Never know / part 2

Pairing           : KyuMin

Genre            : Horror

Length           : Chaptered

Warning         : Boys Love, Yaoi, M-preg

Disclaimer     : Story belong to me, KyuMin belong to their self

Summary        : Kau tidak pernah tahu apa yang ada dibalik senyum innocent itu. Mungkin, memang sebaiknya kau tidak pernah tahu………

 

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

part 2

 

Boneka beruang itu tidak pernah absen dari tangan Hyebin, dan Sungmin pun tidak berani lagi mencoba mengambil boneka itu dari tangan gadis kecil tersebut. Sungmin berpikir, Hyebin hanya anak kecil yang tidak ingin berpisah dari barang kesayangannya. Kelak, gadis kecil itu juga pasti akan lupa. Mungkin.

 

Hari itu Sungmin mengajak Hyebin berbelanja bersamanya disupermarket. Ia membeli kebutuhan besar kertas toilet, handuk kertas, cabai, tuna, dan dada ayam beku tanpa tulang. Sungmin mendorong trolley belanja, dan Hyebin mengikuti disampingnya, berjalan tenang dengan memeluk bonekanya. Saat Sungmin akan mendorong trolley belanja menuju chasier, Hyebin menarik ujung pakaiannya.

 

“Eomma, aku mau chocopie” kata Hyebin.

“Chocopie?” kata Sungmin memandang putri kecilnya itu.

 

“Ne, chocopie”

“Baiklah”

 

Hyebin tersenyum senang dan segera berlari pergi. Sungmin hanya tersenyum dan mendorong trolley belanja mengikuti Hyebin. Hyebin berhenti didepan sebuah rak. Ia mendongak memandang kotak chocopie yang terletak dirak paling atas. Hyebin mengulurkan tangannya dan berjinjit, berusaha meraih kotak chocopie tersebut. Tapi rak itu terlalu tinggi baginya. Seorang petugas pria datang mendekat dan mengambilkan kotak chocopie itu. Eunhyuk, nama yang tertera pada name tag yang tersemat diseragam berwarna biru itu.

 

Eunhyuk memberikan kotak chocopie itu pada Hyebin.

“Ini untukmu” katanya dengan tersenyum ramah.

 

Hyebin menerima kotak chocopie itu dan tersenyum. Tiba-tiba Eunhyuk terdiam saat bertatapan dengan gadis kecil itu. Senyum diwajahnya memudar perlahan dan tatapannya berubah kosong. Sebuah bayangan melintas dengan cepat didalam kepalanya, bayangan sebuah peristiwa mengerikan. Dan sesuatu berbisik samar ditelinganya. Cepat dan halus, bagai sebuah perintah.

 

“……kill……”

“Hyebin ah,” Sungmin datang mendekat. “Kau sudah mendapatkan chocopie-nya?”

 

Hyebin menoleh pada Sungmin dan menganggukkan kepalanya.

“Ne eomma.” katanya dan kemudian memasukkan kotak chocopie itu ke dalam trolley belanja milik Sungmin.

 

Sungmin memandang Eunhyuk dan sedikit mengernyit heran. Pria itu masih saja terdiam dengan tatapan kosong. “Tuan, anda tidak apa-apa?” tanyanya kemudian.

 

Eunhyuk tersadar dan segera tersenyum.

“Y…Yeah, tentu.” jawabnya.

 

Eunhyuk memandang Hyebin yang beranjak pergi bersama Sungmin. Ia kembali terdiam saat Hyebin menoleh padanya. Entah kenapa, tiba-tiba Eunhyuk merasa tubuhnya bergetar pelan saat gadis kecil itu tersenyum padanya. Seulas senyum innocent, penuh arti. Kemudian Eunhyuk beranjak pergi, kembali pada pekerjaannya.

 

~+~+~+~

 

Shindong menemukan Eunhyuk di gudang belakang, duduk sendirian disebuah kotak peti. Eunhyuk menunduk dan menyentuh kepalanya. Wajahnya nampak sedikit pucat. Shindong berjalan mendekati Eunhyuk dan menepuk bahunya.

 

Eunhyuk mengangkat kepalanya dengan sedikit terkejut.

“Shindong hyung” katanya seraya memandang sahabatnya itu.

 

Shindong beranjak duduk didepan Eunhyuk, di atas kotak peti yang lain. Ia mengamati wajah Eunhyuk dan bertanya, “Ada apa?”

 

Eunhyuk menggelengkan kepalanya pelan dan kembali menyentuh kepalanya.

“Entahlah. Tiba-tiba saja aku merasa tidak baik”

“Tidak baik? Kau sedang sakit, eoh?”

 

Eunhyuk kembali menggelengkan kepalanya pelan.

“Entahlah. Kurasa aku akan ijin pulang lebih cepat. Aku merasa, benar-benar tidak baik.”

 

Dan kemudian Eunhyuk berdiri. Shindong hanya memandang Eunhyuk yang beranjak pergi dengan langkah pelan. Sepertinya Eunhyuk benar-benar sedang tidak baik. Entah kenapa, Shindong merasa ada sesuatu yang aneh. Tapi ia tidak tahu apa itu, jadi Shindong mengabaikannya. Shindong mengeluarkan bungkus rokok dari sakunya dan lebih memilih menikmati asap yang memenuhi rongga mulutnya.

