wedding in a haunted house

Gambar

Cast : Yesung, Lee Sungmin, Cho Kyuhyun, Kim Ryeowook, Lee Donghae, Lee Hyukjae (Eunhyuk) || Genre : Misteri || Length : One Shoot || Warning : Boys love, shounen-ai, AU || Disclaimer : Remake dari cerpen kriminal yang berjudul sama karya Edward D. Hoch || Author note : kata aku dalam ff ini berarti Yesung POV || Summary : Cerita ini dimulai dari Yesung yang menjadi saksi dari pernikahan sahabatnya Donghae di Eden House, sebuah rumah kuno milik pasangan suami-istri Kyuhyun dan Sungmin. Namun saat pernikahan itu akan dimulai mereka menemukan seorang pria tergeletak di tengah ruangan bangsal Eden House, dengan pisau belati perak tertancap di dadanya.

 

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

Dr. Kim Yesung membuka pintu dan segera mengenali orang yang menekan bel, padahal mereka sudah tidak bertemu, selama 13 tahun! Ia tersenyum ramah pada orang tersebut dan membuka lebar pintu rumahnya.

 

“Ah, ayo masuk!” ajaknya.

 

Ia mempersilahkan tamunya duduk dan memanggil pelayannya. Tidak lama si pelayan datang dengan membawa secangkir teh yang masih mengepul dan meletakannya di depan tamu tuannya, lalu segera beranjak pergi. Yesung memandang tamunya yang nampak tidak terlalu banyak berubah, meski 13 tahun sudah terlewat. Tetap terlihat manis dan mempesona. Lalu ia berkata,

 

“Sudah lama ya, kita tidak bertemu! Sejak di Northmont itu. Tidak, tidak, kau tidak menganggu. Aku juga sedang menunggu seorang teman yang sering mampir kemari untuk mendengarkan kisah-kisah lama. Anehnya, hari ini aku akan bercerita tentangmu dan kejadian pada hari pernikahan Donghae itu.”

 

Sang tamu menyesap tehnya perlahan. Ia meletakan cangkirnya kembali ke atas meja dengan pelan, lalu memandang Yesung seolah mempersilahkan dokter itu untuk memulai ceritanya. Maka Yesung pun mulai bercerita. Sebuah cerita lama yang tak terlupakan.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

Northmont. Sabtu, 14 Desember 1929.

 

Hari itu aku bangun pagi-pagi sekali, karena sahabatku Lee Donghae memintaku untuk menjadi saksi pernikahannya. Lee Donghae adalah seorang sheriff di wilayah kami dan beberapa tahun lebih muda dariku. Calon ‘istrinya’ adalah seorang pemuda ceria bernama Lee Hyukjae, atau biasa dipanggil dengan Eunhyuk. Eunhyuk adalah kepala kantor pos wilayah kami. Eunhyuk belum pernah menikah, sementara Donghae adalah duda tanpa anak. Sesuai dengan keinginan Eunhyuk, pernikahan mereka akan dilangsungkan di bangsal segi delapan Eden House yang termashyur itu.

 

Eden House adalah sebuah rumah kuno yang terletak di pinggiran kota. Rumah indah itu dibangun pada pertengahan tahun 1800-an. Bangunan itu sangat sederhana. Ruang berbentuk segiempat yang awalnya dirancang untuk ruang studi itu, pada setiap sudutnya dipasangi lemari berpintu cermin yang tingginya mencapai langit-langit. Lebar pintu lemari-lemari itu sama dengan lebar dinding yang diapit lemari-lemari tersebut, sehingga bangsal itu menjadi benar-benar berbentuk segiempat.

 

Bila masuk ke bangsal melalui satu-satunya pintu yang terbuka ke arah luar, pandangan orang akan langsung terarah ke sebuah jendela besar yang meneruskan sinar matahari ke seluruh bangsal. Pada dinding-dinding antar lemari tergantung lukisan-lukisan abad ke-19. Di balik pintu-pintu lemari tersusun rak-rak setinggi langit-langit, yang berisi buku-buku, vas, taplak meja, barang-barang perak, keramik, dan segala macam perhiasan kecil-kecil. Bangsal itu sendiri nyaris kosong, hanya terlihat sebuah meja kecil dengan sebuah vas bunga segar di dekat jendela.

 

Paling tidak itulah yang terlihat ketika aku datang dan melihat-lihat ruangan itu beberapa hari sebelum upacara pernikahan. Yang mengantarku ketika itu adalah Cho Kyuhyun, cucu pendiri bangunan itu.

 

~+~+~+~

Sebelum kami meninggalkan ruangan, aku memperhatikan Kyuhyun yang sedang memeriksa gerendel jendela, memastikan apakah sudah terkunci dari dalam. Pintu bangsal itu memiliki sebuah kunci dan gerendel di bagian dalamnya. Pintu itu tidak bisa di gerendel dari luar, hanya bisa di kunci dengan sebuah kunci panjang.

 

“Membiarkan hantu-hantu terkunci di dalam?” tanyaku iseng. Menurut cerita, ruangan itu ada penunggunya.

 

Kyuhyun tersenyum kecil.

“Ada sejumlah barang antik yang sangat berharga dalam lemari-lemari itu,” katanya. “Aku selalu menguncinya bila sedang tidak digunakan.”

 

Kyuhyun menyimpan kunci panjang itu di dalam sakunya lalu mengajakku pergi. Di tangga depan kami bertemu dengan Sungmin, ‘istri’ Kyuhyun. Sungmin selalu tampil ceria, sehat, dan manis. Dia benar-benar seorang pemuda yang sangat manis dan mempesona, yang membuatku senantiasa iri kepada Cho Kyuhyun.

 

“Ini waktunya minum teh.” Kata Sungmin memberitahu.

 

“Oh, benar. Ayo.” Ajak Kyuhyun padaku.

 

Aku pun mengikuti langkah Kyuhyun dan Sungmin menuju ruang depan. Di atas meja telah terhidang sepoci teh dan sepiring kue kering. Sembari menikmati teh dan kue, aku mendengarkan Sungmin yang mulai bercerita tentang awal pertemuannya dengan ‘suaminya’ Kyuhyun. Aku menatap pemuda manis itu dan mendengarkan dengan perhatian, dan sedikit merasa iri pada kemesraan mereka.

