A Short Story

Image

 

Pairing : KyuMin || Genre : Fluff || Length : Drabble || Warning : BL, shounen-ai, no dialog || Disclaimer : Terinspirasi dari sebuah postingan yang pernah aku temuin di internet || Summary : Minggu pagi Kyuhyun dan Sungmin harus berangkat untuk urusan masing-masing. Ketika kemudian mereka merubah sedikit rencana mereka dan mampir ke café untuk sekedar menikmati sarapan atau minum kopi, mereka bertemu. Di café itu ada sebuah kisah mereka, kisah yang sebentar di minggu pagi. *ok, bad summary*

 

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

Pagi itu Kyuhyun terbangun dengan kepala yang masih agak pusing—ia minum terlalu banyak tadi malam, untuk orang yang harus bekerja di pagi hari. Hari ini adalah hari minggu dan lembur di akhir pekan baginya tidak masalah. Ia memang butuh uang lebih. Banyak tagihan yang harus dibayarnya, apalagi sejak ibunya di rawat di rumah sakit karena stroke. Ia membasuh wajahnya di wastafel sekali lagi kemudian mengelapnya dengan handuk, berharap matanya yang merah dan bengkak tidak terlalu terlihat. Namun tentu saja itu sia-sia, ia memang kurang tidur. Sudah beberapa hari belakangan ini ia tidak cukup tidur. Berjalan kembali ke kamar, ia membuka lemari pakaian dan mengambil jas hitam yang ia ambil dari Laundry kemarin sore. Ia mengenakan jas hitam itu dan merapikan penampilannya, memastikan ia tetap terlihat sempurna—meski dengan mata bengkak karena kurang tidur. Pukul setengah tujuh ia mengunci pintu dan turun dari apartemennya di lantai dua puluh lima dengan menggunakan lift.

 

Di parkiran basement nampak sepi. Hanya suara langkah sepatunya yang terdengar bergema di basement itu. Di bagian timur parkiran nampak satu-satunya mobil yang terparkir di sana. Mobil Samsung Renault hitam yang nampak gagah…dan juga kesepian. Ia menyalakan rokok sambil memanaskan mesin mobil. Menunggu sejenak sambil menikmati batang rokoknya sebelum kemudian memacu mobilnya pergi perlahan meninggalkan parkiran.

 

~+~+~+~

 

Sungmin mengusap-usap handuk di kepalanya untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah. Setelah dirasa rambutnya telah cukup kering ia melemparkan handuknya begitu saja ke atas ranjang lalu mulai berpakaian. Ia bangun pagi hari ini—untuk ukuran hari minggu. Biasanya jam segini ia masih bergelung di bawah selimut dan mendengkur. Sebenarnya ia tak perlu bangun pagi jika saja ia tak harus menjemput adiknya nanti siang di bandara. Di atas meja nakas tergeletak catatan belanja yang ditulis rapi dengan pensil. Baginya, tidak ada hiburan yang lebih menyenangkan daripada berbelanja di hari libur. Ia kemudian menyisir rambutnya pelan-pelan dan menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Setelah memastikan penampilannya sejenak, ia mengunci pintu dan menuruni tangga menuju halte bus di depan apartemennya, kemudian melipat kedua tangannya di depan dada sambil memperhatikan kendaraan yang lalu lalang. Berharap ini tidak terlalu pagi untuk melamun.

 

Cukup lama ia menunggu hingga akhirnya bus yang ditunggu datang. Bus itu tidak sepenuh hari biasanya. Oh tentu saja, ini adalah hari minggu dan ia berangkat di saat semua orang masih terlelap di mimpi masing-masing. Tepat ketika ia baru saja menghempaskan tubuhnya di kursi belakang ponselnya berdering. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya dan memandang sejenak nama yang muncul di layar yang berkedip itu, sebelum kemudian menjawabnya. Rupanya itu adiknya yang menelepon, memastikan bahwa ia tidak lupa untuk menjemputnya di bandara nanti siang. Setelah berbicara sejenak ia mematikan teleponnya, lalu memandang keluar jendela. Hari minggu yang lenggang menjadikan durasi perjalanan menjadi lebih singkat dari biasanya. Ia melirik jam tangan di tangan kirinya, kemudian menimbang-nimbang, apakah ia akan tiba terlalu pagi. Departemen store yang ia tuju biasanya buka jam sepuluh pagi, namun khusus bulan Februari mereka buka dari jam delapan, mereka juga memberikan potongan-potongan harga spesial. Tapi tetap saja, mungkin ia akan tiba di sana sebelum mereka buka. Perutnya yang lapar memberikan ide untuk sejenak menikmati sepiring sandwich dan secangkir kopi. Ia tahu sebuah café yang tidak jauh dari departemen store.

