Ilusi cemburu

Gambar

Pairing           : KyuMin / YeWook / slight KyuWook

Genre            : Angst, family

Length           : One Shoot

Warning         : Boys love, yaoi, M-preg

Disclaimer       : Terinspirasi dari pengalaman seseorang.

Summary         : Ok, satu-satu. Sungmin berselingkuh, Kyuhyun juga berselingkuh. Selingkuhan Sungmin adalah supir mereka, selingkuhan Kyuhyun adalah istri……supir mereka.

 

* Untuk keperluan cerita, golongan darah Sungmin dan Yesung yang sebenarnya aku ubah.

 

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by @Min kecil~

 

 

Kyuhyun selalu merasa beruntung dalam hidupnya. Ia telah memiliki rumah dengan halaman yang asri dan mobil-mobil pribadi. Pekerjaannya pun memiliki prospek yang baik. Sebagai manager, ia memiliki gaji yang lumayan besar. Keberuntungannya terasa lebih lengkap karena Kyuhyun memiliki Sungmin, seorang “istri” yang baik dan dua anak kembar yang sehat bernama Min Sae dan Min Yoo. Mereka berdua adalah anak-anak yang manis dan mudah akrab pada siapa saja. Sementara Sungmin adalah seorang pemuda yang berwajah manis sekaligus cantik. Dia lulusan kursus perbankan, bekerja sebagai teller di sebuah bank swasta. Gajinya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadinya dan menunjang kesejahteraan keluarga kecil mereka. Bukankah sebagai suami dan kepala keluarga Kyuhyun boleh merasa bangga serta puas, karena memiliki keluarga yang lengkap, rumah, mobil dan uang yang cukup?

 

Tapi satu hal saja yang kerap membuat Kyuhyun merasa kebahagiaannya terasa kurang lengkap, yaitu Sungmin. Pekerjaan dan kesibukannya membuat pemuda manis itu hanya memiliki waktu yang terbatas untuk anak-anak mereka. Setiap pulang kerja Sungmin sudah kelelahan, mengakibatkan anak-anak mereka seperti “anak pembantu” saja. Pagi hari Sungmin selalu sibuk mengurus dirinya sendiri untuk bersiap berangkat kerja dan tiba di rumah lagi ketika hari sudah gelap. Hal itu selalu membuat Kyuhyun berpikir berulangkali,

 

Jadi, kapan Sungmin bisa mengajak anak-anak bermain? Kapan dia bisa mendongeng dan mengajar anak-anak bernyanyi lagi? Kapan dia bisa memperhatikan dan mendengar celotehan anak-anak mereka?

 

Kesibukan Sungmin sering membuat hati kecil Kyuhyun kecewa. Kyuhyun mengerti, bekerja di kota Seoul yang selalu sibuk bukan hanya membuat letih karena tugas pekerjaan di kantor saja. Namun, yang lebih melelahkan dan juga sering menyita perasaan adalah masalah-masalah lain yang berkaitan dengan pergaulan antar teman kerja. Apalagi, Sungmin termasuk orang yang lebih emosionil daripada rasionil. Karena itu, beban mentalnya memang menjadi lebih berat. Akibatnya, kewajiban utamanya sebagai “istri” dan “ibu” sering di nomor sekiankan.

 

Malam mulai larut perlahan ketika Kyuhyun dan Sungmin sedang duduk bersama di ruang tengah. Kyuhyun sedang membaca buku sementara Sungmin sedang menonton tv seraya berbaring di paha Kyuhyun. Sungmin mengangkat kepalanya dari paha Kyuhyun ketika untuk ke sekian kalinya “suaminya” itu menyarankan padanya untuk berhenti bekerja saja. Lagipula, pendapatan yang Kyuhyun terima cukup untuk hidup mereka sekeluarga.

 

“Ribuan orang ingin bisa bekerja di bank, meski banyak pula yang sarjana tapi mereka tidak bisa bekerja di bank. Jadi, kenapa aku yang sudah menjadi karyawan bank harus berhenti?” kata Sungmin menolak saran Kyuhyun.

 

“Tapi sayang, anak-anak kita lebih berharga untuk kau perhatikan” kata Kyuhyun berusaha memberi pengertian.

“Selama aku bekerja tidak ada masalah dengan anak-anak, Kyu. Mereka selalu sehat. Nilai rapot mereka juga selalu bagus. Mengapa aku harus berhenti bekerja?” kata Sungmin tetap bertahan.

 

“Aku tidak tega mereka menjadi anak pembantu selama bertahun-tahun, sayang” ujar Kyuhyun lagi.

“Di Seoul ini jutaan anak berkembang dalam asuhan para pembantu. Sebaliknya, banyak sekali anak-anak yang gagal, meskipun diasuh oleh ibu mereka sehari penuh”

 

Kyuhyun mendesah karena sikap keras kepala Sungmin. Ia menutup bukunya dan sedikit melemparnya ke atas meja. Sungmin hanya memandang ketika Kyuhyun beranjak pergi dari rumah. Ia tahu, pria tampan itu tidak mau berdebat lebih lanjut lagi. Tidak lama terdengar suara mobil yang melaju pergi. Sungmin masih diam memandang pintu. Kemudian ia kembali pada layar tv, memandangnya dengan kosong.

 

Kyuhyun mengemudikan mobilnya dengan sedikit kesal, menyusuri keramaian kota Seoul yang tidak pernah terlelap. Cahaya dari lampu-lampu jalan dan papan billboard seakan menambah pesona malam kota Seoul yang menggoda. Para pasangan yang bergairah dan orang-orang yang kesepian menambah keramaian hiruk pikuk kota metropolitan ini. Kyuhyun mengemudikan mobilnya seraya berpikir. Ia tahu itu adalah prinsip “istrinya”. Ia sangat tahu bahwa Sungmin sangat mencintai pekerjaannya dan tentu pemuda manis itu akan mati-matian bertahan untuk terus bekerja, apapun usul dan pertimbangan yang ia sampaikan. Tapi sayangnya, pemuda manis itu tidak tahu bahwa sikap dan cara berpikirnya itu menimbulkan ketidakpuasan pada Kyuhyun. Membuat Kyuhyun kerap merasa direndahkan harga dirinya oleh Sungmin. Kyuhyun mendengus kesal dan memacu mobilnya semakin cepat.

 

~+~+~+~

Pagi hari selalu menjadi saat yang sibuk bagi Sungmin. Sungmin sudah sibuk mempersiapkan dirinya untuk berangkat kerja saat Kyuhyun bangun tidur. Bahkan ketika Kyuhyun dan anak kembarnya telah duduk manis menikmati sarapan mereka di meja makan, Sungmin masih saja nampak sibuk mempersiapkan barang-barangnya.

 

“Sayang, sarapanmu” kata Kyuhyun mengingatkan.

 

Tidak lama Sungmin datang. Ia duduk di dekat Kyuhyun dan ikut menikmati sarapannya bersama keluarga kecilnya. Sejenak mereka nampak seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia. Tapi ketika Sungmin mulai melihat jam tangannya, Kyuhyun merasa kebahagiaan itu seakan menyusut seketika. Sungmin memanggil supir pribadinya, dan tidak lama kemudian seorang pemuda datang. Berbeda dengan “suaminya” yang selalu mengemudikan mobilnya sendiri, Sungmin selalu ditemani oleh supir pribadinya kemanapun ia pergi.