 

“Kami bertemu di sekolah dan tak lama kemudian kami menikah.” Kata Sungmin.

 

“Secepat itu?” kataku mengerjap, sedikit terkejut.

 

“Yah, tidak juga. Kami menikah setelah 5 bulan berpacaran. Benar ‘kan, Kyu?” Sungmin menoleh pada suaminya yang duduk disampingnya. Kyuhyun hanya tersenyum mengangguk dan merangkul bahu Sungmin dengan mesra.

 

Seorang pelayan datang dan berbicara sesuatu pada Kyuhyun, kemudian segera beranjak pergi. Kyuhyun mendesah pelan. “Ada apa?” tanya Sungmin.

 

“Bukan apa-apa. Hanya Siwon yang datang dan ingin bertemu denganku.” Jawab Kyuhyun.

 

Sungmin mendengus sesaat.

“Pasti dia kalah taruhan pacuan kuda lagi dan datang untuk memijam uang. Selalu seperti itu ‘kan?”

 

“Jangan sinis begitu, sayang. Aku akan menemuinya sebentar, okay?” Kyuhyun mengecup kepala ‘istrinya’ sesaat, lalu beranjak pergi.

 

Aku menyesap tehku dan hanya memperhatikan mereka. Saat meletakkan cangkirku kembali ke atas meja, aku iseng bertanya pada Sungmin tentang keluarga Kyuhyun. Sungmin terdiam sesaat sebelum akhirnya ia kembali bercerita seraya memandang ke dalam cangkir tehnya. Ayah Kyuhyun, Marcus, meninggalkan keluarganya seusai perang dan lebih senang menetap di Paris bersama seorang penari yang dia jumpai di sana. Sementara ibu Kyuhyun yang malang sangat menderita karena penyakit influenza pada tahun 1919.

 

“Ketika Kyuhyun masih di college, pihak pengadilan menyatakan bahwa ayahnya meninggal, walaupun tidak terdapat bukti-bukti tentang kematiannya,” kata Sungmin. Ia mengangkat kepalanya memandangku. “Eden House diwariskan kepadanya dengan sejumlah kecil warisan lainnya. Sebenarnya, aku pernah mengatakan pada Kyuhyun untuk mengubah seluruh rumah menjadi sebuah restoran, jika undang-undang yang melarang perdagangan minuman keras dicabut.”

 

“Lalu, apakah Kyuhyun setuju?” tanyaku.

 

Sungmin tersenyum sesaat. Lalu jawabnya,

“Ya, tentu saja dia setuju.”

 

~+~+~+~

 

Jumat malam kami beramai-ramai melakukan latihan upacara pernikahan di Eden House. Sungmin membuat Eunhyuk dan Donghae terkejut dengan memberikan hadiah pernikahan berupa selimut kapas yang dibuatnya sendiri.

 

“Oh, ini bagus sekali!” Eunhyuk memuji. “Kami akan menaruhnya di ranjang kami. Terima kasih, Sungmin.” Ia memeluk Sungmin dengan senang, dan Sungmin hanya tersenyum.

 

Menjelang latihan selesai, pendeta yang angkuh itu mendekatiku dan mengingatkan, “Dr. Kim Yesung, kebaktian besok pagi harus tepat di mulai pukul 10.00. Siangnya saya ada acara pernikahan lain di Shinn Corners. Di sebuah gereja.”

 

Aku hanya menganggukkan kepalaku mengerti dan menatapnya ketika pendeta itu beranjak pergi. Dia benar-benar angkuh, pikirku sedikit kesal.

 

Setelah latihan selesai dan semua orang telah meninggalkan bangsal, dengan hati-hati Kyuhyun mengunci pintu bangsal, lalu berjalan bersama kami menuju ke mobilku. Ia merangkul bahu Sungmin yang berdiri disampingnya dan berkata kepada kami sambil tersenyum,

 

“Sampai jumpa besok pagi.”

 

~+~+~+~

 

Esok harinya aku bangun pagi-pagi sekali karena aku telah berjanji untuk menjemput Luna, perawat yang membantuku, untuk berangkat bersama ke pernikahan itu dengan mobilku. Setelah menjemput Luna, aku mengendarai mobilku untuk menjemput sang pengantin di rumahnya. Saat Donghae keluar dari rumahnya, aku terkejut melihatnya. Sungguh mati, aku belum pernah melihat sheriff itu berdandan setampan pagi itu.

 

“Kita harus segera berangkat jika tidak ingin terlambat.” Luna berkata seraya melihat arloji saku miliknya.

 

“Oh, benar. Ayo cepat.” Donghae berkata. Ia pun segera naik ke dalam mobil.

 

Aku melirik pada Donghae saat mulai menjalankan mobilku. Wajah tampan Donghae yang nampak tidak sabar dan tegang itu membuatku tersenyum. Ketika kami berhenti di depan Eden House, Eunhyuk melangkah keluar dari mobil sedan milik temannya, Kim Ryeowook. Ryeowook juga akan menjadi saksi bersamaku di pernikahan nanti.

 

Donghae dan Luna turun dari mobil, dan segera beranjak masuk ke dalam Eden House bersama Eunhyuk. Sementara Ryeowook bersandar di mobilnya, menungguku yang sedang memarkir mobil. Setelah memarkir mobil, aku segera bergabung dengan Ryeowook. Saat kami baru saja hendak melangkahkan kaki Eunhyuk muncul lagi di pintu depan dan tampak sedikit gusar.

 

“Mereka tidak bisa membuka pintu bangsal itu. Pintu itu terkunci atau entahlah.” Katanya.

 

Aku segera beranjak masuk ke dalam rumah, sementara Ryeowook berusaha menenangkan Eunhyuk yang gusar. Di depan pintu bangsal itu aku melihat Sungmin dan suaminya berdiri kebingungan. Kyuhyun menoleh ketika menyadari kedatanganku.

 

“Pintunya tak bisa dibuka,” kata Kyuhyun. “Ini belum pernah terjadi sebelumnya.”

 

“Boleh aku mencobanya?” tanyaku seraya mengulurkan tanganku, meminta kunci pada Kyuhyun.

