Listen to the rain

Gambar

Pairing            : KangTeuk

Genre              : Fluff

Length            : One Shoot

Warning          : Boys love, shounen-ai

Disclaimer      : Story belong to me, KangTeuk belong to each other

Summary        : Ada cerita disaat hujan turun

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

Leeteuk sedang duduk dipinggir jendela kamarnya, memandang langit kelabu yang seakan sedang bersiap menumpahkan hujannya. Leeteuk memeluk tubuhnya seakan ia merasa dingin, memandang tangannya yang kosong dan mendesah.

“Teuki hyung ~”

 

Leeteuk menoleh memandang kamarnya yang kosong. Ia sendirian. Namun seolah Leeteuk masih bisa mendengar suara itu menggema ditelinganya. Suara yang selalu ia rindukan. Leeteuk mendesah pelan sekali lagi dan kembali memandang keluar jendela. Menanti hujan yang akan membawa sosok itu dalam kotak kenangan di kepalanya.

 

****

 

Leeteuk terduduk dengan lelah saat latihan selesai. Ia meminum  air mineral miliknya dengan haus dan mengusap keringat yang membasahi wajah malaikatnya. Ia memandang para personilnya. Heechul yang sedang sibuk dengan ponselnya, sibuk menyampaikan kerinduannya pada Hangeng yang berada di China, terdengar suara Heechul yang berbicara riang dengan gaya khasnya dan terkekeh senang. Meski tanpa kata – kata yang berarti, Sungmin duduk disisi Kyuhyun dengan tenang dan penuh perhatian pada magnae kesayangannya, sementara si magnae sibuk bermain dengan gamenya.

 

Pandangan Leeteuk beralih pada couple yang paling hiperaktif. Donghae asyik bercanda dengan Eunhyuk, suara dan tawa mereka seakan memenuhi ruangan latihan ini. Lalu, Yesung yang sedang memainkan rambut Ryeowook yang sedang tidur dipangkuannya, mereka sedang mengobrol dengan akrab. Semua sedang bersama dengan orang tersayang mereka, sementara Leeteuk sendirian disudut memandang mereka dengan iri. Orang tersayangnya sedang tidak ada disisinya saat ini. tidak bisa berada disisinya saat ini.

 

Leeteuk mendesah dan berdiri. Mengambil jaket yang tersampir di kursi, jaket milik Kangin yang selama ini selalu ia pakai. Membuat Leeteuk merasa seolah Kangin sedang bersamanya, selalu bersamanya. Leeteuk memakai jaket itu ditubuhnya dan beranjak pergi. Meninggalkan para personilnya yang masih sibuk dengan orang tersayang mereka.

 

****

Malam semakin larut. Leeteuk melangkahkan kakinya menyusuri kota Seoul yang tidak pernah terlelap. Ia tidak tahu mau kemana, ia hanya membiarkan kakinya terus melangkah. Kaki Leeteuk berhenti di halte bus. Leeteuk merapatkan jaketnya saat udara dingin terasa menggigit kulitnya yang putih. Udara lembab tercium saat angin bertiup, dan perlahan rintik mulai turun membasahi tanah. Rintik – rintik itu kian deras memaksa para pejalan untuk membuka payung mereka atau berlari mencari tempat berteduh.

 

Sebuah bus berhenti didepan Leeteuk. Pintunya terbuka perlahan. Leeteuk beranjak menaiki bus itu dan tersenyum sopan pada sang supir yang sedang tersenyum hangat padanya. Bus itu sepi, hanya beberapa penumpang yang mengisi kursi – kursi yang berjejer rapi sesuai dengan susunannya.

 

Leeteuk berjalan ke belakang dan menghempaskan tubuhnya dikursi belakang yang kosong. Perlahan bus itu kembali berjalan, membawa Leeteuk pergi entah kemana. Leeteuk tidak peduli, ia hanya ingin menelusuri malam. Seperti saat itu, saat ia dan Kangin selalu menelusuri malam seusai latihan, dan mereka akan naik bus paling pagi untuk kembali ke asrama. Atau saat ia dan Kangin pergi ke MyongDong, dan Kangin mengakui disiaran radionya dengan senang sebagai kencan yang benar – benar menyenangkan. Saat – saat bersama mereka.

