Dance with me Cinderella / part 13

Pairing      : KyuMin / YeMin / HenWook

Genre       : Romance

Length      : Chaptered

Warning     : Boys Love, shounen-ai

Disclaimer : Story belong to me, KyuMin and all name’s character belong to their self

Summary   : Menarilah bersamaku Cinderella, sebelum tengah malam berdentang…

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

part 13

Sungmin mengintip ke dalam kelas. Kelas ini penuh dengan para mahasiswa yang sibuk bertingkah, mengobrol, bercanda, bermain games, berpacaran, ataupun tidur. Namun diantara keramaian itu sosok yang Sungmin cari tidak ditemukan.

 

“Apa dia tidak masuk hari ini?” pikir Sungmin.

 

Sungmin hampir meloncat kaget saat seseorang menepuk bahunya dari belakang. Ia menoleh, ternyata itu Eunhyuk dan Donghae. “Aigoo, kalian mengejutkanku saja” kata Sungmin menghela nafas lega.

 

“Apa yang sedang kau lakukan di kelas kami?” tanya Eunhyuk.

“Apa? Erm…” kata Sungmin sedikit terkejut.

 

Donghae memandang Sungmin sesaat.

“Mencari Kyuhyun?” tebak Donghae.

 

Sungmin menganggukkan kepalanya.

“Kemarin Kyuhyun tidak datang latihan. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Jadi, aku datang mencarinya” kata Sungmin.

 

“Hari ini dia tidak masuk” kata Donghae.

“Tidak masuk? Kenapa? Apa dia sakit?” tanya Sungmin.

 

Eunhyuk dan Donghae diam sesaat.

“Ada apa?” tanya Sungmin lagi.

“Sebenarnya…Kyuhyun berada dirumah sakit saat ini” jawab Eunhyuk.

 

“Apa? Rumah sakit?” kata Sungmin terkejut.

“Karena semalam Kyuhyun tidak pulang, Ahra noona meminta kami mencari Kyuhyun” kata Eunhyuk.

 

“Ahra noona?” tanya Sungmin.

“Kakak perempuan Kyuhyun” jawab Donghae.

 

“Tapi kami menemukan Kyuhyun pingsan tidak jauh dari kampus. Dia terluka. Sepertinya dia baru saja dipukuli” kata Eunhyuk.

 

“Apa? Apa dia baik–baik saja?” tanya Sungmin cemas.

“…entahlah. Sampai saat ini Kyuhyun masih belum sadar. Beberapa tulangnya patah dan…dia kritis” jawab Donghae dengan sedih.

 

Sungmin terkejut mendengarnya dan segera berlari pergi. Namun kemudian ia berhenti dan kembali mendekati Eunhyuk dan Donghae. Wajahnya terlihat sangat cemas.

“Dimana rumah sakitnya?” tanya Sungmin.

 

“Seoul Hospital” jawab Donghae.

“Terima kasih” kata Sungmin kemudian segera berlari pergi.

 

Eunhyuk memandang Sungmin yang telah menghilang dengan cepat, kemudian memandang Donghae yang berusaha menahan senyumnya. “Apa?” tanya Donghae menyadari pandangan Eunhyuk.

 

Eunhyuk masih memandang Donghae dan mencibir.

“Apanya yang kritis? Kau berlebihan Hae. Kyuhyun hanya mengalami retak tulang dipergelangan tangan kirinya saja, dan dia akan keluar dari rumah sakit malam ini” kata Eunhyuk.

 

Donghae terkekeh dan merangkul bahu Eunhyuk.

“Biar saja. Ini pasti akan menarik” kata Donghae.

“Yeah, kurasa kau benar” kata Eunhyuk setuju.

 

Eunhyuk dan Donghae segera masuk ke dalam kelas saat Heechul datang. Kelas segera berubah tenang saat professor yang dikenal paling ajaib ini melangkah masuk. Dengan santai Heechul duduk diatas mejanya.

 

“Keluarkan kertas. Kita ujian hari ini” kata Heechul dari balik cermin kecil yang selalu ia bawa.

