No, No

Gambar

Pairing : KyuMin || Genre : Romance, Fluff || Length : One Shot || Warning : BL, Shounen-ai, School life, AU, Teacher!Kyu, Student!Ming || Disclaimer : Remake dari sebuah manga doujinshi One Piece dengan pairing ZoSan yang berjudul sama by ROM-13 (Nari). Ada perubahan dan tambahan seperlunya || Summary : Lee Sungmin adalah siswa yang selalu bermasalah. Dia selalu berkelahi dan merokok di sekolah. Dan ya, semua itu sengaja Sungmin lakukan dengan satu tujuan yaitu mendapatkan perhatian Cho Kyuhyun, guru sekaligus tetangganya, yang selalu menghindarinya.

*Author note : setelah aku pikir-pikir lagi, akhirnya aku mutusin untuk mengganti judul FF ini dari yang sebelumnya berjudul No, Number menjadi No, No. Maafkan author yang plin–plan ini, hehehe…

 

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

 

 

Bel masuk telah berbunyi sejak tadi dan rutinitas para siswa SMA St. Mourist dimulai seperti biasa. Kelas-kelas nampak tenang dengan para guru yang siap memulai pelajarannya dan para siswa yang memperhatikan dengan khidmat. Kecuali satu kelas. Kelas 3-3 masih terdengar ramai. Para siswanya nampak asyik sendiri, berkeliaran di dalam kelas dan membuat keributan. Suara dengung pembicaraan dan gelak tawa terdengar memenuhi ruangan kelas itu. Kelihatannya sang guru terlambat lagi. Lima belas menit berlalu dan keramaian itu masih bertahan. Hingga tiba-tiba pintu kelas terbuka. Seorang pria bertubuh tinggi, tampan dan berkacamata muncul di ambang pintu.

 

“Hey, kembali ke kursi masing-masing. Bel telah berbunyi sejak tadi.” Ujar Kyuhyun, sang guru yang akhirnya datang, seraya membawa beberapa buku matematika dan sebuah buku absen di tangannya. Pelajaran pertama hari ini adalah matematika, pelajaran yang selalu sukses membuat para siswanya sakit kepala di pagi hari.

 

Keramaian itu seketika terhenti dan para siswa segera kembali ke kursinya masing-masing, sementara Kyuhyun menutup pintu kelas. Dengan wajah mengantuknya, Donghae yang duduk di deretan meja paling depan mengangkat satu tangannya dan bertanya pada sang guru yang hampir setiap hari selalu datang terlambat itu.

 

“Maaf. Kyuhyun sonsaengnim, anda terlambat. Apakah anda tersesat di dalam sekolah lagi?” Pertanyaan Donghae membuat sebagian siswa menahan tawa.

 

Sekolah SMA St. Mourist tidaklah terlalu besar atau terlalu luas. Tidak akan membuat orang-orang yang memasukinya tersesat hingga membutuhkan sebuah peta untuk menelusuri setiap bagian dari sekolah itu untuk mencari jalan keluarnya. Tetapi, mungkin tidak bagi Cho Kyuhyun. Hampir semua orang di sekolah itu, terutama para siswa di kelas 3-3, mengetahui bahwa guru muda yang disukai oleh para siswanya itu, yang terkenal santai dalam mengajar namun tegas pada para siswa itu memiliki penyakit—atau kebiasaan?— aneh, yaitu selalu mudah tersesat. Bahkan di dalam sekolah sekalipun, meskipun dia telah mengajar di sekolah itu selama hampir tiga tahun.

 

“Diam, tukang tidur.” Kata Kyuhyun santai seraya berjalan menuju mejanya di depan kelas. Ia mengeluarkan pulpennya dari saku kemejanya dan membuka buku absen. Sambil memainkan pulpennya dan menatap daftar nama-nama siswa di dalam buku absen ia berkata, “Okay, aku akan mulai mengabsen. Beritahu aku nama orang yang tidak kau lihat.”

 

“Sonsaengnim, itu bukan mengabsen namanya.” Celetuk Donghae sambil menguap.

 

“Sudah kubilang diam, tukang tidur.” Timpal Kyuhyun.

 

“Um~ sonsaengnim…” Ryeowook yang duduk di deretan paling belakang mengangkat satu tangannya. Kyhyun mengangkat kepalanya dan menatapnya. Sedikit ragu, Ryeowook menunjuk meja di sampingnya yang masih kosong dan berkata, “Sepertinya Lee Sungmin…belum datang.”

 

Kyuhyun diam sesaat lalu kembali menatap buku absen di tangannya. Tangannya bersiap menulis sesuatu di dalam buku itu. “Tch, bocah itu lagi?” gerutunya, sedikit kesal.

 

Tiba-tiba pintu kelas terbuka, bersamaan dengan suara seseorang yang berkata,

“Sudah kubilang untuk jangan memanggilku seperti itu.” Sosok seorang remaja laki-laki muncul di ambang pintu dan melangkah masuk, lalu menutup pintunya kembali dengan pelan. Mata foxy-nya menatap dengan tenang sang guru yang sedang menatapnya dengan tatapan tidak senang. “Aku benar-benar minta maaf aku terlambat.”

 

Kedatangannya menarik perhatian semua orang di kelas itu. Dan suara bisik-bisik para siswa yang terkejut mulai terdengar memenuhi kelas. Bukan seragamnya yang berantakan atau rambutnya yang dicat pirang yang menarik perhatian semua orang. Melainkan beberapa plester dan lebam yang menghiasi wajah manisnya pagi ini.

 

“…ada apa dengan wajahmu?” tanya Kyuhyun, menatap si murid terlambat yang masih berdiri dan menatapnya dengan tenang di depan pintu.

