Heure Désolée / Chapitre 1

-Akashi-Seijuurou-akashi-seijuro-kuroko-no-basuke-34208279-592-646

Pairing : AkaFuri / slight AkaKuro || Genre : Romance, hurt, supernatural || Warning : BL, shounen-ai, AU, little bit OOC maybe? || Lenght : Chaptered || Disclaimer : Terinsipirasi—atau remake?—dari anime yang berjudul “Cossette no Shouzou”. Ada perubahan dan tambahan seperlunya. Kuroko no basket belongs to Fujimaki Tadatoshi. I don’t take any personal commercial advantages from making this fanfiction. Purely just for fun || Author note : Maaf lagi jika nanti cerita ini terasa terlalu OOC -_- || Summary : Akashi Seijuuro harus menjaga toko barang antik milik keluarganya. Suatu hari, sebuah gelas antik datang ke tokonya. Gelas antik itu sangat indah sekali, keindahan yang membuat Akashi jatuh cinta. Hingga suatu ketika Akashi melihat bayangan seorang laki-laki bersurai cokelat di dalam gelas antik itu. Bayangan yang membuatnya benar-benar begitu jatuh cinta.

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

~Presented by@Min kecil~

Chapitre 1

Siapa yang begitu mengasihiku sampai ia akan meninggalkan kehidupannya sendiri? Jika ada orang yang tenggelam di laut demi aku, akan dibebaskan dari batu, kembali ke kehidupan. Aku akan kembali ke kehidupan. Tapi, jika suatu hari nanti aku akan terlahir kembali dalam kehidupan yang memberikanku apa yang paling kusayangi, maka aku akan menangis sendirian. Aku akan menangis sendirian, berusaha mencari apa yang ada di kehidupanku. Bahkan jika darahku seperti anggur yang baik, apa gunanya aku menjadi seperti itu? Karena aku tidak bisa membawa kembali orang yang paling mencintaiku dari kedalaman laut.

.
.
.

Jumat siang. Langit kelabu menghiasi kota Tokyo. Ini masih pukul 13.00, tapi langit di luar nampak seperti pukul 17.00 karena awan mendung yang pekat. Hari ini Akashi Seijuuro pulang kuliah lebih cepat dari biasanya, maka ia menyetujui ajakan teman-temannya untuk berkumpul sejenak di cafe sebelum pulang. Di cafe, sambil menikmati minuman masing-masing dan merokok, teman-temannya mulai asyik mengobrol tentang cinta dan gadis yang mereka sukai. Namun alih-alih mendengarkan obrolan itu, Akashi lebih tertarik memandang keluar jendela. Di luar jendela, tepat disamping Akashi duduk, ada dua orang gadis kecil yang sedang asyik memperhatikan bunga-bunga cantik yang sengaja ditanam oleh pemilik cafe untuk mempercantik cafe. Dua orang gadis kecil itu tertawa bersama, lalu tersenyum ketika menyadari sedang diperhatikan oleh Akashi. Akashi hanya balas tersenyum dan melambaikan tangannya pada dua gadis kecil itu.

“…….kau ada disana. Kau dengar dia, ‘kan, Akashi?” tiba-tiba salah seorang temannya bertanya pada Akashi.

Akashi menoleh dan mengerjap sesaat.
“Maaf, aku tidak mendengarkan. Tentang apa ya?” katanya balik bertanya, membuat teman-temannya menghela napas.

“Hei, kau jangan bertindak seperti itu. Teman terbaikmu di sini sedang patah hati dan depresi!” kata temannya yang lain.

“Aku tidak memintamu untuk memperkenalkanku kepada gadis lain, tapi setidaknya kau bisa simpatik!” kata temannya yang sedang patah itu, mendengus kesal.

“Maaf, maaf…” Kata Akashi tersenyum, lalu mengangkat gelas miliknya.

Salah seorang temannya memperhatikan Akashi sejenak dan berkata,
“Apa itu senyum bersalah milikmu? Apakah kau tidak beristirahat selama seminggu?”

Akashi hanya memandang temannya itu sejenak, sebelum kemudian mengalihkan pandangannya pada es batu di dalam gelasnya. Ia menggoyang-goyang pelan gelasnya, membuat es batu di dalamnya saling beradu dan menghasilkan suara yang khas.

