Forgive

Gambar

Pairing            : KyuMin

Genre              : tragedy

Length            : one shoot

Warning          : Boys love, shounen-ai, M-preg

Disclaimer      : story belong to me, KyuMin belong to their self

Summary        : Tidak semua kisah hidup berakhir bahagia. Tapi…mampukah kau memaafkan? Happy read & hope you like it ^^

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

“Eomma, coba dengar ini. Hari ini appa mengajariku bermain sepeda”

 

“Benarkah?”

 

“Aku selalu terjatuh, tapi aku tidak menangis. Appa bilang aku sudah mulai besar, jadi tidak boleh cengeng lagi”

 

“Itu benar chagi. Kau hebat, eomma bangga padamu”

 

~+~+~+~

 

Maret. Salju telah lama menghilang dan berganti dengan guguran kelopak bunga-bunga yang indah. Udara yang hangat. Hari yang cerah. Kota Seoul dengan segala geliat aktivitasnya. Di bandara Incheon, Sungmin menarik kopernya secepat mungkin. Tubuhnya masih saja bergetar pelan tanpa henti, berharap kabar yang didengarnya hanya lelocon belaka.

 

Sungmin mengedarkan pandangannya diantara orang-orang yang sedang menunggu, mencari keluarga kecilnya. Biasanya ia akan menemukan putra kecilnya, anak laki-laki berusia 6 tahun dengan pipi chubby yang sangat menggemaskan, berlari memeluknya dan tidak akan melepaskannya sampai mereka sampai dirumah. Juga ‘suaminya’ Kyuhyun, yang akan memberikan kecupan selamat datang untuknya. Tapi kali ini Sungmin hanya menemukan Kyuhyun yang menunggunya dengan wajah sangat sedih. Wajah tampan itu terlihat seperti habis menangis.

 

Saat pemuda tinggi itu memeluknya dengan lembut, getaran ditubuh Sungmin sedikit mereda. Sungmin mendongakkan kepalanya memandang ‘suaminya’ itu dengan penuh harap.

“Katakan itu tidak benar Kyu. Henry……” Sungmin tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.

 

Kyuhyun melepaskan pelukannya, mengambil koper milik Sungmin dan menggenggam tangan pemuda manis itu dengan erat seolah berusaha memberi sedikit ketenangan. “Kita akan segera melihatnya” Katanya.

 

Sungmin membiarkan Kyuhyun menariknya pergi. Tidak ada yang bicara selama diperjalanan. Kyuhyun membawa mobilnya dalam diam. Dan Sungmin memainkan tangannya dengan gelisah. Ia tidak bisa tenang. Tidak mungkin Sungmin bisa tenang saat ia mengangkat telepon pagi ini dan mendengar suara panik kakaknya Leeteuk di ujung telepon berkata,

 

“Sungminie, Henry tertembak saat bermain sepeda. Ia meninggal dunia”

 

Sungmin tidak ingat apakah ia menjerit, tapi sepertinya ia memang menjerit. Hal yang Sungmin ingat selanjutnya adalah ia sudah berada dipesawat menuju Seoul dengan tubuh gemetar. Baru kemarin Sungmin meninggalkan putra kecilnya untuk pergi ke Jeju, dan hari ini ia mendengar berita bahwa putra kecilnya tertembak oleh seseorang dan meninggal? Bagaimana Sungmin harus mempercayai hal itu? Bagaimana ia dapat menerima kenyataan itu kelak?

