Are we together ?

Gambar

Pairing          : KyuMin / Dia-Sungmin

Genre           : Angst

Length          : One Shoot (Long one shoot)

Warning         : Boys Love, shounen-ai, crackpair

Disclaimer     : Terinspirasi dari postingan yang aku temukan di internet

Summary       : Karena aku bertanya tentang kita. Are we together?

A/N                 : Tebak tokoh Dia dalam FF ini. Hope you like it ^^

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~presented by@Min kecil~

 

Apakah ada yang tahu rasanya mencintai seseorang yang tidak boleh dicintai? Kyuhyun tahu. Mungkin Kyuhyun memang baru mengenal Sungmin, selama seratus delapan puluh delapan malam. Tapi rasanya seperti ia sudah mengenal Sungmin seumur hidup. Dan tiba-tiba saja Kyuhyun sadar, Sungmin telah menjadi bagian dalam hidupnya.

Hidup itu sungguh aneh, juga tidak adil. Suatu kali hidup melambungkanmu setinggi langit, kali lainnya hidup menghempaskanmu begitu keras ke bumi. Ketika Kyuhyun menyadari bahwa Sungmin adalah satu-satunya yang paling ia butuhkan dalam hidup ini, kenyataan berteriak di telinganya bahwa Sungmin juga satu-satunya orang yang tidak boleh ia dapatkan. Meski begitu, Kyuhyun rela melepaskan apapun yang ia miliki asal bisa bersama pemuda manis itu.

Terdengar naif? Percayalah…

~+~+~+~

Dini hari. Kedai kopi yang buka 24 jam itu masih nampak ramai. Semua orang datang berpasang-pasangan. Mereka memekik, tertawa –terkadang berlebihan, mengobrol, bertengkar. Sepertinya apapun lebih baik daripada sendiri. Di sofa merah itu, yang jauh dari pintu masuk dan konter yang sibuk Kyuhyun dan Sungmin duduk bersama, kembali mengisi tempat mereka di sudut café ini. Bersama iringan musik jazz dan dua cangkir Machiato, mereka bercengkrama —bercerita tentang waktu, pekerjaan, cuaca, serial tv, film, liburan, jalan-jalan dan tentang apa saja.

Kyuhyun menyesap Machiato miliknya. Ia memperhatikan Sungmin yang sedang berceloteh di depannya. Kyuhyun selalu merasa sangat senang ketika pemuda manis itu menghentikan waktu di depannya dengan senyum manisnya atau gelak tawanya. Kyuhyun sungguh menyukai semua itu. Seperti sekian dini hari yang risau lainnya, mereka selalu melarikan diri ke tempat ini. Menempati sudut di café yang buka 24 jam itu.  Menghabiskan gelap sampai matahari terbit, lalu menggelandang dengan perut lapar, mencari sarapan di pinggir jalan. Kyuhyun terlanjur menganggap tempat ini sebagai rumah. Lalu entah bagaimana menyakini, bahwa sejauh apapun ia pergi, suatu hari nanti ia akan rindu riuh-rendah ini. Musik jazz, bau kopi yang baru digiling, deru mesin, denting sendok dan piring.

Dan Sungmin…

Kyuhyun selalu percaya, bahwa pada akhirnya Sungmin akan selalu pulang ke tempat ini. Dan mereka akan bertemu lagi di sofa merah itu, yang jauh dari pintu masuk dan konter yang sibuk. Dan kemudian mereka akan saling menemani satu sama lain dalam diam. Karena pada sekian dini hari yang mereka lewati di sini, Kyuhyun dan Sungmin lebih banyak diam. Kyuhyun akan sibuk bekerja dengan komputer portable miliknya, mengedit-edit foto. Sementara Sungmin membalik-balik halaman majalah atau membaca buku. Terkadang mereka akan saling mencuri pandang dan bertukar senyum sesekali. Menahan waktu di kedai kopi ini agar terjaga hingga pagi.

Kyuhyun dan Sungmin masih asyik bercengkrama meski cangkir-cangkir mereka telah kosong. Mereka membagi berbagai cerita. Bercerita tentang apa saja. Tentang waktu, pekerjaan, cuaca, serial tv, film, liburan, jalan-jalan. Apa saja. Tapi satu hal, yang jarang mereka bicarakan. Tentang ‘kita’. Selama mereka tidak berbicara tentang ‘kita’, maka segalanya akan baik-baik saja.

Benarkah begitu?

~+~+~+~

 

“I love you”

Tiba-tiba Kyuhyun mengatakan kalimat itu tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya. Jemari Sungmin membeku di udara, urung membalik halaman buku yang sedang ia baca. Sungmin terkejut memandang Kyuhyun. Ia terdiam, cukup lama.

“Apa artinya itu?” tanya Sungmin kemudian seraya sedikit menutup layar laptop milik Kyuhyun perlahan, mempertemukan mata obsidian itu dengan mata foxy miliknya.

Kyuhyun hanya tertawa, menghindari pandangan Sungmin. Ia menyesap kopinya yang sudah lama dingin. “Apa arti I love you bagimu, Kyu?” ulang Sungmin.

I love you, ya…artinya I love you” jawab Kyuhyun akhirnya. Masih menghindari pandangan Sungmin.

Sungmin memandang Kyuhyun, seolah ia tidak puas dengan jawaban dari pemuda bertubuh tinggi itu. “Artinya, aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu” kata Kyuhyun kemudian.

Sungmin hanya menganggukkan kepalanya dan kembali menunduk membaca bukunya. Twilight milik Stephenie Meyer. Kisah romantis antara si manusia Bella Swan dengan sang vampire tampan Edward Cullen. Tapi yang Sungmin lihat adalah masa depan. Seolah ada dirinya dan Kyuhyun dalam kisah itu. Sebuah kisah yang kelabu. Suram.

“Lalu bagaimana denganmu hyung?”

Sungmin mengangkat kepalanya. “Apa?”

“Apa arti I love you bagimu?” ada nada penuh harap samar terselip dalam suara Kyuhyun.

Sungmin hanya tertawa. Kyuhyun melempar sebuah bantal kursi ke arah Sungmin.

“Aku serius” katanya.

“Aku tidak tahu. Kau yang mengatakan I love you padaku. Bukan aku. Karena aku belum mengatakan I love you padamu, jadi aku belum bisa mengatakan apa artinya…” Sungmin masih terkikik

“Lalu…kita ini apa?” tanya Kyuhyun.

Dan udara beku selama sepersekian detik. Sungmin hanya mengerjap memandang Kyuhyun, tidak tahu harus menjawab apa. Jujur, Sungmin tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu. Bagi Sungmin, ‘kita’ adalah sebuah dunia di sisi lain cermin. Dunia dimana ia bisa menjadi dirinya sendiri, dan Kyuhyun menjadi dirinya sendiri. Dunia dimana ia dan Kyuhyun berbagi mimpi yang tak bisa mereka bagi dengan orang lain. Dunia dimana mereka berbagi sunyi tapi saling menemani.

“Kita, ya…kita,” jawab Sungmin akhirnya. “Seperti ini. Menggelandang setiap sabtu malam. Minum kopi. Bekerja. Mengobrol. Mengirim pesan –bertukar kabar. Nonton DVD film-film. Memangnya segala sesuatu harus di definisikan ya?”

Kyuhyun terdiam sesaat memandang Sungmin. Raut wajahnya seketika berubah. Kyuhyun menutup layar laptopnya dan menarik lepas charger-nya dari stop kontak seraya berkata, “Mungkin memang sebaiknya kita tidak perlu bertemu lagi”

Sungmin menutup bukunya dan melemparkannya ke atas meja.

