Take Me Home, Slow Down My Heart

tumblr_mh8hpktX151rrzxmao1_500

Cast : Akashi Seijuro, Furihata Kouki
Warning : Shounen-ai, AU
Lenght : Oneshot
Genre : Romance, hurt
Disclaimer : This Fic belongs to me. Kuroko no basket belongs to Fujimaki Tadatoshi. I don’t take any personal commercial advantages from making this fanfiction. Purely just for fun
Summary : Akashi Seijuro adalah seorang kepala sipir penjara, dan Furihata Kouki adalah narapidana favoritnya. Furihata selalu menantikan kunjungan malam Akashi di selnya. Tetapi setelah dua bulan tidak bertemu, sepertinya malam ini akan menjadi kunjungan malam Akashi yang terakhir.


No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader.

~Presented by@Min kecil~

Malam telah lewat dari larut. Gedung penjara ini kini terasa tenang dari ulah para narapidana yang telah terlelap di dalam sel masing-masing. Di area penjara blok D, diantara deretan sel-sel penjara yang dingin itu, Furihata Kouki berdiri di dalam ruangan selnya yang kecil, memandang jendela kecil yang terletak cukup tinggi. Bias cahaya bulan menerobos masuk melalui celah-celah jeruji jendela kecil itu, membaur bersama ketenangan yang mengisi di dalamnya.

Di dalam ruangan kecil itu Furihata hanya sendiri, tidak pernah ada teman baru yang menemaninya mengisi ruangan sel yang dingin dan kecil ini. Orang itu tidak pernah mengijinkan siapapun mengisi ruangan kecil ini, selain hanya dirinya. Detak jam yang sunyi menari bersama ketenangan. Ketenangan ini membuatnya tidak bisa tidur. Memangnya sejak kapan ia bisa tidur dengan tenang di tempat ini?

Derap langkah kaki yang ia kenal terdengar melangkah dengan tenang di koridor, dan berhenti di depan ruangan kecil miliknya. Suara kunci yang berputar dan pintu terbuka. Ah, orang itu datang kembali padanya. Seperti malam-malam sebelumnya.

Terdengar pintu ditutup dan suara kunci yang berputar kembali. Furihata menundukkan kepalanya dan memejamkan matanya, menunggu. Pelukan hangat adalah hal pertama yang selalu orang itu berikan di setiap kunjungan malamnya. Sebuah pelukan hangat yang begitu erat yang selalu mampu menghentikan tubuhnya yang bergetar pelan, mengusir ketakutan karena sebuah mimpi buruk yang terkutuk. Terima kasih pada mimpi buruk yang selalu saja sama di setiap malam, pemandangan yang sama ketika tanpa sengaja ia membunuh ibunya satu tahun lalu.

Lima menit Furihata menunggu, namun tidak ada pelukan hangat yang ia terima. Tidak juga ciuman lembut yang selalu mampu mengusir semua ketakutan itu pergi. Hanya sepasang mata heterocrome yang terus menatapnya dari depan pintu. Furihata membuka matanya dan membalik tubuhnya, menatap balik sosok tampan yang berdiri di depannya. Seragam kepala sipir penjara membalut tubuh kokohnya. Bias cahaya bulan menimpa rambut merahnya. Dan sebuah name tag yang tersemat di dadanya bertuliskan nama…Akashi Seijuro.

Ah ya, bagi semua orang di penjara ini Akashi Seijuro adalah mimpi buruk. Seorang laki-laki yang menetapkan bahwa semua perkataannya adalah absolut. Sebuah peraturan yang tidak boleh ditolak jika kau tidak ingin pisau belati miliknya mengancam nyawamu. Tidak ada yang ingin mendapatkan kunjungan malam dari sang kepala sipir yang menakutkan itu. Tidak ada, kecuali Furihata Kouki.

