KyuMin series B : One night only

Gambar

Pairing          : KyuMin / YeWook

Genre           : Angst

Length          : One Shot

Warning         : Boys love, shounen-ai

Disclaimer     : Story belong to me, KyuMin dan YeWook belong to each other

Summary        : Kenapa cinta harus dicipta dari perselingkuhan yang sempurna?

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

Kyuhyun beranjak bangun dan meraih pakaiannya yang tersampir disamping tempat tidur. Memakainya dan menoleh memandang Sungmin yang masih tertidur membelakanginya. Kyuhyun tersenyum kecil kemudian mengalihkan pandangannya ke atas meja. Ia mengedarkan pandangannya mencari benda kecil miliknya yang penting. Benda yang selalu melingkar dijari manisnya sebagai simbol, namun selalu ia lepaskan saat sedang bersama Sungmin. Cincin pernikahan.

 

Namun ia tidak menemukan benda itu. Kyuhyun memandang jam tangannya. Saatnya ia pergi.

“Sudahlah” kata kyuhyun kemudian beranjak pergi.

 

Sungmin membuka matanya saat terdengar pintu tertutup. Ia membuka telapak tangannya yang menggenggam sesuatu. Cincin milik kyuhyun. Sungmin beranjak bangun dan berjalan ke jendela. Ia memandang mobil kyuhyun yang melaju pergi kemudian kembali memandang cincin milik kyuhyun ditangannya. Membayangkan kyuhyun yang kembali pada seorang perempuan yang ia sebut sebagai istrinya, yang selalu menunggunya dirumah. Sementara ia disini, menunggu malam tiba untuk dapat memiliki kyuhyun hanya untuknya.

 

Tapi sungmin sadar, berapa malam pun yang ia lewati, Kyuhyun tidak pernah bisa ia miliki sepenuhnya. Meski hanya satu malam. Itu adalah konsekuensi saat ia menyetujui perselingkuhan ini. Mengucapkan selamat tinggal pada idealisme yang terlacurkan di persimpangan jalan. Ada beberapa rambu yang harus Sungmin ikuti. Mengatur jam berapa menelepon (“jangan menelpon terlalu malam, istriku ada dirumah”), putus kontak saat akhir pekan, pesan pendek dan terburu–buru, mengubah namanya di phone book ponsel Kyuhyun menjadi nama lain, harus sembunyi–sembunyi saat ingin bertemu.

 

Yang paling membuat sungmin menderita adalah saat malam tiba. Membayangkan Kyuhyun di ujung sana yang mungkin sedang melakukan kewajibannya sebagai seorang suami. Sementara ia disini menghabiskan malam sepi sendirian, menunggu malam–malam yang dijanjikan oleh Kyuhyun. Malam dimana ia bisa memiliki kyuhyun hanya untuknya.

 

Mungkin ia sudah gila saat menyetujui perselingkuhan ini. Tetapi rasa cinta yang bermain di hatinya lebih besar daripada seluruh tabungan akal sehat di kepala Sungmin. Sungmin bukannya tidak mengetahui situasi yang sedang dihadapinya. Bukannya tidak bisa melihat ujung semua ini. Sungmin sadar, kapan saja ia bisa kehilangan Kyuhyun. Entah kenapa ia tetap membiarkan dirinya terlena. Sungmin sedang jatuh cinta, ia tidak butuh realita. Cinta yang ia rasakan saat ini seperti efek morfin yang menyenangkan. Memberikan rasa enak yang sedikit, dan tetap menyisakan rasa sakitnya. Perasaan semu. Kebahagiaan semu. Sungmin tahu ia harus berhenti. Entah kapan.

 

Sungmin mendesah perlahan dan menyimpan cincin milik Kyuhyun. Berpikir berapa malam lagi ia bisa menunggu. Kemudian menikmati paginya seperti biasanya. Tanpa kyuhyun, hingga malam tiba nanti.

 

 

****

 

Drtt…drtt…drrt…

 

Sungmin membuka matanya memandang jam digital disamping tempat tidur. Hampir jam dua pagi. “Siapa sih yang menelepon dini hari begini? Mengganggu tidur saja” gerutu sungmin.

 

Sungmin melirik ponselnya yang tergeletak tanpa nyawa di dekat jam digital. Bukan ponselnya yang bergetar. Sungmin menoleh memandang Kyuhyun yang sedang terlelap dengan memeluk pinggangnya.

 

“Kyu, ponselmu…” kata Sungmin menepuk pelan tangan Kyuhyun.

 

Kyuhyun menggeser tubuhnya ke sudut tempat tidur. Tangannya meraba–raba mencari ponselnya yang terus bergetar. “Yoboseo?,” jawabnya masih dengan mata terpejam. “Hahh? Mworago?”

 

Kyuhyun tiba–tiba melonjak bangun. Sungmin ikut–ikutan bangun karena kaget. Ia memandang Kyuhyun. Mendengar suaranya yang tiba–tiba melembut. Dalam hitungan detik Sungmin segera tahu Minji–lah, istri Kyuhyun, yang menelepon. Desiran cemburu tiba–tiba saja mendesak di dada.

 

“Sudah ke dokter? Kau yakin tidak salah makan sore tadi?” kata Kyuhyun.

 

Kyuhyun beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju beranda kamar. Wajahnya terlihat serius, sedikit panik. Sungmin memperhatikan Kyuhyun dan mendengar percakapan mereka.  Perasaannya berubah tidak enak.

 

“Jangan nangis chagi. Tahan ya, sabar…”

“___”

“Sraseo, aku akan segera pulang. Sekarang kau tidurlah kembali”

“___”

“Ara ara, chagi… I miss you too

Klik!!!

