Blood Debt Collection / Part 2

Gambar

Pairing : KyuMin / KyuWook / SiMin || Genre : Drama, Hurt || Length : Chaptered || Warning : BL, Shounen-ai, semi M-preg (?) || Disclaimer : Remake dari novel karya Marga T. yang berjudul “Dilanda Murka dan Nestapa. Ada perubahan dan tambahan seperlunya || Summary : Lee Sungmin sudah hampir meninggal ketika berusia tujuh tahun, namun diselamatkan oleh sepupunya, Ryeowook. Saat penagihan hutang darah itu sudah tiba, Ryeowook pelan-pelan mulai menguasai hidup Sungmin. Namanya digunakan untuk melakukan berbagai tindakan yang melanggar hukum. Sungmin terpaksa menuruti setiap permintaannya. Namun ketika Ryeowook mencoba merebut Kyuhyun yang dicintainya, Sungmin tak bisa lagi tinggal diam. Hidupnya semakin sengsara. Dalam pekerjaan, bosnya mulai memusuhinya. Kyuhyun pun mulai menjauh tanpa alasan yang jelas. Ketika Sungmin ingin pindah kerja, barulah dia tahu misteri di balik sikap Kyuhyun yang dingin itu. Dan saat itu juga dunianya kiamat!

 

 

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

 

 

~Presented by@Min kecil~

Part 2

Dia teringat, ayahnya bergumam dan ibunya menutupi wajahnya dengan kedua tangan, perutnya yang buncit kelihatan naik-turun bersamaan dengan isaknya. Sungmin terbaring di ranjang rumah sakit, memperhatikan kedua orangtuanya berpelukan dekat jendela. Dia terpesona dengan adegan itu. Ayahnya berbisik ke telinga ibunya, dan ibunya menyeka matanya, membersitkan hidung dengan saputangan yang dikeluarkan Ayah dari kantong celananya, lalu menoleh padanya, tersenyum. Dengan bibirnya yang pucat dan matanya yang merah, ibunya sungguh mirip dengan kelinci mereka, si Boni.

 

Orangtuanya berdiri di sebelah kiri ranjangnya, sedangkan dokter dan perawat berdiri di sebelah kanan. Keduanya mengawasi dokter yang sedang menusukkan jarum ke punggung tangannya. “Pembuluh darahnya halus sekali,” ujar dokter. “Suster, coba kau ambilkan air hangat.”

 

Tangannya direndam selama sepuluh menit untuk melebarkan pembuluh darah. Tusukan itu terasa seperti gigitan semut, akan tetapi cairan yang menetes ke dalamnya membuatnya kepanasan dan mengantuk. Ditangkapnya ucapan dokter pada ayahnya,

 

“Ini adalah obat yang terbaik untuk Leukemia jenis ini.”

 

Dia mendongak pada ayahnya dan bertanya,

“Ayah, apa sih Leukemia itu?”

 

“Leukemia adalah keadaan dimana sel darah putih berkembang biak terlalu cepat dan terlalu banyak.” Jelas Ayahnya.

“Seperti Boni?” Dia ingat, dirinya tersenyum. Mereka semua ikut tersenyum.

 

“Ya, mirip seperti itu. Dan kita harus menghentikan mereka sebelum mereka menekan sel darah marah dan sel pembeku darah.”

 

Sungmin ingat, dia mengangguk. Itulah yang dilakukan terhadap Boni ketika kedelapan anaknya memakan daun-daun di kebun. Mereka membawanya ke dokter dan dia tidak dapat mempunyai anak lagi.

 

Hampir sebulan Sungmin tinggal di rumah sakit. Rasanya membosankan, tapi dia pulang ke rumah dengan perasaan lega dan bahagia. Sehari setelah dia pulang ke rumah Bibi Joo dan suaminya datang menjenguk. Mereka membawa banyak sekali buah-buahan untuknya.

 

“Wah, kau terlihat segar seperti bayi yang baru lahir saja!” seru Bibi Joo padanya. Lalu Sungmin mendengarnya berbisik pada Ibu, “Apa dia benar-benar sudah sembuh?”

 

~+~+~+~

 

“Ah, hai! Di sini kau rupanya!”

 

Suara Kyuhyun merenggutnya kembali dari lamunan. Sungmin menengadah dan tersenyum. Kyuhyun mencium pipinya dengan lembut, lalu bergumam sambil duduk di depannya,

 

“Maaf, aku terlambat. Anjing tetanggaku melahirkan, dan mereka tidak sempat memanggil dokter. Jadi aku terpaksa harus jadi dukun beranak!” Dia menyeringai geli.

 

“Tidak apa-apa. Aku juga baru datang,” ujar Sungmin tertawa, sedikit berbohong.

 

Seorang pelayan menghampiri dan mereka memesan minuman.

“Kau belum mau pesan makanan?” tanya Kyuhyun ketika minuman mereka sudah diantarkan.

 

“Kau lupa? Kemarin kukatakan bahwa sepupuku akan ikut makan dengan kita. Kau bilang, boleh.”

 

“Oya, ya. Siapa namanya? Ryeo…?”

 

“Ryeowook. Tunggulah sepuluh menit lagi. Apa kau sudah ingin makan sesuatu?”

 

Kyuhyun mengangguk.

“Ya. Kau!”

