In a world of my own / No. 1

Gambar

Pairing : KyuMin, EunHae || Genre : Romance, Fantasy || Length : Chaptered || Warning : Boys love, shounen-ai || Disclaimer : Remake dari film “Ruby Sparks”. Ada perubahan dan tambahan seperlunya agar dapat sesuai dengan couple tersayang kita ^^ || Summary : Kyuhyun adalah seorang penulis novel romantis. Namun kehidupan nyatanya tidaklah seindah novel buatannya.  Ia dicampakkan oleh Victoria, kekasihnya yang telah lama dipacarinya. Ia selalu gagal dalam kencan. Dan phobianya terhadap keramaian memperparah situasinya untuk berinteraksi dengan orang lain, membuatnya sulit untuk menemukan pasangan yang dapat menerimanya apa adanya. Kyuhyun depresi dan kesepian, bahkan ia sempat berpikir untuk berhenti menulis. Namun suatu malam ia bermimpi tentang seorang pemuda yang sangat manis. Setiap malam ia selalu memimpikan pemuda itu, dan itu membangkitkan lagi semangat menulis Kyuhyun. Kyuhyun menjadikan pemuda itu sebagai tokoh utama dalam novelnya dan memberinya nama Sungmin. Suatu hari Kyuhyun menemukan seseorang yang mirip sekali dengan si pemuda manis yang dikarangnya, sedang berada di rumahnya. Pemuda manis itu mengatakan bahwa namanya adalah Sungmin dan ia adalah kekasih Kyuhyun. Apakah tokoh karangan Kyuhyun menjadi kenyataan? Apakah Sungmin benar-benar nyata, atau Kyuhyun yang mulai gila karena depresi?

 

*awalnya aku berniat bikin FF ini jadi OS tapi ternyata setelah dicoba, hasilnya malah terlalu panjang untuk sebuah OS. Akhirnya diputuskan untuk membaginya jadi beberapa part saja. Semoga nasib FF ini tidak terlunta-lunta seperti nasib FF yang lain T.T

 

Hope U Like It ^^

 

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

No. 1

 

Itu adalah sebuah tempat kosong yang sangat luas. Kemana pun ia mengedarkan pandangannya semuanya tampak sama. Dan sejauh apa pun ia berjalan tidak pernah ia menemukan adanya pintu keluar, atau jendela, atau apa pun yang bisa membuatnya keluar dari tempat aneh ini. Tidak ada apa pun. Tidak ada siapa pun. Kosong. Luas. Sepi. Hanya ada cahaya senja yang menerangi tempat ini.

 

Dimana ini? Apa yang sedang ia lakukan di sini?, pikirnya bingung.

 

Ia berdiri dan menatap ke kejauhan, pada garis batas cakrawala di depannya. Lalu memicingkan matanya, merasa melihat bayangan seseorang. Ya, ada seseorang yang berdiri di sana, berdiri membelakangi langit yang memerah. Bias cahaya senja perlahan memperjelas bayangan itu. Bayangan seorang pemuda. Ia hanya berdiri dan memperhatikan, semakin memicingkan matanya dan berusaha melihat wajah pemuda itu. Tapi karena jarak yang cukup jauh dan pemuda itu berdiri membelakangi cahaya senja, ia tidak dapat melihat wajahnya.

 

Siapa pemuda itu? Dan kenapa ia justru merasa senang ketika melihatnya?, pikirnya penasaran.

 

Pemuda itu menoleh ke kanan dan kiri, nampaknya ia sedang mencari sesuatu. Ketika melihatnya, pemuda itu berjalan menghampirinya dengan sedikit terpincang. Lalu ia segera menyadari bahwa pemuda itu hanya memakai satu sepatu di kaki kanannya, sementara kaki kirinya telanjang.

 

“Di situ kau rupanya, Kyu,” pemuda itu berkata padanya dengan nada riang. “Aku mencarimu kemana-mana.”

 

Ia tidak yakin siapa pemuda itu, namun rasanya seolah mereka telah lama saling mengenal. Ia hanya mengerjap, terpesona pada suara yang bagaikan dentang lonceng itu. Begitu indah. Ketika pemuda itu semakin berjalan mendekat akhirnya ia dapat melihat wajahnya. Dan ia kembali terpesona ketika melihat seraut wajah yang manis. Begitu memikat. Semakin pemuda itu mendekat hingga akhirnya berdiri di depannya, ia semakin terpesona oleh ‘kecantikan’ pemuda itu. Mata foxy-nya nampak cemerlang, dan rambutnya tak hanya satu warna; selusin tingkat warna dari cokelat muda ke pucat keemasan. Seluruh warna bagai matahari terbenam itu menyergapnya dalam sekejap, berkilau bagai kembang api.

Ia masih saja tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok manis di depannya itu. Dan ketika pemuda itu memiringkan kepalanya—nampaknya dia sedang berpikir—ia harus berusaha melindungi matanya dari bias cahaya senja di belakang pemuda itu dan memicingkan matanya lagi agar bisa melihat wajah manis itu dengan jelas. Ia masih ingin menikmati ‘kecantikan’ itu.

 

Lalu sambil menoleh ke kanan dan kiri mencari sesuatu, pemuda manis itu bertanya,

“Kau melihat sepatuku yang lain?”

 

Ia tidak menjawab, hanya memperhatikan pemuda manis itu lekat-lekat. Menyadari sedang diperhatikan, pemuda manis itu berhenti mencari dan menoleh, memandangnya dengan sedikit heran. Lalu tersenyum dan berkata,

 

“Apa?”

 

Ia masih tidak menjawab, masih menatap pemuda manis itu dengan penuh takjub. Bias cahaya senja yang semakin memerah membuat sosok di depannya itu nampak semakin indah. Pemuda manis itu memandangnya dengan heran, memiringkan kepalanya, lalu menegakkan kepalanya kembali dan nampak tersipu. Dia tersenyum kembali dan berkata,

 

“Apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?”

 

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

 

Biipp…biipp…biipp…

 

Suara alarm yang nyaring menyentakkan Kyuhyun dari mimpinya yang aneh. Ia terbangun dengan terkejut dan segera mengulurkan tangannya ke atas kepalanya, pada sebuah tempat yang ia jadikan meja untuk lampu baca, jam digital, beberapa pajangan kecil dan kacamatanya. Sejenak ia mencari jam digital itu yang terus menyuarakan alarmnya dengan nyaring, hingga akhirnya ia menemukannya. Segera ia mematikan suara alarmnya. Ia membalik tubuhnya, mendongakkan kepalanya dan menatap benda digital tersebut. Angka berwarna hijau di dalamnya menunjukkan pukul tujuh pagi. Ia beranjak bangun, duduk di ranjangnya dan mengerjap-ngerjap sesaat untuk mengembalikan kesadarannya sebelum kemudian meraih kacamatanya dan memakainya.

 

“Wooff…wooff…” terdengar suara seekor anjing yang menyalak-nyalak di depan pintu kamarnya, seolah memanggilnya untuk segera bangun.

