Know your name

Gambar

Pairing          : KyuMin

Genre            : fluff

Length           : Drabble

Song              : Jay Park – Know your name

Warning         : Boys love, shounen-ai, slut!Min, Kyuhyun centric

Disclaimer     : Story belong to me, KyuMin belong to each other

Summary       : What I want isn’t your number. I just wanna know your name……

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

Malam yang mulai larut. Kota Seoul dengan segala geliat aktivitasnya yang tidak pernah tertidur. Kehidupan malam di kota metropolitan. Hiruk pikuk club dan gairah anak-anak muda seolah mengalir deras di tempat ini. Dentuman musik yang menggoda dan orang-orang yang asyik menggoyangkan tubuh mereka seolah waktu tidak ada artinya disini. Kyuhyun menari dan mencoba menikmati malam. Namun tiba-tiba ia berhenti menari, seolah hal itu sudah tidak menarik lagi baginya. Kyuhyun masih saja tidak bisa mengalihkan pandangannya pada orang itu.

 

Can’t take my eyes off a beautiful stranger

 

Rasanya tiba-tiba club ini terasa kosong saat Kyuhyun melihat pemuda manis itu. Seolah dibawah kilatan lampu-lampu, Kyuhyun tidak melihat orang lain selain dia. Hanya ada dirinya dan pemuda manis itu. Siapa yang dapat mengingkari sosok indah itu? Ada sesuatu, entah apa, yang membuat Kyuhyun tertarik dengan sosok indah itu. Mungkin, lebih dari sekedar tertarik.

 

Is this love? At the first sigh?

 

 

Rasanya Kyuhyun ingin mengenal pemuda berwajah manis itu, mengajaknya mengobrol, mengajaknya menari, dan menghabiskan malam bersamanya. Bahkan jika malam telah berakhir, Kyuhyun ingin tetap bersamanya. Untuk pertama kalinya Kyuhyun merasa begitu menginginkan sesuatu, seolah ia akan menjadi gila jika tidak berhasil mendapatkannya. Ia adalah seorang Cho Kyuhyun yang memiliki segalanya. Yeah, segalanya.

 

Everything but you

 

Kyuhyun masih memandang pemuda manis itu, menunggu apakah sosok sempurna itu menyadari tatapan penuh penasaran darinya. Dan rupanya pemuda manis itu menyadarinya, karena baru saja dia tersenyum pada Kyuhyun. Seulas senyum yang sangat manis dan, damn, itu sungguh menggoda.  Sesuatu dalam kepala Kyuhyun pun memerintahkannya untuk mendekatinya.

 

Pemuda manis itu masih asyik menikmati minumannya di meja bar, kepalanya bergoyang pelan mengikuti irama musik yang menghentak. Kepalanya berhenti bergoyang saat Kyuhyun berdiri disampingnya. Ia menoleh dan memandang Kyuhyun.

 

“Hai, erm……” sapanya tersenyum, sedikit mengernyit.

“Kyuhyun” Kyuhyun menyebutkan namanya.

 

Pemuda manis itu tersenyum sekali lagi dan menyesap minumannya. Kyuhyun mencoba mengajaknya bicara. Semua berjalan lancar, perlahan jarak mereka semakin dekat. Namun saat Kyuhyun mencoba bertanya tentang namanya, pemuda manis itu hanya tersenyum simpul.

 

“Bagaimana aku tahu kau berbeda dengan mereka, pria-pria maupun wanita-wanita itu yang mendekatiku hanya untuk sebuah nomor ponsel dan kemudian meninggalkanku begitu saja? Aku datang ke tempat ini untuk menari dan menikmati malam” Katanya.

 

Kyuhyun tersenyum dan mendekati wajah manis itu.

Don’t worry, I’m just a guy who wants to get to know you. I’m different than others. What I want isn’t your number, I just wanna know your name” katanya.

 

Pemuda manis itu hanya diam memandang Kyuhyun, seolah mencari sesuatu dalam wajah tampan itu. Dan mata hitam itu sedang menatapnya saat ini. Hanya ada dirinya dalam mata hitam itu. Kyuhyun mendekati telinganya dan berbisik,

 

“Kau tahu? You are so beautiful. I will show you my true heart, just give me a chance. I won’t ask you out, I just wanna know your name

 

Pemuda manis itu masih diam memandang Kyuhyun, seolah tidak percaya. Kyuhyun kembali berbisik,

“I ain’t playing no games. I just want to get to know you more. I have interest in you. I want you so bad, I’m about to go crazy. But first, I will hold it in right now. There ain’t no need to go, I wanna take it slow

 

Kyuhyun memandang pemuda manis itu dengan penasaran, karena dia hanya diam sejak tadi. Kemudian pemuda manis itu tersenyum dan mendekati wajah Kyuhyun. Jari telunjuknya menelusuri bibir Kyuhyun dengan sedikit seduktif.

 

Just meet on the floor, and give me a show”  Katanya dan kemudian beranjak pergi.

 

Pemuda manis itu berhenti sesaat dan menoleh. Ia tersenyum pada Kyuhyun, seolah meminta pemuda tampan itu untuk mengikutnya. Kemudian pemuda manis itu berbaur dalam keramaian orang-orang yang asyik menari. Kyuhyun tersenyum dan kemudian beranjak mengikutinya. Kyuhyun menyeruak keramaian dan mengedarkan pandangannya. Hingga akhirnya pandangannya terhenti pada sosok indah yang sedang menari sendiri ditengah keramaian. Pemuda manis itu tersenyum pada Kyuhyun. Sungguh! Senyum itu begitu menggoda!

 

Kyuhyun kembali tersenyum dan segera mendekatinya. Pemuda manis itu membiarkan saat kedua tangan Kyuhyun melingkar dipinggangnya. Ia hanya tersenyum sementara kedua tangannya berada dileher Kyuhyun. Mereka mulai menari bersama, berpadu bersama irama musik yang menghentak malam. Seiring malam yang kian larut, irama musik pun semakin menghentak liar.

 

Mereka masih asyik menari bersama. Kyuhyun memandang sosok manis yang sedang menari bersamanya. Ia merasa tidak dapat bertahan lagi ketika memandang bibir yang sejak tadi mengulum senyum yang begitu menggoda. Pemuda manis itu tersenyum pada Kyuhyun seolah mengerti. Ia membiarkan Kyuhyun menghapus jarak diantara mereka ketika akhirnya pemuda tampan itu menciumnya dengan lembut namun penuh gairah. Sejenak mereka saling memejamkan mata untuk menikmati ciuman itu.

 

Saat ciuman itu berakhir pemuda manis itu tersenyum. Ia nampak senang. Kyuhyun mengerjap saat suara halus pemuda manis itu berbisik lembut ditelinganya,

“Sungmin, Lee Sungmin. Itu namaku”

 

Kyuhyun tersenyum mendengarnya. Dan kemudian pemuda manis bernama Sungmin itu beranjak pergi, menghilang diantara keramaian. Kyuhyun masih berdiri ditempatnya, kemudian ia tersentak seolah tersadar. Ia mengedarkan pandangannya dan menyeruak keramaian, hingga akhirnya Kyuhyun melihat Sungmin yang beranjak pergi menuju pintu keluar.

 

Dia akan pergi!

 

Segera Kyuhyun mengejarnya, namun sosok Sungmin sudah menghilang dibalik pintu. Tidak ingin menyerah, Kyuhyun pun beranjak keluar. Sesuatu dalam kepalanya mengatakan untuk mengejarnya. Suara dentuman musik seolah tenggelam dibalik pintu yang Kyuhyun tinggalkan. Kyuhyun berjalan menyusuri lorong hingga akhirnya ia melihat Sungmin yang berdiri didepan lift. Perlahan pintu lift terbuka dan Sungmin pun melangkah masuk. Sosoknya menghilang dibalik pintu lift yang tertutup perlahan.

 

Tunggu!

 

Kyuhyun menahan pintu lift, tepat saat pintu lift nyaris tertutup rapat. Pintu lift itu kembali terbuka dan menampilkan sosok Sungmin yang berdiri sendirian didalamnya. Sungmin nampak sedikit terkejut dengan kehadiran Kyuhyun, namun kemudian ia tersenyum.

 

“Bukankah kau sudah tahu namaku? Itu ‘kan yang sangat ingin kau ketahui sejak tadi?” Tanyanya.

 

Kyuhyun tersenyum, masih menahan pintu lift dengan tangannya yang panjang. Saat ia membuka mulutnya hendak bicara, ponsel dalam sakunya bergetar keras. Kyuhyun mendesah sesaat, merasa terganggu. Kemudian ia merogoh sakunya dengan tangan satunya. Ia memandang layar ponselnya yang terus bergetar dan mengernyit membaca ID caller yang tertera dilayar yang berkedip.

 

Seohyun calling

 

Your girl?” Tanya Sungmin tiba-tiba.

“Heum…yeah, tapi aku tidak mengharapkan telepon ini” katanya seraya menekan tombol reject pada ponsel.

 

“Kenapa? Kalian sedang bertengkar?” Tanya Sungmin lagi. Ada nada ingin tahu dalam suaranya.

 

Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada Sungmin dan mendengus pelan.

“Tidak. Hanya…dia selalu menghubungiku untuk hal-hal yang tidak penting. Membuang waktuku saja” Katanya.

 

Sungmin terkekeh kecil.

“Jadi, apa yang mau kau lakukan malam ini?” Tanyanya.

Let’s do it however you want. I want to get know you more” Jawab Kyuhyun.

 

Kembali Sungmin terkekeh kecil dan tersenyum.

So, text your girl and tell her you ain’t coming home.” Katanya.

I’ll do it.” Kata Kyuhyun tersenyum.

 

Sungmin menarik Kyuhyun masuk ke dalam lift. Ia kembali tersenyum. Sungguh! Senyum itu begitu menggoda, membuat Kyuhyun tidak tahan untuk tidak mengecupnya. Kyuhyun merapatkan tubuhnya pada Sungmin, membuat pemuda manis itu terpojok disudut lift. Sungmin hanya tersenyum dan membiarkan Kyuhyun menciumnya dengan lembut namun penuh gairah. Terasa sangat menyenangkan. Perlahan pintu lift kembali tertutup rapat, membiarkan mereka mengekspresikan perasaan masing-masing dalam ciuman yang perlahan kian memanas, tanpa terlihat siapapun.

 

Fin

Iklan

Married ?

Gambar

Pairing          : KyuMin

Genre            : Fluff

Legth             : Drabble

Warning         : Boys love, shounen-ai

Disclaimer     : Story belong to me, KyuMin belong to their self

Summary        : “Aku ingin menikah, ketika kau sudah siap…”

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

Itu adalah hari yang tenang diawal musim semi. Kelopak-kelopak sakura menari bersama semilir angin yang meniupnya kesana-kemari. Angin yang hangat. Sungmin duduk bersandar dibawah pohon sakura yang rindang, pohon yang membiarkan sang sakura terlepas dari tangkainya karena rayuan dari angin musim semi. Sungguh, hari yang indah.

 

Sungmin sedang membaca novel dengan wajah serius, seolah ia larut dalam cerita yang ditulis dalam buku yang cukup tebal itu. Sesekali tangannya membelai lembut kepala Kyuhyun yang berbaring dipangkuannya. Earphone menyumpal kedua telinga Kyuhyun dan matanya terpejam. Sungmin mengangkat pandangannya dari novel yang sudah ia baca selama hampir satu jam itu. Ia sedikit mendongak, memandang keindahan sakura diatasnya. Bergoyang pelan dan lembut, ke kanan dan kiri.

 

Sungmin terdiam menikmati pemandangan indah itu. Musim semi. Kata orang, musim semi adalah musim bercinta. Banyak orang yang memulai kisah mereka dimusim yang indah ini, atau para pasangan yang menautkan kisah mereka dalam janji yang terikrar selamanya. Hampir semua teman dan sahabatnya telah menikah. Namun Sungmin masih saja setia dalam kesendiriannya, bersama Kyuhyun yang selalu menemaninya.

 

Sungmin mengalihkan pandangannya pada Kyuhyun yang berbaring dipangkuannya. Ia menutup bukunya dan meletakkannya disampingnya, kemudian ia membelai wajah Kyuhyun dengan lembut. Pemuda tampan itu masih memejamkan matanya, seolah ia sedang tidur. Sungmin memandang wajah tampan itu lekat-lekat. Tiba-tiba ia merasa penasaran.

 

Kyuhyun membuka matanya saat tangan Sungmin berhenti membelai wajahnya. Rupanya pemuda tampan ini tidak benar-benar tidur. Kyuhyun mengerjap menatap Sungmin yang masih terdiam memandangnya.

 

“Ada apa hyung? Kau terlihat seperti sedang berpikir” tanya Kyuhyun.

 

“Yeah, aku hanya berpikir. Mereka semua telah mendapatkan kebahagiaan mereka. Kangin hyung dengan Teuki hyung, Hangeng hyung dengan Heechul hyung, Donghae dengan Eunhyuk. Minggu depan Yesung hyung dan Ryeowook akan mengikuti jejak mereka” jawab Sungmin.

 

“Lalu?” Kyuhyun sedikit mengernyit tidak mengerti.

“Tidakkah kau ingin menikah juga Kyu? Seperti mereka…”

 

Kyuhyun terdiam sesaat memandang Sungmin.

“Yeah, tentu. Kelak, aku pasti akan menikah”

 

Sungmin mengerjap memandang Kyuhyun. Rasa penasaran itu, entah kenapa semakin membuncah. “Kyu, boleh aku bertanya?”

 

Seraya memainkan jemari Sungmin, Kyuhyun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

“Aku hanya sedikit penasaran. Bagaimana caramu memilih pasanganmu?” tanya Sungmin.

 

Kyuhyun berhenti memainkan jemari Sungmin dan memandangnya.

“Apa kau memilih yang cantik tidak? Atau yang baik? Atau yang karakternya kuat?”

 

Bukannya menjawab, Kyuhyun justru terkekeh kecil. Ia beranjak duduk dan tersenyum memandang Sungmin. Pemuda manis itu terlihat sangat penasaran. Kyuhyun terdiam sesaat. Ia menepuk pelan kepala Sungmin dan menjawab,

 

“Aku pilih…orang yang ingin kubahagiakan, yang kurasa benar-benar ingin kubahagiakan”

 

Sungmin tertegun mendengar jawaban Kyuhyun. Ia mengerjap memandang pemuda tampan itu. Orang yang benar-benar ingin dia bahagiakan? Sungmin berpikir, siapapun orang yang dipilih Kyuhyun nanti…orang itu, pasti sangat beruntung. Tanpa sadar Sungmin mendesah pelan.

 

“Lalu, apa kau  sudah membuat rencana? Kapan kau ingin menikah?” tanya Sungmin dengan tersenyum.

 

Kyuhyun tidak menjawab. Ia mendekati wajah Sungmin. Mata obsidiannya menelusuri setiap jengkal dari wajah manis itu, memandangnya lekat-lekat. Sungmin terkejut saat tiba-tiba Kyuhyun menciumnya. Sungmin tidak bisa berpikir, semua terjadi begitu cepat.

 

“Aku ingin menikah……ketika kau sudah siap” kata Kyuhyun dengan tersenyum.

 

Sungmin mengerjap tidak mengerti memandang Kyuhyun.

“Hah? Maksudmu?” tanyanya.

 

Kyuhyun kembali tersenyum. Ia membelai kepala Sungmin dengan lembut dan berkata,

“Aku ingin menikah denganmu Lee Sungmin,”

 

Sungmin tertegun mendengarnya. Ia sedikit menunduk dan menggigit bawah bibirnya dengan malu. Namun Sungmin juga merasa bahagia. Kyuhyun tersenyum. Sungmin mengangkat kepalanya saat Kyuhyun menariknya ke dalam pelukannya yang hangat.

 

“Jadi, beritahu aku jika kau sudah siap, ne hyung?” kata Kyuhyun.

 

Sungmin menyenderkan kepalanya dengan nyaman di dada Kyuhyun. Semilir angin bertiup pelan, merayu sang sakura untuk menari bersama. Angin musim semi yang hangat, sehangat pelukan. Dan kisah ini, akan seindah musim semi.

 

“Yeah, tentu saja” kata Sungmin dengan tersenyum bahagia.

 

Fin

No better than stranger

Gambar

Pairing          : KyuMin

Genre            : Hurt

Length           : One Shoot

Warning         : Boys love, shounen-ai, Sungmin centric

Song              : Baby Soul feat Wheesung – No Better than Stranger

Disclaimer     : Story belong to me, KyuMin belong to each other

Summary       : Our relationship is the closest but you are no better than a stranger……

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

Bagaimana rasanya hidup bersama seseorang yang begitu dekat, namun terasa seperti orang asing? Pertanyaan seperti itu……Sungmin mungkin tahu jawabannya. Banyak, Sungmin memiliki banyak cerita tentang itu. Tentangnya dan Kyuhyun.

 

~+~+~+~

 

Hari itu Super Junior sedang melakukan pemotretan untuk sebuah majalah ternama Korea. Semua orang diruangan ini terlihat sibuk. Suara shutter kamera terdengar memenuhi studio ini. Sungmin duduk dikursi menanti gilirannya. Ia duduk dengan tenang, memperhatikan Kyuhyun yang sedang berpose didepan kamera bersama Siwon dan Donghae. Pandangan Sungmin masih tidak beralih dari Kyuhyun. Sungmin berpikir, sungguh! Sosok itu nampak sangat sempurna.

 

Kyuhyun, Siwon dan Donghae mengakhiri giliran mereka, dan membiarkan Leeteuk, Eunhyuk dan Yesung mendapatkan giliran mereka beraksi didepan kamera. Kyuhyun beranjak duduk disamping Sungmin dan menghela nafas dengan lelah.

 

“Kau lelah?” Tanya Sungmin seraya memberikan botol  air mineral miliknya pada Kyuhyun.

 

Kyuhyun hanya menggelengkan kepalanya pelan dan menerima botol air mineral dari Sungmin. Ia meminumnya sedikit dan meletakkan botol itu diatas meja. Sungmin memperhatikan kekasih evilnya yang mulai sibuk dengan ponselnya.

 

“Kyu, nanti sore kita bertemu sebentar ne?”

“Nanti sore aku ada latihan drama musical”

 

Kyuhyun masih tidak mengalihkan pandangannya dari benda mungil ditangannya.

“Tidak bisakah kita bertemu sebentar? Aku hanya ingin melihatmu sebentar sebelum aku harus berangkat ke Jepang” Kata Sungmin.

 

Kyuhyun menghentikan kegiatannya sesaat. Ia mengangkat pandangannya pada Sungmin dan sedikit mengernyit. “Kau akan ke Jepang?” Tanyanya.

 

“Yeah, nanti sore aku dan Ryeowook harus berangkat ke Jepang untuk syuting CF. Kami hanya pergi dua hari,” Jawab Sungmin. “kau tidak tahu itu?”

 

“Begitu. Aku tidak tahu itu” dan pemuda tinggi itu pun kembali dengan kesibukannya, seolah tidak peduli.

 

Sungmin terdiam, sedikit tersentak memandang Kyuhyun. Kemudian ia mendesah pelan dengan sedih. Selanjutnya Sungmin hanya diam memperhatikan Kyuhyun. Sungmin menunggu, apakah pemuda tinggi itu akan menyadari tatapan penuh kerinduan darinya. Tapi sepertinya tidak. Kyuhyun masih terus sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang sedang ia lakukan.

 

“Sungmin, giliranmu”

 

Sungmin menoleh. Rupanya sudah gilirannya untuk berpose didepan kamera. Sungmin menoleh sesaat pada Kyuhyun. Namun pemuda tampan itu masih asyik dengan kegiatannya sendiri. Sungmin pun beranjak pergi. Ia mulai berpose mengikuti arahan sang fotografer, dan suara shutter kamera terus terdengar. Namun diam-diam sudut mata Sungmin terus memperhatikan Kyuhyun, memandangnya dengan tatapan sendu.

