In Our Time

Gambar

Pairing          : KyuMin

Genre              : Not sure (-__-)

Length            : Drabble or One Shoot ?

Warning         : Boys Love, Yaoi, M-preg

Disclaimer     : Terinspirasi dari cerita “Perbukitan Bagai Gajah Putih” karya Ernest Hemingway dalam Men without Women. Sedikit perubahan dan tambahan agar dapat sesuai dengan cerita KyuMin-nya. Sebenarnya nggak yakin dengan hasilnya, but hope you like it ^^

Summary       : Keresahan hati Kyuhyun dan Sungmin yang tengah mendiskusikan tentang aborsi.

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

Hari ini hawa sangat panas. Di sebuah kota di kawasan Gyeongsangnam-Do. Stasiun kereta api itu dikelilingi oleh barisan perbukitan yang indah. Stasiun itu berada di antara dua jalur rel di bawah sinar matahari. Kereta ekspress dari Incheon akan tiba dalam 40 menit. Kereta itu berhenti dua menit di persimpangan ini lalu melanjutkan perjalanan ke stasiun terakhir di Yeosu, Jeollanam-Do. Berhadapan dengan sisi stasiun ada sebuah bar. Tirai yang terbuat dari untaian manik-manik bambu bergantung di ambang pintu masuk bar.

 

Kyuhyun dan Sungmin duduk pada salah satu meja di keteduhan, diluar bangunan bar. Sungmin melepas topi putih favoritnya dan menaruh di atas meja. “Aigoo, panas sekali” Komentar Kyuhyun yang duduk disampingnya.

 

Seorang pelayan wanita datang mendekati mereka.

“Apa yang harus kita minum Kyu?,” tanya Sungmin menoleh pada Kyuhyun. “Ah, minum bir saja. Bir yang dingin.” Saran Sungmin kemudian.

 

“Tidak. Kau tidak boleh minum bir” kata Kyuhyun dengan cepat. Ia memandang kekasihnya itu dengan tegas.

 

Sungmin hanya diam, sedikit merengut. Kyuhyun memandang pelayan wanita itu dan memesan, satu bir dan satu orange juice. Pelayan wanita itu bertanya pada Kyuhyun, “Gelas besar?”

 

“Ya, dua gelas besar” Jawab Kyuhyun.

 

Pelayan wanita itu beranjak pergi. Beberapa menit kemudian ia kembali membawa satu gelas bir, satu gelas orange juice dan tatakannya. Ditaruhnya tatakan dan dua gelas itu di meja lalu beranjak pergi. “Kau tidak boleh minum bir dulu sayang” kata Kyuhyun lalu meneguk bir miliknya.

 

Sungmin mendengus mendengarnya.

“Yeah. Karena aku sedang hamil. Itu benar ‘kan?” tukasnya seraya memainkan gelas orange juice miliknya.

“Yeah, itu benar” sahut Kyuhyun.

 

Sungmin melirik sesaat perutnya yang semakin membesar, hari ke hari. Entah kenapa, ia tidak menyukainya. Sesuatu yang hidup didalam perutnya ini, seharusnya tidak pernah ada. Kemudian ia memandang Kyuhyun yang menikmati gelas bir miliknya.

 

“Bagaimana rasanya?” tanyanya.

“Birnya dingin dan enak” jawab Kyuhyun

“Menyenangkan” Sahut Sungmin lalu meneguk orange juice miliknya.

 

Kyuhyun hanya terkekeh kecil. Sungmin memandang ke seberang perbukitan.

“Perbukitan yang indah” komentarnya.

 

Kyuhyun meletakkan gelas birnya. Ia ikut memandang ke seberang perbukitan dan terdiam. Angin hangat bertiup pelan, memainkan tirai manik-manik yang terbuat dari bambu itu. Tanpa mengalihkan pandangannya Sungmin berujar,

“Itu sungguh operasi yang sangat sederhana, Kyu. Itu bukan benar-benar operasi sama sekali”

 

Kyuhyun menoleh pada Sungmin. Ia terdiam memandang kekasihnya kemudian mengalihkan pandangannya pada lantai tempat kaki-kaki meja berdiri.

 

“Aku tahu kau tak akan keberatan, Kyu. Aborsi itu sebenarnya bukan apa-apa” Kata Sungmin lagi.

 

Kyuhyun masih tak berkata apapun. Ia mengangkat pandangannya dan Sungmin menoleh. Mata obsidian dan mata foxy itu bertemu dalam satu keheningan yang menyebalkan. Kyuhyun meraih gelas birnya.

 

“Kenapa kita harus membicarakan hal ini lagi sih?” kata Kyuhyun lalu meneguk bir dengan sedikit kesal.