Kyuhyun melirik ke arah jam digitalnya kembali dan teringat bahwa ini adalah waktunya untuk membawa anjingnya jalan-jalan. Setiap pagi ia harus membawa anjingnya jalan-jalan, jika tidak maka anjing itu akan membuang kotorannya sembarangan di rumah. Dan membersihkan kotoran anjing adalah bagian yang paling merepotkan bagi Kyuhyun.

 

Setelah mandi dan sarapan Kyuhyun mengajak Scott, anjing terrier piaraannya, untuk berjalan-jalan di luar. Anjing itu nampak senang sekali. Di taman, Kyuhyun melepaskan tali di leher anjing terrier itu dan membiarkannya berjalan-jalan sendiri. Scott berjalan pelan sambil mengendus tanah dan berhenti di bawah sebuah pohon. Ia menoleh sesaat pada Kyuhyun yang mengikutinya, memandangnya seolah sedang meminta ijin. Kyuhyun mengerti, anjingnya ingin membuang kotoran di bawah pohon itu. Maka ia hanya berkata dengan nada lelah,

 

“Silahkan!”

 

Namun ternyata Scott hanya duduk di bawah pohon itu dan mendongak menatapnya.

“Scotty. Ayolah, nak. Scotty.” Kata Kyuhyun, seolah ia sedang membujuk seorang anak kecil. Ia tidak ingin anjing kecilnya mengotori rumahnya dengan kotorannya nanti. “Lakukan saja, Scotty.”

 

Namun Scotty bergeming, dia tetap duduk dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Kyuhyun menghela napas, berdoa semoga nanti anjing kecilnya tidak memberinya pekerjaan tambahan di rumah. Ia memalingkan wajahnya dan merasakan frustasi itu kembali datang. Frustasi dari perasaan kesepian yang akhir-akhir ini selalu menderanya. Semakin hari terasa semakin parah.

 

 “Ok, ayo kita pulang.” Kata Kyuhyun setelah akhirnya Scotty hanya buang air kecil saja di bawah pohon itu. Ia mengaitkan kembali tali di kalung leher anjingnya dan mengajaknya pergi.

 

~+~+~+~

 

Setelah tiba di rumah Kyuhyun melepaskan tali di leher Scotty, menyimpannya dan berjalan ke dapur. Scotty mengikutinya. Dia hanya duduk dan memandang Kyuhyun yang sedang membuat dua roti bakar. Ketika Kyuhyun sedang menuangkan kopi ke dalam cangkir, dua roti yang kini berwarna kecokelatan itu meloncat keluar dari mesin pemanggang bersamaan dengan suara klik. Kyuhyun mengambil dua roti bakar itu dan meletakkannya di piring kecil. Sambil membawa sepiring roti bakar dan secangkir kopi Kyuhyun menaiki tangga menuju lantai dua. Scotty berlari kecil mengikutinya, ekornya bergoyang-goyang. Dia meloncati anak-anak tangga itu dengan lincah dan mengikuti Kyuhyun yang menuju ke ruang kerjanya.

 

Ruangan kerja Kyuhyun hanyalah sebuah ruangan kecil yang sederhana dan simpel, hanya ada beberapa rak buku, kalender dan beberapa kertas memo yang menempel di dinding, dan meja yang penuh dengan tumpukan kertas, lampu baca, sebuah cangkir yang penuh dengan pensil, pulpen dan spidol berbagai warna, alat tulis, beberapa pajangan kecil, dan terakhir sebuah mesin ketik yang masih manual. Ya, dibandingkan menggunakan komputer yang canggih, Kyuhyun lebih memilih untuk tetap menggunakan yang manual.

 

Manual dan kuno, persis seperti dirinya.

 

Kyuhyun meletakkan piring berisi roti bakar dan cangkir kopinya di atas meja kerjanya, lalu duduk di depan mesin ketik tuanya. Ia menyelipkan selembar kertas di dalam mesin itu, dan mengatur kertasnya sesaat. Ia siap untuk mulai bekerja. Namun selama beberapa lama ia hanya memandang kertas putih dan mesin manual di depannya itu. Lalu memandang jari-jarinya yang terdiam di atas huruf-huruf yang menonjol pada mesin manual itu, seolah tidak tahu harus menekan huruf yang mana. Wajahnya mengerut, nampak bingung. Tiba-tiba otaknya terasa buntu untuk membuat sebuah cerita.

 

Ketika ia mengangkat pandangannya, Kyuhyun menyadari bahwa Scotty sedang duduk menatapnya sambil menggigit mainannya. Bagi Kyuhyun, mata hitam anjing kecil itu seolah sedang memojokkannya karena tidak bisa mengetik satu huruf pun dan membuat sebuah cerita yang menarik. Sejenak ia merasa kesal pada anjing kecil itu, namun ia lebih merasa kesal pada dirinya sendiri.

 

“Jangan menatapku seperti itu.” Kyuhyun berkata pada anjingnya.

 

Scotty menjatuhkan mainan di mulutnya dan menundukkan kepalanya. Kyuhyun kembali pada kertas putih dan mesik ketik manualnya. Lagi, selama beberapa lama ia hanya menatap dua benda itu dengan bingung, hingga akhirnya suara dering telepon di mejanya membuatnya tersentak. Dengan cepat ia segera mengangkat gagang telepon dan menjawabnya.

 

“Ya?” katanya.

 

Sejenak ia merasa panik, takut jika itu adalah telepon dari penerbitnya. Deadline sudah ditentukan namun ia masih belum ada ide untuk novel terbarunya. Tetapi ketika ternyata ia mendengar suara Donghae, kakaknya, di ujung telepon, ia mendesah lega. Donghae mengajaknya fitness di gym favoritnya. Sejenak Kyuhyun berpikir, mungkin itu bisa menyegarkan pikirannya kembali.

 

“Ya, tentu. Aku akan segera ke sana.” Kyuhyun akhirnya menyetujui ajakan kakaknya tersebut.

 

~+~+~+~

 

Gym itu nampak ramai, penuh dengan orang-orang yang sibuk berolahraga dengan alat-alat dan fasilitas yang tersedia. Sebagian nampak serius berolahraga sambil mendengarkan MP3, dan sebagian lagi hanya datang untuk sekedar tebar pesona dan melirik wanita-wanita cantik yang sedang berolahraga di sana. Kyuhyun tidak peduli semua itu. Sejak tadi ia hanya berlari di atas treadmill dengan kecepatan sedang sambil mencoba menjernihkan isi kepalanya. Di sampingnya Donghae juga sedang berlari di atas treadmill sambil sesekali melirik wanita-wanita yang melewatinya.

 

“Cara yang hebat untuk memulai hari ‘kan?” Donghae berkata pada adiknya yang sejak tadi hanya diam saja.

 

“Kurasa aku akan muntah.” Kata Kyuhyun. Sebenarnya ia tidak terlalu suka berolahraga.

