The Replacement Wife / chap 5

6757097607_dc329f3e06_z

Pairing : KyuMin / KyuWook || Other cast : Lee Hyukjae aka Eunhyuk, Cho Min Sae & Cho Min Yoo (OC), etc || Genre : Angst, Romance || Length : Chaptered || Warning : BL, Shounen-ai, M-preg || Disclaimer : Remake dari novel yang berjudul sama karya Eileen Goudge, ada perubahan dan tambahan seperlunya || Summary : Ketika kanker menyerangnya kembali, Sungmin merasa tak berdaya membayangkan Kyuhyun, suami yang setia menemaninya berjuang, menjadi orang tua tunggal bagi anak-anak mereka. Karenanya Sungmin bertekad mencari pasangan yang tepat sebagai pengganti dirinya. Tapi apa yang terjadi ketika keinginan terakhir berubah menjadi ‘hati-hati dengan keinginanmu’?

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

~Presented by@Min kecil~

Chapter 5

“Oh Tuhan, dari mana kau belajar memasak seperti ini?” Kyuhyun berseru ketika akhirnya ia kenyang.

Ryeowook berseri-seri seakan Kyuhyun membayarnya dengan pujian paling besar di dunia.
“Cara yang biasa,” jawabnya. “Sekolah memasak, dan diteriaki koki-koki di dapur restoran tempatku bekerja dulu.”

Kyuhyun memperhatikan ketika Ryeowook menaburkan Parmesan di atas pinggan berisi involatini terung. Pemuda ini lebih cocok disebut dengan cantik. Wajahnya cute. Rambutnya, berwarna cokelat terang seperti sirup gula. Serta pakaian sederhana yang senada: kemeja katun putih polos dan celana panjang hitam sederhana yang dipasangkan dengan sepatu Crocs warna hijau limau yang mengintip dari bawah lipatan celana. Tapi mungkin, pikir Kyuhyun, karena Ryeowook tak bersikap untuk mencari kesan itulah yang membuatnya terlihat segar. Kyuhyun memperhatikan wajah Ryeowook dan sesaat terpaku pada matanya, mata yang sungguh menjadi fitur sempurna. Tapi senyumannyalah yang mempesona Kyuhyun: senyum yang membuatnya merasa penuh harap ketika tak punya alasan untuk berharap, bagaikan sorotan cahaya yang menembus torowongan tambang yang runtuh.

“Apa kau pernah melawan mereka?” tanya Kyuhyun.

“Tidak. Aku dikenal sebagai orang ceroboh, tapi aku bukan yang suka bunuh diri.” Jawab Ryeowook.

“Tahun pertamaku magang seperti itu,” ingat Kyuhyun. “Lebih baik kau kuat atau nanti hancur.”

“Dan keterampilan menggunakan pisau dengan baik,” kata Ryeowook. “Kau ahli bedah?”

“Bukan, mengapa?”

“Tanganmu, seperti tangan ahli bedah.”

Kyuhyun menunduk menatap kedua tangannya yang terkepal di atas meja.
“Aku pernah berpikir mengambil ilmu bedah,” katanya pada Ryeowook. “tapi itu berarti empat tahun lagi tinggal di asrama. Kau harus memutuskan untuk pindah ke suatu tempat atau kau takkan pernah melihat keluargamu.”

Walau aku jarang melihat mereka, tambah Kyuhyun dalam hati.

“Jadi, kau dokter apa?” tanya Ryeowook.

“Pada dasarnya aku ahli telinga, hidung, dan tenggorokan,” jawab Kyuhyun. “Spesialisasiku adalah otolaringologi, tapi sebagian besar orang tak tahu apa keharusan bidang itu atau bahkan bagaimana menyebutkannya, jadi terkadang aku harus bersusah payah menjelaskan.”

Ryeowook meraup biji kopi lalu memasukkannya ke mesin kopi berukuran komersial.
“Yah, sekarang aku tahu harus menelepon siapa jika nanti aku sakit telinga. Walau aku tak dapat mengingat kapan terakhir kali aku pergi ke dokter. Aku tak tahu itu karena aku memang selalu sehat atau karena aku memang tak bisa jatuh sakit.”

Kyuhyun tiba-tiba merasa sedih ketika memikirkan Sungmin.
“Bersyukurlah.” Ujarnya.

