Light In Grey Town / #1

tumblr_lg19pwZGSm1qb0bzxo1_500

Pairing : KageHina / TuskiHina || Genre : Angst || Lenght : ?? || Warning : BL, shounen-ai, AU, OOC || Disclaimer : Haikyuu belongs to Haruichi Furudate, story belong to me || Summary : Selamat datang di Grey Town, sebuah kota kecil yang selalu dipenuhi warna kelabu. Hinata Shoyo selalu percaya bahwa dia akan menemukan langit biru, tempat dimana ia dan Kageyama akan menemukan kebebasan mereka. Seperti halnya ia percaya bahwa Kageyama akan selalu bersamanya. Namun di Grey Town tidak pernah ada langit biru, hanya ada setitik cahaya yang terkadang mampu menipumu. *ok, bad summary. Sorry*

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

~Presented by@Min kecil~

#1

Setiap kali mendengar kata perang Hinata Shoyo selalu berpikir, siapa yang senang dengan hal itu? Hinata yakin, pasti tidak ada satu orang pun yang menyukai perang. Tetapi untuk beberapa alasan egois perang terpaksa dilakukan. Tanpa peduli berapa banyak korban yang berjatuhan, berapa banyak kota dan bangunan yang hancur, atau berapa banyak anak-anak yang kehilangan orangtua mereka. Grey Town hanyalah salah satu kota kecil di Karasuno yang menjadi korban perang antara dua negara tetangga yang tidak pernah bisa rukun, Karasuno dan Aoba Josai. Kini tiga tahun telah berlalu sejak perang berakhir. Karasuno berhasil memenangkan perang. Tetapi bagi Hinata, melihat banyaknya orang-orang dan hal-hal yang dikorbankan demi alasan egois para petinggi negeri yang serakah itu, tidak ada yang benar-benar memenangkan peperangan ini. Tidak bagi Karasuno, atau Aoba Josai sekalipun. Atau setidaknya, tidak bagi Hinata.

.
.
.
.

Bangunan tua itu berdiri menyempil diantara bangunan lainnya, berdesakan dengan bangunan-bangunan baru yang masih dalam tahap pembangunan, dan masih berdiri dengan kokoh meski hujaman peluru dari pasukan Aoba Josai pernah menerpanya. Gedung tua itu tidak terlalu besar. Warna cat dindingnya telah memudar dan banyak yang mengelupas, memiliki lima lantai dan terasa sesak karena ditinggali lebih dari sepuluh orang anggota pasukan gerilya yang telah kehilangan keluarga dan orang-orang yang mereka cintai karena perang. Reruntuhan bangunan yang hancur dan sisa-sisa perang lainnya masih terlihat di sudut-sudut kota, menjadi saksi bisu dari perang antar dua negara tetangga yang tidak pernah rukun yang terjadi selama berpuluh-puluh tahun. Para penduduk yang selamat mulai beraktivitas kembali, meski ketakutan dan trauma masih sedikit membayangi mereka. Dan anak-anak yang telah kehilangan orangtua dan rumah mereka berkeliaran dijalanan, memperhatikan para tentara Karasuno dengan mesin-mesin besar dan senjata mereka. Inilah Grey Town.

Hinata membuka jendela kamarnya yang terletak di lantai lima di gedung tua itu. Ia duduk di jendela dan memandang ke bawah, memperhatikan kesibukan para tentara Karasuno dengan mesin-mesin besar mereka. Seperti halnya kota lainnya yang hancur karena perang, Grey Town perlahan mulai bangkit dan diperbaiki. Tapi tiga tahun telah berlalu dan Hinata melihat tidak banyak perubahan yang terjadi di Grey Town ini. Masih belum ada perubahan yang berarti. Kota kecil ini masih tetap suram dan menyedihkan. Kelabu, seperti nama kota itu sendiri.

“Suramnya…” gumam Hinata bosan.

