Heure Désolée / Chapitre 3

tumblr_lj1ppaXevg1qctakho1_500

 

Main Cast : Akashi Seijuuro, Furihata Kouki, Kuroko Tetsuya
Genre : Romance, hurt, supernatural
Warning : BL, shounen-ai, AU, little bit OOC maybe?
Lenght : Chaptered
Disclaimer : Terinsipirasi—atau remake?—dari anime yang berjudul “Cossette no Shouzou”. Ada perubahan dan tambahan seperlunya. Kuroko no basket belongs to Fujimaki Tadatoshi. I don’t take any personal commercial advantages from making this fanfiction. Purely just for fun
Author note : Maaf, untuk keperluan cerita nama marga Furihata Kouki aku ubah
Summary : Akashi Seijuuro harus menjaga toko barang antik milik keluarganya. Suatu hari, sebuah gelas antik datang ke tokonya. Keindahan gelas antik itu membuat Akashi jatuh cinta. Hingga suatu ketika Akashi melihat bayangan seorang laki-laki bersurai cokelat di dalam gelas antik itu.

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read

~Presented by@Min kecil~

Chapitre 3

Hari ini akhirnya kelabu menyingkir dari langit dan membiarkan sang matahari kembali berkuasa. Cuaca yang terik dan suara-suara serangga yang saling menyahut seolah menandakan musim panas mulai datang. Di tokonya yang sepi Akashi masih saja duduk di balik mejanya. Menopang dagu dengan kedua tangannya, ia memandang dengan wajah bingung selembar kertas sketsa gambar Kouki, sosok laki-laki manis bersurai cokelat yang kerap ia lihat di dalam gelas kaca antik kesayangannya.

Setelah kemarin Momoi Satsuki menemukannya pingsan di tokonya, dan baru terbangun dua jam kemudian, Akashi masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi padanya kemarin. Ilusikah itu? Mimpikah itu? Atau apa? Seberapa keras pun Akashi memikirkannya ia tetap tidak mengerti apa arti dari semua ini. Saat ia bertanya pada Momoi, gadis bersurai pink itu pun tidak tahu apa yang terjadi kemarin. Tidak tentang kejadian aneh—mimpi, ilusi atau apapun itu—yang dialami oleh Akashi, hingga membuatnya pingsan. Tidak juga tentang sosok Kouki yang terasa begitu nyata kemarin. Menurut Momoi, ketika ia menemukan Akashi ia tidak melihat hal yang aneh.

Tidak ada genangan darah. Tidak ada Kouki. Dan Akashi pun mulai mempertanyakan kewarasannya. Apa ia sudah benar-benar gila sekarang?

Pandangan Akashi beralih pada gelas kaca antik kesayangannya yang diletakkan di dekatnya. Keindahan gradasi warna-warni yang terpantul di permukaan kaca gelas itu masih saja tidak membuat bosan untuk dinikmati. Dan hari ini, berapa lama pun ia memandanginya, Akashi masih belum melihat sosok Kouki di dalam gelas kaca tersebut.

Akashi menghela napas pelan dan kembali mengalihkan pandangannya pada selembar kertas sketsa gambar Kouki di hadapannya. Tidak perlu untuk melihat itu lagi, pikirnya, ini adalah hal yang baik bahwa aku tidak bisa melihatnya lagi. Mungkin….

“Selamat pagi, Akashi-kun,” suara sapaan Kuroko menyadarkan Akashi dari pikirannya. Akashi mengangkat kepalanya, mengerjap sejenak melihat Kuroko dan Midorima telah berdiri di depan mejanya.

“Aku membawakanmu pelanggan,” kata Midorima.

Mata merah Akashi beralih pada seorang pria yang rapi dengan setelan jas berwarna putih berdiri di ambang pintu toko. Pria itu menyapanya dengan sopan. Akashi hanya menganggukkan kepalanya pada pria itu, lalu menoleh pada Midorima.

“Dia salah satu pasienku,” kata Midorima lagi.

