Ini rindu

Gambar

Pairing         : KyuMin

Genre          : Angst

Length         : Drabble

Warning       : Boys love, shounen-ai, Sungmin centric

Disclaimer     : Story belong to me, KyuMin belong to each other

Summary       : Pesawat kertas itu terus terbang jauh terbawa angin. Membawa sebuah pesan rindu dari Sungmin untuk seseorang yang jauh disana.

 

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

Hari ini Sungmin kembali ke tempat itu, tempat persinggahan yang sudah lama ditinggalkan. Tempat persinggahan yang tak lagi bisa memberi rasa lega. Dulu itu adalah tempat yang hangat dan penuh cerita. Di tempat itu biasanya Sungmin menghabiskan waktunya bersama orang itu. Di tempat itu mereka berbagi cerita, berbagi rasa, berbagi cinta. Tempat itu masih sama seperti saat orang itu meninggalkannya. Ayunan kayu itu masih kosong dan nampak kesepian, dan kini ia duduk sendirian tanpa sang kekasih yang telah memutuskan untuk pergi meninggalkannya di suatu pagi yang bisu.

Sungmin duduk di salah satu ayunan kayu itu. Biasanya Sungmin selalu merasa senang setiap kali ia datang ke tempat ini. Ayunan kayu ini menjadi favoritnya, tapi kini ia merasa seolah sedang duduk di kursi pesakitan. Perasaan rindu ini memenuhi dadanya. Dadanya seperti dipenuhi gelembung-gelembung kenangan. Ada tawa orang itu, tawanya, tangis mereka. Lalu pelukan hangat. Tangan mereka yang saling bergandengan ketika mereka akan berjalan pulang dan bercengkrama dengan khayalan-khayalan mereka. Semuanya.

 

Kini tidak sama lagi. Semua sudah berubah, tidak seperti dulu. Di sini rasanya sepi sekali. Dan terus terang, Sungmin merasa ada yang hilang. Ia memejamkan matanya dan menghitung kembali derai kenangan itu, memutarnya kembali seperti sebuah proyektor film. Derai kenangan itu membawanya kembali pada satu pagi yang bisu, lima tahun lalu.

 

~+~+~+~

 

Pagi itu sang mentari belum bersinar sempurna untuk menepis pekatnya kabut. Dedaunan masih basah oleh tetesan embun. Dan pikiran Sungmin belum sempurna terbangun dari kantuk yang masih mendera ketika Kyuhyun mengajaknya bertemu di tempat persinggahan mereka. Pria tampan itu sedang terduduk di ayunan kayu saat Sungmin datang. Ia mengangkat kepalanya ketika melihat kedatangan Sungmin. Ia berdiri, berlari-lari kecil menghampiri Sungmin dan tersenyum lebar. Sementara Sungmin tidak peduli. Ia sudah biasa melihat Kyuhyun seperti itu. Kyuhyun selalu datang padanya dengan senyum lebarnya yang khas. Tapi pagi ini senyum lebar itu terasa berbeda.

 

Sungmin beranjak duduk di ayunan kayu. Kyuhyun mengikutinya. Ia kembali duduk di ayunan kayunya dan masih tersenyum. Dan Sungmin masih membiarkan pria bertubuh tinggi itu dengan dunia senyumnya.

 

“Aku akan pergi” tiba-tiba kalimat itu meluncur keluar dari bibir Kyuhyun.

 

Sungmin menoleh. Ia menatap mata obsidian Kyuhyun dengan dalam, mencari-cari apakah ada kebohongan di dalam sana. Tapi ternyata tidak. Mata obsidian itu terlihat serius. Seharusnya Sungmin tahu bahwa Kyuhyun tidak mungkin berbohong. Tapi rasanya ia berharap saat ini Kyuhyun hanya sedang membohonginya, meski itu adalah sebuah kebohongan yang payah.

 

“Aku serius, aku akan pergi. Aku ditawari pekerjaan yang lebih baik di Jepang” kata Kyuhyun. Senyum lebar itu menghilang perlahan. Dan Sungmin tahu, Kyuhyun benar-benar serius dengan ucapannya.