 

Leeteuk menyenderkan kepalanya ke jendela dan memandang keluar. Memandang titik titik hujan yang membasahi kaca jendela. Menyambut sosok Kangin yang datang dalam balutan kerinduannya. Sosoknya yang ribut, sosoknya yang hangat. Bicaranya yang tidak bisa berhenti setiap kali mulutnya terbuka. Kangin yang ia rindukan. Leeteuk tersenyum kecil.

 

Leeteuk tidak keberatan saat Kangin menghubunginya ditengah malam meminta dijemput karena uangnya telah habis untuk minum – minum. Ia akan segera melesat pergi, membayar semua botol – botol yang telah ditengak Kangin, dan membawa pulang Kangin yang telah mabuk. Leeteuk juga tidak peduli saat Kangin menyiksanya dengan kejahilan – kejahilannya, atau saat Kangin mempermalukannya dengan membocorkan aibnya didepan public.

 

Namun saat Leeteuk merasa sedang tidak baik, Kangin akan membawanya ke tempat lain yang lebih tenang, hanya mereka berdua dan Kangin akan berada disisinya. Saat para personilnya segera melarikan diri usai makan malam tanpa merapikan meja dan membiarkan piring kotor menumpuk ditempat cucian, Leeteuk yang akan membereskan semuanya dan Kangin akan langsung ikut membantunya. Atau saat Leeteuk mengalami kecelakaan dan mengharuskannya menggunakan kursi roda, Kangin adalah pengunjung setianya, membantu mendorong kursi rodanya dan mengajaknya berkeliling rumah sakit. Saat Kangin dan managernya menjemputnya untuk siaran setelah Leeteuk diijinkan untuk kembali menjalankan aktivitasnya, ia menemukan Kangin yang melompat turun dari mobil dan berlari memeluknya dengan sangat erat.

 

Atau ketika Leeteuk sakit, dengan wajah cemas Kangin akan segera ke apotik dan juga membeli permen untuknya karena Kangin tahu ia tidak suka rasa dari obat yang pahit. Atau saat Kangin satu – satunya yang bersedia mengajarinya mengemudi mobil, sementara yang lain takut saat Leeteuk mulai menyentuh mobil, mereka sangat tahu Leeteuk adalah pengemudi yang buruk.

 

Dan saat Kangin marah padanya karena merasa ia terlalu memaksakan diri, kemudian dengan lembut Kangin akan memeluknya dan berkata “kau tidak perlu cemas lagi. Tidak apa – apa”. Dan Leeteuk akan tersenyum. Saat Kangin melakukan kesalahan, Leeteuk akan memaafkannya meski sedikit kecewa. Saat akhirnya Kangin memutuskan untuk pergi wamil lebih cepat, Leeteuk menerimanya dengan sedih. Saat mengantar Kangin sebelum Kangin memakai seragamnya, Leeteuk menangis dan segera merindukannya meski baru beberapa hari Kangin tidak berada disisinya.

 

Leeteuk mendesah pelan dan menarik jaket Kangin yang membalut tubuhnya dengan erat, seperti Kangin yang biasa memeluknya dengan hangat. Leeteuk memejamkan matanya. Diluar hujan kian deras merayu bumi yang perlahan mengigil. Mengiringi kisah tentang kerinduan yang seakan tidak pernah habis.

 

Hyung, biarkan aku melindungimu dengan segenap hidupku”

****

Sebagai leader, Leeteuk bertanggung jawab pada seluruh personilnya. Berdiri paling depan sebagai pelindung bagi para dongsaengnya. Meski Leeteuk adalah orang nomor satu dalam grupnya. Terkadang Leeteuk berpikir ia bukanlah nomor satu, ia hanyalah nomor dua. Tidak, mungkin nomor ke sekian.

