The Replacement Wife / chapter 3

Gambar

Cast : Cho Kyuhyun, Lee Sungmin, Kim Ryeowook, Lee Hyukjae aka Eunhyuk, Cho Min Sae & Cho Min Yoo (OC), Leeteuk (GS), Kangin, Choi Siwon, Donghae, etc || Genre : Angst, Romance || Length : Chaptered || Warning : BL, Shounen-ai, M-preg || Disclaimer : Remake dari novel yang berjudul sama karya Eileen Goudge, ada perubahan dan tambahan seperlunya || Summary : Sungmin, salah satu comblang paling dicari di Seoul, berhasil bertahan melewati masa paling sulit. Ibunya meninggal ketika ia masih kecil, meninggalkan ia dan adiknya tanpa ayah. Dan kini ia berhasil mengalahkan kanker dalam pertempuran pertama. Namun ketika kanker menyerangnya kembali, Sungmin merasa tak berdaya membayangkan Kyuhyun, suami yang setia menemaninya berjuang, menjadi orang tua tunggal bagi anak-anak mereka. Karenanya Sungmin bertekad—menggunakan keahlian utamanya—mencari pasangan yang tepat sebagai pengganti dirinya. Tapi apa yang terjadi ketika keinginan terakhir berubah menjadi ‘hati-hati dengan keinginanmu’? Bagi Kyuhyun dan Sungmin, akhir yang sempurna datang dalam permainan takdir yang tak diketahui siapa pun.

 

*ah, aku tahu FF-FF yang sebelumnya banyak yang belum aku lanjutin tapi aku malah nambah yang baru. Aku benar-benar minta maaf. Moodku lagi ga begitu bagus akhir-akhir ini, setiap kali mau lanjutin FF-FF yang belum selesai, selalu berakhir dengan cuma ngeliatin layar tanpa ngetik huruf satu pun. Semua cerita udah ada di dalam kepala tapi entah kenapa susah banget dikeluarinnya. Akhirnya, iseng, aku mencoba meremake novel ini. Ceritanya menarik dan aku suka. Semoga hasilnya tidak mengecewakan. Terima kasih sudah membaca FF-ku dan yang bersedia meninggalkan jejaknya. And please, be patient with me.

 

Have a good day ^^

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

I warn u!

 

 

~Presented by@Min kecil~

Chapter 3

Kyuhyun duduk di tempat tidur, mengerjap-ngerjap menahan air mata. Gumpalan seukuran kepalan tangan seolah tersangkut di tenggorokannya. “Kita akan mencari pendapat kedua,” katanya, terpana mendengar betapa mantap suaranya. “Besok pagi-pagi, aku akan menelepon teman lamaku yang bekerja sebagai kepala onkologi di Daegu.”

 

Dirangkulnya bahu Sungmin, memaksa pria manis itu untuk menatap matanya. Lalu Kyuhyun menyadari, betapa wajah manis itu terlihat sangat pucat. Astaga. “Dan meskipun ini seperti apa yang kita pikikan, selalu ada pilihan. Bukannya tak ada harapan.” Katanya lagi.

 

“Iya, memang,” kata Sungmin setuju. “Tapi bukan itu yang sebenarnya kuharapkan.”

 

“Kau masih bisa mengalahkannya. Kau melakukan itu sebelumnya.”

 

“Ini berbeda.”

 

Kyuhyun menggeleng dalam penyangkalan, dan Sungmin melanjutkan. Suaranya meninggi.

“Kyu, kankernya bukan hanya kembali. Kankernya menyebar.”

 

Ucapan Sungmin itu membentuk sebuah bayangan di benak Kyuhyun: titik-titik terang di citra radiologi seperti suar api di tengah jalan raya yang gelap setelah kecelakaan mobil. Kyuhyun terus menggelengkan kepalanya.

 

“Bukan berarti tak ada harapan.” Kata Kyuhyun. “Siwon tidak mengatakan tak ada harapan, kan?”

 

“Tidak, tapi kalian para dokter memang tidak pernah mengatakan itu.” Sungmin tersenyum muram. “Paling tidak dia jujur. Dia memberitahu paling baik kesempatanku adalah tiga persen. Dan itu hanya jika aku menjalani transplantasi pencangkokan sel lagi.”

 

Sejenak Sungmin bergidik membayangkan kemungkinan itu. Lalu lanjutnya,

“Jika tidak, aku punya waktu mungkin enam sampai sembilan bulan.”

 

Sengatan tajam menjalari Kyuhyun, seolah baru saja mengalami gempa bumi, saat mendengar nada menyerah dalam nada suara ‘istrinya’. “Menolak perawatan bukan pilihan,” katanya tegas.

 

Sungmin meraih tangan Kyuhyun dan meremasnya. Matanya tampak sedih.

“Kyu, aku tak yakin dapat melakukannya lagi.” Katanya.

 

Kyuhyun terdiam. Tatapan kalah yang disorotkan oleh ‘istrinya’ itu selaras dengan suaranya. Namun Kyuhyun tahu, Sungmin adalah pejuang. Dia selalu yakin bahwa ‘istrinya’ akan mengumpulkan kembali semangatnya ketika pulih dari kegemparan diagnosis kankernya.

 

“Aku ingin menghabiskan waktu yang tersisa di rumah, bukan di rumah sakit dengan tubuh yang disambungkan pada mesin. Bukan itu yang kuinginkan agar anak-anak mengingatku.” Kata Sungmin lagi.

 

“Lebih baik begitu daripada mereka berpikir kau menyerah,” ketus Kyuhyun lebih kasar daripada yang dimaksudkan.

 

Sungmin mengernyit, dan wajahnya memucat. Kyuhyun merasakan tikaman rasa bersalah ketika dia menyadari, Sungmin sedang menghadapi berita yang kemungkinan paling buruk dan dia malah membuatnya semakin sulit. Direngkuhnya Sungmin, memeluknya dengan lembut. Berat tubuh Sungmin sudah bertambah banyak dibandingkan tahun lalu, tapi masih terlalu kurus.

 

Kyuhyun bergumam di rambut Sungmin.

“Kita akan melewati ini. Seperti sebelumnya.”

 

“Sebelum ini, aku punya kesempatan berjuang.” Kata Sungmin, menarik diri untuk menatap Kyuhyun.

 

Ekspresi ketakutan di wajah Sungmin membuat Kyuhyun terluka. Kyuhyun ingin berteriak dan mengguncangkan tinju ke langit. Tapi alih-alih dia menjawab datar, “Kesempatan memang tak selalu bagus, tidak. Tapi perawatan dan protokol baru akan selalu berkembang.”

 

Sungmin menyunggingkan senyum letih.

“Itu yang Siwon bilang.”