“Kenapa kau jadi sensitif begini, sih Kyu?” keluhnya.

“Karena aku mencintaimu” ujar Kyuhyun seraya menyambar kunci mobilnya dari atas meja, siap beranjak pergi.

Sungmin terdiam. Ia menunduk memandang ujung sepatunya. Entah kenapa ia tidak bisa menatap Kyuhyun. Mungkin ia takut jika Kyuhyun akan membaca matanya yang basah.  Kyuhyun terdiam sesaat memandang Sungmin.

“Kenapa kita tidak bisa memberi nama terhadap rasa yang kita punya dan tetap baik-baik saja?” kata Kyuhyun kemudian.

“Dari awal kau tahu Kyu, bahwa aku tidak sendiri” gumam Sungmin pelan, masih menunduk.

Kyuhyun mendengus pelan dan berdiri.

“Tapi aku tidak pernah memintamu untuk memilih hyung…” katanya seraya beranjak pergi.

Sungmin mengangkat kepalanya dan terdiam. Punggung Kyuhyun menjauh. Pemuda tampan itu tidak menoleh lagi hingga sosok tingginya hilang ditelan malam. Sungmin mendesah pelan. Sungmin pikir, itulah terakhir kalinya ia melihat Kyuhyun. Tapi ternyata sabtu malam berikutnya, pada dini hari yang sama Kyuhyun datang dengan menenteng komputer portable miliknya. Lalu Kyuhyun meletakkan diatas meja sekeping DVD Savage Garden Live in tour limited edition. Di samping cangkir kopi Sungmin yang ketiga. Mereka bertukar senyum. Lalu dengan tangan yang saling bertaut hangat, mereka menghabiskan sisa malam itu dalam diam. Diam yang menenangkan.

~+~+~+~

 

Hari itu Kyuhyun dan Sungmin menghabiskan pagi di Museum Nasional Korea. Mereka berjalan menyusuri lorong-lorong yang menyimpan waktu dalam kotak-kotak kaca. Sungmin memandang wajah mereka yang bersisian dan terpantul di kaca panjang itu. Kaca yang menyimpan sejarah penting Korea dari waktu yang lampau. Mungkin ratusan tahun lamanya. Dan disinilah mereka, berbincang tentang waktu.

“Kyu, menurutmu lima tahun setelah ini kita ada dimana?” tanya Sungmin sambil merangkul lengan Kyuhyun.

“Mungkin, kita sedang menjelajahi dunia” jawab Kyuhyun seraya tertawa.

“Menarik!” kata Sungmin tersenyum.

“Hyung menurutmu, lima tahun lagi apakah kita masih bisa bersama, seperti ini?” tanya Kyuhyun kemudian.

Sungmin terdiam sesaat.

“Mudah-mudahan saja. Mengapa tidak?” jawabnya seraya mengangkat kedua bahunya.

“Entahlah. Cuma tanya” kata Kyuhyun seraya tertawa.

Mereka terus menyusuri museum. Lantai demi lantai, dan berakhir di lantai 10. Di lantai ini nampak tidak terlalu ramai seperti di lantai bawah. Kyuhyun dan Sungmin berdiri di dekat jendela. Di luar rinai hujan meluruh turun dari langit kelabu. Perciknya menerpa permukaan jendela dan udara yang dingin membuat kaca jendela itu menjadi berembun. Dengan menggunakan telunjuknya, Sungmin melukis gambar hati di sana, kemudian menorehkan inisial nama Kyuhyun di dalamnya.

“Ini hatiku,” katanya. “Di dalamnya ada kamu…”

Sungmin terdengar menggemaskan dan gambar hati itu terlihat lucu. Kyuhyun tersenyum dan memeluk Sungmin dengan hangat. Sedetik, dua detik, tiga detik, hingga akhirnya Kyuhyun merasakan sesuatu bergetar di dalam saku celana Sungmin. Sungmin melepaskan pelukan Kyuhyun, merogoh ke dalam sakunya, dan mengeluarkan ponselnya yang terus bergetar.

Sungmin terdiam sesaat membaca nama yang berkedip-kedip di layar. Tanpa perlu mengintip Kyuhyun dapat menebak dengan sangat yakin, pastilah nama orang itu yang muncul di layar yang berkedip-kedip itu. Seperti sebuah sihir yang membuat Sungmin lupa. Pemuda manis itu berbalik memunggungi Kyuhyun, dan berbicara dengan suara rendah agar Kyuhyun tidak mendengarnya. Tapi Kyuhyun mendengarnya. Ia memperhatikan Sungmin yang berbicara, lama. Sungmin mengucapkan I-miss-you-too dua kali, dan I-love-you satu kali.

Kyuhyun memalingkan wajahnya ke jendela. Masih ada gambar hati yang Sungmin lukis dengan inisial namanya di dalamnya. Tetapi tidak ada lagi yang lucu dan menggemaskan dengan semua itu. Yang nampak di mata Kyuhyun hanyalah sebuah kebohongan besar. Pelan-pelan, Kyuhyun menyentuhkan telunjuknya pada jendela yang dingin itu. Sedingin hatinya. Lalu Kyuhyun menggambar retakan di hati itu, seperti retakan di hatinya.

Beberapa menit kemudian Sungmin mematikan teleponnya. Ia tersenyum pada Kyuhyun seakan segalanya sempurna dan kembali memeluk lengannya. Bertanya apakah nanti sebelum pulang mereka akan pergi ke sungai Han.

Kyuhyun tersenyum. Lebih tepatnya, berusaha tersenyum.

“Ya, kita akan pergi ke sungai Han” jawabnya.

Dan disanalah mereka kemudian. Mengakhiri hari ini di pinggir sungai Han. Menikmati keindahannya dengan saling berpelukan mesra. Kyuhyun memeluk Sungmin dari belakang dan membisikkan nada-nada lembut penuh cinta ditelinganya. Nada-nada yang semakin lama semakin melambat, dan melambat, dan melambat, sebelum akhirnya mendarat di bibir plump Sungmin dalam satu kecupan yang bermandikan bias sang senja.

Aah, it’s so beautiful

~+~+~+~

 

Sore itu, Sungmin sedang bersiap untuk kencannya dengan Kyuhyun saat mendengar suara bel pintu. Seseorang menekan bel pintu kamar apartementnya berulang kali. Bergegas Sungmin beranjak membuka pintu depan tanpa melihat layar intercome-nya terlebih dahulu. Dan kemudian Sungmin terdiam, mengerjap. Dia berdiri di depan pintu kamar apartement Sungmin, membawa seikat bunga matahari. Rambutnya yang di cat burgundy red nampak berkilau tertimpa cahaya matahari. Wajah tampannya dan satu anting hitam kecil yang menusuk telinga kirinya, ia nampak tidak berubah. Aroma menthol terasa di rongga mulut Sungmin saat Dia mengecup bibir plumpnya dengan lembut. Seolah rangkuman dari rangkaian rindu.

“Hai sayang…” sapanya seraya memberikan seikat bunga matahari yang dibawanya pada Sungmin.

Sungmin memandang seikat bunga matahari pemberian Dia dengan bingung. Karena seingatnya, hari ini adalah hari selasa yang biasa-biasa saja. “Apa ada yang spesial hari ini?” tanyanya.

Dia tertawa dan membelai kepala Sungmin lembut. Mata kecilnya seolah menghilang saat ia tertawa.

“Hari ini aku melihatmu dan merasa bahagia. Jadi ini hadiah untuk itu. Bukankah bersamamu selalu merupakan perayaan tersendiri?”

Dia memang selalu seperti ini.