Mendengar sesuatu dalam suara Kyuhyun, Ryeowook berhenti dan mengamatinya. Mata cokelatnya terpaku pada pria tampan itu dengan intensitas yang membuat Kyuhyun agak tak nyaman. “Dengar,” akhirnya Ryeowook berkata. “kau tidak kenal aku jadi ini sama sekali bukan urusanku, tapi tak mampu mencegah menyadari kau tampak agak…tegang. Apa ada hal lain yang bisa kuambilkan untukmu? Kurasa di sini ada brendi.”

Kyuhyun menatap Ryeowook dan bertanya-tanya, apakah tampak begitu kentara? Atau apakah Ryeowook lebih tanggap dari kebanyakan orang? Yang mana pun itu, Kyuhyun dilucuti oleh keterusterangan Ryeowook dan tatapan prihatinnya yang sungguh-sungguh.

“Aku tak bisa menolak segelas brendi,” ujarnya.

Ryeowook menyorotkan senyum ceria, kemudian menghabiskan beberapa menit dengan mengorek-ngorek kardus sampai menemukan apa yang dia cari. Dari kardus lain dia mengeluarkan dua gelas anggur dan menuangkan sedikit brendi ke dalam masing-masing gelas. Diberikannya satu gelas pada Kyuhyun, lalu mereka bersulang.

Kyuhyun menyesap sedikit-sedikit. Brendi, bersama makanan yang baru disantapnya, menghangat di dalam tubuh dan mengendurkan ketegangan di otot-otonya. “Terima kasih,” katanya. “Aku sudah merasa lebih baik.”

“Tidak bermaksud menentang para dokter, tapi makanan dan anggur biasanya obat terbaik untuk penyakit apapun.” Kata Ryeowook saat berdiri bersandar pada konter. “Jadi, Kyuhyun,” tanyanya setelah Kyuhyun menandaskan isi gelas, “kau mau membicarakannya? Lagi-lagi, tak satu pun dari itu yang merupakan urusanku, jadi silahkan saja bilang agar aku enyah dari hadapanmu. Kau bukan yang pertama.”

Kyuhyun menunduk menatap gelas kosong di tangannya, dan menit berikutnya mendapati dirinya mencurahkan isi hati, yang entah bagaimana membuat dirinya sendiri terkejut. Mungkin brendi membuat lidahnya licin. Atau mungkin itu karena kehadiran Ryeowook.

“Ini masalah Sungmin,” Kyuhyun berkata. “Aku tak tahu apa dia memberitahumu, tapi dia punya…masalah kesehatan.”

Senyum Ryeowook memudar, digantikan oleh tatapan prihatin.
“Aku ikut sedih mendengarnya. Dia tak mengatakan apa-apa padaku, tapi dia memang begitu. Selama tiga tahun aku mengenalnya, dia tak pernah mengeluhkan apa pun, tidak bahkan ketika dia mengidap kanker.” Ryeowook berhenti sejenak, kemudian terkesiap. “Oh Tuhan. Apakah itu? Apakah kankernya muncul lagi?”

Kyuhyun mengangguk sedih, dan wajah Ryeowook mengerut karena cemas.
“Ketika aku bertanya apa yang terjadi, kupikir mungkin dia mengalami hari buruk di kantor. Aku tak pernah menyangka…” suara Ryeowook terputus, wajahnya merah padam. “Aku tak bermaksud mengangkat topik menyedihkan ini.”

“Sebenarnya, lega rasanya mencurahkannya,” kata Kyuhyun. “Kami tak memberitahu banyak orang.”

Ragu-ragu, Ryeowook bertanya,
“Bagaimana prognosanya?”

“Tidak baik.” Jawab Kyuhyun sedih.

“Oh Tuhan, aku ikut prihatin.” Air mata Ryeowook merebak.

“Itu bukan penyataan kematian,” buru-buru Kyuhyun menambahkan, walau lebih untuk menyakinkan diri sendiri ketimbang Ryeowook. “Kami belum memutuskan pilihan.”

Kyuhyun belum menyerah untuk berharap bahwa istrinya akan kembali berakal sehat, walau setiap hari yang berlalu membuat peluang kecil untuk sembuh semakin kecil.

“Tetap saja…pasti sulit.” Kata Ryeowook.

“Memang,” kata Kyuhyun lirih. “Lebih untuknya daripada untukku.”

“Bagaimana dia menerimanya?”

“Secara mengejutkan, dia menerimanya dengan baik, mempertimbangkannya.”

