Blood Debt Collection / Part 1

Gambar

Pairing : KyuMin / KyuWook / SiMin || Genre : Drama, Hurt || Length : Chaptered || Warning : BL, Shounen-ai, semi M-preg (?) || Disclaimer : Remake dari novel karya Marga T. yang berjudul “Dilanda Murka dan Nestapa. Ada perubahan dan tambahan seperlunya || Summary : Lee Sungmin sudah hampir meninggal ketika berusia tujuh tahun, namun diselamatkan oleh sepupunya, Ryeowook. Saat penagihan hutang darah itu sudah tiba, Ryeowook pelan-pelan mulai menguasai hidup Sungmin. Namanya digunakan untuk melakukan berbagai tindakan yang melanggar hukum. Sungmin terpaksa menuruti setiap permintaannya. Namun ketika Ryeowook mencoba merebut Kyuhyun yang dicintainya, Sungmin tak bisa lagi tinggal diam. Hidupnya semakin sengsara. Dalam pekerjaan, bosnya mulai memusuhinya. Kyuhyun pun mulai menjauh tanpa alasan yang jelas. Ketika Sungmin ingin pindah kerja, barulah dia tahu misteri di balik sikap Kyuhyun yang dingin itu. Dan saat itu juga dunianya kiamat!

*Ok, ini adalah FF pengganti dari FF The Replacement Wife. Hope you’ll like it ^^

 

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

Part 1

Lee Sungmin membuka surat pertama dan mengeluarkan sehelai kertas putih yang mahal dengan tanda air. Kepala surat yang mewah itu melontarkan nama tersebut dalam warna biru tua yang anggun. Dari pengacara Jang. Dibacanya surat itu dengan cepat. Itu adalah peringatan kedua. Yang pertama sudah datang bulan lalu. Tagihan untuk lima ratus ribu Won. Dengan mengeluarkan keluhan halus yang nyaris tak terdengar, diraihnya surat kedua dan dibukanya. Ternyata itu dari bank.

 

Ketika dibacanya surat itu, wajahnya memucat, bibirnya terkatup bagaikan jahitan kantong tembakau luka OP usus buntu. Itu adalah surat tunggakan yang berjumlah tiga juta Won! Jadi jumlah seluruh tagihan itu adalah tiga koma lima juta!

 

“Wajahmu begitu pucat! Apakah surat dari neraka?”

 

Mendengar suara bosnya di dekatnya, Kepalanya naik dengan terkejut. Sungmin tidak mendengarnya masuk sebab pintu ruangannya memang terbuka. Pria bertubuh tinggi itu membungkukkan kepalanya seolah ingin ikut membaca, menyebabkan Sungmin cepat-cepat menutupi surat-surat itu dengan tangannya.

 

Pria itu, dokter Cho Kyuhyun, adalah kepala Bagian Dalam di klinik Royal yang terletak di daerah mewah Ibukota. Laki-laki tegap yang tingginya lebih dari 180 itu berusia pertengahan tiga puluh, namun wajahnya masih terlihat lima-enam tahun lebih muda. Tampan dan pedantik.

 

Sungmin mencoba tersenyum namun sepertinya kurang berhasil, wajah manisnya tetap terlihat meringis. Dari neraka? Aku tidak akan begini cemas, kalau cuma dari neraka!, batinnya.

 

“Ada apa, Kyu?” Tanya Sungmin kemudian.

 

Mata yang semula berbinar itu langsung berubah ganas. Bibirnya mengerut ketika Kyuhyun mendesis,

“Sudah berapa kali aku beritahu, saat jam dinas jangan menggunakan nama kecil!” tegurnya, jelas merasa kurang senang. “Apa kau tidak mengerti perkataanku, Dokter Lee?” Dia sengaja menekankan kedua kata terakhir, membuat pemuda manis itu menggigit bibir dengan kesal.

 

Sungmin merengut, memaki dalam hati.

Uh! Aku sudah cukup bermasalah, tidak perlu ditambah lagi dengan sikap supervisor yang pedantik! Baru sabtu malam yang lalu kita berdua pergi kencan, mencari makanan, dan kita begitu intim, saling menyebut Sungmin dan Kyuhyun. Tapi begitu senin tiba, semua keakraban itu sirna. Sungmin dan Kyuhyun kembali menjadi Dokter Lee dan Dokter Cho.

 

“Maaf, Dokter Cho,” ujarnya dengan merendah.

 

“Mungkin lebih baik aku permisi saja.”

Suara Kyuhyun sudah kembali lunak. Tapi Sungmin tahu, dengan sekali jentikan jari saja pria itu bisa berubah lagi menjadi ketus bila murkanya timbul. Sudah belasan kali dia mengambil keputusan untuk menjauhkan diri dari Kyuhyun. Sialnya, hatinya sendiri yang tidak mengizinkan. Setiap kali mendengar suara Kyuhyun yang lembut dan menatap matanya yang teduh, tekadnya seketika luluh.

 

“Tidak ada tugas yang mendesak, Dokter?” tanya Sungmin menegaskan.

 

Kyuhyun menggeleng.

“Tidak mendesak.” Jawabnya. Sambil berbicara, kakinya pun bergerak melangkah ke arah pintu.

 

Dalam sekejap sosok pria bertubuh tinggi itu sudah lenyap ke dalam lorong di depan ruangan. Sungmin kembali pada surat-suratnya. Sambil menghela napas berat dipandangnya kedua surat itu. Ia melepaskan kacamatanya, lalu mengigiti gagangnya setengah linglung.

 

Nah, apa lagi ulah si Ryeowook sekarang? Apa ini taktiknya yang baru untuk membuatku sakit kepala? Kenapa dia belum juga melunasi cicilan hutangnya selama enam bulan? Hingga bank mengerahkan pengacara mereka untuk menagih serta mengancam…

 

~+~+~+~

 

Ryeowook datang padanya hampir setahun yang lalu, menyatakan dia perlu dana untuk sebuah butik mewah. “Aku ingin membeli butik ini, tapi uang yang diberikan Yesung masih kurang. Aku tahu jika dokter mudah mendapat kredit dari bank.  Bunganya lebih rendah dan persyaratannya lebih ringan. Aku tidak butuh banyak, hanya lima puluh juta, dan…”

 

“Dan kau ingin aku yang meminjamnya untukmu!” Sungmin menyelesaikan perkataan sepupunya itu dengan firasat bahwa kepalanya akan terbelah dua setiap saat.

 

“Benar!” Ryeowook bertepuk tangan, tertawa riang. “Kau yang menandatangani semua surat, dan aku yang akan mengurus pembayaran kembali. Tidak sulit, kan? Mudah sekali, seperti menghitung satu, dua, tiga!”

 

“Aku tidak yakin akan semudah itu.” Kata Sungmin. Dengan kening berkerut dipandangnya Ryeowook. “Apa jadinya jika kau gagal memenuhi kewajibanmu?”

 

“Oh! Jangan begitu. Kita sepupu, bukan? Apa kau sudah tidak percaya padaku?”

 

“Terus terang, aku tidak pernah mempercayaimu!”

 

“Meskipun begitu, kau harus mengakui, bahwa kau berhutang nyawa padaku, benar tidak? Dan aku sangat bahagia ketika aku berhasil melakukannya bagimu. Nah, sekarang giliranmu. Tunjukan padaku, bahwa kita memang keluarga, dan kau menghargai apa yang telah kulakukan. Kau ‘kan tahu, aku selalu siap melakukan apa saja bagimu!”

 

Sungmin terdiam sejenak. Itulah yang selalu ditakutinya. Saat penagihan balas jasa.

“Apa ini memang mutlak perlu?” tanyanya kemudian.

