Love behind a wife

Gambar

Pairing           : KyuMin / SiMin

Other cast     : Choi Minho (Shinee)

Genre            : Misteri

Length           : One Shoot

Warning         : Boys love, shounen-ai, alur yang cepat, crack pair, OOC

Disclaimer     : Diadaptasi dari karya milik Donald Olson yang berjudul “Di balik cinta istri”, yang terdapat dalam kumpulan cerita criminal cetakan I, Januari 1997

Summary       : Sungmin adalah sosok yang menyimpan daya pikat kuat. Siapa sih yang tidak tergiur bila menghadapi Sungmin?

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

“Aku takut sayang” kata Sungmin.

 

Choi Siwon mengecup pipi ‘istrinya’ yang selalu nampak muda dan manis itu.

“Mudah-mudahan ciuman ini meneguhkan hatimu. Minho mungkin telah berubah setelah setahun kuliah jauh dari Kibum”

 

“Oh, Siwonie, aku tak pernah berpikir untuk menyalahkan ‘ibunya’. Kibum tak pernah bersikap seperti seorang mantan ‘istri’ yang pendendam. Jujur kukatakan, aku tidak melihat Kibum menghasut Minho untuk memusuhiku”

 

Siwon terpaksa menyetujui ucapan Sungmin.

“Kibum memang di pihak yang benar, dan Minho tahu itu. Salahnya, dulu Kibum dan aku merahasiakan ketidaksesuaian kami terhadap Minho, sehingga Minho terpukul oleh perceraian kami. Tetapi sekarang mestinya ia sudah bisa menyesuaikan diri dengan situasi……”

 

Sungmin menanggapinya dengan seulas senyum.

“Aku masih tetap takut kalau harus menjemput Minho sendiri. Mungkin dalam perjalanan dari desa kemari tak sepatah kata pun akan keluar dari mulutnya , kalau ia masih menyimpan dendam lama yang membara”

 

“Sayang, kalau saja aku sempat, akan kujemput sendiri. Tetapi kau ‘kan tahu, rapat panitia turnamen itu mengharuskan aku tetap di sini. Kau pun tahu pentingnya rapat itu”

 

Sungmin hanya diam. Rumah penginapan Cheonmado di pegunungan Gyeongju, dulunya hanya ramai di musim dingin, sebagai penginapan para pemain ski. Namun, Siwon melihat kemungkinan untuk memanfaatkannya sepanjang tahun. Ia membeli tempat itu dan melengkapinya dengan lapangan golf, jalan-jalan setapak untuk berkuda, lapangan tenis dan sebuah kolam renang. Rumah penginapan itu sendiri, berupa bangunan batu dan kayu, diperbarui dengan biaya mahal. Pemandangan dari penginapan di punggung bukit itu memang luar biasa indah. Menyelenggarakan turnamen besar golf tahunan di Cheonmado akan merupakan semacam promosi berarti bagi tempat itu.

 

~+~+~+~

 

Sungmin ingat, tahun lalu Minho datang dan tinggal bersama mereka selama dua minggu. Kenangan tentang kunjungan Minho itu membuat Sungmin merasa hari-hari penuh ketegangan tiada akhir bakal dialaminya lagi.

 

“Siwonie, bersikaplah biasa saja bila kau menghadapinya nanti. Tetapi, jangan biarkan juga dia menimbulkan persoalan. Aku tidak mau lagi menghadapi hal-hal tidak menyenangkan selama kunjungannya nanti seperti tahun lalu”

 

Siwon mencoba menjernihkan masalah itu. “Namun, tak semuanya tidak menyenangkan”

 

Sungmin sedikit mengernyit. “Tidak semuanya? Lupakah kau kalau Minho pernah mencoba membunuhmu? Anakmu sendiri mencoba membunuhmu!”

 

“Waktu itu kami sama-sama tidak mampu mengendalikan diri”

 

“Juga kejadian mengerikan di ruang makan itu. Waktu itu banyak orang mendengar Minho mengancam hendak membunuhmu”

 

“Sayang, dia dulu ‘kan masih anak-anak, dan kala itu dia pun sedang menghadapi masa sangat sulit. Sudahlah, tiga perempat jam lagi bus yang ditumpangnya datang. Masih cukup waktu untuk turun menjemputnya”

 

Siwon mencium pipi Sungmin, lantas mengantarnya ke jip yang hendak dipakai menjemput Minho. Meski mencoba membesar-besarkan hati Sungmin, Siwon sendiri sebenarnya merasa tidak tenang. Ia mencintai dua-duanya, Minho maupun Sungmin. Siwon sendiri cuma bisa menghibur diri, mudah-mudahan dendam Minho yang menyala-nyala itu paling tidak menunjukkan betapa Minho begitu perhatian padanya.

 

Bus terlambat dua puluh menit dan itu membuat Sungmin cemas berkepanjangan. Sungmin sadar segalanya akan berawal dari kunjungan Minho ini. ketika bus tiba, Sungmin segera pasang senyum, bahkan melambai-lambaikan tangannya meski orang yang dijemputnya belum tampak batang hidungnya.

