Dance with me Cinderella /part 15

Pairing      : KyuMin / YeMin / HenWook

Genre       : Romance

Length      : Chaptered

Warning    : Boys Love, shounen-ai

Disclaimer : Story belong to me, KyuMin and all name’s character belong to their self

Summary   : Menarilah bersamaku Cinderella, sebelum tengah malam berdentang…

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

part 15

Ryeowook mengulurkan tangannya berusaha setinggi mungkin meraih buku yang terletak di rak paling atas. Namun buku itu tetap tidak tersentuh. Ryeowook mendengus kesal dan kembali berusaha meraih buku tersebut, kakinya berusaha berjinjit setinggi mungkin. Saat ia hampir menyentuh buku tersebut, sebuah tangan yang panjang sudah lebih dulu mengambilnya.

 

“Hey! Itu bukuku!” kata Ryeowook kesal.

 

Namun ia terkejut saat menoleh. Pemilik tangan yang panjang itu adalah Kyuhyun. Bertemu dengan Kyuhyun setelah aksinya yang gagal, bukan harapan Ryeowook pagi ini. Kyuhyun telah memberikan pukulan keras padanya, dan Ryeowook tidak tahu harus bagaimana menghadapi Kyuhyun setelah malam itu.

 

Saat memandang Kyuhyun, terutama matanya yang selalu menarik Ryeowook, untuk sesaat ide gila kembali merayunya untuk mencoba bermain kembali dengan sang pangeran. Tapi segera Ryeowook menendang jauh–jauh ide gila itu saat teringat dengan Henry. Sudah saatnya ia berhenti sekarang.

 

“Bukumu” kata Kyuhyun menyodorkan buku yang telah ia ambil pada Ryeowook.

“Erm…terima kasih.” kata Ryeowook berusaha tidak melihat Kyuhyun dan segera beranjak pergi.

 

“Tunggu” kata Kyuhyun menahan langkah Ryeowook.

 

Ryeowook menghentikan langkahnya dan berbalik memandang Kyuhyun.

“Jika ini tentang kejadian tadi malam, aku…minta maaf. Aku sedang gila dan…..” kata Ryeowook seraya mendekap bukunya didada dengan erat.

 

“Tidak. Itu bukan masalah” potong Kyuhyun.

“Apa?” kata Ryeowook terkejut memandang Kyuhyun.

 

“Itu bukan masalah. Aku juga tidak akan mengatakan apapun pada Sungmin hyung” kata Kyuhyun tersenyum.

 

“Itu…bagus. Terima kasih” kata Ryeowook tersenyum. Entah kenapa ia merasa lega.

“Sebenarnya… tentang perkataanmu saat itu…” kata Kyuhyun.

 

“Perkataanku? Yang mana?,” kata Ryeowook mengernyit seraya berpikir. “Oh, maksudmu tentang Sungmin hyung menyukai kau dan Yesung hyung itu?” kata Ryeowook teringat.

 

Kyuhyun hanya menganggukkan kepalanya.

“Kau pikir aku berbohong?” tanya Ryeowook.

“Ah tidak. Aku hanya ingin tahu saja” jawab Kyuhyun terdengar polos.

 

Ryeowook terkekeh kecil.

Lucky you. Cinderella hyung juga menyukaimu. Tapi hingga hari ini dia juga masih belum memberikan jawabannya pada Yesung hyung. Aku tidak tahu siapa yang akan dia pilih” kata Ryeowook.

 

“Jawaban?” tanya Kyuhyun.

“Jawaban dari penyataan cinta Yesung hyung” jawab Ryeowook.

 

Ryeowook memandang Kyuhyun yang terdiam.

“Apa kau sangat menyukai Sungmin hyung?” tanya Ryeowook.

“Apa? Yeah” jawab Kyuhyun terdengar sangat yakin.

 

“Meski dia bukan Cinderella?” tanya Ryeowook.

“Tidak masalah. Bagiku, dia tetap seindah Cinderella. Bukankah sudah kukatakan? Aku menerima dia seutuhnya” jawab Kyuhyun tersenyum.

