Rainbow Vein / page 2

Gambar

Pairing           : KyuMin / HaeMin / HaeHyuk

Genre            : Drama

Length           : Chaptered (maybe)

Warning          : Boys love, shounen-ai, OOC!Kyu, cerita yang mungkin membosankan

Disclaimer        : Story belong to me, KyuMin belong to each other

Summary        : Aku dan Kyuhyun saling bergantung karena kehidupan, karena takut berpisah, takut dikhianati, takut ditelantarkan. Kyuhyun sama sekali tidak pernah melepaskan genggaman tangan kami. Selalu bersama. Seperti selalu.

 

*sebelumnya sudah aku peringatkan, dalam ff ini karakter Kyuhyun sangat Out Of Character! Aku sengaja membuat Kyuhyun dengan karakter seperti ini untuk keperluan cerita. Yang tidak suka lebih baik menyingkir ajj, nggak usah baca.

 

 

No bash, no copas / plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t’ be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

Page 2

 

Eunhyuk menuruni anak-anak tangga dengan cepat ketika mendengar bahwa sepupunya Donghae datang ke rumah mereka. Ia bisa mendengar suara Donghae yang terdengar dari ruang tamu, sedang berbicara dengan orang tuanya. Dari tangga ia bisa melihat ibunya yang terdiam dengan wajah sedih, juga ayahnya yang terlihat sangat marah dan frustasi. Semakin ia menuruni anak-anak tangga, sosok tampan Donghae mulai terlihat. Ia tersenyum melihatnya. Namun langkahnya terhenti di ambang ruang tamu saat mendengar pembicaraan tiga orang itu. Mereka sedang berbicara tentang kakaknya yang melarikan diri dari rumah. Kakaknya yang manis, Lee Sungmin.

 

“Anak itu memang selalu membuat masalah. Beraninya dia kabur di hari pertunangan kalian. Ini benar-benar memalukan!” kata tuan Lee sangat marah. Ia mendesah sesaat. “Aku benar-benar minta maaf padamu, Donghae-ah.”

 

Donghae diam, sedikit menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan gurat kecewa di wajahnya. Kemudian memandang tuan Lee dan tersenyum maklum. “Tidak apa-apa, paman. Aku mengerti. Mungkin Sungmin hyung hanya belum siap dengan pertunangan ini” katanya.

 

Oh, Donghae sangat mengerti bagaimana sifat sepupunya yang satu itu. Sangat mengerti bahwa tidak mungkin Sungmin mau menerima pertunangan ini begitu saja. Sungmin bukan jenis orang yang mudah, dan dia selalu membuat aturannya sendiri.

Nyonya Lee mendengus pelan.

“Anak itu melarikan diri karena tidak terima dengan pertunangan ini” sahutnya.

 

“Dia hanya belum mengerti” timpal tuan Lee sedikit kesal.

 

Nyonya Lee melirik suaminya dengan kesal, seolah mengatakan bahwa semua ini adalah kesalahan pria paruh baya yang keras kepala itu. Tapi seperti ayahnya, Sungmin juga sangat keras kepala. Ia memijat pelan kepalanya yang terasa berdenyut-denyut. Rasanya selalu memusingkan bila memikirkan semua kelakuan Sungmin yang selalu membawa masalah.

 

“Sekarang bagaimana? Sungmin sudah melarikan diri, pertemuan keluarga akan dilaksanakan dua bulan lagi. Lalu apa yang harus kita katakan pada ibu? Jika kita katakan pertunangan dibatalkan karena Sungmin telah melarikan diri, ibu bisa terkena serangan jantung lagi. Dan kita akan mendapat masalah” ujar nyonya Lee.

 

Tiba-tiba Donghae berkata,

“Tolong jangan batalkan pertunangan ini. Masih ada waktu dua bulan, aku akan menemukan Sungmin hyung dan membawanya pulang. Karena itu, tolong jangan batalkan pertunangan ini”

 

Tuan dan nyonya Lee terdiam sejenak memandang Donghae, memikirkan kembali permintaan keponakan mereka itu. Kemudian tuan Lee mendesah dan akhirnya berkata, “Baiklah, aku serahkan masalah ini padamu. Temukan anak sialan itu dan bawa dia pulang! Bagaimanapun, dia tidak bisa menghindari pertunangan ini”

 

Donghae tersenyum senang mendengarnya.

“Terima kasih paman. Aku pasti akan menemukannya dan membawanya pulang” katanya.

 

Tuan Lee hanya menganggukkan kepalanya. Nyonya Lee mendesah pelan dan berdiri.

“Kepalaku pusing. Aku akan beristirahat di kamar” katanya.

 

Saat nyonya Lee menoleh ia baru menyadari kehadiran Eunhyuk yang sejak tadi berdiri di ambang ruang tamu, terdiam. “Oh, Eunhyuk?” katanya, membuat tuan Lee dan Donghae menoleh ke arah ambang ruang tamu. Akhirnya mereka menyadari kehadiran Eunhyuk.

