When the last train passed

Gambar

Pairing          : KyuMin / slight YeMin

Genre            : Hurt

Length          : Drabble

Warning        : Boys Love, Shounen-ai

Disclaimer     : Story belong to me, KyuMin belong to each other

Summary       : harapan itu masih ada, meski kereta terakhir telah berlalu.

 

*terinspirasi dari cerita sahabat.

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

Sungmin merapikan poni rambutnya dan memastikan penampilannya sekali lagi. Sungmin tersenyum, ia terlihat sempurna hari ini. Sungmin sedang berdiri didalam stasiun kereta api, menunggu Kyuhyun sendirian. Hari ini Kyuhyun berjanji akan pergi bersamanya ke Daegu.

 

Sungmin kembali tersenyum. Bahagia? Tentu saja. siapa yang tidak bahagia ketika akan pergi bersama orang yang disayanginya. Sungmin sangat menyanyangi Kyuhyun, meski magnae favoritnya itu kerap melupakan janjinya.

 

Sungmin memandang jam tangannya. Kereta pertama hampir berangkat, namun Kyuhyun belum datang. Sungmin mengedarkan pandangannya diantara keramaian penumpang yang memenuhi stasiun. Tapi sosok Kyuhyun tidak ditemukan.

“Sungmin hyung”

 

Sungmin menoleh, berharap yang memanggilnya adalah magnae kesayangannya. Tapi segera Sungmin kecewa, pemilik suara itu adalah Ryeowook. Eternal magnae itu datang bersama Yesung.

“Hyung mau kemana?” tanya Ryeowook.

“Mau ke Daegu” jawab Sungmin.

 

“Kebetulan. Kita juga mau ke Daegu. Kau mau bareng?” tawar Yesung.

“Ayo hyung, lebih ramai jika kita pergi bersama. Kita kan juga sering pergi bersama hyung” bujuk Ryeowook.

 

Sungmin hanya tersenyum melihat Yesung dan Ryeowook yang begitu bersemangat mengajaknya pergi bersama.  “Tidak, kalian duluan saja. Aku sedang menunggu Kyu disini,” kata Sungmin menolak.

 

Ryeowook dan Yesung terdiam memandang Sungmin tidak yakin. Sungmin pun buru – buru menjawab “Tenang saja, kali ini dia akan datang. Kyu sudah berjanji akan pergi bersamaku.” kata Sungmin seraya tersenyum menyakinkan.

 

Ryeowook dan Yesung masih memandang Sungmin tidak yakin. Akhirnya setelah Sungmin berusaha menyakinkan berkali–kali mereka pun mengerti dan beranjak pergi. Ryeowook bergelayut manja dilengan Yesung, sementara Yesung menoleh memandang Sungmin yang sendirian, menunggu.

 

Sungmin memandang kereta pertama yang berlalu meninggalkannya. Dua jam kemudian, Sungmin masih tetap sabar menunggu kepastian dari Kyuhyun, kekasihnya. Sungmin memandang ponselnya. Benda mungil itu tidak kunjung bergetar atau berbunyi.

“Kyu pasti akan datang. Aku yakin!” tegas Sungmin dalam hati.

 

Sungmin beranjak duduk dan memainkan poni rambutnya dengan bosan. Ia kembali memeriksa penampilannya dan tersenyum, ia masih terlihat sempurna. Sungmin terkejut saat melihat Eunhyuk dan Donghae diantara keramaian pengunjung. Mereka beranjak mendekati Sungmin.

 

“Lho hyung, kenapa sendirian di stasiun? Tidak bersama Kyuhyun?” tanya Eunhyuk.

“Iya, aku sedang menunggu Kyu. Kalian mau kemana?” jawab Sungmin lelah. Lelah lama menunggu, lelah terlalu lama berada ditempat itu sendirian.

 

“Hyukie mengajakku mengunjungi bibinya di Daegu. Hyung sendiri mau kemana?” tanya Donghae.

“ke Daegu juga siiih………” jawab Sungmin lirih, mulai tak yakin.

“Hyung mau bareng kita?” tawar Eunhyuk.

 

Sungmin menggelengkan kepalanya.

“Tidak. Kyuhyun belum datang” tolak Sungmin.

“Memangnya hyung yakin Kyuhyun akan datang?” ucap Donghae setengah bercanda.

 

Sungmin tersenyum.

“Tenang saja, dia pasti datang. Kami sudah berjanji akan pergi bersama, tidak mungkin kan Kyu lupa?” kata Sungmin.