 

Supir pribadi Sungmin yang sekarang adalah seorang pemuda bernama Kim Yesung. Sudah dua tahun Yesung bekerja di keluarga mereka menggantikan Shindong, supir sebelumnya yang terpaksa Kyuhyun berhentikan karena terlalu sering tidak datang dengan berbagai alasan. Penampilan Yesung selalu nampak rapi dan sederhana, gaya bicaranya pun baik dan lancar. Yesung berusia 28 tahun dan sudah berkeluarga. Ia memiliki seorang “istri” yang manis dan anak perempuan, satu-satunya. Kyuhyun masih ingat saat Yesung memperkenalkan “istri” dan anaknya ke rumahnya. Ketika itu ia sempat merasa heran karena “istri” Yesung sangat manis. Kyuhyun hampir tidak percaya, supirnya yang nampak sederhana dan biasa saja itu mempunyai “istri” yang sangat manis. Penampilannya sederhana namun serasi. Dia juga pendiam, tetapi murah senyum. Namanya Ryeowook.  Kalau melihat penampilan dan cara bicara Ryeowook, tentu orang tak percaya kalau dia tidak sempat lulus SMA. Dia tidak bekerja, tetapi mempunyai kesibukan “bisnis”, yaitu mengkreditkan barang-barang elektronik kepada warga di sekitar rumahnya atau kenalan-kenalannya. Kata Yesung, hasilnya lumayan, bisa untung seratus persen.

 

Yesung tidak hanya bertugas mengantar Sungmin ke kantor saja, tapi juga menjemput anak-anak pulang sekolah dengan menggunakan mobil. Kemudian sore harinya dia menjemput Sungmin kembali. Malamnya Yesung baru pulang ke rumahnya yang tidak terlalu jauh dari rumah mereka. Biasanya Yesung juga membantu menata dan membersihkan halaman, bahkan ikut pula mengawasi anak-anak mereka. Kyuhyun tahu, si kembar Min Sae dan Min Yoo sangat menyukai Yesung. Mereka begitu manja pada pemuda tampan itu, juga pada bibi Kim. Hal itu sering membuat Kyuhyun merasa kasihan dan berpikir bahwa anak-anaknya kekurangan kasih sayang dari Sungmin. Sebab, di hari minggu atau hari libur pun Sungmin tidak memberikan perhatian yang maksimal kepada mereka. Sepertinya, pemuda manis itu lebih berat dengan hobinya membuat kue-kue, membaca buku dan menonton TV yang menyita waktunya.

 

“Mobilnya sudah siap, tuan” kata Yesung ketika Sungmin bertanya, apakah mobilnya sudah siap.

“Kalau begitu, ayo berangkat. Aku hampir terlambat” kata Sungmin seraya berdiri.

 

Sungmin mengambil tasnya. Ia mengecup kepala dua anak kembarnya satu persatu. Kemudian mendekati Kyuhyun dan bertanya, “Hari ini anak-anak berangkat ke sekolah bersamamu? Atau biar bibi Kim saja yang mengantar mereka seperti biasanya?”

 

“Mereka berangkat bersamaku” jawab Kyuhyun dengan cepat.

“Baiklah. Kalau begitu, jangan sampai mereka terlambat, Ok?” kata Sungmin kemudian mengecup pipi Kyuhyun.

 

Kyuhyun memandang Sungmin yang beranjak pergi bersama Yesung. Tidak lama ia mendengar suara mobil yang melaju pergi. Kemudian ia beralih memandang dua anak kembarnya dan berkata pada mereka agar menyelesaikan sarapan mereka dengan cepat. Mereka juga harus segera berangkat.

 

~+~+~+~

Rutinitas dan kelelahan bekerja setiap hari membuat Kyuhyun dan Sungmin semakin kurang mesra. Kyuhyun menyadari, hubungan mereka semakin dibatasi jarak. Jarak itu berupa ego mereka masing-masing yang semakin hari bertambah besar. Tanpa sebab yang jelas, yang tersisa pada hubungan mereka adalah kejenuhan dan kerawanan. Mereka mulai jarang tidur bersama. Sungmin mulai bersikap acuh dan Kyuhyun sudah tidak berminat lagi, karena pemuda manis itu melayaninya dengan tanpa gairah. Meskipun begitu, Kyuhyun sama sekali tidak meninggalkan kewajibannya sebagai suami. Kyuhyun tetap memberikan percintaan itu sebulan sekali atau dua kali, meskipun diterima Sungmin secara ogah-ogahan.

 

Suatu hari, karena mobil Kyuhyun masuk bengkel terpaksa ia meminta Yesung, yang saat itu baru kembali dari mengantar Sungmin, untuk mengantarnya ke kantor. Saat dalam perjalanan itulah Kyuhyun memperhatikan, bahwa Yesung berpenampilan istimewa. Dari ujung kaki sampai ujung rambut, tampak keren, berbeda daripada biasanya. Bau parfum yang dipakainya menunjukkan bukan barang murah. Baju yang dikenakannya pun merk yang mahal.  Lalu iseng-iseng Kyuhyun bertanya, apakah usaha istrinya baru meledak dan untung besar?

 

“Tidak, tuan, biasa saja. Bahkan anak saya baru sakit sampai hampir seminggu. Wah, biaya pengobatannya besar sekali”jawab Yesung, sambil terus menyetir mobil.

 

“Aku senang melihat pakaianmu yang rapi dan serasi. Sepatumu pasti mahal. Juga jam tanganmu sepertinya baru” ujar Kyuhyun, pura-pura kagum.

 

Yesung tertawa senang karena pujian Kyuhyun. Kemudian ia berkata,

“Tuan bisa saja… Bukankah ini semua pemberian anda? Tuan Sungmin bilang, kalau anda membeli pakaian dan sepatu kekecilan. Karena itu diberikan kepada saya”

 

Kyuhyun tertawa sambil mengiyakan, meski dalam hati ia merasa terkejut. Ia yakin belum pernah membeli baju dan sepatu kekecilan serta menyuruh Sungmin memberikannya pada supirnya. Kemudian dengan sengaja Kyuhyun berkata bahwa semua barang itu barang mahal, agar Yesung berpikir barang-barang itu benar pemberiannya melalui Sungmin. Padahal, tidak mungkin ia membeli pakaian dan sepatu untuk dirinya sendiri hingga kekecilan. Kyuhyun merasa yakin, itu semua akal Sungmin untuk menyenangkan Yesung yang setiap hari mengantar-jemput dia. Tiba-tiba timbul pertanyaan di dalam hati kecil Kyuhyun, mengapa Sungmin memberi pakaian, sepatu dan mungkin juga perfum mahal itu kepada Yesung? Ada apa ini?

 

“Lalu, apakah biaya pengobatan anakmu sudah beres?” pancing Kyuhyun lagi.

“Sudah, tuan. Saya bermaksud pinjam pada tuan Sungmin. Saat nanti gajian, biar gaji saya dipotong sebagai angsuran. Tapi tuan Sungmin mengatakan itu bukan pinjaman, melainkan bantuan. Saya berterima kasih sekali, tuan. Jarang ada majikan seperti tuan Sungmin yang begitu perhatian pada driver-nya” jawab Yesung sambil tersenyum.

 

Jawaban Yesung itu membuat Kyuhyun merasa semakin heran. Sungmin tidak pernah mengatakan semua itu kepadanya. Tidak tentang baju dan sepatu itu. Tidak juga tentang uang itu. Mengapa? Ada apa ini?

 

~+~+~+~

 

Beberapa bulan terakhir ini hubungan Kyuhyun dan Sungmin semakin memburuk. Sungmin sering marah pada Kyuhyun, hanya karena pria tampan itu selalu pulang terlalu larut malam. Teguran Sungmin tersebut membuat mereka selalu bertengkar. Kyuhyun yang tidak mau terlalu sering di kritik, dan Sungmin yang kurang menunjukkan perhatiannya kepada Kyuhyun. Ego masing-masing yang semakin besar membuat keadaan menjadi lebih buruk. Siang itu mereka kembali bertengkar. Teguran dan kritikan Sungmin membuat Kyuhyun merasa sangat marah. Kyuhyun beranjak ke dapur, berusaha menghindari Sungmin. Tapi Sungmin terus mengikutinya, masih memburunya dengan kata-katanya yang terdengar menyebalkan ditelinga Kyuhyun. Akhirnya Sungmin berhenti bicara ketika tiba-tiba Kyuhyun membanting sebuah piring ke lantai dengan keras, hingga membuat piring itu pecah dan serpihan-serpihan pecahannya tersebar di lantai. Pemuda manis itu terkejut memandang “suaminya”.