 

Donghae berdiri dan tersenyum melihat saudara sepupunya yang cengeng itu.

“Ah, aku mendengar Donghae datang. Karena itu aku segera turun” kata Eunhyuk bersuara.

 

Nyonya Lee menoleh pada Donghae, kemudian kembali memandang putra keduanya itu. Ia menepuk pelan bahu Eunhyuk tanpa mengatakan apapun, dan beranjak ke kamarnya. Eunhyuk memandang ayahnya. Tuan Lee berdehem pelan dan berkata pada Donghae,

“Donghae, kabari aku jika kau sudah berhasil menemukan anak sialan itu”

 

“Aku mengerti, paman”

 

Tuan Lee berdiri. Donghae dan Eunhyuk membungkukkan kepala mereka dengan sopan saat pria paruh baya itu beranjak pergi ke ruangan kerjanya. Kini hanya tinggal Donghae dan Eunhyuk di ruang tamu yang besar itu. Donghae tersenyum pada Eunhyuk.

 

“Ayo kita berjalan-jalan. Hari ini cuaca cerah” kata Donghae. Eunhyuk hanya mengangguk setuju.

 

Mereka berjalan dengan santai menyusuri halaman rumah keluarga Lee yang luas. Berbagai macam bunga dan tanaman tumbuh di halaman ini, terawat dengan baik. Membuat halaman ini nampak asri dan indah.

 

“Jadi, kau akan menemukan Sungmin hyung?” tanya Eunhyuk membuka pembicaraan.

 

“Ya, itu pasti. Aku akan menemukannya, dan membawanya kembali” jawab Donghae tersenyum yakin.

 

Eunhyuk memandang Donghae dan diam sesaat.

“Kenapa? Kenapa kau harus melakukan ini?” tanyanya.

 

Donghae memandang langit yang cerah hari ini dan tersenyum.

“Tentu saja, karena Sungmin hyung adalah tunanganku. Karena aku mencintainya, bukankah itu sudah jelas?” jawabnya.

 

Donghae terus berjalan tanpa menyadari Eunhyuk tertinggal di belakangnya. Eunhyuk terdiam memandang punggung Donghae yang berjalan di depannya. Ketika akhirnya Donghae menyadari bahwa Eunhyuk tertinggal dibelakangnya, ia berhenti dan menoleh. Ia berteriak memanggilnya, tapi Eunhyuk masih tetap tidak beranjak dari tempatnya. Eunhyuk sedang memperhatikan pria muda itu, pada wajah tampannya. Wajah yang memiliki daya tarik aneh. Wajah yang lembut dan malu-malu. Wajah yang begitu di cintainya sejak kecil. Tapi sayangnya, sejak kecil mata cemerlang Donghae selalu tertuju pada Sungmin. Selalu, hanya tertuju pada kakaknya yang manis itu.

 

Eunhyuk melihat Donghae setengah berlari menghampirinya.

“Ada apa, Hyukie? Kenapa kau berhenti? Kupikir kita akan berjalan-jalan bersama hari ini” tanya Donghae saat ia telah berdiri di depan Eunhyuk.

 

Eunhyuk tidak menjawab. Ia menatap pria muda itu dan justru berkata,

“Seandainya tidak ada Lee Sungmin di dunia ini, kau akan menikah denganku”

 

“Aku tidak bisa membayangkan dunia tanpa Lee Sungmin!” kata Donghae dengan ketus.

 

Eunhyuk tersenyum. Seulas senyum kecewa. Kemudian ia melangkahkan kakinya seraya berkata,

Well, semoga kau beruntung, Lee Donghae”

 

~+~+~+~

 

Matahari bersinar cerah siang ini. Pepohonan seakan berbaris di sepanjang jalan. Bias cahaya sang matahari musim panas mengintip dari balik sela-sela dedaunannya, yang menari pelan karena semilir angin musim panas. Siang ini Kyuhyun mengajak Sungmin pergi bersamanya, untuk membeli semangkuk es serut dengan siraman sirup merah diatasnya. Es favorit Kyuhyun yang hanya ada di musim panas. Sungmin memandang Kyuhyun yang berjalan di depannya, dengan tas punggung biru yang selalu dibawanya kemana pun. Kyuhyun memainkan ranting pohon di tangannya pada pagar-pagar yang mereka lewati. Ia berhenti ketika melihat seekor anjing yang sedang menggaruk-garukkan tubuhnya ke tiang pagar.

 

“Anjing itu akan melukai tubuhnya sendiri” sahut Kyuhyun sambil menunjuk anjing itu dengan ranting pohon di tangannya.

 

Sungmin berhenti dan menatap anjing itu.

“Tidak apa-apa. Bulunya cukup tebal” timpal Sungmin.