“Sungmin memang hebat,” kata Ryeowook. “Jujur saja, aku tak tahu bagaimana dia melakukan itu. Jika jadi dia, aku akan sangat berantakan. Aku takkan pernah meninggalkan dapur. Itulah yang kulakukan ketika stress, aku memasaka. Dulu pernah aku memasak begitu banyak makanan hingga aku harus mengundang semua orang di apartemenku agar makanannya tak terbuang percuma. Semua itu karena kakakku yang bodoh memutuskan untuk operasi plastik dan hampir tewas di meja operasi.”

“Sekarang dia bagaimana?”

“Dia baik-baik saja,” kata Ryeowook sambil melambaikan satu tangannya. “Kakakku bilang dia jadi kapok operasi plastik lagi, tapi aku akan percaya jika dia mengucapkan itu di usia enam puluh. Meski aku berharap pada Tuhan, bahwa kakakku itu bersungguh-sungguh, karena aku tak pernah mau mengalami hal seperti itu lagi. Untuk nasihat saja: Jangan pernah membuat saus marinara ketika kau ketakutan. Jadinya tak enak dilihat, percayalah padaku.”

“Paling tidak kau punya sesuatu untuk dilampiaskan.” Kata Kyuhyun seraya berpikir, apa yang dimilikinya selain banyak kepahitan?’

Ryeowook mencondongkan tubuh untuk menaruh tangan di lengan Kyuhyun, dan berkata dengan lembut, “Kalian saling memiliki, itulah sesuatu.”

Seolah sebuah pengingat, Kyuhyun bangkit berdiri.
“Omong-omong, aku harus kembali pada Sungmin. Dia akan bertanya-tanya mengapa aku belum kembali.” Katanya, menyadari dia sedang berlama-lama, dan bukan hanya karena dia enggan kembali ke pesta. Bersama Ryeowook membuatnya tenang dalam cara yang tak bisa dijelaskan. Mereka baru saja bertemu, tapi Kyuhyun merasa seolah-olah sudah mengenalnya seumur hidup.

“Terima kasih. Kau sudah sangat baik,” kata Kyuhyun saat menjabat tangan Ryeowook, yang mungil tapi kuat.

“Dengan senang hati.” Ryeowook mengeluarkan kartu nama dari saku dan memberikannya pada Kyuhyun. “Jika kau butuh sesuatu, jangan ragu-ragu menelepon. Aku bekerja di jam-jam aneh, jadi kau dapat menghubungiku bahkan ketika semua orang sudah tidur. Kadang-kadang cukup membantu hanya dengan bicara pada bartender.”

Ryeowook tersenyum simpul. Kyuhyun menatap kartu nama di tangannya. Ia sudah terbiasa mendapati banyak wanita dan laki-laki menyelipkan nomor telepon padanya, dan mencoba mendekatinya. Biasanya ia berpura-pura untuk tidak memperhatikan, karena itu membuatnya malu. Tapi yang dia rasakan kali ini berbeda. Ia tahu, Ryeowook hanya mencoba untuk bersikap baik. Tapi, ia juga tahu, bahkan saat menyelipkan kartu itu ke dalam dompet, ia takkan menghubungi pemuda cute itu. Istrinya mungkin akan salah paham.

Kyuhyun tersenyum getir pada ironi itu saat berjalan kembali ke pesta.

~+~+~+~

Ketika Sungmin terbangun pagi itu ia merasa seolah-olah menelan aspirin tanpa air yang menyangkut di tenggorokannya. Pemikirannya mengenai suaminya dengan orang lain, walau hubungan yang tak mengarah ke pernikahan, membuatnya ingin muntah. Dia hampir menjadi pengecut dan membatalkan janji makan siang dengan Victoria. Hanya setelah menangis hebat dan mandi air hangat lama-lama, serta secangkir kopi kental, dia menemukan keberaniannya untuk terus maju.

Sungmin sudah mempunyai firasat bagus mengenai Victoria sejak awal mereka bertemu beberapa bulan lalu di sebuah acara penggalangan dana. Dan setelah mengamati guru menarik berusia 30 tahun itu, Sungmin menyelipkan kartu nama ke tangan Victoria. Victoria memiliki semua kualifikasi yang tepat. Dia pintar, sikapnya manis dan baik, dan cukup cantik tanpa berusaha menjadi penggoda, dengan wajah polos dan rambut cokelat terang dengan potongan rambut yang indah. Victoria menyukai anak-anak dan selalu rajin ke gereja, juga aktif dalam beberapa kegiatan amal. Dia datang dari latar belakang yang solid. Dan yang terpenting, dia tak terburu-buru menikah lagi.