 

Wajah Ryeowook berubah muram. Lalu katanya,

“Sungmin, mungkin aku tidak akan hidup lama. Kau tidak mengerti keadaanku yang sebenarnya. Dalam sisa hidupku ini, kau masih mau menolak permintaanku yang tidak seberapa ini? Siapa tahu kau tidak akan dapat kesempatan lain untuk membalas budiku. Itu berarti seumur hidup kau akan terus berhutang padaku…”

 

Didesak seperti itu Sungmin pun terdiam. Ryeowook dulu menderita penyakit ginjal menahun yang tidak mempan terhadap pengobatan. Akhirnya ketika dia sudah lulus SMA, ginjal itu terpaksa diangkat sebab mengancam jiwanya. Sekarang dia hanya memiliki sebuah ginjal. Dan hal itu sering kali digunakannya untuk memeras keluarganya, terutama Sungmin, supaya mengabulkan setiap permintaannya.

 

“Jadi pinjaman ini mutlak-mutlak-mutlak perlu?” Sungmin menegaskan sekali lagi.

 

“Kredit ini untuk menyambung napasku. Tapi ini tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang telah kuberikan padamu! Kau tidak akan duduk di sini, kalau bukan kare…”

 

“Kau tahu sendiri, aku sangat bersyukur padamu. Seumur hidup,” ujar Sungmin memotong perkataan Ryeowook, dengan gigi gemeretuk.

 

Kadang-kadang dia berpikir, apakah mendapatkan kembali hidupnya memang cukup berharga dibandingkan dengan rongrongan Ryeowook yang tak henti-hentinya menuntut ini dan itu, rasanya untuk seumur hidup. Dan itu bukanlah permintaan Ryeowook yang pertama kali untuk menyambung napas. Sungmin harus melunasi semua hutang sepupunya dua tahun yang lalu sampai tabungannya habis.

 

“Bukankah kau mendapat santunan yang besar dari Yesung selain rumah?” tanya Sungmin kemudian.

 

Lebih dari setahun yang lalu, sepupunya itu bercerai, setelah menikah selama tiga belas bulan. Proses perceraiannya telah menghiasi berbagai halaman tabloid selama berminggu-minggu dan ramai dibicarakan di internet. Maklum, Yesung adalah perancang pakaian terkenal yang pernah meraih berbagai penghargaan baik di Asia maupun Eropa. Dia sempat magang di Paris, menurut cerita bibi Joo yang sangat bangga pada bekas menantunya itu.

 

“Tidak cukup, Sungmin. Butik itu terletak di Gangman, lokasi yang paling mahal. Selain itu aku perlu banyak kredit untuk mulai operasi.”

 

“Aku yakin Yesung akan senang membantumu bila kau minta dengan baik-baik.”

 

“Yah! Dengan baik-baik!” Ryeowook mendengus. “Apa kau juga mau menyalahkanku seperti ibuku? Semua orang mengatakan, perceraian itu salahku. Laki-laki mana yang sudi membiarkan ‘istrinya’ main mata ke sana-kemari. Uh! Mereka semua menuduhku yang bukan-bukan, padahal itu cuma terjadi sekali. Apa Yesung sendiri tidak pernah main mata? Sungmin, kaulah satu-satunya dalam keluarga yang masih bisa aku andalkan. Apa kau juga mau membalik punggungmu setelah semua yang kukorbankan bagimu?”

 

Sungmin menghela napas.

“Sebelum aku setuju untuk menolongmu, harus kutegaskan, aku sama sekali tidak sanggup memberikan dukungan finansial bagimu. Aku cuma seorang dokter muda, gajiku tidak seberapa, sedangkan kerja di klinik Royal tidak boleh buka praktek pribadi. Kalau kau perlu tandatanganku, oke. Tapi pembayaran kembali harus kau tanggung sendiri.”

 

“Tentu saja. Itu sudah jelas. Kau tidak perlu khawatir sedikit pun. Butik ini pasti akan laku keras, karena para wanita jaman sekarang semakin tahu barang bagus. Kalau mereka bisa mendapatkannya di sini, untuk apa mereka buang-buang uang terbang ke luar negeri? Yang aku minta kau lakukan hanyalah menghubungi tuan Kang Seunghun di Bank XXX. Terima kasih.”

 

~+~+~+~

 

Saat itu, akhirnya Sungmin mengabulkan permohonan Ryeowook dan kredit itu diperoleh tanpa banyak kesulitan. Tapi Sekarang! Dia menghela napas, meraih kembali kedua surat, memasang lagi kacamatanya, dan membaca ulang. Rasa kesal, khawatir, bingung, semuanya bercampur aduk, membuat tekanan darahnya melonjak. Jari-jarinya pun mencengkram kertas-kertas itu dengan ketat, menyebabkan ujung-ujung kertas menjadi kumal.

 

Tiga koma lima juta! Darimana akan kuperoleh jumlah sebanyak itu SAAT INI? Aku tidak boleh membiarkannya berbuat semaunya seperti ini terhadapku! Dia ‘kan sudah berjanji. Tidak, aku tidak mau membiarkannya terus-menerus membuat kepalaku pening!

 

Sungmin meraih teleponnya dan menekan nomor telepon butik eksklusif tempat belanja nyonya-nyonya kaya itu. Segera terdengar suara merdu di ujung telepon ketika teleponnya dijawab,

“Afrodit, butik kesayangan Anda, Ryeowook di sini. Apa yang dapat saya lakukan untuk Anda?”

 

“Banyak!” sahut Sungmin setengah menghardik. “Aku baru saja menerima surat tagihan dari bank dan pengacara mereka. Kau telat membayar, menunggak sampai tiga koma lima juta!” Dia nyaris berteriak, suaranya sudah naik satu oktaf.

 

Tapi Ryeowook justru tertawa riang, suaranya menyakitkan telinga, merangsang syaraf Sungmin yang sudah tegang. “Tenang, Sungmin. Tenang. Apa kau tidak pernah dengar yang disebut hutang mati?”

 

“Ryeowook! Kau tidak berniat me…” Karena terlalu cemas membuat Sungmin tak dapat meneruskan kata-katanya.

 

“Hahaha! Aku cuma main-main. Sudah tentu aku akan melunasi hutangku!”

 

“Kapan?” tanyanya sinis. “Kau tidak akan menunggu sampai meteor jatuh, bukan?”

 

“Jangan sarkartis!” balas Ryeowook kurang senang. “Oh, maaf, ada orang yang mau belanja. Datanglah nanti malam ke tempatku. Aku akan memasak ravioli kesukaanmu, dan kita bisa berunding bagaimana caranya membayar tagihan itu. Jam delapan? Ingat, ini ‘kan cuma hutang uang, Sungmin. Bukan hutang darah! Bye…”

 

Telepon terputus. Sungmin memandang telepon seperti orang bodoh.

Apa maksud ucapannya barusan? Berunding? Apa yang mau dirundingkan? Aku tidak sudi membayarkan hutangnya!

 

Namun helaan napasnya menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak yakin tekadnya bisa terlaksana. Dan semua itu dimulai ketika dia baru berusia tujuh tahun…

 

~+~+~+~

 

Sungmin sebaya dengan Ryeowook, hanya lebih muda empat bulan. Ayahnya, Dokter Lee Sunhwa, adalah kakak Bibi Joo, ibu Ryeowook. Dokter Lee Sunhwa adalah salah seorang ahli bedang jantung yang terkemuka di kawasan Asia. Rumahnya yang megah jelas menunjukkan betapa suksesnya dia. Dengan istrinya, seorang direktur TV swasta yang populer, pasangan itu memiliki 3 orang anak laki-laki.