 

Sungmin tersipu mendengarnya. Dalam keremangan cahaya malam rona merah yang menjalari pipinya memang tidak terlalu terlihat, tapi ia merasakan wajahnya memanas. Sambil meneguk minumannya ia melirik Kyuhyun dan berpikir, betapa berbedanya pria itu. sebagai dokter Cho, pria ini sangat menjaga jarak dan formal sekali terutama bila ada staff lainnya yang hadir. Tapi sebagai Kyuhyun, dia adalah pribadi yang hangat, senang bercanda, telaten dan lembut.

 

“Ryeowook yang punya butik itu, bukan?” Kyuhyun bertanya, menyadarkan Sungmin dari pikirannya.

 

“Ya. Dia sangat ingin berkenalan denganmu.” Jawab Sungmin, meletakan gelasnya kembali ke atas meja lalu mendesah sangat pelan.

 

“Kenapa? Apa kalian menggunjingkan diriku?”

 

“Gila! Memangnya aku kekurangan kerjaan menggosipkan bos! Dia tahu, kita suka keluar bersama. Sebenarnya dia mengajakku makan sabtu ini. Ketika aku bilang bahwa aku sudah ada janji denganmu, dia mendesak supaya diajak. Aku tidak bisa menolak.”

 

“Oh, tidak apa-apa. Asalkan saja dia bukan sengaja diajak untuk mengawasi kencan kita!”

 

“Gila kau! Memangnya aku ini anak di bawah umur?”

 

“Dibilang bukan, ya…buktinya aku belum pernah diajak naik ke ranjangmu,” Oh, ini dia. Kyuhyun tak pernah melewatkan kesempatan untuk menyinggung masalah ini. Sungmin dan keperawanannya yang sangat terjaga. Prinsip yang tak tergoyahkan. “Jangankan bercinta, mencium pun kau hanya mau di pipi terus. Aku hitung, baru empat kali aku mencium bibirmu, itu pun cuma dua detik!”

 

“Kau pakai stopwatch?” tanya Sungmin heran. “Adegan ranjang ‘kan cuma ada di film, Kyu.”

 

Kyuhyun hanya diam dan menggaruk-garuk kepala seolah mendadak penuh ketombe. Sungmin memandangnya dengan tatapan menyelidik dan kembali bertanya, “Apa kau kecewa kita cuma kencan seperti ini saja? Aku tidak bisa memberikan lebih.”

 

Kyuhyun menjulurkan lengannya dia atas meja, menyentuh tangan halus di depannya. Lalu cepat-cepat menegaskan dengan menampilkan senyumannya yang khas. “Tidak. Tentu saja, aku mengerti. Aku hanya bercanda. Boleh dong? ‘Kan tidak minta dibayar.”

 

Sungmin pun tertawa. Setelah tawanya mereda, ia meneguk minumannya sesaat lalu menatap si tampan di depannya yang juga sedang menikmati wajah manisnya. Sungguh, ia sangat menyukai pria ini, asalkan saja bukan sedang dalam dinas. Formalitasnya terkadang keterlaluan.

 

Kyuhyun nampak mulai lelah menunggu tamu agung mereka. Ia menyenderkan tubuhnya ke belakang dan meluruskan kaki panjangnya, hingga kemudian ia merasa menyentuh sesuatu. Ia menundukkan kepalanya ke bawah meja lalu menyadari sesuatu. Di bawah meja terdapat sebuah keranjang rotan berisi seekor anjing pudel kecil.

 

“Eh, ini anjing pudel milikmu?” tanya Kyuhyun.

 

“Ya. Aku baru saja mendapatkannya kembali,” jawab Sungmin, ikut memandang ke bawah meja. Lalu kembali memandang Kyuhyun. “Kelihatannya dia ketakutan ditinggal sendirian di apartemen malam hari, jadi aku membeli keranjang rotan ini untuk membawanya kemana-mana. Kau tidak keberatan, bukan?”

 

Kyuhyun tersenyum.

“Tentu saja tidak. Aku suka sekali hewan piaraan, tapi kurasa sebaiknya kau sembunyikan dia. Biasanya restoran tidak suka tamu berkaki empat.”

 

“Aku sudah bicara pada Alex tadi. Dia bilang tidak masalah, tapi kita harus duduk di luar seperti sekarang ini.”

 

Tiba-tiba terdengar sebuah teriakan nyaring yang membuat keduanya menoleh ke samping. Terlihat Ryeowook sedang melambaikan satu tangannya sambil mendatangi mereka dengan cepat. “Maaf, aku terlambat!” ujarnya ketika sudah tiba di meja mereka. Dia berdiri menjulang bagaikan gunung, menatap yang seorang kemudian yang lain.

 

Tatapan mata itu bagaikan sebuah isyarat bagi Sungmin.

“Kyuhyun, ini Ryeowook. Wookie, kau sudah tahu ini siapa.” Sungmin berkata kemudian, memperkenalkan.

 

Kyuhyun berdiri dan mengulurkan tangan. Ryeowook menyambut tangan itu dan berbicara dengan gembira, “Wah, aku merasa senang sekali akhirnya bisa berkenalan denganmu!”

 

“Terima kasih untuk kehormatan ini.” Kata Kyuhyun, tersenyum.

 

Sesaat tampak seolah Kyuhyun mau membawa tangan mulus itu ke bibirnya, namun akhirnya tidak jadi. Dia justru menggerakkan tangan untuk menarik kursi yang masih kosong dan menunggu sampai Ryeowook sudah duduk, baru kemudian dia kembali ke tempatnya sendiri. Ryeowook memanggil pelayan dan memesan minuman.

 

“Sudah lama aku ingin sekali tahu, siapa dokter Cho Kyuhyun ini!” Lalu ia menatap Kyuhyun dan masih berbicara dengan gembira.