Akashi membawa sang pelanggan barunya itu ke lantai dua, dimana lebih banyak barang-barang seni siap jual tersimpan dengan baik. Akashi membiarkan pria bersetelan jas rapi itu mulai memilih-milih barang seraya ditemani oleh Midorima, sementara ia lebih memilih untuk berdiri tidak jauh dari mereka dan memperhatikan dalam diam. Kuroko berdiri disamping Akashi dan memperhatikan dengan tenang.

“Oh, ini agak bagus,” pria itu berkata saat melihat salah satu lukisan antik. Lalu ia mengangkat pandangannya pada Midorima dan sambil tersenyum berkata lagi, “Yah, apa kau tahu… Salah satu wanitaku sangat mencintai barang antik. Dia ingin menghias rumah baru kami, jadi dia mengomel terus pada saya. Ah, bukankah dia seorang gadis kecil yang egois?”

Pria itu tertawa kecil dan kembali pada lukisan-lukisan antik di hadapannya. Sementara Midorima hanya diam dan memalingkan wajahnya ke arah lain dengan ekspresi jijik yang samar. Pria kaya yang brengsek dan senang menghabiskan uang hanya untuk menuruti keinginan para wanitanya yang lebih seperti parasit itu, adalah jenis orang yang selalu Midorima hindari. Tetapi kini ia justru mendapatkan pasien dengan jenis yang paling tidak disukainya itu dan membawanya ke toko Akashi sebagai pelanggan yang berpontensial. Entah ia harus senang atau memaki.

Di samping Akashi, Kuroko menatap pria pelanggan itu sambil sedikit mengernyit tidak suka.
“Orang ini mendapatkan jutaan dolar dari perkebunan dan penggelapan pajak. Tidakkah kau pikir dia agak dangkal?” katanya. Lalu ia menoleh pada Akashi yang masih saja diam disisinya. “Hey, Akashi-kun, buatlah dia pergi. Bisa sampai kapan ini?”

Namun Akashi hanya diam. Tidak terlalu peduli dengan fakta kecil tentang sang pelanggan yang baru saja didengarnya ataupun perkataan Kuroko barusan padanya. Ia terus memperhatikan dengan ekspresi yang sulit dijelaskan saat pria pelanggan itu nampak sangat tertarik dengan salah satu benda antik.

“4 juta,” akhirnya Akashi berkata.

“Saya suka itu,” kata pria pelanggan itu, menoleh pada Akashi. “Saya ingin benda ini dikirim ke rumah saya secepatnya. Jadi berapa banyak itu?”

Akashi membiarkan ketika Kuroko maju ke depan dan mengambil alih.
“Anda akan mendapatkan diskon 30% sebagai layanan bagi pelangganan pertama kalinya. 4 juta dan 598.000 Yen!”

Tanpa berpikir panjang pria pelanggan itu langsung menganggukkan kepalanya setuju, membuat Kuroko dan Midorima menghela napas lega. Namun membuat Akashi kembali terdiam, menundukkan kepalanya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

OoOoO

Benda antik yang akhirnya dipilih oleh pria pelanggan itu adalah lemari Cario beserta satu set gelas kaca. Lemari cantik itu berukuran cukup besar dengan tinggi hampir setinggi orang dewasa. Seharusnya gelas kaca antik kesayangan Akashi menjadi bagian salah satu set gelas kaca dengan lemari Cario tersebut. Namun Akashi sengaja meninggalkan gelas kaca itu di meja kerjanya. Ia tidak pernah berniat sedikitpun menjual benda indah itu pada orang lain. Bila suatu saat nanti kakeknya mengetahui kecurangannya ini, biarlah kemarahan kakeknya urusan belakangan. Ia tidak peduli.

Ketika Kuroko sedang membersihkan lemari Cario dan mempersiapkannya untuk dikirim tanpa sengaja ia menemukan sesuatu. Ada sebuah lukisan di dalam lemari cantik tersebut. Segera ia memanggil Akashi dan menunjukkan lukisan temuannya pada sang surai merah.

“Ada sebuah pintu disini ketika aku sedang membersihkannya…” kata Kuroko seraya menunjuk lemari Cario disisinya, lalu beranjak menghampiri Akashi. “…dan itu ada di dalamnya.”

