[YeWook] Kunang–kunang

Gambar

Pairing          : YeWook

Genre           : Sad

Length          : One Shoot

Warning        : Boys love, shounen-ai

Disclaimer     : Story belong to me, YeWook belong to each other

Summary       : Saat gelap kita berbagi. Saat gelap kita abadi.

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

Musim panas itu pertama kalinya Yesung bertemu dengan anak lelaki itu. Anak lelaki itu sedang memandang keluar jendela di lantai 3 rumah sakit tempat Yesung bekerja sebagai perawat. Terkadang ia duduk di taman rumah sakit, duduk tenang dengan beberapa buku ditangannya. Terkadang ia ditemani oleh kakaknya, pria yang berwajah cute, dengan kekasihnya, pria tinggi dengan senyum jahil diwajahnya. Namun anak lelaki itu lebih sering sendirian. Makhluk hidup yang bersinar terang di malam musim panas, sosok anak muda itu selalu terlihat seperti itu. Bagaikan seekor kunang–kunang yang terasing memancarkan cahayanya sendiri. Terlihat begitu kesepian.

Hari ini pun Yesung kembali melihat anak lelaki itu. Memandang langit dengan pandangan sedih dari jendela lantai 3. Pakaian khusus pasien berwarna biru dan jaket berwarna abu-abu membalut tubuhnya yang kurus. Wajahnya yang innocent terlihat pucat. Namun seakan Yesung dapat melihat, samar–samar sosok itu diselubungi oleh cahaya putih. Bagaikan sebuah kunang – kunang, terlihat indah.

Yesung memperhatikan anak lelaki itu dari halaman rumah sakit. Berpikir, kenapa setiap hari terlihat dengan wajah begitu sedih? Anak lelaki itu menoleh menyadari pandangan Yesung. Ia tersenyum pada Yesung. Seulas senyum hampa, yang entah kenapa membuat perasaan Yesung terasa perih. Yesung balas tersenyum. Yesung tersadar saat Eunhyuk menepuk bahunya. Ia menoleh terkejut memandang Eunhyuk.

“Aissh, mengagetkan saja” gerutu Yesung.

“Melamun saja. Teuki hyung memanggil kita ke pos jaga” kata Eunhyuk terkekeh.

“Ne, araseo” kata Yesung.

“Khajja hyung” kata Euhyuk seraya melangkahkan kakinya.

“Araseo” kata Yesung.

Yesung menoleh sesaat memandang lantai 3. Namun sosok itu telah menghilang. Yesung sedikit mendesah kecewa, kemudian beranjak pergi bersama Eunhyuk.

****

Yesung dan Eunhyuk membuka berkas yang diberikan oleh Leeteuk, ketua perawat dirumah sakit ini. Masing – masing akan menangani satu pasien. Yesung membaca berkas miliknya. Pasiennya bernama Kim Ryeowook, 24 tahun, menderita Leukimia.

“Yesungie, ayo kuperkenalkan kau dengan pasienmu” kata Leeteuk.

“Araseo hyung” kata Yesung mengangguk.

“Khajja” kata Leeteuk.

Yesung mengikuti langkah Leeteuk menyusuri lorong rumah sakit, mendengar setiap instruksi dari sang senior dengan baik. “Ia sangat tenang dan sedikit pemalu, kurasa kau akan segera berteman dengannya. Tapi kau harus berhati–hati bicara terutama tentang penyakitnya. Dokter memvonis ia hanya bisa bertahan tidak lebih dari 6 bulan” kata Leeteuk.

“Akan aku ingat” kata Yesung.

Langkah mereka berhenti didepan pintu kamar 196. Leeteuk membuka pintu dan melangkah masuk. Yesung mengikuti langkah Leeteuk. Ia mendekap berkas ditangannya, mengira–ngira orang seperti apa yang akan menjadi pasiennya. Seorang anak lelaki terlihat terduduk diranjangnya, ia sedang membaca buku dengan tenang. Pakaian khusus pasien yang berwarna biru membalut tubuhnya yang kurus, dan topi hoodie hitam menutupi kepalanya.

“Ryeowook ssi” panggil Leeteuk.

Anak lelaki yang dipanggil Ryeowook mengangkat kepalanya.

