Never know / part 4

Pairing            : KyuMin

Genre               : Horror

Length            : Chaptered

Warning          : Boys Love, Yaoi, M-preg

Disclaimer     : Story belong to me, KyuMin belong to their self

Summary        : Kau tidak pernah tahu apa yang ada dibalik senyum innocent itu. Mungkin, memang sebaiknya kau tidak pernah tahu………

 

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

Part 4

Matahari bersinar terik diatas kepala. Kota kecil itu bagai kota mati. Begitu tenang. Begitu suram. Kyuhyun berjalan menyusuri jalanan yang kosong. Mengedarkan pandangannya pada tempat yang asing baginya. Kyuhyun terus berjalan seolah sedang mencari sesuatu. Mencari apa? Kyuhyun sendiri tidak begitu yakin.

 

Kyuhyun menoleh saat melewati sebuah cermin besar namun tidak menghentikan langkahnya. Namun ia kembali melihat cermin-cermin besar itu seiring langkah kakinya. Kyuhyun menghentikan kakinya saat menyadari cermin-cermin besar itu muncul semakin banyak, entah darimana, berjejer rapat disisi kanan dan kirinya. Ia sedikit mengernyit melihat pantulan dirinya di dalam cermin. Entah kenapa, ia merasa ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang aneh terjadi. Kota kecil dan terik matahari menghilang. Kyuhyun menoleh dan mengedarkan pandangannya dengan bingung. Tiba-tiba saja ia berada di dalam rumah cermin.

 

Bagaimana ini bisa terjadi?, pikir Kyuhyun.

 

Sesuatu terlihat berlari diujung lorong. Segera Kyuhyun berlari mengikutinya. Bayangan dirinya di dalam cermin-cermin itu seolah ikut berlari bersamanya, muncul, menghilang dan muncul lagi. Setiap kali menatap ke dalam cermin-cermin besar itu perasaan itu selalu datang. Perasaan yang aneh. Kyuhyun terus berlari menyusuri lorong-lorong cermin yang berliku dan panjang. Lorong itu berakhir dengan sebuah cermin besar di depannya. Jalan buntu. Kyuhyun memandang cermin besar di depannya dan kemudian menoleh ke belakang. Tidak ada jalan lain. Ia kembali memandang cermin besar di depannya itu. Seolah merasa yakin bahwa ada jalan dibalik cermin itu, Kyuhyun memutuskan untuk menerjangnya. Kyuhyun mundur beberapa langkah dan kemudian berlari menerjang cermin besar itu hingga pecah. Kedua tangannya ia letakkan di depan wajahnya, berlindung dari pecahan-pecahan kaca yang berterbangan.

 

Sebuah cahaya putih bersinar terang. Sangat terang. Dan saat Kyuhyun membuka matanya, ia menemukan dirinya sedang berbaring telungkup di jalanan. Kyuhyun beranjak berdiri. Ia menyentuh pipinya saat sesuatu terjatuh diwajahnya. Air hujan? Bukan, warnanya abu-abu. Ia mengusap jarinya dan membauinya sesaat. Ia mengernyit saat menyadari bahwa itu adalah abu. Ia mendongak memandang langit kelabu yang menjatuhkan sesuatu. Hujan abu. Dan ternyata ia kembali ke kota itu lagi, kota mati yang asing. Kota mati itu nampak berbeda dari yang sebelumnya. Nampak lebih suram. Nampak lebih hancur. Ya, benar-benar hancur.

 

Kyuhyun terpaku memandang ke depan kemudian menuduk ke bawah. Tidak ada apapun di depannya, jalanan ini terputus. Setengah kota hancur hingga ke dasar tanah. Kyuhyun bahkan tidak dapat melihat dasarnya yang sangat dalam, seolah itu adalah sebuah jalan menuju neraka. Kehancuran ini lebih parah daripada bom atau nuklir. Bahkan jika kekuatan bom dan nuklir digabungkan Kyuhyun ragu dapat menghasilkan kekacauan separah ini.

 

Hanya sebuah kekuatan yang besar yang mampu membuat ini semua, tiba-tiba Kyuhyun berpikir seperti itu.

 

Saat Kyuhyun hendak menoleh ke belakang, tiba-tiba seseorang mendorong tubuhnya hingga membuat keseimbangannya goyah dan akhirnya terjatuh ke bawah. Kyuhyun melihat seseorang berdiri ditepi jurang. Ia terkejut saat menyadari bahwa itu adalah……

 

Sungmin?!

 

Sungmin hanya memandangnya dengan kosong. Pemuda manis itu terlihat aneh. Hyebin muncul disamping Sungmin. Gadis kecil itu memeluk bonekanya dan memandang Kyuhyun dengan ketenangannya yang misterius. Hyebin menggenggam tangan Sungmin dan tersenyum pada pemuda manis itu, seolah merasa senang atas tindakan Sungmin tadi. Sungmin menoleh pada Hyebin dan hanya tersenyum kecil. Kemudian mereka pun beranjak pergi. Kyuhyun ingin sekali berteriak namun entah kenapa suaranya tidak mau keluar. Seperti Alice yang terjatuh saat mengikuti si kelinci masuk ke dalam sebuah lubang misterius. Tubuh Kyuhyun terus terjatuh ke bawah dengan cepat. Semakin cepat.

