Tried to capture the sun / #1

Gambar

Pairing         : KyuMin / slight KangMin

Genre          : Romance, misteri (?) (I’m not sure (-__-)’)

Length         : two shoot (?)

Warning       : BL, shounen-ai, di dalam cerita ini aku membuat usia Kyuhyun lebih tua 10 tahun dari Sungmin.

Disclaimer     : Terinspirasi dari salah satu cerita di komik Detective Q School karya S. Amagi & F. Sato dari cerita ke 80 yang berjudul “Misteri Shi’unryu”. Aku hanya mengambil sedikit bagian dari cerita aslinya dan mengembangkannya dengan ceritaku sendiri. Ada perubahan agar sesuai dengan couple tersayang kita ^^

Summary       : Shi’unryu, keindahan keramik itu tidak ada bandingannya di dunia. Begitu mempesona dan penuh misteri sama seperti pembuatnya sang seniman jenius yang penuh misteri, Cho Kyuhyun. Di suatu musim panas yang terik Kyuhyun muncul di rumah Sungmin dan meminta izin untuk menggambar sketsa pohon kusanoki yang ada di pekarangan rumah Sungmin. Sosoknya yang tampan dan siluet tubuh tingginya yang tertimpa sinar matahari saat sedang menggambar membuat Sungmin terpesona. Selama setengah tahun Kyuhyun tinggal di rumah Sungmin atas undangan dari ayah Sungmin. Dan seiring waktu Sungmin pun semakin menyukai Kyuhyun. Tapi sang seniman jenius itu tidak pernah menunjukkan perasaannya, bahkan hingga akhir keberadaan Kyuhyun selalu diliputi teka-teki. Sebelum pergi Kyuhyun memberikan salah satu keramik buatannya pada Sungmin. Keramik itu bernama Shi’unryu, keramik terindah yang menyimpan sebuah pesan dari sang seniman jenius.

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader

Yang nggak suka lebih baik menyingkir ajj~

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

#1. Di bawah sinar matahari

Rumah dengan model tradisonal itu terletak di ujung jalan setapak ini. Itu adalah rumah yang paling besar di desa ini dan benar-benar sebuah rumah kuno. Bangunan itu masih nampak megah dengan keindahannya yang tetap terjaga dengan baik. Keindahan yang telah melewati masa demi masa. Di halamannya yang asri dan cukup luas itu terdapat sebuah pohon besar yang berumur 500 tahun. Pohon besar itu menjulang tinggi ke langit dengan cabang-cabangnya yang kokoh. Bias cahaya matahari mengintip dari balik rimbunan dedaunannya. Pohon besar itu nampak luar biasa, bagaikan Sembilan kepala naga yang hendak pulang ke langit. Pohon itu bernama Kusanoki.

 

Siang itu matahari bersinar terik di langit. Ini musim panas dan sang matahari yang angkuh seolah sedang menantang di atas kepala dengan kehangatannya. Sungmin baru saja selesai menanam beberapa tanaman baru di halaman. Pemuda manis itu mengusap peluh di wajah manisnya dan memperhatikan hasil kerjanya. Kini semua tanaman baru itu telah mendapatkan tempat untuk tumbuh dan siap mempercantik pekarangan rumah ini. Ia tersenyum puas.

 

“Guk, guk”

 

Seekor anjing terrier berbulu keriting berlari menghampiri Sungmin. Ia berputar-putar sambil menyalak-nyalak riang mengajak pemuda manis itu untuk bermain. Sungmin tersenyum dan mengusap kepala anjing itu sambil berkata,

“Maaf Bob, aku masih harus menyiram semua tanaman ini”

 

Bob hanya memandang kecewa tuannya yang beranjak pergi. Kemudian ia duduk dan memperhatikan Sungmin yang mulai sibuk menyirami tanaman. Sesekali pemuda manis itu mengusap peluh di wajahnya. Tapi kemudian Bob mulai merasa bosan dan memutuskan untuk bermain sendiri. Bob berlari mengambil bolanya yang tersembunyi di antara daun-daunan. Ia menyalak-nyalak gembira ketika bolanya menggelinding menjauh.

 

Tapi setelah cukup lama bermain Bob kembali merasa bosan. Ia berhenti bermain dan menoleh pada Sungmin yang masih sibuk menyirami tanaman-tanaman yang kehausan. Tetes-tetes air yang menempel dipermukaan tanaman nampak mengkilat tertimpa cahaya matahari. Bob menguap dengan bosan dan mulai tertidur. Bolanya tergeletak di dekat mulutnya. Tiba-tiba Bob terbangun ketika merasakan kedatangan seseorang. Ia berlari keluar. Seorang pria bertubuh tinggi sedang berdiri di depan rumah. Bob memandang pria itu sejenak sebelum kemudian ia mulai menyalak-nyalak dengan riang.

 

“Lihatlah aku,” begitu kira-kira kata anjing terrier itu. “Aku penjaga rumah ini. Tapi jangan takut! Aku memang suka menyalak-nyalak seperti ini. Dan ini memang tugasku. Tapi aku senang kau datang. Siang ini aku bosan sekali. Tuanku sedang sibuk dan tidak bisa bermain denganku. Mau masuk? Mudah-mudahan ya. Aku ingin teman mengobrol.”

 

“Hai, teman!” ujar pria itu.

 

Anjing itu mendekat. Ia mendengus-dengus. Ekornya bergoyang-goyang. Ia nampak sedikit curiga.