“Teuki ssi” kata anak lelaki yang bernama Ryeowook itu tersenyum.

Yesung terkejut memandang pasiennya. Ia mengenali anak lelaki ini, anak lelaki yang selalu Yesung lihat. Ternyata…namanya Kim Ryeowook. Leeteuk beranjak ke samping Ryeowook lalu menunjuk Yesung.

“Saya ingin memperkenalkanmu pada pada Yesung ssi. Ia yang akan membantu merawatmu” kata Leeteuk.

Ryeowook menutup bukunya dan memandang Yesung.

“Annyeong Yesung ssi” sapa Ryeowook tersenyum.

“A…annyeong. Mohon bantuannya” Yesung tersadar.

“Sama–sama” kata Ryeowook masih tersenyum.

“Saya akan kembali ke pos jaga” kata Leeteuk pada Yesung.

“Baik” kata Yesung.

Leeteuk beranjak pergi. Meninggalkan Yesung dengan pasiennya, Ryeowook. Ryeowook memandang Yesung tanpa suara. Sementara Yesung bingung bagaimana ia harus membuka pembicaraan.

‘Ditinggal berdua, bicara apa yah? Apa hobimu? Memangnya sedang dijodohin’ pikir Yesung bingung.

“Ng…baiklah. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Yesung.

“Apa kau menyukai kunang–kunang?” tanya Ryeowook.

“Eh?” kata Yesung.

Ryeowook tersenyum kemudian memandang keluar jendela. Yesung tertegun memandang Ryeowook. Senyum itu, pandangan itu, entah kenapa membuatnya kembali merasa perih.

“kunang–kunang” gumam Yesung pelan.

****

 

Yesung sedang mengganti sprei dengan dibantu oleh Donghae. Sementara Yesung dan Donghae sedang sibuk mengganti sprei, Ryeowook duduk disofa dengan tenang memperhatikan mereka.

“Tarik ujungnya hae” kata Yesung.

“Baik” kata Donghae.

Namun Donghae menarik ujung yang salah.

“Bukan yang itu. lebih ke kanan” kata Yesung.

“Aduh hyung! jangan ditarik semua” kata Donghae.

Ryeowook tertawa kecil melihat Yesung dan Donghae yang saling menarik ujung sprei, membuat spreinya semakin berantakan. Setelah beberapa lama akhirnya sprei berhasil terpasang.

“Akhirnya selesai juga” kata Yesung menghela nafas lega.

Donghae menoleh memandang Ryeowook.

“Maaf menunggu lama” kata Donghae tersenyum meminta maaf.

“Tidak apa” kata Ryeowook tersenyum.

Donghae mengambil sprei yang kotor dan beranjak pergi.

“Silakan kembali ke ranjang Ryeowook ssi” kata Yesung.

Ryeowook beranjak kembali ke ranjangnya. Ia tertawa kecil dibalik selimutnya.

“Kenapa kau tertawa?” tanya Yesung melirik Ryeowook.

“Kau tidak bisa mengganti sprei? Bukankah itu juga diajarkan saat disekolah perawat?” kata Ryeowook seraya terkekeh kecil.

“Mengganti sprei itu ternyata merepotkan. Aissh, ini memalukan” kata Yesung terkekeh kecil.

Ryeowook diam sesaat memandang Yesung.

“Yesung hyung, bolehkah aku menjadi temanmu?” tanya Ryeowook.

Yesung menoleh memandang Ryeowook.

“Boleh, asal aku boleh memanggilmu Wookie” jawab Yesung.

“Setuju” kata Ryeowook tersenyum.

Ryeowook mengaitkan jari kelingkingnya dengan milik Yesung. Ia mengernyit sesaat memandang jari Yesung, kemudian membuka jemari Yesung dan membandingkan dengan miliknya.

“Loh? Ternyata tangan hyung kecil yah?” kata Ryeowook.

Yesung menarik tangannya seraya merengut malu. Tangannya memang lebih mungil dibandingkan tangan pria pada umumnya. Dan itu membuatnya malu. Ryeowook terkekeh memandang Yesung

“Tapi tanganku masih muat didalam tangan hyung. Lihat” kata Ryeowook menyusupkan tangannya ke dalam tangan Yesung seraya tersenyum.

Yesung tertegun sesaat. Desiran aneh menerpa perasaannya sesaat.

