The Replacement Wife / Chapter 2

Gambar

 

Cast : Cho Kyuhyun, Lee Sungmin, Kim Ryeowook, Lee Hyukjae aka Eunhyuk, Cho Min Sae & Cho Min Yoo (OC), Leeteuk (GS), Kangin, Choi Siwon, Donghae, etc || Genre : Angst, Romance || Length : Chaptered || Warning : BL, Shounen-ai, M-preg || Disclaimer : Remake dari novel yang berjudul sama karya Eileen Goudge, ada perubahan dan tambahan seperlunya || Summary : Sungmin, salah satu comblang paling dicari di Seoul, berhasil bertahan melewati masa paling sulit. Ibunya meninggal ketika ia masih kecil, meninggalkan ia dan adiknya tanpa ayah. Dan kini ia berhasil mengalahkan kanker dalam pertempuran pertama. Namun ketika kanker menyerangnya kembali, Sungmin merasa tak berdaya membayangkan Kyuhyun, suami yang setia menemaninya berjuang, menjadi orang tua tunggal bagi anak-anak mereka. Karenanya Sungmin bertekad—menggunakan keahlian utamanya—mencari pasangan yang tepat sebagai pengganti dirinya. Tapi apa yang terjadi ketika keinginan terakhir berubah menjadi ‘hati-hati dengan keinginanmu’? Bagi Kyuhyun dan Sungmin, akhir yang sempurna datang dalam permainan takdir yang tak diketahui siapa pun.

 

*ah, aku tahu FF-FF yang sebelumnya banyak yang belum aku lanjutin tapi aku malah nambah yang baru. Aku benar-benar minta maaf. Moodku lagi ga begitu bagus akhir-akhir ini, setiap kali mau lanjutin FF-FF yang belum selesai, selalu berakhir dengan cuma ngeliatin layar tanpa ngetik huruf satu pun. Semua cerita udah ada di dalam kepala tapi entah kenapa susah banget dikeluarinnya. Akhirnya, iseng, aku mencoba meremake novel ini. Ceritanya menarik dan aku suka. Semoga hasilnya tidak mengecewakan. Terima kasih sudah membaca FF-ku dan yang bersedia meninggalkan jejaknya. And please, be patient with me.

 

Have a good day ^^

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

I warn u!

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

Chapter 2

“Pantai, atau kau lebih tertarik bertamasya?” tanya si agen perjalanan, seorang wanita langsing berambut cokelat dalam setelan biru dan mengenakan anting emas, warna-warna yang senada dengan poster tujuan wisata tropis yang ada di belakangnya: langit biru, pantai cerah. Pantai, yang anehnya, tanpa seorang turis di sana.

 

Kyuhyun tersenyum dan menggeleng, sambil memandangi poster.

“Jujur saja, aku benar-benar tidak yakin.” Katanya, lalu mencoba mengingat dimana liburan terakhirnya dengan Sungmin bertempat.

 

Dimana…? Ah benar, di Taos pada ulang tahun perkawinan mereka empat tahun lalu. Di sela-sela kesibukan karier dan anak-anak, tampaknya tak pernah ada waktu luang untuk berlibur. Tahun lalu, liburan menjadi hal yang mustahil. Minggu dan bulan yang berlalu selalu diisi dengan berbagai tes dan prosedur dan rawat inap di rumah sakit ketimbang bekerja, menghadiri pertandingan sekolah dan resital piano. Tak ada pembicaraan mengenai masa depan; rasanya sudah cukup dengan dapat bertahan hari demi hari. Mengingat kenangan itu membuat Kyuhyun merasa tua dan tulang rusuknya terasa nyeri, tapi dia melawan keinginan untuk menekan tangan di dada—tak ingin membuat agen perjalanan ini berpikir dia terkena serangan jantung—lalu alih-alih merapikan dasinya.

 

Tak ada gunanya memikirkan masa lalu, Kyuhyun berkata pada dirinya sendiri. Sungmin baik-baik saja sekarang. Tak ada alasan mereka tak dapat merencanakan berlibur.

 

“Aku harus menanyakannya pada istriku, tapi aku ingin menjadikan ini kejutan,” kata Kyuhyun lagi. “Kami akan merayakan ulang tahun perkawinan bulan depan.”

 

“Oh?” Wanita itu berseri-seri. “Ulang tahun perkawinan yang besar?”

 

Kyuhyun mengangguk.

“Kedua puluh.”

 

“Wah, kalau begitu harus lebih istimewa lagi. Mari kita lihat…” wanita itu membalik-balik setumpuk brosur mengilap dengan cepat di atas meja sebelum memilih satu dan memberikannya pada Kyuhyun. “Bagaimana dengan kapal pesiar?”

 

Kyuhyun mengamati brosur itu sepintas, menahan gidikan.

“Aku tidak suka naik kapal pesiar,” katanya. Di samping itu, sepanjang waktu mungkin Sungmin akan bercakap-cakap dengan penumpang lain. “Mungkin aku lebih memilih pantai.”

 

“Yah, kalau begitu kita jadi punya banyak pilihan,” ujar wanita itu, kembali membalik-balik setumpuk brosur mengilap dengan cepat di atas meja.

 

Kyuhyun menahan diri untuk tidak mengernyit. Kita? Kyuhyun membayangkan si langsing dalam setelan biru ini berlari kecil di samping dia dan Sungmin saat mereka berjalan di landasan terbang bandara.

