Kinky Rain

Gambar

Pairing           : KyuMin

Genre              : Hurt

Length            : OneShoot

Warning         : Boys love. Shounen-ai. Broken!KyuMin

Disclaimer     : Story belong to me, KyuMin belong to each other

Summary       : Terkadang aku merindukan kepedihan itu, ketika aku mengingat kembali tentangmu dan semua hari-hari itu. Bersama hujan yang menggoda ini aku mengingkari janji untuk tetap menjadi “kau” dan “aku” saja. Janji dua orang asing yang bertemu ditengah jalan.

 

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

Suara rinai hujan membangunkan Kyuhyun pagi itu. Ia terduduk di ranjangnya yang dingin dan termanggu memandang tempat kosong disampingnya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar, mencari seseorang yang biasanya menyambut paginya dengan pelukan hangat dan kecupan selamat pagi yang manis. Tapi kemudian ia mendesah kecewa saat menyadari bahwa semua itu kini hanyalah masa lalu yang telah lama meninggalkannya. Sudah lama sekali.

 

Kyuhyun kembali memandang tempat kosong disampingnya. Ia kembali termanggu, seolah masih bisa melihat tubuh sexy pemuda manis itu yang tergolek menggoda disampingnya, tubuh yang terasa hangat ketika ia memeluknya. Kaki mereka saling menyilang di dalam selimut. Bibir mereka saling memagut mesra. Dan suara rinai hujan menemani percintaan hangat mereka. Mata foxy yang cemerlang milik pemuda manis itu menatap percik hujan yang mengenai permukaan kaca jendela. Dan bahkan Kyuhyun masih dapat mendengar suaranya yang lembut berkata,

 

“Aku tidak mengerti. Kenapa semua orang selalu menggambarkan hujan sebagai sesuatu yang romantis? Suatu hal yang lembut dan mellow. Bagiku, hujan selalu nampak seperti paku-paku tajam yang menghujam bumi. Keras dan dingin. Kenapa kau menyukai hujan, Kyu?”

 

Kyuhyun mendesah dan menggelengkan kepalanya pelan, seolah itu dapat menghapus semua kenangan itu dari dalam kepalanya. Kenangan-kenangan yang kerap terasa pedih setiap kali ia mengingatnya. Tapi anehnya, terkadang ia justru merindukan kepedihan itu. Sama halnya seperti ia yang terus merindukan orang itu, Lee Sungmin. Seseorang yang membuatnya tergila-gila. Juga seseorang yang memilih meninggalkannya. Kyuhyun masih ingat, hari itu mereka bertengkar hebat. Sungmin yang biasanya selalu tenang meledak seperti gunung meletus. Ia menumpahkan segalanya pada Kyuhyun seperti lava yang mengalir. Sementara Kyuhyun hanya diam, berusaha menahan segala perasaan yang tiba-tiba menyesakkan dadanya.

 

“Kau tidak pernah mengerti Kyu! Kau tidak pernah mengerti apapun!” teriak Sungmin dengan marah saat itu.

 

Kyuhyun menarik nafasnya dengan kesal, mulai merasa tidak tahan.

“Cukup!” teriak Kyuhyun membuat Sungmin terkejut dan langsung berhenti bicara.

 

Kyuhyun merengut kesal. Kini wajah tampan itu terlihat sangat marah dan……terluka. Yeah, ada sebersit luka yang terlihat dalam sepasang mata itu. Lantas Kyuhyun berkata, “Kau pikir aku tidak pernah mengerti tentangmu? Adakah orang yang lebih mengerti dirimu selain aku? Aku selalu berada di sisimu. 6 tahun, tapi baru sekarang kau meragukanku? Kau lucu sekali Lee Sungmin”

 

Sungmin terdiam. Kyuhyun terus memandangnya dengan sorot mata kecewa.

“Beritahu aku Lee Sungmin, apa yang kau mau dariku?” kata Kyuhyun lirih.

 

Sungmin menarik nafasnya sejenak dengan berat. Kemudian ia berkata dengan serius,

“Ini bukan dunia yang ramah bagi cinta seperti ini, Kyu. Ini cinta yang tidak memiliki harapan. Kita tidak bisa seperti ini terus. Lupakan! Lupakan aku! Lupakan semua ini! Mulai saat ini kita hanyalah dua orang asing yang bertemu ditengah jalan. Jika kita bertemu disuatu tempat, jangan berbalik dan jangan memanggilku. Teruslah berjalan. Berjanjilah, Kyu!”

