan perubahan fisik Eunhyuk yang semakin melemah dan wajah yang pucat. Saat itu Donghae hanya menganggap Eunhyuk terlalu lelah karena harus terus bekerja bahkan saat hari libur.

 

Namun Siwon yang saat itu baru pulang dari Cina sangat terkejut melihat wajah pucat Eunhyuk dan segera membawanya ke rumah sakit. Dan hasilnya, leukemia dan sisa hidupnya hanya tinggal 5 bulan saja. Donghae hanya bisa diam tak percaya dan berpikir, bukankah kulit Hyukie biasanya seperti itu?.

 

“Aku sudah menyakitinya. Ia pasti membenciku sekarang” kata Eunhyuk membuyarkan lamunan Donghae.

 

“Tidak. Siwon hyung pasti mengerti. Ia bukan orang seperti itu” kata Donghae dengan nada menghibur.

 

Eunhyuk mengangkat kepalanya

“Jnja?” tanyanya.

“Ne.. ne..” kata Donghae mantap.

 

“Gomawo Hae. Kau memang sahabat terbaikku” kata Eunhyuk tersenyum.

“Cheonmaneyo” kata Donghae balas tersenyum, seulas senyum miris saat mendengar kalimat ‘sahabat’ yang diucapkan Eunhyuk.

 

Tidak ada yang berbicara selama beberapa menit. Eunhyuk merapatkan jaket milik Donghae ditubuhnya menahan dinginnya angin pantai yang terus bertiup. Ia terus menatap jauh ke laut dalam diam.

 

“Aku sedang berpikir” kata Eunhyuk bersuara.

“Mwo?” Tanya Donghae menoleh.

 

“Kapan kita bisa bertemu lagi? terus bersama seperti ini?” tanya Eunhyuk tanpa berpaling.

 

“Apa maksudmu? Bukankah kita selalu bersama? Aku pengunjung setiamu dirumah sakit” kata Donghae mengernyit tidak mengerti.

 

“Benar juga, kita selalu bersama” kata Eunhyuk tersenyum.

“Kenapa kau bicara seperti itu? kau aneh” kata Donghae semakin mengernyit.

“Haha… anniyo” kata Eunhyuk tertawa kecil.

 

Donghae memperhatikan Eunhyuk dan berpikir, kenapa dia bisa bicara dengan ekspresi yang menyenangkan seperti itu? sedangkan di kepalanya yang kecil itu pastinya sedang berkumpul berbagai macam pikiran, kekhawatiran dan ketakutan mungkin.

 

“Apa kau sedang memikirkan sesuatu?” Tanya Donghae.

 

Eunhyuk menoleh memandang Donghae

“Jika ini mengenai perkataan para dokter tua itu, dengarkan aku. Itu hanya sebuah diagnosa. Lihat sekarang, kau bersamaku, bicara, tertawa. Kau mampu mengahadapinya, aku percaya. Ada aku disisimu. Aku siap bersamamu 24 jam. Tidak perlu kau simpan semua pikiran tidak perlu itu di kepalamu yang kecil ini sendirian. Bisa-bisa nanti terjadi ledakan” kata Donghae nyengir seraya menunjuk kepala Eunhyuk dan kemudian membuat gaya ledakan dengan tangannya

 

Eunhyuk tertegun sesaat dan tersenyum kecil.

“Tapi pada akhirnya aku akan kalah juga kan dari penyakit ini?” kata Eunhyuk lirih.

 

“YA!! HYUKIE!!  Sudah kubilang, jangan berpikir yang tidak perlu. Kau akan hidup dan terus hidup. Titik!” kata Donghae sedikit  kesal.

 

Eunhyuk sedikit tertegun mendengar perkataan Donghae.

“Kenapa kau jadi cerewet begini sih? Mirip ahjumma saja” kata Eunhyuk mengernyit heran sekaligus menahan senyum.

 

“Aku bukan cerewet tapi sedang menyemangatimu! Kau ini tidak pernah berubah, selalu menyimpan semua hal sendirian, selalu asal bicara dan tetap tak sadar kalau selalu membuat orang lain khawatir” kata Donghae mengomel sendiri.

 

Eunhyuk tidak bisa menahan senyumnya lagi dan sebuah tawa keluar dari bibirnya..

“Maaf. Tapi… aku senang” katanya disela tawanya.

 

Donghae segera memalingkan wajahnya. menutupi semburat merah diwajahnya.

“Pokoknya kau tidak perlu mendengar perkataan para dokter tua itu. Tidak perlu bersedih ada aku disampingmu. Tidak perlu khawatir lagi” kata Donghae seraya menggenggam tangan Eunhyuk.