 

“Apa??!” kata para mahasiswanya terkejut.

 

Heechul hanya tersenyum dan mengabaikan protes para mahasiswanya. Ia memberikan soal–soal yang membuat para mahasiswanya memutar otak dengan keras. Eunhyuk mengernyit bingung memandang soal–soal didepannya. Ujian ini terlalu mendadak dan Eunhyuk belum belajar sebelumnya, begitu juga dengan Donghae. Eunhyuk menoleh berusaha mengintip jawaban teman disampingnya.

 

“Jangan mencontek Lee Hyukjae” tegur Heechul masih memandang cermin kesayangannya.

 

“Bagaimana dia bisa tahu? Padahal dari tadi kerjanya hanya bercermin terus” gerutu Eunhyuk menghentikan aksinya.

 

“Aku mendengarmu Hyukjae” kata Heechul menyeringai dibalik cerminnya.

“Cih, dia memang ajaib” pikir Eunhyuk merengut.

 

****

 

Sungmin berjalan dengan cepat menyusuri lorong rumah sakit seraya mencari nomor kamar Kyuhyun. Setelah beberapa lama mencari akhirnya ia menemukan kamar rawat Kyuhyun. Segera ia membuka pintu itu dan melangkah masuk. Namun kamar itu kosong. Selimut tersingkap diatas ranjang seakan seseorang pernah tidur diranjang itu sebelumnya.

 

“Apa aku salah kamar?” pikir Sungmin.

 

Sungmin keluar dan memeriksa nomor kamar yang tertera didepan pintu. Tidak salah, ini memang nomor kamar rawat Kyuhyun. Tapi dimana Kyuhyun? Apa sesuatu telah terjadi dengannya? Sungmin semakin cemas dan beranjak mencari. Ia setengah berlari menyusuri lorong–lorong rumah sakit yang seakan tidak ada ujungnya seraya mengedarkan pandangannya pada setiap pasien dirumah sakit ini.

 

Sungmin berhenti saat akhirnya ia menemukan sosok yang ia cari sejak tadi. Duduk tenang dihalaman rumah sakit yang teduh, memandang langit yang cerah pagi ini. Segera Sungmin beranjak mendekatinya.

 

Library boy” panggil Sungmin.

 

Kyuhyun menoleh dan terkejut dengan kehadiran Sungmin.

“Sungmin hyung? Kenapa kau bisa ada disini?” tanya Kyuhyun seraya berdiri.

 

Sungmin memandang Kyuhyun. Perban membalut kepala dan pergelangan tangan kirinya. Beberapa lebam menghiasi wajah tampannya. Kyuhyun tidak terlihat seperti orang yang sedang kritis dan luka parah. Dia bahkan sedang berdiri tegak memandangnya.

 

“Kau baik–baik saja?” tanya Sungmin.

“Apa? Yeah, aku baik–baik saja” jawab Kyuhyun masih terkejut.

 

“Oh sial. Mereka menipuku” kata Sungmin merengut tersadar Donghae telah membohonginya.

 

“Apa?” tanya Kyuhyun.

“Temanmu itu, Donghae, mengatakan bahwa kau masuk rumah sakit. Kau terluka parah dan kritis. Tapi ternyata kau kini sedang berdiri tegak didepanku” jawab Sungmin mendengus kesal.

 

“Apa?” kata Kyuhyun kemudian tertawa, membuat Sungmin semakin merengut.

 

Sungmin mendesah dengan kesal. Ia memandang perban yang membalut pergelangan tangan kiri Kyuhyun, kemudian menyentuh perban itu dengan lembut. Kyuhyun berhenti tertawa. “Aku baik–baik saja. Hanya pergelangan tangan kiriku yang retak. Malam ini aku bisa keluar dari rumah sakit” kata Kyuhyun.

 

“Syukurlah” kata Sungmin tersenyum.