 

Ia kalah populer jika dibandingkan dengan Heechul. Suaranya yang standard, jika dibandingkan dengan Yesung, Ryeowook dan Kyuhyun. Ia bukanlah penari yang hebat seperti Eunhyuk. Ia juga tidak sesempurna Siwon. Dan tidak multitalent seperti Sungmin. Standard dan tidak terlihat, begitu menurut Leeteuk.

 

Awalnya Leeteuk tidak peduli. Leeteuk tahu, ia tidak bisa memiliki segalanya sekaligus. Ia bisa bersabar dan mungkin perlahan Leeteuk bisa mengejar ketertinggalannya. Namun saat seluruh member yang lain menjadi lebih terkenal, mendapatkan lebih banyak fans, dan menunjukkan perkembangan mereka dalam lagu dan tarian hasil latihan keras mereka. Leeteuk masih mengingatkan dirinya akan hal yang sama, menghibur dirinya untuk lebih bersabar lagi.

 

Tidak ada yang salah dengan sang leader. Ia tersenyum dan tertawa, bercanda dan melakukan aktivitasnya bersama member yang lain. Leeteuk masih mencemaskan para dongsaengnya, dan masih memaksakan diri. Sang leader baik – baik saja, setidaknya itu yang terlihat dari luar.

 

Tapi perlahan sang leader mulai tenggelam dalam depresinya. Terkadang ia berpikir untuk menyerah. Namun saat sang leader mulai lemah, Kangin adalah orang pertama yang menyadarinya. Kangin akan menggenggam tangannya dengan lembut dan bertanya dengan wajah cemas, “Ada apa hyung?”. Dan Leeteuk akan tersenyum. Ia tahu, Kangin selalu berada disisinya. Itu sudah cukup membuatnya kembali bersemangat.

 

Namun saat Leeteuk memandang pantulan dirinya dicermin pagi ini, ia sadar. Ia sendirian, Kangin tidak ada disisinya lagi. Ia sendirian bersama kerinduannya yang terus mengalir. Jika seperti itu, Leeteuk akan duduk dipinggir jendela dengan tenang. Memandang titik – titik hujan yang membasahi kaca jendela. Meraba kembali jejak Kangin yang tertinggal didalam kepalanya. Membiarkan suara itu kembali menggema didalam kepalanya.

 

“Kau berharga hyung, kau sangat berharga untukku…”

****

Hari masih terus berjalan dengan seluruh jadwal yang menyesakkan dada dan latihan yang seakan tidak pernah cukup. sang leader masih memaksakan diri, dan akhirnya sang leader mencapai batasnya. Hari itu super junior sedang berlatih untuk persiapan konser mereka. Terdengar suara musik yang menghentak studio latihan. Para personil berlatih dengan serius. Namun ditengah latihan, tiba – tiba Leeteuk merasa sangat pusing dan sekelilingnya seakan berputar. Untuk sesaat Leeteuk khawatir ia akan pingsan.

 

Leeteuk melupakan gerakan – gerakan yang sudah ia hafal, dan ia mulai sedikit limbung. Pandangannya memudar dan ia hampir pingsan. Donghae memegang tubuh Leeteuk yang hampir limbung, dan seluruh personil memandang leader mereka dengan cemas.

“Teuki hyung, kau baik – baik saja?” tanya Eunhyuk cemas.

 

Leeteuk menggelengkan kepalanya.

“Aku baik – baik saja Hyukie” jawab Leeteuk mencoba tersenyum.

“Mungkin sebaiknya kita istirahat dulu. Kelihatannya Teuki hyung kelelahan” kata Sungmin.

“Araseo, kita istirahat” kata Eunhyuk setuju.

 

Suara musik berhenti. Latihan berhenti sejenak untuk mengatur nafas mereka yang lelah dan meminum air mineral mereka dengan haus. Leeteuk duduk dilantai, bersyukur akhirnya ia bisa beristirahat sejenak. Ryeowook mendekati Leeteuk dan memandangnya dengan cemas.

“Hyung yakin?” tanya Ryeowook.