 

Kyuhyun memberikan kuncinya padaku dan membiarkanku mencoba membuka pintu bangsal itu. Tapi meski kunci bisa diputar dan bekerja dengan baik, pintu masih belum bisa dibuka. “Di dalamnya ada gerendelnya, bukan?” tanyaku.

 

“Ya,” jawab Kyuhyun. “tetapi gerendel itu hanya bisa digunakan dari dalam. Padahal di dalam tidak ada orang.”

 

“Kau yakin di dalam tak ada orang?” tanyaku lagi pada Kyuhyun.

 

Kyuhyun dan Sungmin saling berpandangan.

“Aku akan mengintip dari belakang lewat jendela.” Kata Sungmin, lalu segera beranjak pergi.

 

Pada saat itu si pendeta angkuh itu berjalan masuk, sambil melirik arloji saku yang dipegangnya.

“Saya harap, kita tetap sesuai dengan jadwal. Anda tahu, saya ada acara siang ini di—“

 

“Hanya terlambat sebentar,” kataku memotong perkataannya yang, menurutku, sedikit menyebalkan. “Sepertinya pintunya macet.”

 

Tidak lama Sungmin kembali dengan napas memburu.

“Tirainya tertutup, Kyu. Kau tidak meninggalkannya dalam keadaan tertutup, bukan?” katanya pada suaminya.

 

Kyuhyun mengernyit mendengarnya.

“Tentu tidak! Pasti ada orang di dalam.” Katanya tegas.

 

“Tapi, bagaimana ia bisa masuk?” tanyaku. “Aku tahu kau mengunci jendela itu kemarin, Kyuhyun.”

 

“Jendela pun masih terkunci,” ujar Sungmin memastikan.

 

Wajah si pendeta mulai kecut. Lalu katanya pada Kyuhyun,

“Kalau perlu, dobrak saja pintunya.”

 

Kyuhyun menggedor-gedor pintu itu sambil berteriak.

“Hey! Buka pintunya! Kami tahu ada orang di dalam!”

 

Namun, tidak ada jawaban. Hanya kesunyian dari balik pintu.

“Jangan-jangan perampok,” duga si sheriff Donghae. “Mungkin dia terpojok dan takut keluar.”

 

“Kita bisa mendobrak masuk lewat jendela,” usulku.

“Jangan!” kata Sungmin. “Kecuali kalau terpaksa. Kami tidak bisa memperbaiki jendela itu sebelum hari senin, apalagi sekarang bulan Desember. Angin ribut yang datang mendadak akan memporak-porandakan ruangan ini. Coba lihat, bukankah kita bisa menarik pegangan pintu ini? Gerendel di balik pintu ini tidak terlalu kuat.”

 

Dengan tali yang kami ikatkan pada gagang pintu, aku bersama Kyuhyun dan Donghae menariknya sekuat tenaga. Tiba-tiba pintu terbuka, melemparkan kami ke belakang. Setengah berlari Kyuhyun dan aku masuk ke dalam diikuti Sungmin.

 

Meski hanya diterangi sinar redup yang berasal dari jendela yang tertutup tirai, kami bisa melihat sesosok tubuh pria tergeletak di tengah ruangan. Kedua tangan dan kakinya terpentang, tubuhnya terbungkus pakaian seorang gelandangan. Aku belum pernah melihat orang itu. Tapi pisau belati perak yang tertancap di dadanya membuatku yakin bahwa orang itu sudah mati.

 

~+~+~+~

 

Aku berjalan di sisi mayat itu, menyebrangi ruang yang agak gelap itu menuju ke jendela dan membuka tirainya. Jendela satu-satunya itu memang tergerendel dari dalam. Meski ujung gerendel cuma masuk setengahnya ke lubang, tapi jendela itu terkunci dengan kuat. Gerendel itu bisa ditarik dengan mudah, lalu aku mencoba menutupnya dari luar. Ternyata kusen dan jendela rapat satu sama lain, tanpa ada celah sedikit pun. Kacanya pun masih utuh.

 

Aku kembali ke tengah ruangan dan memandang ke arah pintu. Pintu itu hanya bisa di buka ke arah luar, sehingga tidak ada tempat untuk bersembunyi, pikirku.

 

“Kau tidak memeriksa mayat itu?” tanya Kyuhyun padaku.

 

Aku menoleh dan menjawab,

“Aku tahu dia sudah mati. Sekarang yang lebih penting adalah memeriksa ruangan ini.”

 

Aku tertarik dengan gerendel pintu yang terungkit dari papan kayu akibat tarikan kami. Gerendel itu menggantung pada kusen pintu. Dua buah sekrupnya terlepas. Melihat lubang-lubang dan bekas guratan kayu pada uliran sekrup, aku yakin sekrup itu tadinya kuat mencengkram daun pintunya.

 

Aku melihat seutas tali terikat di gagang pintu. Aku mencoba mengingat-ingat, apakah tali itu sudah ada di sana kemarin malam? Rasanya tidak, tetapi aku tidak yakin.

 

Si pendeta angkuh itu berjongkok di samping mayat dan memperhatikannya.

“Dia memang sudah mati,” katanya.

 

“Sudah beberapa jam, kalau melihat warna kulitnya. Apakah ada yang mengenali orang ini?” aku menimpali.

 

Sungmin dan Kyuhyun menggelengkan kepala, sementara si pendeta bersungut-sungut.

“Mungkin gelandangan yang masuk kota,” katanya. Lalu katanya seraya melirik Donghae, “Sheriff Donghae, seharusnya anda tidak membiarkan—“

 

“Aku kenal orang itu,” ujar Ryeowook dari arah pintu, memotong perkataan si pendeta. Ia datang bersama Eunhyuk yang nampak sedikit lebih tenang.

 

Semua orang menoleh ke arah pintu. Eunhyuk segera menghambur ke pelukan Donghae.

“Siapa dia?” tanyaku.

 

“Bukannya aku kenal, tetapi aku cuma pernah melihatnya,” jawab Ryeowook seraya berjalan mendekat. Kemudian katanya seraya menunjuk mayat itu, “Kemarin aku melihat dua orang pria sedang berjalan di dekat rel. Dua-duanya gelandangan, aku kira. Aku ingat rambutnya yang panjang seperti serabut itu, juga rompi merah dekil, dan parut-parut kecil di wajahnya.”