“Akashi…kau sedang jatuh cinta, ‘kan? Dan ini adalah yang pertama kalinya untukmu, ‘kan?” temannya itu kemudian bertanya sambil menunjuk Akashi dengan rokok yang terselip diantara jemarinya.

“Kau benar…” jawab Akashi santai, lalu menenggak minumannya. Membuat teman-temannya terkejut mendengarnya dan merasa penasaran.

“Kau serius? Sudah sejak kapan kau melihatnya?”

“Kurasa hari ini adalah hari ketujuh.” Jawab Akashi, masih dengan nada santai yang sama.

“Kau ini….”

“Siapa dia? Dimana kau bertemu dengannya?”

Tiba-tiba Akashi tertawa kecil.
“Bohong. Ini semua bohong.” Katanya, membuat teman-temannya saling berpandangan bingung.

Lalu Akashi mengalihkan pandangannya pada gelasnya yang tinggal terisi setengah. Ia terdiam, menatap gelas di tangannya itu dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Seolah gelas ditangannya itu mengingatkannya pada sesuatu yang penting. Meletakkan gelasnya kembali di atas meja, Akashi menoleh keluar jendela. Titik-titik hujan mulai turun dari langit kelabu, perlahan semakin deras. Memaksa orang-orang yang berada diluar untuk segera berlari mencari tempat berteduh. Membuat dua orang gadis kecil yang masih asyik memperhatikan kecantikan bunga-bunga di luar cafe segera berlari pergi sambil menutupi kepala mereka dengan tas masing-masing.

“Aku akan pergi sekarang.” Tiba-tiba Akashi berkata seraya berdiri.

“Hei, Akashi…”

“Tapi diluar sedang hujan deras….”

Teman-temannya berusaha mencegah. Namun Akashi tidak peduli.
“Maaf. Ini waktunya untuk bekerja.” Katanya seraya meraih tasnya, lalu beranjak pergi dengan terburu-buru. Teman-temannya hanya bisa saling berpandangan dengan bingung.

~+~+~+~

Sejenak Akashi berdiri di depan pintu cafe dan hendak membuka ranselnya, lalu segera teringat bahwa ia tidak membawa payung hari ini. Payungnya ia pinjamkan pada Kuroko ketika mereka sedang pergi bersama kemarin. Akhirnya, Akashi memilih untuk berlari menerobos hujan yang deras. Mengabaikan hujan yang turun kian deras, Akashi terus berlari melewati orang-orang yang berlindung di bawah payung mereka. Ia tidak peduli pada tubuhnya yang telah basah kuyub, atau dinginnya udara yang seakan menghujam tulangnya. Ia hanya ingin segera sampai di toko. Ia hanya ingin segera bertemu dengan Dia.

Toko itu bernama Mahorobi, sebuah toko yang menjual barang-barang antik milik keluarga Akashi. Toko itu terletak di persimpangan jalan di dekat stasiun. Setelah lulus SMA di Kyoto Akashi memilih untuk kembali ke Tokyo. Akashi tinggal sendirian di Tokyo, sementara keluarganya tinggal di Kyoto. Sambil kuliah di salah satu universitas ternama di Tokyo, ia menjaga dan mengelola toko barang antik milik keluarganya itu. Biasanya, sepulang kuliah atau hari libur Akashi baru membuka tokonya, dan baru akan menutup tokonya pukul 11 malam. Kini ia hampir memasuki semester akhir, maka ia memiliki banyak waktu untuk menjaga tokonya.

Ketika tiba di depan toko Mahorobi, Akashi segera merogoh ranselnya. Mencari kunci, lalu segera membuka pintunya. Suasana tenang dan remang menyambut kedatangan Akashi. Tidak peduli pada tetes air dari tubuhnya yang basah kuyub membasahi lantai, Akashi berjalan dengan langkah cepat menuju meja di tengah ruangan. Ia meletakkan ranselnya yang telah basah di lantai. Lalu, hal pertama yang selalu ia lakukan setiap kali ia pulang adalah membuka laci meja dan memastikan Dia masih ada di tempatnya, di tempat dimana ia selalu menyimpannya dengan baik. Di dalam laci meja tergeletak sebuah gelas antik beralaskan kain berwarna biru. Ia mengambil gelas antik itu dengan hati-hati dari dalam laci, lalu tersenyum lega.