 

“Dia benar. Kita bisa saja beruntung. Kau ‘kan belum tahu.” Sahut Kyuhyun.

 

Namun bahkan ketika mengucapkan itu, Kyuhyun tahu kesempatannya tipis. Butuh waktu bertahun-tahun untuk pegujian dan percobaan dan eksperimen berhasil mengembangkan obat-obatan baru. Meskipun pada tahap akhir, persetujuan dari FDA bisa terjadi berbulan-bulan atau bertahun-tahun kemudian.

 

“Untunglah kau bukan pria penjudi atau kita pasti bakalan bangkrut.” Sungmin menggelengkan sambil tersenyum lemas. Air mata bergulir menuruni pipinya. “Oh Tuhan. Aku hanya berpikir tak mungkin mampun menanggungnya—menggenggam harapan ketika hanya sepercik yang bisa dijangkau. Aku hanya butuh dukungan.”

 

Tak ada kamus “aku tidak bisa” dalam kamus Kyuhyun. Dan sampai sekarang dia tak pernah berharap mendengar kalimat itu dari mulut ‘istrinya’. Dan Sungmin, kepribadiannya selalu tegar. Inilah salah satu alasan Kyuhyun jatuh cinta padanya.

 

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi,” Kyuhyun berkata dari sela-sela giginya.

 

Sungmin membelai pipi Kyuhyun, lalu berkata dengan suara tercekik,

“Sayangku. Aku tahu jika bisa kau akan memindahkan surga dan bumi. Itulah mengapa aku sangat mencintaimu.” Dia tersenyum saat mengingat Kyuhyun ketika dia dirawat di rumah sakit memperjuangkan hidup, ketika Kyuhyun sudah melakukan segalanya untuk mengurangi penderitaannya. “Tapi kau pun tak dapat menunjukkan keajaiban.”

 

Keputusasaan menguar di udara.

“Kau tak boleh menyerah,” Kyuhyun bersikeras.

 

“Oh, Kyuhyun.” Sungmin menghapus air mata di wajahnya. “Aku mungkin tak punya pilihan.”

 

Selusin argument melolong dari kepala Kyuhyun, bagaikan badai yang memaksa keluar. Tapi dia tak dapat mengucapkan satu pun argument itu. Sungmin terlihat lelah. Kyuhyun berpikir, mungkin Sungmin akan bersikap logis setelah tidur nyenyak.

 

“Kita akan membicarakan ini besok pagi,” kata Kyuhyun. “Semua selalu terlihat lebih terang di pagi hari.”

 

“Berbaringlah di sebelahku.” Kata Sungmin, beringsut untuk memberi Kyuhyun tempat.

 

Kyuhyun berbaring di sebelah Sungmin, masih memakai kemeja dan dasi. Tak satu pun dari mereka berbicara. Kyuhyun hanya menatap langit-langit dan menghela napas perlahan, yang terus mengingatkan dirinya bahwa Sungmin sehat. Bahwa Sungmin akan baik-baik saja. Kira-kira beberapa menit kemudian dia merasakan Sungmin bergerak di sampingnya.

 

“Min Sae naksir teman sekelasnya,” kata Sungmin memberitahu. Suaranya lembut dan melamun. “Namanya Jim. Dia pelajar pertukaran dari Inggris.”

 

Kyuhyun bertanya-tanya di dalam kepalanya mengapa dia baru sekarang mengetahui ini. Sejak kapan gadis kecilnya naksir pria? Bukankah baru kemarin Min Sae bermain dengan boneka?  “Tinggi, pirang dan gagah. Tak diragukan lagi.” Katanya, menoleh pada Sungmin.

 

“Aku tak tahu bagaimana rupanya. Aku belum bertemu dengannya.”

 

“Apakah menurutmu ini akan berkembang?”

 

“Sulit untuk dikatakan. Menurut Min Sae, Jim bahkan tidak tahu dia ada.”

 

“Bagus. Biarkan saja tetap begitu.” Kata Kyuhyun menimpali. Dulu dia berpikiran terbuka, bahkan liberal pada persoalan bahwa putrinya akan berkencan jika sudah cukup dewasa. Namun itu sebelum putri kecilnya mekar menjadi gadis empat belas tahun yang menarik yang akan menjadi target mudah bagi playboy amatiran.

 

“Oh, entahlah,” kata Sungmin. “Kupikir seharusnya Min Sae mengundangnya ke sini.”

 

Kyuhyun mengerutkan dahi bingung.

“Apa aku ketinggalan sesuatu? Kau baru saja bilang pemuda itu tak tahu Min Sae.”

 

“Tapi itulah alasannya. Satu-satunya yang menjadi penghalang adalah rasa malu.”

 

“Siapa yang malu?”

 

“Dua-duanya, jika tebakanku benar.”

 

“Putri kita,” kata Kyuhyun. “Tak pernah malu. Kita tahu bahwa Min Sae sangat blak-blakkan dalam mengekspresikan opininya.”

 

Sungmin tersenyum kecil sesaat.

“Di rumah memang tidak, tapi di sekolah? Dengan anak laki-laki? Memangnya kau tidak ingat seperti apa rasanya ketika seusia dia?”

“Tentu, dan aku akan mati karena malu jika orang tuaku mengundang orang yang kusuka.”

 

“Aku tak mengatakan kita harus mengundangnya.”

 

“Bukankah intinya sama saja?”

 

“Aku ‘kan hanya menyarankan.”

 

“Kau ingin nasihatku? Jangan ikut campur.”

 

Sungmin berguling hingga mereka berhadapan dan bertanya,

“Jadi kita harus membiarkannya membuat kesalahan?”

 

“Dia tidak membuat kesalahan. Sepengetahuanku, dia baik-baik saja.” Jawab Kyuhyun. Lalu dia menambahkan dengan nada riang, “Di samping itu, kata seseorang, ikut campur dalam kehidupan cinta remaja memiliki konsekuensi buruk.”

 

“Perkataan siapa itu?”

 

“Kau. Itu yang kau katakan ketika aku menyarankan Min Sae untuk mengajak tetangga kita Seungjo ke pesta dansa sekolahnya tempo lalu.”

 

“Ini berbeda. Seungjo murid junior. Paling tidak Jim seusianya.”

 

Kyuhyun tersenyum.

“Bicaramu seperti mak comblang sejati.”

 

“Memang, dan aku mak comblang yang sangat piawai.” Kata Sungmin ikut tersenyum. Namun kemudian dia terdiam sesaat, mengamati wajah Kyuhyun. Saat berbicara lagi, suaranya lirih dan gemetaran. “Kyu, aku ingin bertanya sesuatu padamu.”

 

“Tentu. Apa saja,” jawab Kyuhyun tanpa ragu, tapi untuk suatu alasan dia merasakan getaran dingin menjalari tulang punggungnya.