 

Kyuhyun kembali mendesah dan berpikir, jika saja Sungmin mau mengerti dan lebih berani, mungkin mereka sudah bahagia saat ini. Tapi ternyata pemuda manis itu justru meninggalkannya dan memilih kebahagian yang lain. Tapi benarkah dia sudah bahagia sekarang? Kyuhyun beranjak turun dari ranjangnya dan masih saja membiarkan kepalanya mengingat kembali semua kenangan-kenangan itu. Ia berusaha menikmati kepedihan itu dan membuka hatinya untuk kembali terluka ketika mengingat kembali janji yang sering melengkapi cerita. Itu bukanlah janji untuk menjadi “kita” selama-lamanya, tapi untuk tetap menjadi “kau” dan “aku” saja. Tidak ada janji untuk tinggal, tidak ada janji untuk menunggu.

 

Sering kali mereka berpisah di suatu tempat. Lalu bertemu di tempat lain. Saling memunggungi. Saling berhadapan. Selalu tidak pernah meminta suatu keharusan. “kita” akan tetap menjadi “kau” dan “aku”.  Ya, itulah janji mereka. Janji dua orang asing yang bertemu di tengah jalan. Janji yang menyesakkan.

 

~+~+~+~

“Happy b’day!”

 

Kyuhyun baru saja tiba di Mobit’s café, tempat biasa ia berkumpul bersama para sahabatnya. Ia terkejut menerima kejutan dari para sahabatnya. Semua sahabatnya berkumpul dan sebuah chocolate cake dengan beberapa batang lilin yang menancap diatasnya sedang disodorkan kepadanya. Api kecil membakar sumbu lilin-lilin itu. Kyuhyun memperhatikan sesaat para sahabatnya dan ia pun mengerti, bahwa para sahabatnya ini sedang berusaha membuatnya senang. Berusaha untuk sedikit menyembuhkan luka dihatinya dan membuatnya sejenak melupakan Sungmin. Mereka adalah para sahabat terbaik. Kyuhyun tersenyum.

 

“Cepat tiup lilinnya, Kyuhyun ah! “ kata Changmin dengan bersemangat.

“Tapi sebelumnya hyung, kau harus membuat permohonan dulu” kata Minho.

 

Kyuhyun memandang api lilin. Ia termanggu sesaat. Permohonan? Permohonan seperti apa yang harus ia buat? Bisakah ia memohon agar waktu bersedia mundur, kembali pada semua kenangan-kenangan itu?, pikirnya. Tapi kemudian Kyuhyun menyadari bahwa itu tidak mungkin. Sang waktu telah tersenyum kejam padanya, pada takdir yang terbatas. Kyuhyun pun meniup semua api lilin itu hingga padam seraya mengucapkan permohonan di dalam hatinya. Satu permohonan yang tersisa. Jika bisa, ia hanya ingin terus mencintai Sungmin. Meskipun kini, pemuda manis itu bukan miliknya lagi.

 

Semua teman-temannya bertepuk tangan dan bersorak senang untuk Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum senang dan berterima kasih. Pesta pun berlanjut. Kyuhyun mulai larut dalam canda dan tawa sahabat-sahabatnya. Sejenak melupakan kepedihan di hatinya. Changmin yang sangat suka makan merengut kecewa ketika potongan chocolate cake miliknya telah habis. Ia melihat sepotong chocolate cake yang tersisa diatas meja. Baru saja ia mengulurkan tangannya untuk mengambil potongan kue itu, tangan Kyuhyun menahannya dengan cepat.

 

“Jangan. Potongan kue ini untuknya” kata Kyuhyun.

 

“Apa? Apa kau bermaksud menemuinya dan memberikan potongan kue ulang tahunmu? Tapi bukankah kalian sudah berjanji—“ kata Changmin yang segera terdiam ketika Minho menendang kakinya.

 

“Apa itu tidak apa-apa, hyung? Mungkin sebaiknya kau tidak melakukannya” kata Minho sedikit cemas memandang sahabatnya itu.

