Message send!

Gambar

Pairing           : KyuMin / YeMin

Genre            : Hurt

Length           : One Shoot

Warning         : Boys Love, Shounen-ai, Broken!KyuMin

Author note     : sekuel dari “When The Last Train Passed”

Disclaimer       : Story belong to me, KyuMin belong to each other

Summary         : Tidak masalah jika pesan – pesan itu tidak sampai pada orang yang dituju. Tapi setidaknya pesan – pesan itu sampai pada orang yang tepat.

 

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

Sungmin memandang Kyuhyun yang masih saja sibuk dengan gamenya. Pandangannya tidak beralih dari PSP ditangannya. Dia tampak serius, mengacuhkan Sungmin yang berbaring dipangkuannya, memandangnya dengan bosan.

 

Seperti inilah hari–harinya bersama pemuda evil ini. Mengisi kencan mereka dengan game–game yang Sungmin tidak mengerti. Meski Kyuhyun sudah berusaha untuk meracuninya dengan hal–hal yang berhubungan dengan game hingga ke taraf yang paling ekstrem, Sungmin masih saja tidak mengerti. Hingga akhirnya membuat magnae itu kebingungan dan mengatakan bahwa dia aneh.

 

Aneh?

 

Yeah, menurutnya Kyuhyun benar. Dia aneh. Aneh karena bisa jatuh cinta dengan pemuda evil ini. Aneh karena memiliki kekasih yang lebih memilih berkencan dengan gamenya daripada berkencan dengan kekasihnya sendiri. Aneh bagaimana hubungan ini bisa bertahan.

 

Aneh?

Bukan, tapi bodoh!

 

Yeah, bodoh. Karena Sungmin begitu menyayangi pemuda evil ini. Sebuah cinta yang bodoh.

 

“Bagaimana dengan drama musikalmu Kyu? Apa latihannya berjalan dengan baik?” tanya Sungmin bersuara.

 

“Hn, berjalan dengan baik.” jawab Kyuhyun tanpa beralih dari PSP.

“Begitu. Baguslah…” kata Sungmin tersenyum miris karena diacuhkan.

 

Kembali hening. Kyuhyun masih memainkan PSPnya dengan serius. Sungmin mendesah dan beranjak bangun. Percuma saja, apapun yang Sungmin lakukan perhatian Kyuhyun tidak akan teralihkan dari PSP bodoh itu. Sungmin mengutak–atik ponselnya dengan bosan. Ia benar–benar bosan dengan keadaan yang seperti ini, tapi hanya dengan seperti ini Sungmin bisa bersama dengan Kyuhyun. Bersamanya, lebih dekat.

 

Perhatian Kyuhyun teralihkan saat Zhoumi datang. Pemuda tinggi itu datang dengan beberapa CD game terbaru. Segera mereka asyik membicarakan tentang game, sementara Sungmin hanya bisa memandang mereka tidak mengerti.

 

Sungmin merengut memandang Zhoumi yang terlihat sangat akrab dengan Kyuhyun. Terkadang Sungmin cemburu pada pemuda China itu. Kyuhyun dapat dengan bebas berbicara tentang game pada Zhoumi. Tentu saja, Zhoumi mengerti dengan semua pembicaraan Kyuhyun. Sementara ia tidak pernah mengerti dengan semua hal itu. Padahal Sungmin sudah berusaha untuk memahami dunia Kyuhyun. Aneh.

 

****

 

Malam ini Sungmin membuka twitternya. Ia membaca sekilas mention yang masuk untuk dirinya. Beberapa mention dari teman–temannya. Dan beberapa mention tidak penting. Tidak ada mention dari Kyuhyun, juga tidak ada tweet baru dari account twitter milik magnae itu. Yeah, tentu saja. Kyuhyun jarang membuka twitter miliknya.

 

Sungmin mendesah pelan, entah yang ke berapa kalinya. Kereta terakhir memang sudah sangat lama berlalu. Tapi janji itu, rasa sakit itu, Sungmin masih mengingatnya. Cukup jelas untuk membuatnya menangis kembali. Jemari Sungmin mulai menari diatas keyboard laptop miliknya menulis tweet baru.

 

@myblacksmile did u forget a promise that u had for me? Did u forget me?

 

Beberapa menit kemudian teman–temannya dan entah siapa mereka membalas tweet Sungmin. Sungmin hanya tersenyum dan membalas tweet mereka. Namun ia terdiam saat sebuah mention baru masuk dalam twitter miliknya.

