Mr. Perfect / part 1

Gambar

Pairing          : KyuMin

Genre           : Romanca, Crime (maybe, I’m not sure -_-‘)

Length          : Chaptered

Warning         : Boys love, yaoi

Disclaimer     : Sebenarnya ini remake dari dua novel. Novel pertama berjudul “Mr. Prefect” karya Linda Howard. Tapi karena itu adalah novel straight dan konfliknya tidak memungkinkan untuk diremake menjadi yaoi, maka aku mengambil konflik dari cerita lain. Novel kedua berjudul “Close Enough To Kill” karya Beverly Barton, sebenarnya ini juga novel straight tapi konfliknya memungkinkan untuk di remake jadi yaoi, jadi aku hanya mengambil sedikit bagian untuk jadi konfliknya dan menggabungkannya menjadi satu cerita. Semoga tidak menjadi aneh. Ada perubahan dan tambahan agar dapat sesuai dengan cerita couple tersayang kita ^^

Summary       : Saat Sungmin pindah ke rumah barunya, ia berharap akan kehidupan yang tenang dan bahagia. Tetapi semua itu menghilang karena tetangga barunya yang menyebalkan itu. Sungmin tidak ingin perselisihan, tapi ia membenci tetangga barunya. Dan ketika ia menjadi target dari pembunuh berantai yang sedang diributkan oleh media massa setempat, Sungmin terpaksa mengandalkan bantuan tetangga barunya, detektif polisi yang semula diduga pemabuk dan pengangguran.

 

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

Part 1

 

Lee Sungmin bangun dengan murung. Tetangganya, tetangga terkutuk itu, baru pulang pukul tiga dini hari dengan mobil mengerung-gerung. Kalaupun knalpotnya pernah punya saringan, Sungmin yakin pasti sudah lama sekali tidak berfungsi. Sialnya, kamar tidur Sungmin berada di sisi yang berdekatan dengan jalur masuk rumah tetangganya. Bahkan bantal yang menutupi kepalanya pun tidak mampu menghambat bunyi Pontiac delapan silinder itu ke telinganya. Laki-laki itu membanting pintu mobil, menyalakan lampu teras dapur –yang sialnya, letaknya di desain sedemikian rupa sehingga sinarnya langsung menyorot ke mata Sungmin jika ia berbaring menghadap jendela, posisinya saat ini. Tetangganya juga membiarkan pintu kasanya terhempas tiga kali ketika ia masuk, kembali keluar beberapa menit kemudian, lalu masuk lagi, dan kebetulan lupa dengan lampu terasnya, karena tidak lama kemudian lampu di dapur padam tapi lampu teras sialan itu tetap menyala.

 

Jika Sungmin sudah tahu tentang tetangga itu sebelumnya, pasti ia tidak akan pernah membeli rumah ini. Baru dua minggu ia tinggal di sini, semua kebahagiaan yang dirasakannya karena bisa membeli rumahnya yang pertama telah dirusak laki-laki itu.

 

Laki-laki itu pemabuk. Kenapa dia bukan pemabuk yang gembira?, pikir Sungmin kecut. Tidak, dia pasti pemabuk yang jorok dan menyeramkan, jenis yang membuat Sungmin takut membiarkan kucing keluar rumah ketika laki-laki itu ada di rumah. BooBoo bukan kucing yang menyenangkan –bahkan bukan milik Sungmin— tapi ibu Sungmin menyayangi kucing itu, sehingga Sungmin tidak ingin sesuatu terjadi pada BooBoo sementara kucing itu dititipkan padanya. Ia takkan pernah sanggup menghadapi ibunya lagi jika kedua orangtuanya kembali dari liburan impian mereka, berkeliling Eropa selama enam minggu, dan menemukan BooBoo mati atau hilang.

 

Bagaimanapun tetangganya itu sudah punya niat jahat terhadap BooBoo yang malang, karena menemukan jejak-jejak tapak kaki si kucing pada kaca depan dan kap mobilnya. Dari caranya bereaksi, orang akan mengira mobilnya Rolls baru, bukannya Pontiac berumur sepuluh tahun dengan kedua bemper penuh kotoran. Sialnya, waktu itu Sungmin berangkat kerja pada saat yang sama dengan si tetangga; setidaknya pada saat yang menurutnya orang itu berangkat kerja. Sekarang ia menduga jangan-jangan laki-laki itu hanya pergi untuk membeli minuman keras. Kalaupun dia memang bekerja, jam kerjanya aneh sekali, karena sejauh ini Sungmin belum dapat menentukan pola kedatangan dan kepergiannya.

 

Bagaimanapun, Sungmin sudah mencoba untuk bersikap baik pada hari laki-laki itu memelototi jejak-jejak tapak kaki BooBoo. Bahkan Sungmin tersenyum padanya, mengingat bagaimana laki-laki itu melabrak Sungmin karena pesta pindah rumahnya telah membangunkan orang itu –pada jam dua siang! Itu menunjukkan Sungmin sangat berbaik hati. Tapi pria itu sama sekali tidak memperhatikan senyum perdamaiannya, justru langsung melesat keluar dari mobilnya sambil berkata,

 

“Singkirkan kucing sialanmu dari mobilku, bodoh!”

 

Senyum di wajah Sungmin seketika membeku. Ia tidak suka membuang-buang senyumnya, terutama untuk orang bodoh bermata merah dan pemberang itu. Beberapa komentar panas bermunculan dalam benaknya, tapi Sungmin menahannya. Walau bagaimanapun, ia masih baru di lingkungan ini, dan ia telah salah langkah dengan laki-laki ini. Ia sama sekali tidak menginginkan perselisihan diantara mereka. Ia memutuskan akan mencoba berdiplomasi sekali lagi, meskipun sudah jelas tidak berhasil selama pesta pindahan rumahnya.