 

Kyuhyun terkejut saat Sungmin memeluknya. Seketika ia merasa jantungnya kembali berdetak dengan abstrak dan cepat. Bagaimana jika Sungmin mendengarnya? Dengan gugup Kyuhyun melepas pelukan Sungmin, membuat  Sungmin memandangnya tidak mengerti.

 

“Kenapa? Aku tidak boleh memelukmu?” tanya Sungmin.

“Erm…bukan itu. Tapi…tanganku sakit” kata Kyuhyun beralasan seraya pura–pura meringis kesakitan.

 

“Eh? Maaf” kata Sungmin menyentuh tangan Kyuhyun dengan cemas.

“Tidak apa–apa” kata Kyuhyun tersenyum.

 

Sungmin dan Kyuhyun beranjak duduk bersama.

“Apa yang terjadi? Kau dipukuli?” tanya Sungmin.

“Erm……” Kyuhyun bingung menjawabnya.

 

Ini semua ulah Yesung dan Kangin cs. Beruntung saat itu Kyuhyun berhasil kabur dengan susah payah. Hanya pergelangan tangan kirinya saja yang retak, setidaknya Kyuhyun tidak kehilangan tangan dan kakinya. Jika tidak, mungkin ia tidak akan bisa menari lagi.

 

Sungmin masih memandang Kyuhyun dengan cemas, dan Kyuhyun semakin bingung menjawabnya. Kyuhyun memperhatikan pemuda cute yang kini sedang memandangnya dengan cemas. Sosok indah yang selalu ia sukai.

 

“Bukan masalah besar. Ini hal biasa” kata Kyuhyun tersenyum, berusaha menyakinkan.

 

“Keureyo? Tapi seharusnya kau tidak membiarkan mereka memukulimu begitu saja. Memangnya kau salah apa sampai mereka seenaknya menghajarmu seperti ini?” kata Sungmin merengut tidak terima.

 

“Sudahlah hyung. Yang penting aku baik–baik saja kan? Aku masih hidup” kata Kyuhyun berusaha menenangkan Sungmin.

 

“Yeah, baiklah” kata Sungmin akhirnya tenang kembali.

 

Hening sejenak. Sungmin memandang langit yang sedang memamerkan kecerahannya pagi ini.

“Maafkan aku hyung, tidak bisa datang latihan kemarin” kata Kyuhyun.

“Tidak apa. Tapi kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?” tanya Sungmin.

“Ponselku hilang” jawab Kyuhyun.

 

Sungmin menoleh memandang pergelangan tangan Kyuhyun. Contest semakin dekat, tapi kini Kyuhyun terluka. Dengan tangan seperti itu, bagaimana Kyuhyun akan menari nanti?

 

Kyuhyun menyadari pandangan Sungmin dan segera mengerti.

“Ini hanya luka kecil, akan segera sembuh. Aku masih bisa menari” kata Kyuhyun.

“Jangan paksakan dirimu Kyu” kata Sungmin.

 

“Tapi hyung contestnya…” kata Kyuhyun.

“Aku akan memikirkan jalan keluarnya. Saat ini kau beristirahat saja dan cepatlah sembuh” kata Sungmin.

 

“Tapi…” kata Kyuhyun ragu.

“Percaya padaku” kata Sungmin tersenyum menyakinkan.

 

Kyuhyun diam sesaat memandang Sungmin.

“Araseo…” kata Kyuhyun akhirnya.

 

Sungmin tersenyum dan membuka tasnya. Ia mengambil spidol dan menuliskan sesuatu diatas perban yang membalut pergelangan tangan Kyuhyun. ‘hwaiting’  tulis Sungmin. “Cepatlah sembuh library boy, lalu kita menari bersama kembali” kata Sungmin tersenyum.

 

Kyuhyun hanya mengerjap memandang Sungmin. Bagaimana mungkin ia bisa menyerah pada sosok indah ini, sosok yang sangat hangat. Tidak mungkin ia menyerah begitu saja pada Yesung, bukan? Tidak sekarang.