 

Sungmin berusia tujuh tahun ketika ibunya hamil adiknya, Sungjin. Kehamilan kali itu agak sulit, disertai dengan muntah-muntah hebat yang bisa menjadi fatal bagi ibu dan bayi. Perhatian segenap keluarga dan kerabat dicurahkan pada ibunya. Tak seorang pun menyadari bahwa Sungmin semakin pucat dari hari ke hari…

 

~+~+~+~

 

Kriiing…

 

Suara dering telepon mengembalikan Sungmin dari lamunannya. Ia menekan tombol dan mengangkat kembali gagang telepon yang tadi diletakannya. “Ya?” jawabnya.

 

“Dokter Lee, tolong ke kamar nomor empat. Segera!” terdengar suara perawat di ujung telepon.

 

“Baiklah.”

 

Sungmin meletakkan kembali gagang telepon. Setelah merapikan kedua surat yang dilemparnya ke dalam laci, lalu dia bergegas keluar ruangan. Saat itu sudah hampir jam sebelas. Klinik Royal sudah sibuk dengan berbagai kegiatan, banyak orang lalu-lalang menjalankan tugas masing-masing. Para pasien dan keluarga mereka tampak berdiri di lorong-lorong atau duduk diam-diam dengan wajah mengerut penuh kekhawatiran.

 

Seorang perawat dengan wajah ceria dan berat badan surplus tampak menghampiri. Topinya yang putih kaku karena ditajin, menutupi sebagian rambutnya yang disanggul.

 

“Dokter, ini status pasien baru itu,” ujarnya menyodorkan sebuah map berwarna kuning yang dijepit di atas tatakan plastik untuk menulis.

 

“Terima kasih. Apa sudah ada orang di sana?” tanya Sungmin, seraya menerima map berwarna kuning tersebut.

 

Suster itu mengangguk.

“Dokter Cho Kyuhyun dengan kepala perawat Park Jimin.  Maaf, dokter.” Dia menoleh ke samping dan meraih telepon yang terdengar berdering.

 

Sungmin segera meneruskan langkahnya ke kamar nomor empat. Seorang wanita di ambang lima puluh terlihat memutar lehernya ke arah pintu ketika dia berjalan masuk setelah mengetuk dulu. Kepala perawat itu menurunkan kacamatanya ketika dilihatnya wajah manis Sungmin, lalu menyapa dengan suara hangat,

 

“Pagi, Dokter.”

 

Semua orang di kalangan kedokteran mengenal ayahnya. Dokter Lee Sunhwa sangat disegani oleh para sejawat serta anggota staf rumah-rumah sakit. Dia juga dihormati berkat keahliannya. Namanya harum di dunia medis Asia, bahkan sampai ke Barat. Dan karena itu Sungmin diperlakukan seperti anggota keluarga, bukan sekedar dokter muda yang baru lulus.

 

“Selamat pagi Jimin-ssi.” Balas sapa Sungmin, tersenyum.

 

Ketika Sungmin menghampiri ranjang, supervisornya menoleh padanya,

“Dokter Lee, ini nyonya Choi Eunsuk.” Lalu ia menoleh pada si pasien. “Nyonya Eunsuk, Dokter Lee akan memeriksa Anda dengan tuntas.”

 

Sungmin melihat sejenak ke dalam map. Pasien berusia empat puluh lima tahun. Namun saat ia mengalihkan pandangannya pada si pasein, Sungmin berpikir bahwa wanita itu terlihat jauh lebih tua dari usia yang tertulis di dalam map.

 

“Halo, nyonya, bagaimana perasaan Anda hari ini?” tanya Sungmin dengan ramah.

 

Pasien itu menjawab seraya menyeringai,

“Oh, tidak nyaman, Dokter. Tapi setelah melihat pria tampan seperti Dokter, saya merasa napas saya jadi lebih longgar.”

 

Dokter Cho Kyuhyun terbahak, sementara Sungmin nampak tersipu. Dia tersenyum, batuk-batuk, sementara matanya menyapu data-data pasien di atas map: Tekanan darah tinggi selama sepuluh tahun, mungkin pernah kena demam-rematik waktu kecil, napas memburu terlebih jika banyak bergerak—ini sudah terjadi selama setahun lebih, dan sekarang demam, tidak enak badan. Semula pasien menyangka cuma flu, tapi kemudian kedua kakinya membengkak dan perut terasa nyeri, sehingga terpaksa pergi ke dokter karena terlalu cemas. Pemeriksaan dokter umum menunjukkan adanya pembesaran limpa.

 

Sungmin mengangkat wajahnya dan melihat Kyuhyun menunjuk ke status yang baru saja dibacanya. Dia mendengar Kyuhyun berkata, “Tentunya kita harus mengecek setiap keluhan dan gejala. Berapa besar limpanya, berapa serius keadaan jantungnya, apa ada denyut tambahan seperti murmur, apa ada cairan di paru-paru. Kedua kakinya bengkak, itu pasti cairan udem. Apa kira-kira diagnosisnya?”

 

Sungmin mengigit bibir dan menunduk untuk berpikir keras.

“Ini berkaitan dengan jantung…”

 

“Benar! Ingat demamnya, nyeri di pinggang, kurang enak badan, semua gejala flu dan riwayat demam-rematik… Nah, mereka menjurus kemana?”

 

Endocarditis, tapi…”

 

“Tak ada ‘tapi’! Ini memang peradangan selaput jantung. Sekarang mari kita cari di mana kira-kira sumber infeksinya.” Kyuhyun menoleh pada pasien dan bertanya, “Nyonya Eunsuk, apa Anda baru-baru ini menjalani tes laboratorium atau mendapat suntikan?”

 

“Tidak, Dokter. Saya belum ke dokter lagi sejak check-up bulan lalu. Kecuali tentu saja, kemarin, saya ke dokter umum langganan. Tapi saya tidak disuntik atau ditusuk sama sekali. Hanya disuruh langsung kemari.” Jawab si pasein.

 

“Tak ada tes apa pun?” tanya Sungmin menegaskan. “Coba Anda ingat-ingat.”

 

Kepala yang sudah beruban itu bergoyang-goyang di atas bantal.

“Saya cuma ke dokter gigi, geraham saya ditambal satu.” Dia membuka mulutnya, jarinya masuk untuk menunjukkan tempatnya.

 

“Itu dia!” Seru Kyuhyun mengangguk pada Sungmin. “Sekarang kita ingin memeriksa matanya. Nyonya Eunsuk, kami ingin memeriksa bagian dalam mata Anda. Suster, tolong ambilkan aphthalmoscope.”

 

“Baik, Dokter.” Suster Jimin keluar untuk mengambil alat itu dari ruang pemeriksaan.

 

Kyuhyun kembali menoleh pada Sungmin.

“Apa lagi yang akan kita perhatikan?”

 

“Mm. Ujung-ujung jari yang menggembung…ya, positif.” Sungmin menunjuk bagian kuku jari yang agak membengkak. Kemudian ia membalik tangan si pasien dan tampak bercak-bercak merah di atas telapak. “Ini, bercak-bercak Janeway. Mungkin di telapak kaki juga ada.”

 

Kyuhyun memeriksa kaki si pasien dan mengangguk.

“Ya, ada. Biasanya ini jarang terlihat sebenarnya. Kau pintar, Dokter Lee!” pujinya. Lalu meneruskan dengan berbisik, “Malam ini kau bebas?”

 

“Kita harus mengetes urine untuk mencari pendarahan yang tersembunyi.” Sungmin berkata, berusaha mengabaikan bisikan lembut Kyuhyun di telinganya.