Tapi tak satu pun dari itu yang menjadikan ini lebih mudah.

Kau tak boleh egois. Ini bukan tentang apa yang kau butuhkan tapi tentang apa yang terbaik untuk keluargamu, katanya, menguliahi diri sendiri berulang kali.

Sekarang, saat duduk berhadapan dengan wanita yang mungkin akan menjadi istri suaminya nanti di Wiki Cafe, Sungmin menghela napas dalam-dalam sebelum berkata, “Aku punya seseorang yang mungkin tepat untukmu.”

Victoria yang duduk di seberang Sungmin menatapnya resah.
“Siapa bilang aku mencari pasangan?” jawabnya, tapi Sungmin dapat melihat kilat penasaran, mungkin secercah harapan, dalam mata hitam wanita itu.

Sungmin tersenyum untuk menenangkan.
“Kau pasti sudah tahu ketika aku mengajakmu makan siang, ini bukan semata-mata ramah tamah.”

Victoria mengangguk perlahan.
“Oke. Aku mendengarkan.”

“Ini, hmm, sedikit rumit.” Sungmin berhenti sejenak untuk menyesap cappuccino-nya. “Dengarkan aku dulu sebelum kau mengambil keputusan, hanya itu yang kuminta.”

“Cukup adil.”

“Dia sudah menikah…” lanjut Sungmin. Melihat ekspresi terkejut Victoria, Sungmin mengangkat tangan untuk menahan kalimat protes yang membentuk di ujung bibir Victoria, “….tapi istrinya tahu tentang ini. Sebenarnya ini ide istrinya. Dia sakit parah.”

Tatapan terkejut Victoria mengenyahkan rasa simpatinya.
“Oh Tuhanku, mengerikan!”

“Benar. Itulah mengapa penting baginya menemukan orang yang tepat untuk, hmm, menggantikan tempatnya.” Sungmin menjaga suaranya terdengar mantap.

“Dan menurutmu aku dapat menjadi orang itu?” Victoria menggeleng. “Tidak, maaf, ini mustahil.”

Sungmin tahu ini akan sulit. Victoria orang yang sangat bermoral, dia juga pernah terluka oleh mantan suaminya, yang berselingkuh, hingga menurutnya menghancurkan rumah tangga orang adalah perbuatan yang menjijikan. Tapi, Sungmin harus menyakinkan bahwa Victoria akan menyelamatkan suatu keluarga, bukan menghancurkannya.

“Aku tidak membicarakan seks. Hanya pertemanan, untuk sementara.”

Victoria menatap Sungmin bingung.
“Aku yakin mereka pasti punya teman. Mengapa mereka harus membutuhkanku?”

“Kau akan menjadi teman yang mengiriminya kue dan menjaga anak-anak.”

“Mereka punya anak? Oh Tuhan.” Victoria kian memucat.

“Ya, dua—laki-laki dan perempuan. Mereka berdua anak-anak yang hebat.” Suara Sungmin tercekik, lalu memulihkannya kembali dengan segelas air.

“Itu lebih buruk.”

“Mengapa? Kau ‘kan menyukai anak-anak.”

“Itu dia intinya. Aku akan mudah terpedaya.”

“Apakah akan sangat mengerikan?”

“Ya, jika kau adalah aku. Aku dapat berakhir dengan pria yang sudah menikah tapi tidak kucintai hanya karena aku tergila-gila dengan anak-anaknya.”

“Aku tidak membicarakan tentang pernikahan. Walau pada akhirnya, jika kau dan dia memang harus meningkatkan perasaan satu sama lain…” sejenak Sungmin bimbang. Dihelanya napas untuk mendukung diri dan mengendurkan simpul yang ada di tenggorokannya sebelum melanjutkan, “dan pernikahan tentu akan menjadi pilihan. Dengar, aku sadar ini berlebihan. Dan ini juga resiko besar bagimu. Namun kau-lah yang benar-benar dibutuhkan keluarga ini, Victoria. Dan walau kau tak siap berkencan lagi, tapi mungkin ini juga yang kau perlukan.”

“Aku—aku tidak tahu,” Victoria tergagap.

“Mengapa kau tidak bertemu mereka dulu sebelum mengambil keputusan.”

Victoria tampak bimbang, tapi setelah beberapa saat dia menggeleng.
“Tidak, kurasa tidak.”

“Apakah akan menyakitkan? Takkan ada kewajiban.”