Menatap ke dalam mata heterocrome yang terus saja menatapnya tanpa suara itu seketika membangkitkan imaji kuno dalam kepala Furihata. Mengingatkannya pada pertama kali ia menginjakkan kakinya di penjara ini dan bertemu dengan Akashi. Ketika itu, Akashi yang mengenalkan dirinya sebagai kepala sipir dan tuan rumah di penjara ini, menyambut kedatangan para napi-napi baru di rumah baru mereka. Tidak banyak yang dikatakan oleh Akashi, namun suaranya yang tegas dan kharismanya yang kuat cukup untuk membuat para anak baru itu—dan juga Furihata yang berdiri diantara napi-napi baru itu— menganggukkan kepala dengan penuh pengertian dan ketakutan. Dan ketika mata heterocrome Akashi menyapanya dalam tatapan yang tidak sengaja, tubuh Furihata gemetar ketakutan. Mata heterocrome itu menatapnya begitu tajam. Lalu sebuah senyuman kecil dari sang kepala sipir sebagai penutup sapaan, seolah menjanjikan pertemuan lainnya. Membuat tubuh Furihata berhenti gemetar, berganti menjadi sebuah getaran pelan dan nyaman dalam waktu bersamaan.

Lalu, hari demi hari, Furihata akan selalu menemukan mata heterocrome Akashi yang menatapnya diam-diam. Seiring hari, mata heterocrome itu menatapnya dengan lembut, yang akan selalu berakhir dengan senyuman kecil dari sang kepala sipir penjara, dan akan dibalas dengan senyuman tanpa sadar dari Furihata. Selama beberapa lama mereka hanya berkomunikasi melalui tatapan. Tanpa ada tukar kata, ataupun sentuhan. Hingga akhirnya di minggu keempat Furihata tinggal di penjara itu, ketika ia terbangun dari tidurnya yang gelisah di tengah malam, ia menemukan Akashi di dalam selnya yang kecil dan dingin. Akashi berdiri di pinggir ranjang besinya dan mata heterocrome-nya menatap Furihata dengan tatapan khawatir.

Furihata bertanya-tanya di dalam kepalanya, kenapa Akashi ada di dalam selnya di tengah malam seperti ini? Berapa lama dia berdiri di pinggir ranjangnya seperti itu? Dan kenapa mata heterocrome itu terlihat khawatir seperti itu?

Namun sebelum Furihata sempat bertanya, Akashi telah duduk di pinggir ranjang besinya dan merengkuhnya dalam pelukan yang hangat. “Bermimpi buruk lagi?” suara Akashi bertanya dengan lembut di telinga Furihata.

Furihata hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Ia memejamkan matanya ketika tangan Akashi membelai belakang kepalanya dengan lembut, seolah ingin mengusir mimpi buruk itu pergi. Dan ia membiarkan Akashi memperat pelukannya, menghentikan tubuhnya yang gemetar sejak tadi. Lalu, seketika ia merasa aman dan tenang.

Sejak malam itu, hampir di setiap malam Furihata akan selalu menemukan Akashi mengunjungi selnya. Laki-laki itu akan memeluknya dengan hangat ketika Furihata terbangun dari tidurnya yang gelisah. Membelainya dengan lembut, dan mengakhiri pertemuan diam-diam itu dengan sebuah ciuman yang lembut ketika laki-laki itu telah merasa yakin bahwa Furihata baik-baik saja. Lalu, entah sejak kapan Furihata mulai menantikan kunjungan Akashi di tengah malam di selnya yang kecil dan sepi itu. Bahkan, terkadang ia sengaja tidak tidur hanya untuk menunggu kedatangan laki-laki tampan bersurai merah itu.

Seperti malam ini.

Sudah dua bulan Akashi tidak datang mengunjungi Furihata di selnya yang kecil dan sepi itu. Menurut info, sang kepala sipir yang menakutkan itu sedang melakukan tugas luar. Membuat para penghuni penjara bernapas lega sejenak, tetapi membuat Furihata merasa kesepian. Ia merindukan laki-laki tampan bersurai merah itu dan kunjungan diam-diamnya di tengah malam.

