My Little Lover

10410593_755733004462002_2869945699298184908_n

Pairing : KageHina || Genre : Fluff || Length : Drabble || Warning : BL, shounen-ai || Disclaimer : Haikyuu belongs to Haruichi Furudate, story belong to me || Summary : Pernah dengar kalimat ‘Hati-hati dengan harapanmu’? mungkin kalimat itu berlaku bagi Kageyama. Kageyama berharap jika saja Hinata berubah menjadi seekor kucing kecil. Kira-kira bagaimana jadinya ya?

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

~Presented by@Min kecil~

Terkadang, setiap kali melihat Hinata Shoyo dengan tingkahnya yang selalu kelewat hyperactive itu Kageyama selalu berharap, jika saja lelaki berambut orange itu berubah menjadi seekor kucing kecil. Kira-kira bagaimana jadinya ya? Apakah dia akan tetap berisik dan tidak bisa diam? Apakah dia akan tetap menarik dan imut?

.
.
.

Mahkluk kecil itu hanya seukuran cangkir, memiliki telinga dan ekor kucing berwarna orange, memakai kaos kecil berwarna putih dan celana kecil berwarna hitam, dan tidak bisa diam. Terus berlari-lari diatas meja dapurnya seperti anak kecil. Sesekali dia terjatuh, namun kemudian dengan cepat dia berdiri dan kembali berlari. Di depan meja dapur Kageyama berdiri memperhatikan makhluk kecil yang ia ketahui bernama Hinata Shoyo itu. Benar, si kecil bernomor punggung 10 dari klub voli SMA Karasuno itu. Benar, Hinata Shoyo, sang kekasih hiperaktifnya itu telah berubah menjadi kucing kecil. Seperti yang pernah Kageyama harapkan.

Entah bagaimana Hinata bisa berubah menjadi kecil seperti ini. Yang Kageyama ingat malam itu Hinata datang menginap di rumahnya. Mereka menonton DVD rekaman pertandingan voli hingga tengah malam, bercumbu sebelum tidur, dan ketika melihat wajah tidur Hinata dalam pelukannya sekali lagi Kageyama berharap di dalam hatinya…jika saja laki-laki berambut orange itu berubah menjadi seekor kucing kecil. Tentu saja itu hanya sekedar harapan, namun siapa sangka keajaiban benar-benar terjadi. Saat terbangun di pagi hari Kageyama menemukan mini Hinata duduk di depan wajahnya, dengan kedua telinga kucing yang berdiri tegak diatas kepala berambut orange-nya dan ekor yang berwarna senada dengan warna rambutnya yang bergerak-gerak riang.

Kini, sudah dua hari Hinata berubah menjadi kecil. Dan sudah dua hari pula mini Hinata tinggal di rumah Kageyama. Beruntung orang tua Kageyama sedang pergi keluar kota selama seminggu, jadi mini Hinata bisa bebas berlarian di rumahnya. Kageyama pun telah membuat alasan pada orang tua Hinata, sekolah sedang libur dan klub voli Karasuno sedang tidak ada pertandingan, hanya sekedar latihan biasa. Kageyama bisa mencarikan alasan untuk ketidakhadiran Hinata di klub untuk beberapa lama, sementara ia berusaha mencari cara untuk mengembalikan Hinata menjadi normal kembali. Jadi mereka bisa aman…untuk saat ini.

Mata hitam Kageyama terus mengikuti mini Hinata yang kini sedang memanjat masuk ke dalam keranjang yang berisi botol-botol saos, mayones dan sebagainya, berusaha mencari sesuatu untuk di makan. Mini Hinata sudah lapar kembali, padahal baru beberapa jam lalu ia menghabiskan sepotong roti. Untuk ukuran mini Hinata yang tubuhnya hanya sebesar cangkir, menghabiskan sepotong roti sendirian itu sudah luar biasa kan? Kageyama memperhatikan, sejak berubah menjadi kucing kecil seperti ini Hinata menjadi lebih banyak makan. Itu membuat Kageyama bertanya-tanya, dengan tubuh kecil seperti itu bagaimana Hinata bisa menghabiskan makanan-makanan yang ukurannya jauh lebih besar dari tubuhnya itu seorang diri?

“Hey Hinata, itu mayones. Jangan makan itu.” Kata Kageyama ketika mini Hinata memanjat botol mayones dan berusaha membuka penutupnya.