Ya, Dia adalah sebuah gelas antik yang sangat indah.

“Apa kau kesepian?” kata Akashi seraya mengusap dengan lembut permukaan gelas antik itu. “Maaf sudah meninggalkanmu sendirian. Cinta pertamaku…”

Gelas antik itu datang ke tokonya tujuh hari lalu, dikirim oleh kakeknya dari Perancis. Sepertinya gelas itu telah berusia ratusan tahun, namun kecantikan dan keindahannya seolah tak pernah pudar. Ketika pertama kali melihatnya Akashi langsung jatuh cinta pada keindahan gelas antik itu. Gradasi warna-warni yang indah pada permukaan yang halus, menciptakan pelangi yang cantik setiap kali pantulan cahaya mengenai gelas antik itu. Alih-alih menjualnya seperti dipesankan oleh kakeknya, Akashi justru menyimpan gelas antik itu dan menjaganya dengan sangat baik. Tidak pernah bosan Akashi menghabiskan waktunya untuk memandangi keindahan gelas antik itu sembari menunggu pelanggan yang datang ke tokonya. Dan Akashi yakin bahwa ia telah jatuh cinta…pada gelas antik itu. Sebuah cinta pertama yang unik.

Setelah mengeringkan tubuhnya dan berganti baju, Akashi duduk di sofa sambil memegang gelas antik kesayangannya. Sambil kembali memandangi keindahan gelas antik itu Akashi berpikir tentang pemilik gelas antik itu sebelumnya. Ia selalu bertanya-tanya di dalam kepalanya, siapa pemilik gelas antik itu sebelumnya? Pastilah seorang gadis cantik yang menyukai benda-benda seni. Mungkin seorang gadis Perancis dengan rambut pirang dan mata biru yang indah. Lalu, apakah dia juga secantik gelas antik itu?. Akashi memejamkan matanya dan mencoba membayangkan seperti apa gadis cantik pemilik gelas antik itu sebelumnya. Namun sebuah bayangan lain justru masuk ke dalam kepalanya. Dalam bayangan itu ia seolah berada di masa lalu. Ia melihat sebuah halaman yang penuh dengan bunga-bunga yang cantik dan sebuah kastil yang besar. Matahari bersinar cerah dan di tengah halaman itu berdiri seorang laki-laki bersurai cokelat tanah. Laki-laki itu memakai pakaian model kuno berwarna biru dan membawa banyak tangkai bunga mawar dalam pelukannya. Saat laki-laki itu membalik tubuhnya Akashi dapat melihat sebuah wajah yang manis dengan sepasang mata yang berwarna senada dengan warna rambutnya, cokelat tanah. Itu adalah laki-laki termanis dan ter-cute yang pernah Akashi lihat. Namun tiba-tiba angin bertiup kencang, begitu kencang hingga si laki-laki bersurai cokelat tanah yang manis itu memejamkan matanya sambil berusaha mempertahankan bunga-bunga dalam pelukannya. Namun pada akhirnya bunga-bunga dalam pelukannya terbang terbawa angin. Helai-helai kelopak bunga menari di udara. Lalu bayangan itu menghilang dari dalam kepala Akashi.

Akashi tersentak dan membuka matanya.
“Apa yang barusan tadi itu?!” katanya bingung.

~+~+~+~

Beberapa kali Akashi melihat bayangan aneh tentang si laki-laki bersurai cokelat yang manis itu di dalam kepalanya. Merasa mungkin ada sesuatu yang salah dengan kepalanya, maka Akashi pun memutuskan untuk memeriksakan dirinya ke rumah sakit. Namun setelah pemeriksaan yang panjang dan lama, Midorima Shintarou, sahabat semasa SMP Akashi yang kini magang menjadi dokter di rumah sakit tersebut tidak menemukan ada sesuatu yang salah dengan kepala maupun kesehatan Akashi.

“99 derajat,” kata Midorima seraya melihat termometer di tangannya. “Tenggorokanmu terasa sedikit mentah. Ini bisa menjadikannya sedikit dingin.”