 

@GaemGyu : why u don’t ask him? RT @myblacksmile : did u forget a promise that u had for me?……

 

Itu twitter milik Kyuhyun. Rupanya dia sedang online saat ini. Sungmin masih terdiam memandang tweet dari Kyuhyun. why u don’t ask him? Apa dia memang benar-benar sudah lupa? Atau dia bodoh?

 

@myblacksmile : he always busy busy busy and busy RT @GaemGyu : why u don’t ask him? RT @myblacksmile : did u forget……

 

Sungmin menunggu beberapa lama, tapi tidak ada balasan tweet dari Kyuhyun. Sepertinya dia sudah offline. Sungmin mendesah dan menggigit bawah bibirnya, mencoba menahan rasa sakit yang seketika memenuhinya. Berpikir, berapa lama lagi ia bisa bertahan?

 

****

 

Beberapa hari kemudian, akhirnya Kyuhyun kembali teringat dengan janjinya. Ia memandang Sungmin yang sedang memandangnya tanpa suara. Gurat luka tergambar disepasang bola mata yang biasanya berbinar seperti kelinci itu. Kini mata itu terlihat sangat sedih dan kecewa.

 

“Maafkan aku hyung. Aku tidak bermaksud menyakitimu,” kata Kyuhyun.

 

Sungmin masih memandang Kyuhyun tanpa suara. Masih memandangnya dengan sorot kecewa. Kyuhyun memeluknya dan mengusap kepala Sungmin dengan lembut. “Jika saja aku tahu kau akan sangat kecewa seperti ini, saat itu aku pasti akan segera menyusulmu ke stasiun. Aku akan pergi bersamamu dan tidak berlatih drama musical” kata Kyuhyun.

 

“Tapi kau tidak datang Kyu. Kau tetap tidak datang sampai kereta terakhir pergi” kata Sungmin lirih. Ia hampir menangis.

 

“Maafkan aku. Kau terlalu baik untukku hyung. Seharusnya aku tidak membuatmu sesedih ini. maafkan aku hyung.” kata Kyuhyun.

 

Sungmin tidak bisa menahan cairan bening yang terus memaksa untuk keluar dari sudut matanya. Sementara Kyuhyun terus mengusap kepalanya dengan lembut seraya meminta maaf. Kyuhyun terlihat sangat menyesal.

 

Selesai?

Tidak. Kisah ini masih belum berakhir. Setidaknya bukan dengan akhir yang seperti ini.

 

****

 

Brakk!!

 

Sungmin hampir meloncat kaget saat tiba–tiba Kyuhyun menggebrak meja dengan keras. Wajahnya terlihat kesal memandang Sungmin. Sungmin mengerjap kaget dan menoleh dengan malu menyadari kini mereka tengah menjadi pusat perhatian. Tapi kelihatannya Kyuhyun tidak peduli dengan hal itu.

 

“Kenapa aku tidak pernah bisa membuatmu nyaman setiap berada disisiku hyung?” tanya Kyuhyun

 

Sungmin tidak menjawab. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

“Aku sudah berusaha menjadi seperti mereka, seperti teman – temanmu itu. Tapi kenapa aku masih tidak bisa membuatmu nyaman seperti saat kau bersama mereka?” tanya Kyuhyun.

 

Sungmin masih tidak menjawab. Ia benar – benar tidak tahu jawabannya.

“Kenapa hanya setiap berada disisiku, kau selalu diam? Dimana Lee Sungmin yang biasanya?” tanya Kyuhyun.

 

Sungmin masih tetap tidak menjawab. Biasanya ia sangat ceria. Bersinar hangat seperti matahari pagi. Sungmin biasa bercanda dengan teman–temannya, pria maupun wanita, saling memukul, saling memanggil dengan sebutan aneh. Dengan mereka Sungmin bisa bertingkah gila–gilaan. Tapi hanya pada Kyuhyun tidak. Sungmin bisa sangat cerewet saat berada dengan mereka, tapi sangat tenang saat disamping Kyuhyun.

 

Kyuhyun heran, teman–temannya juga heran, terlebih lagi Sungmin. Sungmin sendiri tidak mengerti kenapa, tapi hanya pada orang yang sangat ia sukai Sungmin akan bersikap sangat tenang seperti ini. Aneh?

 

Sungmin mulai gelisah. Kyuhyun masih memandangnya dengan kesal. Kelihatannya ia sangat kesal karena tidak bisa membuat Sungmin senyaman mungkin berada disisinya. Baru kali ini Sungmin melihat Kyuhyun seperti itu, hingga membuatnya sedikit takut.

 

“Kyu, aku……” kata Sungmin mencoba bicara.

“Lupakan saja” kata Kyuhyun seraya berdiri.

 

“Eh? Kyu, kau mau kemana?” tanya Sungmin.