 

“Maaf,” kata Sungmin saat itu, menjaga suaranya tetap mantap. “Aku akan berusaha mengawasinya. Aku hanya dititipi oleh orangtuaku, jadi kucing ini tidak akan lama disini.”

 

Hanya lima minggu lagi.

 

Laki-laki itu menanggapinya dengan geraman tidak jelas dan kembali masuk ke dalam mobilnya dengan membanting pintu, lalu menderum-derumkan mobilnya, sehingga mesinnya menggelegar seperti Guntur. Sungmin menelengkan kepalanya, mendengarkan. Wujud Pontiac itu tidak jelas karena debu dan kotoran yang menempel, tetapi kerja mesinnya halus. Di bawah kap mobil itu tersembunyi mesin bertenaga luar biasa. Dan Sungmin menyadari, jelas tidak ada gunanya berdiplomasi pada orang ini.

 

Sekarang dia membangunkan semua tetangga pada pukul tiga dini hari dengan mobil yang berisik sekali itu. Ketidakadilan ini, setelah dia marah-marah pada Sungmin karena membangunkannya di siang hari, membuat Sungmin ingin mendatangi rumah laki-laki itu dan memencet belnya terus-menerus sampai laki-laki itu terbangun seperti semua orang lainnya. Tapi ada satu masalah kecil. Sungmin punya sekelumit rasa takut pada pria itu. Pria itu bertubuh tinggi dan raut wajahnya tidak pernah menunjukkan kesan yang menyenangkan. Ayolah, dengan mata merah dan wajah yang kusut bagaimana laki-laki itu bisa menyenangkan?

 

Sungmin merasa kesal. Ia tidak terbiasa mengalah pada orang lain, tetapi lelaki ini membuatnya gelisah. Sungmin bahkan belum tahu namanya, karena meskipun sudah dua kali bertemu mereka belum pernah saling menyapa dan memperkenalkan diri dengan “halo, namaku anu dan seterusnya”. Yang  diketahui Sungmin hanyalah laki-laki itu berperangai kasar dan kelihatannya, dia tidak punya pekerjaan tetap. Paling bagus, dia pemabuk, dan itu berarti mungkin dia jahat dan suka merusak. Paling jelek, dia terlibat urusan illegal, yang menambah kategori berbahaya dalam daftar itu. Saat Sungmin pindah ke rumah ini, kelihatannya ini adalah lingkungan yang aman, tetapi Sungmin tidak merasa aman dengan adanya laki-laki itu sebagai tetangganya.

 

Sambil menggerutu sendiri, Sungmin turun dari tempat tidur dan menutup kerai jendela. Sudah bertahun-tahun ia terbiasa tidak menutup kerai jendelanya ketika tidur, karena jam weker belum tentu membangunkannya, sedangkan sinar matahari pasti selalu manjur. Lebih baik terbangun karena sinar matahari pagi daripada karena suara berisik. Beberapa kali ia menemukan jam wekernya terlempar ke lantai. Ia menduga jam weker hanya berhasil membangunkannya untuk mematikan deringnya, tapi belum cukup berhasil untuk benar-benar membuatnya terjaga. Cara Sungmin sekarang adalah menggunakan tirai tipis dibalik kerai; tirai tipis itu mencegah orang bisa melihat ke dalam kecuali lampu dinyalakan, dan kerai hanya dibuka sesudah lampu dimatikannya malam hari. Jika hari ini ia terlambat kerja, tetangganya itulah yang bersalah, karena memaksanya tergantung pada weker, bukannya matahari.

 

Sungmin tersandung BooBoo ketika ia kembali ke tempat tidur. Kucing itu meloncat sambil mengeong kaget dan Sungmin nyaris terkena serangan jantung. “ya Tuhan! BooBoo, kau membuatku kaget setengah mati” serunya.

 

Kucing itu mendesis pada Sungmin dan kembali tidur. Sungmin duduk di tempat tidurnya dan mendesah lelah. Sesungguhnya, ia tidak terbiasa memelihara binatang di rumah, dan ia selalu lupa untuk berhati-hati saat berjalan. Kalaupun ia punya peliharaan, pasti tidak akan seperti BooBoo. Kucing itu jadi uring-uringan sejak dikebiri, dan melampiarkan frustasinya pada perabotan. Hanya dalam seminggu, ia telah mencakari sofa sedemikian rupa sehingga Sungmin harus melapisinya lagi.

 

Dan BooBoo tidak menyukai Sungmin. Kucing itu cukup menyukainya ketika ia berada di rumahnya, selalu mendekat agar diusap-usap, tetapi ia sama sekali tidak suka ketika berada di rumah Sungmin. Setiap kali Sungmin mencoba mengusapnya, BooBoo selalu melengkungkan punggungnya dan mendesis pada Sungmin. Kucing yang menyebalkan.

 

Sungmin merebahkan tubuhnya dan berpikir, kenapa ia membeli rumah ini? Ah benar, karena ia telah jatuh cinta pada lingkungan rumah ini, dan pada harganya yang murah. Seharusnya ia sudah memeriksa semua tetangganya, tetapi sepintas lalu wilayah ini kelihatannya baik dan aman. Dan ia sudah menggebu-gebu begitu menemukan rumah yang bagus dan kokoh dengan harga yang cukup murah.

 

Memikirkan tetangganya pasti akan membuatnya tidak dapat tidur kembali, maka Sungmin mempertemukan kedua tangannya di belakang kepala dan memandangi langit-langit yang gelap sambil membayangkan semua yang ingin dilakukannya dengan rumah ini. Perbaikan besar-besaran, dan kondisi keuangannya yang belum siap menghadapinya. Tanpa sadar Sungmin pun mulai tertidur.

 

~+~+~+~

 

Sungmin terbangun karena bunyi alarm weker yang mengganggu. Setidaknya benda sialan itu telah membangunkannya kali ini, pikirnya sambil menggulingkan badanya untuk mematikan alarm weker. Angka-angkanya yang merah bersinar dalam ruangan yang remang-remang itu, membuat Sungmin berkedip, dan melihatnya lagi.