 

****

 

Henry duduk dipinggir jendela kamarnya, asyik mencoret–coret buku sketsa miliknya dengan tenang. Membiarkan Ryeowook terus berceloteh diatas ranjangnya. Ryeowook membolak–balik majalah milik Henry yang sedang dibacanya seraya terus berceloteh tentang Kyuhyun, tentang ide–idenya untuk merebut pemuda itu dari Sungmin.

 

Henry terus menggoreskan pensilnya membentuk sebuah sosok yang hampir sempurna. Sementara Ryeowook masih saja berceloteh. Kyuhyun, Kyuhyun, Kyuhyun. Hanya nama itu yang terus terdengar ditelinga Henry. Untuk sesaat tangan Henry berhenti, ia menggenggam dengan erat pensil ditangannya.

 

“Hentikan” kata Henry menghentikan celotehan Ryeowook.

“Apa?” tanya Ryeowook.

 

“Kebiasaan burukmu itu” jawab Henry kembali menggoreskan pensilnya diatas buku sketsanya.

 

“Apa?” kata Ryeowook mengangkat kepalanya dan mengernyit memandang Henry.

 

“Merebut milik orang lain, terutama milik Sungmin hyung. Itu benar–benar kebiasaan buruk” kata Henry.

 

“Memang kenapa? Ini menyenangkan” kata Ryeowook kembali membalik–balik majalah dengan santai.

 

Henry kembali menggenggam pensilnya dengan erat sesaat.

“Kau tidak akan bisa mendapatkan orang itu” kata Henry.

 

Ryeowook mengangkat kepalanya memandang Henry.

“Apa maksudmu? Kau meragukanku?” tanya Ryeowook mendengus.

 

Henry mengangkat wajahnya dari buku sketsa dan memandang Ryeowook. Wajahnya terlihat sedikit kesal. Henry menutup bukunya dan meletakkannya begitu saja. “Sebaiknya kau berhati–hati. Jika tidak, kau bisa terjebak dalam permainanmu sendiri” kata Henry seraya beranjak keluar kamar.

 

Ryeowook memandang sosok Henry yang menghilang dibalik pintu dengan bingung.

“Ada apa dengannya? Kelihatannya dia sedang kesal” kata Ryeowook.

 

Ryeowook kembali membaca majalah. Namun buku sketsa milik Henry menarik perhatiannya. Ryeowook berpikir sesaat dan beranjak turun dari ranjang. Ia berjalan ke pinggir jendela dan mengambil buku sketsa milik Henry.

 

‘Tidak apa–apa ‘kan jika aku melihat sedikit’ pikir Ryeowook seraya tersenyum jahil.

 

Henry sangat suka menggambar dan Ryeowook berpikir, mungkin Henry menggambar sesuatu yang menarik dan bagus. Namun ia terbelalak saat membuka buku itu. Seluruh objek gambar dalam buku ini adalah dirinya. Sosoknya memenuhi buku itu. Ryeowook membalik–balik buku sketsa milik Henry dengan takjub. Seluruh gambar itu sempurna.

 

Henry kembali ke kamarnya dan terkejut melihat buku sketsa miliknya ada ditangan Ryeowook. Segera ia merebutnya dan mendekapnya di dada. Ryeowook memandang Henry meminta penjelasan.

 

“Ini…aku tidak bermaksud tidak sopan, tapi aku…,” kata Henry bingung. “Maaf.” kata Henry kemudian menyimpan bukunya didalam laci mejanya.

 

Ryeowook diam sesaat memandang Henry.

“Apa kau…menyukaiku?” tebak Ryeowook.

 

Henry menoleh memandang Ryeowook namun tidak mengatakan apapun. Ryeowook diam memperhatikan Henry, kepalanya menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi selama ini. Apa selama ini ia sudah melewatkan sesuatu? Melewatkan perasaan Henry yang tersembunyi begitu rapat?

 

Henry masih diam memandang Ryeowook. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Henry mendekati Ryeowook  dan menariknya. Ia menghempaskan tubuh Ryeowook ke atas ranjang. Henry menunduk diatas tubuh Ryeowook, memandangnya seakan ia sedang bersiap untuk meledak. Berbagai ekspresi tersirat dalam wajah cute itu. Sedih? Marah? Kecewa? Entah apa lagi.