 

Kyuhyun mendesah pelan. Ia memandang potongan kue yang tersisa diatas meja. Sambil tersenyum pedih ia berkata, “Aku hanya tidak ingin mati pelan-pelan karena rindu ini”. Changmin dan Minho hanya terdiam mendengarnya.

 

~+~+~+~

Hujan masih saja belum berhenti meski hari sudah beranjak sore. Pesta ulang tahun yang menyenangkan itu sudah selesai. Kyuhyun beranjak pergi dengan membawa sepotong kue ulang tahunnya yang tersisa. Ia menggenggam payungnya dan berjalan diantara keramaian orang-orang yang memenuhi jalan. Orang-orang yang berjalan terburu-buru dengan payung mereka, mungkin mereka ingin segera sampai dirumahnya yang hangat atau ingin bertemu dengan seseorang. Dan orang-orang yang berjalan santai sambil berpegangan tangan dengan seseorang yang sedang bersamanya. Berbagi payung bersama dan saling tersenyum hangat.

 

Kyuhyun menghentikan kakinya ketika ia melihat sosok itu diantara payung-payung yang memenuhi jalanan. Pemuda manis itu berjalan dengan tenang dibawah payung merahnya. Kyuhyun berharap Sungmin akan melihatnya dan menghentikan langkahnya. Tapi ternyata Sungmin terus melangkahkan kakinya melewati Kyuhyun, seolah pemuda manis itu tidak melihatnya. Atau pura-pura tidak melihat?

 

Seperti dua orang asing yang bertemu ditengah jalan, itulah janji mereka. Tapi pada akhirnya salah satu dari mereka mengingkari janji itu. Dan orang itu adalah Kyuhyun. Seharusnya Kyuhyun membalik tubuhnya dan beranjak pergi. Tapi ia terus menatap punggung itu sambil menunggu, berharap Sungmin akan berbalik dan tersenyum sembari berkata, “Jika ada yang harus terus berjalan, itu adalah “kita” bukan “aku” atau “kau” saja”. Berharap Sungmin bersedia memberi izin untuk menunggu, atau menautkan kelingking mereka menjadi kata “KITA”.

 

Tapi Sungmin terus berjalan dan Kyuhyun harus menanggung konseunsinya dengan kehilangan punggung itu. Kyuhyun mengenggam payungnya dengan erat ketika kepedihan itu menderanya. Kyuhyun berpikir, mungkin ia memang terlalu banyak berharap pada Sungmin. Harapnya melebihi tangis yang ia pendam diam-diam. Berharap Sungmin mengerti, satu kali saja. Bahwa ia sungguh mencintainya. Bahwa ia rela menentang dunia demi untuk bersamanya.

 

“Tapi kenapa kau tidak pernah mau mencoba mengerti, Sungmin?” gumam Kyuhyun pelan, penuh luka.

 

~+~+~+~

Kyuhyun menghentikan kakinya di depan rumah Sungmin. Ia memperhatikan rumah itu dari luar. Dari bawah payungnya ia memperhatikan sosok Sungmin yang terlihat di jendela. Kyuhyun melihat Sungmin sedang asyik bercengkrama dengan seorang gadis kecil. Pemuda manis itu nampak tertawa senang. Dan sungguh,  Kyuhyun merindukan derai tawa itu. Tanpa sadar Kyuhyun tersenyum kecil melihatnya.

 

Kyuhyun berpikir kembali tentang janji itu. Janji dua orang asing yang bertemu ditengah jalan. Janji itu telah membuat dunianya menjadi tidak sama lagi. Rasanya sangat sulit untuk mengurung bayangan manis Sungmin di dalam kotak Pandora dan meninggalkannya dibelakang. Sangat sulit untuk tidak mengabjad kata-kata pada hari-hari pemuda manis itu. Dan mungkin memang sejak awal Kyuhyun sudah mengingkari janji itu. Andai Sungmin tahu, bahwa sesekali ia datang. Berdiri tak jauh darinya. Mengamatinya. Mengikuti setiap hal yang terjadi pada pemuda manis itu, seolah ia masih menjadi bagian di dalamnya. Dan terus merindukannya. Tapi kini Kyuhyun merasa rindu ini semakin membunuhnya. Karena itu, hari ini Kyuhyun nekat menemui Sungmin.

