I’ll wait you until sunset come

Gambar

Pairing         : KyuMin

Genre          : Sad

Length         : One Shoot

Warning       : Boys love, shounen-ai, alur maju mundur

Author note   : Sekuel “Hold my hand until sunset come”

Disclaimer     : Story belong to me, KyuMin belong to each other

Summary       : I’m really fine……

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

Ingatlah janji kita

Ingatlah tangan itu

Lembut dan putih

Lagi dan lagi

Aku mengulangnya lagi di dalam kepalaku

Seperti sebuah mantra

 

Pagi yang lain kembali datang dan musim yang mulai berganti. Kyuhyun terduduk dikasurnya. Memandang tangannya yang kosong untuk kesekian kalinya. Kepalanya mencoba mengingat bagaimana ia terbangun pagi ini. Ahh…benar. Mimpi itu. Seseorang yang menyodorkan tangan padanya. Tangan putih yang hangat. Tangan putih yang lembut. Tangan putih yang ia kenali.

 

“Kau mau bersamaku?”

 

Kyuhyun masih memandang tangannya yang kosong. Rasanya lama sekali. Sendirian, seakan sedang menunggu seseorang. Seseorang yang selalu mengisi tangannya yang kosong. Seseorang yang dirindukan. Terdengar suara ketukan pintu dan perlahan kenop pintu berputar.

 

Kyuhyun mengangkat kepalanya memandang pintu yang terbuka

“Sungmin hyung…” kata Kyuhyun berharap.

 

Namun bukan sosok Sungmin yang berdiri diambang pintu. Melainkan seorang pria berwajah malaikat. Wajahnya merah dan sembab.

“Teuki hyung…” kata Kyuhyun kecewa.

 

Eeteuk tersenyum dan melangkah masuk.

“Pagi kyu. Kau sudah bangun ternyata” kata Eeteuk.

 

Donghae muncul dibelakang Eeteuk.

“Dimana Sungmin hyung? Dia berjanji untuk melihat sunset bersama. Tapi dia tidak datang” kata Kyuhyun memandang tangannya yang kosong.

 

Eeteuk diam sesaat memandang magnaenya.

“Bersiaplah. Kami datang untuk menjemputmu” kata Eeteuk.

 

Kyuhyun mengangkat kepalanya mengernyit mendengar nada sedih dalam suara hyungnya.

“Kita akan bertemu dengan Sungmin hyung” kata Donghae.

 

Di tengah ilusiku

Aku melihat bayangan kecil

Begitu polos dan sederhana

Menunggu seseorang

Yang mau mencarinya

Orang yang melihat tubuh kecilnya

Tapi kemudian, dalam sekejap dia menghilang

Begitu saja

Seperti sunsetku

 

Drap drap drap drap…….

Kyuhyun dan Sungmin berlari didalam station kereta api bawah tanah. Terus berlari melewati orang–orang yang memandang mereka dengan heran. Kyuhyun menoleh ke belakang seraya terus berlari. Beberapa gadis remaja sedang mengejar mereka dengan histeris dan tanpa lelah. terlihat mengerikan.

 

“Mereka masih mengejar kita” kata Sungmin menoleh seraya terus berlari.

 

Sungmin menarik satu sudut bibirnya dan menggandeng tangan Kyuhyun. Berlari seraya menarik Kyuhyun ke dalam kereta tepat saat pintu kereta akan menutup. Perlahan kereta mulai beranjak pergi. meninggalkan gadis–gadis yang kecewa.

 

“Oops…nyaris” kata Sungmin terkekeh.

 

Kyuhyun menyenderkan tubuhnya dan mengatur deru nafasnya yang lelah.

“Apa tadi itu? Kenapa mereka mengejar kita?” tanya Kyuhyun disela nafasnya yang tidak teratur.

 

Sungmin mengatur nafasnya yang lelah dan tersenyum memandang Kyuhyun.

“Mereka fans kita. Fans yang fanatic” jawab Sungmin.

 

“Kedengarannya merepotkan. Apa mereka selalu seperti itu? Apa dulu kita selalu harus berlari setiap kali bertemu dengan mereka?” tanya Kyuhyun heran.

 

“Kau harus berlari jika ingin selamat. Yah…terkadang memang merepotkan. Keunde, rasanya menyenangkan dan mendebarkan bukan?” jawab Sungmin kembali terkekeh.

 

“Rasanya aku lelah” kata Kyuhyun.

 

Gerbong yang dinaiki Sungmin dan Kyuhyun terlihat sepi. Hanya beberapa penumpang yang tertidur atau sibuk dengan ponsel mereka. Sungmin menyentuh tangan Kyuhyun dan mengajaknya untuk duduk dikursi yang kosong. Kyuhyun mengikuti dan menempatkan tubuhnya disamping Sungmin.

 

“Maaf. Kita harus naik kereta karena mobilku sedang rusak” kata Sungmin.

“Tidak masalah. Ini mulai menyenangkan” kata Kyuhyun.

 

Sungmin melepas topi hoodie hitam miliknya. Memakaikannya dikepala Kyuhyun dan merapatkan jaket Kyuhyun.

“Hari ini cuaca dingin. Kau harus tetap hangat” kata Sungmin.

“Kenapa kau terlihat begitu senang hyung?” tanya Kyuhyun.

 

Sungmin mengangkat kepalanya memandang Kyuhyun.

“Karena kau. Kau yang sekarang berada didekatku. Memandangku dengan ingin tahu. Bicara dan tersenyum dengan hangat. Kembali memanggilku hyung dan mengikutiku. Itu membuatku sangat senang,” kata Sungmin.

 

Sungmin menyentuh tangan kyuhyun dan menggenggamnya.

“Berbeda dengan saat 8 bulan yang lalu. Kau terlihat dingin dan kosong. Diam dan hanya memandangku dengan hampa. Kau terlihat seperti sebuah patung yang sempurna. Itu membuatku sangat takut.” kata Sungmin lagi.

 

Kyuhyun diam memandang sungmin.

“Ini perkembangan yang bagus. Meski belum sepenuhnya, tapi aku percaya kau pasti akan sembuh Kyu. Semua orang percaya hal itu” kata Sungmin tersenyum.

 

Kyuhyun memandang tangannya yang berada didalam genggaman sungmin yang hangat..

“Kyu?” tanya Sungmin.

“Ada hal…yang tidak bisa kuingat. Yang aku tahu……” kata Kyuhyun pelan.

 

Aku tidak mengerti

Aku tidak dapat mengungkapkan perasaan ini

Seperti berada di atas lautan ketika waktu berhenti

……batas kenyataan dan ilusi menjadi samar

Tapi, panas yang terasa dari ujung jarinya yang terlihat dingin ini

Rasanya aku sudah tahu

 

Kyuhyun beranjak turun dari mobil Donghae dan mengedarkan pandangannya. Tempat ini bukan rumah Sungmin. Bukan apartement super junior. Bukan pula studio latihan. Ini tempat pemakaman. Ia tidak melihat sosok Sungmin dimana pun. Hanya kerumunan orang–orang yang berpakaian hitam dan berwajah sembab.  

 

“Dimana Sungmin hyung? Aku tidak melihatnya” tanya Kyuhyun.

“Kita akan segera bertemu dengannya Kyu” jawab Donghae.

“Khajja” kata Eeteuk.

 

Kyuhyun melangkahkan kakinya mengikuti Eeteuk dan Donghae. Menyusuri setiap nisan yang berjejer rapi. Kyuhyun mengernyit memandang setiap nisan yang ia lewati. Perlahan perasaan tegang menyelimutinya.

 

“Kenapa kita harus bertemu dengan Sungmin hyung disini? Benarkah dia ada disini?” tanya Kyuhyun curiga.

 

“Sungmin ada disini Kyu. dia ada disini” jawab Eeteuk tanpa menoleh.