 

Sungmin terdiam. Ia memalingkan wajahnya dan mencari kata-kata yang tepat untuk memulai pembicaraan atau mencoba menguatkan dirinya dari perasaan sedih yang tiba-tiba saja menderanya. Ia kembali menoleh pada Kyuhyun dan menyunggingkan sebuah senyuman untuknya. Ia mencoba untuk tersenyum dengan baik, meski Sungmin sendiri tidak yakin apakah senyum itu bisa menyimpan kesedihan itu. Kyuhyun menyentuh tangan Sungmin dan menggenggamnya dengan erat. Sungmin menatapnya dan ia melihat di mata obsidian itu sudah ada kesedihan. Sungmin baru menyadari bahwa mata itu telah sembab dari tadi. Sungmin kembali mencoba tersenyum, mencoba menguatkan pria tampan itu dan juga dirinya sendiri.

 

“Oh ya? Selamat ya. Lalu kapan kau mulai bekerja?” tanya Sungmin.

“Senin depan” jawab Kyuhyun juga berusaha untuk tersenyum lagi.

 

Kembali Sungmin terdiam, ah secepat itukah? Rasanya ia tidak kuat menahan rasa sesak yang tiba-tiba muncul. Bibirnya terasa kelu untuk berucap. Tapi ia memaksa dirinya untuk tidak menangis. Kyuhyun menggenggam tangannya semakin erat. Tanpa Kyuhyun mengatakan apapun Sungmin mengerti bahwa ini adalah akhirnya. Sungmin sangat mengenal Kyuhyun. Ia sangat paham bahwa pria bertubuh tinggi itu sangat payah dalam hal long distance relationship. Dan Sungmin pun sangat paham bahwa mereka telah sampai di ujung jalan.

 

“Kau tahu, long distance relationship tidak pernah berhasil padaku” kata Kyuhyun lirih.

“Ya, aku tahu” kata Sungmin pelan.

 

Kyuhyun melepaskan genggaman tangannya dan mengambil sesuatu, sebuah bungkusan besar yang ia letakkan di dekat tiang ayunan. Ia memberikan bungkusan besar itu pada Sungmin sambil berkata, “Ini untukmu. Aku tidak tahu apakah ini bisa dianggap sebagai permohonan maafku. Tapi aku…” ia berhenti sejenak. Saat ia melanjutkan kembali suaranya terdengar sangat sedih. “aku benar-benar……minta maaf.”

 

Sungmin membuka bungkusan besar itu, yang ternyata adalah sebuah boneka teddy bear yang cukup besar. Boneka teddy bear itu berwarna putih dan sangat manis. Sungmin tersenyum mendengus melihatnya dan berkata,

 

“Ini…permohonan maaf yang manis”

 

Selama beberapa lama mereka hanya saling terdiam, tidak ingin berucap barang sebait kata pun. Sungmin terduduk lesu sambil memeluk boneka barunya, dan Kyuhyun menengadah menatap langit pagi yang muram. Mereka tenggelam, larut dalam pikiran dan perasaan masing-masing.

 

“Apa kau benar-benar tidak akan datang lagi ke sini?,” suara Sungmin yang lirih memecah keheningan itu. “Kau masih bisa mengunjungiku disini ‘kan? Aku tidak akan kemana-mana.”

 

Sungmin mengangkat kepalanya. Kyuhyun menoleh menatap Sungmin dan tersenyum.

“Mungkin lain waktu aku akan mengunjungimu” katanya.

 

Sungmin terdiam sesaat, seolah sedang berusaha mengumpulkan abjad-abjad untuk menjadikannya sebuah kata-kata, tapi bukan salam perpisahan. Sungmin tidak ingin salam perpisahan. Itu terlalu sakit. “Jangan pergi,” akhirnya ia berhasil menemukan kata-katanya. “kau jangan pergi. Jika kau pergi, nanti aku akan merindukanmu.”

 

Kyuhyun membelai kepala Sungmin dan kembali tersenyum. Katanya,

“Kelak, ketika kau merindukanku, tulislah pesanmu di selembar kertas lalu buatlah sebuah pesawat kertas dan terbangkan ke angkasa. Aku pasti akan menerima pesanmu. Kau jangan berpikir aku tidak merindukanmu. Rinduku mungkin sebesar rindumu, bahkan mungkin lebih besar. Kendati kita harus berpisah, mungkin hanya inilah yang bisa kita lakukan”

 

Dan Sungmin kembali terdiam, menunduk lesu. Saat matahari pagi mulai bersinar sepenuhnya Kyuhyun mengantar Sungmin pulang. Ia menggenggam tangan pemuda manis itu dengan erat, dan mereka masih saja terdiam. Hingga akhirnya langkah mereka berhenti di persimpangan jalan. Kyuhyun melepaskan genggaman tangannya dan memandang Sungmin lekat-lekat. Ia tersenyum lembut, tapi Sungmin tahu bahwa senyum lembut itu tidak bisa menyembunyikan kesedihan di dalam mata obsidian yang nampak basah itu.