 

~+~+~+~

 

Pagi yang lain kembali datang. Ini masih pagi yang lain. Masih deru kendaraan diluar dan musim yang mulai berganti. Pagi membangunkan Sungmin dari tidurnya yang gelisah. Sungmin menoleh. Ranjang disisinya masih kosong dan dingin. Kyuhyun tidak pulang. Lagi-lagi Sungmin menemukan tempat itu kosong.

 

Sungmin masih terduduk diranjangnya, membiarkan menit terus berlalu. Biarkan saja, hari ini ia bisa kembali bernafas tanpa jadwal yang biasanya selalu mengikat erat. Namun entah kenapa, Sungmin merasa ia tidak mampu bernafas dengan tenang. Ada sesuatu yang begitu mengganggunya. Bukan. itu bukan kesepian yang saat ini sedang merayunya, meski sebenarnya kesepian itu cukup mengganggu. Lalu apa itu?

 

Sungmin kembali menoleh, memandang ranjang Kyuhyun yang kosong. Sudut kosong itu, ranjang yang dingin itulah penyebabnya. Yeah, benar. Cho Kyuhyun. Nama itu memiliki tempat tersendiri dalam dunia Sungmin yang sempurna. Melekat erat, seperti tattoo yang sulit dihapus. Yeah, Cho Kyuhyun.

 

Sungmin masih mengingatnya dengan jelas. Dihari itu, dibawah lampu jalan dan rinai hujan yang menggoda lembut. Bias sinar lampunya menembus wajah manisnya, memperlihatkan rona merah yang menjalar tipis. Diantara rinai hujan yang menggoda lembut itu, mereka memulai kisah mereka. Sebuah kisah yang hangat dan tulus. Terkadang mereka membagi kisah mereka pada hujan dan langit biru, tentang mencintai dengan cara yang berbeda.

 

Semua terasa begitu menyenangkan. Saat itu Sungmin berpikir, ketika akhirnya kau menemukan seseorang, maka itulah hidupmu. Yeah, Kyuhyun menjadi hidupnya. Namun bersama langkah sang waktu, kehangatan itu mulai memudar perlahan. Meski tangan mereka saling bertaut erat, seolah semua sentuhan itu menjadi terasa tidak berarti apapun.

 

Sungmin sadar kini mereka berjarak, seperti menatap cermin. Hanya mampu menatap dan mengeja. Serasa benar ia dan Kyuhyun saling kenal dan sama memiliki, memahami, mengerti wujud satu sama lain. Yeah, Sungmin tahu semua itu. Tapi seolah ia tak pernah mampu menyentuhnya. Cermin. Sudah lama memang. Terkadang Sungmin berpikir ia hanya menatap punggung Kyuhyun hingga tidak pernah tahu raut mukanya. Sungmin tahu Kyuhyun ada, tapi tak tahu benar siapa Kyuhyun itu. Sungmin nyaris tidak mampu mengenali kekasih evilnya.

 

Sungmin ingat, hari itu ulang tahun Kyuhyun. Ia menyiapkan hadiah dan sebuah kejutan kecil untuk kekasih evilnya itu. Mungkin memang bukan hal yang terlalu spesial, tapi Sungmin menyiapkan semua itu dengan hati tulusnya. Hari itu pertunjukan drama musical Kyuhyun. seperti biasa, Kyuhyun tampil memukau. Sementara Kyuhyun sedang berada diatas panggung, diam-diam Sungmin beranjak masuk ke dalam ruang ganti Kyuhyun. Ia menempelkan sebuah kertas ucapan yang Sungmin tulis sendiri dengan tangannya, dikaca rias yang dikelilingi pijar lampu-lampu.

 

Sungmin berdiri didekat pintu dan memandang jam tangannya, sebentar lagi drama musical itu akan berakhir. Sungmin tersenyum dan menunggu. Menit terus berlalu hingga akhirnya Kyuhyun pun datang. Sungmin masih berdiri ditempatnya, memegang kotak hadiah ditangannya dengan erat. Sungmin tersenyum tidak sabar ketika Kyuhyun mendekati meja rias. Ia berharap Kyuhyun akan melihat kartu ucapan yang sengaja ia tempelkan dikaca rias.

 

Namun alih-alih melihat kartu ucapan itu, Kyuhyun justru membuka tasnya yang ia letakkan diatas meja rias. Sungmin berpikir, mungkin Kyuhyun tidak melihatnya dan berniat untuk mendekatinya diam-diam. Namun belum sempat Sungmin melangkah pintu terbuka. Changmin, Minho, dan beberapa orang lainnya masuk dengan ribut mengucapkan selamat ulang tahun untuk Kyuhyun. Kyuhyun sedikit terkejut dengan kedatangan teman-temannya, namun ia tersenyum senang.

 

Kyuhyun mulai larut dalam canda tawa teman-temannya. Sementara Sungmin terdiam ditempatnya dengan sedih. Kyuhyun tidak menyadari kehadirannya, bahkan pemuda tinggi itu tidak melihat kartu ucapan yang sengaja ia tempel dikaca rias. Sungmin menggenggam erat kotak hadiah ditangannya, mengalihkan pandangannya kearah lain dan berusaha menahan tangisannya. Mencoba meredam rasa sesak didadanya. Entah kenapa, rasanya menyakitkan.

 

Sungmin mendesah dan menarik selimutnya. Rasanya ia rindu pada Kyuhyun yang selalu ada disisinya, mendengarkannya berbicara atau hanya sekedar menemaninya. Sungmin rindu pada Kyuhyun. Pada kulitnya, senyum manisnya, kebaikannya, kejahilannya, kehangatannya – semua hal tentang pemuda tinggi itu, Sungmin sungguh sangat merindukannya.

 

Jangan katakan Sungmin tidak berusaha menarik perhatian Kyuhyun kembali. Ia sudah pernah melakukannya. Sungmin berusaha keras, meminta sedikit perhatian. Tapi Kyuhyun mengabaikannya. Dan kembali, Sungmin harus menemukan dirinya sendirian tanpa Kyuhyun disisinya. Selalu sendiri. Kesepian itu masih bermain dalam ruangan kamar ini. Jam di dinding berdetak pelan, seolah tidak ingin mengusik kesepian itu. Diatas ranjangnya Sungmin mulai menangis tanpa suara. Terisak, begitu dalam.

 

Sungmin berpikir,

tidakkah Kyuhyun tahu bahwa ia sangat membutuhkannya? Disisinya meski hanya sejenak……

 

~+~+~+~

 

Sungmin baru saja menyelesaikan siaran radio Sukira bersama Ryeowook ketika ia mendapat telepon dari Jungmo. Pemuda bertubuh tinggi itu mengajaknya pergi minum bersama dengan beberapa teman lainnya. Sungmin pun menyetujui ajakan itu. Kapan lagi ia bisa berkumpul bersama teman-temannya.

 

“Ryeowook ah, kau mau ikut juga?” Ajak Sungmin menoleh pada sahabatnya.

 

Pemuda berwajah innocent itu tersenyum dan menangkupkan kedua tangannya didepan wajahnya.

“Maaf, aku sudah ada janji dengan Yesung hyung” Katanya.

 

Sungmin pura-pura merengut kecewa.

“Aah, sayang sekali. Tapi kalian harus berhati-hati ne? Jangan sampai orang-orang melihat kalian sedang berkencan tengah malam seperti ini” goda Sungmin terkekeh.

 

Ryeowook hanya tersenyum.

“Lalu bagaimana dengan kalian? Apa kau dan Kyuhyun baik-baik saja?”

 

Sungmin berhenti tertawa dan terdiam sesaat. Ryeowook memandang pemuda manis itu dengan cemas. “Kau terlihat sedikit aneh belakangan ini hyung. Apa terjadi sesuatu?”

 

“Tidak, tidak apa-apa. Kami baik-baik saja” Kata Sungmin dengan tersenyum.

 

Ryeowook masih memandang Sungmin seolah tidak percaya. Kemudian ia tersenyum.

“Baiklah, kuharap itu benar. ah, aku harus pergi. Yesung hyung sudah menungguku dimobilnya. Bye hyung”

 

Sungmin hanya melambaikan satu tangannya ketika Ryeowook beranjak pergi. Kemudian ia terdiam, sedikit merasa iri pada pemuda berwajah innocent itu. Sungmin bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia dan Kyuhyun berkencan. Ini menyedihkan, pikir Sungmin. Sungmin tersenyum miris dan beranjak pergi. Siap menikmati malam, tanpa kekasih evilnya.

 

~+~+~+~

 

Malam telah lewat dari larut. Detak jam hampir mengantar malam menuju penghujungnya. Ini pukul 03.00 AM. Kyuhyun terbangun dari tidurnya dan memandang ranjang disampingnya. Ranjang berwarna pink itu masih kosong. Sungmin masih belum pulang.

 

“Kenapa dia belum pulang juga?” Pikir Kyuhyun.

 

Drrt…drrt…drrt..drrt…

 

Kyuhyun beranjak mengambil ponselnya yang bergetar diatas meja. Ia mengernyit sesaat membaca ID caller yang muncul dilayar yang berkedip. “Jungmo hyung? Untuk apa dia menelpon pagi buta begini?”

 

Benda itu terus bergetar seolah meminta untuk segera dijawab. Saat akhirnya Kyuhyun mengangkat telepon itu, Kyuhyun terkejut. Ia menutup ponselnya, memakai jaketnya dan menyambar kunci mobil yang tergeletak diatas meja. Kyuhyun pergi dengan terburu-buru, seolah sesuatu yang baru saja Jungmo katakan diujung telepon adalah hal yang sangat penting. Oh, tentu saja ini sangat penting.

 

~+~+~+~

 

Kyuhyun menghentikan mobilnya didepan sebuah taman kota. Saat Kyuhyun turun dari mobilnya dan berjalan memasuki taman itu, ia menemukan Jungmo sedang duduk dikursi taman bersama Sungmin yang menggelayut padanya seperti anak-anak. Bias cahaya lampu taman memperjelas wajah manis Sungmin yang terlihat merah. Sungmin terus meracau tidak jelas, tertawa dan bertingkah sangat imut. Jangan lupakan kadar keimutan Sungmin yang akan meningkat maksimum ketika ia sedang mabuk berat.

 

Kyuhyun merengut tidak suka dan segera menarik Sungmin ketika pemuda manis itu terus berusaha mencium Jungmo, membuat Jungmo akhirnya menghela nafas lega. Kyuhyun harus berusaha menopang tubuh Sungmin yang tidak bisa berdiri tegak akibat mabuk. Kemudian ia menoleh, memandang Jungmo dengan tatapan bertanya.

 

“Aku hanya mengajaknya pergi minum bersama dengan beberapa teman. Kapan lagi kami bisa berkumpul bersama, bukan? Tapi Sungmin minum terlalu banyak. Aku tidak bisa mencegahnya” Jelas Jungmo.

 

Kyuhyun mengernyit mendengar penjelasan dari Jungmo. Kyuhyun tahu, jika kekasih bunny’nya sudah minum terlalu banyak itu artinya ada sesuatu yang sangat menganggunya.

 

“Apa Sungmin hyung mengocehkan sesuatu?” Tanyanya.

 

“Sungmin terus mengoceh tentangmu. Tidak jelas apa yang dia ocehkan, tapi dia terus menyebut namamu” jawab Jungmo.

 

Jungmo diam sesaat memandang Kyuhyun.

“Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan Sungmin. Tapi sepertinya……dia sangat sedih. Kyuhyun ah, kau kekasihnya kan? Apa kau tahu masalah apa yang sedang dihadapi Sungmin?”

 

Kyuhyun hanya diam dan memandang Sungmin yang sedang berusaha berdiri dengan baik dalam pelukannya. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada kekasih bunny’nya. Ia tidak tahu apapun. How funny.

 

“Baiklah. Jaga Sungmin dengan baik, ne? Aku harus pulang” Kata Jungmo tersenyum dan menepuk pelan bahu Kyuhyun.

 

“Terima kasih hyung” Kata Kyuhyun membungkukkan kepalanya dengan sopan pada Jungmo.

 

Jungmo beranjak pergi. Kyuhyun berusaha menyeret Sungmin ke mobilnya. Namun saat Kyuhyun berusaha memasukkan Sungmin ke dalam mobilnya, pemuda manis itu meronta. Sungmin mendorong pelan tubuh Kyuhyun dan berdiri sedikit limbung.

 

“Ayo kita pulang hyung” Ajak Kyuhyun.

 

Namun Sungmin justru menunjukkan jari telunjuknya pada Kyuhyun dan berteriak marah,

“Kau! Cho Kyuhyun! Kau pria jahat! Kau brengsek!”

 

Kyuhyun mengerjap tidak mengerti memandang Sungmin. Namun kemudian ia terdiam, membiarkan Sungmin terus bicara. Karena Kyuhyun tahu, Sungmin akan menumpahkan segalanya hanya ketika dia sedang mabuk berat. Karena Sungmin adalah sosok yang tertutup, Kyuhyun tahu itu.

 

“Apa yang terjadi hyung?” Tanya Kyuhyun.

 

Sungmin mendengus dan tertawa. Sebuah tawa yang menyimpan kepedihan. Kepedihan itu tidak lagi tersamarkan, terlihat sangat jelas dalam mata foxy Sungmin yang selalu berbinar, dulu. Kapan terakhir Kyuhyun melihat mata itu berbinar, Kyuhyun pun sudah lupa. Sungmin pun mulai mengoceh.

 

“Dengarkan aku. Dengarkan cerita tidak pentingku ini. Siapa yang kutemui hari ini, apa yang terjadi padaku. Apa yang sulit, eoh? Kau selalu serius. Apa aku begitu mengganggu? Kau tidak pernah mendengarkanku hingga akhir,”

 

“Apa aku memintamu untuk menyelesaikan semua masalahku? Tidak Kyu, bukan itu. Tutup mulutmu dan dengarkan segalanya. Dengarkan segalanya, hanya itu. Jika kau mau mendengarkanku, itu sudah cukup bagiku. Jika kau berada disisiku, hanya itu. Semua akan terasa lebih mudah Kyu. When I’m having a hard time. Where are you?

 

Sungmin mulai menangis, terisak pelan. Kyuhyun terpaku memandang Sungmin yang menangis. Ia tersentak mendengar semua hal yang dikatakan oleh Sungmin. Sang bunny sedang terluka, dalam. Semua karena dia? Kyuhyun tidak pernah menyadari hal itu.

 

“Jangan bicara semudah itu hyung” Kata Kyuhyun.

 

“Jangan membuat alasan! Kau mendengarkan cerita orang lain dengan sangat baik. Bagiku, kau selalu tidak punya hati” Teriak Sungmin marah.

 

Kyuhyun terdiam. Sungmin mendengus dan melangkah pergi. Namun dengan cepat Kyuhyun menangkap tangan Sungmin. Sungmin menepis tangan Kyuhyun dengan kasar. Kyuhyun mulai merasa cemas saat Sungmin melangkah mundur, menuju tengah jalan raya yang cukup ramai dengan deru kendaraan.

 

“Berhenti hyung” Perintah Kyuhyun.

 

Namun Sungmin mengabaikannya dan terus melangkah mundur perlahan. Kyuhyun beranjak dari tempatnya dan mengedarkan pandangannya sesaat dengan cemas. Persetan dengan orang-orang yang melihat mereka, tapi yang Kyuhyun cemaskan saat ini adalah kendaraan-kendaraan yang sedang melaju dijalan raya silih berganti. Kyuhyun tidak ingin kekasih bunny’nya tertabrak mobil ataupun kendaraan lainnya.

 

Sungmin berhenti ditengah jalan dan menatap Kyuhyun dengan terluka. Dengan lirih ia berkata,

“Kau tahu Kyu? Our relationship is the closest but you are no better than a stranger. Try putting yourself in my shoes and think of it. Kenapa kau tidak bisa memikirkan tentang perasaanku? Eoh?”

 

Sebuah sorot lampu dari mobil yang sedang melaju cukup kencang menyorot kearah Sungmin. Namun Sungmin tidak bergeming sedikit pun dari tempatnya, seolah sedang menggoda sang maut. Ia justru berjongkok seperti anak kecil yang sedang merajuk.

 

Mobil itu semakin mendekat tanpa menurunkan lajunya. Sepertinya si pengemudi tidak melihat Sungmin yang sedang berjongkok ditengah jalan. Hingga akhirnya mobil itu…………nyaris menabrak Sungmin, jika saja Kyuhyun tidak menarik Sungmin dengan cepat. Kyuhyun memeluk kekasih bunny’nya dengan erat, seolah tidak akan ia lepaskan.

 

“Hei! Kalian cari mati! Dasar anak muda” Omel si pengemudi melongok keluar dari jendelanya, dan kemudian mobil itu melaju pergi kembali.

 

Sungmin kembali menangis dalam pelukan Kyuhyun. Terisak, begitu dalam. Kyuhyun terdiam dan memperat pelukannya. Rasa bersalah menyusup dalam hati Kyuhyun. Ia tidak pernah tahu bahwa Sungmin telah terluka karenanya. Sungmin bersedih karenanya. Seketika Kyuhyun mengutuk dirinya sendiri, dirinya bukanlah kekasih yang baik.

 

“Kyu…apa aku meminta sesuatu yang besar? Aku hanya ingin kau berada disisiku, mendengarkanku. Hanya itu. Kau bahkan tidak dapat melakukan hal itu. Kau brengsek. Kau pria yang jahat, setidaknya kau harus berpura-pura. Try to take care of me half as good as you take care of the others, aku tidak akan mengatakan apapun. Kau tidak punya hati dan aku membencimu. Aku membencimu Kyu. Aku membencimu, karena aku bergantung padamu. Karena aku hanya memilikimu”

 

Sungmin terisak semakin keras dalam pelukan Kyuhyun. Kyuhyun masih terdiam. Ia mengusap pelan punggung Sungmin dan mengecup kepalanya beberapa kali dengan lembut. Berulang kali Kyuhyun berbisik maaf, sebaris kalimat yang penuh penyesalan. Sungguh!.

 

“Maafkan aku hyung. Maafkan aku……”

 

~+~+~+~

 

Pagi yang lain kembali datang. Ini masih pagi yang lain. Masih deru kendaraan diluar dan tetesan air dipepohonan. Sungmin menggeliat bangun dan membuka matanya, membiasakan matanya dengan bias cahaya matahari yang menerobos malu melalui jendela. Pagi membangunkan Sungmin dari tidurnya yang lelap. Akhirnya ia bisa tidur dengan lelap lagi.

 

Sungmin menoleh. Ranjang disisinya masih kosong dan dingin. Tak tersentuh. Namun Sungmin sudah tidak peduli lagi, yang ia pedulikan kini adalah tangan yang sedang memeluknya dari belakang. Yeah, benar. Itu adalah si pemilik ranjang yang kosong itu. Cho Kyuhyun.

 

Sungmin beranjak duduk perlahan, tidak ingin membangunkan Kyuhyun. Ia mengedarkan pandangannya sesaat ke seluruh kamar. Kamar ini terlihat berantakan. Pakaian yang dibiarkan tercecer begitu saja dilantai, dan selimut yang menyembunyikan tubuh telanjang mereka. Kembali, mereka menikmati malam dengan sebuah percintaan yang pernah terlupakan.

 

Sungmin menoleh memandang Kyuhyun yang tertidur disisinya. Setelah malam itu Kyuhyun benar-benar tidak pernah meninggalkannya. Kyuhyun selalu mengikutinya kemanapun Sungmin pergi, membuat seluruh personil heran dengan tingkah Kyuhyun yang seperti anak kecil yang tidak mau lepas dari ibunya. Namun Kyuhyun tidak peduli. Dia akan selalu ada disisi Sungmin setiap saat, mendengarkan semua ceritanya. Sungmin tahu, Kyuhyun-nya telah kembali.