“Benarkah?” tanya Kyuhyun mengernyit merasakan ketakutan yang muncul tiba–tiba

 

Langkah mereka terhenti saat melihat sosok Eunhyuk, Ryeowook dan Yesung berjalan mendekat. Wajah mereka juga terlihat merah dan sembab.

 

“Kyu ~” kata Ryeowook seraya memeluk Kyuhyun dan menangis.

“Mereka baru saja menguburnya” kata Yesung

“Kami sudah meminta mereka untuk menunggu sebentar, tapi mereka tidak mau dengar” kata Eunhyuk.

 

“Bukankah aku sudah mengatakan untuk menunggu sampai kami tiba?” tanya Eeteuk sedikit kesal.

 

“Kami sudah meminta mereka untuk menunggu. Tapi mereka tidak mau menunggu lebih lama lagi” kata Ryeowook terisak seraya melepaskan pelukannya.

 

“Wae? Kenapa mereka tiba bisa menunggu selama 15 menit saja?” tanya Donghae kesal.

 

“Mereka tidak ingin membiarkan tubuh Sungmin hyung lebih lama lagi di cuaca dingin seperti sekarang ini. Bahkan Heechul hyung sangat marah tentang hal ini” jawab Eunhyuk.

 

Kyuhyun memandang hyungnya dengan bingung. Ia benar–benar bingung sekarang.

“Errm…ada yang bisa jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi disini? Dan dimana Sungmin hyung?” tanya Kyuhyun bingung.

 

Eeteuk, Donghae, Eunhyuk, Ryeowook dan Yesung terdiam. Kyuhyun memandang hyungnya yang saling memandang dengan ragu. “Aku menunggu” kata Kyuhyun mulai tidak sabar.

 

Eeteuk merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah korek api antik berwarna emas. Ia memberikannya pada Kyuhyun. Kyuhyun mengernyit memandang benda yang berkilat terkena cahaya matahari tersebut. Ia mengenali benda itu. Itu benda kesayangan Sungmin. Benda yang selalu menghangatkannya saat Sungmin harus menunggunya setiap kali mereka bertemu.

 

“Polisi menemukan benda ini distudio tv yang terbakar kemarin” kata Eeteuk.

 

“Kami langsung tahu ini milik Sungmin hyung. Ini benda kesayangannya” kata Donghae.

 

“Sebelumnya ini milikmu yang kau berikan pada Sungmin hyung. Ia selalu membawanya kemana pun bersamanya” kata Eunhyuk.

 

“Tapi mereka tidak bisa menyelamatkannya” kata Ryeowook sedikit terisak.

 

“Tung – …tunggu sebentar. Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Kyuhyun tidak mengerti.

 

“Ikutlah” kata Yesung meminta Kyuhyun mengikutinya.

 

Kyuhyun melangkahkan kakinya mengikuti langkah hyungnya. Dan berhenti didepan sebuah nisan. Terlihat para personil super junior yang lainnya berkumpul disekitar nisan tersebut. Beberapa mencoba menahan air mata mereka. yang lain tidak peduli dan menangis disisi nisan. Satu persatu orang–orang beranjak pergi. Meninggalkan Super Junior yang tetap tidak beranjak dari tempat mereka.

 

Kyuhyun menggenggam dengan erat korek api ditangannya dan berdiri terpaku didepan nisan. Seketika rasa takut itu kembali menyelimutinya dan perlahan berganti menjadi sebuah kesedihan dan kehilangan. Ia tidak melihat sosok sungmin dimana pun. Hanya sebuah nisan yang bertuliskan nama LEE SUNGMIN.

“Sungmin tidak selamat dari kebakaran itu. Itu kecelakaan” kata Yesung dengan sedih.

 

Semuanya akan hilang

Tanpa tahu alasannya

Tanpa sadar saat hilangnya kata – kata

Yang tidak bisa ditarik kembali

Aku tidak pernah mengerti

Kata – kata manusia yang sulit di mengerti

Dan aku tidak mau mengerti

Aku hanya…ingin sekali lagi

Tidur nyenyak di dalam tanganmu yang hangat

Tidak apa…aku menunggu

 

“Omo, itu Kyuhyun”

“Kyuhyun”

“Kyuhyun!”

 

Kyuhyun menoleh memandang beberapa gadis yang menahan langkahnya. Ia memperhatikan gadis–gadis didepannya dan berpikir apa yang harus ia lakukan? Melarikan diri seperti saat itu? Tapi ia bukan Super Junior lagi sekarang. Ia hanya seorang Cho Kyuhyun. Cho Kyuhyun yang melupakan segalanya. Haruskah ia lari sekarang?

 

Well, gadis–gadis ini terlihat malu dan senang. Kelihatannya tidak berbahaya. Mereka berbicara pada Kyuhyun dengan sopan dan perhatian. Mereka mengatakan sangat merindukan evil magnae yang dulu. Meski begitu mereka bersyukur Kyuhyun sudah lebih baik.

 

“Apa kau sudah makan? Ahh kami baru saja membeli ttukbokki. Ini untukmu. Masih hangat” gadis itu memberi ttukbokki yang masih hangat pada Kyuhyun seraya tersenyum.

 

“Ahh sebenarnya…kami juga memiliki hadiah untukmu” kata gadis yang lain memberikan beberapa kotak hadiah pada Kyuhyun.

 

“Errm..terima kasih” kata Kyuhyun menerima.

 

“Tolong jaga kesehatanmu dan tetaplah semangat. Meski kami tidak bisa lagi melihatmu diatas panggung seperti dulu, kami masih menyukaimu” kata gadis yang satu lagi.

 

“…menyukaiku?” kata Kyuhyun.

 

Setelah beberapa saat akhirnya gadis–gadis itu beranjak pergi. Kyuhyun memandang ttukbokki dan kotak–kotak hadiah ditangannya dengan bingung.

“Mereka baik yah” kata Sungmin

 

Kyuhyun menoleh memandang Sungmin yang muncul dengan menenteng gitar kesayangannya. Dan senyum yang menghiasi bibirnya. Seperti biasa.

“Sungmin hyung…” kata Kyuhyun.

 

Kyuhyun menunjukkan tangannya yang penuh pada Sungmin.

“Mereka memberikan semua ini padaku” kata Kyuhyun.

“Gadis–gadis itu menyukaimu. Karena itu, mereka mau melakukan apa saja” kata Sungmin.

 

“…menyukaiku?” gumam Kyuhyun.

 

“Ahh apa tadi kau datang melihat drama musikalku?” tanya Sungmin.

“Ne…noona yang mengajakku. Tapi dia sudah pergi lebih dulu” jawab Kyuhyun menganggukkan kepalanya.

 

“Bagaimana tadi menurutmu? Sebenarnya tadi aku cukup tegang, karena yang datang sangat banyak hari ini……” celoteh Sungmin riang.

 

Kyuhyun memandang Sungmin yang terus berbicara dan tersenyum dengan senang. Kepala Kyuhyun berpikir. Kenapa Sungmin selalu berwajah seperti itu? Seakan ia memiliki segudang senyum yang siap menghiasi sudut bibirnya. Sungmin adalah sosok pertama yang Kyuhyun lihat saat ia sadar dari koma. Orang pertama yang Kyuhyun lupakan. Namun Sungmin juga orang pertama yang selalu mengunjunginya setiap pagi. Orang pertama yang menyodorkan tangan putihnya pada Kyuhyun. Tangan yang hangat.

 

Sungmin peduli pada Kyuhyun. Ia selalu peduli. Ia selalu mau melakukan apa saja untuk Kyuhyun. Selalu menunggu selama apapun. Selalu tersenyum meski Kyuhyun memalingkan wajahnya tidak peduli.  Apakah……sedikitnya Sungmin menyukainya?