Ryeowook terdiam memandang Kyuhyun. Henry benar, segila apapun aksinya, Ryeowook tetap tidak akan bisa mengatasi Kyuhyun. Dimatanya hanya ada Sungmin, dan itu membuat Ryeowook iri.

 

“Apa kau sudah mendapatkan bukumu?” tanya Henry yang datang menyusul Ryeowook.

 

Ryeowook menoleh memandang Henry. Oh benar, kini ia mempunyai Henry. Didalam mata kecil itu hanya ada dirinya. Ryeowook sudah tidak memerlukan semua ide gila itu lagi.

“Yeah, aku sudah mendapatkannya” jawab Ryeowook tersenyum.

 

“Ayo pergi, aku lapar” kata Henry.

“Araseo” kata Ryeowook.

 

Ryeowook menoleh memandang Kyuhyun yang masih berdiri didepannya. Henry memandang Kyuhyun dan menganggukkan kepalanya dengan sopan, yang dibalas anggukkan dengan sopan oleh Kyuhyun.

 

Good luck” kata Ryeowook seraya mengedipkan satu matanya. Kyuhyun hanya tersenyum.

 

Kyuhyun memandang Ryeowook dan Henry yang berjalan pergi dengan tangan yang saling bertaut dengan hangat. Kemudian ia tersenyum. Kyuhyun beranjak menelusuri rak–rak buku yang berderet rapi diperpustakaan ini. Matanya mencari buku yang dicarinya dan tersenyum saat akhirnya ia menemukan buku itu.

 

Kyuhyun mengambil buku tersebut dan hampir meloncat kaget saat menemukan wajah Sungmin dibalik deretan buku yang diambilnya.

“Omo!” kata Kyuhyun.

 

Sungmin hanya terkekeh pelan dan beranjak mendekati Kyuhyun.

“Apa yang hyung lakukan disini?” tanya Kyuhyun.

“Mencarimu. Eunhyuk bilang kau ada diperpustakaan” jawab Sungmin.

 

“Mencariku? Mworago?” tanya Kyuhyun.

“Bagaimana dengan tanganmu?” tanya Sungmin memandang perban yang masih membalut tangan kiri Kyuhyun.

 

“Sudah mulai pulih. Minggu depan dokter bilang perbannya sudah boleh dilepas” jawab Kyuhyun.

 

“Syukurlah kalau begitu.” kata Sungmin senang.

 

Kyuhyun terdiam memandang Sungmin. Sosok ini terasa sangat hangat, sangat dekat. Sosok yang sangat Kyuhyun inginkan. Sosok ini seakan berpendar seindah Cinderella. Sosok yang sangat Kyuhyun sukai.

 

“Cinderella hyung juga menyukaimu”

“Benarkah itu?” pikir Kyuhyun.

 

Kyuhyun masih terdiam memandang Sungmin. Kepalanya kembali mengulang perkataan Ryeowook tadi. Jika saja…jika saja ia menyatakan perasaannya sekarang, kira–kira apa reaksi Sungmin nanti? Tapi apa ia mempunyai keberanian untuk itu? Sedangkan hingga detik ini Kyuhyun masih tidak bisa berdamai dengan degup jantungnya yang seenaknya berdetak dengan abstrak. Benar–benar seenaknya.

 

Library boy kenapa melamun?” tanya Sungmin seraya menunjuk pipi Kyuhyun dengan jarinya.

 

“Apa? Oh, tidak” kata Kyuhyun tersadar dan menggelengkan kepalanya.

 

Sungmin terkekeh kecil. Kyuhyun tersentak memandang Sungmin, for God sake, rasanya tawa itu seperti dentang lonceng ditelinga Kyuhyun. Berdentang keras menyelimuti logika yang hampir terlupakan.

 

Drrt…drrt…drrt…

 

Sungmin merogoh sakunya mengambil ponselnya yang terus bergetar. Namun tiba–tiba tangan Kyuhyun menahannya. Sungmin terkejut dan memandang Kyuhyun. Entah keberanian, atau kegilaan darimana Kyuhyun menarik tubuh Sungmin. Dan sebelum rasa terkejutnya menghilang, Sungmin dapat merasakan sesuatu menyentuh bibirnya dengan hangat. Kyuhyun menciumnya.