“Erm…sekarang saatnya kau terapi Wookie” kata Yesung mengingatkan seraya menarik tangannya.

“Oh, terapi” kata Ryeowook mendesah.

Yesung beranjak mengambil kursi roda untuk Ryeowook, dan membantu Ryeowook menuju kursi roda miliknya. Kemudian mendorongnya menuju ruangan terapi dilantai 10. Yesung mendorong perlahan kursi roda Ryeowok menyusuri lorong.

“Kau sangat menyukai kunang–kunang yah Wookie?” tanya Yesung.

“Apa hyung tahu, kunang–kunang itu…adalah jiwa manusia” kata Ryeowook lirih.

Ryeowook memandang keluar jendela. Memandang langit seraya tersenyum sedih. Yesung terdiam memandang Ryeowook. Perasaan perih itu kembali menderanya, bersamaan dengan suatu desiran aneh yang kembali datang. Perasaan yang aneh.

****

Yesung sedang memeriksa kondisi Ryeowook. Yesung memakai stetoskopnya dan menempelkannya ditubuh Ryeowook yang terlihat semakin kurus. Ia memandang tubuh itu dengan sedih sesaat kemudian mulai mendengarkan suara detak jantung Ryeowook yang terdengar dari stetoskop. Berdetak teratur sesuai iramanya. Berbeda dengan miliknya, yang entah kenapa berdegup tidak beraturan.

Yesung mulai memeriksa tekanan darah Ryeowook, kemudian mencatat semua hasilnya dilembar catatan miliknya, mencatat perkembangan fisik dan psikisnya. Ia melirik sesaat Ryeowook yang sedang mengancingkan seragam pasiennya yang berwarna biru. Terlihat rapuh. Namun Yesung seakan masih dapat melihat samar–samar cahaya putih yang menyelubungi sosoknya. Berpendar bagai kunang – kunang yang mempertahankan cahayanya. Terlihat indah.

Ryeowook mengancingkan kancing terakhirnya, kemudian memandang keluar jendela. Langit yang cerah menghiasi pagi ini. Ryeowook terdiam sesaat. Yesung menutup catatannya dan membereskan peralatannya.

“Hyung” panggil Ryeowook.

“Hn?”

“Maukah kau bercerita padaku tentang dunia luar?” tanya Ryeowook masih memandang keluar jendela.

“Eh? Dunia luar?” kata Yesung mengernyit.

Ryeowook menoleh memandang Yesung.

“Dunia di luar rumah sakit ini. Aku ingin sekali keluar tapi, tubuh lemah ini tidak mau bekerja sama. Kau mengetahui segalanya, bukan hyung?” kata Ryeowook tersenyum.

Yesung terdiam memandang Ryeowook. Yesung tahu, Ryeowook pasti bosan berada dibalik dinding rumah sakit yang kaku dan dingin. Pernah sekali Yesung berpikir untuk membawa Ryeowook berjalan – jalan keluar rumah sakit, tapi itu beresiko. Jika tubuh Ryeowook tidak tahan, ia akan semakin lemah. Dan itu berbahaya untuk Ryeowook. Tentu saja, Yesung akan mendapat masalah karena ini.

Tapi ada sesuatu dari pandangan itu. Ada sesuatu dari senyuman itu. Ada sesuatu dari sosok didepannya ini. Sesuatu yang membuatnya selalu ingin bersamanya. Selalu ingin menjaga pendar itu, bersinar bagai cahaya kunang – kunang. Desiran aneh itu kembali menerpa Yesung, degup jantungnya kembali berdegup tidak teratur. Perasaan aneh itu kembali memenuhinya. Apa yang sedang terjadi padanya?

“Aku mengetahui segalanya. Apa yang ingin kau tahu?” tanya Yesung tersenyum.

Mulai saat itu, Yesung menjadi mata bagi Ryeowook. Ia akan menceritakan segalanya pada Ryeowook. Tentang dunia luar dibalik dinding rumah sakit. Dan Ryeowook akan duduk disisi Yesung dengan tenang, mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia akan tersenyum dan tertawa dengan senangnya. Walaupun Ryeowook selalu tertawa dengan senangnya. Ketika matahari mulai tenggelam, dan mulai gelap.  Ia menggumam.