 

“Berjanjilah kau akan menikah lagi setelah aku pergi.”

 

Kyuhyun terdiam sejenak, menatap Sungmin lekat-lekat. Itu hal terakhir yang dia pikirkan, saat ini atau kapan pun. Dia takkan pernah menatap wanita atau pria lain, tidak bahkan ketika Sungmin jatuh sakit selama berbulan-bulan, tanpa kehidupan seks. Kyuhyun tak bisa membayangkan dirinya berbaring di sebelah wanita atau pria lain seperti ini. Memeluknya. Bercinta dengannya.

“Kita tidak akan membicarakan ini.” Kyuhyun berkata dengan nada tak setuju. “Kau istriku. Satu-satunya yang kuinginkan. Dan kau tak akan kemana-kemana. Habis perkara.”

 

“Tapi kalau—“

 

Kyuhyun menekankan jari di bibir Sungmin, memotong perkataannya.

“Jangan. Semua ini sudah cukup sulit dihadapi.”

 

Sungmin terdiam, namun tatapannya masih terpaku pada Kyuhyun. Mata cokelat yang begitu hidup itu mengingatkan Kyuhyun ketika mereka pertama kali bertemu. Ketika itu dia berkata pada dirinya sendiri, dia dapat menghabiskan seumur hidup untuk menatap kedua mata itu. Namun tak terpikir olehnya saat itu bahwa dia mungkin hidup lebih lama dari istrinya. Tapi sekarang dia memikirkannya, mengingat kembali kenangan itu.

 

~+~+~+~

 

Mereka bertemu pada suatu malam di bulan September tahun 1989. Saat itu Kyuhyun hanyalah seorang mahasiswa yang terlalu serius pada pelajaran untuk memperhatikan hal-hal disekitarnya, terlalu sibuk mendalami nama-nama yang terlalu sulit diucapkan. Dia hanyalah seorang pemuda yang bercita-cita menjadi dokter: neurobiologi, pathogenesis mikroba, virologi umum, diagnosis molekular. Kadang-kadang dia terantuk-antuk di tengah malam ketika belajar dan terbangun berjam-jam kemudian mendapati kepalanya berada di atas buku yang terbuka, membuat halaman mencetak jejak kerutan di pipinya.

 

Setelah sering menemukannya dalam keadaan menyedihkan, salah seorang temannya memaksanya untuk lebih sering keluar, mencari minat lain sebelum dia menyerah pada tekanan belajar dan berakhir dengan dikirim ke rumah sakit jiwa. Kyuhyun pun setuju dengan saran temannya itu dan mulai bekerja sukarela di Pusat Pelayanan Krisis, sebagai orang yang menerima telepon bunuh diri, pada hari Selasa dan Kamis malam antara pukul delapan hingga tengah malam.

 

Pada malam Sungmin menelepon, hujan turun lebat dan lama. Jalanan di kampus banjir dan pekarangan di depan gedung perpustakaan sudah tergenang lumpur. Kyuhyun ingat, saat itu dia sedang berjuang keras melintasi kampus menuju stasiun bawah tanah sambil berpikir, jika ada orang yang memikirkan akan bunuh diri, mereka pasti mengalami kejadian yang dua kali lipat lebih buruk daripada malam seperti ini. Dipersenjatai hanya dengan payung lipat rapuh, dia sudah basah kuyup ketika tiba di Pusat Pelayanan Krisis. Dia duduk di meja, dengan sebotol besar kopi dan buku pelajaran yang dibawanya kalau-kalau malam berjalan begitu lambat, ketika salah satu saluran telepon menyala. Diangkatnya telepon dan terdengar suara terengah seorang pemuda yang begitu terguncang hingga Kyuhyun tak mampu mendengar jelas apa yang sedang dikatakan pemuda itu, yang mulai mengoceh tentang sesuatu mengenai putus berat dan seorang kekasih yang brengsek.

“Ambil napas,” katanya tenang. “Katakan padaku apa masalahnya.”

 

“Seperti pil, aku tak yakin.”

 

“Kau tak yakin yang diambil itu pil?” tanya Kyuhyun, sambil berpikir ini sesuatu yang baru.

 

“Tidak. Maksudku, ya, aku yakin.”

 

“Tapi kau pasti tahu. Bukankah itu yang kau katakan?” Kyuhyun bicara pelan-pelan dan hati-hati, kalau-kalau pemuda itu bahkan lebih gila daripada kedengarannya. Kita tak pernah tahu, dengan orang-orang seperti itu.

 

“Tidak! Bukan aku yang meminum pil-pilnya!” serunya.

 

Kyuhyun mengerutkan dahi bingung.

“Aku tak mengerti. Kalau begitu siapa yang minum?”

 

“Tak seorang pun. Belum. Setahuku.”

 

“Jadi, tidak ada pil…oke.” Kyuhyun menghembuskan napas. “Kita mulai dari awal. Apa akhir-akhir ini kau mengalami depresi?”

 

“Bukan aku! Teman sekamarku. Aku khawatir dia mungkin berusaha menyakiti dirinya.” Pemuda itu buru-buru melanjutkan. “Dia jadi kacau sejak si tolol itu memutuskannya. Maaf ucapanku, tapi gadis itu memang tolol, dan itu masih bahasa sopannya. Lalu hari ini aku menemukan botol kecil pil di laci pakaian temanku, dan aku tak sanggup membayangkan mengapa seseorang yang sangat tak bermasalah seperti dirinya, kecuali selera buruknya mengenai pacar, butuh obat penahan rasa sakit.”

 

Akhirnya, pemuda itu menghela napas, berkata dengan lebih tenang,

“Aku tak tahu siapa lagi yang harus kutelepon.”

 

“Kau melakukan hal yang benar.” Kyuhyun sesaat merenung, kemudian setelah mengumpulkan kembali kesadaran, dia menyarankan, “Mengapa tidak kau panggilkan teman sekamarmu? Mungkin akan membantu jika aku yang bicara padanya.”

 

“Tidak! Dia akan membunuhku jika tahu aku menelepon nomor ini.” Pemuda itu berkata antara geraman dan kekehan. “Oh Tuhan. Aku tak percaya aku baru saja mengatakan itu. Sekarang kau pasti berpikir dia pembunuh mematikan sselain tukang bunuh diri. Dia sebenarnya tak seburuk itu, sumpah. Hanya sedikit bimbang.”

“Yah, kau melakukan hal yang benar. Dia beruntung punya teman seperti kau. Omong-omong, siapa namamu?”

 

Sungmin.” Jawabnya. “Maaf, aku tampaknya tak bisa berhenti membicarakan kematian.”

 

“Selamat bergabung denganku. Aku menghabiskan pagi dengan membedah mayat.”

 

“Yang artinya kau pembunuh berantai atau murid kedokteran. Kutebak kau yang terakhir.”