Dia berjalan melewati Sungmin dan beranjak masuk ke dalam. Sungmin menutup pintu dan mengikuti Dia. Dia mengedarkan pandangannya sesaat ke seluruh ruangan dan berhenti pada sebuah akurium cantik berukuran cukup besar yang menjadi pembatas antara dapur dan ruang tengah. Ia mendekati akaurium itu dan memandang sekumpulan ikan-ikan kecil yang berenang di dalamnya. Semua ikan di dalam akuarium itu berjumlah 10 ekor.

“Kalian masih lengkap semua rupanya” kata Dia dengan tersenyum.

Dia mendekatkan wajahnya pada permukaan akuarium dan mulai menunjuk satu persatu ikan-ikan itu sesuai dengan namanya. Tentu saja Dia ingat, karena semua nama aneh itu ia yang memberikannya. Ha, Ga, Ta, Ni, Ki, entah apalagi. Bahkan Sungmin sendiri tidak pernah hafal. Sungmin hanya tersenyum kecil melihatnya. Ia beranjak memindahkan bunga matahari ke dalam vas berisi air dan kemudian meletakkannya di pinggir jendela.

Sungmin beranjak mendekati Dia dan memandangnya.

“Kau menjaga mereka dengan baik” kata Dia seraya mengetuk pelan permukaan kaca akuarium dengan menggunakan telunjuknya.

Sungmin hanya memandangnya. Dia menegakkan tubuhnya dan menoleh memandang Sungmin. Ia tersenyum. Senyum itu masih tidak berubah. “Kau sedang cuti ‘kan?” tanyanya.

“Ya, mereka memaksaku untuk mengambil jatah cutiku” jawab Sungmin.

Dia terkekeh kecil dan menarik Sungmin dalam pelukannya.

“Kalau begitu, apa kau ada rencana hari ini?”

Sungmin terdiam sesaat, teringat kencannya dengan Kyuhyun. Seharusnya ia segera berangkat jika tidak mau membuat Kyuhyun menunggu terlalu lama. Namun saat pria berambut burgundy red ini menciumnya, waktu seolah berhenti. Sungmin melupakan segalanya, bahkan pada janjinya dengan Kyuhyun.

Dia adalah manusia bebas, demikian Sungmin berpikir. Dia hanya hadir ketika ia menginginkannya. Sosok yang hadir di saat-saat yang tidak tentu. Menunggunya seperti menunggu hujan turun, tidak bisa diramalkan hanya dengan langit mendung. Tapi angin bisa meniup awan mendung pergi dan kembali menerbitkan matahari. Justru itu, kehadirannya selalu merupakan kejutan bagi Sungmin. Sesuatu yang tidak disangka-sangka. Karena itu, ketika Dia datang, momen itu menjadi sangat berharga. Karena Sungmin tidak akan pernah tahu kapan momen itu akan datang lagi.

Sungmin memeluk leher pria berambut burgundy red itu untuk memperdalam ciuman mereka. Ia memejamkan matanya, menikmati ciuman mereka. Rangkaian dari rangkuman rindu. Dunia mendadak sunyi. Dan Sungmin melupakan segalanya. Melupakan Kyuhyun.

~+~+~+~

 

Kyuhyun memperhatikan orang-orang. Kebanyakan mereka datang berpasangan, bersama keluarga, atau sahabat dan teman. Mereka berjalan bersama seseorang yang mereka sayangi. Sementara Kyuhyun, orang yang disayanginya masih belum kunjung datang. Kyuhyun memandang jam tangannya. Sudah dua jam ia menunggu. Filmnya akan segera dimulai.

Kyuhyun mencoba menghubungi Sungmin. Namun Sungmin tidak bisa dihubungi. Berjam-jam Kyuhyun menunggu, Sungmin tidak pernah datang. Kyuhyun mendesah kecewa. Ia pun membuang tiket film yang sudah tidak berguna lagi. Percuma, filmnya sudah selesai sejak tadi. Kemudian Kyuhyun beranjak pergi dengan membawa buket bunga yang seharusnya ia berikan pada Sungmin. Kyuhyun melangkah pelan menyusuri jalanan yang cukup ramai oleh para pejalan kaki. Tiba-tiba Kyuhyun menghentikan kakinya saat ia melihat sesuatu.

Kyuhyun melihatnya diantara keramaian. Rambutnya yang di cat pirang itu nampak menyolok diantara yang lain. Itu adalah Sungmin yang sedang bersama Dia. Sungmin merangkul lengan pria berambut burgundy red itu. Mereka tersenyum. Tertawa. Terlihat bahagia. Kyuhyun terdiam sejenak, dan kemudian tersenyum kecewa.

“Seharusnya aku tahu…” gumam Kyuhyun penuh luka.

Ya, seharusnya Kyuhyun tahu bahwa Sungmin akan melupakannya saat sedang bersama Dia. Pria berambut burgundy red itu. Bahwa dirinya hanya prioritas kedua. Kyuhyun tertawa miris saat menemukan, bahwa dirinya harus kembali mengalah. Kyuhyun kembali melangkahkan kakinya. Saat ia melewati Sungmin, Kyuhyun berusaha menutupi wajahnya dengan buket bunga di tangannya. Terus berjalan dan berusaha untuk tidak melihat Sungmin.

Saat itu Sungmin menoleh. Dan ia hanya terdiam saat menyadari semuanya. Bahwa pria yang berjalan dengan buket bunga yang menutupi wajahnya itu adalah Kyuhyun. Bahwa ia kembali melupakan Kyuhyun, pada janji kencan mereka. Sungmin hanya memandang saat sosok Kyuhyun menghilang dengan cepat diantara keramaian.

~+~+~+~

Valentine. Kyuhyun tidak pernah merayakan hari kasih sayang itu bersama Sungmin. Tidak, tentu saja tidak. Karena Sungmin hanya menemuinya secara sembunyi-sembunyi. Lupakan makan malam romantis dan menghabiskan hari itu berdua saja. Tidak, karena tentu Sungmin akan memilih untuk berada disisi pria berambut burgundy red itu. Kyuhyun sadar, dirinya selalu menjadi prioritas kedua.

Ada saat-saat dalam hidupnya ketika Kyuhyun menyakini bahwa ini hanya sementara. Bahwa ia tidak akan selamanya menjadi yang kedua. Bahwa Sungmin, suatu hari, akan memutuskan untuk memilikinya dan menjadikannya satu-satunya. Ada masanya ketika Kyuhyun menyakini bahwa menjadi yang kedua adalah sesuatu yang harus ia terima dengan lapang dada. Yang perlu Kyuhyun lakukan hanya bersabar dan tetap berada di sisi Sungmin.

Tapi apakah itu benar?

Waktu terus berjalan dan Kyuhyun merasa tidak lagi mempercayai hal-hal yang dahulu ia yakini sepenuh hati. Kyuhyun merasa, ketidaktahuannya apakah dirinya adalah milik Sungmin, atau apakah Sungmin adalah miliknya menjadikan dunia buram di mata Kyuhyun. Kyuhyun tersandung, terjatuh, tanpa tahu di mana sesungguhnya ia berada. Di relung atau palung hati Sungmin?

Hujan baru saja reda dan bau tanah basah seakan menguap di udara. Sore itu Kyuhyun mendamparkan dirinya di café. Di kelilingi pasangan-pasangan yang memenuhi meja di café ini. Mereka tertawa, mengobrol, bercanda, berbagi perasaan. Sementara Kyuhyun duduk sendirian, menyesap cangkir demi cangkir kopi. Terlihat ironis?