 

“Ah, sialan” erangnya kesal sambil meloncat turun dari ranjang.

 

Jam weker itu menunjukan pukul 06.58. Alarm itu sudah berbunyi selama hampir sejam, dan itu artinya Sungmin terlambat. Terlambat sekali. Sungmin masuk ke kamar mandi sambil mengerutu, mengucapkan kalimat sialan berulang kali. Semenit kemudian ia keluar lagi. Sambil menyikat gigi, ia bergegas ke dapur dan membuka sekaleng makanan untuk BooBoo, yang sudah duduk disamping mangkuknya sambil memelototi Sungmin.

 

Sungmin meludah ke wastafel dan menyalakan air untuk membasuh pasta gigi di mulutnya. Kemudian ia melirik BooBoo sambil berkata dengan kesal pada kucing itu, “Kenapa tadi kau tidak meloncat ke ranjang seperti biasanya saat kau lapar? Eh, hari ini kau pilih menunggu, dan sekarang aku tidak sempat makan”

 

BooBoo menunjukkan sikap bahwa ia tidak peduli apakah Sungmin makan atau tidak, sepanjang ia mendapat makanan. Sungmin berlari kembali ke kamar mandi. Ia bersiap dengan cepat, menyambar pakaiannya, memakai arloji pada pergelangan tangannya, memakai sepatunya, menyambar tas dan kunci mobilnya, lalu ia keluar rumah. Yang pertama dilihatnya saat ia akan membuka pintu mobilnya adalah wanita kecil berambut kelabu yang tinggal diseberang jalan, nyonya Kim sedang membuang sampah. Sungmin teringat, ini adalah hari pengangkutan sampah.

 

“Sialan, sialan, sialan, sialan, sialan……” Sungmin kembali menggerutu sambil membalikkan badan dan kembali masuk rumah.

 

BooBoo memandangnya dan itu membuat Sungmin merasa semakin kesal.

“Aku sedang berusaha mengurangi umpatanku. Tapi kau dan nyonya Kim itu membuatnya sulit” bentaknya pada BooBoo sambil menarik keluar kantong sampah dari tempat sampah dan mengikatnya dengan tali.

 

BooBoo membalikkan badan memunggungi Sungmin, seolah tidak peduli pada kesialan pemuda manis itu. Sungmin berlari keluar rumah lagi, teringat ia belum mengunci pintu. Dan ia kembali lagi, lalu mengangkat tutup tong sampah yang besar dan menaruhnya dipinggir jalan, kemudian memasukkan “persembahan” pagi itu diatas dua kantong yang sudah ada. Untuk kali ini, Sungmin sengaja melakukan semuanya itu dengan gaduh. Ia berharap suara gaduhnya itu dapat membangunkan si bodoh yang tidak tahu diri di rumah sebelah.

 

Sungmin berlari kembali ke mobilnya, Dodge Viper merah ceri kesayangannya. Dan sebagai tambahan, ketika menstarter mobilnya, ia menekan-nekan gasnya berulang kali sebelum memundurkannya. Mobil itu mundur dengan cepat dan menabrak tong sampah dengan bunyi berkelontang keras sekali. Lalu disusul dengan bunyi berkelontang lainnya saat tong itu menggelinding menabrak tong sampah tetangganya dan menggulingkannya, sehingga sampah isinya bertebaran di jalan.

 

Sungmin memejamkan mata dan membenturkan kepalanya pada kemudi—dengan pelan-pelan; ia tidak ingin gegar otak. Meskipun mungkin sebaiknya ia membuat dirinya sendiri gegar otak; setidaknya dengan begitu ia tidak akan khawatir harus sampai di tempat kerja tepat waktu, yang sekarang jelas mustahil. Ia tidak mengumpat; kata-kata yang muncul dalam benaknya hanyalah kata-kata yang benar-benar tidak ingin digunakannya.

 

Ia memarkir mobilnya dan keluar. Yang diperlukan sekarang adalah kendali, bukan amarah. Ditegakkannya kembali tong sampahnya yang penyok dan dikembalikannya kantong-kantong yang tumpah ke dalam tong itu, lalu ditutupnya tong dengan penutupnya yang sudah melengkung. Kemudian ia mengembalikan tong sampah tetangganya ke posisi tegak, mengumpulkan sampah lalu mengambil tutup tong yang tadi menggelinding ke jalan.

 

Tutup itu tersandar pada trotoar di depan rumah sebelah. Ketika Sungmin membungkuk memungutnya, ia mendengar pintu kasa dibanting dibelakangnya. Yah, harapannya terkabul. Si brengsek yang seenaknya sendiri itu sudah bangun.

 

“Hei, apa yang sedang kau kerjakan?” bentak laki-laki itu. Ia tampak mengerikan, mengenakan celana training serta kaos robek dan kotor. Wajahnya—yang sebenarnya tampan— itu cemberut.

 

Sungmin berbalik dan bergegas kembali ke pasangan tong yang sudah tak layak pakai itu dan membanting penutupnya ke atas tong itu. “Memunguti sampahmu” sahutnya.

 

Tatapan laki-laki itu berapi-api. Sebenarnya setajam seperti biasanya, tetapi efeknya sama saja.

“Jadi apa alasanmu membuatku tidak bisa tidur? Kau orang paling berisik yang pernah kutahu—“ seru laki-laki itu marah.

 

Ketidakadilan itu membuat Sungmin melupakan sedikit rasa takutnya pada laki-laki itu. Sungmin menghampiri tetangganya dan memandangnya dengan kesal. Pria itu lebih tinggi darinya. Tapi, memangnya kenapa kalau dia lebih tinggi? Sungmin sedang marah saat ini, dan ia tidak peduli soal tinggi badan.