 

“Ne.. araseo. Gomawo Hae” kata Eunhyuk tersenyum.

 

Eunhyuk terdiam memandang Donghae.

“Mwo?” Tanya Donghae.

 

“Aku diajari terus. Kau sangat baik padaku. Aku tak bisa memberikan apa-apa padamu” kata Eunhyuk seraya berpikir.

 

“Hah?”

 

Eunhyuk mendekati wajah Donghae, membuat semburat merah tipis kembali muncul diwajah Donghae yang tampan. Pandangan itu membuat Donghae gelisah. “Hanya satu yang bisa kuajarkan padamu” kata Eunhyuk dengan ekspresi yang tidak berubah.

 

“Mengajarkan apa? Tung… hei!?” perkataan Donghae berhenti saat tiba–tiba Eunhyuk menarik tangannya.

 

****

 

Donghae mengernyit dan mendesah.

“Tunggu dulu. Kenapa harus berdansa?” Tanya Donghae sedikit malu.

“Mau apa lagi. Aku mahir dalam hal ini” jawab Eunhyuk santai.

 

“Kupikir kau hanya bisa menari hip–hop dan street dance saja” kata Donghae.

“Sungmin hyung pernah mengajariku berdansa” kata Eunhyuk.

 

Donghae diam sesaat.

“Tapi…..”

“Apalagi?”

 

“Kenapa aku yang harus menari sebagai perempuannya?!” kata Donghae

“Lalu aku yang jadi perempuan?” tanya Eunhyuk

 

“Seharusnya ‘kan begitu” gerutu Donghae.

“Sudahlah. Dengarkan saja instrunksiku” kata Eunhyuk.

 

Donghae kembali mendesah dan akhirnya menyerah.

“Mulai kaki kanan mundur.. kaki kiri mundur sedikit ke samping… rapatkan kaki kanan ke kaki kiri, kaki kiri mundur…” Kata Eunhyuk memberi instruksi.

 

Kaki Donghae melangkah dengan kaku di atas pasir yang lembut, mencoba mengikuti instruksi dari Eunhyuk. Meski ia pintar menari, tapi berdansa adalah hal baru bagi Donghae.

“Lama! Salah!! Sedikit kecilkan langkah kakimu!!” kata Eunhyuk.

“Aigoo…sampai itu pun kau perhatikan” ujar Donghae mendesah.

 

Eunhyuk terus memberi instruksi hingga akhirnya Donghae dapat berdansa dengan lancar.

“Baik.. sudah mulai bisa kan?” kata Eunhyuk.

 

Donghae diam memandang Eunhyuk.

“Hyukie”

“Hn?”

 

“Maaf, aku tidak segera menyadari tentang penyakitmu. Rasanya sedikit mengesalkan” kata Donghae menyesal.

 

“Kwanchanaeyo. Seharusnya aku yang meminta maaf. Maaf sudah menyembunyikannya darimu” kata Eunhyuk tersenyum.

 

Tidak ada yang bersuara selama beberapa menit. Kaki mereka terus melangkah, berputar dengan pelan di atas pasir yang lembut diantara suara debur ombak yang memainkan sinfoninya sebagai pengiring mereka.

 

“Hae,  perdengarkan suaramu sebagai ganti lagu” pinta Eunhyuk memandang Donghae.

 

“Hah? Dilihat begitu dekat susah bicara tahu!” kata Donghae gugup.

 

“Oh…kalau begitu aku begini saja” kata Eunhyuk seraya meletakkan wajahnya di dada Donghae yang bidang dan nyaman.

 

‘duuh.. makin susah…’ pikir Donghae semakin gugup.

 

“Bernyanyilah Hae. Bernyanyilah untukku” pinta Eunhyuk lagi.

“Araseo” kata Donghae kemudian mulai bernyanyi.

 

The loneliness of nights so long
The search for strength to carry on
My every hope had seemed to die
My eyes had no more tears to cry
Then like the sun shined up above
Your surrounded me with your endless love
Cause all the things I couldn’t see
Now so clear to me

You are my everything
Nothing your love won’t bring
My life is yours alone
The only love I’ve ever know
Your spirit pulls me through
When nothing else will do
Every night I pray on bended knee
That you will always be
My everything

Eunhyuk memejamkan matanya. Menikmati setiap alunan lirik yang dinyanyikan oleh Donghae. Namun disaat ia hampir terlena, Donghae menghentikan nyanyiannya. “Kenapa berhenti?” Tanya Eunhyuk tanpa membuka matanya dan mengangkat wajahnya.