 

Ryeowook hanya mengerjap memperhatikan Henry. Entah ide gila apa yang sedang menetap dalam kepalanya. Ia menelusuri wajah cute itu dengan jemarinya dan menyunggingkan seulas senyum seakan sebuah undangan untuk menikmati bibir plump yang menggoda itu.

 

“Kau ingin aku berhenti? Maka buat aku berhenti” kata Ryeowook.

 

Henry tidak menjawab. Jemari Ryeowook berhenti dibibir Henry, dan kembali senyum itu muncul di bibirnya. Senyum yang benar–benar menggoda, membuat Henry berpikir pesona Ryeowook tidak kalah memikat dari sang Cinderella.

 

“Kau pikir, apa yang bisa terjadi dalam posisi seperti ini?” tanya Henry.

“Menurutmu?” Ryeowook balik bertanya seraya tersenyum menggoda.

 

Henry diam sesaat memandang Ryeowook.

“Sejak kapan kau jadi penggoda seperti ini hyung?” tanya Henry.

“Apa?” kata Ryeowook.

 

Henry mengecup kening Ryeowook dan tersenyum.

“Bukan Kim Ryeowook seperti ini yang aku sukai selama ini,” kata Henry kemudian menegakkan tubuhnya.

 

Ryeowook beranjak bangun dan mengerjap tidak mengerti memandang Henry. Henry beranjak mengambil buku sketsa miliknya dari dalam laci mejanya. “Tapi Kim Ryeowook seperti ini yang aku sukai.” kata Henry memberikan bukunya pada Ryeowook.

 

Henry tersenyum dan beranjak keluar kamar. Ryeowook memandang buku ditangannya, memandang setiap gambar dalam buku sketsa milik Henry. Semua sosok dalam gambar–gambar ini tersenyum penuh kepolosan dan tampak menyenangkan, seakan belum tersentuh oleh ide–ide yang membuatnya addict. Sosok yang sudah lama Ryeowook lupakan. Ryeowook terdiam.

 

****

 

Hari ini dance contest dimulai. Berkali–kali Kyuhyun meminta Sungmin untuk mengijinkannya kembali menari. Namun Sungmin selalu menolaknya.

“Kau belum sembuh benar Kyu” tolak Sungmin.

 

“Tapi hyung, kau tidak mungkin menari sendiri. Aku sudah tidak apa–apa” kata Kyuhyun bersikeras.

 

Sungmin memandang perban yang masih membalut pergelangan tangan kiri Kyuhyun.

“Tidak Kyu. Aku tidak ingin kau masuk rumah sakit lagi” kata Sungmin kembali menolak.

 

“Tapi hyung aku masih bisa menari dengan baik. kita sudah mempersiapkan semuanya untuk hari ini, jangan sampai kita didiskualifikasi hanya karena aku” kata Kyuhyun masih bersikeras.

 

“Kita tidak akan didiskualifikasi. Percaya padaku. Aku Sudah membuat rencana untuk hari ini” kata Sungmin.

 

Kyuhyun memandang Sungmin dengan ragu.

“Tapi hyung…” kata Kyuhyun ragu.

 

“Ini masih semi – final. Kau bisa menari kembali di grandfinal nanti. Trust me please!” kata Sungmin memandang Kyuhyun dengan puppy eyes miliknya.

 

Kyuhyun terdiam memandang Sungmin. Pandangan itu hampir membuatnya memeluk dengan erat sosok indah ini. Kyuhyun mendesah perlahan.

“Araseo…” kata Kyuhyun akhirnya.

 

Sungmin tersenyum senang.

“Kita pasti menang. Promise” kata Sungmin seraya menepuk pelan wajah Kyuhyun.

“Araseo. Aku akan menontonmu dari kursi penonton” kata Kyuhyun tersenyum.

