Night after rain

Gambar

Pairing           : KyuMin

Genre            : Hurt or Fluff ?

Length           : Drabble

Warning          : Boys love, shounen-ai

Disclaimer        : Story belong to me, KyuMin belong to each other

Author note    : Sebenarnya ini dari sebuah catatan lama di note fb yang berjudul “Sang Pencerita”, tapi aku meremake-nya lagi menjadi KyuMin dengan sedikit perubahan dan tambahan.

Summary         : Sebuah cerita di bawah gemerlapan lampu–lampu neon yang menyinari kota yang kesepian, di sebuah malam seusai hujan.

 

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

Bau tanah basah masih tercium jelas, jejak-jejak kerinduan sang hujan pada tanah yang dahaga. Cahaya dari lampu-lampu jalan dan papan-papan billboard menyinari sudut-sudut kota yang basah. Sungmin berdiri di antara keramaian pejalan kaki yang berjalan dengan cepat, seolah sedang mengejar sang waktu. Ia menerawang menatap langit malam yang gelap, tanpa bintang-bintang yang biasanya berserakan seperti permen. Bintang-bintang yang biasanya berkelap-kelip genit di atas sana. Sungmin mendesah pelan. Kemudian ia mengedarkan pandangannya pada orang-orang disekitarnya, berharap orang itu ada di antara orang-orang yang sedang berjalan dengan cepat ini. Berjalan dengan langkah santainya, dengan sebatang rokok yang selalu ditangannya. Mungkin orang itu akan berhenti dan menoleh padanya, kemudian tersenyum dengan senyumannya yang khas. Mungkin juga orang itu akan menunggunya untuk kemudian mereka akan melangkah bersama.

 

Tapi tidak. Orang itu tidak ada dimana pun. Hampir tiga bulan ini Sungmin tidak melihat orang itu. Biasanya dia selalu ada disisinya, mengada seperti udara, tanpa perlu di minta, tanpa perlu dipaksa. Tapi kini udara itu menghilang tiba-tiba, tanpa kabar, tanpa bisa dihubungi. Orang itu menghilang setelah Sungmin menyatakan perasaannya padanya, perasaan cinta yang tumbuh sejak saat pertama ia bertemu dengan orang itu di bawah lampu-lampu neon yang menyinari malam, di sudut kota, di sebuah malam seusai hujan. Tubuhnya yang tinggi, wajahnya yang tampan dengan mata obsidian yang tajam, dan asap yang mengepul dari rokoknya…pertemuan itu tidak pernah Sungmin lupakan. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan pertemuan itu?

 

Sungmin mulai melangkahkan kakinya dengan pelan. Mata foxy-nya tidak henti merayapi setiap sudut jalan, pada keramaian disekitarnya, mencari orang itu. Tapi ia tetap saja tidak menemukannya. Sungmin mendesah pelan dan terus melangkah pergi. Terus melangkah dan membiarkan kakinya menelusuri malam, di antara hingar bingar kota yang tidak pernah terlelap.

 

Hingga akhirnya, di sisi lain kota yang tenang dan basah karena sisa-sisa hujan Sungmin menemukannya. Pria itu sedang duduk di atas motornya, menikmati sebatang rokok seraya memandang jalan. Entah dia sedang menikmati malam atau sedang berpikir. Sungmin menghentikan kakinya dan tersenyum. Akhirnya ia menemukan orang itu.

 

“Kyuhyun” panggil Sungmin.

 

Pria yang dipanggil Kyuhyun itu menoleh. Ia nampak sedikit terkejut dengan kehadiran Sungmin, namun kemudian ia tersenyum. Sungmin masih mengenali senyum itu. Kyuhyun nampak tidak berubah, masih dengan sebatang rokok di tangannya, masih menikmati malam dengan asap yang mengepul di udara.

Kyuhyun beranjak turun dari motornya. Sungmin mendekatinya dan menatap pria itu dengan rindu.

“Kemana saja kau selama ini?” tanya Sungmin.

“Tidak dimana pun” jawab Kyuhyun tenang.

 

Sungmin memperhatikan Kyuhyun yang sedang menghisap batang putih laknat itu dengan santai. Asap tipis berwarna kelabu itu melayang di udara malam yang dingin. Kyuhyun membuang abu rokoknya sembarangan kemudian menoleh pada Sungmin. Pemuda manis itu sedang memandangnya dengan wajah bingung.

 

“Kenapa bingung?” tanya Kyuhyun.

“Kau tidak ada dimana pun. Aku terus mencarimu, tapi kau tidak ada dimanapun” jawab Sungmin. Nada rindu terdengar dalam suaranya.

 

Kyuhyun kembali menghisap batang rokoknya sejenak. Ia menghembuskan asapnya ke udara dan menatap Sungmin. “Seharusnya kau tahu dimana bisa menemukanku, bukan?,” ujarnya. “Seharusnya kau sudah tahu dimana mencariku jika aku tidak lagi ada disisimu.”