Hinata lalu mengalihkan pandangannya ke atas dan mendongakkan kepalanya. Di atas gedung ia melihat sekelompok burung sedang terbang melintas. Mereka berwarna hitam dan suaranya berisik sekali. Namun pemandangan kecil itu membuat Hinata terpesona dan berpikir, bagaimana rasanya melihat dari atas seperti sekelompok burung hitam itu? Mungkin rasanya akan menyenangkan dan…bebas?

Hinata semakin terpesona ketika ia melihat setitik cahaya matahari menembus awan kelabu yang selalu menaungi Grey Town, memberikan sedikit kehangatan pada kota kecil itu. Karena terlalu terpesona tanpa sadar Hinata memundurkan tubuhnya terlalu ke belakang hingga akhirnya ia nyaris jatuh ke bawah jika sebuah tangan tidak segera menangkap kakinya dengan sigap.

“Geez…apa yang kau lakukan, bodoh?” terdengar suara marah seorang laki-laki dari jendela.

Hinata mengangkat kepalanya dan tersenyum ketika melihat Kageyama dengan wajah marahnya yang khas. “Selamat pagi, Kageyama.” Sapanya, tidak peduli ataupun takut pada kenyataan bahwa kini ia sedang berada di luar jendela kamarnya, dengan tubuh yang terbalik, kepala menghadap ke tanah dan satu kaki yang ditahan oleh Kageyama dengan sigap.

Kageyama mendesah dan segera menarik Hinata kembali ke jendela, kembali ke dalam kamarnya yang kecil. “Ini masih terlalu pagi untuk percobaan bunuh diri, Baka Hinata!” Katanya kemudian dengan marah.

Hinata hanya tertawa kecil.
“Aku hanya sedang melihat sekelompok burung hitam yang sedang terbang melintas di atas gedung, lalu setitik cahaya menembus awan kelabu itu. Itu pemandangan yang indah menurutku, jadi… aku terlalu terpesona, kurasa.” Sahutnya santai.

Kageyama kembali mendesah. Terkadang kebiasaan ceroboh kekasihnya yang selalu kelewat hyperactive itu selalu membuatnya khawatir. “Tolong sedikit lebih berhati-hati. Bisakah kau lakukan itu?” pintanya.

Hinata kembali tertawa kecil dan mengecup bibir sang kekasih sejenak, sebagai tanda janjinya.
“Maaf…” katanya, dan Kageyama tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak tersenyum.

Hinata kembali melihat keluar jendela, pada setitik cahaya yang masih menerobos awan kelabu di langit. Sekelompok burung hitam tadi sudah tidak terlihat di atas gedung, mungkin mereka sudah terbang menjauh.

“Kuharap hari ini tidak turun hujan lagi. Semakin lama kota ini terasa semakin suram saja.” Harap Hinata seraya masih memandang ke langit yang kelabu.

“Setitik cahaya tidak akan bisa mengusir awan mendung begitu saja. Kurasa hari ini akan turun hujan lagi.” Timpal Kageyama. “Cepat bersiap dan sarapan. Upacara Misa akan segera dimulai. Kau harus datang ke gereja hari ini, kau mengerti?”

Hinata hanya menoleh memandang Kageyama dan menggumam sebagai jawaban. Lalu ia kembali memandang keluar jendela, pada langit kelabu di kejauhan. Kageyama meraih tubuh Hinata dan memeluknya dengan lembut. Tiba-tiba Hinata bertanya,

“Hey Kageyama, apakah diluar sana ada langit biru? Aku ingat, dulu kakek pernah berkata bahwa sebelum perang langit berwarna biru dan banyak burung-burung yang terbang bebas di atas sana. Tetapi ketika perang pecah, langit berubah menjadi kelabu dan burung-burung tidak bisa hidup di langit itu lagi. Menurutmu dimana langit biru itu, Kageyama? Kemana burung-burung itu pergi?”

Kageyama termanggu sesaat memandang Hinata yang masih saja memandang keluar jendela, namun mata cemerlang itu terlihat jelas memancarkan rasa penasaran yang besar. Jika diingat kembali, sejak mereka kecil langit di atas kota ini memang selalu berwarna kelabu. Tidak pernah ada langit biru. Ia bahkan hampir lupa, bagaimana langit biru itu.