 

Aku masih sanggup lari dengan kuat

Tanpa tujuan

Tanpa arah

Hanya terus berlari

Tapi aku tidak memiliki apapun

“pelindung” seperti yang kau miliki

Jika ada itu, maka aku dapat menahan sakit sepertimu?

Jika ada itu, aku bisa tertawa sepertimu?

 

Ini masih pagi yang lain. salju putih yang perlahan turun menggantikan daun–daun yang berguguran dimusim gugur. Kyuhyun duduk dipinggir jendela kamarnya. Memandang kosong keluar seraya memainkan korek api milik Sungmin. Dulu benda ini adalah miliknya. Dan sekarang benda ini kembali lagi padanya. Kyuhyun membuka penutup korek. Memandang nyala api yang berkobar kecil namun terasa menghangatkan. Mengalihkan pikirannya kembali pada Sungmin.

 

Kyuhyun menutup korek apinya membuat apinya padam seketika. Membukanya dan menutupnya kembali. Ia melakukannya selama berulang kali. Kyuhyun beralih memandang tangannya yang kosong. Sebelumnya tangan ini tidak pernah kosong. Tangan putih Sungmin selalu memenuhinya. Terasa hangat. Namun sekarang tangan ini kembali kosong. Dan dingin.

 

Terdengar suara ketukan pintu tidak lama pintu terbuka. Ryeowook muncul dengan nampan berisi sarapan ditangannya dan yesung yang berdiri dibelakangnya.

“Pagi kyu ~” sapa Ryeowook seraya melangkah masuk.

 

Yesung menutup pintu dan beranjak masuk seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar Kyuhyun. Ryeowook meletakkan nampan yang dibawanya dimeja kecil.

“Lihat, aku membuat sarapan untukmu. Kau belum sarapan bukan?” kata Ryeowook.

 

Kyuhyun tidak bereaksi. Tidak mengangkat kepalanya. Tidak bersuara. Ia hanya memandang tangannya. Yesung menoleh memperhatikan Kyuhyun. Ryeowook duduk dipinggir kasur Kyuhyun yang terasa dingin.

 

“Ya! Duduklah disini dan nikmati sarapanmu” kata Ryeowook.

 

Kyuhyun masih tidak bereaksi. Ryeowook mendesah dengan sedih.

“Rasanya sekarang aku mengerti bagaimana perasaan sungmin hyung saat menghadapimu yang seperti ini Kyu. Kau benar-benar seperti patung yang sempurna” kata Ryeowook.

 

“Yeah, Sungmin sangat sabar menghadapimu. Dia percaya kau pasti akan sembuh dan mengingatnya” kata Yesung menimpali.

 

Kyuhyun menggerakkan sudut matanya mendengar nama Sungmin disebut.

“Besok adalah 10 hari kematian Sungmin hyung. Kami semua akan berkunjung ke makamnya. Tidak semuanya. Teuki hyung, Heechul hyung dan Siwon hyung akan menyusul, karena jadwal mereka” kata Ryeowook

 

“Kau akan ikut bersama kami ‘kan Kyu?” tanya Yesung memandang magnaenya yang tetap tidak bersuara.

 

Kyuhyun memandang jam dinding yang berdetak perlahan. Masih 11 jam lagi hingga sunset tiba. 11 jam lagi untuk janjinya pada sungmin. Janji untuk menunggunya melihat sunset bersama. Kyuhyun memandang korek api milik Sungmin yang masih berada ditangannya.

 

“……entahlah” jawab Kyuhyun pelan.

 

Meskipun aku terus berlari

Tanganku tetap kosong

Ingin segera kembali ke rumah

Tidak menangis karena hujan

Tidak kalah oleh kesepian

Meskipun jatuh di jalan pulang

Jika seperti itu, cepatlah datang…

Sebelum tiba waktunya matahari meninggalkan dunia

Cepatlah sebelum sunset kita menghilang lagi

Sebelum kau menghilang dari pandanganku

Kumohon cepatlah

 

Kyuhyun memperhatikan Sungmin yang sedang memainkan gitarnya dengan lihai. Memainkan setiap not dan kunci dengan sempurna. Begitu juga dengan suaranya yang sempurna. Meski Sungmin selalu mengatakan suara Kyuhyun jauh lebih sempurna dari suaranya. 2 jam lagi sunset akan muncul. Pemandangan yang selalu mereka nantikan. Kyuhyun memandang langit sore yang masih belum menunjukkan tanda–tanda sunset akan muncul.

 

Kyuhyun menarik erat jaketnya saat angin bertiup. Membawa hawa dingin yang cukup menggigit kulit. Sungmin menghentikan permainan gitarnya. Meletakkannya dan mengambil korek api kesayangannya dari dalam tasnya. Menyalakan korek api tersebut dan meletakkan satu tangan Kyuhyun diatas api yang berkobar kecil itu.

 

“Cukup hangat bukan?” kata Sungmin tersenyum.

 

Kyuhyun tersenyum mengangguk.

“Masih 1 jam lagi. Kita masih harus menunggu” kata Sungmin memandang jam tangannya.

“Hyung apa menurutmu kita bisa melakukannya lagi? Melihat sunset bersama” tanya Kyuhyun.

 

“Tentu saja. Kita akan selalu melihat sunset bersama” jawab Sungmin tersenyum.

“Araseo” kata Kyuhyun.

 

“Tapi mungkin aku akan sedikit terlambat. Jadwalku semakin padat akhir–akhir ini” kata Sungmin.

 

“Tidak apa. Aku akan menunggumu hyung” kata Kyuhyun.

“Araseo. Aku akan datang secepatnya. Kita akan melihat sunset bersama” kata Sungmin tersenyum.

 

Senyum sungmin memudar saat menyadari Kyuhyun sedang memperhatikannya dengan serius.

“Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Sungmin memadamkan korek apinya.

 

Kyuhyun tidak menjawab. Ia menyentuh wajah Sungmin, mendekati wajah manis itu dan memperhatikannya semakin dalam. Membuat Sungmin cukup gelisah. “Kau memiliki mata yang indah hyung. Sangat hangat. Bola matamu tidak berkabut. Seperti pecahan kaca” kata Kyuhyun.

 

“Mwo? Errm…terima kasih” kata Sungmin malu.

“Ehh? Ada seseorang dimatamu hyung” kata Kyuhyun.

 

Sungmin tersenyum.

“Yang ada didalam mataku adalah kau, Kyu!” kata Sungmin menunjuk matanya.

“Benar. Hanya ada aku” kata Kyuhyun tersenyum.

 

Melewati malam sendiri lagi

Memahami kenyataan dengan cara seburuk apapun

Melawan kesepian sampai semuanya terpenuhi

Menunggu sampai sunset tiba

Cepatlah datang

Aku masih menunggu

 

“Mereka terlambat” kata Heechul seraya melipat kedua tangannya didada dengan tidak sabar.

 

“Sabarlah Chulie. Wookie dan Yesung sedang menjemput Kyu. Sebentar lagi mereka akan segera sampai” kata Eeteuk.

 

“Kupikir hanya kita yang datang terlambat. Ternyata mereka jauh lebih terlambat dari kita” gerutu Heechul.

 

“Sstt…tenanglah sedikit hyung. Ini pemakaman. Kau akan mengganggu ketenangan Sungmin hyung. Sebaiknya kau berdoa pada Tuhan untuk ketenangan Sungmin hyung. Tuhan akan mengabulkan doamu jika kau tenang hyung” kata Siwon seraya menangkupkan kedua tangannya dengan khidmat.

 

“Amin” kata Eeteuk.

“Cih. Itu lagi” gerutu Heechul.

 

Personil Super Junior sedang mengunjungi makam Sungmin. Beberapa berdoa dengan khidmat. Beberapa menangis menumpahkan kerinduan mereka. Eeteuk mengangkat kepalanya dan berdiri saat melihat Ryeowook dan Yesung yang berjalan mendekat. Hanya Ryeowook dan Yesung. Tanpa magnae mereka.