 

Kyuhyun menghampiri mayat itu dan berlutut disisinya. Mataya memperhatikan pisau belati perak yang menancap di dada mayat itu. “Pisau ini seperti alat pembuka surat dari salah satu lemari kami,” katanya mengenali pisau itu. “Sayang, tolong kau periksa, apakah alat itu masih ada.”

 

Sungmin melangkah hati-hati melewati mayat, lantas membuka pintu lemari di sebelah kiri jendela. Setelah meraba-raba sebentar ke dalamnya, ia berkata, “Tidak ada. Mungkin ada barang lain yang juga hilang. Aku tidak yakin.”

 

Sungmin terdiam sesaat. Kemudian katanya,

“Kyu, mungkin sebaiknya kita periksa keempat lemari di ruangan ini.”

 

“Untuk apa?” tanya Kyuhyun, menoleh pada ‘istrinya’.

 

Sungmin menatap suaminya dan berkata,

“Yah, kalau si pembunuh tidak bersembunyi di dalam salah satu rak lemari besar ini, tampaknya kita berhadapan dengan suatu pembunuhan yang dilakukan di dalam ruangan yang terkunci dan tak bisa di tembus.”

 

~+~+~+~

 

Kami meneliti keempat lemari dengan cermat, tetapi tidak menemukan seorang pun yang bersembunyi di sana. Aku juga memeriksa apakah ada lemari yang punggungnya palsu, tetapi hasilnya nihil. Setelah kami selesai memeriksa, aku pun merasa yakin bahwa si pembunuh tidak bersembunyi di dalam ruangan. Bangsal itu tidak memiliki jalan atau pintu rahasia untuk keluar. Hanya ada satu pintu dan satu jendela yang masing-masing bisa digerendel dari dalam.

 

Setelah selesai mempelajari gerendel pada jendela, aku berjongkok di dekat pintu memeriksa seutas tali yang aku temukan melilit gagang pintu. “Apakah tali ini selalu ada di sini?” akhirnya aku bertanya pada Sungmin.

 

Sungmin menatap tali itu dan menjawab,

“Tidak, itu bukan milik kami,” ia terdiam sejenak. “…entah kalau Kyuhyun mengikatkannya di sana untuk suatu keperluan.”

 

Namun setelah ditanya, ternyata Kyuhyun pun tidak melakukannya. Aku kembali memperhatikan tali itu dan berpikir, satu atau dua tahun sebelumnya aku pernah membaca sebuah novel misteri karangan S.S. Van Dine berjudul The Canary Murder Case. Buku itu membuat gambaran tentang bagaimana sepasang penjepit dan seutas tali dipakai untuk memutar gagang pintu dari luar sebuah ruangan. Sebuah ide yang cerdik, tetapi tidak bisa diterapkan dalam kasus ini.

 

Aku mencoba membayangkan bagaimana mengunci satu pintu dengan melilitkan tali pada gerendel, lalu menariknya dari luar. Namun, tali yang aku temukan tak cukup panjang untuk itu. Kecuali itu, pintu begitu rapat ke kusennya, bahkan tak ada celah sedikit pun untuk bisa dilalui tali itu. Juga di bawah pintu bagian dalam, sebatang kayu kecil terpaku pada lantai. Tampaknya untuk mengurangi aliran udara yang masuk lewat celah di bawah pintu. Saat sedang memeriksa ruangan, aku menemukan seutas tali yang lebih panjang, lantas aku menyelipkannya di bawah pintu dan aku mencoba menutupnya. Hasilnya, pintu menjadi tertutup rapat sekali, hingga tali tidak bisa ditarik.

 

~+~+~+~

 

Walaupun Eunhyuk sangat menyukai bangsal segi delapan itu, tetapi ia tidak mau menikah di tempat yang masih belum kering dari darah. Si pendeta angkuh merasakan semacam kemenangan dengan dipindahkannya upacara itu ke gereja. Upacara pernikahan itu pun berjalan dengan lancar.

 

“Bagaimana rasanya menikah lagi?” tanyaku kepada Donghae setelah upacara pernikahan selesai.

 

“Luar biasa!” kata Donghae sambil memeluk mesra ‘istrinya’. “Tetapi sepertinya kami harus menunda bulan madu kami.”

 

“Kenapa?”

 

“Yah, aku masih sheriff di sini, dan ada pembunuhan di depan mataku.”

“Kau bisa terus untuk berbulan madu, sheriff. Bukankah masih ada wakil-wakilmu yang bisa menanganinya?”

 

“Mereka berdua?” Donghae mendengus. “Mereka tidak akan bisa menemukannya!”

 

Aku menghela napas dalam-dalam.

“Jangan khawatir, aku yang akan menangkapnya.” Kataku kemudian.

 

Donghae mengernyit menatapku.

“Maksudmu, kau tahu siapa pembunuh orang itu? Juga bagaimana pembunuhan dilakukan di tempat yang terkunci?”

 

“Tentu,” kataku. “Jangan khawatir soal itu. Sebelum malam tiba kita sudah bisa memasukkan pembunuh itu ke dalam penjara.”

 

Donghae tersenyum dan menepuk pelan bahuku, seolah berterima kasih. Aku hanya tersenyum. Namun, di dalam hati aku berpikir bagaimana aku akan memenuhi janji itu. “Aku mau mencari Ryeowook.” kataku kemudian.

 

Donghae dan Eunhyuk hanya menganggukkan kepala mereka, dan membiarkanku pergi. Setelah menemukan Ryeowook, aku menarik tangannya dan mengajaknya naik ke mobilku. Ryeowook hanya menurut dan naik ke dalam mobilku. Aku pun segera menjalankan mobilku pergi meninggalkan Eden House.

 

Namun beberapa saat kemudian Ryeowook mengernyit saat memperhatikan jalan.

“Ini bukan jalan menuju tempat resepsi,” katanya.

 

“Ada yang lebih penting daripada resepsi itu,” kataku seraya mengemudi. “Kau bilang kau pernah melihat orang yang mati itu berjalan bersama dengan seseorang.”

 

“Seorang gelandangan lain.”

 

“Apa kau bisa mengenalinya lagi, jika bertemu dia?”

 

Ryeowook mengernyit sesaat.