“Kunang–kunang… Tangkaplah untukku”

****

Malam telah menurunkan tirainya. Para pasien telah tertidur dibalik selimut mereka. Dan rumah sakit kembali tenang, hanya beberapa suster dan perawat juga petugas keamanan yang berkeliaran di lorong – lorong rumah sakit. Yesung mengajak Ryeowook keatap gedung rumah sakit. Ia ingin menunjukkan sesuatu pada Ryeowook.

Angin malam bertiup pelan menyambut kedatangan Yesung dan Ryeowook. Ryeowook merapatkan jaketnya, berusaha bertahan dari angin yang cukup mengigit kulit. Ia mengernyit mengedarkan pandangannya. Tidak ada apapun, hanya satu lampu yang menerangi atap gedung dan beberapa helai selimut dan pakaian yang digantung di jemuran, menari karena tiupan angin.

“Kenapa kita ke sini hyung?” tanya Ryeowook.

“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu” jawab Yesung.

“Apa?” tanya Ryeowook penasaran.

“Kau akan tahu nanti” jawab Yesung.

Yesung tersenyum dan menunjuk langit. Ryeowook menengadah memandang langit malam yang jernih. Bulan yang mengintip dibalik awan, dan bintang – bintang yang berserakan dilangit seperti permen.

“Sebentar lagi” kata Yesung.

Ryeowook menoleh memandang Yesung dan mengernyit bingung. Yesung hanya tersenyum dan kembali menunjuk langit. Ryeowook mengernyit memandang langit, tidak lama ia melihat sesuatu yang mendekat. Titik – titik yang berpendar dengan indah. Titik – titik itu semakin mendekat dan menyebar diatap gedung, menciptakan sebuah pemandangan yang indah. Ryeowook membelalak tidak percaya.

“Kunang–kunang” pekik Ryeowook senang.

Kumpulan kunang–kunang itu terbang disekitar Yesung dan Ryeowook, menyebarkan keindahan cahaya mereka.  Ryeowook tersenyum senang menikmati pemandangan indah ini. Ia menoleh memandang Yesung.

“Indah bukan? Setiap malam musim panas, kunang–kunang selalu muncul. Kau akan menemukan mereka disini, belakang rumah sakit ini kan kebun yang luas” kata Yesung.

“Terima kasih hyung” kata Ryeowook tersenyum senang.

Ryeowook dan Yesung menikmati kunang–kunang yang masih memamerkan keindahan cahaya mereka. Tidak ada yang bersuara selama beberapa menit. Mereka masih terpaku dengan cahaya yang berpendar disekitar mereka dengan indah.

“Kunang–kunang… Kumohon tangkaplah kunang-kunang untukku hyung” kata Ryeowook bersuara.

Yesung melirik Ryeowook sesaat kemudian menangkap satu kunang–kunang. Ryeowook memandang tangan Yesung dengan antusias.

“Kubuka ya, pelan–pelan…” kata Yesung.

Yesung membuka tangannya perlahan. Di dalam tangannya bersinar sebuah kehidupan. Bagaikan sebuah bisikan, bagaikan sebuah nyanyian.

“Indah, ya…” kata Ryeowook.

“Coba lihat, dia hidup ‘kan?” kata Yesung memandang kunang–kunang di dalam tangannya.

Ryeowook memandang kunang – kunang yang berpendar di dalam tangan Yesung. Pandangannya berubah sedih. “Benar… padahal sekecil itu, tapi dia benar–benar hidup. Padahal dia hidup tapi, kenapa dia seindah itu?” kata Ryeowook.

Yesung mengangkat kepalanya memandang Ryeowook.

“Bukankah karena dia hidup maka terlihat begitu indah. Lagipula kalau sudah mati dia tidak akan bisa bercahaya” kata Yesung melepaskan kunang–kunang ditangannya

Ryeowook memandang kunang–kunang itu yang kembali terbang, bergabung dengan teman – temannya di udara yang bebas. Ia memandang langit dengan sedih. “Manusia… setelah raganya menghilang, baru bisa bersinar dengan indahnya. Bersinar bagaikan kunang–kunang. Ibu dan ayahku dulu juga begitu, bersinar begitu kecil dan naik ke langit” kata Ryeowook.