Kyuhyun kembali tersenyum.

“Kalau itu pujian, aku ucapkan terima kasih. Aku juga sudah mendengar namamu dari sepupuku yang belanja di butikmu.”

 

“Aku harap dia menyukainya?” Ryeowook bertanya dengan was-was.

 

Kyuhyun tertawa kecil.

“Oh, tenang saja. Dia tergila-gila pada apa saja yang disukai suaminya. Tentu saja suaminya harus menyukainya. Bagaimanapun, dia yang harus membayar hutang kartu kredit istrinya, bukan? Dua ratus lima puluh ribu untuk sebuah gaun tidur dari renda! Wow!”

 

Ryeowook nampak tersipu sedikit mendengar perkataan itu. Ia membuka tasnya dan mengeluarkan sehelai kartu nama yang kemudian disodorkannya pada Kyuhyun. “Katakan pada sepupumu, lain kali bawa kartu ini saat belanja, dan dia akan diberikan diskon yang bagus.”

 

“Kalau begitu, beri aku satu lagi untuk ibuku. Dia selalu tidak mau kalah dari keponakannya.”

 

Ryeowook memberikan Kyuhyun sehelai kartu nama lagi, lalu meneguk minuman yang baru saja diantarkan oleh pelayan. “Eh, kenapa kita duduk di luar, bukannya di dalam?” tanyanya, menoleh pada Sungmin dengan kening berkerut.

 

“Dia membawa anjingnya. Mereka tidak mengizinkan anjing ikut masuk,” ujar Kyuhyun membantu Sungmin menjawab.

 

Ryeowook meletakan gelasnya di atas meja dan memutar matanya seperti orang mau pingsan.

“Dia memang tidak pernah bisa berpisah dari Lulu!” katanya, menjelaskan dengan sikap yang dibuat-buat. “Katanya, anjing itu mengingatkannya pada orang yang dicintainya, yang jauh di seberang lautan!”

 

Kyuhyun menoleh pada Sungmin dengan sedikit terperanjat, terlebih ketika pemuda manis itu tampak resah, bergerak-gerak di atas kursinya. “Jangan dengarkan ocehannya!” desis Sungmin, lalu menggigit bibir melihat kening di depannya terangkat naik.

 

Sungmin menyadari bahwa ucapannya barusan justru menambah umpan pada sindiran Ryeowook. Mendadak ia menjadi defensif. “Eh, kenapa melotot seperti itu?” tegurnya pada Kyuhyun. “Lebih baik kita pesan makanan sekarang.”

 

Dan dibukanya buku menu yang tergeletak di depannya. Kedua orang itu pun mengikuti contoh Sungmin. Diam-diam Sungmin mengeluh dalam hati. Rupanya mengajak Ryeowook bukanlah ide yang bagus. Sepupunya itu selalu berusaha memojokkan dirinya.

Untunglah makanan yang nikmat itu telah berhasil menyelamatkan percakapan dari kemungkinan bahaya semburan mesiu Ryeowook. Terkadang Sungmin tercekam demam masa lalu dan tak bisa menahan diri untuk tidak merasa risau, mengingatkannya pada jasa baik yang sudah ditumpahkan Ryeowook padanya.

 

“Hey, kapan-kapan kita ke Blue Tower yuk. Kudengar makanan di sana enak.” Ajak Ryeowook.

 

“Yang di dekat Namsan Tower itu?” Kyuhyun menegaskan.

 

Ryeowook menganggukkan kepalanya. Kemudian Kyuhyun berkata lagi sambil merenung,

“Sudah beberapa kali aku mau mengajak Sungmin ke sana, tapi dia selalu berhalangan.”

 

“Mungkin karena kau tidak menawarkan menginap sekalian!” goda Ryeowook. Melihat sepupunya sudah mau membuka mulut, buru-buru dia melanjutkan, “Kalau kita mau ke sana, lebih baik Jumat sore, pulangnya Minggu siang.”

 

“Bertiga?” tanya Sungmin kurang setuju.

 

Tapi Ryeowook menjawab dengan berani,

“Kalau kau segan, biarkan aku pergi berdua dengan Kyuhyun. Bagaimana? Kau percaya pada kami, bukan?”

 

Sungmin tahu, itu sebuah pancingan. Namun ia menjawab,

“Kenapa tidak?” Itu sekedar refleks, jawaban tanpa dipikir lagi. Dia nyaris menggigit lidahnya karena telah menelan pancingan itu.

 

“Kalau begitu, biarkan aku meminjam Kyuhyun! Boleh tidak?” tantang Ryeowook.

 

Sungmin menatap Kyuhyun, tapi orang itu hanya tersenyum. Nampak senang sekali diperebutkan oleh dua orang pemuda yang sama-sama menarik. Sungmin menaikkan alisnya, merasa kesal. Dia merasa dikhiniati ketika Kyuhyun tidak menolak, bahkan terus-menerus memamerkan seringainya seperti orang bodoh.

 

“Aku bukan pemiliknya!” sahut Sungmin ketus.

 

“Nah, beres kalau begitu!” Ryeowook menoleh pada Kyuhyun dengan senyum semanis madu. “Sungmin ini lebih dari sekedar sepupu. Dia selalu siap menyerahkan padaku apa saja yang dimilikinya. Sejujurnya, kita mempunyai ikatan darah yang istimewa. Iya ‘kan, Sungmin?”