 

“Aku berisik?” tanyanya sambil menggertakkan gigi. Sulit bicara dengan suara keras jika rahangnya terkunci, tapi Sungmin berusaha. “Aku berisik?” ditudingnya laki-laki itu. Ia tidak ingin benar-benar menyentuh laki-laki itu, karena kaosnya robek dan bebercak-bercak dengan……sesuatu.

 

Sungmin menatap pria itu dengan nanar dan kembali berkata dengan marah,

“Dengar, bukan aku yang membangunkan semua tetangga jam tiga pagi ini dengan rongsokan yang kau sebut mobil itu. Demi Tuhan, beli saringan knalpot! Bukan aku yang membanting pintu mobil sekali, pintu kasa tiga kali—apa, kau lupa dengan minumanmu dan harus kembali mengambilnya?—dan membiarkan lampu teras menyala terus hingga menyorot ke kamarku dan membuatku tidak bisa tidur.”

 

Laki-laki itu membuka mulutnya untuk balas menyemprot Sungmin, tetapi pemuda manis itu belum selesai. “Tambahan lagi, jelas jauh lebih masuk akal mengira orang tidur jam tiga pagi daripada jam dua siang, atau—“ Sungmin memeriksa arlojinya sesaat— “jam 07.23 pagi. Ya ampun, aku sudah terlambat sekali. Sudah kembali sana, bodoh! Cepat kembali ke minumanmu. Kalau kau cukup minum, aku pasti akan tidur juga.”

 

Laki-laki itu membuka mulutnya lagi. Sungmin lupa diri dan benar-benar meninjunya dengan keras.

“Aaouch…” Sungmin sedikit meringis. Sepertinya sekarang ia harus merebus jarinya.

 

Kemudian ia memandang laki-laki itu dan berkata dengan nada memperingatkan,

“Besok aku akan membelikanmu tong sampah baru, jadi diam saja. Dan kalau kau menyentuh kucing ibuku dan berbuat sesuatu padanya, kau akan kucincang. Akan kurusak DNA-mu hingga tidak bisa lagi bereproduksi, yang mungkin akan baik untuk dunia ini. Mengerti?”

 

Sungmin menyapukan tatapan tajamnya ke laki-laki itu, termasuk ke pakaiannya yang kumal dan kotor serta rahangnya yang nampak tegas itu. Si tetangga mengangguk. Sungmin menghela napas dalam-dalam, berusaha mengekang amarahnya.

 

“Ok. Baik, kalau begitu. Sialan, kau membuatku mengumpat. Padahal aku sedang mencoba menghindarinya” kata Sungmin.

 

Laki-laki itu memandang Sungmin dengan aneh.

“Ya, kau memang harus menjaga mulutmu itu” katanya.

 

Sungmin menyibak poni rambutnya yang menutupi matanya dan berusaha mengingat-ingat, kapan terakhir ia memotong rambutnya yang mulai memanjang ini. “Aku terlambat. Aku belum tidur, belum sarapan, dan belum minum kopi. Lebih baik aku pergi sebelum menyakitimu” katanya.

 

Pria itu mengangguk. “Itu ide bagus. Aku tidak suka terpaksa menangkapmu” katanya.

“Apa?” Sungmin membelalak, terkejut.

“Aku polisi” sahut laki-laki itu, lalu berputar dan kembali ke dalam rumahnya.

 

Sungmin melotot, kaget setengah mati. Polisi?

“Yah, brengsek” katanya kembali mengumpat.

 

~+~+~+~

 

Karena mengganti waktu keterlambatannya pagi itu, Sungmin hampir terlambat lima belas menit untuk sampai di TLJ’s, bar and grill, tempat biasa ia dan ketiga sahabatnya berkumpul setelah lelah bekerja selama seminggu. Seperti biasanya di malam akhir pekan TLJ’s sudah padat pegunjung. Tapi Sungmin bersyukur ketiga sahabatnya sudah mendapatkan meja untuk mereka. Ia tidak suka menunggu di bar untuk mendapatkan meja, bahkan kalau suasana hatinya sedang baik, apalagi kalau tidak seperti saat ini.

 

“Hari yang menyebalkan sekali” kata Sungmin sambil menjatuhkan diri ke kursi yang kosong.

 

Heechul menyulut sebatang rokok dan memandang Sungmin.

“Kelihatannya suasana hatimu sedang tidak baik hari ini” katanya.

“Ini pasti tentang tetanggamu itu” kata Eunhyuk menebak.

 

“yah, aku punya cerita lagi dengan tetanggaku pagi ini” kata Sungmin, sambil menghembuskan napas kesal. Kedua sikunya bertumpu pada meja dan menopang dagunya.

 

“Apa yang dilakukannya kali ini?” tanya Ryeowook penuh perhatian. Ketiga sahabat itu tahu bahwa Sungmin tertimpa sial. Tetangga brengsek memang membuat hidup serasa di neraka.

 

Sungmin kembali menghembuskan nafasnya dengan kesal dan berkata,

“Aku terburu-buru dan menabrak tong sampahku. Kau tahu bagaimana kalau kau nyaris terlambat, kita selalu melakukan hal-hal yang tidak pernah terjadi jika waktu kita tidak cukup, ‘kan? Pagi ini semuanya jadi salah. Lalu, tongku menabrak tongnya hingga terguling, dan tutupnya terpental ke jalan. Bisa kau bayangkan betapa berisiknya. Dia langsung keluar rumah seperti beruang, katanya aku orang paling berisik yang pernah dijumpainya”

 

“Seharusnya kau tendang lagi tongnya” kata Heechul. Ia bukan orang yang menganut prinsip mengalah.

 

“Dia akan menahanku karena membuat keributan,” kata Sungmin sedih. “Dia polisi.”

 

“Tidak mungkin!” kata ketiga sahabatnya itu bersamaan. Mereka semua kelihatannya tidak percaya.