“Berlatih.” jawab Kyuhyun singkat dan beranjak pergi.

 

Sungmin terpaku memandang sosok Kyuhyun yang menjauh pergi, kemudian memandang tanpa suara Cup berisi kopi miliknya. Tanpa sadar perlahan Sungmin mengetuk–ketuk jemarinya diatas meja. Perlahan ketukannya semakin keras dan cepat. Tubuhnya bergetar menahan kesedihan yang kembali memenuhinya.

 

Jemari Sungmin berhenti saat seseorang memegang tangannya dengan lembut. Sungmin mengangkat kepalanya. Ternyata Yesung. “Apa lagi sekarang?” tanya Yesung.

 

“……Yesung hyung,” kata Sungmin. “Apa…yang kau lakukan disini?”

“Hanya bertemu seorang teman. Dia juga bagian dari drama musical ini” jawab Yesung.

 

Yesung memandang tangan Sungmin dan menggenggamnya dengan lembut.

“Kenapa kau sedih?” tanya Yesung.

 

****

 

Sungmin memandang keluar jendela, memandang pepohonan yang sedang asyik dimainkan oleh angin ke kanan dan ke kiri. Disisinya Yesung berdiri dengan tenang, membiarkan Sungmin dengan pikirannya. Jemari Sungmin kembali mengetuk pinggir jendela. Tubuhnya kembali bergetar.

 

Yesung memandang Sungmin dan menghentikan tangannya yang terus mengetuk pinggir jendela. Ia tahu, Sungmin sedang merasakan sesuatu saat ini. Ini salah satu kebiasaannya. Sungmin menoleh memandang Yesung.

 

“Kenapa? Apa kau sedang sedih? Takut?” tanya Yesung.

 

Sungmin tidak menjawab. Ia hanya memandang Yesung dengan sedih. Tiba–tiba ia memeluk lengan Yesung dan menangis. Yesung hanya diam memandang Sungmin dan mengusap kepalanya dengan lembut.

 

Disaat itu Kyuhyun datang. Kyuhyun sedang mencari Sungmin, ia ingin meminta maaf. Namun ia terkejut saat melihat Sungmin bersama Yesung. Kyuhyun berhenti sejenak memandang Sungmin yang memeluk lengan Yesung, berdiri memunggunginya, kemudian Kyuhyun beranjak mendekati mereka.

 

“Sungmin hyung” panggil Kyuhyun.

 

Yesung menoleh memandang Kyuhyun dengan tenang. Sementara Sungmin tersentak namun tidak melepaskan pelukannya dilengan Yesung. Ia bahkan tidak menoleh. Kyuhyun terdiam sesaat, memandangnya dengan marah.

 

“Ada yang ingin aku bicarakan hyung. Ayo ikut” kata Kyuhyun menarik tangan Sungmin.

“Tidak mau” tolak Sungmin tanpa menoleh.

 

Kyuhyun sedikit terkejut dengan penolakan Sungmin.

“Sungmin hyung! Ada apa denganmu?” kata Kyuhyun masih berusaha menarik tangan Sungmin.

 

Yesung memandang Sungmin yang masih menolak. Dia memeluk lengannya dengan sangat erat. Kemudian Yesung menahan tangan Kyuhyun yang masih berusaha menarik Sungmin.

“Dia bilang tidak mau” kata Yesung.

 

“Ini bukan urusanmu hyung!” kata Kyuhyun marah seraya menepis tangan Yesung.

 

“Jangan bercanda! Siapa yang tidak sedih jika kekasihnya mengacuhkannya dan terus menyakitinya?! Kata Yesung mulai merasa kesal.

 

“Menyakiti?! Sekali lagi, ini bukan urusanmu hyung.” kata Kyuhyun mengernyit kemudian kembali berusaha menarik tangan Sungmin.

 

Namun Sungmin menepisnya dan memperat pelukannya dilengan Yesung. Kyuhyun terdiam melihat air mata diwajah Sungmin dan memalingkan wajahnya dengan kesal. Kemudian Kyuhyun beranjak pergi. Yesung memandang Sungmin yang masih memeluk lengannya dengan erat. Kemudian ia mengusap kepala Sungmin dengan lembut, membiarkannya menangis tanpa suara.

 

****

 

Malam mulai larut dan langit terlihat sangat gelap. Kelihatannya akan segera turun hujan. Sungmin melangkahkan kakinya perlahan menuju taman. Ia melangkah dengan ragu. Rasa takut membayangi setiap langkah kakinya. Kakinya berhenti saat melihat seseorang yang sedang menunggunya, duduk disalah satu ayunan dengan tenang.