Kyuhyun menyesap cangkir kopinya yang ketiga. Semua seharusnya terasa menghangatkan. Menenangkan. Tapi sebaliknya, semua ini membuat Kyuhyun depresi. Karena seharusnya Sungmin ada disini. Bersamanya. Mereka akan berbicara keras-keras dan terbahak pada hal yang kelucuannya hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua. Orang-orang akan melirik mereka, sedikit iri; sedikit kesal. Orang-orang itu berharap bisa memiliki ketidakpedulian mereka ini separuhnya saja. Untuk memekik, tertawa, dan berkejaran di trotoar yang sesak. Seperti para pasangan yang kasmaran itu.

Seperti.

Dan Kyuhyun menyadari, mereka selalu terhenti sampai sejauh kata ‘seperti’. Selama mereka tidak berbicara tentang ‘kita’, maka segalanya akan baik-baik saja. Ini seperti sebuah perjanjian tidak tertulis, yang tidak seharusnya mereka langgar. Rasanya menyesakkan.

Kyuhyun memandang telepon genggam miliknya. Berharap benda itu bergetar, mengirimkan kabar dari Sungmin. Tapi benda itu tetap tidak bergeming, sejak seminggu yang lalu. Tidak bergetar. Tidak ada kabar dari Sungmin.  Rasanya, begitu sepi…

~+~+~+~

 

“Dia adalah manusia bebas eomma” entah sudah berapa kali Sungmin mengatakan itu di hadapan ibunya.

Hari itu Sungmin mengunjungi ibunya di butik miliknya. Sungmin sedang duduk di sofa, membalik-balik halaman majalah fashion. Sementara wanita paruh baya itu duduk dibalik mejanya, sibuk dengan laporan-laporan penjualan bulan ini. Nyonya Lee mengalihkan pandangannya dari laporan di depannya dan beralih menatap putranya.

“Bagaimana mungkin kau bertahan dengan orang yang tak selalu ada untukmu?” tanyanya tidak mengerti. Yeah, wanita paruh baya itu tidak pernah bisa mengerti dengan jalan pikiran putra kesayangannya itu.

Sungmin hanya menatap sekilas ibunya dan kembali membalik halaman majalah.

“Bayangkan kalau mobilmu suatu hari mogok di jalan tol tengah malam, siapa yang akan kau hubungi? Dia — atau Kyuhyun?” tanya nyonya Lee lagi seraya kembali mencoret-coret laporan di depannya.

Sungmin mengangkat pandangannya pada ibunya. Ia mengernyit tidak suka dengan perbandingan itu. Menurut Sungmin, itu perbandingan yang tidak adil. Dia adalah dia, dan Kyuhyun adalah Kyuhyun. Ini bukanlah kontes mengenai siapa yang bisa selalu memenuhi panggilannya 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Ini bukan tentang siapa yang harus Sungmin pilih. Kyuhyun bahkan tak pernah memintanya untuk memilih. Kyuhyun hanya mengada seperti udara yang Sungmin hirup. Kyuhyun tak banyak protes.

Sungmin tahu, ibunya sangat menyukai Kyuhyun. Pemuda bertubuh tinggi itu mungkin mengingatkan wanita paruh baya itu pada Appa. Seseorang yang bisa diandalkan 24 jam. Tapi perkataan ibunya tadi malah membuat Sungmin jengah. Wanita paruh baya itu membuat Kyuhyun terdengar seperti montir yang selalu siap sedia dan bisa dipanggil kapan saja untuk membetulkan mobil mogok.

“Itu perbandingan yang tidak adil, eomma” kata Sungmin kembali memandang majalah di depannya. Dalam halaman itu ada sosok cantik Kate Winslet dengan gaun biru yang indah.

Nyonya Lee menghentikan pekerjaannya dan beranjak duduk disamping Sungmin. Ia memandang putranya dan berkata dengan lembut, “Kyuhyun orang yang baik. Dia jenis orang yang akan membahagiakanmu. Dia mencintaimu, Sungmin”

Sungmin hanya diam memandang halaman majalah didepannya. Namun sosok cantik Kate Winslet seolah buram. Sungmin tidak tahu siapa tepatnya Kyuhyun untuk hatinya. Tapi ia merasa, Kyuhyun lebih dari itu. Keberadaannya dan ketiadaannya, keduanya selalu punya tempat di hati Sungmin. Sungmin menutup majalah, melemparkannya ke atas meja dan berbaring di paha ibunya. Terasa nyaman.

Nyonya Lee mengusap kepala putranya dengan sayang, penuh keibuan.

“Apa kau tahu? Mencintai itu lebih banyak melukai Sungmin. Orang sepertimu sebaiknya dicintai, bukan mencintai. Carilah seseorang yang mencintaimu jauh lebih dalam daripada kau mencintainya. Niscaya, hidupmu akan bahagia……”

“Eomma, apakah terlalu egois bila aku menginginkan mereka berdua?”

“Pada akhirnya, kau pun harus memilih bukan? Pada akhirnya, kau akan memilih seseorang yang akan selalu ada untukmu, Sungmin. Someone you can count on. Seseorang yang bisa membahagiakanmu”

Dan Sungmin terdiam.

~+~+~+~

 

Pagi itu Sungmin terbangun saat sorot dari matahari si pengintip menerpa wajahnya. Ia menoleh pada Dia yang tidur disisinya, memeluk pinggangnya. Pria berambut burgundy red itu sedang menatapnya dengan tenang, menikmati wajah manis Sungmin. Ia tersenyum.

“Pagi” sapanya seraya memainkan rambut blonde Sungmin.

Sungmin hanya tersenyum. Ia menaruh tangannya di pipi pria berambut burgundy red itu, lalu mencium bibirnya dengan lembut. Kemudian mereka kembali berpelukan, menyilangkan kaki dan menyelam dalam selimut yang menyembunyikan tubuh telanjang mereka. Sungmin pasti akan menikmati pagi ini, jika saja ia tidak teringat pada janji yang terlanjur mengikatnya. Pada selembar kertas yang sudah ditandatangani.

“Aku tidak suka meninggalkan Seoul. Aku tidak suka meninggalkanmu” kata Sungmin mempererat pelukannya.

Dia terkekeh dan mengecup bibir plump Sungmin sesaat.

“Aku akan mengantarmu ke bandara” katanya.

Akhirnya mereka pun beranjak bangun. Melipat selimut dan berjalan sempoyongan ke kamar mandi, membiarkan pakaian mereka tetap tercecer dilantai seperti tadi malam. Berdiri telanjang dibawah guyuran air yang membekukan, berpakaian, sarapan dan bersiap untuk pergi. Tidak lama, mobil Lamborghini hitam itu melaju pergi meninggalkan kompleks apartement Sungmin.

Sungmin memandang Dia. Pria berambut burgundy red itu mengemudikan mobilnya dengan tenang, setenang lagu I kew I love you-nya Savage Garden yang terdengar mengalun dari audio MP3 mobil saat ini. Dia menghisap rokoknya, dan menghembuskan asap kelabu tipisnya ke udara, membiarkan angin menyapunya pergi. Sungmin masih memandang Dia saat pria berambut burgundy red itu menggenggam tangannya dan menarik koper miliknya, mengantarnya masuk ke bandara.

Sungmin berpikir, pria berambut burgundy red itu adalah sosok bebas, yang hanya hadir di saat-saat tertentu saja. Tapi ketika ia datang, Sungmin justru harus menyeret langkahnya pergi. Meninggalkan seseorang yang sudah ia nanti-nanti dalam cemas hampir setiap hari. Dan pria berambut burgundy red itu tidak pernah menahannya. Ia justru tersenyum dan berkata,

“Pergilah. Aku pun selalu datang dan pergi secara tiba-tba. Jadi jangan cemas. Pada saatnya kita akan bertemu lagi. Selalu seperti itu, bukan?”