“Mwo?” kata Leeteuk.

“Hyung terlihat pucat” kata Ryeowook.

“Aku baik – baik saja Wookie, hanya lelah” kata Leeteuk tersenyum menenangkan.

 

Ryeowook masih memandang Leeteuk dengan cemas.

“Araseo, katakan jika kau butuh sesuatu hyung” kata Ryeowook akhirnya.

 

Leeteuk menganggukkan kepalanya. Ryeowook tersenyum dan beranjak mendekati Yesung, sementara leeteuk menyenderkan tubuhnya di dinding saat ia kembali merasa sangat pusing. Leeteuk mendesah pelan dan mengutuk dirinya, seharusnya ia yang mencemaskan para personilnya, bukan sebaliknya.

 

‘Ayolah Jung Soo, ini semua bukan tentangmu’ pikirnya marah pada dirinya sendiri.

 

Leeteuk mencoba untuk berdiri dan menjernihkan pandangannya yang kembali memudar. Berpikir, jika saja Kangin ada disini. Jika saja Kangin ada disisinya saat ini. Jika saja……

 

Namun tiba – tiba sekelilingnya memudar dan menghilang. Tubuhnya limbung kembali. Saat Leeteuk hampir menyentuh lantai yang dingin, sepasang tangan menangkapnya dengan sigap. Sepasang tangan yang besar dan hangat.

 

Suasana berubah ramai dan tegang. Seluruh personil sangat terkejut melihat leader mereka yang tidak bergerak. “Omo! Teuki hyung!” kata Ryeowook terkejut.

 

Pria yang memiliki sepasang tangan yang besar dan hangat itu memandang Leeteuk dengan cemas. Nafas Leeteuk sangat lemah. Dan ketika pria itu merasakan denyut nadi Leeteuk, ia tersentak karena tidak merasakan apapun. Leeteuk tidak memiliki denyut nadi, atau mungkin denyut itu semakin lemah hingga tidak terasa. Pria itu semakin cemas dan membawa tubuh sang leader dalam lengannya.

 

“Seseorang hubungi 911!” teriaknya. “sekarang!”

 

Ditengah ketidaksadarannya, Leeteuk merasakan sesuatu. Rasanya ia mengenali suara itu. Rasanya ia mengenali sepasang tangan ini. Sangat mengenalinya. Mungkinkah ini……Kangin?

 

****

Saat Leeteuk membuka matanya perlahan, ia tersadar sedang berada diranjang rumah sakit. Sekeliling kamar yang berwarna putih, sebuah tv disisi kiri lengannya, infuse yang menusuk lengan kirinya, dan ia mendengar suara lemah beep dari monitor yang menunjukkan kondisi detak jantungnya.

 

Awalnya pandangannya tidak terlalu jelas, namun saat otaknya perlahan terbangun dan pandangannya mulai jelas, ia mampu untuk mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Menyadari pandangan para dongsaengnya yang sedang berkumpul disekitarnya, memandangnya dengan lega bercampur cemas.

 

“Teuki hyung!” kata mereka.

“Kau sudah sadar” kata Eunhyuk.

“Kami sangat cemas” kata Donghae.

“Kami sangat terkejut. Kau baik–baik saja hyung?” tanya Ryeowook.

“Syukurlah Teuki hyung sudah sadar” kata Sungmin menghela nafas lega.

 

Siwon mendesah lega dan menangkupkan kedua tangannya bersama.

“Syukurlah, doa kami terkabul” kata Siwon.

 

Leeteuk mengerjapkan matanya dengan bingung dan beranjak duduk dengan dibantu oleh Ryeowook. “A-apa yang terjadi?” tanya Leeteuk.

 

Hening. Rasanya sangat tidak nyaman. Keheningan itu terpecah saat pintu terbuka. Seorang pria melangkah masuk. Seragam khusus wamil yang berwarna hijau lumut membalut tubuh besarnya. Rambutnya yang habis dipangkas tertutup dengan topi berwarna hitam. Wajahnya yang bulat terlihat sangat cemas memandang Leeteuk.

