The Replacement Wife / chapter 4

6733961511_90ba4ed784_z

Pairing : KyuMin / KyuWook || Other cast : Lee Hyukjae aka Eunhyuk, Cho Min Sae & Cho Min Yoo (OC), etc || Genre : Angst, Romance || Length : Chaptered || Warning : BL, Shounen-ai, M-preg || Disclaimer : Remake dari novel yang berjudul sama karya Eileen Goudge, ada perubahan dan tambahan seperlunya || Summary : Ketika kanker menyerangnya kembali, Sungmin merasa tak berdaya membayangkan Kyuhyun, suami yang setia menemaninya berjuang, menjadi orang tua tunggal bagi anak-anak mereka. Karenanya Sungmin bertekadmencari pasangan yang tepat sebagai pengganti dirinya. Tapi apa yang terjadi ketika keinginan terakhir berubah menjadi ‘hati-hati dengan keinginanmu’?

*Author note : entah kenapa aku malah mengerjakan kembali FF ini -__-

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

~Presented by@Min kecil~

Chapter 4

Ketika kecil, Sungmin dan adiknya menghibur diri mereka selama ketidakhadiran sang ayah untuk waktu yang lama dengan permainan kata seperti Dua Puluh Pertanyaan. Favorit mereka sepanjang masa adalah Pilih Mana. Pilih mana menjadi tampan tapi bodoh atau menjadi orang terpintar di dunia dengan wajah jelek? Pilih mana menelan kecoak hidup atau mencium gadis dengan makanan tersangkut di gigi? Pilih mana terdampar di pulau kosong atau berenang menembus air yang dikerumuni hiu? Pilih mana jika kau hanya punya waktu enam bulan lagi, kau ingin menghabiskannya dalam pelukan Angelina Jolie atau melakukan hal-hal baik seperti Bunda Teresa?

Pertanyaan terakhir yang diajukan oleh Eunhyuk merupakan pertanyaan memusingkan. Sungmin yakin dia akan memenangkan point tambahan menuju surga dengan melakukan hal baik. Di sisi lain, jika wanita terseksi di planet ini cukup gila untuk mau bersama pria yang sekarat…

Dan beginilah kenyataan berjalan: Di pagi hari Sungmin bangun dan menyediakan sarapan, kemudian mengantarkan anak-anaknya ke sekolah. Di tempat kerja, ia memasang senyum. Dan mungkin terkadang di hari-hari sibuknya, jika Sungmin tak terlalu tenggelam, ia punya beberapa menit untuk berkubang mengasihani diri sebelum saatnya kembali ke rumah dan menyiapkan makan malam. Dalam sekejap, hidup terus berlanjut.

Pagi ketika hari ulang tahun Min Yoo, Sungmin menelepon suaminya di kantor dan mengingatkannya untuk mengambil cake di toko roti dalam perjalanan ke pesta ulang tahun anak itu di Chelsea Piers. Ketika Kyuhyun muncul beberapa jam kemudian, setelah enam anak laki-laki menghabiskan waktu mengorek-ngorek pizza yang dipesan Sungmin, hatinya mencelos ketika melihat tangan kosong suaminya.

“Kau lupa.” Ditatapnya Kyuhyun dalam ketidakpercayaan.

Kyuhyun diam sejenak, balas menatap bingung, kemudian meringis.
Cake-nya. Sial.” Ekspresinya berubah penuh sesal saat lanjut bicara, “Maaf, Sungmin. Ada banyak hal yang harus dikerjakan di kantor…”

Seperti aku tak punya banyak kerjaan saja?, batin Sungmin kesal. Tapi dia tidak mengungkapkan rasa frustasinya. Dia hanya mendesah.

“Aku akan segera ke sana dan mengambilnya,” kata Kyuhyun.

“Lupakan saja,” Sungmin berkata, suaranya lelah. “Saat kau kembali ke sini, sudah terlambat.”

Toko rotinya berada cukup jauh dari tempat pesta ulang tahun Min Yoo, kalau tidak macet butuh waktu empat puluh menit perjalanan. Kyuhyun menyorotkan tatapan merasa bersalah kepada anaknya, yang saat itu terlalu sibuk mengunyah bersama teman-temannya hingga tak menyadari kehadiran ayahnya atau ketiadaan cake-nya. Mulut anak-anak itu merah seperti badut dan keju menetes-netes dari dagu mereka. kemudian Min Yoo melihat ayahnya dan berlari menghampiri.

“Appa! Coba tebak? Aku memukul lebih banyak bola daripada yang lain!” seru Min Yoo bangga.

Kyuhyun nyengir dan mengacak-acak rambut Min Yoo.
“Bagus sekali, nak. Sayang sekali aku tidak di sini melihatnya.” Diambilnya selembar serbet dan memberikannya pada Min Yoo, yang mengelap mulut kotornya dengan buru-buru.

“Aku hanya gagal dua kali.” Min Yoo berseri-seri cerita pada ayahnya.

“Sepertinya kita punya MVP masa depan dalam keluarga.” Kyuhyun menoleh untuk tersenyum pada Sungmin, yang tak balas tersenyum. Nampaknya dia sedang tidak dalam suasana hati berdamai saat itu. “Aku akan pulang lebih cepat jika bisa,” katanya pada Min Yoo, merunduk hingga tinggi mereka sama. “Kau tahu itu, kan?”

“Yeah, aku tahu.” Nada suara Min Yoo datar.

“Tapi dengar,” Kyuhyun melanjutkan, “aku punya kejutan untukmu.”

Mata Min Yoo melebar.
“Lebih besar dari sepeda?” Hadiahnya saat ini adalah razor bike yang sudah dimohon-mohonkannya sejak usia enam tahun.

“Tidak, tapi ini sesuatu yang mungkin akan kau sukai.” Kyuhyun menjawab dengan kedipan. “Daripada makan cake kuno yang membosankan, bagaimana kalau kita semua pergi ke Serendipity untuk sundae cokelat beku panas?

“Asyiiiiik.” Min Yoo melompat-lompat gembira. “Bisa kita pergi sekarang?”

“Tentu, segera setelah kau habiskan pizzamu.”

“Hebat.” Sungmin menggumam pada suaminya setelah Min Yoo berlari menghampiri teman-temannya untuk memberi kabar itu. “Sekarang kita harus mencari cara untuk menempatkan enam anak kecil dan dua orang dewasa di dalam satu taksi.”

“Kalau begitu kita akan naik dua taksi,” kata Kyuhyun sambil mengangkat bahu. Masalah terpecahkan.

Seandainya semudah itu, batin Sungmin kesal. Sungmin harus menelepon para orangtua yang lain untuk memberitahu perubahan rencana, kemudian berdoa semoga ketika mereka sampai di tempat itu, antreannya tidak terlalu panjang. Tempat makan yang sedang populer itu selalu penuh di waktu seperti ini; butuh satu jam atau lebih sebelum mereka mendapatkan meja. Yang artinya enam anak ribut berdesakan di ruang tunggu, atau lebih buruk, berlari-larian di trotoar di depan tempat makan.

Sungmin menghela napas frustasi. Ini bukan kesengajaan, dia tahu itu. Kyuhyun bermaksud baik. Namun tetap saja. Hasilnya adalah, Min Yoo akan mengingat hari ini sebagai hari yang menyenangkan dan penuh kejutan, dan kenangan yang Sungmin inginkan dari perayaan ulang tahun putranya tak terpenuhi karena suaminya mengabaikan melakukan satu hal yang diminta Sungmin dan kemudian menggabungkannya dengan menambahkan pekerjaan yang lebih banyak untuknya. Sungmin menghela napas lagi. Berpikir, mungkin ini bukan ketidaksengajaan. Mungkin, di lubuk hati, Kyuhyun ingin menghukumnya.