 

Sungmin tersenyum senang. Ia mendekati wajah tampan kekasihnya dan mengecupnya dengan lembut. Sungmin berbaring kembali disamping Kyuhyun. Menarik selimut mereka kembali dan memeluk tubuh hangat itu dengan erat. Sungmin berbisik lembut pada Kyuhyun yang terlelap,

 

“Karena aku bergantung padamu. Karena aku hanya memilikimu. I love you my Kyu……”

 

Sungmin pun kembali tidur. Kyuhyun membuka matanya dan tersenyum memandang kekasih bunny’nya yang kembali terlelap. Ia mengecup dengan lembut sang kekasih dan berkata,

 

“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Karena aku adalah kekasihmu, bukan orang asing. I love you too my bunny……

 

Fin

 

So incredible

Gambar

Pairing           : KyuMin

Genre            : fluff

Length           : Drabble

Warning         : Boys love, shounen-ai, Kyuhyun centric

Song              : Aziatix ft Stevie Hoang – So incredible

Disclaimer     : Story belong to me, KyuMin belong to each other

Summary        : If I only had one word to describe him.

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

Malam mulai larut saat Kyuhyun tiba distudio Sukira. Dari balik kaca Kyuhyun duduk memperhatikan Sungmin yang sedang melakukan siaran radio bersama Ryeowook. Saat Sungmin menoleh, ia nampak sedikit terkejut dengan kehadiran Kyuhyun. Namun kemudian ia tersenyum senang dan melambaikan tangannya pada Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum dan mengangkat satu tangannya pada pemuda manis itu. Menit demi menit terus berlalu, dan Kyuhyun tidak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Sungmin. Seolah sosok manis itu telah mengikatnya, begitu kuat. Mungkinkah ini semacam sihir?

 

Kyuhyun tidak bisa menahan senyumnya setiap kali melihat Sungmin, pada tingkah aegyo-nya yang hampir mencapai tingkat maximum. Jika berbicara tentang Lee Sungmin, mungkin Kyuhyun dapat membuat sebuah daftar yang panjang tentang pemuda manis itu. Sangat panjang. Tapi jika ia hanya punya satu kata saja untuk mendeskripsikan seorang Lee Sungmin……

 

Kyuhyun terdiam dan berpikir, mencoba mencari satu kata yang tepat untuk seorang Lee Sungmin. Ada begitu banyak cara, banyak hal yang Sungmin miliki dan membuatnya kagum. Kyuhyun tidak pernah menemukan tipe seperti itu sebelumnya, tipe yang mampu membuatnya melupakan segalanya. Dan Sungmin mampu melakukan hal itu. Orang-orang membicarakannya saat Kyuhyun menjatuhkan pilihannya pada Sungmin. Kyuhyun menganggap mereka hanya tidak mengerti, mengapa Sungmin begitu berarti baginya. Sungmin adalah segalanya.

 

Kyuhyun tidak pernah merasa seperti ini. Perasaan hangat itu sangat menyenangkan. Tapi bagaimana hal itu bisa terjadi? Apakah cara Sungmin menciumnya? Karena rasanya seperti ada ratusan kupu-kupu yang menggelitik saat pemuda manis itu menciumnya.

 

Atau apakah cara Sungmin menyentuhnya? Karena rasanya sangat nyaman saat tangan hangat itu menyentuhnya. Ketika Kyuhyun menatap ke dalam matanya, sepasang mata rubah itu kerap membuatnya tersesat. Namun Kyuhyun sangat menyukainya. Ataukah cara Sungmin mendengarkannya ketika ia terus bicara? Pemuda manis itu tidak pernah lelah mendengarkannya. Entahlah, apapun cara yang Sungmin lakukan, Kyuhyun akan selalu menyukainya.

 

Rasanya menyenangkan setiap kali Kyuhyun memanggil namanya. Tidak pernah bosan mendengar suaranya ketika Kyuhyun menelponnya. Sungmin satu-satunya yang ia inginkan. Sungmin satu-satunya yang menyalakan api dalam hidupnya, membuat Kyuhyun selalu bersemangat menjalani hari-harinya. Setiap kali Kyuhyun merasa down maka pemuda manis itu akan selalu berada disisinya, membangkitkannya kembali. Senyum manis itu adalah salah satu alasan Kyuhyun tetap bertahan, terus bertahan.

 

His sexy attitudes, mampu membuat Kyuhyun sangat terpesona. Bagaimana Sungmin mampu membawa dirinya dengan baik dalam kondisi apapun. Semangatnya, keyakinannya untuk menjadi yang terbaik. Melakukan hal-hal yang tidak bisa Kyuhyun lakukan. Semua hal tentangnya membuat Kyuhyun kecanduan, rasanya tidak pernah cukup. Kehadirannya membuat Kyuhyun selalu waspada, seolah ia takut sosok manis itu akan menghilang dari pandangannya. Bagaimana ia merasakan semua hal itu, Kyuhyun tidak mampu menjelaskannya. Semua terasa begitu menarik.

 

Ketika pemuda manis itu berada dalam pelukannya, rasanya seolah kyuhyun tidak akan pernah membiarkannya pergi. Jika ini adalah dongeng dan Kyuhyun adalah rajanya. Hanya dengan satu cincin Kyuhyun akan menyatakan bahwa Sungmin adalah ratunya. Kyuhyun tidak akan pernah menyerahkan posisi itu pada siapapun, hanya Sungmin seorang.

 

Sungmin adalah satu-satunya alasan Kyuhyun hidup. Kyuhyun tidak akan pernah ragu untuk menunjukkan rasa cintanya pada pemuda manis itu. Tidak pernah lelah memperjuangkan hak mereka untuk saling mencintai. Rasanya Kyuhyun ingin selalu melihat sosok manis itu, setiap hari. Ketika Sungmin tidak ada disekitarnya, Kyuhyun akan merindukannya. Tidak ada orang lain yang dapat melakukan apa yang Sungmin lakukan. Karena dia satu-satunya.

 

Seluruh masalah dalam hidup Kyuhyun seolah tidak berlaku lagi. Semua tidak menjadi masalah, asalkan Sungmin ada dalam hidupnya. Ketika orang bertanya pada Kyuhyun, kenapa Sungmin sangat penting baginya? Maka jawaban Kyuhyun adalah, karena Sungmin adalah surga. Terdengar tidak rasional? Mungkin iya, tapi bahkan jika malaikat datang dan mengenang semua hal yang telah Kyuhyun lalui. Menghukumnya dan menempatkannya dalam lautan terdalam, jauh dari langit. Kyuhyun tetap tidak akan merubah jawabannya. Ia tetap tidak akan bisa melupakan sosok manis itu, Sungmin.

 

~+~+~+~

 

Siaran radio Sukira telah berakhir. Kyuhyun dan Sungmin berjalan bersama menyusuri jalanan yang sepi. Tangan mereka saling bertaut mesra tanpa perlu merasa khawatir pada orang-orang yang mungkin akan melihat mereka. Tiba-tiba Kyuhyun menghentikan kakinya.

 

“Kenapa Kyu?” Tanya Sungmin heran.

 

Kyuhyun diam sejenak dan memandang Sungmin lekat-lekat.

“Sejak tadi aku berpikir tentangmu. Aku bertanya pada diriku sendiri, jika aku hanya punya satu kata untuk mendeskripsikanmu. Tapi sekarang aku tahu jawabannya” Katanya.

 

“Apa itu Kyu?” Tanya Sungmin memandang kekasihnya dengan penasaran.

 

Kyuhyun tersenyum dan mendekati telinga Sungmin. Ia berbisik lembut,

You’r so incredible

 

Sungmin tersenyum.

“Yeah, aku tahu itu” katanya.

“Aku mencintaimu” Kata Kyuhyun.

 

Sungmin kembali tersenyum.

“Aku juga tahu itu” katanya.

 

Kyuhyun tersenyum dan menarik Sungmin ke dalam pelukannya. Sungmin tersenyum dalam pelukan Kyuhyun. Kemudian ia mengecup kekasih evilnya dengan lembut, begitu lembut. Seolah sedang menyampaikan rasa terima kasihnya pada rasa cinta dan segala hal yang telah diberikan Kyuhyun padanya.

 

“Aku juga mencintaimu Kyu” Kata Sungmin

“Yeah, aku tahu itu” kata Kyuhyun membuat Sungmin terkekeh.

 

So Incredible. Yeah, itu adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan seorang Lee Sungmin. Kyuhyun sangat yakin itu. Lee Sungmin sangat luar biasa. Kalian juga berpikir seperti itu, bukan?

 

Fin

Kiss Cam

Gambar

Pairing             : KyuMin

Genre              : fluff

Length             : Drabble

Warning           : Boys love, shounen-ai

Disclaimer       : Story belong to me, KyuMin belong to each other

Summary         : heum…no summary. Just read please & hope you like it ^^

 

No bash, no copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

Pesawat itu melintasi langit dengan tenang. Sungmin duduk dengan nyaman dikursinya. Ia asyik memandang keluar jendela, memperhatikan pemandangan langit yang sempurna. Pemandangan yang dilihat dari atas tampak begitu indah. Pesawat yang sedang melintasi langit ini membawa para artis kesayangan SMent yang akan menghadiri konser besar SMtown di LA, Amerika. Sebagian terlelap dikursi mereka, sementara yang lain dengan kesibukan mereka masing-masing. Mendengarkan mp3, bermain games, mengobrol, ataupun tidur.

 

Sungmin mengalihkan pandangannya dari jendela dan menoleh. Disisinya, Kyuhyun terlelap dengan pulas. Pemuda tinggi itu nampak lelah. Tentu saja, usai menyelesaikan drama musikalnya Kyuhyun langsung pergi ke bandara untuk terbang ke Amerika bersama mereka. Pasti sangat melelahkan bukan?

 

Akhirnya pesawat itu berhasil mendarat dengan sukses. Satu persatu para penumpang mengambil tas mereka dan bersiap untuk turun dari pesawat. Sungmin mengguncang pelan tubuh Kyuhyun untuk membangunkannya. Namun pemuda tampan itu hanya membuka matanya sesaat dan kemudian kembali tidur. Sungmin mendekatkan wajahnya pada wajah tampan kekasih evilnya, sangat dekat. Ia membelai wajah tampan itu dan berbisik dengan lembut.

 

“Kyuhyunie~ bangunlah. Kita sudah sampai”

 

Seperti sebuah sihir Kyuhyun pun terbangun. Sungmin tersenyum kecil melihat kekasih evilnya yang masih terlihat mengantuk. Sungmin berdiri dan mengambil tasnya. “Wajahmu terlihat kacau. Kau mau menggunakan masker untuk menutupi wajah mengantukmu itu?” Tanyanya.

 

“Aku lupa membawa masker milikku” Jawab Kyuhyun ikut berdiri dan mengambil tas miliknya.

 

Sungmin memperhatikan Kyuhyun sesaat, kemudian ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Kyuhyun hanya diam saat kekasih bunny’nya memakaikan sesuatu diwajahnya. Sebuah masker hitam.

“Pakai milikku, kalau begitu. Kau tampak mengerikan” Kata Sungmin dengan tersenyum.

 

Kyuhyun tersenyum dibalik masker hitam milik Sungmin. Kemudian mereka turun bersama dari pesawat. Dari bandara hingga hotel Kyuhyun selalu berada disisi Sungmin, berjalan disampingnya maupun dibelakangnya seolah menjaganya. Selalu bersama.

 

~+~+~+~

 

Konser SMtown berakhir dengan meriah. Para artis kesayangan SMent mendapat kesempatan untuk berlibur sebelum lusa mereka harus kembali ke Korea. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Kyuhyun pun mengajak kekasih bunny’nya untuk berjalan-jalan. Sungmin mengira kekasih evilnya akan mengajaknya pergi ke tempat yang menarik ataupun romantis. Namun ia mengernyit heran saat Kyuhyun justru mengajaknya untuk menonton pertandingan basket, pertandingan dua klub basket besar di Amerika.

 

Suasana ramai terasa dalam stadion basket yang besar itu. Diantara penonton yang terlihat antusias mendukung klub favorit mereka, terlihat pasangan evil-bunny kita duduk menonton. Pertandingan itu berjalan dengan seru dan cukup menegangkan. Dan pria narrator itu masih asyik mengoceh yang sebenarnya Kyuhyun tidak mengerti satupun maksudnya, kecuali bagian kalimat “yes”, “no”, “nice weather” (?).

 

Sungmin cukup menikmati pertandingan itu, meski sebenarnya ia sedikit heran.

“Tidak biasanya kau mengajakku menonton pertandingan basket Kyu?” Akhirnya ia bertanya, menoleh pada kekasih evilnya.

 

“Memang kenapa?” Kyuhyun balik bertanya.

“Tidak, hanya…tidak biasanya saja” Kata Sungmin.

 

“Tidak apa-apa ‘kan. Kupikir ini menarik. Kapan lagi kita bisa menonton pertandingan NBA secara langsung” Kata Kyuhyun.

 

Sungmin hanya terkekeh kecil. Mereka pun menikmati pertandingan itu dengan tangan yang saling bertaut mesra. Menit-menit berlalu dengan menegangkan. Suasana menjadi semakin panas ketika kedua tim saling menyerang dan merebut angka. Kemudian pertandingan terhenti sejenak untuk istirahat. Narrator itu masih asyik mengoceh, mungkin sedang berusaha menurunkan aura ketegangan yang sangat terasa dalam stadion ini. Kyuhyun mengabaikannya dan lebih memilih untuk mendengarkan celotehan kekasih bunny’nya. Suara Sungmin lebih menarik dibandingkan apapun, pikir Kyuhyun.

 

Kyuhyun tersenyum memperhatikan kekasih bunny’nya yang asyik berceloteh, tertawa, tersenyum. Namun tiba-tiba Sungmin menghentikan celotehannya. Sungmin mengerjap, nampak terkejut memandang ke depan.

 

“Mworago chagi?” Tanya Kyuhyun heran.

 

Sungmin mengedarkan pandangannya sesaat kemudian menunjuk sebuah layar besar yang berada diatas stadion. Kyuhyun menoleh mengikuti arah yang ditunjuk Sungmin. Layar besar itu menampilkan sosok mereka berdua dengan background bentuk hati berwarna pink disekitarnya.

 

“Sepertinya kita tertangkap kamera” Jawab Sungmin.

 

Kyuhyun dan Sungmin terdiam dengan bingung saat menyadari bahwa saat ini seluruh perhatian dalam stadion ini sedang tertuju pada mereka. Atau mungkin, seluruh Amerika, mengingat pertandingan ini sedang disiarkan secara Live. Pria narrator itu kembali berbicara dengan semangat. Kyuhyun tidak mengerti apa yang pria narrator itu sedang bicarakan, yang dapat ia tangkap hanya kalimat “Kiss Cam” membuat Kyuhyun tersenyum.

 

“Jadi, kita yang kena Kiss Cam, huh?” kata Sungmin mendengus pelan.

“Yeah, sepertinya begitu. Jadi…” Kata Kyuhyun memandang kekasih bunny’nya.

 

Sungmin terdiam. Ia sedikit menunduk dan menggigit bibirnya dengan malu. Kiss Cam adalah salah satu sesi yang paling dinantikan banyak orang yang menonton pertandingan olahraga. Saat waktu istirahat biasanya kamera akan menyorot secara acak, dan pasangan yang tanpa sengaja tersorot kamera itu diharuskan untuk menunjukkan perasaan sayang mereka. Dengan kata lain, berciuman. Hal ini biasa dilakukan untuk menurunkan ketegangan yang tercipta karena pertandingan.

 

Dan kini giliran pasangan evil-bunny kita yang terjebak dalam kamera Kiss Cam. Tiba-tiba saja Sungmin merasa malu. Bukan karena mereka tidak pernah berciuman. Mereka sering melakukannya, bahkan Kyuhyun suka sekali menciumnya. Tapi masalahnya kini mereka harus berciuman didepan ribuan pasang mata didalam stadion ini. Dan hey, pertandingan ini sedang disiarkan secara Live bukan?! Itu artinya jutaan orang yang sedang menonton TV atau mungkin streaming melalui internet, sedang melihat mereka bukan?!

 

“Apa yang kau tunggu? Cepat cium pasanganmu.” Seorang penonton bersorak dari kursinya yang disambut sorak sorai dari penonton lainnya.

 

Sungmin mengangkat kepalanya dan memandang Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum yang lebih nampak seperti sebuah seringaian kecil. Perlahan ia mendekati kekasih bunny’nya. Sungmin menutup matanya dan membiarkan Kyuhyun menciumnya dengan lembut, begitu lembut. Seolah ia dapat merasakan perasaan sang kekasih melalui ciuman ini. Perasaan hangat dari rasa sayang yang dimiliki Kyuhyun, hanya untuknya.

 

Tepuk tangan riuh terdengar bergemuruh dalam stadion saat ciuman itu berakhir. Sungmin sedikit menunduk dan tersenyum malu. Ia yakin saat ini wajahnya pasti sangat merah. Sementara Kyuhyun tersenyum. Pemuda tinggi itu terlihat sangat senang.

 

“Tidak buruk kan menonton pertandingan basket? Kapan-kapan kita menonton lagi ne, chagi” Kata Kyuhyun mengedipkan satu matanya dengan nakal.

 

Sungmin mengerjap dan memukul pelan kepala Kyuhyun. Namun kemudian ia tersenyum. Kyuhyun meletakkan tangannya dibahu Sungmin dan menariknya ke dalam pelukannya. Mereka pun kembali menikmati pertandingan yang dimulai kembali. Sungmin tersenyum melirik kekasih evilnya dan berpikir,

 

“Yeah, tidak buruk juga”

 

Fin

Love behind a wife

Gambar

Pairing           : KyuMin / SiMin

Other cast     : Choi Minho (Shinee)

Genre            : Misteri

Length           : One Shoot

Warning         : Boys love, shounen-ai, alur yang cepat, crack pair, OOC

Disclaimer     : Diadaptasi dari karya milik Donald Olson yang berjudul “Di balik cinta istri”, yang terdapat dalam kumpulan cerita criminal cetakan I, Januari 1997

Summary       : Sungmin adalah sosok yang menyimpan daya pikat kuat. Siapa sih yang tidak tergiur bila menghadapi Sungmin?

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

“Aku takut sayang” kata Sungmin.

 

Choi Siwon mengecup pipi ‘istrinya’ yang selalu nampak muda dan manis itu.

“Mudah-mudahan ciuman ini meneguhkan hatimu. Minho mungkin telah berubah setelah setahun kuliah jauh dari Kibum”

 

“Oh, Siwonie, aku tak pernah berpikir untuk menyalahkan ‘ibunya’. Kibum tak pernah bersikap seperti seorang mantan ‘istri’ yang pendendam. Jujur kukatakan, aku tidak melihat Kibum menghasut Minho untuk memusuhiku”

 

Siwon terpaksa menyetujui ucapan Sungmin.

“Kibum memang di pihak yang benar, dan Minho tahu itu. Salahnya, dulu Kibum dan aku merahasiakan ketidaksesuaian kami terhadap Minho, sehingga Minho terpukul oleh perceraian kami. Tetapi sekarang mestinya ia sudah bisa menyesuaikan diri dengan situasi……”

 

Sungmin menanggapinya dengan seulas senyum.

“Aku masih tetap takut kalau harus menjemput Minho sendiri. Mungkin dalam perjalanan dari desa kemari tak sepatah kata pun akan keluar dari mulutnya , kalau ia masih menyimpan dendam lama yang membara”

 

“Sayang, kalau saja aku sempat, akan kujemput sendiri. Tetapi kau ‘kan tahu, rapat panitia turnamen itu mengharuskan aku tetap di sini. Kau pun tahu pentingnya rapat itu”

 

Sungmin hanya diam. Rumah penginapan Cheonmado di pegunungan Gyeongju, dulunya hanya ramai di musim dingin, sebagai penginapan para pemain ski. Namun, Siwon melihat kemungkinan untuk memanfaatkannya sepanjang tahun. Ia membeli tempat itu dan melengkapinya dengan lapangan golf, jalan-jalan setapak untuk berkuda, lapangan tenis dan sebuah kolam renang. Rumah penginapan itu sendiri, berupa bangunan batu dan kayu, diperbarui dengan biaya mahal. Pemandangan dari penginapan di punggung bukit itu memang luar biasa indah. Menyelenggarakan turnamen besar golf tahunan di Cheonmado akan merupakan semacam promosi berarti bagi tempat itu.