 

“Aku dapat memberimu paket bulan madu. Sekarang hampir akhir musim, jadi akan ada banyak sekali penawaran. Bagaimana dengan Bermuda? Cuacanya bagus dan seharusnya tidak terlalu ramai pada musim seperti ini.”

 

“Bermuda?” Kyuhyun mempertimbangkan sambil tanpa sadar mengusap dagunya. “Aku belum pernah ke sana. Bukankah di sana ada pasir merah mudanya?”

 

“Wah, iya,” ujar si agen perjalanan, sembari tersenyum seakan-akan teringat kenangan sendiri. “Dan sungguh seindah yang ada di foto-foto. Aku dapat memesankan pondok yang cantik di tepi pantai untukmu. Apa kau tertarik?”

 

Belum apa-apa, Kyuhyun sudah menyesalkan dorongan hatinya. Dia melihat tanda agensi perjalanan ketika pulang dari kantor dan… yah, tadinya ini terlihat seperti gagasan bagus. Tuhan tahu dia dan Sungmin membutuhkan liburan romantis. Dia bahkan tak dapat mengingat terakhir kali mereka bercinta. Tapi mungkin memberi Sungmin kejutan dengan tiket bukanlah hal yang tepat.

 

“Biar kupikirkan dulu. Aku akan kembali lagi nanti.” Kata Kyuhyun, berdiri.

 

Beberapa menit kemudian Kyuhyun sudah menyusuri jalan menuju kembali ke kantor. Sebelumnya, dia sudah menuju rumah, tapi saat meninggalkan agensi perjalanan dia teringat pada sekumpulan anak magang baru yang sampai di kantor pagi tadi, wajah segar dan mata berbinar. Memang ada si tua Shin yang berjaga malam, yang membentak-bentak semua orang di sekitar untuk menutupi kegagalan nilai. Kyuhyun tak ingin melihat mereka ditinggalkan bersama si tua itu di hari pertama, dan dia tahu bahwa pria tua itu takkan keberatan jika Kyuhyun mengambil alih. Sisi baik Shin adalah dia akan menyambut alasan apa pun demi meninggalkan beban kerjanya pada yang lain.

 

Walau begitu Kyuhyun merasakan riak rasa bersalah. Dia seharusnya pulang. Sungmin tak pernah mengeluh tentang jadwal panjangnya, tapi Kyuhyun tahu hal ini membuat ‘istrinya’ jengkel. Hal lain yang tak pernah mereka bahas. Lagipula, alasan apa yang bisa dia berikan? Kenyataannya, dia memang tak ingin pulang seperti dulu. Sebelum ‘istrinya’ sakit dan hampir meninggal. Ini bukan salah Sungmin, bukan juga salah siapa pun. Tapi memang begitu adanya. Kyuhyun mencintai ‘istrinya’—itu tak berubah dan takkan pernah berubah—tapi dia merasa seolah-olah tercekik jika berada di dekat Sungmin, selamanya mendongak menatap langit, tahu langit itu akan runtuh kapan saja.

 

Langit kehidupannya pernah runtuh dulu. Dan kemungkinan akan runtuh kembali. Hari ini, contohnya, seharian Kyuhyun merasa tegang dan gelisah menunggu hasil tes Pet-scan terakhir Sungmin. Dia menelepon Sungmin beberapa kali, tapi selalu dijawab kotak suara dan Sungmin tak pernah membalas telepon-teleponnya.

 

Dia pasti menelepon jika itu kabar buruk, Kyuhyun menghibur diri sendiri. Namun itu tidak terlalu berhasil. Tetap saja, dia akan merasa lebih baik ketika ketakutannya mereda. Dia memelankan langkah, mengeluarkan ponsel dari saku mantelnya. Hujan sudah berhenti, jadi syukurlah dia tak sedang berjuang memegang payung sementara menekan nomor. Dia mengerutkan dahi ketika, sekali lagi, kotak suara ‘istrinya’ yang menjawab.

 

“Sialan. Mengapa Sungmin tidak mengangkat telepon?” gerutu Kyuhyun, sedikit merasa kesal.

 

Sungmin selalu dapat dihubungi demi klien-kliennya. Kyuhyun tak ingat kapan terakhir kali mereka menyantap makanan di restoran tanpa di gangu oleh getar pesan atau bunyi telepon. Kadang-kadang klien-klien Sungmin menelepon di larut malam, biasanya karena urusan kecil yang membuat mereka panik. Mereka seperti kembali ke masa-masa SMA dengan Sungmin sebagai konselor pembimbing. Terkadang Kyuhyun kerap bertanya pada dirinya, mengapa ‘istrinya’ harus selalu mengulurkan tangan di setiap langkah?

 

Ini pekerjaanku, Sungmin selalu berkata seperti itu. Untuk hal seperti inilah aku dibayar.

 

Tapi bagaimana dengan suaminya? Mengapa Sungmin tak dapat mengangkat telepon sialan itu untuk suaminya?