“Kau marah padaku, bukan?” Sungmin bertanya blakblakkan ketika enam anak itu mencuci tangan di toilet.

Kyuhyun menatapnya, secercah emosi berkelebat di wajah tampannya seperti awan mendung melintasi langit musim dingin. “Marah? Mengapa aku marah padamu? Aku yang mengacaukan pestanya.” Katanya.

“Kau jelas tahu apa yang kumaksud,” kata Sungmin dari sela-sela gigi. “Kau menyalahkanku, bukan?”

Kyuhyun gusar, dan sekejap Sungmin melihat apa yang selama beberapa hari ini disimpan Kyuhyun sejak Sungmin memutuskan apakah dia akan ikut pengobatan atau tidak. Setelah menerima pendapat kedua, teman Kyuhyun yang ahli onkologi di Daegu memberikan konfirmasi mengenai prognosis asli, tapi Sungmin tak melihat apa intinya. Untuk apa? Tiga atau enam bulan lagi terkungkung di tempat tidur rumah sakit, disuntikkan obat penahan rasa sakit terus-menerus hingga tak sadar di planet mana dia berada? Dia dan Kyuhyun tentu saja telah mendiskusikan ini, sampai mereka berdua frustasi, tapi Kyuhyun menolak menerima keputusan Sungmin. Seakan Sungmin sendiri tidak menderita! Seakan-akan dia melakukan ini demi keegoisannya! Dia tak dapat membuat Kyuhyun mengerti. Begitu banyak hal yang akan direnggut dari dirinya—kesempatan untuk tua bersama suaminya dan menyaksikan anak-anaknya tumbuh, melihat mereka lulus sekolah dan menikah dan memiliki anak-anak mereka sendiri—mengapa memboroskan satu momen berharga yang masih dimilikinya?

“Sungmin, kurasa ini bukan waktu yang tepat…” Kyuhyun memelankan suara, menengok ke arah toilet seolah khawatir anak-anak akan menghambur keluar pintu saat itu juga. “Bisakah kita bicara tentang ini nanti?”

“Bicara tentang apa? Mengapa tak kau bicarakan sekarang saja?” desis Sungmin. “Kau marah karena aku tak melakukan apa yang kauinginkan. Aku tak memilih untuk menjadikan diriku subjek siksa dan dirampas dari sedikit waktu yang tersisa bersama keluargaku, demi kesempatan yang belum pasti agar aku dapat menyaksikan ulang tahun putra kita selanjutnya.”

Sungmin sudah menyaksikan kematian ibunya yang memilukan dan lamban. Dia tahu seperti apa rasanya. Tempat tidur rumah sakit di ruang makan. Perawat-perawat yang keluar masuk setiap jam. Setiap malam terbangun mendengarkan derap langkah kaki di koridor dan suara-suara yang berbisik-bisik, berharap dia masih percaya kepada Santa Claus agar dia yakin ibunya akan berhasil bertahan.

“Aku punya banyak pasien yang sangat bersyukur untuk kesempatan sekecil apa pun,” kata Kyuhyun dengan suara tercekik. “Bagaimana kau tahu apa resikonya kecuali kau mencoba? Keajaiban itu ada. Kami para dokter berpikir tahu segalanya tapi sebenarnya tidak. Kami—“ ucapannya terputus ketika anak-anak berjalan gaduh keluar dari toilet.

Mereka tak membicarakan tentang hal itu lagi.

~+~+~+~

Minggu berikutnya, mereka mengajak anak-anak duduk dan memberitahukan kenyataan yang sudah dimodifikasi kepada mereka. Melihat tatapan kosong mereka, Sungmin menyakinkan, “Aku tak ingin kalian khawatir. Aku berada di tangan ahli.”

Dokternya telah memulai kemoterapi ringan, hanya cukup untuk melambatkan penyebaran kanker. Tapi akan memberi Sungmin waktu lebih lama dan dia dapat menjalani urusannya seperti biasa untuk sebagian besar waktu. Anak-anaknya tak perlu tahu betapa serius penyakitnya sampai tak dapat disembunyikan lagi.

Min Yoo menangis.
“Apa kau akan mati, eomma?” tanyanya, suaranya gemetaran.

Sungmin melontarkan tatapan putus asa pada Kyuhyun, yang langsung bertindak.
“Suatu hari nanti, kita semua akan mati. Kau tahu itu.” Kyuhyun mengingatkan putra mereka, dengan suara lembut. “Itu bagian dari lingkaran kehidupan.”

Kyuhyun dan Sungmin pernah menjelaskan ini pada Min Yoo ketika dia datang dengan pertanyaan itu setelah menonton The Lion King untuk pertama kali. Saat itu dia terlalu muda untuk tahu apa arti kematian. Film itu membantu mereka sebagai sarana untuk membuatnya memahami arti kematian.

“Tapi aku takkan kemana-mana secepat itu,” Sungmin menimpali. “jadi aku tak ingin melihat kesedihan sedikit apa pun. Aku akan tetap di sini menyemangatimu di pertandingan sepak bola. Dan mempermalukan kakakmu di resital pianonya dengan bertepuk tangan paling kencang,” tambah Sungmin sambil melihat sepintas ke putrinya, yang hanya membalas dengan seulas senyum lesu.

Min Yoo bergeliat ke pangkuan Sungmin, yang tak pernah dilakukannya lagi sejak kecil. Walau usianya sembilan tahun, beratnya hampir seberat Sungmin—dan dia akan setinggi ayahnya. “Apa eomma akan dirawat di rumah sakit seperti waktu itu?” tanyanya saat membenamkan kepala berambut berantakannya di dada Sungmin.

“Semoga tidak,” kata Sungmin, bertanya-tanya apakah putranya dapat mendengar suara hatinya yang terluka. “Kita lihat nanti.”

Dia menengok lagi pada Kyuhyun, yang dapat dilihatnya sedang berjuang menahan emosi. Sungmin melihatnya menelan ludah sebelum mengatakan dalam suara serak. “Eomma kalian akan mendapatkan perawatan yang terbaik. Hanya itu yang dapat kujanjikan.”

“Ditambah, aku mengandalkan kalian,” ucap Sungmin. “Pelukan dan ciuman adalah obat terbaik seperti yang kita tahu.

Sungmin menatap penuh arti pada putri remajanya, yang duduk menyilangkan lengan sambil merengut sendirian. “Ini sangat tidak adil!” Min Sae menyembur.

Sungmin melingkarkan lengan padanya.
“Aku tahu, Sayang. Tapi hidup memang tak selalu adil.”

“Kita akan bekerja sama seperti waktu terakhir,” Kyuhyun berkata.

“Maksud appa seperti ketika kau mencuci pakaian dan semuanya berubah jadi merah muda? Dan saat kita semua hanya makan ramyun selama hampir seminggu penuh?” Min Sae meledek sambil bercanda. “Appa, maaf deh, tapi kau payah.”

Mereka tertawa, dan Sungmin menghembuskan napas lega. Anak-anak menerima ini dengan tenang. mereka tampak baik-baik saja. Hampir. Malam itu ketika mengantar Min Yoo ke tempat tidur, dia menginginkan boneka teddy bear-nya dan juga ingin lampu malamnya tetap dinyalakan. Dan Min Sae mengabaikan seluruh telepon dan pesan dari teman-temannya yang biasa, lebih memilih meringkuk dengan Sungmin di sofa sambil menonton TV.