 

“Maksudmu hematuria mikroskopik, pendarahan yang cuma terlihat di bawah mikroskop?” Kyuhyun manggut-manggut. Lalu kembali berbisik, “Kau belum menjawab pertanyaanku tadi,”

 

“Ya, betul. Dan mata, seperti Dokter bilang tadi, untuk mencari bintik-bintik Roth. Dan juga kultur serta pemeriksaan darah lengkap.” Lalu Sungmin bergumam, “Maaf, malam ini aku sudah ada janji,”

“Ya, ya. Jangan lupa periksa jantung dengan echocardiography. Kita tak perlu menunggu hasil kultur darah, mulai saja segera dengan penicillin dan gentamicin.” Lalu bisiknya lagi, “Nasibku! Siapa wanita itu?”

 

Sungmin mengangguk setuju.

“Pakai infus, tentunya?” Lalu balas berbisik lagi, “Bukan kencan. Cuma ke tempat Ryeowook, sepupuku. Katanya, dia memerlukan bantuanku.”

 

“Tentu saja dengan infus.” Dia berbisik lagi, “Yang punya butik di Gangnam? Sepupuku membeli baju tidur dari Paris seharga dua ratus lima puluh ribu di butiknya.”

 

“Yang benar!” gumam Sungmin, membelalak heran. “Baju tidur seharga seperempat juta?”

 

“Bagaimana sabtu malam?”

 

“Oke.”

 

Suster Jimin kembali dengan alat yang ditunggu, dan percakapan mereka terhenti. Sungmin tahu, seharusnya dia menjauh dari dokter tampan yang dianggapnya pedantik itu. Bila Kyuhyun sudah menegurnya hanya karena soal sepele seperti salah menyebut nama, hatinya terasa sangat jengkel. Saat itu, dia berjanji takkan peduli lagi dengan orang itu. Tapi, bila suara Kyuhyun sudah kembali lembut seperti sekarang, hatinya pun kembali lunak. Sungmin sungguh tak habis mengerti, kenapa dia bisa sebodoh itu?

 

Kenapa aku ini menurut saja bila dia mengajak kencan? Bukankah aku sudah tidak mau dekat-dekat dengannya? Tapi, asal suaranya sudah merdu merayu, dengan mudahnya aku melupakan kekesalanku sebelumnya. Kenapa aku jadi sebodoh ini? Seperti orang tanpa kepribadian?

 

“Dokter Lee, mari!”

 

Suara Kyuhyun yang penuh wibawa menarik Sungmin dari lamunannya. Bergegas dia melangkah ke sampingnya dan menerima alat yang disodorkan. Dia mendekatkan kepalanya ke mata pasien, dan didengarnya suara Kyuhyun di belakangnya berkata,

 

“Perhatikan baik-baik, coba lihat apakah memang ada bintik-bintik itu,”

 

~+~+~+~

 

Ryeowook tinggal di perumahan mewah yang dijaga oleh satpam siang-malam. Di pintu gerbang perumahan, mobilnya ditahan. Satpam melihat ke dalam mobil, sepuluh senti lebih dalam dari seharusnya, sehingga Sungmin terpaksa memiringkan kepalanya ke samping agar tidak mencium bau kepala orang itu.

 

“Boleh saya lihat tanda pengenal Anda, tuan? Mau kemana malam-malam begini?” tanyanya.

 

Sungmin memberikan apa yang diminta tanpa menjawab, merasa kurang nyaman dengan nada suara si satpam yang disertai seringai yang agak ceriwis itu. Setelah membaca titelnya, sikap si satpam berubah menjadi sopan sekali.

 

“Dokter Lee Sungmin, mau ke tempat siapa, Dokter? Saya perlu mencatatnya untuk laporan.” Orang itu menunjuk ke samping, dimana mendadak sudah muncul satpam kedua dengan buku panjang dalam genggamannya.

 

“Ada pasien serangan jantung, saya perlu segera ke sana,” sahutnya sekenanya, sekaligus menyebutkan nama jalan dan nomor rumah Ryeowook.

 

Satpam membungkuk seraya mempersilahkan dengan tangannya. Sungmin segera menjalankan mobilnya menuju rumah Ryeowook yang agak jauh dari gardu penjagaan, kira-kira empat kilometer. Sungmin menghentikan mobilnya di depan rumah Ryeowook yang mewah. Setelah mengunci mobilnya, dia menekan bel dan menunggu selama beberapa menit hingga akhirnya Ryeowook keluar dengan mengenakan Sweater biru yang bagus dan nampak mahal. Sungmin yakin, benda itu pasti merupakan contoh dari apa yang dijualnya dalam butiknya. Sungmin sendiri baru sekali ke butik Ryeowook, yaitu pada saat pembukaan. Semua keluarga diundang. Sebenarnya saat itu dia merasa segan untuk datang, tapi ibunya mengingatkannya pada kewajibannya sebagai anggota keluarga yang baik dan tahu berterima kasih. Tentu saja, undangan itu tidak gratis. Secara halus Bibi Joo menyebut-nyebut tentang kurangnya hiasan dalam butik itu.

 

Sungmin ingat saat itu bibinya berkata padanya,

“Butik mewah perlu hiasan yang eksklusif, kau setuju, bukan, Sungmin? Bibi melihat lampu antik di Mall, sayang harganya…”

 

Sebelum dia sempat mengatakan apapun ibunya berujar seraya menoleh padanya,

“Kalau kau rasa cocok, ayo kita beli!”

 

Dan Sungmin terpaksa setuju. Mana mungkin dia menolak secara terang-terangan, terlebih lagi setelah ibunya mengedipkan sebelah matanya. Ternyata harga lampu itu dua juta lebih. Beruntung ibunya masih berbelas kasihan, dia hanya diminta membayar sepuluh persen, sisanya ditanggung oleh ayahnya.

 

Sungmin melangkah masuk ke dalam rumah, disambut dengan gembira oleh seekor anjing pudel berwarna putih. Lulu melompat dengan begitu girang, membuat hatinya merasa tertusuk pedih, menyadari bahwa anjing itu sudah bukan miliknya lagi. Dia berlutut dan memeluk anjing pudel itu, mendekap tubuh kecil itu ke dadanya. Lulu menjilati pipi Sungmin, menyatakan cinta dan kebahagiaannya.

 

Sungmin tertawa dan menurunkan Lulu ke lantai, lalu menegakkan badan. Terdengar suara Ryeowook yang memanggilnya dari dapur. Sambil berjalan ke dapur, matanya memperhatikan ruangan-ruangan yang dilewati. Ini bukan kunjungannya yang pertama, tapi dia masih saja terperangah dalam kagum melihat tata ruangan serta perabotan yang serba artistik. Nampak indah dan rapi.

 

Rumah Ryeowook tidak terlalu besar, tapi ada kolam renang sehingga memberi kesan mewah. Dan memang ya. Pelayannya pun terlihat mewah dalam daster aneka warna dengan sepasang bola dunia yang bergelantungan di cuping telinganya. Sebenarnya Seohyun baru berusia dua puluh tahun, tapi perlentenya sudah tak bisa dibedakan dari nyonya rumah biasa di perumahan itu.

 

“Citra rasamu sungguh tak terkalahkan!” Sungmin mendecak kagum setiba di dapur. “Kalau aku paling tidak pandai mengatur ruangan. Apartemenku masih terlihat seperti kamar seorang mahasiswa, acak-acakan. Dan perabotanku tidak beda dari jaman aku masih kuliah. Kenapa kau tidak mau jadi dekorator ruangan? Kelihatannya kau berbakat di bidang ini.”

 

Ryeowook menjerit senang.

“Duduk, duduk. Tentu saja aku mau jadi ahli dekorasi, tapi dari mana modalnya? Seandainya Yesung tidak sepelit itu!” Dia menghela napas, lalu menyuruh pelayannya pergi. “Kau bisa pergi Seohyun, kau menonton TV saja di kamarmu. Aku bisa mengurus semuanya sendiri. Nanti kalau aku perlu sesuatu, kau akan kupanggil lagi.”