 

Keanehan kembali terjadi. Kyuhyun membuka matanya dan menemukan dirinya berada di dalam lift. Lift berhenti dan pintu lift terbuka perlahan. Kyuhyun memandang keluar dan melangkahkan kakinya keluar dengan sedikit ragu. Ia mengedarkan pandangannya dan menyadari ia berada di rumah sakit. Kyuhyun menyusuri koridor rumah sakit itu, namun ia tidak menemukan siapapun. Rumah sakit ini benar-benar sepi. Tidak ada siapapun.

 

Rumah sakit ini aneh, pikir Kyuhyun.

 

Kyuhyun berusaha mencari jalan keluar. Namun semua pintu terkunci. Hingga akhinya Kyuhyun tersenyum saat menemukan pintu yang tidak terkunci. Ia membuka pintu tersebut dan melangkah masuk. Menyusuri koridor yang cukup panjang dan kembali menemukan satu pintu yang tidak terkunci. Selalu seperti itu. Kyuhyun merasa, seolah sesuatu sedang mengarahkannya melewati jalan ini.

 

Ketika Kyuhyun membuka pintu itu, ternyata itu adalah ruangan penyimpanan mayat. Kyuhyun melangkah masuk dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang cukup besar. Cahaya lampu bersinar terang menerangi ruangan yang dingin, penuh dengan lemari-lemari loker besar yang terbuat dari besi tempat menyimpan mayat yang tersusun rapi. Kyuhyun menoleh terkejut saat tiba-tiba salah satu pintu lemari loker itu terbuka sendiri dan tertarik keluar. Terdapat sebuah kantong besar berwarna hitam di dalamnya. Perlahan Kyuhyun mendekatinya. Sedikit ragu ia menatap kantong hitam itu. Namun sesuatu dalam kepalanya memerintahkannya untuk membuka kantong hitam itu. Maka Kyuhyun mengulurkan satu tangannya dan perlahan membuka zipper kantong hitam itu. Namun baru setengah terbuka Kyuhyun terkejut melihat isinya. Ia melangkah mundur melihat sesosok mayat di dalam kantong hitam tersebut. Wajah pucat itu. Mayat itu adalah dirinya!

 

Astaga, desis Kyuhyun takut.

 

Kyuhyun menoleh menyadari ada seseorang yang sedang memperhatikannya dari ambang pintu. Ia melihat seseorang berlari pergi. Kyuhyun mengejarnya. Namun sosok itu menghilang dengan cepat dibalik pintu keluar darurat. Kyuhyun mengikutinya. Ia membuka pintu dan keanehan lagi-lagi terjadi. Tiba-tiba Kyuhyun sudah berada di dalam sebuah gereja. Gereja yang cukup besar itu nampak tua dan terkesan suram. Seolah kedamaian dan kehangatan telah menghilang dari tempat ini, sejak lama sekali. Di dalam keremangan Kyuhyun melihat seseorang berlutut di hadapan Tuhan. Dia menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, seolah sedang menangis. Jubah hitam yang dipakainya menunjukkan bahwa dia adalah seorang pendeta di gereja ini. Kyuhyun mendekatinya perlahan.

 

“Anda tidak apa-apa?” tanya Kyuhyun.

 

Tiba-tiba pendeta tersebut berdiri dan berjalan ke arah lain, menghindari Kyuhyun. Kyuhyun mencoba mendekatinya namun pendeta tersebut selalu menghindar dengan menundukkan kepalanya. Kyuhyun memandang pendeta itu sesaat, ia mendengar isak tangis pelan yang memilukan. Namun kemudian ia memilih untuk membiarkannya. Pendeta muda tersebut mengangkat kepalanya saat Kyuhyun keluar dari gereja. Pendeta tersebut menangis, begitu pilu. Dan air mata itu tidak kunjung berhenti dari matanya yang buta. Air mata darah dari kutukan di masa lalu.

 

Pintu di belakang Kyuhyun kembali tertutup saat ia melangkah keluar gereja. Langit telah berubah gelap. Bias cahaya dari sang purnama membantu penglihatan Kyuhyun. Di halaman gereja Kyuhyun melihat sekelompok anak perempuan sedang bermain lompat tali sambil bernyanyi sebuah lagu yang aneh dan terdengar menyeramkan.

 

one, two, three
she will come to you
four, five, six
she will never let you go
seven, eight, nine and ten
She has many names
but she is more often called by the name darkness

do not let her see you
because she will close your eyes with a soft whisper
like sweet but deadly poison
the tears will not stop flowing
as the blood continues to flow from our eyes
late to back out because she has closed all doors
dream or reality will not be so different

Kyuhyun melangkahkan kakinya pelan, bermaksud mendekati mereka. Namun tiba-tiba anak-anak perempuan itu berhenti bernyanyi. Mereka berhenti bermain dan menoleh pada Kyuhyun. Kyuhyun tersentak dan menghentikan kakinya. Ia terkejut melihat air mata darah yang mengalir dari sudut mata mereka yang buta. Wajah mereka nampak begitu pucat. Kyuhyun melangkah mundur perlahan dengan takut. Ia mendengar salah seorang anak perempuan itu berkata kepadanya,

 

“Jangan tatap matanya. Jangan biarkan dia melihatmu, atau dia akan menguasaimu dengan bisikannya yang halus. Dia lebih sering dipanggil dengan nama kegelapan. Tapi di dalam kegelapan, tidak ada ibu”

 

Dan Kyuhyun pun tersentak bangun dari tidurnya yang gelisah. Untuk kesekian kalinya ia kembali bermimpi aneh. Benar-benar aneh.