~+~+~+~

Minggu terakhir bulan April Sungmin menemani adiknya ke dokter kandungan. Eunhyuk meminta Sungmin datang karena hari ini USG pertamanya, ia ingin membagi pengalaman melihat anaknya untuk pertama kali di dalam kandungan bersama kakaknya.

“Kyuhyun marah padaku,” kata Sungmin pada Eunhyuk yang duduk di meja periksa memakai baju rumah sakit sambil menunggu dokter.

“Jika memang dia marah, itu untuk situasi saat ini, bukan padamu,” balas Eunhyuk.

“Tidak, ini lebih dari itu,” Sungmin bersikeras. “Dia bersikap seolah aku punya pilihan.”

Eunhyuk mendesah dan meraih tangan Sungmin.
“Ini sulit bagi kita semua, hyung. Di sinilah aku, merasa bersalah membawa kehidupan baru ke dunia ini sementara kau—“ ucapannya terputus, air matanya menggenang. “Brengsek. Sekarang lihat apa yang kauperbuat padaku.”

Sungmin mengambil sebuah kotak yang kelihatannya seperti kotak tisu, lalu mereka terbahak-bahak ketika yang ditarik Eunhyuk malah sebuah sarung tangan lateks. Eunhyuk mengangkatnya, lemas dan berkerut, lalu berkomentar,

“Aku jadi ingat kondom.”

“Seharusnya ini waktu yang paling membahagiakan buatmu. Sedangkan aku, aku sangat bersemangat sekali menanti bayi ini.” ucap Sungmin setelah mereka berdua sudah menyeka air mata. Dia memberi adiknya tatapan menengur, lalu menambahkan di dalam hati, Aku hanya berharap masih hidup untuk melihatnya lahir.

“Yah, paling tidak kau mendapat sesuatu dari itu,” Sungmin berkomentar sinis, tatapannya jatuh ke perut adiknya yang menonjol.

“Di samping seks, maksudmu. Oh Tuhan, seks…” Eskpresi Eunhyuk berubah mengawang. “Apa aku sudah menyebutkan itu seks terbaik yang pernah kumiliki?”

Dan itu sering sekali diucapkan Eunhyuk, mengingat banyak kekasih yang dimilikinya selama bertahun-tahun. “Sudah sekitar lima triliun kali.” Sahut Sungmin dengan nada bosan.

Eunhyuk terpikat dengan Lee Donghae setelah sekali kencan, terlepas dari fakta bahwa mereka hanya punya sedikit kesamaan—Donghae adalah seorang bankir dan Eunhyuk pernah membuat peraturan untuk jangan berkencan dengan pria bersetelan rapi—tapi ketika Donghae memberitahu bahwa dia akan dikirim ke luar negeri bekerja di kantor cabang bank-nya di London, Eunhyuk jelas-jelas patah hati. Eunhyuk selalu mengklaim, hubungan beda benua semata-mata untuk yang Sangat Kaya atau yang Sangat Mengkhayal. Tagihan teleponnya saja sudah cukup untuk membuatnya bangkrut. Setelah Donghae pindah ke London, barulah Eunhyuk mengetahui dirinya hamil. Dia langsung mempertimbangkan untuk mengaborsinya, tapi setelah keterkejutan dan ketakutan itu mereda, dia sadar bahwa ini mungkin satu-satunya kesempatan yang dimilikinya untuk menjadi ‘ibu’. Sejak saat itu dia sangat bersemangat memiliki bayi.

“Memangnya aku bisa apa kalau ayah bayiku kekasih yang hebat?” Eunhyuk menaruh tangan di perutnya.

“Omong-omong soal itu, apa kau sudah memberitahu dia akan menjadi ayah?” Sungmin menatapnya tegas, tahu bahwa adiknya belum memberitahu apa-apa. Sangat khas Eunhyuk, meninggalkan ‘detail kecil’ seperti itu hingga saat-saat terakhir.

Eunhyuk tiba-tiba mengamati pajangan berupa foto-foto bayi yang ditempeli paku memo warna-warni ke papan bulletin di dinding. “Nanti. Aku hanya belum sempat melakukannya,” jawabnya sambil mengibaskan tangan, seakan mereka sedang membicarakan temannya teman, bukan ayah dari bayi yang dikandungnya.

“Dan kapan tepatnya kau berencana mengatakan kepadanya? Ketika sudah saatnya dia ikut serta membiayai uang kuliah anakmu?”

“Buat apa buru-buru. Masih ada waktu lima bulan. Lagipula, tak mudah menghubunginya.”

“Kau dapat meninggalkan pesan di kotak suara.”

“Sudah, tapi dia mengganti nomor teleponnya. Aku tak punya nomor barunya.”

Sungmin hanya menatapnya.
“Mengapa aku punya firasat kau sedang buat-buat alasan?”

Eunhyuk mengangkat bahu, tak acuh.
“Memangnya tidak? Seandainya kau harus memberitahu pria yang nyaris tak kau kenal bahwa kau mengandung anaknya? Maksudku, memangnya ada protokolnya? Kau ahlinya, ayo katakan padaku.”

“Kau payah, kau tahu itu?”

Di saat yang sama, Sungmin tak meragukan keponakannya akan baik-baik saja walau di asuh dengan tidak lazim. Paling tidak anak itu akan selalu tahu kasih sayang ‘ibunya’. Akankah anak-anaknya sendiri juga seperti itu? Hati Sungmin pedih memikirkan itu.

“Mungkin, tapi pasti aku selalu bisa mengatasinya,” jawab Eunhyuk, menambahkan dengan nada lebih lembut. “Kaulah yang kucemaskan. Kau harus lebih fokus pada dirimu sendiri, jangan pedulikan suamimu yang sedang marah dan adikmu yang sedang hamil ini. Karena aku takkan melahirkan bayi ini tanpamu. Kau paham?” Dia diam sejenak untuk menepuk-nepuk pelupuk mata, lalu berkata, “Aku tak mau ayah yang menggendong bayiku di ruang bersalin.”

“Enak saja,” balas Sungmin getir.

“Yah, dia pasti mau kalau aku yang meminta. Tetap saja…dia mungkin akan pingsan, lalu aku bagaimana?”

Berbeda dengan Sungmin, Eunhyuk selalu punya maaf untuk ayahnya. Mungkin karena dia tak terlalu marah dengan ketidakhadiran ayah mereka. “Tak diragukan lagi, bakal lebih baik.” Sungmin menimpali.

“Ayolah, hyung. Beri ayah kesempatan. Aku yakin ayah pun sangat sedih ketika kau memberitahu kankermu kembali.”

Sungmin tak berkata apa-apa. Eunhyuk menatapnya, sambil memiringkan kepalanya.
“Oh Tuhan. Ayah tidak tahu, bukan?”

Sungmin mendesah.
“Tidak.”

Eunhyuk memandangnya sambil menganga tak percaya.
“Biar kuluruskan: aku mengumpulkan segenap tenaga untuk menghadapi situasi sulit memberitahu Donghae, tapi kau malah bebas. Tidakkah menurutmu ini agak munafik?”

“Ini berbeda,” jawab Sungmin defensif. “Kau tidak tahu bagaimana Donghae akan bereaksi—dia mungkin ketakutan—tapi ayah tetap ayah. Dia sangat mudah ditebak. Makanya tak ada alasan memberitahunya sampai sangat diperlukan. Lagipula, apa bedanya?”