 

“Lalu bagaimana denganmu?,” kata Kyuhyun dengan marah. Ia menatap pemuda manis itu dengan pandangan terhina. “Kau bersikap seolah tidak membutuhkan kami lagi. Apakah kami, aku dan anak-anak, tidak berarti lagi untukmu? Seolah kami hanyalah bayangan yang tidak kau butuhkan lagi.”

 

Kemudian Kyuhyun beranjak pergi dengan marah. Kyuhyun benar-benar marah. Bukan hanya karena teguran dan kritikan dari Sungmin yang membuatnya marah. Tapi karena sebuah pikiran yang masih saja tidak mau hilang dari kepalanya. Pemberian-pemberian Sungmin kepada Yesung, itu yang membuat Kyuhyun merasa harga dirinya sangat direndahkan. “istrinya” telah memanjakan Yesung dalam bentuk barang-barang mahal dan besar kemungkinan juga dalam bentuk yang berjumlah besar. Itu membuat Kyuhyun berpikir, tentu ada yang istimewa dalam hubungan antara supirnya ini dengan “istrinya”.

 

~+~+~+~

Yesung baru saja selesai menanam beberapa tanaman baru di halaman. Semua tanaman itu sudah memperoleh tempat untuk tumbuh dan siap untuk lebih mempercantik halaman yang asri ini. Yesung menyeka keringat di wajahnya dan tersenyum puas. Kemudian ia mencuci tangannya dan beranjak ke dapur untuk meminta minum pada bibi Kim. Namun saat ia tiba di dapur tidak ada bibi Kim disana, melainkan Sungmin. Ia melihat Sungmin duduk di lantai bersilang kaki. Lengannya bertumpu di lutut. Serpihan-serpihan piring pecah bertebaran di lantai. Pemuda manis itu tampak baru saja menangis. Helaian rambut basah menempel di wajahnya.

 

Yesung segera mendekatinya dan bertanya,

“Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja, tuan?”

 

Sungmin menatap Yesung dari ujung rambut hingga ujung kaki.

“Kenapa pakaianmu kotor seperti itu?”

 

Yesung memandang kaosnya yang kotor sesaat.

“Ah, ini…saya baru saja menanam beberapa tanaman tadi”

 

Sungmin hanya menggumamkan kata “oh” dengan pelan dan kemudian berkata,

“Kau harus merendam pakaianmu”

 

Yesung kembali memandang kaosnya.

“Saya mengerti,” katanya. Kemudian ia kembali memandang Sungmin. “Tapi mengapa kau duduk di lantai? Mengapa kau menangis?”

 

Sungmin diam dan hanya menatap serpihan-serpihan piring yang tersebar di lantai dengan tatapan kosong. Yesung membersihkan serpihan piring pecah itu dan ikut duduk di lantai, di samping Sungmin. Ia memandang Sungmin dengan penasaran.

 

“Tadi aku sedang memeras jeruk tapi jeruk itu kering sekali hingga aku merasa seperti mencekik seseorang hanya demi mengeluarkan sedikit cairan darinya,” kata Sungmin berbohong.

 

Yesung menatap matanya dengan seksama, dan Sungmin membuang muka.

“Aku mendadak marah. Marah kepada benda kecil ini. Aku meraih sebuah piring yang ditinggalkan Kyuhyun di rak pagi tadi dan melemparkannya ke dinding.” Lanjut Sungmin.

 

“Apa ada yang bisa saya bantu? Kau ingin saya menolongmu, tuan?” tanya Yesung.

 

Sungmin meraih tangan Yesung. Ia terdiam selama beberapa lama hingga akhirnya pemuda manis itu berkata, “Aku mencintainya lebih dari seharusnya. Tak peduli apapun yang dia lakukan, aku akan mencintainya dan itu adalah hal yang mungkin tidak bisa kau pahami”

 

“Saya memahaminya” sahut Yesung.

 

Sungmin meringkuk dan menyandarkan kepalanya di pangkuan Yesung.

“Aku sangat lelah” katanya.

 

Yesung hanya memandangnya dan terdiam selama beberapa menit. Kemudian ia bertanya pada Sungmin, apakah pemuda manis itu mau diantarnya ke kamar untuk beristirahat. Sungmin mengangkat kepalanya seraya menjawab tidak perlu. Ia menguap seraya berdiri dan Yesung menatapnya berjalan ke arah kamarnya.

 

~+~+~+~

Di kamarnya Sungmin justru tidak bisa tidur atau sekedar memejamkan matanya yang lelah. Ia berbaring di ranjang dengan gelisah, membalik tubuhnya ke kiri dan kanan. Tiba-tiba ia beranjak duduk dan membuka laci meja di samping tempat tidurnya. Ia mengambil sesuatu dari dalam laci meja dan menatap benda ditangannya itu dengan bingung, seolah tidak yakin haruskah ia mengujinya? Benda itu adalah sebuah test pack kehamilan. Ia membelinya beberapa hari yang lalu. Dan ia tidak hanya membeli satu test pack, melainkan beberapa test pack.

 

Sungmin beranjak ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya, dengan membawa semua test pack itu. Hampir tiga puluh menit Sungmin berada di dalam kamar mandi. Ia duduk diatas kloset dan menatap semua test pack itu berulang kali. Dan berulang kali pula ia mendapatkan hasil yang sama dari semua benda itu.

 

Dua garis merah.

 

~+~+~+~

Di ruang kerjanya yang tenang, Kyuhyun sedang mencoba meredam amarahnya. Ia berdiri memandang keluar jendela, menatap Yesung yang sedang sibuk membersihkan mobil. Kyuhyun mengerti, bahwa tidak sepantasnya ia mencemburui supirnya. Ia berpikir, yang salah adalah Sungmin, bukan Yesung. Jadi, kalau dia memberhentikan Yesung, apa alasannya? Sebagai supir, Yesung cukup handal. Mobil selalu bersih luar dan dalam. Kerusakan-kerusakan kecil diatasinya sendiri, jarang keluar-masuk bengkel. Yesung juga dapat dipertanggungjawabkan dalam hal membantu merawat dan ikut mengasuh anak-anaknya. Kyuhyun berpikir, akan sulit mencari supir seperti Yesung. Tapi, kalau Kyuhyun membayangkan hubungan “istrinya” dengan Yesung yang pasti intim, ingin rasanya ia memecatnya sesegera mungkin.

 

Kyuhyun tidak pernah mengungkapkan dugaannya tentang adanya hubungan khusus antara Sungmin dan Yesung kepada siapapun. Ia tidak dapat membuktikannya. Dan pula, Kyuhyun merasa gengsi serta bodoh sekali, mencemburui supirnya ada main dengan “istrinya”. Tapi yang terjadi, di dalam hati Kyuhyun telah tumbuh dan bersemi rasa curiga serta cemburu bercampur marah. Perasaan itu terus tumbuh perlahan seperti tunas yang berkembang. Semakin besar, semakin besar dan semakin besar.

 

Bukankah ini merupakan pelecehan terhadap suami? Bukankah berarti dia telah direndahkan oleh supirnya dan istrinya? Perasaan-perasaan semacam itulah yang membuat Kyuhyun tidak lagi bisa merasa gembira. Ia sering merasa terpukul dan terhina tanpa sebab.

 

Kyuhyun terlalu sibuk dengan pikirannya hingga tidak mendengar Sungmin masuk. Ia menoleh dengan terkejut ketika pemuda manis itu menepuk bahunya. “Tidak bisakah kau mengetuk pintu dulu?” kata Kyuhyun menggerutu.

