A Cruel God Reigns / Chapter 1

01

Summary : Ketika ibunya menikah kembali, yang Jeremy harapkan hanyalah kebahagiaan ibunya. namun di tengah kebahagiaan itu, Jeremy harus bertahan dengan tindakan seksual ayah tirinya yang kasar, Greg. Tidak ingin menghancurkan pernikahan bahagia yang selalu diimpikan oleh ibunya yang emosinya tidak stabil, Jeremy tidak pernah mengatakan apapun. Tetapi ketika akhirnya kesabarannya habis, Jeremy memutuskan untuk membunuh ayah tirinya dengan cara merusak rem mobilnya, yang ternyata tidak sengaja membunuh ibunya juga. Ian, anak sulung dari Greg mulai curiga dengan keterlibatan Jeremy dalam kematian ayahnya, dan mencoba untuk membuatnya mengaku. Namun semua menjadi sulit ketika Ian justru tidur dengan Jeremy, yang membuatnya tidak yakin lagi dengan perasaannya sendiri terhadap sang adik tiri.

Cerita ini berdasarkan manga jepang berjudul Zankoku na Kami ga Shihai Suru karya Hagio Moto. Aku mencoba me-remake manga favoritku ini dalam bentuk tulisan. I don’t take any personal commercial advantages from making this. Purely just for fun. Hope you all like it!

~Presented by@Min kecil~

.
.
.

Biarkan aku memberitahumu tentang sebuah tragedi. Sebenarnya, aku hanya mempelajari betapa tragisnya hal ini di kemudian hari…

.
.
.

Chapter 1

November, 1934. London.

Di penghujung musim gugur ini udara mulai semakin dingin, mengiringi hari pemakaman yang tak terduga. Berdiri diantara nisan-nisan yang tertata rapi di area pemakaman sebuah gereja tua, Ian Lowland memperhatikan dengan sedih ketika peti mati berwarna hitam itu perlahan dimasukkan ke dalam lubang kubur, lalu tanah mulai menutupinya sedikit demi sedikit. Sedikit jauh, di belakangnya, Ian dapat mendengar suara orang-orang yang saling berbicara dengan suara pelan. Membicarakan tentang kecelakan mobil yang membuat ayahnya terbaring koma di rumah sakit dan merenggut nyawa ibu tirinya yang cantik, Sandra.

“Ian,” seorang pria tua menghampiri Ian. Jaket berwarna cokelat membalut tubuh besarnya, dengan syal merah kotak-kotak yang melilit lehernya dan sebuah topi yang melindungi kepala berubannya dari udara dingin.

“Paman…” Ian menoleh. Pria tua yang dipanggil paman oleh Ian itu menatap sang remaja berusia 19 tahun itu dengan wajah sedih.

Dengan rambut pirang platinum yang dibiarkan memanjang sebahu dan mata biru yang indah, Ian Lowland sungguh sebuah replika dari mendiang ibunya yang telah mati sepuluh tahun silam. Dan Greg Lowland juga memberikan andil dengan mewariskan ketampanannya. Tinggi, tampan, bertubuh sexy. Itulah sang sulung dari keluarga Lowland. Tapi saat ini, kelabu sedang menghinggapi sang sulung dari keluarga Lowland itu.

“Semuanya akan baik-baik saja. Kau hanya harus menunggu sampai Greg pulih,” Pria tua itu mencoba memberi sedikit penghiburan, namun Ian hanya menatapnya dengan raut kesedihan yang masih enggan beranjak dari wajah tampannya. “Tapi kasihan, Sandra yang malang. Dan lihatlah dia…”

Ian menoleh, mengikuti arah pandangan sang paman yang kini tertuju pada seorang remaja laki-laki yang sejak tadi berdiri disampingnya tanpa suara, terpaku memandang nisan baru di depannya dengan tatapan tidak percaya. Jeremy, yang menjadi adik tirinya selama enam bulan ini, nampak begitu terguncang. Air mata tidak berhenti mengalir dari sudut matanya, serupa sungai-sungai kecil.