 

Sejenak tidak ada yang berbicara. Mereka terus berlari di atas treadmill masing-masing. Hingga akhirnya Donghae bertanya, “Eomma bilang kau pergi kencan minggu lalu. Bagaimana hasilnya?” Ia menoleh pada Kyuhyun dan terlihat penasaran.

 

“Lumayan.” Hanya itu jawaban Kyuhyun, namun itu tidak membuat Donghae puas.

 

“Apa kau bercinta?” Donghae bertanya lagi seraya memalingkan pandangannya kembali ke depan.

 

Pertanyaan itu membuat Kyuhyun terlihat tidak nyaman. Ia menoleh ke kanan dan kiri sesaat, takut orang-orang akan mendengar pertanyaan kakaknya yang to do poin itu. “Hyung!” Serunya kemudian, menoleh pada Donghae sambil menunjuk ke sebelah kirinya.

 

Di sebelah kiri Kyuhyun ada seorang nenek yang juga sedang berlari di atas treadmill dengan kecepatan lambat, headphone berwarna pink menempel di telinganya. Nenek itu nampak tidak peduli dengan lingkungan sekitar, dan jelas Donghae juga tidak peduli apakah nenek itu atau orang-orang di sekitar mereka mendengar pertanyaannya barusan.

 

“Apa?” Donghae hanya berkata dengan acuh dan menoleh pada Kyuhyun.

 

Kyuhyun meletakkan jarinya di mulutnya, meminta kakaknya untuk diam. Lalu tangannya bergerak-gerak menunjuk nenek di sebelah kirinya dengan tidak nyaman. Donghae menatap nenek tersebut. Lalu sambil menggerakkan tangan kirinya ke arah si nenek yang masih terus berlari pelan dan nampak tidak peduli apa pun itu, ia berkata dengan nada acuh,

 

“Dia tidak mendengarmu ‘kan?”

 

Kyuhyun memalingkan pandangannya ke depan dan memutar bola matanya dengan kesal. Donghae masih menatap Kyuhyun dan kembali bertanya, kali ini lebih blak-blakkan, “Apa kau tidak mau bercinta lagi di hidupmu?”

 

Kyuhyun mengedarkan pandangannya ke segala arah, sedikit gelisah dan nampak tidak nyaman pada pertanyaan kakaknya yang tidak kenal tempat itu. Lalu ia menoleh pada Donghae dan menjawab, “Ya. Aku hanya berpikir aku bukan tipe orang yang kasmaran.”

 

Donghae menatapnya sejenak dengan tatapan aneh, lalu memalingkan pandangannya ke depan. Kyuhyun ikut memalingkan pandangannya ke depan dan kembali melanjutkan, “Gadis-gadis hanya mau tidur denganku karena buku yang kutulis saat SMA.”

 

“Lalu?” tanya Donghae, menoleh pada Kyuhyun kembali.

 

“Mereka tidak tertarik padaku,” Jawab Kyuhyun. “Mereka hanya tertarik pada beberapa gagasanku.”

 

Sejenak Donghae menatap adiknya dengan iba. Berbeda dengan dirinya yang selalu memperhatikan tubuh dan penampilannya, penampilan Kyuhyun selalu terlihat biasa-biasa saja. Adiknya itu, bisa dikatakan…nerd. Seorang pria pintar dengan tubuh yang tinggi dan kurus yang menyembunyikan ketampanannya dibalik kacamatanya.

 

“Itulah kenapa kau harus berlatih seperti ini, agar mereka tertarik pada tubuhmu.” Komentar Donghae.

 

Kyuhyun hanya diam, menoleh pada kakaknya itu dan memandangnya dengan tatapan yang seolah bertanya, ‘apakah aku semenyedihkan itu?’. Donghae menghentikan alat treadmill-nya dan mengajak Kyuhyun untuk berlatih dengan alat yang lain. Kali ini butterfly machine, alat yang berguna untuk melatih otot pectoralis (otot dada), terutama bagian tengah. Mereka duduk berhadapan dan mulai berlatih dengan alat tersebut. Sementara Donghae nampak berlatih dengan serius, Kyuhyun justru berlatih sambil menatap alat tersebut dengan bingung.

 

“Apa yang dilakukan benda ini?” tanyanya.

 

“Merubahmu menjadi dewa.” Jawab Donghae tanpa menghentikan latihannya.

 

Kyuhyun menatap kakaknya dan mendengus kecil.

“Ok, teruskan.” Katanya.

 

Ia menoleh, mengedarkan pandangannya mencari sesuatu yang menarik. Lalu ia teringat sesuatu dan kembali menoleh pada Donghae. “Hei, aku bermimpi aneh semalam,” katanya, berhenti berlatih. Ia terdiam sejenak dan mengernyit sebelum kemudian melanjutkan ceritanya, “Ada seorang pemuda dan dia…”

 

Donghae mengangkat kepalanya dan menatap Kyuhyun, nampak tertarik dengan cerita adiknya itu.

“Bagaimana rupanya?” tanyanya, sambil terus berlatih.

 

“Hanya pemuda normal,” jawab Kyuhyun, sedikit menggelengkan kepalanya. “Pemuda yang kukarang.”

 

“Lalu apa yang terjadi?” Donghae kembali bertanya, nampak semakin tertarik.

 

“Dia hanya berbicara padaku,” jawab Kyuhyun sambil tersenyum kecil.

 

Donghae diam selama beberapa menit dan ketertarikan di wajahnya perlahan memudar. Sambil kembali berlatih ia memalingkan pandangannya dan bergumam dengan kesal, “Menyedihkan.”

 

“Sebenarnya, itu menyenangkan.” Kata Kyuhyun kemudian, mengingat-ingat kembali mimpi anehnya semalam. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya dengan senang lalu menoleh memandang kakaknya yang sedang memandangnya dengan tatapan aneh.

 

Donghae berhenti berlatih dan berkata,

“Yang benar saja. Kau bahkan tidak bercinta dalam mimpimu? Itu…” ia sedikit menggerakkan bahunya dan mencibir, “Menyedihkan.”

 

Kyuhyun terdiam dan hanya menatap Donghae selama beberapa saat, lalu kembali berlatih tanpa suara. Raut wajahnya berubah sedih ketika kepalanya menyetujui ucapan Donghae barusan. Ia memang menyedihkan. Menyadari adiknya menjadi sedih, Donghae merasa sedikit bersalah dan mencoba mengganti topik pembicaraan.

 

“Hei, bagaimana kabar buku baru yang mau kau tulis?” tanyanya seraya kembali berlatih.

 

“Entahlah…” jawab Kyuhyun dengan datar.

 

~+~+~+~

 

Keesokan harinya Kyuhyun ada janji temu dengan Leeteuk, psikiaternya yang telah membantunya beberapa minggu terakhir ini. Sesuai janji, ia datang ke klinik Leeteuk pukul tujuh malam. Leeteuk tersenyum ramah menyambut kedatangannya. Kyuhyun duduk di hadapan Leeteuk, pada sebuah sofa panjang berwarna merah khusus untuk pasien. Ia menundukkan kepala dan nampak sangat frustasi. Sementara psikiater berwajah malaikat itu hanya memandangnya dengan lembut, menunggu dengan sabar.