 

Selama satu menit mereka menatap si anjing hingga ia berhenti menggaruk dan menatap balik ke arah mereka.  “Guk,” sapa Kyuhyun pada anjing itu.

 

“Guk, guk,” Sungmin menimpali.

 

Si anjing tampak kebingungan dan kemudian berlalu pergi. Kyuhyun terkekeh melihat wajah si anjing yang tampak kebingungan itu. Kemudian mereka kembali berjalan pergi. Kyuhyun kembali memainkan ranting pohon di tangannya pada pagar-pagar, tiang ataupun pohon yang mereka lewati. Sementara Sungmin berjalan di belakang Kyuhyun, memperhatikan pemuda tampan itu sambil tersenyum kecil. Kemudian ia mendongak ke atas, memandang bias cahaya sang matahari yang mengintip dari balik sela-sela dedaunan. Sungmin berpikir, mungkin saat ini ayahnya sedang marah besar karena tindakannya yang nekat ini. Sungmin tidak peduli hal itu. Tapi……

 

Perlahan Sungmin menghentikan kakinya ketika ia menyadari, ada 2 masalah di sini. Pertama, ia tidak bisa selamanya di sini. Ia tidak mungkin terus-menerus menumpang hidup di rumah Kyuhyun, meskipun mungkin ibu Kyuhyun tidak akan merasa keberatan. Wanita paruh baya yang cantik itu sangat baik dan penuh keibuan. Sungmin tahu cepat atau lambat, keluarganya pasti akan menemukannya. Dan amarah ayahnya, juga takdir yang dipaksakan telah menantinya di rumah. Dan yang kedua……

 

“……minie, Sungminie……” suara Kyuhyun menyadarkan Sungmin dari pikirannya.

 

Sungmin mengerjap, sedikit terkejut memandang Kyuhyun yang ternyata telah berdiri di depannya. Menatapnya dengan tidak sabar. “Kenapa berhenti? Kalau tidak cepat-cepat kita akan kehabisan es serut” katanya.

 

“Eh…tidak apa-apa,” kata Sungmin tersenyum. “Apakah masih jauh?”

 

“Tidak, sebentar lagi kita sampai. Ayo” Kyuhyun menggandeng tangan Sungmin dan menariknya pergi sambil berbicara tentang es serut. Sepertinya pemuda tampan itu khawatir jika mereka akan kehabisan es serut.

 

Sungmin hanya diam, berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah Kyuhyun yang cepat. Ia memandang pemuda tampan itu lekat-lekat dan kembali berpikir. Masalah yang kedua adalah, bagaimana jika ia merasa tertarik pada Kyuhyun? Semakin tertarik padanya dan kemudian mencintainya hingga ia tidak bisa meninggalkannya meski hanya sejenak. Bolehkah ia jatuh cinta pada pemuda spesial ini? Pemuda yang berbeda dari mereka yang normal. Apakah itu tidak apa-apa?

 

Langkah mereka berhenti di sebuah warung sederhana yang menjual es serut. Warung itu nampak ramai, banyak orang yang mengantri untuk menikmati semangkuk es serut dengan siraman sirup merah di atasnya. Kyuhyun dan Sungmin ikut mengantri bersama yang lain. Saat akhirnya giliran Kyuhyun dan Sungmin, paman penjual es serut itu tersenyum ketika melihat Kyuhyun.

 

“Halo Kyuhyun. Kau mau beli es serut?” sapa si paman penjual.

 

“Ya…ya, aku mau es serut. Aku mau beli es serut dengan sirup merah yang banyak” kata Kyuhyun dengan senang.

 

Paman penjual itu tertawa dan bertanya,

“Baiklah, kau mau berapa?”

 

Kyuhyun diam sejenak, berpikir. Ia menoleh pada Sungmin yang berdiri di sampingnya.

“Eum…satu, dua…” katanya, ia menunjuk dirinya dan kemudian menunjuk Sungmin.

 

Sementara itu si paman penjual menunggu dengan sabar hingga akhirnya Kyuhyun menemukan hitungannya. “Dua. Aku mau dua, paman” kata Kyuhyun seraya menunjukkan angka dua dengan menggunakan jarinya.

Si paman penjual itu tersenyum dan segera bekerja, menyiapkan dua mangkuk es serut pesanan Kyuhyun. Kyuhyun menatap si paman penjual yang bekerja dengan cepat. Tidak lama si paman penjual itu memberikan dua mangkuk es serut dengan siraman sirup merah di atasnya pada Kyuhyun dan Sungmin. Kyuhyun tersenyum lebar saat mendapatkan semangkuk es serut kesukaannya dan berterima kasih. Si paman penjual itu tersenyum. Ketika melihat Sungmin ia bertanya pada Kyuhyun, siapa dia?

 

Kyuhyun menoleh pada Sungmin dan menjawab,

“Oh, dia Sungminie”

 

Si paman penjual memandang Sungmin dan kembali bertanya pada Kyuhyun dengan nada menggoda,

“Dia manis. Apa dia kekasihmu?”