 

Dengan kedua tangan di dalam saku celananya, Lee Sungmin tersenyum santai.

“Karena bel telah berbunyi, aku memutuskan untuk meluncur turun menuruni tangga agar lebih cepat. Tapi aku terjatuh.” Jawabnya.

 

Suara bisik-bisik itu semakin terdengar keras. Donghae hanya diam dan memperhatikan dengan cemas Sungmin yang berdiri tepat di depan mejanya. Ia merasa sangat yakin bahwa pemuda berwajah manis itu berbohong. Dilihat dari plester dan lebam yang menghiasi wajah manis itu, jelas sekali bahwa Sungmin tidak terluka karena jatuh ketika meluncur turun dari tangga seperti yang dikatakannya tadi, melainkan karena berkelahi. Itu membuatnya cemas dan sedikit penasaran, kali ini apa lagi yang terjadi pada Sungmin?

 

“…terserah. Duduk di kursimu.” Perintah Kyuhyun, nampak tidak terlalu peduli dengan alasan keterlambatan Sungmin.

 

Namun sebelum Sungmin sempat melangkahkan kakinya tiba-tiba pintu kelas terbuka dengan keras. Semua orang menoleh ke arah pintu dan penasaran Donghae pun terjawab. Sosok Heechul—salah satu guru senior di SMA St. Mourist yang paling ditakuti oleh para siswa karena kegalakannya—muncul di ambang pintu dengan wajah marah. Nampaknya ia benar-benar marah.

 

“Hey blondie!!! Perkataanku belum selesai!!!” Teriak pria berwajah ‘cantik’ itu. Ia berjalan masuk ke dalam kelas dan mendekati Sungmin yang menatapnya dengan tenang.

 

“Oh, maaf. Bel telah berbunyi.” Kata Sungmin santai, nampak tidak menyesal ataupun takut.

 

“Hey! Aku bertanggung jawab pada peringkatmu! Aku lebih penting daripada bel!!” Heechul menunjuk-nunjuk Sungmin dan berteriak semakin marah, membuat Donghae berkesimpulan bahwa mungkin tadi guru pria berwajah ‘cantik’ yang galak itu menangkap basah Sungmin yang sedang berkelahi dengan murid-murid lain lalu pemuda manis itu meninggalkannya begitu saja ketika ceramahnya belum selesai. Semua siswa tahu, Heechul paling tidak suka diacuhkan ketika ia belum selesai bicara. Itu sangat tidak sopan baginya.

 

“Oh, benarkah itu?” Lagi-lagi Sungmin berkata dengan santai, seolah tidak ada yang salah. Dan itu memicu kemarahan Heechul ke tingkat paling atas.

 

“Apa-apaan dengan sikap itu!!!” Teriak Heechul sangat marah. Tubuhnya bergetar karena kemarahannya.

Sungmin hanya memandangnya dengan tenang. Kyuhyun segera bertindak sebelum guru berwajah ‘cantik’ itu mulai mengamuk di kelasnya. Ia berdiri di depan Sungmin dan mengulurkan satu tangannya pada Heechul ketika guru berwajah ‘cantik’ itu terlihat akan berbicara lagi.

 

“Oh, ya, ya. Aku minta maaf Heechul sonsaengnim. Aku akan bicara padanya tentang masalah ini.” Kata Kyuhyun, lalu berusaha mendorong keluar tubuh Heechul yang mulai berteriak-teriak marah.

 

Mengabaikan keributan yang sedang terjadi di depan kelas, Sungmin memilih untuk duduk di kursinya. Membiarkan sang guru yang mengurus amukan Heechul. Ia berjalan ke belakang, meletakkan tasnya di atas meja dan menarik kursinya yang bersebelahan dengan Ryeowook.

 

“Pagi, Wookie.” Sapa Sungmin tersenyum ramah pada Ryeowook seraya beranjak duduk.

 

Ryeowook tersenyum dan balas menyapa. Ia diam sejenak memperhatikan Sungmin, memperhatikan plester-plester yang akhir-akhir ini selalu menghiasi wajah manis itu. “…apa kau baik-baik saja?” tanyanya kemudian.

 

“Hm? Apa?” Sungmin balik bertanya, sedikit tidak mengerti.

 

Ryeowook mengalihkan pandangannya ke depan, pada Kyuhyun yang masih berusaha menenangkan Heechul dan mendorongnya keluar dari kelas. “Luka-lukamu itu…Sungmin, akhir-akhir ini kau terlihat seperti sengaja mendapatkan masalah…” katanya.

 

Sungmin diam sejenak memandang sahabatnya yang paling peka itu. Wajah cute Ryeowook menyiratkan kecemasan. Sungmin hanya tertawa kecil. Ia menopang dagunya dengan tangan kanannya yang bertumpu di atas permukaan mejanya dan mengalihkan pandangannya ke depan, pada Kyuhyun yang akhirnya berhasil mengusir Heechul keluar dari kelas dan menutup pintunya rapat-rapat.

 

“Tentu saja tidak,” katanya, berbohong. “Aku hanya magnet pembawa masalah. Itu saja.”

Mata foxy-nya masih saja tidak teralihkan dari sang objek di depan, pada sang guru muda yang menghela napas lega karena berhasil mendapatkan ketenangannya kembali. Diam-diam sudut bibirnya menarik sebuah garis kecil. Seulas senyum kecil. Dan di dalam kepalanya ia membenarkan perkataan Ryeowook barusan padanya.