Namun mini Hinata tidak mendengarkan, ia masih berjuang keras membuka tutup botol mayones tersebut. Ketika akhirnya ia berhasil membuka tutup botol mayones tersebut Kageyama mengangkat tubuhnya dan membawanya menjauh dari botol mayones. Dengan hati-hati Kageyama mengangkat tubuh mini Hinata dan meletakannya kembali di atas meja dapur. Mini Hinata berdiri dan mendongakkan kepalanya menatap Kageyama yang membungkukkan tubuhnya.

“Kageyama, lapar~” kata mini Hinata seraya mengulurkan kedua tangan kecilnya pada Kageyama, meminta sesuatu untuk dimakan. Kedua telinga kucingnya menunduk lesu.

Kageyama mendesah pelan sesaat.
“Aku akan mencarikan sesuatu untukmu. Tunggu sebentar.” Katanya, lalu menegakkan tubuhnya dan beranjak pergi.

Tidak lama Kageyama kembali dengan membawa sebutir apel merah. Melihat apel di tangan Kageyama, kedua telinga kucing mini Hinata segera berdiri tegak. Mini Hinata tersenyum senang dan menunjuk ke arah tempat cuci piring. Mengerti dengan maksud kekasih kecilnya, Kageyama meletakkan apel merah itu di bawah kran. Mini Hinata berlari ke arah tempat cuci piring dan dengan hati-hati meluncur turun ke dalam wastafel. Ia berlari mendekati apel merah yang diletakkan dibawah kran oleh Kageyama dan mendongakkan kepalanya menatap buah yang berukuran lebih besar dari tubuh mungilnya itu dengan mata yang berbinar.

“Kageyama, Kageyama~” panggil mini Hinata, menoleh pada Kageyama seraya menunjuk kran diatasnya. “Nyalakan. Nyalakan.”

Kageyama membuka sedikit kran air di wastafel dan air pun mulai mengalir turun membasahi apel merah di bawahnya. Percikan-percikan airnya membasahi mini Hinata yang mulai sibuk membersihkan apel merah tersebut. Namun mini Hinata terus menggosok setiap bagian dari apel merah dengan baik, tidak peduli pada tubuhnya yang kebasahan. Sementara didepan wastafel Kageyama hanya memperhatikan sambil tersenyum. Selesai membersihkan apel di bawah kran air, mini Hinata melanjutkan dengan kembali membersihkan apel tersebut di dalam mangkok berisi air yang telah disiapkan oleh Kageyama diatas meja dapur. Dengan teliti dan riang mini Hinata membasahi apel itu dengan air dan kembali menggosoknya. Terus menggosoknya dan tidak peduli pada tubuhnya yang basah. Setelah dirasa bersih mini Hinata berhenti, lalu memanjat keluar dari dalam mangkok yang berisi air.

“Kageyama, apelnya…” Kata mini Hinata menoleh pada Kageyama seraya menunjuk apelnya yang masih ada di dalam mangkok yang berisi air.

Kageyama mengambil apel dari dalam mangkok. Ia membawa apel dan mini Hinata ke meja makan, lalu dengan hati-hati meletakkan kekasih kecilnya di samping apel merahnya di atas meja. Kekasih kecilnya itu tersenyum senang dan mulai sibuk memakan apel merah yang telah bersih itu. Kageyama menarik kursi dan hanya duduk memperhatikan sambil berpikir, betapa imutnya. Sejak Hinata berubah menjadi kucing kecil, kadar keimutan laki-laki berambut orange itu justru makin meningkat. Mini Hinata tetap tidak bisa diam, meski tidak seberisik seperti biasanya. Tetap bodoh dan semakin polos layaknya anak kecil. Dan meski menjadi kucing, Hinata tidak takut air. Dia suka sekali mencuci makanannya sebelum memakannya, menggosoknya hingga bersih dan tidak peduli meski tubuhnya ikut basah. Juga, makannya banyak sekali.

Setengah apel hampir habis, namun kemudian mini Hinata berhenti makan dan menoleh pada Kageyama yang sedang bertopang dagu memperhatikannya. “Ada apa? Kenapa kau tidak menghabiskan apelmu? Apa kau sudah kenyang?” tanya Kageyama.

Mini Hinata tidak menjawab. Ia memotong apelnya lalu kembali menoleh pada Kageyama.
“Kageyama, aaahhh~” katanya, meminta Kageyama membuka mulutnya.

“Ah?” Kageyama memandang kekasih kecilnya tidak mengerti. Namun ia tetap menurutinya.