 

“Tahun ketiga,” kata Kyuhyun.

 

“Jadi ini bukan pekerjaanmu? Kau tidak dibayar untuk mendengarkan orang?”

 

“Tidak. Aku hanya pegawai sukarela.”

 

Yah, aku senang menghubungimu.” Ada jeda singkat, seakan Sungmin sedang mempertimbangkan apa yang akan dilakukannya pada pria ini sekarang, sebelum dia melanjutkan, “Jadi, Tuan Tukang-Bedah-Mayat-di-Pagi-Hari-Tukang-Mendengarkan-Keluhan-Orang-di-Malam-Hari, apa kau diperbolehkan memberitahu namamu? Atau itu melanggar peraturan?”

 

“Kyuhyun,” katanya, tersenyum saat bersandar di kursi putar. Buku-buku pelajarannya sejenak terlupakan dan kopi di dalam botol besarnya yang dibuka sudah mendingin. “Cho Kyuhyun.”

 

“Kyuhyun, huh? Kau terdengar seperti tipe kuno. Aku suka,” kata Sungmin. “Pasti kau juga membukakan pintu dan menarik kursi untuk mereka, wanita-wanita lemah dan malang.”

 

Kyuhyun mendengar irama riang dalam suara Sungmin dan sadar pemuda itu sedang menggodanya. Sungmin pasti juga menyadarinya, karena nada suaranya langsung berubah lembut. “Jadi, um, Kyuhyun, menurutmu aku harus bagaimana? Tentang Jungmo—teman sekamarku. Haruskah aku menghadapinya?”

 

Mengikuti petunjuk Pusat Pelayanan Krisis, Kyuhyun menginstruksikan,

“Ya. Tapi jika dia menyangkal atau menolak mendapat bantuan, kau perlu bicara pada seseorang mengenai ini. Konselor pembimbing atau orangtuanya.”

 

“Bagaimana jika aku hanya bersikap berlebihan?”

 

“Kau mau mengambil peluang itu?”

 

“Dia akan membenciku.”

“Kau akan lebih membenci dirimu jika dia berakhir dengan membahayakan diri sendiri.”

 

Sungmin menghela napas.

“Kau benar.”

 

Kyuhyun cukup keluar jalur pedoman Pusat Pelayanan Krisis ketika dia menawarkan,

“Dengar, ini bukan protokol wajib, tapi aku akan memberikan nomor teleponku. Untuk berjaga-jaga. Itu, kalau kau, hmm, butuh…”

 

“Terima kasih. Kau baik sekali,” ujar Sungmin, tak membiarkan Kyuhyun menyelesaikan ucapannya.

 

Kyuhyun menyiapkan dirinya untuk menerima tanggapan menolak dari Sungmin. Pemuda itu mungkin berpikir Kyuhyun pria menyeramkan yang sangat ingin berkencan.

 

“Tapi kau tak kenal aku. Bisa saja aku orang gila yang mengarang ini semua cuma demi mendapat perhatian.” Lanjut Sungmin.

 

“Entah kenapa aku meragukan hal itu,” kata Kyuhyun, merasa ketegangannya mereda.

 

“Kita mungkin seharusnya bertemu langsung, jadi kau bisa yakin. Di tempat umum, tentu saja. Kau ‘kan tak tahu bagaimana orang gila, bahkan yang kelihatannya tak berbahaya sekali pun. Ingat tidak pengemis yang menyerang wanita muda di jalan dengan cutter? Kau harus selalu berhati-hati zaman sekarang.”

 

“Bagaimana kau tahu aku bukan orang sinting?” tanya Kyuhyun ikut ambil bagian dalam percakapan ini.

 

“Mudah. Jika kau sinting, kita tidak akan bercakap-cakap seperti ini.” Jawab Sungmin. Kyuhyun tergelak, dan Sungmin melanjutkan, “Jadi, Kyuhyun, apa kau pernah libur dari membelah mayat dan bicara dengan orang depresi?”

 

“Tidak terlalu sering,” Kyuhyun mengakui.

 

“Sama kalau begitu.” Sungmin mendesah atas persamaan itu.

 

Lima menit kemudian, Kyuhyun sudah mengetahui bahwa Sungmin murid junior di Seoul National University dan bekerja paruh waktu selama musim panas dengan mengatalogkan data di laboratorium riset.

 

“Kalau begitu, bagaimana dengan sarapan? Kau bisa menyisihkan waktu satu jam di hari Minggu, kan? Akan kulihat apa Jungmo bisa bergabung dengan kita. Dia butuh diingatkan bahwa tak semua gadis itu brengsek. Yah, mungkin kau bisa membicarakan itu padanya,” kata Sungmin. “Aku punya firasat bagus mengenaimu, Cho Kyuhyun.”

 

Kyuhyun tertawa. Mereka berjanji akan bertemu di Mobit’s pukul sembilan pagi, hari minggu. Dan Sungmin berjanji akan menelepon sebelum itu untuk memberitahu Kyuhyun perkembangan mengenai Jungmo.

 

“Kuharap semua berjalan baik.” Kyuhyun mendoakan keberuntungan untuk Sungmin.

 

“Yeah, aku juga,” kata Sungmin. Tapi selain itu, jangan ingkar janji.”

 

“Aku takkan memimpikan itu.”

 

Kyuhyun masih tersenyum lebar saat menutup telepon. Keesokan malamnya, Sungmin menelepon Kyuhyun lagi untuk memberitahu bahwa dia sudah bicara dengan teman sekamarnya. Krisis yang dibayangkannya ternyata kesalahpahaman—botol pil beresep itu untuk luka lama dan Jungmo tak punya niat untuk bunuh diri. Setelah itu, pembicaraan beralih ke hal-hal lain. Ketika akhirnya Kyuhyun menutup telepon, dia terkejut melihat bahwa sudah lebih dari satu jam berlalu, waktu terlama dia tak memikirkan satu pun pelajaran dan tugas-tugas yang harus dikumpulkannya besok.

 

~+~+~+~

 

Minggu pagi pukul sembilan, Kyuhyun tiba tepat waktu di Mobit’s. Tak lama dia berjalan memasuki café itu, tatapannya terpaku pada seorang pemuda yang duduk di dekat jendela yang cocok dengan deskripsi Sungmin. Berkulit putih, wajah manis dengan mata cokelat dan rambut auburn, mengenakan sweter merah dan jins biru pudar. Dia lebih manis dari bayangan Kyuhyun. Selama beberapa saat Kyuhyun berdiri diam di sana, terpesona oleh kecantikan pemuda itu dan seluruh warna bagai sinar matahari terbenam itu menyergapnya dalam sekejap. Sungmin melihatnya dan melambai, menyunggingkan senyum yang begitu manis hingga butuh segenap tenaga agar Kyuhyun tak tersandung kaki sendiri ketika berjalan menghampiri Sungmin.