“Untuk satu hal, aku yakin dia akan ingin lebih mengunjungimu.”

Sungmin mendengus mengejek.
“Yang benar saja. Seperti pada waktu dia datang melihatku di rumah sakit dan menghabiskan waktu membicarakan permainan golf-nya? Tidak, terima kasih. Aku tak butuh itu sekarang.”

“Bagaimana dengan apa yang dia butuhkan?”

Sungmin mengangkat bahu.
“Ayah akan baik-baik saja tanpa aku. Dia sudah menunjukkannya.”

“Tapi…kau putranya!”

Sungmin hanya diam, mengamati foto para ibu menggendong bayi mereka sekali lagi. Foto-foto yang tak diragukan lagi diambil oleh para ayah yang bangga. Di mana ayah mereka ketika dia dan Eunhyuk sangat membutuhkannya? Sungmin mengingat kembali kenangan ketika dia dan Eunhyuk membantu ayahnya membersihkan apartemen dalam persiapan pindah ke Seoul. Mereka mengosongkan kabinet di ruang kerja ketika mereka menemukan sebuah buku kenangan bersampul kulit, yang tak pernah mereka lihat sebelumnya. Awalnya mereka bersemangat, membayangkan buku itu penuh dengan kenangan masa kecil mereka—kartu-kartu laporan nilai, diploma dan sertifikat, penghargaan yang didapat Sungmin untuk esai bahasa Inggris terbaik di tahun senior sekolah menengahnya. Ternyata ketika mereka membukanya, kenyataan keji atas kehidupan mereka terpapar, di halaman demi halaman terdapat kartu nilai permainan-permainan golf ayah mereka.

Benar, jika bukan hal lain, Lee Sunhwa mudah ditebak.

~+~+~+~

Setelah pemeriksaan selesai, Sungmin dan Eunhyuk pergi ke Take Tea Time café. Menikmati cappuchino dan croissants, Eunhyuk membicarakan rencana-rencananya untuk mengubah ruang kosong di kamar tidurnya untuk kamar bayi dan tentang ‘keuntungan’ dari bisnis terbarunya. Sungmin tahu obrolan riang ini dirancang Eunhyuk untuk menahan topik yang tak satu pun dari mereka berkeinginan untuk membahasnya. Tapi tak ada jalan keluar, lagipula kepada siapa lagi Sungmin mencurahkan hatinya?

Ketika gilirannya bicara, Sungmin berkata,
“Akhir-akhir ini aku sering memikirkan ibu. Betapa sulit baginya di masa-masa terakhir. Bayangkan. Berbaring di tempat tidur hari demi hari, tahu dia takkan pernah kembali sehat, sampai saatnya mengucapkan selamat tinggal pada semua orang yang disayanginya.” Tenggorokannya tersekat di atas kenangan itu.

“Aku ingat,” gumam Eunhyuk, matanya berair. Air mata yang diduga Sungmin bukan hanya untuk ibu mereka. “Ibu yang malang.”

“Ibu tak pernah mengeluh. Tidak sekali pun. Dia selalu memikirkan kita, tak pernah dirinya. Ingat video yang dibuatnya?”

“Ya, dia mengenakan scraf jelek yang kuberikan padanya waktu ulang tahun,” Eunhyuk mengingat.

“Ibu menyukai scraf itu.” Sungmin dapat melihat itu di matanya, scraf tiruan Gucci berwarna merah muda dan biru yang bagi anak kelas lima terlihat cantik, tapi ibunya memakainya setiap hari setelah rambutnya rontok.

“Yeah, aku tahu. Itulah masalahnya.” Eunhyuk mengeluarkan tertawa tertahan.

Mereka berdua diam sesaat. Hanya ada bunyi sendok bersentuhan dengan cangkir saat Eunhyuk mengaduk sebungkus gula lagi ke dalam cappuccino bebas kafeinnya, dan keramaian café di belakang.

“Ingat Clara?” Sungmin kemudian berkata.

~+~+~+~

Clara Kim adalah sekretaris ayah mereka ketika masih menjadi wakil presiden di sebuah perusahaan swasta. Seorang wanita yang cantik dengan wajah segar. Dia sangat ramah, dan dia tersenyum bahkan kepada orang-orang yang tak dikenalnya, dan ketika mengatakan kepada mereka ‘Semoga harimu menyenangkan’, dia bersungguh-sungguh. Sungmin dan Eunhyuk selalu menyukainya dalam cara mereka menyukai sekretaris ayahnya. Clara bagian dari kehidupan lain ayahnya, pekerjaannya, yang bagi mereka sejauh lokasi tempat ayahnya bepergian bisnis. Kemudian, ibu mereka jatuh sakit, dan Clara menjadi lebih sering membaur dalam kehidupan mereka. Setiap sabtu, dia akan membawa Sungmin dan Eunhyuk ke bioskop atau museum, dan berceloteh seolah tak ada hal yang salah, seolah ibu mereka bukan sedang berbaring di tempat tidur di rumah.

Saat itulah Sungmin mulai membenci Clara. Dia benci segalanya tentang wanita itu; gigi putihnya yang besar dan perona mata birunya; kebiasaannya yang menyebalkan melipat serbet sebelum melemparnya ke tempat sampah; bahkan Mp3 bodohnya yang berwarna kuning pisang. Tapi yang utama, apa yang dibencinya dari Clara adalah tatapan memuja yang disorotkannya pada ayah mereka.

Dan kini, berbicara kembali tentang kenangan ketika sang ibu memutuskan untuk memberikan kesempatan pada orang lain untuk mencoba mengambil posisinya disisi ayah mereka karena kondisi kesehatannya yang semakin memburuk dari hari ke hari, mengingat kembali wajah pucat dan senyum letih ibunya masih membuat Sungmin menangis.

“Ya….” Kata Eunhyuk. “Ayah tidak akan berselingkuh jika ibu masih hidup. Dan setelah ibu tiada…” Suaranya terputus saat merenungkannya, kerutan kecil membentuk di antara alisnya. “Well, kurasa Clara ssi…cocok untuknya.”

“Aku penasaran apa yang terjadi padanya,” Sungmin merenung.

“Siapa yang tahu?” Eunhyuk mengendikkan bahu dan menggigit croissants. “Mungkin di kembali ke kampung halamannya dan menikahi dokter gigi baik hati dan sudah memiliki banyak anak. Aku yakin dia sekarang sudah menjadi nenek.”

“Aku penasaran mengapa dia dan ayah tidak menikah.”

“Bisa jadi karena ayah tak pernah melamarnya. Hadapi saja, ayah tak pernah jatuh cinta padanya.” Eunhyuk menatap kakaknya. “Lagipula, kita ‘kan sangat jahat padanya. Kurasa itu ada hubungannya.”

“Aku berbuat jahat bukan karena aku membencinya. Aku hanya benci pada kenyataan dia bukan ibu.” Sungmin mengamati adiknya menggigit croissants lagi, menghamburkan serpihan ke atas meja, sebelum menambahkan dengan serius, “Sebenarnya, akan lebih baik bagi kita jika ayah dan menikahi Clara.”

Eunhyuk berhenti di tengah-tengah mengunyah croissants, menatap Sungmin tak percaya.
“Kau bercanda, ya!”

“Aku serius. Dia bukan orang jahat,” Sungmin melanjutkan. “Dan pasti akan menyenangkan ada orang dewasa lain yang menjaga kita. Atau satu orang dewasa, karena ayah hampir tak pernah ada.”