“Wookie…” kata Yesung terpaku.

“Nanti…apa aku akan bersinar seperti kunang–kunang itu?” tanya Ryeowook.

Yesung terdiam memandang punggung Ryeowook. Perasaan perih itu kembali muncul. Ia memandang punggung Ryeowook dengan sedih. Ryeowook terkejut saat tiba–tiba Yesung memeluknya dari belakang. Memeluknya dengan erat dan hangat.

“Kenapa kau mengatakan hal sesedih itu?! Kau…kau itu indah! tolong jangan bicara hal yang menyedihkan lagi” kata Yesung.

“Tubuhku mungkin tidak akan membaik. Tidak ada jaminan aku bisa hidup lebih lama. Waktuku hanya 6 bulan” kata Ryeowook.

Yesung memeluk tubuh Ryeowook semakin erat.

“Berjanjilah…kumohon. Kalau tidak, jantungku bisa pecah…” kata Yesung.

Denyutan terada dari balik telapak tangannya. Detak jantung yang memainkan iramanya dengan abstrak. Ryeowook tersenyum, kemudian terkekeh kecil.

“Kenapa tertawa?” tanya Yesung melepaskan pelukannya dengan malu.

“Ah, tidak…” jawab Ryeowook seraya terkekeh.

Kelap–kelip cahaya kunang – kunang masih berpendar dengan indah. Kemudian kumpulan kunang–kunang itu terbang ke atas langit. Terbang begitu banyak, begitu indah. Yesung menengadah memandang kumpulan kunang–kunang yang berkelip seakan menyatu dengan langit malam. Seakan mengadu keindahan cahayanya dengan kelip bintang.

“Katanya kunang–kunang itu… begitu tumbuh dewasa akan langsung mati. Ayahku bilang hidup mereka tidak lebih dari 10 hari. Kau tahu kenapa?” kata Yesung.

“Kenapa?” tanya Ryeowook.

“Itu karena, mereka adalah makhluk yang cantik. Mereka sangat indah. Dan para dewa ingin menyimpannya di sisi mereka. Tapi Wookie, kau harus tetap hidup, ya. Walau kau indah, jangan sampai dibawa para dewa” kata Yesung menoleh memandang Ryeowook.

Ryeowook terpaku memandang Yesung. Ia hanya tersenyum dengan wajah yang terlihat sedih.

“Iya…” kata Ryeowook.

Yesung terdiam memandang Ryeowook. Perasaan aneh itu kembali menderanya, dan Yesung sekarang tahu jawabannya. Sosok yang sedang berdiri didepannya saat ini. Wajah itu, senyum itu, pandangan itu, seakan berpendar bagai kunang–kunang. Terlihat rapuh, namun terus memancarkan cahayanya sendiri. Yesung mencintai kunang–kunang itu, ingin sekali ia menahan kunang–kunang itu tetap di dunia ini dan menjadikannya hiasan.

“Wookie…” panggil Yesung.

“Hn” Ryeowook menoleh.

“Bisakah…bisakah aku bersamamu?” tanya Yesung.

Ryeowook terkejut memandang Yesung.

“Izinkan aku terus berada di sisimu” kata Yesung.

Ryeowook masih memandang Yesung tanpa suara. Kemudian ia tersenyum dan menyentuh tangan Yesung. Menyusupkan tangannya ke dalam tangan Yesung yang mungil namun hangat. “Kita…bersama selamanya, ya hyung” kata Ryeowook.

Tangan mereka bertaut semakin erat. Yesung memandang Ryeowook, seulas senyum bahagia terlukis diwajah pucat itu. Yesung berpikir, mungkin inilah…saat yang paling membahagiakan.

“Hyung aku senang bertemu denganmu. Aku…bersyukur bertemu denganmu” kata Ryeowook tersenyum.

Yesung tersenyum dan mendekap tubuh mungil itu, kunang–kunang yang rapuh namun bersinar begitu indah. Ia mendekapnya dengan erat, seolah takut kunang–kunang itu akan terbang dan menghilang. Namun tiba–tiba angin bertiup dengan kencang. Menjatuhkan tiang–tiang penyangga jemuran, menerbangkan selimut dan pakaian yang sedang digantung.