Dengan rambut hitam ikal, mata hijau yang cemerlang, tubuh yang ramping dan sedikit pendek, juga wajah yang manis, Jeremy adalah seorang remaja yang menarik. Namun bagi Ian, adik tirinya yang lebih muda dua tahun darinya itu adalah sosok yang sulit. Tetapi kini, diantara semua orang, Jeremy-lah yang paling sedih atas kematian mendadak sang ibu, Sandra. Ian sangat memahami hal itu.

“Jeremy,” panggil Ian. Namun Jeremy tidak mendengar, ia masih terpaku memandang nisan baru di depannya.

Ian mencoba memanggilnya lagi. Namun masih tidak ada jawaban dari Jeremy. Remaja berambut ikal itu seolah tidak mendengar, bahkan ia seolah tidak berpijak di bumi. Tiba-tiba tubuh Jeremy lunglai dan nyaris menghantam tanah jika saja Ian tidak segera menahan lengannya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Ian seraya melepaskan pegangannya pada lengan Jeremy.

Masih tidak ada jawaban dari Jeremy. Dan detik berikutnya tubuh Jeremy kembali lunglai. Dengan sigap Ian menangkap lengan Jeremy dan memutuskan untuk tidak akan melepaskannya lagi, takut adik tirinya itu akan pingsan tiba-tiba. Jeremy yang terguncang membuatnya sedikit khawatir. Lalu, suara-suara itu terdengar lagi, berbisik-bisik dari belakangnya.

“Lihat, itu Jeremy.”

“Oh, anaknya Sandra…”

“Sandra masih muda, juga cantik. Sandra yang malang.”

“Greg yang mengendarai mobilnya, kan?

“Yah, dokter bilang itu hanya masalah waktu.”

Dan suara bisikan-bisikan lainnya.

Ian hanya diam dan berusaha mengabaikan suara-suara bisikan di belakangnya. Ia tahu, semua orang telah menyerah terhadap kesembuhan ayahnya. Begitupun juga dirinya. Yah, ini hanya soal waktu hingga peti mati berikutnya yang terkubur disini adalah peti mati milik ayahnya.

Sial, aku harap aku tidak perlu mendengarkan mereka, Ian memaki dalam hatinya.

“….harus…. mati…. dia…. harus…. oh…” Tiba-tiba Jeremy menggumam pelan, namun cukup keras untuk menarik perhatian Ian yang sedang menahan lengannya. “kenapa… di dalam mobil… kenapa… di dalam mobilnya, Sandra… San…” ia menundukkan kepalanya dan air matanya kembali mengalir deras. “kenapa… mobilnya… harus… harus mati…”

Lalu Jeremy berhenti menggumam. Tubuhnya semakin lunglai, dan air matanya tidak pernah berhenti meluruh turun membasahi wajah manisnya. Ian hanya diam dan mengernyit memperhatikan adik tirinya yang tidak berhenti menangis tanpa suara. Sejak kedatangan Jeremy ke dalam rumah mereka, hal-hal aneh mulai terjadi. Ayahnya menikah kembali. Tetapi ketika Sandra dan anaknya datang untuk tinggal di mansion mereka, ia selalu berpikir bahwa ada sesuatu yang tidak benar disini.

Kecelakaan mobil? Ada sesuatu yang salah dengan cara mengemudi ayahnya?

Tidak! Itu semua salah! Ini semua bukan kecelakaan! Ian menyakini hal itu. Lalu sesuatu tiba-tiba menyentak pikirannya. Ia menatap tajam Jeremy disisinya. Sebuah kecurigaan timbul dalam dirinya.

Jika ini seperti yang dipikirkannya, pastilah Jeremy yang melakukannya. Adik tirinya adalah seorang pembunuh.

~+~+~+~

Enam bulan lalu. Boston, Massachusetts.

“Jeremy, kau terlambat!” Vivi berkata kesal ketika akhirnya Jeremy muncul, setelah hampir satu jam ia menunggu di taman sendirian.

Jeremy menghentikan sepedanya, meloncat turun dan sejenak menghapus peluh di wajahnya.
“Maaf, aku harus memompa ban sepedaku tadi,” katanya meminta maaf.