Sungmin melukiskan laki-laki itu. Tetapi menurut ketiga sahabatnya mata merah dan pakaian kotor sama sekali bukan ciri-ciri polisi. “Kupikir polisi mungkin juga mabuk-mabukan seperti orang lain,” kata Ryeowook, agak ragu-ragu. “Atau mungkin lebih.”

 

Sungmin mengerutkan kening, membayangkan kembali pertengkaran tadi pagi.

“”Aku tidak mencium bau apa-apa padanya. Dia kelihatan seperti sudah mabuk tiga hari tapi baunya tidak seperti itu. Sialan, aku tidak suka mengingat dia bisa semarah itu ketika sedang mabuk” katanya.

 

“Bayar” kata Heechul seraya menunjuk Sungmin.

“Sialan!” maki Sungmin jengkel pada dirinya sendiri

 

Sungmin memang sudah sepakat dengan mereka bahwa ia akan membayar 25 Won setiap kali mengumpat, dengan harapan akan membuatnya berhenti dari kebiasaan jelek itu.

“Dua kali” Ryeowook terkikik senang seraya mengulurkan tangannya.

 

Sambil menggerutu, tapi berusaha untuk tidak mengumpat, Sungmin mengeluarkan lima puluh Won untuk mereka masing-masing Sepertinya hari-hari ini ia harus memastikan dirinya selalu punya banyak uang receh.

 

“Setidaknya dia cuma tetangga. Kau bisa menghindarinya” Hibur Eunhyuk.

“Sejauh ini aku belum berhasil melakukannya” Kata Sungmin mengakui sambil memandangi meja.

 

Lalu Sungmin menegakkan badannya, bertekad akan berhenti membiarkan laki-laki itu mendominasi hidup dan pikirannya dengan cara seperti yang telah terjadi selama dua minggu ini. “Sudah cukup mengenai dia. Hal menarik apa saja yang terjadi pada kalian?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.

 

Eunhyuk menggigit bibirnya, dan kemuraman meliputi wajahnya.

“Tadi malam aku menghubungi Donghae, dan yang menjawab perempuan” jawabnya.

“Kurang ajar” maki Heechul.

 

Ryeowook mencondongkan badannya ke seberang meja untuk menepuk-nepuk tangan Eunhyuk. Dan sesaat Sungmin iri karena temannya bisa bebas bicara. Pelayan restoran datang untuk membagikan menu yang tidak mereka butuhkan, karena mereka tahu semua pilihan berdasarkan perasaan. Mereka menyerahkan catatan pesanan mereka, si pelayan mengumpulkan menu-menu yang tidak dibuka itu dan beranjak pergi.

 

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Sungmin. Ia pakar dalam memutuskan hubungan sekaligus diputuskan.

 

Yah, tidak ada kehidupan yang sempurna. Sampai saat ini Sungmin belum pernah berhasil membina hubungan asmara, baik dengan wanita maupun pria. Sudah tiga kali ia bertunangan, tapi belum pernah sampai ke altar. Tunangan keduanya, bajingan itu, sudah menunggu sampai malam sebelum pernikahan untuk memberitahunya bahwa ia tidak dapat melangsungkan pernikahan itu. Perlu waktu sebentar untuk mengatasi hal itu. Sungmin tidak lagi memperhatikan kata-kata yang ada di dalam benaknya, tetapi tidak meneriakkannya. Apakah “bajingan” merupakan makian? Adakah daftar kata resmi yang bisa dijadikan acuannya?

 

Setelah yang ketiga berakhir, ia memutuskan berhenti kencan untuk sementara ini dan berkonsentrasi pada karirnya. Inilah dia sekarang, setelah tujuh tahun berlalu tetap berkonsentrasi. Ia punya catatan piutang yang bagus, rekening bank yang bagus, dan baru saja membeli rumah pertamanya sendiri—yang tidak dinikmatinya seperti yang telah dibayangkannya, dengan adanya makhluk yang pemarah dan tidak pedulian yang menjadi tetangganya itu. Laki-laki itu mungkin polisi, tetapi ia tetap membuat Sungmin gelisah. Karena polisi atau bukan, laki-laki itu kelihatan seperti jenis yang akan membakar sisi jeleknya. Sungmin telah mengalaminya mulai dari hari ketika ia pindah.

 

Sungmin mencoba melupakan tetangga barunya yang menyebalkan itu, dan lebih memperhatikan Eunhyuk yang hampir menangis dan sedang berusaha bersikap tidak peduli. Malam ini pria sempurna yang tepat untuk menjadi kekasih, menjadi topic pembicaraan mereka.

 

~+~+~+~

 

Matahari sabtu pagi menyingsing dengan cerah dan cepat—sangat terlalu cerah, dan amat sangat terlalu cepat. Sungmin dibangunkan BooBoo pada pukul enam pagi dengan mengeong tepat ditelinganya.

 

“Pergi” gerutu Sungmin, menarik bantal menutupi kepalanya.

 

BooBoo mengeong lagi, dan memukuli bantal. Sungmin menangkap pesannya: kalau ia tidak bangun, BooBoo akan menancapkan cakarnya. Sungmin mendorong bantalnya ke samping dan bangun, sambil memelototi kucing itu.

 

“Kau memang jahat, tahu? Kemarin pagi kau tidak bisa melakukan ini, ‘kan? Tidak, kau harus menunggu sampai aku libur, ketika aku tidak harus bangun pagi” gerutu Sungmin.

 

BooBoo tampak tidak tertarik dengan kemarahan Sungmin. Itulah masalahnya dengan kucing; bahkan makhluk yang paling jorok ini pun yakin dengan keunggulan yang dibawanya sejak lahir. Sungmin menggaruk belakang telinga kucing itu, terdengar dengkur pelan dan sekujur tubuh kucing itu bergidik. Matanya yang kuning dan kecil memejam kesenangan.