 

“Aku sudah mengetuk pintu, tapi kau tidak mendengarnya. Jadi, aku masuk saja” kata Sungmin.

 

Kyuhyun mendesah dan beranjak duduk di sofa. Ia memandang “istrinya” sesaat dan mengerti bahwa ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh pemuda manis itu.

“Katakan saja. Ada apa?” tanyanya.

 

Sungmin beranjak duduk disamping Kyuhyun. Ia menatap “suaminya” dan berkata,

“Aku hamil”

 

Kyuhyun memandang Sungmin seolah ia salah dengar.

“Apa?”

“Aku hamil, Kyu. Aku hamil lagi”

 

Kyuhyun terdiam. Wajah tampannya terlihat terkejut dan tidak yakin. Kyuhyun merasa terjepit dan dipojokkan dengan berita yang baru saja disampaikan oleh Sungmin. Seharusnya berita kehamilan Sungmin membuatnya bahagia dan tersenyum. Tapi kenyataannya, itu membuat Kyuhyun sedih dan tertekan. Ia memandang perut Sungmin yang masih rata dan berpikir, bahwa janin tersebut adalah anak Yesung. Yang terbayang di dalam pikirannya adalah, bagaimana sepulang kerja Sungmin dan Yesung berkencan di hotel yang banyak terdapat di kota Seoul. Perselingkuhan mereka dapat dilakukan dalam sejam-dua jam. Lalu, Sungmin mampir ke supermarket atau ke toko. Jadi, alasan terlambat sampai di rumah dua atau tiga jam tidak masalah. Walaupun berada di tempat perbelanjaan itu dilakukannya cukup beberapa menit, itu bisa dijadikan penguat alasan terlambat sampai rumah.

 

“Keparat!” maki Kyuhyun dalam hati.

 

~+~+~+~

Hubungan Kyuhyun dan Sungmin sehari-hari menjadi semakin tawar. Sering berhari-hari mereka tidak saling bicara. Atau hal-hal kecil membuat mereka bertengkar berkepanjangan. Kyuhyun merasakannya sekali, ada jurang pemisah yang semakin menganga diantara mereka. Jurang itu berupa kecurigaan, rasa marah dan cemburu yang menyakitkan. Sementara ketidakmampuan Kyuhyun untuk membuktikan, bahwa Sungmin dan Yesung telah mengkhianatinya, selalu membuat dadanya terasa sangat sesak. Dalam keadaan tertekan seperti itu, sesekali Kyuhyun dan Sungmin masih melakukan sex. Sungmin-lah yang banyak meminta, dan Kyuhyun tidak dapat terus-menerus menolak serta menghindar.

 

Suatu siang Kyuhyun membolos dari kantor karena pikirannya yang kacau. Ia mengemudikan mobilnya menyusuri jalanan yang ramai, mencari sesuatu yang dapat membantu menjernihkan pikirannya yang kacau. Saat itu ia melihat Ryeowook. “istri” Yesung itu sedang berdiri menunggu bus di halte. Kyuhyun menghentikan mobilnya. Ia menurunkan kaca jendela mobilnya dan melambaikan tangannya sambil meneriakkan namanya. Ryeowook berlari-lari kecil mendekati Kyuhyun.

 

“Tuan Kyuhyun. Ada apa, tuan?” tanya Ryeowook sembari berdiri disamping mobil. Wajahnya yang kemerahan dan berkeringat melongok di lubang jendela mobil Kyuhyun.

 

“Ayolah, naik dulu,” pinta Kyuhyun. “Di depan saja.” Sambungnya.

 

Dengan masih ragu-ragu Ryeowook membuka pintu mobil dan duduk di sebelah Kyuhyun. Ia menutup pintu mobil dan Kyuhyun kembali menjalankan mobilnya. “Kau mau kemana? Sudah lama menunggu bus?” tanya Kyuhyun.

 

Ryeowook sangat bersemangat menceritakan bisnisnya. Dalam kemacetan panjang di depannya, sejenak terbersit rasa kagum Kyuhyun kepada Ryeowook. Pemuda berwajah innocent ini benar-benar manis. Dia juga rajin dan tangguh, tidak mau hanya bergantung pada gaji “suaminya”. Ryeowook menatap tidak percaya ketika Kyuhyun mengajaknya makan. Ia mengerjap seolah salah mendengar.

 

“Tuan tidak malu makan bersama saya? Tuan ‘kan majikan “suami” saya” tanya Ryeowook dengan suara kekanak-kanakkan.

 

“Mengapa harus malu? Di dunia ini semua manusia sama. Lagipula, kau dan “suamimu” ‘kan keluargaku juga” jawab Kyuhyun.

 

Kyuhyun mengarahkan mobilnya menuju sebuah restoran. Saat memasuki restoran itu, Ryeowook tampak masih ragu-ragu. Langkahnya kikuk, seperti berat sekali. “Ayolah, Ryeowook, tunjukan bahwa kau seperti sudah biasa masuk ke restoran ini” kata Kyuhyun memberi semangat.

 

Ryeowook memandang Kyuhyun sesaat. Kemudian ia mengangguk pelan dan mengikuti Kyuhyun. Kyuhyun memperhatikan Ryeowook yang terlihat sangat lahap menikmati hidangan yang ada. Ia tersenyum kecil dan merasa yakin, tidak ada seorang pun di restosan itu yang berpikir bahwa dirinya tengah makan bersama “istri” supirnya. Penampilan Ryeowook dan wajah manisnya mampu memberi kesan, bahwa Ryeowook adalah rekan kerja Kyuhyun atau sekertaris perusahaan.

 

Setelah makan, Ryeowook mulai mengutarakan kesulitan-kesulitan usahanya. Kyuhyun baru tahu menagih uang kreditan barang ternyata perlu kesabaran dan kerja keras. Melihat Ryeowook yang nampak lelah, Kyuhyun menyarankan untuk tidak perlu menagih hari ini. Lagipula, hujan akan segera turun. Kyuhyun mengajak pemuda berwajah innocent itu untuk bersantai sembari mengobrol-ngobrol.

 

“Tapi tuan, besok saya harus setor ke toko radio. Uang belum ada” jawab Ryeowook jujur.

 

“Tidak perlu kau pikirkan itu. Nanti kuberi uang untuk setor ke toko, sekaligus untuk jajan anakmu” kata Kyuhyun sembari lebih mengamati wajahnya. Ada gairah yang menggoda hatinya, yang membuat ia ingin sekali berduaan dengan Ryeowook yang manis itu lebih lama lagi.

 

“Tapi tuan……”

 

“Anggap saja aku sahabatmu, Ryeowook. Lupakan sementara bahwa “suamimu” bekerja di rumahku. Oke?” desak Kyuhyun halus.

 

Ryeowook berpikir sejenak sebelum akhirnya ia pun menyetujui ajakan Kyuhyun. Kyuhyun tahu, kepatuhan Ryeowook itu tentu karena kebiasaan perasaannya mengganggapnya sebagai bos “suaminya”. Namun, Kyuhyun akan berusaha menghilangkan perasaannya itu. Ryeowook harus bisa menerimanya sebagai teman dekatnya. Dan Kyuhyun tersenyum dengan pikirannya.

 

Dari restoran, mereka menuju sebuah hotel. Kyuhyun menggandeng tangan Ryeowook masuk dan duduk di sebuah ruangan yang besar, lengkap dengan sofa, cermin, lemari pakaian, kamar mandi dan ranjang besar yang empuk serta bersih. Hembusan AC membuat kamar hotel tersebut terasa sejuk. Membuat wajah Ryeowook tampak semakin segar.

 

“Ini kamar hotel ya, tuan?” tanya Ryeowook dengan takjub.

“Ya! Di sini kita bisa mengobrol apa saja sambil santai. Anggaplah ini rumahmu, Ryeowook. Atau, kau akan mandi air hangat dulu?” kata Kyuhyun.