Vivi mengabaikan alasan Jeremy dan menyodorkannya secarik kertas padanya. “Ini daftar pengirimannya,” katanya.

“Yang lain sudah pergi semua?” tanya Jeremy seraya menerima kertas dari tangan Vivi. Gadis cantik berambut merah pendek itu hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Sejenak Jeremy membaca daftar pemberian Vivi sebelum kemudian ia mengangkat pandangannya pada sang kekasih. “Apa kita pergi bersama hari ini, Vivi?”

“Tidak,” jawab Vivi. “Aku harus pergi ke rumah sakit di utara, dan kau pergi ke rumah panti jompo di selatan.” Seraya menuntun sepedanya, Vivi melangkah pergi sambil tersenyum dan melambaikan tangannya pada Jeremy. “Sampai nanti! Miliki waktu yang baik dengan pekerjaan sukarelamu hari ini!”

“Ah! Vivi!” Jeremy menahan bahu Vivi dan mencium bibirnya dengan lembut ketika gadis itu menoleh.

“Ayolah, kau brengsek. Kita ada pekerjaan yang harus dilakukan,” kata Vivi, mengusap tengkuknya dengan sedikit malu.

“Hey, mau pergi ke tanjung Cod musim panas ini?” ajak Jeremy.

“Maksudmu dengan Tom, Dennis, Maggie, dan Sue? Seluruh geng?”

“Hanya kita berdua. Aku pikir kita bisa menginap di sebuah bungalow pantai.”

Vivi berpikir sejenak. Lalu, sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain ia berkata, “Jika kau dapat ke sini lebih cepat, kita akan memiliki banyak waktu untuk membicarakan tentang hal itu.”

“Aku akan pergi di bulan Agustus karena pekerjaanku di summer camp.”

Vivi menoleh pada Jeremy dan menatapnya sejenak. “Um, kau tahu aku masih perawan, kan?” tanyanya.

Jeremy mendekatkan wajahnya pada Vivi. “Sebenarnya, begitu juga dengan aku,” jawabnya.

Sebuah kecupan lembut sebelum kemudian Jeremy dan Vivi memutuskan untuk beranjak pergi menuju tugas masing-masing. Dan sepanjang perjalannya menuju rumah panti jompo di Selatan, Jeremy mengayuh sepedanya sambil tersenyum tanpa henti.

~+~+~+~

Sudah hampir dua puluh menit pria itu berdiri di depan toko, menatap serius sebuah merchandise yang dipajang di etalase toko antik tersebut. Dari mejanya, seraya pura-pura menulis sesuatu di bukunya, Sandra memperhatikan pria itu dari sudut matanya. Pria itu mungkin berusia akhir 30an dengan rambut pirang, wajah yang tampan, rahang yang tegas, dan setelan jas yang terlihat mahal yang membalut tubuhnya—yang Sandra yakin itu adalah Brothers Shirt, sebuah merek yang mahal dan sedang laku keras saat ini—, jelas pria itu memiliki selera yang bagus. Pria itu tidak mengalihkan pandangannya ke merchandise yang lain, seolah matanya telah terpaku oleh sesuatu. Membuat Sandra yakin bahwa pria itu adalah seorang pelanggan yang serius.

Seraya terus berpura-pura menulis Sandra bertanya-tanya di dalam kepalanya, jika saja pria itu akan masuk ke dalam toko. Haruskah ia memanggilnya? Namun kemudian, ia memilih untuk menunggu dan terus berpura-pura menulis sambil berharap pria tampan itu akan masuk ke dalam tokonya.

Dan akhirnya harapan Sandra terkabul. Pria itu akhirnya memutuskan untuk memasuki toko. “Halo,” sapa pria tampan itu.

Sandra menghentikan aksi pura-pura menulisnya. Ia mengangkat kepalanya dan tersenyum. “Selamat datang,” katanya ramah. Ia beranjak dari mejanya dan menghampiri sang pembeli.

“Aku ingin melihat Katana Tsuba yang dalam jendela etalase itu,” kata pria tampan itu seraya menunjuk ke arah jendela etalase toko yang sejak tadi diperhatikannya dari luar.