 

Setelah hampir sepuluh menit Kyuhyun hanya diam, nampak bingung harus memulai darimana, akhirnya Leeteuk berinisitif untuk memulai lebih dulu. Ia memulainya dengan sebuah pertanyaan, “Bagaimana kabar buku baru yang kau tulis?”

Kyuhyun menatapnya sejenak. Perasaan kesal dan frustasi terlihat dalam mata obsidiannya. Ia menghela napas dengan bingung, menundukkan kepalanya dan menjawab dengan nada frustasi, “Entahlah. Aku mendapatkan ide bagus, seperti kenapa aku tak menulis tentang ayahku? Dan kemudian aku mulai berpikir, itu adalah hal terbodoh yang pernah ada. Siapa yang mau baca tentang, “Dia kecewa padaku…” …Bla, bla, bla?”

 

Kyuhyun terdiam sejenak. Ia mengangkat kepalanya, menggerakkan tangannya dengan gelisah, menatap ke berbagai arah, lalu kembali menunduk. Ia kembali bercerita sambil sesekali mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.

 

“Juga, aku berpikir untuk menulis tentang Scotty. Ya, dia berliur. Dia mengunyah sesuatu. Dia buang air kecil seperti seorang gadis, yang membuatku tidak nyaman. Dia harus banyak jalan-jalan, mengganggu hariku. Itulah sebabnya aku tak menulis.”

 

Kyuhyun kembali diam. Setelah merasa yakin bahwa Kyuhyun telah selesai bercerita, Leeteuk bertanya dengan lembut, “Menurutmu itu alasan kau tidak bisa menulis?”

 

Kyuhyun mengangkat kepalanya, menatap Leeteuk sejenak. Kemudian ia mendesah frustasi, menggeleng pelan dan kembali menundukkan kepalanya sambil berkata, “Tidak.”

 

“Menurutmu kenapa kau tak menulis?” tanya Leeteuk lagi.

 

Kyuhyun nampak bingung. Ia menjatuhkan tubuhnya ke samping dan bertanya dengan lelah,

“Boleh aku minta Bobby sekarang?”

 

Leeteuk menatapnya sejenak dan bertanya,

“Kau butuh Bobby sekarang?”

 

“Ya.” Jawab Kyuhyun dengan lelah. Ia berbaring di sofa dan menatap langit-langit ruangan.

 

Leeteuk diam sejenak sebelum kemudian beranjak dari kursinya, dan berjalan menuju rak bukunya. Ia menunduk, membuka sebuah laci dan mengambil sebuah boneka beruang berwarna cokelat sambil bertanya,

 

“Kyuhyun ssi… kapan terakhir kali kau bertemu teman?”

 

Kyuhyun memiringkan tubuhnya ke arah Leeteuk dan berpikir sejenak.

“Donghae hyung. Kemarin.” Jawabnya kemudian.

 

“Tidak. Selain saudaramu.” Kata Leeteuk seraya memberikan boneka beruang cokelat bernama Bobby itu pada Kyuhyun yang kembali berbaring telentang.

 

Kyuhyun menerimanya, dan sejenak merasa senang. Kemudian ia mengangkat sedikit kepalanya dan menoleh pada Leeteuk yang telah kembali duduk di kursinya. “Apa kau memberi Bobby pada pasien lain?” tanyanya. Ia nampak sedikit cemas.

 

Leeteuk menatap pasiennya tersebut dan tersenyum.

“Tidak, Bobby hanya untukmu.” Jawabnya seraya memperhatikan Kyuhyun.

 

Kyuhyun mendekatkan hidungnya pada boneka beruang cokelat itu dan mengendusnya. Ia mengernyit dan kembali menoleh pada Leeteuk. “Baunya aneh..”

 

“Kyuhyun ssi…” Leeteuk masih menatap Kyuhyun dan berkata dengan hati-hati. “…ketika kau memutuskan untuk memelihara Scotty, apa yang kita bicarakan? Apa yang kau katakan soal harapanmu? Ingat?”

 

Kyuhyun kembali meletakkan kepalanya dan menatap langit-langit ruangan. Sejenak ia meremas boneka kecil di tangannya. Kemudian ia menyentuh kepalanya dengan satu tangannya dan mendesah pelan.

 

“Dia akan membantuku bertemu dengan orang-orang.” katanya kemudian.

 

Leeteuk sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Kyuhyun dan berkata dengan tegas.

“Lebih keras!”

 

Kyuhyun mengangkat sedikit kepalanya, menyibak rambutnya yang mulai memanjang. Lalu ia memandang langit-langit ruangan sejenak, sebelum kemudian ia mendesah pelan dan berkata sambil menggerakkan satu tangannya ke udara dengan gelisah,

 

“Dia akan mengagumkan dan bersepeda, dan lainnya. Dan orang-orang akan ingin memeliharanya, dan aku akan menemui mereka. Tapi, Scotty takut ketika orang mencoba membelainya.”

 

“Apa itu membuatmu malu?”

 

Kyuhyun terdiam sejenak dan memeluk boneka kecil di tangannya. Lalu ia menoleh pada Leeteuk dan mengangkat sedikit bahunya. “Tidak.” Jawabnya kemudian.

 

“Aku ingin memberikan tugas menulis.”

 

Kyuhyun kembali mengangkat bahunya dan menatap Leeteuk dengan tatapan putus asa.

“Aku tidak bisa menulis.” Katanya.

 

Leeteuk berpikir sejenak. Lalu ia kembali berkata dengan lembut,

“Baiklah, ini hanya untukku. Aku ingin kau untuk menulis satu halaman… tentang seseorang yang melihat Scotty yang berliur dan takut… dan tetap menyukainya apa adanya. Bisa kau lakukan untukku?”

 

Kyuhyun menatap langit-langit ruangan dan terdiam sejenak. Mulutnya terbuka dan tangannya memainkan boneka kecil, memukul pelan kepala boneka itu dengan jari telunjuknya. Kemudian ia menoleh pada Leeteuk dan bertanya,

 

“Bisa sesuatu yang buruk?”

 

“Itu yang kuinginkan.” Jawab Leeteuk, sedikit menganggukkan kepalanya. Selama beberapa lama Kyuhyun hanya menatapnya sambil berpikir, lalu menatap langit-langit ruangan, sebelum akhirnya dia menganggukkan kepalanya dengan pelan.

 

~+~+~+~

 

Esok pagi Kyuhyun terbangun dengan muram. Ia melihat kalender yang menggantung di dinding dan merasa tidak ingin bangun pagi ini. Pagi ini ada sebuah wawancara dan bedah buku untuk novelnya yang telah laris terjual. Oh, bukannya ia tidak merasa senang dengan kesuksesan novelnya. Percayalah, Kyuhyun merasa sangat senang untuk itu. Namun sesuatu yang membuatnya selalu merasa gelisah setiap kali pergi ke acara-acara seperti itu adalah…orang-orang. Ia benci keramaian. Ia tidak suka berada di antara orang-orang yang tidak dikenalnya. Ia merasa tidak nyaman ketika semua mata memandang ke arahnya.