 

“Ayo, Lulu, ikut saya!” Seru Seohyun dari luar dapur, tapi anjing pudel itu tidak bergerak, menoleh pun tidak. “Aissh, tuli ya!” gerutunya sambil melangkah ke belakang.

 

Ryeowook meletakkan sepiring ravioli yang panas mengepul di depan Sungmin, dan sepiring lagi untuknya sendiri. Mereka duduk berhadapan di meja makan. Bagaimanapun menjengkelkannya sepupunya itu, Sungmin harus mengakui keahliannya di dapur.

 

“Wah, ini benar-benar lezat!” seru Sungmin. “Aku jadi diingatkan pada pertanyaan yang sudah lama ingin kutanyakan: kenapa kau tidak mau membuka restoran spagethi dan masakan Italia? Di kota metropolitan seperti ini, pasti laku.”

 

“Aku juga sudah sering memikirkannya, tapi mana mungkin aku yang akan jadi kokinya? Sepuluh jam di dapur setiap hari? Bisa-bisa wajah tampanku akan keriput sebelum waktunya!” Ryeowook terbahak hingga air matanya menetes ke piring.

 

“Aku sungguh heran, kenapa Yesung tidak betah? Orang bilang kan, cinta itu dipupuk melalui perut?”

 

“Masalahnya, seleranya terlalu macam-macam. Aku saja tidak cukup baginya.”

 

Sungmin terkejut dengan pengakuan itu, sehingga tangannya terhenti di udara. Ravioli di garpunya nyaris jatuh ke atas taplak meja yang putih. “Maksudmu, dia…?”

 

Ryeowook menyeringai seperti orang menang lotre.

“Kaget? Ketika aku kembali dari Manila sehari lebih awal dari jadwal, kupergoki dia di atas ranjang bersama kekasih-kekasihnya! Kepalaku terasa pening melihat mereka sedang berciuman, merintih dan mendesah.”

 

“Lalu kenapa tidak kau katakan terus terang di pengadilan, tapi malah membiarkannya menuduhmu telah berselingkuh? Seandainya kau berterus terang, mungkin Yesung tidak akan menceraikanmu.”

 

“Dan tentunya aku akan kehilangan uang santunan yang lumayan itu! Apa kau masih belum tahu bagaimana jalan pikiranku?”

 

“Maksudmu, kau membuat perjanjian dengannya?”

 

“Tentu saja! Aku berjanji, bibirku akan terkunci selamanya. Yah, tidak selamanya, tapi paling tidak sampai uang yang diberikannya itu habis! Hahaha… tapi sebenarnya aku menyukainya. Dia selalu baik padaku, aku tidak punya niat membocorkan rahasianya ke tabloid ataupun ke internet. Aku tahu, dia akan merasa celaka bila keluarganya sampai tahu, terlebih ibunya yang menyayanginya seperti intan permata,

 

“Kau tahu, aku mengelola butik ini ‘kan supaya kelak aku bisa ikut advis dari dia, apa yang harus kubeli, mode macam apa yang sedang in, bagaimana bisa dapat barang murah yang bagus. Dia ‘kan punya koneksi luas di bidang mode. Yesung belum tahu aku sudah punya butik. Kuakui, Yesung memang berhati baik. Karena itu, aku juga tidak mau menjelek-jelekkan namanya di media. Kalau tidak sih, mungkin aku sudah berhasil mendapatkan puluhan juta! Yah, tapi kadang-kadang keadaan memaksa orang untuk…”

 

Ryeowook tidak meneruskan ucapannya. Dia menunduk dan memasukkan sepotong ravioli ke celah bibirnya dengan gerakan yang tenang, seakan tengah bersantap dengan seorang putri. Sungmin terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata,

“Maaf jika dugaanku keliru. Kau berniat menuntut lebih banyak lagi dari Yesung untuk merapatkan kembali bibirmu? Benar, tidak?”

 

“Ya, kurang-lebih begitu. Sungmin, kau adalah orang pertama yang kupercayakan dengan rahasia ini. Ya, aku memang sudah berusaha mengajukan permintaan padanya, tapi kekasihnya yang brengsek itu mengancam akan membunuhku kalau aku nekat mau bertemu dengannya.”

 

“Karena tidak berhasil, maka kau terpaksa meminta pertolonganku!”

 

Ryeowook menarik napas.

“Apa yang bisa kulakukan?”

 

“Sekarang aku mau bicara tentang tagihan pelunasan hutangmu itu!”

 

“Ada apa dengan tagihan itu?” Suaranya terdengar datar, seakan yang dipersoalkan cuma urusan sepele.

 

“Ryeowook!” pekik Sungmin jengkel. “Kukira kau mengundangku kemari untuk membicarakan tentang kewajibanmu melunasi hutang!”

 

Ryeowook nyengir.

“Aku cuma main-main. Tentu saja akan kulunasi, tapi aku butuh waktu. Orangku, yang biasa mengorder barang-barang untuk butik, kabur dengan uangku sebanyak sepuluh juta!”

 

“Sudah kau laporkan ke polisi?”

 

“Tidak. Soalnya terlalu memalukan. Aku tidak ingin ada skandal yang dihubung-hubungkan dengan butikku.”

 

“Kau gila! Seorang perempuan membawa lari uangmu begitu banyak, dan kau diam saja?”

 

“Siapa bilang dia perempuan?”

 

“Ryeowook!” Sungmin hampir tersedak ravioli karena begitu terkejut.

 

“Ini bukan apa yang kau sangka. Kami tidak punya hubungan apa-apa. Pegawaiku itu sering kali memijatku kalau tubuhku sedang terasa penat. Dia memang ahli pijat shiatsu. Saat itu aku dipijat hingga ketiduran. Ketika aku bangun, hari sudah gelap. Rupanya, saat aku tidur dia menguras lemariku dan mengambil kotak sepatu dimana kuletakkan uang kontan itu.”

 

“Ryeowook, kau begitu…”

 

“…Bodoh!” Ryeowook menghela napas pasrah. “Kau benar.”

 

“Kau begini modern, sudah menjelajahi dunia berkali-kali, tapi kau simpan uangmu dalam kotak sepatu?”

 

“Aku merasa tentram kalau bisa merasakan punya uang sekotak penuh. Sebelum tidur, biasanya kotak itu aku dekap lalu aku amati isinya, kuraba, kuciumi. Semua uangnya masih baru, tentu saja. Aku tidak mau diberikan uang bekas yang sudah penuh kuman. Sebenarnya aku berniat menyetornya ke bank esoknya, dan kukatakan begitu padanya. Aku juga mengerti, tidak mungkin menyimpan uang kontan lama-lama di rumah. Tiga hari saja sudah cukup membuat tidurku kurang nyenyak. Setiap kali terdengar suara gemerisik dari luar atau kebun samping, jantungku langsung nyeri.

 

“Sepertinya anak buahku itu memasukkan sesuatu ke dalam minumanku sebelum aku dipijat. Dan setelah aku tertidur pulas dia membalikkan tubuhku, menelanjangiku, lalu dia mengambil fotoku dua kali dengan kamera Polaroid milikku yang kemudian dibawanya juga. Dia meninggalkan sehelai foto untuk tanda mata, katanya. Foto yang kedua, akan dikirim ke koran-koran bila aku melapor ke polisi. Dia menulis di secarik kertas dengan tulisan, ‘Foto telanjang mantan ‘istri’ Yesung, perancang mode terkenal, pasti akan berharga tinggi’. Nah, diancam seperti itu aku bisa apa?” Ryeowook menunjukkan raut muka memelas yang tak pernah gagal memancing rasa kasihan Sungmin.

 

“Oh, Ryeowook, sial sekali kau!”Sungmin mengulurkan tangan dan menepuk-nepuk tangan sepupunya yang tergeletak lemas di atas meja.