 

Chagi??!! Miss you too ??!! Sungmin mengernyit tidak suka mendengarnya.

“Minji?” tanya Sungmin sekembali Kyuhyun dari beranda.

 

Kyuhyun hanya mengangguk pelan.

“Ada apa telepon pagi–pagi buta begini? Rindu?” tanya Sungmin tidak bisa menyembunyikan nada sinis bercampur cemburu dalam suaranya.

 

“Dia sakit” jawab Kyuhyun.

“Ow…manja sekali” kata Sungmin sinis.

 

“Dia hanya muntah–muntah. Mungkin efek keham—“ Kyuhyun menghentikan kalimatnya, seperti salah bicara.

 

“Hamil?! Hah? Minji hamil?” tanya Sungmin terkejut.

 

Sungmin menarik bahu Kyuhyun agar berbalik menghadapnya. Kyuhyun terdiam. Tapi Sungmin dapat membaca kegelisahan yang terangkum dalam gerak–gerik tubuh Kyuhyun. “Kyu!” seru Sungmin tidak sabar. “Minji hamil?” ulang Sungmin seraya mengguncang–guncang tubuh Kyuhyun.

 

“Ne…” jawab Kyuhyun lemah.

“Sejak kapan? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?” tanpa sadar nada suara Sungmin meninggi.

 

“Minji baru saja memberi tahu” kata Kyuhyun.

 

Sungmin terdiam. Merasakan dadanya yang terasa sesak dan matanya yang memanas perlahan. Ia memandang kyuhyun yang bersiap untuk pergi. “Kau mau kemana?” tanya Sungmin.

 

“Aku harus pulang” jawab Kyuhyun tanpa menoleh.

 

“Mwo? Hei..tunggu dulu Cho Kyuhyun. Ini masih jam dua pagi, dan kau sudah berjanji untuk bersamaku hari ini” kata Sungmin.

 

“Maafkan aku hyung. Aku akan menggantinya dengan hari lain. Aku janji” kata Kyuhyun membelai wajah Sungmin dengan lembut kemudian memakai jaket hitam kesayangannya.

 

“Mwo? tidak sesederhana itu Kyu! Kau sudah berjanji padaku!” kata Sungmin mendengus tidak percaya.

“Aku harus pulang hyung. Aku harus pulang sekarang” kata Kyuhyun tegas.

 

Sungmin terdiam memandang kesungguhan yang terpancar dari mata Kyuhyun. Kesungguhan, untuk tidak dibantah. Sungmin tahu, sia–sia jika dia mengeluarkan argumentasinya. Sungmin menatap Kyuhyun kecewa. Kecewa bukan karena kepulangannya yang tiba–tiba, atau karena lagi–lagi Kyuhyun mengingkari janjinya. Sungmin kecewa karena akhirnya Kyuhyun memilih kembali ke tempat dia seharusnya berada.

 

Sungmin membiarkan Kyuhyun mengemasi barang–barangnya dan mengulangi penjelasan yang sama berkali–kali tentang kepergiannya yang tiba–tiba. Berjanji untuk segera menghubunginya nanti dan bertemu di hari yang lain. Sungmin tahu, ia harus menunggu lagi malam yang lain.

 

Sungmin tidak bergeming, juga tidak melepas kepergian Kyuhyun seperti di hari–hari lalu. Ia bahkan tetap diam saat kyuhyun berpamitan dan mengecup pipinya. Entah mengapa Sungmin merasa begitu kehilangan, tidak berdaya dan sendirian. Hanya dirinya dan tumpukan rasa kesepian dikamarnya yang sepi. Masihkah ia bisa menunggu? Perlahan air mata sungmin mengalir.

 

****

 

Di luar hujan menitik dengan cepat. Bersetubuh dengan bumi yang mulai mengigil.  Sungmin duduk didepan piano yang hanya mampu ia tatap sedari tadi. Jari–jarinya hanya mampu meraba–raba tuts itu tapi tak mampu membunyikannya. Ada ragu kalau saja nada itu telah berubah, tidak lagi seperti biasanya. Sungmin masih memandang piano didepannya. Berharap ia bisa memainkan sesuatu, seperti yang biasa ia lakukan.

 

“Sampai kapan kau terus memandang benda itu?” tanya Kyuhyun yang sedang menikmati wine favoritnya didepan TV.

 

“Entahlah. Aku berharap bisa memainkan sesuatu. Tapi…aku tidak bisa menemukan nadanya” jawab Sungmin tanpa menoleh.

 

Jari–jari sungmin meraba tuts berwarna putih dan hitam itu, dan menekannya perlahan. Menghasilkan suara yang terdengar ragu ditelinga Sungmin. Seperti keraguan yang sedang bermain dalam dirinya. Sungmin menghentikan jari–jarinya dan beranjak ke pinggir jendela. Titik hujan memercik membasahi permukaan kaca jendela. Menghujam bumi yang tidak berdaya dengan dinginnya.

 

Kyuhyun meletakkan gelas winenya. Beranjak mendekati Sungmin dan memeluknya dari belakang. “Mworago hyung? Kau terlihat gelisah” tanya Kyuhyun.

 

Sungmin menoleh memandang Kyuhyun. Ia memandang Kyuhyun dengan dalam. Mencoba menghitung setiap malam yang ia lewati untuk menunggu Kyuhyun. Hampir setiap sepertiga malam ia menunggu. Gemetar menangkup kekhawatiran jika saja Kyuhyun tidak datang. Sungmin memandang Kyuhyun seakan ia sedang memandang cermin yang hanya mampu saling menatap.

 

“Adam atau ibliskah kau Kyu?” tanya Sungmin masih memandang Kyuhyun.