 

Namun karena ia diharuskan untuk datang, maka Kyuhyun pun terpaksa datang. Dengan penampilannya yang sederhana dan merasa gelisah, Kyuhyun datang menghadiri acara tersebut yang diselenggarakan di sebuah gedung yang besar. Orang-orang telah berdatangan memenuhi gedung tersebut, para pecinta novelnya. Mereka semua nampak antusias, dan nampak menyeramkan bagi Kyuhyun. Kim Kangin, seorang seorang penulis terkenal dan orang yang paling berpengaruh dalam bidang jurnalis nampak sedang berbicara di atas panggung, berbicara tentang Kyuhyun dan novelnya yang menakjubkan. Sementara Kyuhyun berdiri di pinggir panggung, mengedarkan pandangannya ke berbagai arah, merasa gelisah dan tidak nyaman.

 

Ketika akhirnya namanya disebut Kyuhyun pun berjalan memasuki panggung. Tepuk tangan riuh terdengar memenuhi gedung. Kyuhyun hanya tersenyum, berterima kasih dengan canggung, berbicara dan berusaha menjawab semua pertanyaan sebaik mungkin sambil berdoa dalam hati agar acara ini cepat berakhir. Ketika akhirnya acara tersebut berakhir, siksaan bagi Kyuhyun belum berakhir. Ia harus menghadapi cahaya blitz dari kamera para wartawan sebelum turun dari panggung, ia harus berusaha tersenyum dengan baik. Lalu ia harus berjalan melewati banyak orang, para peminat novelnya yang nampak antusias sekali dengan hasil karyanya. Ia harus berusaha keras menahan diri dan terus tersenyum dengan canggung, berusaha keras menahan perasaan gelisah yang semakin menderanya setiap kali orang-orang tersebut menyalaminya dan berbicara padanya.

 

Setelah akhirnya Kyuhyun berhasil melewati orang-orang tersebut, ia segera berlari ke toilet. Ia melepas kacamatanya, menunduk dan membasuh wajahnya di wastafel. Air yang dingin terasa menyejukkan wajahnya. Ia mengangkat kepalanya dan menatap pantulan dirinya di cermin. Kepalanya mengingat pujian dan komentar yang harus ia lalui sebelumnya. Semua orang menyebutnya jenius. Bukannya Kyuhyun tidak merasa senang dengan semua itu. Namun, sekali lagi, ia hanya merasa tidak nyaman berada di tengah keramaian. Itu membuatnya merasa sangat gelisah.

 

Setelah mengeringkan wajahnya dengan tisu dan membuangnya ke tempat sampah, Kyuhyun memakai kembali kacamatanya dan beranjak pergi. Ia melangkah dengan cepat melewati lorong-lorong, berusaha secepat mungkin tiba di pintu keluar. Namun ketika ia melihat rombongan orang-orang di ujung lorong Kyuhyun membalik tubuhnya, ia tidak ingin bertemu dengan orang-orang lagi dan harus tersenyum canggung lagi. Ia berjalan dengan cepat dan gelisah, mencari jalan lain. Namun kemudian sebuah suara menghentikannya.

 

“Ini dia.”

 

Kyuhyun menghentikan kakinya dan menoleh. Ia melihat Yesung, editornya, nampak rapi dengan setelan jas seperti biasanya. Yesung menunjuknya dan menghampirinya sambil berkata, “Kyuhyun, kau harus mengingatkan aku tentang hal ini.”

 

Kyuhyun berusaha tersenyum, meski lebih nampak seperti sedang meringis.

“Yesung hyung.” Katanya, membuka kedua tangannya seolah menyambut pria berambut burgundy red itu.

 

“Kau harus memeriksa pesanmu, sobat,” kata Yesung seraya menghampiri Kyuhyun. “Jadi aku bisa mengenakan pakaian yang lebih baik.”

 

Kyuhyun membalik tubuhnya dan kembali melangkahkan kakinya pergi. Yesung berjalan mengikutinya dan menepuk bahunya dengan senang. Kehadiran Yesung membuatnya teringat pada pesta Kangin yang akan diselenggarakan malam ini di rumahnya yang besar. Pesta khusus untuk para penulis dan orang-orang besar yang bekerja di bidang jurnalis. Sebenarnya ia ingin kabur, ia tidak ingin datang. Akan ada terlalu banyak orang dan wajah-wajah asing di pesta, dan itu tidak membuatnya nyaman. Lagipula pakaiannya yang sederhana ini tidak cocok untuk sebuah pesta besar. Namun Yesung pasti tidak akan membiarkannya pulang.

 

Kyuhyun memutar kedua bola matanya dan mendengus pelan. Sejenak Yesung memperhatikan Kyuhyun yang terlihat gelisah dan penampilannya yang terlihat biasa saja, hanya celana panjang berwarna krem, kemeja kotak-kotak berwarna senada, cardigan berwarna hijau dan sepatu kets berwarna putih. Gaya rambut Kyuhyun dan kacamatanya membuatnya tidak terlalu terlihat seperti seorang penulis terkenal yang jenius. Tapi siapa yang peduli dengan hal itu?

 

“Tak ada yang peduli apa yang kau kenakan. Kau seorang yang jenius.” Kata Yesung, berusaha memuji Kyuhyun.

 

Kyuhyun yang sejak tadi sedang berusaha menahan kegelisahannya hanya menggeleng pelan dan berkata, “Jangan gunakan kata itu.”

 

~+~+~+~

 

Kyuhyun menggenggam gelas wine di tangannya dan memandang keramaian pesta di sekitarnya dengan tidak nyaman. Pakaiannya yang sederhana nampak kontras dengan pakaian formal yang dipakai oleh para tamu pesta lainnya. Lalu Kyuhyun mendesah pelan. Pada akhirnya ia tidak bisa kabur dari pesta ini.

 

Ia mengedarkan pandangannya dan melihat sang tuan rumah, Kangin sedang berbicara dengan Yesung dan para tamunya yang lain. Tidak tertarik untuk bergabung dalam obrolan itu, Kyuhyun kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, mencari seseorang yang mungkin bisa diajaknya bicara. Tetapi hanya sedikit orang yang ia kenal di pesta ini, selebihnya hanya wajah-wajah yang asing bagi Kyuhyun. Lalu seorang gadis cantik menghampirinya. Kyuhyun menunduk, mendekatkan telinganya ketika gadis itu berbicara dengan keras padanya, berusaha menyaingi suara dentuman musik,

 

“Min Ji.” Kata gadis cantik itu.

 

Kyuhyun berteriak padanya dengan bingung.

“Apa?”

 

Gadis cantik itu tersenyum dan kembali berbicara lebih keras di telinga Kyuhyun.

“Namaku Min Ji.”

 

Kyuhyun memandang gadis itu sesaat dan bertanya,

“Apa aku mengenalmu?”