 

~+~+~+~

 

Kyuhyun memacu mobilnya dengan cepat melintasi jalan-jalan ibukota. Ia bahkan lupa kalau hari ini adalah hari minggu. Hari untuk orang-orang beristirahat. Rokok ketiga keluar dari bungkusnya dan seketika asap kelabu memenuhi ruang ketika ia membakar batang putih itu dan menghembuskan asap kelabunya ke udara, membiarkannya tersapu angin. Dalam kepalanya berputar banyak hal, namun ia terlalu malas untuk menyortirnya satu per satu. Yang pasti, ia akan mampir ke toko bunga seusai bekerja lalu menjenguk ibunya di rumah sakit. Ia memandang jam tangannya sejenak yang menunjukkan angka yang terlalu dini untuk duduk di meja kantor. Maka ia mengubah sedikit rencananya, mungkin minum secangkir kopi tidak akan membuatnya terlambat. Ia pun memutar arah mobilnya menuju café langganannya.

 

Café itu tidak terlalu besar. Hanya saja, di desain dengan sangat nyaman dan menarik. Café ini memiliki beragam jenis kopi yang sudah terkenal nikmat. Kyuhyun hanya memesan secangkir double ekspresso. Ia tidak begitu lapar. Yang ia butuhkan saat ini hanyalah peredam dari kecamuk yang sedang berlangsung di kepalanya. Sesekali ia mengecek ponselnya memastikan tidak ada panggilan ataupun pesan singkat dari bosnya. Saat ia menyesap kopi panas itu pelan-pelan, saat itu juga matanya tertarik pada seorang pemuda manis yang duduk di meja seberang. Diam-diam ia mengamati pemuda manis itu. Dengan kaos putih dan topi bisbol di kepalanya, pemuda manis itu nampak sederhana namun tetap memancarkan daya tarik tersendiri. Begitu mencuri perhatiannya. Ia kemudian memalingkan wajahnya beberapa kali, hanya supaya tidak terlalu kelihatan sedang menguntit.

 

~+~+~+~

 

Pelayan itu meletakkan sepiring sandwich dan secangkir cappuccino di atas meja, kemudian berlalu setelah Sungmin mengucapkan terima kasih.  Ia melepaskan topi bisbolnya dan meletakannya di atas meja sambil melirik ke seberang meja. Sebenarnya ia sudah menyadari keberadaan laki-laki di seberang meja itu sejak ia memasuki café. Dan sejujurnya, laki-laki itulah yang menjadi alasan ia memilih meja ini, padahal biasanya ia akan memilih meja di dekat jendela. Meja di dekat jendela adalah meja favoritnya, tapi sepertinya tidak untuk hari ini. Sambil memakan sandwich-nya ia menatap laki-laki itu lekat-lekat, seolah sedang menganalisa setiap inchi tubuhnya. Sepertinya dia seorang eksekutif muda. Dengan wajah setampan itu tentu dia punya banyak teman wanita, atau mungkin kekasih?

 

Angan Sungmin terdorong untuk mengamati laki-laki itu lebih seksama lagi. Mulai dari kulitnya yang putih, sampai perkiraan tinggi badannya ketika berdiri. 180 cm mungkin. Cukuplah untuk membuat para wanita—juga dirinya—merasa kagum dan melirik penuh minat. Tapi dia terlihat seperti kurang tidur. Matanya bengkak. Ia berpikir, mungkin saja laki-laki itu tidak tidur semalam dan bersenang-senang. Atau mungkin dia bekerja hingga larut malam. Ketika laki-laki itu menoleh padanya, Sungmin langsung berpura-pura merapikan rambutnya. Ia tidak ingin terlihat seperti seseorang yang kesepian.

 

~+~+~+~

 

Kyuhyun masih saja tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pemuda manis yang duduk di meja seberang. Tak pernah terpikirkan sama sekali olehnya tentang cinta pada pandangan pertama, tapi kehadiran pemuda manis di depannya itu kali ini benar-benar mengusik rasa penasarannya. Benar-benar mencuri perhatiannya. Seraya menyesap kopinya pelan-pelan ia menimbang-nimbang, apakah pemuda manis itu sedang menunggu seseorang? Apakah ia harus mendekati pemuda manis itu dan membuat langkah pertama? Tapi bagaimana jika pemuda manis itu keberatan?