Eunhyuk menjatuhkan apa yang masih tersisa dari croissants-nya ke atas piring lalu mengelap jemari yang berlepotan mentega ke serbet. “Mengapa aku punya firasat ini bukan sekedar tentang Clara?” Eunhyuk bicara perlahan, tatapannya terpaku pada Sungmin.

“Memang,” jawab Sungmin, menghela napas. “Aku sedang memikirkan anak-anakku. Aku mengkhawatirkan mereka setelah—“ Dia berhenti ketika melihat tatapan terluka adiknya. “Kau ‘kan tahu bagaimana Kyuhyun. Dia memuja mereka, tapi…”

Sungmin mengendikkan bahu putus asa. Dilihat dari yang terakhir, ketika Kyuhyun seharusnya mengurus rumah selama Sungmin terbaring di rumah sakit tahun sebelumnya, tak ada yang bisa diharapkan. Setelah lima minggu di rumah sakit, Sungmin pulang dan mendapati kulkas kosong, kecuali kardus-kardus makanan dan anak-anak seperti tak diberi makan dengan selayaknya serta dibiarkan terjaga hingga melewati jam tidur malam demi malam. Bukan hanya itu, Sungmin tahu suaminya beberapa kali telat menjemput Min Yoo dari latihan bola dan lupa menandatangani surat izin yang diperlukan untuk tugas lapangan Min Sae, membuat putrinya menangis habis-habisan ketika bus sudah berangkat dan Kyuhyun tak dapat mengejar. Sungmin tak tahu seberapa buruk kejadian itu sampai ibu sahabat Min Sae, Hyeri, menelepon menawarkan agar Min Sae tinggal bersama mereka sampai Sungmin “sehat”. Dan rupanya itu atas anjuran Min Sae.

“Dia akan mampu mengatasinya,” kata Eunhyuk. “Dia hanya tak terbiasa memegang kendali.”

“Anak-anak tak bia menunggu sementara kau membiasakan diri. Akan lebih baik untuk semua orang jika Kyuhyun tidak melakukannya sendirian.”

“Apa tepatnya gagasanmu?” tanya Eunhyuk hati-hati.

“Mungkin ide ibu memang bagus meskipun dia memilih orang yang salah.”

“Oh Tuhan,” Mata cokelat Eunhyuk membelalak. “Tolong katakan kau tak memikirkan apa yang kupikir kaupikirkan.”

Sungmin mengangguk perlahan, menghela napas dalam-dalam sebelum mengungkapkan,
“Aku ingin menjadi orang yang mencarikan istri untuk Kyuhyun.”

Gagasan itu lambat laun terbentuk dalam benak Sungmin selama seminggu ini, dan seperti kanker yang menggerogotinya dari dalam, hal ini tak dapat dihindari tapi juga menakutkan. Eunhyuk ternganga, serpihan croissants menempel di bibirnya, membuatnya seperti anak kecil yang sedang menyaksikan aksi mengerikan. Namun tak ada hal kekanak-kanakkan dalam bahasa yang digunakannya saat dia mencondongkan tubuh untuk berbisik,

“Oh Tuhan. Kau pasti sudah kehilangan otak brengsekmu itu, hyung.” Katanya.

Sungmin berjengit tapi tak mundur.
“Apakah begitu buruk ingin memastikan keluargaku baik-baik saja setelah aku tiada?”

Eunhyuk menggeleng, masih terpana menatap Sungmin dalam ketidakpercayaan.
“Tidak, tapi melampaui batas.”

“Benarkah? Hyukie, ini pekerjaanku. Keahlianku. Bagaimana aku membiarkannya begitu saja mengikuti kehendak nasib? Kau tahu kan betapa payahnya Kyuhyun. Jika dia menikah lagi, itu pasti dengan wanita yang amat gigih. Kyuhyun harus menikah dengan seorang wanita yang amat gigih.”

Separuh teman sejawat wanita Kyuhyun pernah naksir padanya—siapa saja yang punya mata dapat melihat itu—tapi Kyuhyun selalu memberi tatapan kosong kapan pun Sungmin mengomentarinya. Dan Kyuhyun takkan hanya putus asa setelah kepergian Sungmin; dia akan dirundung duka. Setiap wanita yang berhasil mendapatkan perhatiannya harus bertekad habis-habisan, dan mungkin yang memang memiliki pribadi yang sangat sama seperti Kyuhyun.

Apakah itu yang kuinginkan untuk suami dan anak-anakku?, batin Sungmin sedikit ragu.

Eunhyuk terus menggeleng-geleng.
“Aku tak percaya kau bahkan mempertimbangkan hal semacam itu.”

Sungmin mengulum senyum hambar.
“Itulah hal lucu mengenai sekarat: Kau mendapati dirimu mempertimbangkan segala macam hal yang tak pernah dipahami sebelumnya.”

Ekspresi wajah adiknya melembut.
“Dan apa kata Kyuhyun mengenai ini?”

“Dia tidak tahu. Aku belum sampai sejauh itu.” Sungmin menunggu momen yang tepat. Meski dia punya firasat momen yang tepat itu takkan pernah ada. tekadnya goyah sesaat ketika teringat tatapan terkejut Kyuhyun saat dia memberitahu suaminya dia sedang sekarat. Suaranya pecah. “Ini hanya…oh, Tuhan, Hyukie, aku sangat takut. Aku tak tahu apa lagi yang mesti kulakukan.”

Eunhyuk meraih tangan Sungmin, sambil mengerjap-ngerjap menahan air mata yang tumpah.
“Aku tahu kau takut… kau berhak merasa takut. Namun ada beberapa hal yang bahkan tak dapat kau atur. Pertama, Kyuhyun takkan pernah mengizinkan ini. Aku tak pernah melihat pria yang begitu membaktikan diri pada istrinya seperti dia.”

“Aku tahu.” Sungmin merasa seakan-akan pita tak kasat mata mengikat kencang di dadanya. “itulah yang membuat ini sangat sulit. Tapi kita tak sedang membicarakan percintaan. Hanya pertemanan.”

Bagian egois dalam diri Sungmin ingin suaminya berduka setelah dia pergi. Dia membayangkan suaminya dalam keadaan berkabung, sosok kesepian dalam balutan pakaian hitam yang berjalan-jalan di tanah hutan. Tapi ini kehidupan nyata. Dan kehidupan nyata memang kacau balau, penuh dengan keping-keping kebutuhan yang harus dipungut.

“Dengan potensi yang dapat berkembang,” tambah Eunhyuk, dengan nada sedih.

“Seperti itulah.” Sungmin menekuri telapak tangan.

“Bagaimana jika,” Eunhyuk mengambil resiko bertanya dengan waspada, “wanita ini harus lebih dulu membangun perasaan untuknya sebelum kau—“ Dia menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan, “Kau kan tak selalu dapat memprediksikan bagaimana reaksi seseorang nantinya.”

Pita di sekeliling Sungmin seakan terasa semakin mengencang.
“Kurasa itu kesempatan yang harus kuambil. Tapi siapa pun yang akhirnya kupilih, wanita itu bukan tipe yang mudah terjebak perasaan seperti ini. Beri aku penghargaan untuk yang satu itu.”

“Bukan kau yang kucemaskan,” kata Eunhyuk getir, tapi dari tatapan yang dilontarkan Sungmin padanya, dia langsung mundur. “Oke, katakan saja ini hanya teman. Dalam kasus ini, mengapa repot-repot? Bukankah dia punya banyak teman?”

