Mr. Perfect / part 2

Gambar

Pairing          : KyuMin

Genre           : Romance, Crime (maybe, I’m not sure -_-‘)

Length          : Chaptered

Warning        : Boys love, yaoi

Disclaimer     : Sebenarnya ini remake dari dua novel. Novel pertama berjudul “Mr. Prefect” karya Linda Howard. Tapi karena itu adalah novel straight dan konfliknya tidak memungkinkan untuk diremake menjadi yaoi, maka aku mengambil konflik dari cerita lain. Novel kedua berjudul “Close Enough To Kill” karya Beverly Barton, sebenarnya ini juga novel straight tapi konfliknya memungkinkan untuk di remake jadi yaoi, jadi aku hanya mengambil sedikit bagian untuk jadi konfliknya dan menggabungkannya menjadi satu cerita. Semoga tidak menjadi aneh. Ada perubahan dan tambahan agar dapat sesuai dengan cerita couple tersayang kita ^^

Summary       : Saat Sungmin pindah ke rumah barunya, ia berharap akan kehidupan yang tenang dan bahagia. Tetapi semua itu menghilang karena tetangga barunya yang menyebalkan itu. Sungmin tidak ingin perselisihan, tapi ia membenci tetangga barunya. Dan ketika ia menjadi target dari pembunuh berantai yang sedang diributkan oleh media massa setempat, Sungmin terpaksa mengandalkan bantuan tetangga barunya, detektif polisi yang semula diduga pemabuk dan pengangguran.

 

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

Part 2

 

Laki-laki itu memarkir mobilnya di pinggiran jalan daerah yang beraspal. Jalan yang dikenalnya dengan baik. Pada waktu seperti ini, kemungkinan ada kendaraan yang datang dan menganggunya sangatlah kecil. Tetapi untuk berjaga-jaga, pria itu mengeluarkan dongkrak dan pelek ban lalu menempatkannya di samping roda belakang. Kemudian ia mengamati jalan dan kedua sisinya. Ladang terhampar sejauh mata memandang. Laki-laki itu mengeluarkan terpal plastik dari bagian belakang kendaraan, mengangkatnya dengan lembut menggunakan tangan, dan berjalan ke arah jalanan tua menuju ladang. Saat laki-laki itu tiba di pertengahan jalan, cukup jauh dari jalan utama agar tidak terlihat tetapi cukup dekat bagi barang hantarannya untuk ditemukan dengan mudah keesokan harinya atau minggu depan. Ia menggelindingkan isi terpal ke tengah-tengah jalur bekas roda.

Wanita itu tergeletak di jalan dengan posisi yang sangat tidak sopan. Tubuh wanita itu tak bernyawa dan pucat. Matanya yang gelap terbuka lebar dan menatap ke arah laki-laki itu. Setelah melemparkan terpal ke samping, laki-laki itu berlutut, dan mengatur tubuh wanita itu sehingga satu tangan menutupi kemaluan dan tangan yang lain menyilang di dada. Kini wanita itu terbaring dengan sopan, namun keindahan tubuh moleknya tidak tersembunyi. Laki-laki itu mengangkat rambut cokelat panjangnya dan membentangkannya di sepanjang kedua bahunya. Rambut cokelat panjang itu sangat lembut, rasanya seperti sutra di tangan laki-laki itu.

 

“Kau ingin bebas ‘kan, cantik? Kau sendiri yang mengatakannya padaku” kata laki-laki itu.

 

Ia berdiri diatas kakinya, lalu memberi tatapan terakhir ke arah kekasih lamanya. Satu-satunya hal yang mengotori kecantikan yang gelap dan menimbulkan nafsu dari wanita itu adalah irisan di sepanjang lehernya, ditambah dengan darah yang mengering pada tubuhnya.

 

“Kau bebas sekarang, cantik. Begitu juga aku. Bebas untuk mencintai kembali” kata laki-laki itu, masih menatap ke arah kekasih lamanya yang kini tak bernyawa. Ia menyeringai.

 

Laki-laki itu berharap hubungannya dengan Victoria bisa berhasil, untuk kebaikannya dan juga wanita ini. Ia pernah merasa yakin bahwa wanita inilah satu-satunya yang bisa ia cintai, sebesar Victoria mencintainya. Tetapi pada akhirnya, ia menyadari bahwa tidak ada pilihan lain kecuali mengakhiri semuanya dan meneruskan pencariannya. Di luar sana, di suatu tempat, ada seseorang yang hanya tercipta untuknya. Seseorang yang dapat menghapus ingatan yang menyakitkan. Seseorang yang tidak akan mengecewakannya. Seseorang yang pantas menerima cintanya.

 

Setelah mengambil terpal dan melipatnya menjadi kotak 50 x 50 cm, laki-laki itu berjalan kembali ke arah mobilnya yang diparkir. Di kejauhan ia mendengar suara gemuruh guntur. Ia memandang ke arah langit barat dan menyadari bahwa langit telah gelap. Pasti akan segera turun hujan, pikir laki-laki itu.

 

Saat ia kembali ke jalan aspal, laki-laki itu mengamati keempat penjuru dengan cepat. Setelah yakin tidak melihat dan mendengar adanya tanda-tanda orang mendekat, ia membuka bagian belakang mobilnya, melempar terpal ke dalam lalu memasukkan kembali dongkrak dan pelek bannya. Setelah menempatkan semua ke tempatnya, ia membuka pintu penumpang dan bergeser ke balik kemudi. Ia menyalakan mesin mobil dan meraih catatan yang tergeletak di kursi penumpang. Sebuah surat cinta untuk kekasih barunya. Sembari menarik napas dalam-dalam, ia menutup matanya membayangkan pemuda itu. Muda, manis dan innocent. Rambut yang cokelat. Mata yang hitam. Mungkin pemuda itulah yang dicarinya. Mungkin kali ini ia tidak akan kecewa. Mungkin pemuda itu tidak akan menyakitinya seperti kekasih-kekasihnya sebelumnya. Mungkin pemuda itu tidak akan berbohong, seperti para wanita yang sering sekali berbohong.

 

“Ah, Ryeowook’ku yang manis” kata laki-laki itu membuka matanya sembari tersenyum.

Laki-laki itu menyukai pengejaran ini, hari-hari memabukkan untuk mengenal satu sama lain, saat-saat romantis dimana semua dan segalanya mungkin terjadi. Ia akan meninggalkan catatan itu untuk pemuda itu besok. Lalu ia akan menunggu. Tetapi tidak lama. Ia sudah tidak sabar untuk memulai hubungan cinta mereka. Laki-laki itu tersenyum menyeringai.

 

~+~+~+~

 

Sungmin berusaha melewatkan akhir pekan itu tanpa bertengkar lagi dengan tetangganya yang menyebalkan. Dan pada hari senin ia datang ke kantor lima belas menit lebih awal untuk menebus keterlambatan Jumatnya, meskipun ia sudah lembur pada hari jumat untuk itu. Sungmin mencoba untuk sabar sepanjang hari itu. Sabar menghadapi badut-badut kantor yang mencoba pamer kepintarannya, dan sabar menghadapi orang-orang konyol manapun. Jam dua belas siang Sungmin dan ketiga sahabatnya memilih untuk makan siang di Railroad Pizza. Railroad Pizza berada sekitar delapan ratus meter dari kantor mereka. Tempat itu terkenal penuh dengan karyawan, mempunyai booth dan meja sekitar setengah lusin. Heechul memilih booth belakang, disana ia dan teman-temannya akan lebih leluasa, dan terutama karena disana ia bisa bebas merokok.

 

Eunhyuk duduk di sebelah Sungmin, Heechul dan Ryeowook duduk di seberang mereka. Heechul mengeluarkan rokoknya yang ketiga hari ini dan Eunhyuk mulai bercerita lagi tentang hubungannya dengan Donghae yang hanya putus-sambung, tanpa komitmen. Donghae adalah seorang pemain bola, penyerang belakang tim NSL. Eunhyuk jatuh cinta setengah mati pada Donghae, namun laki-laki itu terkenal senang berpacaran dengan perempuan atau pria lain di setiap kota tempat tim-nya berada. Mata cokelat kelam Eunhyuk terlalu sering tampak tidak bahagia setiap kali bercerita tentang Donghae. Meski begitu ia tidak mau memutuskan hubungannya dengan laki-laki itu. Sungmin, Ryeowook dan Heechul mendengarkannya dengan penuh perhatian.

 

“Lalu, apa kalian akan terus seperti ini? Kau akan membiarkan Donghae terus berulah seperti itu?” tanya Sungmin ketika Eunhyuk telah selesai bercerita.

 

“Aku tidak tahu. Kami tidak berpacaran. Kami hanya berkencan. kami hanya berteman. Aku tidak punya hak untuk mengeluh” jawab Eunhyuk. Jemarinya bermain dengan resah. Ia hampir menangis.

 

“Memang, tapi kau bisa melindungi dirimu sendiri dan berhenti berhubungan dengannya” kata Ryeowook lembut.

 

Eunhyuk menggelengkan kepalanya pelan.

“Tapi saat kami bersama, dia……dia terlihat seolah benar-benar penuh perhatian. Dia baik, dan sangat sayang, dan sangat penuh perhatian—“ katanya.

 

Heechul mendengus dan memotong perkataan Eunhyuk.

“Kau tahu bagaimana tipe seperti Donghae itu ‘kan? Playboy. Semua playboy memang seperti itu, sampai mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan,” ia menghisap batang rokoknya sejenak dan menghembuskan asap kelabunya ke udara. Kemudian ia melanjutkan dengan nada skeptic, “Itu obrolan pengamalan pribadi. Bersenang-senanglah dengannya, tapi jangan harap dia berubah.”

 

Eunhyuk hanya diam, memandang Heechul dengan resah.

“Memang kenyataannya seperti itu,” kata Ryeowook murung. “Mereka para playboy tidak pernah berubah. Mereka mungkin bersandiwara sebentar, tapi begitu mereka merasa dibatasi dan terikat, mereka berubah santai dan Mr. Hyde menunjukkan wajahnya yang berbulu lagi.”

 

Sungmin tertawa.

“Sepertinya itulah yang akan kukatakan” katanya.

“Hanya saja tanpa umpatan” sahut Heechul.

