The Replacement Wife / Chap 6

tumblr_lorapvodsq1qgd3o2o1_500_large

Pairing : KyuMin / KyuWook
Other cast : Lee Hyukjae aka Eunhyuk, Cho Min Sae & Cho Min Yoo (OC), etc
Genre : Angst, Romance
Length : Chaptered
Warning : BL, Shounen-ai, M-preg
Disclaimer : Remake dari novel yang berjudul sama karya Eileen Goudge, ada perubahan dan tambahan seperlunya
Summary : Ketika kanker menyerangnya kembali, Sungmin merasa tak berdaya membayangkan Kyuhyun, suami yang setia menemaninya berjuang, menjadi orang tua tunggal bagi anak-anak mereka. Karenanya Sungmin bertekad mencari pasangan yang tepat sebagai pengganti dirinya. Tapi apa yang terjadi ketika keinginan terakhir berubah menjadi ‘hati-hati dengan keinginanmu’?

No bash. No copas/plagiarism. Don’t like, don’t read.

~Presented by@Min kecil~

Chapter 6

Kyuhyun berdiri dan memeriksa jam tangannya sekali lagi, bertanya-tanya di dalam kepalanya bagaimana awalnya dia bisa terjebak hingga datang ke pesta Clara Kim. Ketika Sungmin tak jadi ikut di menit-menit terakhir, karena merasa tak enak badan, lalu mendesak Kyuhyun agar pergi tanpa dirinya, Kyuhyun pun menyetujuinya karena tak ingin mengecewakan tuan rumah. Tapi ketika Clara menyapanya di depan pintu, Kyuhyun baru menyadari bahwa Clara adalah wanita cantik yang terang-terangan menatapnya di meet & greet. Senyuman manis dan mata berbinar wanita cantik itu membuatnya sadar akan kenyataan: ini sudah direncanakan. Clara Kim, untuk semua maksud dan tujuan, adalah ‘kencan’-nya.

Clara tersenyum pada Kyuhyun, matanya yang dirias gelap berkilau di bawah cahaya lembut lilin yang merupakan satu-satunya cahaya di ruangan itu. Dia meletakkan gelas anggur di atas meja kopi, dan saat dia mencondongkan badan ke depan, kakinya masih berada di bawah tubuh, dan semakin memamerkan belahan dadanya. Bibir merahnya terus bergerak-gerak centil, berceloteh tentang banyak hal. Tentang kisah hidupnya, alasan mengapa dia masih melajang hingga sekarang. Tentang saat dia melihat Kyuhyun di meet & greet dan berpikir kalau Kyuhyun berada di sana dengan alasan yang sama seperti dirinya.

“Aku terkejut ketika Sungmin memberitahu siapa dirimu. Aku akhirnya menemukan pria yang dapat benar-benar kulihat sebagai pasangan hidup, tetapi ternyata dia suami mak comblangku sendiri. Jika bukan lucu, maka ini menyedihkan namanya,” kata Clara.

Kini Kyuhyun mendapatkan gambaran yang jelas di dalam kepalanya. Sungmin, setelah mengetahui Clara Kim bermain mata dengannya, memutuskan untuk ikut campur. Apakah rencana itu tercetus saat itu juga atau butuh beberapa hari untuk menyusunnya? Yang mana pun itu, disinilah Kyuhyun dan Clara berduaan dan keadaannya jelas: Clara adalah untuknya. Apa lagi yang diam-diam mereka rencanakan? Apakah dia juga harus bercinta dengan Clara?

Pemikiran itu membuat panas merayapi wajahnya. Kyuhyun merenungkan kembali bagaimana cara untuk melepaskan diri dengan sopan sebelum situasi kian pekat ketika Clara tiba-tiba bergegas menghampiri dan duduk dipangkuannya. Awalnya Kyuhyun terlalu terkejut untuk menjauh, kemudian tersadar dia merasa tak punya kehendak melakukan itu. Clara sangat cantik, dan sudah sangat lama sejak….

Namun kemudian Clara memiringkan kepala ke arah Kyuhyun, dengan tatapan seseorang yang menunggu untuk dicium, Kyuhyun pun tersentak oleh akal sehat. Buru-buru dia melepaskan diri dan bangkit.

“Percayalah, ini bukan gagasan bagus. Aku minta maaf jika memberimu kesan yang salah,” tambahnya, seperti pria sejati.

Setelah usaha yang keras dan penjelasan yang cukup panjang tampaknya akal sehat Clara juga kembali. Ekspresi tersiksa berkelebat di wajahnya. Namun kemudian dia menganggukkan kepalanya mengerti dan tersenyum sendu.