Sesungguhnya Sungmin ingin Dia mencegahnya. Mungkin ia akan sedikit marah. Sedikit posesif. Lalu pria berambut burgundy red itu akan menarik Sungmin masuk ke dalam mobilnya dan membawanya pergi bersamanya. Tetapi Dia hanya memindahkan aroma menthol di rongga mulutnya ke atas lidah Sungmin dan melempar ciuman jauh ketika Sungmin menyeret kopernya melewati gerbang keberangkatan. Dia tidak pernah memaksa.

Dan langkah Sungmin terhenti saat ia melihatnya. Diantara orang-orang, ternyata ada Kyuhyun. Dengan ransel besarnya dan sebuah tas kecil yang berisi kamera. Sungmin akan terbang ke Jeju selama beberapa hari untuk pemotretan sebuah majalah ternama Korea. Dan ternyata, Kyuhyun yang akan menjadi fotografernya. Kyuhyun menoleh pada Sungmin dan tersenyum. Seulas senyum yang membuat Sungmin, entah kenapa, merasa bersalah.

Siapapun yang mengatur perjalanan ini, pastilah sudah menyusun segalanya dengan rapi. Bahkan diatas pesawat, Sungmin dan Kyuhyun duduk berdampingan. Sungmin asyik memandang keluar jendela, memandang awan-awan yang berarak. Putihnya seperti kapas. Lembut dan menggemaskan. Rasanya Sungmin ingin bermain-main di awan-awan itu, memberinya warna. PINK. Itu pasti akan terlihat lucu. Seperti gulali.

Tanpa sadar Sungmin tersenyum sendiri. Kyuhyun yang sedang sibuk dengan MP4 miliknya menoleh pada Sungmin. “Kenapa kau tersenyum sendiri seperti itu? seperti orang gila” katanya.

Sungmin menoleh pada Kyuhyun.

“Tidak. Aku hanya, membayangkan jika saja awan-awan itu berwarna pink. Seperti gulali. Bukankah itu akan terlihat lucu?”

Kyuhyun hanya terkekeh kecil. Ia mengusap kepala Sungmin sesaat sebelum kemudian sibuk kembali dengan MP4 miliknya. Sungmin diam memandang Kyuhyun, berpikir bagaimana hidup memang sering bercanda dengan mereka. Misalnya, pada saat-saat ketika Sungmin ingin menjauh dari Kyuhyun, Kyuhyun mengirimkan pesan pendek ke ponselnya. Atau saat Kyuhyun sedang ingin menemuinya, ia malah sedang bersama Dia. Dan kali ini, ketika Sungmin hendak bersama Dia, sesuatu menariknya pergi, dan membawa Sungmin ke hadapan Kyuhyun. How funny.

Perasaan menyesakkan, yang membuat Sungmin merasa tidak nyaman adalah, ketika Kyuhyun mengusap lembut kepalanya sebelum Sungmin terlelap dipesawat. Saat itu Sungmin berpikir, bahwa Kyuhyun hanya membuatnya semakin teringat pada Dia. Kenapa bukan Dia yang selalu ada untuknya? Kenapa harus Kyuhyun?

~+~+~+~

 

Efek tertidur di pesawat yang hanya beberapa jam saja mulai terasa. Pukul Sembilan pagi, di hotel. Rasanya tubuh Sungmin ingin kembali tidur, tetapi ia tidak bisa memejamkan matanya. Maka Sungmin beranjak keluar dari kamarnya dan menyesap secangkir kopi di restoran hotel yang berada di lantai bawah. Sungmin memilih duduk di beranda restoran. Ia menyesap kopinya perlahan dan mengedarkan pandangannya, pada pemandangan alam yang indah yang dimiliki pulau Jeju. Langit nampak mendung.

Rasanya sangat tenang.

Namun kemudian ketenangan itu sedikit terusik saat Kyuhyun datang. Sama diam-diamnya seperti awan yang meredupkan matahari perlahan-lahan. Kyuhyun memandang kejauhan dalam diam. Tidak mengatakan apapun. Mungkin pria bertubuh tinggi itu enggan memecah kesunyian. Atau mungkin juga sibuk dengan pikirannya sendiri. Sungmin kembali menyesap kopinya.

“Apa yang dilakukan oleh insan manusia bila rindu dengan kekasih hatinya, sedangkan kekasihnya itu adalah seseorang yang terlarang untuknya?” tiba-tiba saja Kyuhyun bertanya seraya masih memandang ke kejauhan.

Sungmin mengangkat kepalanya memandang Kyuhyun. Sejenak ia bingung untuk menjawab pertanyaan itu. Merindukan seseorang yang bukan milik kita? Tentu sangat menyakitkan dan tentu saja hal pertama yang dilakukan adalah menangis. Memendam rindu memang terasa berat hingga teman berbagi hanyalah air mata. Namun entah mengapa Sungmin tidak ingin menjawab dengan itu, karena ia merasa itu bukan jawaban yang Kyuhyun inginkan. Setelah berpikir sejenak akhirnya Sungmin menjawab,

“Entahlah, mungkin hanya bisa menikmati kerinduan itu. Mungkin dengan sedikit berharap rindu itu akan terobati dengan kenangan bersamanya. Hanya berharap sesaat, lainnya hanya Tuhan yang tahu apa yang terbaik untuk kita”

Seraya masih memandang ke kejauhan Kyuhyun berkata,

“Tapi insan manusia itu sekarang sedang terhanyut sangat jauh, tenggelam begitu dalam bersama kenangan-kenangan indah itu. Dia ingin keluar dalam keterpurukannya, tapi tangan itu begitu kokoh menariknya ke dalam. Masih ada senyum dibibirnya, tapi andaikan hati dilihat, mungkin sudah tidak berbentuk. Kapan semua ini akan berakhir?”

Sungmin terdiam. Sekilas itu terdengar seperti puisi. Tapi Sungmin tahu, itu adalah ungkapan hati Kyuhyun. “Kyuhyunie…” katanya.

Kyuhyun menoleh. Ia memandang Sungmin selama beberapa saat dan kemudian tersenyum.

“Ayo kita jalan-jalan” ajaknya.

Dan begitulah, pagi itu mereka habiskan dengan berjalan-jalan di alam yang sejuk. Menelusuri keindahan pulau Jeju. Memotret pepohonan dan ranting dari halaman gereja. Terus berjalan hingga lelah dan kemudian mendamparkan diri pada bangku kayu yang reyot di pinggir pantai, menikmati air kelapa yang segar.

Kyuhyun mengarahkan kameranya pada Sungmin yang sedang berusaha mencongkel daging buah kelapa. Dan kemudian terdengar bunyi ‘klik’ yang familiar saat Sungmin hendak memasukkan daging buah kelapa ke dalam mulutnya. Sungmin memandang Kyuhyun dan pura-pura merengut.

“Nice” kata Kyuhyun seraya melihat hasil jepretannya.

Sungmin hanya tersenyum dan mengambil kamera dari tangan Kyuhyun. Selanjutnya, Sungmin memotret Kyuhyun. Dan Kyuhyun memotret Sungmin. Mereka tertawa, seakan-akan semuanya sempurna. Seraya menikmati kelapa, mereka berbincang tentang materi.

“Sebagai seorang fotografer yang terkenal, bukankah kau bisa membeli apa saja yang kau mau Kyu?” kata Sungmin.