“Kyu. Aku akan pergi bersamamu dan tinggal denganmu sepanjang waktu. Seumur hidupku. Hanya, biarkan aku melakukannya” kata Sungmin.

 

Kyuhyun meletakkan gelas bir dan memandang Sungmin dengan sorot mata lelah. Sungguh, Kyuhyun sudah lelah dengan pembicaraan ini. Topik tentang aborsi ini sudah ke sekian kalinya mereka bicarakan. Dan Kyuhyun sudah mulai bosan, bahkan rasanya ia mulai membenci kata laknat itu.

 

Kyuhyun mendesah sesaat.

“Jika aku membiarkanmu melakukan aborsi, lalu apa yang akan kita lakukan sesudahnya?” tanyanya.

“Kita akan baik-baik saja sesudahnya. Seperti sebelumnya” jawab Sungmin terdengar sangat yakin.

 

Kyuhyun mengernyit sesaat.

“Apa yang membuatmu berpikir begitu?”

 

Sungmin terdiam. Ia kembali melirik perutnya yang besar. Kyuhyun mengulurkan tangannya menyentuh perut besar Sungmin. Kemudian ia mengusapnya dengan lembut dan berkata, “Aku tidak mengerti. Kenapa kau menolaknya? Ini adalah bayi kita”

 

Sungmin memandang Kyuhyun. Ia menyentuh tangan pria tampan itu untuk menghentikannya terus mengusap perut besarnya. Ia mengenggam tangan hangat itu dengan erat.

 

“Bayi ini, satu-satunya hal yang mengganggu kita. Bayi ini, satu-satunya hal yang membuat kita tak bahagia” Sungmin berkata lirih.

 

“Dan kau pikir setelah kau melakukan aborsi, lalu kita akan baik-baik saja dan bahagia?”

 

“Aku tahu akan seperti itu. Kau tak perlu takut, Kyu. Aku kenal banyak orang yang sudah melakukannya”

 

“Aku juga,” sahut Kyuhyun. “Dan sesudahnya mereka semua bahagia.”

 

Mereka terdiam sejenak. Kyuhyun menarik tangannya dari genggaman Sungmin dan memandang wajah manis itu lekat-lekat. Mencoba menebak-nebak alasan kenapa Sungmin tidak suka dengan kehamilannya itu. Kenapa Sungmin selalu bersikeras ingin mengugurkan bayinya tersebut.

 

“Dan kau benar-benar mau melakukannya?” tanyanya kemudian.

“Kupikir itu adalah hal terbaik untuk dilakukan,” jawab Sungmin.

 

Sungmin terdiam sejenak. Kemudian ia melanjutkan,

“Bayi ini tidak seharusnya ada, Kyu. Bayi yang lahir dari tubuh seorang pria sepertiku, tidakkah itu hal yang aneh? Dunia akan mencibirnya dan meninggalkannya.”

 

“Bayi itu masih memiliki kita. Kita akan melindunginya. Kita bisa pergi kemanapun”

 

“Tidak, kita tidak bisa. Dunia bukan milik kita lagi”

 

“Milik kita”

 

“Bukan. Sekali mereka mengambilnya, kau tak pernah mendapatkannya kembali”

 

“Tapi mereka tidak mengambilnya”

 

“Lihat dan tunggu saja”

 

Kyuhyun mendesah sesaat dan kemudian membelai kepala Sungmin dengan lembut.

“Ayolah sayang. Kau hanya merasa takut. Kau tidak perlu merasa begitu”

 

Sungmin menggelengkan kepalanya pelan.

“Aku tak merasa apa-apa. Aku cuma tahu semua,”

 

Sungmin berhenti sejenak dan menatap Kyuhyun.

“Kyu, jika aku mempertahankan bayi ini, semua mungkin akan jadi berbeda, tidak seperti sebelumnya, dan kau akan tetap mencintaiku?”

 

“Aku mencintaimu. Kau tahu aku mencintaimu, sekarang dan selamanya” Kyuhyun berupaya menyakinkan.

 

“Aku tahu. Tapi jika aku melakukan aborsi itu……

 

“Dengar sayang,” potong Kyuhyun. “Aku tidak mau kau melakukannya.”

 

Sungmin merengut sesaat memandang Kyuhyun. Ia nampak kesal.

“Akan kulakukan. Karena aku tidak peduli tentang diriku” katanya tegas.

“Apa maksudmu?” sergah Kyuhyun.

 

“Aku tak peduli tentang diriku” ulang Sungmin.

“Tapi aku peduli tentang dirimu. Aku cuma tak bisa memikirkannya. Kau tahu bagaimana aku ketika khawatir” tukas Kyuhyun.