 

“Dimana kyu? Kalian menjemputnya bukan?” tanya Eeteuk.

 

Ryeowook menggelengkan kepala.

“Ibunya bilang Kyu sudah pergi sejak pagi” jawab Yesung.

“Mwo? Jadi Kyu tidak mengunjungi Sungmin hyung bersama kita hari ini?” tanya Donghae.

 

“Sepertinya begitu” jawab Ryeowook.

“Kenapa Kyu pergi begitu saja? Seharusnya dia mengunjungi Sungmin hyung sekarang. Sungmin hyung pasti merindukannya juga” kata Eunhyuk.

 

“Sudah kuduga. Evil magnae itu…dia pasti ada disana” kata Heechul terkekeh.

“Sudahlah. Biarkan saja. Kyuhyun juga sangat merindukan Sungmin. Kita semua tahu itu” kata Eeteuk mendesah.

 

“Kurasa dia sedang menunggu Sungmin ditempat itu” kata Yesung.

“Sepertinya kemarin Kyu juga pergi ke tempat itu. Setelah kami mengunjunginya” kata Ryeowook.

 

“Jadi Kyu masih datang ke tempat itu dan menunggu Sungmin hyung?!” kata Donghae terkejut.

“Setiap sunset ?” tanya Eunhyuk sama terkejutnya.

 

“Ne…dan setiap hari” jawab Yesung.

“Mau sampai kapan Kyu menunggu? Itu percuma” kata Ryeowook sedih.

 

Eeteuk memandang nisan didepannya dengan sedih.

“Percuma saja. Sungmin tidak akan pernah datang” kata Eeteuk.

 

 

Kyuhyun meraih tasnya dan beranjak turun dari kereta. Melangkahkan kakinya melewati orang–orang yang memperhatikannya dan berbisik “Bukankah itu Kyuhyun? Kyuhyun…?”. Kyuhyun tidak peduli dan mempercepat langkahnya. Beranjak ke halte dan menaiki bus. Memilih kursi paling belakang dan memandang keluar jendela. Menggenggam dengan erat korek api milik Sungmin ditangannya. Perjalanan Kyuhyun masih cukup jauh untuk sampai ditempat itu. Tapi Kyuhyun masih memiliki banyak waktu hingga sunset tiba. Kyuhyun melihat jam tangannya. Masih 10 jam lagi hingga sunset tiba. 10 jam lagi untuk janjinya pada Sungmin.

 

Drtt…drtt…

Kyuhyun mengambil ponselnya yang bergetar. Noona calling…

“Yoboseo?”

“Dimana kau Kyu? Ryeowook dan Yesung datang mencarimu. Mereka mengajakmu untuk mengunjungi makam Sungmin bersama”

“Aku sedang dibus noona”

“Kyuhyun, apa kau pergi ke tempat itu? Sunset masih sangat lama Kyu”

“Araseo. Tapi aku harus pergi kesana noona”

“Demi Tuhan kyu. Kembalilah. Kau tidak perlu ke tempat itu lagi”

“………”

“Kau tidak perlu menunggu lagi Kyu. percuma saja. Sungmin tidak akan datang. Dia tidak akan pernah datang. Kau tahu itu bukan?”

“……noona aku harus turun sekarang”

Klik!!

 

Bus yang ditumpangi Kyuhyun berhenti disebuah halte yang sepi di suatu pedesaan. Kyuhyun beranjak turun dan mengedarkan pandangannya. Salju putih dan udara dingin menyambut Kyuhyun. Kyuhyun melangkahkan kakinya. Melewati pedesaan ini hingga memasuki bukit yang tertutup salju. Kyuhyun terus melangkahkan kakinya melewati jalan setapak dan berhenti diujung jalan.

 

Kyuhyun berdiri diatas bukit dan mengedarkan pandangannya. Dari sini semua pemandangan akan terlihat. biasanya terlihat indah. Namun kali ini yang terlihat hanyalah hamparan salju yang menutupi tanah. Terlihat indah namun juga sangat dingin. kyuhyun membersihkan salju salju yang mengotori kursi tempat biasa ia dan sungmin duduk menunggu sunset bersama. Meletakkan tasnya kemudian menghempaskan tubuhnya. Kyuhyun mengatur sesaat nafasnya yang lelah. Memandang jam tangannya dan merapatkan jaketnya yang tebal.

 

Kyuhyun merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan korek api milik Sungmin. Membuka penutupnya dan memandang api kecil yang berkobar. Seakan api itu cukup menghangatkan dirinya yang kedinginan. Seakan api itu memberinya alasan untuk selalu kembali ketempat ini. Masih 8 jam lagi hingga sunset tiba. 8 jam lagi untuk janjinya.

 

Seperti sebuah festival yang kita tahu

Suatu hari akan berakhir

Merah, biru, hijau, kuning

Seperti aku tahu suatu hari nanti

Tidak dapat menemuimu lagi

 

 

“Kau Kyuhyun. Namamu Cho Kyuhyun. Kau ingat?” tanya Sungmin.

 

Kyuhyun tidak menjawab. Ia hanya memandang Sungmin kemudian menggelengkan kepalanya pelan. Sungmin menarik nafasnya sesaat. “Aku Sungmin. Lee Sungmin. Apa kau melupakanku juga?” tanya Sungmin.

 

Kyuhyun tidak menjawab. Ia masih memandang Sungmin yang kini tidak bisa ia ingat, kemudian memalingkan pandangannya keluar jendela. Sungmin mendesah dengan sedih. Sepertinya Kyuhyun benar–benar melupakannya.

 

Kyuhyun menoleh dan memandang Sungmin yang sedang mengulurkan satu tangan putihnya pada Kyuhyun. Kyuhyun memandang tangan Sungmin yang terbuka dan sepertinya terlihat hangat.

 

“Apa kau mau menjadi temanku? Mungkin kita bisa mengulang dari awal” tanya Sungmin.

“……teman?” Kyuhyun balik bertanya.

 

Kyuhyun memandang tangan Sungmin yang masih terbuka. Perlahan Kyuhyun mengulurkan tangannya menyambut tangan Sungmin. Ternyata benar. Tangan putih ini terasa hangat.

 

Sungmin tersenyum. Menggenggam tangan Kyuhyun selama beberapa saat kemudian melepaskan tangannya. Kyuhyun memandang kecewa tangannya yang kini kosong. Rasanya ia ingin tangan putih itu terus berada didalam tangannya. Tangan yang hangat didalam tangannya yang dingin. Kyuhyun memandang Sungmin dengan bingung.

 

“Kenapa? Apa kau temanku? Kau…siapa? Setiap hari selalu datang?” tanya Kyuhyun.

 

Sungmin menggelengkan pelan kepalanya.

“Bukan. Bukan…kita lebih dari itu” jawab Sungmin tersenyum.

“……lebih dari teman?” kata Kyuhyun memandang Sungmin.

 

“Ya…kita lebih dari teman. Kita…lebih dari itu” kata Sungmin memandang keluar jendela.

 

Kyuhyun masih memandang Sungmin. kepalanya tidak bisa mengingat apapun. Tapi perasaannya merasakan segalanya. Seakan ia pernah mengenal orang bernama Sungmin ini. sangat mengenalnya. Terasa sangat…spesial. Teman? Sahabat? Rasanya mereka…lebih dari itu.

 

“Maukah kau melihat sunset bersamaku?” tanya Sungmin menoleh.

 

Kyuhyun tidak menjawab. Ia masih memandang Sungmin.

“ Maukah kau bersamaku?” tanya Sungmin lagi.

“…bersama?” kata Kyuhyun mengernyit.

 

Sungmin mengangkat jari kelingkingnya.

“Maukah kau tetap bersamaku? Melihat sunset bersama?” tanya Sungmin.