 

Kyuhyun hanya memandang paman penjual itu dengan tatapan bingung, sementara Sungmin sedikit menunduk dengan rona merah yang menjalar tipis di wajah manisnya. Ia tidak mengerti, kenapa ia harus merasa malu karena pertanyaan kecil itu?

 

Kyuhyun mengerjap tidak mengerti. Kemudian ia menoleh pada Sungmin dan bertanya, apa itu kekasih?. Sungmin terdiam dengan bingung. Jika pada orang normal pasti Sungmin akan mudah menjawab pertanyaan sederhana itu. Tapi pada Kyuhyun, itu berbeda. Menjelaskan padanya seperti menjelaskan pada anak kecil. Itu tidak mudah.

 

Pada akhirnya Sungmin tidak menjawab pertanyaan Kyuhyun dan justru menyuruh pemuda tampan itu untuk membayar. Kyuhyun merogoh saku celananya, mengeluarkan beberapa lembar uang. Ia memberikan uang itu pada si paman penjual dan beranjak pergi sambil menatap semangkuk es serut di tangannya dengan mata berbinar. Sungmin mendesah lega, sementara si paman penjual hanya tertawa. Saat Sungmin akan menyusul Kyuhyun, paman penjual itu berkata padanya sembari tertawa,

 

“Kyuhyun itu selalu tersesat. Bahkan dia pernah tersesat hingga ke Mokpo. Entah bagaimana dia bisa sampai di sana. Karena itu ibunya memakaikan gelang khusus padanya, agar saat tersesaat dia bisa kembali pulang. Dan herannya, dia selalu bisa kembali pulang. Dia unik ya?”

 

Sungmin mengerjap mendengarnya.

“Benarkah?” katanya, kemudian menoleh pada Kyuhyun yang sedang menikmati es serut miliknya di salah satu kursi. Ia menatap pemuda tampan itu, dan tersenyum. “Ya, dia memang unik. Dia spesial.”

 

~+~+~+~+

 

Setelah menikmati es serut yang segar Kyuhyun dan Sungmin pergi ke pasar untuk membeli beberapa bahan pembuat roti titipan ibu Kyuhyun. Ibu Kyuhyun memiliki toko roti, sebuah toko kecil yang cukup untuk menyambung hidup. Ibu Kyuhyun membuat sendiri semua roti-roti jualannya, dan dia sangat pandai sekali membuat roti. Roti-roti buatannya sangat enak. Bahkan wanita paruh baya itu juga mengajarkan Sungmin cara membuat roti. Sebagai ucapan terima kasihnya karena telah diperbolehkan tinggal di rumahnya, Sungmin membantu ibu Kyuhyun. Bersama Kyuhyun, ia membantu membuat roti-roti dan menjualnya di toko. Bersama Kyuhyun dan ibunya membuat Sungmin selalu berpikir, inilah keluarga yang sebenarnya. Keluarga yang hangat, sederhana namun penuh cerita. Bahagianya.

 

Setelah mendapatkan semua bahan yang diperlukan Kyuhyun dan Sungmin berjalan pulang. Kyuhyun berdendang dalam perjalanan pulang. Namun tiba-tiba Kyuhyun berhenti berdendang saat melewati sebuah rumah yang besar–sebuah mansion. Kyuhyun melambatkan langkahnya dan akhirnya berhenti di depan rumah besar itu. Sungmin ikut berhenti dan menoleh.

 

“Kenapa berhenti?” tanya Sungmin keheranan.

 

“Aku selalu ingin melihat-lihat ke dalam rumah ini,” jawab Kyuhyun sambil menunjuk rumah besar itu. “Aku ingin masuk ke dalam dan melihat semua ruangan.”

 

Sungmin menoleh memperhatikan rumah besar tersebut. Rumah itu sangat dikenal oleh penduduk desa Incheon, dan rumah yang paling besar. Memiliki kebun mawar dan danau di belakang bangunan tersebut. Pemilik rumah tersebut tinggal di Kanada dan hanya datang sekali atau dua kali setiap tahun untuk membayar gaji para pekerja pemeliharaan, tukang kebun, petugas pembersih, para pelayan, dan penjaga rumah agar bangunan itu tetap terawat.

 

Sungmin melirik arlojinya sesaat. Masih ada waktu sampai waktu makan malam tiba.

“Kalau begitu, ayo kita masuk” katanya kemudian.

 

Kyuhyun menoleh pada Sungmin, mengerjap-ngerjap seperti anak kecil yang bingung. Sungmin menatap Kyuhyun dan tersenyum. “Kau diam saja, ok?” katanya.

 

Kyuhyun menganggukkan kepalanya. Sungmin membuka pagar rumah besar itu dan menarik Kyuhyun masuk. Si tukang kebun berdiri di pintu masuk, mengawasi Kyuhyun dan Sungmin yang berjalan menghampirinya. Ia tidak berkata apa pun hingga Kyuhyun dan Sungmin berdiri beberapa kaki darinya.