 

~+~+~+~

 

Keesokan paginya.

“Semalam bibi Cha menghubungiku. Dia sangat sedih” kata Sungmin seraya menikmati sarapannya.

 

“Dongchan masih belum ditemukan?” tanya Kyuhun mengangkat kepalanya pada Sungmin. Sudah hampir 4 minggu anak bungsu bibi Cha itu menghilang.

 

Sungmin menggelengkan kepalanya pelan dengan iba.

“Belum. Mungkin anak itu bermain terlalu jauh dan tersesat di hutan. Semoga anak itu cepat ditemukan” jawabnya.

 

Kyuhyun memasukkan sepotong roti ke dalam mulutnya.

“Semoga anak itu masih hidup” gumamnya ikut merasa iba. Meski Kyuhyun tidak yakin anak itu masih hidup. Mungkin saja anak itu sudah mati membeku atau dimakan serigala. Serigala?

 

Kyuhyun berhenti mengunyah. Tiba-tiba ia teringat dengan cerita Sungmin saat mengunjungi bibi Cha tempo lalu, tentang Hyebin dan para serigala gunung. Ia menoleh pada Hyebin yang duduk diantara mereka. Gadis kecil itu menikmati sarapannya dengan tenang, bersama boneka beruangnya yang tidak pernah absen dari tangannya. Kyuhyun memperhatikan gadis kecil itu lekat-lekat. Sebuah pertanyaan tiba-tiba saja muncul di dalam kepalanya.

 

Siapa sebenarnya gadis kecil ini?

 

“Hyebin, apa kau tidak bertemu dengan Dongchan ketika kita mengunjungi bibi Cha hari itu? Kalian tidak bermain bersama?” tanya Sungmin pada gadis kecilnya.

 

Hyebin memandang Sungmin sesaat dan kemudian menggelengkan kepalanya dengan polos.

“Tidak eomma. Aku bermain sendirian” jawabnya. Ia berbohong dengan tenang.

 

Sungmin menganggukkan kepalanya.

“Kalau begitu habiskan sarapanmu, ne?” katanya sambil mengusap lembut kepala Hyebin. Hyebin tersenyum.

 

Kyuhyun memandang jam tangannya dan menyelesaikan sarapannya dengan cepat. Ia harus segera berangkat ke kantor sekarang. Sungmin mengantar kepergian ‘suami’ dan anaknya di pintu depan. Kyuhyun mengecup Sungmin sesaat sebelum kemudian masuk ke dalam mobil, sementara Hyebin telah duduk manis di kursi penumpang. Mobil Samsung Renault hitam itu pun melaju pergi. Sungmin tersenyum dan beranjak masuk ke dalam rumah.

 

Kyuhyun mengemudikan mobilnya dengan tenang menuju sekolah Hyebin. Tidak ada yang berbicara, seperti biasa. Hyebin lebih suka memandang keluar jendela. Ia hanya menyahut singkat setiap kali Kyuhyun mengajaknya bicara. Kyuhyun melirik gadis kecil itu dengan penasaran. Dan pertanyaan itu kembali muncul di dalam kepalanya.

 

“Appa kita hampir sampai” kata Hyebin menyadarkan Kyuhyun dari pikirannya.

 

Mobil Kyuhyun berhenti di depan gerbang sekolah Hyebin. Hyebin melepaskan sit belt ditubuhnya dan tersenyum pada Kyuhyun. “Terima kasih appa” katanya.

 

Kyuhyun tersenyum dan membelai kepala gadis kecil itu.

“Bersikap baiklah disekolah. Ne, Hyebin ah?” katanya.

 

Hyebin menganggukkan kepalanya dan beranjak turun. Kyuhyun melambaikan tangannya sesaat pada Hyebin dan kemudian memacu mobilnya pergi. Selama beberapa saat Hyebin diam di tempatnya, memandang mobil Kyuhyun yang menjauh pergi. Senyum manis di wajahnya tadi menghilang dan berganti dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Dan kemudian ia beranjak masuk ke dalam sekolahnya.

 

~+~+~+~

 

“…rapat dengan perusahaan Marline akan dimulai pukul 11. Pukul 1 anda ada janji meeting dengan tuan Park. Lalu…”

 

Nona Kim sang sekertaris sedang membacakan jadwal hari ini. Namun sepertinya sang presdir tidak terlalu memperhatikannya. Kyuhyun sedang memandang keluar jendela, terdiam dengan wajah yang serius. Pertanyaan itu terus mengusik pikirannya. Pertanyaan tentang siapa sebenarnya Hyebin?

