Blood Debt Collection /part 3

tumblr_mpqb48HOHg1rw662jo1_500

Pairing : KyuMin / KyuWook / SiMin || Genre : Drama, Hurt || Length : Chaptered || Warning : BL, Shounen-ai, semi M-preg (?) || Disclaimer : Remake dari novel karya Marga T. yang berjudul “Dilanda Murka dan Nestapa. Ada perubahan dan tambahan seperlunya || Summary : Lee Sungmin sudah hampir meninggal ketika berusia tujuh tahun, namun diselamatkan oleh sepupunya, Ryeowook. Saat penagihan hutang darah itu sudah tiba, Ryeowook pelan-pelan mulai menguasai hidup Sungmin. Namanya digunakan untuk melakukan berbagai tindakan yang melanggar hukum. Sungmin terpaksa menuruti setiap permintaannya. Namun ketika Ryeowook mencoba merebut Kyuhyun yang dicintainya, Sungmin tak bisa lagi tinggal diam. Hidupnya semakin sengsara. Dalam pekerjaan, bosnya mulai memusuhinya. Kyuhyun pun mulai menjauh tanpa alasan yang jelas. Ketika Sungmin ingin pindah kerja, barulah dia tahu misteri di balik sikap Kyuhyun yang dingin itu. Dan saat itu juga dunianya kiamat!


No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

~Presented by@Min kecil~

Part 3

Hari Jumat Sungmin terbangun dengan kepala yang terasa mau pecah. Setelah bersusah payah dia berhasil mencapai kamar mandi dan menelan dua tablet Panadol, lalu memutuskan berendam di dalam bathup, berharap dapat membuat tubuhnya rileks dan mengurangi sakit kepalanya sampai tablet itu mulai bekerja dan dia bisa bergegas pergi bekerja. Ketika ia memejamkan matanya, terbayang kembali hari-hari yang telah ia lalui kemarin.

Pada hari Selasa lalu Sungmin telah mendapat malu ketika tuan Jung dicoret dari daftar tugasnya. Walaupun tidak ada orang yang menanyakan sebabnya, ia yakin mereka pasti membicarakan hal itu dibelakangnya. Tindakan itu merupakan pernyataan kekurangpercayaan Bos terhadapnya. Pada hari Rabu terjadi masalah kecil. Tuan Jung dikirim ke Bagian Saraf karena dia menderita kejang-kejang pada malam hari. Spesialis saraf meneleponnya untuk minta informasi lebih mengenai pasien. Bos ada di dekatnya ketika telepon berdering.

“Maaf, saya tak dapat menceritakan lebih banyak. Sebenarnya orang itu sudah bukan pasien saya.” Kata Sungmin ketika itu.

Namun, bagaikan seekor ular, tangan Dokter Cho sudah muncul dari samping menyambar gagang telepon tanpa permisi. “Hai, Jisung, ini aku, Kyuhyun. Tuan Jung dulu memang pasiennya, tapi sekarang bukan.”

Sepertinya dokter Jisung yang mengatakan sesuatu yang membuat si Bos berdecak dan berkata,
“Kau tahu sendiri rekan-rekan muda kita, mereka semua sembarangan. Baru saja lulus Kedokteran, mereka pikir sudah tidak jauh lagi dari Hadiah Nobel!”

Mendengar hal itu membuat wajah Sungmin terasa panas. Itu penghinaan, walaupun saat itu tak ada orang lain di dalam ruangannya. Dan kemarin, Kamis…. Ryeowook meneleponnya, mengajaknya untuk makan malam bersama diluar. Ketika Sungmin menolak dan mengatakan bahwa ia sedang flu Ryeowook berkata dengan nada cemas,

“Wah! Kalau begitu, sebaiknya kau istirahat di ranjang, dan minum air yang banyak. Kalau kau perlu sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungiku, siang atau malam! Yang penting, istirahat di rumah besok! Jangan masuk kerja!”

Sungmin hampir mencucurkan air mata mendengar Ryeowook begitu penuh perhatian. Ketika ia berkata bahwa ia sedang berpikir untuk cuti, Ryeowook berkata dengan tegas sebelum menutup teleponnya,

“Jangan anggap remeh flu! Kau harus cuti!!!”