 

“Ini adalah tanah pribadi” katanya.

 

“Ya, tapi aku ingin sekali melihat ke dalam,” kata Sungmin. “Bolehkah kami melihat-lihat barang sejenak?”

 

Si tukang kebun menyeka wajahnya menggunakan punggung tangannya.

“Ini tanah pribadi” katanya lagi.

 

“Aku sedang sakit parah,” kata Sungmin berbohong. “Kami hanya sebentar. Dan lagi, tidak ada lumpur di sepatu kami.”

 

Si tukang kebun menoleh ke arah rumah dan kembali menyeka wajahnya dengan punggung tangannya yang bertato setangkai bunga mawar. Ia meraih kunci di dalam saku bajunya dan berkata, “Baiklah, hanya sebentar. Lagipula, rumah itu memang perlu udara segar”

 

Sungmin memandang Kyuhyun, dan mereka saling tersenyum. Dalam perjalanan masuk ke dalam rumah besar itu, Sungmin batuk beberapa kali, berpura-pura sakit, dan Kyuhyun terkekeh kecil di sampingnya. Kyuhyun menggandeng tangan Sungmin saat memasuki ruangan-ruangan dalam rumah besar itu. Ruangan di dalamnya gelap dan dingin.

 

Si tukang kebun menceritakan usia perabot yang ada di dalam rumah besar itu. Sungmin melontarkan pertanyaan-pertanyaan kaku dengan nada tegang, sementara Kyuhyun mengerjap takjub melihat isi rumah tersebut. Ketika mereka memasuki dapur di bagian belakang rumah besar tersebut, Sungmin tahu kunjungan mereka akan segera berakhir. Sungmin menoleh, dan saat itulah ia baru menyadari bahwa Kyuhyun sudah tidak ada disampingnya. Pemuda tampan itu telah memisahkan diri.

 

Sungmin berbicara dengan si tukang kebun sejenak, kemudian berbalik ke ruangan depan untuk mencari Kyuhyun. Ia naik ke lantai atas dan menemukan Kyuhyun di dalam salah satu ruangan yang penuh mainan. Di dalam ruangan tersebut terdapat sebuah kuda goyang dan kotak-kotak penuh mainan serta dua buah ranjang ditutupi beruang-beruang Teddy dan boneka-boneka. Di depan perapian tersusun deretan botol susu berisi pasir. Di atas meja, dekat jendela yang terbuka, terhampar sebuah model kawasan pedesaan lengkap dengan stasion kereta api, kantor pos, dan toko pangan. Ada deretan toko, orang-orangan plastik, dan anjing-anjing.

 

Kyuhyun sedang berdiri di dekat meja itu, menatap model pedesaan itu dan memainkan kereta tersebut. Sungmin tersenyum dan menghampirinya. Ia menatap sejenak model pedesaan itu. Itu adalah model desa di Perancis, bukan desa di Korea. Kyuhyun menoleh saat Sungmin berdiri di sampingnya.

 

“Kenapa kau menghilang?” tanya Sungmin.

 

Kyuhyun hanya memandangnya dan mengangkat bahu.

“Ayo pulang,” kata Sungmin. “Aku tidak ingin tukang kebun itu mendapat masalah.”

 

Kyuhyun meletakkan kembali model gerbong kereta di tangannya dan beranjak keluar bersama Sungmin. Saat menuruni tangga, ia meraih lengan Sungmin. “Erm…terima kasih” katanya.

 

Sungmin tersenyum.

“Apa kau senang melihat-lihat isi rumah besar ini?”

 

Kyuhyun menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lebar.

“Hebat. Ini rumah yang sangat besar” katanya. Dan Sungmin tertawa.

 

~+~+~+~

 

“Seharusnya kau tidak menghilang seperti itu,” kata si tukang kebun saat mengantar Kyuhyun dan Sungmin ke gerbang. “Kau bisa membuatku mendapat banyak masalah.”

 

Kyuhyun membungkukkan kepalanya pada si tukang kebun dan meminta maaf.

“Maaf. Aku hanya ingin berlari naik-turun tangga. Hanya bersenang-senang” katanya.

 

Si tukang kebun menatap Kyuhyun dan mendesah.

“Baiklah,” sahutnya. “Tapi tidak baik berlarian di rumah yang bukan milikmu.”

 

“Maaf” ucap Kyuhyun lagi.

 

Setelah berterima kasih, Kyuhyun dan Sungmin beranjak pergi. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumah Kyuhyun. Sungmin menatap Kyuhyun yang berjalan disampingnya, nampak sangat senang dan puas. Bibir Sungmin melekuk tersenyum.