 

Entah kenapa Kyuhyun begitu penasaran. Tidak banyak yang ia ketahui tentang Hyebin. Gadis kecil itu berbeda dan aneh, begitu juga dengan boneka beruang yang selalu dibawanya itu. Itu juga aneh. Hyebin tidak pernah mau melepaskan boneka itu darinya. Ia juga tidak pernah memperbolehkan siapapun menyentuh ataupun mengambil bonekanya. Pernah, suatu hari Sungmin mendapat telepon dari sekolah Hyebin. Sungmin pun datang ke sekolah dan mendapatkan laporan yang mengejutkan. Gurunya mengatakan bahwa saat jam pelajaraan seorang temannya merebut boneka beruang Hyebin bermaksud untuk menggoda gadis kecil itu. Tapi tiba-tiba Hyebin berdiri dari kursinya dan berteriak begitu histeris. Seisi kelas sangat terkejut. Hyebin tidak berhenti berteriak meski gurunya mencoba menenangkannya. Hyebin baru berhenti berteriak saat akhirnya temannya itu mengembalikan bonekanya. Temannya itu meminta maaf pada Hyebin, namun gadis kecil itu hanya diam memandangnya dengan pandangan yang aneh. Kemudian Hyebin tersenyum dan kembali duduk di kursinya. Temannya itu terdiam dengan aneh dan kembali duduk kembali di kursinya. Suasana kembali tenang. Tapi tiba-tiba anak yang tadi menjahili Hyebin berdiri dari kursinya. Ia membuka jendela dan tiba-tiba melompat ke bawah, dari lantai 2 kelasnya. Beruntung anak itu selamat, hanya pingsan dan mengalami beberapa patah tulang. Saat ditanya kenapa anak itu tiba-tiba meloncat dari jendela ia menjawab,

 

“Karena Dia yang menyuruhku”

 

Tidak jelas siapa Dia yang dimaksud anak itu. Sungmin pun menganggap kejadian itu hanya kebetulan, dan soal boneka itu Sungmin mengatakan kepada gurunya bahwa gadis kecilnya hanya terlalu sayang dengan bonekanya. Setiap anak kecil pasti pernah mengalami hal itu ‘kan. Saat itu Kyuhyun hanya berpikir, benarkah seperti itu?. Tapi kini Kyuhyun berpikir bahwa ada sesuatu yang salah dengan gadis kecil itu.

 

“Nona Kim,” tiba-tiba Kyuhyun menginterupsi seraya membalik tubuhnya. “Batalkan semua janji hari ini dan undur rapat menjadi pukul 2 siang nanti”

 

“Anda mau pergi presdir?” tanya nona Kim.

 

Kyuhyun meraih jaket tebal miliknya yang disampirkan dikursinya. Ia berjalan melewati sekertarisnya sambil berkata, “Ya, aku harus pergi ke suatu tempat sekarang. Hubungi aku nanti”

 

“Baik presdir” kata nona Kim patuh.

 

Kyuhyun beranjak keluar dari ruangannya. Ia berjalan sedikit terburu-buru. Kepalanya berpikir, mungkin disana ia bisa mendapatkan sedikit jawaban.

 

~+~+~+~

 

Mobil Kyuhyun berbelok memasuki sebuah area rumah panti asuhan dan berhenti. Kyuhyun mematikan mesin mobil dan beranjak turun. Ia mengunci mobilnya dan berjalan mendekati rumah panti asuhan yang sudah nampak tua itu. Suster Marie berdiri di depan pintu. Ia tersenyum menyambut kedatangan Kyuhyun.

 

“Apa kabar suster Marie?” sapa Kyuhyun.

“Baik. Senang melihatmu lagi Kyuhyun ssi. Ayo masuk, udara semakin dingin akhir-akhir ini” kata suster Marie tersenyum dan mempersilakan tamunya masuk.

 

Kyuhyun beranjak masuk. Ia melepaskan jaket tebalnya dan menggantungkannya di tiang gantungan yang disediakan. Kemudian berjalan mengikuti suster Marie ke ruangannya. Beberapa anak-anak berlarian melewati Kyuhyun. Seorang anak lelaki tidak sengaja menabrak Kyuhyun. Ia membungkukkan kepalanya meminta maaf dan kemudian kembali berlari mengejar temannya. Kyuhyun hanya tersenyum dan kembali mengikuti suster Marie.

 

“Silakan duduk Kyuhyun ssi” kata suster Marie setelah mereka tiba diruangannya yang nyaman.

 

Kyuhyun beranjak duduk diseberang suster Marie.

“Saya cukup terkejut saat anda menghubungi saya hari ini. Nah, apa yang bisa saya bantu?” tanya suster Marie dengan ramah.

 

“Maaf mendadak menghubungi anda suster. Tapi saya datang ingin menanyakan sesuatu, tentang Hyebin” jawab Kyuhyun.

 

Senyum ramah itu mendadak hilang saat mendengar nama Hyebin. Suster Marie menautkan jemarinya diatas meja dan menggenggamnya dengan erat. “Apa…Hyebin membuat masalah, Kyuhyun ssi?” tanyanya.

 

“Tidak, tapi…” Kyuhyun menyenderkan tubuhnya ke belakang dan memandang suster Marie. “Saya tidak begitu mengerti. Saya merasa Hyebin sedikit…aneh.”

 

“Aneh?”

 

“Ya. Dia tidak bisa lepas dari boneka beruangnya. Dia akan tiba-tiba berteriak histeris setiap kali bonekanya diambil. Sungmin berpikir Hyebin hanya terlalu sayang dengan bonekanya itu. Beberapa anak kecil mengalami hal itu, katanya. Tapi saya tidak mengerti itu, suster. Saya justru merasa itu aneh”

 

Suster Marie menggenggam jemarinya semakin erat. Ia nampak sedikit gelisah.