 

Sungmin hampir tercekik mendengar pertanyaan itu. Dia mengerti, untuk ke sekian kalinya Ryeowook sedang mengungkit untuk melunasi hutangnya yang tak kunjung habis terbayar. Sebelum dia sempat  membersihkan tenggorokannya yang terasa kering untuk menjawab, Ryeowook sudah meneruskan dengan,

 

“Oya, apa kau sudah mengirimkan cek yang kau janjikan?”

 

Sungmin mengangguk.

“Ya. Maaf.” Lalu dia berdiri dan pergi ke dalam restoran, seraya memegangi lehernya.

 

Sejenak Kyuhyun memperhatikan hingga Sungmin menghilang ke dalam restoran.

“Kadang-kadang aku khawatir mengenai dirinya,” tiba-tiba Ryeowook berkata, memberitahu dengan wajah muram. Kyuhyun menoleh dan memandangnya. “Sungmin itu sangat sensitif. Hal-hal kecil saja sudah membuatnya resah dan bingung. Akhir-akhir ini sikapnya agak aneh. Kadang aku takut dia sebenarnya menderita penyakit yang tak boleh diketahui orang lain.”

 

“Apa misalnya?” tanya Kyuhyun

 

“Ya, siapa tahu kelainan psikis seperti anorexia nervosa?”

 

Kyuhyun nampak terkejut sekali.

“Kau bercanda?”

 

Ryeowook menggeleng.

Anorexia artinya kurang nafsu makan, benar tidak?”

 

“Ya, betul.” Kyuhyun membenarkan.

 

“Meskipun Sungmin adalah seorang laki-laki, tapi dia itu sangat takut gemuk. Dia seperti seorang gadis. Lihat saja tadi makannya begitu sedikit. Dan habis makan, semua itu dimuntahkannya kembali. Sekarang dia pasti sedang di toilet.”

 

Kyuhyun nampak tidak percaya. Lalu Ryeowook menambahkan,

“Aku pernah melihatnya sendiri! Waktu itu kami di kelas tiga SMA, sedang ikut piknik ke Jeju. Aku kebetulan ke toilet, dan kudapati dia sedang muntah-muntah di wastafel!”

 

Kyuhyun mengernyit, masih nampak tidak percaya.

“Aku tidak percaya dia menderita hal seperti itu. Dia tidak terlihat mempunyai masalah kelainan jiwa.”

 

“Mungkin dia terlalu pintar menyembunyikannya. Kau harus membuka matamu lebih lebar!” Ryeowook menasihati dengan senyum sinis.

 

Kyuhyun menatapnya sejenak. Dia tahu Ryeowook sedang memancingnya agar menggali keterangan lebih dalam mengenai sepupunya. Sesaat dia memang tergoda ingin tahu lebih banyak, namun akhirnya dia cuma menghela napas pelan.

 

“Yang lebih menarik perhatianku adalah orang yang kau katakan tadi. Benarkah dia mencintai seseorang yang berada di luar negeri?” tanya Kyuhyun kemudian.

 

Ryeowook menganggukkan kepalanya dengan mantap.

“Sungguh! Aku tidak berbohong! Namanya Kangin. Tapi jangan sekali-kali menanyakan perihal orang ini padanya. Nanti dia bisa marah padaku. Datanglah ke pestaku akhir tahun ini. Kau pasti akan melihatnya.”

 

“Sudah berapa lama ini berlangsung?”

 

“Oh, dia bukan satu-satunya. Ada seorang lagi yang lebih dekat, di sini, di Seoul.” Ryeowook menghentikan perkataannya ketika Sungmin muncul dan duduk kembali di kursinya.

 

“Kenapa?” tanya Kyuhyun pada Sungmin.

 

Sungmin tersenyum.

“Ah, tidak apa-apa. Tenggorokanku gatal. Aku harus batuk terus-menerus sampai rasanya kering di dalam, tapi sekarang sudah lega kembali. Mungkin aku alergi dengan serbuk sari di udara, biasanya ini muncul jika di dekatku banyak bunga.”

 

“Bagaimana dengan secangkir kopi?” Kyuhyun menawarkan. Semua setuju.

 

“Aku ingin sepotong blackforest,” Ryeowook menambahkan.

 

“Ya, aku juga.” Kyuhyun mengangguk.

 

“Bagaimana denganmu?” tanya Ryeowook pada sepupunya.

 

“Tidak. Aku sudah kenyang.” Sungmin menggeleng lalu menunduk, menepuk perutnya. Diam-diam Ryeowook melirik Kyuhyun yang juga sedang menoleh padanya.

 

Setelah menikmati kopi dan kue, mereka beranjak pergi. Sebelum berpisah Ryeowook berkata,

“Hey, bagaimana jika kalian ke tempatku? Kopi barusan rasanya hambar. Aku bisa membuatkan cappuccino, dijamin akan membuatmu ketagihan, Kyuhyun.”

 

“Aku mau pulang saja. Lulu sudah mengantuk.” Sungmin berkilah.

 

“Mungkin lain kali. Besok aku harus masuk pagi, ada pertemuan dengan direktur.” Kyuhyun juga menolak.

 

Jadi ketiganya berpisah ke arah berlainan. Ketika Sungmin sedang mengendarai mobilnya menuju jalan pulang, ponselnya berdering. Telepon dari Kyuhyun. Ketika ia menjawab telepon itu terdengar suara Kyuhyun yang berkata di ujung telepon,

 

“Kenapa sih kau mengalah terus pada sepupumu?”

 

Sungmin menghela napas.

“Panjang ceritanya, Kyu. Dia selalu berhasil memojokkanku dan memancing amarahku.”