Salah satu pakaian terlepas dan terbang bersama angin yang bertiup semakin kencang. Yesung menutup matanya, berusaha bertahan dari angin yang menerpa tubuhnya dengan kuat.

“Uwaaa…!” teriak Yesung.

****

Angin berhenti bertiup. Yesung membuka matanya perlahan. Ia mengedarkan pandangannya dan mengernyit sesaat. Ia masih berada diatap gedung rumah sakit, namun ia sendirian. Ryeowook tidak ada disisinya.

“Wookie… Wookie…” panggil Yesung seraya mengedarkan pandangannya.

Namun sosok itu tidak muncul. Sosok itu tidak ada dimanapun. Yesung memandang butir–butir salju putih yang perlahan turun dari langit malam. Yesung terpaku sesaat dan tersadar. Ia memandang tangannya yang kosong. Sendiri…

Ryeowook sudah tiada. Tubuhnya semakin lemah. Muntah, demam, selera makan menurun, rambut rontok. Tubuh Ryeowook semakin menyusut dan kondisinya memburuk. Akhirnya, setengah tahun lalu ia pergi ke tempat ayah dan ibunya. Kunang–kunangnya telah terbang jauh di atas langit, sosok yang berpendar itu telah padam. Kini Yesung sendirian.

Yesung mengenggam tangannya yang bergetar dan menangkupkannya di dada. Sudut matanya memanas. “Wookie…” gumam Yesung sedih.

“Yesung hyung~~” panggil Eunhyuk.

Yesung menoleh. Diambang pintu Eunhyuk dan Donghae melambaikan tangan mereka dan beranjak mendekati Yesung.

“Hyung sedang apa disini?” Tanya Eunhyuk.

“Ah, tidak” jawab Yesung menggelengkan kepalanya.

“Teuki hyung mencarimu sejak tadi. Dia sedang menunggumu di pos jaga” kata Donghae.

“Ne, aku akan segera kesana” kata Yesung.

Donghae memandang butir – butir salju yang turun perlahan.

“Uwaa…salju!” pekik Donghae senang.

Donghae mengernyit memandang cahaya-cahaya yang berpendar dilangit. Bukan cahaya bintang, melainkan cahaya kumpulan kunang–kunang.

“Hyukie, coba lihat itu!” kata Donghae.

“Apa?” tanya Eunhyuk.

“Itu! banyak sekali kunang–kunang yang terbang ke langit. Indahnya” kata Donghae seraya menunjuk langit.

Yesung menoleh memandang langit dan terkejut. Kelap–kelip cahaya kunang–kunang berpendar di langit malam, seolah menyembunyikan sinar bintang.

“Aku selalu bersamamu hyung~”

“Wookie…” gumam Yesung

Yesung terpaku memandang kumpulan kunang–kunang itu. Perasaan aneh dan perasaan bahagia saat itu kembali menerpanya, masih terasa hangat di hatinya. Ia kesepian, sedih. Tapi…

“Kita bersama selamanya, ya hyung”

Yesung tersenyum. Yeah, Benar … walau raga Ryeowook sudah tidak ada di sini, hati mereka selalu terhubung. Kenangannya bersama Ryeowook, dan perasaan Yesung padanya akan selalu terukir di lubuk hatinya.

“Kau bicara apa sih? Sekarang sudah musim dingin, jadi mana mungkin ada kunang–kunang” kata Eunhyuk mengernyit

“Masa sih? Tapi terbang sebanyak itu. Kau tidak melihatnya Hyukie?” tanya Donghae.

“Apa kau…juga bisa melihatnya Hae?” Yesung bersuara.

“Eh? Apa?” tanya Donghae.

“Kunang–kunang itu…adalah jiwa manusia” jawab Yesung tersenyum.

Donghae dan Eunhyuk menoleh memandang Yesung dan mengernyit bingung. Yesung masih memandang langit malam yang sedang dihiasi keindahan kumpulan cahaya kunang–kunang. Berpendar seperti sosok Ryeowook dimata Yesung. Yesung tahu, kunang–kunangnya telah bersinar dengan indah jauh diatas langit. Tapi Yesung juga tahu, setiap kunang–kunang memancarkan cahayanya dimalam musim panas, saat itu Ryeowook sedang bersamanya.

Fin

2 thoughts on “[YeWook] Kunang–kunang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s