 

Ya, disengaja. Ini memang disengaja. Karena, jika aku tidak melakukannya…

 

“Oi, bocah,” Kyuhyun mengangkat kepalanya dan berkata seraya menatap Sungmin dengan tajam. “Datang ke ruang konseling seusai sekolah.”

 

Sungmin masih duduk dengan tenang di kursinya. Sedikit memiringkan kepalanya dan masih saja tidak mengalihkan pandangannya dari si guru muda. Lalu garis kecil di sudut bibirnya tertarik semakin lebar, membentuk seulas senyum yang terlihat lebih jelas dari senyum sebelumnya. Seulas senyum mengejek.

 

“…yaaa.” Jawabnya. 

 

Selama beberapa detik mata obsidian dan mata foxy itu bertemu. Beberapa detik yang membuat senyum mengejek itu terasa lebih lebar dari sebelumnya. Beberapa detik yang membuat si guru muda terdiam, menatap Sungmin dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Sebelum kemudian si guru muda memutuskan untuk mengalihkan pandangannya dan memulai pelajarannya. Membiarkan mata foxy itu terus menatapnya dari belakang dengan senyum yang masih tidak menghilang dari bibir plump itu.

 

Karena, jika aku tidak melakukannya… dia akan melarikan diri dariku. Benar bukan, Kyuhyun? Kau seperti pengecut.

 

~+~+~+~

 

Saat jam istirahat tiba ketenangan di SMA St. Mourist itu terusik sejenak, memberi waktu bagi para siswa untuk merenggangkan otot-otot yang pegal dan mengisi perut yang mulai kelaparan. Ryeowook dan Donghae ingin mengajak Sungmin untuk makan siang bersama. Tetapi pemuda manis itu telah menghilang tepat ketika bel jam istirahat berbunyi. Mereka menyusuri koridor-koridor sekolah, mencari pemuda manis itu di setiap bagian sekolah. Hingga akhirnya mereka menemukannya di salah satu sudut sekolah yang sepi, bersama sekelompok siswa yang bergeletakan di atas rerumputan dan nampak kesakitan. Sepertinya pemuda manis itu baru saja berkelahi lagi.

 

Dengan susah payah sekelompok siswa yang telah babak belur itu bangkit dan beranjak pergi sambil memaki-maki Sungmin, sementara yang dimaki hanya mendengus tidak peduli. Donghae dan Ryeowook hanya memandang ketika sekelompok siswa yang telah babak belur itu berjalan melewati mereka, kemudian mereka segera mendekati Sungmin yang sedang membersihkan seragamnya.

 

“Kami mencarimu sejak tadi, Sungmin. Kau tidak apa-apa?” tanya Ryeowook dengan cemas.

 

“Ya, aku tidak apa-apa.” Jawab Sungmin dengan santai, kemudian menyadari bahwa kedua sahabatnya itu sedang memperhatikannya dengan cemas, pada luka-luka yang sedikit bertambah di wajah manisnya. Ia menyentuh wajahnya yang terluka dan masih dengan nada santai yang sama ia berkata, “Kelihatannya aku harus ke klinik nanti untuk minta plester. Aku kehabisan plester.”

 

“Apa yang terjadi kali ini?” tanya Donghae.

 

“Hanya sekelompok orang yang menantangku berkelahi. Menurut mereka aku adalah orang yang menyebalkan.” Jawab Sungmin dengan santai seraya merogoh ke balik blazer sekolahnya yang berwarna putih, mengeluarkan sebungkus rokok dan korek api dari dalam saku kemejanya.

 

Ketika Sungmin hendak menyulut batang putih laknat itu Donghae merebutnya seraya berkata,

“Kau masih di sekolah, bodoh.”

 

Sungmin hanya tersenyum kecil dan merebut kembali batang rokoknya dari tangan Donghae.

“Aku tahu. Tapi tidak ada siapa pun di sini selain kalian, jadi biarkan aku merokok satu batang saja sebelum kita kembali ke kelas nanti. Okay?”

Dan dua sahabatnya itu hanya bisa diam memperhatikan ketika dengan tenangnya pemuda manis itu menyulut batang putih laknat itu di mulutnya dan menghembuskan asap tipis kelabunya ke udara. Pada akhirnya mereka menghabiskan bekal makan siang mereka di sudut sekolah yang sepi sambil mengobrol dan bercanda, dan menunggu Sungmin menghabiskan rokoknya.

 

Ketika bel tanda waktu istirahat telah berakhir berbunyi dengan nyaring Sungmin, Donghae dan Ryeowook beranjak pergi untuk kembali ke kelas. Sungmin memadamkan batang rokoknya yang telah memendek dan membuangnya ke tempat sampah. Lalu Ryeowook memberikan beberapa permen padanya.

 

“Untuk menyamarkan bau rokok di mulutmu,” Kata Ryeowook. “Dan jangan lupa mampir ke klinik untuk meminta plester, untuk luka-luka baru di wajahmu itu.”

 

Sungmin tersenyum berterima kasih dan memakan satu permen, sementara sisanya ia masukan ke dalam sakunya. Ia sangat menghargai perhatian dan kecemasan sahabat-sahabatnya itu. Ryeowook terus memperhatikan Sungmin lekat-lekat selama beberapa saat, sebelum kemudian pemuda berwajah cute itu mengalihkan pandangannya ke depan dan menghela napas pelan.

 

“Berkelahi dan merokok …kau memang sengaja mencari masalah ‘kan, Sungmin?” Kata Ryeowook yang kini merasa sangat yakin. Disampingnya, Donghae yang sedang menikmati sekotak jus apel hanya diam melirik ke arah Sungmin. Namun dari matanya terlihat jelas bahwa ia setuju dengan perkataan Ryeowook barusan.