“Kau pria baik, Kyuhyun. Mengapa aku tidak bisa menemukan seseorang seperti dirimu?”

“Kau akan menemukannya,” balas Kyuhyun.

Clara mengikuti Kyuhyun ke pintu dan membubuhkan ciuman di pipinya. “Teman?” tanyanya.

“Teman,” balas Kyuhyun, meski tahu dia takkan bertemu dengan Clara lagi.

~+~+~+~

Kyuhyun merasa mual saat turun lift. Beberapa tahun silam, di hari pernikahannya, dia tak pernah membayangkan akan melakukan hal seperti ini. Bahwa suatu hari dia akan mengendap-endap pulang dari apartemen wanita, di larut malam, dengan perasaan amat bersalah.

Aku tak melakukan hal yang salah, katanya pada diri sendiri. Tapi dia tergoda, walau hanya sesaat. Dan terkadang, sesaat bisa berarti segalanya.

Di luar, Kyuhyun diam sejenak sebelum memanggil taksi menuju rumah. Tiba-tiba dia merasa tak tahan berhadapan dengan ‘istrinya’. Jika Sungmin menunggunya, mereka mungkin akan mengobrol dan Kyuhyun akan mengatakan sesuatu yang akan disesalinya. Mereka lebih baik bicara di pagi hari ketika kata-kata kasar kemungkinan kecil akan meluncur. Yang lebih diperlukan saat ini daripada istri adalah seorang teman. Tanpa terduga, Kyuhyun memikirkan pemiliki katering yang mengurus meet & greet. Ryeowook. Kyuhyun ingat betapa baiknya Ryeowook saat itu.

Sebelum dapat mencegah dirinya, Kyuhyun mengambil kartu nama Ryeowook dari dompetnya—yang untunglah masih disimpannya—, lalu menekan nomor tersebut dengan ponselnya. Setelah dering ketiga Ryeowook mengangkat teleponnya..

“Kyuhyun, ada apa?” sapa Ryeowook, terengah-engah tapi tak terlalu terkejut mendengar Kyuhyun meneleponnya. Suaranya ceria, seperti seorang teman lama yang sengaja menelepon menanyai kabar. “Jangan bilang padaku, kau berada di sebuah pesta dan butuh penyelamatan.”

“Semacam itulah,” kata Kyuhyun, meringis sekali lagi ketika teringat Clara. Lalu teringat Ryeowook pernah bilang bahwa dia bekerja di jam-jam malam, tapi ini hampir tengah malam. “Kuharap aku tak meneleponmu terlalu larut.”

“Tidak sama sekali. Aku baru pulang kerja. Aku mau keluar makan. Kau mau bergabung?”

“Tentu, mengapa tidak?”

“Kuharap kau suka sushi.”

“Justru aku sedang kepingin.”

~+~+~+~

Kyuhyun sama sekali tak punya nafsu makan di tempat Clara dan hanya makan secukupnya santapan lezat yang dihidangkan wanita itu demi rasa sopan. Tetapi kini dia sadar, tiba-tiba dia kelaparan. Dia memanggil taksi dan sepuluh menit kemudian berhenti di depan restoran yang disebutkan oleh Ryeowook sebelum Ryeowook menutup teleponnya. Saat memasuki restoran dia melihat Ryeowook di depan meja bar berkayu terang. Ryeowook duduk bersebelahan dengan dua orang pria asing Hispanik, satu dengan jenggot tebal dan yang satunya penuh tato, yang tampaknya akrab dengan Ryeowook dari cara mereka bercakap-cakap. Dua orang pria asing itu berbicara dengan bahasa Korea yang terdengar lucu di telinga Kyuhyun.

“Disinilah tempat para koki berkumpul,” jelas Ryeowook setelah mengenalkan Kyuhyun pada teman-teman asingnya, Miguel dan Julio. “Sushi terbaik di kota ini dan buka sampai pukul tiga pagi—penyelamat pekerjaan kami. Duduklah. Mereka baru saja akan pergi.”

Ryeowook melambaikan tangannya pada Miguel dan Julio saat mereka keluar restoran.
“Apa kau selalu telat makan begini?” tanya Kyuhyun saat duduk disebelahnya dan mengambil menu di depannya.

“Hanya ketika aku mengurus acara konser. Biasanya, ketika aku selesai kerja, aku langsung makan. Salah satu ironi pekerjaanku—selalu dikelilingi makanan tapi tak punya untuk menggigitnya. Bahkan mencicipinya. Kau tak butuh itu,” katanya, menarik menu dari tangan Kyuhyun lalu menjelaskan bahwa memesan dari menu di restoran sushi hanya untuk para amatir.

“Aku mengerti. Jadi selama ini aku salah?”