 

Kesan pertama ketika bertemu Minho: anak itu tampak begitu muda dan menarik. Tampan, badannya tinggi, dan dadanya bidang. Namun, wajahnya sedikit kurus dan tampak lebih dewasa. Sayangnya, wajah itu tampak begitu serius!

 

“Minho!” sambut Sungmin, “Senang sekali ketemu kau lagi. Ya, Tuhan, sudah sebesar ini, kau!”

 

Barangkali Sungmin akan terus berbasa-basi, kalau saja ia tidak dibuat terkejut. Sebab, setelah meletakkan tasnya, Minho memeluk dan mencium pipi ‘ibu’ tirinya itu. tadinya Sungmin membayangkan, Minho akan menyambut dingin kehadirannya dan ia siap menerima sikap itu. Namun, tindakan Minho tadi justru membuat perasaan Sungmin jadi tidak menentu.

 

“Hai, sungguh kejutan yang menyenangkan,” kata Minho, “Aku membayangkan ayah yang akan menjemputku.”

 

“Ayahmu sebenarnya ingin menjemputmu, tetapi ia terikat sebuah pertemuan penting”

 

Dengan tatapan penuh haru Minho berkata, “Kau pantas mendapat medali”

 

“Aku?”

 

Minho menatap Sungmin lekat-lekat. “Kita akan selesaikan semua persoalan sekarang. Sepanjang perjalananku kemari, pikiranku terus mengulang-ulang ucapan minta maaf yang akan kusampaikan kepada kau dan ayah. Betapa aku ini anak yang tak tahu diri”

 

“Kau punya hak sepenuhnya untuk berbuat apa pun sesuai dengan keinginanmu. Jadi, tak ada yang perlu dimaafkan”

 

Minho menarik napas lega sambil menghirup udara padang rumput yang segar di musim panas. Dimasukkannya tas-tas bawaannya ke dalam jip, lalu duduk disamping Sungmin. “Jauh dari rumah selama setahun tentu akan membuat orang jadi berpikir”

 

“Oh, Minho, aku senang sekali mendengar kau berkata begitu, dan ayahmu tentu akan bahagia sekali” Setelah beberapa saat menimbang-nimbang, akhirnya Sungmin pun berkata, “Bagaimana dengan ibumu?”

 

“Baik-baik saja. Dia titip salam juga”

 

“Ibumu baik sekali”

 

“Ya, dia memang orang baik”

 

Walaupun sudah menjadi sekertaris Siwon sebelum Siwon menjual perusahaan-perusaah keluarga Choi, Sungmin belum pernah bertemu dengan Kibum, ‘istri’ pertama Siwon. Kibum memang tidak pernah berkunjung ke kantor ‘suaminya’.

 

Sungmin tidak membesar-besarkan ucapannya ketika ia bilang kepada Minho bahwa Siwon akan bahagia sekali bertemu Minho. Bahkan Siwon sempat meneteskan air mata ketika dilihatnya sikap Minho sudah berubah. Siwon hampir tidak bisa melepaskan anak lelakinya itu dari pelukannya. Makan malam di ruang makan mewah di penginapan menjadi semacam perayaan pesta bagi ketiga orang itu.

 

Apalagi Minho pandai membuat suasana menjadi segar dengan cerita-ceritanya tentang betapa sengsaranya mengikut masa perpeloncoan. “Belajar kedokteran ternyata tidak mudah,” kata Minho, “Meskipun waktu sekolah menengah dulu aku jagoan kimia dan biologi. Tetapi, rasanya aku bisa mengikutinya.”

 

Siwon sendiri bercerita tentang rencana mengembangkan Cheonmado. Sementara itu, sambil mendengarkan ayah dan anak bertukar cerita, pandangan mata Sungmin silih berganti menatap mereka. Disimaknya wajah keduanya sambil mencari sampai dimana kemiripan kedua orang itu. Mereka memang dua orang pria gagah dan tampan.

 

~+~+~+~

 

Selesai memeriksa bon makan malam dan mengerjakan sedikit tugas-tugas malamnya, Sungmin berjalan melintasi lobi berkarpet tebal ke arah tangga menuju ruang olahraga dan kolam renang. Sambil merundukkan kepalanya ia berjalan di sepanjang lorong di depan kamar-kamar tamu. Ketika sampai di kamar terakhir, ia mengetuk lembut pintu kamar itu setelah merasa yakin tak ada orang di sekitar tempat itu.

 

Seseorang segera menarik lengan Sungmin ketika ia hendak melangkah masuk ke kamar itu. Orang itu adalah Cho Kyuhyun, pelatih ski dan tenis yang juga pekerja apa saja di penginapan itu. Pria itu memiliki sepasang mata yang senantiasa memancarkan semangat berapi-api.

 

“Kukira kita akan bertemu saat makan malam” kata Sungmin.