 

Saat tiba di rumah Kyuhyun langsung mencari ibunya di dapur. Wanita paruh baya itu sedang memasak makan malam. Ia menoleh saat mendengar suara putranya, dan tersenyum saat Kyuhyun memeluknya. Sungmin memberikan bahan-bahan yang tadi dibelinya pada ibu Kyuhyun, dan kemudian membantunya memasak. Sementara Kyuhyun mulai bercerita pada ibunya.

 

“Eomma, tadi kami pergi ke rumah besar”

 

“Oh ya?” sahut ibunya sambil menyimpan bahan-bahan yang tadi di beli. “Baguskah?”

 

“Lebih dari bagus,” kata Kyuhyun dengan senang. “Kamarnya ratusan. Aku juga melihat sebuah model desa di sana, di salah satu kamarnya.”

 

“Oh, ya?” kata ibu Kyuhyun seraya menutup lemari makanan. Ia mengambil segelas air dan memberikannya pada Kyuhyun. “Bagaimana kalian bisa masuk?”

“Tukang kebun mengizinkan kami masuk” cerita Kyuhyun.

 

“Baik sekali dia” sahut ibu Kyuhyun, membelai kepala putranya dengan sayang.

 

“Ya,” kata Kyuhyun memandang ibunya. “Dia baik sekali.”

 

Kyuhyun menggenggam gelasnya dengan kedua tangan dan meminumnya perlahan. Ibu Kyuhyun tersenyum dan kembali memasak, dengan dibantu oleh Sungmin. Saat ibunya bertanya tentang model desa itu, Kyuhyun mulai bercerita lagi tentang model desa yang memiliki gerbong-gerbong kereta, deretan toko, orang-orangan plastik, dan anjing-anjing. Sementara Sungmin tidak mengatakan apa pun sejak tadi. Ia memilih untuk mendengarkan sambil tersenyum memandang Kyuhyun. Entah kenapa ia senang mendengar Kyuhyun terus berbicara, meski bicara pemuda itu aneh dan seperti anak yang kecil yang antusias akan sesuatu. Tapi ia suka mendengarnya.

 

~+~+~+~

 

Sungmin masuk ke kamar dan melihat Kyuhyun yang masih belum tidur. Pemuda tampan itu sedang duduk di atas ranjang, asyik menggambar pada buku gambarnya. Crayon-crayon tersebar di atas ranjang, dan tas punggung biru tergeletak di atas bantal. Sungmin berjalan menghampiri ranjang.

 

“Kyuhyunie, berhenti menggambar. Ini saatnya tidur” kata Sungmin.

 

Kyuhyun diam dan terus menggoreskan crayon di tangannya, seolah tidak mendengar Sungmin. Pemuda tampan itu menghentikan tangannya saat Sungmin mulai merapikan crayon-crayon miliknya yang tersebar di atas ranjang. Ia hanya diam dan menatap Sungmin, membiarkan pemuda manis itu merapikan crayon dan buku gambarnya, memasukkan ke dalam tas punggung biru miliknya, dan kemudian meletakkan tas itu di atas meja. Ia menyelinap ke dalam selimut dan terus menatap Sungmin hingga pemuda manis itu berbaring di sampingnya, ikut menyelinap ke dalam selimut.

 

“Sungminie” panggil Kyuhyun.

 

“Hn?” jawab Sungmin, membaringkan tubuhnya menghadap Kyuhyun.

 

“Maukah kau menceritakan sebuah kisah untukku?”

 

“Kisah seperti apa?”

 

“Apa saja”

 

Sungmin beranjak duduk. Ia terdiam sesaat, mencoba mengingat kisah-kisah yang pernah di dongengkan oleh ibunya dulu. Kemudian ia mendeham dan menyenderkan tubuhnya ke belakang sebelum mulai bercerita. Kyuhyun pun ikut duduk dan memperhatikan Sungmin.


“Baiklah. Ini adalah kisah Tantalus, yang dihukum oleh dewa-dewa untuk berdiri di air setinggi pinggangnya. Di musim dingin, airnya sangat dingin dan di musim panas airnya terlalu hangat. Ketika Tantalus kehausan dan mulutnya kering, ia membungkuk meminum air dan airnya menguap. Ketika ia lapar dan meraih dahan yang dipenuhi buah-buahan lezat, dahan itu mengangkat buahnya. Makanan dan air menjauh dari jangkauannya. Dan ini terjadi selama…..”

 

“Beberapa hari,” potong ibu Kyuhyun yang datang untuk memeriksa putranya. “Sebagai hukuman karena tidak menyikat giginya terlebih dulu sebelum tidur. Apakah kau sudah menyikat gigimu, Kyu?”