 

Kyuhyun menghembuskan napas kuat-kuat, setelah mampu untuk mempercayai diri sendiri untuk bicara dalam suara normal, dia meninggalkan pesan untuk Sungmin. Dia mengerti, sangat mengerti, bahwa mereka sama-sama memiliki pekerjaan yang menuntut perhatian; bukan hanya pekerjaan Sungmin. Kyuhyun mencoba memikirkan alasan tambahan untuk pergi berlibur. Dan mungkin Seminggu, atau sepuluh hari, akan membuat mereka lebih bahagia. Dirabanya brosur-brosur saat memasukkan ponsel kembali ke saku. Kyuhyun membayangkan mereka berdua berjalan-jalan di sepanjang pantai merah muda Bermuda. Setelahnya mereka akan kembali ke pondok tepi pantai dan bercinta seperti dulu sebelum Sungmin jatuh sakit, kembali seperti ketika melihat Sungmin tanpa busana akan menggolakkan hasratnya, bukan rasa kasihan. Ketika dia tak harus memejamkan mata karena air mata muncul atau berjuang agar tak tercabik-cabik.

 

Kita akan sampai ke sana, Cintaku, batin Kyuhyun mempercepat langkah.

 

Hujan mulai turun lagi. Tetesan-tetesan deras memerciki kepala saat Kyuhyun menunduk, sambil berharap seandainya tadi dia membawa payung. Di depan sana, menjulanglah gedung Harkness Pavilion, kantornya. Kilau di jendela-jendelanya memantulkan cahaya rembang petang, sebuah suar harapan bagi beberapa orang, dan bagi yang lain merupakan tempat mereka terakhir kali melihat dunia. Bagi Kyuhyun, dulu tempat ini adalah rumah pengungsian… dan akan kembali seperti itu, jika Tuhan menghendaki.

 

Dia rindu masa lalu. Makan malam dengan keluarga, kemudian memeluk ‘istrinya’ di sofa sambil menonton film-film kuno di TV setelah anak-anak mereka pergi tidur. Tak lama lagi, janjinya pada diri sendiri, dia akan menemukan jalan ke masa-masa itu. Sementara, cara apa yang lebih baik untuk memulai selain liburan romantis? Pertanyaannya adalah kemana? Kyuhyun tersenyum sendiri saat merenungkannya. Itulah masalah terbesar mereka.

 

~+~+~+~

 

Sungmin tiba di rumah tak lama sebelum pukul tujuh dan mendapati anak-anaknya duduk di sofa di depan TV dan tanpa tanda-tanda keberadaan suaminya. Digantungkannya jas hujan Burberry yang menetes-neteskan air pada gantungan mantel antik di ruang depan.

 

“Hei, apa ini? Kalian sudah membuat PR?” serunya pada Min Sae dan Min Yoo. Sungmin berhati-hati memasukkan nada tegas dalam suaranya, tak ingin mereka mencurigai sesuatu yang salah.

 

Min Yoo menjawab dengan sungutan, tanpa melepaskan pandangannya dari TV. Sementara Min Sae, seperti kebanyakan remaja lain terbiasa melakukan berbagai hal secara bersamaan—sedang mengetik pesan untuk temannya sambil mengobrol dengan teman lainnya di telepon—mendongak pada Sungmin dengan ekspresi lugu.

 

“Aku ‘kan sedang belajar, eomma. Hyeri sedang membantuku mengerjakan PR.” Jawabnya sambil menunjukkan buku pelajaran yang terbuka di pangkuannya. Tak jelas apakah Hyeri teman yang sedang berbicara di telepon atau yang sedang dikiriminya pesan. “Oh ya eomma, dan untuk informasi, tadi appa menelepon. Appa titip pesan akan pulang telat.”

 

Sungmin sudah tahu dari pesan terakhir Kyuhyun di kotak suara. Biasanya ini akan membuatnya kesal, tapi sekarang dia terlalu kebas untuk peduli. Awalnya, dia berpikir akan menelepon Kyuhyun, tapi nantinya dia harus menjelaskan mengapa dia berada di bar, meminum gin dan tonic pada jam ketika biasanya dia berada di rumah bersama anak-anak, dan dia tidak mau mengabarkan berita itu melalui telepon. Lucu memang, bahkan setelah menenggak dua gelas gin dan tonic dia tak merasa mabuk sama sekali. Yang lebih aneh, Sungmin menyadari saat membungkuk untuk memungut kaus kaki—punya Min Yoo—yang berantakan dari bawah meja kopi, dia tak dapat merasakan jari-jarinya. Jari-jarinya sekebas seluruh tubuhnya.

 

Sungmin meninggalkan anak-anaknya menikmati hiburan mereka, berjalan melewati ruang duduk yang berdampingan dengan ruang makan menuju dapur. Sejenak, mata foxy-nya menyapu ke seluruh apartemennya yang rapi. Apartemen ini adalah gedung klasik anggun berlantai sembilan yang sangat luas dibandingkan standar gedung-gedung di Seoul. Dia dan Kyuhyun membelinya dalam kondisi memerlukan pemugaran besar-besaran ketika dia pertama kali di diagnosis hamil—sebuah keajaiban yang Sungmin dan Kyuhyun syukuri—, dan Sungmin ingat dia tak pernah punya cukup perabotan untuk mengisi seluruh ruangan yang ada.

 

Sekarang, lima belas tahun kemudian, apartemen ini dipenuhi perabotan dan tetek bengek lainnya, serta barang-barang berserakan milik anak mereka yang dulu berupa mainan seperti kursi Baby Bear—kini tas ransel dan sepatu roda, pakaian bergantungan di sana-sini, iPod di tengah-tengah kabel kusut—, entah bagaimana terasa tepat, bukti ada anak-anak yang tumbuh di sana.

 

Tak seperti rumahnya di Gyeongju tempat Sungmin tumbuh, yang ukurannya lebih kecil tapi terasa amat besar ketika ibunya tiada. Kenangan-kenangan berkelebat di benaknya. Kenangan yang merupakan pengingat menyakitkan baginya.