 

Ryeowook melambaikan tangannya memberi isyarat untuk menyela gurauan itu. Eunhyuk nampak lebih menderita daripada sebelumnya. “Jadi jika aku tidak tahan menjadi salah satu piaraannya, sebaiknya aku berhenti berhubungan dengannya?” tanya Eunhyuk.

“Yah…ya” jawab ketiga sahabatnya kompak.

 

“Tapi seharusnya tidak begitu caranya!” kata Eunhyuk. Suaranya terdengar semakin gusar dan marah. “Jika dia menyayangiku, bagaimana mungkin dia tertarik pada semua perempuan atau pria lain itu?”

 

“Itu mudah,” jawab Sungmin. “Ular bermata satu tidak punya selera.”

 

“Hyukie,” kata Heechul, berusaha terdengar semanis mungkin dengan suara serak khas perokoknya. “Kalau kau mencari kekasih Pria Sempurna, kau akan menyia-nyiakan sepanjang hidupmu dengan kekecewaan, karena laki-laki seperti itu tidak ada. Kau harus berkompromi sebaik mungkin, tapi akan selalu ada masalah.”

 

Eunhyuk terdiam sesaat.

“Aku tahu Donghae tidak sempurna, tapi—“ katanya.

“Tapi aku ingin dia sempurna, begitu ‘kan?” Ryeowook menyelesaikan ucapan Eunhyuk yang terhenti.

 

Eunhyuk mengangguk pelan. Tapi Sungmin menggeleng-gelengkan kepalanya tidak setuju.

“Tidak akan pernah terjadi. Pria sempurna hanya ada ada dalam kisah fiksi ilmiah,” katanya dengan serius. Kemudian tambahnya, “Maksudku, bukan berarti kita para pria tidak sempurna. Hanya saja sebagai gay yang mencari kekasih pria yang sempurna itu, menurutku tidak akan pernah terjadi.” Ia berhenti, lalu berkata, “Tapi aku tidak keberatan punya budak seks.”

 

Ketiga temannya meledak tertawa, termasuk Eunhyuk. Tapi Sungmin sungguh serius dengan hal itu. Pria sempurna tidak pernah ada. Dan kalaupun pria sempurna benar-benar ada, tetangganya yang menyebalkan itu pasti tidak masuk dalam daftar. Sungmin sedikit merengut. Mengingat Kyuhyun membuat suasana hatinya menjadi buruk.

 

~+~+~+~

 

Sejak awal Kyuhyun sudah menduga bahwa kasus ini tidak akan terselesaikan dengan mudah, mungkin tidak dalam waktu mingguan ataupun bulanan. Mungkin juga selamanya tidak akan terselesaikan. Kyuhyun sedang menatap layar monitor komputernya, mencoba mencari setitik terang untuk kasus yang saat ini membuatnya jarang tidur. Sementara Leeteuk duduk di seberang mejanya, membaca berkas-berkas dan informasi yang mereka miliki. Seorang wanita bernama Victoria telah menghilang selama hampir 2 minggu. Victoria diculik saat malam hari, dan yang ditemukan hanya mobilnya yang ditinggalkan di pinggir jalan yang sepi. Kyuhyun dan Leeteuk yakin bahwa wanita cantik itu diculik oleh seseorang yang cukup gila, dan mungkin saja Victoria mengenali si penculik karena tidak ditemukan adanya tanda-tanda perlawanan.

 

Diskusi mereka terhenti ketika tiba-tiba ponsel Leeteuk berbunyi. Deringnya keras dan jelas, bukan alunan nada yang mudah diingat. Leeteuk mengambil ponselnya dan menenkan tombol ‘answer’ untuk menjawab telepon itu.

 

“Ya, Detektif Leeteuk”

 

Kyuhyun mengangkat kepalanya dan memandang Leeteuk. Ia mempelajari raut wajah rekan kerjanya itu dan menduga sesuatu yang buruk, sangat buruk, sebelum Leeteuk berkata, “Terkutuk! Siapa yang menemukan wanita itu? Aku tahu. Ya, kami akan segera ke sana secepatnya. Jangan biarkan siapa pun menyentuh apapun dan jauhkan mereka dari tempat kejadian perkara sebisa mungkin.”

 

Setelah Leeteuk selesai bicara dan memutuskan teleponnya, Kyuhyun bertanya,

“Ada apa hyung?”

 

“Seorang petani menemukan jasad seorang wanita tergeletak di tengah-tengah jalan tanah yang mengarah ke salah satu ladang kedelainya,” kata Leeteuk. “Itu tadi Zhoumi. Dia dalam perjalan ke TKP sekarang.”

 

“Ada ide siapa……” Kyuhyun belum menyelesaikan kalimatnya saat Leeteuk memotongnya dengan cepat.

 

“Petani itu mengatakan pada Zhoumi bahwa dia cukup yakin wanita itu adalah Victoria. Dia mengatakan jasad itu mirip dengan wanita yang ada di surat kabar dan televisi yang telah hilang selama beberapa minggu”

 

~+~+~+~

 

Saat Kyuhyun dan Leeteuk tiba di TKP, kerumunan kecil orang sudah terbentuk di sepanjang sisi jalan dan jalur kendaraan menuju ladang kedelai milik si petani. Beberapa polisi sudah tiba lebih dulu dari mereka dan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga penonton tetap di pinggir. Kyuhyun memarkir Pontiac-nya di dekat garis kuning yang membatasi TKP, membuka pintu pengemudi, lalu meloncat keluar bersama dengan Leeteuk. Kyuhyun memberi para penonton tatapan tajam dan memerintahkan mereka semua untuk menjauh. Leeteuk bertemu dengan Zhoumi yang berjalan menghampirinya dan berbicara sejenak dengannya. Setelah bicara dengan Zhoumi, Leeteuk menoleh pada Kyuhyun yang sedang meneliti TKP. Ia melambaikan tangannya pada Kyuhyun. Kyuhyun mengangguk, lalu segera bergabung dengan yang lain di tepi garis kuning.

 

“Itu jasad Victoria,” kata Leeteuk. “Zhoumi menelepon Shindong, petugas koroner kita—petugas yang memeriksa sebab kematian mayat, yang seharusnya tiba disini sebentar lagi. Shindong akan memberikan informasi dasar kepada kita, tetapi tampaknya sudah jelas bahwa leher Victoria disayat.”

 

Kyuhyun melangkahi garis pembatas dan bergerak mendekati jasad Victoria dan berhenti pada jarak 1,5 m. Victoria masih muda, cantik, berambut cokelat, berdada penuh dan bertubuh langsing. Karena tidak ada tanda-tanda perlawanan yang nyata dan darah di tanah dekat korban, Kyuhyun menduga bahwa Victoria dibunuh di tempat lain dan dibawa ke sana. Dan jelas sekali, bahkan untuk mata yang tidak terlatih sekalipun, bahwa tubuh Victoria diatur dalam posisi yang menggoda. Satu tangan menutupi dada dan tangan yang lain menutupi kemaluan, seolah-olah meskipun ingin memamerkan tubuh yang molek, si pembunuh juga ingin menyajikan jasad Victoria dengan sedikit kesopanan. Cara si pembunuh mengatur lengan dan rambut panjang cokelat Victoria mengatakan bahwa dalam cara cabul dan gilanya sendiri, si pembunuh sangat perhatian pada korbannya. Tepat ketika Kyuhyun memperhatikan beberapa tanda-tanda pada kulit Victoria yang “hampir” sempurna, Leeteuk berjalan ke sampingnya.

 

“Lihat bekas-bekas di tubuh Victoria,” kata Kyuhyun menunjuk tanda-tanda itu satu persatu. “Menurutmu itu bekas lupa apa?”

 

“Aku tidak yakin. Beberapa terlihat seperti luka bakar kecil, seakan-akan……” Leeteuk menelan ludah. “Terlihat seperti sundutan rokok. Dan yang lain terlihat seperti bekas gigitan.”

 

“Menurutku mayatnya diletakkan disini belum lama, mungkin beberapa jam yang lalu, jadi kecil kemungkinannya hewan liar yang menyebabkan bekas-bekas gigitan itu. Jika ya, maka seharusnya ada luka yang lebih dalam, beberapa koyakan, dan sedikit daging yang hilang”

 

“Itu bekas gigitan manusia, kan?”

“Itu tebakanku. Seseorang menyiksa Victoria”

 

“Karena wanita itu telanjang, kau pikir itu berarti pembunuh itu memperkosanya?”

“Mungkin, tetapi mungkin juga tidak. Hasil autopsi akan memberitahukan pada kita semua tentang apa yang dialami Victoria selama 2 minggu setelah dia dinyatakan hilang”

 

Kyuhyun dan Leeteuk menoleh saat Zhoumi berjalan ke arah mereka.

“Shindong sudah datang” kata Zhoumi.

“Bagus” kata Leeteuk.

 

Seorang pria bertubuh besar berjalan santai ke arah mereka. Leeteuk berjalan menjauhi Kyuhyun dan mendekati Shindong. Mereka berbicara sejenak. Sementara itu Kyuhyun hanya memperhatikannya.

 

“Wanita yang malang” komentar Zhoumi yang sedang memperhatikan jasad Victoria.

 

Kyuhyun menoleh dan hanya bergumam.

“Berapa lama waktu yang diperlukan untuk mendapatkan hasil autopsi dari DFS?” tanyanya.

 

Zhoumi berpikir sesaat.

“Waktu perkiraan? Satu minggu hingga sebulan. Dan untuk bukti DNA bisa makan waktu hingga enam bulan atau bahkan lebih. Skenario terburuk……hingga setahun” jawabnya.

 

“Aku mengkhawatirkan itu” kata Kyuhyun.

 

Leeteuk dan Shindong berjalan mendekat. Shindong tersenyum, menyapa ramah Kyuhyun dan Zhoumi.

“Setelah kau melihat mayat Victoria, aku ingin tahu apa yang kau pikirkan, hyung” kata Kyuhyun pada Shindong.

 

Shindong menaikkan satu alis, lalu mengangguk sebelum berjalan ke arah jasad wanita cantik yang tergeletak tanpa busana ditengah-tengah ladang kedelai. Leeteuk dan Kyuhyun berjalan menjauh dan membiarkan Shindong bekerja. Saat mereka berjalan menuju Pontiac milik Kyuhyun, Leeteuk bertanya,

 

“Kyu, apa menurutmu pria itu akan melakukan kejahatannya lagi?”