Kyuhyun memandang Sungmin. Dengan nada serius ia berkata,

“Tidak, kau salah. Buktinya aku tidak bisa membeli hatimu. Dan itu adalah satu hal yang paling aku inginkan di dunia ini. Membeli hatimu dan menjadikannya milikku selalu”

Sungmin terdiam memandang Kyuhyun, dan kemudian mengalihkan pandangannya pada buah kelapa di depannya. “Memang, tidak semua dapat dibeli dengan materi” gumamnya pelan.

Pukul sebelas mereka kembali ke hotel. Kyuhyun mengantar Sungmin hingga ke depan pintu kamarnya. Ia melepaskan genggaman tangannya dan memandang pemuda manis itu lekat-lekat. Kyuhyun menyentuh wajah Sungmin dengan lembut. Dan dengan lembut pula, ia mencium bibir plump itu.

“Aku mencintaimu Lee Sungmin” bisik Kyuhyun, sebelum pria bertubuh tinggi itu beranjak pergi.

Sungmin terdiam memandang punggung Kyuhyun yang menjauh pergi, dan menghilang di ujung lorong. Kemudian ia beranjak masuk ke dalam kamar. Sungmin menghempaskan tubuhnya diatas ranjang dan mendesah. Sungmin tahu, mungkin ia egois karena menginginkan Kyuhyun dan Dia. Tapi ia tidak pernah memaksa Kyuhyun untuk tinggal. Jika suatu hari akhirnya Kyuhyun lelah menjadi yang kedua, Sungmin mengerti. Ia tahu bahwa Kyuhyun berhak mendapatkan seseorang yang menganggapnya sebagai satu-satunya. Mungkin, akan lebih mudah bagi Sungmin jika Kyuhyun pergi. Dengan begitu, ia tidak perlu memilih.

“Tetapi kau tetap tinggal, Kyu. Dan itu membuatku semakin berat, jika suatu saat harus melepaskanmu…” kata Sungmin lirih.

~+~+~+~

 

“Miringkan kepalamu ke kanan sedikit hyung”

Sungmin memiringkan kepalanya sesuai arahan dari Kyuhyun. Dan suara shutter kamera kembali terdengar. Pagi ini mereka kembali melakukan pemotretan yang sibuk. Setelah sesi pertama usai, mereka beristirahat sejenak sebelum mulai dengan sesi pemotretan selanjutnya. Sungmin memandang Kyuhyun yang sedang sibuk berbicara dengan beberapa staff.

“Bukankah dia lebih baik?” kata manajer hyungnim tiba-tiba.

Sungmin menoleh memandang manajernya yang duduk di dekatnya. “Apa?” katanya.

“Kau tahu? Aku selalu berpikir bahwa Kyuhyun jauh lebih baik untukmu. Dibandingkan dengan Dia yang selalu menghilang sesukanya, bukankah Kyuhyun selalu ada untukmu? Dengan Kyuhyun, kau bisa mempunyai hubungan yang matang. Kau akan lebih terkendali dan tidak terlalu sering tiba-tiba menghilang seperti kekasihmu yang aneh itu”

Sungmin hanya terdiam memandang manajernya. Manajer hyungnim menepuk pelan bahu Sungmin dan beranjak pergi. Sungmin kembali memandang Kyuhyun. Kyuhyun memang tidak pernah mempermasalahkan dunia lain yang Sungmin miliki di balik cermin. Pria tampan itu tidak pernah mempertanyakan, apalagi meminta Sungmin untuk memilih. Kyuhyun hanya mengada di saat-saat Sungmin membutuhkan seseorang. Begitu saja. Tanpa syarat. Kyuhyun yang menghapus air mata Sungmin ketika sesekali Dia membuatnya sakit hati. Kyuhyun yang ada disisinya ketika Dia tidak ada, dan menyingkir ketika Dia hadir.

Namun ketika Sungmin tengah berpikir tentang cinta, bukan wajah Kyuhyun yang terbayang. Tapi justru sosok pria berambut burgundy red itulah yang melingkupi hatinya dengan ratusan kupu-kupu. Dia yang selalu bisa membuat jantung Sungmin berdegup lebih kencang. Dan sesi-sesi pemotretan yang mereka lalui bersama selama beberapa hari itu membuat Sungmin sadar, bahwa hidupnya hanya terdiri dari dua jarum kompas. Kyuhyun dan Dia. Hati Sungmin, tentu saja, selalu menunjuk ke Utara. Dan ia, maupun Kyuhyun, selalu tahu bahwa Utara adalah Dia. Tetapi Utara tidak akan ada tanpa Selatan, begitu pula sebaliknya. Semua jadi nampak rumit. Kusut.

~+~+~+~

 

Itu adalah hari terakhir di pulau Jeju. Sungmin dan Kyuhyun memutuskan untuk menghabiskan hari itu bersama, menelusuri alam Jeju yang indah sebelum akhirnya harus kembali terbang ke Seoul besok pagi. Sungmin memandang Kyuhyun yang sibuk memotret. Pepohonan, ranting, alam yang hijau. Diam-diam Kyuhyun pun mengarahkan kameranya untuk menangkap siluet Sungmin.

“Kyu, bagaimana menurutmu…tentang cinta yang tak harus memiliki? Apa itu benar?” tiba-tiba Sungmin bertanya.

Kyuhyun menurunkan kamera dari wajahnya. Ia memandang Sungmin, lekat-lekat.

“Tidak,” katanya. “Cinta tak harus memiliki itu bohong, semua orang ingin memiliki, bahkan terkadang harus saling memiliki!

“Melihat orang yang kita cintai bahagia dengan orang lain pun juga bohong, kita hanya berpura-pura bahagia di saat hati kita sakit, itu mengajarkan kita untuk munafik!

“Lebih bahagia dicintai daripada mencintai itu salah, karena saat kita dicintai kita hanya merasa bangga, tapi disaat kita mencintai kita bisa merasakan arti cinta yang sesungguhnya.”

Sungmin terpaku mendengarnya. Ia mengerjap memandang Kyuhyun.

“Itu, mungkin terdengar benar…” katanya.

Kyuhyun mengulurkan tangannya menyentuh wajah Sungmin. Ia memandang Sungmin lekat-lekat, berusaha mencari sesuatu dibalik binar foxy itu. Sungmin menyentuh tangan Kyuhyun yang berada di wajahnya dan menggenggamnya dengan erat. Kyuhyun masih memandang Sungmin lekat-lekat. Hingga akhirnya Kyuhyun menyerah, karena wajah manis itu terlalu banyak menyembunyikan sesuatu. bahkan seolah lensa kamera Kyuhyun pun tak bisa menembus apa yang ada dibaliknya.

“Kau tahu,” kata Kyuhyun. “terkadang kalau sedang melihatmu yang memandang ke kejauhan, aku selalu bertanya-tanya apa yang mendesak-desak dari dalam dirimu? Apa yang ada disana dan tidak pernah menemukan jalan keluar.”

“Maksudmu?”

“Seperti ini,” Kyuhyun menarik tangannya dari wajah Sungmin. “Seperti pada saat-saat kita sedang bersama, atau duduk bersebelahan. Begitu dekat, sekaligus begitu jauh. Aku selalu takut bahwa ketika kau melihatku, kau sebenarnya tengah memandang masa lalu.”

Sungmin terdiam. Kyuhyun kembali mengarahkan kameranya pada bunga-bunga. Dan suara ‘klik’ kembali terdengar. Kyuhyun berhenti saat tiba-tiba Sungmin memeluknya dari belakang. Pemuda manis itu hanya memeluknya, tanpa mengatakan apapun. Kyuhyun menyentuh tangan Sungmin yang memeluknya erat, dan ia pun juga terdiam. Membiarkan udara hangat mengalir diantara mereka.