“Hyebin memang seperti itu sejak dulu. Boneka itu sudah ada bersamanya saat saya bertemu dengannya. Dia sangat menyanyangi bonekanya itu” katanya.

 

Kyuhyun diam sejenak.

“Suster Marie. Sejak kedatangan Hyebin dirumah kami, saya selalu bermimpi aneh. Saya tidak mengerti. Itu mimpi yang benar-benar aneh dan selalu terjadi nyaris setiap malam. Mimpi-mimpi aneh itu berhubungan dengan Hyebin” katanya kemudian.

 

Suster Marie tersentak mendengarnya. Kyuhyun kembali diam dan sedikit menunduk. Kelihatannya ia sedang memikirkan sesuatu. Suster Marie memperhatikan tamunya dengan sedikit cemas. Dalam hati ia berharap agar Kyuhyun tidak menanyakan hal itu. Pertanyaan yang membuatnya harus mengingat kembali masa-masa gelap panti asuhan ini.

 

“Suster Marie, bisakah anda memberitahu saya?” Kyuhyun mengangkat pandangannya pada suster Marie.

 

“Apa itu, Kyuhyun ssi?”

 

“Bisakah anda memberitahu saya tentang Hyebin? Siapa dia sebenarnya? Darimana dia berasal?”

 

Pertanyaan itu membuat suster Marie terdiam. Ia beranjak bangkit dari kursinya dan berjalan ke jendela. Kyuhyun memperhatikan saat suster Marie memeluk tubuhnya sendiri yang bergetar pelan. Itu membuatnya bertanya-tanya dalam kepalanya, apa yang dirahasiakan oleh wanita paruh baya itu? Apa yang sebenarnya dirahasiakan oleh panti asuhan ini?

 

“Saat pertama kali kami mengatakan ingin mengadopsi Hyebin, anda nampak terkejut dan tidak yakin. Ada sesuatu yang anda sembunyikan, suster” kata Kyuhyun.

 

Suster Marie masih terdiam, menimbang-nimbang sesaat. Ia membalik tubuhnya menghadap Kyuhyun dan mendesah. Ia berkata,

“Seorang teman mengantarkan Hyebin pada saya suatu malam, 7 bulan yang lalu. Dia mengatakan bahwa panti asuhan tempatnya bekerja telah terbakar. Hyebin butuh tempat tinggal. Maka saya pun menerimanya dengan senang hati. Tapi, ternyata anak itu berbeda”

 

Kyuhyun mengernyit mendengarnya.

“Panti asuhannya yang lama terbakar? Kalau boleh tahu, dimana panti asuhan Hyebin yang lama?” tanyanya.

“Di Jeonju. Saya dengar, sebelumnya Hyebin berasal dari kota kecil Gimhae” jawab suster Marie.

 

Kyuhyun memperhatikannya dengan serius.

“Lalu dimana teman anda itu sekarang?” tanyanya lagi.

“Dia langsung pergi dengan wajah takut” jawab suster Marie.

 

Kyuhyun hendak bertanya lagi namun suara dering ponsel menginterupsinya. Kyuhyun merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya. Ia menjawab telepon dari sekertarisnya selama beberapa saat. Kemudian menutup teleponnya dan memandang suster Marie.

 

“Maaf suster, saya harus segera kembali ke kantor” kata Kyuhyun seraya berdiri dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.

 

Suster Marie terdiam sesaat memandang Kyuhyun.

“Berhati-hatilah dengannya Kyuhyun ssi” katanya tiba-tiba.

 

Kyuhyun memandang suster Marie dengan heran. Namun kemudian Kyuhyun hanya menganggukkan kepalanya pelan. Suster Marie mengantar tamunya hingga ke pintu depan. Kyuhyun mengambil jaketnya dari tiang gantungan, memakainya dan berterima kasih pada suster Marie atas waktunya. Namun sebelum pergi Kyuhyun berkata,

 

“Jika masih ada yang lain, saya harap anda mau menceritakannya kepada saya. Jaga diri anda suster Marie. Selamat siang”

 

Kyuhyun menaiki mobilnya dan mobil Samsung Renault hitam itu pun melaju pergi meninggalkan rumah panti asuhan. Suster Marie pun kembali masuk ke dalam rumah. Ia berjalan dengan cepat menuju ruangannya dan menghempaskan tubuhnya di kursinya. Ia menyentuh wajahnya dan mendesah. Mengingat kembali cerita lama yang tidak terlupakan.

 

Ya, mana mungkin ia lupa. Semua terror kematian itu. Sejak kehadiran Hyebin panti asuhan ini menjadi tidak pernah tenang. Selalu saja ada yang terjadi, bagaikan kutukan. Ratusan belalang yang tiba-tiba muncul entah darimana dan menyerang mereka. Makanan yang tiba-tiba berubah basi dalam sekejap dan dikerubuti oleh belatung. Air yang berubah menjadi darah.

 

Juga sikap sebagian anak-anak yang berubah aneh setiap kali berpandangan dengan gadis kecil itu. Nyaris setiap hari ia melihat anak-anak yang meloncat dari jendela tanpa sebab, membakar kamarnya dan membiarkan dirinya mati terbakar, meloncat dari atas pohon yang tinggi, atau memukul kepala teman mereka dengan batu tanpa sebab yang jelas. Nyaris setiap hari ia harus melihat kematian. Dan itu adalah mimpi yang paling buruk.