“Mwo?” kata Kyuhyun mengernyit tidak mengerti.

 

“Adam atau ibliskah kau Kyu?” ulang Sungmin.

“Apa maksudmu hyung?” tanya Kyuhyun tidak mengerti.

 

Sungmin melepas tangan Kyuhyun yang sedang memeluknya dengan hangat. Beranjak menghempaskan tubuhnya disofa. Mengambil sebotol wine diatas meja dan menenggaknya perlahan.

 

“Sampai kapan kita terus seperti ini Kyu? Perselingkuhan ini terlalu sempurna” kata Sungmin.

 

“Tapi kita menikmatinya bukan. Aku sangat menikmati saat bersamamu hyung” kata Kyuhyun tersenyum.

 

Sungmin mendesah pelan dan berkata,

“Aku melewati malamku memandang pintu dengan cemas, bila saja kau tidak bisa datang karena perempuan itu. Memandang ponselku, berharap benda itu bergetar dan aku bisa mendengar suaramu. Aku masih disini dengan kesetiaanku Kyu”

 

Sungmin mengangkat botol winenya dan berniat meminumnya. Namun Kyuhyun mengambilnya dan meletakkannya diatas meja. Ia duduk disamping Sungmin dan memandangnya dengan cemas.

 

“Mworago hyung?” tanya Kyuhyun.

 

Sungmin menggelengkan kepalanya pelan.

“Entahlah. Kepalaku rasanya terlalu penuh hingga aku tidak sanggup berpikir lagi. Yang aku tahu aku mencintaimu Kyu. Sangat mencintaimu” jawab Sungmin lirih.

 

“Aku juga mencintaimu hyung. Kau tahu itu” kata Kyuhyun.

 

Sungmin kembali menggelengkan kepalanya dengan pelan dan tersenyum sedih. Ia berkata,

“Kau tahu? Hampir setiap malam aku harus melawan bahasa cintamu yang mengerikan ini Kyu. Dan aku sadar, berapa malam pun yang aku lewati. Berapa banyak waktu yang kita miliki, tidak akan cukup. Meski aku adalah milikmu, kau tidak bisa kumiliki sepenuhnya”

 

Kyuhyun mengangkat tangannya dan menunjukkan jari manisnya yang kosong. “Lihat. No ring” katanya.

 

“Tapi saat cincin itu kembali melingkar dijarimu, kau bukan lagi milikku Kyu. Kau bahkan akan jadi seorang ayah” kata Sungmin memandang Kyuhyun dengan sedih.

 

Sungmin mendesah perlahan dan berkata,

“Kenapa harus ada orang lain dihatimu Kyu? Kenapa bukan aku yang mengisi tempat itu? Kau tahu bagaimana perasaanku harus berpura–pura tidak peduli saat kau sedang bersamanya dirumahmu? Sementara disini aku mengigit jariku dan bermain dengan kesepian,”

 

Kyuhyun tidak menjawab dan hanya memandang Sungmin.

“Terkadang aku berpikir, aku bisa saja bertemu dengan orang lain lalu mencintainya, juga mencintaimu. Dan aku akan menginginkannya, seperti aku menginginkanmu. Kenapa cinta harus diciptakan dari perselingkuhan yang sempurna?” kata Sungmin mendengus geli bercampur sedih.

 

“Kau tidak protes saat menyetujui hal ini hyung” kata Kyuhyun mengernyit.

 

“Aku tidak tahan lagi Kyu. Sepertinya aku tidak bisa lagi menunggumu. Rasanya mulai menyakitkan” kata Sungmin.

 

“Hyung…” kata Kyuhyun.

 

Sungmin menundukkan kepalanya dan terdiam selama beberapa saat.

“Perselingkuhan ini begitu sempurna. Hampir membuatku tak bisa bernafas” kata Sungmin lirih masih menunduk.

 

Kyuhyun terdiam sesaat. Menyentuh wajah Sungmin dengan lembut dan mengangkatnya menghadapnya. Ia dapat melihat sebuah luka yang terbalut dalam bola mata yang berwarna cokelat itu.

 

“Beritahu aku hyung, apa yang paling kau inginkan sekarang?” tanya Kyuhyun memandang Sungmin dengan serius.

 

Sungmin memandang Kyuhyun. Menghafal setiap jengkal dari wajahnya yang tampan. Kulitnya yang putih. Matanya yang bulat. Alisnya yang hitam. Senyum evil yang biasa menghiasi bibirnya. Raut jenaka yang selalu menghiasi wajahnya. Ia menyukai semua hal itu.

 

“Aku tidak bisa kau miliki sepenuhnya lagi Kyu” kata Sungmin kemudian.

 

Tidak ada yang bersuara selama beberapa saat.

“Begitukah?” tanya Kyuhyun memandang Sungmin dengan kecewa.

“Ne. Jadi, sebaiknya kita hentikan semua ini” jawab Sungmin.

 

“Wae? Kau tidak membutuhkanku lagi? Kau tidak ingin bersamaku lagi?” tanya Kyuhyun.

“Kita harus berhenti Kyu” jawab Sungmin.

 

Kyuhyun memandang Sungmin dengan serius. Mencari kebenaran dalam mata foxy Sungmin.

“Jangan lepaskan aku hyung. Minta apa saja yang hyung mau. Aku akan meninggalkan Minji begitu bayi kami lahir. Minta apa saja, tapi jangan ini. Saranghae hyung” pintanya.

 

“Kau tidak bisa melakukan hal itu Kyu” kata Sungmin.

“Tapi aku mencintaimu hyung. Aku membutuhkanmu” kata Kyuhyun.