“Apa kau akan datang kembali? Apa kau akan datang?” Kyuhyun balik bertanya.

 

“Tentu saja. Selalu” jawab Sungmin tersenyum.

“…araseo. Aku akan menunggumu” kata Kyuhyun menautkan jari kelingkingnya dengan milik Sungmin.

 

Suatu hari nanti

Luka dan pedih hatimu

Akan hilang seiring dengan ingatan

Aku akan terus berada di sisimu

Good night my sunset

 

“Kyu ~ kyu ~ bangunlah. Kau akan melewatkan sunsetnya”

 

Kyuhyun membuka matanya perlahan dan memandang langit yang mulai memerah. Sepertinya ia tertidur cukup lama. Sunset hampir tiba. Perlahan langit menumpahkan butir–butir salju yang berwarna putih. Kyuhyun menarik erat jaket tebal yang membungkus tubuhnya. Hoodie hitam milik Sungmin yang menghangatkan kepalanya dan memeluk tubuhnya yang mulai menggigil perlahan. Cuaca menjadi semakin dingin dan Kyuhyun mulai membeku. Seharusnya Kyuhyun meraih tasnya dan beranjak pergi. Menaiki bus dan kereta untuk sampai di rumahnya yang hangat. Namun Kyuhyun tetap tidak beranjak dari tempatnya. Tetap menunggu dengan korek api milik Sungmin yang rasanya sudah tidak bisa lagi menghangatkan tubuhnya yang hampir membeku.

 

Kyuhyun memandang ujung jalan yang sepi dan tertutup salju. Tidak ada siapa pun disana. Kyuhyun beralih memandang langit senja yang mulai turun perlahan. Pemandangan yang ia nantikan sejak tadi. Semilir angin bertiup menerpa tubuh Kyuhyun yang dingin dan tangannya yang kosong. Kyuhyun memejamkan matanya sesaat. Merasakan tangan yang hangat kembali mengisi tangannya. Menghadirkan sosok sungmin dalam balutan tiupan angin yang dingin. Kyuhyun membuka matanya dan menemukan senyum yang ia kenali. Sosok yang ia rindukan yang kini terasa sama dinginnya dengan salju.

 

Kyuhyun tersenyum.

“Kau terlambat hyung”

 

“Maaf. Aku berusaha untuk datang secepatnya”  

 

“Aku menunggumu. Aku selalu menunggumu hyung. Hingga hari ini”

 

“Aku tahu. Terima kasih sudah terus menungguku kyu ^-^”

 

“Apa kita sudah kembali menjadi teman?”

 

“Kita selalu menjadi teman. Ohh…tidak. kita lebih dari itu ^_^”

 

“Apa kau senang bersamaku hyung?”

 

“Aku sangat menikmati saat bersamamu kyu. Aku selalu senang bersamamu. Seperti saat kau menyebut namaku untuk pertama kali. Aku sangat senang >_<”

 

“Kenapa? Karena kau menyukaiku?”

 

“Tepat sekali ^_^”

 

“Aku juga menyukaimu hyung” kata kyuhyun tersenyum

 

“Terima kasih. Aku senang mendengarnya. Kau evil magnae favoritku”

 

Kyuhyun diam sesaat memandang langit yang mulai gelap perlahan.

“Apa yang ada didalam pikiranmu saat ini Kyu?”

 

“Masih banyak… hal yang ingin kutanyakan padamu hyung. Yang ingin kuketahui darimu…masih banyak. Tapi…berapa banyak pun waktu yang kita miliki untuk saling mengetahui rasanya takkan cukup. Tidak bisa dibicarakan semua” kata Kyuhyun.

 

“Tidak apa–apa?”

 

“Tidak apa–apa. Tidak ada kau disisiku…seharusnya tenang–tenang saja. Karena itu aku tidak apa–apa” kata Kyuhyun.

 

“Sepertinya ini adalah sunset terakhir yah”

 

“Terima kasih untuk selalu bersamaku hyung. Dan untuk sunset-nya juga. Aku menyukainya. Gomawo Lee Sungmin, saranghae” kata Kyuhyun.

 

“Nado saranghae Cho Kyuhyun”

 

Sunset telah usai dan berganti dengan bintang–bintang yang bertaburan dilangit seperti permen. Meski tertutup dengan putihnya salju. Semilir angin bertiup kencang menerpa tubuh Kyuhyun. Meniup tangan Kyuhyun yang kembali kosong. Memudarkan sosok Sungmin yang tersembunyi dalam balutan angin yang dingin. Menghilangkan tangan hangat yang mengisi tangan dingin Kyuhyun. Suasana hening menyelimuti. Tidak ada siapa pun selain Kyuhyun. Tidak ada apapun selain hamparan salju yang dingin dan putih. Tidak ada bayangan Lee Sungmin disini. Tidak lagi.

 

Kyuhyun mengenggam erat korek api milik Sungmin didalam saku jaketnya. Perlahan sudut matanya memanas. Kyuhyun menangis. Ia bukan patung yang sempurna lagi. Ia adalah Kyuhyun yang akhirnya bisa membiarkan dirinya menangis. Jika hujan dapat menyembunyikan air mata, maka salju dapat menghilangkan air mata dalam sekejap. Membeku bersama dinginnya salju.

 

“Hikss…tidak apa –apa. Tidak apa – apa hikss hikss~” gumam Kyuhyun disela isak tangisnya.

 

Cuaca menjadi semakin dingin. Hampir membuat Kyuhyun mati membeku. Kyuhyun tidak ingat bagaimana selanjutnya. Yang dia tahu saat membuka matanya adalah dia berada dirumah sakit. Ibunya, kakaknya dan hyung–hyungnya yang mengelilinginya dengan pandangan cemas. Yesung bilang, dia mengira Kyuhyun akan mati membeku ditengah salju. Kyuhyun hanya tersenyum lemah.

 

Eeteuk tersenyum lega dan meletakkan sesuatu ditangan Kyuhyun. Korek api antik berwarna emas milik Sungmin. Benda itu terasa dingin ditangan Kyuhyun. Kyuhyun membuka penutupnya. Seketika api kecil menyala. Kyuhyun tersenyum kecil memandang api kecil yang berkobar hangat, kemudian menutup penutupnya untuk memadamkan apinya. Ia memandang korek api itu dengan sedih.

 

“Kyu tidak apa –apa?” tanya Eeteuk.

 

Kyuhyun menggeleng pelan dan menggenggam erat korek api milik sungmin. Seakan ia sedang menggenggam tangan putih Sungmin yang hangat. “Tidak apa–apa. Aku tidak apa – apa” jawab Kyuhyun

 

Mungkin harapanmu tak akan terkabul

Tapi, itulah satu – satunya kekuatan yang menggerakkan tubuh ini

Sunset kita telah selesai. Tidak apa

Setidaknya aku bisa menunggu

Aku baik – baik saja.

Karena aku benar – benar baik – baik saja

Seharusnya aku baik – baik saja

Kau tidak perlu cemas lagi

Ok?

 

Epilogue

 

3 bulan kemudian

 

Musim panas. Ini sore yang lain dipanggung MuBank. Tepuk tangan meriah terdengar riuh saat super junior mengakhiri aksinya. Kebahagiaan terasa memenuhi ruangan ini. Bukan hanya karena Super Junior berhasil kembali menjadi juara. Tapi karena magnae mereka berdiri bersama mereka diatas panggung. Yeah, Kyuhyun kembali bernyanyi.

 

Setelah kematian Sungmin dan keluarnya Kyuhyun, Super Junior terasa kosong dan sulit. Kekosongan itu terasa sangat memberatkan Super Junior. Tidak ada yang dapat mengganti posisi Kyuhyun dan Sungmin dalam grup. Leeteuk dan yang lain menolak saat perusahaan menyodorkan beberapa nama trainee untuk menggantikan Kyuhyun dan Sungmin. Heechul memberontak saat perusahaan memutuskan membiarkan posisi Kyuhyun dan Sungmin tetap kosong. Super Junior mengajukan nama Kyuhyun untuk kembali masuk ke dalam grup. Super Junior tetap membutuhkan Kyuhyun.