 

~+~+~+~

 

Saat itu Sungmin berusia empat belas tahun, dan adiknya Eunhyuk berusia sebelas tahun. Mereka hanyalah anak kecil kaya yang malang, ditinggalkan untuk mengurus diri sendiri karena ayah mereka sering bepergian selama tiga minggu setiap bulannya. Dan satu-satunya keluarga yang masih hidup, nenek mereka, berada di seberang benua. Hanya ada bibi Eunji, pengurus rumah yang menetap, seorang wanita baik hati yang merindukan anak-anaknya di Mokpo.

 

Sungmin harus mmemikul beban merawat diri sendiri dan adiknya. Dialah yang mengantar Eunhyuk ke sekolah, mengantar Eunhyuk berbelanja—dimana ayahnya punya akun kredit—ketika adiknya itu membutuhkan pakaian baru, dan yang membantu Eunhyuk mengerjakan PR serta memastikan dia terbungkus mantel sebelum keluar rumah dalam cuaca dingin. Dia selalu mengingatkan ayah mereka kapan pun ada pertemuan orangtua-guru atau pertunjukan sekolah. Dia bahkan harus mengingatkan ayahnya mengenai ulang tahun mereka, agar ayahnya takkan lupa membeli hadiah… atau setidaknya muncul.

 

Pernah, nenek menelepon dan merasa curiga bahwa ayah mereka hampir tak pernah ada di rumah. Dia menuntut ingin tahu siapa—selain bibi Eunji—yang menjaga mereka. Saat itu Sungmin asal bicara, “Oh, kan ada Jihyo ssi.”

 

Dan seketika neneknya langsung waspada.

“Jihyo? Siapa Jihyo? Apa ayahmu sedang berkencan?”

 

Sungmin menebak, saat itu pasti neneknya sedang membayangkan bekas menantunya menyukai wanita murahan. Dia tidak menyebut-nyebut tentang sekertaris ayahnya, yang sekarang menghabiskan waktu lebih sering bersama ayahnya daripada ketika ibu mereka masih hidup, yang tiba-tiba menjadi sangat diperlukan, bahkan dalam perjalanan-perjalanan bisnis.

 

“Dia, hmm, teman eomma. Teman baik eomma,” Sungmin menambahkan untuk menyakinkan. Sungguh mengejutkan betapa mudahnya dia berbohong.

 

“Lucu. Aku tak ingat ibumu pernah menyebutkan seseorang bernama Jihyo.”

 

“Nenek mungkin hanya lupa,”

 

“Aku tidak pikun,bentak neneknya, kemudian suaranya melembut. Jadi dia sering datang ke sana?”

 

“Oh iya. Dia hampir kemari setiap waktu. Saat ini dia sedang membantu Eunhyuk mengerjakan PR.” Kebohongan meluncur dengan cepat, seperti layang-layang yang melesat ke atas, menyeret Sungmin bersamanya serta.

 

“Benarkah? Baik sekali.” Neneknya terdengar puas.

 

Namun sebelum Sungmin dapat menghembuskan napas lega, neneknya berkata,

“Mengapa tidak kau panggilkan dia? Aku ingin berbincang-bincang dengan Jihyo ini.”

 

Sungmin mulai banjir keringat, membayangkan dia takkan pernah lari dari kebohongan ini. Tapi entah bagaimana kebohongan terus meluncur dari mulutnya, seperti dongeng mengenai katak dan putri. “Hmm, dia tak bisa menerima telepon sekarang. Dia… dia baru saja ke toilet.”

 

“Kalau begitu, aku akan menunggu.” Neneknya tak terburu-buru. Karena hal itu, atau karena dia masih curiga.

 

Sungmin semakin panik, membayangkan dirinya dan Eunhyuk dibawa dinas perlindungan anak jika kenyataan ini terbongkar, atau lebih buruk lagi, dikirim untuk tinggal bersama neneknya. Sungmin bergegas membebaskan diri dari situasi yang dimasukinya.

 

“Mungkin akan agak lama,” katanya pada sang nenek. “Dia bilang perutnya sakit.”

 

“Mungkin seharusnya dia tak di dekat kau dan Eunhyuk jika sedang sakit.”

 

“Oh, bukan begitu. Dia makan sushi busuk atau semacamnya.”

 

Kebohongan di atas kebohongan, bermunculan entah dari mana. Tapi entah bagaimana dia menemukan kata-kata ajaib itu. Jika neneknya curiga dengan aktivitas ayahnya, dia bahkan akan lebih curiga pada ikan mentah itu. Bagi neneknya, sushi sungguh barbar. Tentu saja, jika kau cukup bodoh untuk memakannya, kau akan sakit.

 

Begitulah akhirnya. Mungkin karena untuk membuktikan itu berarti harus terbang naik pesawat, dan neneknya lebih takut terbang naik pesawat daripada ikan mentah. Biasanya, selalu ibu mereka-lah yang membawa mereka mengunjungi nenek mereka alih-alih sebaliknya. Setelah itu, kapan pun neneknya menelepon, Sungmin akan sedikit menyebut tentang Jihyo, seakan-akan mereka sudah sangat terbiasa ditemani olehnya hingga hampir tak penting untuk disebut-sebut. Bertahun-tahun kemudian di pemakaman neneknya, mereka dihampiri oleh seorang teman dekat sang nenek. Seorang wanita tua yang berbicara sambil tersedu-sedu pada sapu tangan berendanya,

 

“Nenek kalian sungguh tenang mengetahui ada seseorang yang menjaga kalian, ketika ayah kalian pergi bertugas. Aku pernah mendengar, mendengarnya ribuan kali—Terima kasih Tuhan atas Jihyo!”