“Iya, tapi takkan ada orang yang dapat dihubunginya ketika pukul dua pagi. Atau yang akan meninggalkan segalanya untuk datang jika Kyuhyun tak dapat mengatasi masalahnya sendiri saat itu juga,” Sungmin memberi alasan.

“Memangnya aku tidak dianggap?” balas Eunhyuk jengkel.

“Bukan, tentu saja bukan begitu. Tapi kau akan sangat sibuk.”

“Aku akan punya anak, bukan menggulingkan planet.”

“Aku tahu. Dan percayalah padaku, aku akan mengandalkanmu tetap di sana. Dan memanjakan anak-anakku.”

Eunhyuk tergelak malu-malu.
“Maksudmu hyung, kau tidak akan berguling-guling di dalam kuburmu jika kubiarkan mereka menonton film dewasa?”

“Mungkin saja. Tapi jangan biarkan itu menghentikanmu.”

“Hyung, berhubung kita sedang membicarakan topik ini, aku punya pengakuan. Aku di pihak Kyuhyun. Menurutku kau sangat nekat. Masih ada kesempatan kau dapat mengalahkan penyakit ini.”

Sungmin menggeleng sedih.
“Kau boleh percaya pada campur tangan Tuhan, tapi kau harus realistis.”

Eunhyuk hanya diam dan memutuskan untuk berhenti membicarakan topik itu. Sambil menghabiskan croissant masing-masing Sungmin mengalihkan topik pembicaraan. Ia memberitahu adiknya mengenai salah satu klien—sang jutawan minyak—yang akan ia temui siang ini.

“Kalau kau tertarik, dia hartanya gila-gilaan.” Kata Sungmin yang belum menyerah menemukan pasangan untuk Eunhyuk, yang sejauh ini menolak semua upayanya.

“Tidak, terima kasih. Aku tak suka harta, cuma suka gila-gilaan,” kata Eunhyuk, tersenyum lebar saat meletakkan tangan di atas perutnya. “Omong-omong hyung, kau, hmm, tahu tidak pukul berapa sekarang di London?”

~+~+~+~

Malam itu Sungmin mengajak Kyuhyun bicara. Ketika ia mencoba mengangkat kembali topik tentang istri pengganti dan mengatakan bahwa ia sendirilah yang akan menemukan orang tersebut untuk Kyuhyun, Kyuhyun tercengang. Tatapannya ngeri dan tak percaya seperti Eunhyuk ketika ia mulai mengutarakan gagasan itu, hanya saja ini diliputi kemarahan.

“Apa ini? Semacam lelucon?” akhirnya Kyuhyun meledak.

Sungmin buru-buru melanjutkan,
“Kumohon, dengarkan aku dulu. Aku tahu bagaimana kedengarannya, tapi ini tak seperti yang kau pikirkan. Aku tidak sedang menyarankan kau… kau punya kekasih lain. Bukan yang seperti itu. Aku membicarakan seseorang yang menjadi teman bagimu. Seseorang yang akan membantu mengasuh anak-anak. Aku tak berharap kau langsung jatuh cinta sama sekali. Hanya saja… jika kau akhirnya menikah lagi, aku ingin orang itu seistimewa yang pantas kaudapatkan.”

“Jadi aku tak dipercaya untuk membuat keputusan sendiri, begitu?”

“Aku tak berkata begitu. Hanya…” suara Sungmin terputus.

“Kurasa, inilah resiko menikah dengan mak comblang,” lanjut Kyuhyun dengan nada marah yang sama. “Tak ada yang selamat dari campur tanganmu.”

Sungmin tersentak. Hatinya terasa pedih.
“Aku tak kuasa mencegahnya jika itu yang terbaik yang bisa kulakukan. Jika situasinya terbalik dan aku meminta penyelamatan darimu, bukankah kau akan melakukan apa saja sekuat tenaga untuk menyelamatkanku?”

“Aku tak mengerti apa perbandingan keduanya.” Terdengar nada gusar tertahan di dalam suara Kyuhyun. “Kau sedang bermain-main dengan kehidupan, bukan menyelamatkannya. Dan siapa yang tiba-tiba menunjukmu menjadi Tuhan?”

“Apakah menyakitkan hanya bertemu dia?”

Kyuhyun mengernyit marah menatap Sungmin.
“Dia? Jadi kau sudah punya seseorang dalam daftar?”

“Tidak, tentu saja tidak. Aku takkan pernah melakukan itu tanpa izinmu.”

“Wah, karena kau sudah mengajukan hal itu, bagaimana aku bisa menolaknya?” kata Kyuhyun sarkartis.

“Apa ini lebih gila daripada saat kita menikah padahal kita tak punya uang sama sekali?” Sungmin tetap bersikeras.

“Hentikan.”

“Maksudku adalah—“

“Hentikan… hentikan.” Kyuhyun menunduk menatap lantai. Ketika tatapannya kembali pada Sungmin, Sungmin dapat melihat sakit hati di wajahnya. “Mengapa kau begitu bertekad untuk menjauhkanku?”

Sungmin menggeleng dengan sedih saat menatap suaminya yang telah menemaninya berjuang selama dua puluh tahun ini. “Aku mencintaimu sepenuh hatiku,” katanya. “Tapi itu tidak mengubah fakta bahwa aku akan pergi.”

Kyuhyun terdiam cukup lama, hingga Sungmin berpikir suaminya itu tidak akan meresponnya. Akhirnya Kyuhyun mendesah kuat-kuat dan berkata dengan nada hampa yang seolah datang dari sumur paling dalam.

“Aku tahu,” ucap Kyuhyun. “Aku tahu.”

~+~+~+~

Kyuhyun menatap Sungmin yang sedang terlelap diatas ranjang dan hampir tak mampu membendung pemikiran bahwa istrinya sedang sekarat. Biasanya Sungmin yang pertama bangun pagi, selalu sarapan di meja makan sebelum semua orang bangun. Tapi semalam, tidurnya tak nyenyak. Kyuhyun terbangun beberapa kali karena Sungmin gelisah dan berguling dan menangis dalam tidurnya. Bahkan sekarang, saat Sungmin terbaring lelap, Kyuhyun dapat melihat apapun yang sedang dimimpikannya bukanlah sesuatu yang menyenangkan.

Andai saja ada sesuatu yang bisa kulakukan, pikir Kyuhyun sedih.

Sungmin bergerak dan pelupuk matanya membuka. Melihat Kyuhyun berdiri di depannya, Sungmin langsung bangun. Melihat Kyuhyun yang terlihat sangat sedih, pemikiran pertama Sungmin adalah, seseorang baru saja meninggal. Kemudian ia segera menyadari, Dia-lah seseorang yang meninggal itu… atau segera akan meninggal.

Sungmin beranjak bangun dan menyipitkan mata melawan sinar matahari yang menyorot dari sela-sela tirai. “Pukul berapa ini?” tanyanya.

“Tujuh kurang lima belas menit.” Jawab Kyuhyun duduk disebelah Sungmin di tempat tidur, menyingkirkan rambut dari dahi sang istri.

Dari ruang keluarga, dari ujung seberang koridor terdengar suara bising video game. Sungmin mengerang. “Mengapa kau tak membangunkanku?” katanya.

“Kupikir kau butuh tidur. Kau sangat gelisah semalam.” Kata Kyuhyun.

“Maaf. Apa aku membuatmu terjaga?” tanya Sungmin, merasa tidak enak.