 

Butuh perdebatan panjang dan perjuangan yang keras untuk menyakinkan Kyuhyun layak untuk kembali. Dan akhirnya perusahaan memutuskan untuk mengembalikan Kyuhyun ke dalam posisinya dan membiarkan posisi Sungmin tetap kosong. Berita ini disambut gembira oleh orang–orang yang yang tidak sabar untuk melihat Kyuhyun kembali berdiri diatas panggung. Seluruh personil super junior bersorak senang saat magnae mereka kembali lagi ke asrama. Keluarga Kyuhyun tentu saja selalu mendukungnya.

 

Rasanya aneh saat Kyuhyun menginjakkan kembali kakinya dikamar lamanya. Kamarnya dengan sungmin. Ilusinya kembali menghadirkan bayangan sungmin. Barang–barang lama milik Sungmin masih tetap ditempatnya. Tidak berubah dan tidak akan berubah.

 

Keadaan Kyuhyun sudah sangat baik. Ia mengingat kembali orang–orang yang ia lupakan. Perlahan ia berusaha kembali menjadi seorang Kyuhyun. Evil magnae Super Junior. Karena kecelakaannya saat itu hingga Kyuhyun harus dikeluarkan,  Kyuhyun harus belajar dari awal lagi. Namun tidak butuh waktu lama untuk bisa mendengar Kyuhyun bernyanyi dengan sangat baik. Semua orang setuju, Kyuhyun memang berbakat.

 

Meski semua terlihat berjalan dengan baik. Kyuhyun masih tidak dapat mengingat dengan baik orang itu. Lee Sungmin. Seseorang yang selalu menyelipkan tangan hangatnya didalam tangan dingin Kyuhyun. Seseorang yang terasa sangat berarti untuk Kyuhyun. Setelah semua hari–hari itu, sekarang Kyuhyun harus melepaskannya.

 

Rasanya lucu. Melepaskan seseorang yang tidak bisa kau ingat dengan baik dan mengatakan kau tidak apa–apa. Benarkah tidak apa – apa? Benarkah Kyuhyun tidak apa–apa?

 

Seperti sebuah ilusi …
Lupakanlah semuanya …

 

“Kyu ~” panggil Ryeowook.

 

Kyuhyun menoleh dan segera ia mendapat pelukan dari hyungnya yang bergelar eternal magnae itu. “Penampilanmu tadi bagus sekali. Kemajuanmu sangat mengesankan Kyu” kata Ryeowook tersenyum senang.

 

“Aku tahu hyung. Aku memang jenius” kata Kyuhyun menarik satu sudut bibirnya.

“Haha…aku tahu. Kau memang berbakat Kyu. Selamat datang kembali evil magnae” kata Ryeowook tertawa.

 

“Terima kasih hyung” kata Kyuhyun tersenyum.

“Ya! Palliwa. Hyungnim akan mentraktir kita makan malam ini” kata Eunhyuk.

 

“Araseo. Khajja Kyu” kata Ryeowook.

“Aku mau ke toilet dulu” kata Kyuhyun.

“Ok” kata Ryeowook kemudian beranjak pergi.

 

Kyuhyun membasuh wajahnya beberapa kali dan memandang pantulan dirinya dicermin. Terlihat baik–baik saja. Yeah, seharusnya dia baik–baik saja.

“Ya, matikan krannya jika sudah selesai. Sekarang air mahal” kata Heechul yang sudah berdiri disamping Kyuhyun.

 

“Oh” kata Kyuhyun tersadar kemudian mematikan kran yang masih terus mengalirkan airnya.

 

Heechul membasuh tangannya dan memandang Kyuhyun melalui cermin.

“Kemajuanmu mengesankan. Kau tidak terlihat seperti orang yang lupa ingatan” kata Heechul.

 

“Aku sudah sembuh hyung” kata Kyuhyun tersenyum kecil.

 

“Benarkah? Apa kau sudah ingat dengan Sungmin kembali?” tanya Heechul.

 

Heechul menoleh memandang Kyuhyun yang terdiam sesaat.

“Tidak. Tapi aku akan segera mengingatnya” jawab Kyuhyun.

“Kau lucu sekali” kata Heechul tertawa.

“Mwo?” tanya Kyuhyun memandang hyungnya.

 

“Kau…lucu sekali” kata Keechul tertawa kemudian beranjak pergi.

“Hyung bolehkah aku bertanya?” tanya Kyuhyun.

 

Heechul menghentikan kakinya dan menoleh.

“Mwo?” kata heechul.

“Apa…hubunganku dengan Sungmin hyung? Kami lebih dari teman?” tanya Kyuhyun.

 

Heechul mengernyit sesaat kemudian terkekeh kecil.

“Yaah…bisa dibilang seperti itu. Kalian lebih dari apapun” jawabnya.

“Lebih dari apapun…?” gumam Kyuhyun.

 

Kyuhyun merogoh saku celananya dan mengeluarkan korek api kesayangan Sungmin. Kini benda itu tidak pernah absent dari tangan Kyuhyun. Kyuhyun memandang benda itu, berkilat tertimpa cahaya lampu. Kyuhyun membuka penutupnya dan memandang api yang berkobar kecil. Api itu terasa dingin. seakan perlahan benda itu kehilangan kehangatannya.

 

kita lebih dari teman. Kita…lebih dari itu

 

Kyuhyun masih memandang nyala api yang berkobar kecil tanpa suara. Heechul memandang kyuhyun dan mendesah sesaat. “Kau baik–baik saja?” tanya Heechul.

 

Kyuhyun menutup penutup korek api. Seketika api kecil itu menghilang. Kyuhyun memasukkan kembali benda itu ke dalam saku celananya dan memandang pantulan dirinya didalam cermin. Ia tidak terlihat baik–baik saja. Ia merasa lelah dan kesal. Sejak benda ini kembali ke tangannya, entah kenapa bayangan Sungmin semakin kuat. Tapi kepala Kyuhyun masih tetap tidak bisa mengingatnya dengan baik. Hanya orang itu. Entah kenapa?

 

“Ya. Aku baik–baik saja” jawab Kyuhyun.

“Kalau begitu ayo pergi. Semua sudah menunggu dimobil” kata Heechul seraya beranjak pergi.

“Araseo” kata Kyuhyun.

 

Kyuhyun memandang sesaat bayangan dirinya dicermin kemudian segera menyusul Heechul.

Benarkah dia baik–baik saja? Tidak. Dia tidak baik–baik saja.

 

Hanya ingin menjadi orang yang dibutuhkan …
Oleh seseorang
Seperti aku membutuhkanmu

Malam itu seluruh personil sedang berkumpul diasrama. Mengobrol dan saling bercanda. Rasanya rindu sekali, seperti saat itu. Waktu yang telah lewat begitu saja. Kyuhyun duduk diantara personilnya dan tertawa mendengar setiap celotehan para hyungnya.

 

“Saat pertama kali aku melihat Heechul hyung, aku berpikir, dia cantik…benarkah dia laki–laki?” kata Eunhyuk membuat semua orang terkekeh.

 

“Ya! Mau buktikan?” tantang Heechul.

“Bagaimana menurutmu Kyu?” tanya Ryeowook.

“Entahlah…ditelanjangi? Atau diraba?” jawab Kyuhyun tersenyum evil.

“Ya! Senyum itu. Dasar evil” kata Kangin terkekeh. Semua ikut tertawa.

 

Tawa Kyuhyun memudar perlahan saat lagi–lagi bayangan Sungmin datang tanpa permisi dikepalanya. Seperti sebuah ilusi yang dapat muncul dan hilang dalam sekejap.