 

~+~+~+~

 

Saat Sungmin dan Kyuhyun tiba di rumah sakit, di depan sebuah ruangan terlihat Leeteuk sedang menangis didalam pelukan Kangin. Kangin mengusap kepala pria berwajah malaikat itu dengan lembut, berusaha menenangkannya. Leeteuk adalah kakak Sungmin, dan Kangin adalah ‘suaminya’. Kangin, pria bertubuh besar itu adalah seorang tentara berpangkat sersan dan telah terlatih untuk membunuh. Dengan sedikit terisak Leeteuk menjelaskan,

 

“Henry hanya sedang bermain sepeda di depan rumah sendirian. Aku sudah mengatakan padanya untuk tidak bermain terlalu jauh. Namun lima menit kemudian tiba-tiba terdengar suara dorr beberapa kali dengan begitu keras. Aku sangat terkejut dan melihat Henry sudah tidak ada didepan rumah. Aku pergi mencarinya, dan kemudian……aku sudah menemukan Henry bersimbah darah di jalan. Keponakanku meninggal bermandikan darahnya sendiri…”

 

Air mata Leeteuk kembali mengalir perlahan. Seraya memeluk ‘istrinya’ yang kembali menangis, Kangin berkata dengan hati-hati, “Peluru-peluru itu menembus aortanya, jantung, juga kedua paru-parunya. Begitu yang dijelaskan oleh dokter”

 

Sungmin tertegun mendengar semua penjelasan itu. Tubuhnya kembali bergetar semakin keras. Sungmin segera berlari masuk ke dalam ruangan, dan Kyuhyun pun mengikutinya. Di dalam ruangan yang putih, steril dan dingin itu tubuh mungil putra kecilnya Henry terbaring di atas ranjang kelabu. Pucat dan kaku. Darah sudah dibersihkan dan luka-luka bekas peluru masih nampak jelas.

 

Sungmin tersentak melihat pemandangan itu. Perlahan ia berjalan ke sisi ranjang, memperhatikan putra kecilnya yang menutup matanya begitu rapat. Selama beberapa menit Sungmin menunggu, berharap Henry akan membuka matanya dan mengatakan ia hanya sedang bercanda. Tapi mata itu tetap tidak kunjung terbuka sedikit pun.

 

Saat Sungmin menyentuhnya, tubuh Henry sudah mulai dingin. Dan seketika Sungmin tidak bisa lagi menahan air matanya. Kyuhyun segera merengkuh Sungmin ke dalam pelukannya, membiarkannya menangis terisak begitu dalam dan kehilangan.

 

“Ini tidak mungkin Kyu…Henry kita…” isak Sungmin tidak percaya.

 

Kyuhyun hanya memeluknya dengan erat dan membelai kepala Sungmin dengan lembut. Saat ini Kyuhyun sedang berusaha menahan air matanya yang nyaris tumpah dari sudut matanya. Kyuhyun memandang dengan sedih sosok mungil Henry di atas ranjang yang kelabu. Meski darah sudah dibersihkan, tapi bau anyirnya yang memualkan masih dapat samar tercium oleh Kyuhyun. Bau itu sama sekali tidak bisa meninggalkan pikiran Kyuhyun, sehingga ia berpikir menginginkan balas dendam dengan cara yang paling kejam. Ia benar-benar menghendaki adanya seseorang yang melakukan sesuatu, semacam keadilan untuk putra kecil mereka.

 

~+~+~+~

 

Pemakaman itu berjalan penuh haru. Sungmin nyaris pingsan saat peti yang berisi tubuh mungil putra kecilnya itu perlahan diturunkan ke liang lahatnya, dan kemudian perlahan tanah menutupinya hingga tidak terlihat lagi. Sungmin hanya bisa menangis terisak didalam pelukan Kyuhyun yang terdiam. Wajah tampan itu terlihat sangat kehilangan, meski Kyuhyun masih terus berusaha menahan air matanya.

 

Saat akhirnya pemakaman itu berakhir dan satu persatu orang-orang beranjak pergi, Kyuhyun dan Sungmin masih tidak beranjak dari tempatnya. Sungmin terduduk di depan nisan, mengusapnya dengan penuh kehilangan. Sementara Kyuhyun menengadah memandang langit pagi yang cerah, akhirnya ia membiarkan air matanya meluncur turun perlahan.

 

Satu jam kemudian akhirnya mereka beranjak pergi. Dengan terpaksa Sungmin membiarkan Kyuhyun menariknya pergi, meninggalkan putra kecilnya yang tidak mungkin bisa ia peluk lagi. Tidak ada yang bicara selama di perjalanan. Kyuhyun membawa mobilnya dalam diam, Sungmin pun memandang keluar jendela dalam diam. Keheningan yang sangat menyakitkan.