“Tentu saja,” Sandra beranjak pergi sejenak dan kembali dengan sebuah kotak berisi Katana Tsuba di tangannya. “Ini. Tsuba ini adalah barang antik yang sangat berharga dari Jepang.”

Pria tampan itu memperhatikan sesaat kotak di tangan Sandra lalu menggelengkan kepalanya. “Tidak, bukan yang ini. Aku ingin melihat yang satu dengan desain sakura itu,” katanya seraya kembali menunjuk ke arah jendela etalase.

“Oh, yang itu?” Sandra sedikit terkejut dan ikut menoleh ke arah jendela etalase. “Itu hanya digunakan untuk pajangan, jadi aku khawatir menjualnya itu sedikit….”

“Berapa banyak? Aku akan membayar berapa pun harganya,” potong pria tampan itu, tidak peduli.

“Tidak, aku benar-benar minta maaf. Tidak mungkin aku bisa menjualnya.”

“Aku cukup bicara denganmu. Panggil manajermu,” kata pria tampan itu mulai kehabisan kesabaran, membuat Sandra gugup dan bingung.

“I-itu…sangat…berharga untukku,” tolak Sandra. Sambil menahan kegugupannya, Sandra berusaha membujuk sang pria tampan itu untuk memilih yang lain. “Mungkin kau akan tertarik dengan yang lain? Ini adalah Fujiyama…” katanya sambil menunjukkan sebuah Tsuba dengan desain gunung yang indah.

“AKU INGIN YANG SATU DENGAN DESAIN SAKURA ITU!” tolak pria tampan itu dengan suara keras, membuat Sandra tersentak kaget. Tepat ketika itu pintu toko terbuka.

“Hey, San…dra,” Jeremy melangkah masuk sambil tersenyum. Namun segera senyumnya menghilang saat menyadari suasana tegang yang sedang memenuhi toko. Sandra dan si pria tampan menoleh ke arahnya. “Oh, maafkan aku…”

“Jeremy,” Sandra merasa lega melihat kedatangan putranya. Jeremy menghampiri Sandra dan mengeluarkan setumpuk surat dari dalam tasnya, lalu memberikannya pada sang ibu. “Oh, tidak apa. Terima kasih sudah membawa masuk suratnya,” katanya seraya tersenyum dan menerima tumpukan surat dari tangan putranya.

Sang pria tampan yang telah habis kesabarannya tiba-tiba beranjak pergi meninggalkan toko.
“Oh! Sir ?” panggil Sandra, terkejut. Namun sosok tampan itu telah menghilang dibalik pintu yang tertutup.

“Maaf, sepertinya aku membuat takut pelangganmu,” kata Jeremy.

“Tidak, kau menyelamatkanku. Dia menjadi tidak terkontrol. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan,” kata Sandra, menoleh pada putranya dengan raut wajah bingung.

Jeremy menoleh ke luar toko. Ia bisa melihat, di depan jendela etalase, pria tampan itu masih belum beranjak pergi. “Dia masih disana,” katanya.

“Oh, tidak…” gumam Sandra, ikut melihat ke arah jendela dengan cemas.

Tidak ingin membuat sang ibu semakin cemas, Jeremy memutuskan untuk keluar dari toko dan mencoba berbicara dengan pria tampan itu. Mungkin dengan berbicara dan memberi sedikit pengertian pria tampan itu akan menyerah dan beranjak pergi.

“Um, sir ? Tsuba itu sangat penting baginya, bisakah Anda memilih yang lain?” tanya Jeremy dengan sopan.

“Siapa kau?” pria tampan itu balik bertanya, seraya menatap Jeremy dengan wajah masam. “Apa kau mengenal wanita itu?”

“Anda bisa mengatakannya begitu. Aku putranya,” jawab Jeremy seraya tersenyum kecil.

Pria tampan itu diam sejenak dan mengalihkan pandangannya pada jalanan yang ramai. “Hanya ada dua yang menggunakan desain itu. Mereka bagian dari satu set. Aku sudah memiliki satu,” katanya tiba-tiba, tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.