Kini, ketika akhirnya Akashi kembali dari tugas luarnya dan kembali mengunjungi sel Furihata yang kecil dan sepi itu, Furihata merasa senang. Ia mengharapkan pelukan hangat, ciuman lembut, atau sebuah senyuman kecil. Tetapi sejak tadi Akashi hanya berdiri dan memandangnya tanpa suara. Mata cokelat Furihata mulai bergerak-gerak gelisah, menatap antara lantai yang dingin dan sosok tampan Akashi di depannya. Kerinduan di dadanya mendesaknya untuk berlari dan memeluk Akashi, tetapi ia takut pisau belati Akashi yang selalu tersembunyi di balik seragam kepala sipir yang keren itu akan mengancam lehernya. Bagaimanapun, selalu Akashi yang memulai segala hal, bagaikan sebuah perintah yang tak bisa ditolak.

Tiba-tiba tawa kecil Akashi memecah keheningan. Furihata mengangkat pandangannya dan menatap sang kekasih dengan bingung. Akashi tersenyum dan merentangkan kedua tangannya sambil berkata, “Kau boleh berlari memelukku jika kau mau. Tidak perlu takut. Pisau belatiku hanya untuk orang-orang yang memberontakku, bukan untuk mengancam kekasihku.”

Senyum cerah segera mengembang di wajah Furihata. Tanpa ragu ia berlari dan menerjang Akashi, memeluknya dengan erat. Menghujani wajah tampan sang kekasih dengan kecupan penuh rindu. Akashi hanya tersenyum senang. Ia memeluk Furihata dan berkata, “Aku merindukanmu, chihuahua-ku.”

“Kau selalu saja memanggilku seperti itu,” Furihata berkata, mendesah dalam pelukan Akashi. Namun kemudian ia tersenyum. “Aku juga merindukanmu, Sei.”

Akashi melepaskan pelukannya dan beranjak duduk di pinggir ranjang besi Furihata, membiarkan sang kekasih duduk di pangkuannya. Satu tangan Akashi memeluk pinggang sang kekasih, dan tangan lainnya membelai wajah manis yang selama dua bulan ini tidak bisa dilihatnya. Sejenak Furihata memejamkan matanya, menikmati sentuhan hangat tangan Akashi.

“Apa kau masih bermimpi buruk, Kouki? Apa tidurmu masih gelisah setiap malam?” tanya Akashi.

Furihata membuka matanya dan melihat raut kekhawatiran di wajah tampan Akashi. Satu ekspresi yang tak mungkin laki-laki tampan itu tunjukan kepada orang lain selain dirinya. Biasanya hanya sedikit ekspresi yang selalu Akashi tunjukan pada orang-orang. Arogan dan tegas adalah salah satunya. Tetapi ekspresi lembut, khawatir dan penuh cinta hanya akan Akashi tunjukan pada seorang Furihata Kouki. Sedikit banyak, itu membuat Furihata merasa bangga pada dirinya sendiri, karena mampu membuat seorang Akashi Seijuro yang ditakuti dan disegani banyak orang menunjukkan ekspresi mengejutkan seperti itu. Furihata pun memutuskan untuk tidak akan pernah membagi ekspresi-ekspresi mengejutkan Akashi itu kepada orang lain. Cukup hanya untukknya saja.

“Ya, terkadang,” jawab Furihata, wajah manisnya nampak sedih. “ketika aku terbangun dari mimpi buruk itu dan tidak menemukanmu disisiku, aku merasa takut dan kesepian, Sei”

Akashi memberikan sebuah ciuman lembut di bibir Furihata, seolah ingin mengusir pergi raut sedih di wajah manis itu. Menempelkan dahinya dengan dahi sang kekasih, ia berkata pelan, “Maafkan aku…”

Furihata tersenyum. Memberikan sebuah kecupan singkat di dahi sang kekasih sebagai balasan, ia menatap sang kekasih dan berkata, “Tidak apa. Itu bukan masalah lagi.”