Sungmin terus memeluk Kyuhyun dan berpikir, mungkin ia hanya takut. Takut kehilangan cinta yang selalu ada, juga takut kehilangan cinta yang meledak-ledak. Sungmin selalu bertanya kepada dirinya, mengapa ia tidak bisa mendapatkan keduanya dalam diri satu orang? Tetapi mungkin cinta diciptakan sebagai semacam permainan diatas meja judi. Tidak ada pilihan mudah. Ada dua peluang sama besar, dan kita hanya punya kesempatan satu kali melempar. Dan Sungmin sadar, bahwa ia masih menjadi pengecut yang menggenggam dadunya erat-erat.

“Are you ok?” tanya Kyuhyun seraya menoleh, mencoba mengintip Sungmin yang terus memeluknya dalam diam.

Sungmin melepaskan pelukannya.

“Yeah…” katanya

Kyuhyun menegadah memandang langit. Awan-awan putih berarak dilangit yang cerah. Seraya memandang langit Kyuhyun berkata, “Kau tahu, jika bisa, aku ingin mewarnai awan-awan itu. Pink. Aku akan memasukkannya ke kotak makan siangku, dan memberikannya padamu sebagai pengganti gulali. Apa kau akan senang menerimanya?”

Sungmin tertawa mendengarnya. Dan kemudian terdengar suara ‘klik’ yang familiar. Kyuhyun memotretnya. “Aku senang melihatmu tertawa,” katanya. “Kau tahu hyung, suatu hari nanti, jika kita tidak bisa bertemu lagi, seperti inilah aku akan mengingatmu. Kau yang tertawa.”

Sungmin terdiam memandang Kyuhyun. Saat itu ia sadar, bahwa Kyuhyun pun mengerti : betapa mereka sesungguhnya hanya menghitung hari, hingga saat-saat yang penghabisan. Dan sepertinya, mereka hanya punya sisa sedikit waktu. Sangat sedikit.

~+~+~+~

 

Pagi hari di Incheon airport. Penerbangan pertama dari Jeju, pesawat yang membawa Kyuhyun dan Sungmin, juga staf yang lain kembali ke Seoul. Sungmin tersenyum saat melihat sosok Dia diantara orang-orang yang menjemput. Pria berambut burgundy red itu melambaikan satu tangannya pada Sungmin. Segera Sungmin menarik kopernya lebih cepat dan memeluk pria berambut burgundy red itu dengan senang.

“Bagaimana perjalanannya?” tanya Dia.

“Cukup melelahkan, tapi juga menyenangkan,” jawab Sungmin. “Kupikir aku tidak akan melihatmu hari ini.”

Pria berambut burgundy red itu tersenyum dan memindahkan aroma menthol dari rongga mulutnya ke atas lidah Sungmin. “Aku merindukanmu” katanya.

Sementara itu, Kyuhyun hanya terdiam menyaksikan pemandangan itu. Kini ia berada di ruangan yang sama dengan Sungmin, tetapi pemuda manis itu bahkan tidak menyadari keberadaan Kyuhyun. Kyuhyun berharap Sungmin akan menoleh ke arahnya. Atau mencarinya dengan hatinya. Kemudian raut wajah Sungmin akan berubah cerah, sekaligus resah, karena pemuda manis itu tahu bahwa Kyuhyun ada. Selalu ada.

Tetapi tidak. Sungmin terlalu sibuk dengan pria berambut burgundy red itu. Hanya Dia yang ada dalam jarak pandang Sungmin. Dan Kyuhyun merasa ia seperti hantu yang datang dari masa lalu. Sesuatu yang ingin Sungmin usir pergi untuk tidak pernah ia lihat lagi. Kyuhyun masih memperhatikan mereka. Sungmin memeluk lengan Dia dan Dia menarik koper milik Sungmin. Mereka beranjak pergi. Kyuhyun masih berdiri di tempatnya selama beberapa saat, mendesah pelan dan akhirnya menarik kopernya pergi.

~+~+~+~

 

Mungkin pada dasarnya, Kyuhyun memang tidak percaya pada hati yang bercabang. Baginya, selalu hanya ada satu untuk setiap kali. Ketika sedang bersama Sungmin, yang ada hanya masa kini. Tidak ada masa lalu atau masa depan yang Kyuhyun ijinkan untuk turut ambil bagian. Karenanya Kyuhyun tidak bisa mengerti dengan konsep perpisahan yang Sungmin tawarkan pagi itu.

“Menurutku, kita membutuhkan jarak. Membutuhkan ruang. Demi kita” kata Sungmin.

Kita? Selalu ada perasaan sesak menyekap setiap kali membicarakan hal itu. Kyuhyun memandang Sungmin tidak mengerti. Sungguh, ia tidak mengerti. Akhirnya Sungmin memilih Dia-bukan dirinya, sekaligus berkata bahwa ia melakukannya demi ‘kita’. Ada sesuatu yang sangat salah disini. Sesuatu yang tidak bisa Kyuhyun pahami.

“Aku tidak mengerti. Kenapa?” kata Kyuhyun, sedikit gusar.

“Kyu, kebersamaan kita menyakitkan. Semakin lama kita bertahan, semakin perih luka yang akan kita timpakan diatas satu sama lain. Perpisahan ini untuk kebaikan kita berdua. Demi kita. But I love you forever” kata Sungmin.

“Demi kita?” Kyuhyun mengernyit. “Tidak, kau memang sudah tidak menginginkanku lagi. Jika kau mencintaiku, kau akan berada disisiku, bersamaku. Kita akan tertawa, berselisih paham, berpelukan, menangis, membagi langit yang terlalu luas untuk dipandangi sendirian dan menengadah pada bintang-bintang. Kita akan menyembuhkan setiap perselisihan dengan kecupan, menghapus air mata dengan tawa. Jika kau mencintaiku, kau tidak akan pergi meninggalkanku, dan memilih untuk bersamanya. Kau akan berada disini, bersamaku, menggenggam tanganku……”

Dan begitulah. Pagi itu, disini, mereka berpisah.

Semua ini terlalu rumit untuk Kyuhyun. Perpisahan pagi itu, dirasa terlalu berat bagi Kyuhyun. Rasanya sangat menyesakkan, juga menyebalkan. Kyuhyun berpikir, seandainya mereka tidak perlu menyembunyikan rasa yang mereka punya, dan cukup berani untuk menamainya cinta, mungkin akan ada lebih banyak waktu dan lebih banyak kenangan yang bisa ia simpan. Tetapi Sungmin terlanjur pergi meninggalkannya.

Hari demi hari, Kyuhyun mencoba untuk menemukan bahwa perpisahan itu melukai mereka, jauh lebih dalam. Jika keduanya, kebersamaan dan perpisahan—sama-sama melukai, mengapa mereka tidak terluka saja berdua, dan bukan sendiri-sendiri?

Semua itu omong kosong!

~+~+~+~

Pesta pernikahan itu nampak meriah. Alunan music jazz, wine, dan pasangan pengantin baru yang bahagia. Malam ini langit Seoul nampak cerah, namun langit hati Kyuhyun tengah menurunkan hujan. Kyuhyun memandangi sosok manis itu dari kejauhan. Sungmin—dan Dia. Mereka berdiri berdampingan, tersenyum, membenturkan gelas-gelas wine mereka, berpelukan, tertawa, menyapa wajah-wajah asing yang memberi ucapan selamat dan tepukan bersahabat di bahu. Lalu pria berambut burgundy red itu meremas jemari Sungmin, dan Sungmin mengecup pipinya.