“yah, bagaimana jika Sandra mencoba untuk membelinya darimu?” tanya Jeremy.

“Aku tidak akan menjualnya pada siapapun,” jawab si pria tampan dengan tegas, masih tidak mengalihkan pandangannya.

“Sandra juga merasakan hal yang sama, karena benda itu mengingatkannya pada ayahku,” kata Jeremy, membuat si pria tampan itu akhirnya mengalihkan pandangannya.

Si pria tampan terdiam sejenak memandang Jeremy. Lalu, sebelum beranjak pergi ia berkata, “Aku Greg Lowland. Aku akan tinggal di Boston untuk beberapa hari di hotel Ritz. Aku beritahu kau saat ini juga, aku tidak akan pergi tanpa Tsuba itu. Aku akan kembali.”

~+~+~+~

Sepulang kerja Sandra memutuskan membeli sekotak pizza dan menikmatinya sambil mengobrol dengan sang putra di ruang makan, ditemani oleh secangkir teh dan segelas cola. Seraya menikmati pizzanya Jeremy menceritakan tentang pembicaraannya dengan si pria tampan tadi pada sang ibu.

“Seorang tamu di hotel Ritz? Mengagumkan,” Sandra yang hendak menyesap cangkir tehnya menghentikan tangannya di udara dan menoleh pada putranya yang duduk di sampingnya, asyik mengunyah sepotong pizza. “Itu mengingatkanku, dia juga memakai jam tangan yang mahal.”

“Jadi, apakah Tsuba itu bernilai besar?” tanya Jeremy, seraya mengusap bibirnya dengan ibu jarinya.

“Tidak juga. Benda itu dari periode Edo. Jadi barang antik itu cukup murah,” jawab Sandra, menyesap cangkir tehnya sejenak. “ Aku benar-benar ingin yang lainnya di dalam set, tetapi koleksi Tsuba ayahmu hanya memiliki satu dari mereka.”

Jeremey meneguk gelas colanya dan diam sejenak. Lalu, sambil menggaruk belakang tengkuk ia berkata, “Aku memikirkan sebuah rencana perjalanan ke tanjung Cod dengan teman-temanku di bulan Juli ini. Bersenang-senang bersama, menginap beberapa malam di hotel yang murah…”

“Kapan? Tanjung Cod sangat ramai di bulan Juli hingga Agustus,” tanya Sandra seraya membersihkan meja makan. “Dan dengan hari kemerdekaan pada tanggal 4 Juli, kau pikir kau bisa mendapatkan hotel?”

“Ap…?” Jeremy terkejut mendengar penuturan ibunya, lalu segera berlari ke meja telepon untuk menelepon Vivi.

Namun ternyata yang dikatakan oleh Vivi di ujung telepon serupa dengan yang dikatakan oleh ibunya. Seluruh hotel di bulan Juli telah penuh dipesan. Sesaat, Jeremy merasa lega ketika Vivi mengatakan bahwa ada satu kamar yang kosong untuk satu orang di tanggal 16.

“Apakah kamar itu memiliki pemandangan laut di luar jendelanya?” tanya Jeremy penuh harap.

“Ya, tapi kita mungkin harus menyiapkan kasur tambahan,” dan jawaban Vivi membuat Jeremy mendesah kecewa. Sepertinya ia harus memikirkan ulang rencana perjalanan mereka ke tanjung Cod musim panas tahun ini.

~+~+~+~

Keesokan harinya berjalan seperti biasa. Kota Boston masih ramai dengan orang-orang sibuk berlalu-lalang dengan kesibukan masing-masing. Dan Sandra masih disibukkan dengan pekerjaannya di toko merchandise tempatnya bekerja. Namun hari itu, fokus Sandra sedikit teralihkan dengan bayangan Greg yang terus bermain di dalam kepalanya. Greg Lowland, pria tampan itu membuatnya gugup dengan sikap keras kepalanya, namun entah kenapa ia tidak bisa melupakannya. Mungkinkah pria itu benar-benar akan kembali lagi ke toko ini?