 

Kyuhyun kembali menatap pemuda manis itu lekat-lekat. Pemuda manis itu duduk sendirian, jadi mungkin saja dia tidak keberatan jika Kyuhyun duduk di sana dan sedikit mengobrol dengannya. Dengan wajah tampannya, belum ada satu orang pun—baik wanita ataupun pria—yang pernah menolak untuk berkenalan dengannya. Ia cukup percaya diri dengan kharisma yang dimilikinya. Ketika kemudian mata mereka beradu dan saling tersenyum satu sama lain, Kyuhyun kini yakin dengan apa yang akan ia lakukan. Ia meletakkan cangkirnya dan berdiri. Namun baru saja ia hendak mengambil langkah, ponselnya berdering. Telepon dari bos yang memintanya untuk datang ke kantor lebih cepat karena ia harus melakukan perjalanan mendadak nanti siang. Setelah menutup teleponnya, dengan terburu-buru ia keluar dari café. Melupakan kisah yang belum sempat dimulai.

 

~+~+~+~

 

Sungmin menyadari, ada degup tidak biasa yang ia rasa ketika memandang laki-laki itu. Ia ingin sekali mendekati laki-laki tampan itu dan mengajaknya berkenalan. Mungkin saja, dari perkenalan itu dapat berakhir dengan sebuah kencan. Namun sayangnya ia tidak berani mengambil langkah duluan. Kini ia berharap laki-laki itu datang menghampirinya dan mengajaknya berkenalan. Laki-laki itu tersenyum padanya ketika mata mereka beradu. Ia membalas senyuman itu sebaik yang ia bisa, berharap semoga laki-laki itu paham dengan sinyal yang ia berikan.

 

Ia menarik napas dalam ketika laki-laki itu berdiri dari tempat duduknya, merasa sangat yakin bahwa laki-laki itu akan datang menghampirinya. Namun sebuah panggilan di ponsel mengalihkan perhatian laki-laki itu. Laki-laki itu segera menjawab teleponnya, lalu dengan terburu-buru dia berlalu pergi. Di mejanya Sungmin mendesah pelan. Dengan kecewa, ia menatap punggung laki-laki itu sampai menghilang di depan pintu.

 

Ketika Sungmin memandang jam tangan di tangan kirinya, angka sudah menunjukkan pukul delapan. Teringat dengan catatan belanja yang harus ia penuhi, ia segera beranjak pergi. Departemen store itu pasti telah buka. Sambil berjalan meninggalkan café, kepalanya memikirkan rencana-rencananya hari ini. Berbelanja dan menjemput adiknya di bandara. Juga tentang kisah yang belum sempat dimulai. Sebuah kisah yang sebentar.

 

~Fin~

31 thoughts on “A Short Story

  1. Lahhhh……
    Ini….. Hanya sampai di sini kah??
    Baiklah, aku akan meneruskannya di imajinasiku bagaimana pertemuan dan kisah mereka selanjutnya. Hahaha…
    Thanks for shared, nice drabble. Deskripsinya detail jadi berasa di TKP juga. Hohoho….

  2. berakhir pdhl blm sempat dimulai,, mngkin lain wktu buat kyumin😀
    tapi sayang y kyu dsni perokok😦 yaudah gw sama ming aja😛

  3. ciri khas kak min adalah seperti ini…. selalu membuat para reader di gantungkan ceritanya kkkkk xD aku suka ciri khas mu kk!! pertahankan!! kkkk xD
    ceritanya fluffy banget aku sukaaa >///< tapi lebih bagus lagi di bikin sequel sampe mereka berkenalan gitu /plak xDDD
    semangat kak min~~~!!

  4. Gantunggg😦
    mereka udah sama2 tertarik tapi waktu belum memberikan waktu mereka untuk mengobrol ataupun berdekatan lebih😄
    aku tunggu next ff or next chapter from Mr. Perfect😀

  5. Ini serius udah “fin” ?
    Ffnya bagus banget, semua digambarkan dengan sangat ditail jadi readers mudah bayanginnya.
    Good job (y)

  6. hya masak dh fin? Salah ketik tu psti he2, pdhl KyuMin blm smpet kenalan jd gantungkan? Sequel2 dunk biar ngilangin rasa gantung(?)..

  7. Yaaahhhhhh knp udahan TT itu harusnya lanjut loh TT itu kan sungmin belum beres belanja,gimana kalau tokonya masih tutup terus adiknya tuh gimana kalau ternyata pesawatnya delay TT ayo lanjut kakkkk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s