 

Sungmin memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan tertawa kecil. Di ujung koridor ia melihat Kyuhyun yang berjalan ke arah mereka dengan membawa beberapa buku dan buku absen di tangannya. Sepertinya guru muda itu siap untuk mengajar di kelas lain. Ketika jarak mereka semakin mendekat, sejenak mata obsidian dan mata foxy itu bertemu. Kyuhyun memandangnya lekat-lekat, seolah sedang berusaha menebak masalah apa lagi yang kini dibuatnya.

 

“Sudah kubilang ‘kan, aku adalah magnet pembawa masalah. Itu saja.” Sungmin berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun yang kini berbelok ke koridor yang lain. Lalu sudut-sudut bibirnya tertarik sedikit, membentuk seulas senyum yang coba ia sembunyikan.

~+~+~+~

 

Sesuai perintah, seusai sekolah Sungmin menemui Kyuhyun di ruang konseling. Di ruangan yang tenang itu Kyuhyun telah duduk menunggunya dengan wajah yang lelah dan bosan. Di balik kacamatanya, mata obsidian itu memperhatikan Sungmin yang beranjak duduk dengan santai di seberang mejanya, dengan kedua tangan tetap di dalam saku celana. Memperhatikan bagaimana mata foxy itu terlihat begitu menantangnya. Dan memperhatikan bagaimana bibir plump itu masih terus saja mengulas senyum mengejek itu.

 

“…demi Tuhan,” Kyuhyun mulai bicara. Nada lelah dan tidak suka terdengar jelas dalam suaranya. “Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Hari kelulusan hampir tiba, jangan membuat masalah yang akan membuatmu masuk dalam daftar black list yang dapat mempengaruhi peringkatmu.”

 

Sungmin tersenyum mendengus.

“Hah, tapi aku hanya berkelahi dengan mereka yang menantangku. Aku tidak pernah memprovokasi mereka.”

 

Kyuhyun memejamkan matanya sesaat dan menghela napas pelan.

“Tetap saja. Seharusnya itu dilakukan dalam batas-batas tertentu agar tidak ketahuan.”

 

Sungmin menegakkan kepalanya dan diam sejenak menatap si guru muda di hadapannya itu.

“Oh? Kau tahu banyak.” Cibirnya.

 

“Tentu saja, bodoh. Dan…” Kyuhyun berkata seraya berdiri dari kursinya dan mengulurkan tangannya pada Sungmin.

 

Sungmin sedikit terkejut ketika tangan Kyuhyun masuk ke balik blazer putih sekolahnya dan merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebungkus rokok miliknya. Lalu Kyuhyun kembali duduk dan meletakkan bungkus rokok itu di atas meja. Sambil memainkan bungkus rokok itu, si guru muda menatap Sungmin dan kembali berkata,

 

“…ini juga. Setidaknya singkirkan bau rokok dari mulutmu. Aku tidak dapat membantumu jika seseorang selain aku mengetahuinya. Kenapa kau melakukan ini?”

 

Sungmin hanya diam menatap si guru muda. Raut wajahnya sedikit berubah sejenak. Kemudian ia tersenyum mendengus. “…melakukan apa?” katanya pura-pura tidak mengerti.

 

Mata obsidian itu semakin tajam menatap Sungmin, seolah tidak terpengaruh pada sikap innocent yang coba diperlihatkan oleh si pemuda manis itu. “Kau melakukan ini dengan sengaja,” Kyuhyun berkata. “Kau memamerkan padaku bahwa kau berkelahi dan merokok. Kau tahu persis apa yang kau lakukan. Aku bertanya, apa yang sebenarnya kau coba untuk dapatkan dengan melakukan semua ini?”

 

Sungmin sedikit menundukkan kepalanya dan sudut bibir itu kembali tertarik membentuk seulas senyum yang terlihat jelas. Tetapi kali ini bukan senyum mengejek, melainkan sebuah senyuman yang terasa menyakitkan.

 

“Untuk mendapatkan perhatianmu. Untuk membuatmu benar-benar melihatku seperti itu,”

 

“…huh?”

 

“Bukan sebagai seorang “siswa”, tapi benar-benar melihat “aku”. Kau samar-samar menyadarinya, bukan? Itu sebabnya biasanya, kau melarikan diri dariku, bukan?”

 

Kyuhyun terdiam mendengarnya dan hanya menatap Sungmin. Ketika kemudian Sungmin mengangkat kepalanya dan menatapnya, ia menyadari ada kelembutan dalam mata foxy itu. Kelembutan yang hampir membuat tembok tinggi yang telah susah payah ia buat selama ini nyaris runtuh. Ia mencoba mengalihkan pandangannya pada hal lain. Apa saja, selain mata foxy itu. Namun ia terkejut ketika tiba-tiba Sungmin mengulurkan satu tangannya dan menyentuh tangannya yang sedang memegang bungkus rokok milik si pemuda manis itu yang ia ambil tadi.

 

“Karena kau sudah menyadarinya dan sebagai seorang guru, kau menjaga jarak. Benar bukan, Kyuhyun?”

 

Kyuhyun masih terdiam, menatap tangan Sungmin yang berada di atas tangannya. Menyentuhnya dengan lembut dan hangat. Sentuhan ini dan panggilan nama itu membawa sebuah sensasi lama yang dirindukannya. Membawanya kembali pada sebuah kenangan lama. Dulu, ketika dia hanyalah seorang siswa SMA yang harus merawat seorang anak kecil tetangganya yang berusia 7 tahun. Anak kecil yang selalu mengikutinya kemana pun. Anak kecil yang kini telah tumbuh menjadi seorang remaja yang selalu membuat masalah.