 

Sementara ayah menatap mereka heran, seakan-akan berkata,

Siapa maksudnya Jihyo?

 

~+~+~+~

 

Kenangan itu merupakan pengingat menyakitkan, dan sekarang Sungmin bergerak di dapur seolah menggunakan auto-pilot. Kekebasannya mereda. Ujung-ujung jarinya kesemutan saat mengeluarkan dada ayam yang ditaruh Yuri, pengurus rumah mereka, untuk diasinkan ke dalam kulkas. Dia sedang memasukkan ayam ke dalam oven ketika putrinya masuk ke dapur.

 

“Butuh bantuan?” tanya Min Sae.

 

Sungmin tersentuh oleh pertanyaan itu. Dulu, Min Sae senang menghabiskan waktu bersamanya di dapur, membantu menyiapkan makan malam, tapi belakangan ini tampaknya setiap waktu luang dihabiskan untuk nongkrong bersama teman atau mengobrol di telepon. Ketika Sungmin mengeluhkan kenyataan ini pada Kyuhyun, suaminya mengingatkan Sungmin dengan nada oh-sangat-beralasan sambil menggertakan gigi,

 

“Dia masih remaja. Apa yang kau harapkan?”

 

Tentu, Kyuhyun memang benar. Dan itu hal sepele. Jadi Sungmin berusaha untuk lebih sabar dengan putri remajanya yang sedang tumbuh dewasa ini, dan saat-saat bersama seperti ini terasa begitu menyenangkan.

 

Sungmin tersenyum.

“Kau tak punya PR?”

 

“Semua sudah beres, kecuali Bahasa Inggris.” Min Sae mengambil pisau dan mulai mengiris tomat, memasukkannya ke mangkuk salad. “Ibu guru Jang selalu memberi kami tugas-tugas susah. Seperti, siapa yang pernah mendengar dialog dan menuliskannya dalam buku laporan?”

 

“Aku tidak tahu. Kedengarannya asyik.”

 

Min Sae memutar bola matanya. Ketika dia selesai mengiris tomat, Sungmin memberinya mentimun untuk dikupas. Mereka mengobrol seraya menyiapkan makan malam, tertawa pada lelucon yang dibuat oleh Min Sae. Menikmati kebersamaan antara ‘ibu’ dan anak. Jika diperhatikan, Min Sae merupakan jelmaan sosok Kyuhyun: kurus dan tinggi, dengan kulit putih dan mata cokelat yang cemerlang serta rambut gelap bergelombang—yang ketika masih bayi mencuat ke atas. Min Sae juga selalu yang pertama menyadari jika ada sesuatu yang salah—tak seperti adiknya, yang tak akan sadar jika bom berjatuhan—seperti yang dibuktikan ketika dia mendongak beberapa menit kemudian dari mencacah daun bawang untuk mengamati Sungmin dengan alis bertaut.

 

“Eomma, apa semua baik-baik saja?” tanyanya cemas.

 

“Tentu. Kenapa?” Sungmin berhenti sebentar saat membuka botol bumbu salad.

 

“Eomma menangis.”

Sungmin mengangkat tangan ke pipi, terkejut dan di saat yang sama juga tidak terkejut, mendapati air mata berlinangan. “Pasti karena bawang,” katanya, menunjuk cacahan hijau yang berserakan di atas talenan.

 

“Itu ‘kan daun bawang,” koreksi Min Sae.

 

“Bisa apa aku jika hidungku lebih sensitif dari kebanyakan orang?”

 

Sungmin berupaya menceriakan suasana, usaha untuk menyingkirkan apa yang dirasakannya: seakan-akan dia akan mengerut seperti kertas timah karena tekanan paling kecil sekali pun. Min Sae membiarkannya, tapi wajahnya masih tampak cemas. Kehidupan rumah mereka sudah kembali normal dalam banyak hal, tapi efek samping dari cobaan tahun lalu itu masih ada. Min Yoo tak dapat tidur pada malam hari kecuali lampu malam di kamarnya dinyalakan. Dan Min Sae terus waspada, cepat menyadari suasana yang berubah sedikit pun.

 

“Bagaimana anak baru itu?” Sungmin bertanya, menjaga nada suaranya terdengar santai.

 

Min Sae mendongak, menatap Sungmin dengan ekspresi hampa.

“Aku membicarakan Jim. Kecuali ada anak baru lain yang tak ku ketahui.”  Sungmin tahu nyaris tidak tahu apa-apa tentang murid pertukaran pelajar dari Inggris yang misterius itu, kecuali bahwa putrinya naksir padanya. “Apa dia bisa berbaur?”

 

“Sepertinya.” Ekspresi Min Sae berubah murung. “Nana menawarkan diri menjadi rekan belajarnya.”

 

“Dan apakah itu masalah?”

 

Min Sae mengernyitkan dahi, beberapa irisan daun bawang terbang dari ujung pisau.

“Dia itu sangat brengsek!”

 

“Bahasamu,” tegur Sungmin.

 

Min Sae berdiri dengan pisau mengacung di udara seakan-akan ingin mengiris kelingking Nana.