 

Sungmin mengerjap sesaat. Kemudian ia menunduk memandang jalan yang basah. Bias dari cahaya lampu jalan terpantul di genangan air yang membasahi jalan. “Ya, seharusnya aku tahu” gumamnya.

 

“Benarkah kau tahu?” tanya Kyuhyun.

 

Sungmin mengangkat kepalanya dan memandang Kyuhyun. Ia menatap mata Kyuhyun dengan dalam, berusaha mencari sesuatu di dalamnya. Adakah, sedikitnya, dirinya di dalam mata obsidian yang tajam itu?

 

Kemudian Sungmin mendengus pelan dan berkata,

“Kau tahu? Ini sudah tiga bulan. Kau menghilang setelah aku menyatakan perasaanku padamu. Dan saat akhirnya aku menemukanmu, kau…tersenyum padaku seperti biasa. Kau masih tetap merokok dan tersenyum seperti biasa. Apa artinya ini?”

 

Tiba-tiba saja Sungmin merasa marah. Ia terus mencari Kyuhyun selama tiga bulan ini. Dan selama tiga bulan ini, ia masih menunggu jawaban dari pernyataan cintanya. Terus menunggu. Terus percaya bahwa Kyuhyun akan kembali ke sisinya, seperti dulu. Kyuhyun menyibak rambutnya yang ia biarkan semakin panjang. Kemudian ia memandang Sungmin selama beberapa lama.

 

“Apa kau masih menyukai hujan?” tiba-tiba Kyuhyun bertanya.

“Aku mencintai hujan” jawab Sungmin.

 

Kyuhyun diam sejenak. Ia kembali menghisap batang rokoknya yang mulai memendek, menghembuskan asap tipis kelabu ke udara untuk ke sekian kalinya. Kemudian katanya, “Ya, itu benar. Dimana ada hujan, disitulah dirimu berada. Saat hujan turun kau akan duduk tenang di pinggir jendela, memandang percik hujan yang membasahi jendela dan mulai larut dalam kesepian. Jika hujan berhenti kau akan beranjak duduk di atas atap. Menengadahkan kepalamu ke langit. Melihat bintang-bintang yang berkelip genit di langit, atau sekedar mencari pelangi”

 

Sungmin hanya mengerjap, tersentak dan sedikit malu. Pria ini begitu hafal dengan kebiasaannya pada rinai hujan. Kyuhyun kembali diam sejenak. Mata obsidiannya memandang Sungmin lekat-lekat. Dan entah kenapa, membuat Sungmin merasa sedikit bersalah. Kemudian Kyuhyun melanjutkan,

 

“Kau suka dengan kesepian. Dan hujan, kau sangat menyukainya. Aku tahu itu. Jika saja aku bisa menjadi hujan untukmu. Tapi sayangnya, aku tidak bisa menjadi hujan yang sangat kau sukai itu.”

 

Sungmin terpaku. Ada nada kecewa yang samar terdengar dalam suara Kyuhyun yang tenang. Kyuhyun menarik tangan Sungmin. Ia mendudukkan pemuda manis itu di atas motornya. Kemudian ia membelai wajah Sungmin dengan tangannya yang bebas dari batang rokoknya yang mulai memendek. Sungmin hanya menatapnya, berusaha menerka-nerka isi pikiran Kyuhyun.

 

“Kau tahu, selama tiga bulan ini aku terus berpikir tentangmu,” Kyuhyun mulai bicara. Suaranya melembut. “Aku tidak bermaksud untuk menghilang darimu, ataupun menghindarimu. Ada banyak hal yang terjadi, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Seharusnya aku menghubungimu, setidaknya sekali. Tapi aku tidak bisa melakukan itu. Maafkan aku.”

 

“Apakah aku ditolak?” tanya Sungmin.

 

Kyuhyun tersenyum kecil. Ia menghisap sejenak batang rokoknya yang telah memendek dengan satu hisapan panjang, dan kemudian menginjak batang rokoknya hingga bara apinya padamnya. Ia kembali memandang Sungmin.

 

“Aku tidak menolakmu, sayang. Tapi sebelumnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” kata Kyuhyun. “Kau tahu, rumahku tidak besar. Aku mungkin hanya mempunyai ruangan yang sempit untuk kita tempati berdua. Tidak cukup untuk kau bisa bergerak bebas. Aku hanya mempunyai satu bantal, satu kasur dan satu selimut. Apa itu cukup untuk kita berdua?

 

“Aku akan suka berbagi denganmu jika kau mau. Tapi kupikir, kita bahkan tidak memerlukan bantal ataupun selimut untuk terlelap. Karena kita akan saling memeluk, tangan kita akan saling merangkul dalam bayangan senja. Dan itu cukup hangat untuk menepiskan angin malam yang menerobos masuk, bahkan lebih panas dari bara api yang berderak di tungku perapian

 

Jika kau merasa tidak nyaman dan tidak terbiasa dengan ruang sempit itu, aku pun tidak keberatan jika kau mengambil semua tempatku jika kau menginginkan. Aku akan mengalah demi kebahagiaanmu. Karena senyummu adalah nafas bagiku. Aku akan setia menungguimu sampai tertidur sambil membelai setiap helai rambutmu, menyelimutimu dengan kecupanku. Cukup romantis ‘kan?