 

Ryeowook mengangguk malu-malu. Kyuhyun menunjukkan pada pemuda berwajah innocent itu cara menyetel kran air hangat, letak handuk dan sandal, serta cara menggunakan bath-kuip. Sementara Ryeowook mandi, Kyuhyun menunggu di sofa sambil mereguk segelas coca cola dingin. Kyuhyun menoleh saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Ia melihat Ryeowook berdiri dengan malu, dengan handuk yang melilit pinggangnya. Kyuhyun meletakkan gelasnya di atas meja dan memperhatikan Ryeowook sejenak. Kemudian ia tersenyum dan beranjak mendekatinya.

 

Ya, Ryeowook, “istri” Yesung yang manis itu, ternyata tidak hanya manis wajahnya dan sexy tubuhnya. Dia pun sangat memikat dan manis di ranjang. Kyuhyun sangat puas atas pelayanannya. Apalagi, ternyata Ryeowook juga mempunyai kemahiran tertentu sebagai pasangan bercinta. Kyuhyun merasa sangat beruntung. Ia tidak menyangka Ryeowook sehebat itu!

 

Ryeowook tertidur dengan lelah saat percintaan itu berakhir. Kyuhyun memperhatikan Ryeowook sembari memainkan surai rambutnya. Wajah innocent-nya nampak pucat sisa percintaan mereka tadi. Kyuhyun merasa lega dan senang, karena merasa telah menciptakan “score” satu-satu. Yesung, “suami” Ryeowook berselingkuh dengan Sungmin, “istrinya”. Dan ia bermain cinta dengan “istri” supirnya. Kyuhyun berpikir, apa salahnya jika ia berbuat hal yang sama, seperti yang dilakukan Yesung terhadap istrinya? Meski mungkin Sungmin-lah yang mengajak dan berinisiatif lebih dahulu. Kyuhyun mendengus pelan dan menyeringai kecil.

 

~+~+~+~

Selanjutnya, tidak sulit bagi Kyuhyun merencanakan dan mengatur kencan demi kencan bersama Ryeowook. Sesekali Kyuhyun memberi Ryeowook uang untuk menunjang usahanya. Rupanya, pemuda berwajah innocent itu juga sangat menikmati suasana hotel yang mewah. Mungkin karena di rumah yang disewanya dia harus tidur di kasur tipis yang berbau ompol anaknya. Sedangkan di hotel itu, ranjangnya empuk, bersih dan ruangannya sejuk. Sehingga sering terjadi Kyuhyun harus menunggunya satu-dua jam, karena Ryeowook tertidur sangat pulas dalam keadaan polos, setelah mereka bermain cinta. Wajahnya nampak sangat nyaman. Tidurnya nampak sangat nikmat sekali, senikmat dosa-dosa perzinahan yang mereka reguk.

 

Malam sudah menunjukkan pukul 9. Makan malam telah lama usai dan anak-anak telah terlelap di kamar mereka masing-masing. Sungmin sedang membaca buku di ruang tengah. Secangkir teh dan sepiring biscuit menikmati waktu santainya. Sungmin mengangkat kepalanya dari buku yang telah ia baca selama lebih dari satu jam itu. Ia memandang jam yang berdetak di dinding. Ini sudah pukul 9, dan Kyuhyun masih belum pulang. Sungmin berpikir, “suaminya” itu akan pulang sangat larut lagi malam ini. Sungmin mendesah. Ia menutup bukunya, sedikit melemparnya ke atas meja dan kemudian menyentuh perutnya yang mulai sedikit membesar. Kehamilannya mulai memasuki bulan ke dua.

 

Sungmin tahu, hubungannya dengan Kyuhyun semakin terasa tawar dan berada di titik rawan. Bukannya ia tidak mengerti dengan jurang yang kini menganga diantara Kyuhyun dan dirinya. Jurang yang terbentuk karena ego mereka masing-masing. Tapi Sungmin tidak bisa menahan perasaannya ketika melihat Kyuhyun yang pulang terlalu larut. Kyuhyun yang berlaku panas dan dingin, seolah pria tampan itu menjadi dua orang yang berbeda. Dan hal-hal kecil pun bisa membuat mereka tidak saling bicara selama berhari-hari. Sungmin menyenderkan kepalanya dengan nyaman di sofa dan memejamkan matanya. Ia mendesah pelan dengan lelah. Rasanya sangat melelahkan.

 

“Tuan Sungmin” suara Yesung memanggilnya dengan pelan, seolah takut mengganggu.

 

Sungmin membuka matanya. Ia menegakkan kepalanya dan menoleh pada Yesung. Ia hampir lupa kalau Yesung masih berada di rumahnya. Seharusnya Yesung sudah pulang saat waktu makan malam tadi, tapi pria bermata kecil itu masih tinggal di rumahnya untuk beberapa lama karena sedang memperbaiki mobil. Kata Yesung, ia tidak akan merasa nyaman jika meninggalkan pekerjaan yang belum selesai. Yesung tidak suka bekerja setengah-setengah.

 

“Oh, kau. Apa pekerjaanmu sudah selesai?” tanya Sungmin.

“Ya, tuan. Saya sudah selesai memperbaiki mobil, dan besok mobilnya sudah bisa dipakai kembali,” jawab Yesung.  “Kalau begitu, saya pamit pulang, tuan.”

 

Sungmin hanya mengganggukkan kepalanya dan mengambil bukunya dari atas meja. Ia membuka bukunya tapi hanya memandangnya dengan kosong, seolah kata demi kata dalam buku itu menjadi tidak terbaca dan memudar. Yesung membungkukkan kepalanya dengan sopan pada Sungmin dan kemudian beranjak pergi. Namun ia berhenti di ambang pintu. Ia menoleh kembali pada Sungmin dan memandangnya selama beberapa saat. Pemuda manis itu terlihat kesepian.

 

“Apakah kau ingin saya membantumu, tuan?” tanya Yesung kemudian.

 

Sungmin mengangkat kepalanya dari buku dan menoleh. Ia memandang Yesung selama beberapa lama. Kemudian ia berkata, “Ya, kau dapat membantuku mencuci rambutku. Aku sungguh memerlukan bantuan”

 

Yesung mengerti, kalimat bantuan dalam perkataan Sungmin tadi memiliki arti yang berbeda. Pemuda manis itu sedang meminta bantuan untuk menutupi perasaan yang sedang menderanya dan membuatnya merasa lebih baik. Sungmin kesepian, Yesung tahu itu.

 

“Ya, baiklah” kata Yesung menurut.

 

Sungmin meletakkan kembali bukunya diatas meja. Ia beranjak pergi. Beberapa menit kemudian pemuda manis itu kembali dengan membawa handuk di tangannya. Ia memberikannya pada Yesung. Kemudian mereka beranjak ke kamar mandi. Yesung membantu Sungmin mencuci rambut cokelatnya di wastafel. Sungmin duduk menyandarkan kepalanya di bak wastafel yang terisi air. Rambut cokelatnya memenuhi bak wastafel dan mengambang ke permukaan air seperti rumput laut. Sungmin menatap langit-langit ketika jemari Yesung membilas rambutnya dan mengusapnya dengan lembut. Terasa nyaman.

 

Ketika Yesung sudah selesai mencuci rambutnya, Sungmin menegakkan dirinya dan membungkus kepalanya dengan handuk kemudian merangkul pundaknya. “Terima kasih. Ini terasa lebih baik” katanya sambil tersenyum. Yesung juga tersenyum.

 

Yesung membungkukkan kepalanya dengan sopan pada Sungmin dan kemudian beranjak pergi. Ini sudah larut malam. Sungmin beranjak ke ruang tengah untuk mengambil bukunya dan kemudian beranjak ke kamarnya. Setelah mengeringkan rambutnya, Sungmin kembali membaca buku diatas ranjang. Tapi hingga Sungmin selesai membaca bukunya Kyuhyun masih belum pulang. Sungmin menutup bukunya dan memandang jam. Jam yang berdetak di dinding itu menunjukkan pukul tiga pagi.