“Begitu ya…” kata Akashi seraya memperhatikan hasil foto X-Ray kepalanya.

Midorima mengalihkan pandangannya pada Akashi.
“Aku tidak percaya dengan kesimpulan itu. Kuroko bilang kau sudah bertingkah aneh akhir-akhir ini.” Katanya seraya menyimpan termometer ke dalam saku jas putihnya, lalu kembali beranjak duduk di kursinya.

“Mungkinkah aku melihat hal-hal aneh karena demam?” kata Akashi. Kedua mata merahnya masih asyik memperhatikan hasil foto X-Ray di depannya, mencari setitik keanehan yang tidak bisa ia temukan. Memang tidak ada yang aneh di dalam hasil foto X-ray itu. Tidak ada yang salah.

“Hasil tes darah akan tiba empat hari lagi.” Beritahu Midorima seraya memperbaiki letak kacamatanya dengan jarinya, mengabaikan perkataan Akashi. Lalu seraya menulis ia menambahkan, “Nah, aku pikir tidak akan ada masalah.”

“Hmmm, Shintarou…” panggil Akashi, akhirnya mengalihkan pandangannya dari hasil foto X-Ray pada Midorima.

“Ya?” jawab Midorima seraya terus sibuk menulis.

Akashi diam sejenak.
“Ah, tidak, tidak apa-apa…” katanya kemudian, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Midorima berhenti menulis sejenak dan mengangkat kepalanya, hanya memandang sahabat semasa SMP-nya itu dengan tatapan bingung.

~+~+~+~

Hari itu hujan kembali turun, cukup deras. Jalanan di luar nampak sepi dan tidak banyak pelanggan yang datang ke toko Mahorobi hari itu, memberikan Akashi banyak waktu untuk menikmati keindahan gelas antik kesayangan sendirian. Ketika sedang asyik memandang ke dalam gelas antik itu tiba-tiba Akashi melihat bayangan wajah Kuroko di sisi lain gelas, membuatnya sedikit terkejut. Akashi mengangkat kepalanya dan menatap laki-laki bersurai biru itu yang entah sejak kapan telah berdiri di depan mejanya.

“Sepertinya kau bekerja keras, Akashi-kun.” Kata Kuroko Tetsuya dengan wajah datarnya yang khas.

“Oh, kau, Tetsuya.” Kata Akashi dengan tenang.

“Aku punya sesuatu untuk dimakan. Ini,” kata Kuroko seraya meletakkan plastik berisi makanan dan beberapa kaleng jus di atas meja, lalu merogoh tasnya. “Dan ini juga. Aku ingin mengembalikan payungmu. Terima kasih sudah memijamkannya padaku kemarin, Akashi-kun.” Katanya lagi seraya meletakkan payung lipat berwarna merah milik Akashi di atas meja.

“Terima kasih,” Kata Akashi. “Tapi bukankah diluar masih hujan? Kau boleh menyimpan payungku lagi jika kau mau.”

“Itu tidak perlu. Aku sudah membawa payung milikku kali ini.” Kata Kuroko menolak, tersenyum kecil. Lalu mata biru langitnya tertarik pada gelas antik di tangan Akashi. “Itu gelas yang sangat indah! Boleh aku memegangnya?” pintanya.

Akashi diam sejenak, merasa enggan membiarkan Kuroko memegang gelas antik tercintanya. Namun belum sempat ia membuka mulut untuk menolak laki-laki bersurai biru itu telah mengambil gelas antik itu lebih dahulu dari tangan Akashi.

“Itu…” katanya, seraya berdiri dan berusaha menggapai gelas antiknya di tangan Kuroko. Namun kemudian ia duduk kembali. “Tidak, silahkan.”

Sambil menikmati makanan dan sekaleng jus yang dibawa oleh Kuroko, sudut mata Akashi tidak bisa lepas dari gelas antik yang masih dipegang oleh Kuroko. Kuroko mengangkat tinggi gelas antik itu dan memperhatikannya dengan teliti. Gradasi warna-warni pada permukaan gelas antik itu menciptakan keindahan tersendiri, membuat siapapun yang melihatnya terpukau kagum.