 

Saat Kyuhyun mendekat, ternyata Sungmin jauh lebih cantik jika dilihat dari dekat. Dan astaga, mata itu—mata foxy berwarna cokelat itu lebih indah daripada mata mana pun. Kyuhyun juga melihat bahwa rambutnya tak hanya satu warna: selusin tingkat warna dari cokelat muda ke pucat keemasan. Saat Sungmin berdiri untuk menyapa, rambut itu berkilau bagaikan kembang api.

 

“Kau lebih tinggi dari yang kuduga,” ujar pemuda itu saat mereka berjabat tangan.

 

Sesaat, Kyuhyun tak mampu berkata-kata. Ketika akhirnya akal sehatnya kembali pulih, dia berkata tanpa berpikir, “Benarkah?” Seakan tak terlihat jelas bahwa dia menjulang tinggi di atas pemuda itu, dengan tinggi di atas 180 cm.

 

“Kau juga lebih tampan,” lanjut Sungmin dengan keterusterangan yang membuat wajah Kyuhyun menghangat. “Seharusnya kau memperingatkanku.”

 

“Aku tak menganggap diriku seperti itu,” jawabnya sadar diri.

 

“Sungguh?” Sungmin memiringkan kepala, tersenyum. “Memangnya tak ada gadis-gadis yang memberitahu hal itu?”

 

“Satu-satunya gadis yang berhubungan denganku belakangan ini tak tahu perbedaan tubuh bernyawa dan mayat,” jawabnya dengan tawa. “Murid kedokteran terkenal sebagai calon orang yang akan terlibat kehidupan romantis yang payah.”

 

“Aku mengerti. Yah, itu menjelaskan.” Senyum Sungmin berubah centil, dan dia mengumumkan, “Oh, ngomong-ngomong, Jungmo tak akan bergabung dengan kita. Saat ini dia sedang tidak bicara padaku.”

 

“Tidak?” Kyuhyun memasang ekspresi tenang yang tepat hingga Sungmin takkan menebak betapa lega dia mengetahui hanya akan berduaan dengannya. “Kupikir kau sudah menyelesaikan masalah dengannya.”

 

“Yeah, begitulah. Itu sebelum kekasih brengseknya muncul dengan permintaan maaf yang payah, dan kubilang pada Jungmo bahwa dia sudah gila jika menerimanya lagi.”

 

Pelayan datang memberikan menu yang dilaminasi, mencatat pesanan, lalu mengambil teko kopi. Sungmin menunggu sampai wanita itu pergi lalu memberitahu, “Kalau-kalau kau tak sadar, aku ini cukup blak-blakkan.”

 

“Aku sadar,” balas Kyuhyun, merapatkan bibir menahan senyum.

 

Sambil menikmati sarapan besar yang dilahap habis bersama bercangkir-cangkir kopi yang tak terhitung banyaknya, Kyuhyun menceritakan tentang kursus-kursus yang diambilnya di Kyunghee University dan beberapa tantangan yang dihadapinya sebagai murid kedokteran tahun ketiga. Ketika Sungmin bertanya apa yang membuatnya masuk kedokteran, dia menjawab,

 

“Sebenarnya, ini karena nenekku. Meski dia sama sekali tak percaya dokter. Dia mempercayai obat tradisional.”

 

Kyuhyun dapat melihat dengan jelas di benaknya stoples-stoples berisi herba dan akar-akar misterius yang berjajar rapi di rak dapur ketika dia masih kecil, setiap stoples ditempeli label dengan tulisan tangan. Sungmin menatapnya dengan penasaran, dan Kyuhyun melanjutkan,

 

“Meski pada akhirnya dia tak mendapatkan pengobatan untuk apa yang membunuhnya,” ucapnya, suaranya berubah berat.

 

Sungmin diam sejenak.

“Aku ikut menyesal. Apa kau dan nenekmu dekat?”

 

“Sangat.”

 

Kyuhyun melihat Sungmin menantinya melanjutkan, tapi Kyuhyun ragu-ragu untuk membuka rahasia lagi. Dia tak pernah menceritakan pada siapa pun kisah bagaimana dia menggendong nenek tersayangnya menuju rumah sakit, ketika baru berusia tiga belas tahun dan neneknya lebih mungil daripada sebungkusan tongkat yang berbalut kulit. Terlalu menyakitkan, bahkan setelah bertahun-tahun berlalu.

 

“Sulit melihatnya menderita di akhir hidupnya, tapi aku akan meringkas detailnya untukmu. Omong-omong, kau harus tahu bahwa bagi keluargaku itu masuk akal.” Lanjut Kyuhyun.

 

Sungmin menatapnya dengan ekspresi serius, seolah ikut merasakan ini merupakan topik yang sedih. Tapi dia hanya berkomentar, “Yah, aku tak melihat keluargamu lebih parah dari keluargaku.”

 

“Apakah seburuk itu?” tanya Kyuhyun, menyesap kopi.

 

Sungmin mengangkat bahu.

“Aku tidak kelaparan atau dipukuli, jika itu maksudmu.”

 

“Kau tidak terlihat seperti, memiliki masa kecil yang penuh penderitaan.”

 

“Ibuku meninggal ketika aku empat belas.” Nada suara Sungmin santai, tapi Kyuhyun dapat melihat emosi mendalam di kedua matanya. “Dan ayahku…katakan saja dia jarang ada setelah ibuku meninggal.”

 

“Siapa yang merawatmu setelah ayahmu pergi?”

 

“Sebenarnya tak ada. Kami punya pengurus rumah yang tinggal bersama kami, tapi bukan tugasnya mengurus kami. Jadi seringnya hanya ada aku dan adikku.” Sungmin mencoba terdengar riang, tapi Kyuhyun menangkap kegetiran yang terpendam.

“Kau punya adik?” tanya Kyuhyun.

 

Sungmin mengangguk.

“Eunhyuk. Dia tiga tahun lebih muda.” Dia menyingkirkan piring seakan mendadak kehilangan nafsu makan. “Saat itu dia sebelas tahun, dan praktis akulah yang membesarkannya semenjak itu.”

 

“Apa tidak ada saudara yang dapat menolong?”

 

“Hanya nenekku di Hongkong, tapi kami hanya bertemu dengannya ketika kami berkunjung di musim panas.”

 

Bagi Kyuhyun, ini tak dapat dibayangkan: dua anak laki-laki ditinggalkan kurang lebih untuk mengurus diri mereka sendiri. Kyuhyun anak tunggal, tapi daerah tempatnya dibesarkan, orang saling terikat erat. Ketika kecil, dia selalu dikelilingi orang dewasa. Semua yang dikenalnya memiliki hubungan kekerabatan dengannya, entah oleh perkawinan atau darah.