“Maaf, tapi memang begitu, kok. Dia sangat menjengkelkan. Dia mengangkat tangan sebelum orang lain melakukannya.”

 

“Mungkin seharusnya kau sedikit lebih cepat.”

 

“Eomma! Kau bersikap seolah ini kesalahanku.” Mata cokelat Min Sae menyorotkan kemarahan.

 

“Ini bukan masalah siapa yang salah, Sayang. Kau tahu kata pepatah ‘Sabar, dan semua akan indah pada waktunya’? Yah, itu omong kosong. Jika kau menginginkan sesuatu, sambarlah sebelum orang lain menyambar duluan.”

 

“Bagaimana eomma tahu dia menyukaiku?”

 

“Kau takkan tahu jika kau tak mengambil resiko untuk mengetahuinya.”

 

Bahu Min Sae merosot lemas.

“Nana lebih cantik dariku.”

 

“Tidak benar. Kau jauh lebih cantik.” Kau hanya belum mengetahuinya, lanjut Sungmin dalam hati.

 

“Eomma berkata begitu hanya karena eomma adalah orangtuaku.”

 

“Aku juga tahu apa yang pria inginkan. Selain karena aku juga seorang pria, itu juga pekerjaanku, ingat?”

 

Min Sae berkata dengan keseriusan yang dibuat-buat.

“Eomma, aku ‘kan baru kelas sembilan. Terlalu muda untuk menikah.”

 

Sungmin terkekeh. Dia berpendapat dalam beberapa hal putrinya lebih dewasa daripada gadis-gadis lain seusianya. Min Sae sudah mengalami banyak hal, lebih daripada yang dapat ditanggung anak lain. Tak seorang pun yang tahu lebih baik daripada Sungmin bagaimana cara menghadapi takdir akan kehilangan orangtua. Yang dalam kasusnya, takdir itu pernah menjadi kenyataan. Akankah kenyataan yang sama akan terjadi pada anak-anaknya? Hatinya terasa sakit memikirkan itu.

 

Min Yoo muncul saat Sungmin mengeluarkan ayam dari oven. Dia memberi putranya tugas menata meja. “Eomma, haruskah kusiapkan piring juga untuk apa?” tanyanya penuh harap saat menata peralatan makan di atas meja.

 

“Tentu, tapi aku tak tahu apakah appa akan pulang tepat waktu,” Sungmin berkata padanya.

 

Min Yoo terlihat murung tapi kembali ceria saat mereka duduk menyantap makanan. Pada usianya yang hampir sembilan tahun, dia seperti anak anjing Labrador remaja, dimana saja ketika tidak sedang menempel pada layar TV atau alat elektronik lain, dengan kaki terlalu besar dan tubuh kurus.

 

“Eomma, tebak apa yang didapat Junho untuk ulang tahunnya?” katanya bersemangat. Kim Junho adalah sahabatnya di sekolah. “iPhone!” dia mengumumkan sebelum Sungmin dapat menebak.

 

Min Yoo mengunyah saladnya, menelannya dengan cepat lalu kembali berkata dengan bersemangat,

“Keren banget. Eomma seharusnya melihat semua aplikasi keren yang ada di sana.”

 

“Mengagumkan.” Gumam Sungmin.

 

Min Yoo melanjutkan,

“Bukankah itu hadiah terkeren yang pernah ada?”

 

Sungmin mengabaikan petunjuk itu.

“Mengapa? Apa kau kenal seseorang yang akan ulang tahun?”

 

“Eommaaaa.” Min Yoo memutar bola mata secara berlebihan.

 

“Oh, ulang tahunmu.” Sungmin menepuk dahi dengan punggung tangan. “Ya ampun, aku hampir lupa.”

 

“Eomma tidak benar-benar lupa, kan?” Min Yoo menatap Sungmin tak yakin.

 

Bila Min Sae adalah jelmaan ayahnya, maka tak salah lagi Min Yoo adalah jelmaan Sungmin. Rambut hitam, dengan mata cokelat gelap yang menari-nari jail bahkan ketika tak sedang nakal dan mulut yang kerap kali mendapatkan masalah dengan guru-guru di sekolahnya. Sungmin mewariskan hidung kecil yang mancung, bibir bawah yang ranum, dan bulu mata panjang yang akan mematahkan hati seseorang suatu hari nanti, dengan jambul rambut penyanyi tahun enam puluhan kecil. Pikiran mengenai malapetaka yang akan datang ini menghantamnya bagai tenaga sebuah kereta barang.

 

Bagaimana aku dapat memikulnya? Bagaimana mereka dapat menanggungnya?, pikir Sungmin ketika menatap anak-anaknya.

 

“Tentu saja eomma tidak lupa, dasar bodoh,” ujar Min Sae, memukul adiknya main-main.

 

“Bisa tidak aku punya iPhone? Kumohon, eomma?” Min Yoo memohon blak-blakkan, beringsut-ingsut di atas kursi seolah menahan pergi ke toilet. “Aku janji takkan pernah meminta apa pun lagi seumur hidupku.”

 

“Itu seperti tujuh puluh tahun lebih jika mengikuti rata-rata harapan hidup seseorang,” komentar Min Sae dengan nada pongah. Dia terdengar sangat mirip ayahnya, sehingga membuat Sungmin tersenyum tipis.

 

Min Yoo tidak mengacuhkan komentar kakaknya, dan melanjutkan aksi memohonnya,

“Bisa tidak? Kumohon?”