Suara pintu terbuka menyadarkan Sandra dari lamunannya. Ia menoleh dan kegugupan itu kembali menjalari tubuhnya ketika dilihatnya sosok tampan Greg berdiri diambang pintu. “Oh, ya ampun…” gumamnya tidak percaya. Ternyata pria itu benar-benar kembali lagi. Segera Sandra berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya, membiarkan sang manajer yang menyambut si pelanggan yang keras kepala itu.

“Apakah kau memiliki Ukiyo-Eprints apapun yang berkualitas tinggi?” tanya Greg ketika sang manajer yang gendut itu bertanya—dengan senyum yang kelewat ramah—padanya tentang apa yang dicarinya.

Dengan senang sang manajer yang gendut itu segera menunjukkan semua koleksi yang dimilikinya. Namun alih-alih memperhatikan penjelasan sang manajer tentang semua koleksi itu, sudut mata Greg justru sibuk memperhatikan Sandra yang masih saja berpura-pura sibuk di mejanya. Tatapan mata Greg yang tajam membuat kegugupan Sandra terasa semakin pekat.

Tidak lama Greg pergi meninggalkan toko setelah memilih sebuah merchandise, memberikan sedikit kelegaan untuk Sandra. Tetapi saat jam makan siang kelegaan itu tidak bertahan lama. Ternyata Greg menunggunya di depan toko ketika Sandra hendak makan siang diluar. Sejenak kegugupan itu kembali melanda tubuh Sandra ketika Greg mengajaknya untuk pergi ke taman bersamanya. Tidak ada yang bersuara hingga langkah mereka tiba di taman kota yang ramai dan duduk di sebuah kursi taman yang kosong.

“Aku minta maaf sudah menyusahkanmu kemarin. Tolong terima permohonan maafku,” tiba-tiba Greg berkata, menoleh memandang Sandra. “Karena itu adalah barang penting yang mengingatkanmu pada suamimu, aku akan menyerah.”

Sandra terkejut dengan permintaan maaf yang tiba-tiba itu. Permintaan maaf yang tiba-tiba itu sekejap menghapus kegugupan yang sejak tadi menjalari tubuhnya. Lalu kemudian ia tersenyum. “Kau punya yang satunya di dalam set, bukan? Putraku menceritakannya padaku,” katanya.

Greg mengalihkan pandangannya pada air mancur di depannya dan wajah tampannya mendadak berubah sedih. “Sejujurnya, itu dari koleksi mendiang istriku. Jadi itu adalah barang penting yang mengingatkanku juga pada mendiang istriku,” katanya.

“Ya ampun…! Itu kebetulan sekali…!” seru Sandra terkejut.

“Ya, itu kemiripan yang aneh..” komentar Greg, tersenyum kecil pada Sandra.

“Dari mana kau berasal?”

“Aku dari London.”

“Apakah itu artinya merek kemejamu itu adalah Burberry?”

Sejenak tawa renyah Greg meledak. “Ini Zegna,” jawabnya, membuat Sandra kembali terkejut.

“Maksudmu Emernegildo Zegna?” Sandra menatap Greg tidak percaya. Itu adalah merek pakaian yang amat sangat mahal. Untuk membeli satu potong pakaian merek itu, mungkin ia harus menghabiskan uang gajinya selama bertahun-tahun. Jelas, pria ini sangat kaya.

Greg mentraktir Sandra makan siang di sebuah restoran mahal, katanya sebagai permohonan maafnya untuk sikapnya yang kasar kemarin. Sandra tidak bisa menolak ajakan itu. Seraya menikmati segelas wine dan makanan lezat, Greg bercerita tentang dirinya.

“Pamanku membangun sebuah pusat perbelanjaan di London. Aku dipercayakan untuk mendapatkan persediaan display. Karena itu aku datang ke New York untuk menghadiri beberapa acara lelang,” jelas Greg seraya memainkan gelas wine di tangannya.

Sandra terpana mendengar penjelasan yang diluar ekspetasinya itu. Awalnya ia pikir Greg hanyalah seorang pebisnis biasa, tetapi ternyata pria tampan itu bekerja untuk sebuah perusahaan perdagangan terbesar di London.

