Seharusnya [KyuMin ver]

Gambar

Pairing            : KyuMin

Genre               : Fluff

Length             : Drabble

Warning          : Boys Love. Shounen-ai. All Sungmin POV & Sungmin centric

Disclaimer     : Aslinya dari sebuah catatan kecil di note fb milikku yang berjudul sama. Hanya catatan iseng. Tapi kali ini aku buat lagi dalam versi KyuMin dengan sedikit perubahan.

Summary       : Semua mulai berubah perlahan. Aku, kamu, kita, mereka. Seperti sang waktu yang terus bergulir maju, semuanya berubah. Mundurlah, wahai waktu. Bisakah kau berhenti sejenak disana, di masa itu. Masa yang selalu aku rindukan.

 

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

Rinai hujan meluruh turun, memberikan kebahagiaan bagi mereka yang merindukannya. Hari ini kami duduk bersama, menempati sudut café yang buka 24 jam itu. Kami dan dua cangkir hot cappuccino. Aku menoleh keluar jendela. Di luar nampak anak-anak kecil yang berlarian dibawah hujan. Saling berebut tawa, tidak peduli pada udara yang dingin. Mereka terlihat bahagia. Aku tersenyum melihatnya.

 

“Hey Kyu, pernahkah kau berpikir seperti ini?” tiba-tiba aku bertanya pada pria yang sedang menikmati cangkir kopinya dengan tenang di depanku. “Seharusnya dulu aku melakukan hal itu. Seharusnya dulu aku tidak melakukan hal ini. Seharusnya, seharusnya, seharusnya dan seharusnya. Saat kita dewasa kita mulai berpikir seperti itu bukan? Apakah kau sadar, kita mulai bertingkah layaknya orang dewasa yang dulu selalu kita tertawakan. Lucu bukan, Kyu?” kataku seraya tertawa.

 

Kyuhyun mengangkat kepalanya padaku, sedikit terkejut dengan pertanyaanku yang tiba-tiba itu. Kemudian ia tertawa dan meletakan cangkirnya. Aku menoleh padanya dan memperhatikannya sejenak. Pada rambut hitamnya yang kini telah dicat cokelat dan lebih bergaya. Pada mata obsidian yang teduh itu, mata favoritku. Dan wajah anak nakal yang dulu selalu penuh dengan plester itu, kini telah berubah, nampak semakin dewasa dan sangat tampan. Dia benar-benar berubah.

 

“Ya, itu benar. Ternyata kita sudah dewasa sekarang” kata Kyuhyun sambil tersenyum seolah tidak percaya.

 

Aku mengenggam cangkirku dan kembali menoleh keluar jendela. Tersenyum pada cerita-cerita yang tidak pernah terlupa. Cerita dari masa itu, masa yang selalu aku rindukan. Di masa itu kami, aku dan Kyuhyun, hanya anak-anak yang naïf. Anak-anak yang membenci orang dewasa.

 

“Orang dewasa itu merepotkan. Mereka terlalu rumit untuk dimengerti” kata Kyuhyun di hari itu setelah kami lelah berebut tawa dibawah rinai hujan. Kami tertawa, menertawakan orang-orang dewasa yang terlalu sibuk. Terlalu sibuk berpikir. Terlalu sibuk menyumpahi dinamika hidup. Terlalu sibuk menciptakan hidupnya sendiri.

 

Kami selalu bersama sejak kecil. Kyuhyun yang selalu melindungiku. Kyuhyun yang selalu menemukanku dengan mudah setiap kali aku bersembunyi ataupun tersesat. Kyuhyun yang selalu mengenggam tanganku dengan erat. Kyuhyun yang selalu mengatakan bahwa aku hanyalah miliknya. Kyuhyun yang selalu ada untukku. Kyuhyun yang selalu aku sukai.

 

Aku masih ingat. Itu adalah hari ulang tahun Kyuhyun. Hari itu hanya ada kami dan sebuah kue kecil yang kubeli dengan uang tabunganku, dan sebatang lilin yang menancap diatasnya. Aku tidak bisa melupakan raut gembira diwajah Kyuhyun. Dia begitu gembira meski itu hanya sebuah perayaan kecil dan sederhana. Dan yang paling tidak bisa aku lupakan adalah ketika Kyuhyun mengucapkan permintaannya.

 

“Aku tidak mau menjadi dewasa. Aku ingin seperti ini terus dan bersama dengan Sungmin hyung selamanya. Selamanya” Kyuhyun mengucapkan kata selamanya sebanyak dua kali. Ia meniup lilinnya dan tersenyum padaku. “Selamanya, kita tetap bersama ya hyung. Karena seharusnya kita memang bersama” katanya lagi. Aku hanya tersenyum mengangguk. Kemudian ia mengecupku. Kami berciuman cukup lama dan kemudian saling tersenyum malu.