“Entahlah,” jawab Kageyama tidak yakin lalu balik bertanya, “Bukankah tadi kau bilang kau melihat sekelompok burung terbang diatas gedung?”

Hinata mendongak pada Kageyama dan menggelengkan kepalanya.
“Itu berbeda. Burung-burung yang terbang diatas gedung tadi berwarna hitam dan berisik sekali. Tapi burung yang diceritakan oleh kakek berwarna biru dan hitam.” Katanya.

“Apa nama burung itu?” tanya Kageyama penasaran.

“Tobio.” Jawab Hinata sambil tersenyum jahil.

“..Aah?! Apa?” Kageyama merengut kesal. Ia melepaskan pelukannya dan bertingkah seolah hendak menendang laki-laki berambut orange itu keluar jendela. Namun kemudian ia hanya menjitak pelan kepala sang kekasih.

Hinata tertawa kecil. Ia memegang pakaian Kageyama dan menyenderkan kepalanya dengan nyaman di dadanya. “Aku hanya bercanda. Burung itu bernama Tork. Warna biru melambangkan langit dan warna hitam melambangkan tanah.” Katanya.

“Tork?” Kageyama mengernyit dan mencoba membayangkan burung itu seperti yang digambarkan oleh Hinata. Namun ia tidak bisa membayangkannya dengan baik. Maka ia memandang kekasihnya dan memperhatikannya lekat-lekat. “Apa kau ingin mencari burung bernama Tork itu? Kenapa?” tanyanya kemudian, penasaran.

Hinata mengangkat kepalanya dan menganggukkan kepalanya dengan mantap.
“Aku ingin melihatnya. Menurut cerita kakek, burung itu kecil dan indah sekali. Warna biru melambangkan langit dan warna hitam melambangkan tanah. Bagiku, itu seperti lambang kebebasan…” katanya.

“Kebebasan?” Kageyama mengernyit memandang kekasihnya. “Kau berbicara seolah Grey Town masih belum bebas. Bukankah perang sudah berakhir? Ini sudah tiga tahun, Hinata. Kita sudah bebas. Kita sudah menang.”

Hinata melepaskan pakaian Kageyama yang dipegangnya dan beranjak ke jendela, memandang kesibukan Grey Town yang sedang berusaha berdiri lagi. Seperti bayi yang baru belajar berjalan, perlahan kota kecil ini memang mulai berkembang. Tetapi orang-orang yang benar-benar mendapatkan kebebasannya hanya sebagian kecil saja. Sisanya diabaikan karena dianggap tidak berguna.

“Benarkah?” kata Hinata tanpa menoleh. “Benarkah begitu? Apa kau pikir kita sudah benar-benar menang dan bebas? Menurutku tidak.”

Kageyama menghela nafasnya. Oh ini dia, Hinata dengan ideologinya tentang kebebasan. Biasanya mereka akan selalu berdebat tentang hal itu, tapi sekarang ia sedang tidak memiliki waktu untuk itu. Upacara Misa akan segera dimulai dan mereka harus segera ke gereja. Daichi-san pasti akan sangat marah jika mereka terlambat lagi. Maka Kageyama menarik tangan Hinata hingga laki-laki berambut orange itu berbalik menghadapnya, merangkul pinggangnya dan memberi satu ciuman lembut di bibirnya.

“Maaf, Sayang, kita tidak memiliki waktu untuk berdebat tentang kebebasan sekarang. Kita hampir terlambat untuk upacara Misa. Kau mau kita dimarahi Daichi-san lagi?” katanya, mengingatkan.

“Oh, benar,” kata Hinata teringat, lalu tersenyum. “Aku akan segera bersiap.”

“Aku akan menunggumu di ruang makan.” Kata Kageyama. Ia membelai pipi Hinata sesaat sebelum kemudian melepaskan rangkulannya di pinggang ramping Hinata dan beranjak pergi.