 

Eunhyuk berjalan pelan menyusuri jalan yang cukup ramai. Di sekitarnya para pejalan kaki sibuk berlalu lalang. Ia terus melangkah melewati toko-toko yang berjejer rapi dipinggir jalan, hingga tiba-tiba ia berhenti didepan sebuah toko senjata. Eunhyuk terdiam cukup lama sebelum ia masuk ke dalam toko tersebut.

 

“Apa yang bisa saya bantu?” pria pemilik toko menyambut kedatangan Eunhyuk dengan sedikit tidak ramah.

 

Eunhyuk terdiam sesaat, memperhatikan senjata-senjata yang terpajang di etalase toko. Sesungguhnya Eunhyuk sendiri tidak mengerti, kenapa ia begitu ingin membeli senjata?  Tapi sesuatu, entah apa, seolah mendorongnya untuk membeli benda berbahaya itu. Perasaan tersebut begitu besar dan tidak bisa ditolak. Kemudian Eunhyuk memandang pria pemilik toko tersebut dan berkata dengan nada serius,

 

“Saya butuh senjata.”

 

~+~+~+~

Saat Eunhyuk sampai di rumahnya yang tenang, ia menemukan sepasang sepatu Donghae juga sepasang sepatu heels wanita. Eunhyuk terdiam. Rupanya kekasihnya sudah pulang, bersama wanita jalang itu. Eunhyuk meletakkan tasnya diatas meja makan dan membukanya. Ia mengeluarkan pistol tipe 9×19 MM sidearm dan mengisi pelurunya. Eunhyuk berjalan menuju kamarnya di lantai dua dengan menggenggam erat pistolnya.

 

Di kamarnya, Eunhyuk menemukan Donghae yang sedang asyik bercumbu dengan Jessica Jung diatas ranjang. Seketika percumbuan itu terhenti. Donghae dan Jessica terkejut melihat kedatangan Eunhyuk. Donghae beranjak turun dari ranjang.

 

“Sayang, kau sudah pulang?” kata Donghae berusaha mendekati Eunhyuk.

 

Eunhyuk hanya diam memandang Donghae. Memandang kemeja biru yang seluruh kancingnya terbuka dan memperlihat dada yang bidang. Kemudian Eunhyuk memandang wanita yang duduk diatas ranjangnya, berusaha menutupi ketelajangannya dengan selimut. Memuakkan!

 

Eunhyuk menggenggam pistol ditangannya dengan erat, sementara tangan lainnya menyentuh telinganya. Ia sedikit menunduk dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

“Sayang…?” tanya Donghae.

 

Eunhyuk tidak menjawab.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Donghae lagi.

 

Eunhyuk masih tidak menjawab. Ia mengernyit. Suara itu kembali terdengar, berbisik samar. Cepat dan halus, seolah sebuah perintah.

 

“………kill………”

Tiba-tiba saja Eunhyuk mengarahkan pistolnya ke arah kepala Donghae. Peluru menghujam tepat di kepala pria tampan itu saat Eunhyuk menarik pelatuknya. Jeesica yang masih berada diatas ranjang terkejut melihat tubuh Donghae yang terjatuh ke lantai, tak bernyawa. Wajahnya memucat saat Eunhyuk mengarahkan pistol itu padanya.

 

“Tidak…tunggu…aku bisa menjelaskannya…” Jessica berusaha mencegah.

 

Namun peluru kembali melesat keluar dari pistol tipe 9×19 MM sidearm itu saat Eunhyuk kembali menarik pelatuknya. Dan seketika, tubuh Jessica tergolek tak berdaya, tak bernyawa. Eunhyuk hanya memandang kosong dua tubuh yang kini terdiam, bermandikan darah. Saat pistol ditangannya akhirnya terjatuh ke lantai, Eunhyuk mengerjap. Seolah ia baru saja tersadar.

 

Aneh. Suara itu tidak terdengar lagi.

 

~+~+~+~

Sementara itu ditempat lain, di waktu yang sama. Hyebin sedang asyik mencoret-coret dinding kamarnya dengan crayon berwarna hitam. Kemudian ia mengganti crayonnya dengan warna lain dan terus menggambar sebuah sosok seorang pria yang berdiri diantara dua tubuh yang bermandikan darah, seorang pria dengan kemeja biru dan seorang wanita yang menutupi ketelanjangannya dengan selimut. Dan di dekat kaki pria yang berdiri itu, tergeletak sebuah pistol. Hyebin menghentikan tangannya dan memperhatikan hasil gambarnya. Hyebin tersenyum senang.

 

“Hyebin, saatnya makan malam~” terdengar suara Sungmin berteriak memanggil dari lantai bawah.

“Ne, eomma.” Hyebin balas berteriak.

 

Ia merapikan crayonnya dan entah bagaimana, menyembunyikan hasil gambarnya dibalik wallpaper pink yang menghiasi kamarnya. Hyebin meraih boneka beruangnya yang ia letakkan diatas ranjang dan beranjak keluar kamar. Ia berhenti sesaat diambang pintu dan menoleh, memandang wallpaper yang menyembunyikan gambar terkutuknya. Itu adalah sebuah gambar yang tidak umum digambar oleh seorang gadis kecil berumur tujuh tahun. Hyebin menyentuh kenop pintu dan menutup pintu kamarnya perlahan.

 

Tbc.

9 thoughts on “Never know / part 2

  1. aishh aq slh komen, sharus’y tu buat ch.3,,
    kek’y hyebin gk suka sm org yg jhat, mk’y dy sprt m’hipnotis hyuk bwt bunuh hae yg selingkuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s