 

“Apa pekerjaan ayahmu?” tanyanya, merasa perlu berhati-hati.

 

“Wakil presiden di sebuah perusahaan swasta. Sebelumnya dia seorang pilot.” Sungmin mulai memainkan cangkir kopinya, menggoyangkannya perlahan dan membuat cairan hitam di dalamnya bergolak. “Kami tak pernah tahu zona waktunya, kurang lebih ketika kami akan bertemu dengannya. Saat kecil aku biasanya menghitung hari sampai ayahku pulang dari tugas, tapi sekarang aku tak lagi repot-repot menghitungnya. Untuk apa? Toh, aku tak pernah melihatnya. Aku sama sekali takkan pulang jika bukan demi Eunhyuk. Walau dia juga tak sering ada di sana.”

 

Kyuhyun menggeser kursi agar tidak tersenggol dompet amat besar milik wanita yang duduk di belakangnya, hingga dia semakin dekat dengan Sungmin. Kyuhyun amat sadar dengan kehadiran Sungmin di seberangnya, seolah ruang sempit di antara mereka terisi magnet.

 

“Aku bertanya-tanya seperti apa adikmu itu.” kata Kyuhyun.

 

Sungmin memutar bola matanya, tapi Kyuhyun melihat bagaimana ekspresi wajah Sungmin melembut ketika berbicara tentang adiknya. “Percayalah padaku, dia memberi makna baru untuk istilah ‘jiwa bebas’.”

 

“Dalam kata lain, dia tak seperti kau.” Goda Kyuhyun.

 

Sungmin memukulnya dengan serbet.

“Tutup mulutmu. Hanya karena aku peduli pada teman sekamarku yang menurut dugaanku akan bunuh diri, bukan berarti aku tipe orang yang super bertanggung jawab.” Dia mengulas senyum simpul. “Yah, mungkin sedikit. Tapi aku jujur. Kuberitahu kau, Eunhyuk itu susah dikendalikan. Dan masih begitu.”

 

“Benarkah?” tanya Kyuhyun, menyeret kursi semakin dekat.

 

“Yah, untuk satu hal, dia baru tujuh belas tahun tapi praktis sudah tinggal dengan pacarnya.” Kesan tidak setuju merayap dalam suara Sungmin. “Tidak resmi, begitulah. Ayahku berpikir Eunhyuk tinggal dengan sahabatnya ketika ayahku keluar kota. Dan dia tak pernah memeriksanya. Dengan ayah, dia cepat lupa.”

 

“Wow.” Kyuhyun tak tahu apa yang harus dikatakan.

 

“Kau tahu apa yang dilakukannya ketika dia masih lebih muda? Dia menghadiri pesta di bar. Serius. Entah pesta siapa itu, tetapi dia masuk ke sana, mengira tak seorang pun yang akan memperhatikannya. Sampai seorang pria mengusirnya. Ketika aku menegurnya, dia hanya mengangkat bahu dan berkata, ‘itu yang harus dilakukan.’ Begitulah adikku.”

 

Kyuhyun tergelak.

“Calon penjahat.”

 

Sungmin mendesah, menyapukan tangan ke sela-sela rambut, yang berkilauan terkena cahaya. Kyuhyun menghembuskan napas bersamaan dengan itu, dan tak sengaja mengenai jemari Sungmin, membuat tulang punggungnya menggelenyar.

 

“Kau bercanda,” kata Sungmin. “Tapi itulah kenyataannya. Tukang bolos, minum-minum dibawah umur, menyelinap di tengah malam, sebut saja, Eunhyuk sudah melakukannya.”

 

“Aku yakin dia akan sadar pada waktunya. Dia masih muda.”

 

“Kurasa begitu.” Sungmin mendesah, merosot di atas piring dengan siku ditopangkan di atas meja saat menatap ke kejauhan, melamun.

 

Kemudian mendadak Sungmin duduk tegak, membawa tatapannya kembali pada Kyuhyun dan berkata dengan suara gusar, “Ya ampun. Aku dua puluh tahun dan terdengar seperti orangtua brengsek. Cemas mengenai Eunhyuk dan teman sekamarku yang bodoh, heran juga aku masih punya kehidupan.”

 

“Kau tak dapat mencegahnya kalau kau tipe super bertanggung jawab,” kata Kyuhyun.

 

Mereka berdua tertawa. Wanita di belakang Kyuhyun berbalik untuk melototi mereka, yang hanya membuat Sungmin tertawa kian kencang sambil menutup mulut dengan kedua tangan. Kyuhyun menatap Sungmin lekat-lekat. Rasanya dia ingin mencondongkan badan dan menciumnya, dimana-mana. Menjilat bekas krim keju di sudut bibirnya dan menyusurkan lidahnya di bibir manis Sungmin yang terbuka. Jantungnya terasa berdentum-dentum keras dan sebuah perasaan aneh menjalarinya. Ini sungguh mengejutkan. Dia tak pernah merasakan hal yang begitu kuat dengan orang lain, seperti saat ini.

 

~+~+~+~

 

Sabtu berikutnya, Kyuhyun menggunakan tabungannya yang tak banyak untuk membawa Sungmin makan malam di sebuah restoran Italia. Setelahnya, mereka kembali ke kamar asrama Sungmin di Seoul National University. Teman sekamar Sungmin sedang keluar bersama kekasihnya malam itu, memberikan kesempatan pada mereka untuk hanya berduaan.

 

Mereka sudah berada dalam pelukan masing-masing, bahkan sebelum Sungmin menyalakan lampu. Mereka berciuman, kemudian Sungmin meraih tangan Kyuhyun dan memimpinnya ke tempat tidur. Mereka berbaring bersama di atas kasur, saling mencium dan menyentuh untuk waktu lama tanpa melepaskan pakaian. Sungmin bergerak perlahan, bukan karena dia malu. Dia hanya ingin membuat setiap momennya terasa berarti. Mereka tak akan sekedar bercinta, mereka mengukir kenangan.

 

Kyuhyun juga tidak terburu-buru, dia ingin menikmati setiap momen. Sepanjang minggu dia sudah setengah mati membayangkan ini: Sungmin berbaring tanpa pakaian di pelukannya. Dia pernah beberapa kali berkencan, tapi Sungmin tak seperti kekasih-kekasih sebelumnya, tak butuh bimbingan ketika saatnya harus melakukan sesuatu dengan tangan dan mulut untuk membangkitkan gairah Kyuhyun. Jelas terlihat, entah bagaimana Kyuhyun merasa khawatir, terlepas dari usianya yang lebih tua, Sungmin jauh lebih berpengalaman daripada dirinya.