“Aku ingin menemukan langit biru,” Hinata tiba-tiba berkata ketika tangan Kageyama baru saja menyentuh kenop pintu. Kageyama menoleh pada Hinata yang kembali menoleh keluar jendela. Dan mata cemerlang Hinata nampak berkilat karena sebuah rasa antusias yang besar. “Jika aku bisa menemukan langit biru itu, aku pasti bisa melihat burung bernama Tork itu, kan?” tanya Hinata kemudian.

“Yah, mungkin.” Jawab Kageyama. Kemudian ia tersenyum dan membuka pintu sambil berkata, “Tapi sebelum kau mencari langit biru itu diluar, mungkin ada baiknya kau mencoba mencarinya di Grey Town dulu. Karena terkadang cahaya bersembunyi di dalam kelabu, kau hanya harus mencarinya dengan lebih teliti lagi.”

“Bicaramu itu seperti kakekku saja.” Kata Hinata menoleh pada Kageyama. Kageyama hanya tersenyum dan beranjak pergi.

Hinata kembali menoleh keluar jendela, memandang setitik cahaya yang masih berusaha menerobos pekatnya awan kelabu. Lalu ia mendengar suara gedoran pintu dan suara Sugawara-san yang berteriak dengan keras di depan kamarnya, terdengar seperti khawatir,

“Hinata, buka pintunya! Kau harus turun dan makan. Kau akan ikut kami ke upacara Misa hari ini, bukan? Hinata, kau dengar aku?”

Namun Hinata mengabaikannya.

~+~+~+~

Bangunan gereja tua yang besar itu masih berdiri dengan kokoh diantara reruntuhan bangunan lainnya. Klasik dan terkesan elegan dengan dominasi warna putih yang mulai memudar. Keindahan yang, entah bagaimana, tetap terjaga dengan baik. Suasana khidmat dan orang-orang yang sedang sibuk berdoa menyambut ketika Sugawara datang terlambat. Sugawara melangkah masuk ke dalam gereja dengan sedikit tergesa-gesa, melewati kursi-kursi kayu panjang yang telah dipenuhi oleh orang-orang yang sedang berdoa, sambil menundukkan kepalanya meminta maaf pada orang-orang yang menatapnya dengan tatapan terganggu. Di barisan kedua dari depan, yang telah dipenuhi oleh teman-temannya dari pasukan gerilya, Nishinoya dan Tanaka menoleh ke belakang dan melambaikan tangan mereka pada Sugawara.

“Sugawara-san, kemari. Kemari.” Kata Nishinoya, menjaga suaranya agar terdengar pelan dan tidak mengganggu upacara Misa yang sedang berlangsung dengan khidmat.

Ketika Sugawara tiba Tanaka menggeser tubuhnya ke samping dan memberikan tempat untuknya.
“Kau terlambat Sugawara-san. Upacara Misa sudah dimulai sejak tadi.” Tanaka berkata setelah laki-laki berambut silver itu duduk disamping Daichi.

Semua teman-temannya menoleh memandang Sugawara yang hanya menggumamkan maaf dan menundukkan kepalanya. Daichi mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang, mencari satu sosok yang seharusnya datang bersama Sugawara.

“Sugawara, dimana Hinata? Bukankah dia seharusnya datang bersamamu?” tanya sang kapten kemudian, mengalihkan pandangannya kembali pada Sugawara yang masih menundukkan kepalanya.

Nishinoya dan anggota lainnya yang ikut menyadari bahwa si mungil berambut orange itu tidak muncul lagi hari ini di gereja menoleh memandang Sugawara yang akhirnya mengangkat kepalanya dan mendesah pelan dengan sedih. Sebelum Sugawara menjawab, Tsukishima yang duduk disamping Yamaguchi berdecak pelan dan berujar dengan nada datar dan wajah bosannya yang khas,

“Sepertinya si bodoh itu menghilang lagi.”