“Ini adalah kaca Venesia, ‘kan? Apakah ini mahal?” tanya Kuroko penasaran.

“Ah, yah…” jawab Akashi.

Mata merah Akashi masih terus mengawasi gelas antik kesayangannya di tangan Kuroko, takut jika saja si surai biru itu tidak sengaja menjatuhkannya. Namun ketika Akashi ikut memandang ke dalam gelas antik itu, entah kenapa sebuah bayangan lain datang ke dalam kepalanya. Ia seolah dapat melihat laki-laki bersurai cokelat tanah itu sedang berlari terburu-buru menyusuri lorong, melewati sebuah ruangan besar yang dihiasi pantulan dari jendela kaca akrilik bergambar yang berwarna biru dan merah di lantainya, menuruni tangga, lalu sejenak laki-laki bersurai cokelat tanah itu merapikan pakaiannya yang berwarna merah marun sebelum kemudian mengangkat kepalanya dan tersenyum manis. Seolah sedang menyambut kedatangan seseorang.

“Tentu sangat mahal.” Suara Kuroko menyadarkan Akashi dari lamunannya. “Aku mendengar dari Mibuchi-san. Malam itu kau tidak pergi ke pesta perjodohan, Akashi-kun? Dia bilang kau punya pacar baru.”

“Dia juga bilang kepadaku. Itu kebiasaannya untuk mengejar segala macam wanita ataupun laki-laki.” Kata Akashi santai.

“Itu benar. Kau bukan tipe orang yang mengejar wanita atau laki-laki, Akashi-kun.” Kata Kuroko setuju, lalu mempermainkan gelas antik di tangannya itu dengan pelan sejenak.

Mata merah Akashi kembali mengikuti gelas antik di tangan Kuroko. Dan semakin ia melihatnya, semakin jelas bayangan tentang laki-laki bersurai cokelat tanah itu di dalam kepalanya. Seperti sebuah film yang berlanjut, kali ini ia melihat laki-laki bersurai cokelat itu berada di sebuah ruangan yang besar dengan dekorasi ruangan yang elegan, khas jaman dulu. Laki-laki bersurai cokelat tanah itu sedang duduk dengan tenang di sebuah kursi yang besar, meletakkan kedua tangannya di pangkuannya dan menatap lurus ke depan, seolah sedang dilukis. Entah kenapa, Akashi merasa yakin bahwa laki-laki bersurai cokelat tanah itu sedang dilukis oleh seseorang. Laki-laki bersurai cokelat tanah itu nampak sedang berbicara dengan seseorang. Dia tertawa dan sesekali tersenyum dengan wajah yang merona merah. Imut sekali. Seiring gerakan tangan Kuroko yang menggerakkan gelas antik itu di tangannya, Akashi seolah melihat beragam ekspresi dari laki-laki bersurai cokelat tanah itu. Tawa, senyum, marah, cemberut, sedih dan wajah yang merona malu. Begitu memikat. Membuatnya ingin mengabadikan semua keindahan itu dalam sebuah lukisan.

Di luar hujan turun semakin deras. Akashi mengijinkan ketika Kuroko menjadikan gelas antiknya sebagai wadah minumnya. Sambil membaca buku dan menikmati jus yang dituangkan ke dalam gelas antik itu, Kuroko menemani Akashi menjaga toko yang sepi, seperti yang selalu ia lakukan. Sementara di kursinya, Akashi masih terus mengawasi gelas antik kesayangannya. Dengan menggunakan kamera ponselnya diam-diam Akashi mengikuti setiap gerakan tangan Kuroko yang sedang memegang gelas antiknya. Seolah Akashi ingin menangkap bayangan laki-laki bersurai cokelat tanah dari gelas antik itu dalam kameranya. Namun bayangan laki-laki bersurai cokelat itu tidak muncul di dalam layar ponselnya. Itu membuat Akashi merasa sedikit kecewa.

~+~+~+~

Sabtu pagi. Matahari bersinar cerah hari ini. Pagi ini Akashi datang ke sebuah kuil di dekat tokonya. Kemarin malam Imayoshi Shoichi, salah seorang pelanggannya yang tinggal di kuil tersebut menghubunginya, memintanya untuk datang ke rumahnya. Katanya ada beberapa barang antik yang ingin dia minta Akashi untuk menjualkannya.