 

“Tunggu saja. Kau akan kubuat ketagihan pada garukan ini, lalu aku akan berhenti melakukannya. Kau akan kelabakan, sobat” kata Sungmin pada si kucing.

 

BooBoo meloncat turun dari ranjang dan berjalan ke pintu kamar yang terbuka. Kucing itu berhenti sebentar untuk menoleh, seolah untuk memastikan Sungmin sudah bangun. Sungmin menguap dan menarik selimutnya. Setidaknya tadi malam ia tidak terganggu oleh suara berisik mobil tetangganya, ditambah ia sudah menarik turun kerai jendelanya untuk menahan sinar matahari pagi, sehingga ia bisa tidur nyenyak sampai BooBoo membangunkannya.

 

Sungmin menyibak kerai ke atas dan mengintip melalui tirai tipis ke jalur masuk mobil di sampingnya. Pontiac cokelat rongsokan itu masih ada di sana. Itu berarti dia sudah begitu kecapean dan tidur seperti mati. Atau kalau tidak, tetangganya itu sudah memasang saringan knalpot yang baru pada benda itu. Sungmin pikir pilihan kecapean-dan-mati itu yang lebih tepat daripada laki-laki itu memasang saringan knalpot baru.

 

Jelas BooBoo mengira Sungmin membuang-buang waktu saja, karena kini kucing itu mengeong memberi peringatan. Sambil mendesah, Sungmin menyibak rambutnya ke belakang dan tersandung-sandung ke dapur. Tersandung-sandung memang kata yang tepat, karena BooBoo membantunya dengan berputar-putar disekeliling pergelangan kakinya. Sungmin benar-benar memerlukan kopi, tetapi ia tahu dari pengalaman bahwa BooBoo tidak akan meninggalkannya kalau belum diberi makan. Dibukanya sekaleng makanan kucing, dituangnya ke piring kecil, dan diletakkannya di lantai. Sementara BooBoo sibuk dengan sarapannya, Sungmin menjerang sepoci kopi lalu menuju kamar mandi.

 

Sambil melepaskan T-shirt dan celana dalam yang menjadi pakaian tidur musim panasnya, Sungmin melangkah ke bawah siraman air hangat yang nyaman agar pukulan air itu membuatnya benar-benar terjaga. Ia belum bisa berfungsi dengan baik sebelum mandi dan meneguk secangkir kopi, dan akhir-akhir ini ia suka tidur setidaknya sampai pukul sepuluh pagi. Tapi BooBoo mengacaukan segala hal yang sudah teratur secara alami, karena minta diberi makan sebelum Sungmin sempat mengerjakan yang lain-ainnya. Kenapa ibunya tega melakukan ini padanya?

 

“Cuma empat minggu dan enam hari lagi” gumamnya pada diri sendiri.

 

Siapa yang mengira bahwa kucing yang biasanya sangat menyenangkan akan berubah menjadi semacam tiran ketika berada di lingkungan yang asing baginya?

 

Sesudah mandi lama dan meneguk dua cangkir kopi, saraf-sarafnya mulai berhubungan dan Sungmin mulai mengingat semua hal yang perlu dikerjakannya. Membeli tong sampah baru untuk tetangga sialan itu, belanja makanan, mencuci pakaian, potong rumput di halaman. Sungmin merasa agak senang dengan hal yang terakhir itu.  Sejak meninggalkan rumah ia tinggal di apartemen-apartemen, yang tak satu pun punya halaman berumput. Tapi kini rumah barunya lengkap dengan halaman berumput sendiri. Ia punya rumput untuk disiangi, benar-benar rumputnya sendiri! Untuk menyambut kesempatan ini, ia telah membeli mesin pemotong rumput seperbaru, bisa bergerak sendiri model terbaru. Dan hari ini untuk pertama kalinya ia akan memotong rumput. Ia nyaris tidak sabar merasakan tenaga monster merah itu berdenyut di bawah tangannya, sementara mesin itu menebas rerumputan itu. Ia selalu tergila-gila pada mesin merah.

 

Tetapi ada hal penting yang harus di dahulukan. Sungmin harus bergegas ke supermarket dan membeli tong sampah baru untuk orang menyebalkan itu. Janji adalah janji, dan Sungmin selalu berusaha menepati janjinya. Setelah melahap semangkuk sereal dengan cepat, Sungmin siap berangkat. Tapi siapa sangka, ternyata sulit mencari tong sampah?

 

Saat akhirnya Sungmin berhasil menemukan tong sampah besar di toko alat berat, waktu sudah menunjukkan pukul Sembilan dan udara sudah mulai panas, tidak nyaman untuk memotong rumput. Jika ia tidak segera merumput, ia harus menunggu sampai matahari turun dan sengatannya mereda. Maka Sungmin memutuskan untuk menunda berbelanja makanan dan segera pulang. Ketika Sungmin keluar dari mobil tetangga sebelahnya yang lain mendekati pagar putih setinggi pinggang yang membatasi rumah-rumah itu dan melambai.

 

“Selamat pagi!” sapa nyonya Kim

“Selamat pagi” sahut Sungmin dengan tersenyum ramah.

 

Sungmin telah bertemu dengan pasangan tua yang menyenangkan itu pada hari ia pindah, dan nyonya kim, wanita mungil berambut kelabu itu, telah membawakannya sepanci sup keesokan harinya, dengan kue gulung buatan sendiri yang harum. Sungmin berpikir, jika saja tetangganya yang satu lagi yang menyebalkan itu bisa seperti keluarga Kim ini, Sungmin akan merasa hidup di surga ke tujuh. Walaupun Sungmin tidak sanggup saat ia mulai membayangkan laki-laki itu memberinya kue gulung buatannya sendiri.

 

Sungmin mendekati pagar itu untuk mengobrol dengan tetangganya.

“Hari yang indah, ya” kata Sungmin. Ia bersyukur ada cuaca, karena dunia akan kekurangan cara untuk mengawali percakapan tanpanya.