“Aku harus begini,” ia seolah berkata. “Aku belum dikenalkan padamu. Tapi kelihatannya kau baik.”

 

Pria itu berjongkok. Ia tersenyum sambil mengusap kepala anjing itu.

“Anjing pintar” ujarnya.

“Guk” sahut anjing itu ramah.

 

Pria itu berdiri. Anjing terrier itu memperhatikan gerak-gerik kawan barunya itu. Matanya menatap pria itu dengan penuh harap. Kemudian ia kembali menyalak-nyalak dengan riang. Sungmin muncul dari dalam sambil berseru,

“Aigoo, Bob. Kau mulai nakal lagi ya…”

 

Anjing itu berhenti menyalak. Pria bertubuh tinggi itu masih tidak beranjak dari tempatnya. Ia memandang Sungmin yang sedang menyeret anjing terrier itu masuk ke dalam. Dengan enggan anjing itu pun mengikuti langkah tuannya.

“Permisi…” kata pria itu menghentikan langkah Sungmin.

 

Sungmin menoleh. Ia memperhatikan sesaat pria yang sedang berdiri di depan rumahnya itu, dari kepala hingga kaki. Padahal saat ini adalah hari yang terik di musim panas. Tapi pria itu mengenakan setelan rangkap tiga dan sama sekali tidak terlihat berkeringat. Dia membawa buku sketsa ditangannya. Sambil menyentuh topinya yang menyembunyikan wajahnya pria itu bertanya,

 

“Bolehkah aku membuat buku sketsa pohon Kusanoki yang ada di rumah ini?”

 

Sungmin terpaku sesaat.

“A…anda siapa?” tanyanya.

 

Pria itu membuka topinya, memperlihatkan wajahnya yang tampan. Ia tersenyum ramah dan menjawab, “……maaf. Namaku Cho Kyuhyun”

 

Sungmin mengerjap sesaat. Sosok tampan itu nampak sangat mempesona dan lebih bersinar daripada matahari musim panas. Ada sesuatu yang aneh terasa menjalari tubuhnya ketika melihat mata obsidian milik pria itu. Sepasang mata obsidian yang cemerlang dan misterius, seperti sebuah teka-teki yang dalam. Tiba-tiba saja ia merasakan jantungnya berdentum aneh, memainkan sebuah irama yang lain.

 

Cho Kyuhyun? Rasanya seperti ia pernah mendengar nama itu.

“Ya, silakan” kata Sungmin kemudian, mempersilahkan Kyuhyun masuk.

 

Kyuhyun memakai kembali topinya dan melangkah masuk bersama Sungmin. Langkahnya terhenti di depan pohon kusanoki. Ia sedikit mendongak memandang pohon besar yang menjulang tinggi itu dan memperhatikannya dengan mata yang berbinar, seolah baru saja menemukan sebuah harta kuno terbesar. Bob kembali tidur disamping bolanya, dan Sungmin kembali menyirami tanaman. Namun sudut matanya tidak henti memperhatikan Kyuhyun yang mulai menggambar. Hingga akhirnya ia meninggalkan selang airnya begitu saja dan beranjak mendekati Kyuhyun.

 

“A, anu…boleh aku melihatnya dari samping?” tanya Sungmin.

“Silakan!” jawab Kyuhyun tanpa menghentikan pekerjaannya.

 

Sungmin berdiri disamping Kyuhyun dan memperhatikannya. Sosoknya yang tampan dan siluet tubuh tingginya yang tertimpa sinar matahari saat sedang menggambar itu, entah kenapa membuatnya terpesona. Ada sesuatu yang dimiliki pria tampan itu, mungkin semacam karisma tersendiri yang membuat orang lain ingin terus memperhatikannya. Sungmin mencoba mengintip pada buku sketsa Kyuhyun. Kyuhyun menggoreskan pensilnya dengan lihai diatas buku sketsa itu. Dan di dalam buku sketsa itu nampak gambar pohon kusanoki yang hampir selesai. Itu gambar yang bagus dan mirip sekali dengan aslinya. Sungmin kembali memandang Kyuhyun. Ia mendengar pria tampan itu berkata dengan nada takjub,

 

“Pohon kusanoki yang luar biasa. Bagaikan Sembilan kepala naga yang hendak pulang ke langit……!”

 

Sungmin masih memandang Kyuhyun. Kepalanya sedang bertanya-tanya, siapa pria tampan ini? Hingga akhirnya suara teriakan ayahnya mengembalikan kesadarannya. “Sungmin! Kau meninggalkan kran air terus menyala!” teriak tuan Lee dengan marah ketika melihat selang air yang ditinggalkan oleh Sungmin terus mengalirkan airnya membasahi tanah.

 

Sungmin tersentak. Bergegas ia beranjak mematikan kran. Kyuhyun menghentikan tangannya dan menoleh. Ia melihat Sungmin sedang ditegur oleh ayahnya. Pemuda manis itu membungkukkan kepalanya meminta maaf atas kecerobohannya. Tuan Lee bersiap menumpahkan omelannya, namun terhenti ketika melihat Kyuhyun yang berjalan mendekati mereka. Tuan Lee mengernyit memperhatikan Kyuhyun.

 

“Siapa kau? Apa yang sedang kau lakukan disini?” tanyanya seraya menunjuk-nunjuk wajah Kyuhyun yang tertutup topi.