 

Kyuhyun berjalan masuk ke pekarangan rumah Sungmin yang asri dan berdiri di depan pintu rumah Sungmin yang teduh. Ia meletakkan payungnya yang basah di lantai dan menekan bel. Kyuhyun menunggu beberapa menit hingga akhirnya pintu itu terbuka. Sosok manis Sungmin muncul diambang pintu. Pemuda manis itu nampak terkejut melihat kedatangan Kyuhyun.

 

“Hai…” sapa Kyuhyun dengan tersenyum. Berharap pemuda manis itu akan membalas senyumannya dan memeluknya dengan hangat, seperti dulu.

 

Tapi Sungmin hanya memandangnya dengan tatapan tidak percaya. Pemuda manis itu sedikit menutup pintu rumahnya dan kembali memandang Kyuhyun dengan ekspresi yang sama. “Kenapa kau datang? Apa kau sudah lupa dengan janji kita? Padahal aku sudah berpura-pura tidak melihatmu ketika kita bertemu di jalan tadi” katanya.

 

Kyuhyun memandang Sungmin dengan kecewa. Ia menarik nafasnya sesaat, seolah sedang berusaha mengumpulkan kekuatan yang tersisa. Kekuatan untuk bertahan dari rasa pedih itu. Kemudian ia memberikan kotak kue yang dibawanya pada Sungmin, sepotong kue ulang tahun yang sengaja Kyuhyun sisakan untuk pemuda manis itu. Katanya,

 

“Hari ini aku datang ke hadapanmu karena rasa rinduku. Karena aku tidak ingin mati pelan-pelan karena merindukanmu. Aku…hanya ingin membagi sepotong kue ulang tahunku untukmu. Apakah kau mau menerimanya? Dan bisakah aku meminta tolong padamu?”

 

“Meminta tolong padaku? Apa?” kata Sungmin mengernyit memandang Kyuhyun.

 

Kyuhyun terdiam sejenak. Kemudian ia berkata dengan nada lembut,

“Ya, tolong doakan aku baik-baik saja tanpamu. Pintakan pada Tuhanmu agar aku bahagia selalu. Harapkan apa saja yang bisa menguatkan langkahku menuju masa depan. Aku akan sangat berterima kasih jika kau bersedia melakukannya”

 

Sungmin tertegun mendengarnya. Ia memandang pria bertubuh tinggi itu lekat-lekat. Seseorang yang pernah mengisi hari-harinya dulu. Seseorang yang begitu mencintainya dengan tulus, tapi yang Sungmin berikan justru ucapan selamat tinggal. Dan di dalam mata obsidian yang teduh itu Sungmin menemukan sebuah luka dan kepedihan yang mendalam. Juga perasaan cinta yang masih tidak berubah, sebuah cinta tulus hanya untuknya. Seketika Sungmin merasa seperti seorang pecundang besar. A big loser!

 

Kyuhyun kembali berkata dengan suaranya yang terdengar sedikit serak. Seolah pria tampan itu sedang berusaha menahan kepedihan yang kembali menderanya. Mata obsidiannya menatap Sungmin. Katanya,

 

“Aku tahu, semua sudah selesai. Tidak ada lagi “kita”, yang ada hanya “aku” dan “kau” saja. Tapi setidaknya, izinkan aku untuk terus mencintaimu. Sekarang, aku hanyalah seseorang yang berada begitu jauh darimu. Seseorang yang tak kau sadari keberadaannya. Seseorang yang terlalu mengagumimu. Seseorang yang diam-diam begitu peduli padamu. Seseorang yang selalu menyimpan tangisnya untukmu. Seseorang yang, mungkin, perlu kau jaga hatinya untuk tidak terluka lebih dalam lagi. Bisakah?”

 

Sungmin terdiam. Ia tidak tahu harus bicara apa. Yang ia tahu, janji itu telah teringkari sekarang. Benar-benar teringkari. Sungmin masih terdiam ketika Kyuhyun menyentuh wajahnya. Ia membiarkan pria tampan itu mengecup bibir plump miliknya dengan lembut. Dengan lembut pula Kyuhyun berbisik ditelinganya,

 

“Aku merindukanmu, Lee Sungmin. I love you”

 

“Kyuhyunie……” Sungmin mengerjap memandang Kyuhyun. Ia terdiam sejenak dan membuka mulutnya, bersiap untuk mengatakan bahwa sebenarnya diam-diam ia pun masih menyimpan hatinya untuk pria tampan itu.