“Tidak sama sekali.” Jawab Kyuhyun, tapi Sungmin tahu itu bohong. Kyuhyun terlihat lelah.

“Kau suami yang baik.” Kata Sungmin meletakkan tangan di pipi Kyuhyun.

“Aku berusaha.” Kata Kyuhyun tersenyum. “Bagaimana jika kau sarapan di tempat tidur?”

Melihat betapa keras Kyuhyun berusaha, Sungmin merasa pedih.
“Gagasan bagus. Tapi yang lebih kubutuhkan saat ini adalah mandi,” katanya.

“Kalau begitu, maksudmu kita akan sarapan diluar?” Saran Kyuhyun. “Anak-anak sudah makan, tapi aku yakin mereka takkan menolak pancake.”

Sungmin terdiam sejenak menatap Kyuhyun.
“Kau tahu apa yang akan membuatku lebih bahagia lagi?” tanyanya kemudian.

“Apa?” tanya Kyuhyun.

“Jika kau mau datang bersamaku hari Jumat.”

“Mengapa? Ada apa di hari Jumat?”

Meet & Greet bulan ini.” Melihat ekspresi Kyuhyun yang menggelap, buru-buru Sungmin menjernihkan kesalahpahaman ini. “Aku hanya berpendapat ini akan menyenangkan. Kita tak pernah menghabiskan waktu cukup sering bersama-sama—“

“Terima kasih, tapi aku tidak ikut,” jawab Kyuhyun ketus sebelum Sungmin menyelesaikan perkataannya.

“Oh, Kyu,” pinta Sungmin. “Apakah akan menyakitkan, jika ikut sekali saja?”

Kyuhyun membuka mulutnya, hendak menolak lagi. Namun kemudian ia berpikir, inikah yang dia inginkan, menghabiskan waktu yang mungkin terakhir bagi istrinya berada di dunia dengan bertengkar hebat?

~+~+~+~

Selama tiga tahun menjadi pengurus catering untuk Meet & Greet Heart to Heart Ryeowook merasa puas menjadi orang yang berada dibelakang layar. Saat meletakkan pinggan-pinggan atau membawa nampan-nampan ke sekeliling, dia dapat memperhatikan pasangan berdansa dengan jarak sopan. Ryeowook melihat mana tamu yang pulang sendirian di penghujung malam dan mana yang pulang berpasangan. Terkadang dia diam-diam bersorak ketika dua orang datang bersama dan ada percikan diantara mereka, dan kadang harus menggigit lidah ketika tak sengaja mendengar seorang pria bergurau tak lucu ketika menyapa teman wanitanya, yang membuatnya tiap kali nyaris menyemburkan kalimat “Bung, kau takkan pernah bercinta jika caramu begitu!”.

Ryeowook mempelajari, disana tak ada peraturan. Kau hanya berada disana dan berharap yang terbaik. Ryeowook akui, Sungmin memang profesional—bisa dilihat dari caranya mengolah ruangan—tapi lebih sering kali intinya bukanlah berada di tempat yang benar di waktu yang salah. Dan begitulah ketika Ryeowook berada disana, Jumat pertama bulan Mei, ketika dia melihat pria tinggi, sangat tampan, yang sesaat membuatnya melupakan kakinya yang nyeri dan pinggan berat yang sedang dipegangnya.

Pria itu berdiri sendirian di depan meja prasmanan, menyesap minuman dan berusaha terlihat tak menarik perhatian orang. Dengan mata obsidian yang menggetarkan jiwa dan wajahnya yang seolah meneriakkan Bawa aku!, Ryeowook yakin pria itu punya kesempatan berbaur sebanyak ikan tropis langka dalam semangkuk penuh ikan emas. Ryeowook menebak pria itu pasti pendatang baru, karena dia belum pernah melihatnya dan wajah seperti itu tak mungkin dilupakan orang.

Ryeowook tak terbiasa memulai percakapan dengan tamu-tamu di acara seperti ini, tapi dia justru mendapati dirinya bertanya pada Tuan Tinggi-dan-Tampan itu setelah menaruh nampan, “Pertama kali?”

Pria itu menoleh padanya, tersenyum malu-malu.
“Apa terlalu kentara?” katanya.

“Aku pengamat terlatih,” ujar Ryeowook, memberikan kesan terbaik mata-mata dengan merendahkan suara hingga nyaris berbisik dan menepuk ujung matanya.

Pria itu tergelak.
“Jelas sekali bukan hanya itu bakatmu,” ujarnya, menunjuk ke arah makanan mewah yang Ryeowook dan para pegawainya sedang sajikan. “Aku yakin rasanya seenak kelihatannya.”

Ryeowook tersenyum, merasa senang atas pujian itu.
“Aku tahu kau takkan kecewa.” Katanya, percaya diri pada kemampuan memasaknya. “Omong-omong, aku sangat merekomendasikan involatini terung. Itu ciri khasku.”

Pria itu tersenyum lebar, senyum yang mampu menembus Ryeowook seperti sebilah pisau hangat membelah krim mentega. Dari dekat, Ryeowook dapat melihat mata pria itu lebih mirip warna amber daripada cokelat, dengan bulu mata tebal dan alis empatik yang saat itu melengkung bingung. Dahi dan rahang kokoh aristrokat yang diimbangi bibir sensual, dia terlihat… seperti bangsawan. Tak ada kata yang mampu mendeskripsikannya.

“Kau pasti Ryeowook.” Pria itu mengulurkan tangan, dan Ryeowook menyadari pria itu memiliki genggaman yang kuat dan menyenangkan saat menjabatnya. “Cho Kyuhyun. Senang bertemu denganmu. Istriku sering menceritakan tentangmu.”

Istrinya? Ryeowook merasakan hatinya mencelos, meski tahu dia takkan pernah punya kesempatan walau pria tampan ini belum ada yang punya. “Kau sudah menikah?” tanyanya, menjaga suaranya terdengar riang. Sebelum Kyuhyun bisa menjawab, Ryeowook melanjutkan, “Maafkan aku berkata begini, kupikir kau berada di tempat yang salah.”

Senyum Kyuhyun melebar.
“Aku suami Sungmin.” Jelasnya.

Oh. Itu sangat masuk akal, pikir Ryeowook, tentu saja Sungmin akan menikahi papan iklan berjalan. Ryeowook menyunggingkan senyumnya yang paling gemilang. “Wah, aku juga sering dengar tentang kau. Kau dokter, kan?”

Kyuhyun mengangguk. Lalu ia menunduk untuk berbicara,
“Jangan bilang siapa-siapa, tapi aku ke sini karena dipaksa.” Pandangannya melesat ke Sungmin, yang mengenakan setelan jas merah dan sedang mengobrol dengan salah satu tamu, seorang wanita tinggi berambut cokelat seperti foto model. Sesaat ekspresi Kyuhyun murung. “Pesta sungguh bukan diriku.”

Itu menjelaskan mengapa Ryeowook tak pernah melihat Kyuhyun sebelum ini, tapi bukan menjelaskan mengapa dia akhirnya setuju ikut yang satu ini. “Pesta juga bukan tipeku.” Kata Ryeowook. “Mengingatkan saat usiaku dua puluh dan pesta hanya menjadi alasanku bermabuk-mabukkan.”

“Untuk seseorang yang tak suka pesta, kau pasti sering mendatanginya.” Komentar Kyuhyun.