 

Nyonya Kim memandang Sungmin dengan berseri-seri sambil mengacungkan tangannya yang memakai sarung tangan dan memegang sekop. Mereka mulai mengobrol, tentang cuaca dan berkebun. Sepertinya itu adalah topic favorit nyonya Kim. Sungmin tersenyum menanggapi celotehan wanita tua itu. Saat ia mulai berpamitan, sesuatu melintas dalam benaknya. Ia kembali ke wanita tua itu dan bertanya,

 

“Nyonya Kim, kenalkah kau dengan tetanggaku yang sebelah sana?”

Bagaimana jika bajingan itu telah membohonginya? Bagaimana jika dia ternyata bukan polisi?, pikir Sungmin. Ia hanya dapat membayangkan laki-laki itu menertawakan kelakuannya, mengendap-endap ketakutan dan berusaha ramah padanya.

 

“Kyuhyun? Astaga, ya. Aku mengenalnya sepanjang hidupnya. Dulu kakek dan neneknya tinggal disini. Mereka orang-orang yang menyenangkan sekali. Aku gembira ketika Kyuhyun pindah ke sini sesudah neneknya meninggal tahun lalu. Aku merasa jauh lebih aman bertetangga dengan polisi, ya ‘kan?” jawab nyonya Kim.

 

Yah, teorinya telah tumbang. Sungmin berusaha tersenyum.

“Ya, tentu saja” komentarnya.

 

Sungmin baru akan mengatakan sesuatu tentang jam-jam aneh pria itu, tetapi langsung batal saat melihat binar di mata cerah nyonya Kim. Ia tidak ingin tetangga tuanya itu mengira ia tidak tertarik pada si bajingan itu dan mungkin memberitahu pria itu, karena jelas nyonya Kim memiliki hubungan baik dengannya. Untuk berjaga-jaga ia menambahkan,

 

“Kukira dia pengedar obat bius atau semacam itu”

 

Nyonya Kim tampak tersinggung dengan komentar Sungmin.

“Kyuhyun pengedar obat bius? Oh, astaga. Tidak, dia tidak akan pernah berbuat semacam itu.

 

Sungmin tersenyum lagi.

“Syukurlah. Ah, rasanya lebih baik aku mulai memotong rumput sebelum hari semakin panas” katanya berpamitan.

 

Sungmin beranjak pergi. Dibelakangnya nyonya Kim berseru, mengatakan untuk tidak lupa minum air banyak-banyak. Yah, persetan, pikir Sungmin saat ia berkutat mengeluarkan tong sampah dari kursi belakang mobilnya. Bajingan itu polisi; dia tidak bohong. Sungmin membayangkan melihat laki-laki itu menangkap orang dan memborgolnya. Ditaruhya tong itu di teras belakang tetangganya, lalu dikeluarkannya tong sampah plastik yang dibelinya untuk dirinya sendiri.

 

“Yah, setidaknya akhirnya aku tahu namanya. Kyuhyun” pikir Sungmin saat ia beranjak pergi, masuk ke dalam rumahnya.

 

~+~+~+~

 

Dengan penuh semangat Sungmin membuka gembok pintu garasi dan menyelinap ke dalam garasi, meraba-raba tombol lampu untuk menyalakan lampu. Kebanggaan dan kebahagiaan ayahnya ada di sana, tertutup rapat dengan terpal kanvas yang dibuat atas pesananannya, berlapiskan bulu agar cat mobil itu tidak tergores. Sebenarnya Sungmin berharap Sungjin, adiknya yang lebih muda beberapa tahun darinya, yang dititipi mobil sialan itu. Tapi kemudian Sungmin teringat satu hal, Sungjin tidak memahami mobil itu, tidak seperti dirinya. Karena ia satu-satunya anak yang memunyai antusiasme yang sama terhadap mobil seperti ayahnya. Mobil itu memang tidak menimbulkan banyak masalah seperti BooBoo, tetapi Sungmin lebih mencemaskannya.

 

Sungmin menyingkap selubung yang menutupi mesin pemotong rumput barunya, dan diusapnya logam dingin tersebut. Di dorongnya mesin pemotong rumputnya melewati mobil ayahnya, berhati-hati agar tidak menyenggolnya. Terpal kanvas menutupi mobil itu dari bawah ke atas, tetapi Sungmin tidak mau ceroboh sepanjang menyangkut mobil itu. Dibukanya satu pintu garasi, cukup untuk mengeluarkan mesin pemotong rumput. Lalu ia mendorong benda kesayangan barunya itu ke bawah sinar matahari. Cat merah itu nampak berkilauan tertimpa sinar matahari; batang pegangannya dari krom yang berkilat-kilat. Oh, cantik sekali.

 

Di saat terakhir Sungmin teringat untuk memindahkan mobilnya ke jalan. Orang harus berhati-hati agar jangan sengaja membabat batu yang dapat memecahkan jendela atau merusak cat tembok. Ia menoleh melihat mobil tetangganya dan mengangkat bahunya. Mungkin laki-laki itu memperhatikan jejak kaki BooBoo, tapi dia tidak akan pernah memperhatikan apabila mobilnya bertambah penyok, pikir Sungmin.

 

Dengan senyum gembira Sungmin menghidupkan mesin kecil itu. Saat ia mulai menikmati kesibukannya, seseorang menepuk bahunya. Sungmin menjerit dan melepaskan pegangan mesin pemotong rumputnya. Ia meloncat ke samping dan berpaling melihat penyerangnya. Mesin pemotong rumput itu berhenti bergerak.

 

Laki-laki itu –Kyuhyun- berdiri disana, dengan mata merah, wajah keruh, pakaian kotor: penampilan biasanya. Ia mengulurkan tangan dan mendorong tuas mesin pemotong rumput ke posisi off, dan mesin kecil yang efesien itu menderum berhenti. Sunyi, selama kira-kira setengah detik.