 

Dulu. Itu sudah lama sekali.

 

~+~+~+~

 

“Kyuhyun.”

 

Panggilan nama itu membuat Kyuhyun menghentikan kakinya. Ia menoleh menatap dengan heran anak kecil berusia 7 tahun di sampingnya, yang sedang menggandeng tangannya dan menatapnya dengan mata foxy-nya yang cemerlang. Pagi itu mereka telah rapi dengan seragam masing-masing, Kyuhyun dengan seragam SMA-nya dan anak kecil itu dengan seragam SD-nya. Dan seperti biasanya Kyuhyun harus mengantar anak kecil ini dulu sebelum ia pergi ke sekolahnya.

 

“Hah? Tunggu, hey, apa itu barusan? Kau memanggilku apa?” Kata Kyuhyun terkejut.

 

Anak kecil itu menatap Kyuhyun dengan polos.

“Kyuhyun.” Katanya mengulangi kembali perkataannya tadi, membuat Kyuhyun merasa semakin heran.

“Kenapa kau tidak menggunakan panggilan formal? Baru kemarin kau memanggilku “hyung”. Apa yang terjadi?”

 

“Aku tidak mau lagi.”

 

“Ini bukan masalah kau mau atau tidak. Aku 10 tahun lebih tua darimu.”

 

“Tapi aku tidak mau.”

 

Kyuhyun mengerjap melihat anak kecil yang keras kepala itu. Dan pada akhirnya ia hanya mendesah dan melanjutkan kembali langkah kaki mereka. “…terserah.” Katanya, yang membuat anak kecil itu tersenyum senang.

 

~+~+~+~

 

Ya. Anak kecil yang keras kepala itu adalah Sungmin. Dia tinggal di sebelah rumah Kyuhyun, bersama dengan kakeknya. Kyuhyun tidak pernah melihat kedua orang tua Sungmin. Entah mereka masih hidup dan sedang berada di suatu tempat, atau mereka sudah lama mati. Kyuhyun tidak terlalu peduli, ia tidak mau mencampuri urusan orang lain. Kakek Sungmin adalah pemilik sebuah restoran dan sangat sibuk. Karena itu, dia meminta Kyuhyun yang rumahnya bersebelahan dengan rumah mereka untuk menjaga dan merawat cucu kesayangannya itu. Tentu saja Kyuhyun dibayar.

 

Meski Kyuhyun tidak keberatan, namun ketika melihat Sungmin kecil yang selalu menatapnya dengan mata foxy yang cemerlang itu ia selalu berpikir, mengapa dia harus merawatnya? Dia tidak tahu bagaimana caranya mengurus anak kecil. Kyuhyun merawat Sungmin kecil selama beberapa lama. Dan untuk beberapa alasan, ini membuat Sungmin kecil menjadi lebih terikat kepadanya.

 

Hingga akhirnya Kyuhyun lulus dari SMA dan meninggalkan rumah untuk memulai kehidupan kuliahnya. Dan sejak hari itu ia tidak pernah melihat Sungmin lagi. Pertama kali ia melihat Sungmin lagi adalah ketika kakek Sungmin menghubunginya dan memintanya untuk mengajari cucunya yang akan menghadapi ujian. Saat itu Sungmin telah berusia 14 tahun. Sejujurnya, ketika ia datang ke rumah keluarga Lee dan untuk pertama kalinya melihat Sungmin kembali ia merasa sangat terkejut dan terpesona. Anak kecil itu telah tumbuh menjadi seorang remaja yang manis yang mampu memikat siapa pun yang melihatnya. Dan Kyuhyun harus mengatakan kepada dirinya sendiri yang nyaris lupa, bahwa sosok manis yang berdiri di depannya saat itu adalah anak kecil yang dulu selalu naik ke bahunya.

 

Lalu sedikit demi sedikit. Ketika melihat bagaimana cara Sungmin memandang dan tersenyum kepadanya, Kyuhyun mulai menyadari bahwa ia berada dalam masalah. Itu bukanlah ekspresi yang kau tunjukan kepada “kakak tetangga sebelah yang kau puja”. Yang membuat Kyuhyun merasa semakin yakin adalah ketika Sungmin memilih SMA St. Mourist, sekolah tempatnya mengajar.

 

Ya, itu benar. Kyuhyun tahu bagaimana perasaan Sungmin, dan juga perasaannya sendiri. Ia juga memiliki perasaan yang sama dengan pemuda manis itu. Tapi ia tidak bisa merespon perasaan itu. Tidak selama Sungmin adalah seorang murid.

 

~+~+~+~

 

Kyuhyun menarik tangannya dari Sungmin. Seraya mengalihkan pandangannya, Ia menyimpan bungkus rokok milik Sungmin yang ia sita ke dalam saku kemejanya. Sungmin hanya diam menatapnya, sedikit terluka dengan penolakan yang Kyuhyun berikan.

 

“…jangan panggil namaku. Panggil aku sonsaengnim seperti yang seharusnya.” Kata Kyuhyun.

 

“Aku tidak mau.” Kata Sungmin pelan, menolak.

 

Kyuhyun menatap Sungmin dari balik kacamatanya. Sedikit kesal dengan sikap keras kepala Sungmin yang masih tidak berubah dari dulu. Sungmin beranjak berdiri dari kursinya dan berjalan memutari meja mendekati Kyuhyun.

 

“Aku bicara padamu, Kyuhyun,” Sungmin berkata, memberi tekanan pada kalimatnya. “Jangan membawa omong kosong seperti posisi. Hal seperti murid dan guru, aku tidak peduli tentang itu. Itu bukan masalah.”