 

Sungmin menggelengkan kepalanya.

“Sku sudah memikirkannya. Tentang aku, kamu, dan kita. Kita harus berhenti Kyu, karena aku sudah letih untuk terus berlari. Aku lelah mengingat semua telunjuk yang menuding wajahku. Aku memutuskan perpisahan” kata Sungmin.

 

Kyuhyun tertegun memandang Sungmin.

“Itukah yang paling kau inginkan?” tanya Kyuhyun.

 

Sungmin diam sesaat kemudian menganggukkan kepalanya.

“Itu yang paling ku inginkan” jawab Sungmin.

 

“Baiklah. Kalau begitu, pandang aku dan katakan perselingkuhan ini hanyalah sebuah permainan. Katakan kau tidak pernah mencintaiku” kata Kyuhyun.

 

Sungmin terdiam sesaat memandang kyuhyun dan menarik nafasnya perlahan.

“Sku tidak pernah mencintaimu cho kyuhyun. Aku hanya bermain–main denganmu. Sekarang sebaiknya kita hentikan permainan bodoh ini. Ini mulai membosankan” Sungmin berusaha terdengar serius.

 

Kyuhyun terdiam sesaat. Ia memandang Sungmin dengan terluka dan kecewa. Berharap ini hanya sebuah lelucon untuk April Mop yang terlalu cepat. Tapi Sungmin terlihat serius dan terluka. Kyuhyun sadar, mungkin ia terlalu egois meminta Sungmin untuk tetap disisinya, sementara dirumah ada orang lain yang menunggunya dengan calon bayinya.

 

“Baiklah. Kalau begitu aku pergi” kata Kyuhyun sedih.

 

Kyuhyun mengambil jaketnya yang tersampir diatas sofa dan beranjak pergi. Ia berhenti sesaat diambang pintu dan menoleh memandang Sungmin. “Kau yakin ini yang paling kau harapkan hyung?” tanya Kyuhyun berharap Sungmin akan menarik kembali kata–katanya.

 

Sungmin terdiam memandang pintu yang tertutup. Ia ingin sekali mengejar Kyuhyun dan menariknya kembali ke sisinya. Namun Sungmin tetap tidak beranjak dari tempatnya. Tubuhnya bergetar karena kebohongannya. Sungmin masih ingin menunggu malam untuk Kyuhyun. Sungmin masih ingin berada disisi Kyuhyun. Memilikinya meski hanya satu malam. Sungmin merasakan sudut matanya memanas, kemudian ia menangis perlahan.

 

“Ini yang terbaik…hiks hiks… Kyu~~” kata Sungmin terisak.

 

Suara gemuruh terdengar perlahan berlomba dibalik langit. Entah sejak kapan hujan menjadi sederas ini. Menghujam bumi yang tidak berdaya. Sungmin terlonjak kaget saat suara petir terdengar keras dari balik langit. Ia berdiri dan menoleh dengan bingung, mencari seseorang yang selalu melindunginya dari hujan dan petir yang ia benci. Tapi tidak ada siapapun. Tidak ada Kyuhyun disisinya.

 

Suara petir terdengar kembali dengan keras bersamaan dengan hujan yang kian deras. Sungmin bersembunyi dibawah piano. Menutup kedua telinganya, memeluk tubuhnya yang bergetar dan memejamkan matanya. Berharap matahari segera muncul menyingkirkan hujan dan petir yang ia benci. Berharap Kyuhyun ada disisinya saat ini.

 

Sungmin benci petir, karena itu membuatnya takut. Sungmin tidak suka saat hujan turun karena ia benci basah dan kotor. Tapi……saat hujan turun, Kyuhyun akan menyumpal kedua telinga Sungmin dengan earphone miliknya. Meredam suara petir yang Sungmin benci dalam alunan musiknya. Memeluk tubuh Sungmin dengan hangat dan menunggu hujan berhenti tanpa suara. Sungmin selalu menyukai saat–saat itu.

 

Diluar hujan masih menitik dengan deras. Disertai kilat dan petir yang masih bermain bersama. Kini ia sendirian. Tidak ada Kyuhyun lagi disini.

 

****

2 hari yang lalu…

 

Sungmin menatap lekat–lekat perempuan bertubuh mungil yang berdiri dihadapannya. Tingginya tak lebih dari 160 senti. Kulitnya yang putih. Rambutnya yang hitam panjang dibiarkan terurai dengan anggun.  Dia tersenyum malu–malu saat mengulurkan tangannya.

 

“Minji” ujarnya halus.

 

Sungmin dan Minji melangkahkan kakinya tanpa suara menyusuri taman kota yang cukup ramai. Kaki mereka berhenti disudut taman yang sepi agar bisa leluasa bicara. Sungmin menghempaskan tubuhnya disebuah kursi taman yang kosong sementara Minji duduk disampingnya dengan tenang. Sesekali Sungmin melihat mata perempuan ini sedikit berkaca–kaca, tapi dia sama sekali tidak menangis. Perempuan yang tegar, pikir sungmin.

 

Sungmin melirik perempuan yang duduk disampingnya dengan tenang dan berpikir, saat ini ia adalah singa lapar dan marah yang dapat menghancurkan rumah tangganya dalam sekejap. Tidak takutkah dia dengan kehadirannya? Atau jangan–jangan dia justru memandangnya iba?

 

Saat pertama melihat, Sungmin merasa iri. Perempuan ini memiliki semua yang Sungmin inginkan didunia ini. Kyuhyun. Hari ini, Sungmin ingin mencoba mengambil Kyuhyun darinya. Mengambilnya dan menjadikan Kyuhyun hanya miliknya. Bisakah ia? Atau ia akan menyerah?