 

“Kau tak pernah melakukan ini sebelumnya? Sungguh?” tanya Sungmin ketika Kyuhyun ragu-ragu menyusuri tubuh bawah Sungmin.

 

“Sekali,” Kyuhyun mengakui. “Dia tak menyukainya.”

 

“Aku berjanji akan menyukainya,” Sungmin mengerang, mendesak Kyuhyun lebih ke bawah.

 

Mendengarkan erangan nikmat saat membawa Sungmin mencapai klimaks, Kyuhyun berpikir tak ada suara yang lebih manis lagi. Setelahnya, dia meraba-raba saku celana jinsnya mencari kondom yang disimpannya di dompet. Bagian seperti ini selalu dilaluinya dengan canggung, dan yang membuatnya lebih buruk lagi jemarinya tak mau bekerja sama. Dia merasa seperti remaja penggugup. Sekali lagi, Sungmin-lah yang mengambil alih, mengambil bungkusan kertas timah itu dari tangannya dan membuka dalam sekali gerakan.

 

“Aku akan mengenakannya padamu.” Kata Sungmin.

 

Sungmin tersenyum saat ia melihat ekspresi di wajah Kyuhyun—campuran dari rasa takut, harapan, dan ketakjuban. Ketika akhirnya Kyuhyun memasukinya, Sungmin nyaris tak bisa menahan diri. Jika Sungmin tak sama sabarnya, Kyuhyun takkan mampu menahan cukup lama untuk membawa Sungmin mencapai puncak untuk kedua kalinya.

 

“Itu,” gumam Sungmin. “Menakjubkan.”

 

Sungmin menyelinap dari bawah tubuh Kyuhyun dan berguling ke samping, menopangkan kepala pada siku. Dia tersenyum lebar pada Kyuhyun di tengah kegelapan, wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Kyuhyun.

 

“Lebih baik dari kekasih-kekasihmu yang lain?” Kyuhyun tak tahan bertanya.

 

“Ya. Tapi agar seratus persen yakin, kurasa kita harus meninjau ke materi itu sekali lagi.” jawabnya dalam nada mengejek.

 

Sungmin beringsut lebih dekat dan mereka mulai berciuman lagi. Kyuhyun tak mungkin berpikir ini wajar, tapi dalam beberapa detik dia merasakan dirinya berguling untuk merespon. Sungmin menaiki tubuh Kyuhyun dan mereka menggelinjang bersama. Sungmin menyerahkan segalanya pada Kyuhyun, kepalanya ditelengkan ke belakang, menampakkan leher seputih pilar. Kepuasan paling indah memuncak di setiap hujaman dan Kyuhyun merasakan sisa kendalinya lepas. Ketika akhirnya mereka kelelahan, gemetaran, tubuh mereka licin oleh peluh, Kyuhyun merasa seakan dia telah tiba di suatu tujuan yang tak disadarinya dia ke sana.

 

~+~+~+~

 

Saat ini, beberapa tahun kemudian, Kyuhyun menatap ‘istrinya’, berbaring tak bergerak dan pucat di sampingnya. Panik menyergapnya ketika dia berpikir, bagaimana seandainya dia kehilangan Sungmin? Itu, bagaikan mencoba membayangkan dunia tanpa matahari atau bulan. Sungguh gila.

 

Selusin pertanyaan dan protes seolah berteriak di dalam kepala Kyuhyun. Bukankah selama ini dia sudah menjadi orang yang percaya dan mengandalkan Tuhan? Mengapa Sungmin? Apa yang telah dilakukannya hingga mendapatkan ini? Bukankah dia—mereka—sudah cukup menderita? Yang membuat lebih buruk, Sungmin sudah membuat rencana-rencana masa depan yang tak menyertakan dirinya. Oh Tuhan. Seakan-akan mereka tak punya cukup waktu untuk menghadapinya.

“Aku tak ingin siapa pun kecuali kau,” Kyuhyun memberitahu.

 

Sungmin menatapnya sedih.

“Aku tahu. Tapi mungkin aku tak selalu ada di sini.”

 

Kyuhyun merasakan dadanya sesak.

“Jangan berkata begitu.”

 

“Aku pun benci mengatakannya,” lanjut Sungmin, suaranya bergetar. “Tapi kita harus menghadapi kenyataan kau akan hidup lebih lama dariku. Aku akan merasa lebih baik mengetahui kau tidak akan menjalani masa depan sendirian.”

 

“Aku tidak sendirian. Aku punya anak-anak.”

 

“Aku juga memikirkan mereka. Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan ibu.”

 

“Mereka masih punya aku,” napas Kyuhyun tersekat.

 

“Memang, tapi kau akan butuh bantuan untuk menjaga mereka.”

 

Kyuhyun tahu, Sungmin mengucapkannya dengan hati-hati. Maksud utamanya bergantung di udara: Kyuhyun sudah membuktikan dirinya tak cakap dalam hal itu. “Tak seorang pun yang bisa menggantikanmu,” katanya bersikeras. “Oh Tuhan. Mengapa kita bahkan mendiskusikan ini?”

 

“Aku tahu,” kata Sungmin, menyeka air mata yang bergulir di pipi. “Aku merasakan hal yang sama ketika ibuku meninggal. Tapi kau tahu? Akan lebih baik bagi Eunhyuk dan aku jika ayah kami menikah lagi.”

 

“Aku tak seperti ayahmu,” kata Kyuhyun, dalam hati mencurigai dia dan ayah mertuanya memilih banyak kesamaan daripada yang ingin diakuinya. “Aku takkan begitu saja menelantarkan anak-anakku.”

 

“Anak-anak kita.” Koreksi Sungmin, menaruh tangan di pipi Kyuhyun. “Bukankah aku sudah mengutarakan maksudku juga?”

 

Kyuhyun menggeleng.

“Aku tak bisa berjanji apa-apa.”

 

“Meskipun itu harapanku saat sekarat?”

 

Itulah yang selalu dikatakan Sungmin sambil bergurau kapan pun mereka berselisih paham, tapi mendengarnya saat ini bagaikan menembakkan peluru ke jantung. Kyuhyun mengernyit sedih. “Kau tidak akan sekarat,” katanya.

 

Aku tidak akan membiarkannya, lanjut Kyuhyun dalam hati.

 

Bulir-bulir air mata Sungmin tumpah semakin deras, bergulir ke pipi hingga ke dagu. Sungmin membiarkannya, tak lagi repot-repot menyingkirkannya dari wajahnya yang kini telah basah. “Oh Kyu. Tidakkah kau mengerti? Aku hanya ingin kau bahagia.”

 

“Bagaimana bisa aku bahagia tanpamu?” Mulut Kyuhyun mengerut, dan dia merasakan sengatan panas air mata. Dia menghela napas dan menghembuskannya kembali, perlahan-lahan dan hati-hati, sampai dia mengumpulkan kembali ketenangannya.