“Tidak.” Jawab gadis itu. Lalu memberikan selembar kertas kecil pada Kyuhyun sambil berkata, “Apa kau mau nomorku?”

 

Kyuhyun menerimanya dengan bingung. Sejenak ia menatap kertas kecil yang berisi sebelas digit nomor tersebut. Kemudian ia menganggukkan kepalanya dan hanya berkata, “Terima kasih.”

 

~+~+~+~

 

Hari-hari selanjutnya berjalan cukup berat dan sibuk bagi Kyuhyun. Fansigning untuk novelnya, bedah buku, diskusi dengan Kangin dan para penulis professional. Bertemu dengan begitu banyak orang dan berada dalam keramaian untuk waktu yang lama membuat kegelisahan Kyuhyun semakin sering datang. Ia harus berusaha keras menahan kegelisahan itu, berusaha keras untuk dapat berinteraksi dengan orang lain dengan baik. Berusaha keras untuk menjadi normal.

 

Tengah malam Kyuhyun baru tiba di rumah. Ia menjatuhkan novel yang diberikan oleh Kangin di acara diskusi tadi ke lantai ketika ia memasuki rumahnya, menutup pintu kembali dan meletakkan kunci mobilnya di atas meja nakas. “Scotty.” Panggilnya seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah yang sepi.

 

Namun anjing kecil itu tidak muncul meski Kyuhyun berulang kali memanggilnya. Sambil terus memanggil nama anjingnya, ia beranjak ke lantai dua dan menuju kamarnya. Namun ia terkejut ketika memasuki kamarnya. Scotty ada di dalam kamarnya, berbaring dengan tenang di atas bantalnya. Tetapi yang membuat Kyuhyun terkejut adalah keadaan kamarnya yang berantakan, dan ranjangnya basah. Scotty buang air kecil di ranjangnya.

 

“Scotty, apa-apan ini!” Serunya.

 

Ia menghampiri ranjang dan berjongkok di sampingnya. Scotty mendekatkan kepalanya dan mendengking pelan seolah sedang meminta maaf. Kyuhyun menghela nafas. Karena ranjangnya kotor, terpaksa malam ini ia tidur di sofa di depan TV. Setelah mengganti pakaian dengan piyama, ia mengambil bantal dan selimut, dan menyeretnya keluar kamar menuju ruang TV di lantai satu. Membiarkan Scotty tetap tidur di kamarnya.

 

Kyuhyun melemparkan bantalnya ke atas sofa dan menjatuhkan tubuhnya dengan nyaman ke atas sofa yang empuk tersebut. Ia menarik selimut menutupi tubuhnya dan memejamkan matanya, berharap ia bermimpi indah malam ini. Hari ini terasa sangat melelahkan.

 

~+~+~+~

 

Malam itu Kyuhyun kembali bermimpi aneh. Dalam mimpinya, itu adalah sore yang cerah. Ia sedang duduk di bawah pohon yang rindang sambil membaca buku, di sampingnya Scotty sedang berbaring dengan santai. Rasanya sangat tenang dan damai. Lalu tiba-tiba sebuah suara mengusik ketenangan itu.

 

“Dia lucu.”

 

Ia berhenti membaca dan mendongak, melihat seorang pemuda berdiri di depannya. Sejenak ia terpaku pada wajah manis itu. Rambutnya yang tak hanya satu warna; selusin tingkat warna dari cokelat muda ke pucat keemasan itu berkilau bagai kembang api ketika pemuda itu menggerakkan kepalanya. Begitu indah. Begitu mempesona.

 

“Apa?” tanyanya tidak mengerti, sedikit mengernyit.

 

“Anjingmu. Dia sangat menggemaskan.” Jawab pemuda itu.

 

Sejenak sosok indah itu membuatnya terpesona.

“Dia anak anjing,” katanya kemudian.

 

Pemuda itu menoleh sejenak pada Scotty. Kemudian kembali memandang Kyuhyun dan berkata,

“Dia baru saja buang air kecil seperti seorang gadis.”

 

Kembali Kyuhyun terpaku. Ia menatap pemuda itu dengan takjub, dan sebuah perasaan déjà vu seketika menyergapnya. “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanyanya.

 

“Kurasa tidak.” Pemuda itu menjawab sambil menggelengkan kepalanya. Lalu dia bertanya, “Kau keberatan jika aku melukisnya?”

 

Kyuhyun masih memperhatikan pemuda itu sambil mengernyit, merasa sangat yakin bahwa mereka pernah bertemu sebelumnya. Entah dimana. “Tapi jangan terlalu dekat,” jawabnya kemudian ketika pemuda itu hendak duduk di dekat Scotty.

 

Pemuda itu menatapnya dengan sedikit bingung.

“Dia sedikit takut pada orang.” Jelas Kyuhyun.

 

Pemuda itu diam sesaat, lalu melangkah menjauhi Scotty. Dia duduk di dekat kaki Kyuhyun dan meletakkan tasnya di atas tanah. Sejenak Kyuhyun menoleh pada Scotty, menatapnya seolah memerintahkan anjing kecil itu untuk bersikap baik. Scotty hanya memandangnya sebagai jawaban dan tetap berbaring dengan patuh di tempatnya. Lalu Kyuhyun menoleh pada pemuda itu yang sedang membongkar isi tasnya. Ia menatapnya lekat-lekat.

Setelah menarik napas sejenak untuk menghentikan suara debaran jantungnya yang tiba-tiba terasa berdentum keras dibalik rongga dadanya, ia mencoba bertanya, “Apa kau seorang seniman?”

 

“Ya,” Pemuda itu menjawab tanpa menoleh, sibuk mempersiapkan peralatannya. “Aku sangat hebat.”

 

Kyuhyun sedikit menganggukkan kepalanya, merasa semakin tertarik.

“Sungguh?”

 

Pemuda itu mengangkat kepalanya memandang Kyuhyun dan tersenyum kecil. Lalu sambil mulai menggambar ia bertanya, “Siapa nama anjingmu?”

 

“Scotty,” Jawab Kyuhyun, lalu memandang anjingnya sesaat. “Aku menamakannya untuk F. Scott Fitzgerald.”

 

Pemuda itu mengangkat kepalanya, memandang Kyuhyun sesaat dengan sedikit bingung. Lalu ia kembali pada gambarnya dan bertanya, “Apa?”

 

“F. Scott Fitzgerald. Seorang novelis,” Ulang Kyuhyun. Ketika pemuda itu hanya memandangnya, ia menambahkan, “Bukunya berjudul “Great Gatsby”.”

 

Sejenak pemuda itu hanya memandangnya dengan aneh. Lalu menggelengkan kepalanya dan kembali pada gambarnya sambil berkata, “Aku tak banyak membaca fiksi.”

 

“Kau tak pernah mendengar tentang F. Scott Fitzgerald?” Kyuhyun bertanya dengan nada heran.

 

“Kenapa? Apa dia sangat penting?”