 

Sejujurnya malam itu, 7 bulan yang lalu itu bukanlah yang pertama kalinya ia bertemu dengan Hyebin. Ia pernah beberapa kali bertemu dengan gadis kecil itu 2 tahun lalu saat berkunjung ke Gimhae, ke sebuah kota kecil yang kini telah mati. Dan disanalah ia melihat sebuah rahasia menakutkan. Rahasia yang hanya ia ketahui.

 

Suster Marie beranjak bangkit dari kursi dan berjalan ke jendela. Ia memandang keluar jendela dan mendesah dengan berat. “Tuhan, apa aku telah berdosa karena membiarkan mereka mengadopsi anak itu demi ketenangan panti asuhan ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang?” gumamnya frustasi.

 

~+~+~+~

Setelah cukup lama berpikir, akhirnya sore harinya suster Marie memutuskan untuk menemui Kyuhyun. Ia harus menceritakan semuanya. Maka suster Marie mengendarai mobilnya menuju rumah kediaman Cho. Sungmin sedang berbicara dengan bibi Cha di telepon ketika suster Marie datang. Pemuda manis itu menutup teleponnya dan beranjak membuka pintu.

 

“Suster Marie. Ini sebuah kejutan” kata Sungmin tersenyum saat melihat suster Marie berdiri di depan pintunya.

 

Suster Marie tersenyum, nampak sedikit gelisah.

“Apa Kyuhyun ssi ada?” tanyanya.

“Kyuhyun? Ah, dia belum pulang. Dia masih ada rapat, tapi sebentar lagi dia akan segera pulang” jawab Sungmin.

 

Suster Marie terdiam sesaat.

“Boleh saya menunggunya? Ada yang ingin saya bicarakan dengan ‘suami’ anda. Ini penting” katanya kemudian dengan wajah serius.

 

“Tentu. Silakan masuk, suster. Diluar dingin sekali” kata Sungmin memperhatikan wanita paruh baya itu dan tersenyum. Kemudian ia mempersilahkan suster Marie masuk ke dalam rumahnya yang hangat dan rapi.

 

Suster Marie beranjak masuk. Ia memperhatikan sesaat ruang tamu yang tertata rapi itu sebelum menempatkan tubuhnya disofa yang empuk itu. Sungmin sudah menghilang didapur. Tidak lama kemudian pemuda manis itu kembali dengan secangkir teh ditangannya. Ia meletakkan cangkir teh itu di depan suster Marie dan tersenyum mempersilahkan. Suster Marie tersenyum menggangguk dan menyesap tehnya sesaat. Ia meletakkan cangkirnya kembali dan memandang Sungmin yang duduk didekatnya.

 

“Bagaimana kabar Hyebin? Apa dia membuat masalah?” tanya suster Marie sedikit berbasa-basi.

“Ah, tidak. Hyebin anak yang manis. Meski, yah…dia masih belum bisa lepas dari boneka beruangnya. Maklumlah, anak-anak” jawab Sungmin dengan santai.

 

“Suster Marie, apa anda tahu? Saya senang telah mengadopsi Hyebin. Saya sangat bersyukur sekali” kata Sungmin kemudian sambil tersenyum senang pada tamunya.

 

Suster Marie terdiam memandang Sungmin. Ia sedang menimbang-nimbang, haruskah ia membicarakannya juga pada Sungmin? Tapi nampaknya pemuda manis ini sangat menyayangi Hyebin, dan itu berbahaya untuknya.

“Sungmin ssi” panggil suster Marie.

“Ya?” jawab Sungmin.

 

Suster Marie terdiam sejenak. Sungmin memperhatikan raut wajah suster Marie yang berubah serius. Ia melihat ada ketegaran disana, juga ketakutan yang tidak kalah besarnya. “Ada apa suster?” tanya Sungmin heran.

 

Suster Marie menarik nafas sejenak dan kemudian berkata pelan,

“Ini tentang Hyebin. Anda harus tahu tentang ini. Sebenarnya Hyebin……”

 

Kriiing!!!

 

Perkataan suster Marie terpotong oleh suara dering telepon. Sungmin tersenyum meminta maaf dan beranjak mengangkat telepon yang terus berdering di dekat TV. “Yoboseo? Oh, bibi Cha. Bagaimana……”

 

Ternyata itu bibi Cha yang sedih karena anak bungsunya yang belum juga ditemukan. Sungmin mulai sibuk mendengarkan cerita bibi Cha yang memang sedang butuh seseorang untuk mendengarkannya. Setidaknya itu bisa membuat wanita itu sedikit tenang. Sementara Sungmin sedang sibuk di telepon, suster Marie terdiam ditempatnya. Ia menarik nafasnya beberapa kali, seolah sedang menguatkan dirinya.

 

“Aku harus mengatakannya kepada mereka. Ini untuk keselamatan mereka” katanya yakin.

 

Suster Marie beranjak berdiri dan mulai memperhatikan lukisan-lukisan yang terpajang indah di dinding. Juga pajangan-pajangan yang tertata rapi. Rumah ini benar-benar indah dan nyaman, pikir suster Marie tersenyum. Terdengar suara dari arah tangga. Suster Marie menoleh ke arah tangga. Suara halus itu menarik perhatiannya. Ia menoleh sesaat pada Sungmin yang masih sibuk dengan teleponnya. Kemudian ia berjalan ke arah tangga.