“Aku makan lebih dulu. Pertemuan yang kurang menyenangkan kurasa” Kata Kyuhyun.

 

Sungmin menatap Kyuhyun dengan air muka kecewa.

“Kau keliru. Mestinya kau hadir disana. Oh, Kyu, aku tidak bisa percaya. Minho sudah berubah sekarang. Ia berkali-kali minta maaf atas perbuatannya tahun lalu. Sekarang kami sudah damai kembali”

 

Wajah Kyuhyun berubah muram.

“Kalau begitu bagaimana dengan rencana kita?”

 

Sungmin hanya mengangkat bahu dan itu hanya membuat Kyuhyun marah.

“Kau ini bagaimana,” Kata Kyuhyun. “Kau bilang anak itu pernah mengancam untuk membunuh ayahnya dan setiap orang mendengarnya. Semua yang harus kita lakukan sudah kita susun: menghabisi ‘suamimu’ dan menjebak anak itu. Kau bilang, gampang”

 

“Bagaimana aku tahu kalau Minho sudah berubah? Waktu itu tingkahnya seperti orang gila. Kau akan tahu, bila saat itu kau ada di sini. Minho membuat persoalan sulit”

 

“Lalu?”

 

Sungmin tampak berpikir sambil menggigit bibirnya.

“Kita tetap pada rencana kita. Kita bunuh Siwon dan kita buat seolah-olah Minho yang membunuhnya. Itulah satu-satunya cara agar aku bisa mewarisi kekayaannya. Seorang pemulung tidak berhak atas warisan”

 

“Namun, sekarang siapa yang bakal percaya kalau anak itu yang membunuh ayahnya?”

 

“Aku punya ide, tetapi mungkin kau tidak setuju. Aku pernah bercerita padamu, anak itu selalu mengatakan cerita bohong kepada Siwon pada musim dingin lalu. Bahkan ia bilang, aku mencoba menggodanya. Minho melakukan apa saja agar Siwon berpihak kepadanya untuk memusuhiku, tetapi dia tidak berhasil. Tetapi, andaikata Minho menemukan alasan yang bisa dipercaya bahwa aku berbuat seperti yang dia katakan? Apapun yang diceritakannya, Siwon tidak akan percaya?”

 

Kyuhyun tertawa.

“Tolol kalau Siwon tak percaya”

 

Sungmin menatap Kyuhyun dengan sengit.

“Aku bukan penggoda. Aku tahu ketika Siwon menikahiku, ia meninggalkan segalanya pada Minho. Aku bahagia merebut Siwon dan aku puas hidup bersamanya sampai kau datang”

 

“Kau belum mengatakan idemu tadi”

 

“Seandainya aku ‘main-main’ dengan Minho? Ia pasti akan melapor ke ayahnya, tetapi Siwon tak akan percaya. Sebab perubahan hati Minho menjadi tampak pura-pura saja baginya. Cara ini barangkali dapat kita lakukan untuk mengadu kedua orang itu lagi”

 

Kyuhyun tampak ragu-ragu.

“Bagaimana kalau tidak berhasil?”

 

“Kita coba cara lain. Sekarang kita harus ekstra hati-hati, sayang. Kalau sampai ada yang mencurigai kita…”

 

“Toh, kabin ini selalu ada” kata Kyuhyun mengingatkan sambil meraih Sungmin dalam pelukannya.

 

“”Kita harus bekerja cepat,” kata Sungmin. “Waktu kita tinggal dua minggu.”

 

~+~+~+~

 

Sungmin tahu ia tidak dapat dengan serta merta menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Minho. Harus bertahap. Sungmin tersenyum-senyum sendiri. Barangkali lucu. Kyuhyun akan membunuhnya andaikata bisa membaca pikirannya. Sungmin adalah sosok yang menyimpan daya pikat kuat bagi pemuda tanggung seperti Minho. Karena itu Sungmin merasa yakin bisa menggiring Minho masuk ke dalam perangkap godaannya. Keberhasilannya memikat Siwon membuktikan hal itu, padahal Siwon sudah beristri.

 

Meskipun Siwon lebih suka menghabiskan waktunya bersama Minho, Siwon tidak dapat menghabiskan pekerjaannya yang cukup banyak itu. Karena itu tanggung jawab menemani anak lelakinya dipercayakannya kepada Sungmin. Itu berarti tanpa disadarinya Siwon ikut membuka peluang bagi Sungmin melaksanakan rencananya.

 

Pada suatu ketika Sungmin pergi berkuda bersama Minho. Mereka menyusuri jalan-jalan setapak di kawasan pegunungan itu. Mulanya Sungmin senantiasa menjaga sikapnya. Ia bersikap hati-hati dalam segala tindak langkahnya. Di tengah pembicaraan, bila mereka sedang berdua Sungmin bercerita dengan nada penuh cinta tentang Siwon. Juga tentang rencana-rencana yang ingin mereka lakukan bagi Cheonmando.