 

~+~+~+~

 

Sungmin ingat, tahun lalu Minho datang dan tinggal bersama mereka selama dua minggu. Kenangan tentang kunjungan Minho itu membuat Sungmin merasa hari-hari penuh ketegangan tiada akhir bakal dialaminya lagi.

 

“Siwonie, bersikaplah biasa saja bila kau menghadapinya nanti. Tetapi, jangan biarkan juga dia menimbulkan persoalan. Aku tidak mau lagi menghadapi hal-hal tidak menyenangkan selama kunjungannya nanti seperti tahun lalu”

 

Siwon mencoba menjernihkan masalah itu. “Namun, tak semuanya tidak menyenangkan”

 

Sungmin sedikit mengernyit. “Tidak semuanya? Lupakah kau kalau Minho pernah mencoba membunuhmu? Anakmu sendiri mencoba membunuhmu!”

 

“Waktu itu kami sama-sama tidak mampu mengendalikan diri”

 

“Juga kejadian mengerikan di ruang makan itu. Waktu itu banyak orang mendengar Minho mengancam hendak membunuhmu”

 

“Sayang, dia dulu ‘kan masih anak-anak, dan kala itu dia pun sedang menghadapi masa sangat sulit. Sudahlah, tiga perempat jam lagi bus yang ditumpangnya datang. Masih cukup waktu untuk turun menjemputnya”

 

Siwon mencium pipi Sungmin, lantas mengantarnya ke jip yang hendak dipakai menjemput Minho. Meski mencoba membesar-besarkan hati Sungmin, Siwon sendiri sebenarnya merasa tidak tenang. Ia mencintai dua-duanya, Minho maupun Sungmin. Siwon sendiri cuma bisa menghibur diri, mudah-mudahan dendam Minho yang menyala-nyala itu paling tidak menunjukkan betapa Minho begitu perhatian padanya.

 

Bus terlambat dua puluh menit dan itu membuat Sungmin cemas berkepanjangan. Sungmin sadar segalanya akan berawal dari kunjungan Minho ini. ketika bus tiba, Sungmin segera pasang senyum, bahkan melambai-lambaikan tangannya meski orang yang dijemputnya belum tampak batang hidungnya.

 

Kesan pertama ketika bertemu Minho: anak itu tampak begitu muda dan menarik. Tampan, badannya tinggi, dan dadanya bidang. Namun, wajahnya sedikit kurus dan tampak lebih dewasa. Sayangnya, wajah itu tampak begitu serius!

 

“Minho!” sambut Sungmin, “Senang sekali ketemu kau lagi. Ya, Tuhan, sudah sebesar ini, kau!”

 

Barangkali Sungmin akan terus berbasa-basi, kalau saja ia tidak dibuat terkejut. Sebab, setelah meletakkan tasnya, Minho memeluk dan mencium pipi ‘ibu’ tirinya itu. tadinya Sungmin membayangkan, Minho akan menyambut dingin kehadirannya dan ia siap menerima sikap itu. Namun, tindakan Minho tadi justru membuat perasaan Sungmin jadi tidak menentu.

 

“Hai, sungguh kejutan yang menyenangkan,” kata Minho, “Aku membayangkan ayah yang akan menjemputku.”

 

“Ayahmu sebenarnya ingin menjemputmu, tetapi ia terikat sebuah pertemuan penting”

 

Dengan tatapan penuh haru Minho berkata, “Kau pantas mendapat medali”

 

“Aku?”

 

Minho menatap Sungmin lekat-lekat. “Kita akan selesaikan semua persoalan sekarang. Sepanjang perjalananku kemari, pikiranku terus mengulang-ulang ucapan minta maaf yang akan kusampaikan kepada kau dan ayah. Betapa aku ini anak yang tak tahu diri”

 

“Kau punya hak sepenuhnya untuk berbuat apa pun sesuai dengan keinginanmu. Jadi, tak ada yang perlu dimaafkan”

 

Minho menarik napas lega sambil menghirup udara padang rumput yang segar di musim panas. Dimasukkannya tas-tas bawaannya ke dalam jip, lalu duduk disamping Sungmin. “Jauh dari rumah selama setahun tentu akan membuat orang jadi berpikir”

 

“Oh, Minho, aku senang sekali mendengar kau berkata begitu, dan ayahmu tentu akan bahagia sekali” Setelah beberapa saat menimbang-nimbang, akhirnya Sungmin pun berkata, “Bagaimana dengan ibumu?”

 

“Baik-baik saja. Dia titip salam juga”

 

“Ibumu baik sekali”

 

“Ya, dia memang orang baik”

 

Walaupun sudah menjadi sekertaris Siwon sebelum Siwon menjual perusahaan-perusaah keluarga Choi, Sungmin belum pernah bertemu dengan Kibum, ‘istri’ pertama Siwon. Kibum memang tidak pernah berkunjung ke kantor ‘suaminya’.

 

Sungmin tidak membesar-besarkan ucapannya ketika ia bilang kepada Minho bahwa Siwon akan bahagia sekali bertemu Minho. Bahkan Siwon sempat meneteskan air mata ketika dilihatnya sikap Minho sudah berubah. Siwon hampir tidak bisa melepaskan anak lelakinya itu dari pelukannya. Makan malam di ruang makan mewah di penginapan menjadi semacam perayaan pesta bagi ketiga orang itu.

 

Apalagi Minho pandai membuat suasana menjadi segar dengan cerita-ceritanya tentang betapa sengsaranya mengikut masa perpeloncoan. “Belajar kedokteran ternyata tidak mudah,” kata Minho, “Meskipun waktu sekolah menengah dulu aku jagoan kimia dan biologi. Tetapi, rasanya aku bisa mengikutinya.”

 

Siwon sendiri bercerita tentang rencana mengembangkan Cheonmado. Sementara itu, sambil mendengarkan ayah dan anak bertukar cerita, pandangan mata Sungmin silih berganti menatap mereka. Disimaknya wajah keduanya sambil mencari sampai dimana kemiripan kedua orang itu. Mereka memang dua orang pria gagah dan tampan.

 

~+~+~+~

 

Selesai memeriksa bon makan malam dan mengerjakan sedikit tugas-tugas malamnya, Sungmin berjalan melintasi lobi berkarpet tebal ke arah tangga menuju ruang olahraga dan kolam renang. Sambil merundukkan kepalanya ia berjalan di sepanjang lorong di depan kamar-kamar tamu. Ketika sampai di kamar terakhir, ia mengetuk lembut pintu kamar itu setelah merasa yakin tak ada orang di sekitar tempat itu.

 

Seseorang segera menarik lengan Sungmin ketika ia hendak melangkah masuk ke kamar itu. Orang itu adalah Cho Kyuhyun, pelatih ski dan tenis yang juga pekerja apa saja di penginapan itu. Pria itu memiliki sepasang mata yang senantiasa memancarkan semangat berapi-api.

 

“Kukira kita akan bertemu saat makan malam” kata Sungmin.

“Aku makan lebih dulu. Pertemuan yang kurang menyenangkan kurasa” Kata Kyuhyun.

 

Sungmin menatap Kyuhyun dengan air muka kecewa.

“Kau keliru. Mestinya kau hadir disana. Oh, Kyu, aku tidak bisa percaya. Minho sudah berubah sekarang. Ia berkali-kali minta maaf atas perbuatannya tahun lalu. Sekarang kami sudah damai kembali”

 

Wajah Kyuhyun berubah muram.

“Kalau begitu bagaimana dengan rencana kita?”

 

Sungmin hanya mengangkat bahu dan itu hanya membuat Kyuhyun marah.

“Kau ini bagaimana,” Kata Kyuhyun. “Kau bilang anak itu pernah mengancam untuk membunuh ayahnya dan setiap orang mendengarnya. Semua yang harus kita lakukan sudah kita susun: menghabisi ‘suamimu’ dan menjebak anak itu. Kau bilang, gampang”

 

“Bagaimana aku tahu kalau Minho sudah berubah? Waktu itu tingkahnya seperti orang gila. Kau akan tahu, bila saat itu kau ada di sini. Minho membuat persoalan sulit”

 

“Lalu?”

 

Sungmin tampak berpikir sambil menggigit bibirnya.

“Kita tetap pada rencana kita. Kita bunuh Siwon dan kita buat seolah-olah Minho yang membunuhnya. Itulah satu-satunya cara agar aku bisa mewarisi kekayaannya. Seorang pemulung tidak berhak atas warisan”

 

“Namun, sekarang siapa yang bakal percaya kalau anak itu yang membunuh ayahnya?”

 

“Aku punya ide, tetapi mungkin kau tidak setuju. Aku pernah bercerita padamu, anak itu selalu mengatakan cerita bohong kepada Siwon pada musim dingin lalu. Bahkan ia bilang, aku mencoba menggodanya. Minho melakukan apa saja agar Siwon berpihak kepadanya untuk memusuhiku, tetapi dia tidak berhasil. Tetapi, andaikata Minho menemukan alasan yang bisa dipercaya bahwa aku berbuat seperti yang dia katakan? Apapun yang diceritakannya, Siwon tidak akan percaya?”

 

Kyuhyun tertawa.

“Tolol kalau Siwon tak percaya”

 

Sungmin menatap Kyuhyun dengan sengit.

“Aku bukan penggoda. Aku tahu ketika Siwon menikahiku, ia meninggalkan segalanya pada Minho. Aku bahagia merebut Siwon dan aku puas hidup bersamanya sampai kau datang”

 

“Kau belum mengatakan idemu tadi”

 

“Seandainya aku ‘main-main’ dengan Minho? Ia pasti akan melapor ke ayahnya, tetapi Siwon tak akan percaya. Sebab perubahan hati Minho menjadi tampak pura-pura saja baginya. Cara ini barangkali dapat kita lakukan untuk mengadu kedua orang itu lagi”

 

Kyuhyun tampak ragu-ragu.

“Bagaimana kalau tidak berhasil?”

 

“Kita coba cara lain. Sekarang kita harus ekstra hati-hati, sayang. Kalau sampai ada yang mencurigai kita…”

 

“Toh, kabin ini selalu ada” kata Kyuhyun mengingatkan sambil meraih Sungmin dalam pelukannya.

 

“”Kita harus bekerja cepat,” kata Sungmin. “Waktu kita tinggal dua minggu.”

 

~+~+~+~

 

Sungmin tahu ia tidak dapat dengan serta merta menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Minho. Harus bertahap. Sungmin tersenyum-senyum sendiri. Barangkali lucu. Kyuhyun akan membunuhnya andaikata bisa membaca pikirannya. Sungmin adalah sosok yang menyimpan daya pikat kuat bagi pemuda tanggung seperti Minho. Karena itu Sungmin merasa yakin bisa menggiring Minho masuk ke dalam perangkap godaannya. Keberhasilannya memikat Siwon membuktikan hal itu, padahal Siwon sudah beristri.

 

Meskipun Siwon lebih suka menghabiskan waktunya bersama Minho, Siwon tidak dapat menghabiskan pekerjaannya yang cukup banyak itu. Karena itu tanggung jawab menemani anak lelakinya dipercayakannya kepada Sungmin. Itu berarti tanpa disadarinya Siwon ikut membuka peluang bagi Sungmin melaksanakan rencananya.

 

Pada suatu ketika Sungmin pergi berkuda bersama Minho. Mereka menyusuri jalan-jalan setapak di kawasan pegunungan itu. Mulanya Sungmin senantiasa menjaga sikapnya. Ia bersikap hati-hati dalam segala tindak langkahnya. Di tengah pembicaraan, bila mereka sedang berdua Sungmin bercerita dengan nada penuh cinta tentang Siwon. Juga tentang rencana-rencana yang ingin mereka lakukan bagi Cheonmando.

 

Nanmun, setelah sekian hari berlalu, dengan cara tidak kentara Sungmin mulai bersikap genit. Ia mulai melepaskan jurus-jurus godaannya dengan senyum-senyum manisnya yang memikat, dengan sentuhan-sentuhan tubuh yang seolah-olah tidak ia sengaja, yang membuat Minho tidak perlu menaruh curiga. Sungmin pun mulai memperlihatkan penyesalannya mengarungi kehidupan perkawinannya bersama Siwon.

 

“Terus terang Minho, ayahmu sekarang bukan ayahmu yang dulu, ketika aku menjadi sekertarisnya. Aku sungguh tidak bisa menyalahkan ibumu yang merasa diabaikan. Bukan maksudku mau mengatakan, ayahmu juga melalaikanku. Aku menyadari betapa banyak pekerjaan yang harus ditanganinya, tetapi ia membuatku kesepian. Kedatanganmu membangkitkan suasana lain. Kuharap kau mau tinggal di sini selama musim panas”

 

“Rencanaku juga begitu,” kata Minho. “Kau sungguh luar biasa. Tadinya aku khawatir kau akan menghindariku seperti penyakit, dan kalaupun kau bersikap begitu aku tak bisa menyalahkanmu.”

 

Mereka berhenti untuk mengistirahatkan kuda-kuda mereka di tengah hutan pinus yang sejuk. Ketika Sungmin membiarkan Minho menolongnya naik ke punggung kuda, ia pura-pura terpeleset dan jatuh dipelukan Minho. Beberapa saat lamanya Sungmin membiarkan tubuhnya dalam pelukan Minho, sehingga leher pria muda itu sempat tersentuh napas hangat dari hidung Sungmin. Kemudian sambil pura-pura mengomeli diri sendiri karena kekikukannya, Sungmin mencoba naik punggung kuda lagi. Sepanjang perjalanan pulang, kedua insan itu tdak ada yang membuka mulut.

 

~+~+~+~

 

Sungmin ragu-ragu ketika malam berikutnya ia mengetuk kamar Minho. Jangan-jangan Minho tidak akan mengizinkannya masuk. Minho cepat-cepat mengenakan jinsnya dan membuka pintu.

“Ada apa, hyung?”

 

Ketika melangkah masuk Sungmin bersikap pura-pura bingung. Jari-jari tangannya meraba-raba kerah bajunya yang rendah. “Tidak. Tidak ada apa-apa. Aku cuma merasa kesepian. Siwon kerja lembur lagi malam ini”

 

Minho menutup pintu dengan ragu-ragu. “Kau tampak kebingungan”

 

Tanpa rasa bersalah dan sorot mata memperdayakan, dengan tenang Sungmin bicara,

“Musim dingin lalu. Apa yang kau katakan kepada ayahmu tentang kita, tidak semuanya bohong. Kau pandai membaca pikiranku”

 

“Hyung……”

 

“Minho, bukankah dalam hati kecilmu kau pun menginginkannya?”

 

“Apa maksudmu?”

 

Sungmin sengaja menatap Minho dengan tatapan memikat.

“Kau tahu maksudku”

 

Sungmin senang sekali menyaksikan wajah Minho menampakkan ekspresi yang mencerminkan perang batin dalam hatinya. Namun, Sungmin tahu ia tidak bisa membiarkan sesuatunya berjalan diluar rencananya. Ketika Minho mendekatinya, Sungmin malah berputar menghindarinya, tetapi kemudian ia berhenti, lalu mengecup lembut bibir anak muda itu.

 

“Aku sekadar ingin tahu di mana sebenarnya kita berdiri. Sebaiknya aku pergi sekarang. Siwon mungkin mencari aku. Besok kita bisa mengobrol dalam kabin Cheonmado itu. Tak akan ada yang melihat kita di sana.”

 

Tanpa memberikan kesempatan Minho bicara, Sungmin membuka pintu lalu pergi. Kembali ke kamarnya, Sungmin pergi mandi dan mencuci rambut. Ia sedang terbaring sambil membaca majalah di ranjang ketika Siwon masuk ke kamar. Sungmin menguap, meregangkan tubuh, lalu bertanya kepada ‘suaminya’ tentang pekerjaannya.

 

“Apa yang kau lakukan sepanjang petang tadi?” tanya Siwon kemudian.

 

“Aku baru pulang beberapa jam lalu. Sungguh melelahkan menemani anakmu beberapa hari ini” jawab Sungmin.

 

“Maafkan aku, sayang. Kau sungguh baik hati. Mulai sekarang kalau ada kesempatan aku akan menemaninya”

 

“Bagus. Ia meminta agar aku memaklumi perbuatannya pada musim dingin yang lalu. Sikapnya sungguh menyentuh perasaannku”

 

~+~+~+~

 

Pagi harinya Sungmin terbaring di ranjang sambil membayangkan Siwon dan Minho bercakap-cakap di meja makan. Bangun dari tempat tidurnya ia lalu berdiri di muka cermin. Ia mencoba-coba bagaimana menampilkan air muka yang menunjukkan rasa kecewa. “Oh, sayang,” begitu ia akan mengeluh di depan Siwon nanti, “Maksudmu, Minho berpura-pura selama ini? Sikapnya tidak sungguh-sungguh berubah?”

 

Itulah langkah awal rencana yang akan dimainkannya nanti. Sungmin tersenyum sambil berpikir tentang semua cara yang dilakukan untuk memperkeruh perselisihan antara ayah dan anak itu, dan membuat mereka saling menggunting satu sama lain. Sungmin pun turun ke lantai bawah.

 

Kyuhyun menghentikan langkah Sungmin.

“Bagaimana semalam?”

 

“Tidak terjadi apa-apa. Aku sudah melakukan sebagian tugasku. Sekarang kita hanya tinggal menunggu hasilnya”

 

Kyuhyun menatap cemberut ke arah Sungmin.

“Mereka berdua tampak bahagia saat makan pagi tadi”

 

Memang, ketika Sungmin bergabung dengan mereka setelah mereka baru saja menyelesaikan sembilan lubang golf, mereka sangat akrab. Siwon memeluk pundak anak lelakinya dengan penuh kasih sayang dan memberi Sungmin sebuah kecupan kilat.

 

“Kau mau ikut berkuda bersama kami nanti sore?” kata Siwon kepada Sungmin.

 

Sementara itu Minho tampak menghindari setiap tatapan mata Sungmin dan sikapnya sangat cuek. Sungmin menduga Minho tidak mengatakan sesuatu kepada Siwon tentang peristiwa tadi malam. Minho bersikap seolah pria bijaksana. Rencana Sungmin ternyata tidak membawa hasil.

 

“Terima kasih, aku mau pergi” gumam Sungmin.

 

Hari-hari berikutnya Minho tampak ingin menghindari berduaan dengan Sungmin. Apa pun yang mereka lakukan, harus mereka lakukan bertiga. Hari-hari berlalu dan Sungmin menjadi sangat sedih.

 

“Ya, ya, aku salah,” begitu Sungmin mengaku, ketika menemui Kyuhyun di dalam kabin dengan puncak sky-lift. “Itu ide yang sangat bagus, tetapi tidak bisa berjalan.”

 

Kyuhyun memandang Sungmin dan mendengus pelan.

“Jadi, rencana kita itu menemui jalan buntu, anak manis? Kita terus saja bersembunyi-sembunyi seperti ini? Sampai mungkin kau menyatakan aku buang-buang tenaga saja?”

 

Sungmin memeluk Kyuhyun dengan lembut.

“Jangan tolol. Kita masih mempunyai kesempatan lima hari lagi” katanya.

 

“Untuk melakukan apalagi?” kata Kyuhyun terdengar sedikit kesal.

 

Sungmin mengelus dada Kyuhyun dengan lembut.

“Gunakan otakmu. Barangkali rencana dulu memang kurang baik. Pengacara yang baik mungkin akan memenangkan anak itu meski rencana kita berhasil”

 

Namun mereka harus melakukan sesuatu. Kyuhyun berpikir sejenak, lantas katanya,

“Bagaimana kalau kedua orang itu kita buat seperti mendapat kecelakaan?”

 

Sungmin memukul pelan dada Kyuhyun.

“Oh, Kyu, kau ini bagaimana, sih?”

 

~+~+~+~

 

Sehari sekali Kyuhyun turun ke desa di kaki bukit untuk mengambil surat-surat dengan mengendarai jip. Sore itu, di antara surat-surat yang diambilnya terdapat surat untuk Minho.