 

“Oh, ya. Tapi aku tak peduli tentang diriku dan akan kulakukan, lalu semua akan baik-baik saja”

 

Kyuhyun tersentak dan terdiam sesaat. Nampaknya pria tampan itu sedang berusaha menahan rasa kesalnya. Sungmin berdiri dan lalu berjalan ke ujung stasiun. Di seberang, di sisi lain, terdapat ladang-ladang dan pepohonan di sepanjang lembah. Bayangan awan bergerak melintasi ladang. Sungguh, pemandangan yang indah.

 

Kyuhyun mendesah. Ia berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Sungmin.

“Aku tak mau kau melakukan apapun yang tak mau kau lakukan……”

 

“Maupun itu tak bagus untukku. Aku tahu” Potong Sungmin dengan nada bosan.

 

“Aku tahu, kau tidak sungguh-sungguh ingin melakukannya. Jangan berbohong padaku sayang” kata Kyuhyun dengan nada tegas.

 

Sungmin terdiam.

“Tapi aku tahu, aborsi itu sungguh sederhana” Katanya kemudian dengan pelan.

“Tak bisakah kita berhenti bicara tentang aborsi?” Kyuhyun mendesah dengan bosan.

 

Sungmin kembali terdiam. Mereka kembali beranjak duduk di meja. Sungmin memandang perut besarnya. Kyuhyun memandangnya lalu memandang meja.

 

“Kyu, apakah bayi didalam perutku ini berarti sesuatu bagimu?” tanya Sungmin kemudian.

 

Kyuhyun mengangkat pandangannya dan tersenyum,

“Tentu saja. Tidakkah dia juga berarti sesuatu bagimu? Aku berpikir, kita bisa mewujudkan semua mimpi kita bersama. Aku, kau, bayi ini. Kita bersama” jawabnya.

 

Sungmin mengerjap memandang Kyuhyun. Kemudian ia tersenyum.

“Tentu saja. Tapi aku tidak mau siapapun selain kamu. Aku tak mau yang lain. Dan aku tahu itu sungguh sederhana.”

 

Kyuhyun terkekeh kecil sesaat dan berkata, “Ya, kau tahu itu sungguh sederhana”

 

Kemudian Kyuhyun merengkuh tubuh Sungmin dalam pelukannya. Ia mengecup bibir plump itu sesaat, lembut dan manis. “Kau mau melakukan sesuatu untukku sekarang?” tanyanya.

 

“Akan kulakukan apapun untukmu” jawab Sungmin.

 

“Tolong, tolong, tolong, tolong, tolong, tolong, tolong, tolong, maukah kau berhenti bicara tentang aborsi?”

 

Sungmin tidak berkata apapun selain memandang ke tirai manik-manik.

“Aku tidak mau kau begitu. Aku tak peduli apapun, meski itu adalah operasi paling sederhana sekalipun. Jangan pernah lakukan hal itu!” kata Kyuhyun lagi, dengan nada tegas.

 

Seorang pelayan keluar melalui tirai membawa dua gelas bir, pesanan pengunjung yang lain. Ia berhenti sesaat dan berujar pada Kyuhyun dan Sungmin, “Kereta akan tiba dalam lima menit”

 

Sungmin tersenyum cerah kepada pelayan itu, dan berterima kasih padanya. Pelayan itu hanya tersenyum dan kemudian beranjak pergi, menghilang dibalik tirai. Sungmin menoleh, menyadari kekasihnya sedang memandangnya. Seolah pria tampan itu sedang menunggu jawaban darinya.

 

“Baiklah. Aku tidak akan melakukannya” Kata Sungmin akhirnya.

 

Kyuhyun tersenyum lega. Kemudian ia mengecup lembut kepala Sungmin. Kyuhyun menikmati bir-nya kembali, sementara Sungmin terdiam memandang perutnya sendiri. Ia menyentuh perutnya yang besar dan mengusapnya dengan lembut. Sungmin tersenyum.

 

“Kau merasa lebih baik sayang?” tanya Kyuhyun.

“Aku merasa baik-baik saja. Tak ada yang salah denganku. Aku baik-baik saja”

 

Fin

9 thoughts on “In Our Time

  1. kk so sweet banget :’) berlandasan dgn keegoan sungmin yg tidak mau berbagi kebahagiaannya dgn anaknya alias dia merasa bahagia bersama kyuhyun tanpa anak? benarkah? tapiii cara penyelesaiannya simple dan so sweet kk :’) kereeen :*

  2. Hehehehe, ini mereka ngomongin aborsi nyante aja ya? =,=
    gak tau situasi diluar sana apa? Pasangan nomal malah susah punya anak, mereka diberi anugrah malah ngeyel.
    Tapi aku tau, Sungmin ingin menguji Kyuhyun :p
    caranya itu loh, aku bisa ngerasain maksud pembicaraan mereka eon, dan aku tau KyuMin sangat mencintai satu sama lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s