 

Nanmun, setelah sekian hari berlalu, dengan cara tidak kentara Sungmin mulai bersikap genit. Ia mulai melepaskan jurus-jurus godaannya dengan senyum-senyum manisnya yang memikat, dengan sentuhan-sentuhan tubuh yang seolah-olah tidak ia sengaja, yang membuat Minho tidak perlu menaruh curiga. Sungmin pun mulai memperlihatkan penyesalannya mengarungi kehidupan perkawinannya bersama Siwon.

 

“Terus terang Minho, ayahmu sekarang bukan ayahmu yang dulu, ketika aku menjadi sekertarisnya. Aku sungguh tidak bisa menyalahkan ibumu yang merasa diabaikan. Bukan maksudku mau mengatakan, ayahmu juga melalaikanku. Aku menyadari betapa banyak pekerjaan yang harus ditanganinya, tetapi ia membuatku kesepian. Kedatanganmu membangkitkan suasana lain. Kuharap kau mau tinggal di sini selama musim panas”

 

“Rencanaku juga begitu,” kata Minho. “Kau sungguh luar biasa. Tadinya aku khawatir kau akan menghindariku seperti penyakit, dan kalaupun kau bersikap begitu aku tak bisa menyalahkanmu.”

 

Mereka berhenti untuk mengistirahatkan kuda-kuda mereka di tengah hutan pinus yang sejuk. Ketika Sungmin membiarkan Minho menolongnya naik ke punggung kuda, ia pura-pura terpeleset dan jatuh dipelukan Minho. Beberapa saat lamanya Sungmin membiarkan tubuhnya dalam pelukan Minho, sehingga leher pria muda itu sempat tersentuh napas hangat dari hidung Sungmin. Kemudian sambil pura-pura mengomeli diri sendiri karena kekikukannya, Sungmin mencoba naik punggung kuda lagi. Sepanjang perjalanan pulang, kedua insan itu tdak ada yang membuka mulut.

 

~+~+~+~

 

Sungmin ragu-ragu ketika malam berikutnya ia mengetuk kamar Minho. Jangan-jangan Minho tidak akan mengizinkannya masuk. Minho cepat-cepat mengenakan jinsnya dan membuka pintu.

“Ada apa, hyung?”

 

Ketika melangkah masuk Sungmin bersikap pura-pura bingung. Jari-jari tangannya meraba-raba kerah bajunya yang rendah. “Tidak. Tidak ada apa-apa. Aku cuma merasa kesepian. Siwon kerja lembur lagi malam ini”

 

Minho menutup pintu dengan ragu-ragu. “Kau tampak kebingungan”

 

Tanpa rasa bersalah dan sorot mata memperdayakan, dengan tenang Sungmin bicara,

“Musim dingin lalu. Apa yang kau katakan kepada ayahmu tentang kita, tidak semuanya bohong. Kau pandai membaca pikiranku”

 

“Hyung……”

 

“Minho, bukankah dalam hati kecilmu kau pun menginginkannya?”

 

“Apa maksudmu?”

 

Sungmin sengaja menatap Minho dengan tatapan memikat.

“Kau tahu maksudku”

 

Sungmin senang sekali menyaksikan wajah Minho menampakkan ekspresi yang mencerminkan perang batin dalam hatinya. Namun, Sungmin tahu ia tidak bisa membiarkan sesuatunya berjalan diluar rencananya. Ketika Minho mendekatinya, Sungmin malah berputar menghindarinya, tetapi kemudian ia berhenti, lalu mengecup lembut bibir anak muda itu.

 

“Aku sekadar ingin tahu di mana sebenarnya kita berdiri. Sebaiknya aku pergi sekarang. Siwon mungkin mencari aku. Besok kita bisa mengobrol dalam kabin Cheonmado itu. Tak akan ada yang melihat kita di sana.”

 

Tanpa memberikan kesempatan Minho bicara, Sungmin membuka pintu lalu pergi. Kembali ke kamarnya, Sungmin pergi mandi dan mencuci rambut. Ia sedang terbaring sambil membaca majalah di ranjang ketika Siwon masuk ke kamar. Sungmin menguap, meregangkan tubuh, lalu bertanya kepada ‘suaminya’ tentang pekerjaannya.

 

“Apa yang kau lakukan sepanjang petang tadi?” tanya Siwon kemudian.

 

“Aku baru pulang beberapa jam lalu. Sungguh melelahkan menemani anakmu beberapa hari ini” jawab Sungmin.

 

“Maafkan aku, sayang. Kau sungguh baik hati. Mulai sekarang kalau ada kesempatan aku akan menemaninya”

 

“Bagus. Ia meminta agar aku memaklumi perbuatannya pada musim dingin yang lalu. Sikapnya sungguh menyentuh perasaannku”

 

~+~+~+~

 

Pagi harinya Sungmin terbaring di ranjang sambil membayangkan Siwon dan Minho bercakap-cakap di meja makan. Bangun dari tempat tidurnya ia lalu berdiri di muka cermin. Ia mencoba-coba bagaimana menampilkan air muka yang menunjukkan rasa kecewa. “Oh, sayang,” begitu ia akan mengeluh di depan Siwon nanti, “Maksudmu, Minho berpura-pura selama ini? Sikapnya tidak sungguh-sungguh berubah?”