 

Ia memperhatikan ke atas sesaat. Suara halus itu lagi-lagi terdengar. Saat ia menapakkan satu kakinya di anak tangga, angin hangat bertiup melewati kakinya seperti seekor kucing menyelinap. Suster Marie menoleh ke belakang sesaat dan mengernyit. Hari ini cuaca sedang dingin, lalu darimana angin hangat tadi berasal?

 

Suster Marie kembali melangkahkan kakinya menaiki anak-anak tangga itu. Ia merasa seperti ada sesuatu yang mengikuti langkah kakinya. Suster Marie mengabaikannya. Di tangga ada sebuah cermin yang besar. Suster Marie melewatinya tanpa menoleh, dan tidak menyadari ada bayangan lain di belakang bayangannya yang terpantul di dalam cermin itu. Bayangan seekor anjing hitam yang besar.

 

Ruangan diatas tidak kalah indah dengan yang dibawah. Semua tertata rapi. Suster Marie melangkah pelan. Ia melihat sebuah kamar yang pintunya setengah terbuka. Perlahan ia mendekati kamar itu dan membuka pintunya yang ternyata adalah kamar Hyebin. Ia melangkah masuk dan melihat Hyebin sedang menggambar di tembok. Gadis kecil itu menggoreskan crayonnya ditembok dengan tenang, membiarkan suster Marie memasuki kamarnya. Namun yang membuat suster Marie terbelalak dan memucat bukan Hyebin, melainkan gambarnya.

 

Dinding kamar itu penuh dengan gambar yang tidak umum digambar oleh anak berusia tujuh tahun. Suster Marie menyentuh gambar-gambar itu dengan takjub bercampur ngeri. Itu benar-benar gambar-gambar yang menyeramkan. Seorang pria dan seorang wanita yang mati tertembak. Seorang anak yang tenggelam di dalam danau es. Orang yang jatuh dari tangga dan tertimpa obeng tepat di kepalanya. Orang yang diserang oleh sekelompok serigala. Dan adegan mengerikan lainnya.

 

Suster Marie menarik tangannya dari dinding.

“Tuhan…” desisnya pelan.

 

Kemudian ia menoleh pada Hyebin. Hyebin masih asyik menggambar sesuatu di dinding. Tangannya tidak berhenti menggoreskan crayon hitam miliknya. Tanpa menoleh ia berkata dengan suara yang tenang,

“Di sini kau bisa melihat takdir mereka. Orang-orang yang jahat, jiwanya akan terbakar di neraka. Aku biasa melihat hal itu”

 

Pada gambar-gambar itu tiba-tiba muncul darah dari balik dinding. Darah-darah itu mengalir turun dengan pelan. Suster Marie terkesiap melihatnya. Wajahnya semakin memucat. Namun bukan hanya itu yang membuatnya semakin takut. Tapi justru gambar yang sedang diselesaikan oleh Hyebin itu. Hyebin menghentikan tangannya dan menoleh pada suster Marie.

 

“Apa kau tahu suster Marie? Takdirmu pun juga ada disini. Apa kau tidak mau tahu bagaimana kelanjutannya?” tanya Hyebin dengan suara yang sangat tenang.

 

Suster Marie mundur perlahan hingga tubuhnya menabrak meja nakas. Tubuhnya gemetar. Ia tersentak saat merasakan angin hangat yang bertiup melewati kakinya. Ia menggelengkan kepalanya dan berkata ketakutan.

“Dasar iblis!” dan kemudian ia berlari keluar.

 

Suster Marie menuruni tangga dengan cepat, hampir terjatuh. Ia meraih tasnya disofa dan segera berlari pergi tanpa pamit pada Sungmin yang masih menelpon. Melihat tamunya berlari ketakutan Sungmin segera menutup teleponnya dan berlari mengejarnya keluar rumah. Namun mobil suster Marie telah melaju pergi dengan cepat. Dari jendela kamarnya Hyebin memperhatikan mobil suster Marie yang semakin menjauh pergi.

 

“Kenapa suster Marie pergi begitu saja? Apa yang membuatnya ketakutan seperti itu?” kata Sungmin mengernyit bingung.

 

Sungmin mengangkat kedua bahunya dan beranjak masuk ke dalam rumah. Ia naik ke lantai 2, menuju kamar Hyebin. Ia membuka pintu kamar Hyebin dan menemukan gadis kecil itu sedang asyik menggambar di buku gambarnya. Gambar-gambar aneh tadi telah tersembunyi dibalik wallpaper kamarnya, entah bagaimana caranya. Sungmin tersenyum melihat kesibukan gadis kecilnya dan mendekatinya. Ia melihat Hyebin sedang menggambar sebuah rumah yang indah.

 

“Itu gambar yang indah” komentar Sungmin sambil membelai kepala Hyebin dengan lembut.

 

Hyebin mengangkat kepalanya pada Sungmin dan tersenyum.

“Oh ya, Hyebin ah. Apa tadi suster Marie menemuimu?” tanya Sungmin.

 

Hyebin menganggukkan kepalanya.

“Kami mengobrol dan bermain sebentar. Katanya suster Marie rindu padaku. Tapi kemudian suster Marie terburu-buru pergi, katanya ada urusan penting” jawabnya berbohong.