 

~+~+~+~

Kyuhyun menghentikan mobilnya di depan gedung Departement kepolisian. Saat Kyuhyun dan Sungmin berusaha untuk masuk ke dalam gedung, mereka disambut dengan berpuluh-puluh kamera dan blitz, berpuluh-puluh wartawan yang berusaha untuk bertanya dengan sedikit memaksa. Kasus kematian Henry terus menjadi pembicaraan hangat di Korea dan menjadi santapan media-media TV nasional selama berhari-hari. Sungguh menyedihkan.

 

Kyuhyun menggenggam dengan erat tangan Sungmin dan berjalan disisinya dengan sikap protektif. Mereka mengabaikan kamera-kamera itu dan terus berjalan masuk. Kyuhyun dan Sungmin berusaha mencari penjelasan tentang kasus kematian putra mereka. Namun satu hal yang mereka ceritakan pada Kyuhyun dan Sungmin hanyalah kenyataan tentang meninggalnya putra mereka. Dengan santainya mereka berkata,

 

“……sedangkan hal-hal lain bukan urusan kalian. Perlu kami beritahu, bahwa jika kami tidak dapat menangkap seseorang dalam waktu empat hari, maka kalian tidak bisa berharap akan terjadi penangkapan itu. Kami menghadapi terlalu banyak pembunuhan di daerah ini, kami hanya bisa menyediakan waktu empat hari untuk masing-masing kasus pembunuhan.”

 

Pernyataan itu membuat Kyuhyun sangat marah. Tiba-tiba Kyuhyun berdiri dan berkata penuh kekesalan, “Sebenarnya kalian department kepolisian, tidak berminat pada pencarian pembunuh putra kami, bukan?”

 

Polisi-polisi dari coordinator kejahatan & kekerasan itu terkejut kemudian berusaha mencari-cari alasan untuk menenangkan Kyuhyun. Kyuhyun mendengus tidak percaya dan berkata, “Aku akan pergi membeli sebuah senapan dan memberondong semua orang. Aku akan mencari pembunuh itu dengan tanganku sendiri, jika kalian memang tidak berniat mencari pembunuh itu. Tidak berguna”

 

Dan setelah itu Kyuhyun menarik tangan Sungmin dan beranjak pergi dengan marah. Kyuhyun benar-benar marah. Sungmin hanya diam, ia pun juga merasa marah.

 

~+~+~+~

 

“Eomma, appa…besok kita semua bermain sepeda bersama yah?.”

 

“Tentu chagi. Kita akan bersepeda bersama besok.”

 

~+~+~+~

Tengah malam Kyuhyun terbangun karena mendengar jeritan tertahan Sungmin. Ia tersentak bangun dan segera memandang Sungmin yang tidur disisinya. Sungmin menjerit tertahan dalam tidurnya. Air mata terlihat membasahi wajah manis itu.

 

“Sungmin… bangunlah chagi…” Kyuhyun berusaha membangunkan Sungmin.

 

Tiba-tiba Sungmin tersentak bangun. Ia mengedarkan pandangannya sesaat ke seluruh kamar yang remang, kemudian memandang Kyuhyun. Saat Kyuhyun menarik Sungmin ke dalam pelukannya ia tersadar, tubuh ‘istrinya’ ini bergetar pelan. Kyuhyun membelai kepalanya dengan lembut, berusaha menenangkannya.

 

“Ada apa chagi? Kau bermimpi buruk, eoh?” Tanya Kyuhyun lembut.

 

Sungmin mengangguk pelan dalam pelukan Kyuhyun. “Aku bermimpi tentang Henry. Kami sedang bermain sepeda bersama. Tapi Henry bermain terlalu jauh dariku, aku tertinggal dibelakangnya. Tiba-tiba…aku melihat Henry terjatuh dari sepedanya dan semuanya berubah merah. Tubuh Henry bermandikan begitu banyak darah…” katanya mulai terisak pelan.