Kageyama merendahkan kepalanya dan membuka mulutnya sesuai permintaan kekasih kecilnya. Mini Hinata mengangkat sepotong apel di tangannya lalu berusaha memasukkannya ke dalam mulut Kageyama.

“Bagaimana? Enak?” tanya mini Hinata.

Kageyama mengunyah potongan apel di mulutnya lalu tersenyum.
“Ya, enak sekali. Apel yang dicuci olehmu selalu yang paling enak.” Jawabnya.

Mini Hinata tersenyum gembira. Ekornya bergerak-gerak riang. Kageyama mengambil saputangan di sakunya dan mulai mengeringkan tubuh mini Hinata yang basah. “Tapi kau bisa sakit jika tubuhmu basah seperti ini. Kau harus hati-hati, Hinata.” Katanya seraya mengusap lembut pipi kekasih kecilnya dengan menggunakan sapu tangannya.

Mini Hinata hanya tersenyum gembira dan memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut tangan Kageyama. Lalu ia membuka matanya dan mengulurkan kedua tangannya pada Kageyama. “Kageyama, kemari. Kemari.” Katanya, meminta Kageyama untuk mendekat.

Kageyama berhenti mengeringkan tubuh Hinata dan mendekatkan wajahnya pada kekasih kecilnya. Tiba-tiba mini Hinata mencium ujung hidung Kageyama lalu berkata sambil tersenyum lebar,

“Aku mencintaimu, Kageyama. Sangat mencintaimu~”

Kageyama terpaku mendengarnya. Rona merah segera menjalari wajah tampannya. Dan perasaan senang segera melingkupi dirinya. Ia merasa sangat senang. Memang, ini bukanlah pernyataan cinta Hinata yang pertama untuknya. Namun tetap saja, ia merasa sangat senang. Meski berubah menjadi kucing kecil, Hinata masih tetap saja penuh kejutan. Selalu saja menyatakan perasaannya pada Kageyama dengan tidak terduga. Rasanya ingin sekali Kageyama memeluk Hinata dengan erat dan menciumnya dengan lembut, tetapi kekasih kecilnya pasti akan remuk nanti karenanya. Maka ia hanya tersenyum dan membelai lembut wajah mungil kekasih kecilnya dengan menggunakan jari telunjuknya.

“Ah, sial. Saat ini aku benar-benar ingin memeluk dan menciummu, Hinata. Kapan kau akan berubah kembali menjadi normal?” gerutu Kageyama. Mini Hinata hanya mengerjap, menatap Kageyama. Kageyama melanjutkan, “Aku juga….mencintaimu, Hinata. Sangat mencintaimu.”

Mini Hinata merentangkan kedua tangannya dan beranjak memeluk wajah tampan Kageyama. Dan Kageyama kembali tersenyum. Ketika melihat mini Hinata yang akhirnya tertidur lelap setelah puas menghabiskan satu apel Kageyama tidak bisa berhenti berpikir, betapa imutnya kekasih kecilnya itu. Kucing kecil yang sangat menggemaskan. Namun meski begitu, ia mulai sedikit merindukan Hinata yang normal, kekasih yang bisa ia peluk dengan erat dan ia cium hingga puas. Yah, sampai ia berhasil menemukan cara untuk mengembalikan Hinata menjadi normal kembali, tidak ada salahnya untuk menikmati saat-saat ini.

Dan yah…mungkin, mulai saat ini Kageyama harus mulai berhati-hati dalam membuat harapan.

~Fin~

5 thoughts on “My Little Lover

  1. “Kageyama, lapar~” kata mini Hinata…..

    astagahhh hinata pasti tampang mu minta dimakan pas ngomong kaya gitu T^T
    aduhhh hinata mini imut banget sihhh gemessssssss
    KAGEYAMA TANGGUNG JAWAB LO!!!!!

  2. little min… unyu bngt hinatanya pngn d unyel-unyel masa T.T
    gk kuatlah yaa klo liat hinata bgitu…. imutnya overload… kageyama mah ah harapannya, tp siapa juga yg gk pngn liat hinata mini… hohohojoho… tp ttp sma aja yaa tingkahnya hinata gede sma hinata mini…

    Little min, aku liat ff km ini versi doujin dr bunny x tiger. km terinspirasi dari itu atau bgimana??? hahahaha…

    d tunggu ff ff yg laennya sma ff mr. perfect… itu ff bukn lg krna castnya… tp krna jlan critanya kerennnn… jd aku menunggu… :3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s