 

“Boleh aku nasihati? Jangan terpancing!”

 

“Boleh aku nasihati? Jangan sampai tertarik padanya!”

 

“Tidak akan.”

 

~+~+~+~

 

Tahun berikutnya leukemia itu kembali lagi. Dia harus meninggalkan sekolah berbulan-bulan dan tinggal terus di rumah sakit. “Transplantasi sumsum tulang. Itu satu-satunya jalan,” didengarnya dokter berkata pada ayahnya.

 

Mereka sibuk mencari donor. Dia ingat, kakak dan adiknya dibawa orangtuanya ke rumah sakit untuk diperiksa. Ayah dan ibunya juga ikut diperiksa. Demikian pula dengan paman serta bibinya. Namun hasilnya nihil. Tak ada yang cocok.

 

Setelah itu dia tak tahu lagi apa yang terjadi, sampai saat Ryeowook muncul di kamarnya dengan plester di lengan. “Hai, Sungmin. Bagaimana perasaanmu?”

 

“Lesu. Bagaimana sekolah?”

 

“Biasa saja. Kau bisa kembali ke sana lebih cepat dari yang disangka semula.”

 

“Entahlah.”

 

“Percaya aku!” Dan dengan bangga diperlihatkannya plester itu. “Kalau cocok, kau akan mendapat sumsum tulangku, dan kau bisa sembuh!”

 

Ah, itu terlalu sulit untuk dipercaya.

 

~+~+~+~

 

“Seandainya aku berwenang, akan kusuruh bongkar bangsal itu untuk diperiksa. Dan aku akan…” Eunhyuk menghentikan celotehannya ketika menyadari bahwa sahabatnya tidak mendengarkannya. “Halo, Sungmin, kau sedang melamun?”

 

Sungmin tersentak dari lamunannya dan mengangkat kepalanya, menoleh pada Eunhyuk.

“Apa? Oh, maaf, Hyukie. Pikiranku sedang kacau.” Ia mengangkat bahu sambil tersenyum santai.

 

“Ya, memang kuperhatikan begitu,” tukas Eunhyuk tersenyum, menujuk komputer di depan rekannya itu.

 

Monitor itu menyala sejak tadi, tapi cuma Mickey Mouse saja yang meloncat-loncat ke sana-kemari. Tak ada data atau dokumen yang muncul. Sungmin terpaksa tertawa malu karena ketahuan sedang melamun dalam jam kerja.

 

“Kau sedang bicara apa tadi?” tanya Sungmin.

 

“Itu, mengenai tuntutan seorang bekas pasien. Dia dirawat di sini selama dua minggu, lalu saat pulang katanya mengangkut kutu di kepala! Dia minta santunan sepuluh juta.” Jawab Eunhyuk, menjelaskan.

 

“Sepuluh juta?”

 

“Ya. Katanya, dia kehilangan rambutnya. Rambutnya terpaksa dicukur klimis. Dia juga harus bolak-balik ke dokter kulit. Akibatnya dia kehilangan pekerjaan karena terlalu lama cuti. Selain itu, bosnya yang seorang wanita tidak mau mempunyai pegawai yang beternak kutu. Takut seluruh kantor tertular. Orang ini mengancam akan membawa insiden ini ke media kalo ditolak.”

 

“Dia bilang begitu?”

 

“Yah, bukan dia pribadi, tapi pengacaranya. Orang itu sudah belasan kali menelepon dalam dua hari ini, minta bertemu dengan dokter Cho.”

 

“Apa kita tak dapat membuktikan, kutu itu bukan berasal dari sini?”

 

Eunhyuk terdiam sejenak dan mengernyit.

“Caranya?”

 

“Dengan memperhatikan masa inkubasi, cocok tidak. Lalu perhatikan cara hidupnya, periksa rumah dan anggota keluarganya, mungkin saja sumbernya di sana.”

 

“Itu ide yang sangat menarik, terima kasih dokter Lee!” Terdengar suara dari ambang pintu.

 

Kedua dokter muda itu menoleh dan melihat si Bos, dokter Cho, sedang berdiri mengawasi dengan sebuah map di tangannya. Dia melangkah masuk seraya berkata, “Dokter Eunhyuk, kalau tidak keberatan, saya perlu bicara sebentar dengan dokter Lee.”

 

Eunhyuk mengangguk dan segera beranjak keluar ruangan.

“Terima kasih,” ujar si Bos lalu menutup pintu. Dia berjalan ke tembok seberang, bersandar pada lemari kabinet tempat menyimpan berkas-berkas pasien, dan melambaikan status di tangannya. “Tuan Jung terancam koma.”

 

Tuan Jung adalah salah satu pasien Sungmin. Pria berusia 58 tahun itu masuk dengan gangguan liver berat.

 

Sungmin terkejut mendengarnya. Tidak sadarkan diri?

“Saya kira cirrhosis*-nya sudah stabil.”

 

“Semula ya. Sampai kau beri dia sedatif!”

 

Darah seakan menghilang dari wajahnya. Mata foxy Sungmin membelalak kaget, bibirnya bergetar namun tak terdengar ada suara keluar. Si Bos mendekat, matanya berapi dan suaranya mengguntur, “Apa dokter Lee tidak tahu bahwa obat penenang pada pasien penyakit liver seberat ini bisa menyebabkan koma?!”

 

“Dia mengeluh tak bisa tidur, jadi saya pikir, untuk satu malam saja…”

 

Si Bos memotong perkataannya dengan murka.

“Tapi kau lupa meninggalkan instruksi dalam statusnya! Jadi perawat terus-menerus memberinya pil tersebut!”