 

Kyuhyun membuka topinya dan tersenyum ramah. Saat ia menyebutkan namanya pria paruh baya itu terkejut. Seketika ia lupa dengan keinginannya memarahi Sungmin. Raut wajahnya berubah senang. Ia mendekati Kyuhyun dan mengajak pria tampan itu untuk masuk ke dalam rumah. Sungmin hanya mengikuti mereka dengan wajah bingung. Ayahnya kenal dengan pria tampan ini?

 

Di dalam rumah tuan Lee menjamu Kyuhyun dengan berbagai makanan enak. Ia bersikap sangat baik seolah Kyuhyun adalah seorang tamu kehormatan. Sungmin memandang ayahnya yang sedang mengobrol dengan Kyuhyun, seolah mereka adalah kawan lama. Kini wajah tampan Kyuhyun terlihat jelas. Topinya yang sebelumnya menutupi wajah tampannya diletakkan di atas meja, di dekat gelasnya.

 

“Jadi apa yang membuatmu datang ke desa ini? Apa kau sedang tersesat?” tanya tuan Lee.

 

Kyuhyun terkekeh kecil. Katanya,

“Ya, bisa dibilang begitu. Aku sedang berjalan-jalan dan melihat pohon kusanoki saat melewati rumah ini. Tiba-tiba saja aku ingin menggambar sketsa pohon itu. Jadi, aku meminta ijin pada pemuda manis itu untuk menggambar pohon kusanoki yang luar biasa itu”

 

Sungmin sedikit terkejut saat Kyuhyun menunjuk dirinya. Kemudian ia menyadari bahwa ia belum memperkenalkan namanya. Betapa memalukannya. Saat ia hendak memperkenalkan dirinya, ayahnya sudah lebih dulu menyebutkan namanya.

 

“Oh, ini putraku. Namanya Sungmin” kata tuan Lee sambil menyentuh bahu Sungmin.

 

Kyuhyun menoleh pada Sungmin.

“Lee Sungmin?” katanya seolah sedang memastikan.

 

Sungmin menganggukkan kepalanya dan Kyuhyun tersenyum. Perasaan aneh itu kembali terasa menjalari tubuhnya. Sungmin menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan rona merah yang merambat tipis di wajah manisnya. Ini aneh.

 

Sungmin mengangkat kepalanya ketika mendengar ayahnya mengundang Kyuhyun untuk tinggal bersama mereka di rumah ini. Tuan Lee tidak keberatan jika Kyuhyun ingin tinggal cukup lama disini atau berapa lama pun yang dia mau. Dan tanpa di duga ternyata Kyuhyun menyetujuinya. Tuan Lee tertawa senang dan segera memerintahkan para pelayannya untuk mempersiapkan kamar untuk tamu istimewanya itu. Maka, mulai hari itu Kyuhyun tinggal di rumah Sungmin.

 

Dari ayahnya yang berprofesi sebagai ahli keramik, akhirnya Sungmin tahu bahwa pria tampan bernama Cho Kyuhyun itu adalah si seniman jenius yang karyanya diminati oleh kolektor seluruh dunia. Dia pernah merancang sebuah bangunan tua di Jepang. Selain seorang arsitek, Kyuhyun juga dikenal sebagai musisi dan penulis lagu yang handal, sehingga dijuluki si jenius yang serba bisa. Di sebut-sebut sebagai pelopor aliran trick art di Korea, Kyuhyun juga menciptakan Sembilan buah biola yang dianggap mengungguli jenis Stradivarius. Namun, saat pujian mengalir dari para maestro di seluruh dunia…Kyuhyun berhenti membuat biola.

 

Dari penjelasan ayahnya itu Sungmin menyadari satu hal. Kyuhyun selalu membuat suatu karya seni sebanyak Sembilan buah, atau karyanya selalu berhubungan dengan angka Sembilan. Entah karena pria tampan itu memang tidak bisa membuat karya yang sama lebih dari Sembilan buah? Atau angka Sembilan memiliki arti tersendiri bagi dia?

 

~+~+~+~

 

Siang itu Kyuhyun sedang duduk di beranda menggambar sketsa yang lain dari pohon kusanoki. Pohon besar itu tetap terlihat luar biasa meski terlihat dari jarak yang cukup jauh. Tiba-tiba Bob muncul  dengan membawa bola pada mulutnya. Ia memandang Kyuhyun sambil menggoyang-goyangkan ekornya.

“Ayo,” begitu kelihatannya dia berkata. “Ayo, kita bermain!”

 

Kyuhyun tersenyum dan menutup buku sketsanya. Ia meletakkan buku sketsanya di beranda, berdiri dan berjalan ke halaman. Bob mengikuti dibelakangnya. Bob perlahan-lahan melipat kaki belakangnya dengan bola masih di moncongnya. Kemudian dengan hati-hati anjing itu mendorong bolanya semakin ke pinggir mulutnya. Ketika bolanya terlepas dan menggelinding menjauh, ia berdiri sambil menyalak-nyalak gembira. Kyuhyun memunggut bola itu dan melemparkannya kembali pada Bob.

 

“Ayo, Bob!” seru Kyuhyun.

 

Bob menangkap dengan mulutnya. Dan permainan pun diulang berkali-kali. Sungmin muncul dari gudang penyimpanan keramik-keramik. Ia baru saja menyimpan keramik-keramik buatan ayahnya yang telah jadi. Ia berhenti saat melihat Kyuhyun sedang bermain-main dengan Bob di halaman. Anjing terrier itu menyalak-nyalak gembira setiap kali Kyuhyun melemparkan bolanya. Sungmin tersenyum dan menghampiri Kyuhyun.