“Apakah itu semua benar, Imayoshi-san? Kau mewarisinya dari ayahmu, ‘kan?” tanya Akashi ketika mengetahui bahwa barang-barang antik yang ingin Imayoshi jual adalah barang-barang warisan dari ayahnya. Ia menatap barang-barang antik yang diletakkan oleh Imayoshi di hadapannya.

Imayoshi duduk di depan sebuah altar kecil yang berisi foto dan abu milik ayahnya yang telah meninggal seminggu lalu. “Ini belum lama sejak ayahku meninggal….” jawab Imayoshi seraya menatap foto ayahnya. “Sebenarnya ini terasa cukup berat, tapi aku harus membiarkan barang-barang ini pergi untuk membayar pajak warisan.”

“Begitu ya…” kata Akashi mengerti. “Jangan khawatir. Aku akan memiliki klien yang handal yang akan mengambilnya untuk harga yang baik.”

“Aku percaya kau akan melakukannya,” kata Imayoshi, mengalihkan pandangannya pada tatami. Lalu dengan pandangan menerawang ia menambahkan, “Jiwa yang ada di segala sesuatu….” ia meraih sebuah botol kecil yang terbuat dari tembikar, memandang botol kecil yang terbuat dari tembikar itu dan melanjutkan, “Jiwa ayah pasti ada di dalam ini.”

Keluarga Imayoshi adalah keturunan paranormal, dan hal-hal yang berhubungan dengan supranatural bukanlah hal yang asing bagi Imayoshi sejak kecil. Dan hal itu menggelitik rasa penasaran Akashi tentang dunia roh.

“Imayoshi-san, kau seorang paranormal, ‘kan? Bisakah kau melihat segala macam hal?” tanya Akashi penasaran.

“Ah, ya…” jawab Imayoshi seraya beranjak berdiri. Akashi mengikuti ketika Imayoshi mulai mencari barang-barang antik lain di ruangan lain yang mungkin bisa dijual. “Misalnya, ayah yang berkeliaran di seluruh tempat.”

Perkataan Imayoshi membuat Akashi terkejut dan mundur satu langkah. Imayoshi yang sedang mengeluarkan barang-barang tua yang ada di dalam sebuah lemari menambahkan dengan santai, “Aku ingin dia berhenti muncul di kamar mandi…” ia mengambil sebuah gulungan tua, membukanya dan memandangnya sejenak sebelum kemudian menggulungnya lagi dan memasukkannya dalam daftar barang yang tidak bisa dijual. “….meskipun aku putranya.”

Setelah selesai mengumpulkan semua barang-barang antik yang ingin dijual, Imayoshi mengantar Akashi hingga ke depan kuil. “Satsuki-chan, gadis di toko Deli itu juga memiliki jenis kemampuan yang sama.” Beritahu Imayoshi.

“Apakah begitu?” kata Akashi.

“Bagaimana denganmu, Akashi-kun?” tanya Imayoshi.

Akashi menoleh menatap Imayoshi, lalu menggelengkan kepalanya.
“Tidak sama sekali. Atau pun aku tertarik pada hal itu.” Jawabnya.

“Itu bagus. Kau punya sikap yang benar, Akashi-kun,” kata Imayoshi. Lalu sambil tersenyum, ia memperingatkan, “Jangan terlalu ingin tahu tentang dunia roh… dan mencoba untuk menghubungi roh. Ini pun bisa membuat tertawa.”

“Ah…” Akashi hanya menggumam dan menundukkan kepalanya. Entah kenapa, tiba-tiba ia teringat pada laki-laki bersurai cokelat tanah itu. Apakah laki-laki bersurai cokelat tanah itu adalah roh dari gelas antik itu? Ataukah itu hanya ilusinya semata?

Ah, perkataan Imayoshi itu justru membuatnya semakin penasaran.

Tbc.

2 thoughts on “Heure Désolée / Chapitre 1

  1. gag sengaja sih nemu di beranda efbe ><
    ceritanya seru banget .__. jadi penasaran si chihuahua ini roh atau jiwa yang terjebak dalam gelas antik itu 0-0…

    semangat ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s