 

“Sialan, kau mau apa sih?” geram Sungmin. Wajah manisnya memerah karena marah. Saat ia melangkah mendekat, tanpa sadar ia mengepalkan tangan kanannya.

 

“Kupikir kau sedang berusaha berhenti mengumpat” ejek Kyuhyun.

“Santo pun akan mengumpat gara-gara kau!” kata Sungmin kesal.

 

“Jadi itu yang membolehkanmu, ya?”

“Tepat sekali, sialan!”

 

Kyuhyun memandang tangan kanan Sungmin.

“Kau mau pakai itu, atau kau mau pakai akal sehat?”

“Apa—?”

 

Sungmin melirik ke bawah dan melihat bahwa lengannya setengah tertekuk, tangannya sudah terkepal lagi. Dengan usaha keras ia membuka kepalannya. Tiba-tiba tangannya dalam posisi bertarung lagi. Saat ini ia amat sangat ingin meninju laki-laki itu. Dan ia semakin marah karena tidak dapat melakukannya.

 

“Akal sehat?” teriak Sungmin, melangkah mendekat. “Kau ingin aku pakai akal sehat? Kaulah yang mengagetkanku setengah mati dan mematikan mesinku.”

 

“Aku sedang mencoba tidur” kata Kyuhyun. Ia mengucapkan kata-kata itu dengan jeda yang jelas di setiap kata. “Apakah terlalu berlebihan memintamu agak bertenggang rasa?”

 

Sungmin ternganga mendengarnya.

“Kau bertingkah seolah aku memotong rumput di pagi buta. Sekarang hampir jam sepuluh! Dan bukan aku satu-satunya yang sedang melakukan tindakan pidana berat memotong rumput. Dengarkan,” katanya.

 

Sementara itu terdengar raungan mesin-mesin pemotong rumput di lingkungan itu menderum-derum di sepanjang jalan. Kyuhyun mengernyit marah pada Sungmin. “Tapi mereka tidak berada tepat di luar jendela kamarku!” katanya.

 

“Makanya, tidurlah pada jam-jam yang normal. Bukan salahku kau begadang sepanjang malam!” kata Sungmin sengit.

 

Wajah tampan Kyuhyun menjadi semerah wajah Sungmin.

“Aku sedang dalam satuan tugas!  Jam-jam yang tidak teratur adalah bagian pekerjaanku. Aku tidur ketika bisa, yang sejak kau pindah ke sini jadi jarang!”

 

Sungmin melemparkan kedua tangannya dengan kesal.

“Baiklah! Baik! Akan kuselesaikan pekerjaan ini nanti malam, kalau sudah dingin,” katanya, akhirnya mengalah. “Kembalilah tidur. Aku akan masuk rumah dan duduk selama sebelas jam. Ataukah itu juga mengganggu istirahat indahmu?” tanyanya dengan manis.

 

“Tidak, kecuali ada petasan di pantatmu” sahut Kyuhyun ketus, dan ia masuk kembali ke rumahnya.

 

Sungmin menggeram kesal dan berpikir, mungkin ada peraturan yang melarang melempari rumah seseorang dengan batu. Sambil menggerutu Sungmin mendorong mesin pemotong rumputnya kembali ke dalam garasi. Dengan hati-hati ia menggembok pintu-pintu garasi, lalu mengambil kembali mobilnya dari pinggir jalan. Ia ingin menunjukkan pada laki-laki pemarah itu apa yang dapat dilakukanya dengan beberapa petasan, dan Sungmin yakin ia takkan mendudukinya.

 

Sungmin melangkah masuk ke dalam rumah dan memelototi BooBoo, yang tidak memperdulikannya sementara asyik menjilati kaki-kakinya. “Satuan tugas,” gerutunya. “Aku bukannya tidak pakai akal sehat. Yang harus dilakukannya hanyalah menjelaskan dengan suara tenang, dan aku akan dengan senang hati berhenti memotong rumput sampai nanti. Tapi tidak, dia lebih suka bertingkah seperti bajingan.”

 

BooBoo memandangnya.

“Bajingan bukan makian,” kata Sungmin membela diri. “Selain itu, ini bukan salahku. Kuberitahu rahasia tentang tetangga kita BooBoo: Dia bukan Mr. Perfect!”

 

Tbc

56 thoughts on “Mr. Perfect / part 1

  1. Yuhuuuu~~ epep keren yang baru saya temukan *plakplak* numpang baca ya author-nim *,*

    Oke, disini aku seneng banget sama interaksi KyuMin, lah kok bisa? Orang mereka kelai mulu kok –” ya itu, aku suka aja, gak biasa *jder* dan gaya bahasanyaaaa, ugh! Saya selalu favorite gaya penulisan ala novel terjemahan gini, aaaaaa ><

    Okelah, saya baca ke next aja ya hihi~

  2. Halooo, aku reader br ff ini, salam kenal ^^
    Hihihiii sumpah lucu banget sungminnya, ngomel2 mulu, gemes >_<
    Weeeeh kyuhyun polisi?? Cool!! Oke ke chpt berikutnya😀

  3. FF nya bagus, aku suka dan sekaligus takjub sama FF ini kamu pinter banget bikin FF Chingu.

    oh iya, aku merasa lucu pas dibagian narasi “terutama untuk orang bodoh bermata merah dan pemberang” aku bingung pemberang itu artinya apaan ya ?
    aku gak tau artinya apa jadi otakku seenaknya aja mikir kalau kata pemberang jadi berang” hewan lucu dan gemuk itu, haha mianhae.
    1 lagi Pontiac itu juga artinya aku gak tau ? semuanya terkesan dialognya dewasa banget tapi tetep aja bagus.

  4. flashback salah satu karya min kecil yang fenomenal…tetiba ada updatetan mr perfect part12…siap siap mata bngkak +tambah jatah kuota

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s