 

“Ini mainannya sehari-hari. Kalau diteruskan, dia kuat bermain berjam-jam” ujar Sungmin membuat Kyuhyun berhenti bermain dan menoleh.

 

Bob menyalak-nyalak menarik perhatian saat Kyuhyun berjalan ke beranda bersama Sungmin. Ketika dilihatnya Kyuhyun justru duduk di beranda bersama Sungmin, anjing itu tampak kecewa. Ia meninggalkan bolanya dan berjalan mendekati Kyuhyun. Ia duduk di dekat Kyuhyun sambil memiringkan kepalanya. Ia memandang Kyuhyun penuh harap, berharap kawan barunya itu mau kembali bermain dengannya. Kyuhyun hanya tersenyum dan membelai kepala anjing itu.

 

“Anjing ini manis” ujar Kyuhyun.

“Ya, memang” sahut Sungmin.

 

“Apa dia sudah tua? Berapa umurnya?”

“Bob baru berumur enam tahun. Kadang-kadang kelakuannya masih seperti anjing kecil. Menggigit-gigit sandal ayah, dan membawanya kemana-mana. Dia pikir itu mainan mungkin”

 

Kyuhyun terkekeh. Sungmin mulai bercerita tentang kelakuan Bob dan Kyuhyun memperhatikannya dengan baik. Ia memandang pemuda manis itu lekat-lekat, seolah sedang menghafal setiap bagian dari wajah manis itu. Sungmin berhenti bicara ketika tangannya tidak sengaja menyentuh buku sketsa milik Kyuhyun.

 

Sungmin mengambil buku sketsa itu dan bertanya,

“Bolehkah aku melihat isinya?”

“Ya, tentu”

 

Sungmin membuka buku sketsa itu. Ia mengerjap saat melihat isinya. Gambar-gambar sektsa yang indah mengisi lembar-lembar buku sketsa itu. Tapi gambar yang paling indah menurut Sungmin adalah gambar sketsa pohon kusanoki. Gambar pohon besar yang menjulang tinggi dengan cabang-cabangnya yang kokoh, juga bias cahaya matahari yang menimpanya membuat pohon itu bagaikan kepala Sembilan naga. Nampak begitu luar biasa. Sungmin memandang gambar pohon kusanoki itu dengan takjub.

 

“Ini luar biasa……” kata Sungmin menyentuh gambar pohon kusanoki itu dengan takjub.

 

Sungmin menoleh pada Kyuhyun. Pria tampan itu sedang menatap ke arah pohon kusanoki. Ia terdiam dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Sungmin meletakkan buku sketsa Kyuhyun di pangkuannya dan menatap pria tampan itu lekat-lekat. Pria tampan itu bagaikan kotak Pandora yang penuh misteri. Setiap kali melihatnya Sungmin selalu bertanya-tanya di dalam pikirannya, pesona apalagi yang dimiliki oleh seniman jenius ini? Apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya? Dan…bagaimana perasaannya yang sesungguhnya? Karena senyuman ramah yang selalu tersungging di bibir tebal itu seolah sebuah batas dari sisi lain yang penuh misteri. Sisi lain yang tak tersentuh siapapun.

 

“Sungmin, apakah aku boleh memakai alat pembakaran milik ayahmu?” tiba-tiba Kyuhyun bertanya.

“Apa?” Sungmin tersentak dari pikirannya.

 

Kyuhyun menoleh pada Sungmin. Ia mengulang kembali pertanyaannya dan berkata sambil tersenyum,

“Naluri penciptaku sebagai seniman sedang bergejolak”

 

Sungmin mengerjap sesaat.

“Ayahku sedang berada di bengkel tempat membuat keramik. Kenapa tuan tidak menanyakan langsung padanya?” katanya.

 

“Ah, benar” kata Kyuhyun.

Kemudian Sungmin mengantarkan Kyuhyun ke bengkel tempat membuat keramik. Di ruangan itu nampak tuan Lee sedang bekerja. Tuan Lee menghentikan pekerjaannya saat melihat kedatangan Kyuhyun bersama putranya. Ia tidak merasa keberatan saat Kyuhyun mengatakan ingin memakai alat pembakaran miliknya. Ia justru merasa senang.

 

“Tentu, tentu. Kau boleh memakainya sesuka hatimu. Tungku pembakarnya ada di halaman belakang” kata tuan Lee.

 

Kyuhyun tersenyum dan berterima kasih. Ia menarik ke atas kedua lengan kemejanya, dan Sungmin hanya diam ketika melihat pria tampan itu mulai bekerja dengan bersemangat. Ia melihat ada gejolak yang berbeda di dalam mata obsidian itu. Gejolak sang seniman. Tidak ingin mengganggu, maka Sungmin pun meninggalkan Kyuhyun, membiarkan sang seniman bekerja.

 

Dari pagi hingga malam. Hari demi hari. Kyuhyun melakukan pekerjaannya dengan serius dan bersemangat, seolah ia harus menyelesaikannya sebelum api gejolak itu tiba-tiba padam. Sungmin selalu membawakan makanan dan minuman untuk Kyuhyun. Ia hanya akan duduk diam dan memperhatikan saat Kyuhyun sedang bekerja, dan menunggu hingga pria tampan itu berhenti sejenak untuk beristirahat. Ia suka melihat Kyuhyun yang sedang bekerja. Ia suka melihat raut wajah Kyuhyun saat sedang serius, terlihat berbeda dan sangat tampan.