 

Kyuhyun dan Sungmin menoleh. Kyuhyun memandang ibunya sesaat dan menggelengkan kepalanya. Kemudian ia beranjak turun dari ranjang dan berjalan melewati ibunya yang bersender di ambang pintu,  menuju ke kamar mandi untuk menyikat giginya. Ibu Kyuhyun hanya tersenyum dan berkata pada Sungmin,

 

“Yah, dia masih harus selalu di ingatkan untuk menyikat giginya sebelum tidur”

 

Sungmin hanya tertawa. Tidak lama Kyuhyun kembali dari kamar mandi. Ibu Kyuhyun tersenyum dan menutup pintu kamar Kyuhyun sambil mengucapkan selamat malam, Kyuhyun dan Sungmin juga mengucapkan selamat malam. Kyuhyun membaringkan tubuhnya dan berkata,


“Tantalus itu mirip dengan Sisyphus. Mereka berdua mengalami penderitaan yang sama”

Sungmin menoleh dan tertawa.

“Apakah kau teringat Sisyphus ketika kau sedang menyikat gigimu?”


“Ya, aku teringat saat sedang menyikat gigiku. Ibu pernah bercerita padaku tentang kisah Sisyphus”


Sungmin menatap wajah pemuda itu dengan perhatian.

“Kenapa kau pikir Tantalus mirip dengan Sisyphus?”


“Ya,” sahut Kyuhyun. “Aku dapat melihat dengan jelas dalam kepalaku, Sisyphus mendorong batu besar ke atas bukit dan batu itu bergulir turun lagi melewati Sisyphus. Aku dapat melihat Sisyphus berdiri di sana, menatap batu itu bergulir turun, dalam kesedihan dan kesunyian. Lalu ia mendorong kembali batu itu ke atas bukit dan batu tersebut bergulir kembali ke bawah, terus berulang dan berulang lagi. Kupikir ia pasti merasakan penderitaan yang sama seperti Tantalus”

 

Sungmin terdiam sesaat. Kemudian ia bekata, lebih terdengar seperti gumaman.

“Selalu berusaha keras hingga mencapai apa yang kau inginkan, ya?”

 

Kyuhyun hanya memandangnya. Sungmin merapikan selimut di tubuh Kyuhyun dan membaringkan tubuhnya. Ia meletakkan lengannya melingkari pinggang Kyuhyun, dan menggerakkan tangannya dengan lembut sepanjang sisi tubuh Kyuhyun. Ia menatap Kyuhyun dan tersenyum.

 

“Tutup matamu,” kata Sungmin. “Tetap tutup matamu. Dan tidurlah.”

 

“Oke” kata Kyuhyun.

 

Saat Kyuhyun menutup matanya, Sungmin mencium bibirnya dengan lembut. Sesungguhnya Sungmin tidak mengerti kenapa ia melakukan hal ini, mencium bibir seorang pemuda yang bahkan tidak tahu apa arti kekasih? Tapi saat menatap Kyuhun, ada suatu perasaan hangat yang aneh. Ia ingin tetap seperti ini sejenak, berada di dekatnya, memeluk tubuhnya. Ia ingin sekali menciumnya.

 

Kyuhyun membuka matanya. Ia menatap Sungmin dengan tatapan bingung.

“Tetap tutup matamu” ucap Sungmin.

 

Tapi Kyuhyun tidak menutup matanya. Ia terus menatap Sungmin dan berkata,

“Lakukan lagi”

 

“Apa?”

 

“Yang baru saja kau lakukan tadi. Lakukan lagi”

 

Selama beberapa lama Sungmin hanya terdiam, hingga tiba-tiba Kyuhyun menciumnya, seolah sedang mempraktekkan sesuatu yang baru dipelajarinya. Sungmin mengerjap, terkejut dengan tindakan tiba-tiba Kyuhyun. Alih-alih marah, pemuda manis itu justru tersenyum.

 

“Kau menyukainya?” tanya Sungmin.

 

Kyuhyun menganggukkan kepalanya dengan senang. Meski ia tidak mengerti apa itu ciuman, tapi ia menyukai saat bibir Sungmin menyentuh bibirnya dengan lembut. Rasanya sangat menyenangkan. Sungmin terkekeh kecil dan berkata,

 

“Tutup matamu”

 

“Oke”

 

Kyuhyun menutup matanya kembali, dan Sungmin mencium bibirnya lagi dengan lembut. Ini berlangsung agak lama. Tapi tiba-tiba Sungmin berhenti, menepuk pelan wajah Kyuhyun dua kali lalu tersenyum. Ia berbaring dan kembali melingkarkan lengannya di tubuh Kyuhyun.

 

“Selamat malam” kata Sungmin.

 

“Tapi……” kata Kyuhyun, menoleh menatap Sungmin. Tapi Sungmin sudah menutup matanya. Kyuhyun tersenyum dan kemudian berbisik pelan, “Selamat malam…”

 

~+~+~+~

 

Malam mulai larut perlahan. Eunhyuk selesai menyikat gigi dan meninggalkan kamar mandi. Saat ia membuka pintu kamarnya, ia melihat Donghae ada di dalam, sedang melihat-lihat koleksi bukunya. Ia berjalan masuk dan menutup pintu di belakangnya, sementara Donghae hanya menoleh sekilas padanya. Pria muda itu mengambil salah satu buku dan membuka-bukanya tanpa berniat membacanya.