 

Itulah langkah awal rencana yang akan dimainkannya nanti. Sungmin tersenyum sambil berpikir tentang semua cara yang dilakukan untuk memperkeruh perselisihan antara ayah dan anak itu, dan membuat mereka saling menggunting satu sama lain. Sungmin pun turun ke lantai bawah.

 

Kyuhyun menghentikan langkah Sungmin.

“Bagaimana semalam?”

 

“Tidak terjadi apa-apa. Aku sudah melakukan sebagian tugasku. Sekarang kita hanya tinggal menunggu hasilnya”

 

Kyuhyun menatap cemberut ke arah Sungmin.

“Mereka berdua tampak bahagia saat makan pagi tadi”

 

Memang, ketika Sungmin bergabung dengan mereka setelah mereka baru saja menyelesaikan sembilan lubang golf, mereka sangat akrab. Siwon memeluk pundak anak lelakinya dengan penuh kasih sayang dan memberi Sungmin sebuah kecupan kilat.

 

“Kau mau ikut berkuda bersama kami nanti sore?” kata Siwon kepada Sungmin.

 

Sementara itu Minho tampak menghindari setiap tatapan mata Sungmin dan sikapnya sangat cuek. Sungmin menduga Minho tidak mengatakan sesuatu kepada Siwon tentang peristiwa tadi malam. Minho bersikap seolah pria bijaksana. Rencana Sungmin ternyata tidak membawa hasil.

 

“Terima kasih, aku mau pergi” gumam Sungmin.

 

Hari-hari berikutnya Minho tampak ingin menghindari berduaan dengan Sungmin. Apa pun yang mereka lakukan, harus mereka lakukan bertiga. Hari-hari berlalu dan Sungmin menjadi sangat sedih.

 

“Ya, ya, aku salah,” begitu Sungmin mengaku, ketika menemui Kyuhyun di dalam kabin dengan puncak sky-lift. “Itu ide yang sangat bagus, tetapi tidak bisa berjalan.”

 

Kyuhyun memandang Sungmin dan mendengus pelan.

“Jadi, rencana kita itu menemui jalan buntu, anak manis? Kita terus saja bersembunyi-sembunyi seperti ini? Sampai mungkin kau menyatakan aku buang-buang tenaga saja?”

 

Sungmin memeluk Kyuhyun dengan lembut.

“Jangan tolol. Kita masih mempunyai kesempatan lima hari lagi” katanya.

 

“Untuk melakukan apalagi?” kata Kyuhyun terdengar sedikit kesal.

 

Sungmin mengelus dada Kyuhyun dengan lembut.

“Gunakan otakmu. Barangkali rencana dulu memang kurang baik. Pengacara yang baik mungkin akan memenangkan anak itu meski rencana kita berhasil”

 

Namun mereka harus melakukan sesuatu. Kyuhyun berpikir sejenak, lantas katanya,

“Bagaimana kalau kedua orang itu kita buat seperti mendapat kecelakaan?”

 

Sungmin memukul pelan dada Kyuhyun.

“Oh, Kyu, kau ini bagaimana, sih?”

 

~+~+~+~

 

Sehari sekali Kyuhyun turun ke desa di kaki bukit untuk mengambil surat-surat dengan mengendarai jip. Sore itu, di antara surat-surat yang diambilnya terdapat surat untuk Minho.

“Surat dari ibu!” teriak Minho senang sambil merobek sampul surat itu.

 

Waktu itu ia duduk bersama Siwon di lantai serambi sambil memandangi lembah.

“Semua baik-baik saja di rumah?” tanya Siwon setelah Minho selesai membaca suratnya.

 

“Ya. Ibu merindukan aku dan berharap aku betah di sini. Ibu juga menanyakan kabar ayah.” Jawab Minho seraya melipat kembali kertas suratnya.

 

Sambil memegangi bahu anak lelakinya, Siwon berkata,

“Kau betah di sini bukan?”

 

“Luar biasa, ayah tahu sendiri. Sambutan Ayah dan Sungmin hyung sangat menyenangkan”

 

“Ah, lupakan itu”

 

Mereka duduk sambil menikmati pemandangan di luar. Kata Minho kemudian,

“Mungkin ibu menyukai tempat ini”

 

“Ia pernah datang ke tempat ini. Aku mengajaknya kemari pada salah satu ulang tahun perkawinan kami. Kukira itulah pertama kali muncul gagasanku untuk membeli tempat ini”

 

Minho memandang wajah ayahnya.