“Aku tidak yakin, mengingat semua janji – janji yang bocah evil itu lupakan…” kata Eunhyuk segera terdiam saat Donghae menyenggol lengannya.

 

Sungmin tersenyum miris, teringat dengan semua janji – janji yang dilupakan atau dibatalkan begitu saja oleh Kyuhyun. Dan Sungmin hanya bisa bersabar, mengingat betapa dia menyanyangi evil magnae itu.

“Kali ini, dia pasti datang.” kata Sungmin tersenyum menyakinkan.

 

Sungmin pun kembali berusaha menyakinkan Eunhyuk dan Donghae. Ya, Kyuhyun pasti konsisten dengan kata–katanya. Ia sudah berjanji akan datang kali ini. Sungmin hanya cukup menunggu sebentar lagi.

 

Akhirnya Eunhyuk dan Donghae menyerah.

“Araseo. kami pergi duluan hyung” kata Eunhyuk.

“Jangan sampai hyung dehidrasi selama menunggu” kata Donghae memberikan sebotol soda pada Sungmin.

“Gomawo. Hati – hati dijalan” kata Sungmin tersenyum.

“Araseo” kata Eunhyuk dan Donghae.

 

Akhirnya Eunhyuk dan Donghae beranjak pergi, meninggalkan Sungmin yang masih tetap menunggu kedatangan Kyuhyun. Perlahan kereta kedua pun berlalu meninggalkan Sungmin juga.

 

Sungmin duduk tenang ditempatnya. Hingga botol soda pemberian Donghae habis, sosok Kyuhyun masih belum terlihat. Sungmin memegang ponselnya dengan erat, berharap ada getar pesan baru atau nada dering telepon datang, dari Kyuhyun tentunya. Tapi benda mungil itu tetap tidak bergeming. Kyuhyun masih belum menghubunginya.

 

Tinggal satu kereta lagi!

 

Sungmin masih tidak beranjak dari tempatnya. Perasaannya berkata Kyuhyun pasti datang. Ia akan datang, dengan senyumnya Kyuhyun pasti akan berkata “maaf telat, tadi macet”, Pasti! Kyuhyun akan segera menghiburnya yang terlalu lelah menunggu dia.

 

Sungmin percaya, mungkin terlalu percaya bahwa Kyuhyun pasti konsisten dengan ucapannya.

“Kita akan kesana bersama hyung”

 

Tapi saat Sungmin mengangkat kepalanya dan menoleh, sosok Kyuhyun tetap tidak kunjung terlihat. Sungmin mendesah kecewa dan kembali memandang ponselnya. Tidak terasa sudah berjam–jam Sungmin disana, bahkan kereta terakhir sudah akan berangkat. Bisa saja Sungmin menaiki kereta itu dan berangkat sendiri. Tapi ia harus sabar, ia sudah sepakat akan pergi bersama Kyuhyun. Tidak mungkin Sungmin meninggalkannya.

 

“Kyu……kamu dimana?” ucap Sungmin lirih.

 

Sungmin berusaha menghubungi ponsel Kyuhyun. Sudah berkali–kali ia mencoba, tapi tetap tidak ada jawaban. Sungmin semakin kebingungan. Kereta terakhir perlahan mulai berangkat, namun sosok Kyuhyun masih belum muncul.

 

Sudut mata Sungmin mulai memanas, dan tanpa sadar buliran bening meluncur turun tanpa tertahan. Sungmin masih berusaha menguatkan dirinya, mengatakan Kyuhyun pasti akan datang, ia tidak mungkin melupakan janjinya kali ini. Kyuhyun pasti datang untuknya. Kyuhyun tahu, ia takut sendirian, dia pasti datang!

 

Sungmin meremas ponselnya dengan kuat saat akhirnya kereta terakhir berjalan pelan melewatinya. Sungmin mendesah kecewa. Ia panik, bingung, dan tak tahu harus berbuat apalagi, tanpa tahu harus kemana. Semua orang sudah meninggalkannya.

 

Sungmin tersentak saat ponselnya bergetar. Ia tersenyum saat membaca ID caller dan segera menekan tombol hijau diponselnya untuk menjawab panggilan itu.

“Kyu, dimana kau? Aku menunggumu sejak tadi”

“Maaf hyung, aku tidak jadi pergi. Aku mau latihan untuk drama musikalku. Kalau kau mau berangkat sendiri saja”

“A…apa? Tapi Kyu, kau sudah berjanji – “

Klik!