 

Leeteuk terbelalak memandang sosok itu. Ia mengenalinya, sangat mengenalinya.

“Ka-Kangin…?” gumam Leeteuk terkejut.

 

Kangin melangkah ke sisi ranjang dan masih memandang Leeteuk dengan cemas.

“Keluar” kata Kangin pada member yang lain. “Aku harus bicara dengan Teuki hyung……sendirian”

 

Para personil saling pandang sesaat kemudian segera beranjak keluar, meninggalkan Leeteuk dan Kangin berdua. Leeteuk memandang dengan bingung para dongsaengnya yang satu–persatu beranjak pergi, kemudian memandang Kangin.

Tidak ada yang bersuara selama beberapa menit. Hanya suara tetesan cairan infuse yang meluncur turun, dan suara beep dari layar monitor jantung yang seakan menggema diruangan ini. Kangin masih memandang Leeteuk tanpa suara. Dan Leeteuk masih terkejut memandang Kangin.

 

Sosok bertubuh besar yang kini berdiri disisinya, memandangnya dengan cemas. Kangin terlihat semakin gemuk, namun seragam khusus wamil yang membalut tubuh besarnya membuatnya terlihat gagah. Sosok itu, sosok yang selalu ia rindukan di kala hujan turun. Sosok yang ia rindukan setiap saat.

 

Rasanya begitu banyak kata – kata yang ingin meloncat keluar dari balik lidahnya yang terasa kelu. Begitu banyak pertanyaan yang tersusun di dalam kepalanya. Begitu deras kerinduan yang seketika memenuhinya. Namun Leeteuk hanya terdiam.

 

Leeteuk mulai gelisah. Keheningan ini terasa tidak nyaman.

“Erm…kenapa kau disini Kangin?” tanya Leeteuk memecah keheningan diantara mereka.

“Aku mendapat libur hari ini, jadi aku mengunjungi kalian. Tapi…aku mendapatkanmu pingsan, kondisimu sangat mencemaskan hyung” jawab Kangin.

 

“Apa yang lain baik–baik saja?” tanya Leeteuk cemas.

 

Tiba–tiba raut wajah Kangin berubah marah. Ia meraih bahu Leeteuk dan mencengkramnya dengan erat. Ia memandang Leeteuk dengan garang.

“Hentikan hyung” kata Kangin merengut kesal.

“Ka-Kangin…” kata Leeteuk terkejut.

“Berhentilah mencemaskan orang lain. Berhentilah terlalu memperhatikan dan perhatikan dirimu sendiri. Kau hampir mati hyung!” seru Kangin.

 

Leeteuk mengerjap memandang Kangin. Dapat ia rasakan detak jantungnya yang berdetak tidak teratur. “A-apa…?” kata Leeteuk.

 

“Kau hampir mati! Apa kau tahu itu?!” Kangin mulai mengomel

“Dokter mengatakan kondisimu tidak bagus. Pola makanmu buruk, kau dehidrasi, kudengar dari Hyukie kau kurang tidur akhir – akhir ini, karena itu tidak heran kau pingsan di studio! Denyut nadimu lemah dan kondisimu tidak stabil dan……mereka pikir kau tidak akan selamat!”

 

Kangin melepaskan cengkramannya. Pandangannya perlahan melembut. Leeteuk menundukkan kepalanya. “Maaf…” gumam Leeteuk pelan.

 

Kangin mendesah sesaat.

“Kenapa kau selalu seperti ini hyung? Selalu saja mencemaskan orang lain dan tidak pernah memikirkan dirimu sendiri. Bagaimana bisa aku menjalankan kewajibanku, sementara kau disini membuatku cemas?” kata Kangin.

 

Leeteuk mengangkat kepalanya, memandang cairan bening yang mengalir disudut mata Kangin. Leeteuk mengulurkan tangan kanannya, menghapus air mata itu dengan pandangan menyesal.

“Jangan,” kata Leeteuk “Jangan menangis karena aku. Jangan mencemaskan aku. Seharusnya aku yang mencemaskanmu.”