 

Namun belum sempat kata-kata itu keluar dari bibir Sungmin, pintu mendadak terbuka. Sosok seorang gadis kecil berusia empat tahunan muncul diambang pintu. Itu gadis kecil yang Kyuhyun lihat di jendela tadi. Rambutnya berwarna cokelat dan wajah manisnya blasteran Korea-Inggris. Gadis kecil yang cantik, dan sangat mirip dengan Sungmin.

 

Daddy” kata gadis kecil itu seraya memeluk kaki Sungmin. Ia segera bersembunyi di belakang kaki Sungmin ketika melihat Kyuhyun. Ia mendongak memandang Sungmin. “Daddy, ayo kita membuat pesawat keltas lagi” ajaknya seraya menarik-narik tangan Sungmin.

 

“Sebentar Marie…” kata Sungmin menghentikan tangan gadis kecilnya. Ia kembali memandang Kyuhyun yang nampak tidak terlalu terkejut. Tapi di dalam mata obsidian yang teduh itu Sungmin dapat melihatnya, kepedihan yang semakin dalam.

 

“Maafkan aku, Kyu. Untuk semuanya…” kata Sungmin dengan nada bersalah.

 

Kyuhyun hanya tersenyum. Seulas senyum pedih. Ia mengambil payungnya dan kemudian beranjak pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Semua yang harus ia katakan, sudah ia katakan pada Sungmin. Tidak ada lagi yang tersisa selain rasa cintanya yang masih tetap bertahan. Kyuhyun berhenti sesaat dan menoleh pada Sungmin yang terdiam di depan pintu. Gadis kecil bernama Marie itu terus menarik-narik tangannya, mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah mereka yang hangat. Sungmin masih terdiam menatap Kyuhyun. Dan akhinya ia pun mengalah pada ajakan gadis kecilnya.

 

Sungmin dan gadis kecilnya beranjak masuk ke dalam rumah. Pintu itu kembali tertutup rapat. Untuk beberapa lama Kyuhyun masih tidak beranjak dari tempatnya. Ia memperhatikan Sungmin yang berkumpul dengan keluarga kecilnya. Dan air mata itu pun meluruh turun dari sudut mata Kyuhyun, tersembunyi diantara rinai hujan yang pilu. Kyuhyun pun beranjak pergi tanpa menyadari bahwa Sungmin sedang memperhatikannya dari jendela. Pemuda manis itu terus menatap punggung Kyuhyun yang menjauh pergi dengan sedih. Ia merutuk di dalam hatinya. Merutuk sifat egois dan sikap pengecutnya.

 

Betapa bodohnya!

 

“Maafkan aku Cho Kyuhyun,” katanya berbisik pelan. “Jika saja saat itu aku tidak terlalu egois dan cukup berani untuk menantang dunia, seperti yang kau lakukan……”

~Fin~

7 thoughts on “Kinky Rain

  1. Yaaa!! author-sshi!! kenap harus se sakit ini??
    kenap semua kata2 di ff ini begitu nusuk hati?
    wae?? it’s so hurt! sad! omg T^T

  2. Pertama aku berkunjung k blog ini, ff pertama yg kubaca, dn hurt pula, angst malahan.
    Hadeh…
    Tapi keren nona author.
    Walo sedih tapi keren.
    Narasinya dalem bgt. Hukz…
    TToTT

  3. Hoo~..
    Sungmin ceritanya disini udah nikah yah author..?
    Tp bukan ama Kyu..?
    Haduuuhh~..
    Nyesek aku bacanya..
    Keren deh ffnya thor..^^b

  4. sungmin jahat banget sumpah ㅠㅠ nangis huaaaaa
    dan ini ” Tapi setidaknya,
    izinkan aku untuk terus mencintaimu.
    Sekarang, aku hanyalah seseorang
    yang berada begitu jauh darimu.
    Seseorang yang tak kau sadari
    keberadaannya. Seseorang yang
    terlalu mengagumimu. Seseorang yang
    diam-diam begitu peduli padamu.
    Seseorang yang selalu menyimpan
    tangisnya untukmu. Seseorang yang,
    mungkin, perlu kau jaga hatinya untuk
    tidak terluka lebih dalam lagi.
    Bisakah?” ngingetin aku sama oppadeul ;( kalo oppas nikah,aku gimana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s