“Kau dan semua orang, kecuali kau tukang makan sejati. Bagi kami para koki, itu peraturan dasar.”

“Jadi bagaimana caranya?”

Ryeowook memanggil salah satu koki. Pria jepang yang terlihat sederhana dalam seragam putih ala kokinya, tersenyum dan menghampiri mereka. Ryeowook memesan dua potong sashimi tuna.

“Hanya itu saja yang kita makan?” tanya Kyuhyun.

“Tidak, tapi kau tak mau terlihat seperti kau tak tahu apa yang kau lakukan. Seperti minum anggur, kau merasainya dulu sebelum kau menuangnya ke dalam gelas,” jawab Ryeowook.

Ketika pesanan mereka datang, Kyuhyun memperhatikan Ryeowook dengan hati-hati menyumpit salah satu makanan merah muda mengilap berbentuk kotak itu dan memasukkannya ke mulut. Dia mengunyah dengan serius di bawah tatapan waspada sang koki, kemudian mengangguk, menandakan makanan itu memuaskannya. Kyuhyun mengikuti.

Ryeowook memesan omikase—pilihan koki—dan tak lama kemudian makanan-makanan kecil yang sangat lezat mulai berdatangan, satu demi satu. Walaupun mungil, Ryeowook mengimbangi Kyuhyun segigit demi segigit. Kyuhyun mendapati Ryeowook begitu menikmati melahap makanan yang begitu menyegarkan seperti dirinya sendiri. Meski Kyuhyun merasa tak nyaman ketika Ryeowook bertanya pria berkeluarga macam apa yang keluar di sabtu tengan malam tanpa ‘istrinya’.

“Kami diundang ke pesta makan malam,” Kyuhyun menjelaskan. “Tapi di saat-saat terakhir akan berangkat, Sungmin tak enak badan, jadi aku pergi tanpa dirinya. Dia bersikeras. Dia tak ingin tuan rumahnya kecewa karena kami tak muncul.”

Atau merusak kesempatan menjadi istri masa depanku, batin Kyuhyun muram.

“Pasti karena di pesta itu,” kata Ryeowook, melihat piring Kyuhyun yang bersih dari selusin hidangan kecil sushi. “Makanannya payah atau tamunya yang membuatmu menunda makan?”

“Tidak keduanya. Aku bersenang-senang,” kata Kyuhyun, dengan nada datar.

Ryeowook memiringkan kepalanya untuk mengamati Kyuhyun. Mata gelapnya seolah menatap menembus Kyuhyun. “Jika kau tak mau membicarakannya, tak masalah. Kita bisa cuma duduk di sini. Tapi untuk catatan, aku itu pendengar yang baik.”

“Percayalah, kau tak mau tahu,” ujar Kyuhyun murung.

“Coba saja.”

Pertahanan Kyuhyun meluruh dan ada sesuatu mengenaik Ryeowook yang membuatnya ingin mengungkapkan isi hatinya. Sebelum menyadarinya, Dia sudah menceritakan pada Ryeowook tentang keinginan ‘istrinya’ yang sedang sakit dan ‘kencan’-nya, jika itu memang kencan, dengan Clara Kim. Dia tak menceritakan bagian tentang Clara menghampirinya—semakin cepat dia mengenyahkan hal itu dari benaknya semakin baik. Ryeowook tak menunjukkan reaksi apa-apa, meski pasti baginya hal ini kedengarannya aneh seperti perasaan Kyuhyun ketika menceritakannya.

“Dia melakukan itu karena ingin yang terbaik untukku dan anak-anak,” Kyuhyun membela Sungmin, berharap tak memberi kesan yang salah pada Ryeowook.

Ryeowook mengangguk perlahan.
“Dapat dimengerti,” katanya.

“Dia tumbuh tanpa ibu dan takut hal yang sama akan terjadi pada anak-anak kami.”

“Jadi dia melakukan ini demi anak-anak?”

Kyuhyun mendesah dan menggeleng.
“Tidak, dia juga mengkhawatirkanku. Dia berpikir aku akan menjadi duda pemarah. Tanpa cinta dan kemungkinan tanpa teman. Oh, dan pekerja keras, meski itu memang tak melebih-lebihkan.”

“Kau kedengarannya tak terlalu bersemangat atas pilihan itu,” komentar Ryeowook.

“Karena dia memilihkan istri untukku? Oh, aku sangat bersemangat. Bukankah itu yang diinginkan setiap suami?”

Ryeowook menatap penasaran.
“Mengapa kau setuju, jika tak keberatan aku bertanya?”