 

“Yang benar ‘boleh tidak’ bukannya ‘bisa tidak’, dan tidak. Kau tidak boleh punya iPhone,” jawab Sungmin.

 

Min Yoo mencebik.

“Beri aku satu alasan bagus.”

 

“Akan kuberi dua: Satu, itu bukan mainan, dan dua, kau terlalu muda. Dalam satu atau dua tahun nanti mungkin kami akan mempertimbangkannya.”

 

Kau mungkin tidak di sini setahun lagi, suatu suara berbisik dalam benak Sungmin. Sungmin hampir melunak. Mengapa menolak permintaan anaknya? Namun dia tahu harus bersikap tegas. Pengalaman telah mengajarkan konsistenitas adalah kuncinya.

 

“Itu tidak adil!” teriak Min Yoo, meletakkan garpunya dengan berisik.

 

Hidup memang tidak adil. Biasakanlah. Sungmin hampir mengatakan kalimat itu. Tapi kemudian ia hanya berkata lembut, “Aku tahu seseorang yang tak akan mendapat pencuci mulut jika dia tak berhenti merengek.”

 

Min Yoo memberi tatapan berontak. Tapi itu tak mencegahnya bertanya,

“Apa pencuci mulutnya?”

 

“Kau akan tahu jika tak bandel. Tapi akan kuberi petunjuk: cokelat. Aku bahkan akan menambahkan ciuman di seluruh rumah jika kau benar-benar bersikap baik.”

 

Kali ini ketika protes,

“Eommaaa,” Min Yoo tersenyum lebar.

 

Setelah makan malam, anak-anak membantu Sungmin beres-beres, kemudian mereka berganti piyama dan duduk berhimpitan di sofa untuk menonton DVD “Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1” untuk ke sekian kalinya. Biasanya, Sungmin menghabiskan berjam-jam sebelum waktu tidur dengan membantu mereka mengerjakan PR. Tapi malam ini saatnya menonton film yang sudah direncanakan. Dipesan oleh Min Yoo dan Min Sae sendiri, Sungmin dengan senang hati berhenti melakukan sesuatu untuk menonton film yang tak butuh berpikir.

 

Sudah lewat jam tidur ketika Sungmin mengantar Min Yoo ke tempat tidur dan menciumnya sebelum tidur. “Siapa anak laki-laki favoritku?” tanya Sungmin, seperti yang selalu dilakukanya setiap malam sejak Min Yoo masih balita.

 

Min Yoo menyeringai pada Sungmin dari atas bantalnya.

“Aku tidak tahu. Siapa?”

 

“Akan kuberi petunjuk. Namanya berawalam huruf ‘M’ dan berakhiran huruf ‘O’.”

 

Min Yoo mengerutkan alis, pura-pura berkonsentrasi sebelum meluncurkan jawaban:

“Aku!”

 

“Benar. Dan jangan lupakan itu.”

 

Sungmin merasakan tenggorokannya tersekat saat membubuhkan ciuman lagi di dahi Min Yoo. Dalam piyama bergambar Spiderman, pipi Min Yoo memerah karena Sungmin terbiasa menyeka wajahnya sebelum tidur. Min Yoo terlihat lebih mirip anak berusia hampir enam tahun daripada anak berusia hampir sembilan tahun.

 

“Selamat malam, buddy. Tidur nyenyak.” Sungmin berkata sebelum kemudian keluar dari kamar Min Yoo.

 

Min Sae sudah terlelap ketika Sungmin memeriksa kamarnya. Sungmin berjingkat-jingkat menghampiri tempat tidur Min Sae, menyingkirkan rambut dari alis putrinya, dan menatapnya lekat-lekat. Ketika terlelap, Min Sae tak terlihat lebih tua dari Min Yoo, dengan ekspresi bak malaikat yang sama, meredakan segala ketakutan dan kecemasan yang ada. Sungmin dulu berhadap anak-anaknya akan kecil selamanya. Sekarang dia berharap akan ada bersama mereka untuk menyaksikan mereka tumbuh.

 

~+~+~+~

 

Sungmin sedang duduk di tempat tidur sambil membaca ketika Kyuhyun masuk sejam kemudian.

“Maaf aku terlambat.” Kata Kyuhyun. Dia membungkuk mencium pipi Sungmin, menghembuskan udara dingin luar.

 

Sungmin menutup buku pada halaman yang ditatapnya selama empat puluh menit terakhir, tanpa benar-benar membacanya. “Tugas jaga lebih lama dari yang kusangka. Sekelompok anak magang ini, aku tak pernah melihat yang sesemangat ini. Banyak sekali pertanyaan yang mereka lontarkan.” Kata Kyuhyun, menjelaskan keterlambatannya.

 

Kyuhyun tersenyum lebar, dan Sungmin merasakan tikaman kejengkelan, memikirkan anak-anak magang itu lebih penting daripada anak-anak mereka. Tapi dia hanya bertanya lembut, “Kau sudah makan?”

 

“Sepotong pizza. Apa itu dihitung?”

Sungmin sengaja mendesah pelan. Tak bisakah suaminya pulang tepat waktu untuk makan malam? Dia nyaris mengatakan sesuatu, tapi memilih untuk menahan lidahnya. Apa bedanya jika dia memberitahu Kyuhyun tentang penyakitnya?

 

“Kau tak menerima pesan-pesanku?” Tanya Kyuhyun. Dia diam sejenak untuk melemparkan tatapan bertanya pada Sungmin saat membuka dasi.