“Mungkin tidak, tapi aku akan berakhir dengan perasaan lebih prihatin untuk wanita malang itu.”

“Dia tak menginginkan rasa kasihanmu. Dia menginginkan bantuanmu,” Sungmin berhenti sejenak, berjuang menahan tawa getir yang lolos dari bibirnya. “Dan lagi, istrinya bukanlah seorang wanita. Tapi seorang laki-laki.”

Victoria tampak sedikit terkejut, dan diam sejenak.
“Oh. Dan itulah tepatnya mengapa aku perlu menghindar. Kau sudah mengategorikanku, dan aku memberimu kesan yang salah,” katanya kemudian pada Sungmin, tersenyum sedih. “Aku selalu menjadi orang pertama yang turun tangan kapan pun dibutuhkan. Tapi sukarela menyajikan makanan untuk tunawisma di hari Thanksgiving itu satu hal dan berhubungan dengan duda dan anak-anaknya itu sesuatu yang sama sekali lain. Aku tak butuh komitmen semacam itu saat ini. Jika dan ketika aku menikah lagi, itu pasti karena cinta.”

“Tapi bukankah kau sebelumnya menikah karena cinta?”

Komentar Sungmin membuat Victoria mengernyit lalu menunduk.
“Benar,” katanya lirih. “Tapi aku tak tahu dia seperti apa ketika menikah dengannya.”

“Alasan lain untuk mempertimbangkan pergi ke arah yang berbeda. Bagaimana kau tahu kau takkan mencintai pria ini?”

Ketika mengatakan kalimat-kalimat itu membuat Sungmin semakin terluka, tapi dia harus terus menatap masa depan. Dia ingin Kyuhyun tahu apa arti kebahagiaan setelah dia tiada dan agar anak-anaknya tumbuh di rumah yang bahagia. Dia menelan ludah dengan susah payah, berjuang untuk mengatasi air mata yang mengancam akan tumpah.

Victoria tanpa sadar meraba liontin hati Tiffany yang menggantung pada rantai di lehernya, mengerutkan dahi saat merenung. Rasa sakit atas kenangan itu tergores di wajahnya. “ Itulah bagian yang membuatku cemas,” ujarnya. “Jika itu terjadi, bagaimana aku bisa yakin bahwa itu cinta dan bukan hal lain? Setelah mengetahui mantan suamiku selingkuh dariku, aku berhenti mempercayai instingku sendiri.”

“Hanya karena kau pernah salah memilih bukan berarti kau akan salah di saat berikutnya.”

“Bagaimana dengan suaminya, aoa pendapatnya tentang ini semua?” Victoria bertanya ragu-ragu.

“Dia tak terlalu tertarik dengan gagasan ini pada awalnya seperti yang kaubayangkan.” Sungmin mengulas senyum hambar saat memikirkan pertengkaran sengit beberapa minggu belakangan ini dengan Kyuhyun. Tak pernah ada kemenangan setelah bersusah payah atau menderita. “Dia hanya melakukan ini untuk keluarganya. Baginya, ini adalah bukti cinta.”

“Kedengarannya dia pria baik,” komentar Victoria, suaranya sedih.

“Memang.” Sungmin berbicara lembut.

“Kau terdengar seakan-akan mengenalnya dengan sangat baik.”

Sungmin menatap Victoria.
“Seperti itulah. Dia suamiku.”

Victoria membelalak.
“Oh Tuhan. Maksudmu kau—?”

“Aku mengidap kanker.”

Victoria menatap Sungmin tak percaya.
“Tapi…tapi kau tak terlihat sakit!”

“Aku tahu. Ironis, ya?”

“Tuhan, aku merasa sangat jahat. Aku tak tahu. Mengapa kau tak mengatakan sesuatu?”

“Aku tak mau kau jadi berat sebelah.”

“Maafkan aku jika tidak sensitif.” Air mata Victoria mengambang di pelupuk mata. “Ada yang bisa kubantu?”

“Ya. Bertemulah dengan keluargaku.”

“Kau benar-benar serius?”

Serius setengah mati, Sungmin hampir mengatakan itu, tapi tak ada waktu untuk humor keji.
“Jika kau bertanya apakah begini caraku membayangkan kehidupanku berubah, jawabannya tidak. Tapi ternyata beberapa hal tak selalu seperti yang kauharapkan. Aku hanya melakukan yang terbaik. Aku tidak menyukainya. Faktanya, aku benci melakukan ini. Tapi aku tak dapat membiarkan kebutuhanku sendiri mengalahkan apa yang terbaik untuk keluargaku. Maka disinilah kau berperan.”