Malam itu, dalam ruangan sel yang kecil dan dingin itu mereka menumpahkan rangkuman rindu mereka dalam ciuman dan sentuhan yang dirasa tidak akan pernah cukup. Furihata mendesah merasakan sensasi menggelitik setiap kali merasakan sentuhan sang kekasih di tubuhnya, sentuhan yang selalu dirindukan.

Akashi mencumbu kekasih chihuahua-nya dengan penuh gairah dan lembut. Ia menjelajahi tubuh indah itu, seolah ia kembali menghafal setiap detil dari tubuh itu. Malam ini Furihata memberikan kembali yang dibutuhkan Akashi, lengkap. Harum melati. Secangkir madu. Segelas air susu segar. Dari tubuh sempurna itu. Yang kurang sempurna dari semua itu mungkin hanya tempat mereka berada sekarang. Seharusnya mereka berada di ranjang yang hangat, bukan di ruangan penjara yang kecil dan menyebalkan ini.

Namun meski begitu, tembok beton penjara yang mulai lapuk dan dingin itu, dan ruangan sel yang kecil itu tetap tidak mampu menyembunyikan kesempurnaan pesona sang chihuahua yang telah menjeratnya ketika pertama Akashi melihatnya. Sosok yang gemetar dan gelisah itu begitu menarik mata heterocrome-nya. Dan kembali sepasang mata cokelat itu menyesatkan Akashi. For God sake, Akashi menyukai semua ini. Mata itu, tubuh hangat ini, dan suara desahan Furihata yang begitu menggodanya.

Entah sejak kapan pakaian mereka berserakan di lantai. Seperti sepasang serigala dan chihuahua yang beradu di puncak birahi, mereka beradu diatas ranjang besi yang dingin dan kurang nyaman itu, tapi siapa yang peduli. Bahkan mereka tidak peduli jika saja napi-napi di ruangan sel lain mendengar atau melihat percintaan mereka. Dan untuk saat ini saja Furihata tidak peduli jika ada penjaga yang menangkap basah aksi panas mereka, ia yakin Akashi pasti sudah mengusir pergi para penjaga di area blok D ini. Sebagai kepala sipir penjara, tidak ada yang bisa membantah perintah mutlaknya.

Mereka terus menyatu semakin dalam. Bibir mereka bertemu saling menyambut, meneteskan madu dari rasa rindu dan cinta yang bergejolak. Terdengar suara saling mencecap. Hisapan tergesa-gesa seperti anak-anak sekolah dasar menikmati gula-gula dalam sebuah perlombaan. Di tubuh kekasihnya, Akashi menerima setiap anugerah, juga setiap pesan cinta yang mendalam, tak terbantahkan. Sementara Furihata, ia tengadah dan hanya mampu menggenggam surai merah Akashi, berteriak pelan menyebut nama Tuhan yang maha pemberi nikmat setiap kali sang kekasih mengantarnya ke puncak tertinggi. Seperti malam-malam sebelumnya, ketenangan kembali menemani percintaan mereka malam ini.

~+~+~+~

Ketika akhirnya percintaan itu berakhir ketenangan di ruangan itu sedikit terusik oleh suara rinai hujan yang mulai meluruh turun di luar. Awan-awan gelap menyembunyikan cahaya sang bulan. Furihata bergelung nyaman dalam pelukan hangat Akashi dan menatap keluar jendela jeruji kecil yang terletak cukup tinggi, bertanya-tanya di dalam kepalanya sejak kapan langit malam yang jernih itu berganti menjadi rinai hujan? Ia tidak menyadarinya. Sementara Akashi, ia terus menatap langit-langit ruangan dan memainkan tangannya di surai cokelat sang kekasih. Tidak ada yang bersuara. Tidak ada yang berniat memecahkan ketenangan yang nyaman itu.

“Kouki,” suara Akashi-lah yang akhirnya pertama memecahkan ketenangan itu. Furihata mengalihkan pandangannya dari jendela dan memandang Akashi ketika tangan laki-laki itu berhenti memainkan surai cokelatnya. “aku punya dua kabar untukmu.”