 

Kangin menggeleng pelan.

“Tidak. Kau salah” kata Kangin lirih.

 

Kangin mendekati wajah Leeteuk, menempelkan keningnya di kening Leeteuk. Ia memandang Leeteuk dengan dalam, sementara Leeteuk kembali gelisah karena pandangan itu sangat dekat. Ia dapat merasakan nafas kangin yang hangat menggelitik wajah malaikatnya.

“Aku tidak ingin kau mencemaskan kami lagi hyung. Tidak aku atau member lain atau siapapun. Aku ingin kau mencemaskan dirimu dan hanya dirimu. Tolong jangan membuatku cemas lagi” kata Kangin lembut.

 

Leeteuk terpana. Pandangan itu, kata–kata itu seakan menyihirnya. Ia terkejut menyadari, disini ia selalu bermain dengan kerinduannya pada Kangin. Dan Kangin, masih tetap mencemaskannya. Ia tidak berubah.

“Maaf…” kata Leeteuk pelan.

 

“Tidak. Jangan meminta maaf hyung. Semua akan baik–baik saja” kata Kangin.

 

Leeteuk mulai menangis pelan. Kangin tersenyum, mengecup kening Leeteuk dan memeluknya dengan erat. Beberapa menit kemudian Kangin melepaskan pelukannya.

“Sudah lebih baik?” tanya Kangin.

 

Leeteuk merengut kecewa memandang Kangin.

“Peluk aku lagi Kangin” pinta Leeteuk.

“Sebentar lagi aku harus kembali” kata Kangin menggelengkan kepalanya.

“Ayolah Kangin, 5 menit lagi” pinta Leeteuk.

 

Kangin memandang jam tangannya sesaat.

“5 menit” kata Kangin.

 

Kemudian kembali memeluk Leeteuk lebih erat, dan menghitung mundur waktunya.

“300, 299, 298, 297, 296, 295……”

 

Leeteuk tertawa kecil dalam pelukan Kangin yang hangat, pelukan yang selalu ia rindukan.

“……208, 207, 206, 205……” Kangin masih menghitung.

“Kenapa kau masih memakai seragammu?” tanya Leeteuk.

“Hanya ingin menunjukkannya padamu. Aku terlihat gagah bukan,” jawab Kangin tersenyum bangga. “Aissh, hyung mengacaukan hitunganku.” gerutu Kangin.

 

Leeteuk kembali tertawa dan menyenderkan kepalanya dengan nyaman di dada Kangin.

“Aku merindukanmu Kangin” kata Leeteuk.

“Hyung, kau mengacaukan hitunganku lagi” gerutu Kangin.

“Maaf…” kata Leeteuk tertawa.

 

Kangin tersenyum dan kembali menghitung. Leeteuk tersenyum dan ikut menghitung bersama Kangin. Ia senang, orang tersayangnya berada disisinya kembali. Meski hanya 5 menit, tapi itu cukup bagi Leeteuk untuk mengetahui, Kangin masih ada untuknya. Kangin selalu ada untuknya. Diluar hujan sedang membasahi kota, mengakhiri kisah tentang kerinduan yang tersampaikan.

 

Hujan, ijinkan aku merindukannya lebih lama lagi. Inilah kisahku. Tentangnya dan kerinduanku – Leeteuk

Fin

4 thoughts on “Listen to the rain

  1. Akhir2 ini aku jarang menemukan fanfic Kangteuk, n yg satu ini buat aku terharu..
    Leader yg selalu memperhatikan member2 grupnya, & kdg2 sampai nggak memperhatikan dirinya sendiri..
    N Kangin selalu memperhatikan Teuk oppa..
    Leader Teuk is the best❤

  2. wah, ada kangteuk juga disini. aku rindu kangteuk (┯_┯) kok ya sedih banget. tp bahagia akhirnya.
    aku rindu Leadernim akhir akhir ini😦
    ff ini sedikit mengobati, good job kecil eon ^0^9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s