Victoria menepuk-nepuk air mata dengan serbet.
“Mengapa aku?”

“Kau dan Kyuhyun akan menjadi pasangan yang cocok. Dan anak-anakku akan mencintaimu.”

Victoria tersenyum simpul.
“Siapa nama mereka?”

“Min Sae dan Min Yoo. Min Sae empat belas tahun dan Min Yoo baru saja sembilan tahun.” Seulas senyum tersungging saat Sungmin berbicara. Sungmin selalu tersenyum ketika membicarakan anak-anaknnya. “Kau akan mencintai mereka. Mereka anak-anak hebat.”

“Pasti ini pun sulit untuk mereka.”

“Benar. Tapi mereka tak tahu seluruh kenyataannya. Mereka tak perlu tahu sampai benar-benar perlu.”

Victoria meletakkan tangan di atas tangan Sungmin.
“Aku hanya dapat membayangkan apa yang harus kaulalui.”

Sungmin merasakan rasa syukur yang amat dalam karena mengenal wanita baik hati dan perhatian ini. Tapi mengetahui bahwa dia telah memilih orang yang tepat tidak membuat sakit hatinya berkurang. “Ini memang sulit,” ujarnya. “Oleh karena itu penting bagi keluargaku berada di tangan yang cakap setelah aku pergi. Apa kau mau melihat foto mereka?”

Victoria mengangguk perlahan dan Sungmin dapat melihat wanita itu melunak. Sungmin mengeluarkan selembar foto dari dompet dan memberikannya pada Victoria, foto yang diambil adiknya di rumah pantai mereka beberapa musim panas lalu. Di dalam foto ini, Kyuhyun menggendong Min Yoo yang berusia lima tahun di punggung, diapit oleh istri dan putrinya, mereka berempat memasang cengirang yang sama persis. Itu foto keluarga yang paling disukainya.

Victoria mengamati foto itu lama-lama yang bukan merupakan sekadar bersikap sopan.
“Kau punya keluarga yang cantik,” ucapnya lembut ketika akhirnya mengembalikan foto itu.

Jika mata adalah jendela jiwa, mata Victoria adalah jenis jendela yang dari lantai hingga ke langit-langit: kau dapat melihat setiap emosi di dalam mata hitamnya itu. Saat ini, sorot dari kedua mata itu adalah sorotan seorang ibu yang merindukan anak yang mungkin sudah dimilikinya jika rumah tangganya tak kandas di tengah jalan.

“Baiklah,” kata Victoria kemudian setelah diam sejenak. “Akan kupikirkan. Tapi aku tak dapat berjanji apa-apa.”

Tbc

6 thoughts on “The Replacement Wife / chap 5

  1. pendeeeekkkk….pendeeeekkk….baru baca bentar udh tbc masa….
    tp…thanks ya…ini keren….emosi semua tokoh tergambarkan dg baik d fic ini…
    mirisnya jd sungmin…
    trs vic yg ikut merasakan prihatin smpai berempati…
    dan wookie..ya ampun..itu penggambaran dr kyu ttg wookie…#speechless
    kyu keliatan jelas scr ga sadar memperhatikan wookie, org biasa yang tampak tak sebiasa orang2 yg kyu temui selama ini…
    wookienya easy going jg, dan tanggap
    brikutnya menantikan sesi kyuwook dan kyutoria, siapa yg bakal merapat ke kyu nih….
    okelah…dilanjut yuuuuuukkkkk
    >.<

  2. Huwaaaaaaaaaa q mo nya kyuwooooooookkkkkkkkk#triakpaketoamasjid
    Tp, ming kn mlh vic(mrip obat batuk-,-) huweee tp kyu kn lbh nyman k wook..y kn..
    Apa pun yg trjadi lw bs(bisa gx bisa) y kyuwook hehehe
    Lnjuttttt n jgn lupa pnjangin y🙂
    Gomawo😀

  3. ugh ya ampuun makin nyesek jha😥
    tp ini berasa baca ff kyuwook bgd ><
    ttp berharap ming gk bakalan mati
    ttp berharap endingnya kyumin🙂

  4. makin jauh makin nyesek yaampun kyuhyun secara gak sadar tertarik sama wookie
    ahhhh maunya kyumin gak mau kyuwook
    maunya kyumin sampai ending sungmin gak boleh pergi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s