“Surat dari ibu!” teriak Minho senang sambil merobek sampul surat itu.

 

Waktu itu ia duduk bersama Siwon di lantai serambi sambil memandangi lembah.

“Semua baik-baik saja di rumah?” tanya Siwon setelah Minho selesai membaca suratnya.

 

“Ya. Ibu merindukan aku dan berharap aku betah di sini. Ibu juga menanyakan kabar ayah.” Jawab Minho seraya melipat kembali kertas suratnya.

 

Sambil memegangi bahu anak lelakinya, Siwon berkata,

“Kau betah di sini bukan?”

 

“Luar biasa, ayah tahu sendiri. Sambutan Ayah dan Sungmin hyung sangat menyenangkan”

 

“Ah, lupakan itu”

 

Mereka duduk sambil menikmati pemandangan di luar. Kata Minho kemudian,

“Mungkin ibu menyukai tempat ini”

 

“Ia pernah datang ke tempat ini. Aku mengajaknya kemari pada salah satu ulang tahun perkawinan kami. Kukira itulah pertama kali muncul gagasanku untuk membeli tempat ini”

 

Minho memandang wajah ayahnya.

“Kadang-kadang aku bertanya-tanya, kalau saja Ayah menjual perusahaan itu dulu dan andaikata Ayah punya waktu lebih banyak bersama Ibu dan aku, mungkin kita masih tinggal bersama-sama”

Pandangan Siwon menerawang jauh.

“Siapa sangka bakal terjadi begini, anakku?”

 

Minho melihat nada penyesalan di dalam suara ayahnya.

“Tetapi andaikata ayah harus mengulang kembali, apakah ayah juga tetap akan menikahi Sungmin hyung?”

 

Rupanya Siwon merasa agak jengkel sehingga ia menjawab agak ketus,

“Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan macam itu? Semua toh sudah terjadi”

 

Minho cepat menjawab,

“Aku mengerti semua sudah terjadi dan sekarang kita harus menjalaninya dengan sebaik-baiknya”

 

“Aku tidak bilang begitu”

 

“Aku hanya ingin tahu mengapa hal itu terjadi”

 

Siwon Cuma mengagkat bahu, kemudian tangannya menunjukkan ke sisi kanan penginapan itu. Di sana tampak kabel penarik sky-lift punggung hutan pinus. “Kau tahu seperti apa di atas sana itu, bukan? Kau merasa tidak tenang, siap untuk meluncur. Untuk beberapa saat kau merasa takut, hati tidak menentu, dan kau bertanya-tanya apakah kau akan membuat dirimu bodoh atau lebih buruk”

 

Siwon terdiam sejenak.

“Namun, kemudian kau mendorong tubuhmu dan terlambat untuk berhenti atau kembali lagi. Lalu, semua yang kau rasakan adalah suatu perasaan gembira yang luar biasa. Begitulah kira-kira yang kualami terhadap Sungmin”

 

“Apakah ayah pernah punya keinginan untuk berhenti? Atau berbalik lagi?” tanya Minho.

 

Siwon tidak menjawab. Sambil menepuk-nepuk punggung anak lelakinya, Siwon berdiri lalu masuk ke dalam.

 

~+~+~+~

 

Kyuhyun sedang menunggu di dalam kabin ketika Sungmin datang hari berikutnya. Kyuhyun tampak senang. “Kau bilang itu penting” ujar Sungmin.

 

“Tidak sepenting ini” kata Kyuhyun sambil menarik tubuh Sungmin ke pelukannya.

 

Kata Kyuhyun kemudian,

“Upaya ini akan merupakan usaha terakhir”

 

Sungmin sedikit mengernyit tidak mengerti.

“Apa?”

 

“Kecelakaan itu, sayang”

Wajah Sungmin yang menjadi merah itu mengarah kepada Kyuhyun.

“Kau tampaknya sudah berpikir tentang sesuatu!” ujarnya.

 

Kyuhyun tersenyum, mungkin lebih tepatnya menyeringai kecil.

“Sesuatu yang sempurna, asal kau melakukan tugasmu” Katanya.

 

Sungmin tersenyum.

“Tugasku?

 

“Tenanglah. Kau harus yakin betul Siwon mengantar anaknya dengan mobil ke desa itu untuk pulang ke rumahnya. Kau bisa lakukan itu?”

 

“Ya”

 

“Aku akan berbuat seolah-olah sibuk, sehingga ia tidak akan meminta tolong padaku”

 

“Benar, Kyu. Siwon ingin mengantar Minho dengan jip itu. Kenapa?”

 

“Mereka tidak akan pernah sampai di desa itu. Aku menyabotase rem mobil itu, sehingga mereka takkan bisa berbelok di tikungan tajam itu. Kemudian jurang yang dalam siap menelan mereka bulat-bulat dan mereka takkan pernah tahu sebabnya”

 

“Kau yakin bisa melakukan hal itu Kyu?”

 

“Kecillll!”

 

Sungmin menganggukkan kepalanya dengan bangga.

“Aku suka dengan idemu itu”

“Aku sudah menduga, kau akan suka”

 

Kyuhyun mendekati wajah Sungmin dan mengecup lembut bibirnya. Namun tiba-tiba Sungmin mendadak tegang. Ia melepaskan ciumannya dan menoleh.

“Suara apa itu?”

“Mana?”

 

Sungmin menatap ke arah jendela yang terbuka.

“Aku mendengar sesuatu. Coba tengok di luar”

 

Kyuhyun beranjak pergi. Beberapa saat kemudian Kyuhyun kembali sambil menyeringai.

“Simpanlah kecemasanmu itu sampai sabtu nanti. Barangkali cuma seekor kijang” Katanya.

 

Namun, Sungmin masih belum lega.

“Kadang-kadang aku masih suka was-was, jangan-jangan Siwon curiga”

 

“Bagaimana dia bisa curiga? Bukankah permainan kita selalu rapi?”

“Beberapa hari ini sikapnya tidak seperti biasa”

 

Kyuhyun mengelus pipi Sungmin dengan punggung tangannya.

“Mungkin itu cuma perasaanmu”

 

Sungmin terdiam sesaat.

“Aku sebenarnya tidak mau Siwon menyentuhku lagi, tetapi aku berusaha tidak memperlihatkan padanya. Toh tidak akan lama lagi”

 

“Dua hari lagi, sayang, semua kekayaannya akan menjadi milikmu dan kau akan jadi milikku” Kyuhyun mengintip jam tangannya.

 

 “Sebaiknya aku pulang dulu. Sudah hampir waktunya untuk mengambil surat-surat,” Kyuhyun tersenyum. “Aku punya janji dengan Minho.”

 

“Oh?”

 

“Ia menyuruhku untuk membeli sesuatu di desa itu. Sebuah hadiah kenang-kenangan untukmu. Bukankah itu menyenangkan?”

 

Sungmin menarik satu sudut bibirnya membentuk seulas senyum sinis.

“Pergi dari tempat ini adalah hadiah paling baik yang dapat ia berikan padaku” Katanya. Kyuhyun hanya terkekeh dan beranjak pergi.

 

~+~+~+~

 

Minho yang membawa ransel dipunggungnya menghentikan mobil Kyuhyun ketika ia kembali dari desa itu. “Aku lelah sekali, Kyuhyun hyung. Boleh aku ikut menumpang?”

 

“Naiklah,” kata Kyuhyun. Kemudian sambil menyerahkan barang yang dibelinya kepada Minho, Kyuhyun menambahkan, “Kau beruntung ini adalah kotak terakhir yang mereka miliki”

 

Minho memasukkan kotak itu ke dalam ranselnya.

“Terima kasih. Hadiah ini tidak seberapa, tetapi aku ingat tahun lalu betapa Sungmin hyung menyukai French Cream ini” katanya.

 

Kyuhyun tertawa kecil.

“Gadis manis di toko itu tadi bertanya untuk siapa permen ini kubeli”

“Lalu, kau bilang apa kepadanya?”

“Yeah, kubilang permen itu untuk kekasihku”

 

~+~+~+~

 

Malam itu Minho menemui Siwon di kantor. Bangunan kantor ayahnya itu berdinding kayu pinus. Diberikannya sebuah bungkusan tipis berisi hadiah kepada ayahnya.

“Boleh dibuka sekarang kalau mau” kata Minho.

 

Wajah Siwon menampakkan rasa terkejut bercampur malu saat membuka bungkusan itu.

“Oh, bagus sekali. Terima kasih”

 

Minho tersenyum.

“Aku tidak bermaksud supaya ayah menaruhnya di atas meja,” ujar Minho. “Aku tidak bilang pada Ibu kalau aku mencetak lagi satu untuk ayah. Aku ingin Ayah melihat betapa Ibu tampak begitu hebat.”

 

Siwon menatap dengan cermat foto Minho bersama ‘ibunya’, Kibum.

“Ia kelihatan lain. Tampak lebih muda” Katanya.

 

“Ya, kulihat Ibu benar-benar ikhlas meninggalkan Ayah. Penampilannya kini luar biasa. Model rambutnya sekarang lain”

 

“Itu model yang biasa dipakainya” Ujar Siwon.

“Kalau aku jadi Ayah, tidak akan kubiarkan Sungmin hyung melihat foto ini. Bisa jadi ia tidak mau mengerti”

 

Sambil tersenyum Siwon memasukkan foto itu ke dalam laci bawah mejanya.

“Kau juga akan memberikan sesuatu pada Sungmin? Semacam hadiah atas segala kebaikannya?”

 

“Akan kukirimkan saja dari rumah,” ujar Minho. “Oh, ya, aku akan membeli satu kaleng French Cream kegemaran Sungmin hyung, tetapi Kyuhyun hyung mendahuluiku”

 

“Kyuhyun?” kata Siwon tampak tidak mengerti.

 

“Ya, Kyuhyun hyung justru membelinya untuk Sungmin hyung”

 

“Dari mana kau tahu?”

 

Minho memandang ayahnya dengan rasa tak bersalah.

“Kyuhyun hyung sendiri yang bilang padaku,” Minho tersenyum lebar. “Hei, Ayah tidak cemburu pada Kyuhyun hyung, bukan?”

 

“Sembarangan kau ini”

 

“Aku Cuma bercanda, Ayah. Aku melihat kaleng permen itu di dalam jip ketika tadi ia mengantarku. Lalu, kutanya untuk siapa permen itu. Jawabnya, Sungmin hyung yang menyuruh dia membelinya”

 

~+~+~+~

 

Sehari sebelum berangkat pulang, Minho masuk ke kamarnya setelah makan siang dan menulis beberapa kartu pos untuk teman-teman kuliahnya. Bukannnya supaya tampak masuk akal, namun barangkali setelah itu bermanfaat kalau ia memiliki bukti bahwa kartu-kartu pos itu akan sampai di kantor pos di desa itu. Ia turun ke lantai bawah sambil membawa kartu-kartu posnya. Ketika itu kira-kira saat Kyuhyun akan turun dari bukit.

 

Jantung Minho berndenyut kencang waktu ia melihat jip itu sudah pergi. Kemudian ia mendengar namanya dipanggil dan ketika ia memutar badannya, terlihat ayahnya melambai-lambaikan tangan ke arahnya. Kyuhyun berdiri di samping ayahnya.

 

“Sebaiknya kau ikut kami Minho. Seorang tamu kita terlempar jatuh dari kudanya di timur bukit. Wanita naas itu mungkin patah kakinya” Ujar Siwon.

 

Minho menatap kartu-kartu yang dipegangnya.

“Tentu. Aku tadi cuma mau minta tolong Kyuhyun hyung membawa kartu-kartu ini ke kantor pos”

 

Kyuhyun menyahut,

“Kau terlambat, Minho. Ny. Kim sudah berangkat menuju ke kantor pos. Maaf”

 

Minho berdiri memandang ke arah kaki bukit, lalu berbalik mengikuti kedua orang itu, sambil memasukkan kartu-kartu posnya ke saku jaketnya. Wanita itu rupanya cuma menderita keseleo saja. Siwon sungguh merasa prihatin, tetapi ia merasa lega setelah tahu cedera tamu itu tidak terlalu serius. Namun ketika mereka kembali ke penginapan, rahangnya kembali terkatup erat waktu dua orang pria dan seorang berseragam polisi datang terburu-buru menemui mereka.

 

“Ayah, ada apa ini?”

 

Wajah Siwon tampak pucat, bibirnya bergetar.

“Sesuatu yang mengerikan telah terjadi. Jip itu……masuk ke jurang”

“Kau bilang Sungmin hyung… Ya, Tuhan! Apakah dia…”

 

“Sungmin meninggal, Minho” kata Siwon dengan suara datar.

 

Minho terdiam. Ia menoleh kepada Kyuhyun yang berdiri tidak jauh dari Siwon. Pria itu hanya berdiri tanpa suara, sedikit menunduk. Sepertinya dia sangat terkejut dan terpukul. Kemudian Minho mengalihkan pandangannya keluar jendela, pada bukit-bukit yang berdiri angkuh diluar sana. Minho masih terdiam.

 

~+~+~+~

 

Sore itu Minho masuk ke kamarnya, membuka koper dan memasukkan sesuatu ke dalam sakunya. Kemudian ia mengambil kotak French Cream yang belum terbungkus dan membawanya. Minho berjalan melewati lorong, naik tangga untuk menuju ke hutan di luar sana. Ia merasa lega, kecelakaan itu terjadi sesuai dengan rencananya meskipun tadinya Kyuhyun-lah yang dia perkirakan ada dalam jip yang remnya ia buat agar blong itu, bukan Sungmin.

 

Adalah Kyuhyun yang secara tak sengaja memberinya gagasan tentang penyabotan rem mobil itu. gagasan itu diperolehnya ketika Minho diam-diam mengikuti Sungmin menuju kabin, lantas berdiri menguping di luar jendela. Namun, sekarang ia merasa tidak membenci pria itu. Siapa sih yang tidak tergiur bila menghadapi Sungmin? Seperti misalnya ayahnya, Siwon, dan juga Minho sendiri. Tadinya ia bermaksud meracuni Sungmin dengan permen yang ia beri racun. Kini permen beracun itu tak berguna lagi.

 

Jauh di tengah hutan Minho memendam kotak permen itu bersama botol kecil berisi cairan bening. Kalau dibuang begitu saja takut dimakan binatang tak berdosa. Racun itu tadinya akan ia taruh di kamar Kyuhyun. kini sudah tak perlu lagi.

 

Fin

 

One heart

Pairing         : KyuMin

Genre          : Tragedy

Length         : One Shoot

Warning       : Boys love, Yaoi

Disclaimer     : Story belong to me, KyuMin belong to each other

Summary       : konon mereka cukup berani sekaligus mempesona. Kenyataannya mereka benar-benar pasangan pencuri yang keji. 

 

Author note  : diadaptasi dari kisah Bonnie & Clyde. Bonnie & Clyde adalah pasangan perampok dan pembunuh legendaris yang menghebohkan Amerika di tahun 30-an. Legenda pasangan kekasih yang tewas bersama. Ada sedikit perubahan dan tambahan agar dapat sesuai dengan cerita KyuMin’nya.

 

Sebenarnya aku tidak yakin dengan hasilnya. Maaf jika tidak bagus. Aku tidak pandai mengadaptasi sebuah kisah menjadi sebuah FF. But hope you like it ^_^

 

 

No bash. No copas/plagiat. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

Jika kau berjalan terus mengikuti jalan ini, kau akan dengan mudah menemukan tempat itu. Sebuah restoran sederhana yang menyempil diantara bangunan-bangunan yang berdesakan. Itu hanyalah sebuah restoran kecil dan sederhana, bukan sesuatu yang menarik. Tapi ditempat itu kau akan dapat melihatnya, pemuda manis itu, yang bekerja sebagai pelayan ditempat itu.

 

Matanya yang berwarna hitam senada dengan warna rambutnya, hitam sekelam malam. Warna kesukaannya adalah Pink dan dia menyukai berbagai jenis topi. Dia akan tersenyum menyambut kedatanganmu dan melayanimu dengan ramah. Pesonanya akan membuatmu tidak tahan untuk tidak bertanya, siapa nama sosok yang nyaris sempurna ini? Dan pemuda manis itu dengan tersenyum akan menjawab,

 

“Namaku Sungmin. Lee Sungmin” Kemudian dia akan segera beranjak pergi, kembali sibuk dengan pekerjaannya.

 

Lee Sungmin, pemuda berwajah manis itu berasal dari keluarga yang taat beragama di Cheongju. Ketika berusia empat tahun, ia kehilangan ayahnya. Lalu keluarganya pindah ke Incheon. Pada usia 19 tahun Sungmin pernah menikah dengan seorang pengangguran dari Daegu yang bernama Kangin. Namun pernikahan mereka berakhir ketika ‘suaminya’ Kangin dihukum 99 tahun penjara karena pembunuhan. Kini Sungmin berusia 22 tahun, bekerja sebagai pelayan untuk mendapatkan uang agar dapat bertahan hidup bersama ibunya.

 

~+~+~+~

 

Januari 2008. Udara menjadi semakin dingin saat satu persatu butiran salju terjatuh dari langit malam, menghiasi tanah dengan warna putihnya yang dingin. Sungmin sedang sibuk membersihkan meja saat seorang pengunjung melangkah masuk ke dalam restoran. Pemuda tampan itu membersihkan sisa-sisa salju yang mengotori rambutnya yang berwarna cokelat itu dan mengedarkan pandangannya mencari meja yang masih kosong. Malam ini restoran cukup ramai.

 

Pemuda tampan itu memilih meja yang terletak dipinggir jendela. Ia melepas jas tebal berwarna hitam yang menghangatkan tubuhnya dan menyampirkannya diatas kursi. Ia menoleh saat Sungmin datang menghampirinya.

 

“Selamat datang. Tuan mau pesan apa?” Tanya Sungmin tersenyum ramah.

 

Pemuda tampan itu hanya diam memperhatikan Sungmin. Mata cokelatnya yang senada dengan warna rambutnya mengerjap, menjelajahi sosok yang berdiri didepannya ini. Sungmin masih berdiri menunggu dengan sabar, tangannya telah siap untuk mencatat pesanan.

 

“Berikan aku secangkir kopi hitam” Kata pemuda tampan itu akhirnya.

 

Sungmin segera mencatat pesanan pemuda tampan itu.

“Secangkir kopi hitam. Baiklah, silakan tunggu sebentar” kata Sungmin tersenyum dan beranjak pergi.

 

Tidak lama kemudian Sungmin kembali dengan membawa nampan berisi secangkir kopi hitam yang masih mengepul. Sungmin meletakkan cangkir itu didepan pemuda tampan itu dan kembali tersenyum.

“Silakan” Katanya dan berniat pergi.

“Tunggu” Tahan pemuda tampan itu.

 

Sungmin menoleh.

“Ada lagi yang tuan butuhkan?” Tanyanya.

 

Pemuda tampan itu menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum.

“Aku hanya ingin tahu namamu. Bolehkah?” Tanyanya.

 

Pemuda itu mengulurkan satu tangannya pada Sungmin. Sungmin diam sesaat memandang tangan yang sedang terulur padanya itu, kemudian ia menyambutnya. Ada suatu sensasi aneh saat Sungmin menjabat tangan itu. Terasa sangat hangat dan entah kenapa, Sungmin menyukainya.

 

“Namaku Sungmin. Lee Sungmin” Jawab Sungmin dengan tersenyum.

 

Pemuda tampan itu tersenyum puas saat mendengar Sungmin menyebutkan namanya. Seraya mempererat jabatan tangannya ia pun menyebutkan namanya, “Cho Kyuhyun”.

 

Sungmin menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti. Kemudian mereka melepaskan jabatan tangan mereka dan saling tersenyum, seolah mengetahui nama masing-masing adalah hal yang sangat menyenangkan.

 

“Jam berapa kau selesai bekerja?” Tanya Kyuhyun.

“Jam 11” Jawab Sungmin.

 

Kyuhyun memandang jam tangannya sesaat. Masih tiga jam lagi.

“Bolehkah aku menunggumu pulang?” Tanyanya.