 

“Ya, dia mungkin salah satu novelis terhebat yang pernah ada.”

 

Pemuda itu menghentikan tangannya dan menoleh pada Kyuhyun.

“Bukankah itu tak sopan?” katanya.

 

Kyuhyun mengernyit memandangnya, tak mengerti.

“Apa?”

 

Pemuda itu menatap Kyuhyun sejenak sebelum kemudian kembali pada kesibukannya sambil berkata,

“Menamakan anjingmu dengan namanya? Itu sedikit tak menghormati.”

 

“Tidak, itu hanya isyarat.” Kyuhyun mencoba membela diri.

 

“Ya, isyarat yang agresif.” Pemuda itu kembali menatapnya dan tersenyum. Ia memiringkan kepalanya dan memandang langit, seolah sedang berpikir. “Pikirkanlah. Kau seorang novelis. Kau pikir orang ini adalah yang terhebat,” Lalu ia melirik Kyuhyun sesaat sebelum kemudian menunduk, kembali sibuk dengan gambarnya sambil melanjutkan, “Jadi kau menamai anjingmu dengan namanya agar dia jadi lebih kecil dari dirimu. Dengan cara ini, kau bisa mengikatnya… Dan berteriak “Scotty nakal”… Dan merasa superior karena kau buang air kecil di dalam rumah.”

 

Kyuhyun terkejut mendengarnya. Ia menoleh memandang anjing kecilnya yang masih berbaring dengan tenang di tempatnya, lalu menoleh memandang pemuda manis itu yang nampak sibuk dengan gambarnya. Ia menatap pemuda itu dan merasa lucu. Pemuda ini lucu dan menarik.

 

Pemuda itu menghentikan tangannya dan mengangkat kepalanya pada Kyuhyun. Sambil menggerakkan pensilnya ke udara ia berkata, “Bunuh idolamu itu, sobat. Aku mendukung itu.” Lalu ia kembali pada gambarnya.

 

Kyuhyun mengerjap, menatap pemuda itu dengan takjub. Ia menutup buku yang tadi sedang dibacanya—sebelum kemudian perhatiannya teralihkan sepenuhnya pada pemuda manis itu—dan tersenyum. Setelah beberapa lama memperhatikan wajah manis pemuda itu dan kembali tersenyum, Kyuhyun mengambil tali kalung Scotty yang ia letakkan disampingnya dan beranjak berdiri sambil berkata,

 

“Ayo, Scotty.”

 

“Tunggu,” Tahan pemuda itu ketika Scotty telah beranjak bangun dan bersiap mengikuti Kyuhyun pergi. Ia merobek hasil gambarnya dari buku sketsanya dan memberikannya pada Kyuhyun.

 

Kyuhyun menerimanya dan mengerjap ketika melihat hasil gambarnya.

“Cantik sekali.” Pujinya.

 

“Ya,” Kata pemuda itu, lalu membelai bulu cokelat Scotty yang lembut. “Anjingmu mungkin buang air kecil seperti seorang wanita, tapi aku menyukainya.”

 

Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari kertas gambar di tangannya dan memandang pemuda itu dengan sedikit terkejut. “Hei, apa yang barusan kau katakan?”

 

Seraya terus membelai anjing terrier berwarna cokelat itu pemuda itu menjawab, yang membuat Kyuhyun semakin terkejut dan merasa senang, “Aku menyukainya apa adanya.”

 

~+~+~+~

 

Pagi itu Kyuhyun terlonjak bangun dari tidurnya. Ia menyingkap selimut yang menutupi wajahnya dan terduduk di sofa dengan wajah bahagia. “Yes!” serunya, girang.

 

Seolah tidak ingin kehilangan semua ide bagus dari mimpinya semalam Kyuhyun segera menyambar kacamatanya di atas meja dan berlari menaiki tangga menuju ruangan kerjanya di lantai dua. Dia duduk di depan mesin ketik manualnya dan menatap selembar kertas yang masih kosong. Lalu dengan bersemangat ia mulai mengetik sebuah cerita. Huruf demi huruf. Paragraf demi paragraf. Bab demi bab. Semua mengalir begitu lancar dari kepala Kyuhyun.

 

Hari demi hari. Pagi, siang dan malam hanya suara ketikan yang terdengar memenuhi ruangan sederhana itu. Dengan teliti ia memeriksa setiap huruf yang ia tulis, memastikan tidak ada kesalahan satu pun. Terkadang, ia berjalan mondar-mandir di ruangan kerja sederhananya itu sambil membacakan ulang hasil ceritanya. Sesekali mengacak-acak rambutnya dengan frustasi ketika ia merasa bagian cerita itu tidak bagus, atau kurang tepat.

 

Suatu ketika, saat Kyuhyun sedang sibuk dengan mesin ketiknya, Scotty muncul di dekat kakinya dengan membawa sebuah sepatu—yang entah dia dapat darimana—di mulutnya, sebuah sepatu kets berwarna pink yang jelas bukan miliknya. Kyuhyun berpikir mungkin anjing kecilnya itu hanya sedang iseng, mencuri sepatu untuk mengajaknya bermain. Namun ia sedang tidak ingin bermain, ia ingin terus menulis. Maka ia hanya mengambil sepatu itu dari mulut Scoty dan menggelengkan kepala ketika melihat benda itu, merasa sedikit heran. Akhirnya ia hanya meletakkan benda itu di atas mejanya dan kembali pada mesin ketiknya. Kembali memusatkan perhatiannya pada tulisannya. Ia merasa begitu bersemangat menyelesaikan ceritanya. Tidak pernah ia merasakan hal ini sebelumnya, bahkan ketika sedang membuat novel-novelnya sebelumnya. Hal ini, sebuah gairah yang begitu besar.

 

~+~+~+~

 

“Kau jenius. Kupikir kita takkan menggunakan kata itu.” Kyuhyun berkata ketika ia menemui Leeteuk di kliniknya untuk sesi konselingnya malam itu. Ia berdiri di depan pria berwajah malaikat itu dan nampak bahagia sekali. “Tapi kau benar-benar cerdas!”

 

Leeteuk tersenyum di kursi dan berkata,

“Aku senang kau bisa menemukan sesuatu yang menginspirasimu.”

 

Kyuhyun mendengus sesaat.

“Menginspirasiku?” Ia menggerakkan kedua tangannya di depan dada, seolah ingin mengeluarkan semua hal yang ia rasakan. “Ini menguasaiku. Aku benar-benar tak bisa tidur atau makan. Yang ingin kulakukan hanya menulis,”

 

Leeteuk hanya diam dan memperhatikan Kyuhyun yang terus menggerakan tangannya di udara, menunjukkan emosi yang sedang dirasakannya. “Maksudku, aku hampir tak datang ke sini hari ini karena aku tak ingin berada jauh darinya.” Kata Kyuhyun. Lalu ia terdiam sejenak, raut wajahnya berubah. Ia terduduk di sofa panjangnya dan bergumam, “Oh Tuhan.”

 

“Apa?” tanya Leeteuk, mencondongkan tubuhnya ke arah Kyuhyun.