“Kadang-kadang aku bertanya-tanya, kalau saja Ayah menjual perusahaan itu dulu dan andaikata Ayah punya waktu lebih banyak bersama Ibu dan aku, mungkin kita masih tinggal bersama-sama”

Pandangan Siwon menerawang jauh.

“Siapa sangka bakal terjadi begini, anakku?”

 

Minho melihat nada penyesalan di dalam suara ayahnya.

“Tetapi andaikata ayah harus mengulang kembali, apakah ayah juga tetap akan menikahi Sungmin hyung?”

 

Rupanya Siwon merasa agak jengkel sehingga ia menjawab agak ketus,

“Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan macam itu? Semua toh sudah terjadi”

 

Minho cepat menjawab,

“Aku mengerti semua sudah terjadi dan sekarang kita harus menjalaninya dengan sebaik-baiknya”

 

“Aku tidak bilang begitu”

 

“Aku hanya ingin tahu mengapa hal itu terjadi”

 

Siwon Cuma mengagkat bahu, kemudian tangannya menunjukkan ke sisi kanan penginapan itu. Di sana tampak kabel penarik sky-lift punggung hutan pinus. “Kau tahu seperti apa di atas sana itu, bukan? Kau merasa tidak tenang, siap untuk meluncur. Untuk beberapa saat kau merasa takut, hati tidak menentu, dan kau bertanya-tanya apakah kau akan membuat dirimu bodoh atau lebih buruk”

 

Siwon terdiam sejenak.

“Namun, kemudian kau mendorong tubuhmu dan terlambat untuk berhenti atau kembali lagi. Lalu, semua yang kau rasakan adalah suatu perasaan gembira yang luar biasa. Begitulah kira-kira yang kualami terhadap Sungmin”

 

“Apakah ayah pernah punya keinginan untuk berhenti? Atau berbalik lagi?” tanya Minho.

 

Siwon tidak menjawab. Sambil menepuk-nepuk punggung anak lelakinya, Siwon berdiri lalu masuk ke dalam.

 

~+~+~+~

 

Kyuhyun sedang menunggu di dalam kabin ketika Sungmin datang hari berikutnya. Kyuhyun tampak senang. “Kau bilang itu penting” ujar Sungmin.

 

“Tidak sepenting ini” kata Kyuhyun sambil menarik tubuh Sungmin ke pelukannya.

 

Kata Kyuhyun kemudian,

“Upaya ini akan merupakan usaha terakhir”

 

Sungmin sedikit mengernyit tidak mengerti.

“Apa?”

 

“Kecelakaan itu, sayang”

Wajah Sungmin yang menjadi merah itu mengarah kepada Kyuhyun.

“Kau tampaknya sudah berpikir tentang sesuatu!” ujarnya.

 

Kyuhyun tersenyum, mungkin lebih tepatnya menyeringai kecil.

“Sesuatu yang sempurna, asal kau melakukan tugasmu” Katanya.

 

Sungmin tersenyum.

“Tugasku?

 

“Tenanglah. Kau harus yakin betul Siwon mengantar anaknya dengan mobil ke desa itu untuk pulang ke rumahnya. Kau bisa lakukan itu?”

 

“Ya”

 

“Aku akan berbuat seolah-olah sibuk, sehingga ia tidak akan meminta tolong padaku”

 

“Benar, Kyu. Siwon ingin mengantar Minho dengan jip itu. Kenapa?”

 

“Mereka tidak akan pernah sampai di desa itu. Aku menyabotase rem mobil itu, sehingga mereka takkan bisa berbelok di tikungan tajam itu. Kemudian jurang yang dalam siap menelan mereka bulat-bulat dan mereka takkan pernah tahu sebabnya”

 

“Kau yakin bisa melakukan hal itu Kyu?”

 

“Kecillll!”

 

Sungmin menganggukkan kepalanya dengan bangga.

“Aku suka dengan idemu itu”

“Aku sudah menduga, kau akan suka”

 

Kyuhyun mendekati wajah Sungmin dan mengecup lembut bibirnya. Namun tiba-tiba Sungmin mendadak tegang. Ia melepaskan ciumannya dan menoleh.

“Suara apa itu?”

“Mana?”

 

Sungmin menatap ke arah jendela yang terbuka.

“Aku mendengar sesuatu. Coba tengok di luar”

 

Kyuhyun beranjak pergi. Beberapa saat kemudian Kyuhyun kembali sambil menyeringai.

“Simpanlah kecemasanmu itu sampai sabtu nanti. Barangkali cuma seekor kijang” Katanya.

 

Namun, Sungmin masih belum lega.

“Kadang-kadang aku masih suka was-was, jangan-jangan Siwon curiga”

 

“Bagaimana dia bisa curiga? Bukankah permainan kita selalu rapi?”

“Beberapa hari ini sikapnya tidak seperti biasa”

 

Kyuhyun mengelus pipi Sungmin dengan punggung tangannya.

“Mungkin itu cuma perasaanmu”

 

Sungmin terdiam sesaat.