 

“Sekali lagi ku katakan, aku tidak memiliki rumah yang besar. aku hanya memiliki ruang sempit untuk berbagi. Tapi di hatiku, ada banyak ruang kosong yang bisa kau isi dengan apa saja. Semua ruangan itu hanya untukmu. Apa kau sudi untuk mengisinya?

 

Sungmin mengerjap, terperangah mendengar perkataan Kyuhyun yang panjang. Perkataan yang tidak pernah ia sangka sebelumnya. Sungmin menempelkan dahinya pada dahi Kyuhyun, memperpendek jarak antara mereka. Ia menatap mata Kyuhyun dan tersenyum senang.

 

“Aku mau, jika kau mau berbagi hidup denganku. Hiduplah denganku Kyuhyun, selamanya” kata Sungmin.

 

“Tentu saja. Kalau begitu, ayo kita menikah” kata Kyuhyun.

 

Sungmin terkekeh kecil mendengar lamaran Kyuhyun.

“Ini sebuah lamaran yang tidak romantis. Tapi aku menyukainya. Ayo, kita menikah” katanya. Kemudian ia mengecup pria tampan itu.

 

Bibir mereka bertemu, saling memagut dengan lembut, seakan ingin menyampaikan perasaan cinta masing-masing. Sungmin dapat merasakan rasa tembakau dalam ciuman mereka, tapi ia tidak peduli. Ia merasa sangat senang saat ini. Mereka saling tersenyum saat ciuman itu berakhir.

 

Sungmin memandang Kyuhyun, menelusuri setiap bagian dari wajah tampan itu. Ia mengulurkan tangannya membelai rambut Kyuhyun yang semakin panjang. “Kau harus memotong rambutmu. Kau terlihat berantakan dengan rambut panjang seperti ini” katanya.

 

Kyuhyun terkekeh.

“Ya, aku tahu. Rencananya aku akan memotongnya dalam waktu dekat”

“Dan berhentilah merokok. Itu tidak baik untuk kesehatanmu”

 

Kyuhyun tersenyum dan mengecup sesaat bibir plump Sungmin.

“Ya, ya…aku mengerti. Aku mengerti, sayang”

 

Mereka berciuman kembali, lembut dan lama. Saat ciuman itu berakhir Sungmin memandang mata Kyuhyun, dan ia tahu bahwa penantiannya, pencariannya tidak sia-sia. Ia telah mendapatkan jawaban dari pernyataan cintanya. Bahkan ini jawaban yang lebih baik. Sungmin tersenyum dan memeluk pinggang Kyuhyun saat pria tampan itu memacu motornya pergi dengan cepat. Mereka menjelajahi sudut kota yang kesepian dan basah. Menghabiskan sisa malam bersama, memulai sebuah cerita yang baru.

 

~Fin~

17 thoughts on “Night after rain

  1. Ming setia menunggu jawaban Kyu selama 3 bulan dan penantian itu berbalas dgn manis,,
    3bulan menunggu tanpa kepastian tapi akhirnya bisa berakhir dgn saling mencintai selamanya..
    manis ^^

  2. aaaaa…..ini bener2 manis!
    kyu disini entah kenapa aku berpikir tampang kyu di album Sorry-Sorry dengan rambut panjang bergelombangnya, manly banget!^^
    romantis juga tuh c abang!
    penggamabaran mengenai apa yang dia punya dan tawarn hati untuk ming menandakan dia pria sederhana dan bertanggungjawab

    Ayo cintai Kyumin❤

  3. Aahh . .
    Sweett ! Kyu hapal bget kbiasaannya Ming . .😀
    pas bagian mreka udh jdin mpe akhir senyum” gj sndiri krna trlalu sneng !xD

  4. ini so sweet, menikmati waktu bersama setelah hujan dengan kehangatan.
    Suka bgt ma kta2 kyu pas bilang rumahx kecil dan mungkin sungmin gk akan leluasa tapi dihatix banyak ruang kosong yg mampu sungmin isi jka mau, such a good word kyu.

  5. huaaa aku tau ini cuma ff tapi entah kenapa aku gasuka banget kalo kyuhyun dijadiin cowok perokok.. my daddy is not like that,so sad . fighting!

  6. Penantian sungmin ga sia siaaaa aaaa senangnyaaaa :”) tapi kyuhyun pake ilang segala sih -.-
    Keep writting ya. Fighting!

  7. aaaakkk jadi kebayang kyu rambut gondrong ala sorry2. hahahaha😄

    cie ming yg akhirnya cintanya kebales.

    kata2 kyu manis banget duh.

    nice ^^~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s