 

Oh Tuhan!

 

Sungmin mengerang dalam hati, menurunkan kepalanya ke dalam telapak tangan yang bertumpu di meja, menggeleng keras selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat kepala dan berjanji, “Itu takkan terulang lagi. Saya akan melihat pasien itu dengan segera dan berusaha mencegahnya masuk ke dalam koma.”

 

“Pasien itu sudah tak perlu kau pikirkan lagi. Dia sudah kucoret dari daftarmu!”

 

“Tapi…itu tak bisa dokter lakukan.”

 

“Oya, aku bisa, dokter Lee! Aku adalah bos di sini!” Dan dengan kata-kata itu dia menghentakkan kaki untuk beranjak pergi.

 

Eunhyuk muncul beberapa menit kemudian. Melihat wajah Sungmin, dia tahu bahwa ada yang tidak beres. “Dia bilang apa?”

 

Sungmin menarik napas kesal dan menceritakan tentang pasien yang pre-koma itu.

“Salahku. Seharusnya aku tulis sendiri instruksi itu. Tapi rupanya aku terburu-buru dan cuma kuberikan secara lisan saja pada perawat yang baru itu…siapa namanya? Na Eun? Kulihat dia menuliskannya ke dalam bukunya. Kupikir telah kukatakan, cuma untuk satu malam, tapi rupanya tidak. Sekarang tuan Jung semakin masuk ke dalam koma, dan Bos murka.”

 

“Kau terlihat resah akhir-akhir ini. Banyak masalah?”

 

“Ya. Pikiranku kacau dan bingung.”

 

“Ryeowook lagi?” Ketika Sungmin mengangguk dengan bibir terkatup, Eunhyuk bertanya, “Apa yang dilakukannya sekarang?”

 

Sungmin memberitahu Eunhyuk tentang tunggakan hutang itu.

“Dan aku punya firasat, aku tidak akan melihat lagi uang tiga setengah juta itu!”

 

“Kenapa?” tanya Eunhyuk.

 

“Dia bilang, Lulu, anjingku, akan dikembalikannya bila aku melunasi tunggakan itu. Itu artinya, sebenarnya Lulu ditukar dengan uang.”

 

“Dan kau setuju?”

 

“Terpaksa. Ada orang yang menelepon ketika aku sedang di tempatnya. Orang itu mau membeli pudel tersebut, dan aku takkan melihatnya lagi!”

“Mungkin itu cuma akal-akalannya untuk menakutimu. Tiga juta lima ratus ribu untuk seekor pudel! Wow! Dia selalu mencari gara-gara untuk memaksamu mengembalikan jasa yang pernah diberikannya…”

 

“Aku tahu. Aku rela kehilangan uang, asalkan saja bisa membuatnya turun dari punggungku. Selama ini aku dijadikannya sapi perahan terus. Aku merasa, ini baru permulaan. Dia akan terus mencari-cari alasan supaya aku melunasi seluruh hutangnya dan hutang berikutnya dan yang berikutnya. Takkan ada habis-habisnya. Uang adalah prioritas utama baginya. Dan aku tak berdaya untuk melindungi diri terhadap rongrongnya.

 

“Dia telah dianggap sebagai dewa penolong dalam keluargaku sejak dia berhasil menyelamatkanku. Seandainya dia ingin menguasai hidupku sepenuhnya, aku takkan bisa menghalaunya. Sebab dia pasti akan bercerita pada orangtuaku, dan mereka akan memerintahkan aku supaya membiarkannya tinggal bersamaku.”

 

“Betapa menjengkelkannya!” Eunhyuk mendengus tidak suka. Lalu ia melihat jam tangannya dan berkata, “Hey, ini sudah hampir jam sebelas, ayo kita ke perpustakaan. Semoga tak ada yang akan bertanya tentang pasien-pasienku.”

 

Sungmin mengangguk, lalu beranjak pergi bersama Eunhyuk menuju perpustakaan. Dalam hati ia berharap, semoga tidak ada orang yang akan bertanya tentang pasien pre-koma itu. Bisa-bisa akan terjadi perdebatan.

 

~+~+~+~

 

Setiap minggu diadakan pertemuan antara dokter-dokter untuk mendiskusikan para pasien dan masalah sehari-hari. Mereka pergi ke perpustakaan dengan semua status dan laporan yang mungkin diperlukan bila ada pertanyaan yang harus dijawab.

 

Eunhyuk mengintip dari pintu yang sedikit terbuka. Ketika melihat dokter Victoria hadir diapit oleh si Bos, dan dokter Yunho, wajahnya langsung berseri. Victoria lebih memperdulikan penampilan serta citra klinik daripada tetek bengek laporan harian.

 

“Ssst, direktur hadir,” bisiknya ke telinga Sungmin.

 

Pemuda manis itu pun mengerti artinya dan wajahnya ikut berseri. Mereka segera beranjak masuk dan duduk di kursi-kursi yang masih kosong. Dengan tenang, memperhatikan pembicaraan yang sedang berlangsung saat ini.

 

“Kita tidak punya dana untuk melayani gugatan pasien seperti ini,” ujar Victoria mengenai kasus kutu kepala itu. “Kita harus menolak keluhannya. Kita harus berusaha membuktikan, bangsal di sini semuanya tak ada yang dihuni oleh seekor kutu apa pun. Adakah di antara hadirin yang mempunyai usul, bagaimana kita sebaiknya menyelesaikan masalah ini?”