 

Kyuhyun memeluk Sungmin semakin erat dan mengecup kepalanya beberapa kali. “Itu hanya mimpi. Sekarang kita tidur lagi, ne?” Katanya.

 

Sungmin mengangguk pelan. Ia membaringkan tubuhnyakembali dan berbisik pada Kyuhyun yang memeluknya, “Jangan tinggalkan aku Kyu”

 

Kyuhyun tersenyum dan mengecup kening Sungmin dengan lembut. “Tidak akan pernah. Sekarang tidurlah kembali, ne? aku mencintaimu” katanya.

 

“Aku mencintaimu Kyu” Bisik Sungmin seraya memejamkan matanya perlahan.

 

Sungmin pun kembali terlelap. Tubuhnya sudah berhenti bergetar. Kyuhyun memandang wajah tidur Sungmin yang selalu ia sukai itu dengan sedih. Perlahan, tanpa Kyuhyun sadari, ia membiarkan kemarahannya atas kematian Henry terus tumbuh didalam dirinya. Membentuk sebuah tunas kecil dan mungkin akan terus tumbuh.

 

~+~+~+~

 

Sore itu Kyuhyun sedang mencari Sungmin dan kemudian menemukan pemuda manis itu berada didalam kamar putra kecil mereka. Kamar bernuansa biru ini masih tidak berubah, masih sama saat putra kecilnya masih menempati kamar ini dulu. Sungmin sedang duduk diranjang milik Henry dan memandang foto putra kecilnya dengan menangis perlahan, terisak tanpa suara. Kyuhyun berdiri diambang pintu memandang Sungmin dengan sedih.

 

Rasanya seperti ada sebuah luka menganga didalam hatinya. Kehilangan putra kecilnya Henry, dan melihat keadaan Sungmin yang terguncang seperti itu, juga kemarahan yang Kyuhyun biarkan terus tumbuh didalam dirinya. Semua itu membuat luka itu menganga semakin besar, seperti neraka dunia yang siap menghancurkan. Kyuhyun tidak bisa menerima semua itu.

 

Empat hari kemudian, ketika Kyuhyun sedang duduk minum kopi sambil membaca koran, ia terkejut membaca laporan utama mengenai kasus pembunuhan Henry. Koran itu mengatakan bahwa sang pembunuh telah berhasil tertangkap. Sang pembunuh yang ternyata adalah tetangga mereka sendiri, Kim Yesung, telah mengakui perbuatannya. Yesung mengatakan bahwa saat itu dia sedang berlatih menembak dihalaman rumahnya, tapi tembakannya meleset sasaran dan justru mengenai Henry yang saat itu sedang bermain didekat rumahnya. Yesung dianggap telah lalai hingga menghilangkan nyawa orang lain, dan dijatuhi hukuman lima tahun penjara.

 

Saat Kyuhyun sedang terkejut dengan berita di Koran itu, tiba-tiba Sungmin berlari dengan membawa remote tv. Sepertinya tv juga menyiarkan berita ini. “Pembunuhnya telah tertangkap, Kyu” Katanya.

 

Berita itu sedikit melegakan Sungmin, namun tidak sedikitpun menghibur bagi Kyuhyun. Kyuhyun melipat korannya dan terdiam. Bagi Kyuhyun, hal itu tidak cukup. Setiap kali melihat, mendengar ataupun membaca berita tentang kasus pembunuhan putra kecilnya, Kyuhyun benar-benar merasa bahwa saat itu mungkin saja ia membunuh seseorang. Jika Kyuhyun mempunyai senjata, mungkin ia betul-betul akan melakukannya. Tunas kecil dalam diri Kyuhyun semakin tumbuh besar, nafsu amarah yang sangat kuat untuk tidak berhenti membalas dendam atas kematian putra kecilnya.