Mata merah Akashi terbelalak menatap lukisan temuan Kuroko itu dengan tatapan terkejut. Itu adalah lukisan seorang pemuda manis bersurai cokelat tanah. Dengan pakaian Perancis model kuno, pemuda dalam lukisan itu nampak sedang duduk santai di sebuah tempat yang nampak seperti halaman kastil yang indah. Dan yang lebih membuat Akashi sangat terkejut adalah sosok pemuda manis bersurai cokelat tanah dalam lukisan itu begitu mirip dengan sosok pemuda yang selalu ia lihat di dalam gelas kaca. Sosok manis yang belakang ini selalu memenuhi buku sketsa miliknya.

Tidak. Pemuda dalam lukisan ini memang benar-benar Kouki. Kebetulankah ini?

“Mengapa gambar pemuda ini ada disini?” kata Akashi dengan nada tidak percaya.

Kuroko ikut memperhatikan lukisan itu dan melihat ada sebuah tulisan kecil di sudut bawah kiri.

“Untuk Kouki d’Auvergne. Dengan cinta, Oscar Gray,” katanya membaca tulisan tersebut.

“Kouki….” Akashi menggumam pelan. Ia terpaku menatap lukisan di tangannya seraya berpikir, jadi pemuda bernama Kouki ini bukan sekedar bagian dari mimpi atau ilusinya belaka?

Kuroko terdiam sejenak, memikirkan sesuatu.
“Aku pernah mendengar nama Oscar Gray di suatu tempat…” katanya kemudian, sedikit ragu.

Akashi mengalihkan pandangannya sejenak pada Kuroko, lalu kembali memandang lukisan Kouki di tangannya. Siapapun orang bernama Oscar Gray ini, Akashi berpikir bahwa mungkin dia adalah orang baik, karena telah melukiskan sosok Kouki ke dalam kanvas dengan begitu indahnya dan, mungkin, meninggalkannya di dalam lemari Cario. Setidaknya itu sedikit membuktikan bahwa Kouki memang pernah ada.

OoOoO

Bersama Kuroko, Akashi mengantarkan lemari Cario beserta beberapa set barang-barang kaca lainnya ke rumah si pria pelanggan dengan menggunakan mobil pick up milik keluarga Akashi. Sambil menyetir, untuk kedua kalinya Akashi menoleh ke belakang, pada lemari Cario yang terikat kuat di bagian belakang mobil. Lalu ia mengalihkan pandangannya kembali ke depan dan tersenyum kecil saat memutuskan dalam kepalanya bahwa ia hanya harus menganggap Kouki sebagai khayalan.

Rumah pria itu terletak cukup jauh. Akashi harus melewati jalan perbukitan yang panjang untuk sampai disana, hingga akhirnya ia menemukan sebuah rumah besar yang dikelilingi pepohonan yang rindang. Pria itu menyambut kedatangan Akashi dan Kuroko dengan ramah, lalu menunjukkan dimana mereka harus meletakkan lemari Cario beserta barang-barang kaca lainnya ditempatkan. Pria itu memilih menempatkan lemari Cario di sudutruang makan yang ditata dengan gaya yang indah dan elegan.

Sementara pria itu memandangi lemari Cario itu dengan rasa puas, dengan ditemani oleh Kuroko, Akashi pamit sejenak ke toilet. Air yang membasuh wajahnya memberikan rasa sejuk. Sejenak ia menatap cermin wastafel dan kembali memutuskan di dalam kepalanya bahwa Kouki hanyalah khayalannya saja, dan penemuan lukisan di lemari Cario itu hanyalah sebuah kebetulan. Lalu ia pun kembali merasa tenang.