 

Tapi aku juga ingat dengan pagi itu. Pagi itu kami terbangun dengan wajah muram. Kami menangis karena orang dewasa. Karena keegoisan mereka. Itu benar-benar menyebalkan. Bahkan saat itu aku berharap untuk tidak terbangun dari tidurku, tetap dalam dunia mimpiku yang aman. Tapi Kyuhyun datang dan menarikku keluar dari duniaku yang aman itu.

 

“Jika memang cinta, seharusnya mereka tetap bersama. Jika tidak cinta, seharusnya mereka tidak menikah. Orang dewasa benar-benar terlalu rumit. Merepotkan. Aku benci mereka” kata Kyuhyun tidak terima dengan perpisahan orang tuanya. Kyuhyun benar-benar sangat marah saat itu. Aku memeluknya dan kemudian kami menangis bersama.

 

Saat bersama Kyuhyun aku selalu berharap waktu berhenti seperti ini. Waktu dimana hanya ada kami. Aku dan Kyuhyun tanpa kerumitan orang dewasa. Terkadang Kyuhyun kerap bercanda dengan mengatakan bahwa ia ingin seperti Peterpan yang tidak pernah beranjak dewasa. Tetap menjadi anak-anak selamanya. Aku tahu, Kyuhyun selalu menyukai cerita tentang Peterpan, tapi ia selalu melewatkan bagian akhirnya.

 

Apa kau tahu Kyu, bahwa terkadang Peterpan pun merasa bosan dan sedikit menyesal dengan keinginannya itu? Bahwa terkadang Peterpan pun berpikir jika kebahagiaan ada di masa depan, bukan di masa lalu.

 

Waktu terus melangkah maju, beriringan dengan genggaman tangan kami yang tidak pernah terlepas. Semua berubah. Anak-anak naïf itu kini telah tumbuh dewasa. Bertingkah seperti orang dewasa dengan segala kerumitannya yang selalu kami tertawakan dulu. Kini kami adalah orang-orang dewasa itu. Semua berubah, tapi satu hal yang masih tetap sama. Kebersamaan kami masih tetap sama. Kami masih berlarian dan berebut tawa dibawah rinai hujan seperti anak kecil. Berbagi cerita. Berbagi rasa. Berbagi cinta yang terus tumbuh dan tidak akan pernah pudar.

 

Aku menoleh saat Kyuhyun menggenggam tanganku, menyadarkanku dari pikiranku tentang cerita-cerita kami dulu. “Sungmin hyung, kita akan selalu bersama. Seperti selalu. Seperti seharusnya” katanya.

 

Aku hanya tersenyum dan mempererat tautan jemari kami. Aku melirik jam tanganku sesaat. Pukul 5 sore. Tapi sepertinya kami akan tetap duduk disini lebih lama lagi. Menyesap cangkir demi cangkir kopi dan menikmati rinai hujan yang masih juga belum berhenti. Aku menatap Kyuhyun dan berkata,

 

“Ya tetaplah bersamaku, Kyu. Seperti seharusnya”

 

Fin

8 thoughts on “Seharusnya [KyuMin ver]

  1. sweattt~
    ff nya ngena banget.. kadang aku juga ngerasa sulit dengan menjadi dewasa dan pingin nya jadi anak TK mulu.. hehehehe..
    daebakkk.. “kebahagiaan ada di masa depan” akan kujadikan motivasi..

  2. Omoo !
    FF.a maniss bget , jd rmayan b’fikir kalo lebih enak jd anak kecil . .
    Tp biasa.a kalw qta udh dpet.n apa yg qta igin pasti bkaln minta lbih.a lagi . . .
    Ff.a keren author ssi , aq suka rangkaian kta”.a , gag t’lalu ribet . . .

  3. Hehehe…
    Sweet drabble author-ssi.
    No conflict just one scene.
    Huhuhu…

    Ayo bkin yg chaptered dgn konflik panas menggelora. *apa coba ini*
    Btw, nagih tried to capture the sun lagi boleh kan yak.😄

    Okay, next sepertinya aku akan mulai baca2 ff chaptered.
    See you there author-ssi. Semga tdak bosan brtemu dgnku.😉

  4. perasaan.aku prnah baca ini dan udah komen jg .. tp kok ngga ada? -,- pernah post di fb apa ya? ._.

    aku suka bgt sma kata” .. ‘kita akan selalu bersama, seperti selalu, seperti seharusnya’ :3 kyaaaaa >_< *blushing/?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s