 

~+~+~+~

Ketika kehamilan Sungmin sudah memasuki bulan ketiga, Ryeowook mengatakan kepada Kyuhyun bahwa dia mulai hamil. Berita tersebut tidak membuat Kyuhyun gelisah. Kyuhyun menenangkan dirinya dengan mencoba berpikir, bukankah Ryeowook punya suami? Bukankah dia pun masih tetap bercinta dengan suaminya? Sementara itu, sikap Sungmin terhadap Kyuhyun tetap saja tak acuh. Pria tampan itu pulang malam atau tidak pulang, tidak pernah menjadi perhatiannya lagi. Begitu pula dengan Kyuhyun. Kyuhyun tidak pernah lagi menegur Yesung atau Sungmin, meski mereka pulang terlambat berjam-jam atau di hari libur mereka bepergian. Setiap kali Kyuhyun bertanya, Sungmin selalu menjawab dia pergi ke rumah saudara bersama Yesung dan anak-anak mereka. Kyuhyun pun menganggap itu sebagai hak Sungmin dan terserah pemuda manis itu saja. Lagipula, ia juga telah mengambil haknya untuk berhotel ria bersama “istri” Yesung.

 

Menjelang kehamilan Ryeowook berusia tujuh bulan, Kyuhyun mulai menjauhinya. Tanpa sebab ia merasa khawatir hubungan mereka akan diketahui orang lain. Lagipula, permintaan Ryeowook semakin banyak saja. Pakaian dan aksesoris sudah Kyuhyun belikan. Uang pun tidak pernah lupa Kyuhyun beri setiap kali mereka berkencan. Biaya sebagai persiapan melahirkan telah Kyuhyun penuhi. Terakhir, Ryeowook mengatakan ingin mempunyai rumah sendiri, agar tidak terus menerus menyewa. Rumah?

 

Untuk permintaan yang terakhir itu Kyuhyun jelas menolak. Meskipun Kyuhyun memberikan seluruh tabungannya, tetap saja tidak akan cukup untuk membelikannya rumah. Sesederhana apapun rumah itu tetaplah memerlukan dana yang besar. Tentu saja Kyuhyun juga khawatir, jika lama-kelamaan Ryeowook akan memeras dan menguasainya. Gejalanya saja sudah mulai terlihat. Kyuhyun merasa sudah cukup puas berkencan dengan Ryeowook yang manis itu. Ia harus segera mengakhirinya, sebelum semuanya menjadi runyam.

 

Merasa Kyuhyun menjauhinya, Ryeowook pun berusaha terus menghubungi Kyuhyun. Ia berusaha menelepon Kyuhyun di kantornya dengan menggunakan nama lain. Ia bahkan menunggu Kyuhyun di tempat biasa mereka sering bertemu. Bahkan, pemuda berwajah innocent itu pernah menyurati Kyuhyun. Katanya, dia akan mengatakan kepada Sungmin tentang hubungan mereka jika Kyuhyun tidak kunjung menemuinya. Kyuhyun mengacuhkan semua itu. Kyuhyun berpikir, Ryeowook tidak mempunyai bukti, juga tidak ada saksi. Ia telah mengakhiri hubungan mereka. Titik! Kyuhyun tidak percaya jika Ryeowook akan mengadu pada Sungmin atau mengungkapkan kehamilannya yang mungkin dari benihnya. Siapa yang akan percaya itu? Lagipula, Ryeowook punya “suami” sendiri. Bagaimana ia akan dituduh yang menghamilinya?

 

Kyuhyun tidak terlalu menanggung beban mental dalam hal hubungannya dengan Ryeowook yang sudah terlalu jauh. Kyuhyun mengakui memang dirinya yang memulai, tetapi Ryeowook juga mau. Bahkan, Ryeowook pula yang kemudian sering mengajaknya berkencan. Kyuhyun juga memberinya uang setiap mereka berkencan. Jadi, menurut Kyuhyun urusannya adalah jual-beli dan suka sama suka. Kyuhyun tidak merasa merugikannya sama sekali!

 

Tidak lama setelah Kyuhyun memutuskan hubungannya dengan Ryeowook, Sungmin melahirkan. Bayi perempuan mungil itu Kyuhyun terima sebagai anaknya, walaupun di dalam hati Kyuhyun masih meragukan kalau bayi itu berasal dari benihnya. Bayi yang Kyuhyun beri nama Sun Mi itu bergolongan darah AB. Jenis darah Kyuhyun adalah A, sementara darah Sungmin adalah B. tetapi, golongan darah Yesung yang tertera di SIM-nya juga A, seperti jenis darah Kyuhyun. Itu artinya, Sun Mi bisa anaknya, bisa juga anak Yesung, supirnya. Kyuhyun berpikir, ia hanya cukup menunggu Sun Mi berumur sekitar dua tahun. Nanti akan terlihat ciri-cirinya, jika dia memang berasal dari benihnya.

 

Entah apa sebabnya, menjelang Sungmin melahirkan, tanpa perselisihan dari Kyuhyun, pemuda manis itu memberhentikan Yesung. Alasannya karena dia sedang cuti lama. Lagipula, kata Sungmin, Yesung mudah marah jika sedang membawa mobil. Pernah sekali waktu mobil Kyuhyun bersenggolan dengan taksi dan Yesung berkelahi dengan supir taksi itu di jalanan umum. Kyuhyun tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Menurutnya, mungkin saja mereka bertengkar sebagai sepasang kekasih gelap yang sudah saling bosan berkencan. Mungkin saja Sungmin merasa takut hubungan gelapnya diketahui olehnya. Seperti Kyuhyun yang juga pernah khawatir hubungannya bersama “istri” Yesung diketahui orang lain.

 

Tidak butuh waktu lama, Kyuhhyun dan Sungmin segera mendapatkan supir baru menggantikan Yesung. Supir baru itu bernama Donghae, berusia 25 tahun. Yesung sendiri kabarnya telah menjadi supir taksi, setelah “istrinya” dipulangkan ke kampung untuk melahirkan disana. Tempat tinggal mereka pun pindah, tidak lagi berdekatan dengan rumah mereka.

 

Kehadiran si kecil Sun Mi ternyata menumbuhkan kegembiraan seluruh keluarga Kyuhyun. Tangis celoteh dan tingkah lakunya yang lucu mampu merekatkan kembali keretakan hubungan Kyuhyun dan Sungmin. Kyuhyun telah melupakan hubungan Sungmin dengan supirnya. Ia menganggap semua cobaan itu telah berlalu. Apalagi dalam pertumbuhan fisiknya, Sun Min semakin tampak membawa ciri-ciri Kyuhyun. Mata, hidung dan bibirnya adalah milik Kyuhyun.

 

Kyuhyun mulai yakin, bahwa Sun Min memang berasal dari benihnya. Yesung mungkin hanya berselingkuh dengan “istrinya”, tapi dia bukan ayah anaknya. Meski dalam hati kecil Kyuhyun masih saja ada setitik kecewa dan kecurigaan yang sulit Kyuhyun tepiskan sama sekali. Kyuhyun merasa masih beruntung, Sungmin melahirkan anaknya, bukan anak supirnya. Masalah Sungmin mungkin berselingkuh, Kyuhyun tidak perlu merisaukannya lagi. Sebab, Kyuhyun juga telah membalasnya. Kyuhyun pun telah berselingkuh dengan Ryeowook.

 

~+~+~+~

Lima tahun berlalu. Keadaan ekonomi keluarga Kyuhyun semakin baik. Kehidupan rumah tangga Kyuhyun dan Sungmin sudah terasa nyaman dan menyenangkan. Min Sae, Min Yoo dan Sun Mi, anak-anak mereka telah tumbuh sehat. Sekolah mereka pun menunjukkan prestasi yang bagus. Kyuhyun sudah meletakkan landasan bagi hari depan anak-anaknya dengan mulai menabung. Kyuhyun ingin anak-anaknya dapat melanjutkan sekolah sampai setinggi-tingginya.