 

Kyu……

 

Kenapa?

 

Tak bolehkah? Apakah mengharapkan kebahagiaan satu orang…adalah kejahatan?

 

“U……yu…Kyu…” panggil Yesung. “Kyu? Halo…bumi memanggil Kyuhyun?” panggil Yesung lagi seraya melambaikan satu tangannya dihadapan wajah Kyuhyun.

 

“Eeh??” kata Kyuhyun tersadar.

“Ada apa Kyu? Kau melamun” tanya Yesung.

“Tidak. bukan apa–apa” jawab Kyuhyun menggelengkan kepalanya.

 

Yesung memandang ragu Kyuhyun sesaat.

“Ok” katanya kemudian.

 

“Aah…hyungnim baru saja mengirimiku pesan. Katanya besok kita ada jadwal wawancara jam 11 siang. Karena itu kita …” kata Leeteuk.

 

“Teuki hyung…” kata Kyuhyun mengangkat satu tangannya ke atas.

“Ne Kyu?” tanya Leeteuk.

 

“Besok mungkin aku akan sedikit terlambat” kata Kyuhyun.

“Memang besok kau mau kemana Kyu?” tanya Donghae.

“Aku…ingin menjenguknya” jawab Kyuhyun.

 

Semua segera terdiam.

“Kk. Donghae, besok kau temani Kyuhyun…” kata Leeteuk.

“Anni hyung. Tidak perlu. Aku akan pergi sendiri” kata Kyuhyun.

 

“Tapi akan lebih baik jika ada yang menemanimu pergi” kata Leeteuk ragu.

“Tidak apa. Aku akan baik–baik saja hyung. Besok aku akan pergi lebih pagi dan kembali secepatnya” kata Kyuhyun menyakinkan.

 

Leeteuk diam sesaat. Memandang seluruh personilnya meminta persetujuan. Donghae, Ryeowook, Eunhyuk, dan Yesung menggelengkan kepala mereka. Leeteuk mengernyit memandang Kyuhyun kemudian menghela nafas.

 

“Araseo. Kau boleh pergi sendiri. Kau bisa meminjam mobil Siwon. Tapi kau harus kembali jam 10. Dan kau harus berjanji untuk berhati–hati, arachi?” kata Leeteuk akhirnya.

 

“Araseo. Gomawo hyung” kata Kyuhyun.

 

Siwon memberikan kunci mobil miliknya pada Kyuhyun.

“Kau harus hati–hati saat menyetir besok” kata Siwon.

“Araseo hyung. Tenang saja” kata Kyuhyun tersenyum.

 

Berharap untuk berada di sisi orang yang kita anggap penting
Kemungkinan yang tidak terbatas
Apa yang sebenarnya paling kau harapkan?

 

Pagi yang lain kembali datang. Personil Super Junior masih terlelap dibalik selimut mereka. Namun Kyuhyun sudah bersiap dengan jaket hitam yang membalut tubuhnya yang ramping. Kyuhyun memakai big shade hitam miliknya dan memacu mobil sport milik Siwon yang ia pinjam menyusuri jalanan yang masih sepi.

 

Matahari semakin tinggi. Dan jalanan mulai dipenuhi orang–orang yang mulai beraktivitas seperti biasa. Kyuhyun menghentikan mobilnya saat lampu merah menyala. Orang–orang yang telat ke kantor. Anak–anak sekolah yang bersiap untuk ke sekolah. Orang tua yang mengantar anak kecilnya ke taman kanak–kanak. Semua orang–orang itu menyebrang dalam satu kelompok yang besar secara bersamaan.

 

Kyuhyun memandang lampu lalu lintas yang tidak kunjung berubah menjadi lampu hijau dengan bosan. Kemudian menyenderkan tubuhnya dan mendesah. Mengambil korek api antik kesayangan Sungmin yang selalu ia bawa dan memandangnya. Kyuhyun masih memandang benda itu sampai akhirnya suara klakson mobil–mobil dibelakangnya menyadarkannya. Lampu hijau.

 

Kyuhyun segera memacu mobilnya dan menambah kecepatannya. Ia harus segera sampai. Kyuhyun memainkan korek api ditangannya seraya mengemudikan mobil.

“Sissh…!!” gerutu Kyuhyun saat korek api ditangannya tidak sengaja terjatuh.

 

Kyuhyun sedikit menurunkan kecepatan mobilnya dan mengulurkan tangannya ke bawah. Tangan Kyuhyun meraba–raba mencari korek api yang tadi terjatuh.

“Aissh. dimana benda itu” gerutu Kyuhyun seraya meraba–raba

 

Kyu…lihat. Balon itu melayang dilangit. Terlihat indah yah.

 

Kyuhyun tersentak dengan sebuah ingatan tentang Sungmin muncul di kepalanya kemudian mengangkat kepalanya. Beberapa balon terlihat melayang ke langit dan seorang anak kecil yang menangis ditengah jalan.

 

“Omo!!” kata Kyuhyun terkejut.

 

Segera Kyuhyun menginjak rem seraya membanting kemudi ke arah lain. Hingga akhirnya Mobil yang dikendarai Kyuhyun menabrak dinding dengan keras.

 

“Apa itu?”

“Apa yang terjadi?”

“Omo, kecelakaan!!”

“Hey tolong orang yang didalam mobil itu. dia terluka”

“Cepat panggil ambulans”

 

Segera suasana berubah ramai. Ditengah kesadarannya, Kyuhyun dapat merasakan tubuhnya dikeluarkan dari dalam mobil. Ia dapat merasakan darah yang mengalir dari kening dan tubuhnya yang terluka. Terasa hangat dan sakit. Ia terluka. Kyuhyun menduga dirinya luka parah. Apa dia akan mati?

 

Kyuhyun merasakan sesuatu dalam tangannya. Benda yang saat ini tidak pernah ia tinggalkan. Korek api antik kesayangan Sungmin. Kyuhyun menggenggam dengan lemah korek api ditangannya. Mencoba mencari alasan untuk bertahan meski hanya sesaat.

 

Jangan khawatir. Pasti akan terjadi sesuatu. Besok, pasti terjadi. Makanlah yang banyak.

Setelah itu, kita akan menangis sepuasnya. Lalu tidur setelah malam tiba…dan bangun lagi setelah pagi datang. Harus lebih ceria daripada hari ini

 

Suara itu…

 

Kyu…kau ingat aku?

 

Aku ingat. Kau Lee Sungmin. Teman sekamarku dan hyung favoritku. Kau adalah salah satu personil Super Junior yang multitalent. Sebenarnya kau adalah pria yang lembut. Sangat suka dengan warna pink dan bunny. Suka sekali bertingkah aegyo. Kau memanggilku dengan panggilan kyu dan dengan gaya aegyo’mu yang tidak bisa aku tolak. Kau… Kita… Lebih dari teman. Lebih dari apapun.

 

Kyu…kau mendengarku?

 

Suara itu…aku selalu mendengarnya…

 

Kyuhyun mencoba mengumpulkan kesadarannya dan menggenggam korek api ditangannya dengan kuat. Ia masih bisa bertahan. Ia harus bertahan.

 

“Hey orang ini masih hidup”

“Tuan anda bisa mendengarku? Bertahanlah”

 

Kyuhyun membuka matanya dan memandang keramaian disekitarnya. Orang–orang yang sedang mengelilinginya dengan pandangan cemas. Kyuhyun menoleh memandang mobil sport milik Siwon yang rusak. Kelihatannya ia harus menggantinya.

 

“Syukurlah dia masih hidup”

“Bertahanlah tuan. Ambulans akan segera datang”

 

Tidak. Kyuhyun tidak bisa menunggu. Ia harus segera pergi. Ia harus mengunjungi Sungmin kemudian kembali pulang jam 10 untuk jadwal wawancara. Sekarang ia adalah Super Junior Kyuhyun. Ada janji yang harus ia penuhi. Ada jadwal yang harus ia lakukan. Ia tidak bisa terus berbaring disini.