“Aku sebenarnya tidak mau Siwon menyentuhku lagi, tetapi aku berusaha tidak memperlihatkan padanya. Toh tidak akan lama lagi”

 

“Dua hari lagi, sayang, semua kekayaannya akan menjadi milikmu dan kau akan jadi milikku” Kyuhyun mengintip jam tangannya.

 

 “Sebaiknya aku pulang dulu. Sudah hampir waktunya untuk mengambil surat-surat,” Kyuhyun tersenyum. “Aku punya janji dengan Minho.”

 

“Oh?”

 

“Ia menyuruhku untuk membeli sesuatu di desa itu. Sebuah hadiah kenang-kenangan untukmu. Bukankah itu menyenangkan?”

 

Sungmin menarik satu sudut bibirnya membentuk seulas senyum sinis.

“Pergi dari tempat ini adalah hadiah paling baik yang dapat ia berikan padaku” Katanya. Kyuhyun hanya terkekeh dan beranjak pergi.

 

~+~+~+~

 

Minho yang membawa ransel dipunggungnya menghentikan mobil Kyuhyun ketika ia kembali dari desa itu. “Aku lelah sekali, Kyuhyun hyung. Boleh aku ikut menumpang?”

 

“Naiklah,” kata Kyuhyun. Kemudian sambil menyerahkan barang yang dibelinya kepada Minho, Kyuhyun menambahkan, “Kau beruntung ini adalah kotak terakhir yang mereka miliki”

 

Minho memasukkan kotak itu ke dalam ranselnya.

“Terima kasih. Hadiah ini tidak seberapa, tetapi aku ingat tahun lalu betapa Sungmin hyung menyukai French Cream ini” katanya.

 

Kyuhyun tertawa kecil.

“Gadis manis di toko itu tadi bertanya untuk siapa permen ini kubeli”

“Lalu, kau bilang apa kepadanya?”

“Yeah, kubilang permen itu untuk kekasihku”

 

~+~+~+~

 

Malam itu Minho menemui Siwon di kantor. Bangunan kantor ayahnya itu berdinding kayu pinus. Diberikannya sebuah bungkusan tipis berisi hadiah kepada ayahnya.

“Boleh dibuka sekarang kalau mau” kata Minho.

 

Wajah Siwon menampakkan rasa terkejut bercampur malu saat membuka bungkusan itu.

“Oh, bagus sekali. Terima kasih”

 

Minho tersenyum.

“Aku tidak bermaksud supaya ayah menaruhnya di atas meja,” ujar Minho. “Aku tidak bilang pada Ibu kalau aku mencetak lagi satu untuk ayah. Aku ingin Ayah melihat betapa Ibu tampak begitu hebat.”

 

Siwon menatap dengan cermat foto Minho bersama ‘ibunya’, Kibum.

“Ia kelihatan lain. Tampak lebih muda” Katanya.

 

“Ya, kulihat Ibu benar-benar ikhlas meninggalkan Ayah. Penampilannya kini luar biasa. Model rambutnya sekarang lain”

 

“Itu model yang biasa dipakainya” Ujar Siwon.

“Kalau aku jadi Ayah, tidak akan kubiarkan Sungmin hyung melihat foto ini. Bisa jadi ia tidak mau mengerti”

 

Sambil tersenyum Siwon memasukkan foto itu ke dalam laci bawah mejanya.

“Kau juga akan memberikan sesuatu pada Sungmin? Semacam hadiah atas segala kebaikannya?”

 

“Akan kukirimkan saja dari rumah,” ujar Minho. “Oh, ya, aku akan membeli satu kaleng French Cream kegemaran Sungmin hyung, tetapi Kyuhyun hyung mendahuluiku”

 

“Kyuhyun?” kata Siwon tampak tidak mengerti.

 

“Ya, Kyuhyun hyung justru membelinya untuk Sungmin hyung”

 

“Dari mana kau tahu?”

 

Minho memandang ayahnya dengan rasa tak bersalah.

“Kyuhyun hyung sendiri yang bilang padaku,” Minho tersenyum lebar. “Hei, Ayah tidak cemburu pada Kyuhyun hyung, bukan?”

 

“Sembarangan kau ini”

 

“Aku Cuma bercanda, Ayah. Aku melihat kaleng permen itu di dalam jip ketika tadi ia mengantarku. Lalu, kutanya untuk siapa permen itu. Jawabnya, Sungmin hyung yang menyuruh dia membelinya”

 

~+~+~+~

 

Sehari sebelum berangkat pulang, Minho masuk ke kamarnya setelah makan siang dan menulis beberapa kartu pos untuk teman-teman kuliahnya. Bukannnya supaya tampak masuk akal, namun barangkali setelah itu bermanfaat kalau ia memiliki bukti bahwa kartu-kartu pos itu akan sampai di kantor pos di desa itu. Ia turun ke lantai bawah sambil membawa kartu-kartu posnya. Ketika itu kira-kira saat Kyuhyun akan turun dari bukit.