 

Sejenak mata obsidian dan mata foxy itu kembali bertemu dalam keheningan. Sorot mata lelah bertemu dengan sorot mata menantang. Ketika si guru muda terlihat seperti tidak ingin mengatakan apapun, Sungmin kembali bicara seraya mengulurkan satu tangannya ke depan. Merogoh saku kemeja Kyuhyun untuk mengambil sebatang rokok dari bungkus rokoknya yang telah disita.

 

“Diammu memberitahuku, bahwa aku benar. Kau memang mengetahui tentang perasaanku.”

 

Sungmin meletakkan batang putih laknat itu di bibirnya. Namun ketika ia sedang berusaha menyalakan korek api gasnya untuk menyulut rokoknya, tiba-tiba tangan Kyuhyun menghentikannya. Kyuhyun menghela napas dan beranjak berdiri dari kursinya, lalu mengambil korek api itu dari tangan Sungmin.

 

“Aku kehabisan kata-kata,” katanya seraya memadang korek api milik Sungmin di tangannya. Sejenak ia memainkannya, melemparkannya ke atas lalu menangkapnya kembali. Kemudian mengenggam benda kecil itu dengan erat seraya menatap Sungmin dengan tajam. “Lalu? Katakan misalnya, bahwa aku memang telah mengetahui tentang perasaanmu. Lalu apa? Apa yang kau sarankan aku lakukan? Guru dan murid bukan masalah?”

 

Sungmin terdiam menatap sang guru muda yang nampak marah. Ia mengambil batang rokok yang masih berada di mulutnya dan berusaha mencari kata-kata yang tepat. Namun ia terkejut ketika tiba-tiba Kyuhyun melempar korek api miliknya ke sudut ruangan dengan keras.

 

“ITU MASALAH BESAR, BODOH!!” teriak Kyuhyun marah. “Aku punya posisi yang harus kupertimbangkan. Aku bukan anak kecil sepertimu.”

 

Kyuhyun sedikit menunduk menatap lantai, berusaha menghindari mata foxy yang sedang menatapnya dengan tatapan yang membuatnya terasa nyeri. Ingin sekali ia meminta pada Sungmin untuk mengerti, bahwa ia tidak bisa merespon perasaannya saat ini.

 

Sungmin mengatupkan bibirnya dengan kuat, menahan perasaan nyeri dan marah yang seketika melesak di dalam dadanya. “Aku bukan anak kecil…” gumamnya.

 

Kyuhyun nampak tidak peduli dan beranjak pergi, berjalan melewati Sungmin yang kembali terdiam. Kemudian pemuda manis itu menoleh kebelakang, pada si guru muda yang hampir mencapai pintu, dan berteriak dengan marah.

 

“Aku bukan anak kecil, sialan!!”

 

Kyuhyun menghentikan kakinya. Tanpa menoleh, ia berkata dengan nada yang dingin.

“Kau benar-benar kekanak-kanakan,” Ia sedikit menggerakkan kepalanya, melirik Sungmin yang kini terdiam memandangnya. “Ingatlah ini. Melakukan hal seperti itu tidak akan membuatku menerimamu.”

 

Sungmin masih saja terdiam, menatap punggung Kyuhyun yang perlahan menjauh. Punggung yang menyimpan rahasianya sendiri. Sungmin menggigit bibirnya dengan kesal, merasa tidak terima. Kemudian ia mengejar sang guru muda dan mencengkram lengannya, membuat Kyuhyun berhenti melangkah dan merasa sangat terkejut. Tanpa menoleh, Kyuhyun dapat merasakan bahwa Sungmin berdiri di belakangnya. Bahkan ia dapat merasakan tatapan mata foxy itu di punggungnya, yang seolah memaksanya untuk membagi rahasia itu padanya.

 

“Jangan berbohong padaku…!” Kata Sungmin dengan marah, membuat si guru muda merasa semakin terkejut. “Jangan mengguruiku. Seperti kau tahu perasaanku, aku tahu jawabanmu. Jika tidak, kau tidak akan bertingkah seperti ini.”

 

Kyuhyun masih diam. Tidak bergeming, ataupun menoleh ke belakang. Namun Sungmin yang terus mendesaknya seperti ini mulai membuatnya merasa cemas. Cemas pada tembok tinggi yang telah ia bangun dengan susah payah di dalam dirinya kini mulai bergoyang, mulai tidak seimbang. Ia memejamkan matanya dan berusaha menulikan pendengarannya. Berusaha mengabaikan Sungmin yang terus berbicara dengan nada yang semakin tinggi. Berusaha mengabaikan amarah Sungmin yang nyaris meledak seperti gunung merapi.

 

“…kenapa? Kenapa kau menyimpannya sendiri? Kenapa kau tidak memberitahukan aku jawaban yang sebenarnya? Aku hanya ingin mendengar perasaanmu yang sesungguhnya. Aku ingin mendengarnya dengan kata-katamu sendiri!”

 

Kyuhyun masih saja diam, dan itu membuat Sungmin merasa semakin jengkel. Kemudian Sungmin menarik tubuh si guru muda agar berbalik menghadapnya dan mencengkram pundaknya. Namun Kyuhyun masih saja mengalihkan pandangannya, tidak mau menatapnya.

 

“Cukup! Guru, murid, apakah hal itu benar-benar perlu untuk dikhawatirkan?”

 

Masih tanpa menatap Sungmin, Kyuhyun menepis cengkraman tangan si pemuda manis itu di pundaknya seraya berkata dengan acuh, “Lepaskan.”

 

“…Kyuhyun!!”

 

“Diskusi ini selesai.”