Kini, saat membuka matanya Sungmin merasa berendam tidak bisa mengurangi penderitaannya. Kepalanya tetap mengancam mau pecah. Dengan terpaksa ia menuruti nasihat Ryeowook kemarin. Ia menghela napas ketika mengangkat gagang telepon untuk memberitahu Luna, sekertaris Bos, bahwa ia tidak bisa masuk hari ini dan berpesan agar Eunhyuk menghubunginya nanti.

Satu jam kemudian telepon berdering ketika Sungmin sedang berbaring di ranjang. Tanpa mengangkat kepalanya ia meraih telepon disampingnya. “Halo?” jawabnya.

Lalu suara sahabatnya Eunhyuk terdengar cemas di ujung telepon.
“Sungmin, kau kenapa? Aku baru saja diberitahu oleh Luna. Dia sudah menyampaikan pesanmu pada Bos. Ada apa?”

“Sakit kepala luar biasa, Hyukie. Tidak parah, tapi kurasa sebaiknya aku diam di tempat tidur saja. Selama ini aku belum pernah bolos, tapi tidak pernah dihargai, jadi untuk apa aku kerja mati-matian?”

“Aku bisa mengerti perasaanmu. Percayalah, aku juga pernah merasa begitu.”

“Bisakah kau mengawasi pasien-pasianku untuk hari ini? Tidak ada pemeriksaan yang harus dilakukan, cuma sekedar pengamatan rutin. Kami masih menunggu hasil pembiakan kuman pasien jantung, Tuan Jung. Jadi sementara ini teruskan saja obat yang sekarang. Nanti aku traktir kau di kantin.”

“Dua porsi ya!”

Dan Sungmin tertawa.
“Terima kasih, Hyukie.”

~+~+~+~

Setelah memberi makan lulu dan meletakkan semangkuk susu ekstra di lantai dapur, Sungmin kembali ke ranjang, merasa gelisah, dan tidur sampai petang. Ia terbangun karena rasa lapar yang tak tertahankan lagi. Untunglah sakit kepalanya sudah lebih baik, jadi dia sanggup menyiapkan makanan yang cepat. Ia membuat sepanci mie ramen dan segelas jus apel.

Setelah makan, ia berbaring di sofa membaca jurnal ditemani Lulu yang meringkuk disampingnya. Ketika teleponnya berdering ia tidak segera mengangkatnya, ia tidak mengharapkan perhatian dari siapa pun. Namun dering telepon itu tidak kunjung berhenti. Pada dering ke sepuluh dengan terpaksa ia mengangkat telepon.

“Halo,” ujarnya tanpa minat.

“Sungmin, ini Bibi Joo. Apa kabarmu? Kau sudah pulang kerja ya?”

Sungmin melirik jam di dinding yang menunjukkan ini hampir jam enam.
“Hari ini saya cuti, Bibi. Baru saja merasa lebih baik dari sakit kepala.”

“Aduh, aduh. Sakit kepala itu paling menjengkelkan. Bibi paling kesal jika sudah sakit seperti itu. Kalau kau tidak bisa datang hari Minggu ini, paman Young pasti akan mengerti.”

Sungmin merasa sedikit panik. Pikirannya langsung berputar, teringat bahwa hari mingu adalah hari ulang tahun paman Young. Ayah dari Ryeowook itu selalu membuat pesta keluarga setiap ulang tahunnya. Tapi saat ini Sungmin merasa sedang tidak ingin berpesta. Maka ia mencoba membuat alasan.

“Maaf, Bibi, rasanya saya tidak bisa datang. Tapi saya akan menelepon Minggu pagi untuk memberinya ucapan selamat.”

“Ah, kau tidak perlu khawatir, Sungmin. Paman pasti akan mengerti kesulitanmu. Nah, sekarang Bibi mau tanya, kapan kau terakhir melihat Ryeowook?”

“Oh, kami makan bersama minggu lalu.”

“Apa dia kelihatan baik-baik saja? Maklum, karena keadaannya itu Bibi jadi sering cemas.”

“Ya, dia sehat kok. Memang dia kenapa sekarang?”