“Tadi Hinata datang bersamaku. Aku yakin dia berjalan di sampingku, tapi ketika aku menoleh Hinata sudah menghilang. Aku sudah mencarinya, tapi….aku tidak berhasil menemukannya. Maafkan aku.” kata Sugawara. Wajahnya nampak cemas sekali.

Daichi mendesah dan mengalihkan pandangannya ke depan, berusaha menyembunyikan kecemasan yang juga terlukis di wajahnya. “Kita akan mencari Hinata nanti. Dia akan baik-baik saja, kurasa.” Katanya.

Tanaka mendengus.
“Yang benar saja? Sejak kejadian itu Hinata menjadi tidak baik-baik saja, tahu? Dia lebih mirip mayat hidup. Mengurung diri di kamar dan terkadang selalu menghilang entah kemana. Sekarang, setelah Sugawara-san berhasil membuat Hinata keluar dari kamarnya, Hinata malah menghilang lagi. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Bagaimana jika dia ditangkap oleh tentara Aoba Josai?” katanya mulai panik.

Mata Nishinoya melebar, ikut merasa panik.
“Tidak! Tidak! Kita harus segera menyelamatkan Hinata, Daichi-san!” serunya pada sang kapten, membuat Sugawara menjadi bertambah cemas.

Daichi menggeram kesal dan nyaris berteriak jika tidak segera teringat bahwa kini mereka sedang berada di gereja dan sedang ditengah-tengah upacara Misa yang khidmat. Maka ia hanya memukul kepala dua anggotanya yang paling ribut itu dan berkata pelan dengan nada kesal yang tertahan,

“Jangan bodoh! Perang sudah berakhir. Tidak ada lagi tentara Aoba Josai di kota ini. Hinata pasti sedang ingin pergi ke suatu tempat. Dia akan baik-baik saja.” Lalu ia meraih tangan Sugawara dan menggenggamnya dengan lembut, meredamkan kecemasan yang sedang dirasakan oleh laki-laki berambut silver itu. “Dia pasti akan segera kembali nanti.” Tambahnya kemudian.

Nishinoya dan Tanaka yang merigis kesakitan akhirnya memilih untuk menutup mulut mereka, tidak ingin merasakan amarah sang kapten lagi. Asahi yang sejak tadi hanya diam tiba-tiba berkata dengan pandangan menerawang,

“Mungkin…Hinata masih mencari langit biru. Bukankah Hinata pernah mengatakan bahwa dia ingin menemukan sesuatu di langit biru dan menunjukkannya pada Dia ? Tapi tidak pernah ada langit biru di Grey Town ini.”

Nishinoya yang duduk di dekat Asahi menoleh pada laki-laki yang selalu mengikat rambut panjangnya itu, namun ia tidak mengatakan apapun. Dan semua orang di barisan kedua itu hanya diam dengan sedih ketika Asahi kembali berkata dengan pandangan yang masih menerawang jauh,

“Sudah hampir empat tahun. Tidak terasa ya…”

Yamaguchi yang sejak tadi hanya duduk diam dan mendengarkan dengan tenang pembicaraan teman-temannya itu menoleh ketika ia mendengar Tsukishima yang duduk disampingnya tertawa kecil. Entah apa yang ditertawakan oleh laki-laki bertubuh tinggi itu, Yamaguchi tidak mengerti. Dan untuk sesaat, hanya sesaat, Yamaguchi berani bersumpah bahwa sahabatnya itu terasa berbeda ketika dia berbisik pelan, entah pada siapa,

“…….sang raja sudah kalah……”

Dan senyuman yang tiba-tiba terukir di bibir Tsukishima itu membuat Yamaguchi merinding. Khawatir jika saja sahabatnya itu mungkin sedang kerasukan sesuatu, Yamaguchi mengulurkan tangannya dan menyentuh lengan Tsukishima.

“Tsukki?” Ia mencoba memanggilnya.

Tsukishima mengangkat kepalanya. Senyuman itu menghilang dan wajah tampan itu kembali dengan ekspresi datar dan bosannya yang khas. “Apa?” tanyanya, menoleh pada Yamaguchi.