 

“Oh Tuhan. Aku tidak bisa mengatakannya keras-keras.” kata Kyuhyun, menundukkan kepalanya. “Ini terlalu bodoh.”

 

“Aku suka kau mengatakan hal-hal bodoh.” Kata Leeteuk berusaha memancing.

 

Kyuhyun menggelengkan kepalanya pelan.

“Tidak, ini benar-benar sangat bodoh.” Katanya.

 

“Baiklah.” Kata Leeteuk mencoba untuk tidak memaksa. Namun ia terus menatap Kyuhyun.

 

Kyuhyun mengangkat kepalanya, menarik napas sejenak. Wajahnya nampak sedikit tersipu. Akhirnya ia berkata dengan sedikit malu-malu, “Jadi, pria yang kutulis… Sang seme…”

 

“Siapa namanya?” tanya Leeteuk.

 

Kyuhyun menyibak rambutnya, kembali menarik napas sejenak dan menatap Leeteuk. Lalu dengan nada terkejut ia menjawab, “Kyuhyun.”

 

Leeteuk hanya memandangnya. Ketika pria berwajah malaikat itu terlihat hendak mengatakan sesuatu, Kyuhyun mengangkat tangannya dan berkata dengan frustasi, “Aku akan mengubahnya. Tapi, ada banyak kesamaanku dalam dirinya.”

 

Ia berhenti sejenak. Menghela napas dan mengedarkan pandangannya ke berbagai arah. Leeteuk hanya menunggu hingga Kyuhyun menemukan kata-katanya. “Yang mau kukatakan adalah…” Kyuhyun kembali berhenti sejenak. Setelah mengedarkan pandangannya ke berbagai arah dengan bingung, ia menatap Leeteuk dan melanjutkan, “…Rasanya seperti aku menulis untuk menghabiskan waktu dengannya.”

 

“Siapa?” tanya Leeteuk, menatap Kyuhyun dengan serius.

 

“Pemuda manis itu,” Jawab Kyuhyun, lalu menggelengkan kepalanya seolah tidak percaya dengan pikirannya sendiri. “Pemuda manis yang kukarang. Aku tidur di malam hari… hanya untuk mendapatkan mesin ketik-ku jadi aku bisa bersamanya,” Ia berhenti sejenak, menatap langit-langit ruangan, menatap lantai, lalu menatap Leeteuk sambil berkata dengan suara lirih, “Ini seperti, aku jatuh cinta padanya.”

 

“Itu indah.” Komentar Leeteuk.

 

“Tidak! Aku tidak bisa jatuh cinta pada seseorang yang kukarang.”

 

“Kenapa tidak?”

 

“Karena dia tak nyata.”

 

“Sungguh? Kau yakin?”

 

Kyuhyun bimbang.

“Tidak,” jawabnya, lalu dengan segera ia mengganti jawabannya. “Ya. Dia produk untuk imajinasiku!” Ia berseru dengan kesal, lalu menjatuhkan tubuhnya ke belakang untuk berbaring.

 

Tiba-tiba ia teringat pada mantan kekasih yang mencampakkannya dulu, seorang wanita yang pernah sangat ia sayangi. Namun seketika pikiran itu membuatnya merasa marah. “Victoria memperlakukanku begitu buruk.” Katanya seraya membalikkan tubuhnya membelakangi Leeteuk.

 

“Aku tahu,” kata Leeteuk dengan lembut. Lalu ia melanjutkan dengan hati-hati, “Yang meninggalkan seseorang tepat setelah ayahnya meninggal? Seseorang yang tak bisa mencintaimu dengan benar. Seseorang yang berperasaan seperti pelacur.”

 

Kyuhyun menggenggam ujung bantal sofa dan hanya diam.

“Baiklah, ceritakanlah tentang dia.” Kata Leeteuk, berusaha memancing.

 

Kyuhyun mengibaskan tangannya ke udara dan berkata dengan malas,

“Aku tak mau menceritakan tentang Victoria lagi.”

 

“Yang kumaksud adalah pemuda manis yang kau tulis. Ceritakan tentang dia.”

 

Kyuhyun mengerjap sesaat. Ia menoleh pada Leeteuk sambil berkata,

“Sungmin,” Lalu ia menatap langit-langit ruangan dan kembali mengerjap, kembali mengingat-ingat tentang pemuda manis yang dia karang itu. “Namanya Lee Sungmin. Umurnya 26 tahun. Dia lahir di Seoul tapi dibesarkan di Dayton, Ohio. Saat umurnya 20 tahun dia kembali ke Seoul, seorang diri.”

 

“Kenapa di Dayton?” tanya Leeteuk.

 

“Dayton kedengarannya romantis,” jawab Kyuhyun, masih terus menatap langit-langit ruangan. “Cinta pertama Sungmin adalah Marlyn Monroe dan John Lennon. Dia menangis saat ia tahu mereka sudah mati. Sungmin dikeluarkan dari SMA karena tidur dengan guru seninya yang cantik, atau guru bahasa Spanyolnya yang tampan. Aku belum memutuskannya,”

 

Semakin Kyuhyun terus bercerita, bayangan tentang Sungmin dan seluruh ceritanya tergambar semakin jelas di dalam kepalanya. Ia seolah melihat Sungmin dan semua cerita yang dikarangnya itu pada langit-langit ruangan yang di tatapnya. Leeteuk yang hanya diam, mendengarkan dengan penuh perhatian dan menyadari, ketika sedang bercerita tentang Sungmin, maka Kyuhyun akan melembut dan santai.

 

“Sungmin tak bisa mengemudi. Dia tak memiliki komputer. Dia selalu berpihak pada yang lemah. Dia rumit. Itu yang aku suka dari dia,” Kyuhyun masih terus bercerita, dan sesekali ia melirik Leeteuk. “Kadang, hidup Sungmin tak begitu baik. Dia lupa untuk membuka tagihan atau uang tunai cek dan… pacar terakhirnya berumur 39 tahun. Sebelum itu seorang pecandu alcohol. Dia bisa merasakan perubahan datang. Dia…mencarinya.”

 

“Mencari apa?” tanya Leeteuk.

 

Kyuhyun terus menatap langit-langit ruangan, seolah disana ia bisa melihat dengan jelas bayangan Sungmin yang sedang bersepeda di bawah dedaunan yang berguguran di musim gugur. Dia nampak santai, menikmati sore hari yang cerah dalam balutan baju yang casual. Namun kemudian, perlahan sosok manis Sungmin dan sepedanya semakin jauh dan akhirnya menghilang.

 

“Sesuatu yang baru.” Jawab Kyuhyun kemudian, mengakhiri ceritanya tentang Sungmin.

 

Tbc

53 thoughts on “In a world of my own / No. 1

  1. Itu tuh kyuhyun dapet mesin tik ajaib makanya bisa buat sungmin jadi ‘nyata’ ??? Atau memang sebenernya beneran ‘ada’ sungmin itu ?? Tp kebetulan bgt ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s