 

Sungmin pernah bertanya pada Kyuhyun, apakah dia butuh bantuan? Ia cukup mengerti tentang keramik, meski tidak begitu pandai membuatnya. Tapi saat itu Kyuhyun justru tersenyum dan mengacak-acak lembut rambut Sungmin. Katanya,

 

“Aku tidak pernah dibantu siapapun setiap kali sedang membuat sesuatu. Aku lebih senang melakukannya sendiri. Tapi jika kau mau membantu, maka tetaplah disini. Melihatmu tetap di dekatku, itu sudah cukup membantuku”

 

Perkataan Kyuhyun itu membuat Sungmin merasa senang sekaligus bingung. Ia tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaan Kyuhyun terhadapnya. Karena setiap kali melihatnya pria tampan itu seperti menyimpan sesuatu yang sulit untuk diperlihatkan. Seniman jenius itu bagaikan sebuah teka-teki yang dalam. Sulit dimengerti. Sedangkan hari demi hari Sungmin mulai semakin menyukainya. Dan ketika sadar, ternyata ia sudah jatuh cinta padanya. Ia mencintai sang seniman yang jenius itu.

 

~+~+~+~

Malam itu nyonya Lee datang ke kamar Sungmin. Ia duduk di dekat Sungmin dan mengajak pemuda manis untuk berbicara tentang hal yang serius. Pernikahan, satu topik yang selalu Sungmin hindari. Sungmin selalu berpikir, ia baru dua puluh dua tahun dan terlalu dini untuk menikah. Tapi kini ibunya mendatanginya dengan raut wajah serius dan Sungmin tahu ia tidak bisa menghindar lagi malam ini. Sungmin hanya diam ketika ibunya mulai berbicara tentang pernikahan dan Kangin, pria pillihan orang tuanya.

 

Tapi ketika arah pembicaraan ibunya mulai tertuju ke Kyuhyun, Sungmin memandang ibunya dengan terkejut. Ia tidak tahu darimana ibunya bisa tahu bahwa ia mencintai seniman jenius itu. Seolah mengerti dengan pikiran Sungmin yang terkejut, wanita paruh baya itu berkata dengan nada yang melembut,

 

“Aku tidak perlu seorang jenius untuk memberitahuku bahwa putraku jatuh cinta pada Cho Kyuhyun. Aku melihatnya dari matamu, Sungmin. Kau tahu mata tidak bisa berbohong, anakku”

 

Sungmin menunduk dan memainkan jemarinya. Ibunya berkata,

“Lupakan dia, Sungmin”

 

Sungmin mengangkat kepalanya dan memandang ibunya.

“Kenapa? Karena dia lebih tua sepuluh tahun dariku?”

“Itu salah satunya,” nyonya Lee terdiam sesaat. “Dia tidak cocok untukmu, Sungmin. Dia adalah seorang seniman jenius yang karyanya diminati oleh seluruh kolektor di dunia, sementara kau? Kau hanyalah pemuda biasa, Sungmin. Dia terlalu tinggi untuk kau harapkan.”

 

Sungmin hanya diam. Ia mengerti, bahkan sangat mengerti bahwa perkataan ibunya benar. Dirinya hanyalah seorang pemuda biasa yang masih hijau, sementara Kyuhyun adalah seorang pria matang yang baginya adalah seorang pria yang hebat. Mempesona namun penuh misteri.

 

“Sampai kapan kau mau mengharapkannya?  Kelak kau pasti harus menikah ‘kan? Kangin menunggumu. Dia mengharapkanmu. Kangin pria yang baik dan serius. Cepatlah menikah, buatlah orang tuamu bahagia” kata nyonya Lee lagi, berusaha membujuk.

 

Sungmin masih diam. Ia hanya memandang ibunya dengan ragu, seolah sedang bertanya, lalu bagaimana dengan perasaanku terhadap Kyuhyun?

 

“Perasaanmu terhadapnya akan terkikis oleh waktu. Selain itu, apa lagi yang bisa kau lakukan?” kata nyonya Lee seolah mengerti dengan pandangan putranya itu.

 

Sungmin beranjak keluar dari kamarnya. Ia mendesah sesaat dengan bingung di depan pintu kamarnya yang ia tutup sebelum kemudian melangkah pergi menuju dapur, mungkin secangkir teh panas bisa membantu menjernihkan kepalanya yang terasa penuh ini. Saat ia melewati tangga, ia melihat Kyuhyun sedang bermain-main dengan Bob. Bob berdiri di puncak tangga. Di mulutnya tergigit bola mainannya. Ekornya bergerak-gerak.

 

“Ayo, Bob!” seru Kyuhyun.

 

Dengan hati-hati anjing itu mendorong bolanya semakin ke pinggir mulutnya. Ketika bolanya terlepas dan menggelinding ke bawah, ia menyalak-nyalak gembira. Kyuhyun memungut bolanya dan melemparkannya pada Bob. Bob menangkapnya, dan permainan pun terus berlanjut. Sungmin memperhatikan Kyuhyun lekat-lekat. Ia berusaha mencari sesuatu di dalam mata obsidian yang cemerlang itu. Namun mata itu seperti sebuah misteri, seolah sebuah labirin yang memiliki begitu banyak jalan yang membingungkan. Itu membuat Sungmin berpikir, apakah tidak ada, sedikitnya, tentang dirinya di dalam mata obsidian itu?