 

~+~+~+~

Lebih dari dua setengah tahun kemudian, Yesung dinyatakan tidak bersalah dan dianggap melakukan pembunuhan tidak sengaja. Berita ini menuai berbagai reaksi dari masyarakat. Bagi Kyuhyun, berita ini dirasa sangat menyebalkan dan tidak adil. Dengan meminjam senapan milik Kangin, Kyuhyun pergi menemui Yesung dirumahnya. Ia menembak Yesung, sepenuhnya dengan suatu keinginan untuk membunuhnya.

 

Yesung terkejut dengan tembakan Kyuhyun dan berhasil menghindar. Tembakan Kyuhyun berikutnya berhasil melukai lengannya. Ia pun segera mencari senapan miliknya dan berusaha untuk melindungi diri. Mereka pun saling tembak di dalam rumah Yesung. Adegan tembak-tembakan itu terpaksa berakhir ketika polisi yang dipanggil oleh seorang warga datang.

 

Karena aksi tembak-tembakan itu Kyuhyun dan Yesung terluka. Mereka pun segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan. Sekarang kasusnya menjadi terbalik, Kyuhyun justru yang diajukan ke pengadilan atas percobaan pembunuhan. Kemungkinan akan mendapatkan hukuman penjara yang lama. Kembali kasus ini menjadi perhatian masyarakat, dan tentu sangat mengejutkan bagi Sungmin. Sekali lagi Sungmin harus berusaha berjuang untuk bertahan dalam semua tragedi ini.

 

Dua setengah bulan kemudian Kyuhyun dinyatakan tidak bersalah, mengherankan memang. Walaupun fakta menunjukkan bahwa Kyuhyun sengaja mencoba melenyapkan hidup Yesung, para juri merasa bahwa Yesung adalah seorang yang sangat menyebalkan, sehingga dengan suara bulat mereka membebaskan Kyuhyun.

 

Saat Kyuhyun keluar dari gedung penjara bersama Sungmin yang selalu setia bersamanya, mereka kembali disambut oleh puluhan kamera, blitz dan kumpulan wartawan yang sedikit memaksa. Seorang wartawan bertanya pada Kyuhyun, apakah menarik pelatuk dan menyaksikan seseorang terkapar dalam rasa sakitnya dapat membuatnya lebih enak?

 

“Tidak. Hanya dengan membunuhnyalah akan membuatku merasa lebih baik” Jawab Kyuhyun.

 

Wartawan itu beralih pada Sungmin dan bertanya mengenai perasaannya. Sungmin diam sejenak dan menjawab, “Aku tidak akan merasa bahagia jika Kyuhyun membunuhnya. Sebab itu berarti bukan akulah yang membunuhnya. Aku ingin menarik sendiri pelatuk itu. Aku ingin melihatnya mati, dan menjadi tahu bahwa akulah yang bertanggung jawab atas kematiannya itu, tapi…”

 

Sungmin berhenti sejenak dan memandang ‘suaminya’. Ia mendesah pelan. Seraya berusaha tersenyum Sungmin berkata,

“Aku telah kehilangan Henry, dan kami akan selalu merindukannya. Kematiannya sangat mengguncangku. Tetapi…selama beberapa bulan ini aku berpikir, aku sama sekali tidak mempunyai kehendak buruk menyangkut peristiwa ini. aku tidak ingin mendendam……karena hal ini tidak bisa mengembalikan putra kecilku Henry…tolong jangan menanyakan tentang tujuan……karena aku tidak memiliki jawabannya. Aku tahu bahwa sesungguhnya Tuhan pasti memiliki sebuah rencana. Jika aku tidak mempertimbangkan hal itu, mungkin saja aku sudah bunuh diri. Peristiwa itu merupakan bagian dari sebuah rencana Tuhan yang lebih besar…dan pasti kami akan bertemu lagi, di surga kelak.”