 

Saat akhirnya Sungmin merasa kesadaran datang mengetuk kepalanya, segera ia mendorong tubuh Kyuhyun menjauh. Sungmin menyetuh bibirnya dan terkejut memandang Kyuhyun. Sementara kyuhyun, dia lebih terkejut dengan aksinya sendiri. Bahkan buku yang dipegangnya sejak tadi terjatuh ke lantai.

 

“Ini… hyung… aku…” Kyuhyun mencoba bicara.

 

Kyuhyun terdiam memandang Sungmin yang berlari pergi, mengabaikan ponselnya yang masih terus bergetar disakunya. Kyuhyun memungut bukunya dan meletakkan ke tempatnya semula seraya mendesah kecewa.

 

****

 

Pagi yang lain kembali datang. Sudah berkali–kali pintu kamar Sungmin digedor oleh ibunya dengan keras, berteriak memerintahkan anaknya untuk segera berangkat kuliah. Tapi Sungmin masih tidak beranjak dari ranjangnya. Ia terduduk diranjangnya seraya memeluk boneka bunny kesayangannya. Sesekali ia mendesah dan terlihat gelisah.

 

“Lee Sungmin! Kau pikir sekarang sudah jam berapa? Cepat bangun atau kau akan terlambat!” teriak ibunya dari balik pintu.

 

“Ergh…berisik!” geram Sungmin kesal kemudian menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya.

 

Akhirnya suara gedoran itu berhenti, mungkin ibunya sudah mulai bosan dan lelah. Sungmin membuka selimutnya dan kembali mendesah, entah yang ke berapa kalinya. Kepalanya tidak berhenti memutar peristiwa kemarin, ketika Kyuhyun menciumnya. Dan itu hampir membuatnya gila semalaman, karena irama abstrak itu kembali terdengar seirama dengan ingatan itu. Degup jantung yang berdetak dua kali lebih cepat.

 

“Ugh…ada apa ini? Ya Tuhan… kenapa jadi begini…? Library boy…!?” pikir Sungmin mendekap boneka bunny miliknya semakin erat.

 

Sungmin merebahkan tubuhnya dan memandang langit–langit kamarnya.

“Kenapa tiba–tiba dia menciumku? Apa itu artinya…dia juga menyukaiku?” pikir Sungmin.

 

Sungmin mendesah dengan bingung dan mulai berguling ke kanan dan kiri seperti kebiasaannya. Ciuman itu, Sungmin tidak membencinya. Justru mungkin ia menyukainya. Sungmin hanya sangat terkejut dan bingung. Ia masih belum tahu, bagaimana harus menghadapi Kyuhyun nanti.

 

“Tuan bunny, apa yang harus kulakukan~~?” desah Sungmin memandang boneka bunny kesayangannya.

 

Drrt…drrt…drrt…

 

Dengan malas Sungmin mengulurkan tangannya mencari ponselnya yang bergetar dibawah ranjangnya. Entah bagaimana benda mungil itu bisa ada dibawah ranjang. Sungmin mengambil ponselnya yang terus bergetar dan memandang ID caller sesaat. Segera ia menjawab telepon itu dan suara Ryeowook terdengar diujung telepon.

 

“Dimana hyung?” tanya Ryeowook.

“Dirumah” jawab Sungmin malas.

“Apa? Dirumah? Hyung tidak masuk hari ini?” Ryeowook sedikit terkejut, karena biasanya Sungmin adalah mahasiswa yang paling rajin yang ia tahu.

 

“Entahlah. Rasanya aku sedang malas hari ini” kata Sungmin dengan nada malas.

“Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” Ryeowook sedikit curiga.

 

Sungmin terkejut dan segera mengelak.

“A…apa? Oh, tidak. Tidak ada apa – apa. Hanya…sedang malas saja”

“Benarkah?”

“Ne…”

“……tapi hari ini bukankah ada ujian?””

 

“Ujian? Ujian apa?” Sungmin mengernyit, rasanya tidak ada ujian hari ini.

“Hari ini ada ujian professor Kim. Lupa?”

“Oh Tuhan! Aku lupa” Sungmin tersentak bangun dan teringat.