 

Mungkin salah satu dari mereka sudah gila atau memiliki kekebalan luar biasa untuk tetap tinggal dan berbagi cerita. Tentang cinta, tentang pernikahan, tentang perselingkuhan. Seperti dua mata pedang yang tepat menusuk di ulu hati Sungmin, maupun Mi ji.

 

“Aku mencintai Kyuhyun. Sangat mencintainya” kata Sungmin.

 

Minji tersenyum samar dan mengelus perlahan perutnya yang masih rata, belum menunjukkan tanda–tanda kehamilan. Mata Sungmin mengikuti gerakan tangannya. Hatinya terasa nyeri. Perang mental diam–diam berkecamuk di dalam dirinya.

 

“Sungmin ssi…” panggil Minji.

“Ne…” jawab Sungmin.

 

“Saya juga mencintai Kyuhyun oppa. Satu paket dengan kelebihan dan kekurangannya. Ada banyak hal tentang Kyuhyun oppa yang mungkin tidak saya mengerti. Tapi, saya pikir sayalah orang yang paling bisa menerima dirinya. Apa adanya. Tapi mungkin saya salah,”

 

Sungmin melihat kilatan bening dari sudut mata beningnya.

“Saya percaya segala sesuatu ada yang mengatur. Mungkin waktu saya untuk mencintai Kyuhyun oppa sudah selesai. Mungkin cinta kami sudah kadaluarsa. Jadi saya rela… saya sungguh rela… kalau… ka… kalau…” Minji mulai terisak.

 

“Saya rela bila Sungmin ssi ingin mengambilnya dari saya. Sungguh.” kata Minji  terisak.

 

Sungmin memandang Minji tidak percaya. Semudah inikah? Seharusnya ia merasa senang. Ia menang. Ia bisa mengambil Kyuhyun dan menjadikannya hanya miliknya. Tapi memandang bahu kecil Minji yang naik–turun karena isakan tangis dan perutnya yang masih rata, entah kenapa Sungmin merasa kalah.

 

Sungmin memandang langit yang mendung. Sepertinya akan turun hujan hari ini. Selintas bayang–bayang Kyuhyun memenuhi kepalanya. Sungmin kembali memandang Minji yang masih terisak kecil.

 

“Kau mencintai Kyuhyun?” tanya Sungmin.

 

****

 

3 bulan kemudian…

 

Sungmin, Ryeowook dan Yesung. Tiga cangkir cappuccino dan dua potong cheese cake dicafe favorit mereka. Sungmin menyentuh pinggir cangkir cappuccino miliknya dan memainkannya.

Still hurts……” kata Sungmin.

 

You’ll be okay hyung. Kau sudah melakukan hal yang benar” kata Ryeowook.

 

“Tapi rasanya tetap menyakitkan…” kata Sungmin menopang dagunya dengan satu tangannya.

 

“Hyung tahu, terkadang kita lebih kuat daripada yang kita pikir” kata Ryeowook meremas tangan Sungmin perlahan, mencoba memberi kekuatan.

 

Sungmin mencoba tersenyum. Ia mengangkat cangkirnya dan menyesap cappuccinonya perlahan. Menikmati sisa kopi, gula, krimmer yang membentuk suatu rasa di dalam mulutnya.

“Ahh…aku mengadakan pesta di villa keluargaku di Pulau Jeju. Datanglah, kau butuh refreshing” kata Yesung meletakkan cangkirnya.

 

“Entahlah…aku tidak begitu suka dengan pesta” kata Sungmin ragu.

 

“Ayolah Sungmin. Ini pesta ulang tahunku. Aku ingin kau datang. Aku sudah menyiapkan beberapa botol wine favoritmu. Kau harus datang” kata Yesung membujuk.

 

Sungmin tersenyum mendengar Yesung menyebut kata wine.

“Apa kau juga datang wookie?” tanya Sungmin memandang Ryeowook.

“Tentu saja hyung. Aku pasti datang,” jawab Ryeowook tersenyum. “Datanglah hyung.”

 

“Ara ara, aku datang” kata Sungmin akhirnya setuju.

 

Yesung tersenyum.

“Tenang saja. Aku yang membayar tiket pesawatnya untuk kalian” kata Yesung.

“Itu harus” kata Ryeowook tersenyum.

 

Ryeowook dan Yesung kembali disibukkan dengan cangkir cappuccino mereka seraya mengobrol. Sungmin menarik ponselnya ke bawah meja. Membaca satu pesan yang baru saja masuk, mendesah pelan kemudian menyimpan kembali ponselnya.

 

From : evil kyu

I miss you. Please talk to me

 

Ponsel Sungmin kembali bergetar disakunya. Menerima pesan–pesan yang seakan berteriak untuk minta dibalas. Namun sungmin mengabaikannya dan menikmati cappuccinonya seraya memandang keluar jendela. Memandang keramaian yang menghiasi setiap sudut jalan.

 

From : evil kyu

Sungmin hyung??!!

I’m hopeless. Give me a clue.

Dimana kau hyung?

I miss you

 

From : evil kyu

Demi Tuhan, answer me.

Hyung?

 

From : evil kyu

Are you leaving me?

Why?

 

From : evil kyu

I can’t live without you. Never.

 

From : evil kyu

Don’t do this to me. Please don’t go.

Stay. Will you?

 

****

 

Langit malam telah menurunkan tirainya. Kyuhyun memandang ponselnya yang tidak kunjung bergetar. Ia mendesah dan meletakkan ponselnya diatas meja kemudian beranjak ke pinggir jendela. Ia memandang langit malam. Bintang–bintang berserakan dilangit seperti permen. Sudah 3 bulan dan Kyuhyun tidak bisa menemukan Sungmin. Teleponnya tidak pernah dijawab. Pesan–pesannya tidak pernah dibalas. Benarkah Sungmin meninggalkannya? Benarkah ini sudah berakhir? Perselingkuhannya yang sempurna.