 

“Urusan penting?” kata Sungmin mengernyit.

 

Hyebin menganggukkan kepalanya dengan polos. Sungguh, dia seorang pembohong yang paling baik. Sungmin tersenyum dan membelai kepala Hyebin dengan sayang. Kemudian ia beranjak keluar dari kamar Hyebin tanpa menyadari seulas senyum kecil disudut bibir gadis kecil itu. Sungmin menuruni tangga sambil berpikir, mungkin suster Marie benar-benar sedang terburu-buru. Tapi sepertinya tadi dia ingin mengatakan sesuatu tentang Hyebin. Apa yang ingin suster Marie bicarakan tadi?

 

~+~+~+~

 

Suster Marie mengendarai mobilnya secepat mungkin. Ia benar-benar ketakutan. Beberapa kali mobilnya hampir menyerempet mobil lain. Ia menarik nafasnya berulang kali, menyebut nama Tuhan dan berusaha menenangkan dirinya. Ia tahu Hyebin bukan anak biasa. Dia iblis pembawa kutukan.

 

“Tuhan, aku tidak bisa membiarkan ini. Aku harus bicara dengan Kyuhyun ssi” katanya.

 

Ia menurunkan kecepatan mobilnya dan merogoh tasnya. Tangannya meraba mencari ponselnya. Tapi bukan ponsel yang teraba tangannya, melainkan sebuah moncong degan gigi-gigi yang tajam serta bulu yang halus. Ia tersentak dan segera menarik tangannya.

 

“Astaga. Apa itu?” katanya ketakutan.

 

Ia melirik tasnya dengan ragu sesaat dan kemudian kembali merogoh ke dalam. Akhirnya ia berhasil menemukan ponselnya. Ia segera mencari nama Kyuhyun dalam daftar kontak dan menekan tombol call. Tapi teleponnya tidak dijawab. Ia berusaha beberapa kali tapi teleponnya tidak kunjung dijawab. Mungkin Kyuhyun sedang sibuk saat ini, atau sedang dalam perjalanan pulang. Akhirnya ia pun memutuskan untuk mengirimkan pesan suara saja. Setidaknya pesan ini harus disampaikan.

 

Ia mulai berbicara dengan cepat ditelepon, berusaha memberitahu semua yang ia tahu pada Kyuhyun. Nafasnya memburu. Dan tiba-tiba mobilnya semakin cepat melaju. Ia berusaha mengendalikan mobilnya dan menginjak rem. Tapi rem tidak berfungsi. Bagaimana bisa? Padahal mobilnya baik-baik saja tadi.

 

Ditengah kebingungannya tiba-tiba suara halus itu kembali terdengar. Ia mengangkat kepalanya dan terkejut saat sesuatu tiba-tiba melintas di depan mobilnya. Dengan kaget ia membanting kemudi ke kanan dan mobilnya menabrak dinding dengan keras. Suara keras dari tabrakan itu menarik perhatian orang-orang disekitar. Ditengah kesadarannya suster Marie menggenggam ponselnya dan menekan tombol send. Tiba-tiba mobilnya meledak. Mobil itu terbakar. Apinya membumbung, menjilat dinding yang masih berdiri dengan baik.

 

Orang-orang berusaha memadamkan api dan menolong korban. Polisi datang terlambat, dan semuanya sudah terlambat. Saat api berhasil dipadamkan, bekas api membentuk sesuatu di dinding. Berwarna hitam, berbentuk seekor anjing besar.

 

~+~+~+~

 

Sementara itu ditempat lain, di waktu yang sama. Dikamarnya Hyebin sedang asyik menggambar, menyelesaikan gambar terkutuknya. Ia menghentikan tangannya dan kemudian memperhatikan hasil gambarnya sesaat. Gambar sebuah mobil yang mengalami kecelakaan dan terbakar. Bekas api yang menjilat membentuk sesuatu di dinding. Berwarna hitam, berbentuk seekor anjing besar. Gambar yang sama persis dengan kejadian yang baru saja terjadi pada suster Marie. Hyebin meletakkan crayonnya. Ia beranjak duduk diatas ranjang dan meraih boneka beruang kesayangannya. Ia memeluk bonekanya. Sambil tersenyum ia berkata,

 

“Anjing kematian memang yang terbaik. Bukankah begitu, Shery?”

 

Tbc

7 thoughts on “Never know / part 4

  1. Nyanyiannya, serem >< mimpi Kyu itu semacem petunjuk kah? Oh, imajinasimu benar-benar luar biasa. Horornya benar-benar keren, dan aku gak tahu harus komen apalagi =="
    Jadi, nama bonekanya Hyebin itu Sherry.

  2. Demi apa ini serem bnget.
    Hyebin emg pengendali nya yaa, lewat gambaran gambaran yg aneh itu.
    Aduh aduh, itu Suster marie udah tewas, terus habis ini siapa? Kyu kah? Diliat dari Kyu yg sering mimpi aneh apa itu petunjuk yg mengarah ke situ?
    Andwee!! u,u

  3. ini yg paling menegangkan dr yg sebelumya. ..
    mimpi mimpi yg kyuhyun alami itu apakah sebuah petunjuk? ??
    semoga pesan yg d’kirim suster marie d’terima oleh kyuhyun. .
    hyebin itu adalah sebuah ruang kegelapan???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s