“Aku tidak tahu. Mungkin. Aku ingat betul, bagian belakang kepalanya botak dan sebuah syal kotak-kotak melilit lehernya.”

 

Aku tersenyum.

“Kalau begitu, ayo kita temui dia.”

~+~+~+~

 

Aku membawa mobilku menyusuri jalan di sisi stasiun kereta api, keluar kota menuju ke perkampungan gelandangan yang berada di antara pepohonan. Aku menghentikan mobilku dan berkata pada Ryeowook sebelum beranjak turun,

 

“Kau tunggu disini. Aku tidak akan lama.”

 

Ryeowook menganggukkan kepalanya mengerti. Aku beranjak turun dari mobil dan menyusuri jalan setapak sambil berjalan secara terang-terangan di antara pepohonan, agar orang-orang yang ada di sekitar api unggun itu tidak panik dan melarikan diri. Salah seorang dari mereka yang menghangatkan tangannya di dekat nyala api berpaling ketika aku mendekat.

 

“Mau apa?” tanyanya.

 

“Saya dokter.” Jawabku.

 

“Di sini tidak ada yang sakit.”

 

“Saya sedang mencari seorang laki-laki yang lewat jalan ini kemarin. Dia memakai syal kotak-kotak dan kepalanya botak.” Aku menambahkan, “Tidak memakai topi.”

 

“Tidak ada orang dengan ciri-ciri seperti itu,” katanya. “Mau apa? Dia tidak sakit, bukan?”

 

“Kami tidak tahu dia sakit atau tidak. Itu sebabnya kami mencoba mencarinya.”

 

Seseorang lagi datang mendekat ke perapian. Tubuhnya kecil dan bicaranya gugup.

“Sepertinya yang dia maksud itu Mercy, bukan?” katanya.

 

“Diam kau!” bentak orang yang pertama aku temui. “Siapa tahu dia mata-mata dari perusahaan kereta api.”

 

“Saya bukan mata-mata atau apalah namanya,” kataku menegaskan. “Coba lihat.” Dari dalam saku aku mengeluarkan bloknot resep yang bertuliskan nama dan alamatku pada kopnya. “Tidakkah ini menyakinkanmu bahwa saya adalah dokter?”

 

Orang yang pertama tiba-tiba berubah licik.

“Kalau benar kau seorang dokter, tuliskan resep bagi kami untuk sejumlah wiski.”

 

“Ini hanya untuk obat-obatan,” kataku mulai merasa agak khawatir ketika orang ketiga muncul dan berjalan mengitariku.

 

Tiba-tiba terdengar Ryeowook membunyikan klakson. Sadar bahwa aku tidak sendiri, ketiga orang itu segera kabur. Aku sempat menangkap orang yang bertubuh kecil, karena ia paling dekat denganku. Lantas aku bertanya,

 

“Dimana Mercy?”

 

“Lepaskan!” katanya meronta.

 

Aku mencengkram lengannya semakin erat.

“Katakan dulu, baru kulepaskan. Dimana dia?”

 

“Di rel bawah sana dekat menara air. Dia sedang menanti temannya.”

 

~+~+~+~

 

Aku berlari kembali ke mobil dan menghela napas lega. Ryeowook memandangku dengan sedikit cemas. “Terima kasih atas bunyi klaksonnya,” kataku pada Ryeowook.

 

“Aku merasa takut ketika mereka mulai mengepungmu.” Kata Ryeowook.

 

“Ya, aku juga,” kataku seraya menyalakan mesin mobil dan menjalankannya pergi. “Orang yang kita cari mungkin ada di dekat menara air.”

 

Ryeowook hanya menganggukkan kepalanya dan memalingkan pandangannya pada jalan di depannya, memperhatikan sepanjang jalan yang kami lewati. Aku memperlambat laju mobilku ketika menara air itu mulai tampak. Tiba-tiba kami melihat seorang pria paruh baya yang mengenakan jas kumal keluar dari persembunyiannya, berlari ke arah hutan.

 

“Aku pikir mungkin dialah orangnya!” teriak Ryeowook.

 

Aku menginjak pedal gas dan memacu mobil mengikuti orang itu. Kemudian aku berhenti, beranjak turun dan berlari mengejarnya, sementara Ryeowook tidak beranjak dari tempatnya, memperhatikan orang itu dari dalam mobil. Orang itu meronta-ronta dalam cengkramanku sambil merengek-rengek saat aku berhasil mengejarnya.

 

“Saya tidak berbuat salah!” katanya.

 

“Kau yang bernama Mercy?” tanyaku.

 

“Ya, kira-kira begitu.”

 

“Aku tidak akan menyakitimu, hanya ingin bertanya.”

 

Pria paruh baya itu berhenti meronta dan memandangku.

“Soal apa?”

 

Aku menoleh sesaat pada Ryeowook di dalam mobil, lalu kembali memandang pria paruh baya itu. Perlahan aku mulai melepaskan cengkaramanku sambil berkata, “Kau terlihat bersama seseorang kemarin. Rambutnya panjang seperti serabut, agak beruban, dan memakai rompi merah dekil. Umurnya 50-an, sepantar kau. Ada luka-luka parut di wajahnya.”

 

“Ya, kami datang dari Florida.”

 

“Siapa dia?”

 

“Namanya Marcus, hanya itu nama yang saya ketahui. Kami sama-sama menumpang mobil dari Orlando ke New York, kemudian beralih naik kereta api kemari.”

 

“Apa maksud kalian datang ke sini?” tanyaku. “Kenapa melakukan perjalanan dari Florida ke New England di bulan desember? Kalian suka salju?”

 

“Dia yang ingin datang ke sini, sedangkan saya sendiri tidak punya pekerjaan yang lebih baik untuk dilakukan.”

 

Aku mengernyit sesaat.

“Mengapa dia datang kemari?”

 

Pria paruh baya itu mengangkat bahunya.

“Katanya, ia bisa mendapat banyak uang di sini. Uangnya sendiri.”

 

“Lantas ia menyuruh kau menunggu di sini?”

 

“Ya, saya ditinggalnya di sini tadi malam. Katanya, ia pasti akan kembali lagi menjelang siang, tetapi sampai sekarang saya belum melihat batang hidungnya.”