 

Wanita cantik itu menoleh ke kiri dan ke kanan, memberi semangat dengan senyumnya yang menawan.

“Ini penyakit yang paling mudah menular,” dokter Yunho berujar. “Seandainya memang ada kutu di bangsal, pasti ada juga pasien lain yang terkena. Tapi buktinya, selama ini belum pernah ada.”

 

Dokter Choi Siwon yang duduk di sebelah Sungmin, mengacungkan jari dan berdiri. Wajahnya yang tampan di imbangi dengan baik oleh tubuhnya yang tegap. Sebenarnya Siwon dinas di bagian Bedah, tapi siang itu rupanya ia nyasar ke pertemuan mereka. Namun itu bukan masalah. Diskusi mingguan itu memang terbuka bagi semua dokter di klinik Royal. Semasa kuliah dulu, dia pernah berpacaran dengan Sungmin yang dua tingkat lebih rendah. Tetapi sepertinya mereka memang belum berjodoh. Mereka putus, dengan baik-baik. Setelah Siwon lulus dan pergi ke Afrika, mereka putus hubungan sama sekali. Mereka bertemu lagi setelah Siwon kembali ke Seoul dan kebetulan dinas di klinik yang sama.

 

Sungmin menoleh memperhatikan Siwon yang berbicara dengan suara mantap.

“Ketika saya dinas di Afrika, saya menemukan cukup banyak kasus kutu kepala dan badan. Saya sempat melakukan sedikit pengamatan. Mereka biasanya ditularkan langsung dari orang ke orang melalui alat-alat yang digunakan bersama seperti sisir, sabun, handuk. Kemungkinannya untuk tertular parasit di dalam bangsal adalah kecil, sebab setiap pasien baru diberi seprei dan baju yang bersih. Ranjang juga selalu dibongkar setiap kali ada pasien pulang. Selain itu, pasien-pasien tidak saling meminjam barang-barang kepunyaan yang lain. Juga tak ada bukti, kutu-kutu tersebut telah bersarang di bantal, sebab tak ada gugatan lain yang muncul.”

 

“Justru itu yang barusan saya maksud!” ujar dokter Yunho menanggapi Siwon yang sudah duduk kembali. “Tak ada kasus lain.”

 

“Argumen yang bagus sekali!” puji dokter Victoria. “Kita bisa ambil itu sebagai faktor sanggahan. Lalu kita selidiki kebersihan orang tersebut, rumah dan lingkungannya.” Dia mengangguk dengan wajah puas. “Saya yakin kita akan mampu menolak gugatan itu. Bagaimanapun, memang harus kita tolak!”

 

“Saya tidak yakin kita akan bisa mengesampingkan masalah ini dengan mudah,” komentar si Bos menyatakan kurang setuju. “Kita harus bisa mengadakan pendekatan untuk mencegah mereka membawa masalah ini ke media. Kita tak mungkin membiarkan insiden ini di ekspose. Publisitas seperti itu bisa membuat kita bangkrut!”

 

Argumen ini mencetuskan diskusi yang hangat di antara hadirin yang diterima Sungmin dengan senang hati. Karena kasus kutu kepala itu, masalah tentang tuan Jung tidak mendapat kesempatan untuk dijadikan bahan diskusi. Itu artinya Sungmin aman dari pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu.

 

Ketika pertemuan itu berakhir, dan mereka sedang berbaris untuk keluar ruangan, Sungmin merasakan seseorang menyentuh lengannya dan telinganya menangkap suara si Bos, “Dokter Lee, ada pasien baru untukmu. Coba periksa gula darah lengkap, setelah makan, dan mungkin nanti toleransi tes juga.”

 

“Baiklah,” Sungmin menjawab tanpa emosi, padahal di dalam dirinya mulai timbul rasa kurang senang.

 

Status dobel ini sangat dibencinya. Dalam bangsal dia dipanggil dokter Lee, sedangkan Bos adalah dokter Cho. Tapi di luar, dia menjelma sebagai hanya Sungmin tanpa title, dan Bos pun berubah menjadi Kyuhyun yang ramah dan hangat.

 

Bagaimana mungkin orang bisa hidup terus-menerus dalam dua dunia yang begitu berbeda? Apakah Kyuhyun itu beres otaknya?

 

Tbc

*Cirrhosis (hepatitis) = penyakit hati yang berat.

 

28 thoughts on “Blood Debt Collection / Part 2

  1. Gila, ryeowook itu ya kgak ada berhenti2nya meras ming, mentang2 dia udh donorin sumsum tulang belakangnya buat ming, itu mah berarti dulu dia ngak ngasih tu tulang dngan ikhlas dan sepenuh hati tpi emang ada rencana lain, huuu

    dan dia jga nyoba2 ngejelekin ming didepan kyu, mencoba mencari perhatian kyu…
    Sedangkan kyuhyun adalah sesuatu yg penting buat ming krna inikan menyangkut perasaan, kalo misalnya kyu malah tertarik sama wook …
    Huhh, kgak kebayang tu kyak mana jdinya ming😦

    berharap kyu tdk goyah dngan godaan, berharap kyu selalu setia sama ming, krna bgaimanapun ming kan cinta bnget sama kyu😦

    lanjutt eon🙂

  2. Eonnie, serius aku gak teg😦
    Kyuhyun please jangan percaya,dari judul novelnya kayaknya ini bakalan hurt banget😦
    Serius, belum apa-apa udah nyesek😦

  3. sedikit lega pas Kyu tau kl Ryeong cuma manfaatin Ming, seenggakn
    ya Kyu tau permasalahan Ming, dan Kyu bilang g akan tertarik ma Ryeong. ah sem8ga saja.
    haduh beneran gemes aku ma Ryeong, jahat sih y, manfaatin hutang budi, tp kl gt mah namanya pemerasan, dan ortunya Ming juga gt sih, jd susah. haruse emang ditanggori(?) ko Ryeong ki.

    lanjutkan Min kecil!!!!