 

Kyuhyun memeluk pemuda manis itu dan mengecup lembut keningnya sebagai salam perpisahan pagi itu. “Sampai jumpa” katanya sambil melambaikan tangannya.

 

Dan pria bertubuh tinggi itu pun beranjak pergi meninggalkan Sungmin yang sedang berjuang dengan sesak dan kepedihan. Keheningan mengucapkan salam perpisahan pada mereka pagi itu. Sungmin memandang punggung Kyuhyun yang menjauh pergi. Saat punggung itu semakin menjauh pergi, Sungmin pun membalik tubuhnya dan berjalan pergi sambil memeluk boneka teddy bear pemberian Kyuhyun. Di persimpangan jalan itu mereka berpisah, melalui jalan pulang tanpa melangkah bersama. Sungmin semakin memeluk boneka teddy bear itu sambil berbisik lirih memberi nama. Ia memberi nama boneka itu “Kyumin”, (Kyuhyun & Sungmin). Tidak ada air mata. Tidak ada tangis. Hanya ada kehampaan dan rasa sakit.

 

Pagi itu, Sungmin seperti terbangun dari mimpi buruk. Ketika ia membuka mata, Kyuhyun sudah tidak ada. Pria tampan itu telah pergi meninggalkannya pagi itu. Dan itu, adalah mimpi yang terburuk.

 

~+~+~+~

 

Sungmin membuka matanya. Entah sudah berapa lama ia berada disini. Sejenak ia berpikir, apa yang sedang ia lakukan disini? Ah benar, menunggunya. Menunggu orang itu, di tempat persinggahan mereka. Mungkin Kyuhyun akan kembali. Mungkin nanti. Mungkin besok, atau lusa. Entah kapan.

 

Entah bagaimana, Sungmin selalu mengunjungi tempat ini. Ia membiarkan kakinya membawanya kembali ke tempat ini. Dan kakaknya, Leeteuk, selalu datang menyusulnya dan membawanya pergi, lebih tepatnya memaksa. Tidak hanya Leeteuk, bahkan semua orang juga memaksanya pergi, pergi dari Kyuhyun dan kenangan tentangnya. Tapi mereka tidak pernah tahu bahwa setelah Kyuhyun pergi, sebagian hidup Sungmin telah ikut bersamanya. Tidak ada yang berubah disini. Tidak sebelum orang itu kembali. Sang kekasih, Cho Kyuhyun.

 

~+~+~+~

 

Leeteuk mulai mengkhawatirkan keadaan adiknya. Sejak Kyuhyun memutuskan untuk menerima tawaran pekerjaan di Jepang dan pergi meninggalkan Sungmin, pemuda manis itu menjadi lebih diam. Sulit untuk membuatnya bicara, meski itu hanya satu kalimat. Leeteuk selalu merasa sedih setiap kali melihat Sungmin, kini adiknya itu perlahan meredup. Seperti kunang-kunang yang kehilangan pendarnya.

 

Hari ini Leeteuk mengantar Sungmin kembali untuk bertemu dengan Victoria di Seoul National Hospital. Victoria adalah seorang psikiater. Sudah satu bulan ini Sungmin bertemu dengan Victoria, atas usul Leeteuk yang sangat mencemaskan adiknya itu. Sungmin tidak pernah menolak, tapi dia juga tidak pernah bicara banyak. Victoria menyambut kedatangan Leeteuk dan Sungmin di ruangannya di lantai 10. Setelah berbicara sedikit, Leeteuk beranjak pergi meninggalkan ruangan dan menunggu diluar. Kini diruangan yang nyaman itu hanya tinggal Sungmin dan Victoria.

 

Victoria beranjak duduk di depan Sungmin yang sedang berbaring di sebuah sofa panjang yang khusus. Seperti biasa, wanita cantik itu tersenyum pada Sungmin. Memamerkan barisan giginya yang rapi dan putih. Memamerkan senyum yang seolah-olah bersahabat. Sungmin tidak membalas. Ia hanya menatapnya nanar.

 

“Pagi Sungmin ssi. Bagaimana perjalanannya tadi?” Victoria membuka pembicaraan dengan pertanyaan basa-basi.