“Dia sekarat,” Kyuhyun meringis saat berbicara, mengucapkan kalimat itu menjadikannya terasa lebih nyata. Dia menatap muram pada gelas sakenya yang berembun sebelum mengangkatnya ke bibir. “Itu yang diinginkannya.”

“Dan apa yang kau inginkan?”

“Apa itu penting?”

“Tentu saja penting.”

Cengkaraman Kyuhyun pada gelasnya mengencang.
“Yang kuinginkan adalah mempertahankan apa yang sudah kumiliki.”

Ryeowook mengangguk, menatap penuh simpati.
“Dengar, aku bukan ahli penyakit jiwa,” katanya. “Tapi aku tahu satu hal: Saat kau melakukan yang tak sesuai keinginanmu, biasanya itu menjadi bumerang. Aku sudah melakukan segala upaya dengan mantan-mantan kekasihku, agar mereka senang, tapi itu malah membuat mereka semakin menjauh. Karena aku bukan orang yang mereka cintai; aku juga tak jujur pada diri sendiri. Jadi sekarang, aku sendirian dan bekerja pada jam-jam aneh dan makan sushi pada pukul satu pagi, dan pria atau wanita manapun yang punya masalah dengan itu lebih baik enyah sajalah.”

“Mantan-mantan kekasihmu itu brengsek. Mereka tak tahu apa yang mereka tinggalkan,” kata Kyuhyun, merasa marah untuk Ryeowook. “Pria atau wanita manapun akan beruntung memiliki pasangan hidup seperti dirimu.”

Ryeowook merona dan menunduk.
“Oh, entahlah. Aku sama sekali bukan tipe pasangan idaman.”

“Mungkin kau hanya belum menemukan orang yang tepat.”

Kyuhyun menatap Ryeowook dan berpendapat betapa manisnya pemuda itu. Ada sesuatu yang sangat menarik mengenai dirinya. Ryeowook tegar di luar tapi memiliki kebaikan hati yang dibuktikan dalam hal-hal kecil sekali pun.

Ryeowook memain-mainkan bungkus sumpit, melipatnya hingga rapi.
“Mungkin,” jawabnya.

Kyuhyun membayar tagihan, lalu mereka beranjak pergi. Kyuhyun menatap jam tangannya. Ini hampir pukul dua pagi, tapi anehnya dia tak merasa lelah sedikit pun. Saat mereka berjalan di trotoar sebelum mengucapkan selamat tinggal, Ryeowook menceritakan tentang kelas memasak, dimana dia bekerja sukarela seminggu sekali di sana.

“Kau harus datang kapan-kapan dan bertemu anak-anakku,” kata Ryeowook. “Beberapa dari mereka tak pernah bertemu dokter selain dari serial Emergency Room. Bagus bagi mereka melihat ada pilihan karir selain bekerja di industri makanan cepat saji atau menjadi penjahat. Walau aku sendiri bergidik membayangkan mereka dengan pisau bedah. Mereka cukup nakal dengan pisau dapur. Mereka bisa sedikit, hmm, ribut setiap waktu.”

Kyuhyun tergelak membayangkan Ryeowook mengembalakan segerombolan anak remaja.
“Kedengarannya menyenangkan,” ujarnya. “Bagaimana minggu ini?”

“Hari rabu, dari pukul enam sampai pukul delapan. Kau bebas malam itu?”

“Akan kuperiksa kalenderku, tapi kuyakinkan padamu aku bebas malam itu. Aku akan mengirimu email besok dan kau bisa memberiku rinciannya.”

Sungmin mungkin punya rencana lain, tapi Kyuhyun tidak peduli. Dia punya rencana sendiri dan melihat kemana rencana itu membawanya. Paling tidak dengan Ryeowook, Kyuhyun tidak perlu khawatir pemuda manis itu mencoba memikatnya. Bukannya Sungmin perlu tahu kemana dia pergi. Dia tak melakukan hal yang salah, tapi mungkin Sungmin akan melihat dengan pandangan berbeda.

Beberapa menit kemudian, ketika naik ke jok belakang taksi, Ryeowook berhenti sejenak menatap Kyuhyun sambil menutup pintu. “Sampai jumpa minggu depan,” ujarnya, menyunggingkan senyum jahil. “Oh, dan Kyuhyun? Jauh-jauhlah dari masalah sampai hari itu.”

Tbc

2 thoughts on “The Replacement Wife / Chap 6

  1. Thank you for update🙂
    Meskipun ini pendek chapnya, tapi aq seneng km mau lanjutin lagi fic ini.
    Coz, aq kangen Kyuhyun dlm tulisanmu ^^
    Makasih jg utk tag nya…
    Entah keajaiban apa yg km blg, tp aq ttp akan menantikan Kyuhyun dlm tulisanmu..
    Love You :*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s