 

Namun ketika Kyuhyun membalik tubuhnya dan hendak pergi lagi-lagi Sungmin menahannya. Pemuda manis itu mencengkram tangannya dengan erat sambil berteriak memaki, berusaha memprovokasi si guru muda.

 

“Jangan melarikan diri!! Berhenti bermain-main. Kau melakukan semua yang dapat kau lakukan untuk lari dariku lagi! Berapa lama lagi kau akan melarikan diri?! Kau pengecut. Kau bahkan tidak bisa menghadapiku!! Kau begitu ketakutan, itu menyedihkan. You’re good for nothing, stinking asshole!! Idiot! Bodoh! Tidak berguna! Katakan sesuatu brengsek!!”

Pada akhirnya Kyuhyun pun merasa tidak tahan. Tembok tinggi itu pun runtuh seketika.

“—kau bocah sialan…!” gumamnya pelan. Kemudian ia membalik tubuhnya dengan tiba-tiba dan menarik kerah seragam Sungmin. Dan dengan tiba-tiba pula ia mencium bibir plump yang selalu mengulas senyum mengejek padanya itu.

 

Ciuman itu begitu tiba-tiba, membuat Sungmin terkejut dan mengerjap tidak percaya. Tanpa menghentikan ciumannya Kyuhyun menarik tubuh Sungmin dan mendorongnya ke dinding. Merapatkan tubuh mereka dan memaksa bibir plump itu untuk terbuka dan memberi izin pada lidahnya untuk masuk dan bermain di dalamnya.

 

Ciuman itu begitu kasar dan panas. Dan Kyuhyun sudah tidak dapat menahan dirinya lagi. Tembok tinggi itu sudah benar-benar runtuh sekarang. Bahkan Kyuhyun tidak peduli ketika kacamatanya mulai terusik dari tempatnya bertengger hingga akhirnya terjatuh ke lantai.

 

“Nnn…! Tunggu. Mngh…” Sungmin mencoba menghentikan ciuman panas itu dan mendorong wajah tampan Kyuhyun dari wajahnya. Ia nyaris kehabisan napas karena ciuman itu.

 

Namun seolah telah lupa diri, Kyuhyun tidak mau berhenti. Ia hanya memberi jeda beberapa detik bagi Sungmin untuk mengisi kembali persediaan oksigennya, sebelum kemudian ia kembali menciumnya dengan penuh gairah yang selama ini selalu berusaha ia tahan. Dan pada akhirnya Sungmin pun memilih untuk menyerah dan memejamkan matanya, menikmati sensasi aneh yang menjalari seluruh tubuhnya. Sensasi yang membuat kaki dan tubuhnya terasa lemas.

 

Ciuman itu terasa semakin panas dan penuh gairah. Dan perlahan tubuh Sungmin pun merosot jatuh. Namun sebelum Sungmin benar-benar terjatuh ke lantai, tanpa menghentikan ciuman mereka, Kyuhyun menempatkan kakinya di antara kaki Sungmin. Mereka pun terjatuh ke lantai bersama, dengan Sungmin yang duduk di atas pangkuan Kyuhyun.

 

Ketika kemudian ciuman panas itu berakhir dan mereka saling berpandangan, Kyuhyun pun terdiam sejenak, tersadar dengan apa yang baru saja ia lakukan. Suara deru napas yang tidak teratur dan lelah terdengar memenuhi ruangan yang tenang itu.

“Ah, sial,” kata Kyuhyun seolah tidak percaya, memejamkan matanya dan mendesah. Kemudian ia membuka matanya, menyandarkan tangannya pada dinding untuk menjaga keseimbangannya dan kembali berkata, “Geez, kenapa kau harus melemparkan dirimu padaku dengan depresi seperti itu?”

 

Sungmin yang merangkulkan kedua tangannya di leher Kyuhyun terkejut mendengarnya. Ia terdiam mendengar suara Kyuhyun yang berkata di telinganya, “Jika aku tidak melarikan diri darimu, aku akan berada dalam masalah besar.”

 

Perkataan itu seolah membuka pintu rahasia yang selama ini terkunci rapat. Seperti sebuah kata-kata ajaib yang penuh makna bagi Sungmin. Ia sedikit mendorong tubuh Kyuhyun menjauh untuk melihat wajah tampannya, menatapnya dengan tatapan terkejut dan tidak percaya. Tapi wajah tampan itu terlihat begitu serius, dan mata obsidian itu terlihat begitu jujur.

 

“Itu artinya…” Kata Sungmin.

 

Kyuhyun kembali merapatkan tubuhnya pada Sungmin dan berkata di telinganya,

“Aku tidak mengatakannya lagi. Kau dapat menebaknya, kan? Jika kau bukan anak kecil, seperti yang kau katakan.”

 

Sejenak tidak ada yang bersuara. Sungmin yang bingung harus mengatakan apa. Dan Kyuhyun yang menunggu kata-kata selanjutnya dari Sungmin. Setelah beberapa menit berlalu Sungmin hanya mengerjap dan berkata,

 

“Ah, kurasa aku adalah anak kecil karena aku tidak tahu. Maaf.”

 

Kyuhyun mendengus kesal mendengarnya. Ia berpikir sejenak. Kemudian sambil memejamkan matanya dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal ia berkata, “Ah, sial! Aku akan memberitahumu. Tunggulah hingga hari kelulusan!”

 

Kemudian ia membuka matanya. Menatap Sungmin lekat-lekat dan berkata lagi dengan serius,

“Maaf, tapi aku tidak akan lagi bertindak ceroboh tanpa memperhatikan usia. Selama kau seorang murid, aku tidak bisa merespon perasaanmu.”

 

Sungmin mengerjap tidak percaya mendengarnya.