“Tidak, hanya…kenapa kau tiba-tiba tertawa? Apa kau teringat sesuatu yang lucu?” tanya Yamaguchi.

Tsukishima tersenyum kecil.
“Ah? Ya…tiba-tiba saja aku teringat sesuatu yang lucu.” Jawabnya, mengalihkan pandangnya ke depan.

“Apa itu?” tanya Yamaguchi lagi, penasaran. “Boleh aku tahu?”

“Bukan sesuatu yang penting.” Jawab Tsukishima, lalu menguap dengan bosan. “Ah..ini membosankan.”

Daichi dan anggota lainnya menoleh ketika Tsukishima tiba-tiba berdiri dan beranjak pergi sambil berkata, “Aku pergi duluan.”

Nishinoya dan Tanaka berusaha memanggil Tsukishima, namun laki-laki bertubuh tinggi itu terus melangkah pergi, tidak peduli pada upacara Misa yang belum selesai. Daichi hanya mendesah dan membiarkan Tsukishima pergi. Sementara Yamaguchi terus menatap sosok tinggi Tsukishima yang kemudian menghilang dibalik pintu besar gereja. Ia tidak mengerti, tapi entah kenapa Yamaguchi merasa bahwa sahabatnya itu menyembunyikan sesuatu.

‘Mungkin hanya perasaanku saja….’, pikir Yamaguchi.

Ketika Yamaguchi mengalihkan pandangannya kembali ke depan ia mendengar Sugawara yang berbicara pada Daichi dengan sedih, terdengar putus asa, “Sampai kapan kita akan membiarkannya, Daichi? Hinata… aku khawatir dia akan benar-benar menjadi gila jika seperti ini terus. Tidakkah menurutmu sebaiknya kita memberitahu Hinata bahwa—“

“Akan tiba waktunya nanti kita akan memberitahu Hinata yang sebenarnya,” Daichi memotong perkataan Sugawara dengan cepat. Ia menggengam tangan Sugawara semakin erat, memberinya keyakinan dan ketenangan. “Untuk saat ini, kita hanya bisa menjaganya…seperti yang kita janjikan dulu pada Dia.”

Dan Sugawara hanya terdiam. Begitu juga dengan Yamaguchi yang menundukkan kepalanya dengan sedih.

Tbc.

4 thoughts on “Light In Grey Town / #1

  1. kak little!!!!!

    saya curiga!!!!!! “Dia” itu siapa????? hinata stress??? ok makin curga, tapi simpen dulu kecurigaannya

    kak masih belum move on nih dari KyuMin😄 ada 2 kesalahan nama yg harusnya Hinata menjadi Sungmin :3 di paragraf 1 baris ke 2 dan paragraf yg awalnya “Kageyama termanggu sesaat memandang Sungmin yang masih saja memandang keluar jendela…….”

    ditunggu kelanjutannya :3

  2. setelah skian lama kaga baca ffmu little min (trakhr baca yg mr. perfect) bahasa ffmu bagus… tidak d ragukan lagi…

    dan akhrnya kamu muncul dg cast slain kyumin.. (berharap nti bkalam bkin akafuri) huhahahahah…

    ngeri dah, gmna klo ‘dia’ itu sbnernya kageyama.. trus kageyama yg ngomong sma dia itu cuma ilusi hinata aja. krna klo kageyama ada psti dia bakalan k gereja brng suga sma hinata. Pleaselah little min ff kagehina awal2 bgini udh romanromannya sedih gk bres gitu. dan tsuki bilng sang raja telah kalah pula. sang raja kan identik sma kageyama… dan itu tsuki psti bkalan nemuin hinata kan??

    semoga kageyama masih hidup…. meski yg suka kagehina dikit little min, ff ini kudu bngt d lanjutkan… saya menunggu kakak…

    tapi bneran dah, ff kagehina itu dkit bngt dah.. mash mnding ff akafuri…

    nyosh d tunggu chap slanjutnya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s