 

Sungmin mendekap nampan ditangannya dengan sedikit gugup dan hanya tersenyum mengangguk pelan. Kemudian Sungmin beranjak pergi untuk melanjutkan pekerjaannya. Kyuhyun memandang cangkir didepannya. Cairan berwarna hitam yang berada didalam cangkir berwarna putih itu bergolak pelan saat Kyuhyun mengangkatnya perlahan. Kyuhyun menyesapnya sedikit dan mengenggamnya dengan kedua tangannya. Sudut matanya mulai sibuk memperhatikan Sungmin dan Kyuhyun tersenyum saat Sungmin menyadari pandangannya. Sungmin hanya balas tersenyum dan kembali dengan pekerjaannya. Selanjutnya Kyuhyun menikmati kopinya dengan memandang keluar jendela, menikmati jalanan yang kini dihiasi putihnya salju dan orang-orang yang berlalu lalang dengan kesibukan mereka.

 

~+~+~+~

 

Sungmin memandang jam yang berdetak didinding. Jam 11, saatnya ia pulang sekarang. Para pengunjung telah pergi dan restoran telah ditutup. Sungmin mengenakan jaket tebalnya yang berwarna pink dan juga topi hoodie hitam miliknya, membantu melindunginya dari udara dingin dibulan Januri. Ia mengambil tasnya dan berpikir dengan sedikit ragu, benarkah Kyuhyun menunggunya pulang? Hari sedang dingin, tidak mungkin pemuda tampan itu mau berlama-lama berdiri menunggunya yang baru dikenalnya, bukan?

 

Namun ternyata ia salah. Sungmin terkejut saat ia melihat Kyuhyun sedang bersandar pada lampu jalan. Kedua tangannya berada didalam saku jasnya yang tebal, ia sedang menunduk memainkan salju dengan sepatunya. Kyuhyun benar-benar menunggunya. Kyuhyun mengangkat kepalanya dan tersenyum saat melihat Sungmin. Segera Sungmin menghampirinya.

 

“Hai” Sapa Kyuhyun.

“Kau benar-benar menungguku?” Kata Sungmin tidak percaya.

 

“Kau bilang aku boleh menunggumu kan?” Kata Kyuhyun.

“Yeah, itu benar” Kata Sungmin kemudian tersenyum.

 

“Mau pergi minum bersama?” Ajak Kyuhyun.

“Yeah, boleh juga” Kata Sungmin menerima.

 

Mereka pun beranjak pergi bersama. Sebotol soju menemani obrolan mereka malam ini.  

“Ceritakan tentang dirimu” Pinta Sungmin.

“Eum…apa yang bisa kuceritakan” Kata Kyuhyun.

 

Seraya memainkan gelas soju ditangannya Kyuhyun bercerita, bahwa ia dilahirkan dari keluarga petani yang miskin di Cheongju. Ayahnya bekerja di sebuah pompa bensin kecil dan ia tinggal dengan kakak perempuan dan ibunya di rumah yang sempit. Saat giliran Kyuhyun yang meminta Sungmin untuk bercerita tentang dirinya, ia pun terkejut saat mengetahui bahwa Sungmin lebih tua dua tahun darinya. Namun kemudian dengan senang Kyuhyun memanggil, “Sungmin hyung…Sungmin hyung…” membuat Sungmin terkekeh mendengarnya.

 

Malam hampir sampai pada penghujungnya. Sensasi aneh yang sejak tadi Sungmin rasakan, kini terasa semakin besar. Perasaannya berdebar kuat saat Kyuhyun mengecup bibirnya dengan lembut. Dan saat Sungmin pun membalas ciuman itu ia menyadari, bahwa seorang Cho Kyuhyun telah membuatnya jatuh cinta. Perasaan terindah yang pertama kali Sungmin rasakan.  

 

Rasanya lucu. Bagaimana mungkin mereka bisa saling jatuh cinta hanya dalam waktu yang begitu cepat? Tapi bukankah itu cinta? Sebuah misteri yang dapat mengenaimu kapan saja, dimana saja, dan pada siapa saja. Dan kisah cinta mereka pun dimulai disini.

 

~+~+~+~

 

Ini malam pertama Kyuhyun datang berkunjung ke rumah Sungmin. Ibu Sungmin senang sekali ketika bertemu dengan Kyuhyun. Wanita paruh baya itu yakin si tampan Kyuhyun inilah yang akan menolong Sungmin keluar dari pernikahannya yang berantakan. Dengan bersemangat ia bertanya,

 

“Kapan kalian akan menikah? Kau akan menikahi anakku, bukan?”

“ibu…” Sungmin memandang ibunya dengan malu.

 

Kyuhyun yang duduk disamping Sungmin hanya memandang calon mertuanya dengan tenang. Kemudian ia menggenggam tangan kekasihnya dengan erat dan dengan tersenyum yakin ia menjawab,

 

“Ibu tenang saja. Aku pasti akan menikahi anakmu”

 

Sang calon mertua tersenyum puas dikursinya. Sementara Sungmin mengerjap tidak percaya memandang Kyuhyun. Kyuhyun menoleh dan tersenyum memandang kekasihnya. “Aku benar-benar serius.” Katanya yang akhirnya membuat Sungmin tersenyum senang. Ia merasa sangat senang.

 

Seharusnya ini menjadi awal yang bagus bagi pasangan ini. Bertemu, berkenalan, menjalin hubungan, merencanakan pernikahan. Kisah yang romantis. Namun hubungan kedua pasangan ini tidaklah dimulai dengan kisah cinta romantis seperti halnya dua pasangan yang sedang dimabuk cinta.

 

Di malam pertama setelah Kyuhyun berkunjung ke rumah Sungmin, ia ditangkap atas tuduhan tujuh pencurian dan pencurian mobil. Kyuhyun dijatuhi hukuman dua tahun penjara. Sungmin terkejut mendengar berita ini. Namun itu tidak menyurutkan keyakinan Sungmin bahwa kekasihnya akan segera kembali padanya. Itu benar.

 

~+~+~+~

 

Maret. Udara mulai menghangat dan salju menghilang. Sungmin masih menunggu Kyuhyun, keyakinan itu tidak pernah surut. Dan perasaan cinta itu tidak pernah padam. Hampir setiap hari Sungmin mengunjungi kekasihnya dipenjara. Saat mereka bertemu, Kyuhyun akan mengenggam tangan kekasihnya itu dengan erat dan Sungmin akan menemukan didalam mata cokelat itu, pesan cinta yang masih sama untuknya.

 

Namun penjara bukanlah tempat yang menyenangkan untuk Kyuhyun. Melihat kondisi kekasihnya dibalik jeruji besi yang dingin itu membuat Sungmin sedih. Maka hari itu saat ia mengunjungi kekasihnya, Sungmin nekat menyelundupkan sepucuk pistol ke penjara. Ia memberikan pistol itu pada Kyuhyun, dan Kyuhyun pun berhasil melarikan diri.

 

Namun selang dua hari sesudah pelariannya, Kyuhyun ditangkap dan kembali masuk penjara setelah merampok sebuah stasiun kereta api dengan todongan pistol. Kyuhyun harus kembali merasakan kehidupan penjara yang sangat brutal dan keras. Ia dihukum empat belas tahun penjara.

 

~+~+~+~

 

Di penjara. Kyuhyun nyaris kehabisan akal, frustasi karena tidak bisa keluar. Kyuhyun begitu merindukan kekasihnya. Kyuhyun ingin berada disisi Sungmin, dalam pelukannya yang hangat. Yeah, ia harus segera kembali pada Sungmin. Bagaimanapun caranya.

 

Kyuhyun terus memikirkan berbagai cara untuk bisa keluar dari tempat terkutuk ini. Hingga akhirnya ia meminta kepada napi lainnya untuk memotong dua jari kakinya dengan kapak. Kyuhyun memberikan sebuah kapak dan berbisik,

 

“Ayo, lekas potong jariku!”

 

Napi itu terkejut mendengar permintaan Kyuhyun. Ia memandang kapak ditangannya dengan ragu namun Kyuhyun terus mendesaknya hingga akhirnya napi tersebut terpaksa menuruti permintaan gila Kyuhyun. Ia mengayunkan kapak itu sambil berbisik ampun pada Tuhan dan…rencana Kyuhyun berhasil. Dua jari kakinya langsung putus. Kyuhyun dibebaskan karena cacat dan langsung pulang ke Sungmin.

 

Sungmin menyambut kepulangan kekasihnya dengan senang. Ia mememeluk Kyuhyun dengan erat, menghujani wajah tampannya dengan ciumannya, rangkuman rindunya yang tertahan. Namun Sungmin terpekik kaget saat melihat kekasihnya telah kehilangan dua jari kakinya.

 

“Apa yang kau lakukan pada jari kakimu?” Tanya Sungmin.

“Aku memotongnya” Jawab Kyuhyun santai.

 

“Apa? Kenapa kau lakukan itu? God Lord…”

“Agar aku bisa pulang kepadamu”

 

Sungmin tertegun mendengarnya. Ia langsung memeluk Kyuhyun dan mulai menangis.

“Bodoh.” Kata Sungmin dalam pelukan Kyuhyun.

 

Kyuhyun membelai kepala Sungmin dan hanya terkekeh. Mata hitam dan mata cokelat itu saling bertemu saat Kyuhyun mengangkat wajah Sungmin. Ia memandang lekat-lekat wajah manis yang begitu ia rindukan. Mengecup dengan lembut bibir plump itu dan berbisik,

 

“Aku sangat merindukanmu hyung…”

 

~+~+~+~

 

Untuk menyenangkan hati ibu Sungmin, Kyuhyun bekerja di Busan. Selain menyenangkan hati sang mertua, ia juga berusaha hidup terhormat. Namun bekerja di tempat yang jauh dari rumah justru membuat Kyuhyun tidak tahan. Kyuhyun berhenti dari pekerjaannya dan pergi ke Seoul. Tiga hari kemudian Sungmin meninggalkan rumah untuk mengikuti kekasihnya. Maka mulailah pasangan ini menjalani profesi baru mereka sebagai perampok dan pembunuh. Pasangan ini memperoleh seorang teman, Lee Donghae dan dua orang remaja laki-laki, Choi Minho dan Lee Taemin. Aksi mereka dimulai dengan merampok bank.

 

Bank siang ini. Semua berjalan dengan normal seperti biasanya. Tenang dan teratur. Namun dalam sekejap suasana itu berubah menjadi panik saat Kyuhyun dan kelompoknya datang dengan menodongkan senjata mereka pada semua orang di dalam bank.

 

Dorr!

 

Kyuhyun menembakkan senjatanya ke udara dengan sengaja. Seketika semua orang terdiam dengan takut. “Tiarap dilantai!” perintah Donghae seraya menunjuk dengan ujung senjatanya.

 

“Jangan ada yang bersuara!” Kata Minho.

 

Mereka semua segera tiarap dilantai dan tidak ada yang berani untuk bersuara.

“Apa yang kau lihat?!” Kata Sungmin galak seraya menodongkan senjatanya pada seorang pria yang tidak sengaja sedang menatapnya. Dengan takut pria itu segera memandang lantai.

 

“Segera ambil semua uangnya.” Kata Kyuhyun.

 

Sungmin dan Taemin segera memasukkan semua uang dibank itu ke dalam tas-tas mereka dengan cepat. “Palli.” Seru Minho.

 

Seorang pegawai diam-diam berusaha menekan alarm. Kyuhyun yang menyadari gelagat itu menembakkan senjatanya. Pegawai tersebut terluka cukup parah namun ia berhasil menekan alarm. Suara alarm terdengar bergema nyaring didalam gedung.

 

“Cih.” Donghae berdecak kesal.

“Khajja.” Kata Kyuhyun segera menarik tangan Sungmin pergi.

 

Mereka segera berlari pergi menuju mobil mereka. Mobil sedan hitam itu melaju cepat meninggalkan bank. Beberapa menit kemudian polisi datang namun Kyuhyun dengan kelompoknya telah berhasil melarikan diri dengan membawa semua hasil rampokan mereka.

 

~+~+~+~

 

Malam telah larut. Di sebuah apartement tempat mereka tinggal, Kyuhyun dan kelompoknya sedang menghitung hasil rampokan mereka. Mereka tertawa senang dengan hasil rampokan mereka yang besar dan merencanakan aksi mereka selanjutnya. Untuk merayakan keberhasilan ini mereka pun berpesta. Beberapa botol beer melengkapi pesta kecil ini.

 

Sementara kelompoknya bersenang-senang dengan pesta mereka, Kyuhyun pun sedang bersenang-senang dengan Sungmin di salah satu kamar. Kyuhyun mencumbu kekasihnya dengan lembut namun penuh gairah. Sungmin mendesah merasakan kembali sensasi aneh setiap kali Kyuhyun memasuki tubuhnya semakin dalam. Bibir mereka bertemu, saling menyambut meneteskan madu dari rasa cinta yang bergejolak. Sungmin menyentuh wajah Kyuhyun dan memandang mata cokelat itu lekat-lekat. Ia tersenyum saat menemukan pesan cinta yang masih sama untuknya, didalam sepasang mata cokelat yang mengagumkan itu.

 

Sungmin menengadahkan kepalanya dan hanya mampu menggenggam rambut Kyuhyun, berteriak pelan menyebut nama Tuhan yang maha pemberi nikmat setiap kali kekasihnya itu mengantarkannya ke pucuk tertinggi.

 

Sungmin berbaring diatas tubuh Kyuhyun saat percintaan itu usai. Ia membiarkan kekasihnya memagut bibir plumpnya dengan lembut. Tanpa lelah Kyuhyun terus mengatakan rasa cintanya pada sang kekasih dalam ciuman mereka. Membuat Sungmin merasa sangat bahagia.

 

Sungmin meletakkan kepalanya diatas dada Kyuhyun. Kyuhyun memeluk kekasihnya dan membelai kepalanya dengan lembut. Tidak ada yang bersuara selama beberapa menit, seolah sedang menikmati ketenangan ini. Suara bass Kyuhyun yang pertama memecah ketenangan.

 

“Hyung..”

“Hn?”

 

“Apa kau yakin dengan hal ini?”

“Apa?”

 

“Merampok dan mungkin hal buruk lainnya”

“Selama itu bersamamu, itu tidak masalah”

 

Kyuhyun menghentikan belaiannya. Sungmin mengangkat kepalanya memandang Kyuhyun. Kyuhyun memandang manik hitam itu lekat-lekat seolah mencari sesuatu. Namun yang ia temukan hanya cinta untuknya dan sebuah keseriusan.

 

“Aku menyerahkah seluruh hidupku padamu Kyu. Kemanapun kau pergi, apapun yang kau lakukan, aku akan tetap bersamamu.” Kata Sungmin.

 

Kyuhyun tersenyum dan mengecup bibir Sungmin dengan senang.

I love you hyung. I love you…I really do.”

Yeah, me too.”

 

~+~+~+~

 

April 2010, udara hangat musim semi hampir berakhir. Pembunuhan pertama kelompok perampok ini dilakukan pada bulan ini. Malam telah larut. Di sisi timur Seoul, seorang pedagang permata bernama Leeteuk baru saja akan bersiap-siap pulang. Namun ia dikejutkan dengan kedatangan Kyuhyun dan kelompoknya di toko kecilnya.

 

Leeteuk baru saja akan bertanya. Namun todongan pistol Sungmin yang tepat diwajahnya, membuat Leeteuk terkejut. Leeteuk berusaha melawan saat Kyuhyun akan merampoknya. Sialnya, Kyuhyun harus menembak mati Leeteuk hanya untuk uang sebesar $ 40. Mereka pun segera melarikan diri.

 

Beberapa hari kemudian Sungmin ditahan karena dicurigai mencuri mobil. Selama Sungmin ditahan, Kyuhyun dan kelompoknya terus beraksi. Mereka menembak mati dengan kejam seorang Sheriff dan seorang Deputi Sheriff di luar suatu restoran. Tiga bulan kemudian, Sungmin dibebaskan tanpa tuduhan apapun. Sungmin segera kembali pada Kyuhyun. Dan pasangan kekasih ini pun kembali melakukan aksi mereka dengan lebih keji dan kejam.

 

~+~+~+~

 

Komplotan ini terus melakukan aksinya, merampok dan membunuh tanpa ragu. Hasil rampokan terbesar komplotan ini adalah sebesar $ 3500 yang dicuri dari suatu tempat penjualan bensin di Sokcho. Mereka kemudian merayakannya dengan liburan bermobil mengelilingi Seoul, Daegu, dan Gyeongju. Mereka juga tinggal di hotel-hotel mewah dan makan di restoran-restoran mahal. Berfoya-foya menikmati hasil rampokan mereka, hingga akhirnya uang haram itu tidak bersisa dan cepat habis.

 

Mereka terpaksa kembali melakukan kejahatan-kejahatan kecil, membunuh hanya untuk beberapa dolar. Dengan darah dingin, Sungmin menembak mati seorang jagal sebanyak tiga kali di perutnya sebelum merampoknya. Bahkan Taemin yang baru saja berusia 17 tahun menembak mati anak pemilik mobil ketika ia ketahuan sedang mencuri. Bagi mereka, menembak untuk membunuh merupakan makanan sehari-hari dan sudah seperti gerak refleks saja.

 

~+~+~+~

 

Pada bulan Maret 2011 di Busan. Komplotan ini mendapat anggota baru yaitu saudara Kyuhyun, Yesung dan ‘istrinya’ Ryeowook. Aksi mereka masih terus berlanjut. Hingga dalam suatu kesempatan, mereka hampir tidak bisa menghindari sergapan polisi di sebuah apartement tempat mereka tinggal. Entah bagaimana polisi dapat mengetahui apartement ini. Beruntung, mereka dapat lolos dengan menembak mati dua orang polisi sambil melarikan diri.

 

Sekarang sudah tidak ada lagi tempat aman bagi mereka. Mereka harus selalu berpindah, dari satu kota ke kota lainnya. Mereka merampok dan membunuh kemana pun mereka pergi. Dalam kecemasan semua anggota komplotan sadar, bahwa kebebasan mereka hanya sementara dan tinggal masalah waktu saja.

 

Saat ini Kyuhyun dan komplotannya sedang berada di salah satu kota. Sementara yang lain sedang berpikir tentang nasib mereka selanjutnya di sebuah hotel kecil, Kyuhyun diluar sedang mencari kekasihnya. Ia menemukan Sungmin sedang duduk diatas kap mobil. Kepalanya menengadah memandang langit malam, kelam tanpa bulan dan bintang yang biasa menghiasinya. Sungmin menoleh saat Kyuhyun datang. Kyuhyun naik ke atas kap mobil dan duduk disamping Sungmin.

 

“Apa yang sedang kau lakukan disini hyung? Aku mencarimu sejak tadi” Tanya Kyuhyun.

 

Sungmin mendesah sesaat kemudian menyenderkan kepalanya dibahu Kyuhyun. Kyuhyun mengusap kepala kekasihnya dengan lembut seraya memandangnya. Wajah manis itu terlihat sangat khawatir.

“Apa yang sedang kau pikirkan, eoh?” Tanya Kyuhyun lagi.

 

Sungmin hanya mendesah dengan berat.

“Apa kau khawatir kita akan tertangkap?” Tanya Kyuhyun lagi.

“Cepat atau lambat, kita pasti akan tertangkap Kyu. Mereka akan menemukan kita dan menangkap kita” Jawab Sungmin bersuara.

 

“Itu tidak akan terjadi. Kita akan pergi ke tempat yang jauh. Mereka tidak akan bisa menangkap kita” Kata Kyuhyun berusaha menghibur, meski ia sendiri tidak begitu yakin.

 

Sungmin menegakkan kepalanya dan memandang Kyuhyun. Wajah manis itu terlihat semakin khawatir.

“Tapi kemana Kyu? Dimana pun kita sudah tidak aman lagi” Katanya.

 

Sungmin menunduk dan mendesah pelan sesaat.

“Sebenarnya rasa khawatir terbesarku adalah ibu. Aku tidak bisa lagi bertemu dengan ibu.” Katanya.