 

Kyuhyun mengangkat kepalanya memandang Sungmin yang kini berdiri didepannya. Sungmin beranjak duduk di ayunan disamping Kyuhyun. Tidak ada yang bersuara selama beberapa saat. Sungmin memainkan ayunannya dengan sangat pelan, sementara Kyuhyun menunduk memainkan pasir dengan sepatunya.

 

“Apa kita akan terus seperti ini?” Kyuhyun bersuara.

“Apa?” tanya Sungmin.

 

“Kau tidak pernah nyaman berada disampingku hyung. Kau tidak nyaman bersamaku” kata Kyuhyun.

 

Sungmin menghentikan ayunannya dan memandang tanah.

“Aku selalu nyaman bersamamu Kyu. Hanya saja…aku tidak mengerti, tapi aku selalu tidak berkutik jika bersama orang yang sangat kusukai. Kau tahu aku sangat menyukaimu Kyu. sangat menyayangimu. Sangat…mencintaimu” katanya.

 

“Yeah, aku tahu itu. Aku juga…” kata Kyuhyun.

“Aku tahu.” kata Sungmin tersenyum kecil.

 

Kembali hening sejenak.

“Kau terlalu baik untukku hyung” kata Kyuhyun memecah keheningan.

 

“Yeah, kau sudah mengatakan hal itu. Aku terlalu baik hingga tidak seharusnya kau membuatku sedih. Tapi, tahukah kau Kyu? Entah sudah berapa kali aku menangis karena kamu” kata Sungmin lirih.

 

Kyuhyun diam sesaat.

“Maafkan aku” kata Kyuhyun.

 

Sungmin menoleh memandang Kyuhyun.

“Hanya itu? Maaf…?” kata Sungmin.

 

Kyuhyun mengangkat kepalanya memandang Sungmin. Ia mengamati wajah cute itu dan berhenti pada bibir plump yang selalu tampak menggoda itu. Kyuhyun mendesah dengan berat sesaat.

 

“Kau benar. Tidak seharusnya aku membuatmu sedih dan menangis. Kita tidak bisa seperti ini terus” kata Kyuhyun.

 

Sungmin terdiam sesaat memandang Kyuhyun. Seketika perasaannya berubah tidak enak.

“Apa…yang sebenarnya ingin kau katakan?” tanya Sungmin.

“Mungkin lebih baik jika kita………berpisah” kata Kyuhyun perlahan.

 

Sungmin tersentak. Seketika ia berdiri. Matanya terbelalak memandang Kyuhyun tidak percaya. Sungmin menelan salivanya perlahan, berharap ia salah dengar.

“A…apa, apa kau bilang? “ kata Sungmin.

 

“Kita tahu hubungan ini tidak akan berjalan dengan baik jika seperti ini terus” kata Kyuhyun.

 

Sungmin terpaku.

“Kenapa? Karena kita…berbeda?” tanya Sungmin.

“…yeah, kita terlalu berbeda.” jawab Kyuhyun seraya berdiri memandang Sungmin dengan serius.

 

Sungmin mendengus tidak percaya. Ternyata indera pendengarannya masih bekerja dengan sangat baik. Sungmin membeku. Seketika Sungmin merasa limbung, bahkan ia merasa tidak berpijak lagi. Perasaan sakit itu kembali memenuhinya, dan sangat penuh.

 

Berpisah?

 

Semudah itu Kyuhyun mengucapkan kalimat yang paling Sungmin takuti. Sungmin mulai menangis. Tidak peduli bagaimana Kyuhyun memandangnya. Hatinya sakit, terkoyak. Entah sudah berapa banyak Sungmin mengeluarkan air matanya karena Kyuhyun. Entah sudah berapa kali Sungmin bersabar menghadapi Kyuhyun. Entah sudah berapa kali Sungmin menelan kecewa karena semua janji–janji yang tidak berguna. Semua itu, kini sia–sia.

 

Jahat!

 

Apa Kyuhyun tidak tahu bagaimana ia begitu mencintai pemuda evil ini? Bagaimana ia berusaha menjaga hatinya hanya demi magnae kurang ajar ini. Bagaimana Sungmin selalu berharap Kyuhyun dapat berada disisinya meski hanya sesaat. Tapi tidak, Kyuhyun tidak tahu itu. Dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Kyuhyun bahkan tidak ada waktu untuk mengetahui bahwa ia menangis karenanya.

 

“Terima kasih untuk tidak pernah berada disisiku di setiap aku membutuhkanmu… hiks… terima kasih untuk selalu meninggalkanku dalam semua janjimu yang tidak pernah berguna. Hiks hiks…” isak Sungmin seraya tersenyum kecewa.