 

Kyuhyun memandang tangannya dan menyadari jarinya yang kosong. Cincin pernikahannya tidak melingkar dijari manisnya. Cincinnya tertinggal dirumah Sungmin saat mereka masih menikmati perselingkuhan mereka yang sempurna. Tapi kini rumah itu sepi. Tetangganya mengatakan Sungmin pergi berlibur entah kemana dan entah berapa lama. Sungmin seakan hilang ditelan bumi.

 

Kyuhyun mendesah dan mengusap pelan wajahnya. Rasanya ia hampir gila. Kyuhyun tersentak saat mendengar ponselnya bergetar, kemudian ia segera beranjak untuk mengangkatnya. Berharap suara Sungmin yang akan ia dengar ditelinganya. Namun bukan suara Sungmin yang  terdengar diujung telepon, melainkan suara Yesung.

 

“Yesung hyung…” kata Kyuhyun kecewa.

“Kedengarannya kau kecewa” kata Yesung terkekeh kecil.

“Mworago hyung?”

“Apa kau akan datang ke pestaku?”

“Entahlah hyung…”

“Datanglah, mungkin saja…kau bisa menemukan Sungmin”

 

Seketika Kyuhyun menegakkan tubuhnya mendengar nama Sungmin.

“Kau tahu dimana Sungmin hyung? Aku hampir gila karena dia mengabaikanku”

“…entahlah…”

“Yesung hyung, kumohon. Kau tahu dimana sungmin hyung bukan? Beritahu aku”

Kau masih berharap padanya?”

“Aku mencintainya hyung”

“Jika kau bisa bertemu dengannya, lalu apa yang akan kau lakukan? Meminta dia kembali lagi disisimu? Memintanya untuk selalu menunggu setiap malam tanpa kepastian?”

“Yesung hyung…aku…”

“Kau tidak bisa terus seperti ini Kyu”

 

Kyuhyun mendesah sesaat.

“Yesung hyung. Kau cukup memberitahu dimana Sungmin hyung”

“Entahlah. Tapi datanglah ke pestaku, mungkin kau akan beruntung”

Klik!

 

****

 

Kyuhyun menghentikan kakinya didepan pintu villa milik Yesung. Memandang keramaian pesta yang dibalut hentakan musik yang lembut. Yesung menoleh dan tersenyum saat melihat kedatangan kyuhyun. Kemudian ia beranjak mendekat. Kyuhyun tersenyum dan memeluk Yesung.

 

“Saengil chukkae hyung” kata Kyuhyun.

“Gomawo. Kukira kau tidak akan datang” kata Yesung menepuk bahu Kyuhyun.

 

“Sepertinya aku harus datang” kata Kyuhyun.

“Karena ucapanku?” tanya Yesung.

 

Kyuhyun tidak menjawab. Yesung memandang perempuan yang datang bersama Kyuhyun.

“Annyeong Minji” sapa Yesung tersenyum ramah.

 

“Annyeong oppa. Saengil chukae Yesung oppa” kata Minji tersenyum halus.

“Gomawo. Bagaimana kabarmu Minji? Kudengar kau hamil?” tanya Yesung.

 

Minji kembali tersenyum seraya meraba perutnya yang membesar.

“Ne, sangat baik” jawabnya.

 

“Itu kabar bagus. Ahh… nikmati pestanya” kata Yesung tersenyum kemudian beranjak pergi.

“Yesung hyung” panggil Kyuhyun menahan bahu Yesung.

 

Yesung menghentikan kakinya dan menoleh.

“Mwo?” tanya Yesung.

“Tentang Sungmin hyung, beritahu aku dimana dia. Aku harus bertemu dengannya” kata Kyuhyun.

 

Yesung mengangkat kedua bahunya dan tersenyum.

“Entahlah. Mungkin ia ada disekitar sini” jawab Yesung.

“Benarkah?” tanya kyuhyun.

 

Yesung melepas tangan Kyuhyun yang menahan bahunya kemudian memandang jari manis kyuhyun yang kosong. “Kau kehilangan cincinmu?” tanyanya.

 

Kyuhyun menarik tangannya dan segera menyembunyikannya di dalam saku celananya. Yesung tersenyum dan menepuk pelan bahu Kyuhyun. “Semoga beruntung” kata Yesung kemudian beranjak pergi.

 

“Cih, menyebalkan” gerutu Kyuhyun.

 

Minji melingkarkan tangannya dilengan Kyuhyun.

“Oppa, aku lapar” kata Minji.

“Araseo, kita cari kursi untukmu dulu” kata Kyuhyun.

 

Kyuhyun menarik satu kursi untuk Minji. Minji menempatkan tubuhnya dikursi dan mengernyit saat memandang jari manis Kyuhyun yang kosong. “Dimana cincinmu oppa? Kenapa kau tidak memakainya?” tanya Minji.

 

Kyuhyun terkejut dan memandang jarinya.

“Ahh…cincinku tertinggal dirumah. Aku lupa memakainya” kata Kyuhyun mengelak.

 

“Seharusnya kau tidak boleh melepaskan benda itu” kata Minji merengut kecewa.

 

“Aku akan mengambilkan sesuatu untukmu. Kau tunggulah disini” kata Kyuhyun kemudian beranjak pergi.

 

****

 

“Pesta yang menyenangkan bukan, hyung?” tanya Ryeowook tersenyum.