 

“Kau tidak akan melihatnya lagi,” kataku. “Ia dibunuh semalam.”

 

“Ya Tuhan!” pekik Mercy terkejut.

 

“Apa lagi yang dikatakannya tentang uang yang katanya miliknya itu? Dimana uang itu?”

 

“Ia tidak bilang apa-apa soal itu.”

 

Aku menatapnya tidak puas dan terus berusaha mendesaknya.

“Ia pasti mengatakan sesuatu. Kau terus bersama dia sejak dari Florida.”

 

Mercy memalingkan wajahnya ketakutan.

“Dia bilang, dia mau pulang ke rumahnya. Ke Eden.”

 

~+~+~+~

 

Setelah mengantar Ryeowook ke restoran tempat resepsi pernikahan Donghae, aku kemudian kembali ke Eden House. Matahari bulan Desember sudah lenyap ditelan cakrawala ketika aku tiba di rumah itu. Aku turun dari mobil dan melihat Kyuhyun sedang berjalan menuju ke pintu bangsal itu. Ia tampak lesu dan pikirannya kacau.

 

“Bagaimana dengan pernikahan tadi?” tanya Kyuhyun ketika aku menghampirinya.

 

“Baik, semua berjalan lancar. Mereka akan segera berbulan madu.” Jawabku.

 

“Aku bersyukur, kejadian yang mengerikan itu tidak merusak hari yang pantas menjadi milik mereka.”

 

“Boleh aku menengok bangsal itu lagi? Sheriff Donghae memintaku untuk membantu stafnya melakukan penyelidikan.”

 

“Tentu, silahkan.” Kata Kyuhyun mempersilahkan.

 

Pintu bangsal itu masih terbuka dan aku melihat ia sedang memperbaiki gerendel yang sebagian terlepas tadi. Bangsal itu sendiri tampak remang-remang, hanya diterangi seberkas sinar redup yang menembus lubang kecil di tengah tirai jendela. Aku mengernyit memperhatikan lubang kecil di tengah tirai jendela itu.

 

“Aku harus menurunkan tirainya,” kata Kyuhyun menjelaskan. “Anak-anak di sekitar sini berdatangan untuk menonton peristiwa pembunuhan itu.”

 

“Anak-anak memang seperti itu,” kataku. “Tetapi tirai itu selalu dibuka pada malam hari, bukan?”

 

“Oh, ya… Kau sendiri melihatnya kemarin.”

 

“Kemudian si pembunuh atau si korban harus menurunkannya.”

 

Kyuhyun mengernyit tidak yakin.

“Rasanya begitu. Mungkin mereka tidak mau kegiatan mereka dilihat orang.”

 

“Kegiatan…?” tanyaku.

 

“Ya, merampokku, tentunya! Terlihat cukup jelas. Katanya, Ryeowook pernah melihat korban bersama dengan seorang gelandangan lain kemarin. Nah, mereka masuk kemari untuk mencuri barang-barangku. Itu cukup beralasan, kan? Lalu temannya membunuhnya dengan alat itu.”

 

“Bagaimana mereka bisa masuk tanpa merusak pintu atau jendela? Dan yang lebih penting lagi, bagaimana si pembunuh kemudian keluar dari sini?”

 

“Aku tidak tahu.” Jawab Kyuhyun seraya mengangkat bahunya.

 

Aku terdiam selama beberapa lama, sebelum akhirnya memutuskan untuk memberitahu Kyuhyun tentang orang yang tewas itu. “Orang yang tewas itu namanya Marcus.” Kataku.

 

Kyuhyun menoleh dan menatap mataku.

“Bagaimana kau bisa tahu namanya?”

 

“Ia datang dari Florida kemarin, ke Eden House, untuk mengambil kembali kekayaannya.”

 

“Kau ini bicara apa sih, Yesung?” tanya Kyuhyun, mengernyit bingung.

 

Aku menarik napas dalam-dalam sesaat, sebelum kemudian menjawab.

“Aku pikir, orang yang tewas itu adalah ayahmu. Seorang ayah yang tak pernah kembali dari medan perang.”

 

~+~+~+~

 

Bangsal segi delapan itu semakin gelap. Kami hampir tidak bisa saling melihat. Kyuhyun menyentuh tombol lampu di dinding, dan cahaya lampu yang terang segera menerangi ruangan itu. Dan segera bayangan kami pada cermin-cermin itu tergambar jelas. Kyuhyun menatapku dengan tatapan bingung dan tidak percaya.

 

“Gila!” katanya. “apakah kau pikir, aku tidak kenal ayahku sendiri?”

“Ya. Kau mungkin cukup kenal ayahmu untuk membunuhnya, ketika ia pulang setelah dua belas tahun untuk mengambil kembali rumah dan kekayaanmu. Bagimu, ia bukan ayahmu  lagi. Ia semata-mata adalah pria yang telah meninggalkanmu dan ibumu selama ini.”

 

Kyuhyun menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak membunuhnya,” katanya menyakinkan. “Aku bahkan tidak mengenalinya!”

 

Aku mendengar ada gerakan di belakangku, dan menyadari ada orang lain di dalam bangsal itu.

“Aku tahu kau tidak melakukannya,” kataku. Kemudian aku menggerakkan sedikit kepalaku, menoleh ke belakang seraya berkata, “Masuklah, Sungmin. Dan katakan kepada kami mengapa kau membunuh ayah mertuamu.”

 

Sungmin berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat dan tubuh gemetar. Aku melihat bayangannya di cermin dan aku tahu bahwa dia telah mendengar setiap kata. “Aku… aku tidak bermaksud…” kata Sungmin gugup.

 

Kyuhyun berlari ke arah ‘istrinya’ dan memeluknya sambil berkata,

“Sayang, dia bicara apa? Itu tidak benar!”