“Ketika aku tiba di New York…” Greg menyesap sejenak gelas wine-nya sebelum melanjutkan ceritanya. “tiba-tiba aku merasakan nostalgia untuk Boston, jadi setelah itu aku meninggalkan sisanya kepada vice president dan memutuskan untuk berkunjung ke sini.”

“Nostalgia? Apakah ada alasan tertentu mengapa kau merasa seperti itu?” tanya Sandra, meletakkan gelas wine-nya di atas meja dan memutuskan untuk memberikan perhatian penuhnya pada cerita Greg.

Greg mengalihkan pandangannya keluar jendela. “Aku pernah tinggal disini selama dua tahun. Itu sudah lama sekali, bersama istriku yang masih muda dan putraku. Itu pasti, setidaknya, sudah lima belas tahun sejak saat itu,” katanya, tersenyum rindu.

~+~+~+~

Hari-hari berikutnya Sandra kembali menghabiskan waktunya bersama Greg, mendengarkan cerita tentang hidupnya tanpa rasa bosan. Hari ini mereka berjalan menyusuri dermaga yang tidak terlalu ramai, dan Sandra kembali memusatkan perhatiannya pada cerita Greg.

“Aku datang ke Boston untuk belajar bisnis manajemen di sekolah bisnis Harvard,” cerita Greg, membuat Sandra berpikir betapa elitnya pria tampan ini. Namun tiba-tiba Greg duduk di salah satu kursi dan raut wajahnya berubah sedih ketika ia melanjutkan ceritanya, “Istriku sangat tertutup dan memiliki masalah dalam berteman. Aku pikir dia jatuh sakit karena hidup disini sangat sulit untuknya. Ketika kami tiba di London….dia meninggal tidak lama setelah itu.”

Sandra terkejut ketika tiba-tiba Greg menangis.
“Mr. Lowland…” katanya, mengusap bahu pria itu dengan iba.

“Maafkan aku…” kata Greg menundukkan kepalanya, menutup wajahnya dengan satu tangannya sesaat. “Tsuba itu adalah satu-satunya benda yang dia tinggalkan. Istriku sangat mencintai kesenian Asia. Tetapi aku terlalu sibuk dengan pelajaranku…aku bahkan tidak pernah pergi dengannya ke musium seni di Boston. Aku merasa sangat payah. Aku yakin bahwa aku tidak akan pernah kembali ke Boston lagi.”

“Tetapi kau kembali. Dan kau bahkan merasa sentimental tentang itu,” kata Sandra.

“Dan lalu aku bertemu denganmu,” kata Greg seraya menghapus air matanya.

“Mr. Lowland..”

“Tolong panggil aku Greg, Sandra…” pinta Greg, tersenyum lembut.

Sandra terdiam sejenak. Senyuman dan tatapan mata Greg yang lembut memberikan desiran aneh pada dirinya. Dan desiran aneh itu semakin terasa pekat ketika ia akhirnya menyetujui permintaan pria tampan itu untuk memanggil nama depannya. Greg…

~+~+~+~

Siang itu matahari bersinar terik, membuat Jeremy harus mengusap peluh di wajahnya berulang kali. Sepulang sekolah Jeremy bersama dengan Dennis dan Tom melakukan tugas rutinnya menjadi sukarelawan. Tugas hari ini adalah memunggut sampah-sampah plastik yang berserakan sembarang di taman kota. Dengan sarung tangan dan kantung plastik besar, Jeremy dan kedua temannya melakukan tugas mereka sebaik mungkin.

Tiba-tiba terdengar suara deru motor yang keras melintasi taman. Jeremy menghentikan kesibukannya sejenak dan menoleh ke asal suara. Ia melihat seorang remaja laki-laki dengan rambut pirang dengan model spike dan penampilan yang seperti anak nakal mengendarai sebuah sepeda motor berwarna merah dengan cepat. Jeremy mengenali remaja itu sebagai salah satu teman sekelasnya yang jarang sekali masuk sekolah. Jika ia tidak salah ingat, namanya…

“Hey, itu Cass. Kau tahu, “Mr. Held Back”?” kata Dennis, memberitahu. Remaja berambut cokelat dan berkacamata itu selalu mengingat nama julukan tema-teman sekolahnya dengan baik, seperti halnya ia mengingat rumor-rumor yang beredar di sekelilingnya.