 

Donghae menghentikan langkah kakinya. Ia memandang Eunhyuk yang menyembunyikan wajahnya didadanya. “Kalau kau ingin mendengarku terus bernyanyi, berapa banyak lagu pun akan aku nyanyikan. Tapi bisakah, walau cuma saat ini pun tak apa, pikirkan hanya tentang diriku” kata Donghae.

 

“Waeyo?” Tanya Eunhyuk membuka matanya.

“Karena aku ingin kita terus terhubung” jawab Donghae.

 

Eunhyuk terdiam dengan sedih

“Ne..” kata Eunhyuk tersenyum lemah kemudian memejamkan matanya kembali.  Donghae memeluk tubuh Eunhyuk dengan erat kemudian bernyanyi kembali.

 

The loneliness of nights so long
The search for strength to carry on
My every hope had seemed to die
My eyes had no more tears to cry
Then like the sun shined up above
Your surrounded me with your endless love
Cause all the things I couldn’t see
Now so clear to me

You are my everything
Nothing your love won’t bring
My life is yours alone
The only love I’ve ever know
Your spirit pulls me through
When nothing else will do
Every night I pray on bended knee
That you will always be
My everything

 

Oohh
You’re the breath of life in me
The only one that sets me free
That you will make my soul complete
For all time… For all the time

You are my everything
Nothing your love won’t bring
My life is yours alone
The only love I’ve ever know
Your spirit pulls me through
When nothing else will do
Every night I pray down on bended knee
That you will always be
My everything.. Oh my everything

 

****

 

Cahaya matahari yang mulai terbit menerpa tubuh Donghae yang tak beranjak dari tempatnya. Namun pagi ini cahaya mataharinya tidak terlalu hangat, sedikit mendung. Donghae memandang langit yang mulai terang perlahan.

“Selamat pagi Hyukie” kata Donghae tersenyum.

 

Tidak ada jawaban. Hanya suara ombak yang masih setia dengan simfoninya. Donghae kembali terdiam memandang laut kemudian memandang tangannya. Semilir angin bertiup menerpa telapak tangan Donghae yang kosong. Ingatan itu masih melekat dengan jelas dikepalanya tapi kini tangannya telah kosong.

 

Tidak ada lagi tangan hangat Eunhyuk di dalam genggamannya. Tidak ada lagi tubuh rapuh Eunhyuk dipelukannya. Beberapa hari kemudian setelah malam itu, kondisi Eunhyuk semakin lemah dan memburuk. Akhirnya ia meninggalkan Donghae, disaat Donghae berpikir tentang perasaannya yang selama ini ia abaikan. Bertingkah seolah hal itu tidak mengganggunya.

 

Tapi sebenarnya perasaan itu sangat mengganggu. Donghae tidak keberatan selalu berada disisi Eunhyuk. Mendengar celotehannya yang tidak berhenti. Menggunakan matahari terbit sebagai alasan untuk selalu bersamanya. Tapi setiap kali Eunhyuk tidak berhenti berbicara, Donghae membiarkan Eunhyuk melihat bahwa “ia menangis”, sementara ia berusaha berpura–pura kuat. Donghae berpikir, seberapa baik air mata itu bekerja pada Eunhyuk? Tapi kelihatannya Eunhyuk tidak menyadarinya.

 

Dan akhirnya Donghae berpikir, mungkin tidak apa–apa jika dia berbohong. Tapi bahkan ia tidak bisa menemukan kata–kata yang tepat. Kinda funny.

 

Donghae mengepalkan tangannya dengan sedih, tangannya kembali kosong. Donghae berdiri dan mengambil sebatang kayu yang tergeletak tidak jauh darinya. Menggoreskannya diatas pasir seraya bernyanyi lagu yang sama. Donghae menggoreskan satu huruf terakhir kemudian membuang batang kayu ditangannya. Ia memandang hasil karyanya dengan puas. Sebuah kalimat yang seharusnya ia katakan sedari dulu.

 

Donghae memandang jauh ke laut yang biru.

“Hyukie, aku sedang berpikir. Ketika tangan kita saling bertaut kembali, akankah kau lupa dengan hari itu? Tentang aku?” tanya Donghae.

 

Suara debur ombak seolah menjawab pertanyaan Donghae. Donghae memandang langit pagi yang mendung. Ia tersenyum sesaat kemudian beranjak pergi. Tidak lama Porsche hitam itu melaju pergi dan menjauhi pantai. Ombak perlahan menyapu pantai, membiarkan pesan dari Donghae untuk Eunhyuk tetap terukir diatas pasir yang lembut. Kata–kata yang terabaikan begitu lama.

Aku mengatakan sesuatu pada langit pagi ini

Apa kau mendengarnya?

………

Saranghae Hyukie

Cheongmal saranghaeyo

………

 

Fin

 

 

 

3 thoughts on “Hear my word

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s