 

Jantung Minho berndenyut kencang waktu ia melihat jip itu sudah pergi. Kemudian ia mendengar namanya dipanggil dan ketika ia memutar badannya, terlihat ayahnya melambai-lambaikan tangan ke arahnya. Kyuhyun berdiri di samping ayahnya.

 

“Sebaiknya kau ikut kami Minho. Seorang tamu kita terlempar jatuh dari kudanya di timur bukit. Wanita naas itu mungkin patah kakinya” Ujar Siwon.

 

Minho menatap kartu-kartu yang dipegangnya.

“Tentu. Aku tadi cuma mau minta tolong Kyuhyun hyung membawa kartu-kartu ini ke kantor pos”

 

Kyuhyun menyahut,

“Kau terlambat, Minho. Ny. Kim sudah berangkat menuju ke kantor pos. Maaf”

 

Minho berdiri memandang ke arah kaki bukit, lalu berbalik mengikuti kedua orang itu, sambil memasukkan kartu-kartu posnya ke saku jaketnya. Wanita itu rupanya cuma menderita keseleo saja. Siwon sungguh merasa prihatin, tetapi ia merasa lega setelah tahu cedera tamu itu tidak terlalu serius. Namun ketika mereka kembali ke penginapan, rahangnya kembali terkatup erat waktu dua orang pria dan seorang berseragam polisi datang terburu-buru menemui mereka.

 

“Ayah, ada apa ini?”

 

Wajah Siwon tampak pucat, bibirnya bergetar.

“Sesuatu yang mengerikan telah terjadi. Jip itu……masuk ke jurang”

“Kau bilang Sungmin hyung… Ya, Tuhan! Apakah dia…”

 

“Sungmin meninggal, Minho” kata Siwon dengan suara datar.

 

Minho terdiam. Ia menoleh kepada Kyuhyun yang berdiri tidak jauh dari Siwon. Pria itu hanya berdiri tanpa suara, sedikit menunduk. Sepertinya dia sangat terkejut dan terpukul. Kemudian Minho mengalihkan pandangannya keluar jendela, pada bukit-bukit yang berdiri angkuh diluar sana. Minho masih terdiam.

 

~+~+~+~

 

Sore itu Minho masuk ke kamarnya, membuka koper dan memasukkan sesuatu ke dalam sakunya. Kemudian ia mengambil kotak French Cream yang belum terbungkus dan membawanya. Minho berjalan melewati lorong, naik tangga untuk menuju ke hutan di luar sana. Ia merasa lega, kecelakaan itu terjadi sesuai dengan rencananya meskipun tadinya Kyuhyun-lah yang dia perkirakan ada dalam jip yang remnya ia buat agar blong itu, bukan Sungmin.

 

Adalah Kyuhyun yang secara tak sengaja memberinya gagasan tentang penyabotan rem mobil itu. gagasan itu diperolehnya ketika Minho diam-diam mengikuti Sungmin menuju kabin, lantas berdiri menguping di luar jendela. Namun, sekarang ia merasa tidak membenci pria itu. Siapa sih yang tidak tergiur bila menghadapi Sungmin? Seperti misalnya ayahnya, Siwon, dan juga Minho sendiri. Tadinya ia bermaksud meracuni Sungmin dengan permen yang ia beri racun. Kini permen beracun itu tak berguna lagi.

 

Jauh di tengah hutan Minho memendam kotak permen itu bersama botol kecil berisi cairan bening. Kalau dibuang begitu saja takut dimakan binatang tak berdosa. Racun itu tadinya akan ia taruh di kamar Kyuhyun. kini sudah tak perlu lagi.

 

Fin

 

14 thoughts on “Love behind a wife

  1. Lah? Ujung2nya mlh Sungmin yg terbunuh. Ni keluarga aneh bgt sumpah, semua mau saling ngebunuh, saling pny simpenan, rumit bgt hidupnya.

    Sungmin lagi, jadi penggoda? Ya Tuhan.

  2. Scrolling jadinya mulai Sungmin menggoda minho.
    Langsung liat part Ming mati jatoh ke jurang.
    Weleh… Ga nyangka. Liat koment laen keknya semua berpikir untk saling membunuh. Nyahahaha…
    Ga kuat iman saya bacanya.
    Saya mah nyari yg fluffy2 aja.
    Hehehe…
    Lanjut baca drabble laen ah…
    Meluncur >>>>>>

  3. hadehhh…kok malah umin yang mati sih,pinginnya aqu kyuyun …wkkkkkk…galau tingkat dewa siumin jdi jahat gitu

  4. lho kok? kok sungmin yg meninggal? kok minho yang?
    oh ya ampun. misterius bgt.
    minho yg membunuh kan ya? trus kyuhyunnya?
    duuh~

  5. Jd ini tuh yg mati sungmin ? Tp knp sungmin bisa pake jip itu ? Bukannya dia udah tau jip nya disabotase kan ??? Terus sampe akhir siwon gatau perselingkuhan sungmin sama kyuhyun ya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s