 

Kyuhyun merengkuh tubuh Sungmin yang mulai bergetar. Tubuh mungil itu sudah terlalu penuh dengan kesedihan yang mungkin tidak bisa ditampung lagi. Kyuhyun memeluknya dengan lembut seraya mengusap kepala Sungmin. Mulutnya terus menggumamkan kata maaf berkali–kali, kalimat yang terdengar penuh dengan penyesalan.

 

“Maafkan aku hyung. Maafkan aku.” kata Kyuhyun.

 

Kyuhyun melepas pelukannya, mengecup kepala Sungmin sesaat dan beranjak pergi. Ia terus melangkah pergi meninggalkan Sungmin yang menangis dalam hancur. Hatinya hancur. Dunianya hancur.

 

Titik–titik air jatuh dari langit yang gelap. Perlahan titik–titik air itu jatuh semakin banyak menerpa tanah yang sepi. Sungmin terduduk disalah satu ayunan, membiarkan hujan menerpa tubuhnya yang bergetar. Membiarkan hujan menyapu air mata yang terus mengalir turun dari sudut matanya. Tubuh itu terus bergetar, tidak mampu lagi menahan semua rasa sakit ini. Semua sudah berakhir.

 

Seperti inikah akhir kisahnya?

 

Malam kian larut dan hujan semakin deras. Namun Sungmin masih tidak beranjak dari tempatnya. Ia masih duduk tanpa suara, sementara tubuhnya sudah basah kuyub. Air hujan berhenti menerpanya saat sebuah payung melindunginya. Sungmin memandang sepasang kaki yang berdiri didepannya dan perlahan mengangkat kepalanya.

 

Ternyata Yesung. Pemuda bermata kecil itu memandangnya dengan cemas.

“Aku mencarimu sejak tadi, ponselmu juga tidak aktif. Apa yang sedang kau lakukan disini?” tanya Yesung.

 

Sungmin tidak menjawab dan kembali menundukkan kepalanya dengan sedih. Yesung memandang jemari Sungmin yang sedang mengetuk–ketuk rantai ayunan dengan gelisah. Tubuhnya masih terus bergetar. Yesung menghentikan jemari Sungmin dan melepaskannya dari rantai ayunan. Ia menggenggamnya dengan lembut.

 

“Kenapa kau menangis lagi? Apa yang membuatmu begitu sedih?” tanya Yesung.

 

Sungmin mengangkat kepalanya memandang Yesung dan terpaku. Ia kembali menangis perlahan. Ingin sekali Kyuhyun yang mengucapkan hal itu. Ingin sekali Kyuhyun yang berada bersamanya saat ini. Tapi sekeras apapun Sungmin berharap, harapan itu sudah tidak berguna lagi. Kyuhyun sudah pergi meninggalkannya, seperti kereta terakhir yang meninggalkan stasiunnya.

 

“Kenapa? Kenapa…selalu hyung yang berada disisiku? Kenapa hyung selalu bertanya, kenapa aku menangis? Kenapa aku sedih? Kenapa Kyuhyun tidak pernah melakukannya untukku?” ucap Sungmin.

 

Yesung terdiam sesaat memandang Sungmin.

“Ayo pulang. Hujan semakin deras, kau bisa sakit nanti” kata Yesung menggenggam tangan Sungmin semakin erat.

 

Sungmin menarik tangannya dan menggelengkan kepalanya.

“Tidak. aku akan baik – baik saja. Hyung pulang saja. Aku ingin sendiri” kata Sungmin menolak.

 

“Memang sejak kapan kau berani sendirian? Sejak kapan kau tidak membutuhkanku lagi?” tanya Yesung.

 

Sungmin sedikit tersentak memandang Yesung dan kembali menggelengkan kepalanya.

“Aku akan baik – baik saja. Aku tidak butuh hyung” kata Sungmin.

“Kau yakin tidak butuh aku?” tanya Yesung.

 

Sungmin tidak menjawab dan menundukkan kepalanya. Yesung mendesah sesaat.

“Baiklah. Aku pergi.” kata Yesung kemudian membalik tubuhnya dan beranjak pergi.

 

Yesung menghentikan kakinya dan menoleh memandang Sungmin. Ia kembali mendekatinya dan memberikan payungnya pada Sungmin. Sungmin mengangkat kepalanya memandang Yesung.

 

“Kau yakin tidak butuh aku saat ini?” tanya Yesung lagi.

 

Sungmin memandang Yesung yang beranjak pergi. Seketika rasa sakit itu kembali menerpanya. Ia butuh seseorang disisinya. Sungmin sangat butuh seseorang yang bersedia meminjamkan punggungnya untuknya saat ini. Ternyata ia memang tidak bisa sendirian.