 

Atas saran Kyuhyun, Sungmin sudah berhenti bekerja agar dapat mengasuh dan membimbing anak secara lebih baik. Bukankah menjelang remaja anak-anak memerlukan perhatian yang lebih, supaya tidak hanyut dalam gelombang pergaulan yang negative? Dalam suasana tentram yang Kyuhyun sebut sebagai puncak kebahagiaan rumah tangga itu, terjadilah sesuatu yang benar-benar tidak pernah Kyuhyun sangka.

 

Hari itu, Kyuhyun baru saja pulang dari tugas dinas ke Jeju selama seminggu. Kyuhyun membawa banyak oleh-oleh dan cinderamata untuk anak dan “istrinya”. Kyuhyun membayangkan, bagaimana mereka akan berlarian menyambutnya. Alangkah bahagianya hati seorang ayah yang kehadirannya dinantikan keluarganya. Segala lelah dan letih akan sirna, berganti dengan rasa bangga serta puas. Tetapi apa yang terjadi? Tatkala Kyuhyun masuk rumah, hanya Sun Mi yang berlari-lari menjemputnya.

 

“Appa, appa…Sun Mi punya adik baru…Sun Mi senang, appa. Sun Mi punya adik laki-laki” kata gadis kecil itu dengan gembira.

 

Kyuhyun tidak mengerti apa yang dimaksud oleh anak bungsunya itu. Kyuhyun pikir, mungkin Sungmin baru membelikan boneka laki-laki sebagai mainannya. Kyuhyun melihat Sungmin sedang duduk memegang buku pelajaran matematika SMP. Mungkin ada PR Min Sae yang sedang diperiksanya. Sungmin tidak beranjak dari duduknya ketika Kyuhyun datang. Tersenyum pun tidak, Kyuhyun justru melihat air mata mengambang di sudut mata foxy Sungmin, lalu meleleh turun ke pipinya.

 

“Ada apa, sayang?” tanya Kyuhyun. Sementara, si bungsu segera membongkar oleh-oleh yang Kyuhyun bawa.

“Gantilah baju dulu, Kyu. Minum dan makan dulu, nanti kita bicara…” jawab Sungmin pelan.

 

Kyuhyun masih bingung dan terheran-heran. Kyuhyun pun beranjak ke kamarnya. Setelah ia selesai berganti baju, bahkan sampai duduk dan minum, Kyuhyun masih belum mengerti apa yang telah terjadi di rumahnya.

“Makanlah, Kyu. Seadanya…” ucap Sungmin, tanpa semangat.

 

“Aku masih kenyang. Sekarang, coba ceritakan padaku, apa yang terjadi selama aku pergi. Ada yang terasa aneh di rumah ini” pinta Kyuhyun penasaran.

 

Air mata Sungmin kembali mengalir, membuat Kyuhyun semakin heran. Sun Mi sudah diajak bibi Kim ke belakang. Sementara Min Sae dan Min Yoo sedang tidur siang di kamar masing-masing. Suasana terasa begitu lenggang saat Kyuhyun menunggu jawaban dari Sungmin. Rumahnya yang selalu Kyuhyun bayangkan serba meriah dan bersuasana ceria, terasa bagai area pemakaman yang sunyi serta menakutkan.

 

“Kyu……anak kita bertambah satu. Anak laki-laki yang tampan, berumur sekitar empat tahun. Namanya Jeongmin,” Sungmin mulai berbicara. Suaranya tenang, meski wajah Sungmin memancarkan kepedihan hatinya yang amat sangat.

 

“Jeongmin? Anak siapa itu, sayang? Sekarang ada dimana dia?” tanya Kyuhyun tidak sabar.

 

Dalam wajah sedihnya, Sungmin berusaha tersenyum. Matanya menatap Kyuhyun dengan tajam.

“Dia sedang tidur di belakang, di kamar pembantu. Aku meminta dia untuk tidur di dalam, tapi dia tidak pernah mau. Dia lebih suka tidur bersama bibi Kim. Entah mengapa begitu”

 

“Anak siapa dia?” tanya Kyuhyun tidak mengerti.

 

Sungmin tersenyum lagi. Senyum getir yang jelas dipaksakan.

“Dia anakmu, Kyu. Darah dagingmu yang lahir dari Ryeowook, “istri” Yesung. Benarkah?”

 

Kyuhyun terkejut mendengar jawaban dari Sungmin. Ia benar-benar seperti seorang pesakitan yang mendengar keputusan hakim yang menjatuhkan hukuman maha berat. Kyuhyun tidak mampu bicara, tidak mampu membantah. Tangannya tiba-tiba gemetar. Sekilas terbayang wajah “istri” Yesung, supir yang bekerja dirumahnya dulu. Serentak bermunculan di kepalanya, kencan-kencannya yang serba indah itu bersama pemuda berwajah innocent itu. Juga ketika Ryeowook dalam keadaan hamil tujuh bulan yang berusaha terus menghubunginya, tetapi terus Kyuhyun hindari.

 

“Mengapa kau sebut anakku, sayang? Bukankah Yesung “suaminya” dan Ryeowook hamil oleh suaminya sendiri?” Kyuhyun masih berusaha membela diri.

 

Sungmin menghela napas panjang. Lalu dari bibir plump itu meluncur sebuah cerita. Sebuah kenyataan yang sulit untuk Kyuhyun bantah. Menurut Sungmin, sehari setelah Kyuhyun berangkat tugas ke Jeju, Ryeowook datang ke rumah membawa Jeongmin, anaknya, Ryeowook menceritakan segala hubungannya dengan Kyuhyun yang membuatnya hamil dan melahirkan anak laki-laki yang dinamai Jeongmin.

 

Pada mulanya, Yesung, “suami” Ryeowook sangat gembira menyambut kehamilan “istrinya” itu. Setelah Yesung berhenti bekerja menjadi supir di rumah mereka dan pendapatannya sebagai supir taksi menurun, sering terjadi keributan antara Yesung dan Ryeowook. Dalam pertengkaran itu terlontar pengakuan Ryeowook, bahwa Jeongmin yang saat itu masih bayi bukanlah anaknya, melainkan anak Kyuhyun. Pengakuannya tersebut mengakibatkan Yesung menceraikan Ryeowook. Anak mereka yang pertama dibawa dan diasuh oleh Yesung. Sedangkan Ryeowook mengasuh Jeongmin. Dengan bekerja sebagai pelayan, Ryeowook membesarkan anaknya sampai berumur empat tahun. Karena dia mendapatkan pasangan yang tidak menghendaki Ryeowook membawa anaknya dalam kehidupan baru mereka, maka dia mengantar anaknya ke rumah Kyuhyun. Karena Kyuhyun-lah ayahnya. Ryeowook mengatakan kepada Sungmin, bahwa dia yakin bila Jeongmin berada di keluarga mereka, akan lebih terjamin hari depannya.

 

Kyuhyun hanya diam terpekur dalam suasana galau dan tubuh lemas. Cerita dari Sungmin barusan benar-benar membuatnya membeku. Masih sempat Kyuhyun bertanya kepada Sungmin, yang jawabannya justru semakin menyudutkan dirinya.

 

“Mengapa Yesung percaya saja, bahwa Jeongmin itu bukan anaknya? Bisa saja ‘kan “istrinya” itu hanya mengada-ada saja, karena mereka sedang bertengkar”

 

Sungmin tersenyum getir lagi. Kepalanya menunduk dan air matanya semakin deras mengalir.