  4. Ryeowook itu yaa! Duhhh! Jadi pengen bunuh karakter ryeong disini. Nyebelin!! Awas aja kalo kyu bener2 terpengaruh sama omonganmu, aku bunuh kamu ryeong! *dibantairyeosomnia

    min eon, itu maksudnya puasa apa yaa? O.o

    apdet kilat yoo! Fighting!

  5. Kata2nya lumayan berat… aku sangat kagum kalau Min Sae mau remake yang kayak gini.
    Tapi apapunlah ceritanya sangat bagus dan meskipun remake, buatlah ini menjadi “cerita” kamu.

  6. -_- ya ampuuun yakin deh ujung2nya kyu bakalan kemakan omongannya wook
    sebenernya gk tega bgd baca ff ini cz gk suka karakter ming yg ngalah mlu jd kesian😥
    knp gk sekalian jha ming di jadiin budak sama wook kalau gtu mah u,u
    #eh jgn tp diih

  7. ryeowook tega banget
    selalu gunakan balas budi buat meras sungmin
    bahkan lulu aja jadi alasannya
    kalo jadi sungmin rasanya pengen ceburin tuh ryeowook hehehe (mian wookie oppa)
    si kyu juga engga jelas banget nih
    kadang lembut kadang kasar
    kadang baik tapi nyebelin juga
    bikin min galau
    abis ini wookie pasti lebih banyak menghasut kyu lagi nih
    mudah2n kyu engga kemakan rayuannya
    kasian min udah banyak bebannya
    aku senang ff ini lanjut lagi
    mudah2n terus lanjut sampe tamat
    apdet kilat yaaaaa
    semangat

  8. wah ryeowook mulutnyaaa.. unting kyukyu g gmpang prcya.. nyebelin.. ksian sungminnya kn ampe kpkiran,, krjaannya jd kacau.. heol~
    waiting for next chap eon,, btw chap ini kok g da notifnya d fb yh eon??

  9. Kykx Ming bkln mendarita byk nih bru jg part 2 nih dh menyedihkan az nasib Ming mna si Ryeo doyan fitnah Ming lg d hdpn Kyu. Jgn smpe Kyu percaya n berbalik suka sma Ryeo ksian Ming ntr sakit hati. Udh d perlakukan semena-mena sma Ryeo eh Kyu berkhianat lg kan ksian Ming😦

  10. aku beneran kesal sama Wookie. ya! wookie ya! ck
    kok licik bgt sih?! ya ampun! dan kyuhyun, dia juga mulai keliatan menyebalkan, ckckck
    kecil eon keren bgtlah bisa bikin karakter wookie dan kyuhyun jd begini mengesalkannya. huh!
    kasian sungmin *peluk sungmin*
    ayo fighting eoon~~~`

  11. Mau sampai kapan wookie ngerongrong ming terus ??? Sampai kapan???
    Dan kayanya kyu jg mau dia ambil dr ming….
    Licik bgt jdi orang…
    Katanya sepupu tp klo ngebantuin sodara ujungnya jd hutang budi bgni malah keterlaluan …
    Dan wookie menggunakan hutang budi itu dengan senang hati…
    Geregetan sumpah sama wookie….

    Dan mudah2 an kyu ga tertarik sama wookie…..
    Klo smpe tertarik ming pasti sakit hati…
    Lanjutkan…

  12. Si Ryeowook nie menyebalkan skali…beranix bikin Ming galau,dochh dia slalu mojokin Ming,slalu bwt Ming terliat buruk di mata orang aplg nie di mata Kyuhyun…Bener tuch kata Kyu,Ming jng ngalah trz ma Wook,dan bnr kata Ming,Kyu jng ampk tergoda ma wook…# ishhhhh
    Lanjuuuutttt….

  13. Maaf baru sempat comment, halangan selama komen salah satunya adalah bb yang restart tiba2 +__+

    Wah😐 karakter wook di sini.. Bener2 ssuatu banget

    Jadi.. Hmph.. Dinner bertiga

    Wook berbicara buruk ttg sungmin tanpa sungmin bisa mengelak (۳˚Д˚)۳ astaga min, entah kasian entah gimana sama sungmin, beneran T^T sedih bgt jd dia, hidup dalam tekanan batin tanpa bisa melawan karena keadaan😦

    Dan dengan ide licik wook mereka akan pergi bertiga😐

    Kyu yg di sini sejauh ini cukup biasa saja dan ‘masih’ berpihak dgn sungmin. Tapi siapa tahu, dengan lidah setajam pisau wook, TAT

    Keinget terus summary dr fic ini.. Apa yg akn trjd selanjutnya?

    Apa “lebih baik” jika “mati”?:/

  14. Boleh update cepet ga? Pengen lanjutt pliss. . . Demi readersmu tercinta inih. . . Suka novelnya pengen baca versi kyumin banget nget nget.. . ASAP Ya!, thankyu. . .

  15. semoga kyu ga termakan omongannya ryewook…dy itu licik banget sich…
    karna dy dah donorin sumsum tulang buat sungmin terus dy berbuat se’enaknya gitu.sebenernya dy dulu ikhlas ga nolong sungmin?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s