 

Sungmin berdiri dan membuang payung ditangannya. Ia berlari mengejar Yesung. Yesung berhenti saat Sungmin menarik ujung kaosnya dari belakang.

“Tunggu. Tolong…jangan pergi,” kata Sungmin.

 

Yesung menoleh memandang Sungmin.

“Jika hyung pergi, aku tidak harus bagaimana. Aku…sangat membutuhkan hyung saat ini. Jadi tolong, jangan pergi…” kata Sungmin kembali menangis.

 

Yesung membalik tubuhnya dan memeluk Sungmin dengan erat.

“Hanya untuk hari ini, kau boleh menangis dalam pelukanku.” kata Yesung.

 

Yesung hanya mengusap kepala Sungmin dengan lembut. Membiarkannya kembali menangis dengan deras, deras sekali, seperti hujan yang masih setia menerpa bumi dengan derasnya. Menyelimuti hati yang kembali hancur. Mungkin memang seperti ini akhir kisahnya.

 

****

 

4 bulan kemudian

 

Sungmin memandang pesan yang baru saja ia ketik untuk Kyuhyun. Jarinya bersiap untuk mengirimkan pesan itu. Namun kemudian Sungmin menutup ponselnya dan mendesah. Kembali ia memutuskan untuk tidak mengirim pesan itu. Entah sudah berapa banyak pesan yang ia ketik untuk Kyuhyun namun kemudian urung ia kirim.

 

Sudah 4 bulan sejak perpisahan mereka. Namun Sungmin masih tidak bisa mengusir perasaannya dengan mudah. Perasaannya pada pemuda evil itu mungkin sudah terlalu dalam. Berita terakhir yang terdengar ditelinga Sungmin, kini Kyuhyun telah bersama Zhoumi. Kini Kyuhyun bebas berbicara dan pemuda China itu pasti akan mengerti dengan semua celotehannya. Tidak seperti dirinya yang tidak pernah bisa mengerti dengan isi kepala seorang Cho Kyuhyun.

 

Hari ini kembali Sungmin datang bersama Yesung menonton pertunjukan drama musical Kyuhyun. Tepuk tangan riuh terdengar memenuhi ruangan theater saat drama musical itu berakhir. Semua penonton merasa puas. Tapi Sungmin tidak, ia masih ingin melihat Kyuhyun lebih lama lagi. Dari kursi penonton, ia hanya bisa memandang sosok yang masih ia rindukan.

 

Satu persatu orang–orang meninggalkan ruangan theater. Sungmin menghentikan kakinya dan  memandang dari kejauhan Kyuhyun yang sedang sibuk diberi selamat oleh para staff dan rekan–rekannya. Ia terlihat sangat senang, dan Sungmin sangat merindukan senyum itu. Kyuhyun menoleh dan senyumnya memudar perlahan saat pandangannya bertemu dengan Sungmin. Mereka hanya saling memandang selama beberapa saat, sampai akhirnya Zhoumi datang dan menyeret Kyuhyun pergi bersamanya.

 

Yesung memandang Sungmin yang masih terdiam. Pandangannya masih belum lepas dari Kyuhyun yang telah menjauh pergi. Yesung dapat mendengar desahan pelan dari bibir plump Sungmin.

 

“Hey, bagaimana jika kita makan ramen” ajak Yesung.

“Apa?” Kata Sungmin menoleh.

 

“Aku lapar. Bagaimana jika kita pergi makan ramen” kata Yesung.

“Yeah, baiklah” kata Sungmin tersenyum setuju.

 

Sungmin dan Yesung beranjak pergi. Mereka makan disebuah restoran ramen langganan Yesung. Yesung makan dengan lahap, sementara Sungmin sibuk dengan ponselnya. Jemarinya sibuk mengetik sebuah pesan. Untuk sesaat Sungmin terlihat ragu untuk mengirim pesan itu. Dan akhirnya Sungmin menutup ponselnya dan mendesah pelan.

 

Selesai makan mereka berjalan–jalan menyusuri kota. Masuk dari satu toko ke toko lainnya. Sungmin tidak bisa bertahan kecuali tertawa setiap kali Yesung menunjukkan tingkah gilanya. Kemudian ia menyeret Yesung keluar toko sebelum mereka diusir oleh pemilik toko karena dianggap gila.

 

Senja hampir datang saat akhirnya perjalanan mereka berakhir di pinggir sungai Han. Sungmin duduk memandang senja, sementara Yesung sedang pergi mencari minum untuknya. Sungmin merogoh sakunya mengambil ponsel miliknya. Kembali ia mengetik sebuah pesan, dan kembali pesan itu berkumpul bersama pesan–pesan lainnya difolder draft. Sungmin mendesah dan menutup ponselnya. Entah kenapa ia tidak bisa mengirim pesan–pesan itu.