 

Sungmin tidak menjawab. Ia hanya menatapnya dengan nanar. Lalu seperti biasa, wanita cantik itu mulai bercerita, tentang banyak hal yang tidak Sungmin pedulikan. Sungmin tahu, Victoria hanya berusaha membuatnya bicara, seperti biasa.

 

Tapi itu tidak akan terjadi. Sungmin masih menyimpan kebisuan pagi itu. Pagi yang berkabut. Pagi saat Kyuhyun meninggalkannya. Akhirnya pertemuan hari itu kembali berakhir sia-sia, seperti biasa. Victoria mendesah dengan bingung dan memanggil Leeteuk masuk. Sementara Victoria dan Leeteuk sedang berbicara tentang kondisi Sungmin, pemuda manis itu menunggu di luar. Sungmin memandang keluar jendela yang terbuka dan merasakan semilir angin yang bertiup. Ia membuka tasnya, mengeluarkan sebuah buku. Ia merobek selembar kertas dari buku tersebut dan menulis sesuatu di dalamnya. Kemudian ia melipatnya perlahan membentuk sebuah pesawat kertas. Dan menerbangkannya melalui jendela. Angin membawa pesawat kertas itu melayang jauh.

 

Sungmin menatap pesawat kertasnya yang terbang menjauh terbawa angin. Ia tahu, sekian tahun telah berlalu sejak perpisahan itu. Dan ia masih sulit percaya bahwa itu adalah kenyataan. Tapi yang terjadi memang harus terjadi. Perpisahan itu adalah keputusan mereka. Maka, mungkin inilah jalan yang terbaik. Seharusnya, inilah yang terbaik. Kini, ia hanya bisa mengenang salam terakhir itu dan menerbangkan pesawat kertas ini. Berharap kerinduan ini akan terjawab oleh Kyuhyun, meski yang tersisa kini hanya serpihannya. Dan Sungmin akan terus menunggu, hingga tiba saatnya nanti ia harus melepaskan nama Kyuhyun dari dalam hatinya. Suatu saat nanti.

 

~+~+~+~

 

Pesawat kertas itu terus terbang jauh terbawa angin. Membawa sebuah pesan rindu dari Sungmin untuk seseorang yang jauh disana. Seseorang yang selalu Sungmin jadikan tokoh utama dalam setiap ceritanya. Sungmin berharap, angin akan membawa pesawat kertas itu dan menyampaikan kerinduannya pada orang itu. Cho Kyuhyun.

 

“I Miss us, and all the things we’ve accidentally missed. I miss u, dear Kyu…”

 

~Fin~

16 thoughts on “Ini rindu

  1. What?!
    …………..
    Ini warningnya angst…
    Harusnya aku ga maksain baca.
    Sekarang sedih…
    Mana Kyu ampe akhir ga pulang2.
    TT____TT
    Udah ming, kamu sama aku aja.
    *cari kesempatan dlm kelapangan*
    #ehh

  2. ohmy kk…….. selalu….. kau membuatku terbang dengan kata kata indah mu dan berakhir dengan tangisan /sobs T^T
    gosh…….. ini angst banget kk ciyus ;~~~~;

  3. Aisshh . .
    Jinjja ! Ini sad . . T,T
    endingnya gantung thor . . >,<😥
    aq suka kata"nya gk terlalu muluk tpi ngena bget . .xD

  4. Liat ff ini disebuah grup dan memutuskan untuk membacanya, ini ff angst yang ngena banget, aslinya. Aku jarang membaca angst yang seperti ini, mengingat biasanya ff angst diksinya selalu dibuat berlebihan (mungkin maksudnya supaya reader tersentuh kaliya) tapi ff ini beda, diksiny sederhana tapi tepat, kamu keren :bd
    Hahaha ini gapenting ya commentnya? =)) ya pokonya salam kenal :DD

  5. sedih….sedih….aku pikir pada akhirnya kyu balik ke ming, ternyata mpe akhir ming tetep nunggu ya….aish, ayo…ayo dilanjut…..buat kyumin bahagia❤

  6. naah author yang kayagini selalu bikin gapuas ;; seengganya gambarin perasaan kyuhyun.. atau buat pas kyu kembali walau cuma sepenggal kaya kaya…

    “sungmin-ah…”

    “kyu? kau kembali?”

    ini gantung banget..

  7. kepotong!-__-

    tapi keseluruhan ff author bagus hehehe cuma agak gantung… real life nya kerasa banget. kaya baca novel remaja😀
    fighting!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s