 

Sungmin memandang jam digital diatas meja. 1 jam lagi, ia harus segera cepat–cepat jika tidak ingin terlambat. Jika tidak mendengar kata ujian mungkin Sungmin masih akan terus berguling diatas ranjangnya.

 

Sungmin melempar ponselnya begitu saja di ranjangnya dan segera berlari keluar kamarnya. Mandi, bersiap dan mencari ponselnya kembali ia lakukan dengan kilat, hingga ibunya heran. Namun Sungmin tidak ada waktu meladeni rasa heran ibunya.

 

“Hey sarapanmu……” teriak ibunya, namun Sungmin sudah melesat pergi.

“Astaga, anak itu semangat sekali. padahal tadi sulit sekali untuk keluar kamar.” kata ibunya geleng kepala.

 

****

 

Sungmin merenggangkan tubuhnya dengan lelah saat akhirnya ujian selesai. Ia meletakkan kepalanya diatas meja dan mendesah. Entah bagaimana hasil ujiannya nanti, Sungmin tidak terlalu peduli saat ini. Kepalanya kembali penuh dengan Kyuhyun. Sungmin mengangkat kepalanya saat Ryeowook menyenggolnya.

 

“Hey, mworago? Tidak biasanya hyung datang terlambat” tanya Ryeowook.

“Entahlah” jawab Sungmin tidak semangat dan kembali meletakkan kepalanya diatas meja.

 

Ryeowook ikut meletakkan kepalanya didepan Sungmin dan memandangnya seakan sedang menyelidiki sesuatu. Sungmin nampak sedang memikirkan sesuatu, entah sudah berapa kali ia mendesah.

 

“Apa terjadi sesuatu antara kau dan Kyuhyun?” tanya Ryeowook menebak.

“Apa?! Tidak, kenapa Kyuhyun?” kata Sungmin terkejut dan seketika menegakkan kepalanya.

 

Ryeowook menegakkan kepalanya dan tersenyum jahil pada Sungmin.

“Tidak. Tidak, tidak ada apapun” Sungmin berusaha mengelak.

 

“Benarkah? Tapi kenapa hyung terlihat gelisah seperti itu, dan wajahmu…memerah. Dia tidak menciummu ‘kan?” kata Ryeowook tidak percaya seraya masih tersenyum jahil.

 

Sungmin hanya terdiam dan mengggigit bawah bibirnya.

“Jadi……itu benar? Kyuhyun… kalian… berciuman…?” tanya Ryeowook terkejut.

 

Sungmin menganggukkan kepalanya.

“Bagaimana ini Wookie?!” kata Sungmin seraya meletakkan wajahnya diatas meja.

 

“Bagaimana apanya? Itu bagus dong, itu artinya dia juga menyukaimu. Seperti kukatakan, bukan?” kata Ryeowook santai.

 

“Tapi….itu hanya terlalu mengejutkanku. Aku tidak tahu harus bagaimana jika nanti bertemu dengan Kyuhyun” kata Sungmin mendesah pelan.

 

“Erm…bukan maksudku untuk merusak suasana, tapi….bukankah ini hari terakhir kau harus memberi jawaban pada Yesung hyung?” kata Ryeowook.

 

Sungmin tersentak dan mengangkat kepalanya.

“Oh, benar” kata Sungmin teringat.

“Lalu, apa hyung sudah menyiapkan jawabannya?” tanya Ryeowook.

 

Sungmin menggelengkan kepalanya pelan.

“Aku tidak bisa berpikir saat ini. Bagaimana ini?” jawab Sungmin bingung.

“Cobalah pikir dengan tenang, biarkan hatimu yang memilih” kata Ryeowook tersenyum memberi semangat.

 

“Gomawo Wookie” kata Sungmin tersenyum.

“Cheonmaneyo” kata Ryeowook.

 

Ryeowook tersenyum saat Henry datang.

“Mochi” kata Ryeowook senang.

“Aku lapar” kata Henry.

 

“Ayo kita pergi makan” kata Ryeowook kemudian meraih tasnya.

 

Sungmin mengernyit memandang tangan Ryeowook dan Henry yang saling bertaut dengan hangat. “Sejak kapan kalian berkencan?” tanya Sungmin.