 

Sungmin kembali memandang senja yang terpantul dipermukaan sungai. Gurat–gurat keindahan yang terlukis sempurna. Perlahan rasa sakit itu telah memudar, meninggalkan perasaan yang masih tidak ingin beranjak pergi dari sudut hatinya. Mungkin Sungmin sudah bisa menerima perpisahan ini, tapi masih ada sesuatu yang tertinggal. Sesuatu yang ingin Sungmin sampaikan tapi sulit untuk mengatakannya, meski hanya melalui sebuah pesan.

 

Sungmin tersentak saat Yesung menempelkan sekaleng soda dingin di pipinya. Yesung terkekeh dan memberikan kaleng soda ditangannya pada Sungmin. Sungmin merengut sesaat namun kemudian menikmati soda miliknya. Tidak ada yang bersuara. Masing–masing sibuk dengan pikiran masing-masing.

 

“Kenapa kau tidak mengirimkannya saja?” Yesung bersuara.

“Apa?” tanya Sungmin menoleh.

 

“Pesan–pesan itu. Kuperhatikan sejak tadi kau terus mengetik pesan tapi tidak mengirimkannya” jawab Yesung menunjuk ponsel milik Sungmin/

 

Sungmin sedikit terkejut kemudian memandang aliran sungai yang tenang.

“Tidak bisa. Aku tidak bisa mengirimnya. Aku takut” kata Sungmin.

“Semua pesan itu untuk Kyuhyun, bukan?” tanya Yesung.

 

Sungmin mendesah sesaat dan menggenggam dengan erat kaleng soda miliknya.

“Semua sudah berakhir hyung. Kyuhyun juga sudah menemukan orang lain. Jadi, untuk apa aku mengirim pesan yang tidak penting ini” jawab Sungmin.

 

Yesung melirik Sungmin sesaat kemudian memandang senja yang mulai turun perlahan.

“Tapi kupikir, jika semua pesan–pesan itu adalah perasaanmu yang tertinggal untuk disampaikan, kenapa tidak dikirim saja. Bagaimanapun kalian pernah saling menyayangi” kata Yesung.

 

“Untuk apa? Mungkin Kyuhyun tidak akan membacanya” kata Sungmin mendengus.

“Kalau begitu, kirim saja pada orang lain” kata Yesung.

 

“Apa? Kirim pada orang lain?” kata Sungmin mengernyit memandang Yesung.

“Yeah” kata Yesung menganggukkan kepalanya.

 

Sungmin memandang Yesung dengan bingung.

“Apa maksudnya?” tanya Sungmin.

 

“Jika kau biarkan perasaan itu terus bertumpuk dalam hatimu, mungkin suatu saat nanti hatimu tidak akan sanggup menampungnya lagi. Jadi biarkan perasaan itu tersampaikan meski bukan pada orang yang kau tuju. Setidaknya itu bisa meringankanmu” jawab Yesung.

 

Sungmin terpaku sesaat memandang Yesung.

“Tapi, pada siapa?” tanya Sungmin.

 

Yesung menoleh memandang Sungmin dan tersenyum.

“Pada seseorang yang menurutmu pantas” jawab Yesung.

“Pantas…?” gumam Sungmin.

 

Yesung tersenyum mengangguk kemudian memandang langit yang kini mulai gelap. Senja telah selesai. Sungmin membuka ponselnya dan membuka pesan–pesan yang selalu dibiarkan memenuhi folder draft miliknya, tidak berani ia kirim pada Kyuhyun. Ia berpikir sesaat, pada siapa pesan–pesan ini akan ia kirim?

 

Pesan–pesan ini harus ia kirim pada seseorang yang pantas. Dan Sungmin tahu satu orang. Sungmin menekan tombol kirim, dan satu persatu pesan–pesan itu berhasil terkirim.

Drrtt…drrt…

 

Yesung mengambil ponselnya yang bergetar. Sebuah pesan baru telah masuk. Namun baru saja Yesung akan membuka pesan tersebut, ponselnya kembali bergetar. Kembali pesan baru telah masuk, dan ternyata bukan hanya satu. Yesung mengerjap membaca semua pesan–pesan itu.