 

“Oh, itu cukup benar,” kataku. “jika Sungmin tidak terlalu jauh menutupi jejaknya dengan berusaha mengunci ruangan, mungkin juri akan yakin bahwa kejadian itu merupakan kecelakaan. Ayahmu, Marcus, datang ke sini tadi malam untuk mengambil apa yang menjadi miliknya. Sepanjang malam kau tertidur, tetapi Sungmin mendengar ayahmu berdiri di depan pintu dan membiarkannya masuk. Aku pikir, mungkin Sungmin mengantarnya ke bangsal ini agar tidak menimbulkan suara-suara yang bisa membangunkanmu. Setelah gelandangan itu menyakinkan kepada Sungmin bahwa dirinya adalah ayahmu, mengatakan bahwa ia tidak tewas dalam peperangan, dan ia datang untuk mengambil kembali Eden House. Sungmin melihat semua rencana bagi tempat ini –restoran dan sebagainya- akan menguap. Sungmin lantas mencari alat pembuka surat dari perak berbentuk belati itu, kemudian menancapkannya ke dada ayahmu pada saat kemarahannya memuncak.”

 

~+~+~+~

 

Kyuhyun masih saja menggelengkan kepalanya tak percaya. Bergantian ia memandang antara aku dan ‘istrinya’ yang terdiam dengan wajah pucat, lalu kembali menggelengkan kepalanya. Rasanya sulit untuk dipercaya. Ia mengangkat kepalanya memandangku dan bertanya dengan bingung,

 

“Bagaimana kau bisa tahu semua itu?  Bagaimana Sungmin bisa membunuhnya dan meninggalkan ruangan ini terkunci dari dalam?”

 

“Aku baru tahu bagaimana itu dilakukan setelah aku kembali kemari,” jawabku. “Aku melihat lubang kecil yang ditembusi sinar di tengar tirai jendela itu.”

 

Kyuhyun terkejut mendengarnya.

“Ada lubang di tirai?! Aneh, aku tidak pernah melihat sebelumnya.”

 

“Aku yakin lubang itu tidak ada sebelumnya tadi malam. Kau tahu, bangsal segi delapan ini berbeda dengan ruang-ruang bentuk lain dalam dua hal : pintu dan jendelanya tepat saling berhadapan dan pintu hanya bisa dibuka dari luar.”

 

“Aku tidak melihat…” kata Kyuhyun. Kini ia nampak ragu.

 

“Sungmin mengikatkan tali ke gagang pintu dan ujung lainnya diikatkan pada gerendel jendela,” kataku memotong perkataan Kyuhyun. “Ketika kita menarik pintu hingga terbuka pagi tadi, tali itu memutar gerendel dan mengunci jendela. Semudah itu.”

 

Kyuhyun mengerjap sesaat, tampak melongo.

“Tunggu sebentar…” katanya, berusaha mencerna semua perkataanku barusan.

 

Namun tanpa menunggu aku kembali melanjutkan,

“Aku memeriksa gerendel itu segera setelah aku masuk ke ruang ini. Cara kerja gerendel itu mudah sekali dan hanya bisa diputar setengah saja, tetapi cukup untuk bisa mengunci jendela. Kendurkan saja, lalu lilitkan tali pada gerendel itu, dan ketika gerendel mencapai lubangnya, tali itu lepas seperti yang dia mau. Tentu saja hal itu tak pernah aku bayangkan karena tirai itu tertutup. Itulah kenapa Sungmin membuat lubang kecil pada tirai yang digunakan untuk melewatkan tali. Setelah melompat keluar melalui jendela, ia harus menutup jendela dan tirai bersamaan untuk menjaga agar tirai tetap pada posisinya, tetapi itu tidak sulit. Tali yang agak kendur itu menjadi rapat dengan cepat ketika kita membuka dengan paksa pintu tadi.”

 

“Kalau itu benar, apa yang terjadi dengan tali itu?” tanya Kyuhyun.

 

“Ikatan tali terenggut dari gerendel dan melewati lubang pada tirai itu. Mungkin tali itu terjuntai di lantai. Kita tak bisa melihatnya dalam penerangan yang redup pada saat kita menyerbu masuk ke ruangan ini. Aku segera mendekati jendela untuk memeriksanya dan kalian berdua persis di belakangku. Sungmin dengan mudah menarik tali itu dan memutuskannya dari gagang pintu. Mungkin Sungmin bermaksud ingin melepaskan semuanya, tetapi tali itu terputus dan ia terpaksa menyisakan sepotong pada gagang itu.”

 

Kyuhyun terdiam sesaat. Dahinya berkerut mencerna semua informasi baru itu.

“Meskipun aku percaya soal itu, tetapi mengapa harus Sungmin? Ada beberapa orang yang hadir di sini hari itu. Aku, Kim Ryeowook…”

 

Aku menggelengkan kepalaku. Kyuhyun menghentikan perkataannya dan menatap mataku.

“Pasti Sungmin, Kyuhyun. Tidakkah kau melihatnya?” kataku. “Adalah Sungmin yang berjalan ke belakang rumah dan mengatakan kepada kita bahwa jendela terkunci. Sungmin jugalah yang membujuk kita agar tidak mendobrak jendela, tetapi justru menarik pintu. Itulah satu-satunya cara agar skemanya bekerja. Pasti Sungmin, dan bukan orang lain.”

 

“Tetapi mengapa harus mengunci ruang itu? Mengapa harus bersusah payah seperti itu?” tanya Kyuhyun mengernyit.

 

“Ayahmu terlalu berat untuk diangkatnya sendiri. Idealnya, Sungmin harus membiarkan jendela tetap terbuka sehingga orang itu tampak seperti perampok yang dibunuh oleh temannya sendiri. Namun, kau lihat, Sungmin tidak tahu orang itu punya teman sebelum Kim Ryeowook menyatakan melihat dua orang gelandangan berjalan bersama. Hal itu membuatku yakin bahwa Ryeowook tidak terlibat. Karena seandainya Ryeowook terlibat, ia pasti akan membiarkan jendela tetap terbuka agar teman orang yang tewas itu pun dicurigai.

 

“Tidak, Sungmin harus meninggalkan mayat itu tetap di tempatnya, terkunci di dalam, sehingga timbul kesan seolah-olah orang itu mati karena berani berbuat kurang ajar di sana seperti dalam cerita-cerita lama tentang hantu di ruang ini.”

 

Setelah aku mengakhiri penjelasan panjangku, Kyuhyun hanya bisa terdiam menatap ‘istrinya’ dengan tatapan tidak percaya. Berbagai perasaan tersirat di dalam matanya yang tajam. Sungmin menundukkan kepalanya, berusaha menghindari pandangan suaminya. Wajah manisnya nampak semakin pucat.