“Kau tidak perlu berusaha mengelak lagi, Kyu. Aku bersedia menerima Jeongmin sebagai anak kandungku juga, karena dia memang anakmu. Aku percaya pada keterangan Ryeowook, bahwa anak pertama mereka adalah anak adopsi. Sebab, sebenarnya Yesung tidak bisa memberikan keturunan. Dia mandul. Itu sudah berdasarkan pemeriksaan medis yang teliti. Sebelum Yesung dan Ryeowook memutuskan mengangkat anak, mereka telah berupaya melalui berbagai jalan, baik ke dokter ahli maupun melalui cara tradisional, agar Yesung bisa sembuh. Tetapi, tetap saja tidak berhasil. Dan, ketika Ryeowook mengaku hamil, “suaminya” itu merasa bangga dan gembira sekali. Ia mengira dirinya sudah sembuh dari kemandulannya. Namun, saat mereka bertengkar dan Ryeowook mengakui sering berhubungan denganmu, Yesung kembali memeriksakan dirinya ke dokter dan laboratorium. Hasilnya, ternyata dia masih tetap mandul! Itulah yang membuat Yesung sangat kecewa dan memutuskan menceraikan Ryeowook!!”

 

Dalam posisi malu sekali dan sedih, Kyuhyun sempat bergumam.

“Kau juga berselingkuh dengan Yesung, bukan?” celetuknya terbata-bata.

 

Sungmin tertawa. Tawa dalam tangisnya yang semakin pedih. Kyuhyun pun terbawa suasana hatinya dan tidak dapat menahan air matanya. Kemudian Sungmin berkata,

 

“Aku tahu kau mencurigaiku berbuat selingkuh bersama Yesung. Demi Tuhan, Kyu, aku sama sekali tidak pernah melakukan perbuatan semacam itu. Kalau dasar tuduhanmu karena aku pernah membelikan pakaian, sepatu dan parfum untuk Yesung, masalahnya hanya karena bajunya cuma dua. Kedua bajunya juga sudah jelek. Aku tidak tega, orang yang setiap hari bekerja pada keluarga kita penampilannya dekil dan bersandal. Orang bisa menilai kita tidak manusiawi terhadap supir pribadi. Dan soal parfum yang juga pernah kubelikan untuk Yesung, ini karena dia hanya punya bau badan, Kyu. Aku yang setiap hari berada semobil dengan dia, sering pening karena bau badannya.”

 

“Jadi, kau tidak pernah bermain cinta dengan Yesung?” tanya Kyuhyun, seperti orang yang kalah perang.

 

“Kukatakan lagi, demi Tuhan tidak pernah. Juga dengan orang lain, kecuali denganmu sebagai “suamiku” yang sah. Mungkin itu hanya ilusi cemburumu saja. Kalau aku mau berselingkuh, Kyu, mengapa dengan seorang supir yang bekerja di rumah kita? Bisa saja aku kencan bersama teman di kantor, kalau aku mau. Tapi berpikir ke arah itu pun aku tidak pernah”

 

Sikap Sungmin yang tidak emosional dan tidak meledak amarahnya itu membuat Kyuhyun sangat menghargainya. Sungguh, mungkin hanya satu diantara satu juta orang “istri” yang sesabar dan searif Sungmin. Padahal jelas, Kyuhyun telah terbukti bermain cinta bersama “istri” supir mereka, bahkan sampai lahir seorang bocah tidak berdosa yang bernama Jeongmin. Maka, dengan sportif dan penuh penyesalan Kyuhyun memohon pengertian dan maaf Sungmin. Kyuhyun memahami, betapa hancur hati “istrinya” itu. Betapa sedih dan kecewa perasaan Sungmin. Dia, “suami” tercinta, bukan saja telah berselingkuh, tetapi juga telah memberi aib bagi seluruh keluarga. Aib itu akan terus ada selama-lamanya.

 

“Demi rasa sayangku kepadamu, Kyu, dan demi cintaku kepada anak-anak, aku dengan ikhlas dapat menerima Jeongmin sebagai anakku juga. Jeongmin tidak punya dosa apa-apa. Haruskah dia menderita dan hari ke depannya tidak menentu, karena “ibunya” tidak menghendaki merawatnya dan ayahnya juga tidak mau menerimanya? Tidak, Kyu! Kau harus menerima Jeongmin, seperti juga aku menerimanya. Dia anak kita, Kyu……”

 

Perkataan Sungmin itu membuat Kyuhyun semakin sedih. Kyuhyun menatap Sungmin dengan kagum bercampur malu. Kyuhyun berpikir, alangkah tegarnya “istrinya” ini. Betapa luas pintu maaf dan pandangannya. Kyuhyun memeluk Sungmin dengan erat dan mengecup kepalanya berulang kali seraya mengatakan penyesalannya.

 

Sungguh, ia benar-benar merasa sangat malu. Di dalam hati ia bersumpah akan semakin mencintai “istrinya” dan keempat anaknya. Sungmin melepaskan pelukan Kyuhyun dan Kyuhyun mengusap air mata yang membasahi wajah Sungmin. Kemudian Sungmin menggandeng tangan Kyuhyun, mengajaknya untuk bertemu dengan Jeongmin. Anak itu masih tertidur di kamar bibi Kim, tertidur pulas. Wajahnya sangat polos. Kyuhyun memperhatikan anak itu dari dekat dan menyadari, ternyata wajah Jeongmin benar-benar mirip dengan potret dirinya. Kemudian Kyuhyun menoleh pada Sungmin. Sungmin hanya tersenyum dan membelai dengan lembut kepala Jeongmin yang tertidur pulas.

 

Kyuhyun meraih tangan Sungmin dan mengenggamnya dengan erat. Ia menatap pemuda manis itu lekat-lekat dan berkata dengan nada serius, “Sungmin, aku berjanji tidak akan membiarkan diriku terjebak lagi dalam ilusi cemburu. Aku benar-benar menyesal, sayang. Dan aku berjanji, aku akan lebih mencintaimu lagi. Lebih, dan lebih mencintaimu lagi”

 

Sungmin tersenyum. Ia menyentuh wajah tampan Kyuhyun dan dengan lembut ia mengecup bibirnya. Katanya, “Cho Kyuhyun, aku mencintaimu lebih dari seharusnya. Tak peduli apapun yang kau lakukan, aku akan mencintaimu. Suamiku yang paling aku cintai”

 

Kyuhyun mempererat genggaman tangannya. Merasa bersyukur karena ia memiliki “istri” seperti Sungmin. “istri” yang terbaik dan sangat mencintai dirinya. Kini keluarganya terasa semakin lengkap. Kyuhyun tersenyum.

 

End

10 thoughts on “Ilusi cemburu

  1. Ahhhh ~
    Jinjja , pas awal baca smpet kesel jga sma Ming .
    Tapi pas udah tengah” apalagi akhir”nya itu . .
    Ya ampuunn ~
    Ming ! Knp bsa segampang itu maafin kyu ??
    Ck , ngeness bget . . T,T
    gaada sequel nya kah author unni ??

    Keep writhing !😀
    HWAITHING !! HWAITHING !!
    \(^_^)9

  2. omo… kyu terjebak dgn prasangka dya jha…
    yg ada malah kyu yg selingkuh
    aigoo… ming kau sabar sekali mw memaafkan kyu gtu jha..

  3. adohh Kyu napa km bs berpikiran buruk gtuh,dan hasilx kaw salah Kyu untung Ming msh mau memaafkan mu dan berbesar hatix Ming nrima anak hasil perselingkuhan mu.

  4. ming keren banget. huhuhu

    bisa2 nya dia maafin cho brat yg udah hianatin ming. huhuhu

    ini syedih. yakin. gak bohong deh authornim. huhu

  5. babak awal aqu sebel sama tingkah sungmin….babak tengah hadeh.. si kyupil setali tiga uang sama sungmin,babak akhir…. whattttttttt the hell,ohmygod pingin nimpuk kyupil pake sandal sambil tepuk tepuk punggung umin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s