 

Sungmin beranjak pergi untuk bersiap–siap. Kyuhyun memandang Sungmin yang menjauh pergi kemudian mendesah pelan. Ia memandang tangannya yang masih terbalut perban, masih sedikit sakit. jika saja ia tidak cidera, Kyuhyun pasti bisa menari bersama Sungmin diatas panggung.

 

“Bagaimana Sungmin hyung bisa ikut contest tanpa patner? Memang apa rencana dia sebenarnya?” pikir Kyuhyun penasaran.

 

Kyuhyun membalik tubuhnya dan bersiap melangkahkan kakinya. Namun ia terdiam memandang Yesung yang sedang berjalan ke arahnya. Yesung berhenti sesaat dan memandang Kyuhyun. Ia hanya tersenyum, seulas senyum kemenangan, dan kemudian berjalan melewati Kyuhyun begitu saja. Kyuhyun menoleh memandang Yesung yang terus melangkah pergi, kemudian ia pun beranjak pergi.

 

****

 

Sungmin duduk dengan gelisah menunggu gilirannya. Sampai saat ini ia masih belum memiliki rencana. Bagaimana ia bisa tetap mengikuti dance contest ini tanpa patner? Sungmin terus berpikir, apa yang akan ia lakukan? Tapi tidak ada satupun ide yang melintas didalam kepalanya.

 

Seorang panitia mendekati Sungmin. Sungmin segera berdiri, ia benar–benar gelisah saat ini. Panitia itu membaca data yang ia miliki sesaat, kemudian memandang Sungmin yang sendirian.

“Dimana patnermu?” tanya panitia itu.

 

“Erm…patnerku, dia sedang cedera jadi tidak bisa hadir,” jawab Sungmin. “Bisakah aku menari sendirian saja?” tanya Sungmin.

 

“Maaf, kau butuh patner untuk mengikuti contest ini” jawab panitia menggelengkan kepalanya.

 

“Tapi patnerku sedang cedera, dia tidak bisa menari saat ini. Ijinkan aku tampil sendirian” mohon Sungmin.

 

Panitia itu mengernyit sesaat memandang Sungmin kemudian menggelengkan kepalanya.

“Maaf, itu melanggar peraturan. Jika kau tidak memiliki patner, kau akan didiskualifikasi” tolak panitia.

 

“Tapi aku mohon…” kata Sungmin memohon.

 

Namun panitia itu tetap saja menggelengkan kepalanya. Sungmin mendesah dengan bingung. Dimana ia dapat menemukan patner untuknya sekarang? Rasanya itu tidak mungkin.

“Jadi, dimana patnermu?” tanya panitia.

 

“Aku…” kata Sungmin bingung.

“Aku akan jadi patnernya” kata Yesung yang datang.

 

Sungmin menoleh dan terkejut memandang Yesung.

“Yesung hyung…” kata Sungmin.

 

Yesung mendekati Sungmin dan tersenyum.

“Kau akan jadi patnernya?” tanya panitia memandang Yesung.

 

“Yeah, aku akan jadi patnernya. Itu berarti dia tidak perlu didiskualifikasi, bukan?” jawab Yesung.

 

“Baiklah. Kalau begitu kalian segera bersiap, sebentar lagi giliran kalian” kata panitia kemudian beranjak pergi.

 

Sungmin masih memandang Yesung tidak percaya.

“Kudengar patnermu tidak bisa hadir. Jadi kupikir, mungkin aku bisa membantumu” kata Yesung.

 

“Benarkah? Hyung mau?” tanya Sungmin.

“Tentu saja” jawab Yesung.

 

“Tapi koreografinya…?” tanya Sungmin.

“Tidak masalah. Aku sering melihatmu berlatih. Aku sudah menghafalnya” jawab Yesung seraya menunjuk kepalanya.

 

Sungmin memeluk Yesung dan tersenyum senang.

“Terima kasih hyung. Kupikir aku akan didiskualifikasi dari contest ini” kata Sungmin.

“Bukan masalah besar Sungmin” kata Yesung tersenyum.