 

~+~+~+~

 

Dr. Kim Yesung mengakhiri ceritanya. Ia menyandarkan punggungnya di kursinya dan meraih minumannya. “Tentu saja itu benar, bukan, Sungmin?” katanya seraya memandang tamunya.

 

Pria yang duduk diseberangnya itu tersenyum mendengus. Mungkin 13 tahun telah berlalu, tetapi sorot mata foxy pria itu masih memancarkan kesan tegar dan angkuh. Dia masih tetap Sungmin yang dulu, meski kini umurnya sudah bertambah 40 tahun.

 

“Tentu saja benar, Yesung,” kata Sungmin. “Aku membunuhnya ketika itu dan tak menyesal. Aku tidak menyalahkanmu karena telah membuatku masuk penjara. Yang membuatku lantas menyalahkanmu adalah karena aku kehilangan Kyuhyun.”

 

Yesung menatap Sungmin dan mendesah pelan.

“Aku tidak bisa berbuat lain untuk…”

 

“Aku masuk penjara dan tak lama kemudian dia menceraikanku,” kata Sungmin, memotong perkataan Yesung. Nada suaranya terdengar sedih dan marah. “Kemudian aku mendengar berita bahwa Kyuhyun menikah dengan Kim Ryeowook.”

 

“Maafkanku.” kata Yesung, merasa sedikit bersalah.

 

“Setelah aku dibebaskan dari penjara, aku menjelajahi negeri ini. Namun, aku tidak pernah melupakanmu, Yesung. Terkadang aku berpikir ingin membunuhmu karena telah menghancurkan hidupku.”

 

“Kau menghancurkan hidupmu sendiri, Sungmin.”

 

Sungmin tersenyum mendengus.

“Aku membunuh seorang pria yang telah meninggalkan keluarganya demi wanita lain, yang kemudian datang kembali sebagai gelandangan untuk mencuri harta milik putranya. Apakah itu hal yang begitu buruk untuk aku lakukan?”

 

Yesung mengamati wajah Sungmin selama beberapa saat sebelum menjawab,

“Marcus Cho tidak pernah meninggalkan keluarganya demi wanita lain, Sungmin. Ia tinggal di Perancis setelah perang usai, sebab wajahnya rusak dan nampak sangat mengerikan karena luka-lukanya. Bahkan Kyuhyun sampai tidak mengenali jenazah ayahnya sendiri. Aku tak pernah menyebutkannya pada persidangan, karena Kyuhyun sudah cukup menderita.”

 

Sungmin menarik napas dalam-dalam.

“Sepuluh tahun yang lalu aku seharusnya membunuhmu juga, Yesung. Kini aku terlalu lelah.”

 

“Kita semua lelah, Sungmin.” gumam Yesung, cukup keras untuk di dengar oleh Sungmin. “Nah, biar aku panggilkan taksi untukmu.”

 

~fin~

17 thoughts on “wedding in a haunted house

  1. KyuWook bahagia d atas penderitaan Ming. Sempet gak nyakngka kalau ming pembunuhnya,Yesung hebat bisa membongkar(?)tragedi itu. Ini keren,dan menegangkan

  2. Wah sangat luar biasa ceritanya. Tadinya aku pikir pembunuhnya Kyuhyun krn dia yg pegang kuncinya. Taunya si manis Sungmin.
    Meskipun Kyumin tdk sama2 lagi tapi tetap tdk ngurangin keseruan ceritanya.
    DAEBAK Min Sae

  3. kak aku baca disini aja ya heheh…
    spechless…omigat….sungmin pembunuhnya…ini crime yah? aku bacanya jadi sakit hati sendiri huhu ;;~~~~;;
    keren kk ^^

  4. Bermasalah dengan Pair, tp crta-a mendapat nilai plus. Begaimana ini? Ok, abaikan pair. Crta-a keren kecil-aaaahhh….
    Keseruan dan rasa penasarannya benar2 berasa. Mantap! Aku ttp kasih jmpol😀
    aq koment baca dsini, jd koment-a dsni juga ya. Klo di fb bisa baca tpi gk bisa koment😀

  5. kereeeeeeeeeeeeeeeeeennn!
    aku ga nyangka bahwa tamu yg dtg ke yesung di awal adlh ming yg telah keluar dr penjara.
    aku ga nyangka bahwa yg ngebunuh adalah ming,
    aku ga nyangka bahwa yg dibunuh adalah marcus,
    ming keren bgt dlm menutupi aksi pembunuhannya,
    yesung keren bgt dlm mengungkap kasus ini,
    dan aku ga nyangka kyu bakal ceraikan ming dan jadi ama wookie
    aku pikir tetep ending dengan KyuMin n YeWook T.T
    trus itu ming mau naik taksi kemana?
    ooohhh…ini sad….tapi tetep keren, gomawo for tag in facebook ya saengii~~~~~
    Love you!
    Hwaiting!

    #tetep nunggu Mr.perfect❤

  6. Yaaah… seperti yg di duga ternyata memang ming. Yg bunuh bpknya kyu…
    Tp gk nyangka yg dateng nemuin yesung itu ming yg.baru keluar dari penjara
    Dan yang paling gk nyangkanya bakalan ada pair kyuwook demi apa gk rela. Ming di cerain sama kyu😥
    Tp ceritanya keren… meski bagian yeye ngejelasin masalah tali itu.gk bsa ngebayanginnya kkk~

  7. KyuWook…. Tidak….T^T..
    Tp kasih jempol buat author yg udah ngeremake ceritanya… Yesung udah kayak Mr. Holmes yak…
    Klo Kyuhyun jd ama Wookie, Yesung ama Sungmin ajah..^^¥

  8. teka teki terungkap dan sungmin lah pelakunya. ..
    awal aku kira itu kyuhyun…
    oowwhhh knp sungmin di ceraikaaannn, dan menikah dengan ryewookk T.T
    ending’ny juga knp berakhir dgn taxi??

    tp over all critany bagus bangeett!!!

  9. Crtnya emang bgs,pi knp author gak buat pemberitahuan klu akhirnya kyuwook,kklu tw gn q gak bakal baca
    jujur za q gk sk ff sad ending,laen kali tlg ksh tw ya thor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s