Namun saat Akashi kembali ke ruang makan perasaan tenang itu hilang seketika. Mata merahnya kembali terbelalak saat melihat ke arah lemari Cario. Di depan lemari cantik tersebut ia melihat Kouki jatuh terduduk, menatap lemari itu dengan tatapan sedih. Sepertinya sang pemilik rumah dan Kuroko tidak melihat kehadiran Kouki yang terduduk di depan lemari Cario itu. Beberapa kali Akashi mengerjapkan matanya, berpikir bahwa mungkin ia salah lihat. Bahwa mungkin itu hanyalah bayangan imajinasinya saja. Tetapi tidak, berapa kali pun ia mengerjapkan matanya ia masih bisa melihat sosok Kouki. Tidak melalui gelas kaca. Tidak di dalam kepalanya. Tetapi tepat di depan matanya.

“Ah, Akashi-kun, kami sudah selesai disini. Kalau begitu, ayo kita pulang,” kata Kuroko saat melihat kehadiran Akashi. Ia melangkah pergi. Namun menyadari Akashi masih terpaku di ambang pintu, ia pun menghentikan kakinya dan mengernyit. “Ada yang salah, Akashi-kun?”

Akashi tidak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya pelan tanpa mengalihkan pandangannya. Ketika Kuroko kembali beranjak pergi melewatinya menuju pintu keluar, sejenak Akashi masih terpaku di tempatnya. Mata merahnya masih terpaku pada Kouki yang terduduk di depan lemari Cario, tanpa ada satupun yang menyadarinya. Dan yang menjadi perhatian Akashi adalah ekspresi Kouki yang nampak sedih itu. Itu membuatnya ingin bertanya,

Kenapa kau berwajah seperti itu, Kouki….

OoOoO

Sejak dari rumah pria itu, sepanjang hari hingga Akashi menutup tokonya dan kembali ke apartemennya ia tidak pernah merasa tenang. Sosok Kouki yang terduduk di depan lemari Cario dengan wajah sedih itu tidak pernah bisa menghilang dari pikirannya. Berkali-kali ia berkata pada dirinya sendiri bahwa itu adalah mimpi, ilusi. Tetapi sosok yang ia lihat saat itu terasa terlalu nyata untuk diabaikan.

“Aku harus pergi ke rumah sakit lagi,” kata Akashi mendesah saat ia menghempaskan tubuhnya ke sofa. “Aku sudah benar-benar gila sepertinya….”

Akashi mengusap wajahnya sejenak dengan lelah. Sekali lagi berkata pada dirinya sendiri bahwa ia tidak melihat apapun saat itu. Namun hembusan angin dari jendela yang terbuka seolah menolak pemikiran Akashi. Hembusan angin yang cukup kencang itu membuat buku sketsa Akashi yang terletak di atas meja terbuka, menerbangkan halaman demi halaman yang terisi penuh oleh sketsa gambar Kouki. Mata merah Akashi menatap tajam pada buku sketsa miliknya yang terbuka tepat di gambar wajah Kouki dengan ekspresi teduh. Hal itu membuatnya sadar bahwa melalui gelas kaca itu Akashi telah menggambar beragam eskpresi Kouki. Senyum, tawa, marah, malu, teduh. Semua, kecuali satu ekspresi.

Kembali ia teringat saat melihat sosok Kouki yang terduduk, menatap lemari Cario dengan ekspresi yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tatapan mata Kouki saat itu seolah meremas hatinya. Membuatnya kembali bertanya-tanya,

“Kenapa? Mengapa mata sedih seperti itu?”

Selama beberapa lama Akashi terus menatap sketsa gambar wajah teduh Kouki. Lalu, tiba-tiba ia berdiri dan beranjak ke kamarnya. Di atas meja belajarnya ia melihat gelas kaca itu, berdiri dengan angkuhnya di bawah sinar lampu belajar, membiarkan keindahan gradasi warna-warninya terpantul di dinding kamar. Akashi meraih gelas kaca itu dan mengangkatnya tinggi ke udara. Sejenak ia berpikir untuk membanting gelas kaca itu hingga pecah, jadi ia tidak perlu lagi dibuat gila oleh sosok manis Kouki. Namun kemudian ia membatalkan niatnya. Ia meletakkan kembali gelas kaca itu di meja belajarnya, mematikan lampu belajarnya, dan merangkak ke ranjangnya yang nyaman.

Malam itu, untuk pertama kalinya Akashi bermimpi buruk.

Tbc

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s