 

“Ucapan simpati saja tidak cukup untuk menarik diriku dari kekacauan ini,” ujar Ryeowook sinis. “Aku perlu tiga koma lima juta untuk melunasi tagihan tersebut, dan kau harus menolongku.”

 

“Aku tidak punya uang kontan sebanyak itu.”

 

“Minta pada ayahmu.”

 

“Itu tidak mudah. Ayahku sangat hemat, tidak mau mengeluarkan uang sembarangan. Jika aku minta pada ayahku, dia pasti ingin tahu untuk apa uang sebanyak itu, kemana uang gajiku selama ini dan seterusnya, dan seterusnya. Dia pasti akan terus bertanya. Kau tahu sendiri, aku tidak pandai berbohong, selalu ketahuan dan akhirnya pasti akan kuceritakan hal yang sebenarnya.”

 

“Jangan! Sumpah padaku. Jangan sekali-kali kau mengatakan pada ayahmu mengenai diriku. Dia pasti akan mengatakannya pada ibuku, dan ibuku bisa terkena serangan jantung.”

 

“Aku tahu. Ibumu memujamu seperti dewa. Semua orang menganggap dirimu malaikat,” Sungmin menarik napas berat dan meletakkan garpunya ke atas piring yang sudah kosong. Pikirannya langsung berputar, bicara sendiri.

 

Sejak Ryeowook menyelamatkan diriku, dia dianggap sebagai penjelmaan malaikat yang pantasnya cuma disembah di atas singgasana.

 

“Bagaimana aku bisa membantu, jika kau melarangku berterus terang pada ayahku?” kata Sungmin kemudian.

 

“Jangan bawa-bawa ayahmu, deh. Ah, coba pikir, bagaimana jika kita barteran. Lulu akan kukembalikan, kalau kau mau membantuku!” usul Ryeowook.

 

Mendengar namanya disebut, anjing pudel itu mengangkat kepalanya dari lantai, menyalak sekali, lalu melompat mendekati Sungmin dan menggaruk-garuk betisnya dengan kaki depannya. Sungmin menunduk, tersenyum dan mengangkatnya ke atas pangkuan, lalu membelai bulunya yang putih mulus.

 

Sungmin terdiam sejenak, berpikir. Tawaran itu sangat menggiurkan. Sebelum Kangin pergi ke Washington, dia telah memberinya seekor anak anjing. Sebulan kemudian Ryeowook bersikeras bahwa Lulu sangat cocok untuk ditaruh di kaca etalase butiknya. Tanpa segan Ryeowook mengancamnya, bahwa dia akan meneruskan permintaan itu pada orangtuanya seandainya Sungmin menolak. Sungmin sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh ibunya,

 

“Ryeowook sudah menyelamatkan jiwamu, kenapa sekarang kau tidak kenal balas budi? Mengabulkan permintaannya tidaklah seberapa dibandingkan dengan apa yang telah diakukannya bagimu!”

 

Dan terpaksa Sungmin membiarkan sepupunya mengambil Lulu darinya.

 

“Kau serius mau mengembalikan Lulu?” tanya Sungmin. Matanya melebar karena kurang percaya.

 

“Ya!” Jawab Ryeowook yakin.

 

“Tapi katamu, kau sangat memerlukan Lulu untuk menghiasi butikmu.”

 

Ryeowook menghela napas.

“Tanpa bantuanmu, tidak akan ada butik baginya untuk dipamerkan. Dan kalau tidak kukembalikan dia padamu, mungkin kau tidak mau menolongku.”

 

Telepon mendadak berdering dari ruang sebelah, tapi Ryeowook tidak beranjak untuk mengangkatnya. Dia terus membiarkan teleponnya berdering hingga akhirnya diambil alih oleh answering machine. Lalu terdengar suara seorang laki-laki.

 

“Hai, Ryeowook. Ini aku, Henry. Kekasihku sudah setuju untuk membeli Lulu. Apa aku bisa mengambilnya besok pagi? Aku bisa datang sebelum kau berangkat ke butik. Hubungi aku jika sempat. Byee.”

 

Dan pesan itu pun berakhir. Lalu Ryeowook berkata,

“Uh, itu temanku. Aku terpaksa menjual Lulu kalau kau tidak mau menolong. Keuanganku sedang menipis. Biaya perawatannya tidak ringan, belum lagi biaya dokternya.” Dia mengangkat bahu tanpa emosi, lalu menatap piring-piring mereka yang sudah kosong. “Ayo, kita ke ruang depan. Biarkan saja semuanya di meja, nanti dibersihkan oleh Seohyun. Aku akan membuatkan cappuccino. Kau boleh memutar CD kalau mau.”

 

Sungmin beranjak ke ruang depan dan memilih lagu ballad yang lembut, lalu duduk di sofa menikmati musik. Lulu meloncat ke atas pangkuannya dan merebahkan diri dengan terpejam, tampaknya bahagia sekali karena dibelai oleh tuannya.

 

Pikiran Sungmin mendadak dilanda ingatan masa lalu. Masih terbayang olehnya hari ulangtahunnya yang ketujuh. Pesta sudah disiapkan, tapi terpaksa dibatalkan karena dia jatuh sakit dan harus dibawa ke rumah sakit. Berbagai tes dilakukan yang akhirnya menghasilkan sebuah kesimpulan yang membuat wajah ayahnya pucat pasi, sedangkan ibunya langsung menangis…

 

“Ini kopimu. Cobalah, rasanya enak. Yesung yang mengajarkan. Katanya, dia belajar membuatnya ketika sedang magang di Milan, pada sebuah rumah mode terkenal, nomor dua di Italia.” Ryeowook berkata seraya menjatuhkan diri di ujung lain sofa tersebut.

 

“Bukankah dia magang di Paris?” tanya Sungmin.

 

“Oh, di segala tempat, bukan cuma Paris dan Milan.” Jawab Ryeowook.

 

Mereka meneguk cappuccino dengan nikmat. Untuk beberapa saat tak ada yang bersuara. Sungmin hampir terlena dengan irama musik yang lembut. Ketika mendadak Ryeowook bicara lagi, dia hampir terkejut mendengar suaranya yang mengalahkan suara musik yang pelan.

 

“Bagaimana keputusanmu, Sungmin? Membawa Lulu pulang malam ini, atau bilang selamat tinggal padanya untuk selamanya?”

 

Sungmin menggigit bibirnya dengan kesal. Dia mengerti, itu adalah pemerasan yang keji, tapi ini bukanlah kejadian yang pertama kali dan pasti bukan juga yang terakhir. Ryeowook selalu punya banyak ide untuk memerasnya.

 

“Kau pasti sudah tahu, aku tidak mungkin berpisah dari Lulu untuk selamanya,” Sungmin berkata dengan sedih. “Dia adalah tanda mata dari Kangin yang kucintai. Dia akan sangat kecewa bila pulang nanti dan mendapati Lulu sudah diberikan pada orang lain. Aku tidak mau melukai perasaannya. Tapi kau tidak bisa menuntut pembayaran untuk Lulu, itu tidak adil. Lulu adalah hadiah, dan aku memberikannya padamu secara gratis juga, bukan?”

 

“Aku tidak minta supaya kau membelinya, Sungmin.” Kata Ryeowook, mencoba membujuk. “Aku cuma bilang, Lulu akan kukembalikan bila kau mau menolongku. Aku tahu, kau sangat mencintainya.”

 

“Dan bila aku lunasi tagihan sekali ini, apa kau akan mengembalikannya nanti?”

 

“Setiap Won, ya. Tiga koma lima juta!”