Kyuhyun mengangguk.

“Ya. Ini bukan kasus pertama dari jenis ini yang kau ketahui ‘kan, hyung? Sebelum Victoria, kasus seperti ini juga pernah terjadi. Ini pembunuhan berantai”

 

“Ya Tuhan,” Leeteuk menunduk cemas. “Jangan ulangi kata-kata itu diluar garis batas kita, Kyu. Jika ungkapan pembunuhan berantai menjadi bahan pembicaraan, akan muncul kepanikan masal.”

 

Kyuhyun terdiam sesaat.

“Ya, itu benar. Tapi aku yakin si pembunuh itu akan melakukan perbuatannya lagi. Tapi masalahnya, kita tidak tahu siapa target selanjutnya”

 

Leeteuk hanya diam, mendesah bingung. Mereka naik ke mobil Pontiac milik Kyuhyun, dan Kyuhyun menjalankan mobilnya pergi. Sepanjang perjalanan kembali ke kantor polisi, tidak ada yang bersuara. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.

 

~+~+~+~

 

Suasana hati Sungmin mulai membaik saat ia pulang dari kantor. Tapi suasana hatinya yang membaik itu berakhir begitu ia sampai di rumah dan mendapati BooBoo, yang berusaha menunjukkan betapa ia marah harus tinggal di rumah yang asing, telah mencabik-cabik salah satu bantal sofanya. Bulu-bulu isi bantal bertebaran di seluruh ruang tamu. Sungmin menarik napasnya, memejamkan matanya dan menghitung sampai sepuluh, lalu sampai dua puluh. Ia sedang berusaha meredam amarahnya. Tidak ada gunanya marah-marah pada kucing. Mungkin BooBoo tidak akan mengerti, dan tidak akan peduli kalaupun dia mengerti. Dia hanyalah korban keadaan.

 

Kucing itu mendesis ketika Sungmin mengulurkan tangan padanya. Biasanya Sungmin selalu meninggalkan kucing itu sendirian jika ia berulah, tetapi rasa kasihan saat itu membuatnya mengangkat BooBoo dan membenamkan jemarinya ke bulunya yang lembut, memijat-mijat punggungnya.

 

“Kucing malang” gumam Sungmin.

 

Mula-mula BooBoo menggeram, lalu segera berganti dengan mendengkur yang menandakan bahwa ia menikmati pijatan Sungmin pada punggungnya. “Bertahanlah selama empat minggu lima hari. Itu sama dengan 33 hari. Kau bisa berpura-pura baik denganku selama itu, ‘kan?” kata Sungmin.

 

BooBoo terlihat seolah tidak setuju, tetapi dia tidak peduli selama Sungmin terus memijat-mijat punggungnya. Sungmin membawanya ke dapur dan memberikannya makanan. Lalu ia meletakkannya di lantai dengan boneka bulu tikus-tikusan untuk mainannya. Kucing itu mulai melahap makanannya. Sungmin memperhatikannya sambil berpikir, kucing itu mengotori rumahnya. Tapi ia sanggup menanggulanginya. Meskipun ia merasa sedikit tidak nyaman.

 

“Wah, aku kagum dengan kesabaranku sendiri” kata Sungmin tersenyum bangga pada dirinya sendiri.

 

Sungmin mengambil segelas air. Dan ketika ia berdiri di depan bak cuci piring, ia melihat tetangganya pulang. Saat melihat Pontiac cokelat itu Sungmin dapat merasakan kesabarannya mulai menyurut. Tetapi mobil itu tidak berisik, jelas sekali kalau Kyuhyun telah mengganti saringan knalpotnya. Sungmin berpikir, kalau tetangganya bisa berusaha, ia juga bisa. Maka ia menutup saluran kemarahan dalam benaknya.

 

Sungmin memandang keluar jendelanya ketika Kyuhyun keluar dari mobil dan membuka kunci pintu dapurnya, yang menghadap ke arah Sungmin. Pria itu memakai pantalon dan kemeja putih, dengan dasi tergantung longgar di lehernya dan jas tersampir di pundaknya. Kyuhyun tampak lelah, dan saat ia berbalik masuk rumah, Sungmin melihat pistol hitam yang besar itu tersarung di ikat pinggangnya. Inilah pertama kalinya Sungmin melihat Kyuhyun tidak mengenakan pakaian kotor dan lusuh seperti biasanya. Pria itu justru terlihat semakin tampan.

 

Sungmin merasa agak bingung, seolah dunia telah bergeser dari sumbunya. Mengetahui bahwa Kyuhyun adalah polisi dan melihatnya sebagai polisi adalah dua hal yang berbeda. Kenyataan bahwa pria itu mengenakan pakaian biasa dan bukannya seragam, itu artinya ia bukan petugas patroli, tetapi paling tidak setingkat detektif.

 

Bagi Sungmin laki-laki itu masih tetap brengsek, tapi orang brengsek dengan tanggung jawab yang berat. Sungmin pikir, mungkin ia bisa lebih memahaminya dan berusaha untuk tidak mengganggu tidur laki-laki itu. Tapi itu bukan berarti Sungmin tidak akan melabrak laki-laki berkulit badak itu kapan saja ia mengganggunya. Sungmin pikir itu adil. Ia akan berusaha menjaga hubungan baik dengan tetangganya. Bagaimanapun, mungkin mereka akan bertetangga selama bertahun-tahun.

“Ya Tuhan, pikiran itu membuatku tertekan” kata Sungmin menggelengkan kepalanya.

 

Sungmin memandang arloji ditangannya dan kembali berpikir, kebaikan dan kemurahan hatinya kepada semuanya sudah berlangsung selama……oh, beberapa jam.

 

~+~+~+~

 

Pukul setengah delapan malam Sungmin duduk di sofanya yang nyaman untuk menonton televisi dan membaca sebentar. Secangkir teh hijau yang mengepul di atas meja menemani ketenangan Sungmin. Namun ketenangan itu buyar saat tiba-tiba terdengar suara tabrakan yang keras. Sungmin terlonjak dari sofanya. Ia mengenakan sandalnya sambil berlari ke pintu depan. Lampu-lampu teras menyala di sepanjang jalan itu. Pintu-pintu terbuka dan kepala-kepala yang penasaran menyembul keluar seperti kura-kura yang mengintip dari tempurungnya. Lima rumah dari rumah Sungmin, diterangi cahaya lampu di tikungan, nampak onggokan logam.

 

Sungmin berlari ke jalan. Jantungnya berdegup kencang, perutnya terasa tegang sementara ia memberanikan diri melihat apapun yang mungkin akan dilihatnya dan mencoba mengingat-ingat langkah-langkah pertolongan pertama pada kecelakaan. Orang-orang berhamburan keluar dari rumah mereka sekarang. Terdengar suara gaduh di sana-sini, suara anak-anak yang ingin tahu, para ibu yang berusaha mencegah anak-anaknya keluar rumah, dan para ayah yang berkata, “Mundur, mundur, mungkin meledak.”

 

Sungmin sudah pernah menyaksikan banyak tabrakan mobil. Ia tahu tidak mungkin ada ledakan, tetapi selalu mungkin terjadi kebakaran. Tepat sebelum ia sampai di tempat mobil itu berada, pintu pengemudi terdorong membuka dan seorang pemuda berandalan muncul dari balik kemudi.

 

“Bangsat!” teriak pemuda itu, memandangi ujung depan mobilnya yang penyok. Mobilnya telah menabrak salah satu mobil yang diparkir di sepanjang tepi jalan.

 

Seorang wanita muda pemilik mobil yang ditabrak itu berlari dari rumahnya. Matanya terbelalak kaget melihat kondisi mobilnya yang telah ditabrak. “Ataga, mobilku!” ujarnya histeris.

 

Pemuda berandalan itu mengitari si wanita dan mulai memarahinya, menyalahinya karena telah memarkir mobilnya di jalanan. Seolah semua adalah kesalahan si wanita. Pemuda berandalan itu sedang mabuk. Sungmin dapat mencium bau napasnya, dan ia melangkah mundur. Ia dapat mendengar keprihatinan bersama para tetangganya di sekelilingnya berubah menjadi kegeraman.

 

“Panggilkan Kyuhyun” terdengar gumam seorang laki-laki tua.

“Akan kupanggilkan” nyonya Kim berjalan secepat mungkin menuju rumah Kyuhyun.

 

Sungmin memandang semua orang. Semua orang lainnya yang tinggal di jalan ini keluar dari rumah mereka dan berada disini. Tapi diantara semua orang-orang itu tidak nampak sosok tinggi Kyuhyun. Ya, dimana dia?, pikir Sungmin heran.

 

Wanita pemilik mobil yang ditabrak itu menangis. Sambil membekap mulutnya sendiri ia memandangi mobilnya yang rusak. Di belakangnya, dua anak berumur sekitar lima dan tujuh tahun berdiri dengan gelisah di pinggir jalan.

 

“Dasar sundal” gerutu si pemabuk seraya berjalan mendekati si wanita.

“Hei, jaga bicaramu” seru salah satu pria tua.

“Bangsat kau kakek” kata si pemabuk tidak peduli.

 

Pemuda mabuk itu mengulurkan tangannya dan mencengkram bahu si wanita, lalu memutar badannya. Sungmin melangkah maju. Amarahnya sudah menyesakkan dadanya. “Hei, lepaskan dia” tegurnya keras.

 

Sebuah suara tua terdengar gemetar mengucapkan ya dibelakang Sungmin. Si pemuda mabuk itu menoleh pada Sungmin dan semakin marah. “Sundal bodoh ini telah membuat mobilku penyok” katanya.

 

“Kau sendiri penyebabnya. Kau mabuk dan menabrak mobilnya” kata Sungmin dengan tegas dan tanpa takut.

 

Sungmin tahu usahanya sia-sia. Tidak ada gunanya berdebat dengan orang mabuk. Masalahnya, orang itu sudah cukup mabuk untuk bertindak agresif tapi belum cukup mabuk sehingga jalannya belum sempoyongan. Pemuda mabuk itu mendorong si wanita muda hingga terhuyung-huyung ke belakang. Si wanita muda terjatuh. Ia menjerit, dan anak-anaknya ikut menjerit dan mulai menangis.