“Itulah yang ingin Bibi selidiki. Pagi tadi Bibi meneleponnya, menanyakan kapan dia akan pulang untuk merayakan ulang tahun ayahnya. Bayangkan bingungnya Bibi saat dia bilang, dia tidak bisa datang karena kurang sehat. Saat Bibi desak, dia sakit apa, dia tidak mau berterus terang. Katanya, cuma masalah ringan, bukan sakit berat. Lalu cepat-cepat menyudahi pembicaraan. Kenapa sih sepupumu itu, Sungmin? Kenapa dia tidak bisa membuang waktu sedikit untuk ayahnya sekali dalam setahun? Bisa tidak tolong kau selidiki apa yang sebenarnya terjadi?”

“Tentu bisa, Bibi. Nanti saya beri kabar.”

Tetapi usahanya untuk menghubungi Ryeowook ternyata tak berhasil. Setelah tiga kali menghubungi telepon rumahnya dan lima kali menghubungi ponselnya, teleponnya tak kunjung dijawab. Terpaksa ia meninggalkan pesan di mesin penjawab, mendesaknya agar segera meneleponnya balik. Tapi pesannya pun tidak mendapat tanggapan.

Jelas Ryeowook tidak ada di rumah. Tapi dimana pembantunya? Tidak mungkin ‘kan Seohyun juga diajaknya pergi? Pergi kemana dia?, pikir Sungmin penasaran.

~+~+~+~

Keesokan harinya Sungmin bangun dengan perasaan panas-dingin. Tenggorokannya sakit dan hidungnya meleleh terus. Kemudian ia menyadari penyakit langganannya, pharyngitis, sudah datang lagi. Sejak kecil ia memang alergi serbuk bunga, debu, dan sepertinya lalu ditumpangi oleh virus yang ditularkan oleh entah siapa. Mungkin salah seorang staf di tempat kerja.

Karena sakit kepalanya sudah sembuh, ia yakin masih bisa menikmati akhir pekan. Untuk menimbulkan nafsu makannya, ia mencoba resep baru dari Eunhyuk. Ternyata tidak terlalu sulit membuatnya. Selesai memasaka ia menikmatinya bersama Lulu yang terus menyalak meminta dibagi lagi. Ketika sedang menikmati makan siangnya ia berpikir, sebuah makan siang yang sempurna. Hanya satu yang kurang. Kyuhyun.

Selama hampir enam bulan, mereka selalu makan bersama pada hari sabtu bila kebetulan keduanya tidak sedang ada shift jaga. Namun akhir-akhir ini, Sungmin merasa seakan ada tembok di antara mereka. Tidak jelas kapan tembok itu berdiri atau apa sebabnya. Mungkin diam-diam ia merasa kesal dengan perlakuan Kyuhyun di tempat kerja, dan tanpa sadar sudah mulai menjauhkan diri. Mungkin bila ia pindah ke tempat lain, mereka dapat menganalisa hubungan mereka. Bila ia tidak lagi menjadi anak buah Kyuhyun, mereka takkan perlu bersikap formal. Dengan sendirinya Kyuhyun takkan perlu memanggilnya dokter Lee yang kemudian berubah menjadi Sungmin sudah santai di luar. Mungkin ia harus pindah…

Kriiiingg…

Mengira itu pasti Ryeowook yang menelepon, Sungmin segera menyambar gagang telepon di dering ke dua. “Halo…”

“Hai, ini aku!”

Namun ternyata ia salah. Itu suara Kyuhyun. Suara yang sangat dikenalnya itu tiba-tiba membuatnya pusing, kepalanya terasa berputar. Buru-buru Sungmin duduk di ujung sofa, mencengkram gagang telepon seolah benda itu penyambung hidupnya. Jantungnya berdebar dengan keras, sehingga dadanya terasa bergetar.

“Bagaimana keadaanmu saat ini?”

Pusingnya sudah hilang, tetapi debar jantungnya semakin menghebat, membuat Sungmin sesak napas ketika ia membuka mulut untuk menjawab, “Lebih baik.”

“Sungmin, aku tahu akhir-akhir ini aku terlalu keras padamu. Jangan tersinggung, ya.”

“Tidak perlu khawatir, aku tidak tersinggung.”

“Maksudku baik, demi kemajuanmu sendiri.”

“Tentu saja, dokter Cho.”

“Ah, Sungmin, kau tahu, kau boleh menyebutku Kyuhyun bila kita sedang tidak bekerja.”