“Apa itu?” tanya Furihata, menatap sang kekasih penasaran.

“Kabar baik dan buruk. Mana yang ingin kau dengar lebih dulu?” mata heterocrome Akashi akhirnya beralih dari menatap langit-langit ruangan pada Furihata.

“Kabar buruk,” jawab Furihata setelah ia terdiam sejenak.

Akashi menatap kekasih chihuahua-nya sejenak, lalu mendesah pelan.
“baiklah,” katanya. “ayahmu mencabut gugatannya terhadapmu dan membuat pernyataan bahwa terbunuhnya ibumu itu adalah karena kelalaiannya sendiri. Kasusmu diproses lebih cepat, dan jika semua dokumenmu telah selesai, yah..paling cepat dua minggu lagi kau akan bebas. Dan kabar buruknya…apa kau mengerti, Kouki? Itu artinya…”

Seketika Furihata tersentak. Ia beranjak duduk dan memeluk tubuhnya yang tiba-tiba saja bergetar. Bukan karena hawa dingin dari rinai hujan di luar, tetapi karena kesedihan saat menyadari kenyataan yang akan ia terima.

“Itu artinya…kita akan berpisah, kan?” Furihata berkata pelan, nyaris berbisik.

Akashi beranjak bangun dan menatap kekasih chihuahua-nya sejenak.
“Ya,” katanya, lalu beranjak turun dari ranjang besi Furihata yang dingin dan memang kurang nyaman itu.

Furihata memperhatikan Akashi yang sedang memungut pakaiannya yang berserakan di lantai dan mulai berpakaian seraya memunggunginya. Lalu rasa dingin itu seketika kembali menjalari tubuhnya, meremas hatinya yang mendadak terasa sakit. Mata cokelatnya terasa panas saat membayangkan setelah perpisahan ini dan ia keluar dari penjara ini nanti, mungkin Akashi akan menemukan narapidana lainnya yang akan menjadi favoritnya, yang akan selalu ia kunjungi setiap malam. Membayangkan sang kepala sipir penjara yang tampan itu akan bersama dengan orang lain, memeluk, mencium, dan menyentuh seperti yang selalu dilakukan Akashi padanya, sementara ia tidak bisa lagi melihatnya, membuat tanpa disadarinya sesuatu meluruh turun dari sudut matanya yang memanas.

Ah, ia tidak mau membagi ekspresi lembut Akashi pada orang lain. Ia tidak ingin memberikan Akashi pada orang lain. Ia tidak ingin…..

“Bukankah kau selalu ingin bebas dari tempat busuk ini?” tanya Akashi, kembali duduk disamping Furihata. Jemarinya menghapus air mata di wajah manis sang kekasih dengan lembut.

Furihata menggelengkan kepalanya dan mulai terisak.
“Aku tidak ingin berpisah denganmu, Sei,” katanya.

“Kau ingin tetap bersamaku? Meski kau akan terjebak selamanya di tempat busuk ini? Tidak pernah ada ketenangan disini dan semua orang selalu berharap dapat keluar lebih cepat dari neraka ini. Bahkan sebagian dari mereka berusaha untuk kabur. Tetapi kau menolak kebebasanmu dan ingin tetap disini bersamaku?”

Furihata kembali menggelengkan kepalanya lebih keras, dan terus terisak.
“Aku tidak peduli,” katanya. “aku ingin selalu bersamamu, meski ke ujung langit atau neraka sekalipun.”

“Naif,” komentar Akashi, membuat tangisan Furihata semakin tak terbendung. Ia tertawa kecil, lalu merengkuh sang kekasih dalam pelukannya. “Chihuahua-ku yang naif.”

Merasa ketulusannya ditertawakan, Furihata melepaskan pelukan Akashi dan merengut.
“Kau menyebalkan, Akashi Seijuro,” sungutnya kesal. Dengan kasar ia menghapus air mata yang membasahi wajahnya lalu beranjak turun dari ranjang.