 

Sungmin melepaskan pelukannya.

“Memang apa yang terjadi dengan bocah nerd itu?” tanya Yesung seraya mengusap kepala Sungmin dengan lembut.

 

“Dia dipukuli hingga cedera. Pergelangan tangan kirinya retak. Tapi syukurlah dia tidak cedera serius” jawab Sungmin.

 

“Kedengarannya buruk sekali” kata Yesung menyembunyikan senyumnya.

 

Sementara itu dari kursi penonton Kyuhyun duduk dengan tidak tenang, hingga membuat Eunhyuk yang duduk disampingnya gemas melihatnya, sementara Donghae masih asyik melihat penampilan peserta lain yang sedang menampilkan aksi mereka diatas panggung.

 

“Tenanglah sedikit Kyu. Aku sedang berusaha menikmati acara ini” kata Eunhyuk gemas.

 

Kyuhyun masih duduk dengan gelisah. Ia ingin berdiri dan beranjak ke belakang panggung, namun tangan Eunhyuk menahannya dan memaksanya untuk tetap duduk. Kyuhyun merengut memandang tangannya yang terluka.

 

“Jika saja aku tidak cedera, aku pasti bisa menari sekarang” kata Kyuhyun.

“Jika saja kau bisa tenang, akan sangat membantu” kata Eunhyuk gemas, membuat Kyuhyun semakin merengut.

 

“Tenanglah Kyu, bukankah Sungmin bilang dia sudah punya rencana?” kata Donghae.

“Yeah, tapi aku tetap tidak tenang,” kata Kyuhyun. “Apa mungkin Sungmin hyung bisa tampil tanpa patner?” tanya Kyuhyun.

 

“Rasanya tidak. Dia harus punya patner atau dia akan didiskualifikasi. Begitu peraturannya” jawab Eunhyuk.

 

Kyuhyun mendesah dengan gelisah. Ia memandang tangannya dengan kesal dan memaki dalam hati Yesung dan Kangin yang telah membuatnya seperti ini. Mereka sengaja melakukan ini padanya, Kyuhyun yakin itu.

 

Hall semakin ramai saat akhirnya peserta yang paling mereka tunggu tampil diatas panggung. Sang Cinderella dengan patnernya. Musik mulai terdengar menghentak dan mereka mulai menari dengan sempurna.

 

Terdengar bisik–bisik yang mempertanyakan patner Sungmin yang berbeda dengan sebelumnya. Eunhyuk, Donghae dan Kyuhyun mengerjap tidak percaya memandang panggung. Akhirnya Sungmin bisa tetap tampil, tapi yang menjadi patnernya kini…

 

“Hey, bukankah itu…?” kata Donghae.

“Yesung? Bagaimana dia bisa menjadi patner Sungmin?” tanya Eunhyuk.

“Tapi mereka menari dengan sempurna” kata Donghae takjub.

 

Tepuk tangan dan sorak sorai riuh memenuhi Hall. Sementara Kyuhyun masih tidak bersuara dikursinya. Ia terlalu terkejut. Sungmin bilang ia sudah punya rencana agar bisa tetap tampil, dan inikah rencana itu? Menjadikan Yesung patner menggantikan dirinya? Yesung?!

 

Entah kenapa, rasanya menyakitkan. Sungmin dan Yesung mengakhiri penampilan mereka dengan sempurna. Seluruh orang di ruangan ini bertepuk tangan riuh. Kyuhyun masih terdiam. sampai akhirnya diumumkan peserta yang berhasil lolos ke babak berikutnya. Nama Sungmin dan patnernya disebut pertama kali oleh MC. Sungmin sangat senang dan segera memeluk Yesung. Kyuhyun masih terdiam saat pandangannya bertemu dengan Yesung, dan ia membenci seulas senyum yang menghiasi bibir Yesung. Senyum kemenangan. Eunhyuk dan Donghae hanya diam melirik Kyuhyun yang beranjak dari kursinya. Sosok Kyuhyun menghilang diantara keramaian.

 

t.b.c

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s