Itulah masalahnya, pikir Sungmin kesal, Aku tidak bisa berpura-pura terus. Berapa lama lagi kita harus sembunyi di belakang tirai sandiwara ini? Kalau tidak pantas untuk bos dan bawahan berpacaran, kenapa kau masih terus menghubungiku?

“Oke. Ada hal lain, dok…. Kyuhyun?”

“Karena kau sudah lebih baik, bagaimana jika kita makan malam besok?”

“Rrr…besok kurang cocok.”

“Kenapa? Kau sudah istirahat sepanjang hari ini, berarti kau akan segar kembali besok malam!”

Terdengar suara tawa Kyuhyun di ujung telepon. Suara tawa yang terdengar lepas, gembira, ramah, dan intim. Dia tak pernah bisa sebebas itu selama jam kerja.

“Aku sedang tidak mood untuk keluar rumah.”

“Kalau begitu aku bisa membawakanmu ayam goreng, dan kita bisa makan dengan tenang di depan tv.”

“Aku ingin istirahat.”

“Kau perlu istirahat lebih banyak? Yah, mungkin betul. Kerja di rumah sakit memang sangat stress, apalagi untuk dokter muda yang baru lulus. Belum terbiasa. Tapi jangan takut, aku akan menolongmu. Pasti nanti kau akan bisa rileks juga.”

“Terima kasih. Aku harap bolosku kemarin tidak mengganggu perawatan pasien-pasienku.”

“Jangan pikirkan mereka. Fokus saja pada kesehatanmu sendiri. Kalau kau jatuh sakit, nah, itu baru masalah. Eh, ngomong-ngomong, bagaimana seandainya aku makan malam dengan orang lain? Boleh?”

“Tentu saja.” Sungmin memaksakan tertawa, padahal tidak merasa lucu atau gembira. “Sudah pernah kukatakan, aku ini bukan pengawasmu atau pengasuhmu.”

“Tepat!” Kyuhyun tertawa sekali lagi.

Ah, dia sedang gembira!, pikir Sungmin. Pikiran itu menghantamnya bagaikan palu godam, sehingga untuk sesaat kepalanya terasa pening. Siapa orang yang membuatnya begitu ceria?

“Aku memang bebas, tidak punya pengawas. Ha, ha, ha. Sekarang jujur saja, bagaimana seandainya aku keluar makan malam bersama Ryeowook? Kau tetap tidak keberatan?”

“Kenapa dengan dia? Oh, aku cuma ingin tahu…”

“Karena dia baru saja menghubungiku dan menawarkan ajakan makan. Kukatakan padanya, aku mau tanya pendapatmu dulu. Tentu saja kita bisa pergi bertiga, dan aku yakin dia juga takkan keberatan.”

Mau taruhan? Tidak keberatan, kepalamu! Kau masih belum tahu siapa Ryeowook!, gerutu Sungmin dalam hati.

“Silahkan kencan, dengan restuku!” Sungmin bergurau, kembali memakasakan diri tertawa.

“Eh…bukan! Ini bukan kencan!” Kyuhyun buru-buru menyangkal. “Hanya makan malam biasa saja. Sebenarnya aku lebih senang menemanimu. Benarkah kau tidak mau kutemui? Aku sungguh-sungguh ingin melihatmu, Sungmin.”

Tidak, Kyu. Sebaiknya kita tidak perlu berhubungan lagi. Aku merasa kesal diperlakukan seperti orang asing pada siang hari dan malam harinya berubah menjadi pacar.

“Jangan sekarang. Aku ingin sendirian saja dengan Lulu. Selamat menikmati hidangan bersama Ryeowook. Suruh dia meneleponku setelah itu, oke?”

“Ingin minta laporan?” Kyuhyun berdecak geli.

“Bukan. Aku harus menyampaikan pesan dari ibunya. Maaf, aku tidak bisa menjelaskan isinya.”

“Aku juga tidak ingin tahu. Eh, jangan salah paham. Aku bukannya tidak setia padamu. Tapi aku pikir, Ryeowook ‘kan sepupumu, jadi masih termasuk keluarga, bukan? Dan ingat, ini bukan kencan. Hanya sekedar makan bersama.”