 

Henry dan Ryeowook hanya tersenyum malu.

“Hey, beraninya kalian menyembunyikannya dariku” kata Sungmin pura–pura marah.

“Kami tidak menyembunyikan apapun darimu hyung. Kami baru mulai berkencan hari ini” kata Henry.

 

“Chukae” kata Sungmin tersenyum senang dan beranjak memeluk dua sahabatnya itu.

“Sudahlah, hyung kami pergi duluan yah” kata Ryeowook.

“Araseo. Have fun” kata Sungmin tersenyum.

 

Henry dan Ryeowook beranjak pergi. Namun Ryeowook menghentikan kakinya dan kembali untuk memeluk Sungmin. Sungmin sedikit terkejut dengan aksi tiba–tiba Ryeowook.

“Ada apa Wookie?” tanya Sungmin.

 

“Maafkan aku hyung” bisik Ryeowook ditelinga Sungmin, kemudian melepaskan pelukannya.

“Maaf untuk apa?” kata Sungmin mengernyit tidak mengerti.

 

Ryeowook hanya tersenyum dan kembali mendekati Henry. Henry tersenyum memandang Ryeowook dan menggamit tangannya, kemudian mereka beranjak pergi. Sungmin memiringkan kepalanya dengan bingung.

 

‘Untuk apa Wookie minta maaf? Tumben sekali’ pikir Sungmin.

 

****

 

Sungmin melangkahkan kakinya menyusuri lorong kampus yang ramai dengan para mahasiswa yang sibuk berlalu lalang. Sungmin berhenti saat melihat Kyuhyun yang sedang bersender di lemari loker seraya memandang ponselnya. Kyuhyun menoleh dan menegakkan tubuhnya. Sungmin terdiam sesaat dan beranjak mendekati Kyuhyun.

 

Library boy, sedang apa kau?” tanya Sungmin.

“Sungmin hyung… Aku sedang bingung ingin menghubungimu” jawab Kyuhyun.

 

“Menghubungiku? Ada apa?” tanya Sungmin.

“Apa kau…marah tentang kejadian kemarin?” tanya Kyuhyun.

 

Sungmin terdiam sesaat. Rasanya jantungnya mulai berdetak dengan abstrak.

“Tidak. Aku hanya…terkejut saja” jawab Sungmin berusaha tidak memandang Kyuhyun.

“Aku… Aku tidak akan meminta maaf atas kejadian itu” kata Kyuhyun.

 

Sungmin masih terdiam. Jantungnya terus berdetak dengan abstrak dan dua kali lebih cepat.

“Meskipun Yesung sudah menyatakan perasaannya padamu, aku tidak akan mundur. Karena aku… aku selalu suka padamu Cinderella. Sejak sekarang dan seterusnya juga,” kata Kyuhyun.

 

Sungmin tersentak dan terkejut. Ia memandang Kyuhyun tidak percaya. Dimata itu, mata yang selalu Sungmin sukai, sedang memandangnya dengan berbagai perasaan. Sebuah ketulusan yang tidak terbantahkan.

 

“Bisakah kau mempertimbangkan aku? Tidak perlu sekarang. Pelan–pelan saja,” kata Kyuhyun.

 

Sungmin masih terdiam memandang Kyuhyun tidak percaya.

“…….sampai jumpa.kata Kyuhyun kemudian beranjak pergi.

 

Sungmin masih terdiam memandang Kyuhyun yang menjauh pergi. Ia terdiam dengan bingung. Otaknya terasa sangat kacau sekali. Ternyata Kyuhyun menyukainya. Bukankah seharusnya Sungmin merasa senang? Masih dapat ia rasakan debaran jantungnya yang belum pulih.

 

“Sungmin” panggil Yesung.

 

Sungmin menoleh. Oh benar, ia hampir melupakan sesuatu yang penting. Yesung dengan penantiannya. Tapi bagaimana ia bisa memberi jawaban, sedangkan otaknya benar–benar terasa kacau sekali saat ini. Harus apa ia sekarang?

 

t.b.c

One thought on “Dance with me Cinderella /part 15

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s