“Benar, tapi berbeda ketika kau yang mengurus pestanya. Untuk itu, kau takkan bangun keesokan pagi dalam keadaan pegal. Nyeri kaki mungkin, tapi bukan penyesalan. Walau,” Ryeowook menambahkan dengan nada murung saat mengamati keramaian yang sekarang berkumpul di meja prasmanan, “jika aku mencari pasangan hidup, aku akan akan merasa seperti bocah kecil dengan hidung menempel di jendela toko permen.”

“Jadi kau di tempat yang benar tapi di pekerjaan yang salah?” goda Kyuhyun.

“Seperti itulah. Kecuali, seperti yang kubilang, aku tak mencari pasangan hidup—dalam arti kata istri atau suami.” Ketika Kyuhyun menaikkan satu alisnya, Ryeowook lanjut menjelaskan,” Aku punya empat kakak, semuanya sudah menikah tapi tak semuanya bahagia. Mereka lebih memilih cepat mati daripada mengakuinya, mereka hanya senang memamerkannya padaku…” ia mengangkat bahu. “Jadi begitulah, aku hanya menghindari kesalahan-kesalahan yang mereka harap tak mereka perbuat.”

“Tidak setiap pernikahan tidak bahagia.” Ujar Kyuhyun.

“Tidak, tapi tetap beresiko begitu. Kau tak pernah tahu apa yang akan kau dapatkan.”

“Ini bukan seperti memenangkan lotre. Kau harus tetap berusaha.”

“Dari yang kulihat, beberapa orang berusaha agak terlalu keras.” Menangkap secercah emosi terpendam di kedua mata Kyuhyun, Ryeowook buru-buru berkata, “Tapi, apa sih yang kutahu? Aku ‘kan cuma orang yang duduk dibelakang mengamati.” Lalu ia melemparkan pandangannya ke luar jendela. “Kau tahu pepatah Selalu menjadi pendamping pengantin tapi tak pernah menjadi pengantin? Itulah aku. Bukan karena aku tak pernah menangkap buket bunga, tapi karena aku lebih memilih melajang daripada terjebak dalam rumah tangga merana.”

“Kau tak pernah menginginkan anak?” tanya Kyuhyun.

Ryeowook mengembalikan pandangannya pada Kyuhyun, yang sedang tersenyum dalam cara yang membuat lututnya lemas. “Tentu. Tapi aku punya keponakan yang sangat banyak. Mereka semua, makhluk-makhluk buas cilik,” jawabnya dengan gelak tawa bahagia, “Selain bekerja sebagai pengurus catering, aku juga si tukang masak keluarga.” Jelasnya sambil tertawa melihat tatapan bertanya yang diberikan Kyuhyun.

“Aku tak bisa membayangkan kehidupanku tanpa anak-anak.” Ekspresi Kyuhyun melembut saat membicarakan putra dan putrinya. “Min Sae berusia empat belas tahun tapi bersikap seperti empat puluh tahun dan Min Yoo seperti anak sembilan tahun biasa, bertubuh kurus. Kadang-kadang mereka sulit diatur, tapi sebagian besar aku bertanya-tanya seberapa beruntungnya aku.”

“Kau sangat beruntung memiliki istri yang hebat.” Kata Ryeowook mengingatkan.

“Itulah aku.” Kata Kyuhyun. Tatapannya berkelana sekali lagi ke Sungmin yang nampak berkilau dimatanya.

Ryeowook menatap Kyuhyun dan berpikir, siapapun akan bangga menyebut orang seperti Sungmin sebagai istrinya. Tapi, anehnya, raut wajah suaminya terkesan sedih. “Hei, kau baik-baik saja?” tanya Ryeowook, menyentuh siku Kyuhyun.

Kyuhyun mengerjap dan tatapannya kembali pada Ryeowook, lalu ia tersenyum.
“Apa? Well, aku tidak apa-apa. Hanya memikirkan sesuatu.” Jawabnya.

Kyuhyun tak menjelaskan lebih jauh. Ryeowook merasakan desakan aneh untuk menyamankan pria tampan itu, yang menurutnya sungguh lancang karena mereka baru saja bertemu. Kyuhyun mungkin akan berpikir dia kurang ajar atau mungkin suka padanya. jadi alih-alih, Ryeowook memutuskan untuk melakukan apa yang sebaiknya dilakukan di situasi seperti ini.

“Bagaimana kalau ambil makanan?” tawar Ryeowook. “Kau kelihatan butuh makan.”

Tbc

10 thoughts on “The Replacement Wife / chapter 4

  1. Huuuaa… Mian eonnie LittleMin.. heehee nimbrung read… huuaa.. ru neemuu lg karya eonnie… kaangeenn jg maa CikitaKuta… #low ga’salah(maaf heehee^^) Cause udh laamaa bingits ga’ nemu n jg ga’ read krya eonnie.
    Story ff nya baaguuss baangeet eonnie… seeruu… trutama buas nya teeteep KyuMin hiihoo ^.^ Huuaa… udh laaamaa toh Minppa saakiitnya. Dan Minppa beneran udh tekad kah.. dgn keputusannya mencari pasangan to Kyuppa?? O.o Dan jg wookie apakah beeneeraan JTC maa Kyuppa? Low di liat Kyuppa beneran CinMat maa Minppa. Dan ga’akan brpaling ri Minppa. Tp.. wkt bisa merubah segalanya. Huuuaaa… seeruu bangets. Lg read.. udh TBc😥 Next Chapt story eonnie.. ^.^ Daebak story nya.. Peenasaaraann.. n bikin gregetan nunggu kelanjutannya.. Fighting ne eonnie ^.^

  2. Annyeong…
    Q td nggk sngja bc pair m jdul na jd mmpir hehehehe
    Q kn KWS jd q suka bgt m ide na tp q jd mrsa jht k KMS ..
    Jd p kira2 kyu bs nrima wook seandai na wook yg jd gnti min???

    Yg smgt lnjut na… fighting^^

  3. annyeong. q readers baru. tapi langsung baca chapter 4. hehehe…
    ceritanya sedih ya’,,, masa sungmin oppa sampai mau mencarikan istri baru buat kyuhyun oppa. tapi syukurlah yang jadi pengganti sungmin oppa itu ryeowook oppa. jadi mau tahu kelanjutan ceritanya.

  4. sankyu baby!
    ini complicated!
    keren!
    ah…ini ttp aja aq ga tega lah sama si sungmin..
    tp ngerti lah knp dia berpikir utk mncarikan istri pengganti bwt kyu. dia hanya ingin mempersiapkan smuanya dg baik. memastikan bhwa tak ada yg perlu dikhawatirkan shg dia bs pergi dg tenang
    tp sumpah ya, ironis bgt lah hal mcam bgtu. palagi obrolan dia ma hyuk. bisa ya ngbrol ttg kematian kayak lg ngmongin strategi bisnis. dan yah, bs ngerti sberapa frustasinya kyuhyun dg keadaan. tp klo ngintip ke karakternya wookie..dia tepat utk jadi teman hidupnya kyu. teman hidup lho ya, bkn kekasih. hahaha. catet!😄

  5. Jalan ceritanya sih..aku suka,
    Tp sayang aku nggak suka sama kyu..n.
    (Maaf aku gk bs nyebut.entah knp terasa berat)Hahahaha. .
    Teruskan karyamu.fighting. .
    Nanti entah kapan bisa buat kyuwook ‘utuh’ tidak?

  6. woaah… ming bener2 niat bgd mau nyariin calon istri buat kyu
    tp ntah knp rada gk suka sih ya sama sikapnyakyu😦
    moga mingnya gk sampe meninggal lah ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s