 

Teleponnya terputus. Sungmin hanya terpaku memandang ponselnya. Seketika kebahagian yang tadi ia rasakan menghilang. Tubuhnya limbung, bahkan Sungmin merasa seakan ia tidak berpijak.

 

Jahat!

 

Sungmin tidak peduli bagaimana orang – orang memandangnya dengan aneh dan bingung, memandangnya yang tiba–tiba menangis deras. Rasanya sakit, seperti terkoyak. Sungmin begitu percaya bahwa Kyuhyun akan datang. Tapi lagi–lagi Sungmin harus kecewa. Janji, tinggal janji.

 

“Kenapa? Hiks hiks…” isak Sungmin.

 

Kenapa tidak mengatakan sebelumnya jika akhirnya Kyuhyun lebih memilih berlatih drama musikalnya daripada pergi bersamanya? Kenapa harus berjanji, kalau lagi–lagi janji itu tidak berguna? Sekarang? Semua orang telah pergi, bahkan kereta terakhir pun sudah berlalu sejak tadi.

 

Apa Kyuhyun tidak mengerti, Sungmin menolak semua ajakan dari Ryeowook hingga Eunhyuk hanya demi menunggunya, demi sebuah janji yang Sungmin masih percaya. Dan dengan mudahnya dia membatalkan semuanya sekarang. Ya Tuhan, harus apa ia sekarang?

 

Sungmin masih menangis dengan deras, deras sekali. Ia belum bisa percaya dengan ucapan Kyuhyun yang membatalkan semuanya dengan mudah. Seketika Sungmin merasa bodoh. Bodoh karena masih percaya dengan janji–janji Kyuhyun, bodoh karena terus menunggu hingga kereta terakhir, bodoh karena perasaannya yang terlalu mencintai magnaenya, bodoh karena masih percaya bahwa Kyuhyun akan datang dan menepati janjinya kali ini. Dan ternyata ia tetap sendirian.

 

Tiba – tiba seseorang menepuk bahu Sungmin. Sungmin sudah tidak berharap itu adalah Kyuhyun, dan ternyata memang bukan Kyuhyun.

“Kenapa menangis?” tanya Yesung.

 

Sungmin mengangkat kepalanya dan sedikit terkejut dengan kehadiran Yesung.

“Yesung hyung? bukankah kau sudah pergi dengan Wookie tadi?” tanya Sungmin.

“Aku tidak jadi pergi. aku cemas denganmu, jadi aku tetap disini” jawab Yesung.

“Lalu, bagaimana dengan Wookie?” tanya Sungmin.

“Dia mengerti” jawab Yesung.

 

Yesung duduk disamping Sungmin dan memandang wajah cute yang telah basah karena air mata. “Kyuhyun tidak datang lagi” kata Yesung seakan itu sebuah pernyataan.

 

Sungmin menghapus air matanya dan mencoba tersenyum.

“Tidak, Kyu sedang sibuk berlatih untuk drama musikalnya jadi…” kata Sungmin.

 

Yesung hanya memandang Sungmin tidak percaya. Sungmin terdiam dan menundukkan kepalanya. tidak ada yang bersuara selama beberapa saat. “Dia tidak datang hyung. tiba–tiba saja dia membatalkannya,” Sungmin bersuara

 

Yesung hanya diam dan menyentuh tangan Sungmin dengan lembut.

“Aku tidak percaya! bagaimana mungkin dia bicara semudah itu, sedangkan aku setengah mati menunggunya. Untuk apa aku menunggunya kalau pada akhirnya dia membatalkan semuanya” kata Sungmin mulai terisak.

 

“Ayo pulang. Kita pulang bersama” kata Yesung.

 

Sungmin menggelengkan kepalanya dan menarik tangannya.

“Tidak. aku tidak apa–apa” kata Sungmin.

“Kau yakin tidak butuh aku?” tanya Yesung.

 

Sungmin kembali menggelengkan kepalanya.

“Tidak. aku mau sendiri. Aku mau menunggu Kyu, dia pasti datang. Aku yakin” kata Sungmin masih berusaha mengelak.

“Tapi aku tidak yakin. Ini bukan pertama kalinya Kyuhyun membatalkan janjinya, bukan?” kata Yesung.

 

Sungmin terdiam. Yesung benar, ini bukan pertama kalinya Kyuhyun membatalkan janjinya. Bukan pertama kalinya Sungmin merasa kecewa. Namun kali ini rasanya sangat sakit. Tapi sebagian dari diri Sungmin masih berusaha mengelak semuanya, masih menyakini bahwa Kyuhyun akan datang. Betapa bodohnya.