“Yeah, dia benar–benar menyiapkan wine dipesta ini” jawab Sungmin seraya menyesap wine ditangannya.

 

“Ahh dimana Yesung hyung?” kata Ryeowook seraya mengedarkan pandangannya.

“Molla. Mungkin sedang sibuk dengan tamu–tamunya” kata Sungmin.

 

“Aku ingin mencari Yesung hyung. Tidak apa kan jika hyung kutinggal?” tanya Ryeowook memandang Sungmin dengan cemas.

 

“Yeah, pergilah” jawab Sungmin.

“Aku tidak akan lama. Cobalah untuk menikmati pestanya hyung dan lupakan Kyuhyun. Kau sudah melakukan hal yang benar hyung” kata Ryeowook.

 

“Sraseo, sekarang pergilah. Cari Yesung kesayanganmu itu. Mungkin saja dia sedang bersenang–senang dengan gadis–gadis. Kau tahu bagaimana gadis pesta itu bertingkah” kata Sungmin menyeringai jahil.

 

“Sndwae!” seru Ryeowook kemudian segera beranjak pergi.

 

Sungmin tersenyum menggeleng kemudian menikmati winenya dengan tenang. Ketenangannya terganggu saat ia mendengar seseorang memanggil namanya. Sungmin menoleh dan segera terdiam. Ia membeku melihat seseorang yang berdiri didepannya.

 

“Sungmin hyung…” kata Kyuhyun.

“Kyu…” kata Sungmin terkejut.

 

Kyuhyun tersenyum dan memeluk Sungmin dengan erat.

“Aku benar–benar merindukanmu hyung” kata Kyuhyun. Sungmin tidak bergeming.

 

Kyuhyun memegang tangan Sungmin dan menariknya keluar menjauh dari hingar bingar pesta. Sementara itu di beranda lantai 2, Ryeowook memperhatikan sedang dengan cemas kemudian ia menoleh merengut memandang Yesung yang sedang bermain PSP.

 

“Mwo?” tanya Yesung sadar dengan tatapan Ryeowook.

“Kenapa kau mengundangnya juga?” tanya Ryeowook masih merengut kesal.

 

Yesung hanya tersenyum tanpa berpaling dari PSPnya.

“Kukira kau sengaja mengundang Sungmin hyung agar ia bisa bersenang–senang. Kau tahu ‘kan, bagaimana kerasnya Sungmin hyung berusaha melepaskan Kyuhyun dan melewati hari–harinya?” kata Ryeowook.

 

Yesung meletakkan PSPnya dan memeluk Ryeowook dari belakang.

“Aku tidak ingin Sungmin hyung semakin terluka” kata Ryeowook dengan sedih.

 

Yesung memainkan poni rambut ryeowook yang dicat cokelat terang seraya tersenyum kecil.

“Dia akan baik – baik saja. Kau tahu Sungmin adalah orang yang kuat” katanya.

 

****

 

Kyuhyun menghentikan kakinya di halaman belakang yang sepi. Ia memandang Sungmin dengan cemas dan penuh rindu. Ia membuka mulutnya dan mengeluarkan semua yang terikat dengan kusut di dalam kepalanya. Nada panik, khawatir, rindu, bercampur marah terdengar dalam setiap perkataan Kyuhyun. Rasanya terlalu mustahil merangkum semua hanya dalam beberapa baris kata. Ada banyak hal yang terlalu luas, terlalu lebar, dan terlalu dalam untuk diwakili oleh beribu–ribu kosakata.

 

Sungmin masih tidak bersuara dan hanya memandang Kyuhyun. Berusaha bertahan dari sebagian hatinya yang merayunya untuk memeluk Kyuhyun, membawanya pergi dan menjadikannya miliknya sekali lagi. Sungmin melepas tangan Kyuhyun yang masih memegang miliknya dengan hangat kemudian memalingkan pandangannya.

 

I love you. Please don’t go. Jangan lakukan ini padaku hyung” kata Kyuhyun.

 

“Kukira kita sudah sepakat untuk mengakhiri semuanya” kata Sungmin bersuara.

 

“Aku masih berharap itu sebuah lelucon. Aku kacau tanpamu, didn’t you see it? I need you hyung” kata Kyuhyun.

 

Sungmin mendesah dan menggelengkan kepalanya.

“Aku sudah lelah kyu. Tidak bisakah kita hentikan permainan bodoh ini?” kata Sungmin dengan nada lelah.

 

“Hyung, kenapa kau tidak mengerti bahwa aku—“ kata Kyuhyun.

 

“Kau yang tidak mengerti Kyu! Kita harus berhenti dari hubungan yang kita jalani ini. Aku lelah bermain dengan hati. Aku mohon mengertilah…” potong Sungmin.

 

“Hyung…kenapa kau meninggalkanku?” kata Kyuhyun kecewa.

 

Sungmin dapat mendengar isak kecil dalam suara Kyuhyun. Sesuatu yang belum pernah ia dengar sebelumnya, selain suara merdu Kyuhyun saat bernyanyi untuknya. “Aku tidak bisa mengabaikan Minji dan calon anakmu. Izinkan aku pergi Kyu. Izinkan aku berhenti dan mengakhiri semuanya” kata Sungmin lembut.

 

Kyuhyun menggelengkan kepalanya tanpa suara.

“Tidakkah kau ingin hidup bersamaku?” tanya Kyuhyun.

 

“Aku sangat ingin hal itu. Tapi aku tidak bisa membayangkan hidup denganmu bersama tuduhan–tuduhan yang terus menyiksa kepala dan jiwa. Apakah semua itu bisa mendatangkan kebahagiaan?” kata Sungmin.