 

From : Sungmin

The longest distance on earth ,not from north to south ,it’s when i stand in front of you and you ignore me

 

From : Sungmin

Remember when you said that you would change?
Don’t let me down

 

From : Sungmin

Oυr time οnlу keeps passing
I feel lіkе mу heart wіll explode
I dеѕріѕе myself fοr thіѕ

 

From : Sungmin

Where they’re from and how they form over and over even I don’t know
The only thing I know is that I just really hurt

I don’t know what to say, or how to hold on to you

From : Sungmin

I’m afraid that if I close my eyes they will flow even as I look up to the sky

 Of the tears that have ultimately become worse, one drop was finally discovered

From : Sungmin

I want to smile and leave you with a good image but when I look at you

The tears ultimately fall down

 

From : Sungmin

Dear can you even see me, did you forget completely?
I am worried, I feel anxiety because I can’t get close nor try to talk to you
I spend long nights by myself, erasing my thoughts a thousand times

 

From : Sungmin

You don’t answer anything as I cry out “I miss you”

 

From : Sungmin

I said what’s the reason you don’t want me

I don’t like the cold look in your eyes when you turn around once

 

From : Sungmin

Let’s be together, those words it’s only sweet for a little while
Why do you not care when,i’m hurting this much

From : Sungmin

I let you see that “I cry” a little while pretending to be strong
How well did those tears work on you?

 

From : Sungmin

I can’t find the right words
Maybe it’s okay if I lie, but I can’t even say “Don’t go away”

 

From : Sungmin

Will you forget someday?
About me?

 

From : Sungmin

If I tell you about my feelings

Still need you, want you to stay by my side

We should be together

 

From : Sungmin

I miss your heart

 

From : Sungmin

u’ll always be my side, right??
please give me strength … i think it`ll be increasingly difficult in the future.

i hesitate to go through this all if you don`t i found u on my side ……
coz it`s very uncomfortable to cry alone… stay on my side. Please…!

 

From : Sungmin

I wanna be the sound which tell words “I love you” everytime…

 

Yesung mengerjap memandang layar ponselnya kemudian memandang Sungmin dengan terkejut bercampur bingung.  “Kenapa kau kirim semua padaku?” tanya Yesung.

 

“Kau bilang kirim saja” jawab Sungmin.

“Tapi, kenapa kirim padaku?” tanya Yesung.

 

“Karena kupikir kau pantas” jawab Sungmin.

“Apa? Aku??” kata Yesung terkejut.

 

“Terima kasih, sudah selalu berada disisiku setiap saat. Terima kasih untuk semuanya hyung…” kata Sungmin.

 

Yesung mengerjap memandang Sungmin. Ia menggaruk belakang kepalanya dengan canggung dan tersenyum malu. Ia merasa senang. Sementara Sungmin tersenyum malu dibalik ponselnya. Selanjutnya mereka melewati malam dengan tangan yang kini saling bertaut dengan hangat.

 

Kini perasaannya jauh lebih baik. Pesan–pesan itu, perasaan–perasaan yang tersimpan begitu lama, kini telah tersampaikan. Meski bukan pada orang yang dituju, tapi lebih baik. Sungmin tahu, bukan Kyuhyun yang selalu berada disisinya setiap kali ia membutuhkannya. Bukan Kyuhyun yang menghentikannya saat jemarinya mulai mengetuk–ketuk dengan gelisah. Bukan Kyuhyun yang mengusapnya dengan lembut saat tubuhnya bergetar karena semua kesedihan itu. Bukan Kyuhyun yang selalu bertanya, kenapa ia menangis? kenapa ia sedih? Bukan Kyuhyun yang bertingkah gila saat sedang menghiburnya. Bukan Kyuhyun yang datang menemaninya saat ia takut sendirian. Tidak, bukan Kyuhyun. Tapi Yesung.

 

Yeah, ternyata Sungmin membutuhkan Yesung untuk selalu disisinya. Tidak masalah jika pesan–pesan itu tidak sampai pada Kyuhyun. Tapi setidaknya pesan–pesan itu sampai pada orang yang tepat.

 

Fin

14 thoughts on “Message send!

  1. Ngeness . . .
    Akhirnya wloupun bkan sma orag yg kita inginkan tp seenggagnya jd k orang yg kita butuhin . .
    Huufhht ~

    keep writing !😀
    HWAITING !!
    \(^_^)9

  2. Waw…
    Membaca warning broken kyumin d atas sebenarnya membuatku was was.
    Tapi dorongan penasaran dn lgpula ini sequel membuatku terus bertahan membaca sampai akhir.
    Dn ternyata aku tdak trlalu kecewa.
    Ketika sebuah cerita disampaikan dgn baik, maka ternyata cukup bisa diterima akal sehat. Dn aku bisa menerima cerita ini.
    Sebuah cerita dgn ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’ yang bagus, menurutku. ~^^
    Thanx for shared.
    Ah tapi, wookie kemana ya… =__=a

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s