 

Sungmin menyerang pemuda itu, mendorong dengan badannya. Akibatnya pemuda mabuk itu terhuyung-huyung. Ia berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya tapi akhirnya jatuh terduduk. Ia meloncat berdiri dan menyergap Sungmin sambil memaki-maki. Sungmin mengelak ke samping dan menendangnya. Si pemuda sempoyongan, tapi kali ini ia berhasil tetap berdiri. Sambil berbalik ia menunduk, dagunya menempel ke dadanya dan matanya berkilat-kilat marah.

 

“Oh, sialan. Aku justru membangunkan macan tidur” gumam Sungmin tersadar.

 

Sungmin otomatis bersiaga dalam posisi bertinju. Ia sudah terbiasa berkelahi dengan kakaknya, Kangin, bertahun-tahun lalu. Ia mendengar suara-suara marah dan khawatir di sekitarnya, namun anehnya terdengar jauh sementara ia berkonsentrasi tetap siaga.

 

“Cepat telepon 911”

“Haneul sedang memanggil Kyuhyun. Dia yang akan mengatasinya”

“Aku telah menghubungi 911” itu suara seorang gadis kecil.

 

Si pemabuk kembali menyerang, dan kali ini Sungmin tidak mengelak. Sungmin melangkah mundur di bawah serangan gencar si pemabuk, menendang dan meninju serta sekaligus berusaha menghalangi semua pukulan pemuda itu. Salah satu tinju pemuda itu bersarang di tulang rusuknya, cukup keras hingga ia tertegun. Para tetangga segera mengerubungi mereka. Beberapa laki-laki muda berusaha meringkus si pemabuk, sedangkan yang tua membantu menendangi si pemabuk dengan kaki beralaskan sandal tidur. Sungmin dan si pemabuk berguling-guling, dan beberapa laki-laki tua ikut tersapu, jatuh saling tindih.

 

Kepala Sungmin terantuk ke tanah, dan tulang pipinya terkena pukulan yang meleset. Satu lengannya tertindih tetangga yang jatuh, tapi dengan satu tangannya yang bebas ia berusaha meraih daging di pinggang pemuda mabuk itu dan memelintirnya, mencubitnya sekuat mungkin. Pemabuk itu menjerit seperti kerbau yang terluka. Lalu tiba-tiba ia lenyap, terangkat seakan bobot tubuhnya tidak lebih berat daripada bantal. Dengan tercengang Sungmin melihat pemabuk itu terbanting ke tanah di sampingnya, wajahnya mencium tanah, sementara kedua lengannya tertelikung ke punggung dan pergelangan tangannya terborgol.

 

Sungmin berusaha bangun ke posisi duduk dan hampir beradu muka dengan tetangganya yang menjengkelkan itu. “Sialan, seharusnya aku sudah tahu kaulah orangnya,” geram Kyuhyun. “Sebaiknya kalian berdua kutahan dengan tuduhan mabuk dan melanggar peraturan.”

 

“Aku tidak mabuk!” bantah Sungmin marah.

“Bukan. Dia yang mabuk, dan kau melanggar peraturan!” kata Kyuhyun seraya menunjuk si pemabuk dan Sungmin bergantian dengan matanya.

 

Tuduhan yang tidak adil itu memicu kemarahan Sungmin. Untunglah, kata-kata yang mungkin bisa membuatnya ditahan menyangkut di tenggorokannya. Para istri yang cemas di sekitarnya sedang membantu suami mereka yang gemetaran bangkit berdiri, dengan ribut memeriksa adakah luka-luka lecet atau tulang-tulang patah. Tapi kelihatanya tidak ada yang terluka parah. Sungmin berharap setidaknya perkelahian itu membuat jantung mereka berdegup lebih lama lagi beberapa tahun.

 

Beberapa wanita berkerumun mengerubungi wanita muda yang telah terdorong jatuh tadi, berdecak-decak dan ribut menanyainya. Belakang kepala wanita itu berdarah, dan anak-anaknya masih menangis. Beberapa anak lainnya mulai menangis juga, entah merasa bersimpati, atau barangkali merasa ditinggalkan para ibunya. Terdengar bunyi sirene dari kejauhan, lalu semakin mendekat.

 

Kyuhyun melihat ke sekelilingnya dengan tidak percaya, sambil menunduk dan tetap mencekal si pemabuk tahanannya dengan satu tangannya. “Ya ampun” gerutunya, sambil menggeleng-geleng.

 

Perempuan tua dari seberang jalan, dengan gulungan-gulungan rambut di kepalanya yang kelabu membungkuk ke arah Sungmin. “Kau tidak apa-apa, sayang? Itu tindakan paling berani yang pernah kulihat! Seharusnya kau tadi disini, Kyuhyun. Saat…saat bajingan itu mendorong Amy sampai jatuh, pemuda manis ini meninjunya hingga dia terjengkang. Siapa namamu, sayang?” tanyanya, berpaling ke Sungmin lagi. “Aku Lee Sun Young, rumahku di seberang rumahmu.”

 

“Sungmin,” sahut Sungmin. Kemudian ia memelototi tetangganya, “Ya, Kyuhyun, seharusnya kau disini tadi.”

 

“Aku sedang mandi,” kata Kyuhyun menghentikan langkahnya. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya pada Sungmin.

 

“Aku baik-baik saja” kata Sungmin berusaha bangkit berdiri.

 

Sebenarnya Sungmin sendiri tidak tahu apakah ia baik-baik saja atau tidak, tetapi tampaknya tidak ada tulang yang patah dan ia tidak pusing. Jadi mungkin tidak ada cedera berat. Kyuhyun mengamati kaki Sungmin yang tanpa alas.

 

“Lututmu berdarah” kata Kyuhyun memberitahu.

 

Sungmin menunduk dan melihat saku celana pendeknya robek. Darah menetes ke tulang keringnya dari luka pada lutut kanan. Ditariknya saku yang robek itu hingga terlepas dan ditekannya kain itu pada lututnya.

 

“Hanya luka gores” katanya.

 

Dua mobil patroli polisi, satu mobil unit medis dan satu pemadam kebakaran datang dengan lampu-lampu terangnya. Para polisi berseragam mulai menerobos kerumunan, dan orang-orang itu menunjukkan dimana si korban berada. Setengah jam kemudian semuanya selesai. Mobil Derek sudah menyingkirkan kedua mobil rusak itu, dan para polisi sudah menyingkirkan si pemabuk. Wanita muda yang cedera itu, bersama kedua anaknya, sudah dibawa ke bagian gawat darurat untuk dijahit luka di kepalanya. Luka-luka ringan sudah dibersihkan dan diperban, dan para kesatria lanjut usia itu bergandengan pulang.

 

Sungmin menunggu sampai para petugas medis itu pergi, lalu mengambil segumpal kapas dan menempelkannya ke lututnya. Sekarang setelah semuanya selesai, ia merasa lelah. Satu-satunya yang diinginkannya adalah mandi air panas, kue chocolate chip, dan tidur. Ia menguap sambil mulai melangkah dengan susah payah kembali ke rumahnya. Kyuhyun si brengsek berjalan mengikuti disampingnya. Sungmin melirik laki-laki itu sekilas, lalu tatapannya kembali lurus ke depan. Ia tidak suka melihat ekspresi Kyuhyun atau tubuhnya yang seakan menjulang tinggi di atasnya seperti awan mendung.

 

“Apa kau selalu nekat ikut campur dalam situasi berbahaya?” tanya Kyuhyun dengan nada percakapan.

 

Sungmin berpikir sesaat.

“Ya” sahutnya akhirnya.

“Pantas”

 

Sungmin berhenti di tengah jalan dan berbalik menghadap Kyuhyun, sambil berkacak pinggang.

“Lalu, apa yang harus kulakukan, berdiri menonton saja sementara wanita itu dipukuli sampai babak belur? Tidak ada yang membekuknya, jadi aku tidak bisa menunggu” katanya.

 

Sebuah mobil berbelok di tikungan, menuju ke arah mereka. Kyuhyun memegang lengan Sungmin menariknya ke tepi jalan. “Berapa tinggimu? Seratus enam puluh delapan?” tanyanya, mengamati Sungmin.

 

Sungmin mengerutkan kening.

“Seratus tujuh puluh” jawabnya.

 

Bola mata Kyuhyun berputar, dan ekspresinya seolah mengatakan, Ya, okelah. Sungmin menggertakkan giginya. Tingginya 170 senti—hampir. Apa bedanya selisih dua senti?

 

“Amy, wanita yang dipukul itu, empat senti lebih tinggi darimu dan mungkin hampir dua belas kilo lebih berat darimu. Apa yang membuatmu berpikir kau bisa mengatasi bajingan itu?” tanya Kyuhyun lagi.

 

Sungmin ingin menjawab, karena ia adalah lelaki dan Amy adalah wanita. Sudah jelas, kan? Tapi seraya berjalan kembali ia justru menjawab, “Tidak”

 

“Tidak apa? Berpikir? Itu sudah jelas” ejek Kyuhyun, berjalan mengikuti Sungmin.

 

Sungmin menarik napasnya, mencoba mengendalikan amarahnya yang hampir meledak. Sungguh, laki-laki ini sangat menyebalkan. Tidak mungkin aku memukul polisi, batin Sungmin. Tidak mungkin aku memukul polisi. Ia mengulangi ucapannya itu dalam hati beberapa kali. Akhirnya ia berhasil bersuara, dengan nada datar yang menakjubkan,

 

“Kupikir aku tidak bisa menghadapinya”

“Tapi bagaimanapun kau melawannya”

 

Sungmin mengangkat bahu.

“Kesintingan sesaat”

“Kalau begitu tidak ada alasannya”

 

Sungmin kembali menghentikan langkahnya. Emosinya hampir tumpah.

“Begini, aku sudah muak dengan omonganmu yang menghina. Aku menghentikannya memukuli wanita itu hingga babak belur di depan anak-anaknya. Memang itu tindakan bodoh, dan aku benar-benar sadar aku bisa cedera. Tapi aku laki-laki dan aku akan melakukannya lagi jika itu terjadi lagi. Sekarang, sebaiknya kau jalan sendiri saja, karena aku tidak ingin jalan bersamamu”

 

“Dasar sok” kata Kyuhyun, dan kembali mencekal lengan Sungmin.