 

“Aku menerimanya,” kata Sungmin dengan suara datar.

 

Kyuhyun menatapnya dengan gundah.

“Kau marah, bukan?”

 

“Tidak, aku tidak marah.”

 

Kyuhyun duduk di sebelah Sungmin di tempat tidur dan menatapnya.

“Apa baik-baik saja di tempat dokter? Kupikir saat kau tak menelepon balik…” ucapannya terhenti ketika melihat wajah Sungmin.

 

Diamatinya wajah ‘istrinya’ saat duduk di sana, dengan dasi tergantung miring di lehernya. Sungmin tak berkata apa-apa, dan kegundahan di wajah Kyuhyun berubah menjadi kekhawatiran. “Sungmin?” tanyanya.

 

Sungmin menggeleng. Kekejaman berita yang harus disampaikannya meluas di hati, memaksa udara keluar dari paru-paru. Ditangkupkannya wajah tampan suaminya. Matanya yang cokelat gelap, sewarna wiski; rambut yang dipotong rapi, yang dulu ketika masih mahasiswa tumbuh panjang hingga menyentuh kerah baju. Kyuhyun selalu terlihat tampan dan semakin tampan seiring bertambahnya usia. Satu-satunya tanda kelelahan adalah garis-garis yang menghiasi mulut serta kerutan di antara kedua alisnya. Sungmin mengulurkan tangan mengusap kerutan itu, berusaha menyingkirkannya, tapi itu hanya membuatnya semakin dalam.

 

Sungmin menghela napas dalam-dalam dan memberitahu Kyuhyun.

 

Tbc

26 thoughts on “The Replacement Wife / Chapter 2

  1. annyeong… duch crita’nya mkin mnarik ini?” mskipun awal’nya gak terlalu paham… mianhae… so di tunggu lnjutan’nya eonni… cayoooooo

  2. Gak tega kalo ngeliat anak2 KyuMin. Apa mereka bakalan kehilangan Sungmin??😥
    Penyakit Sungmin masih bisa di sembuhin kan??

    Min kecil~ jangan buat ini sad end dong

  3. wah, sedih bacanya min kecil.
    uri umin sakit, mdh2n sih masih gonna happy ending.
    makin ga tega ama umin.
    ah, aku harus baca berkali kali kayanya min, susah ngertinya. hehe.
    apa umin akan secepatnya ngasi tau k kyu mslh penyakitnya? apa kyu bkalan berubah menghadapi mslh kali ini min?? hehe.
    semangat ya min kecil!!!!! ^_^

  4. min kecil, aku mw komen knpa sepertinya gagal terus yah??? sedih deh.
    ya udah, aku cuap cuap lg aja kaya tadi. hehe.
    ini uri umin sakit sakitan tapi ttp semangat. jadi makin sayang sekaligus ga tega ama umin. tapi apa ntar bakal sad ending? jangan deh min kecil. huhuhu.
    emh, apa uri kyukyu bakal berubah ya? mdh2n ga. oya, aku knpa musti baca berkali kali ya biar ngeh sama ceritanya? hehe.
    semangat min kecil. ^_^

  5. Baru baca….. Aduuuhhh nyesek… Hifup kyumin.hampir sempurna.. Dan sepertiya hampir gag bisa ikhlas.klo min comblangin kyu sma org lain.. Apalagi wook… Andwae…. Hiks

  6. Masih penasaran sm sakitnya sungmin,dan hasil test terakhirnyaa😦
    Wow, dan ternyata anaknya kyumin udah gede yaa😀
    Di tunggu lanjutannya

  7. Apa Ming akan jujur klo penyakitx kambuh…
    padahal pernikahan KyuMin begtu bahagia tp knp penyakit ntu kembali lg..
    Mga apa pun yg terjadi Kyu ttp setia ma Ming sperti dulu..

  8. Aaaaaa … Ngak kuat bayangin kehidupan kyumin, sedih banget waktu bacanya …
    Apalagi ming punya penyakit kek gitu …
    Ming😥😥😥

    lanjuttttt ….

  9. Ya ampun knp jalan hidupnya Min harus seberliku ini. Bknnya kalo seseorang sdh sembuh dari satu penyakit mematik, dia akan hidup trs akhirnya sampai yg diatas sendiri yg memanggilnya.. Tp ternyata ga gt buat Min..
    Hubnya dg Kyu jg jd susah..
    Liat Min sama anak2nya bikin tersentuh,, mereka benar2 dekat ya..^^

    Chap dpn siap2 tisu lbh bnyk nih..

    Lanjuttttt…

  10. Yeay! FF baru!!! Kkk, baru buka blog’y, ehh udah ada 2 chap. Hihi langsung baca yang ini.

    Wuiih, umin sakit’y kambuh lagi?😮 keknya rame neh.
    Min sae sama min yoo ny juga udah gede, lalalala xD
    habis ff2 si kembar ini yg msh kecil’y mulu.

    Nyokk lanjut min eon! Kkk, fighting! ^^

  11. aduh penyakit Ming kambuh lgi ya, ksian bgt pdhl dh berjuang tpi knp mlh kambuh lgi. Kyu siap gk ya dgr berita ne lgi pdhl dh bkin rencana mau bulan madu berdua tuh

  12. hah? kok g ada review py ku?
    ah…ternyata memang aku blm baca yg chap 2 ini ya….
    seperti yg km blg, nung…
    meskipun ga ada feel, tapi kok ya ada sisi ga relanya….hahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s