Kau boleh menamakan apa saja, sesukamu, Kyu. Aku tidak peduli. Toh aku tahu, bagaimanapun Ryeowook sudah mengincarmu. Sejak dulu dia selalu mengincar apa saja yang aku miliki. Semasa sekolah dia mengincar pensil, penghapus, tas, cokelat, kue, buku. Setelah besar dia mengincar pakaian, sepatu, aksesoris, bahkan anjing yang sebenarnya kurang disukainya.

“Sudah kukatakan, tidak perlu khawatir. Nikmati saja makan malammu. Atau kau perlu izin tertulis?”

Mereka tertawa bersama. Lalu pembicaraan berakhir. Ketika Sungmin meletakkan gagang teleponnya kembali, matanya terpaku menatap telepon selama beberapa lama hingga pusingnya mengancam akan menyerang lagi.

Jadi itulah sebabnya kenapa kau tidak bisa pulang untuk merayakan ulang tahun ayahmu, Ryeowook! Kau punya rencana bersama Kyuhyun!

Tiba-tiba hatinya terasa dingin seolah direndam dalam air es. Air matanya meluruh turun di sepanjang pipi, entah dari mana asalnya.

Hei, hei, Sungmin! Kenapa kau menangis? Kyuhyun tidak pantas diberi menerima ini! Air matamu terlalu berharga untuk dikorbankan baginya!

Dengan tidak sabar, ia menyeka mata dan pipinya dengan punggung tangan.

Tbc

9 thoughts on “Blood Debt Collection /part 3

  1. Kalau aku jd Sungmin mgkn aku sdah gila… Ditekan dan diperas terus menerus? Ugh…
    Seharusnya hub.asmarax dgn Kyuhyun bisa sdikit mengobati. Tp sepertinya justru malah jd stressor tambahan buatnya, ya.

  2. Ya ampun, ryeowook semakin menjadi2, gila parah bener pemerasannya,…
    Itu udah melebi batas, kasian sungmin, bisa2 gila beneran dia kalo terus diteken begitu, bahkan bukan hnya dari 1 pihak, tpi ada bnyk pihak yg bisa menyebabkan kplanya pecah dlam semenit ><
    kyuhyun jga, ya ampun apa dia jga udh mula tergoda tu sma ryeowook, hahhhh, kasian bange sungmin ;(

  3. tuh kaaaaannnn…wookie disini nyebelin! aish, jd kesel. aku kasian ma sungmin disini. dia keliatan ga berdaya sama sekali. ini sungmin namanya bunuh diri lah! ga bs menyalahkan kyuhyun sih. itu gaya dia ngmong ma ming di telp nyante bangeettt😄 tp sikap posesif , kekanakan dan semaunya sendiri yg slma ni di image-kan di ff kyu*** ga ada disini ya.
    ah, tp aku tetep suka kyuhyunnya❤
    pntes aja kmrn setor foto kyuwook ma aku, ga taunya lg ngebangun feel bwt ff ini ya? :-p
    hbs ni ff mana yg dilanjut? detective cho kah? ^^

  4. aigoo…ryeowook sampe ga ikut ngerayain ulang tahun ayahnya untuk makan malam bareng kyu?
    dy emang niat banget mau rebut kyu dari sungmin.
    lalu gimana dg hubungan kyumin?
    kasian sungmin selalu jadi pihak yg menderita T_T
    lanjut chingu

  5. Aduh lama bgt nunggu ni FF..
    Wookie disini nyebelin bgt.. tpi tetep suka kok ceritanya..
    Ya udah kalo gitu Ming pindah aja jauh2 dri Kyuhyun.. biar dia tau rasa.

  6. seneng banget ff ini mau dilanjut
    aku suka banget sama ceritanya
    kenapa ryeowook nusuk dari belakangang banget
    kalo bukan sepupu aja huhuhu
    disini aku sebel sama ryeowook dan kyuhyun
    kalo dari awal kyu engga tertarik sama wookie harusnya engga nerima ajakan wookie
    udah gitu meski laporan lagi
    sedih sebenernya banyak ff kyumin yg hilang
    tapi aku tau author kyumin pasti berat
    aku aja yg bacanya berat feel udah sedikit berkurang hehehe
    tapi aku seneng kalo ini tetep mau dilanjut sampe akhir
    semangat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s