 

~+~+~+~

Selama setengah tahun Kyuhyun tinggal di rumah Sungmin, seniman jenius itu menghasilkan Sembilan karya keramik. Saat Kyuhyun menyelesaikan keramiknya yang ke Sembilan, Sungmin tahu bahwa ia hanya tinggal menghitung hari hingga saatnya seniman jenius itu meninggalkan rumah ini. Dan akhirnya hari itu pun tiba.

 

Sungmin sedang duduk di beranda bersama Bob, menatap kosong ke arah pohon kusanoki. Anjing itu duduk disampingnya dan memandang tuannya dengan bingung. Ia mengendus-endus dan menjilat wajah Sungmin, bermaksud untuk menarik perhatian pemuda manis itu. Tapi sepertinya tuannya itu tidak bersemangat untuk meladeni tingkahnya. Hingga akhirnya Bob melipat kaki depannya dan merebahkan tubuhnya di samping Sungmin.

 

Bob bangkit ketika merasakan kedatangan Kyuhyun. Ia berlari menghampiri pria tampan itu dan mulai menyalak-nyalak dengan riang. Sungmin menoleh dan melihat Kyuhyun yang sedang membelai Bob sambil mengatakan, “Anjing pintar”. Kyuhyun terlihat rapi dan tampan dengan setelan rangkap tiga yang dipakainya. Dia membawa sesuatu di tangannya, sebuah kotak kayu yang diikat dengan pita merah. Kotak itu berisi salah satu keramik dari Sembilan karya keramiknya yang sengaja Kyuhyun tinggalkan sebagai tanda terima kasih.

 

Kyuhyun menoleh pada Sungmin dan berjalan menghampirinya. Bob mengikuti dibelakangnya. Sungmin segera berdiri dan memandang Kyuhyun dengan perasaan aneh yang selalu menjalari tubuhnya setiap kali ia melihat pria tampan itu.

“Aku mencarimu sejak tadi” kata Kyuhyun.

 

“Tuan akan segera pergi?” tanya Sungmin. Ada nada tidak rela terselip samar dalam suaranya.

“Ya” jawab Kyuhyun.

 

“Sembilan karya keramik……” kata Sungmin. “Aku tidak mengerti. Kenapa tuan selalu membuat sebuah karya dengan jumlah Sembilan buah? Kenapa selalu Sembilan?”

 

Kyuhyun tersenyum. Katanya,

“Karena api gejolak itu selalu tiba-tiba padam di angka Sembilan”

 

Sungmin memandangnya tidak mengerti. Kyuhyun hanya terkekeh kecil dan mengacak-acak lembut rambut Sungmin. “Apakah kau ingat dengan Shi’unryu yang aku tunjukkan padamu saat itu?” tanyanya.

 

Sungmin menganggukkan kepalanya. Tentu saja ia ingat. Shi’unryu adalah keramik ke Sembilan yang berhasil Kyuhyun selesaikan, dan itu adalah keramik terindah yang pernah Sungmin lihat. Bentuknya unik dengan gambar dua naga melayang yang disaput warna ungu tipis. Itu benar-benar sebuah karya yang luar biasa. Halus sekaligus penuh kekuatan.

 

Kyuhyun memberikan kotak yang dibawanya pada Sungmin dan berkata,

“Sungmin, maukah kau meletakkan Shi’unryu ini di ambang jendela kamarmu yang selalu terkena sinar matahari itu?”

 

“Eh… Ta, tapi…” kata Sungmin terkejut. “Mana bisa aku meletakkan keramik karya tuan yang begitu berharga di ambang jendela? Itu tidak baik…”

 

“Sungmin, kumohon…”

 

Sungmin terdiam melihat wajah Kyuhyun yang terlihat lembut. Ada sesuatu di dalam mata obsidian itu yang membuat Sungmin tidak bisa menolak. Sungmin menerima kotak itu dan menganggukkan kepalanya. Kyuhyun tersenyum senang dan membelai lembut kepala Sungmin. Saat ia membalik tubuhnya dan hendak pergi, Sungmin menarik ujung pakaiannya. Kyuhyun menoleh.

 

“……maaf, sebelum tuan pergi, bisakah aku berfoto bersama tuan? Aku, aku sangat ingin berfoto bersamamu…” pinta Sungmin.

 

Kyuhyun terdiam cukup lama memandang Sungmin. Sungmin menunduk dan menarik kembali tangannya. Ia tahu bahwa Kyuhyun tidak pernah mengijinkan dirinya di foto, bahkan untuk keperluan berita. Tapi Sungmin sangat ingin memiliki foto bersama pria tampan ini. Setidaknya sebagai kenang-kenangan yang terakhir untuknya.

 

“Baiklah” kata Kyuhyun kemudian.

 

Sungmin mengangkat kepalanya dan memandang Kyuhyun dengan tatapan tidak percaya. Ia hampir tidak percaya bahwa seorang Cho Kyuhyun yang paling tidak suka di foto, mau memenuhi keinginannya untuk berfoto bersama. Sungmin tersenyum senang. Di depan pohon kusanoki yang besar itu mereka berfoto bersama.

“Terima kasih untuk semuanya, Sungmin” kata Kyuhyun sambil memakai topinya.

 

Saat Kyuhyun hendak pergi, Bob muncul. Ia berlari menghampiri Kyuhyun dan mulai menyalak-nyalak.

“Hey, sudah mau pergi?” kira-kira begitu katanya. “Aku senang kau berada disini. Kau mengerti jiwa anjing. Punya anjingkah kau dirumahmu?”