 

“Kau memang merasa begitu saat ini, tapi tidak selamanya. Aku tahu. Aku melihatnya setiap hari. Ingat Kim Il Woo?” Sungmin menyebut mantan kliennya, yang tahun lalu menikah. Istri pertama Il Woo meninggal sebelum ulang tahun perkawinan mereka yang kelima puluh, dan setelah periode berkabung yang panjang, Sungmin memperkenalkan pria itu pada seorang wanita yang menjadi istri keduanya. “Dia tak pernah membayangkan akan jatuh cinta lagi. Dia hanya ingin pertemanan. Kemudian dia bertemu Jessica.”

 

“Aku tak butuh wanita yang tak kukenal untuk menemani masa tuaku. Tidak juga pria lain yang tak kukenal,” tukas Kyuhyun.

 

“Il Woo tak seperti itu,” kata Sungmin. “Dia jatuh cinta lagi. Mengertilah, hal seperti itu bukannya mustahil.”

 

Memang tak ada yang mustahil, bukankah begitu pula dengan kesempatannya untuk pulih? Pikir Kyuhyun. “Aku belum menyerah,” katanya menggunakan ujung selimut untuk menyeka air mata Sungmin.

 

“Oh, Kyuhyun.” Sungmin terlihat remuk, membuat hati Kyuhyun semakin sedih melihatnya.

 

Direngkuhnya Sungmin dalam pelukannya.

“Aku mencintaimu,” bisiknya serak.

 

“Aku tahu,” balas Sungmin berbisik. “Itulah yang membuat ini begitu sulit.”

 

“Aku tak bisa berjanji.”

 

“Oke, tak perlu berjanji. Buka saja pikiranmu, oke?”

 

Kyuhyun memikirkan saat-saat mereka saling memeluk seperti ini, saling memberikan hiburan satu sama lain ketika situasi sulit. Sering kali hal seperti ini berakhir dengan mereka bercinta. Tapi kanker telah merampas masa-masa itu. Cobaan tahun lalu telah mengajarkan bahwa cinta dan hasrat tidaklah terikat erat; salah satunya tidak selalu surut bersamaan yang lainnya. Cintanya pada Sungmin berbeda daripada sebelumnya—dia merasa lebih protektif daripada berhasrat—tapi cukup kukuh. Jika berarti hal ini mampu menghibur Sungmin sampai keoptimisannya terkumpul kembali, menurut Kyuhyun tak masalah.

 

“Akan kucoba,” desahnya.

 

Tbc

17 thoughts on “The Replacement Wife / chapter 3

  1. Semakin kebawah membaca chapter ini aq semakin enggan. Rasanya semakin nyeksek. Tiap Kyumin menyinggung ttg sakit, harapan, istri pengganti bikin nahan nafas bacanya, fiuhhhh….
    Untung ada moment ttg mereka ketemu pertama jd ada sedikit yg bikin senyum2 hehe..

    Sepertinya mmg ga ada harapan lg buat Min ya..;(

    Klo buat yg hurt begini,Min Kecil u’re the best ~^^~

  2. bertambah chapter, bertambah pula tingkat kesedihannya … Nyesek sendiri saya bacanya …
    Apalagi kalo udah bahas tentang penyakitnya ming… Haduhh nyesekkk …
    Trus yg ming bilang dia mau nyari pengganti istri buat kyu, haduhhh, tambah nyesek lgi😥😥 rasanya ming itu udah kayak nyerah banget trus harapannya buat hidup udah ngak ada lagi sampe dia mikir sejauh itu😦

    lanjuttttt

  3. T~T nyesek bgd pas bagian ming nyuruh kyu nikah lg nanti…. u,u
    semakin kesini makin nyesek…
    gak tega kalau lg ngebahas masalah penyakitnya ming~
    keren bgd author shi ffnya…
    cma jgn sampe mingnya meninggal

  4. Hwaaaa cobaab yg berat bwt KyuMin…
    Kisah cinta KyuMin berawal dari konsultasi lewat telephon..
    Disini Kyu setia bgt ma Ming,benar2 luar biasa..
    mga ada keajaiban bwt Ming seperti dulu Ming bs sembuh dr penyakitx,supaya Kyu dan anak2 gk perlu nyari penggantix huhuhuhu

  5. Ini sedih banget Min kecil, bagaimana Ming tetep kekeh kl Kyu nantinya harus menikah lagi, sedang Kyu tak memikirkan hal itu krn dia begitu mencintai Ming. g akan ada yg bisa ngegantiin Ming dihatinya, g ada yg bisa gantiin Ming untuk anak2 mereka, mungkin seperti itu lebih tepatnya maksud Kyu.

    Flashback-ny manis, pertemuan pertama mereka sudah membuat Kyu jatuh cinta pada pandangan pertama ma Ming, dan untuk pertemuan selanjutnya mereka melakukan itu.

    Aku suka NC yg g vulgar, NC-mu malah ngena dihati Min kecil.

    Lanjutkan!!!

  6. sungmin pkir g musthil.kn klo kyu jtuh cnta lgi.. y mgkin kyu jtuh cnta lgi n lgi tp ttp sma org yg sma.. sungmin.. hhhe
    duhh nyesek parah tw eon.. tp salut bgt buat cho kyu.. :”)
    waiting for next chap eon.. ^^

  7. Oh No, ini sedih sekaliiiiii :((((
    Gak sanggup kalo Ming nanti bakalan meninggal di ff ini😦
    meskpun semua orang pasti akan meninggal tp aku berharap ff ini tidak berakhir dengan sad ending😦
    Kyunie aku sangat sedih juga melihatmu😦

  8. haduuuuh…berkaca-kaca jadinya,
    Ming….jangan minta yg macam2 dulu lah, kasian Kyu nya…
    Nyeeeseek banget thor, makin kesini makin sedih…
    Seharusnya di atas tu harus ada pemberitahuan dulu ‘Jangan baca tanpa megang tissu’…
    Pokoknya lanjuuuuuuut…. ok! CU.

  9. bcanya brasa ksian sma mreka berdua Ming yg udah lelah memilih menyerah tpi Kyu malah mau trus berjuang karna gk mau khilngan Ming. Tpi permintaan Ming tu bkin nyesek jg blum apa2 udh maen vonis n minta Kyu buat cri pengganti. Mudah2n az Kyu ttp berjuang buat Ming sembuh n gk nurutin apa mau Ming

  10. Pertemuan kyu dan min dulunya sangat indah..😦 tapi ming di masa skg sudah mau mnyerah terus TAT sedih bacanya ;___;
    Ming.. Kuatlah.. Keluargamu selalu bersamamu dan please jangan suruh2 kyu cari pendamping lain TAT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s