 

“Kesulitannya adalah bila kau tidak setuju, aku berterus terang pada ayahku…”

 

“Sungmin, aku tidak begitu bodoh!” Seru Ryeowook memotong perkataan Sungmin dengan tidak sabar. “Memang semasa di sekolah, kau sering membuatkan PR untukku, tapi sampai sekarang pun aku masih memiliki sedikit otak. Aku tahu, kalian para dokter, dibayar dengan sangat baik. Bukan cuma beberapa ribu. Pasti selama setahun ini kau sudah punya punya simpanan yang lumayan.”

 

“Yah! Aku tidak bisa menyangkal. Memang aku punya beberapa juta, tapi itu untuk keperluan mendesak.”

 

“Apa sekarang ini bukan keperluan mendesak? Sedikitnya, bagiku? Apa keperluanku bukan keperluanmu juga? Dimana kau sekarang, kalau bukan karena jasaku?”

 

Sungmin harus menguatkan hati agar jangan sampai menumpahkan amarahnya yang sejak dulu sudah semakin bertumpuk di dalam. Tak pernah ada kesempatan untuk melampiaskannya. Dia tak berdaya melakukannya. Dia selalu tak berdaya menghadapi malaikat penolongnya ini.

 

“Jumlahnya tidak seberapa, Wookie.”

 

“Bohong! Aku tahu kau punya banyak. Apa aku harus menuntut untuk melihat laporan gajimu setiap bulan?” gertak Ryeowook, tidak percaya.

 

Sungmin meletakkan cangkirnya yang kosong ke atas meja di depannya, lalu bangkit seraya menggendong Lulu. “Ini sudah larut, aku harus pulang. Dokter-dokter muda seperti aku harus masuk kerja pagi sekali, bukan seperti entrepreneur alias pengusaha sepertimu yang boleh mulai sembarang waktu, sesukamu.”

 

Ryeowook tertawa dengan sikap puas diri.

Entrepreneur! Aku suka sekali istilah itu.”

 

“Ayo, Lulu, kau akan kembali ke rumahmu yang sebenarnya!” Kata Sungmin pada anjingnya.

 

“Tunggu!” Tahan Ryeowook. “Bawa juga ranjangnya, talinya, makanannya…masih ada beberapa kaleng di lemari.” Dia pergi ke dapur mengambil makanan kaleng dan memasukkan semua barang itu ke dalam kantong plastik besar. Dari laci di bawah meja TV , dikeluarkannya sebuah buku berwarna biru yang ditunjukannya pada Sungmin. “Ini buku check-up dan vaksinasinya. Dia sudah harus kontrol ke dokter bulan depan.” Lalu dilemparnya buku itu ke dalam kantong plastik besar tersebut.

 

“Biasanya kau bawa kemana?” tanya Sungmin memperhatikan kesibukan Ryeowook.

 

“Dokter langgananku adalah dokter Kim Junho. Dia orang yang telaten dan sabar, tidak marah kalau ada pasien yang kencing di atas meja karena ketakutan.” Ryeowook tertawa geli, mungkin pasien yang dimaksudnya adalah Lulu. Sambil menepuk-nepuk kepala Lulu, ia berkata, “Dokter menyarankan supaya Lulu diperiksa setiap enam bulan.”

 

Sungmin menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti. Lalu Ryeowook berkata lagi dengan nada riang, “Bye, Lulu. Kembalilah kau pada ibumu yang asli. Sebenarnya aku tidak begitu suka anjing, tidak seperti kau, Sungmin. Aku tidak akan mencari gantinya. Melihat bulu-bulu yang menempel di sofa dan di karpet selalu membuatku kesal, apalagi harus membersihkan kutu-kutunya! Beruntung ada Seohyun yang mau mengerjakannya.” Dia menggerakan jarinya seolah menggambarkan sedang memijat seekor kutu jahanam.

 

“Akan kukirimkan cek ke bank besok. Tolong minta mereka mengirimkan surat-surat selanjutnya langsung ke alamatmu saja. Kau sudah berjanji takkan menggunakan alamatku, ingat?” Kata Sungmin mengingatkan. “Aku terpaksa memberikan alamatku karena pinjaman itu atas namaku. Tapi kau berjanji…”

 

“Maaf atas kekeliruan itu. Aku akan segera meralatnya.” Ryeowook memotong perkataan Sungmin dengan cepat. “Bagaimana kalau aku traktir kau makan kapan-kapan? Misalnya sabtu malam ini?”

 

“Aku sudah ada janji.”

 

“Dengan Kyuhyun?”

 

Melihat sepupunya mengangguk, Ryeowook mendecak, alisnya terangkat naik.

“Kau tahu? Setengah mati aku ingin bertemu atasanmu itu. Kenapa sih kau tidak pernah memperkenalkannya padaku? Aku ini ‘kan anggota keluargamu, atau bukan?” Katanya. Suaranya agak naik menandakan kekesalannya.

 

“Tentu saja. Kau ini lebih dari sekedar anggota keluarga. Kau adalah penolongku.” Sungmin tahu, akan percuma jika dia mencoba menghindar. Lebih baik turuti saja kemauannya. Maka dia meneruskan ucapannya dengan sebuah undangan. “Kenapa kau tidak mau ikut menemani kami, kalau begitu? Nanti aku tanyakan dulu kemana kami akan pergi. Besok aku akan menghubungimu.”

 

“Awas, jangan lupa!” ancam Ryeowook.

 

Ryeowook mengantar Sungmin hingga ke mobil. Ia melambaikan tangannya ketika mobil Sungmin berlalu pergi dengan Lulu yang meringkuk kesenangan di kursi belakang, lalu ia segera kembali masuk ke dalam rumah. Ia mendorong pintu rumah dengan kakinya, sedemikian keras karena terburu-buru, hingga daun pintu terbanting dan rumah terasa berguncang seketika. Maklum, walaupun rumah mewah, tapi kontraktor selalu berusaha korupsi, sehingga mutu bahan tidak sesuai dengan penampilan luar.

 

Dengan terburu-buru, sambil tersenyum senang Ryeowook langsung meraih gagang telepon dan menekan beberapa angka. Tidak lama teleponnya di jawab. “Henry, ini aku!” serunya, tertawa gembira.

 

“Bagaimana?” terdengar pertanyaan Henry dengan suara nyaring di ujung telepon. “Apa dia percaya?”

 

“Ya, ya! Dia langsung membawa pulang anjingnya! Bukan main suksesnya sandiwara kita!”

 

“Jangan lupa, itu ideku!”

 

“Jangan khawatir, kau akan mendapatkan bagianmu! Oya, aku juga mengatakan padanya, bahwa kau baru saja melarikan diri dengan kotak sepatuku yang penuh dengan uang kontan!” Ryeowook terkikik senang.

 

“Astaga! Apa-apaan kau memfitnah diriku?!” pekik Henry penasaran.

 

“Tenang, Sayang! Aku tidak menyebutkan namamu.”

 

Dan Ryeowook pun tersenyum senang.

 

Tbc.

33 thoughts on “Blood Debt Collection / Part 1

  1. Ya tuhannn.. Jadi wookie itu bersandiwara dengan henry?? Dan sungmin berhasil ditipu.. Errr.. Sebenarnya tidak begitu juga sih ya, tapi bagaimanapun wookie bersikap curang.. Dia selalu memanfaatkan jasa menolongnya pada sungmin.. Uhh kasian sungminn..

    Ck~ kyuhyun ini, lagi bekerja masih aja sempet berbisik seperti itu pada sungMin..
    Ahahah.. Jadi kyumin ini sepasang kekasiH?? Dan ketika mereka di klinik. Mereka akan bersikap seolah bukan sepasang kekasih. Benar begitu bukan?