“Dia tidak memainkan olahraga apapun atau melakukan pekerjaan sukarela setelah kelas,” Tom yang bertubuh gemuk dan berambut merah berkata, menatap remaja bernama Cass itu dan mendengus tidak suka.

Sejenak mereka bertiga memperhatikan Cass hingga motor Cass yang berwarna merah itu menghilang diujung taman. Tiba-tiba Dennis berkata, “Mereka bilang Cass melacurkan dirinya di bagian-bagian buruk di downtown.”

“Benarkah? Itu berarti dia seorang pecandu obat,” kata Tom.

“Mengapa?” tanya Jeremy, menoleh menatap kedua temannya.

“Obat dan pelacur selalu bersamaan,” jawab Dennis, memberitahu. Seraya kembali memunggut beberapa sampah dan memasukkan ke dalam kantung besar miliknya, ia berkata, “Hey, apakah kalian melihat “Bent” di TV kemarin? Itu tentang napi gay…”

“Apa kau pikir orang terlahir menjadi gay atau aneh?” tanya Tom.

“Lebih seperti mereka mencoba karena rasa ingin tahu dan lalu menjadi ketagihan karena rasa itu,” jawab Dennis. Lalu sambil tertawa kecil ia menambahkan, “Kau tahu, diluar sana ada para pria pebisnis yang benar-benar terlihat normal, dengan istri yang cantik dan anak-anak yang lucu. Lalu kadang-kadang mereka pergi untuk mendapatkan pelacur pria. Mereka adalah para gay penipu.”

Wajah bulat Tom memerah mendengar penuturan Dennis. Sebelum pembicaraan mereka menjadi semakin aneh Jeremy memutuskan untuk menengahi, “Ayolah, teman-teman. Kerja.”

Maka mereka pun kembali sibuk memunguti sampah-sampah yang seolah tidak ada habisnya itu. Sambil mengikat kantung plastik besar miliknya yang sudah penuh Dennis berkata dengan nada jahil pada Jeremy yang sedang memunggut beberapa kaleng kosong, “Aku yakin kau akan mudah menggoda orang-orang dengan bulu mata panjangmu itu, Jeremy.”

“Jangan bodoh,” Jeremy mendengus. “Disamping itu, aku ingin pergi ke tanjung Cod dengan Vivi.”

Dennis mengalihkan pandangannya ke arah lain dan sambil bertingkah seolah sedang berpikir ia berkata, “Berbicara tentang tanjung Cod, bibiku memiliki pekerjaan part-time untuk mengecat sebuah rumah…”

“Huh? Dennis!” seru Jeremy terkejut dan segera mengabaikan sampah di tangannya ke tanah. Ia menarik bahu Dennis dan menatapnya penuh harap. Bibi Dennis memiliki sebuah rumah di tanjung Cod yang harus di cat ulang, itu artinya….

“Rumah itu memiliki enam kamar tidur,” kata Dennis, memberitahu.

…rencana perjalanan Jeremy dengan sang kekasih mungkin masih memiliki harapan.

“Aku akan mengecatnya! Aku akan melakukan apapun, Dennis!” kata Jeremy dengan penuh semangat.

“Hey, jika mereka memiliki enam kamar tidur, itu artinya semua orang bisa ikut. Benar, kan?” Tom berkata seraya menghitung teman-teman gengnya dengan jari-jarinya yang gemuk. Membuat Jeremy berseru tidak terima.

“Hey, berhenti mengganggu! Kalian bisa pergi lain waktu!” namun teman-temannya hanya tertawa, tidak memperdulikan teriakan tidak terima Jeremy, membuat remaja berambut ikal itu akhirnya cemberut.

Lagi-lagi perjalanan kencannya dengan Vivi terancam terganggu. Huh!

Tbc

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s