 

“Please stay, will you?” tanya Kyuhyun memandang Sungmin dengan sedih.

 

Sungmin menggelengkan kepalanya dengan sedih. Ia meletakkan gelas wine miliknya di meja taman dan menunjukkan tangannya. Dijari manisnya melingkar sebuah cincin. Kyuhyun tahu itu bukan cincin yang biasa Sungmin pakai sejak kecil. Itu cincin pernikahan miliknya yang hilang.

 

“Benda itu ada padamu?” tanya Kyuhyun mengernyit.

 

Sungmin memandang cincin milik Kyuhyun yang melingkar manis dijarinya.

“Aku berpikir, tanpa cincin ini kau adalah milikku. Karena itu aku mengambilnya. Tapi aku sadar ini perbuatan bodoh. Kau tidak pernah bisa kumiliki sepenuhnya” kata Sungmin.

 

“Aku selalu milikmu hyung” kata Kyuhyun.

“Tidak. Kau bukan milikku sepenuhnya” kata Sungmin menggeleng pelan.

 

Sungmin mengangkat kepalanya memandang kyuhyun dengan sedih dan tersenyum. Ia berkata, “Terlepas dari apakah perbuatan kita benar atau salah, aku tetap berutang terima kasih kepadamu. Terima kasih untuk telah berada disisiku. Terima kasih untuk hati yang kau pinjamkan untukku selama ini. Telah membuat hidupku seperti naik jet coaster, menegangkan sekaligus melelahkan. Telah banyak memberikan pengalaman baru dalam hidupku. Kalau ini bisa mengurangi rasa sesak didada,”

 

“Hyung, don’t do this…” kata Kyuhyun.

 

“Maaf aku berbohong dihari itu. Aku selalu mencintaimu Kyu. Semua kenangan tentangmu tentu saja akan terus ada. Maaf jika aku selalu menyakitimu dengan kata–kataku, tapi kau tahu aku sayang padamu Kyu.” kata Sungmin.

 

“Stop it…” Kata Kyuhyun.

 

Sungmin melepas cincin milik Kyuhyun yang melingkar dijarinya.

“Aku harus mengembalikan benda ini padamu,” kata Sungmin kemudian menjatuhkannya ke dalam gelas wine miliknya.

 

I hate saying goodbye… so see later Kyu.” kata Sungmin tersenyum sedih.

 

Sungmin beranjak pergi melewati Kyuhyun. Ia terus melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Namun perlahan sudut matanya mengalirkan cairan bening. Langkah Sungmin berhenti saat melihat Minji berdiri di ambang pintu. Ia memandang perutnya yang semakin membesar dan tersenyum miris.

 

Min ji memandang sungmin kemudian membungkukkan kepalanya dengan sopan.

“Terima kasih Sungmin ssi” kata Minji halus.

 

Sungmin memandang Minji dan mengusap air mata yang membasahi wajahnya.

“Mungkin…cintaku dan Kyuhyunlah yang telah kadaluarsa. Kau tidak perlu khawatir” kata Sungmin kemudian segera beranjak pergi melewati Minji.

 

Minji dapat mendengar nada sedih yang mendalam dalam suara Sungmin. Terdengar sangat terluka dan sedih. Sementara itu Kyuhyun masih terdiam tidak percaya. Ia memandang cincin miliknya yang berada didalam gelas wine milik Sungmin. Menyatu bersama wine yang memabukkan. Kerongkongannya terasa tercekat. Dadanya bagai terhimpit. Satu hati telah menyerah. Kini ia benar–benar kehilangan Sungmin. Tapi kenapa ia yang justru merasa kalah?

 

“Oppa” terdengar suara seorang wanita yang memanggilnya dengan halus.

 

Kyuhyun mengangkat kepalanya dan menoleh memandang Minji yang berdiri tidak jauh dibelakangnya. Ia tidak terkejut dengan kehadiran perempuan yang sedang mengandung calon bayinya itu. Seperti saat Minji mengatakan ia telah bertemu dengan Sungmin dan mengetahui seluruh perselingkuhannya yang sempurna.

 

“Ayo kita pulang. Aku lelah” kata Minji

 

Kyuhyun memandang gelas wine milik Sungmin diatas meja taman. Memandang cincinnya yang seakan semakin menyatu dengan wine yang berwarna merah. Kyuhyun tahu, perselingkuhannya yang sempurna telah usai sekarang. Kyuhyun mendesah perlahan.

 

“Ne. Ayo kita pulang” kata Kyuhyun.

 

Tangan kyuhyun menggamit lengan Minji kemudian beranjak pergi seraya bergandengan tangan. Minji tersenyum dan mulai berceloteh riang seraya berbagi khayalan tentang calon anak mereka. Sementara Kyuhyun terus melangkahkan kakinya tanpa suara. Dengan pikirannya, sendirian.

 

fin

11 thoughts on “KyuMin series B : One night only

  1. perasaan aku .. author seneng banget deh bikin KyuMin terpisah .. #ditimpuk author

    hah~ ming harus ikhlas ,, tapi aku.a gag ikhlas ..

  2. itu baru namanya sungmin!!!
    gentle! dan penyayang!! dan dewasa! hehehe ^^
    cinta tak harus memiliki kok!
    apalagi kalo udah di mulai dr sebuah kesalahan.
    tinggal nunggu sad ending aja.
    dan kyuhyun…
    saya malah ngarep minji juga campakin kyuhyun!
    biar masuk jurang sana sekalian! dasar pria brengs*k!
    manusia rakus uuuuh…
    minji juga terlalu baik untuk pria busuk macem dia. haaaah…
    saya terbawa suasana hahaha
    tetep sayang kyuhyun kok!❤

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s