 

“Sudahlah hyung. hyung pergi saja. Pulanglah duluan atau susul Wookie. Aku akan baik–baik saja. Aku akan pulang nanti” kata Sungmin beranjak berdiri.

 

“Bagaimana aku menyusul Wookie? Kereta terakhir telah pergi” kata Yesung ikut berdiri.

“Terserah! Hyung mau naik bus, kereta, taksi, atau pesawat sekalipun, terserah! Tinggalkan aku sendiri” kata Sungmin setengah berteriak.

 

“Memangnya sejak kapan kau berani sendiri? Sejak kapan kau berani sendiri? Ayolah Sungmin, aku sangat mengenalmu! Kau tidak mungkin bisa kuat sendirian, setidaknya untuk saat ini kau butuh seseorang” kata Yesung.

 

Sungmin terdiam. kepalanya membenarkan semua perkataan Yesung. Yesung benar, biasanya selalu ada Kyuhyun disisinya, atau dongsaeng dan hyungnya. Sungmin tidak pernah sendirian. Dan saat ini Sungmin sangat butuh seseorang yang mau meminjamkan punggungnya.

 

Sungmin terdiam memandang Yesung dan menangis. Ia mau Kyuhyun yang mengucapkan kata–kata itu untuknya! Sungmin mau Kyuhyun yang ada sekarang. Dia pasti minta maaf, dia pasti datang, dia pasti tidak bisa melihatnya sendirian. Sungmin hanya mau Kyuhyun, begitulah Sungmin meronta dalam hati.

 

Tapi sekuat apapun Sungmin meronta, sederas apapun ia menangis, selemah apapun ia sekarang…nyatanya Kyuhyun tetap tidak ada disini, tak mungkin ada disini……dia sudah lupa.

 

Sungmin menggelengkan kepalanya dan menyuruh Yesung untuk pulang. Namun Yesung menolak untuk pergi. Sungmin mendesah dan beranjak pergi. Ia berjalan tak tentu arah. Sungmin berjalan kemana kakinya melangkah, dengan air matanya, dengan perasaan yang kembali hancur.

 

Langkah Sungmin terhenti saat tiba – tiba Yesung menahan tangannya.

“Kau yakin tidak butuh aku saat ini?” tanya Yesung.

 

Sungmin terdiam memandang Yesung dengan sedih.

“Bisakah…bisakah aku meminjam punggungmu?” pinta Sungmin.

 

Yesung menganggukkan kepalanya dan membalik tubuhnya. Sungmin memandang punggung Yesung, kemudian menyenderkan kepalanya. Yesung hanya diam dan membiarkan Sungmin kembali menangis dipunggungnya.  Kereta terakhir telah berlalu, tapi harapan itu masih ada. Sungmin masih berharap Kyuhyun datang menyusulnya. Walaupun Sungmin tahu, harapan itu terasa sangat mustahil saat ini.

 

Fin

16 thoughts on “When the last train passed

  1. Sumpah, Kyuhyun brengsek bgt ne. Bukannya bilang daritadi biar org ga nunggu, Kyuhyun pikir cm waktunya yg penting, apa bagi dia waktu org lain itu ga penting? Ih~ sumfah, ngeselin bgt! Untung ada Yesung.

  2. Nyesekk !
    Knp kyu tega banget nde ??😦😦
    aahhh !
    Author ssi bkin sekuel.a yg inti.a kyu nyesel udah niggalin kyuu . . .

    Keep writing !😀
    HWAITING !!
    \(^_^)9

  3. Omaigat… Untung aku uda liat ada sequelnya. Ini mah bikin menggalau badai bacanya. =___=
    Yup, aku mau langsung bca sequelnya.
    Btw, sedikit banyak aku mulai bisa membaca pola tulisan kamu.
    Hehehe…
    Salam kenal nona author, I’m glad to found you. :-*

  4. Huee~ Kyu jahat bgt masaa!! ㅠㅠ
    Pengen jitakin Kyu rasanya..
    Ming yg setia bgt nungguin Kyuhyun sampai kereta terakhir brnkt..

  5. kyuhyun tega bgd… biarin ming nunggu segitu lamanya tp akhirnya nihil…
    kalau tau gtu kan biar aq jha yg nemenin ming #plaaak
    owh… untung yewook couple perhatian…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s