 

Sungmin terpaksa berjalan, kalau tidak mau diseret. Karena Kyuhyun tidak mau membiarkan Sungmin berjalan pulang sendiri. Sungmin pun mempercepat langkahnya. Dengan demikian mereka akan cepat sampai rumahnya dan berpisah. Itu lebih baik.

 

“Ku terburu-buru?” tanya Kyuhyun. Pegangannya pada lengan Sungmin membuat langkah pemuda manis itu melambat. Dan Sungmin terpaksa menyamakan langkahnya dengan langkah santai polisi itu.

 

“Ya, aku ketinggalan—“ Sungmin berusaha mengingat apa acara televisi saat itu, tapi tidak ada yang terlintas di benaknya. “Kucingku Booboo akan melahirkan, dan aku ingin menungguinya.” Akhirnya ia berbohong.

 

“Kau suka anak-anak kucing, eoh?” tanya Kyuhyun.

“Lebih menarik daripada temanku sekarang” jawab Sungmin dengan manis.

“Wah” kata Kyuhyun meringis.

 

Akhirnya mereka sampai di rumah Sungmin, dan Kyuhyun terpaksa melepaskan lengan pemuda manis itu. “Taruh es di lututmu supaya tidak memar” katanya.

 

Sungmin mengangguk, berjalan beberapa langkah. Lalu ia menengok dan melihat Kyuhyun masih berdiri di tempat semula, memandanginya. “Terima kasih kau sudah mengganti saringan knalpotmu” katanya.

 

Laki-laki itu sudah akan berkomentar yang tidak enak, Sungmin dapat melihat pada ekspresinya. Tetapi kemudian Kyuhyun mengangkat bahu dan hanya berkata, “Terima kasih kembali.” Ia diam sejenak. “Terima kasih untuk kaleng sampahku yang baru.”

 

“Terima kasih kembali” kata Sungmin.

 

Mereka berpandangan sesaat, seolah menunggu siapa yang akan memulai mencari masalah lagi. Namun Sungmin memutuskan menghindarinya dengan berbalik dan masuk rumah. Ia mengunci pintu dan berdiri sejenak, mengamati ruang tamu yang hangat. BooBoo sudah asyik dengan bantal lagi, membuat isi bantal yang bertaburan di karpet semakin banyak. Sungmin menghela napas.

 

“Lupakan kue chocolate chip,” katanya keras-keras. “Saatnya untuk es krim.”

 

~+~+~+~

 

Sungmin bangun pagi-pagi sekali keesokan harinya, tanpa bantuan weker ataupun matahari. Alasan sederhana yang membuatnya terbangun adalah karena seluruh otot tubuhnya menjerit kesakitan. Tulang-tulang iganya sakit, lututnya pedih, lengannya ngilu setiap kali digerakkan; bahkan pantatnya pun sakit. Belum pernah ia merasa sesakit ini sejak ia pertama kali belajar roller-skate. Sambil mengerang ia beranjak duduk dan sedikit demi sedikit menurunkan kakinya dari tempat tidur. Ia berjalan pelan ke kamar mandi dan memilih air hangat untuk mandi. Ia tidak cukup berani dengan air dingin. Daripada berdiri telanjang di bawah guyuran air yang membekukan, ia lebih memilih menghadapi pemabuk jalanan kapan pun.

 

Sambil bergidik Sungmin cepat-cepat menyelesaikan mandinya, mengeringkan badan dengan handuk dan memakai jubah mandinya yang panjang dan berwarna biru. Ia jarang mengenakannya selama musim panas, tapi hari ini terasa nyaman. Ia keluar dari kamar mandi dan melihat BooBoo yang masih tidur nyenyak. Sungmin berjalan mendekat dan memperhatikan kucing itu sesaat.

 

Ada satu kelebihan bangun pagi-pagi. Sungmin yang harus membangunkan BooBoo bukan sebaliknya. BooBoo tidak senang ketika istirahat indahnya diganggu. Kucing galak itu mendesis pada Sungmin, lalu beranjak pergi untuk menemukan tempat yang lebih aman untuk tidur. Sungmin tersenyum.

 

Karena ia telah bangun terlalu pagi, Sungmin tidak harus tergesa-gesa pagi itu. Ia berlama-lama menikmati kopinya, perbuatan yang jarang dilakukannya, dan bukannya membuat sereal dingin seperti biasanya. Sepiring wafel yang hangat dengan potongan stroberi di atasnya menjadi menu sarapan pagi ini. Sesudah menyantap wafelnya, Sungmin meneguk secangkir kopi lagi dan menyingkap jubah mandinya untuk memeriksa lututnya yang terkelupas. Ia sudah mengompresnya dengan es sesuai dengan anjuran Kyuhyun, tetapi masih ada luka yang cukup besar, dan seluruh lututnya kaku dan sakit. Ia tidak mungkin tiduran sepanjang hari di atas kantong-kantong es, maka ia menelan beberapa aspirin dan terpaksa menerima nasibnya untuk menderita selama beberapa hari.

 

Sungmin mulai bersiap untuk berangkat kerja. Ia mencoba menahan rasa ngilu ketika sedang berpakaian. Ia merapikan rambutnya sejenak, tidak perlu lama dan mengakibatkan tulang iganya terasa sakit. Saat Sungmin memandang cermin, ia menyadari ada memar di tulang pipinya. Ia cemberut di depan cermin dan hati-hati menyentuh bagian yang biru dan lebam itu. Tidak sakit, tapi terlihat jelas. Tidak ada pilihan lain selain menutupinya dengan makeup.

 

Setelah selesai Sungmin memandang cermin sekali lagi, dan menilai dirinya tampak luar biasa. Ia tersenyum dan berjalan keluar dengan penuh percaya diri dan santai. Si brengsek –Kyuhyun- sedang membuka pintu mobilnya ketika Sungmin keluar dari rumahnya. Sungmin membalikkan badannya dan berlama-lama mengunci pintu rumahnya, berharap laki-laki itu akan segera masuk ke mobilnya dan pergi. Tapi sepertinya Sungmin sedang sial.

 

“Kau baik-baik saja?” tanya Kyuhyun, tiba-tiba suaranya sudah terdengar tepat di belakang Sungmin.

Sungmin hampir meloncat kaget. Sambil memekik ia membalikkan badan. Tapi gerakan yang salah. Tulang iganya protesnya. Sungmin mengerang kesakitan dan menjatuhkan kuncinya. “Sialan!” teriaknya setelah ia dapat bernapas lagi. “Jangan mengendap-endap seperti itu lagi!”

 

“Hanya itu satu-satunya cara yang kutahu,” kata Kyuhyun dengan wajah tanpa ekspresi. “Kalau aku menunggu sampai kau berbalik, aku takkan mengendap-endap.” Ia berhenti sejenak. “Kau memaki-maki.”

 

Kyuhyun berkata seolah Sungmin perlu diingatkan. Sambil menggerutu Sungmin merogoh dompetnya mencari uang logam 25 Won dan meletakkannya di tangan Kyuhyun. Sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, Kyuhyun memandangi uang itu.

 

“Untuk apa ini?” tanya Kyuhyun.

 

“Karena aku sudah bersumpah, aku harus membayarmu setiap kali aku ketahuan memaki. Itulah caraku untuk memotivasi diri agar berhenti” jawab Sungmin.

 

“Kalau begitu kau berhutang padaku jauh lebih banyak daripada Cuma 25 Won ini. Tadi malam kau mengucapkan beberapa makian”

 

Bibir Sungmin mencibir.

“Kau tidak bisa kembali ke masa yang sudah lewat dan menagihku. Bisa-bisa tabunganku terkuras habis. Kau harus memergokiku pada saat aku melakukannya”

 

“Ya, baiklah. Hari sabtu, ketika kau memotong rumput. Kau tidak membayarku waktu itu”

 

Tanpa berkata-kata Sungmin menggertakkan gigi, sambil mencari 25 Won lagi di dompetnya. Kyuhyun kelihatan puas sekali saat mengantongi uang lima puluh Won-nya. Di lain waktu mungkin Sungmin akan tertawa, tetapi sekarang ia masih marah pada Kyuhyun karena telah mengejutkannya. Tulang rusuknya sakit, dan semakin sakit ketika ia mencoba membungkuk untuk mengambil kuncinya. Bukan hanya itu, lututnya menolak ditekuk. Ia menegakkan tubuhnya dan memandang Kyuhyun dengan frustasi dan marah sehingga sudut mulut pria itu berkedut.

 

Kalau dia tertawa akan kutendang bawah dagunya, pikir Sungmin. Karena ia masih berdiri di teras, sementara Kyuhyun berdiri di anak tangga ke tiga. Sudut itu sempurna untuk menendang dagu seseorang. Tapi ternyata Kyuhyun tidak tertawa. Mungkin polisi diajari untuk berhati-hati. Kyuhyun membungkuk memungut kunci Sungmin.

 

“Lututmu tidak mau ditekuk, ya?” tanya Kyuhyun.

“Juga rusukku” sahut Sungmin galak. Ia mengambil kuncinya dari tangan Kyuhyun dan menuruni tiga anak tangga.

Kyuhyun mengerutkan keningnya.

“Kenapa dengan dengan rusukmu?”

“Kena pukulannya”

 

Kyuhyun mendengus jengkel.

“Kenapa tidak kau katakan tadi malam?” katanya.

“Kenapa? Rusukku tidak patah, hanya memar” sahut Sungmin.

 

“Kau menduganya begitu, kan? Kau tidak mengira mungkin rusukmu retak?”

“Tidak terasa retak”

 

“Dan kau sudah sangat berpengalaman dengan rusuk retak sehingga kau tahu bagaimana rasanya” kata Kyuhyun mencibir.

 

Sungmin mengertakkan rahangnya dengan kesal.

“Ini rusukku sendiri, dan aku bilang tidak retak. Diskusi selesai”

 

“Coba katakan,” kejar Kyuhyun, mengiringi Sungmin yang berusaha sebisa mungkin berjalan ke mobilnya. “Pernahkah sehari saja kau tidak bertengkar?”

 

“Hari-hari ketika aku tidak bertemu denganmu,” balas Sungmin. “Dan kau yang memulainya! Aku sudah bersiap-siap menjadi tetangga yang baik, tapi kau mencari masalah setiap kali melihatku, meskipun aku sudah minta maaf ketika BooBoo masuk ke mobilmu. Lagipula, menurutku kau pemabuk.”

 

Kyuhyun berhenti, wajahnya tampak terkejut.