 

Semua orang, termasuk Kyuhyun tertegun mendengar perkataan Sungmin yang terdengar sangat tulus. Kyuhyun memandang Sungmin tidak percaya dan berpikir, semudah itukah dia memaafkan? Secepat itukah? Sungguh sebuah kemampuan memaafkan yang menakjubkan, huh…

 

~+~+~+~

 

Dalam hari-hari dan minggu-minggu berikutnya Sungmin berusaha keras untuk berbuat sesuai dengan perkataannya, berusaha untuk bertahan dalam masa-masa gelap ketika perasaan duka sedang menerpanya. Semua orang mengatakan bahwa pelaku pembunuhan harus dihukum dan dijebloskan ke dalam penjara. Sungmin setuju dengan hal itu. Meski demikian, Sungmin menolak untuk melakukan upaya balas dendam. Kemampuan memaafkan yang menakjubkan Sungmin dianggap keliru dan dicemooh oleh sebagian orang. Namun Sungmin tidak peduli.

 

Itu adalah sore yang tenang. Di depan makam putra kecil mereka, Kyuhyun dan Sungmin menghentikan kaki mereka. Sungmin berjongkok didepan nisan dan meletakkan sebuket bunga didepan nisan. Ia mengusap pelan nisan itu dan tersenyum kecil.

 

“Henry, putra kecil kami……” katanya.

 

Kyuhyun memandang Sungmin dengan penasaran. Ia penasaran dengan kemampuan memaafkan Sungmin yang menakjubkan. Kyuhyun tidak mengerti bagaimana Sungmin dapat melakukan hal itu, sementara ia sendiri masih merasa sulit mengatasi kemarahannya atas kematian Henry. Kyuhyun masih sulit untuk memaafkan. Tunas kecil itu kini telah berkembang menjadi sebuah pohon yang gersang.

 

Sungmin yang masih memandang nisan didepannya tiba-tiba berkata, “Kyu, apa sebenarnya arti memaafkan? Mereka membicarakanku karena perkataanku saat itu. Tapi mereka hanya tidak tahu, bagaimana aku berjuang dalam perasaan duka itu selama ini” Katanya.

 

“Aku tidak mengerti, bagaimana kau melakukan hal itu dengan mudahnya. Seharusnya Yesung mempertanggungjawabkan perbuatannya karena telah membunuh Henry” Kata Kyuhyun dengan nada tidak terima.

 

Sungmin menoleh dan berdiri memandang Kyuhyun. “yang sebenarnya, tidak semudah itu Kyu. Kau pun tahu bagaimana aku selalu menjerit setiap malam setelah kematian Henry. Itu tidak mudah Kyu” Katanya.

 

Kyuhyun terdiam. Yeah, ia sangat tahu itu. Hampir setiap malam Kyuhyun harus tersentak bangun karena jeritan Sungmin. Sungmin mendekati Kyuhyun. Ia menggenggam tangan Kyuhyun dengan lembut dan mengusapnya perlahan.

“Aku mengerti kemarahanmu Kyu. Aku pun juga terluka. Tetapi melakukan hal yang sama, dengan membunuh Yesung, itu tetap tidak akan mengembalikan Henry kita. Selain itu, aku pun tidak akan dapat menemukan kebebasan untuk terus melangkah. Memaafkan tidak berarti melupakan atau mengampuni kesalahan, tapi membuat keputusan sadar untuk berhenti membenci, karena kebencian sama sekali tak ada gunanya”

 

Kyuhyun tertegun. Ia terdiam, mencerna semua perkataan Sungmin. “Ayo pulang” Ajak Sungmin dengan tersenyum. Kyuhyun hanya mengangguk dan mereka pun beranjak pergi.

 

~+~+~+~

 

Sore itu, saat Kyuhyun dan Sungmin sedang menikmati sore mereka di taman kota, mereka bertemu dengan Yesung. Memandang wajah Yesung membuat amarah Kyuhyun seketika bergolak seperti empedu yang keluar dari perut. Kyuhyun mencoba menekan dorongan kuat itu dan menunggu dengan sabar untuk mendengar apapun yang akan dikatakan Yesung.

 

Yesung tampak sangat gugup. Tetapi tampaknya kegugupan itu lebih karena terdapat kebutuhan yang sangat untuk mengeluarkan sesuatu, kata-kata yang begitu ingin diungkapkannya selama ini. Ia menundukkan kepala begitu dalam dan suaranya terdengar sangat perlahan.