 

Kyuhyun hanya diam. Ia merengkuh tubuh Sungmin dan memeluknya dengan erat, berusaha memberi sedikit ketenangan pada kekasihnya. Yeah, Sungmin benar. Tidak bisa lagi bertemu dengan orang tua, orang yang terasa mengikat mereka adalah rasa khawatir terbesar mereka.

 

“Hey Kyu” Panggil Donghae yang datang mendekat.

 

Kyuhyun menoleh. Ia hanya memandang Donghae yang kini berdiri dididepannya tanpa melepaskan tangannya yang sedang merangkul Sungmin. Sungmin pun menoleh memandang Donghae. “Aku mendapat kabar, polisi sedang menuju kemari. Mereka terus mengejar kita” Kata Donghae.

 

God Lord…” desis Sungmin pelan.

 

Kyuhyun melepaskan rangkulannya dan terdiam sesaat.

“Suruh mereka bersiap. Kita segera pergi dari sini” Perintahnya.

“Tapi kemana Kyu?” Tanya Sungmin memandang kekasihnya semakin cemas.

 

“Ada desa kecil ditimur kota ini. Kita kesana” Jawab Kyuhyun.

“Bersembunyi lagi?” Tanya Donghae.

 

Kyuhyun mendesah dengan sangat pelan sesaat.

“Saat ini, hanya itu yang bisa kita lakukan” Katanya.

“Aku mengerti.” Kata Donghae.

 

Donghae beranjak pergi untuk menemui anggota lainnya. Kyuhyun meloncat turun dari atas kap mobil dan mengulurkan tangannya pada Sungmin membantunya untuk turun. Kyuhyun menggenggam tangan Sungmin dengan erat seolah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Sungmin hanya mengangguk kecil seolah ia mengerti maksud genggaman erat tangan Kyuhyun.

 

“Kita temui yang lain. Khajja.” Kata Kyuhyun menarik Sungmin pergi.

 

~+~+~+~

 

Kyuhyun dan komplotannya terus berpindah, dari satu kota ke kota lainnya demi menghindari kejaran polisi. Mereka terus merampok dan membunuh kemana pun mereka pergi. Untuk mempersulit polisi, Kyuhyun setuju membagi kelompok dan berpencar. Donghae, Minho, Yesung dan Ryeowook, sedangkan Kyuhyun, Sungmin dan Taemin. Mereka berjanji akan bertemu di tempat yang telah dijanjikan.

 

Namun musibah tidak dapat dihindari. Di dekat Gwangjuu, mobil yang dikendarai Kyuhyun terperosok ke dasar sebuah lembah. Kyuhyun dan Taemin terlempar keluar, tetapi Sungmin terperangkap dan mengalami luka bakar ketika mobilnya terjilat api.

 

Untunglah, seorang petani setempat menolong Sungmin. Selama beberapa hari mereka menginap di rumah petani tersebut. Namun kelak, petani itu mulai curiga kepada mereka dan diam-diam melaporkan pada polisi. Taemin yang mengetahui hal itu segera memberitahu Kyuhyun dan Sungmin.

 

“Orang tua sialan!” Maki Kyuhyun kesal.

“Kita harus segera pergi Kyu. Polisi akan segera datang.” Kata Sungmin.

“Palli hyung.” Seru Taemin dengan panik.

 

Mereka pun segera beranjak pergi. Namun polisi telah datang. Sekali lagi pelarian itu berhasil. Mereka berhasil melepaskan diri dari kepungan senjata dan bergabung kembali dengan Yesung dan Ryeowook yang telah menunggu mereka diselatan desa. Kyuhyun mengernyit saat menyadari jumlah anggota berkurang.

 

“Dimana Donghae hyung dan Minho?” Tanya Kyuhyun.

“Eum…mereka tertangkap saat kami berusaha menghindar dari kejaran polisi. Polisi menembak kaki dan tangan mereka, membuat mereka tidak bisa berlari dan akhirnya tertangkap.” Jawab Yesung.

 

Kyuhyun terdiam mendengar penuturan Yesung. Ia telah kehilangan dua anggota, mereka nyaris tertangkap, dan saat ini Sungmin masih dalam keadaan sakit menderita luka bakar. Selanjutnya apalagi? Apa mereka masih bisa melarikan diri?

 

~+~+~+~

 

Pada bulan Juli, Kyuhyun dan anggotanya yang masih tersisa beristirahat di sebuah kamp wisata di Daegu. Berita mereka ada disana terdengar oleh polisi. Polisi yang tidak kenal menyerah kembali datang mengepung mereka. Mereka pun segera berusaha untuk melarikan diri. Kejar-kejaran seru terjadi. Terjadi baku tembak antara polisi dengan komplotan Kyuhyun. Sialnya, Taemin yang terlambat kabur berhasil ditangkap polisi.

 

Kyuhyun memacu mobilnya secepat mungkin, meninggalkan para polisi yang terus mengejar mereka. Kyuhyun mulai merasa panik. Yesung tertembak di pelipisnya sedangkan Ryeowook menjadi buta terkena pecahan kaca.

 

“Ugh..sial! sial!” Erang Kyuhyun memukul kemudi dengan kesal.

 

Malam datang dan perlahan mulai larut. Kyuhyun masih terus mengemudikan mobilnya. Ia tidak tahu mau kemana, Kyuhyun hanya membawa mobilnya terus menyusuri jalanan. Kemana pun tidak jadi masalah, Kyuhyun sudah tidak peduli. Ke ujung dunia pun tidak apa, asal mereka semua bisa selamat dari polisi-polisi sialan itu.

 

Mobil ini terus melaju tanpa arah. Mereka mulai frustasi, putus asa ditambah rasa lapar. Dua orang luka berat dan Yesung sekarat. Kyuhyun terpaksa menghentikan mobilnya untuk membeli makanan. Kyuhyun membelai kekasihnya sesaat dan memandang Yesung dan Ryeowook yang berada di kursi belakang.

 

“Kalian tunggu disini sebentar. Aku akan membeli makanan untuk kita” Kata Kyuhyun.

“Kyu, beli obat juga untuk Yesung hyung dan Wookie.” Kata Sungmin.

 

Kyuhyun menganggukkan kepalanya dan beranjak turun dari mobil. Namun dalam beberapa menit polisi sudah berada di depan mereka. “Keluar dari mobil!” Perintah Kyuhyun.

 

Mereka segera keluar dari mobil dan berusaha berlindung dari tembakan para polisi. Kyuhyun menggenggam tangan Sungmin dengan erat dan menariknya pergi dari tempat itu. Sementara itu, Yesung berusaha melindungi Ryeowook. Ia memeluk pemuda itu dengan erat seraya berusaha membalas tembakan para polisi.

 

Yesung tertembak di pinggang, bahu dan punggungnya. Sesudah tembakan berhenti, polisi menemukan Yesung dalam pelukan Ryeowook yang menangis. Mereka ditangkap. Enam hari kemudian Yesung akhirnya mati di rumah sakit, sedangkan Ryeowook dijatuhi hukuman 10 tahun penjara.

 

Sementara itu Kyuhyun dan Sungmin masih bebas hingga tiga bulan kemudian. Polisi terus mengejar mereka, namun Kyuhyun dan Sungmin masih bisa meloloskan diri. Hingga nasib menetukan lain.

 

~+~+~+~

 

23 Mei 2012, mobil sedan hitam milik Kyuhyun diberondong oleh enam anggota polisi. Di mobil itu terdapat 87 bekas peluru. Kyuhyun dan Sungmin tewas seketika dengan tubuh penuh darah dan hancur. Menariknya kedua pasangan ini selalu membawa kamera Polaroid di dalam mobilnya dan selalu berpose dengan gaya sambil menenteng senjata atau berpelukan mesra. Kamera dan berpuluh-puluh lembar foto mereka ditemukan oleh para polisi yang mengejar mereka.

 

Berita kematian mereka mengejutkan dan dirasa tak masuk akal bagi semua orang, termasuk bagi ibu Sungmin. Wanita paruh baya itu menangis saat mengetahui permintaan terakhir anaknya, yaitu :

 

“Jangan membawaku ke kamar duka tapi bawalah aku pulang!”

 

Seraya memandang foto mereka yang ia minta dari polisi, ibu Sungmin berpikir cinta seperti apa hingga membuat anaknya rela memberikan seluruh hidupnya pada Kyuhyun?

 

“Ibu, bukankah cinta memang aneh? Itu adalah sesuatu yang mampu membuatku bertahan, sesuatu yang membuatku memberikan seluruh hidupku padanya. Kyuhyun adalah hidupku.”

 

Cinta seperti apa hingga membuat mereka akhirnya tewas bersama?

 

“Cinta…itu adalah hal terindah. Perasaan menyenangkan itu, seharusnya dipertahankan sekuat mungkin. Perasaan berharga ini akan kami jaga hingga akhir…”

 

END

Sound

Pairing           : KyuMin

Genre            : Horror

Length           : Drabble

Warning         : Boys Love, shounen-ai

Disclaimer     : Story belong to me, KyuMin belong to each other

Summary        : Suara-suara itu terdengar jelas. Suara dari masa lalu atau dari masa depan? Apa kau mendengarnya juga?

 

No bash. No copas/plagiat. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

Kyuhyun memperhatikan sekeliling. Kota yang berbeda, orang-orang yang berbeda, keadaan yang tampak berbeda. Papan-papan nama jalan itu tidak menunjukkan ia sedang berada di Seoul. Benar, ini bukan Seoul. Tapi London, Inggris. Dan Kyuhyun sedang berdiri di pinggir jalan bersama Sungmin.

 

“Kyuhyunie~”

 

Kyuhyun mendesah untuk ke sekian kalinya. Sungmin sedang merangkul lengannya dengan manja, memandangnya dengan sorot mata puppy eyes yang begitu menggemaskan. Kyuhyun berpikir, bagaimana bisa ada makhluk seimut ini di dunia, dan bagaimana Kyuhyun bisa tahan dengan semua hal itu?

 

“Ayolah Kyu, kau kan sudah berjanji saat di upacara pernikahan” Sungmin semakin merajuk dilengan Kyuhyun.

 

Kyuhyun semakin mendesah mendengar rajukan manja dari Sungmin yang kini berstatus sebagai ‘istrinya’. Yeah, benar. Mereka telah menikah. Kyuhyun kembali mengingat janji yang terpaksa ia setujui agar Sungmin mau menikah dengannya.

 

Flashback

Hari ini menjadi hari terpenting bagi Kyuhyun dan Sungmin. Gereja ini telah dipenuhi oleh para tamu undangan. Mereka duduk dengan tenang dan sedikit gugup menunggu moment yang paling membahagiakan. Begitu juga yang sedang dirasakan oleh Kyuhyun. Siwon, sang pastur muda berdiri didepan pasangan bahagia ini. Dengan kitab di tangannya ia mengucapkan janji pernikahan untuk Kyuhyun dan Sungmin.

 

Tanpa ragu dan tegas Kyuhyun segera menjawab, “aku bersedia”. Namun saat giliran Sungmin, pemuda manis itu terdiam. Kyuhyun melirik Sungmin yang hanya terdiam memandang Siwon. Ia menyenggol Sungmin dengan lengannya dan berbisik pelan,

 

“Kenapa tidak menjawab? Cepat jawab saja”

 

Namun Sungmin masih terdiam. Mata foxy’nya mengerjap sesaat kemudian ia menoleh pada Kyuhyun. Sungmin menarik pelan jas hitam Kyuhyun agar pemuda tinggi itu mendekat. Dengan bingung Kyuhyun mendekatkan telinganya pada Sungmin. Mereka saling berbisik pelan.

 

“Kyu, aku ingin bulan madu kita ke London”

 

“Bukannya kemarin kau bilang ingin pergi ke Roma?”

 

“Aku berubah pikiran. Aku mau ke London saja. Aku ingin mengunjungi The Tower of London. Sepertinya tempat itu menarik. Jika kau tidak mau, aku tidak mau menikah”

 

Kyuhyun terdiam sesaat dan berpikir, bisa-bisanya pemuda manis ini membahas tentang bulan madu ditengah upacara pernikahan mereka. Tapi Kyuhyun sangat mengenal Sungmin. Pemuda manis ini sangat keras kepala. Jika Kyuhyun tidak setuju, maka ancaman itu bisa menjadi kenyataan. Dan Kyuhyun tidak mau itu terjadi. Akhirnya Kyuhyun mendesah pasrah.

 

“Baiklah, kita ke London”

 

“Sungguh?”

 

“Iya. Sekarang cepat jawab janji itu”

 

Sungmin mengerjap senang kemudian menoleh pada Siwon. Pastur muda itu masih menunggu jawaban dari Sungmin. Dengan tersenyum Sungmin menjawab, “aku bersedia”, yang akhirnya membuat Kyuhyun menghela nafas lega.

Flashback end

 

Dan disinilah mereka sekarang. London, sesuai keinginan Sungmin. Sebenarnya Kyuhyun tidak keberatan bulan madu ke London. London adalah kota yang indah dan penuh sejarah. Tempat yang cocok untuk berbulan madu. Banyak tempat yang bisa mereka kunjungi di kota ini, termasuk The Tower of London. Monumen bersejarah yang tidak lepas dari peristiwa sedih dan terror yang menimpanya.

 

Tapi Kyuhyun bukanlah pecinta sejarah. Ia lebih memilih mengurung Sungmin di kamar hotel mereka dan bercinta seharian penuh, sampai masa bulan madu mereka berakhir. Daripada mengunjungi bangunan-bangunan penuh sejarah itu. Tapi…

 

“Jebbal Kyuhyunie~” Sungmin semakin merajuk dengan puppy eyes tingkat maximum.

 

Kyuhyun kembali mendesah, Sungmin selalu tahu bagaimana cara membuatnya lemah. Ia benar-benar kalah dengan sorot mata itu. “Ara ara, aku mengerti. Kita kesana” Kata Kyuhyun akhirnya.

 

Sungmin tersenyum senang dan langsung memeluk ‘suaminya’ itu.

“Gomawo Kyu. Aku sangat mencintaimu” Ujarnya sangat senang.

 

Kyuhyun hanya tersenyum dan mencium Sungmin sesaat dengan lembut.

“Khajja” Katanya menggamit tangan Sungmin.

 

Mereka pun beranjak pergi dengan tangan yang saling bertaut erat. Selama diperjalanan Sungmin terlihat antusias dan itu membuat Kyuhyun tersenyum melihatnya. Sebelum hari pernikahan Sungmin menemukan tempat ini di internet. Karena Sungmin penasaran dengan tempat ini, maka ia memilih tempat ini sebagai tujuan bulan madu mereka. Namun saat mereka tiba di The Tower of London, antusias Sungmin sedikit berkurang. Tempat itu terlihat tenang dengan hanya beberapa orang pengunjung.

 

“Mungkin tempat ini ramai saat akhir pekan dan hari libur” Kata Kyuhyun.

 

“Benar, mungkin begitu. Well, karena kita sudah disini…khajja” Kata Sungmin dengan tersenyum.

 

Kyuhyun membiarkan Sungmin menyeretnya menyusuri menara bercat putih ini. Tempat ini benar-benar sangat tenang, ketenangan yang sebenarnya cukup membuat merinding. Setelah beberapa waktu mengamati koleksi senjata di sana-sini, Kyuhyun dan Sungmin merasakan suatu tekanan udara aneh yang tiba-tiba menyergap mereka.

 

Bergegas mereka berusaha keluar dari ruangan itu. Namun ketika berada di tengah-tengah tangga, tiba-tiba Sungmin menoleh ke arah Kyuhyun. “Aku mendengar banyak anak-anak berteriak” Katanya.

 

Kyuhyun bingung karena ia tidak mendengar apa-apa, hanya dengung pembicaraan beberapa pengunjung di lantai bawah. Kyuhyun menggeggam tangan Sungmin dan menggandengnya pergi. Namun beberapa menit kemudian Sungmin menjerit seraya menutup kedua telinga dengan tangannya.

 

“Banyak anak-anak berteriak Kyu. Mereka menjerit meminta tolong. Lakukan sesuatu Kyu” Jerit Sungmin.

 

Kyuhyun memandang Sungmin semakin bingung. Perlahan Sungmin menurunkan kedua tangannya dari telinganya. “Apa kau tidak mendengarnya Kyu?” Tanya Sungmin.

 

“Aku tidak mendengar apapun. Di sini sangat tenang” Jawab Kyuhyun bingung.

 

“Tapi aku mendengarnya Kyu, aku mendengar banyak suara tangisan anak-anak” Kata Sungmin yakin.

 

Kyuhyun mengedarkan pandangannya sesaat, berusaha menajamkan pendengarannya. Namun ia tidak mendengar apapun. Kyuhyun tidak mendengar suara tangisan anak-anak yang mengganggu itu, seperti yang dikatakan oleh Sungmin.

 

“Aku tidak mendengar suara tangisan yang seperti kau katakan itu sayang. Mungkin kau berkhayal?” Kata Kyuhyun.

 

“Aneh. Aku yakin mendengarnya. Suara tangisan anak-anak itu masih terus terdengar” Kata Sungmin sangat yakin.

 

Sungmin mulai merasa takut dan segera mengajak Kyuhyun pergi. Anehnya, teriakan-teriakan itu langsung hilang saat mereka keluar ruangan. Beberapa bulan kemudian, ketika Kyuhyun dan Sungmin telah kembali ke Seoul dan melupakan apa yang mereka alami itu, sebuah bom yang ditanam oleh teroris meledak di Menara Putih itu. Ledakan itu sempat mengambil beberapa korban jiwa dan korban luka-luka, termasuk diantaranya anak-anak.

 

Saat mendengar berita itu Kyuhyun dan Sungmin sangat terkejut. Mereka terpaku memandang tv yang sedang menyiarkan berita tersebut. Seketika mereka teringat kembali dengan pengalaman itu.

 

“Anak-anak. Tangisan anak-anak yang meminta tolong itu…” gumam Sungmin.

 

Kyuhyun menoleh memandang Sungmin yang duduk disisinya. Ia menarik pelan tubuh Sungmin ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan lembut. “Apa yang sebenarnya kudengar saat itu?” Tanya Sungmin bingung.

 

Kyuhyun tidak menjawab. Ia pun juga tidak mengerti. Apa sesungguhnya yang didengar Sungmin saat itu? Pantulan suara-suara yang mengenaskan dari peristiwa sedih beberapa tahun sebelumnya? Ataukah jeritan anak-anak yang menjadi korban bom yang melewati batas waktu sehingga terdengar di masa sebelumnya? Baik Kyuhyun maupun Sungmin, mereka tidak pernah tahu jawabannya.

 

Fin

Sick enough to die

Gambar

Pairing            : KyuMin

Genre              : Hurt

Length            : One Shoot

Warning          : Boys love, shounen-ai

Song               : MC Mong feat Mellow – Sick Enough To Die

Disclaimer      : Story belong to me, KyuMin belong to each other

Summary        : “Kyu, jika kau masih tidak berubah……kelak kau akan kehilangan aku” // Akhirnya Sungmin memberikan ultimatum terakhirnya. Terinspirasi dari MV MC Mong feat Mellow – Sick Enough To Die.

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

Kyuhyun tertegun saat ia pulang malam ini. Rumah itu nampak sepi. Ia tidak menemukan sosok manis yang biasanya selalu menyambut kedatangannya, hanya secarik kertas yang tergeletak lemas diatas meja. Matanya membulat saat melihat beberapa baris kalimat yang tertulis didalam kertas tersebut. Tangannya bergetar saat membaca tulisan tangan yang sangat ia hafal ini, tulisan tangan kekasih bunny’nya.

 

Dear Kyu…

 

Akhirnya aku menemukan cara untuk membiarkanmu pergi Kyu. Membiarkanmu bebas. Apa kau sadar Kyu? Egomu itu telah mengambil tempatku dalam duniamu yang sempurna. Kau tidak membutuhkan aku Kyu. Aku ingin kau tinggal jauh dari hatiku. Karena itu aku pergi.