Mengabaikan rasa nyeri di bagian bawah tubuhnya dan seraya cemberut, Furihata memunguti seragam tahanannya yang berserakan di lantai. Akashi hanya diam dan memperhatikan sambil tersenyum Furihata yang mulai berpakaian sambil tetap cemberut. Ketika akhirnya Furihata selesai berpakaian Akashi beranjak berdiri dan menghampirinya. Furihata hanya diam ketika Akashi memeluknya dari belakang.

“Tidakkah kau mendengarkan perkataanku sebelumnya, chihuahua-ku yang naif?” kata Akashi. Furihata menyodok pelan perut Akashi dengan lengannya sebagai tanda kesal, namun kali ini ia tidak melepaskan pelukan laki-laki bersurai merah itu. Akashi tertawa pelan dan melanjutkan perkataannya, “Sebelumnya aku mengatakannya padamu, kan? Aku memiliki dua kabar untukmu. Aku baru saja menyampaikan satu kabar untukmu, dan aku masih memiliki satu kabar lainnya lagi. Jadi berhenti cemberut dan dengarkan aku baik-baik, oke?”

Furihata mengerjap sesaat. Oh ya benar, Akashi masih memiliki satu kabar lagi untuknya. Akhirnya ia pun menghentikan aksi cemberutnya dan menoleh pada Akashi. “Oke, jadi apa kabar baiknya?” tanyanya.

Akashi tersenyum. Ia melepaskan pelukannya dan membalik tubuh Furihata menghadapnya. Satu tangannya terangkat memberi isyarat pada Furihata untuk menunggu, dan tangan lainnya merogoh saku jubahnya. Furihata memperhatikan dengan bingung saat Akashi mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam. Akashi membuka kotak kecil berwarna hitam itu dan menunjukkannya pada Furihata. Di dalam kotak kecil berwarna hitam itu terdapat sebuah benda kecil yang berkilau.

“Cincin?” tanya Furihata. Mata cokelatnya mengerjap, lalu menatap sang kekasih dengan penuh tanya.

Happy b’day, my chihuahua. I’m overwhelmed with gratitude that i found you. Thank you for coming into my life.” Ucap Akashi. Ia berhenti, menarik nafasnya sejenak kemudian melanjutkan perkatannya, “Jika kau menikah denganku, kau tidak perlu lagi merasa takut untuk berpisah dariku. Bahkan jika kau telah keluar dari penjara ini. Aku akan selalu bersamamu dan memberikanmu tempat yang lebih baik dari neraka busuk ini, yaitu rumah kita. Jadi, Kouki, will you marry me ?”

Furihata tertegun. Sejenak kehilangan kata-kata. Berada cukup lama di penjara membuatnya hampir melupakan hari ulangtahunnya. Tetapi Akashi mengingat hari pentingnya itu. Bahkan…

“Sei…apa baru saja kau melamarku?” tanya Furihata tidak percaya.

“Tentu saja,” jawab Akashi menyeringai kecil, masih menyodorkan kotak cincin di tangannya pada Furihata. “Jadi, apa jawabanmu?”

Sejenak Furihata masih mengerjap tidak percaya. Mata cokelatnya kembali terasa memanas. Dapat ia rasakan ledakan kebahagiaan itu terasa membuncah di dadanya. Ia terdiam selama beberapa lama. Menatap antara Akashi dan kotak cincin yang disodorkan kepadanya. Lalu, ia pun tersenyum.

“Aku……”

~+~+~+~

Hari itu sebuah berita di muat di koran pagi :

            “Kepala sipir penjara dan narapidana-nya mengikrarkan janji setia mereka di Penjara Pusat di Kyoto. Mereka adalah Akashi Seijuro dan Furihata Kouki. Furihata Kouki sendiri merupakan terpidana kasus pembunuhan tunggal ibunya sendiri. Namun kini gugatan terhadap Furihata Kouki telah dicabut dan dalam waktu dekat ia dapat menghirup udara bebas kembali.”

~Fin~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s