 

Kyuhyun menepuk pelan ajing itu sambil tersenyum.

“Anjing pintar. Kau harus menjaga tuanmu dengan baik, ok?” katanya.

“Guk” sahut anjing itu penuh semangat.

 

Sungmin hanya memandang saat Kyuhyun mulai berjalan pergi. Sinar matahari yang menimpa sosok bertubuh tinggi itu menampilkan sebuah siluet yang mempesona dan nampak lebih bersinar dari matahari musim panas. Bob terus menyalak-nyalak disamping Sungmin.

 

“Hey, apa kau akan kembali lagi?” mungkin begitu kira-kira katanya.

 

Sungmin melihat sosok bertubuh tinggi itu semakin menjauh pergi. Saat di ambang pagar Kyuhyun berhenti sesaat. Ia menoleh pada Sungmin. Sungmin merasakan pria tampan itu sedang tersenyum dibalik topinya. Seulas senyum yang terasa berbeda. Dan itu terakhir kalinya Sungmin melihat seniman jenius itu.

 

~+~+~+~

Kehidupan terus berlanjut. Demi membahagiakan kedua orang tuanya akhirnya Sungmin menerima lamaran Kangin. Di awal musim semi mereka menikah dan Sungmin menjalani kehidupannya yang baru. Sungmin mencoba menjalani kehidupan barunya dengan baik. Ia mencoba mencintai Kangin, meski rasanya sulit. Ibunya pernah mengatakan bahwa waktu akan mengikis perasaannya terhadap Kyuhyun. Tapi menurut Sungmin perkataan ibunya itu salah. Karena nyatanya, perasaan itu masih tetap tidak berubah. Ia masih mencintai Kyuhyun, sang seniman jenius yang penuh misteri.

 

Shi’unryu, keramik pemberian Kyuhyun itu tersimpan dengan baik di rak terbaik gudang pameran sebagai hiasan. Tuan Lee yang meletakkannya disana karena menurut Sungmin keramik karya Kyuhyun itu adalah benda yang berharga. Pemuda manis itu khawatir benda berharga itu akan hilang dicuri kalau diletakkan di ambang jendela. Kehadiran Shi’unryu di rumah itu memberikan pengaruh besar pada Sungmin. Sungmin begitu menyayangi keramik itu dan sangat menjaganya dari orang-orang yang mengincarnya. Tapi karena perhatian Sungmin yang lebih pada Shi’unryu, itu kerap membuat Kangin merasa kesal. Mereka selalu bertengkar sengit setiap kali menyinggung tentang Shi’unryu.

 

Sore itu Sungmin dan Kangin kembali bertengkar. Kangin melangkah dengan marah menuju gudang pameran dengan membawa sebuah tongkat. Wajahnya terlihat sangat marah. Di belakangnya Sungmin mengejarnya dengan wajah cemas. Kangin membuka pintu gudang pameran dengan keras. Matanya menatap nanar pada setiap keramik yang terpajang di rak-rak. Hingga akhirnya ia menemukan Shi’unryu, terpajang cantik di rak terbaik.

 

“Kangin! Apa yang kau lakukan…!” pekik Sungmin cemas saat suaminya mendekati Shi’unryu.

 

Kangin tidak peduli dan mengangkat tongkatnya ke udara, bersiap menghancurkan keramik itu.

“Berisik! Apa itu Shi’unryu!? Benda sampah seperti ini lebih baik hancur saja!!” katanya dengan marah.

 

Namun saat Kangin mengayunkan tongkatnya, bukan Shi’unryu yang ia hantam dengan keras melainkan kepala Sungmin yang sedang memeluk keramik peninggalan Kyuhyun itu untuk melindunginya. Darah mengalir turun dari kening Sungmin yang terluka akibat pukulan Kangin. Sungmin menatap tajam suaminya dan berkata dengan nada tegas,

 

“……jangan! Bahkan aku tidak akan membiarkan kau menyentuh Shi’unryu ini sedikit pun!!”

 

Kangin hanya terdiam dan kemudian beranjak pergi dengan marah. Ia benar-benar merasa sangat kesal dan membenci keramik itu. Ia membenci Shi’unryu yang telah menarik perhatian Sungmin. Bahkan hingga Kangin meninggal tujuh tahun kemudian karena sakit keras, Sungmin masih tidak bisa melepaskan Shi’unryu, seperti halnya ia yang tidak bisa menghapus Kyuhyun dari dalam hatinya. Sosok bertubuh tinggi yang tertimpa sinar matahari di hari musim panas itu masih terlukis jelas di dalam kepalanya. Setiap kali Sungmin memandang Shi’unryu, rasa rindu itu selalu datang. Ia sangat merindukan seniman jenius itu. Entah dimana Kyuhyun sekarang.

 

Kabar terakhir yang Sungmin dengar Kyuhyun sedang berada di Eropa. Tapi kemudian tiba-tiba seniman jenius itu menghilang. Dunia pun bertanya-tanya, apa yang terjadi dan dimana si seniman jenius itu berada sekarang? Tapi pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah terjawab dan meninggalkan misteri sebagai jawabannya.