 

Your Love

Lee Sungmin

Kyuhyun membuang kertas itu begitu saja ke lantai dan segera berlari keluar rumah. Seolah ia tahu kemana Sungmin pergi. Biasanya jika mereka sedang bertengkar, Sungmin akan melarikan diri ke rumah kakaknya yang jaraknya cukup jauh dari rumah mereka. Yeah, dia pasti disana.

 

~+~+~+~

 

Kyuhyun menghentikan mobilnya didepan sebuah rumah. Ia beranjak turun dari mobilnya, membuka pintu pagar dan berjalan masuk melewati halaman yang nampak asri. Dengan setengah tidak sabar Kyuhyun menekan bel beberapa kali. Akhirnya pintu terbuka. Sosok seorang pria berwajah malaikat muncul dibalik pintu.

 

“Kyuhyun?” katanya nampak terkejut melihat kedatangan Kyuhyun.

“Teuki hyung, dimana Sungmin hyung? Dia pasti disini bukan?” Tanya Kyuhyun.

 

Leeteuk hanya diam memandang Kyuhyun dengan ragu. Kyuhyun mengintip ke dalam rumah yang nampak sepi, tapi ia yakin kekasih bunny’nya ada dirumah ini. “Sungmin hyung ada didalam kan? Aku harus bertemu dengannya hyung” Kata Kyuhyun seraya berusaha untuk masuk.

 

Namun leeteuk menghalanginya. Kyuhyun memandang Leeteuk dengan bingung.

“Maaf Kyu kau tidak bisa menemuinya” Kata Leeteuk.

“Apa? Kenapa?” Tanya Kyuhyun.

 

Leeteuk diam sejenak dan melirik ke dalam rumahnya. Kemudian ia kembali memandang Kyuhyun dan mendesah. “Pagi ini Sungmin datang ke rumahku dengan menangis. Dia hanya bilang padaku tidak ingin bertemu denganmu lagi” katanya.

 

Kyuhyun tersentak mendengar penuturan Leeteuk.

“Karena itu, sebaiknya kau pulang saja Kyu” Kata Leeteuk lagi.

“Tapi hyung….” Kata Kyuhyun.

“Aku akan berusaha bicara dengannya, tapi aku tidak yakin Sungmin mau mendengarku. Kelihatannya dia benar-benar serius kali ini” Kata Leeteuk.

 

Dengan itu Leeteuk menutup pintunya. Kyuhyun terpaku memandang pintu yang tertutup didepannya. Rasa sesak seketika memenuhinya. Sungmin menolak bertemu dengannya dan ia terancam kehilangan kekasih bunny’nya. Seketika Kyuhyun merasa takut, sangat takut.

 

~+~+~+~

Drrtt…drrtt…drrtt…drrtt…

 

Untuk ke sekian kalinya ponsel milik Sungmin bergetar di atas meja, dan untuk ke sekian kalinya sang pemilik ponsel mengabaikannya. Pada layar yang terus berkedip itu tertera nama ID caller, My EvilKyu Calling. Sungmin duduk di atas sofa dan memeluk lututnya. Ia hanya membiarkan ponselnya terus bergetar berulang kali tanpa ada niat sedikitpun untuk sekedar menyentuh benda mungil itu.

 

Sungmin hanya memandang ponselnya yang terus bergetar seolah berteriak meminta untuk dijawab, dan akhirnya benda mungil itu berhenti bergetar. Kini kesabarannya benar-benar sudah diambang batas. Ia sudah tidak mampu lagi menghadapi ego Kyuhyun yang begitu besar. Berulang kali Sungmin memaksa dirinya untuk bersabar, meski hal yang dinamakan ego itu kerap membuatnya menangis diam-diam.

 

Sungmin mencintai Kyuhyun. Yeah, sangat. Tapi sebesar apapun rasa cintanya pada pemuda tinggi itu, rasanya seakan tidak berarti saat ia harus berhadapan dengan hal bernama ego itu. Sungmin pun pernah berusaha berbicara dengan Kyuhyun, namun berakhir dengan pertengkaran, meski kemudian mereka berbaikan kembali dengan cepat. Tentu saja, Sungmin menjadi pihak yang memaafkan dengan mudah. Terlalu baik, huh?

 

Sungmin mulai merasa lelah dan akhirnya memberi Kyuhyun sebuah ultimatum terakhir dengan harapan kekasih evilnya itu akan benar-benar berubah. Kyuhyun berjanji akan berubah, tapi janji hanya janji. Rasanya sesak setiap kali sang Mr. Ego muncul dan mulai bertingkah. Sudah cukup ia merasa sakit karena sang Mr. Ego. Tapi meninggalkan Kyuhyun? Bisakah Sungmin melakukannya?

 

Drrtt…drrtt…drrt…drrtt…

 

Ponsel milik Sungmin kembali bergetar, masih dari ID Caller yang sama. My EvilKyu Calling. Dan Sungmin masih mengabaikannya. Ia memeluk lututnya semakin erat dan kembali membiarkan buliran bening meluncur turun dari sudut matanya.

 

~+~+~+~

 

Suara music yang menghentak malam dan keramaian di club ini tetap tidak mampu mengusir frustasi yang sedang melanda Kyuhyun. Kyuhyun menenggak minumannya dengan liar, berharap mabuk dapat membuatnya sedikit melupakan semuanya.

 

Seminggu telah berlalu. Kyuhyun masih tidak bisa menemui Sungmin. Pemuda manis itu masih mengabaikan telepon darinya, mengabaikan semua pesan-pesan darinya. Bahkan teman-teman Kyuhyun menyarankannya untuk melupakan Sungmin dan mencari orang lain saja. Tapi tidak semudah itu bagi Kyuhyun, ia tidak bisa melempar bayangan Sungmin begitu saja seperti sampah. Memaksakan diri mencintai seseorang lagi? Tidak semudah itu.

 

Malam hampir sampai pada penghujungnya saat Kyuhyun tiba dirumahnya yang sepi. Saat Kyuhyun membuka pintu rumahnya, tidak ada senyum manis Sungmin yang biasanya menyambut kedatangannya. Melainkan keheningan yang seakan membuat tenggorokannya terasa tercekat.

 

Kyuhyun menghempaskan tubuhnya di sofa panjang, memandang langit-langit ruangan tanpa suara. Tiba-tiba saja semua kenangan itu, waktu yang terlewat bersama Sungmin mulai meledak di dalam kepalanya. Kyuhyun bisa merasakan darahnya memompa didalam dirinya seiring dengan semua kenangan itu. Sepanjang hari, siang dan malam yang rasanya berubah dengan cepat, Kyuhyun tidak henti berpikir tentang Sungmin. Harus Kyuhyun akui, ia merindukan pemuda manis itu.  Tidak ada Sungmin disisinya, rasanya seperti neraka yang kejam. Ini semua adalah kesalahannya. Kebodohannya.

 

Kyuhyun memejamkan matanya dan bergumam lirih, penuh penyesalan,

“Maafkan aku, Sungmin hyung………”

 

~+~+~+~

 

Pagi ini Kyuhyun memutuskan untuk tidak menyerah. Ia harus bertemu dengan Sungmin, meminta maaf atas semua kebodohannya dan membuat pemuda manis itu tetap berada disisinya. Ia tidak bisa kehilangan Sungmin. Kyuhyun tidak bisa membiarkan Sungmin pergi meninggalkannya. Kyuhyun memacu mobilnya secepat mungkin menuju rumah Leeteuk. Namun ditengah perjalanan tiba-tiba saja mobil Kyuhyun berhenti. Dasar sial, ternyata salah satu ban belakangnya bocor.

 

“Aissh…ban bocor disaat yang tidak tepat” Gerutu Kyuhyun kesal.

 

Seolah tidak mau membuang waktu Kyuhyun berlari pergi meninggalkan mobilnya begitu saja. Ia terus berlari seraya berusaha menghubungi Sungmin. Namun lagi-lagi teleponnya tidak kunjung dijawab, hingga akhirnya terhubung pada mailbox.

“Sungmin hyung, aku dalam perjalanan menuju rumahmu, sekarang. Tolong angkat teleponmu. Aku sedang sekarat karena semua rasa sakit ini. Aku menderita karenamu. Jika kita tidak bertemu, aku merasa seperti aku akan mati”

 

Kyuhyun terus berlari secepat mungkin, mengabaikan orang-orang yang tidak sengaja ia tabrak. Kyuhyun terus berlari hingga akhirnya ia sampai dirumah Leeteuk. Sosok Leeteuk kembali menyambutnya saat pintu terbuka.

“Maaf Kyu, Sungmin masih tidak ingin bertemu denganmu” Kata Leeteuk.

“Tapi aku harus bicara dengannya. Aku mohon hyung, hanya sebentar saja. 5 menit” Kata Kyuhyun memohon.

 

Leeteuk menggelengkan kepalanya dengan sedih.

“Maafkan aku Kyu” Katanya, dan dengan itu ia menutup pintunya.

 

Kyuhyun mulai menggedor pintu yang telah tertutup rapat itu.

“Sungmin hyung, dengarkan aku dan keluar sebentar. Atau setidaknya, angkat teleponmu meski sebentar. Beritahu aku bahwa kau akan tinggal. Jangan tinggalkan aku seperti ini hyung. Aku membutuhkanmu. Sungmin hyung!” Teriaknya.

 

Namun pintu itu tetap tertutup rapat. Kyuhyun berhenti menggedor.

“Baik, aku akan menunggu. Aku tidak akan pergi sebelum kau mau bertemu denganku. Aku akan menunggumu hyung” Teriak Kyuhyun lagi.

 

~+~+~+~

 

Leeteuk mengintip keluar jendela. Ia melihat Kyuhyun yang masih tidak beranjak dari tempatnya. Sudah satu jam Kyuhyun menunggu didepan rumahnya, wajahnya terlihat sangat frustasi. Kemudian Leeteuk menoleh memandang adiknya yang meringkuk disofa, mengabaikan ponselnya yang terus dan terus bergetar.

 

Leeteuk mendesah sedih memandang Sungmin. Adiknya yang biasanya ceria, kini terlihat sangat rapuh.  Leeteuk berjalan mendekat dan duduk disamping Sungmin. Sungmin sedikit mengangkat kepalanya saat Leeteuk membelai kepalanya dengan lembut, seperti seorang ibu yang sedang berusaha memberi ketenangan pada anaknya.

 

“Kyuhyun masih terus menunggumu diluar” Kata Leeteuk.

“Biarkan saja” Kata Sungmin tanpa minat.

“Tidakkah kau kasihan dengannya? Sepertinya dia terlihat sangat frustasi dan kacau” Kata Leeteuk.

 

Sungmin hanya mendengus kecil seolah tidak peduli.

“Tapi apa kau yakin dengan keputusanmu? Kau yakin mau meninggalkannya?” Tanya Leeteuk.

 

Sungmin terdiam sesaat.

“Cho Kyuhyun tidak membutuhkan aku. Dia lebih membutuhkan egonya yang menyebalkan itu” Katanya dengan nada lelah.

“Aku mengerti. Jika ini memang keputusanmu…aku tidak bisa melarangmu. Tapi mungkin sebaiknya aku menyuruh Kyuhyun untuk pulang. Kasihan dia menunggu didepan rumah seperti orang bodoh” Kata Leeteuk.

 

Leeteuk beranjak menemui untuk menemui Kyuhyun. Kyuhyun yang sedang duduk didepan rumah Leeteuk menoleh saat kenop pintu berputar perlahan. Ia segera berdiri dengan harapan sosok Sungmin yang akan muncul saat pintu itu terbuka. Namun kemudian ia mendesah kecewa karena yang muncul adalah Leeteuk.

 

“Pulanglah Kyu. Kau terlihat seperti orang bodoh menunggu didepan rumahku seperti ini” Kata Leeteuk.

“Anni hyung. Aku tidak akan pulang sebelum Sungmin hyung mau menemuiku” Kata Kyuhyun bersikeras.

 

Leeteuk mendesah sesaat.

“Tapi Sungmin menolak bertemu denganmu. Meski kau menunggu disini sepanjang hari, Sungmin tetap tidak akan menemuimu Kyu. Dia sudah lelah dengan egomu yang menyebalkan itu. Kau tahu itu?” Katanya.

 

Kyuhyun terdiam dengan kecewa.

“Maaf Kyu. Cepat pulang, ne?” kata Leeteuk tersenyum meminta maaf kemudian menutup pintunya.

 

Kyuhyun masih terdiam dengan kecewa memandang pintu yang telah tertutup rapat. Ia menempelkan kepalanya pada pintu dan tersenyum miris. Seketika ia merasa sakit, seperti sebuah racun yang manis. Tangan Kyuhyun menggedor pelan pintu itu dan berkata,

 

“Sungmin hyung, aku akan terus menunggu, sampai aku mati. Tidak peduli apa yang kau katakan, aku akan menunggu. Aku akan terus menunggu untukmu. Aku akan kembali besok. Besok, aku pasti akan kembali”

 

Sementara itu, dijendela Sungmin memandang Kyuhyun yang akhirnya beranjak pergi dengan langkah gontai. Ia memandang Kyuhyun dengan sedih. Ingin sekali Sungmin berlari keluar dan memeluknya, tapi semua rasa sakit ini menghalangi keinginannya. Haruskah kisah ini berakhir seperti ini?

 

Sungmin mengambil ponselnya dan menerima begitu banyak pesan dari Kyuhyun, baik pesan teks maupun suara. Saat Sungmin berusaha mendengar pesan-pesan suara tersebut, mendengar suara Kyuhyun yang terdengar sangat frustasi, Ia kembali menangis perlahan, terisak begitu dalam.

 

~+~+~+~

 

Silau matahari yang menusuk mata. Suara debur ombak yang memecah karang. Semilir angin yang memainkan rambut. Ombak yang menghampiri pantai, menggoda pasir yang berbisik dengan lembut dan mengajak untuk menari bersama, sebelum akhirnya ombak pergi perlahan. Sungmin berdiri dipinggir pantai, memandang riak-riak kecil yang menyentuh kakinya dengan nakal.

 

Drrtt…drrtt..drrtt…

 

Sungmin memandang ponselnya, membaca ID caller yang tertera dilayar yang terus berkedip, menimbang-nimbang apakah sebaiknya ia kembali mengabaikan telepon ini? Namun semenit kemudian jari Sungmin menekan tombol hijau pada ponselnya dan menempelkan benda mungil itu ditelinganya. Suara yang sangat dikenalnya terdengar diujung telepon, terdengar sangat frustasi dan hancur.

 

“Sungmin hyung……”

“Aku tidak mau bicara denganmu lagi Kyu…”

Tidak, jangan tutup teleponnya hyung. Setidaknya biarkan aku yang bicara. Tolong dengarkan aku sebentar. Please…”

 

Sungmin terdiam sesaat kemudian mengangguk kecil, namun kemudian ia sadar Kyuhyun tidak bisa melihat anggukkan kepalanya. “Mwo?” Katanya dengan datar.

“Aku sekarat hyung, aku tidak bisa bernapas, karena kamu. Apakah kau akan tertawa? Apa kau bahagia? Aku menderita tanpamu hyung. Biarkan aku hidup hyung, dan katakan padaku kau akan tetap tinggal disisiku. Jangan tinggalkan aku hyung…aku merindukanmu…”

“Kau tidak membutuhkan aku Kyu”

“Aku sangat membutuhkanmu hyung. Tidakkah kau lihat? Aku hancur tanpamu hyung. Kehilanganmu itu sama artinya neraka yang kejam untukku…”

“Bukankah aku sudah pernah memberitahumu? Kelak kau akan kehilangan aku jika kau masih tidak berubah. Rasanya aku tidak berarti apapun dibanding egomu yang besar itu Kyu………”

 

Sungmin menggenggam ponselnya dengan erat. Sementara itu seseorang sedang berlari secepat mungkin kearah Sungmin seraya menelpon, berusaha secepat mungkin tiba ditempat Sungmin. Itu adalah Kyuhyun. Sungmin terkejut saat Kyuhyun tiba-tiba berhenti didepannya. Kyuhyun mengatur sesaat deru nafasnya yang berantakan dan lelah. Sementara Sungmin mengerjap tidak percaya melihat kedatangan Kyuhyun.

 

“Kyu? Bagaimana kau bisa tahu aku disini?” Tanya Sungmin.

“Teuki hyung mengatakan kau ada ditempat ini” Jawab Kyuhyun setelah nafasnya kembali normal.

 

Sungmin memalingkan pandanganya dan mematikan teleponnya yang masih aktif sejak tadi.

“Hyung, katakan kau tidak akan meninggalkan aku. Tolong katakan hal itu, sehingga aku bisa hidup” Kata Kyuhyun.

 

Sungmin hanya diam dan memandang lautan.

“Maafkan aku begitu serakah dan menyebalkan. Beri aku satu kesempatan lagi hyung. Aku berjanji, tidak ada Mr. Ego lagi. Aku bersungguh-sungguh” kata Kyuhyun dengan nada serius.

 

Sungmin menoleh memandang Kyuhyun. Mata foxy Sungmin menjelajahi manik hitam Kyuhyun, mencari-cari kebohongan dalam mata hitam yang cemerlang itu. Namun Sungmin tidak menemukan setitik pun kebohongan disana, hanya sebuah kejujuran dan keseriusan yang mendera-dera.

 

Sungmin sedikit terkejut saat tiba-tiba Kyuhyun berlutut didepannya. Namun Sungmin hanya diam, sedikit penasaran dengan apa yang akan dilakukan pemuda tinggi ini selanjutnya. Kyuhyun menarik nafas perlahan seolah berusaha menarik asupan oksigen disekitarnya. Kemudian dengan mengabaikan harga dirinya, ia berkata dengan serius,

 

“Aku tidak ingin kau pergi hyung. Tolong jangan tinggalkan aku disini, sendirian. Jangan katakan ini adalah akhir. Bahkan hanya untuk sehari pun, aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku ingin kau kembali ke dalam hidupku. Lee Sungmin…cheongmal mianhaeyo,”

 

Sungmin hanya diam memandang Kyuhyun, mengerjap tidak percaya.

“Kau boleh pukul aku dengan jurus martial artmu sampai kau puas. Luapkan semua kekecewaanmu itu padaku. Pukul aku, tapi kemudian tetaplah disisiku. Kembali padaku.” Kata Kyuhyun lagi.

 

~+~+~+~

 

Sore hampir berakhir dirumah KyuMin. Kyuhyun duduk disofa, meratapi wajahnya yang kini nyaris babak belur. Wajah tampan itu kini dipenuhi plester. Pada akhirnya Sungmin benar-benar menghajarnya dipantai tadi.

 

“Aku memang mengatakan kau boleh pukul aku. Tapi hyung, kau malah menghancurkan wajah tampanku. Aissh……” kata Kyuhyun mendesis kesakitan.

 

Sungmin menutup kotak obat dan beranjak menyimpannya di dalam lemari.

“Jangan cerewet. Seharusnya kau bersyukur aku tidak menghajarmu dengan semua jurus martial art milikku. Wajah babak belurmu itu tidak sebanding dengan semua yang sudah kau lakukan padaku. Kau membuatku terus menangis selama dua minggu ini” Kata Sungmin dengan acuh.

 

Kyuhyun menelan salivanya perlahan. Itu benar, jika Sungmin menghajarnya dengan semua jurus martial art miliknya, mungkin Kyuhyun sudah mati sejak tadi. Tapi setidaknya perjuangannya berhasil, akhirnya Sungmin setuju untuk memberinya kesempatan terakhir. Kekasih bunny’nya kembali lagi padanya.

 

Kyuhyun beranjak memeluk Sungmin.

“Gomawo hyung. Aku akan berusaha untuk berubah, promise” Katanya senang.

 

Sungmin hanya tersenyum. Ia membiarkan saat Kyuhyun mengecupnya dengan begitu lembut, penuh kerinduan. Kyuhyun belajar satu hal. Kehilangan adalah hal yang sangat menyakitkan, neraka yang kejam. Kyuhyun berjanji pada dirinya sendiri untuk belajar mengendalikan egonya jika ia tidak ingin kehilangan kekasih bunny’nya lagi. yeah, itu benar.

 

End