“Aku pemabuk?” katanya.

 

“Mata merah, pakaian kotor, pulang dini hari, berisik, selalu marah-marah seperti mabuk……aku harus mengira apa lagi?” kata Sungmin mencibir.

 

Kyuhyun mengusap wajahnya.

“Maaf, seharusnya aku mandi, bercukur dan berganti pakaian dulu sebelum keluar rumah dan memberitahumu bahwa kau cukup berisik untuk membangunkan orang mati”

 

“Sebenarnya cukup dengan menyambar celana jins bersih” Sungmin membuka pintu mobilnya dan mulai memikirkan masalah lain: Bagaikama ia akan masuk ke mobilnya yang rendah ini?

 

“Aku sedang menyelesaikan lemari dapurku,” kata Kyuhyun setelah diam sejenak. “Dengan jam-jam kerjaku belakangan ini, aku terpaksa hanya bisa mengerjakannya sedikit-sedikit, dan kadang-kadang aku tertidur dengan masih memakai pakaian kotor.”

“Pernahkah kau berniat membiarkan lemari dapurmu sampai kau mendapat libur dan bisa tidur lebih banyak? Mungkin itu akan menolong pengaturan waktumu”

 

“Tidak ada yang salah dengan pengaturan waktuku”

 

“Memang tidak  ada yang salah, kalau itu pengaturan waktu orang aneh”

 

Sungmin memasukkan tasnya ke dalam mobil dan mencoba menghipnotis dirinya sendiri agar bisa menyelinap ke balik kemudi. Kyuhyun mengamati mobil Viper milik Sungmin dan berkata,

“Mobil yang asyik”

 

“Terima kasih” kata Sungmin melirik sekilas ke Pontiac Kyuhyun dan tidak berkomentar. Kadang-kadang diam lebih berguna daripada kata-kata.

 

Kyuhyun melihat lirikan itu dan nyengir. Sungmin tidak berharap Kyuhyun nyengir, itu membuatnya terlihat hampir manusiawi. Sungmin tidak berharap mereka berdiri di luar di bawah sinar matahari pagi, karena ia dapat melihat betapa lebat bulu mata Kyuhyun dan betapa cokelat gelap matanya. Oke, jadi Kyuhyun tidak jelek, ketika matanya tidak merah dan dia tidak marah-marah.

 

Tiba-tiba tatapan Kyuhyun berubah jadi dingin. Tangannya terulur dan dengan lembut ibu jari tangannya mengusap tulang pipi Sungmin. “Pipimu memar” katanya.

 

“Si—“Sungmin terkejut dan menghentikan dirinya sendiri sebelum kata itu terlontar. “Sudahlah, kupikir tadi sudah kututupi dengan makeup.”

 

“Usahamu berhasil. Aku tidak melihatnya sampai kau berdiri di bawah sinar matahari,” Kyuhyun menyilangkan kedua lengannya dan mengerutkan dahi memandangi Sungmin. “Ada cedera lain?”

 

“Hanya otot-otot yang sakit” jawab Sungmin. Ia menatap mobilnya dengan sedih. “Dari tadi aku takut harus masuk mobil.”

 

Kyuhyun memandang mobil, lalu Sungmin. Sementara Sungmin mencengkram pintu mobil yang terbuka, pelan-pelan sambil kesakitan ia mengangkat kaki kanannya dan mendorongnya ke dalam mobil. Kyuhyun menghembuskan napas, seakan diam-diam menabahkan diri untuk melakukan tugas yang tidak menyenangkan. Ia memegangi lengan Sungmin selagi pemuda manis itu beringsut ke balik kemudi.

 

“Terima kasih” kata Sungmin, merasa lega tugas itu sudah selesai dan ia berhasil duduk di balik kemudi.

 

“Tentu,” Kyuhyun membungkuk di pintu yang masih terbuka. “Kau ingin menuntut penyerangan ini?”

Sungmin mengatupkan bibirnya.

“Aku yang memukulnya lebih dulu”

 

Sungmin merasa Kyuhyun sedang berjuang menahan senyumnya lagi. Ya Tuhan, Sungmin berharap Kyuhyun berhasil. Ia tidak ingin melihat senyum laki-laki itu lagi sedemikian cepat. Bisa-bisa ia mulai menganggap Kyuhyun baik hati.

 

“Baiklah kalau begitu,” kata Kyuhyun setuju. Ia menegakkan badan dan mulai menutup pintu mobil. “Rasa sakit itu bisa tertolong dengan pijatan. Dan mandi uap.”

 

Sungmin melontarkan tatapan jengkel.

“Uap? Maksudmu sia-sia saja pagi ini aku mandi dengan air dingin?” katanya.

 

Kyuhyun mulai tertawa, dan Sungmin sungguh tidak berharap laki-laki itu melakukannya. Tawanya dalam dan manis. Giginya sangat putih. Kemudian Kyuhyun menyarankan lagi,

 

“Dingin juga bagus. Cobalah berganti-ganti antara air panas dan dingin untuk mengurangi rasa sakit. Dan dipijat kalau bisa”

 

Sungmin mengangguk.

“Gagasan bagus. Terima kasih”

 

Kyuhyun mengangguk dan melangkah mundur. Sambil melambaikan satu tangannya ia berjalan ke mobilnya. Sebelum pria itu membuka pintu mobilnya, Sungmin sudah melajukan Viper-nya di jalan. Sepanjang perjalan Sungmin berpikir sambil tersenyum kecil, mungkin ia bisa bertetangga baik dengan laki-laki itu. Kyuhyun dan borgolnya tentu saja sangat berguna tadi malam.

 

~+~+~+~

 

Meskipun sudah mengobrol dengan Kyuhyun, Sungmin masih tetap kepagian sampai di tempat kerja, sehingga ia punya waktu untuk beringsut keluar dari mobil. Kantor masih nampak sepi, belum terlalu banyak orang yang datang. Sungmin memilih untuk menunggu di ruang makan di lantai kerjanya. Di masing-masing lantai ada ruang makan, dilengkapi dengan berbagai mesin otomatis biasa, meja-meja kafetaria murahan dan kursi-kursi logam, sebuah kulkas, sebuah mesin pembuat kopi, serta sebuah microwave. Ada beberapa wanita dan satu laki-laki mengelilingi satu meja ketika Sungmin masuk. Mereka sedang membaca sebuah berita di Koran newsletter hari ini dengan wajah serius.

 

Sungmin menuang secangkir kopi yang sangat dibutuhkannya.

“Ada apa?” tanyanya.

 

“Edisi khusus newsletter,” jawab salah satu wanita itu menoleh pada Sungmin. “Pembunuh berantai itu kembali beraksi.”

 

“Aku rasa si pembunuh itu seorang psikopat” kata wanita yang lain dengan bergidik ngeri.

“Aku rasa juga begitu,” timpal wanita yang lainnya setuju.

“Menurutku dia pasti seorang maniak seks gila” sahut pria itu.

 

Wanita yang pertama menoleh pada Sungmin tadi mengulurkan newsletter itu pada Sungmin.

“Lihatlah” katanya.

 

Sungmin meneguk kopinya sambil menerima newsletter itu. Beberapa wanita dan pria itu mulai ribut membicarakan tentang berita pagi ini. Sebenarnya bukan hanya mereka yang sedang membicarakan hal ini, tapi hampir seluruh Seoul juga sedang membicarakannya. Sungmin meletakkan cangkir kopinya dan membacanya dengan ekspresi tertarik. Ini berita tentang penemuan jasad wanita bernama Victoria yang telah dinyatakan hilang sejak dua minggu lalu. Yang menarik dari berita ini adalah headline-nya yang ditulis dengan huruf tebal dan besar: PEMBUNUH BERANTAI KEMBALI BERAKSI. INCARANNYA ADALAH WANITA CANTIK DAN BERAMBUT COKELAT.

 

Sungmin meraih cangkir kopinya dan meneguknya lagi. Matanya tidak beralih dari newsletter di tangannya. Biasanya ia tidak terlalu memperhatikan berita ini. Baginya, berita ini hanya sesuatu yang kelak akan segera berlalu dan dilupakan, mungkin. Tapi mungkin kini ia harus mulai sedikit waspada, meski ia yakin dirinya pasti tidak akan menjadi sasaran. Karena semanis dan secantik apapun wajahnya, ia tetap seorang laki-laki, dan korban si pembunuh berantai biasanya adalah para wanita berambut cokelat dan cantik. Tapi mungkin saja keyakinan Sungmin itu salah. Sebuah kalimat yang tertulis di bawah kolom berita itu menarik perhatian Sungmin. Tulisan itu ditulis oleh seorang bernama ‘Mako’ yang mencoba menggambarkan tentang si pembunuh. Tulisan itu berbunyi:

 

Sang pengagum. Ia mengagumi mereka. Memanjakan mereka. Dan menghabisi mereka kala mereka tidak pantas menjadi cinta sejatinya……

 

Kalimat-kalimat itu membuat Sungmin berpikir. Ia mencoba berpikir tentang si pembunuh berantai itu, tentang alasan dibalik semua perbuatan keji itu. Sungmin yakin itu bukan cinta. Cinta seharusnya lembut dan membuat bahagia. Tapi cinta si pembunuh berantai ini justru membawa mimpi buruk. Dan sepanjang hari itu, dan hari-hari ke depannya berita tentang si pembunuh berantai terus menjadi pembicaraan. Dan Sungmin kembali mencoba untuk tidak terlalu peduli dengan hal itu.

 

~+~+~+~

 

Pagi itu Sungmin kembali terbangun lebih awal. Ia tidak bisa tidur nyenyak meski sudah minum aspirin lebih banyak untuk otot-ototnya yang sakit, dan berendam air hangat. Saat menjelang berangkat tidur ia memang merasa jauh lebih nyaman, namun tetap tidak bisa tidur nyenyak. Entah kenapa. Maka pagi itu Sungmin menikmati secangkir kopi dan menatap langit yang semakin terang, setelah sebelumnya ia membangunkan BooBoo lagi. Sepertinya BooBoo sudah memaafkan pemuda manis itu yang membangunkannya lagi, karena kucing itu duduk di samping Sungmin sambil menjilati kakinya dan mendengkur ketika Sungmin menggaruk-garuk belakang telinganya.