 

“Kau belum pulang?” tanya Eunhyuk seraya mengganti pakaiannya dengan piyama.

 

“Aku menginap malam ini” jawab Donghae seraya meletakkan buku kembali ke tempatnya.

 

Eunhyuk hanya mengangguk. Sejak kecil Donghae memang suka menginap di rumahnya. Bahkan pria muda itu sudah sering keluar masuk rumah ini, dan seenaknya menyelinap masuk ke kamarnya seperti tadi. Eunhyuk berjalan ke ranjangnya dan menyelinap ke dalam selimut. Donghae menoleh dan menatapnya selama beberapa lama. Kemudian ia ikut menyelinap ke dalam selimut. Eunhyuk berguling memunggungi Donghae, dan pria muda itu merangkulkan lengannya ke tubuhnya, memeluknya dengan hangat seperti yang biasa ia lakukan saat kecil. Sejenak tidak ada yang bersuara, hanya suara deru pendingin ruangan yang terdengar mengisi ketenangan ini.

 

“Kau tak ingin melakukan apa pun bersamaku lagi sekarang,” kata Donghae bersuara. “Sikapmu terhadapku telah berubah.”

 

“Kupikir bukan diriku yang berubah. Ada sesuatu dari dirimu yang mengubahnya” sahut Eunhyuk.

 

Eunhyuk menolehkan kepalanya sesaat. Donghae sedang menatapnya seolah ia telah melakukan sesuatu yang membuatnya kecewa. Ia ingin Donghae terus menatapnya, tapi bukan tatapan seperti itu. Ia ingin Donghae menatapnya dengan lembut seperti saat pria muda itu menatap Sungmin, dan bukan tatapan yang seperti itu.

 

“Jangan menatapku seperti itu” kata Eunhyuk, menolehkan kepalanya kembali.

 

Donghae tersenyum, tidak menyadari nada getir dalam suara Eunhyuk.

“Kenapa? Apa yang salah? Katakanlah. Kita tidak punya rahasia, bukan?” katanya.

 

Eunhyuk hanya diam. Jantungnya berdegup semakin keras saat Donghae merapatkan tubuhnya. Ia bisa merasakan napas Donghae yang berhembus hangat di lehernya. Ia memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur. Saat ia hampir terlelap Donghae mencium kepalanya dan berbisik di telinganya,

 

“Selamat malam, Hyukie”

 

Eunhyuk membuka matanya. Untuk beberapa lama ia hanya diam, tidak bergerak. Kemudian ia menoleh perlahan saat mendengar suara dengkur halus. Donghae telah terlelap dengan cepat. Eunhyuk membalik tubuhnya menghadap Donghae. Ia mengatur lengan Donghae agar tetap memeluk tubuhnya, dan kemudian menatap wajahnya. Wajah yang tampan. Wajah yang memiliki daya tarik aneh. Wajah yang lembut dan malu-malu. Wajah yang ia sukai.

 

“Dasar bodoh. Lee Donghae yang bodoh” gumamnya pelan. Ia mulai memejamkan matanya kembali, membiarkan dirinya tertidur dalam pelukan Donghae. Rasanya nyaman sekali.

 

tbc

56 thoughts on “Rainbow Vein / page 2

  1. kesininya ada perbedaan ternyata dgn FF melani eon😀 hah~ KyuMin momentnya manis banget >//< apalagi waktu kisseu , OMO!! *o* hurrr senengnya bukan main wakakaka😀 wuih kesian Hyukkie~ T^T sabar hyukkie u,u kau akan mendapatkan cinta donghae cepat atau lambat ;;)

  2. Hae bener-bener nggak peka dg perasaan Hyukkie😦 aigoo.. kasian Hyukkie.

    Ah.. sepertinya Ming udah mulai jatuh cinta pada Kyu. Sayangnya, Kyu blm mengerti apa itu cinta. Dan ciuman itu.. kalo menurutku, Kyu menyukainya karena “rasanya menyenangkan” saja. tapi belun tahu apa makna dari ciuman itu.

  3. Baru tau klo udah update..hehe
    Aih..ming kabur dari acara pertunangannya sama hae..semoga ga cepet2 ditemuin deh..
    Ming nyium kyu sebelum tidur.aigoo..manisnya..si kyu malah minta lagi..dasar duo mesum xD

    Hyuk suka sama hae tp hae mau ditunangin sama ming..udahlah hae..kamu sama hyukkie aja..biar ming sama kyunnie..

  4. pas chap 1 Ming monolog pertemuan pertama mereka panas 3 tahun lalu, lanjut flashback sampe chap 2 ini yah? ^^
    aaaaaaa KyuMin manisss bangett
    scene pertama chap 1 aku bingung, KyuMin udah nikah apa yah? xD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s