 

“Kyuhyun ssi, Sungmin ssi……aku dapat mengerti jika kalian tidak bisa memaafkanku. Tetapi aku telah lama sekali mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan hal ini. Maafkan aku. Aku tidak pernah bermaksud menghilangkan nyawa putra kalian Henry. Aku sungguh minta maaf,”

 

“Kyuhyun ssi, seandainya kau tidak mau menerima permintaan maafku, maka aku akan tetap berusaha. Jadi, apa pendapatmu Kyuhyun ssi?”

 

Kyuhyun terdiam cukup lama memandang Yesung, bertanya-tanya dalam hati, bagaimana ia bisa memaafkan orang ini? Kyuhyun menoleh saat Sungmin menggenggam tangannya. Sungmin hanya tersenyum. Kyuhyun menghela nafas sesaat dan kemudian memandang Yesung.

 

“Baiklah. Aku memaafkanmu Yesung ssi. Kami memaafkanmu” Katanya.

 

Yesung mengangkat kepalanya dengan gembira. “Terima kasih Kyuhyun ssi, Sungmin ssi. Aku mengatakannya dengan kesungguhan yang berasal dari dari lubuk hatiku yang paling dalam” Katanya.

 

Yesung mengulurkan tangannya lalu mulai menariknya kembali, seakan-akan tidak mau memaksakan keberuntungannya. Tangan kanan Sungmin menjangkau dengan cepat dan menjabat tangan Yesung dengan penuh keikhlasan. Saat giliran Kyuhyun menjabat tangan Yesung, ia merasakan betapa tangan Yesung menggenggam tangannya dengan erat. Mereka pun berpelukan singkat.

 

“Sampai jumpa lagi” kata Yesung kemudian ia beranjak pergi meninggalkan Kyuhyun dan Sungmin.

 

Kyuhyun mengerjap. Rasanya aneh. Kyuhyun merasakan jiwanya seakan melayang bebas, seolah beban berat yang selama ini menindih jiwanya telah terangkat. Kemarahan itu memudar. Pohon yang gersang itu kini telah tumbang. Pada akhirnya Kyuhyun bisa memaafkan. Akhirnya Kyuhyun terbebas dari beban kebencian.

 

Kyuhyun merangkul bahu Sungmin, sedangkan Sungmin memeluk pinggangnya. Mereka berdua sama-sama memandangi sosok Yesung yang menghilang di ujung jalan. Kyuhyun menoleh saat Sungmin mengecup pipinya dengan lembut.

“Kau sudah melakukannya. Memaafkan” Kata Sungmin.

“Aku melakukannya” Kata Kyuhyun.

 

Sungmin tersenyum. Memaafkan memang sulit. Tetapi seperti yang pernah dikatakan Sungmin, “segala sesuatunya sulit sebelum kau mempelajarinya. Setelah mempelajarinya, akan menjadi mudah”. Kyuhyun telah mempelajarinya. Ia bukan hanya telah memaafkan Yesung, melainkan juga telah memaafkan diri sendiri karena telah begitu haus balas dendam selama beberapa tahun ini.

 

Kyuhyun memandang langit dan tersenyum, seakan sinar matahari sore yang hangat telah merasuki sanubarinya. Kyuhyun menggenggam tangan Sungmin. Mereka berdua beranjak pergi menyusuri taman kota yang tenang.

 

~+~+~+~

 

“Eomma, memaafkan itu apa?”

 

“Itu adalah sebuah pintu perdamaian dan kebahagiaan. Pintu itu kecil, sempit, dan tidak dapat dimasuki tanpa membungkuk. Pemaafan juga sulit ditemukan. Tetapi, betapapun lama pencarian itu, pemaafan tetap dapat ditemukan”

FIN

9 thoughts on “Forgive

  1. woaah… ming bener2 berhati lapang(?)
    sanggup memaafkan sesuatu yg sulit di maafkan
    berkaca2 baca ini ff😥
    suka kata2 yg terakhir… setuju bgd

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s