 

Apa yang terjadi berikutnya bukan salah Sungmin. Ia sedang berdiri di depan bak cuci untuk mencuci cangkirnya ketika lampu dapur di rumah seberang menyala dan Kyuhyun berjalan masuk. Sungmin mengangkat pandangannya dan napasnya terhenti. Paru-parunya mengembang, dan ia berhenti bernapas.

 

“Tuhan Yang Maha baik” desahnya, sambil berusaha menarik napasnya.

 

Ia sedang melihat Kyuhyun lebih daripada yang pernah dibayangkannya. Ia melihat semuanya, sungguh. Lelaki itu berdiri di depan kulkas, telanjang bulat. Sungmin nyaris belum sempat mengagumi pantat Kyuhyun sebelum lelaki itu mengambil sebotol jus jeruk dari dalam kulkas, memutar tutup botol, dan membawa botol ke mulutnya sambil membalikkan badan. Sungmin langsung melupakan pantat Kyuhyun. Lelaki itu tampak lebih memukau dari depan daripada dari belakang. Dan itu ada artinya, karena pantatnya saja sangat indah. Lelaki itu menggairahkan.

 

“Ya Tuhan, BooBoo,” desahnya. “Lihat itu!”

 

Kyuhyun ternyata luar biasa indah secara keseluruhan. Ia tinggi, pinggangnya ramping, berotot. Sungmin membelokkan pandangannya ke atas sedikit dan melihat dada lelaki itu, bidang dan indah. Sungmin sudah tahu wajah Kyuhyun tampan, walau sedikit kasar. Mata hitam yang seksi, gigi putih, dan tawa yang bagus. Dan ia menggairahkan.

 

Sungmin menekan dadanya. Jantungnya bukan hanya berdebar-debar, tetapi menggedor-gedor tulang dadanya. Bagian-bagian lain tubuhnya ikut bergairah. Sekejap muncul pikiran sinting, ia membayangkan dirinya bergegas menawarkan dirinya menjadi teman tidur Kyuhyun. Tidak peduli akan kegemparan dalam diri Sungmin, juga akan pemandangan yang menakjubkan di seberang, BooBoo terus menjilati kakinya. Yang lebih penting baginya adalah kegemparan yang sesungguhnya.

 

Sungmin mencengkram bak cuci agar tidak merosot lemas ke lantai. Jika ia tidak menahan dirinya, mungkin saja ia sudah berlari melintasi dua jalur masuk dan langsung menuju pintu dapur Kyuhyun. Ia berpikir, tetangganya adalah karya seni, bisa dikategorikan di antara patung Yunani klasik dan bintang porno.

 

Meskipun tidak suka Sungmin harus memberitahu Kyuhyun agar menutup tirai-tirainya. Itu kewajibannya sebagai tetangga, bukan? Ia menggapai-gapai meraih pesawat telepon, karena tidak ingin ketinggalan pertunjukan itu sekejap pun, lalu berhenti. Bukan saja Sungmin tidak tahu nomor telepon Kyuhyun, ia bahkan tidak tahu nama marga lelaki itu. Tetangga macam apa ini? Sudah dua setengah minggu ia tinggal disini tapi masih belum pernah memperkenalkan diri pada Kyuhyun. Kalau bukan karena nyonya Kim, Sungmin tidak akan pernah tahu nama Kyuhyun.

 

Tetapi Sungmin tidak kehilangan akal. Ia sudah mencatat nomor telepon keluarga Kim di buku catatan di samping telepon. Maka ia berusaha mengalihkan pandangannya dari tetangganya sejenak untuk membaca catatan itu. Ditekannya nomor itu, dan baru sadar jangan-jangan suami-istri tua itu belum bangun tidur. Nyonya Kim menjawab pada dering pertama. Wanita tua itu menyapa dengan sangat antusias sehingga Sungmin tahu ia tidak membangunkan mereka.

 

“Hai, nyonya Kim, ini Lee Sungmin, tetangga anda. Apa kabar?” kata Sungmin.

 

Bagaimanapun basa-basi harus dilakukan dulu, dan dengan generasi yang lebih tua itu bisa memakan waktu beberapa saat. Sungmin berharap sepuluh atau lima belas menit. Dipandanginya Kyuhyun yang sedang meneguk habis jus jeruknya dan melemparkan botolnya yang sudah kosong ke tempat sampah.

 

“Oh, Sungmin! Senang sekali kau menelepon!” kata nyonya Kim, seolah ia sudah pergi ke Negara lain atau semacamnya. “Kami baik-baik saja, sungguh! Dan kau?”

 

“Baik,” jawab Sungmin otomatis, tanpa meninggalkan semenit pun aksi itu.

 

Sekarang Kyuhyun sedang mengeluarkan sekotak susu. Ia membuka susu itu dan mengendusnya. Bisepnya menonjol saat lengannya terangkat. Tapi kemudian lelaki itu menarik kepalanya ke belakang dan menyingkirkan karton susu itu. Mungkin susunya sudah kadaluarsa.

 

“Oh, ya ampun” bisik Sungmin, mengerjap memperhatikan Kyuhyun.

“Apa itu?” tanya nyonya Kim.

 

Sungmin tersadar dan segera membelokkan perhatiannya dari sasaran yang berpindah-pindah itu.

“Uh—aku bilang baik, baik-baik saja. Nyonya Kim, siapa nama marga Kyuhyun? Aku perlu meneleponnya tentang sesuatu”

 

“Cho, sayang. Cho Kyuhyun. Tapi aku punya nomornya disini. Sama dengan nomor kakeknya. Aku senang sekali, karena dengan begitu aku mudah mengingatnya. Lebih mudah jadi semakin tua daripada semakin bijaksana, kau tahu” nyonya Kim menertawakan leluconnya sendiri.

 

Sungmin tertawa juga, meskipun tidak tahu apa yang ditertawakannya. Ia menyambar pensil. Pelan-pelan nyonya Kim menyebutkan nomor itu, dan Sungmin mencatatnya, yang tak mudah dilakukannya tanpa melihat apa yang sedang ditulisnya. Otot lehernya terkunci pada posisi ke depan, sehingga mau tak mau ia memandang ke jendela dapur tetangganya.

 

Sungmin mengucapkan terima kasih pada nyonya Kim dan mengakhiri percakapan, lalu menghela napas dalam-dalam. Ia harus melakukannya. Tidak peduli betapa berat, betapa ia akan kehilangan, ia harus menelepon lelaki itu. Ia menarik napas dalam lagi dan menekan nomor Kyuhyun. Sungmin melihat lelaki itu melintasi dapur dan mengangkat teleponnya. Kyuhyun berdiri menghadap ke arah Sungmin.

 

Oh, wow. Wow wow. Air liur Sungmin mengumpul di mulutnya. Laki-laki sialan itu sudah membuatnya apa saja kecuali meneteskan air liur.

 

“Cho Kyuhyun” Suara Kyuhyun yang dalam terdengar parau, seakan ia belum benar-benar bangun, dan kata itu diucapkannya dengan jengkel.

 

“Um…Kyuhyun?

“Ya?”

 

Bukan jawaban yang ramah. Sungmin berusaha menelan air liurnya dan ternyata sulit melakukannya ketika lidahnya terjulur keluar. Ia menarik lidahnya masuk dan mendesah kecewa. Kemudian katanya,

“Ini Sungmin, tetanggamu. Aku tidak suka mengatakan ini padamu, tapi mungkin kau ingin…menutup tiraimu”

 

Kyuhyun berputar menghadap ke jendela, dan mereka berpandangan dari jauh. Kyuhyun tidak cepat-cepat menyingkir, atau meloncat menghilang, atau mengambil tindakan apa saja yang mungkin menunjukkan rasa malunya. Sebaliknya, lelaki itu justru nyengir. Sialan, Sungmin tidak berharap Kyuhyun melakukan itu.

 

“Kau tertangkap basah, kan?” kata Kyuhyun sambil menghampiri jendela dan meraih tirai.

 

“Ya, memang” kata Sungmin. Setidaknya ia belum berkedip selama lima menit.

 

Terima kasih” Kyuhyun menarik tirai-tirainya, dan seluruh tubuhnya lenyap dari pandangan Sungmin. “Terima kasih kembali,” Kyuhyun berdecak. “Mungkin kapan-kapan kau bisa gantian.”

 

Telepon Kyuhyun sudah ditutup sebelum Sungmin sempat menyahut. Untunglah, karena ia kehilangan kata-kata sementara menutup kerainya. Tanpa sadar ia menepuk dahinya. Ya ampun!  Yang perlu dilakukannya lain kali hanyalah menutup kerainya sendiri.

 

“Ya, sepertinya aku bodoh atau bagaimana” kata Sungmin pada BooBoo.

 

Bayangan melepaskan pakaiannya untuk lelaki itu membuat Sungmin gemetar—dan senang. Memang ia apa, ekshibisionis? Ia belum pernah melakukanya, tetapi sekarang…… bagian-bagian tertentu tubuhnya terangsang. Ia belum pernah menginginkan seks tanpa ikatan, namun nafsu tiba-tiba tertuju pada Kyuhyun si brengsek ini, dari antara semua orang. Ini membingungkan Sungmin. Bagaimana lelaki itu bisa berubah dari menjengkelkan menjadi begitu menggoda hanya dengan melepaskan pakaiannya?

 

“Sebegitu rendahnyakah aku?” tanyanya pada BooBoo. Setelah menimbang-nimbang gagasan itu sejenak, ia mengangguk. “Kau benar.”

 

Akhirnya BooBoo mengeong setuju. Sungmin melirik kembali ke arah kerai jendelanya dan berpikir, bagaimana ia bisa menatap Kyuhyun lagi tanpa mengingat bagaimana ketika lelaki itu telanjang? Bagaimana ia bisa bertemu dengan Kyuhyun tanpa tersipu-sipu atau membiarkan lelaki itu melihat bahwa ia menghadapi masalah besar terpikat pada tubuh Kyuhyun?

 

Sungmin merasa jauh lebih nyaman menganggap Kyuhyun sebagai musuh daripada sebagai objek gairah. Ia lebih suka objek gairahnya berada pada jarak yang aman……misalnya, di layar film. Tapi Kyuhyun sendiri tidak merasa malu, jadi mengapa ia harus merasa malu? Mereka berdua sudah dewasa, kan? Ia sudah sering melihat laki-laki telanjang. Ia hanya belum pernah melihat Kyuhyun telanjang. Mengapa perut lelaki itu bukannya buncit dan sedang layu, tapi justru perunya kencang berotot dan sedang menantang? Membayangkan hal itu membuat air liur Sungmin mulai keluar lagi.