 

Kyuhyun mengumpulkan kekuatannya dan berusaha untuk bangkit dengan susah payah.

“Tuan…tuan…tuan mau kemana? Anda sedang terluka. Sebentar lagi ambulans akan segera datang. Anda tidak boleh bergerak dulu. Anda harus menunggu sebentar lagi”

 

Tidak. Kyuhyun tidak bisa menunggu lagi.

 

Kyuhyun melangkahkan kakinya perlahan dan beranjak pergi. Mengabaikan rasa sakit disekujur tubuhnya. Mengabaikan darah yang masih mengalir dengan hangat ditubuhnya yang terluka. Mengabaikan keramaian dibelakangnya. Mengabaikan teriakan–teriakan yang menyuruhnya untuk berhenti dan menunggu hingga ambulans datang.

 

“Tuan…tuan tunggu sebentar. Tolong kembalilah”

“Mau kemana dia? Apa dia gila? Dia terluka parah seperti itu……dia bisa mati”

 

Kyuhyun tidak peduli dan terus menyeret kakinya pergi. Menggenggam dengan erat korek api kesayangan Sungmin ditangannya yang terasa hangat dengan darahnya. Sebentar lagi, sebentar lagi ia akan segera sampai ditempat Sungmin.

 

Kehilangan adalah hal yang sangat menyesakkan,
Sampai aku tidak mau hidup lagi
Dunia tanpa dirimu tidak ramah sedikit pun padaku

Seperti sebuah ilusi …
Yang dalam sekejap menghilang
Panggilah namaku sekali lagi

Seperti aku memanggil namamu setiap saat

 

“Kenapa kau berwajah seperti itu Kyu?” tanya Sungmin.

 

Kyuhyun memandang Sungmin dengan muram.

“Kenapa kau berbicara seperti itu diradio tadi?” Kyuhyun balik bertanya.

 

“Wae? Tadi kita sedang membicarakan tentang kesempatan. Jika kau diberi kesempatan terakhir dalam hidupmu. Dan jawabanku adalah, aku ingin memastikan kau baik–baik saja” kata Sungmin tersenyum santai.

 

“Perkataanmu tadi itu …benar–benar…tidak masuk akal” kata Kyuhyun memalingkan wajahnya.

 

“Kau mau tahu apa yang ada dipikiranku Kyu?” tanya Sungmin.

“Mwo?” kata Kyuhyun.

 

Sungmin diam sesaat. Kyuhyun menoleh memandang raut wajah Sungmin yang berubah serius.

“Aku tidak takut mati. Yang kupikirkan, hanyalah kau yang harus kutinggalkan” kata Sungmin

“Hyung…kau terlalu banyak berpikir” kata Kyuhyun mengernyit.

 

“Tidak ada yang tahu, apa yang ada didepan kita. Masa depan seperti kotak Pandora yang misterius” kata Sungmin.

 

“Aigoo…kau benar–benar terlalu banyak berpikir hyung. Santailah sedikit” kata Kyuhyun mendengus geli.

 

“Lalu apa yang akan kau lakukan Kyu? Jika itu terjadi….” tanya Sungmin.

 

“Hmm…” Kata Kyuhyun berpikir kemudian menundukkan kepalanya. “Jika terjadi sesuatu denganmu, aku tak akan mengantarmu dengan senyum. Sebab, aku pasti akan terus menangis… Selama berhari – hari, berbulan – bulan, puluhan sampai ratusan tahun… Aku akan terus menangis sampai air mataku menjadi danau, lalu jadi sungai… Dan akhirnya jadi banjir besar. Aku tidak mau melakukan apapun”

 

“Kyu…” kata Sungmin sedih.

 

Sungmin beranjak mendekati Kyuhyun dan menyadari Kyuhyun sedang menahan tawanya.

“Kyu itu tidak lucu” kata Sungmin merengut.

 

Kyuhyun mengangkat kepalanya dan tertawa.

“Kau serius sekali hyung. Aku tidak tahan melihatnya” kata Kyuhyun tertawa.

“Aissh. Kau itu tidak bisa serius sedikit yah” gerutu Sungmin.

 

“Ara ara. Mianhae” kata Kyuhyun tersenyum meminta maaf.

“Seriuslah” kata Sungmin.

 

“Ok, serius. Hmm…aku akan baik–baik saja hyung. Aku akan menemuimu dan mengatakan aku baik–baik saja. Itu ‘kan yang ingin kau pastikan?” kata Kyuhyun.

 

“Satu lagi” kata Sungmin.

“Mwo?” tanya Kyuhyun.

“Saat itu…panggil namaku sekali lagi” pinta Sungmin tersenyum.

 

Jangan khawatir
Pasti akan terjadi sesuatu
Besok, pasti akan terjadi.
Makanlah yang banyak
Setelah itu, kita akan menangis sepuasnya
Lalu tidur setelah malam tiba ..
Dan bangun lagi setelah pagi tiba
Harus lebih ceria dari hari ini

Seperti yang kau bilang

Kyuhyun menyeret kakinya dengan susah payah. Menyusuri setiap nisan yang berjejer rapi. Beberapa menit kemudian kyuhyun berhenti didepan nisan yang bertuliskan nama LEE SUNGMIN. Beberapa buket bunga menghiasi nisan ini. Mungkin keluarga Sungmin baru saja datang berkunjung.

 

“Hai hyung” kata Kyuhyun.

 

Semilir angin bertiup seakan menjawab kyuhyun. Kyuhyun meletakkan korek api kesayangan Sungmin yang digenggamnya sejak tadi dengan erat. Terasa hangat karena darah Kyuhyun yang menyelimutinya. Kyuhyun meletakkan korek api itu didepan nisan dan seketika tubuh Kyuhyun terjatuh ke tanah dengan lemah. Ia hampir tidak memiliki tenaga lagi.

 

Kyuhyun merangkak perlahan mendekati nisan dan mengusapnya dengan lembut.

“Aku datang hyung. Kau tidak perlu khawatir lagi. Aku baik-baik saja. Aku bisa bertahan dari kesedihan itu. Aku tidak mengalami mimpi buruk lagi. Tidak ada hyung pun disisiku, aku baik–baik saja. sesuai janji bukan? Tidak apa-apa” kata Kyuhyun tersenyum kecil.

 

Kyu…Panggil namaku…

Panggil namaku sekali lagi

Nama terindah yang kau ucapkan

 

“Lee Sungmin……” ucap kyuhyun lirih.

 

Semilir angin bertiup menerpa tubuh Kyuhyun yang tidak bisa bertahan lagi. Tangan Kyuhyun terjatuh dengan lemah. Meninggalkan noda darah yang menghiasi nisan Sungmin. Membekas bersama dengan bayangan Sungmin yang selalu hadir dalam balutan ilusi Kyuhyun.

 

Kyuhyun tersenyum sebelum pada akhirnya memejamkan matanya perlahan. Semilir angin kembali bertiup dengan hangat. Seakan memberi tahu, semua akan baik–baik saja. Seperti janji Kyuhyun pada Sungmin. Ia baik–baik saja. Dan kini, mereka akan selalu bersama tanpa harus menunggu lagi sunset datang.

 

Dimanapun sudah tidak ada lagi

 Kekuatan yang bisa menghentikanku
Wahai orang yang mencinta

Dari tempat yang abadi di sana
Berikanlah keberanian pada kami
Yang berdiri di menghadap ombak kesendirian

 

fin

                                    

 

 

 

 

2 thoughts on “I’ll wait you until sunset come

  1. nyesek bgt bacax TT^TT….
    gak tw lagi mesti coment apa lagi, bener2 kebawa ma ceritax pa lagi kata2 yang pake bold makin ngenes bacax.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s