 

~+~+~+~

Sementara itu di Prague

 

Mesin printer dibalik pundak pria bertubuh tinggi itu mendesis bagaikan ular marah. Bunyi yang dibuat oleh mesin itu sedikit mengusik ketenangan malam kota Prague. Jam yang berdetak di dinding itu telah menunjukkan pukul 12. Suara mesin itu berhenti setelah kertas terakhir keluar. Pria bertubuh tinggi itu menoleh. Ia mengambil semua kertas-kertas dari mesin printer itu, menyusunnya dari halaman pertama dan kemudian menjepitnya dengan menggunakan penjepit kertas. Tumpukan kertas-kertas itu cukup tebal. Itu adalah sebuah naskah buku yang ditulisnya dalam bahasa inggris. Ia memeriksa sesaat semua hasil tulisannya sebelum kemudian tersenyum puas.

 

“Rex! Rex!” teriak pria itu memanggil tangan kanannya.

 

Tidak lama seorang pria paruh baya berkebangsaan Eropa datang.

“Ya, tuan Kyuhyun?” katanya dengan hormat.

 

Pria bertubuh tinggi yang ternyata adalah Kyuhyun memberikan naskah itu pada tangan kanannya sembari berkata, “Kirimkan naskah ini pada Yesung hyung di Korea. Suruh dia mencari editor untuk menerjemahkan naskah ini ke dalam bahasa Korea. Dia tahu bagaimana harus melakukannya”

 

“Ya, tuan. Akan segera saya kirimkan,” kata Rex.

 

Kyuhyun menganggukkan kepalanya. Ia berjalan ke jendela dan memandang pemandangan malam kota Prague yang tenang. Rex masih tidak beranjak dari tempatnya. Ia memandang tuannya dan kemudian kembali berkata masih dengan nada hormat yang sama,

 

“Semua media sedang membicarakan anda saat ini, tuan. Dunia sedang kebingungan mencari anda. Apakah anda sedang menunggu api gejolak itu datang dan merencanakan suatu karya yang baru?”

 

Kyuhyun terkekeh kecil. Ia meraih gelas wine miliknya dan menggoyangkannya dengan pelan, membuat cairan berwarna merah anggur di dalamnya bergolak pelan. Katanya, “Aku sedang tidak merencanakan apapun, Rex. Aku tidak pernah menunggu karena, kau tahu, api gejolak itu selalu datang tiba-tiba dan padam secara tiba-tiba pula. Dan itu selalu padam di karya ke Sembilan”

 

Rex hanya diam. Meski sedikit bingung tapi ia memutuskan untuk tidak melanjutkannya. Ia mengerti bahwa tuannya memang seorang yang jenius dan juga misterius. Kyuhyun selalu melakukan berbagai hal dengan caranya sendiri. Rex membungkukkan kepalanya dengan hormat pada Kyuhyun dan kemudian beranjak pergi meninggalkan ruangan.

 

Kyuhyun menikmati gelas wine miliknya seraya menatap keluar jendela. Kepalanya menghadirkan kembali sosok itu, pemuda manis yang diam-diam masih ia rindukan. Bukan tanpa alasan ia meninggalkan Shi’unryu di rumah itu. Karena di dalam Shi’unryu ada sebuah pesan yang ia tujukan khusus untuk orang itu. Kyuhyun menyesap gelas wine-nya seraya berpikir, sudahkah orang itu menyadarinya?

 

Tbc

9 thoughts on “Tried to capture the sun / #1

  1. Aahhh ~
    ff nya daebak author ssi !
    Kyu keren bget di sini . . ^^
    Ming jga msh nuggu kyu mskipun dia udh nikah , apa mereka saling suka ?? Klo Ming kn udh jelas dia suka sma Kyu . Apa kyu jga gt ??
    Pesen apa yg mau di sampai.n kyu lewat Keramik itu ??

    Keep writhing !😀
    HWAITHING !!
    \(^_^)9

  2. huaa..
    Karakter Kyuhyun dsni Misterius bangett..

    Knpa Kyu pergi gitu aja kalu dia suka Ming..
    Knpa gga nyatain Langsung ma Ming??

    Ming ampe segitunya ngelindungin Shi’unryu dari Kyu.. Bahkan udda bbrpa taun berlalu Ming sama Kyu masih saling merindukan..
    ya muga mreka Bersatuu..

    ayyooo dilanjuutt..

  3. Annyeong haseyo author..
    Kenalkan aq reader baru ^____^

    Aq kaget wkt buka masterlist,wow ternyata author udh nulis FF bnyk bgt ya pantesan aja pas aq baca FF Tried to Capture The Sun,kesannya bagus,,aq jd mikir kayaknya authornya udh pro hehe..

    FF ini bergenre misteri tp ga ada serem2nya sm sekali ^^. Mungkin maksudnya tokoh kyu n misterius dan jg ttg pesan yg mau dia sampaikan ke Min yg ada D guci itu misterius bgt,bikin penasaran..

    Cpt dilanjut Author,,aq tunggu updatenya🙂

  4. Mampir~~~
    Awh… I love it sooo much!!!
    Aku dulu sekali pernah baca Det Shcool Q, dn inget2 dkit soal keramik Shi’unryu ini. Tpi udah lupa jalan crita aplg endingnya. -___-”
    Dn untk ff ini, bagus.
    Untk deskripsi dn narasi yg luar biasa, thanx a lot udah share ff ini nona author. ♥(ノ´∀`)
    Demikianlah, cinta akan selalu menemukan jalanya.
    Chapter dpan aku harap Sungmin meletakan keramik ini d jendela kamarnya yg bermandikan cahaya matahari pagi.
    Yup, itu saja.
    Salam kenal nona author.
    Ini kali pertama aku maen ke WP ini.
    Besok-besok aku maen lagi. *wink*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s