 

“Ini menjijikan,” katanya keras-keras. “Aku sudah tiga puluh tahun, sudah bukan remaja yang tergila-gila… siapa pun yang sedang mereka gila-gilai sekarang. Paling tidak aku harus bisa mengendalikan kelenjar ludahku.”

 

Namun kelenjar ludahnya berpikiran lain. Setiap kali bayangan Kyuhyun muncul di kepalanya, yang terjadi kira-kira tiap sepuluh menit—ia terpaksa menikmati bayangan itu selama sekitar Sembilan detik sebelum mengusirnya—ia terpaksa menelan ludah. Berulang kali.

 

~+~+~+~

 

Sungmin terus berdoa, berharap mungkin besok ia akan bisa menghadapi Kyuhyun dengan lebih tenang. Tetapi hari ini tidak, karena tubuhnya terasa berputar-putar dan kelenjar air liurnya bekerja berlebihan setiap kali bayangan Kyuhyun muncul di kepalanya. Akhirnya ia memutuskan untuk melupakannya. Sambil membersihkan benaknya dari bayangan betapa bagusnya penampilan Kyuhyun, Sungmin menyalakan televise dan bersiap untuk berangkat kerja. Saat ini hampir semua berita pagi sedang membicarakan tentang kasus Victoria dan pembunuhan berantai. Sungmin hanya menonton berita itu dengan tidak terlalu berminat. Baginya, pembunuhan berantai hanya sekedar isu.

 

Setelah siap dan rapi Sungmin mematikan televisi, menyambar tas dan kunci mobilnya dan berjalan keluar rumah. Sungmin berjalan menuju mobilnya, dan ketika ia membuka kunci pintu mobil, ia mendengar pintu terbuka dibelakangnya dan otomatis ia menoleh. Sesaat Sungmin memandangi Kyuhyun yang sedang mengunci pintu dapurnya dengan pikiran kosong. Lalu ingatannya pulih kembali, dan dengan panik ia meraba-raba pegangan pintu.

 

“Kau merasa lebih baik hari ini?” tanya Kyuhyun sambil berjalan mendekat.

“Baik” jawab Sungmin seraya setengah melemparkan tasnya ke kursi mobil dan masuk ke belakang kemudi.

 

“Jangan taruh tas disitu,” nasihat Kyuhyun. “Kalau kau berhenti di lampu merah, orang bisa mendatangimu, menggedor jendela, merampas tas, dan menghilang sebelum kau tahu apa yang terjadi.”

 

Sungmin menyambar kacamata gelapnya dan memakainya. Untunglah kacamata itu bisa melindungi matanya sehingga ia berani menatap laki-laki itu. “Lalu sebaiknya aku taruh dimana?” tanyanya.

 

“Yang paling aman di bagasi” jawab Kyuhyun.

“Repot sekali” sahut Sungmin.

 

Kyuhyun mengangkat bahu. Gerakan itu membuat Sungmin memperhatikan betapa bidang bahu lelaki itu, dan itu mengingatkannya akan bagian-bagian lain tubuh Kyuhyun. Pipinya mulai terasa panas. Kenapa sih dia tidak bisa tetap menjadi pemabuk? Kenapa sih dia tidak masih memakai celana training dan kaus yang penuh bercak dan robek?, pikir Sungmin.

 

Dasi berwarna krem-biru-merah bata tersimpul longgar di leher Kyuhyun yang kokoh, dan satu tangannya membawa jas. Pistol hitam besar itu tersarung di pinggul kanannya. Kyuhyun tampak tangguh dan kompeten, dan sangat terlalu bagus untuk kedamaian batin Sungmin.

 

“Maaf kalau aku membuatmu malu pagi ini,” kata Kyuhyun. “Aku masih setengah tidur dan tidak memperhatikan jendela.”

 

Sungmin berusaha mengangkat bahu tidak peduli.

“Aku tidak malu. Itu ‘kan tidak sengaja” katanya.

 

Sungmin ingin pergi, tetapi Kyuhyun berdiri terlalu dekat sehingga ia tidak dapat menutup pintu mobil. Lelaki itu berdiri membungkuk diantara mobil dan pintu yang terbuka.

 

“Yakin kau tidak apa-apa? Dari tadi kau belum memakiku, dan kita sudah ngobrol selama—“ Kyuhyun melihat arlojinya sekilas. “Kira-kira tiga puluh detik.”

“Suasana hatiku sedang tenang,” sahut Sungmin. “Aku menghemat tenaga kalau-kalau ada yang penting.”

 

Kyuhyun nyengir.

“Nah, begitu dong. Sekarang aku merasa lebih baik.” Ia mengulurkan tangan dan menyentuh tulang pipi Sungmin. “Memarnya hilang.”

 

“Tidak. Hanya berkat makeup.” Sergah Sungmin.

“Jadi begitu rupanya.” Kata Kyuhyun.

 

Kyuhyun menelusurkan jari-jarinya turun ke celah dagu Sungmin dan mengetuknya pelan sebelum akhirnya menarik tangannya. Sungmin duduk terpaku. Tiba-tiba ia menyadari bahwa Kyuhyun sedang merayunya. Demi Tuhan, jantung Sungmin berdentam-dentam lagi,

 

“Jangan cium aku” kata Sungmin memperingatkan, karena laki-laki itu tampaknya semakin dekat.

 

Kyuhyun tidak bergerak, dan tatapannya terpusat pada wajah manis Sungmin dengan kesungguhan seorang pria yang ingin bertindak sedikit lebih jauh. “Aku tidak bermaksud begitu,” sahutnya, tersenyum kecil. “Aku tidak membawa cambuk dan kursi.”

 

Kyuhyun menegakkan tubuhnya dan melangkah mundur, tangannya memegang pintu mobil untuk menutupnya. Ia berhenti, menunduk memandang Sungmin. Katanya lagi, “Selain itu, aku tidak sempat sekarang. Kita harus berangkat kerja, dan aku tidak suka terburu-buru. Aku butuh beberapa jam, setidaknya.”

 

Sungmin tahu sebaiknya ia tetap tutup mulut. Ia tahu sebaiknya ia menutup pintu mobil dan menjalankan mobilnya saja. Tetapi ia justru berkata tanpa pikir panjang, “Beberapa jam?”

 

“Ya,” kembali Kyuhyun tersenyum pelan-pelan dan berbahaya. “Tiga jam bahkan lebih baik, karena aku tahu begitu aku menciummu, kita berdua langsung akan telanjang.”

 

Tbc

72 thoughts on “Mr. Perfect / part 2

  1. Huwaaaa..Kereenn.
    Kyu’a kyak’a ngarep ama min. Min’a juga tergoda oleh pesona seorang Cho Kyuhyun seperti diriku #ehh
    Dan apa itu “berakhir dengan telanjang” aww..bikin senyum2 gaje *plak

  2. Siapa tuh orng ngbunuh vic dan nulis surat cinta buat ryewook??
    Ming udh salah sangka aja tuh.. Kyu detektif disangka pemabuk.. Ckckck..
    Hyuk, sabar aja ya.. Pasti donghae akan membls perasaan mu koq #usap” punggung hyuk .. xD
    uwoww .. Sungmin lngsung bergairah cuma liat tubuh kyu? Haha😀 tubuh kyu sgt sexy sampe” matamu tak teralihkan #bhsgue😀
    eonn, aq minta PW mr. Perfect ya..
    Semuanya.. Hehe.. Aku komen semuanya koq.

  3. duh jd kepikiran sm ryeowook diincar sm pembunuh.eunhyuk putus aja sm hae,kesel bgt sm hae yg playboy.kyumin so sweet bgt.

  4. annyeong.. akku readers baru min,
    salam knal🙂
    akku udh bca bberapa ff kmu dan akku ska sm crita yg kmu sajikan buat readers, smua ny bgus” dan crita ny menarik, nggak bkin readers bosan bca ff kmu min,
    dan akku bleh mnta pw ff mr.perfect gk min?
    thanks

  5. Aaaaaa demi apa saya baca ini sambil teriak2 gaje, ih gilaaa saya saya saya melting, okeoke puasa~~~~ wkwk ah aduh gatau mau komen apa, ini otak rasanya langsung buntu seakan gue yang liat Kyuhyun telanjang tadi o.O *jder* okelah saya baca ke next aja;)

  6. Waaaaaa interaksi mereka makin ihhhh >\\\\<
    Pasti sexy yah sih cho kyu #digeplakMing
    Kyaaaaa kyuhyun vulgar banget wkwkwkwk pengen tau gmn reaksi sungmin selanjutnya😄
    Okeee ke chpt selanjutnya😀

  7. Ffnya kerennn euyy ..🙂
    Suka banget sama karakter kyu disini,penasaran sama yang ngebunuh vic jadinya.
    Boleh minta PW buat ff ini ga thor????
    Boleh ya boleh .. plisssss😥

  8. Salam kenal ka, sebenernya udah lama banget suka sama cerita2 disini. Karakter2 yg muncul engga tanggung2. Idenya juga engga monoton. Walaupun sebenernya masih berharap kaka buat cerita tentang kyumin..🙂 tetep semangat nulisnya ka. Pengen banget tetep bisa baca tentang kyumin..

  9. Min disini kesannya Manly yaa gak kyak biasanya tapi Min tetep aja manis gak ketulungan.
    penasaran sama psikopat itu siapa ? apalagi dia ngincar Wook kan.

    1 lagi BooBoo itu kucing jenis apa ya ? aku ngebayangin BooBoo itu kayak Garfield gemuk dan menggemaskan.

  10. pembunuh itu ngeri juga..eh lebih ding, gila..edan dia~
    oh tidak..wookiee selanjutnya..hati hati baby~
    waw suka kata ini “Kalau kau mencari kekasih Pria Sempurna, kau akan menyia-nyiakan sepanjang hidupmu dengan kekecewaan, karena laki-laki seperti itu tidak ada. Kau harus berkompromi sebaik mungkin, tapi akan selalu ada masalah.”
    bener banget ^^
    waw~ detektif polis cho kyuhyun. . .
    meleleh..penggambaran.a bagus sekali..
    keren keren keren ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s