“…kalau begitu, setelah aku lulus?”

 

Kyuhyun diam sejenak menatap Sungmin. Kemudian ia mendekatkan wajahnya dan menyentuh wajah manis di depannya itu dengan lembut sambil berkata, “Aku akan benar-benar memberitahumu. Apa yang ingin kau dengar, tentang perasaanku. Karena itu, tunggulah. Apa kau mengerti, bocah bermasalah?”

 

Sungmin masih terdiam sejenak, menatap Kyuhyun tanpa berkedip. Lalu sudut bibir itu tertarik ke atas membentuk seulas senyum senang. Ia menghela napas lega dan memeluk kepala si guru muda sambil berkata,

 

Adults are so hopeless.”

 

“Salah siapa menurutmu itu?” Timpal Kyuhyun sedikit kesal. Dan Sungmin hanya tertawa kecil di atas kepala si guru muda.

 

~+~+~+~

 

Hari mulai sore. Kyuhyun dan Sungmin merapikan diri mereka dan bersiap untuk pulang. Kyuhyun mengambil kacamatanya yang tadi terjatuh ke lantai ketika berciuman dengan Sungmin. Ia membersihkan kacamatanya sesaat lalu memakainya kembali. Sementara Sungmin memungut kembali korek api miliknya yang tadi dilempar dengan keras oleh Kyuhyun ke sudut ruangan. Sejenak ia terdiam memandang benda kecil itu.

 

“…hey. Aku ingin buru-buru dan lulus.” Katanya kemudian sambil tetap memandang korek api di tangannya itu.

 

Kyuhyun melirik pada Sungmin sesaat, lalu berjalan mendekatinya. Sambil mengacak-acak lembut rambut yang dicat pirang itu ia berkata, “Bodoh. Jangan terburu-buru. Lagipula, ada waktu yang lama setelah lulus. Buatlah kenangan yang berharga selama kau menjadi murid SMA.”

 

Sungmin  terdiam dan menoleh pada Kyuhyun, menatapnya dengan tatapan terkejut.

“Kenapa kau tampak begitu terkejut?” tanya Kyuhyun heran.

 

“Menakjubkan. Sekarang kau benar-benar tampak seperti seorang guru.” Kata Sungmin seraya tertawa kecil.

 

“Kau benar-benar tahu bagaimana caranya membuatku kesal.” Kata Kyuhyun kesal seraya membuka pintu dan berjalan keluar ruangan, bersama Sungmin yang mengikutinya.

 

Ketika Kyuhyun sedang menutup pintu ruangan konseling dan menguncinya, Sungmin memanggilnya.

“Huh? Apalagi sekarang?” Kata Kyuhyun sedikit kesal, mengira pemuda manis itu ingin menggodanya lagi untuk membuatnya marah.

 

Namun saat ia mengangkat kepalanya, ia menemukan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Sungmin menciumnya dengan lembut. Dan sejenak lidah Sungmin menggoda di dalam mulutnya, sebelum kemudian lidah itu menjilat permukaan bibirnya dengan lembut. Kemudian mata obsidian dan mata foxy itu kembali bertemu dalam keheningan yang mendebarkan. Mata obsidian itu begitu terkejut pada ciuman tiba-tiba itu dan begitu terpesona pada mata foxy yang cemerlang itu hingga memberikan reaksi yang terlambat.

 

Tersadar bahwa mereka masih berada di sekolah, berdiri di depan ruangan konseling, Kyuhyun tersentak dan segera menjitak kepala Sungmin dengan kesal. “Kau pikir sedang dimana kita sekarang?!” bisiknya panik.

Sungmin mengelus kepalanya yang dijitak oleh Kyuhyun dan meringis kesakitan.

“Urrgghh…aku mengerti. Aku mengerti!” katanya. Ia menatap Kyuhyun dan merasa sedikit heran sekaligus lucu karena pria tampan itu nampak begitu panik. “Jangan khawatir. Tidak akan ada lagi serangan mendadak.”

 

Kyuhyun hanya diam dan menatap pemuda manis itu dengan kesal. Hampir saja pertahanannya kembali runtuh. Seraya berusaha menenangkan jantungnya yang berdentum kencang tidak teratur di dalam dadanya, ia berpikir bahwa sepertinya ia tidak bisa bersantai dan menurunkan kewaspadaannya sejenak jika berada di dekat pemuda manis itu.

 

Sungmin tersenyum dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.

“Aku akan pastikan untuk menunggu, sampai lulus nanti.” katanya, lalu beranjak pergi.

 

Kyuhyun terdiam sejenak, menatap punggung Sungmin yang perlahan menjauh. Sedikit terkejut dan sekaligus merasa lega melihat Sungmin yang kini mau mengerti untuk menunggunya hingga hari kelulusan nanti. Kemudian ia segera menyusul Sungmin dan berjalan di sampingnya. Seraya menggosok belakang lehernya, ia menghela napas dengan keras.

 

“Kenapa kau menghela napas?” tanya Sungmin, menatap si guru muda dengan sedikit kesal.

 

Kyuhyun melirik sesaat pada Sungmin dan menjawab pelan,

“Aku akan berada di tanganmu setelah hari kelulusan nanti.” Namun kemudian ia tersenyum dan menyentuh lembut kepala Sungmin, membuat pemuda manis itu merasa sangat senang.

 

Ya, Sungmin pasti akan menunggu hingga hari kelulusan nanti.

 

~Fin~

59 thoughts on “No, No

  1. njiirrrrr.. ini manis pake banget >///< mimisaaaaannnnn.. min kecil eonni, sering2 juga bikin ff oneshoot yg manis begini, hahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s