  2. Ryeowook bisa bgt memanfaatkan Ming karna balas budi itu n dia gk segan2 buat meras Ming jgn2 ntr Kyu jg d embat dgn dalih balas budi n Ming gk bisa apa2 mna dia jga d kibulin lgi sma wook ksian bgt hidup Ming cuman d manfaatkan gtu

  3. Bru liat sinopsis.a aja sungmin udh keliatan sengsara..huft..
    Wookie jahat bgt sma sungmin..apa kyu jg akan jahat sma min???ahh..ini bnr” hurt..;(
    d lanjut min kecil:D

  4. hmmmmm… Rada benci ma karakter Wookie dsni dehh.. Kok Wookie jahat bgt ma Ming yah? Semua yg dimiliki Ming pasti jga ingn di miliki Wookiee.. Lama2 Wookie udah kyk Perampas apa tg dimiliki Ming dehh.. Jd khawatir Wook jga akan merampas Gyu dri Ming nh.. Plgi ada crack couple kyuwook bkin ak lansg ilfiil berat dehhh.. Di tunggu lanjutannya.. Jd KyuMin sama2 Dokter tuhhh*smirk*

  5. mmm, aku bener bener gak suka karakter ryeowook yg ini, dan aku gak begitu suka dengan karakter ming yg mau mau nya aja di ‘bego’-in begitu. duh aku sampe menskip beberapa percakapan.
    and anyway, aku suka interaksi kyumin disini mueheheh
    semoga kak min gak jodohin kyu and wook yah mueheheh.

  6. his gemes akumaRyeong, pengen aku bejeg2 dia. dia dah boongin Ming, memeras Ming, ah gt y saudara. ntar juga Kyu bakalan dia rebut, dia lebih licik dr ubi jalar burik. beneran aku kesel banget ma Ryeong di sini.
    apa sih hutang darah itu? apa transfusi darah kah?
    kl sikap Ryeong kek gt mah keterlaluan oake banget.
    ntar pasti juga bakalan ada balesannya, Ming yang sabar ya

    lanjutkan!!!

  7. Annyeong..
    Reader baru nih🙂
    Kayaknya kamu ngerti bgt ya masalah kedokteran.. (Y)
    Bgus bgt ceritanya…
    Wookie jahat bgt, kasian ming😦
    Di tunggu chap selanjutnya…

  8. Ryeowook curang dan sikaf nya yg memanfaatkan SungMin itu menyebalkan… dan apa dia juga akan mengambil KyuHyun dari SungMin ?? awas kou Kyu klo mau …
    henry siapa nya SungMin ??

  9. Adjfk…#jewer wookie

    Karakter wookie busuk bnget#kecup wokie
    Ming polos banget dibodohin gt, ming udah kaya spongeBob!!
    Lanjutkan sayang..
    Tapi rada ga tega pas baca summary kalo wookie juga mau kyu trus kyu malah menjauh juga..

  10. Wookieeeeeeeeeee rasanya aku ingin sekali melemparimu dengan sepatuku sayanggg #gemestingkattinggi
    Wookie disini nyebelinnya pake BANGET!
    Hahhhhh Ming punya stock kesabaran yg tinggi ternyata.
    Dan yah hutang nyawa dan budi itu memang menyebalkan jika yg menghutangkannya adalah orang2 yg menyebalkan. pokoknya gak ada enak2.na hutang budi ataupun nyawa itu.
    masih mending uang yg bisa dibayar sesuai dengan jumlahnya jika itu tidak berbunga.
    hadehhhhhh sumpah bacanya aku ampe ngumpat2 gaje dalem ati -_-

    ok eonn, semangat!^^

  11. rasanya pengen bgd nabok wookie -_-
    dari awal baca sampai akhir deg2an masa… ming mau2nya di peras abis2an sama wookie
    ini sebenernya wookie ngiri sama ming apah… jd apa pun yg ming punya dia jg pengen… dan kayaknya dia jg bakalan ngerebut kyu…
    tp ini endingnya bukan kyuwook kan author shi~

  12. Wookie oh wookie…..kau begitu menyebalkan…..
    FF ini sukses bikin aku ma KK ku berdebat! hahahaha
    tapi tapi tapi…….FF ini berakhir dg happy ending KyuMin kan?
    ya? ya? ya?

  13. Oh.. remake dr penulis negara sendiri ini… Daebak….
    Wooki jd antagonis yak disini..
    Penasaran niey ma kelanjutannya.. Lanjut yak Thor…

  14. Sumpah ya rasanya pengen bgt aq bejek2 tuh sie wookie….
    Jahat bgt sama sepupu sendiri…
    Hanya karena dlu dia pernah menolong sungmin dia jd berbuat seenaknya sama ming…
    Astagaaa… sumpah geregetan…

    Kyu nya jg knpa sikapnya bgtu ke ming…
    Memang benar harus profesional tp ga gtu jg caranya…

    Baca part 1 aja dh buat aq naik darah tuh cie wookie…
    Sabar ya ming….

  15. Entahlahhh~ aku merasa ingin MENCEKIK karakter ryeowook disini. Sumpah! Dia gila!
    Hadduhhh, minnie kasian kamu sayang u.u

    hahaha, lucu tuh kyumin nya, lagi nanganin pasien juga sempet2nya jadwalin kencan. Hadduuuhh, kyumin kyumin~
    nice thor, lanjut nyookk😀
    FIGHTING!!

  16. Omo! Aku baru bisa baca ff nya sekarang, piiis eon… >< Aigoo ini genre nya hurt ya, wookie jd memanfaatkan ming banget😦 jahat deh ahh T-T apalagi klo ditambah tar kyu ikut jauhin dia… T-T update kilat ya eon..

  17. Aduuh, Ryeonggu jadi antagonis disini, dan si Min chagi dimanfaatin habis-habisan(?) -_-
    Selain uangnya, apa Ryeonggu juga bakal ambil Kyuhyunnya? Oh, noo~ *histeris
    #plakplak
    It’s kinda complicated story, but I do love it xD
    Ayo, lanjutkan Kecil-ssi *_*)9

  18. kenapa wookie jahat bangeeeetttt
    selalu pake alasan pernah jadi penolong min
    dan minta balas budi huhuhu
    sungmin orang yg lembut dan tulus
    kyuhyun juga nyebelin
    inget sama min dan baik sama min kalo ada maunya aja
    huhuhu pasti bakalan sedih banget nih buat min
    apalagi pas wookie mau ngambil kyu
    mudah2 ada balesan buat wookie
    penasaran sama lanjutannya
    apdet kilat yaaaaa
    semangat

  19. Astaga😐 aku benar2 nggak suka orang seperti itu😐
    Ryeowook….
    Semena2 karena adanya ‘hutang hidup-mati’ TAT aaaakkk
    Kasian sungmin T~T

    Dan begitu baca sampai terakhir

    Satu kalimat tercetus dari mulutku:

    Astaga, liciknyaaaa D:

    Astaga astaga astaga
    Seakan-akan dgn begini lebih baik mati saja daripada dikerjain terus sama ryeowook

    Atau rasanya keinginan utk (maaf) bunuh ada (•̅_•̅) gregetan.

    Ngeselin banget D:

    Dan sekarang perlahan-lahan wookie mau merebut kyuhyun?
    😐

    Oke kakak engkau berhasil membangun sifat itu dalam diri wookie ._.

  20. ya ampun! gimana bisa si wookie jadi sejahat itu?? ya ampun wookie (┯_┯) tega sekali kau!
    kasian Sungmin ya. trus, apa dia bakal ngambil Kyuhyun juga? gyaaaaah!
    eh, memangnya Kyuhyun sama Sungmin hubungannya apa eon? pacaran? uh! penasaraaaan~

  21. wow…. ryewook keren banget aktingnya, ga nyangka segitu jahatnya ama sungmin…. kasihan sungmin ia harus rela terus-terusan diperas dan dimanfaatin…. mga aja ryewooknya cepet sadar dan ga jahat lagi ama sungmin, secarakan mereka sepupuan ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s