Seharusnya Kyuhyun sudah terbiasa dengan semua ini. Dengan rasa sakit ini. Dengan rasa perih yang mendesak-desak dibalik kelopak matanya. Kyuhyun menengadahkan wajahnya ke langit, kemudian ia menekan-nekan kelopak matanya untuk mengusir rasa itu pergi. Tetapi rasa itu tidak mau hilang dan tetap bertahan. Tentu saja, karena rasa itu tak ada disana. Pedih itu bukan di mata, tetapi dihatinya. Sejenis ketiadaan akan sosok Sungmin yang meremukkan segalanya. Menyesakkan.

Mungkin seharusnya Kyuhyun tidak berada disini. Seharusnya ia tidak datang. Mungkin seharusnya ia segera beranjak pergi meninggalkan tempat ini, meninggalkan Sungmin di belakang. Tetapi Kyuhyunlah yang memilih untuk tetap berada disini. Hanya sekedar untuk melihat Sungmin, yang bersama Dia, diatas rasa sakit yang kini sudah berubah menjadi candu.

Kyuhyun menyesap gelas wine miliknya, masih tidak mengalihkan pandangannya dari Sungmin. Menyadari bahwa kini tidak ada lagi ‘kita’, bahkan untuk sekerat impian lama yang sejak semula mereka bangun berdua. Hanya Sungmin, dan ada pria berambut burgundy red itu disampingnya, yang berbagi malam ini bersamanya.

Kyuhyun tidak menangis. Tidak berteriak. Tidak bertanya mengapa Dia—dan bukan dirinya. Karena Kyuhyun tahu, bukankah mereka memang tidak pernah bicara tentang cinta ketika memutuskan untuk bersama? Bukankah seperti selalu, seperti selayaknya, mereka hanya mengada? Tanpa pernah mempertanyakan rasa macam apa yang selama ini mereka genggam dalam jari-jemari yang bertaut?

Tapi Kyuhyun tidak tahu, apakah ia harus merasa bahagia untuk Sungmin? Atau merasa terluka untuk masa lalu?

~+~+~+~

 

Pagi hari di bandara Incheon. Penerbangan pertama menuju Hongkong akan segera berangkat. Kyuhyun menyeret koper hitam miliknya memasuki gerbang keberangkatan. Koper hitam yang terasa berat karena disesaki sekian kenangan tentang Sungmin. Setelah melewati segala macam prosedur dan administrasi Kyuhyun menaiki pesawat, mencari nomor kursinya dan kemudian menghempaskan tubuhnya dengan nyaman.

Lima menit kemudian pesawat itu pun akhirnya terbang meninggalkan landasan. Meninggalkan Seoul dan menuju Hongkong. Kyuhyun memandang keluar jendela. Ia tahu perjalanan ini tidak akan mengobati luka. Meninggalkan Sungmin disini, di Seoul, tidak berarti Kyuhyun lupa. Ia tidak mungkin melupakan Sungmin begitu saja, seperti membuang sampah. Tidak, Kyuhyun hanya lelah. Bertahun-tahun ia mengejar Sungmin dengan sayap-sayap patah, menuju tempat-tempat dimana pemuda manis itu berada, hanya untuk menemukannya bersama Dia. Tertawa bahagia. Sungmin akan baik-baik saja tanpa dirinya, sementara Kyuhyun tidak tahu apakah ia masih sanggup terbang menggapai Sungmin. Atau haruskah ia melepaskannya?

~+~+~+~

Di detik yang merapuh ini, Kyuhyun sendirian, menyusuri Tsim Sha Tsui sambil menyanyikan I’m Walking on Sunshine yang selalu bisa membuat suasana hati berubah ceria. Disini ia kesepian. Tanpa Sungmin. Selama bertahun-tahun ini, Kyuhyun lebih memilih untuk sendiri. Untuk hidup hanya dari kenangan-kenangan akan Sungmin. Ia memilih untuk hidup di masa lalu, bersama Sungmin. Ia mencoba menghentikan waktu ditempatnya, sehingga selamanya hanya akan ada dirinya dan Sungmin.

Terkadang Kyuhyun terbang menuju tempat-tempat dimana Sungmin berada, hanya untuk melihatnya dari kejauhan. Mengikuti apa yang terjadi dalam kehidupan Sungmin, seolah-olah ia masih menjadi bagian di dalamnya. Kyuhyun kerap menuliskan surat-surat untuk Sungmin, yang tak pernah ia kirimkan, hanya agar ia merasa bahwa Sungmin masih ada untuk mendengarkan cerita-ceritanya. Tetapi waktu terus berjalan. Sungmin dan Dia terus bersama-sama, melewati sekian tahun, memiliki satu sama lain. Memiliki masa depan.

Sementara Kyuhyun, yang ia miliki hanya masa lalu yang sendirian.  Kyuhyun tidak melupakan Sungmin. Belum. Meskipun ia ingin. Karena alangkah lebih baiknya jika seperti itu. Kyuhyun tidak perlu mengingat betapa mereka memutuskan untuk menempuh jalan yang berbeda sama sekali. Sendiri-sendiri. Meninggalkan apa yang pernah mereka miliki tanpa pernah memutuskan apakah mereka akan kembali, atau apakah mereka akan bertemu lagi suatu saat nanti.

Kyuhyun sadar, waktu mereka telah habis. Sungmin telah memilih meninggalkannya, dan bersama Dia. Diam-diam, Kyuhyun masih setengah berharap bahwa hari itu bukanlah hari terakhir mereka.  Bahwa Sungmin akan kembali. Bahwa mereka tidak sungguh-sungguh berpisah. Mungkin Sungmin akan mengirimkannya pesan beberapa bulan kemudian. Pemuda manis itu akan muncul di hadapannya dengan segelas hot caramel macchiato ukuran grande. Kemudian mereka akan menghabiskan malam bersama, seperti selalu.

Tetapi Sungmin tidak kembali. Kyuhyun tidak pernah mendengar kabarnya lagi, kecuali kicauan Twitter-nya yang sekali-sekali itu. Dan menunggu setiap kicauannya itu rasanya lama sekali. Kicau yang tidak pernah cukup mengkompensasikan ketidakhadiran Sungmin di sini. Bersamanya.

~+~+~+~

Date       : Oct 4, 2017

TO          : Lee Sungmin

Subject  : Tentang maaf

 

Bisakah kita, setidaknya, kembali menjadi teman? Karena bukankah kita semua, layak mendapatkan kesempatan kedua?

————————————————–

Dan Kyuhyun menekan tombol “save as draft”.

.

.

.

.

Fin

5 thoughts on “Are we together ?

  1. kyuuuuuuuuu ….. #nangis sesegukan
    kamu tabah banget yee, kamu udah tau kalo ming itu bakalan lupain kamu kalo ming lagi sama dia, tpi kamu tetep jaga dia dari kejauhan …

    Ming, masak kamu cinta dua2 sih … Ngak boleh kek gitu, kan kamu udah nikah sama ”dia” jdi kyu nya buat aku aja y …😀

  2. T~T mewek pagi2…
    kyuuu~ segitu cintanya kah sama ming ampe selalu rela jd yg kedua…
    ini yg jd Dia”nya itu yesungkah…
    cz ngebayangin yesung di mv SFS kkkk~

  3. Aku bingung harus bilang apa, Kyuhyun yang menderita adalah kelemahanku setiap baca ff, mudah kali meresap dihati jika KyuMin terluka, dan terluka karna mencintai itu benar” neraka.
    Kyuhyun, bisakah kau lupakan Sungmin dan lihat aku? *plaaaakkk
    kak, si Dia itu siapa sih? Aku pnasarn =,=

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s